J AWA POS
(Analisis Isi Objektivitas Ber ita Pada Pasien RS Khodijah Yang Buta – Tuli Setela h Oper asi Her nia di Media J awa Pos Edisi 04 Oktober – 12 Oktober 2011)
SKRIPSI
Diajukan untuk memenuhi per syar atan memper oleh Gelar Sar jana pada FISIP UPN : “Veteran” J awa Timur
Oleh : AZWIN SULTONI
NPM. 0543010285
YAYASAN KESEJ AHTERAAN PENDIDIKAN DAN PERUMAHAN UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL”VETERAN” J AWA TIMUR
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK PROGRAM STUDI ILMU KOMUNIKASI
Oleh : AZWIN SULTONI
NPM. 0543010285
Telah diper tahankan dihadapan dan diter ima oleh tim penguji sk r ipsi J ur usan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Univer sitas Pembangunan Nasional “Veter an” J awa Timur Pada tanggal 20 J anuar i 2012
Menyetujui,
Mengetahui, DEKAN
Dr a. Hj. Supar wati, M.Si NIP. 030 175 349 PEMBIMBING
Dr a.Sumar djijati,M.Si NIP 196203231993092001
TIM PENGUJ I: 1.
Ir . Didiek Tr anggono,M.Si (NIP/NPT. 195812251990011001) 2.
Dr a.Sumar djijati,M.Si (NIP/NPT.196203231993092001) 3.
Tujuan dari penelitian ini adalah adalah untuk melihat objektif atau tidak pemberitaan yang ditulis pada Surat Kabar Jawa Pos tentang pemberitaan Buta – Tuli setelah operasi hernia di Surabaya dengan periode yang telah ditentukan.
Penelitian ini menaruh perhatian pada fenomena yang terjadi di seputar RS Khodijah terhadap pasiennya yang bernama Ahmad Fatih Asyifa. Landasan teori yang dipakai dalam penelitian ini adalah teori obyektivitas berita menurut Rachma Ida.
Metode penelitian yang digunakan adalah analisis isi pesan berita yang dimuat, dengan cara sistematik dan obyektive.
Data dianalisis dengan menggunakan tabel frekuensi dari tabel tersebut, dilakukan analisis dan perhitungan prosentase atas akurasi pemberitaan yaitu meliputi kesesuaian judul dan isi berita, pencantuman waktu terjadinya suatu peristiwa, penggunaan data pendukung, faktualitas berita, Fairness yaitu meliputi ketidakberpihakan dilihat dari sumber berita yang digunakan, ketidakberpihakan dilihat dari ukuran fisik luas kolom. Validitas yaitu meliputi atribusi sumber berita dan kompetensi pihak yang dijadikan sumber berita.
Dari data yang di analisis menyimpulkan bahwa media Jawa Pos telah mampu menyajikan berita secara obyektif berdasarkan akurasi pemberitaan, yaitu telah seimbang kesesuaian antara judul berita dengan isi berita, terdapat data pendukung serta tidak adanya pencampuran fakta dan opini dalam jumlah yang dominan. Begitu juga dengan kategori validitas berita. Namun dalam kategori Fairness Jawa Pos masih belum tergolong obyektif karena masih banyak pemberitaan yang lebih banyak memuat pernyataan dari salah satu pihak.
karuniaNya, penulis bisa melaksanakan dan menyelesaikan penelitian yang berjudul “Objektivitas Berita Pada Pasien RS Khodijah Yang Buta – Tuli Setelah Operasi Hernia Di Media Jawa Pos ”. Tujuan penulis meneliti objektivitas pemberitaan ini
adalah untuk mengetahui objektif atau tidak pemberitaan ini.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada Ibu Dra.Sumardjijati,M.Si selaku dosen pembimbing utama yang telah meluangkan waktunya untuk memberikan bimbingan, nasehat serta motivasi kepada penulis. Dan penulis juga banyak menerima bantuan dari berbagai pihak, baik itu berupa moril, spiritual maupun materiil. Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih kepada :
1. Bapak Dr. Ir. Teguh Sudarto, MP. Rektor UPN “Veteran” Jawa Timur.
2. Dra.Hj.Suparwati,Msi. Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.
3. Bapak Juwito, S. Sos, MSi. Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi.
4. Bapak Drs. Syaifuddin Zuhri, MSi. Sekretaris Program Studi Ilmu Komunikasi.
5. Ibu Dra.Sumardjijati,M.Si selaku dosen pembimbing utama yang telah meluangkan waktunya untuk memberikan bimbingan.
a. Bapak, Ibu dan adik-adikku, yang telah memberikan dorongan, semangat, dan pengertiannya bagi penulis baik secara moril dan materiil selama kuliah. b. Sahabat-sahabat terbaik yang selalu ada.
c. Seluruh teman-teman di lingkungan yang selalu memberikan spirit kepada penulis.
Penulis menyadari bahwa di dalam laporan skripsi ini akan ditemukan banyak kekurangan. Untuk itu kritik dan saran yang membangun dari semua pihak sangat diharapkan demi kesempurnaan laporan skripsi ini. Akhirnya, dengan segala keterbatasan yang penulis miliki semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi semua pihak umumnya dan penulis pada khususnya.
Surabaya, 17 Oktober 2011
HALAMAN DAN PENGESAHAN UJ IAN SKRIPSI... ii
KATA PENGANTAR ... iv
DAFTAR ISI ... vi
DAFTAR TABEL………. ix
DAFTAR LAMPIRAN……… .. x
ABSTRAKSI……… xi
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah ... 1
1.2. Perumusan Masalah ... 14
1.3. Tujuan Penelitian ... 14
1.4. Kegunaan Penelitian ... 14
BAB II KAJ IAN PUSTAKA 2.1. Landasan Teori 2.1.1. Pengertian Media Massa Dan Komunikasi Massa .... 15
2.1.2. Berita ... 18
2.1.3. Pers Dalam Kaidah Jurnalistik... 28
2.1.4. Pengertian Surat Kabar... 32
2.2. Objektivitas Berita ... 33
3.1.1.Obyektivitas Berita Pada Pasien RS Khodijah ... 40
3.2. Kategorisasi Objektivitas Pers ... 42
3.2.1. Akurasi Pemberitaan ... 42
3.2.2. Fairness dan Ketidakberpihakan Pemberitaan ... 44
3.2.3. Validitas Keabsahan Pemberitaan ... 44
3.3. Populasi, Sampel, dan Teknik Penarikan Sampel ... 46
3.3.1. Populasi ... 46
3.3.2. Sampel dan Teknik Penarikan Sampel ... 47
3.4. Teknik Pengumpulan Data ... 47
3.5. Teknik Analisis Data ... 48
BAB IV HASIL DAN PENELITIAN 4.1. Gambaran Umum Perusahaan………. 50
4.1.1. Gambaran Umum Surat Jawa Pos ……… ... . 50
4.2. Penyajian Data dan Analisis Data... 53
4.2.1. Obyektivitas Pemberitaan... 54
4.2.1.1. Akurasi Pemberitaan……… 59
4.2.1.2 Fairness atau Ketidakberpihakan……….. 68
DAFTAR PUSTAKA……… 83 LAMPIRAN
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Dalam masyarakat modern seperti sekarang ini peranan dan pengaruh informasi dan komunikasi sangat terasa. Tidak ada kegiatan yang dilakukan di dalam dan oleh masyarakat yang tidak memerlukan informasi. Kenyataan tersebut di atas tidak dapat dipungkiri kebenarannya. Hanya orang atau bangsa yang mempunyai banyak informasi yang dapat berkembang dengan pesat. Dalam hal ini negara yang memiliki kemampuan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi serta informasi akan lebih memperoleh kesempatan memiliki sistem komunikasi yang dapat menunjang kepentingan nasionalnya, ideologinya, dan pandangan hidupnya.
Informasi yang dibutuhkan oleh masyarakat pada umumnya adalah yang dapat dipercaya, aktual dan bertanggung jawab, sesuai dengan karakteristik berita yang ada. Pada mulanya jurnalistik hanya mengolah hal-hal yang sifatnya informasi saja, dengan kata lain jurnalistik adalah suatu berita yang dapat di sebarluaskan pada masyarakat.
Dalam perkembangan selanjutnya, surat kabar yang bisa mencapai rakyat secara massal itu dipergunakan untuk melakukan social control, sehingga surat kabar tidak hanya bersifat informatif tetapi juga persuasive. Bukan hanya sekedar menyampaikan informasi saja tetapi juga mendidik, menghibur, dan mempengaruhi khalayak agar khalayak melakukan kegiatan tertentu. (Effendy, 1993; 93)
Masyarakat semakin membutuhkan informasi. Masyarakat mulai bergantung kepada media massa sebagai penyaji beragam informasi. Pengaruh media massa semakin besar bagi masyarakat. Oleh sebab itu, media massa pers harus tetap menjalankan fungsinya sebagai lembaga kemasyarakatan yang tetap mempertahankan idealisme pers dalam menyiarkan informasi, mendidik, menghibur dan mempengaruhi khalayak sasarannya.
media massa. Media massa telah menjadi fenomena tersendiri dalam proses komunikasi, hal ini bisa tergambar dari relita yang ada saat ini banyak koran-koran baru, stasiun televisi baru, dan berbagai sarana media massa. Masing-masing media mempunyai kelebihan dan kekurangan tersendiri.
Salah satu kelebihan surat kabar dibanding media lain adalah surat kabar lebih terdokumen, sehingga bisa “dikonsumsi” kapan dan dimana saja. Berbeda dengan penyajian informasi pada media televisi, di media televisi kita harus berada di depan televisi pada jam-jam tertentu. Hal inilah yang membuat surat kabar masih tetap disukai.
Semakin banyaknya jumlah dan beragamnya jenis surat kabar yang beredar di masyarakat saat ini dapat memberi dampak maupun pengaruh pada penerbit surat kabar maupun pembaca. Pengaruh akan banyaknya penerbit adalah konsumen atau pembaca akan lebih selektif dalam pemilihan surat kabar, sedangkan untuk penerbit mereka harus selalu berupaya memperbaiki dan meningkatkan penyajian berita-beritanya. Penampilan bentuk surat kabar juga harus lebih menarik agar dapat mamikat konsumen.
aneka ragam surat kabar pembaca menjadi lebih selektif dalam memilih suat kabar yang sesuai dengan kebutuhan mereka.
Setiap surat kabar mempunyai ragam berita, mulai dari bidang ekonomi, sosial, poltik, budaya, kriminal, sampai pada pemberitaan selebriti. Surat kabar dapat memberikan porsi yang berbeda terhadap suatu kejadian yang sama. Surat kabar satu menyajikan sebuah berita sebagai berita utama belum tentu pemberitaan tersebut menjadi berita utama pula di surat kabar lain, bahkan bisa saja tidak dimuat sama sekali.
Berita diproduksi dan didistribusikan oleh pers. Pers menyandang peran ganda yaitu sebagai produsen berita dan saluran dalam sebuah proses komunikasi. Pers sebagai penghubung antara komunikator dengan komunikan. Kebebasan media dilindungi oleh undang-undang yang menjamin beropini dan kebebasan memberikan informasi kepada masyarakat.
Setiap berita yang dimunculkan dalam setiap rubrik memiliki kepentingan penyampaian yang berbeda. Berita yang di munculkan cendrung menjadi bahan pembicaraan di masyarakat luas mulai dari berita politik, remaja, hingga suatu berita yang menjadi pro kontra publik. Berita-berita juga harus memliki nilai berita yang bisa menarik perhatian pembaca. Kriteria umum nilai merupakan acuan yang dapat digunakan oleh para jurnalis untuk memutuskan fakta yang pantas dijadikan berita dan memilih mana yang lebih baik (Widodo, 1997; 20). Jika berita itu menarik, maka akan mengundang selera maupun minat para pembaca yang akhirnya membeli.
Sebuah berita yang dianggap penting dan aktual serta sesuai kebutuhan informasi khalayak pembacanya akan ditempatkan sebagai berita utama. Berita utama yang baik akan membuat pembaca tergerak untuk memberikan perhatiannya pada surat kabar tersebut, mengingat posisinya yang ditempatkan di halaman muka dari surat kabar.
Seperti pemberitaan pada Headline koran Jawa Pos di rubrik metropolis Buta – Tuli Setelah Operasi Hernia pada tanggal (4/10). Di RS. Khodijah, Sepanjang Sidoarjo lah yang membuat Ahmad Fatih Asyifa kini mengalami gangguan pendengaran dan penglihatan. Kejadian tersebut memunculkan dugaan terjadinya malpraktik di RS tersebut. Pada tanggal (3/10) Syifa panggilan akrabnya beserta orang tuanya, Nur Solihah dan Rumikan berobat ke Instalasi Rawat Darurat RSUD dr Soetomo. Berharap sembuh malah mengalami komplikasi, dia tidak bisa melihat dan badannya pun sering kejang-kejang.
Operasi Hernia berlangsung pada 5 Juli pukul 09.00 wib di RS Khodijah. Operasi berlangsung kurang lebih satu jam kemudian Syifa menunjukkan tanda-tanda kekhawatiran yaitu suhu badan yang berangsur naik dan tubuh mulai kejang-kejang. Saat Rumikan menanyakan ke dokter apa yang dialami oleh anaknya Syifa namun mereka tidak menjelaskan apapun. Keesokan harinya Syifa dirujuk ke RSUD dr Soetomo selama 1,5 bulan. Rumikan bertanya-tanya apa yang sudah dialami buah hatinya tersebut, apa karena komplikasi operasi hernia. Padahal dia sudah menghabiskan banyak uang untuk pengobatan buah hatinya tersebut. Selama di rawat di RS Khodijah Rumikan sudah menghabiskan dana Rp 6.5 juta dan dua hari di IRD habis Rp 7 juta.
belum mengetahui kondisi riilnya dan juga tak mau menjawab mengenai kemungkinan Syifa mengalami infeksi setelah menjalani operasi. Kemudian, Kepala Bagian Pelayanan Medis RS Khodijah Sepanjang, Sidoarjo dr Rusdi Arief mengatakan, kejadian yang dialami Syifa bukanlah malpraktik tapi itu merupakan reaksi pasien terhadap obat anestesi yang disebut hipertermia maligmant. Panasnya obat anestis ini mungkin membuat tidak kuat tapi ini merupakan sebuah tindakan medis. Satu jam setelah operasi berjalan tubuhnya Syifa langsung mengalami kejang tapi diperkirakan karena panas yang hebat hingga mencapai 40 derajat celcius serta kejang-kejang itu. Ada kerusakan dijaringan otak pasien sehingga mengakibatkan gangguan penglihatan, pendengaran dan fungsi motoriknya. Ditanya apakah Syifa bisa kembali seperti semula, Rusdi tidak bisa memastikan karena penyembuhannya memerlukan proses yang cukup lama.
Siti Khodijah. Pengkajian kasus Syifa di RSUD dr Soetomo melibatkan banyak ahli. Selain dokter anak, ada anestesi, bedah, medikolegal, dan komite medik RSUD dr Soetomo.
maupun Yahya setelah berobat tidak pernah kembali dan melaporkan lagi keluhan mereka. Jadi, pihak RS tidak tahu apa yang terjadi dengan mereka. Sebab, mereka tidak kembali ke RS. "Apa yang terjadi dengan Yahya tidak bisa kami ungkap.
Berita di atas merupakan kutipan dari koran Jawa Pos, dalam lima edisi koran Jawa Pos yaitu edisi tanggal 4 - 12 Oktober 2011. Dalam penulisan berita tersebut judul berita dituliskan dengan ukuran besar. Menurut Junaedhi (1991 : 29) berita yang ditulis dengan huruf ukuran besar pada judulnya merupakan berita utama atau istimewa. Berita utama dilakukan selektif mungkin sesuai dengan kebijaksanaan redaksionalnya, dan sesuatu yang dianggap paling pantas diketahui oleh masyarakat pada saat itu.
Definisi tentang objektivitas berita sangat beragam, namun secara sederhana dapat dijelaskan bahwa berita yang obyektif adalah berita yang menyajikan fakta, tidak berpihak dan tidak melibatkan opini dari wartawan. Objektivitas menurut mcQuail (1994 : 130) lebih merupakan cita-cita yang diterapkan seutuhnya. Dalam sistem media massa yang memiliki keanekaragaman eksternal, terbuka kesempatan untuk penyajian informasi yang memihak, meski sumber tersebut harus bersaing dengan sumber informasi lainnya yang menyatakan dirinya obyektif. Meskipun demikian tidak sedikit media yang mendapatkan tuduhan “media itu tidak obyektif”.
yang disajikan dalam suatu surat kabar atau majalah harus memenuhi unsur obyektivitas. Obyektivitas berita merupakan hal yang sangat penting dalam penyajian sebuah berita. Penyajian berita yang tidak obyektif dapat menimbulkan banyak ketidakseimbangan, artinya bahwa berita hanya disajikan berdasarkan informasi pada sumber berita yang kurang lengkap dan cenderung sepihak.
Dalam penelitian ini metode yang digunakan adalah analisis isi sehingga diperoleh pemahaman yang akurat dan penting. Analisisnya adalah berita di surat kabar yang analisis ini digunakan untuk mengkaji pesan-pesan di media (flournoy, 1986 : 12). Pemanfaatan ilmu komunikasi media massa dapat diperoleh secara tepat implementasi di lapangan atas obyektivitas pers dari surat kabar yang menjadi subyek penelitian (McQuail, 1994 : 179).
Dalam penelitian ini metode yang digunakan adalah analisis isi sehingga diperoleh pemahaman yang akurat dan penting. Analisisnya adalah berita di surat kabar yang analisis ini digunakan untuk mengkaji pesan-pesan di media (flournoy, 1986 : 12). Pemanfaatan ilmu komunikasi media massa dapat diperoleh secara tepat implementasi di lapangan atas obyektivitas pemberitaan dari surat kabar yang menjadi subyek penelitian (McQuail, 1994 : 179
Definisi tentang objektivitas berita sangat beragam, namun secara sederhana dapat dijelaskan bahwa berita yang obyektif adalah berita yang menyajikan fakta, tidak berpihak dan tidak melibatkan opini dari wartawan. Objektivitas menurut (McQuail, 1994; 130) lebih merupakan cita-cita yang diterapkan seutuhnya. Dalam sistem media massa yang memiliki keanekaragaman eksternal, terbuka kesempatan untuk penyajian informasi yang memihak, meski sumber tersebut harus bersaing dengan sumber informasi lainnya yang menyatakan dirinya obyektif. Meskipun demikian tidak sedikit media yang mendapatkan tuduhan “media itu tidak obyektif”.
ketidakseimbangan, artinya bahwa berita hanya disajikan berdasarkan informasi pada sumber berita yang kurang lengkap dan cenderung sepihak.
Sebuah berita bisa dikatakan obyetif bila memenuhi beberapa unsur, diantaranya adalah tidak memihak, transparan, sumber berita yang jelas, tidak ada tujuan atau misi tertentu. Dilihat dari beberapa unsur di atas banyak sekali berita yang disajikan belum memenuhi unsur-unsur obyektivitas atau bisa dikatakan bahwa berita tersebut tidak obyektif. Suatu berita yang disajikan tidak obyektif hanya akan menguntungkan salah satu pihak dan akan merugikan pihak lain.
Dalam penelitian ini metode yang digunakan adalah analisis isi sehingga diperoleh pemahaman yang akurat dan penting. Analisisnya adalah berita di surat kabar yang analisis ini digunakan untuk mengkaji pesan-pesan di media (flournoy, 1986; 12). Pemanfaatan ilmu komunikasi media massa dapat di peroleh secara tepat implementasi di lapangan atas obyektivitas pemberitaan dari surat kabar yang menjadi subyek penelitian (McQuail, 1994; 179).
1.2. Per umu san Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang masalah diatas yang melandasi penelitian ini, maka penelitian dirumuskan sebagai berikut : “Bagaimanakah Objektivitas Berita Pasien RS Khodijah Setelah Operasi Hernia?.”
1.3. Tujuan penelitian
Sesuai dengan perumusan masalah diatas maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Objektivitas Berita Pasien RS Khodijah Setelah Operasi Hernia di Koran Jawa Pos.
1.4. Kegunaan penelitian
1. Kegunaan Teoritis : Menambah kajian ilmu komunikasi yang berkaitan dengan penelitian obyektivitas berita, sehingga hasil penelitin ini diharapkan bisa menjadi landasan pemikiran untuk penelitian-penelitian selanjutnya.
BAB II
TINJ AUAN PUSTAKA
2.1. Landasan Teor i
2.1.1. Penger tian Media Massa dan Komunikasi Massa
Media massa yang dikemukakan oleh Althusser dan Gramsci dalam Sobur (2004:30) merupakan alat yang di gunakan untuk menyampaikan pendapat atau aspirasi baik itu dari pihak masyarakat maupun dari pihak pemerintah atau negara. Media massa tersebut sebagai wasah untuk menyalurkan informasi yang merupakan perwujudan dari hak asasi manusia dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara, dalam diri media massa juga terselubung kepentingan-kepentingan yang lain, misalnya kepentingan kapitalisme modal dan kepentingan keberlangsungan lapangan pekerjaan bagi karyawan dan sebagainya.
Komunikasi masa menurut Bittner (Rakhmat, 2001). “mass Communication is message communication through a mass medium to large number of people”
(Komunikasi massa adalah pesan yang dikomunikasikan melalui media massa pada sejumlah besar orang). Sedangkan menurut Devito yang dikutip dari (Effendy, 2001) mendefinisikan komunikassi massa sebagai “First mass Comunication is communication addressed to the masses to an extremely large audience. This does not
mean that the audience include all people or everyone who reads or everyone who
people defined. Second, mass communication isperhap most easilu logically defined
by its forms : television, radio, newspaper, magazine, film, books, and tapes.”
(pertama komunikasi massa adalah komunikasi yang ditunjukan kepada massa kepada khalayak yang luar biasa banyaknya, ini tidak berarti bahwa khalayak meliputi seluruh penduduk atau semua orang yang menonton televisi, agaknya ini berarti bahwa khalayak itu besar dan pula umumnya agak sukar untuk di defenisikan. Kedua, komunikasi massa adalah komunikasi yang disalurkan oleh pemancar-pemancar yang audio dan visual. Komunikasi massa barangkali akan lebih mudah dan lebih logis bila didefinikasikan menurut bentuknya : televisi, radio, surat kabar, tabloid, film, buku dan pita).
Lebih lanjut Efendy (2001) menegaskan tentang pengertian komunikasi massa yaitu :
“Mass communication is process by which a message is transmitted through one more of the mass media (Newspaper, Radio, television, movies, magazine, and books) to an audience that is relatively large an animous.”
Jadi komunikasi massa adalah proses menyebarkan pesan melalui salah satu media massa (Tabloid, radio, televisi, bioskop, dan buku-buku) kepada khalayak luas yang tidak dikenal.
khalayak luas. Peasanya tidak unik beraneka ragam dapat diperkirakan. Seringkali diprosses, distadarisasikan dan selalu diperbanyak.
Pesan itu juga merupakan suatu produk dan komodisi yang mempunyai nilai tukar, serta acuan simbolik yang mengandung nilai “kegunaan”. Hubungan antara pengirim dan penerima bersifat satu arah dan jarang sekali bersifat interaktif. Komunikasi massa sering sekali mencakup kontak secara serentak antara satu pengiriman dengan banyak penerimaan, menciptakan pengaruh luas dalam waktu singkat, dan menimbulkan respon seketika dari banyak orang serentak.
Senada dengan (Mc Quail, Effendy, 2001) memberikan ciri-ciri tentang komunikasi massa, yaitu: Komunikator pada komunikasi massa, Media massa sebagai saluran komunikasi massa merupakan lembaga yaitu suatu institusi atau organisasi, maka komunikatornya melembaga (Institusionalized Communication / Organaized Communicator). Komunikator pada komunikasi massa misalnya wartawan tabloid,
karena media yang digunakan adalah suatu lembaga. Dalam menyebarluaskan pesan komunikasinya bertindak atas nama lembaga, sejalan dengan kebijakan (policy) tabloid yang diwakilinya. Ia tidak mempunyai kebebasan individual, jadi kebebasan mengemukakan pendapat (Freedom of Expression atau Feredom of Opinion) merupakan kebebasan terbatas (Restricted Freedom).
kalah pentingnya adalah peranan media sebagai kontrol sosial untuk memberikan kritik maupun mendukung kebijakan pemerintah agar memotivasi masyarakat.
Media massa merupakan institusi baru yang berkaitan dengan produksi dan distribusi pengetahuan dalam arti luas. Media massa mempunyai sejumlah ciri-ciri yang menonjol, diantaranya adalah penggunaan teknologi yang relatif maju untuk produksi (massal) dan penyebaran pesan, mempunyai organisasi yang sistematis dan aturan-aturan sosial serta sasaran pesan yang mengarah pada audiens dalam jumlah besar yang tidak bisa ditentukan apakah mereka menerima pesan yang disampaikan, atau malah menolaknya. Institusi media massa pada dasarnya terbuka, beroprasi dalam dimensi publik untuk memberikan saluran komunikasi reguler dari berbagai pesan yang mendapat persetujuan sosial dan dikehendaki oleh banyak individu.
Dalam komunikasi massa menurut Winarni dapat dipusatkan pada komponen-komponen komunikasi massa, yaitu variabel yang dikandung dalam setiap tindak komunikasi dan bagaimana variabel ini bekerja pada media massa. Kelima komponen tersebut adalah:
1. Sumber. Komunikasi massa adalah suatu organisasi kompleks yang mengeluarkan biaya besar untuk menyusun dan mengirimkan pesan.
2. Khalayak. Komunikasi massa adalah komunikasi yang ditujukan kepada massa. Yaitu khalayak yang jumlahnya besar yang bersifat heterogen dan anonim.
4. Proses. Ada dua proses dalam komunikasi massa yaitu:
a) Komunikasi massa merupakan proses satu arah. Komuniksi ini berjalan dari sumber ke penerima dan secara tidak langsung dikembalikan kecuali dalam bentuk umpan balik tertunda.
b) Komunikasi massa merupakan proses dua arah (proses seleksi). Baik media maupun khalayak melakukan seleksi. Media menyeleksi khalayak sasaran atau penerima menyeleksi dari semua media yang ada, pesan manakah yang mereka ikuti.
5. Konteks komunikasi massa berlangsung dalam suatu konteks sosial. Media mempengaruhi konteks sosial masyarakat mempengaruhi media massa. (Winarni 2003:4-5).
Dalam komunikasi massa, umpan balik relatif tidak ada atau bersifat tunda, komunikator cenderung sulit untuk mengetahui umpan balik komunikan secara segera. Untuk mengetahuinya, maka biasanya harus diadakan seminar terbuka yang menghubungkan antara komunikator dan komunikan secara langsung, diadakan survey atau penelitian. (Vardiansyah 2004:33).
2.1.2. Berita
bahasa sansekerta, yaitu urit yang dalam bahasa Inggris disebut write, yang berarti sebenarnya adalah ada atau terjadi. Sebagian ada yang menyebut dengan Writta, artinya kejadian atau yang telah terjadi. Dalam kamus besar bahasa Indonesia karya Poerwadarminto, berita di perjelas menjadi laporan mengenai kejadian atau peristiwa yang hangat.
Sedangkan menurut (McQuail, 1989 : 189) berita merupakan sesuatu yang bersifat metafistik dan sukar dijawab kembali dalam kaitannya dengan institusi dan kata putus mereka yang bersifat rasa dan sulit diraba karena kehalusannya. Berita bukanlah cermin kondisi sosial, tetapi laporan tentang salah satu aspek yang telah menonjolkannya sendiri.
Suatu fakta dapat dikatakan berita, apabila memenuhi syarat antara lain telah dipublikasikan oleh seseorang atau institusi yang jelas identitasnya, alamat, dan penanggungjawabnya, fakta tersebut ditemukan oleh jurnalis dengan cara yang sesuai dengan standar operasional dan prosedur dalam profesi jurnalistik (Panuju, 2005 : 52).
Dari beberapa definisi tersebut dapat dirangkum bahwa berita adalah laporan dari kejadian yang penting atau peristiwa hangat, dapat menarik minat atau perhatian para pembaca. Berita merupakan gudang informasi, dan berita merupakan bagian terpenting dari tabloid atau surat kabar.
Menurut (Djuroto, 2002 : 48) untuk membuat berita paling tidak harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
2. Faktanya tidak boleh diputar sedemikian rupa hingga tinggal sebagian saja.
3. Berita itu harus menceritakan segala aspek secara lengkap.
Sedangkan menurut (Kusumaningrat, 2006 : 47) unsur-unsur yang membuat suatu berita layak untuk dimuat ada tujuh yaitu ; Akurat, Lengkap, Adil, Berimbang, Objektif, Ringkas, Jelas, dan Hangat. Dan dalam mengangkat sebuah berita, wartawan menyerahkan laporan berita yang mereka liput kepada editor; editor adalah orang yang mengedit naskah tulisan atau karangan yang akan diterbitkan oleh majalah, surat kabar.
Selain unsur-unsur berita wartawan juga harus memikirkan nilai berita, dalam cerita atau berita itu tersirat pesan yang ingin disampaikan wartawan kepada pembacanya. Ada tema yang diangkat dari suatu peristiwa. Nilai berita ini menjadi menentukan berita layak berita. Menurut (Ishwara 2005 : 53) peristiwa-peristiwa yang memiliki nilai berita ini misalnya yang mengandung konflik, bencana dan kemajuan, dampak, kemasyhuran, segar dan kedekatan, keganjilan, human interest, seks, dan aneka nilai lainnya.
Sedangkan menurut (Effendy, 2010 : l67)
2. Kedekatan, peristiwa yang mengandung unsur kedekatan dengan pembaca akan menarik perhatian. Kedekatan yang dimaksud tidak hanya kedekatan secara geografis tapi juga kedekatan emosional.
3. Keterkenalan, kejadian yang menyangkut tokoh terkenal (prominent names) memang akan banyak menarik pembaca. Hal ini tidak hanya
sebatas nama orang saja, demikian pula dengan tempat-tempat terkenal,
4. Dampak, Berita memiliki banyak jenis, Menurut (Sumadiaria, 2005 : 69-71 ) dalam dunia jurnalistik berita berdasarkan jenisnya dapat dibagi dalam tiga kelompok :
1. Elementary yaitu :
a. Straight News report adalah laporan langsung mengenai suatu peristiwa. Biasanya berita jenis ini ditulis dengan unsur-unsur yang dimulai dari what, when, why, where, who, dan how (5W+1H).
b. Depth News Report merupakan laporan yang sedikit berbeda dengan Straight News report. Reporter (wartawan) menghimpun informasi
dengan fakta-fakta mengenai peristiwa itu sendiri sebagai informasi tambahan untuk peristiwa itu sendiri.
2. Intermediate yaitu :
a. Interpretative Report lebih dari sekedar Straight News report dan depth news. Berita interpretative biasanya memfokuskan pada sebuah
isu, masalah, atau peristiwa-peristiwa kontroversial. Dalam jenis laporan ini reporter menganalisis dan menjelaskan.
b. Feature Story berbeda dengan jenis berita-berita di atas yang menyajikan informasi-informasi penting, di feature story penulis mencari fakta untuk menarik perhatian pembaca. Penulisan feature lebih bergantung pada gaya penulisan dan humor daripada pentingnya informasi yang disajikan.
3. Advance yaitu :
a. Depth Reporting adalah pelaporan jurnalistik yang bersifat mendalam, tajam, lengkap, dan utuh tentang suatu peristiwa fenomenal atau aktual dengan membaca karya pelaporan mendalam, orang akan mengetahui dan memahami dengan baik duduk perkara suatu persoalan dilihat dari berbagai perspektif atau sudut pandang.
waratawan melakukan penyelidikan untuk memeperoleh fakta yang tersembunyi demi tujuan. Pelaksanaannya sering ilegal atau tidak etis
c. Editoral Writing adalah pikiran sebuah institusi yang diuji di depan sidang pendapat umum. Editorial adalah penyajian fakta dan opini yang menafsirkan berita-berita yang penting dan mempengaruhi pendapat umum
Yang dapat membedakan antara berita dengan bukan berita salah satunya adalah pada ada tidaknya opini. Hal ini didasari bahwa sebuah berita berasal dari suatu fakta sedangkan opini berangkat dari suatu pemikiran. Berita mempresentasikan fakta sedangkan opini mempresentasikan gagasan atau ide. Dalam kacamata jurnalistik, tidak semua fakta adalah berita.
Suatu fakta dapat dikatakan berita, apabila memenuhi syarat antara lain telah dipublikasikan oleh seseorang atau institusi yang jelas identitasnya, fakta tersebut dihimpun oleh jurnalis dengan cara yang sesuai dengan standart operasional dan prosedur dalam profesi jurnalistik (jurnal mata kuliah dasar-dasar jurnalistik).
Untuk membuat berita paling tidak, harus dipenuhi syarat-syarat sebagai berikut :
1. Menjaga objektifitas dalam pemberitaan.
2. Fakta tidak boleh diputar balikkan sedemikian rupa hingga tinggal sebagian saja.
Berdasarkan pasal dari kode etik jurnalistik milik AJI (pasal 3/14 Maret 2006) dijabarkan melalui sebagai berikut :
a. Menguji informasi berarti melakukan cek dan re-cek tentang kebenaran informasi.
b. Berimbang dengan memberikan ruang pemberitaan kepada masing-masing pihak secara proporsional.
c. Opini yang menghakimi adalah pendapat pribadi wartawan.
d. Azas praduga tak bersalah adalah prinsip dengan tidak menghakimi seseorang.
Setiap berita yang disuguhkan harus dapat dipercaya namun juga dapat menarik perhatian khalayak sehingga lewat menyajikan hal-hal yang faktual dari apa adanya, kebenaran isi cerita yang disampaikan tidak menimbulkan tanda tanya dan ada kesesuaian dari judul dengan isi berita.
Unsur yang penting dalam menyajikan berita adalah kesesuaian antara judul berita dengan isinya, terlebih lagi bagi media massa cetak dengan pembaca yang memiliki karakteristik pembaca sekilas. Judul berita harus mempresentasikan seluruh isi berita, hal ini dimaksudkan untuk menghindari salah persepsi saat berita dibaca hanya menarik saat dibaca sekilas oleh khalayak melalui judul yang bombastis namun tidak sesuai dengan isi.
memiliki nilai penting dimata khalayak, bukannya melalui mengarang judul berita yang se-bombastis mungkin sedangkan tidak tercermin pada isi beritanya.
Pada jurnal mata kuliah jurnalistik, dikatakan fungsi judul berita adalah :
1. Memberikan identitas pada berita
2. Mempermudah pembaca untuk memilih berita 3. Menarik perhatian pembaca
Mutu surat kabar dalam penyajiannya sangat sering juga menyertakan gambar, foto, ilustrasi kartun maupun bagan ataupun table yang berguna untuk memperjelas isi pemberitaan. Penempatan adanya data pendukung berita ini sangat penting atas pertimbangan berikut :
1. Foto, gambar, tabel, dan ilustrasi merupakan unsur berita yang pertama kali menangkap mata serta perhatian pembaca. Woodburn (yang dikutip dari jurnal jurnalistik media cetak) menjelaskan bahwa data pendukung berita di atas, memiliki kekuatan stopping power serta menjelaskan bagian dari unsur berita yang disajikan.
2. Foto dalam surat kabar, dapat digunakan dalam komunikasi dengan pembaca yang memiliki latar belakang beranekaragam karena foto mampu menyajikan berita melalui bahasa foto lebih universal.
Dalam sebuah berita yang idealnya mengambil bentuk piramida terbalik yang diurutkan dengan menjelaskan mulai dari bagian berita yang terpenting sampai pada yang kurang penting, letak tanggal terjadinya peristiwa umumnya terletak pada bagian teras berita. Bentuk penulisan Piramida Terbalik (Inverted Pyramid), seperti pada gambar berikut :
Gambar 2.1
Pir amida Ter balik 5W+ 1H
Pada Piramida terbalik ini, penulisan berita dimulai dengan membuat lead atau teras berita sebagai paragraf pertama. Dalam penulisan lead ini mencakup rumus dasar dalam menulis berita berupa 5W + 1H yaitu :
a. What : Peristiwa atau hal apa yang terjadi b. Where : Dimana peristiwa itu terjadi c. When : Kapan peristiwa itu terjadi d. Why : Mengapa peristiwa tersebut terjadi
J U D U L
LEAD (5W + 1H)
TUBUH
Rincian lead, latar belakang dan informasi lanjutan
Sangat
e. Who : Siapa saja yang terlibat dalam peristiwa tersebut f. How : bagaimana peristiwa tersebut terjadi
Kemudian, lead dikembangkan atau teras berita tersebut dijadikan sebagai paragraf kedua dan digunakan sebagai dasar untuk menjelaskan atau mendukung tulisan pada paragraf pertama.
Paragraf ketiga dan selanjutnya adalah sebagai tubuh berita. Selain susunan berita yang berbentuk piramida terbalik, yang harus diperhatikan adalah :
a. Paragraf : lebih baik menggunakan alenia pendek sehingga dapat memberi kesan yang santai dan mudah untuk di baca.
b. Gaya bahasa : penggunaan gaya bahasa yang di pakai dapat di mengerti oleh semua pihak, baik kalangan atas atau bawah bahkan pula yang tidak berpendidikan. Hal ini dikarenakan khalayak daripada media massa yang bersifat heterogen.
c. Ekonomis kata : harus menggunakan kalimat yang sesingkat mungkin untuk mengungkapkan satu maksud. Artinya satu gagasan satu kalimat.
d. Objektifitas : suatu berita harus tetap dijaga dalam Press Release walaupun mengandung suatu tujuan tertentu. Sehingga seseorang beropini, namun haruslah jelas opini tersebut dinyatakan oleh siapa.
f. Data perlu diperhatikan Panjang sebuah Press Release : dalam penulisannya sebaiknya tidak lebih dari dua halaman, sehingga perlu di hindari penggunaan kata yang berbelit-belit.
Bagian terakhir dalam penyajian berita namun bagiannya merupakan hal yang tidak kalah penting yaitu berhubungan dengan persyaratan adanya fakta-fakta yang siap untuk diverifikasi, data terbuka untuk diadakan penelusuran, narasumber yang memberikan informasi mudah dikenali serta berbagai pertanggungjawaban berita lainnya.
Narasumber dalam berita penting karena berkaitan dengan kredibilitas media massa yang bersangkutan. Ini dikarenakan, perihal narasumber berkaitan erat dengan kelanjutan adanya penuntutan bilamana ada pihak yang merasa dirugikan akan pemberitaan tersebut. Karena itu, masalah narasumber, jurnalis dituntut untuk se-valid mungkin dalam menyajikan berita.
2.1.3. Per s Dalam Kaidah J ur nalistik
Ada dua pengertian pers, yaitu pers dalam arti sempit dan pers dalam arti luas. Pers dalam arti sempit adalah media massa cetak seperti surat kabar, majalah, tabloid mingguan, dan sebagainya. Sedangkan pers dalam arti luas meliputi media massa cetak elektronik antara lain radio dan televisi, sebagai media yang menyiarkan karya jurnalistik. ( Effendy, 2000 : 90)
Jadi secara tegas, pers adalah lembaga atau badan atau organisasi yang menyebarkan berita sebagai karya jurnalistik kepada khalayak. Pers dan jurnalistik dapat diibaratkan sebagai raga dan jiwa. Pers adalah aspek raga, karena ia berwujud, konkret atau nyata, oleh karena itu dapat diberi nama. Sedangkan jurnalistik adalah aspek jiwa, karena ia abstrak, merupakan kegiatan daya hidup yang menghidupi aspek pers itu sendiri.
Sedangkan pengertian pers di Indonesia tercantum dalam Undang-undang No.11 Tahun 1966 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pers dan Undang-undang No. 21 Tahun 1982 tentang Perubahan Atas Undang-undang no. 11 Tahun 1966. dalam Undang –undang tersebut dinyatakan sebagai berikut:
”Pers adalah lembaga kemasyarakatan, alat perjuangan nasional
yang mempunyai karya sebagai salah satu media komunikasi massa, yang
bersifat umum berupa penerbitan yang teratur waktu terbitnya dilengkapi
atau tidak diperlengkapi dengan alat-alat milik sendiri berupa percetakan
Jadi berdasar definisi pers diatas jelas tercantum bahwa pers harus mempunyai idealisme, yakni bahwa pers Indonesia merupakan alat perjuangan nasional, bukan sekedar penjual berita hanya untuk mencari keuntungan finansial.
Tugas dan fungsi pers adalah mewujudkan keinginan manusia yang haus akan kebutuhan informasi tersebut melalui medianya. Tetapi fungsi pers bukan hanya itu, menurut Kusumaningrat fungsi pers yang lebih detail adalah sebagai berikut:
1. Fungsi Informatif
Yaitu memberikan informasi atau berita kepada khalayak dengan cara yang teratur. Pers menghimpun berita yang dianggap berguna dan penting bagi orang banyak dan kemudian menuliskan dengan kata-kata. Pers memberitakan suatu kejadian pada saat itu dan tidak menutup kemungkinan bahwa pers juga memperingatkan khalayaknya tentang peristiwa yang diduga akan terjadi.
2. Fungsi Kontrol ( fungsi watchdog )
Pers harus memberitakan apa yang berjalan dengan baik dan tidak berjalan dengan baik. Fungsi ini harus dilakukan dengan lebih aktif oleh pers daripada oleh kelompok organisasi masyarakat lain seperti LSM(Lembaga Swadaya Masyarakat), dan lain sebagainya.
3. Fungsi Interpretatif dan Direktif
diperlukan, pers juga memberitahukan tindakan yang seharusnya diambil oleh masyakarat dan memberikan alasan mengapa harus bertindak.
4. Fungsi Menghibur
Mereka menceritakan kisah yang menarik dan lucu untuk khalayak ketahui (humor, drama serta musik) meskipun kisah itu tidak terlalu penting.
5. Fungsi Regeneratif
Pers membantu menyampaikan warisan sosial kepada generasi baru terjadi proses regenerasi dari angkatan yang sudah tua kepada angkatan yang lebih muda dengan cara menceritakan bagaimana sesuatu itu dilakukan dimasa lampau, bagaimana dunia dijalankan sekarang, bagaimana itu diselesaikan dan apa yang dianggap dunia itu benar atau salah.
6. Fungsi Pengawalan Hak-Hak Warga Negara
7. Fungsi Ekonomi
Pers juga dapat berfungsi secara ekonomi yaitu dengan cara melayani sistem ekonomi melalui iklan.
8. Fungsi Swadaya
Untuk memelihara kebebasan yang murni, pers berkewajiban untuk memupuk kekuatan modalnya sendiri agar tidak ditempatkan dibawah kehendak siapa saja yang mampu membayarnya sebagai balas jasa. (Kusumaningrat, 2005 : 27-29 )
Hubungan pers sebagai media yang menjembatani masyarakat dan sistem pemerintahan mempunyai hubungan yang berkesinambungan dan saling menguntungkan.
2.1.4. Penger tian Sur at Kabar
Surat kabar merupakan kumpulan dari berita, artikel, cerita, iklan dan sebagainya yang dicetak kedalam lembaran kertas ukuran plano yang diterbitkan secara teratur, dan bisa terbit setiap hari atau seminggu satu kali (Djuroto, 2002 : 11).
Surat kabar pertama kali diterbitkan dan diperjual belikan untuk pertama kali di Amerika Serikat, menurut sejarahnya surat kabar ditemukan dan dicetak pertama oleh seorang imigran dari Inggris pada tahun 1690, bernama Benyamin Harris (Djuroto, 2002 : 5).
Surat kabar pada perkembangannya saat ini menjelma sebagai salah satu bentuk dari pers yang mempunyai kekuatan dan kewenangan untuk menjadi sebuah konstrol sosial dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Hal tersebut disebabkan karena falsaafah pers yang selalu identik dengan kehidupan sosial, budaya dan politik.
2.2. Objektifitas Berita
Objektivitas Berita adalah Penyajian berita yang benar, tidak berpihak dan berimbang. Indikator yang digunakan adalah dimensi Truth (yakini tingkatan sejauh mana fakta yang disajikan itu benar atau bisa diandalkan). Relevansi (yakini tingkatan sejauh mana relevansi aspek-aspek fakta yang diberitakan dengan standart jurnalistik dan ketiga adalah Impartiality (yakini tingkatan sejauh mana fakta-fakta yang diberitakan bersifat netral dan tidak berpihak.
pemberitaan di surat kabar selalu dituntut untuk mengungkapkan kebenaran secara fairness. Yaitu salah satu syarat objektifitas yang juga sering disebut sebagai
pemberitaan cover both side, dimana pers menyajikan semua pihak yang terlibat sehingga pers mempermudah pembaca menemukan kebenaran. Selain fairness, pers juga dituntut melakukan pemberitaan yang akurat, tidak bohong, menyatakan fakta bila itu memang fakta, dan pendapat bila itu memang pendapat, dikutip dari Siebert tahun 1986 (Bungin, 2003 : 153 – 154).
Objektifitas merupakan nilai etika dan moral yang harus dipegang teguh oleh media dalam menjalankan profesi jurnalistik. Dalam pasal 3, Kode Etik Jurnalistik yang dikeluarkan oleh AJI 14 Maret 2006 dikatakan “wartawan Indonesia selalu menguji informasi, memberitakan secara berimbang, tidak mencampurkan fakta dan opini yang menghakimi serta menetapkan azas praduga tak bersalah”.
Rachma Ida, membuat sebuah kategorisasi yang mengukur objektifitas pers sebuah surat kabar dengan tiras minimal 100.000 eksemplar. Dengan obyek penelitian berita politik dengan skala nasional yang menjadi berita utama (Kriyantono, 2006 : 224). Rachma Ida disini mencoba untuk mengukur Objektifitas pemberitaan surat kabar dengan mengoperasionalisasikan dalam dimensi-dimensi objektifitas yang terdiri dari aktualitas, fairness dan validitas pemberitaan, berikut kategorisasi objektifitas menurut Rachma Ida (Kriyantono, 2006 : 244 dan juga dalam Bungin, 2003 : 154-155).
1) Kesesuaian judul berita dengan isi berita. 2) Pencantuman waktu terjadinya suatu peristiwa.
3) Penggunaan data pendukung atau kelengkapan informasi atas kejadian yang ditampilkan.
4) Faktualitas berita, yaitu menyangkut ada tidaknya pencampuran fakta dengan opini wartawan yang menulis berita.
b. Fairness atau ketidakberpihakan pemberitaan, yaitu yang menyangkut keseimbangan penulisan berita yang meliputi :
1) Ketidakberpihakan, dilihat dari sumber berita yang digunakan. 2) Ketidakberpihakan, dilihat dari ukuran fisik luas kolom. c. Validitas keabsahan pemberitaan, diukur dari :
1) Atribusi, yaitu pencantuman sumber berita secara jelas (baik identitas maupun dalam upaya konfirmasi atau check dan re check).
2) Kompetensi pihak yang dijadikan sumber berita yang mendapatkan informasi yang digunakan untuk mengetahui validitas suatu kronologi peristiwa (berita yang menyangkut peristiwa dengan kronologi kejadiannya), apakah berasal dari apa yang dilihat, atau hanya sekedar kedekatannya dengan media yang bersangkutan atau karena jabatannya. Kategori ini dibagi menjadi : wartawan, pelaku langsung dan bukan pelaku langsung.
Jurgen Westerstahl menjabarkan konsep objektifitas pada bagan berikut :
Bagan 1. Konsep Objektivitas (Westersthal, 1983 : 130).
Obyektivitas
Kefaktualan impartialitas
Kebenaran Relevansi Keseimbangan Netralitas
Kefaktualan dikaitkan dengan bentuk penyajian laporan tentang peristiwa atau
2.5. Ker angka Ber pikir
Seperti yang telah diketahui bahwa pekerjaan media adalah pekerjaan yang berhubungan dengan pembentukan realitas. Sehingga, pada dasarnya berita yang tersaji di hadapan khalayak merupakan hasil olahan atau konstruksi wartawan sebagai perpanjangan tangan dari media. Karena semua pekerja jurnalis adalah agen : bagaimana peristiwa yang acak dan kompleks itu disusun sedemikian rupa sehingga membentuk sebuah berita yang dapat dipahami dan dimengerti oleh khalayak.
Demikian halnya dengan berita mengenai Pasien yang Buta – Tuli Setelah Operasi Hernia Koran harian Jawa Pos Edisi 4 Oktober sampai dengan 12 Oktober 2011 yang memiliki sudut pandang dalam pemberitaannya mengenai realitas yang ada. Pemuatan berita Buta – Tuli Setelah Operasi Hernia di media surat kabar Jawa Pos dipilih penulis sebagai subyek penelitian.
Gambar 2.3 Ker angka Ber fikir
Objektivitas Berita Pasien RS Khodijah yang Buta – Tuli Setelah Operasi Hernia Di Koran harian Jawa Pos Edisi 4 Oktober sampai dengan 6 Oktober 2011
Kategorisasi Obyektivitas : 1. Akurasi Pemberitaan :
1. Kesesuaian judul berita sesuai isi berita
2. Pencantuman Waktu
Terjadinya Suatu Peristiwa 3. Penggunaan Data Pendukung,
Kelengkapan Informasi Atas Kejadian yang Ditampilkan 4. Faktualitas Berita
2. Fairness/Ketidakperpihakan pemberitaan :
1. Dilihat Dari Sumber Berita yang Digunakan
2. Dilihat Dari Ukuran Fisik Luas Kolom yang Digunakan 3. Validitas Keabsahan:
1. Atribusi
2. Kompetensi Sumber Berita
BAB III
METODE PENELITIAN
Definisi operasional merupakan suatu konsep pengukuran variabel-variabel penelitian dapat dijelaskan dengan indikator-indikator variable penelitian dengan mengkategorisasikan pemberitaan berdasarkan Teori yang ada.
Penelitian ini menggunakan metodologi riset kuantitatif yang mengharuskan peneliti bersikap obyektif dan memisahkan diri dari data, karena riset ini menggambarkan suatu masalah yang hasilnya dapat digeneralisasikan (Kriyantono,2006 : 55).
Berdasarkan metodologi diatas, penelitian ini menggunakan metode analisis isi yang digunakan untuk menganalisis isi pesan yang tampak, dengan cara sistematik dan obyektif. Dalam penelitian ini digunakan jenis penelitian deskriptif yang bertujuan membuat deskripsi secara sistimatik, faktual, akurat tentang fakta serta sifat yang dimiliki suatu populasi yang diteliti.
3.1. Definisi Oper asional
Pemberitaan didalam rubrik Metropolis pada Koran Jawa Pos Edisi 4 Oktober sampai 12 Oktober tentang Buta – Tuli Setelah Operasi Hernia dapat mewakili keingintahuan masyarakat serta menjadi bahan pembicaraan yang hangat di masyarakat serta penerimaan kritik dan saran atau hujatan sekalipun dari masyarakat luas. Sehingga dapat menimbulkan topik pembicaraan dalam kalangan masyarakat dengan memberikan argumentasi secara objective journalism yang berbobot.
3.1.1. Obyektivitas Ber ita Pada Pasien RS Khodijah
Pemberitaan pada Headline koran Jawa Pos di rubrik metropolis Buta – Tuli Setelah Operasi Hernia pada tanggal (4/10). Di RS. Khodijah, Sepanjang Sidoarjo lah yang membuat Ahmad Fatih Asyifa kini mengalami gangguan pendengaran dan penglihatan. Kejadian tersebut memunculkan dugaan terjadinya malpraktik di RS tersebut.
di RS Khodijah Rumikan sudah menghabiskan dana Rp 6.5 juta dan dua hari di IRD habis Rp 7 juta.
3.2. Kategor isasi Obyektivitas Per s
Subjek dalam penelitian ini adalah Jawa Pos dan Rubrik Metropolis. dan objek penelitiannya adalah Berita Pada Pasien RS Khodijah Pada Koran Harian JawaPos Edisi 4 Oktober 2011 sampai 12 Oktober 2011.
Dari berita kasus Berita Pada Pasien RS Khodijah di surat kabar harian pagi Jawa Pos yang dianalisa sebagai obyek dari penelitian ini yang kemudian penulis mengklasifikasikannya berdasarkan kategori yang telah dibuat dan disesuaikan agar diperoleh hasil yang akurat, karena validitas metode dan hasil-hasilnya sangat bergantung dari kategori-kategorinya. Dengan demikian penelitian menggunakan kategorisasi yang digunakan oleh Rachma Ida, PhD.
Kategorisasi Obyektivitas pemberitaan menurut Rachma Ida (Kriyantono, 2006: 244 dan juga dalam Bungin, 2003: 154-155):
Akurasi pemberitaan, meliputi :
1) Kesesuaian judul berita dengan isi berita, konsep ini dibagi dalam dua kategorisasi :
a) Sesuai, bila judul merupakan bagian dari kalimat yang sama pada isi berita atau kutipan yang jelas-jelas ada di dalam pemberitaan atau ada dalam isi berita.
2) Pencantuman waktu terjadinya suatu peristiwa. Kategori dalam konsep ini, yaitu :
a) Dicantumkan waktu, bila dalam tulisan mencamtumkan tanggal, pencantuman kata-kata atau pernyataan tentang waktu atau keduanya, yaitu mencantumkan tanggal dan kata-kata.
b) Tidak dicantumkan waktu, yaitu jika dalam tulisan itu tidak mencamtumkan waktu.
3) Penggunaan data pendukung atau kelengkapan informasi atas kejadian yang ditampilkan antara lain menggunakan : tabel, statistik, foto, ilustrasi gambar dan lain-lain, konsep ini dibagi
a) Ada data pendukung, bila tulisan dilengkapi dengan salah satu data pendukung, seperti foto peristiwa, tabel, statistik (angka-angka) dan data referensi (buku undang-undang, peraturan pemerintah, dan lain-lain).
b) Tidak ada data pendukung, bila tulisan itu sama sekali tidak dilengkapi dengan data pendukung.
4) Faktualitas berita, konsep ini dibagi atas kategori :
b) Tidak ada pencampuran fakta dan opini, yaitu apabila dalam artikel tidak ada kata-kata opinionative.
B. Fairness dan ketidakberpihakan pemberitaan, meliputi :
1) Ketidakberpihakan, dilihat dari sumber berita yang digunakan yaitu : a) Seimbang, yaitu apabila masing-masing pihak yang diberitakan diberi porsi yang sama sebagai sumber berita, dilihat dari jumlah sumber beritanya.
b) Tidak seimbang, yaitu jika masing-masing pihak yang diberitakan tidak diberi porsi yang sama sebagai sumber berita.
2) Ketidakberpihakan dilihat dari ukuran fisik luas kolom (centimeters kolom) yang dipakai yaitu :
a) Seimbang, yaitu jika luas kolom yang dipakai antara pihak-pihak yang terlibat dalam pemberitaan memiliki jumlah kesamaan.
b) Tidak seimbang, yaitu jika luas kolom yang dipakai antara pihak-pihak yang terlibat dalam pemberitaan tidak memiliki jumlah kesamaan. C. Validitas keabsahan pemberitaan, diukur dari :
1) Atribusi sumber berita. Konsep ini dibagi menjadi :
a) Sumber berita jelas, apabila dalam berita itu sumber beritayang dipakai dicantumkan identitasnya seperti nama, pekerjaan, atau sesuatu yang memungkinkan untuk dilakukan konfirmasi.
2) Kompetensi pihak yang dijadikan sumber berita yang mendapatkan informasi yang digunakan untuk mengetahui validitas suatu kronologi peristiwa. Kategori ini dibagi dalam :
a) Wartawan, apabila peristiwa yang diberitakan merupakan hasil pengamatan wartawan secara langsung.
b) Pelaku langsung, apabila peristiwa yang diberitakan merupakan hasil wartawan dengan sumber berita yang mengalami peristiwa tersebut. c) Bukan pelaku langsung, apabila peristiwa yang diberitakan merupakan
hasil wawancara dengan sumber berita yang tidak mengalami langsung peristiwa tersebut. Hanya karena jabatan atau memiliki akses informasi lalu menjadi sumber berita. Misalnya petugas humas, juru bicara, kapuspen, atau juga pejabat yang berwenang tetapi tidak berada di lokasi ketika peristiwa itu terjadi.
3.3. Populasi, Sampel, dan Teknik Penar ikan Sampel
3.3.1. Populasi
Penentuan jumlah populasi dalam suatu penelitian merupakan upaya bagi peneliti untuk membatasi ruang lingkup analisisnya. Yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah berita pasien RS Khodijah yang Buta – Tuli setelah Operasi Hernia di surat kabar Jawa Pos pada tanggal periode 4,5,6,11 dan 12 Oktober 2011. Pemilihan jangka waktu ini berdasarkan pertimbangan pada bulan tersebut, masa terjadinya peristiwa.
Jawa Pos merupakan surat kabar Nasional, Jawa Pos, dengan kantor penerbitan yang bertempat di kota Surabaya, Jawa Timur. Harian Jawa Pos hingga kini memiliki tiras tidak kurang dari 352.000 eksemplar. Dipilihnya harian Jawa Pos dikarenakan adanya faktor kedekatan (proximity) antara peristiwa dengan latar belakang kota besar di Indonesia. Dengan pertimbangan tiras sebesar itu. Menunjukan bahwasanya Jawa Pos memiliki jumlah pembaca yang besar, meluas di masyarakat khususnya di Jawa Timur dan mampu memunculkan opini publik yang cukup signifikan.
3.3.2 Sampel dan Teknik Penar ikan Sampel
menyatakan besaran sampel tidak ada ketentuan pastinya, yang penting adalah hasilnya yang representatif.
Teknik pengambilan sample menggunakan total sampling, yaitu sample diambil secara keselurahan dari jumlah populasi yang didasarkan pada keseluruhan unit populasi, yaitu berita pada pasien RS Khodijah yang Buta-Tuli Setelah Operasi Hernia di Media Jawa Pos edisi 4,5,6,11 dan 12 Oktober 2011, didapatkan populasi sebanyak 5 berita. Jadi sampel yang di ambil adalah 5 sesuai dengan jumlah populasi yang di peroleh memiliki kesempatan yang sama untuk di jadikan sampel. Dengan demikian harus dihindari adanya diskriminasi unit populasi antara satu dengan yang lain karena semua memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi sampel.
3.4. Tek nik Pengumpulan Data
3.5. Tek nik Analisis Data
Untuk menganalisis data, terlebih dahulu data yang terkumpul akan diuraikan dengan menggunakan lembar koding. Metode analisi yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuatitatif, yaitu suatu analisis dengan menggunakan angka atau persamaan matematis yang selajutnya dideskripsikan dalam uraian kalimat.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Gambar an Umum Per usahaan
4.1.1. Gambar an Umum Surat Kabar J awa Pos
Jawa Pos merupakan surat kabar yang menyajikan berita-berita umum. Berita-berita ini meliputi peristiwa-peristiwa yang terjadi secara nasional maupun internasional yang diantaranya kegiatan ekonomi, politik, budaya, hukum, pemerintahan dan sebagainya. Disamping itu Jawa Pos juga menyajikan berita-berita lain yang didasarkan peristiwa daerah Jawa timur dan Indonesia timur.
PT. Jawa Pos didirikan oleh The Chung Sen atau lebih dikenal dengan Soeseno Tedjo pada tanggal 1 Juni 1949. surat kabar Jawa Pos pertama kali terbit bernama Java Pos. karena wawasannya yang luas dan berorientasi ke depan. The Chung Sen dikenal sebagai raja surat kabar dari Surabaya. Surat kabar yang pernah diterbitkannya adalah surat kabar berbahasa Indonesia yakni Jawa Pos, surat kabar berbahasa Tionghoa yakni Huan Chian Shir, dan surat kabar yang menggunakan bahasa Belanda yakni De Vrije Pers.
redup. Perkembangan teknologi yang kian sulit diikuti, membuat oplah jawa pos semakin menurun sehingga pada tahun 1982 oplahnya tinggal 6700 ekslempar perhari. Dalam usianya yang semakin uzur Soeseno Tedjo memutuskan untuk menyerahkan pengelolaan Jawa Pos kepada maedia mingguan berita Tempo, Eric FH Samola, waktu itu adalah Direktur Utama PT Grafiti Pers (penerbit majalah Tempo) mengambil alih Jawa Pos. Dengan manajemen baru, Eric mengangkat Dahlan Iskan, yang sebelumnya adalah Kepala Biro Tempo di Surabaya untuk memimpin Jawa Pos. Eric Samola kemudian meninggal dunia. Dan dibawah kendali Dahlan Iskan pada tahun 1986 oplah Jawa Pos meningkat secara spektakuler mencapai 100.000 eksemplar perhari. Dengan adanya tekad besar manajemen Jawa Pos terus melakukan inovasi dan gebrakan-gebrakan baru, yakni salah satunya dengan meningkatkan kualitas dan kuantitas berita.
Beberapa tahun kemudian terbentuklah Jawa Pos News Network (JPNN), salah satu jaringan surat kabar terbesar di Indonesia, dimana memiliki lebih dari 80 surat kabar, tabloid, dan majalah, serta 40 jaringan percetakan di Indonesia. Pada tahun 1997, Jawa Pos pindah ke gedung yang baru berlantai 21, Graha Pena, salah satu gedung pencakar langit di Surabaya. Tahun 2002 dibangun Graha Pena di Jakarta. Dan, saati ini bermunculan gedung-gedung Graha Pena di hampir semua wilayah di Indonesia.
Adiprima Sura Perinta, mampu memproduksi kertas koran 450 ton/hari. Lokasi pabrik ini di Kabupaten Gresik.
Setelah sukses mengembangkan media cetak di seluruh Indonesia, pada tahun 2002 Jawa Pos Grup mendirikan stasiun televisi lokal JTV di Surabaya, yang kemudian diikuti Batam TV di Batam, Riau TV di Pekanbaru, FMTV di Makassar, PTV di Palembang, Parahiyangan TV di Bandung.
Memasuki tahun 2003, Jawa Pos Group merambah bisnis baru : Independent Power Plant. Proyek pertama adalah 1 x 25 MW di Kab. Gresik, yakni dekat pabrik kertas. Proyek yang kedua 2 x 25 MW, didirikan di Kaltim, bekerjasama dengan perusahaan daerah setempat.
4.2. Penyajian Data
Dalam penelitian ini yang menjadi data penelitian adalah berita-berita mengenai seputar kasus pasien RS Khodijah yang Buta-Tuli setelah operasi Hernia di surat kabar Jawa Pos pada edisi 4,5,6,11 dan 12 Oktober 2011. Adapun rincian berita sebagai berikut :
Tabel 4.1
Rincian Ber ita Har ian J awa Pos edisi 4,5,6,11 dan 12 Oktober 2011
No Edisi J udul Ber ita
01 04 Oktober 2011 Buta- Tuli Setelah Operasi Hernia
02 05 Oktober 2011 Keluarga Tuntut Asyifa Disembuhkan Total
03 06 Oktober 2011 Obat untuk Syifa Tak Dipakai d idr Soetomo
04 11 Oktober 2011 Syifa Menunggu Janji Gubernur
4.2.1 Obyek tivitas Pemberitaan
Obyektivitas dalam penyajian berita merupakan salah satu nilai yang harus dipenuhi oleh jurnalis dalam rangka pemenuhan informasi serta penyampaian informasi yang benar kepada khalayak ataupun masyarakat. Teori ini didasari atas pandangan bahwa sebuah kebenaran di media massa tidaklah bisa diklaim oleh satu pihak saja, namun harus dikonfirmasikan menurut kebenaran dari pihak lain.
Inilah mengapa pemberitaan disurat kabar selalu dituntut untuk mengungkapkan kebenaran secara fairness. Obyektivitas yang juga sering disebut sebagai pemberitaan cover both side, dimana pers menyajikan semua pihak yang terlibat sehingga pers mempermudah pembaca menemukan kebenaran. Selain fairness, pers juga dituntut melakukan pemberitaan yang akurat, tidak bohong, menyatakan fakta bila itu memang fakta, dan pendapat bila itu memang pendapat.
Hanya belakangan ini, muncul suatu wacana yang memandang obyektivitas sebagai teori yang dikuduskan oleh para praktisi jurnalis dan dikristalkan sehingga aplikasi dalam profesinya sudah sangat jarang ditemui lagi di media massa. Sesuatu yang ditulis oleh wartawan dan terbitkan oleh media yang memiliki prestige akan lebih dipercaya oleh khalayak sebagai fakta sehingga memiliki kekuatan untuk menimbulkan opini publik di masyarakat.
dimensi obyektivitas kedalam Impartial dan faktual. Jurgen Westerstahl menjabarkan konsep objektifitas pada bagan berikut :
Bagan 1. Konsep Objektivitas (Westersthal, 1983 : 130).
Obyektivitas
Kefaktualan impartialitas
Kebenaran Relevansi Keseimbangan Netralitas
dilaksanakan menurut prinsip kegunaan yang jelas, demi kepentingan calon penerima dan masyarakat (Nordenstreng, 1974 : 130).
Wien Charllote, seorang dosen komunikasi dari Denmark juga memiliki ketertarikan yang sama terhadap teori obyektivitas ini.
Dalam disertasinya dinyatakan bahwa jurnalis saat ini hanya memandang obyektivitas sebagai kepercayaan yang ada namun kurang berperan dalam tindakan praktis sebagai jurnalis dalam menulis berita. Tidak hanya pakar komunikasi dari luar saja yang memiliki ketertarikan terhadap obyektivitas pemberitaan, Ashadi Siregar, Henry Subiakto dan Rachma Ida adalah beberapa diantara ahli komunikasi di Indonesia yang mengangkat teori obyektivitas pemberitaan sebagai alat ukur untuk memahami media surat kabar harian nasional yang ada di Indonesia.
Henry Subiakto melakukan analisis isi kuantitatf terhadap 8 surat kabar nasional bertiras 100.000 eksemplar dengan mengukurnya kedalam dimensi obyektivitas pemberitaan yakni aktualitas, fairness dan validitas pemberitaan. Hasil temuan data menyimpulkan surat kabar Suara Pembaharuan, Kompas, Suara Merdeka, Media. Indonesia adalah media massa di Indonesia yang cenderung obyektif dibandingkan media massa yang lain dalam hal keakurasian pemberitaan, validitas nara sumbernya dan ketidak berpihakan pada pihak manapun.
untuk memisahkan fakta daripada opini dan dinilai cenderung untuk tidak melakukan provokasi massa, dan sebagainya.
Sementara itu surat kabar Republika, Jawa Pos, Pikiran Rakyat, dan Surya masih mengalami persoalan dengan obyektifitas. Artinya keempat surat kabar ini terlihat sekali berpihak pada pihak-pihak tertentu dan berkecenderungan menggunakan opini wartawan daripada fakta-fakta akan realitas yang se-nyatanya (library of Airlangga university, 2001)
Berangkat dari pertimbangan yang didasari pada pandangan/paradigma klasik dimana para jurnalis dalam menyajikan berita selalu mengacu pada fakta dan selalu bersifat obyektif dalam menyajikan liputan menjadi sebuah berita, penelitian ini dilakukan dengan menggunakan kategorisasi yang dibuat dan digunakan Rachma Ida.
menjadi resiko medis dari penggunaan obat bius halothane. Panas ganas tersebut bisa mengakibatkan kerusakan organ hingga kematian.
Solihah yang didampingi tim pengacaranya ditemui Kepala Bagian Pelayanan Medis RS Siti Khodijah dr Rusdi Arief. Dalam pertemuan tersebut, solihah menuntut pihak RS bertanggung jawab dengan memberikan perawatan kepada bocah yang akrab disapa Syifa hingga sembuh total. Sementara itu, dr Rusdi Arief menyatakan bahwa penyembuhan Syifa sudah sesuai dengan prosedur. Obat halothane yang dipakai sebagai anastesi tersebut merupakan obat yang dipakai di seluruh dunia. Bukan di RS Khodijah saja. Orang tua Ahmad Fatih Asyifa, Rumikan-Nur Solihah, tak perlu risau lagi dengan biaya pengobatan anaknya. Setelah persoalan biaya tersebut menjadi tanda tanya, kemarin (11/10) Pemprov Jatim kembali memberikan penegasan bahwa biaya pengobatan untuk bocah berusia tiga tahun yang akrab disapa Syifa itu digratiskan. Hal tersebut dipastikan oleh Gubernur Jatim Soekarwo melalui Asisten III Kesehatan Masyarakat Pemprov Jatim Edi Purwinarto. Kemarin Edi datang ke RSUD dr Soetomo. Ditemani Direktur RSUD dr Soetomo dr Dodo Anando, Syifa. Bukan hanya Pemprov Jatim yang siap menjamin biaya pengobatan Syifa. RS Siti Khodijah juga siap memberikan perawatan untuk memulihkan kondisi Syifa secara cuma-cuma.
Ada tidaknya pencantuman waktu terjadinya suatu peristiwa yang diberitakan yang dapat berupa angka maupun kata-kata yang menunjuk pada tanggal peristiwa. Penggunaan data pendukung yang dapat berbentuk daftar table, foto pendukung berita, ilustrasi gambar serta data-data lain dari sumber yang terkait dengan peristiwa yang diberitakan. Yang terakhir adalah ada tidaknya pencampuran antara fakta ada opini.
Melalui dimensi fairness atau ketidak berpihakan didapatkan sub dimensi sisi ketidakberpihakan yang dilihat dari jumlah sumber berita yang digunakan dan sisi ketidak berpihakan yang dilihat dari penggunaan luas kolom pemberitaan.
Melalui dimensi validitas didapatkan sub dimensi atribusi yakni kejelasan data dan identitas terhadap sumber berita yang digunakan sebagai sumber pemberitaan dan sub dimensi tingkat kompetensi sumber berita yang digunakan.
4.2.1.1. Akurasi Pember itaan
Tabel 4.2
Fr ekuensi Kategor asi Akurasi Pember itaan Dalam Sub Kategor i Kesesuaian Isi Dan J udul Berita
A
u
Sumber: Data Olahan Peneliti
Unsur penting dalam akurasi pemberitaan adalah kesesuaian judul dengan isi berita. McQuail menjelaskan dalam bukunya Teori Komunikasi Massa, kesesuain antara judul dengan isi berita merupakan salah satu aspek internal accuracy. Sebagian besar pembaca surat kabar membaca judul terlebih dahulu sebelum melanjutkan membaca isinya. Bahkan ada pula pembaca surat kabar yang hanya membaca judul dan lead secara sekilas tanpa membaca isinya lebih lanjut. Judul yang sensasional dan bombastis dapat menyesatkan pemahaman pembaca atas fakta yang ada. Konsistensi antara judul dengan isi berita sangat penting bagi kebenaran pemahaman pembaca terhadap fakta yang disajikan. (1991:210)
Dalam penelitian ini berdasarkan tabel, Jawa Pos masih belum konsisten dalam menulis judul berita yang sesuai dengan isinya. Akan sangat aneh dan teledor jika penulisan sebuah berita tidak sesuai dengan judul yang membingkainya. Sebab
NO Akur asi Pember itaan J umlah
F %
1 Kesesuaian Judul Berita dengan Isi Berita
Sesuai 4 80
Tidak Sesuai 1 20
judul berita mempresentasikan makna dari pesan yang ingin disampaikan kepada pembaca.
Contoh berita seputar Pasien RS Khodijah yang dimuat di surat kabar Jawa Pos sebagai berikut :
J awa Pos, Selasa 04 Oktober 2011 Buta – Tuli Setelah Operasi Hernia
SURABAYA - Walau lama menjalani rawat inap, kondisi Syifa tidak membaik. Dia
masih sering kejang, matanya buta, tidak bisa mendengar.
J awa Pos, Selasa 05 Oktober 2011
Keluarga Tuntut Asyifa Disembuhkan Total
SIDOARJO – Solihah menuntut pihak RS bertanggung jawab dengan memberikan
perawatan kepada bocah yang akrab disapa Syifa itu hingga sembuh total.
J awa Pos, Selasa 11 Oktober 2011
SURABAYA - Rumikan pun hanya bisa mengharapkan adanya bantuan dari donatur. Termasuk janji Gubernur Jatim Soekarwo untuk menggratiskan biaya pengobatan Syifa.
J awa Pos, Selasa 12 Oktober 2011 Pemprov Jamin Pengobatan Syifa
Pencantuman waktu, dihubungkan dengan ada atau tidaknya keterangan pada saat peliputan berita. Menurut Rachma Ida, Ph.D, pencantuman terjadinya suatu peristiwa atau keterangan peliputan berita untuk melihat akurasi fakta (Kriyantono, 2006:247). Maka dapat disimpulkan pencantuman waktu peristiwa peliputan sangat penting dicantumkan.
Tabel 4.3
Akurasi Pember itaan Dalam Sub Kategor i Pencantuman Waktu Ter jadinya Per istiwa
Akurasi Pemberitaan
Pencantuman Waktu Terjadinya Peristiwa Jumlah
Dicantumkan Tidak Dicantumkan F %
Akurat 5 0 5 100
Tidak Akurat 0 0 0 0