• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV ANALISIS DATA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB IV ANALISIS DATA"

Copied!
73
0
0

Teks penuh

(1)

commit to user

BAB IV ANALISIS DATA

A. Aspek-Aspek Lingual pada Mantra dan Sambutan RPSBL sebagai Pengungkap Pandangan Masyarakat Karangbolong dan Karangduwur

Salah satu cara mengetahui pandangan masyarakat Karangbolong dan Karangduwur terhadap RPSBL adalah melalui mantra dan sambutan yang digunakan ketika RPSBL. Pada RPSBL terdapat tujuh mantra, yang terdiri dari mantra 1 (mantra yang diucapkan ketika slametan di Desa Karangbolong (tahun 1990-2012) mantra ini kemudian diganti dengan doa), mantra 2 (mantra yang diucapkan ketika nyekar di Pesanggrahan Kanjeng Ratu Kidul), mantra 3 (mantra yang diucapkan ketika membakar kemenyan di tempat pemujaan dan pasren Karangbolong), mantra 4 (mantra yang diucapkan ketika membakar kemenyan di pesanggrahan), mantra 5 (mantra yang diucapkan ketika meletakkan awug-awug atau sesaji di pasren Karangduwur), mantra 6 (mantra yang diucapkan ketika meletakkan awug-awug di tempat pemujaan Karangduwur), dan mantra 7 (mantra yang diucapkan ketika slametan di rumah Bapak Lurah Karangduwur).

Tiga sambutan, yang terdiri dari sambutan 1 (sambutan yang disampaikan ketika slametan di Desa Karangduwur), sambutan 2 (sambutan yang disampaikan ketika slametan malam di Desa Karangduwur), dan sambutan 3 (sambutan yang disampaikan ketika ngabulaken di Desa Karangduwur).

Dari mantra dan sambutan tersebut terdapat satuan lingual yang berupa kata, frasa, dan kalimat. Kajian kata, frasa, dan kalimat pada mantra dan sambutan, menggunakan makna leksikal, gramatikal, dan kultural serta menggunakan teori lainnya yang dipaparkan dalam landasan teori. Selain itu,

(2)

peneliti juga memerlukan wacana dan satuan lingual berdasarkan konteks sosial dan budaya sebagai pembantu serta pelengkap kajian.

Mantra dan sambutan pada RPSBL menggunakan bahasa Jawa. Hal ini dikarenakan Karangbolong dan Karangduwur merupakan desa yang berada di Jawa Tengah. Selain itu, Masyarakat Karangbolong dan Karangduwur masih menganut kejawen, oleh karena itu penghormatan leluhur masih diagungkan.

Pengagungan leluhur dibuktikan dengan menyebut leluhur mereka pada mantra dan sambutan. Meskipun masyarakat Karangbolong dan Karangduwur masih menganut kejawen, tetapi mereka tetap percaya adanya Tuhan. Hal ini dibuktikan dengan penyebutan unsur agama Islam seperti, Bismillahirohmanirohim, Allah Subhanawatangala, Robbanaa Aatinaa Fiddun-Yaa Hasanah Wafil Aakhirati Hasanah Waqinaa A‟dzaabannaar, Amin amin ya Robal‟alamin pada mantra dan sambutan. Walaupun demikian, pada mantra 3 tidak ditemukan unsur Islam melainkan ditemukan unsur Hindu (Hong welaheng jati mastuhu agung buwano langgeng…), adanya unsur Hindu dikarenakan kepercayaan (kepercayaan kepada makhluk gaib) dari pengucap mantra tersebut. Meskipun demikian, pengucap mantra 3 mengaku beragama Islam.

Berikut ini satuan lingual pada mantra dan sambutan RPSBL sebagai pengungkap pandangan masyarakat Karangbolong dan Karangduwur:

1. Kata

Kata dikenal sebagai satuan lingual yang bila tersusun dengan cara tertentu maka menjadi sebuah kalimat. Dikatakan pula bahwa kata memiliki atau mengandung arti (Sudaryanto, 1980: 13). Pada RPSBL terdapat satuan

(3)

lingual kata yang dapat mengungkap pandangan masyarakat Karangbolong dan Karangduwur. Satuan lingual kata tersebut antara lain:

1) Gudang

Gudang yang terdapat di Desa Karangbolong dahulu merupakan tempat penyimpanan hasil sarang burung lawet dari Desa Karangbolong, Karangduwur, dan Pasir. Setelah dikelola pemerintah gudang tersebut menjadi Pesanggrahan Kanjeng Ratu Kidul. Pergantian fungsi ini dikarenakan banyak masyarakat yang percaya kepada Kanjeng Ratu Kidul dan setiap akan sowan kepada Kanjeng Ratu Kidul mereka membawa benda-benda yang sekiranya disukai oleh Kanjeng Ratu Kidul.

Pemberian masyarakat kepada Kanjeng Ratu Kidul ini membuat gudang penyimpanan sarang burung lawet menjadi Pesanggrahan Kanjeng Ratu Kidul. Sementara hasil sarang burung lawet disimpan di Pendopo Karangbolong. Gudang ini dijaga oleh Mbok Lara Panas, Mbok Lara Kalifah, Mbok Lara Kenanga, dan Mbok Lara Bayem hal ini terlihat pada

“...Wilujeng menika nyuwun idi dhumateng para leluhur salebeting gudang, sajawine gudang, salebete pasren, sajerone pasren, ingkang kasebat Mbok Lara Panas, Mbok Lara Kalifah, Mbok Lara Kenanga, Mbok Lara Bayem...” artinya „...(Saya) meminta doa kepada para leluhur di dalam gudang (maupun) di luar gudang, di dalam pasren (maupun) di luar pasren yang disebut Mbok Lara Panas, Mbok Lara Kalifah, Mbok Lara Kenanga, Mbok Lara Bayem...‟ (01/15 Mei 2013/M1).

Kata gudang menunjukkan pandangan Masyarakat Karangbolong yang menganggap penting tempat yang dahulu digunakan sebagai

(4)

penyimpanan sarang burung lawet. Pentingnya gudang sehingga tidak ada pergantian penyebutan dari gudang menjadi pesanggrahan (tempat yang dipercaya menjadi tempat tinggal Kanjeng Ratu Kidul. Di dalam pesanggrahan terdapat tempat tidur dan pakaian Kanjeng Ratu Kidul).

2) Pondok

Seperti halnya kata gudang, kata pondok pun merupakan satuan lingual kata yang menunjukkan pandangan masyarakat Karangduwur.

Pondok yang terdapat di Desa Karangduwur adalah tempat peristirahatan bagi pengunduh sarang burung lawet. Masyarakat Karangduwur percaya pondok dijaga oleh Ki Udajaya, Prayandriya, Saragati, Kaki Gareng, Mas Ajeng Kalipah. Hal ini terlihat pada “...Ki Udajaya, Prayandriya, Saragati, Kaki Gareng, Mas Ajeng Kalipah, kemujan, gubuk pring, pondok...”

artinya „....Ki Udajaya, Prayandriya, Saragati, Kaki Gareng, Mas Ajeng Kalipah, (yang tinggal di) tempat pemujaan, gubuk bambu, pondok...‟

(02/28 April 2012/M6). Kata pondok menunjukkan bahwa masyarakat Karangduwur percaya leluhur mereka tinggal dan menjaga tempat yang dijadikan tempat tinggal sementara pengunduh.

3) Ratu

Kata ketiga adalah kata ratu, yang terdapat pada “Kanjeng Ratu Kidul” (03/15 Mei 2013/M1), “Nyai Ratu Kidul” (04/27 April 2012/M2),

“Ratu Tunggal” (05/29 Agustus 2013/M3), “Nyai Ratu Kidul” (06/23 Oktober 2013/M7), “Mbok Ratu Kidul” (07/27 April 2012/S1), dan “Gusti Ratu” (08/27 April 2012/S2). Ratu dalam KBBI berarti „raja wanita, permaisuri‟ (Tim, 2007:934). Gelar ratu ditujukan untuk seorang wanita

(5)

yang memiliki kerajaan (dalam bahasa Jawa disebut Kraton/Keraton), atau seorang wanita yang menikah dengan seorang raja. Ratu dalam konteks ini ditujukan kepada Kanjeng (Ratu) Kidul, seorang perempuan penguasa laut selatan. Dia memiliki kerajaan di dalam laut selatan (laut kidul), kerajaan tersebut lebih dikenal dengan Kraton Kidul „Kearajaan Selatan‟.

Kata ratu pada mantra tidak berdiri sendiri, kata ratu berdampingan dengan kata kanjeng “Kanjeng Ratu Kidul”. Kanjeng dalam KBBI berarti „pangkat atau gelar yang diberikan oleh Sultan Yogyakarta atau Sunan Surakarta kepada orang yang kedudukannya sepangkat dengan bupati‟ (Tim, 2008:618), sementara menurut Kamus Bahasa Jawa – Indonesia, kanjeng adalah „gelar bangsawan‟ (Purwadi, 2004:182). Kata ratu juga berdampingan dengan kata tunggal “Ratu Tunggal” yang berarti

„satu-satunya‟ (Tim, 2008:1503) dan kata gusti “Gusti Ratu” yang berarti

„sebutan untuk bangsawan‟ (Tim, 2008:269).

Kata ratu menunjukkan masyarakat Karangbolong mempercayai dan menghormati bahwa di laut selatan terdapat sosok gaib penguasa laut selatan. Sosok gaib ini adalah sesosok wanita. Penghormatan kepada Kanjeng Ratu Kidul membuat masyarakat Karangbolong membedakan penyebutan Nyai Rara Kidul dan Kanjeng Ratu Kidul. Mereka menganggap Nyai Rara Kidul dan Kanjeng Ratu Kidul adalah dua sosok yang berbeda.

Perbedaan ini terlihat dari kata “rara” yang dianggap lebih rendah jabatannya dari “ratu”. Dipercaya pula, Nyai Rara Kidul merupakan anak buah (patih) Kanjeng Ratu Kidul. Dahulu merupakan hal yang tabu jika

(6)

menyebut Kanjeng Ratu Kidul dengan Nyai Rara Kidul, bahkan hingga sekarang masih ada orang yang menabukan hal tersebut.

4) Lurah dan Bekel

Kata keempat adalah kata lurah dan bekel. Lurah dan bekel mempunyai arti sama. Lurah berarti „kepala pemerintahan tingkat terendah‟

(Tim, 2008:850), sedangkan bekel berarti „sebutan untuk lurah pada zaman kerajaan‟. Penyebutan kepala pemerintahan terendah dengan lurah, bukan bekel dikarenakan kepala pemerintahan Kebumen sekarang tidak dipegang oleh keturunan kerajaan melainkan oleh bupati.

Kata bekel menunjukkan masyarakat Karangbolong sudah mengenal pemerintahan sejak Kerajaan Kartasura. Kata lurah dan bekel terdapat pada “…Kula dipun utus Pak Lurah sarencange, Pak Lurah sakaryawanipun damel sadran ing mangsa…” artinya „…Saya disuruh Pak Lurah dan teman-temannya, Pak Lurah dan karyawannya membuat slametan di musim…‟ (09/28 April 2012/M6), “…Kula nampi daya arta saking Bapak Lurah Karangduwur…” artinya „…Saya menerima uang dari Bapak Lurah Karangduwur…‟ (10/27 April 2012/S1), “…Rehning kula menika nampi arta biaya saking Bapak Lurah Karangduwur…” artinya

„…Saya menerima uang biaya dari Bapak Lurah Karangduwur…‟ (11/27 April 2012/S2), “...mangga dipunsekseni hajatipun Bapak Lurah…” artinya

„…silahkan menyaksikan slametan Bapak Lurah…‟ (12/27 April 2012/S3).

Kata bekel terdapat pada “...sajawine kemujan ingkang kasebat Kiai Surti, Kiai Bekel ingkang cakal bakal gua-gua...” artinya „...di luar tempat pemujaan yang disebut Kiai Surti, Kiai Bekel yang menemukan gua-

(7)

gua..‟ (13/15 Mei 2013/M1), “...para leluhur ingkang gua-gua sedaya ingkang kasebat Kiai Surti, Kiai Bekel...” artinya „...para leluhur di gua-gua semua yang disebut Kiai Surti, Kiai Bekel...‟ (14/27 April 2012/S1), “...para leluhur ingkang bedah cakal bakal gua-gua sedaya, ingkang kasebat Kiai Surti utawa Kiai Bekel...” artinya „...para leluhur yang menemukan gua-gua semua, yang disebut Kiai Surti atau Kiai Bekel...‟ (15/27 April 2012/S2).

5) Sarang

Kata kelima adalah kata sarang. Sarang berarti „tempat yang dibuat atau dipilih oleh binatang unggas seperti burung untuk bertelur dan memelihara anaknya‟ (Tim, 2007:999). Kata sarang terdapat pada semua sambutan dan mantra. Sarang yang dimaksud pada mantra adalah sarang burung lawet. Sarang biasanya terbuat dari sekumpulan daun kering atau sekumpulan ranting pohon. Pada sarang burung lawet, sarang terbuat dari air liur burung lawet. Burung lawet membuat sarang dari air liur yang dihasilkan sebagai benang-benang halus oleh kelenjar liur yang terdapat di bawah lidah.

Sarang burung lawet ada dua warna, warna putih yang 100%

terbuat dari air liur dan sarang berwarna hitam yang sudah tercampur dengan bulu burung. Berbeda dengan burung pada umumnya yang membuat sarang pada pohon. Roro Daras menjelaskan, burung lawet membuat sarang di dalam gua atau rumah yang lembab dan remang-remang sampai gelap.

Mereka sering membuat sarang pada langit-langit gua atau di bawah suatu bagian ruangan yang menjorok. Roro Daras juga menjelaskan, burung lawet tidak membuat sarang pada pohon dikarenakan kaki burung lawet yang

(8)

pendek dan lemah yang menyebabkan burung ini tidak dapat bertengger di dahan atau ranting pohon (2013:69-70).

6) Kiai

Kata keenam adalah kata Kiai. Kata Kiai berarti „orang yang mengerti dan menguasai agama Islam‟ bersanding dengan bekel dan Surti.

Bekel adalah „sebutan untuk lurah saat zaman kerajaan‟. Penyebutan Kiai yang bersanding dengan bekel, bukan karena lurah pertama Karangbolong (bekel) merupakan orang yang mengerti dan menguasai agama Islam. Pada zaman kerajaan, orang yang dihormati seperti Bekel Karangbolong jika dia berjenis kelamin laki-laki maka disebut Kiai (Bekel) dan jika dia berjenis kelamin perempuan maka disebut Nyai (Bekel).

Sementara Kiai yang bersanding dengan Surti, ada tiga versi, versi pertama, merupakan gelar dari Raja Kartasura (Amangkurat IV), karena utusan Kartasura, Tumenggung Arung Binang, berhasil menemukan sarang burung lawet dan menyembuhkan penyakit permaisuri (Kanjeng Ratu Kencana) Raja Kartasura. Sehingga Tumenggung Arung Binang diberi gelar Kiai Surti untuk jasanya. Versi kedua, sebelum menemukan sarang burung lawet Tumenggung Arung Binang sudah bergelar Kiai Surti. Gelar Kiai diperkirakan karena Tumenggung Arung Binang adalah adipati Kerajaan Kartasura, sedangkan gelar Kiai saat zaman kerajaan hanya diberikan kepada orang penting atau orang yang terhormat.

Versi ketiga, Adipati Surti setelah menyerahkan sarang burung lawet kepada Amangkurat IV, dia kembali ke Karangbolong untuk memenuhi janji menikah dengan Dewi Suryawati. Dewi Suryawati adalah

(9)

anak buah Kanjeng Ratu Kidul. Pernikahan antara Adipati Surti dengan Dewi Suryawati disebut pernikahan batin. Setelah tinggal di Desa Karangbolong, Adipati Surti berganti nama menjadi Ki/Kiai Surti.

7) Ridhoi

Selain kata dalam bahasa Indonesia, ditemukan pula kata dalam bahasa Arab yaitu ridhoi. Ridhoi berarti „mendapat bekah‟. Kata ridhoi menunjukkan masyarakat Karangbolong dan Karangduwur walaupun menganut kejawen, tetap percaya dan mengakui bahwa Allah Swt., yang memberi berkah. Hal ini terlihat pada “…mugi-mugi Bapak Lurah, sarencangipun, lan sekeluarganipun dipun ridhoi dening Allah Swt.”

artinya „…semoga Bapak Lurah, semua teman-temannya, dan keluarganya mendapat berkah dari Allah Swt…‟ (44/28 April 2012/M6). Ridhoi sudah diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi rida. Rida berarti „rela, suka, senang hati, berkenan, rahmat‟ (Tim, 2008:1159) dalam konteks ini, masyarakat Karangbolong dan Karangduwur memohon ridhoi kepada Allah Swt., supaya Allah Swt. berkenan memberi rahmat dan berkah kepada para pengunduh, Bapak Lurah dan keluarga Bapak Lurah.

8) Pasren

Masyarakat yang mempercayai makhluk gaib, di rumah atau tempat-tempat yang dianggap keramat mempunyai pasren. Pasren adalah

„tempat untuk menaruh sesaji, kemenyan atau dupa, atau benda-benda keramat‟. Diyakini pasren dihuni oleh Mbok Lara Kenanga dan Mbok Lara Bayem. Bahkan ada yang menambahkan Mbok Lara Kantil sebagai penghuni pasren. Hal ini terlihat pada “...Wilujengan menika nyuwun idi

(10)

dhumateng para leluhur salebeting gudang, sajawine gudang, salebete pasren, sajerone pasren ingkang kasebat Mbok Lara Panas, Mbok Lara Kalifah, Mbok Lara Kenanga, Mbok Lara Bayem...” artinya „...Slametan ini (untuk) meminta doa kepada leluhur yang berada di dalam gudang (maupun) di luar gudang, di dalam pasren (maupun) diluar pasren yaitu Mbok Lara Panas, Mbok Lara Kalifah, Mbok Lara Kenanga, Mbok Lara Bayem...‟

(45/15 Mei 2013/M1).

Adanya pasren di Desa Karangbolong menunjukkan masyarakat Karangbolong yang mempercayai dan menghormati makhluk gaib.

Peneliti juga menemukan penyebutan kata dalam dua bahasa, yaitu bahasa Jawa dan bahasa Indonesia yang berarti sama, tetapi diucapkan oleh pengucap mantra yang berbeda. Kata tersebut adalah kata musim dan mangsa, pethak dan putih, serta salah lepat.

9) Musim dan Mangsa

Penyebutan kata musim terdapat pada “…badhe ngundhuh sarang burung musim…” artinya „…mau mengunduh sarang burung musim…‟

(28/27 April 2012/S3), “…wilujengan menika undhuhan sarang burung musim…” artinya „…keselamatan untuk mengunduh sarang burung musim…‟ (26/15 Mei 2013/M1), dan “…kula sak kanca rombongan sedaya anggenipun mendet sarang burung musim…” artinya „…saya dan teman- teman rombongan semua mau mengambil sarang burung musim…‟ (27/14 Mei 2013/M4).

Sedangkan kata mangsa terdapat pada “…anggene kula badhe wiwiti ngundhuh sarang burung mangsa…” artinya „…saya mau memulai

(11)

mengunduh sarang burung lawet musim…‟ (29/28 April 2012/M5),

“…damel sadran ing mangsa…” artinya „…membuat slametan di musim…‟ (30/28 April 2012/M6), “…undhuhan sarang burung mangsa...”

artinya „…pengunduhsan sarang burung musim…‟ (31/27 April 2012/S1),

“…undhuhan sarang burung ing mangsa…” artinya „…pengunduhan sarang burung lawet musim…‟ (32/27 April 2012/S2), dan “…ngunduh sarang burung mangsa…” artinya „…pengunduhan sarang burung musim…‟

(33/27 April 2012/S3).

Penyebutan kata musim dan mangsa tidak ada arti secara signifikan. Dari jawaban informan, penyebutan musim dan mangsa berdasarkan keindahan dalam mengucapkan mantra. Musim dan mangsa mempunyai arti yang sama. Musim dalam KBBI berarti „1. waktu tertentu yang bertalian dengan keadaan iklim‟, „2. bilangan waktu tertentu‟, dan „3.

waktu atau mangsa ketika sesuatu‟ (Tim, 2007 : 767), sedangkan mangsa dalam Kamus Bahasa Jawa – Indonesia Populer berarti „masa, musim‟

(Purwadi, 2004: 278), masa dalam Kamus Jawa Kawi Indonesia berarti

„bulan, musim‟ (Maharsi, 2009:377).

Penggunaan musim dan mangsa menunjukkan masyarakat Karangbolong dan Karangduwur masih mempercayai perhitungan Jawa, meskipun pengunduhan sarang burung lawet berdasarkan waktu burung lawet bertelur tetapi RPSBL dilaksanakan tetap berdasarkan musim dan mangsa penanggalan Jawa.

10) Putih dan Pethak

(12)

Penyebutan kata putih terdapat pada “…bul putih kukusing menyan…” artinya „…asap kemenyan (berwarna) putih…‟ (34/29 Agustus 2013/M3) dan “ jenang abang, jeneng putih…” artinya „bubur merah, bubur putih…‟ (35/23 Oktober 2013/M7). Sedangkan kata pethak terdapat pada “…Ser buser nur kanapi prapening menyan sela pethak sirasun obong tak jaluk rilamu…” artinya „…Ser buser nur kanapi perapian kemenyan batu putih dibakar, saya minta relamu…‟ (36/29 Agustus 2013/M3) dan “…sekul pethak…” artinya „…nasi putih...‟ (37/28 April 2012/M6).

Pada mantra 3, penyebutan kata putih dan pethak dibedakan.

Putih menerangkan kukusing menyan „asap kemenyan‟, sedangkan pethak merenangkan kemenyan yang akan dibakar. Menurut Mas Kasirin (informan IV) putih adalah sesuatu yang suci dan bersih. Sedangkan pethak, walaupun berarti „putih‟ tidak dianggap sebersih atau sesuci putih.

Kukusing menyan „asap kemenyan‟ dianggap suci dan bersih karena asap kemenyan menghubungkan antara Mas Kasirin dengan Ratu Tunggal (Kanjeng Ratu Kidul).

Sedangkan pada mantra 6 kata pethak „putih‟ yang menerangkan sekul „nasi‟ dan pada mantra 7 kata putih menerangkan kata jenang.

Pethak (mantra 6) dan putih (mantra 7) tidak mempunyai arti khusus seperti pada mantra 3. Pethak (mantra 6) berarti „putih‟ dan putih (mantra 7) berarti „warna dasar yang serupa dengan warna kapas‟ (Tim, 2007:913).

11) Salah lepat

(13)

Pada mantra 4 terdapat penyebutan “salah lepat” (“...mbok bilih wonten salah lepat...” artinya „...kalau ada (sangat) salah...‟ (38/14 Mei 2012/M4)). Makna leksikal lepat adalah „salah‟, sedangkan makna leksikal salah adalah „tidak benar, tidak betul‟ (Tim, 2008: 1206). Makna dari

“salah lepat” adalah menyangatkan „sangat salah‟. Makna “salah lepat”

pada mantra 4 bermaksud merendahkan diri yang ditujukan kepada Kanjeng Ratu Kidul saat membakar kemenyan di pesanggrahan Kanjeng Ratu Kidul. Juru kunci mewakili para pengunduh memohon doa kepada Kanjeng Ratu Kidul dengan cara merendahkan diri. Pada mantra 4 memang tidak disebutkan kepada siapa juru kunci mengucapkan “salah lepat”, tetapi karena pengucapan mantra dilakukan di pesanggrahan Kanjeng Ratu Kidul maka mantra 4 ditujukan kepada Kanjeng Ratu Kidul.

“Salah lepat” juga ditemukan pada sambutan 1 (“...mbok bilih wonten salah lepatipun kula sakanca anggenipun nyambut damel...”

artinya „...kalau ada (sangat) (ke)salah(an) saya dan teman-teman saat bekerja...‟ (39/27 April 2012/S1))”, “salah lepat” ditujukan untuk merendahkan diri kepada masyarakat yang datang menonton kesenian tradisional. “Salah lepat” ditujukan supaya masyarakat yang datang menonton kesenian tradisional, bisa memaafkan kesalahan para pengunduh dan mendoakan supaya para pengunduh tidak ada halangan saat mengunduh.

12) Rahayu widodo

Makna menyangatkan juga terdapat pada “rahayu widodo”

(“...Bapak Camat lan sakwarganipun lan Bapak Lurah lan rakyatipun ing

(14)

Dusun Karangduwur iki mugi-mugi pirangingana rahayu widodo...”

artinya „...Bapak Camat dan warganya dan Bapak Lurah dan rakyatnya di Desa Karangduwur sini semoga diberi (sangat) selamat...‟ (40/ 27 April 2012/S2)). Rahayu berarti „selamat‟, sedangkan widodo juga berarti

„selamat‟. Makna dari rahayu widodo adalah menyangatkan „sangat selamat‟. Rahayu widodo ditujukan kepada Bapak Camat dan warganya serta Bapak Lurah dan rakyatnya supaya saat mengunduh sarang burung lawet tidak terjadi halangan dan selamat saat melaksanakan pengunduhan.

Mengunduh sarang burung lawet adalah sesuatu yang berbahaya, oleh karena itu permohonan keselamatan kepada Yang Maha Kuasa sangat diharapkan dengan cara menyangatkan.

Meskipun mantra dan sambutan menggunakan bahasa Jawa terdapat beberapa kata dalam bahasa Jawa yang tidak dapat berdiri sendiri. Untuk mengartikan kata-kata tersebut harus melihat konteks dalam kalimat. Kata dalam bahasa Jawa tersebut antara lain lenggah, dandosan, dan dandanan.

13) Lenggah

Lenggah berarti „duduk‟, tetapi jika kita melihat kalimat “…lan para leluhur ingkang lenggah wonten ing sesaji mriki, pesanggrahan, inggih menika Mbok Lara Kanthil, Den Lara Panas…” artinya „…dan para leluhur yang mendiami di sesaji sini, pesanggrahan, yaitu Mbok Lara Kanthil, Den Lara Panas…‟ (41/27 April 2012/S3). Lenggah pada kalimat tersebut bukan „duduk‟ melainkan „yang mendiami tempat tersebut‟ yaitu Mbok Lara Kanthil dan Den Lara Panas. Kata lenggah menunjukkan masyarakat Karangbolong yang mempercayai makhluk gaib dan juga

(15)

masyarakat Karangbolong juga mempercayai makhluk gaib tersebut menempati Pesanggrahan Kanjeng Ratu Kidul.

14) Dandanan dan Dandosan

Kata selanjutnya adalah dandosan (“…wilujengan ingkang sedaya lan apa dandosan dipun paringana kuat rotan…” artinya

„…keselamatan semua dan apa bangunan diberi rotan (yang) kuat…‟

(42/27 April 2012/S1)) dan dandanan (“…keparingana atos dandanane, wuleda taline, entengna peralatane kados dene kapuk nggeh?” artinya

„…berikan bangunan yang kuat, tali yang kuat, (dan) peralatan yang ringan seperti kapuk‟ (43/ 27 April 2012/S3)). Dandosan dan dandanan merupakan dua kata yang berarti „memperbaiki‟. Dandosan adalah Jawa krama untuk dandanan. Jika dilihat pada konteks kalimat, dandosan dan dandanan berarti „bangunan‟, tetapi pada kalimat tersebut bukan bangunan rumah atau gedung bertingkat, melainkan tangga menuju ke dalam gua.

2. Frasa

Frasa menurut Kamus Linguistik adalah gabungan dua kata atau lebih yang sifatnya tidak predikatif (Harimurti Kridalaksana, 2008: 66).

Peneliti menemukan frasa berbahasa Indonesia dan bahasa Jawa dalam mantra dan sambutan.

1) Sarang Burung

Pada mantra dan sambutan, penyebutan sarang burung tetap menggunakan bahasa Indonesia tidak diubah ke dalam bahasa Jawa.

Sarang yang berarti „tempat yang dibuat atau dipilih oleh binatang

(16)

unggas seperti burung untuk bertelur dan memelihara anaknya‟ (Tim, 2007:999). Burung berarti „binatang berkaki dua, bersayap, berbulu dan biasanya dapat terbang‟ (Tim, 2007:181). Jadi, frasa sarang burung berarti „sarang (tempat) untuk burung‟.

Penyebutan sarang burung bukan susuh manuk dikuatkan dengan data tertulis berupa sejarah penemuan sarang burung lawet.

Pada sejarah penemuan sarang burung lawet penyebutan kata dalam bahasa Jawa yang dianggap penting atau menunjukkan sesuatu, tidak diubah ke dalam bahasa Indonesia, seperti “…Adipati Surti diberi wangsit tentang cara masuk ke dalam gua dengan peralatan yang berupa tangga ‘anda’ yang dirakit sedemikian rupa mirip garanggati (membuat rumah)…”, “…Adipati Surti merasa lapar dan dia pun menyempatkan diri untuk makan (dalam bahasa Jawa dhahar) di gua tersebut. Kemudian gua tersebut diberi nama Gua Dhahar…”,

“…setelah merasa kenyang dan makanan sudah habis, bungkus nasinya dibuang begitu saja yang dalam bahasa Jawa dikatakan dielelengna. Tempat dimana Adipati Surti membuang bungkus nasi tersebut diberi nama Gua Eleleng…”, “…Sebagai orang sakti Ki Surti kemudian mengeluarkan senjata atau jimatnya yang berupa sada lanang…” (peneliti dapat dari Bapak Salib, Informan III berupa fotokopi).

Anda, garanggati, dhahar, dan dielelengna, tidak diubah ke dalam bahasa Indonesia, hanya diberi keterangan dalam bahasa Indonesia yang berarti, tangga untuk anda, membuat rumah untuk

(17)

garanggati, makan untuk dhahar, dan dibuang untuk dielelengna.

Sementara sada lanang tidak diubah dan tidak diberi keterangan dalam bahasa Indonesia.

Sedangkan untuk penyebutan sarang burung lawet, salah satunya terdapat pada sejarah penemuan sarang burung lawet di Desa Karangbolong, yaitu “…sepeninggalan Ki Surti, diputuskan bahwa barang antik yang diberi nama sarang burung dijadikan milik pemerintah sebab Karangbolong masih wilayah Kartasura…”. Pada cerita tersebut barang antik tersebut diberi nama sarang burung bukan susuh manuk.

Selain data tertulis, bukti penyebutan sarang burung bukan susuh manuk juga ditemukan pada data lisan, yaitu saat Bapak Sapon (informan VI) menceritakan sejarah penemuan sarang burung lawet.

Bapak Sapon bercerita menggunakan bahasa Jawa, tetapi pada bagian penyebutan “sarang burung” mereka mengatakan “sarang burung”

bukan susuh manuk. Hal ini dibuktikan dengan “…lara boten matun- matun, pun diundang tabib boten matun-matun, Panembahan Senopati ngimpi, nek anake sing sakit niku saget matun angge jamur sing tukul teng watu, jamur sing tukul neng watu marang digoleti jebule sarang burung…” artinya „…sakit tidak sembuh-sembuh, sudah dipanggilkan tabib tidak sembuh-sembuh, Panembahan Senopati bermimpi, kalau anaknya yang sakit dapat sembuh dengan jamur yang tumbuh di batu, jamur yang tumbuh di batu saat dicari ternyata sarang burung…‟. Bukti lainnya didapat ketika peneliti

(18)

bertanya mengenai RPSBL atau pengunduhan. Para informan menjawab pertanyaan peneliti menggunakan bahasa Jawa, tetapi pada bagian penyebutan “sarang burung” mereka tidak lantas menyebut susuh manuk.

Dari data lisan maupun tulis, dapat diperkirakan penyebutan

“sarang burung” karena pengaruh dari masyarakat luar Kebumen (zaman dahulu diperkirakan karena pengaruh dari bangsa Belanda) yang tertarik dengan sarang burung lawet. Masyarakat luar Kebumen menyebut burung lawet dengan burung walet. Burung lawet dan walet, sebetulnya merupakan dua burung yang berbeda. Burung lawet mempunyai warna dada hitam, sedangkan burung walet yang biasa disebut burung layang-layang mempunyai warna dada hitam semu putih (Rini Suci Utami, 2008:32). Dampak dari masyarakat luar Kebumen, membuat masyarakat Kebumen tidak membedakan lagi penyebutan burung lawet dan burung walet.

2) Kuat Rotan

Kuat rotan (“…wilujengan ingkang sedaya lan apa dandosan dipun paringana kuat rotan…” artinya „…keselamatan semua dan bangunan diberi rotan (yang) kuat…‟ (50/27 April 2012/S1)) berarti

„rotan yang kuat‟. Rotan adalah „tumbuhan menjalar yang batangnya digunakan untuk berbagai barang atau perabot‟ (Tim, 2007:963).

Rotan ini berfungsi untuk mengikat bambu yang akan dijadikan tangga. Rotan dapat pula dijadikan pegangan untuk tangga. Rotan

(19)

yang dijadikan pengikat bambu atau pegangan pada tangga harus rotan yang kuat, supaya kuat menahan tubuh pengunduh.

3) Tumpeng Kuat

Tumpeng adalah „nasi yang dihidangkan dalam bentuk seperti kerucut‟ (Tim, 2007:1222). Tumpeng berdampingan dengan kuat, bukan berarti tumpeng-nya kuat, melainkan tumpeng ini merupakan masakan inti. Tumpeng kuat dipersembahkan kepada Kaki Semara Bumi dan Nyai Semara Bumi, makhluk halus yang dipercaya menjaga bumi. Dengan mempersembahkan tumpeng masyarakat Karangduwur percaya Kaki Semara bumi dan Nyai Semara Bumi akan menjaga mereka dan menuntun mereka supaya pengunduhan berjalan dengan lancar.

4) Arta Biaya

Arta biaya dapat dipisah menjadi arta yang berarti „uang‟ dan biaya yang berarti „uang yang dikeluarkan untuk mengadakan sesuatu‟

(Tim, 2008: 476). Penggunaan dua kata arta biaya dimaksudkan untuk menegaskan bahwa RPSBL dibiayai menggunakan uang dari Bapak Lurah Karangduwur. Hal ini dapat dilihat pada “…kula menika nampi arta biaya saking Bapak Lurah Karangduwur lewat Bapak Camat Ayah…” artinya „…saya menerima uang (untuk) biaya (slametan) dari Bapak Lurah Karangduwur lewat Bapak Camat Ayah…‟ (46/ 27 April 2012/ S2).

(20)

5) Ayam Ingkung

Frasa selanjutnya adalah “Ayam ingkung”. Ingkung adalah

„masakan yang berbahan dasar ayam‟. Cara memasaknya; ayam utuh dimasak memakai santan dan kaki ayam diikat menjadi satu. Ayam ingkung untuk memberi bakti kepada panutan orang Islam, Nabi Muhammad saw., beserta keluarga dan empat sahabat Nabi, yaitu Abu Bakar, Umar, Usman, dan Ali. Ayam ingkung sebagai tanda masyarakat Karangduwur selain memberi persembahan kepada leluhur dan mahkluk gaib juga memberi persembahan kepada Nabi Muhammad saw. beserta sahabatnya.

Hal ini menunjukkan masyarakat Karangduwur juga mengharapkan rida dari Nabi Muhammad saw. dan para sahabat Nabi.

Penggunaan kata ingkung saja sudah cukup untuk menggambarkan jika makanan tersebut berbahan dasar ayam.

6) Bedhah Truka

Bedhah truka mempunyai arti „menemukan atau membuat tanah untuk tempat tinggal‟. Maksud dari bedhah truka di sini adalah menemukan Desa Karangbolong. Hal ini dapat dilihat pada “…badhe dipun undhuh sawacinipun kenging dados bekteni dhumateng ingkang sami bedhah truka wonten ing salebeting gua, sajawining gua, salebething pereng, sajawining pereng, sajawining toya, selebeting toya miwah para leluhur sanesipun ingkang boten kula sebut satunggal lan satunggalipun…” artinya „…mau diunduh sewaktu- waktu, untu bakti kapada yang menemukan desa, yang juga berada di

(21)

dalam gua (maupun) di luar gua, di dalam tebing (maupun) di luar tebing, di luar air (maupun) di dalam air, dan para leluhur yang lain yang tidak dapat saya sebut satu-persatu dan kesatuannya…‟ (49/27 April 2012/S3). Leluhur yang menemukan atau bedhah truka Desa Karangbolong adalah Kiai Surti, Kiai Surti pula yang menemukan Gua Karangbolong. Frasa bedhah truka menunjukkan masyarakat Karangbolong yang tidak melupakan leluhur mereka.

7) Gondo Arum

Frasa gondo arum berarti wewangian. Wewangian di sini diwujudkan dalam bentuk bermacam-macam bunga. Wewangian merupakan salah satu sesaji yang digunakan. Bunga yang dipilih adalah bunga mawar, kenanga, kantil. Ketiga bunga ini termasuk dalam kembang telon. Selain kembang telon terdapat pula kembang setaman. Wewangian yang berupa bunga ini adalah kesenangan dari Kanjeng Ratu Kidul.

Gondo arum dimaksudkan untuk menyenangkan Kanjeng Ratu Kidul supaya Kanjeng Ratu Kidul tidak murka. Gondo arum juga menunjukkan masyarakat Karangbolong yang takut kepada Kanjeng Ratu Kidul sehingga harus menyenangkan Kanjeng Ratu Kidul dengan gondo arum.

8) Gubuk Pring

Frasa gubuk pring ditemukan pada “...Ki Udajaya, Prayandriya, Saragati, Kaki Gareng, Mas Ajeng Kalipah kemujan, gubuk pring, pondok, ingkang sajeroning gua, sajawining gua...”

(22)

artinya „...Ki Udajaya, Prayandriya, Saragati, Kaki Gareng, Mas Ajeng Kalipah (yang tinggal di) tempat pemujaan, gubuk bambu, pondok, di dalam gua (maupun) di luar gua...‟ (59/28 April 2012/M6).

Gubuk dalam KBBI berarti „rumah kecil‟ (Tim,2008:436), tetapi pada konteks mantra 6 di atas gubuk merupakan tempat untuk menaruh pring „bambu‟. Pring „bambu‟ digunakan untuk membuat tangga. Tangga merupakan alat masuk ke dalam Gua Karangbolong dan Karangduwur. Meskipun demikian, bambu yang disimpan di dalam gubuk hanya di Desa Karangduwur. Begitu pentingnya pring

„bambu‟ sehingga ditempatkan di gubuk. Penempatan ini untuk melindungi pring „bambu‟ supaya tetap dapat dipakai di musim berikutnya. Gubuk yang dimaksud di sini adalah bangunan yang mirip dengan kandang ternak. Bahkan sekarang, gubuk selain untuk tempat bambu juga untuk tempat ternak kambing.

9) Idi Pangestu

Frasa idi pangestu terdapat pada“...wilujengan menika kangge nyuwun idi pangestu dhumateng...” artinya „...(perangkat sesaji) ini untuk meminta doa restu kepada...‟ (60/15 Mei 2013/M1), idi menurut informan III berarti „doa‟ sedangkan pangestu berarti „restu‟. Frasa idi pangestu berarti „doa restu‟. Frasa idi pangestu ditujukan kepada penguasa laut selatan (Kanjeng Ratu Kidul) berserta pengikutnya (para Lara Lara, para Mas Mas, Den Bagus Klantung, Den Bagus Cemeti, Suryawati, Suryakaji, dan Jaka Surya) dan leluhur Karangbolong (Kiai Surti dan Kiai Bekel).

(23)

Frasa ini menunjukkan bahwa masyarakat Karangbolong meminta doa restu kepada penguasa laut selatan beserta pengikutnya dan leluhur setempat. Frasa idi pangestu juga menunjukkan masyarakat Karangbolong masih mempercayai leluhur mereka, Kiai Surti, menjaga (dalam hal ini tetap hidup) di luar air (pantai Karangbolong, Karangduwur, dan Pasir), pengikut Kanjeng Ratu Kidul yaitu Suryawati, Suryakaji, dan Jaka Surya mendiami di dalam air (pantai Karangbolong, Karangduwur, dan Pasir), dan pengikut Kanjeng Ratu Kidul lainnya, yaitu, para Lara Lara, para Mas Mas, Den Bagus Cemeti, Den Bagus Klatung berada di Kraton Kidul mendampingi Kanjeng Ratu Kidul.

10) Kukusing Menyan

Frasa berikutnya adalah kukusing menyan „asap kemenyan‟

yang terdapat pada “…bul putih kukusing menyan…” artinya „…asap kemenyan berwarna putih…‟ (61/29 Agustus 2013/M3), “…wilurjati kukusing menyan, kukusing menyan sumundul marang swarga...”

artinya „...dicampur asap kemenyan, asap kemenyan naik ke atas surga...‟ (62/28 April 2012/M5), dan “...wilurjati kukusing menyan, kukusing menyan sumundul marang swarga...” artinya „...dicampur asap kemenyan, asap kemenyan naik ke atas ke surga...‟ (63/28 April 2012/M5). Asap kemenyan dianggap sesuatu yang penting, karena merupakan salah satu cara berkomunikasi dengan Kanjeng Ratu Kidul (pada mantra 3) dan para leluhur (pada mantra 5 dan 6). Asap kemenyan yang berwarna putih keabu-abuan dianggap suci oleh

(24)

informan IV oleh karena itu, asap kemenyan pada mantra 3 didampingi dengan kata putih.

11) Jenang Abang dan Jenang Putih

Frasa jenang abang dan jenang putih terdapat pada “jenang abang, jenang putih kangge maringi bekti dhumateng…” artinya

„bubur merah, bubur putih untuk memberi bakti kepada…‟ (64/29 Agustus 2013/M3). Jenang abang „bubur merah‟ dan jenang putih

„bubur putih‟ diekspresikan sebagai bayi yang akan lahir. Saat bayi akan lahir, yang pertama kali pecah adalah air ketuban. Di dalam kepercayaan Jawa air ketuban disebut sedulur tua „saudara tua‟ si bayi.

Sedulur tua diibaratkan jenang abang. Setelah air ketuban pecah, bayi tersebut lahir dengan membawa ari-ari. Ari-ari itu disebut sedulur nom

„saudara muda‟. Sedulur nom diibaratkan jenang putih. Jadi penyediaan jenang abang dan jenang putih untuk bakti kepada sedulur tua „saudara tua‟ dan sedulur nom „saudara muda‟.

12) Sega Kepyar

Frasa terakhir adalah frasa sega kepyar. Sega kepyar adalah nasi yang pembuatannya menyerupai nasi tumpeng dan diberi lauk.

Maksud dari kepyar adalah tersebar. Sega kepyar ini ukurannya lebih kecil dari tumpeng dan dibagikan kepada tamu yang hadir. Sega kepyar untuk bakti kepada bapak batin dan ibu batin. Perspektif bapak batin dan ibu batin setiap individu berbeda, tergantung dari kepercayaan masing-masing individu. Bagi Bapak Sapon (informan VI) bapak batin dan ibu batin adalah Allah Swt.

(25)

3. Kalimat

Kalimat menurut Sudaryanto merupakan susunan atau kumpulan tertentu dari satuan lingual kata-kata (1980: 13). Kalimat yang terdapat pada mantra dan sambutan antara lain:

1) Ringgitnipun labet bolong cilik

Ringgitnipun labet bolong cilik „diwayangkan mulai lubang kecil‟ (66/27 April 2012/M2) maksudnya adalah dimulai dengan wayang tanpa geber. Geber adalah „layar‟. Jadi wayang tanpa geber maksudnya wayang tanpa layar. Layar di sini adalah layar penutup berwarna putih transparan, jika pada pertunjukan wayang, akan menampilkan bayangan wayang.

Wayang tanpa geber merupakan tanda dimulainya kesenian tradisional. Maksud dari lubang kecil adalah wayang yang diperagakan tanpa geber, jumlah wayang dan gamelannya tidak lengkap dan tidak sempurna. Wayang tanpa geber ini diperagakan di Gua Contoh Karangbolong. Wayang tanpa geber dilaksanakan siang hari setelah nyekar di pesanggrahan Kanjeng Ratu Kidul. Wayang tanpa geber biasanya dipentaskan selama kurang lebih satu sampai dua jam. Untuk lakon wayang tanpa geber dipilih oleh dalang, diharapkan lakon yang kuat, baik, dan sempurna. Biasanya mengambil lakon dari Ramayana atau Mahabarata atau Dewi Lampet.

2) Tinempen mbah buyut sapeninggil dan (Tinempen) mbah buyut sapengandhap

(26)

Kalimat“…tinempen mbah buyut sapeninggil…” artinya

„…diterima nenek moyang yang di atas…‟ (67/28 April 2012/M6) maksudnya adalah nenek moyang yang berada di langit atau surga dan

“…mbah buyut sapengandhap…” artinya „… (diterima) nenek moyang yang di bawah…‟ (68/28 April 2012/M6) maksudnya adalah nenek moyang yang berada di bumi. Kalimat di atas menunjukkan bahwa masyarakat Karangduwur percaya leluhur mereka yang berada di surga dan bumi mengawasi mereka dan untuk menghormati leluhur mereka, masyarakat Karangduwur membuat slametan.

3) Keparingana atos dandanane, wuled taline, enthenga peralatane kados kapuk nggih?

Pada kalimat “...keparingana atos dandanane, wuled taline, enthenga peralatane kados kapuk nggih?” artinya „...diberi bangunan yang kuat, tali yang kuat, ringan peralatannya seperti kapuk ya?‟

(69/27 April 2012/S3). Maksudnya adalah saat membuat tangga diberi keringanan dalam membawa bambu dan tali ke dalam gua, diberi kemudahan dalam membuat tangga, diberi tali yang kuat untuk mengikat bambu atau untuk membuat pegangan tangga, dan diberi tangga yang kuat atau keras supaya pengunduh yang menaiki tangga tidak jatuh.

Tangga, tali, dan bambu merupakan peralatan yang digunakan untuk mengunduh sarang burung lawet. Meskipun sekarang zaman sudah modern, masyarakat Karangbolong dan Karangduwur masih menggunakan tangga, tali, dan bambu untuk mengunduh sarang

(27)

burung Hal ini dikarenakan peralatan tradisional lebih menjaga alam dan tidak mengganggu ekosistem burung lawet.

4) Wilujeng menika kangge nyuwun idi pangestu dhumateng…

Kalimat berikutnya “…Wilujeng menika kangge nyuwun idi pangestu dhumateng Kanjeng Ratu Kidul, para Lara Lara, para Mas Mas, Den Bagus Klantung, Den Bagus Cemeti…” artinya

„…Slametan untuk meminta doa restu kepada Kanjeng Ratu Kidul, para Lara Lara, para Mas Mas, Den Bagus Klantung, Den Bagus Cemeti‟ (70/15 Mei 2013/M1), “…Wilujeng menika nyuwun idi dhumateng para leluhur, ingkang dhateng rumangsa wonten salebete toya, sajawining toya, ingkang kasebet Kiai Surti, Suryawati, Suryakaji, Jaka Surya…” artinya „… Slametan untuk meminta doa kepada para leluhur yang berada di dalam air (Pantai Karangbolong, Karangduwur, dan Pasir) (maupun) di luar air (Pantai Karangbolong, Karangduwur, dan Pasir) yang disebut Kiai Surti, Suryawati, Suryakaji, Jaka Surya…‟ (71/15 Mei 2013/M1),

“…Wilujeng menika nyuwun idi dhumateng leluhur ingkang tatarumeksa salebeting gua, sajawining gua ingkang kasebat Mertadrana, Danarasa, Ditawangsa…” artinya „…Slametan untuk meminta doa kepada leluhur yang mendiami di dalam gua (Karangbolong, Karangduwur, dan Pasir) (maupun) di luar gua (Karangbolong, Karangduwur, dan Pasir), yang disebut Mertadrana, Danarasa, Ditawangsa… ‟ (72/15 Mei 2013/M1), “…Wilujeng menika nyuwun idi dhumateng leluhur ingkang dhateng rumeksa salebete

(28)

kemujan, sajawine kemujan ingkang kasebat Kiai Surti, Kiai Bekel ingkang cakal bakal gua-gua…” artinya „…Slametan untuk meminta doa kepada leluhur yang berada di dalam tempat pemujaan (maupun) di luar tempat pemujaan yang disebut Kiai Surti, Kiai Bekel yang menemukan gua-gua (Karangbolong, Karangduwur, dan Pasir)…‟

(73/15 Mei 2013/M1), “…Wilujeng menika nyuwun idi dhumateng para leluhur salebeting gudang, sajawine gudang, salebete pasren, sajerone pasren ingkang kasebat Mbok Lara Panas, Mbok Lara Kalifah, Mbok Lara Kenanga, Mbok Lara Bayem…” artinya

„…Slametan untuk meminta doa kepada para leluhur di dalam gudang (maupun) di luar gudang, di dalam pasren (maupun) di luar pasren yang disebut Mbok Lara Panas, Mbok Lara Kalifah, Mbok Lara Kenanga, Mbok Lara Bayem…‟ (74/15 Mei 2013/M1), “…Kula caos bekti dhumateng ingkang baureksa ing gua sarang burung Nagasari, inggih menika, Ki Udayaya, Prayandriya, Saragati, Ki Gareng, lan Mas Ayu Kalipah…” artinya „… Saya meminta bakti kepada yang pernah tinggal di sini, di (dalam) gua sarang burung Nagasari, yaitu Ki Udayaya, Prayandriya, Saragati, Ki Gareng, dan Mas Ayu Kalipah…‟ (75/28 April 2012/M5), “…Kulo sowan caos bekti, sekul pethak, gondho arum, lan sak uborampenipun dhumateng Ki Udajaya, Prayandriya, Saragati, Kaki Gareng, Mas Ajeng Kalipah, kemujan, gubuk pring, pondok ingkang sajeroning gua, sajawineng Gua Sawangan, Karangpandan lan ingkang boten saget kula sebat…” artinya „…Saya datang (bersilahturahmi)

(29)

mengutarakan bakti (lewat) nasi putih, wewangian (bunga), dan semua perangkat sesaji kepada Ki Udajaya, Prayandriya, Saragati, Kaki Gareng, Mas Ajeng Kalipah tempat pemujaan, gubuk bambu, pondok, di dalam gua (maupun) di luar Gua Sawangan, Karangpandan dan yang tidak bisa saya sebutkan…‟ (76/23 Oktober 2013/M7).

Kalimat tersebut di atas menunjukkan masyarakat Karangbolong dan Karangduwur yang masih mempercayai leluhur mereka dan percaya kepada makhluk gaib penunggu tempat-tempat yang dikeramatkan. Leluhur masyarakat Karangbolong adalah Kiai Surti dan Kiai Bekel, sedangkan leluhur masyarakat Karangduwur adalah Ki Udajaya, Prayandriya, Saragati, Kaki Gareng, Mas Ajeng Kalipah. Sedangkan makhluk gaib yang dimaksud adalah penguasa laut selatan yaitu Kanjeng Ratu Kidul beserta pengikutnya yaitu para Lara Lara, para Mas Mas, Den Bagus Klantung, Den Bagus Cemeti Mbok Lara Panas, Mbok Lara Kalifah, Mbok Lara Kenanga, Mbok Lara Bayem, Suryawati, Suryakaji, Jaka Surya, Mertadrana, Danarasa, Ditawangsa.

5) Mugi-mugi sesarengan nyuwun wonten ngarsanipun Allah Swt.

Kalimat terakhir “…Mugi-mugi sesarengan nyuwun wonten ngarsanipun Allah Swt…” artinya „…Semoga semua meminta kerelaan Allah Swt…‟ (77/28 April 2012/M5) dan “...Mugi-mugi Bapak Lurah sarencangipun lan sakeluarganipun dipun ridhoi dening Allah Swt...” artinya „...Semoga Bapak Lurah dan teman-teman dan keluarga diberi ridhoi dari Allah Swt...‟ (78/28 April 2012/M6)

(30)

menunjukkan meskipun masyarakat Karangduwur dan Karangbolong masih percaya leluhur mereka dan percaya kepada makhluk gaib, tetapi masyarakat Karangbolong dan Karangduwur masih meminta rahmat kepada Allah Swt., masih menganggap Allah Swt. sebagai pemberi rahmat.

B. Pandangan Masyarakat Karangbolong dan Karangduwur terhadap RPSBL Aspek pandangan masyarakat Karangbolong dan Karangduwur terhadap RPSBL dapat dilihat pada:

1. Prosesi RPSBL

RPSBL dilaksanakan empat kali dalam setahun, yaitu pada musim karo (musim kedua dalam penanggalan Jawa), kapat (musim keempat dalam penanggalan Jawa), kapitu (musim ketujuh dalam penanggalan Jawa), dan kasanga (musim kesembilan dalam penanggalan Jawa). RPSBL yang telah dilaksanakan selama seratus tahun berangsur-angsur mengalami kepunahan.

RPSBL yang dilaksanakan tahun 2012 dikelola oleh Desa Karangduwur.

Pergantian pengelola membuat prosesi RPSBL pun berbeda. Di bawah ini akan dipaparkan prosesi RPSBL ketika dikelola oleh pemerintah dan ketika RPSBL dikelola oleh Desa Karangduwur.

RPSBL ketika Dikelola oleh Pemerintah

Ritual dimulai pada hari rabu dengan membersihkan pesanggrahan dan tempat sesaji serta mencuci pakaian Kanjeng Ratu Kidul. Pencucian pakaian Kanjeng Ratu Kidul dilakukan oleh juru kunci dan gandeg (orang yang membantu Juru Kunci). Pada hari kamis pengumpulan uborampe (perangkat sesaji), mempersiapkan peralatan yang akan digunakan untuk memasak slametan dan

(31)

sesaji, dan mempersiapkan kerbau yang akan disembelih. Sementara puncak dari RPSBL adalah hari jumat. Puncak RPSBL dengan menyembelih kerbau. Sebelum penyembelihan kerbau, semua karyawan berkumpul di pendopo untuk mempersiapkan kerbau yang akan dipotong. Penyembelihan kerbau dilakukan selain hari jumat kliwon dan menggunakan kerbau bule (kerbau berwarna putih).

Penyembelihan kerbau dilaksanakan di tiga desa, yaitu Desa Karangbolong, Karangduwur, dan Pasir dan dilaksanakan di rumah mandor.

Setelah kerbau disembelih, daging kerbau dibawa ke pendopo untuk dimasak.

Ketika memasak daging kerbau tidak boleh dicicipi. Setelah dimasak, daging untuk slametan dan untuk sesaji dipisah. Setelah itu lantas diadakan slametan.

Slametan dilaksanakan di pendopo dan di rumah masing-masing mandor.

Slametan dilaksanakan cukup sederhana, hanya sambutan kepala DIPENDA (saat di pendopo, jika di rumah mandor, sambutan dilaksanakan oleh mandor), berdoa, dan makan bersama.

Setelah slametan, beberapa karyawan bertugas meletakkan sesaji di tempat yang dikeramatkan dan beberapa karyawan ke Gua Contoh, untuk menyaksikan wayang tanpa geber. Wayang tanpa geber dilaksanakan setelah dalang nyekar di pesanggrahan Kanjeng Ratu Kidul. Dalang nyekar bersama dengan Juru Kunci, Juru Kunci sebagai perantara kepada Kanjeng Ratu Kidul.

Setelah melaksanakan wayang tanpa geber, dalang melarungkan sesaji ke Pantai Karangbolong, sebagai persembahan kepada Kanjeng Ratu Kidul. Kemudian hari sabtu pagi diselenggarakan kesenian tradisional yaitu kuda lumping dan ketoprak.

Sabtu sore semua karyawan mempersiapkan makanan yang untuk slametan sabtu malam, selanjutnya pada sabtu malam semua karyawan dari Desa Karangbolong,

(32)

Karangduwur, dan Pasir melaksanakan slametan. Setelah slametan, kemudian menyaksikan kesenian tradisional tayuban dan wayang semalam suntuk.

RPSBL ketika Dikelola oleh Desa Karangduwur

Prosesi RPSBL ketika dikelola oleh Desa Karangduwur berbeda dengan RPSBL saat dikelola oleh pemerintah. Pelaksanaan ritual lebih sederhana, bahkan setiap musimnya mengalami pengurangan prosesi. Berikut prosesi RPSBL saat dikelola oleh Desa Karangduwur:

Musim Kapat Tahun 2012

Prosesi dimulai dengan membersihkan tempat sesaji dan pesanggrahan serta pencucian pakaian Kanjeng Ratu Kidul pada hari rabu oleh Juru Kunci dan gandeg. Kemudian dilanjutkan hari kamis dengan persiapan slametan, yaitu menyiapkan alat masak. Hari jumat pagi diadakan penyembelihan seekor kerbau di Desa Karangduwur, kemudian daging kerbau tersebut dibagikan ke Desa Karangbolong dan Pasir. Daging kerbau tersebut dimasak di desa masing-masing.

Setelah itu, meletakkan sesaji ke pasren dan tempat pemujaan.

Selanjutnya nyekar ke leluhur Karangduwur dan mengadakan slametan di rumah Pak Lurah Karangduwur, Pasir, dan pendopo Karangbolong. Kemudian menyaksikan wayang tanpa geber. Setelah dalang selesai memainkan lakonnya, dia kemudian melarungkan sesaji ke Pantai Karangbolong dan kemudian dalang nyekar ke pesanggrahan Kanjeng Ratu Kidul. Prosesi RPSBL selanjutnya adalah kesenian tradisional yang dilaksanakan di Desa Karangduwur, yaitu, tari topeng, tayuban, ketropak, dan wayang. Malam hari diadakan slametan. Slametan digabung dengan sedekah bumi dan dilanjutkan lengger dan wayang selaman suntuk.

(33)

Musim Kapitu Tahun 2013

Pada musim kapitu tahun 2013 prosesi RPSBL lebih sederhana dari RPSBL pada musim kapat tahun 2012. RPSBL pada musim kapitu tidak membersihkan tempat sesaji dan pesanggrahan serta tidak mencuci pakaian Kanjeng Ratu Kidul. Prosesi langsung kepada penyembelihan kambing. Setelah itu mengadakan slametan. Untuk Desa Karangbolong menyembelih ayam. Sesaji yang digunakan pun mengalami pengurangan. Setelah mengadakan slametan, prosesi dilanjutkan kesenian tradisional pada malam hari, kesenian tradisional digabung dengan acara 17 Agustus.

Musim Kasanga Tahun 2013

Musim kasanga tahun 2013 RPSBL berlangsung lebih sederhana, yaitu membersihkan tempat sesaji dan pesanggrahan serta mencuci pakaian Kanjeng Ratu Kidul dan pada hari jumat hanya penyembelihan kambing dan slametan.

Untuk wayang tanpa geber sudah ditiadakan sejak musim kapitu tahun 2013.

Pelaksanaan RPSBL yang semakin sederhana dipicu oleh dua hal, pertama, pendapatan yang diperoleh dari hasil sarang burung lawet tidak sebanding dengan yang dikeluarkan untuk RPSBL. Kedua, masyarakat Karangduwur ingin merubah adat yang sudah ada. Masyarakat Karangduwur percaya pendapatan sarang burung lawet bukan ditentukan dari RPSBL tetapi dari Tuhan dan cara manusia menjaga alam.

Pendapat masyarakat Karangduwur tersebut ditentang oleh masyarakat Karangbolong. Menurut informan II, IV, dan VIII berkurangnya sarang burung lawet dikarenakan berkurangnya sesaji yang ada, berkurangnya sesaji membuat Kanjeng Ratu Kidul murka. Bahkan informan II sudah mengetahui sarang burung

(34)

lawet akan mengalami pengurangan. Informan II mengetahui hal tersebut lewat Kanjeng Ratu Kidul yang datang ke mimpi informan II.

Dari sini terlihat perbedaan pandangan antara masyarakat Karangbolong dan Karangduwur. Masyarakat Karangbolong masih menganggap RPSBL adalah hal yang penting, bahkan RPSBL yang menentukan keberhasilan dan menetukan penghasilan sarang burung lawet. RPSBL menurut masyarakat Karangbolong juga merupakan suatu persembahan untuk Kanjeng Ratu Kidul. Sementara menurut masyarakat Karangduwur, RPSBL bukan penentu banyaknya penghasilan sarang burung lawet. Walaupun demikian, karena RPSBL sudah ada sejak seratus tahun yang lalu, masyarakat Karangduwur tidak langsung menghilangkan RPSBL, tetapi secara perlahan-lahan dan bertahap.

2. Perlengkapan RPSBL dan Pengunduhan Sarang Burung Lawet

Sebuah ritual tidak dapat dilepaskan dari sesaji, begitu pula pada RPSBL.

Berikut beberapa sesaji yang digunakan dalam RPSBL:

a) Kembang Setaman „berbagai macam bunga, seribu bunga‟

Masyarakat Karangduwur menggunakan kembang setaman untuk dilarungkan ke laut. Kembang setaman didapat dari memetik bunga yang ada disepanjang jalan menuju Gua Nagasari. Kembang setaman berisi bermacam- macam bunga yang tidak ditetapkan secara pasti. Setiap RPSBL kembang setaman yang dilarungkan ke laut berbeda-beda, macam-macam bunga tersebut disesuaikan dengan bunga yang tumbuh sepanjang jalan menuju Gua Nagasari. Maksud dari kembang setaman ini untuk penghormatan kepada Kanjeng Ratu Kidul.

(35)

b) Kembang Telon „bunga tiga rupa‟

Macam kembang telon adalah kembang mawar „bunga mawar‟, kembang kanthil „bunga kantil‟, dan kembang kenanga „bunga kenanga‟.

Kembang Kanthil secara khusus dipahami sebagai raja/ratu dari semua bunga, karena menurut tradisi turun-temurun kembang kanthil berarti

„terpikat/ikut/menurut/setia. Lebih lanjut kembang kanthil secara spiritual dapat dimanfaatkan sebagai sarana atau perantara untuk mendamaikan perselisihan (antar orang, suami-istri, saudara) tentang apapun jenis penyebab yang diperebutkannya.

Di samping itu kembang kanthil dapat digunakan untuk memandikan orang yang terganggu aura fisik dan jiwanya, sehingga yang mengganggu bisa hilang atau sirna. Perangkat sesaji kembang kanthil melambangkan cinta- kasih dan kedaiman hidup, karena leksikon kanthil dipahami merupakan bagian dari idiom tansah kumanthil-kanthil „selalu terbayang-bayang, selalu teringat‟, maksudnya selalu teringat kebaikan orang lain.

Bunga mawar mempunyai sifat ekpresif yang mawar-mekar ngambar- ambar „mawar berkembang luas, banyak, dan menyenangkan karena berbau harum‟. Bunga mawar sebagai pengharapan supaya hasil ngunduh sarang burung lawet melimpah.

Sementara itu ekspresi kenanga dianalogikan dengan ekspresi kaening-na „supaya direnungkan, dipikirkan‟ (bahasa Jawa) dan ekspresi kenang-(n)a „supaya diingat, dipikirkan, berhati-hati‟ (bahasa Indonesia). Hal ini berkaitan dengan supaya kita berhati-hati saat mengunduh, dipikirkan saat melangkah mengambil sarang burung lawet.

(36)

Di samping ekspresi kembang telon di atas, masing-masing kembang telon (mawar, kantil, kenanga) memiliki bau yang harum. Tidak hanya manusia yang menyukai bau harum tersebut, makhluk gaib seperti Kanjeng Ratu Kidul juga menyukainya.

c) Degan „buah kelapa muda‟

Pada sesaji yang digunakan dalam RPSBL juga terdapat degan „buah kelapa muda‟. Buah kelapa muda berarti „merendahkan diri‟ kepada penguasa laut selatan (Kanjeng Ratu Kidul) sebagai perantara Tuhan. Merendahkan diri dipahami dengan pendapatan dan keselamatan pengunduh bergantung pada penguasa laut selatan. Dengan adanya buah kelapa muda dipercaya pengunduhan dapat berjalan dengan lancar.

d) Gedhang Raja „pisang raja‟

Gedhang raja mempunyai maksud untuk menghormati Kanjeng Ratu Kidul yang dipersonifikasikan seperti raja „penguasa‟. Sosok penguasa laut selatan diekpresikan dengan berbagai sebutan seperti Kanjeng Ratu, Gusti Ratu, dan Ratu Kidul.

e) Kinang „kinang‟

Kinang dipahami sebagai akronim dari kaki-kaki lanang „laki-laki yang jantan‟ yang merujuk kepada kaki-kaki „laki-laki berumur‟ yang sekti mandraguna „sakti tak terkalahkan‟, di samping sosok laki-laki yang bagus- gagah-pideksa „tampan/tangguh/perkasa‟. Selanjutnya unsur leksikal kinang

„kinang‟ sebagai menu untuk dirasakan “lezatnya”, maka jika kinang dipahami akronim dari kaki-kaki lanang „laki-laki yang sakti‟ itu merupakan

(37)

menu segar bagi sosok wanita. Dalam hal ini diarahkan kepada Kanjeng Ratu Kidul.

f) Jenang Abang dan Jenang Putih

Jenang abang „bubur merah‟ dan jenang putih „bubur putih‟

diekspresikan sebagai bayi yang akan lahir. Saat bayi lahir, yang pertama kali pecah adalah air ketuban. Pada kepercayaan Jawa air ketuban disebut sedulur tua „saudara tua‟ si bayi. Sedulur tua di sini diibaratkan jenang abang. Setelah air ketuban pecah, bayi tersebut lahir dengan membawa ari-ari. Ari-ari itu disebut sedulur nom „saudara muda‟. Sedulur nom di sini diibaratkan jenang putih. Jadi penyediaan jenang abang dan jenang putih itu untuk bakti kepada sedulur tua „saudara tua‟ dan sedulur nom „saudara muda‟.

Sesaji yang ditujukan kepada Kanjeng Ratu Kidul ini menunjukkan pandangan masyarakat Karangbolong dan Karangduwur yang menghormati penguasa laut selatan tersebut. Walaupun demikian ada perbedaan dalam penghormatan kepada Kanjeng Ratu Kidul. Penghormatan yang dilakukan masyarakat Karangbolong, adalah penghormatan karena takut, masyarakat Karangbolong percaya bahwa Kanjeng Ratu Kidul adalah penguasa laut selatan. Sedangkan penghormatan masyarakat Karangduwur adalah penghormatan karena menurut sesepuh mereka Kanjeng Ratu Kidul adalah penguasa laut selatan. Mereka hanya menjalankan adat yang sudah ada.

Selain sesaji, terdapat pakaian Kanjeng Ratu Kidul. Pakaian Kanjeng Ratu Kidul dahulu merupakan pantangan yang tidak boleh dikenakan saat pengunduhan sarang burung lawet (akan dijelaskan lebih lanjut pada subbab pantangan). Pakaian tersebut antara lain:

(38)

a) Jarit Barong

Pakaian ini berbentuk jarit batik yang motifnya besar-besar.

Pakaian ini digunakan untuk bawahan Kanjeng Ratu Kidul. Jarit barong dikenakan menyamping.

b) Klambi Ijo Gadung „Baju Hijau Gadung‟

Klambi ijo gadung merupakan baju yang dikenakan masyarakat Jawa zaman kerajaan. Baju ini berwarna hijau agak tua. Baju dengan warna hijau hingga sekarang tidak boleh dipakai jika berada di pantai selatan. Mitos dalam masyarakat Jawa, jika mengenakan baju berwarna hijau dan bermain air laut, orang yang mengenakan baju tersebut dapat terbawa ombak.

c) Iket Pulung „Ikat Pulung‟

Iket „ikat‟ yang dimaksud adalah ikat (pinggang) yang mempunyai motif batik dibagian pinggir sedangkan tengah ikat polos hitam, pulung adalah ikat tidak bermotif (polos) berwarna hitam. Fungsi ikat sama dengan sabuk, sedangkan pulung dikenakan di kepala Kanjeng Ratu Kidul.

d) Selendang Mohdang

Selendang batik bermotif mohdang. Selendang ini berfungsi mempercantik penampilan. Cara pemakaiannya, disampirkan membentang dari bahu kanan ke bahu kiri, atau sebaliknya. Seperti halnya baju berwarna hijau, hingga sekarang selendang ini tidak boleh dikenakan di pantai selatan.

(39)

Selanjutnya, terdapat istilah pada pengunduhan sarang burung lawet yang berhubungan dengan tugas pengunduh.

a) Sortir

Sortir adalah orang yang melakukan penyortiran terhadap sarang burung lawet dan memimpin jalannya slametan RPSBL dan pengunduhan sarang burung lawet.

b) Mandor

Mandor adalah orang yang memberi perintah kepada para karyawan dalam menjalankan tugasnya dan mengawasi keadaan, baik di dalam maupun di luar gua. Mandor tidak ikut mengunduh, hanya mengawasi.

c) Polsus

Polsus adalah orang yang membantu mandor dalam pengawasan secara keseluruhan, biasanya bergantian dengan mandor.

d) Sikep

Sikep adalah orang pertama yang turun dan masuk ke dalam gua untuk membuka jalan dengan meneliti, memeriksa, dan mengganti tali yang sudah aus kemudian memeriksa dan mengganti bambu yang telah lapuk.

e) Bantu

Bantu adalah orang yang memetik sarang burung lawet di dalam gua, yang lebih dikenal dengan nama pengunduh sarang burung lawet.

Para bantu harus membawa galah untuk mengambil sarang burung lawet dan berjalan di belakang sikep dan mengikuti perintah sikep.

(40)

3. Sistem Kepercayaan

Tri Widiarto, dkk berpendapat, sistem kepercayaan sebagai berikut:

Sistem kepercayaan adalah rangkaian keyakinan dari suatu kelompok masyarakat manusia terhadap sesuatu yang (dianggap mempunyai kekuatan) gaib. Di dalam sistem kepercayaan juga termasuk berbagai aktifitas upacara religius serta sarana yang berfungsi melaksanakan komunikasi antara manusia dengan (kekuatan dalam) alam gaib (Tri Widiarto, 2000:23).

Memahami sistem kepercayaan masyarakat adalah salah satu dasar untuk sampai pada tujuan memahami pandangan masyarakat terhadap RPSBL.

a. Agama

Berdasarkan buku Format Laporan Profil Desa dan Kelurahan yang dimiliki Balai Desa Karangbolong dan Karangduwur, 99,9%

masyarakat Karangbolong menganut agama Islam dan 0,1% menganut agama Budha. Sedangkan masyarakat Karangduwur menganut agama Islam, Kristen, Hindu, dan Budha. Masyarakat Karangbolong yang mengikuti RPSBL dan pengunduhan 99,9% beragama Islam, 0,1% adalah penganut kepercayaan (dalam hal ini kepercayaan terhadap mahkluk gaib dan leluhur). Sedangkan masyarakat Karangduwur yang mengikuti RPSBL dan pengunduhan 100% beragama Islam.

Namun demikian, secara praktikal, masyarakat Karangbolong dan Karangduwur masih menunjukkan sikap dan perilaku spiritual kejawen

(41)

serta sisa-sisa praktik budaya Hindu dan Budha yang diikuti nenek- moyangnya, seperti adanya sesaji dan larung laut.

Sejak seratus tahun lalu masyarakat Karangbolong sudah menganut agama Islam. Hal ini dibuktikan dengan penyebutan Kiai dalam Kiai Bekel dan adanya pengaruh dari Kerajaan Kartasura Islam. Dari informasi yang peneliti dapat, masyarakat asli Karangbolong beragama Islam, meskipun saat itu agama Islam yang ada adalah Islam KTP.

Sedangkan pada masyarakat Karangduwur sejak seratus tahun yang lalu menganut agama Islam dan Budha. Hal ini dibuktikan dengan Kaki Gareng sebagai leluhur Desa Karangduwur adalah sebagai murid dari Syeh Anom.

Syeh Anom merupakan pemuka agama Islam. Dari sinilah dapat diketahui cikal bakal agama Islam di Desa Karangduwur. Setelah Kaki Gareng mengantar utusan Mataram ke Gua Nagasari, Karangduwur, dia menetap di Desa Karangduwur dan meninggal di sana. Sementara bukti agama Budha, adalah adanya wihara di Desa Karangduwur yang hingga sekarang masih aktif digunakan untuk tempat ibadah. Agama Budha hingga sekarang pun menduduki posisi kedua setelah agama Islam.

Dilihat dari sejarah Kabupaten Kebumen tidak terlepas dari sejarah Mataram Islam. Hal ini dibuktikan dengan Kiai Bumidirja yang menjadi cikal bakal masyarakat Kebumen. Kiai Bumidirja adalah saudara Sultan Agung, ulama, dan salah satu dewan Parampara (lembaga tinggi negara).

(42)

Dari sejarah Mataram Islam, diketahui gelar Islam yang dimiliki leluhur Kebumen khususnya di Desa Karangbolong dan Karangduwur, seperti Ki Udajaya, utusan dari Kerajaan Mataram yang mencari sarang burung di Desa Karangduwur dan Kiai Surti, utusan Kerajaan Kartasura yang mencari sarang burung di Desa Karangbolong. Para leluhur Desa Karangbolong dan Karangduwur yang merupakan utusan dari Kerajaan Kartasura dan Mataram merupakan orang penting dalam kerajaan dan berjasa, maka mereka diberi gelar Ki/Kiai. Sedangkan, Mas Ajeng Kalipah merupakan Raja Mataram, yang bernama lengkap Panembahan Senopati Dingalaga Kalipah Panetep Panatagama. Raja Mataram ini sempat tinggal di Desa Karangduwur, sehingga masyarakat Karangduwur menganggap Panembahan Senopati adalah leluhur di sana.

b. Leluhur

Masyarakat Karangduwur dan Karangbolong mempunyai leluhurnya masing-masing. Jika dihubungkan dengan cerita penemuan sarang burung lawet, RPSBL pertama kali dilaksanakan di Desa Karangduwur. Hal ini dapat dilihat pada leluhur Karangduwur. Pada cerita penemuan sarang burung lawet yang menemukan sarang burung lawet di Desa Karangduwur adalah utusan Kerajaan Mataram, sedangkan yang menemukan sarang burung lawet di Desa Karangbolong adalah utusan Kerajaan Kartasura. Menurut cerita Babad Tanah Jawi Kerajaan Mataram lebih dahulu berdiri. Kerajaan Kartasura merupakan anak dari Kerajaan Mataram. Bahkan Panembahan Senopati yang mengutus Ki Udayana, Prayandiga, Saragati untuk mencari sarang burung lawet wafat sebelum

Referensi

Dokumen terkait

Koleksi geologika (koleksi batuan) adalah batuan yang dimanfaatkan oleh manusia sebagai bahan perhiasan maupun jenis batuan yang dimanfaatkan untuk keperluan

Pisang kepok biasanya diolah menjadi keripik, oleh karena itu pembuatan tape pisang merupakansalah satu alternatif penganekaragaman olahan buah pisang.Tujuannya

Umar Sholahudin, S.Sos, M.Sosio 5 Sudarto, SH 4 Abdul Fatah, SH, MH 9 Fadzlur Rahman.. Asri Wjayanti,

Citra merek berpengaruh signifikan terhadap loyalitas merek pada MY Salon di Kota Gresik, sehingga MY Salon Gresik harus merubah desain brosurnya karena brosur MY

Dan di dalam Perjamuan Kudus, Saudara bisa menghayati hal ini dengan baik sekali; roti dan anggur, sesuatu yang biasa hadir dalam kehidupan domestik kita sehari-hari

Adapun tujuan penyusunan Renja Dinas Pencegahan dan Penanggulangan Kebakaran Kota Bandung, bertujuan untuk lebih memantapkan terselanggaranya kegiatan fungsi serta

Hal ini mungkin disebabkan pada lama perendaman 48 jam dan 60 jam makin tinggi konsentrasi larutan garam makin banyak zat yang larut dan ikut terdifusi bersama air ke luar

Otorisasi dan pengesahan oleh manajemen, pihak yang bertanggung jawab atas tata kelola, atau, jika relevan, pemegang saham atas transaksi signifikan pihak berelasi di