• Tidak ada hasil yang ditemukan

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "UNIVERSITAS SUMATERA UTARA"

Copied!
194
0
0

Teks penuh

(1)

PENGALAMAN KEAGAMAAN PADA INDIVIDU YANG MELAKSANAKAN SHALAT ISTIKHARAH

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Ujian Sarjana Psikologi

Oleh

PUTRI RAMADANI 141301021

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

2018

(2)
(3)
(4)

PENGALAMAN KEAGAMAAN PADA INDIVIDU YANG MELAKSANAKAN SHALAT ISTIKHARAH

Putri Ramadani dan Raras Sutatminingsih

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran pengalaman keagamaan seseorang dalam melakukan shalat sunnah istikharah. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan kualitatif fenomenologi dan menggunakan teknik pengambilan sampel theory based/operational construct sampling. Jumlah subjek dalam penelitian ini adalah 3 orang. Subjek dalam penelitian telah melakukan beberapa kali shalat istikharah dan setelah itu merasakan fenomena unik dan dampak positif dalam kehidupannya. Proses pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode wawancara dan observasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara umum ketiga subjek merasakan pengalaman keagamaan berdasarkan karakteristik yang diungkapkan oleh Compton dan Hoffman. Seseorang dalam mendapatkan pengalaman keagamaan tentu berbeda antara satu dengan yang lain, karena pengalaman keagamaan merupakan pengalaman yang bersifat individu. Subjek yang mendapatkan pengalaman keagamaan merasakan satu malam yang tenang dalam shalatnya, serta dampak positif setelahnya yaitu mendapatkan pertolongan Allah dan merasakan kehadiran Allah ditengah persoalan yang dihadapi. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa tingkat frekuensi dan khusyu’ seseorang dalam melaksanakan shalat istikharah juga mempengaruhi seseorang dalam mendapatkan pengalaman keagamaan.

Kata kunci : Pengalaman keagamaan, shalat istikharah.

(5)

RELIGIOUS EXPERIENCE ON THE INDIVIDUAL THAT IMPLEMENTS THE ISTIKHARAH PRAYER

Putri Ramadani dan Raras Sutatminingsih

ABSTRACT

This study aims to see a picture of one's religious experience in performing istikharah sunnah prayers. This study uses a qualitative phenomenological approach and uses theory based / operational construct sampling sampling techniques. The number of subjects in this study were 3 people. Subjects in the study had done several istikharah prayers and after that felt unique phenomena and positive impacts in their lives. The data collection process is carried out using interview and observation methods. The results of this study indicate that in general the three subjects felt a religious experience based on the characteristics expressed by Compton and Hoffman. Someone in obtaining religious experience is certainly different from one another, because religious experience is an individual experience. Subjects who gained religious experience felt a quiet night in their prayers, as well as a positive impact after that, namely getting God's help and feeling God's presence in the midst of the problems faced. The results of this study also showed that the frequency of someone in performing istikharah prayers also influenced a person in obtaining religious experience

Keywords: Religious experience, istikharah prayer

(6)

KATA PENGANTAR

Puji syukur peneliti persembahkan kehadirat Allah SWT, karena berkat rahmat dan karunia-Nya semata sehingga peneliti mampu menyelesaikan skripsi dengan judul “ Pengalaman Keagamaan Pada Individu yang Melaksanakan Shalat Istikharah”.

Skripsi ini tidak akan terselesaikan tanpa bantuan, bimbingan dan nasihat dari berbagai pihak. Untuk itu pada kesempatan ini peneliti ingin mengucapkan terimakasih kepada:

1. Kedua orang tua Bapak, Mamak yang selalu memberikan dukungan, semangat dan doa kepada peneliti demi keberlangsungan menyelesaikan skripsi ini. Tak lupa pula abang dan kakak yang selalu mendukung agar tidak menyerah selama mengerjakan skripsi ini.

2. Bapak Zulkarnain, Ph.D., Psikolog selaku Dekan Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara beserta jajarannya yang telah memberikan dukungan moril kepada peneliti untuk menyelesaikan skripsi ini.

3. Seluruh dosen dan pegawai Fakultas Psikologi USU yang membantu dalam proses pembelajaran di kelas.

4. Ibu Raras Sutatminingsih, Ph.D. selaku dosen pembimbing yang dengan sabar membimbing, memberikan arahan, nasehat serta memotivasi peneliti hingga bisa menyelesaikan skripsi ini. Terimakasih banyak Ibu.

5. Ibu Ika Sari Dewi, S.Psi, M.Pd, Psikolog selaku dosen pembimbing akademik yang selalu memberikan semangat serta motivasi dalam perkuliahan.

6. Subjek pada penelitian ini yang mau meluangkan waktu dan tenaganya demi membantu menyelesaikan skripsi saya.

7. Sahabat terdekat saya Latifa, Pinta, Natasha, Debora, Ratih, Farah, Jihan, Jeni, Dina, Zurwatus dan semuanya semoga kita sukses sama-sama dikemudian hari. Aamiin ya Allah.

8. Teman angkatan 2014 saya harap kita semua sukses dan menjadi pribadi yang baik dimasa depan

(7)

9. Semua pihak yang terlibat dan tidak bisa peneliti sebutkan satu-persatu dan telah membantu penulis baik langsung maupun tidak langsung dalam menyelesaikan skripsi ini.

Peneliti menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kata sempurna dan kekurangan dalam skripsi baik dalam hal penyusunan maupun materi yang dimuat. Oleh karena itu peneliti berharap kritik dan saran yang membangun gna mengembangkan pengetahuan agar skripsi ini bermanfaat dan menjadi lebih baik lagi.

Medan, 28 Juli 2018

Peneliti

(8)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... i

DAFTAR ISI ... iii

DAFTAR TABEL ... vi

DAFTAR LAMPIRAN ... vii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 9

1.3 Tujuan Penelitian ... 9

1.4 Manfaat Penelitian ... 9

1.4.1 Manfaat Teoritis ... 9

1.4.2 Manfaat Praktis ... 10

1.5 Sistematika Penulisan... 10

BAB II LANDASAN TEORI ... 12

2.1 Pengalaman Keagamaan ... 12

2.1.1 Definisi ... 12

2.1.2 Dimensi Pengalaman Keagamaan ... 13

2.2 Shalat Istikharah ... 16

2.2.1 Definisi ... 16

2.2.2 Hikmah Shalat Istikharah ... 17

2.3 Penelitian Terdahulu ... 18

2.4 Pengalaman Keagamaan Individu yang Melaksanakan Shalat Istikharah .. 25

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 27

(9)

3.1 Pendekatan Kualitatif ... 27

3.2 Subjek Penelitian ... 28

3.2.1 Sampel Penelitian ... 28

3.2.2 Karakteristik Penelitian ... 28

3.3 Prosedur Pengambilan Data ... 29

3.4 Alat Bantu Pengambilan Data ... 30

3.5 Kredibilitas Penelitian ... 31

3.6 Prosedur Penelitian... 32

3.6.1 Tahap Persiapan Penelitian ... 33

3.6.2 Tahap Pelaksanaan Penelitian ... 34

3.6.3 Tahap Pencatatan Data ... 34

3.7 Metode Analisis Data ... 36

BAB IV HASIL ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN ... 38

4.1 Analisa Data ... 38

4.1.1 Subjek 1 ... 38

4.1.1.1 Identitas Diri... 38

4.1.1.2 Observasi ... 39

4.1.1.3 Wawancara Allo-anamnesa ... 40

4.1.1.4 Wawancara Auto-anamnesa ... 41

4.1.2 Subjek 2 ... 55

4.1.2.1 Identitas Diri... 55

4.1.2.2 Observasi ... 56

4.1.2.3 Wawancara Allo-anamnesa ... 57

4.1.2.4 Wawancara Auto-anamnesa ... 58

(10)

4.1.3 Subjek 3 ... 71

4.1.3.1 Identitas Diri ... 71

4.1.3.2 Observasi ... 72

4.1.3.3 Wawancara Allo-anamnesa ... 73

4.1.3.4 Wawancara Auto-anamnesa ... 75

4.2 Pembahasan ... 88

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 96

5.1 Kesimpulan ... 96

5.2 Saran ... 98

DAFTAR PUSTAKA ... 99

(11)

DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Prosedur Penelitian ... 32 Tabel 4.1 Analisa Data ... 86

(12)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 : Informed Consent ... 102

Lampiran 2 : Pedoman Wawancara ... 105

Lampiran 3 : Verbatim 1 ... 107

Lampiran 4 : Rekapitulasi 1... 125

Lampiran 5 : Rekapitulasi 2... 128

Lampiran 6 : Verbatim 2 ... 131

Lampiran 7 : Rekapitulasi 1... 148

Lampiran 8 : Rekapitulasi 2... 152

Lampiran 9 : Verbatim 3 ... 155

Lampiran 10 : Rekapitulasi 1 ... 177

Lampiran 11 : Rekapitulasi 2 ... 180

(13)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Dalam kehidupan, manusia akan dihadapkan pada beberapa pilihan. Pilihan tersebut akan menyebabkan munculnya perasaan bimbang terhadap apa yang akan dipilih. Bimbang merupakan perasaan tidak tetap hati (kurang percaya), ragu-ragu dan khawatir kepada sesuatu yang tengah dihadapi. Individu yang merasa bimbang biasanya disebabkan oleh proses dalam menentukan sebuah pilihan (Sugiono, 2008). Pilihan tersebut nantinya merupakan sesuatu yang terbaik untuk dirinya, seseorang takut apabila salah membuat pilihan yang akan merugikan dirinya dikemudian hari. Hal inilah yang memicu timbulnya perasaan bimbang pada diri seseorang. Bimbang merupakan salah satu penyakit mental yang dapat dilihat dari segi perasaan. Dalam kesehatan mental, penyakit mental berarti kumpulan dari keadaan yang tidak normal, baik yang berhubungan dengan kejiwaan maupun jasmani. Kesehatan mental yang terganggu berpengaruh buruk terhadap kesejahteraan dan kebahagiaan. Gejala yang ditimbulkan antara lain dapat dilihat dari segi perasaan, pikiran, tingkah laku, dan kesehatan badan. (Jaelani, 2000).

Fenomena dalam menentukan sebuah pilihan tentu tidak bisa dianggap sepele. Hal ini akan terbawa sepanjang kehidupan manusia.

Misalnya, jika seseorang memutuskan sebuah pilihan dan ternyata pilihan yang telah ia buat tidak sesuai dengan apa yang ia bayangkan sebelumnya,

(14)

maka akan menimbulkan perasaan bersalah dan timbul penyesalan. Tidak ada seorangpun yang tidak ingin menikmati ketenangan dan kebahagiaan dalam hidup. Semua orang akan berusaha mencarinya, meskipun tidak semuanya dapat mencapai apa yang mereka inginkan. Bermacam sebab dan rintangan yang mungkin terjadi, sehingga banyak orang yang mengalami kegelisahan, kecemasan dan ketidakpuasan (Daradjat, 2016).

Ketika seseorang dihadapkan pada pilihan, berbagai cara dilakukan untuk menentukannya. Berbagai pengalaman seseorang sebelum memutuskan shalat istikharah untuk memutuskan pilihan adalah dengan cara bertanya pada hati nurani, minta pendapat sahabat, hingga aktif curhat melalui media sosial. Tentu semua orang yang ditanya akan memberikan jawaban dan pendapatnya masing-masing. Namun, belum tentu jawaban itu sesuai dengan jalan hidup atau takdir Allah (Sasak, 2017). Hal ini juga disampaikan oleh orang yang pernah mengalami hal tersebut kepada peneliti. Ia menyampaikan kepada peneliti sebagai berikut:

“Aku biasanya kalau bingung gitu kan pilih ini atau itu ya terkadang nanya pendapat kawan, pacar juga hehe. Tapi juga biasanya nanya pendapat orang tua sih cuman terkadang karena masukan dari mereka kadang ya beda-beda malah jadi makin bingung pun ahahah”

(Komunikasi personal, 17 Oktober 2017) Dalam Islam ada cara yang dilakukan ketika seseorang berada dalam kebimbangan guna mendapatkan petunjuk, yaitu dengan cara melakukan ibadah shalat istikharah. Shalat istikharah adalah shalat sunnah yang diperuntukkan apabila seorang muslim sedang berada dalam 2 perkara atau lebih dan harus memutuskan salah satu diantaranya maka ia

(15)

memutuskan atau memberikan pilihan hanyalah Allah. Hal yang perlu diperhatikan sebelum mengerjakan shalat istikharah adalah hatinya dinetralkan dari perkara yang akan dipilih dan jangan memihak yang satu dan membenci yang lainnya. Hal ini perlu dilakukan agar pilihan yang muncul bukan pilihan kita sendiri yang akhirnya akan menimbulkan kekecewaan (Hanafi, 2013).

Jadi, apabila kita memiliki urusan atau keinginan baik itu kecil maupun besar, urusan dunia maupun urusan akhirat, hendaknya selalu meminta petunjuk kepada Allah dengan melakukan shalat istikharah.

Karena setelah melaksanakan shalat ini, Allah membukakan pikiran seseorang dan mengarahkan agar mampu memilih sesuatu yang baik untuk dirinya. Hal ini tertuang dalam hadis Nabi Saw yang diriwayatkan oleh Jabir bin Abdullah r.a (dalam Sasak, 2017) yang artinya :

“ Dari Jabir bin Abdullah r.a. berkata, Rasulullah saw mengajarkan kepada kami Istikharah pada semua perkara sebagaimana beliau mengajarkan Al-Qur’an (HR. Bukhari) Shalat istikharah sendiri termasuk kedalam salah satu jenis shalat yang istimewa. Berbeda dengan shalat lain misal shalat wajib atau shalat sunnah yang lain, keistimewaan shalat istikharah adalah shalat ini memiliki tujuan khusus ketika seseorang melaksanakannnya yaitu menentukan pilihan yang tidak ditemukan pada shalat yang lain.

Kemudian tidak banyak juga orang yang melaksanakan shalat ini.

Keistimewaan yang didapat ketika seseorang melaksanakan shalat ini adalah isyarat yang diberikan oleh Allah sebagai jawaban biasanya melalui mimpi atau kemantapan hati terhadap salah satu pilihan. Hal ini yang tidak

(16)

ditemukan pada shalat lain (Hanafi, 2013). Hal ini yang mendasari peneliti memilih shalat istikharah sebagai salah satu shalat yang dikaji dalam penelitian ini.

Hal yang berbeda dirasakan ketika seseorang memutuskan untuk melaksanakan shalat istikharah dalam mengatasi kebimbangan. Hasil wawancara personal menunjukkan bahwa beberapa orang yang pernah melakukan shalat istikharah melaporkan setelah melakukan shalat tersebut mengalami kejadian yang unik, merasa bahwa mendapatkan pertolongan Allah secara nyata terkait persoalan yang dihadapi dan salah satu subjek dalam wawancara awal mengaku mendapatkan ketenangan yang mendalam. Kejadian ini menurutnya tidak selalu dirasakannya, ia mengaku ada satu malam ketika ia benar-benar merasakan kehadiran esensi Ilahi. Hal tersebut diungkapkan subjek dalam wawancara personal sebagai berikut:

“Iya dek, jadi aku merasa tenang kali siap shalat itu, ada gitu sesuatu yang terjadi kurasakan tapi aku bingung membilangkannya, aku ngerasa Allah disisiku saat itu. Langsung dijawab Allah setelah beberapa kali aku shalat istikharah”

(Komunikasi personal, 17 Oktober 2017) Subjek lain yang melaksanakan shalat istikharah juga mengalami kejadian yang unik. Ia merasakan mendapatkan petunjuk melalui mimpi dan ia beranggapan mimpi tersebut seperti kenyataan. Hal ini dirasakan ketika subjek ingin mengambil keputusan pada pemilihan jodoh dan memutuskan untuk melaksanakan shalat istikharah. Subjek tersebut menyampaikan hal sebagai berikut:

(17)

“Setelah aku shalat istikharah, langsung terbawa mimpi samaku wajah abang itu. Kami lagi di suatu tempat aku gak tau tempat apa tapi ya aku pas tebangun kayak negrasa mimpiku itu nyata”

(Komunikasi personal, 17 Oktober 2017) Dari kejadian diatas dapat dilihat bahwa individu mengaku merasakan peristiwa unik dan meyakini bahwa hal ini tidak terlepas dari shalat istikharah yang mereka lakukan. Dengan kata lain ritual ibadah yang mereka lakukan berdampak pada pengalaman yang mereka rasakan.

Pengalaman yang terjadi melalui ajaran tradisi keagamaan atau yang terjadi selama ibadah atau praktik keagamaan yang merupakan hasil dari pengabdian doa menurut Rankin (2008) disebut dengan pengalaman keagamaan. James (2002) berpendapat bahwa pengalaman keagamaan diperoleh dan melekat pada diri mereka sejak lahir. Sementara Tart (1975) mengatakan bahwa pengalaman keagamaan tidak hanya terjadi secara alamiah, tetapi pengalaman keagamaan dapat terjadi sebagai dampak dari disiplin spiritual yang khusus, yaitu meditasi. Selanjutnya, Dunn (1970) mengatakan bahwa pengalaman keagamaan terdiri dari 2 kategori. Pertama, kejadian dimana orang yang mengaku telah merasakan keajaiban Tuhan, dan yang kedua adalah peristiwa dimana orang yang percaya mengalami apa yang mereka yakini sebagai suatu roh.

Dalam penelitian ini, peneliti akan fokus kepada fenomena yang dialami oleh individu pada saat maupun setelah melakukan shalat istikharah.

Hal ini menurut peneliti penting untuk diulas lebih lanjut guna memberikan gambaran kepada individu yang tengah menghadapi kebimbangan bahwa pertolongan yang diberikan Allah SWT benar nyata dirasakan bagi sebagian

(18)

orang yang telah melaksanakan shalat ini dengan khusyu’. Disatu sisi pengalaman keagamaan cenderung sulit diterima melalui logika atau pemikiran manusia karena belum tentu semua orang mengalami hal ini sehingga tak banyak yang tahu bahwa ada esensi Ilahi yang berperan didalamnya. Pengalaman keagamaan ini difokuskan untuk diulas agar individu bisa melihat beberapa orang terdahulu yang telah merasakannya setelah itu tanpa berfikir panjang agar melaksanakan shalat istikharah ketika kebimbangan menghampiri. Hal ini bisa menjadi prioritas utama yang dilakukan seseorang dari pada meminta pendapat dari berbagai sudut pandang orang lain. Selain itu juga dapat menghindarkan seseorang dari perasaan bersalah dan penyesalan yang berkepanjangan, karena apapun hasil dari istikharahnya merupakan sesuatu yang berasal dari Allah dan terbaik untuknya.

Valera dan Taylor (2010) melakukan penelitian yang bertujuan untuk melihat pengalaman keagamaan pada sembilan pria kulit hitam yang telah menikah namun melakukan hubungan seksual dengan pria (homoseksual). Muncul perasaan bingung sekaligus bimbang pada subjek, tetap menjalin hubungan dengan sesama jenis atau fokus pada pasangan mereka. Sembilan pria kulit hitam ini merupakan aktivis di Black Church yang menjadi lembaga utama dalam melayani komunitas kulit hitam di Amerika. Penelitian ini menunjukkan bahwa pengalaman keagamaan dengan mengikuti ritual gereja menjadikan mereka untuk mengambil keputusan tetap menjalin hubungan dengan sesama jenis namun tetap menjadi pria yang religius dengan beribadah yang intens di gereja.

(19)

Bradshaw, Heaton, Decoo, Delhin, Galliher, & Crowell (2015) melakukan penelitian dengan konteks yang sama yakni meneliti tentang aktivis gereja Jesus Christ yang menjalankan ritual ibadah di gereja tersebut dengan orientasi seksual. Subjek dari penelitian ini adalah pria remaja awal hingga dewasa yang termasuk kedalam karakteristik gay, biseksual dan transgender. Tergolong kedalam aktivis gereja membuat subjek bingung untuk menunjukkan identitas orientasi seksual mereka karena program gereja yang tidak mendukung hal tersebut. Hasil penelitian ini menunjukkan terjadi kesenjangan antara kebiasaan ritual pada pria gay, biseksual dan transgender. Subjek melaporkan hal ini disebabkan karena program gereja yang tidak mendukung komunitas gay. Ritual ibadah awal membentuk identitas religius yang positif, namun kegagalan untuk mempengaruhi perubahan orientasi terhadap gay menyebabkan konflik (Bradshaw, Heaton, Decoo, Delhin, Galliher, & Crowell, 2015). Dari penelitian ini ternyata bisa dilihat ritual ibadah yang dilakukan tidak berpengaruh untuk merubah orientasi seksual dan akhirnya menyebabkan konflik. Jika dilihat dengan penelitan diatas penelitian ini mendapatkan hasil yang bertolak belakang.

Penelitian lain meneliti terkait beberapa orang yang bimbang terhadap agama yang ia yakini sebelumnya. Penelitian ini dilakukan Lyadurai (2011) didasari oleh fenomena konversi perpindahan agama menjadi Kristen dari agama yang berbeda dalam tradisi agama yang ada di India. Subjek dalam penelitian ini adalah seseorang yang mengubah agamanya menjadi Kristen dari agama dan tradisi yang berbeda. Keputusan untuk memilih berpindah agama karena didasari oleh beberapa hal misal

(20)

kecewa dengan agama yang dibawa sejak lahir, dan doa yang tak kunjung dikabulkan. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa setelah mengubah agama menjadi kristen subjek merasakan doa dijawab Jesus dan lebih memaknai kehidupan sekaligus percaya dosa dan kehidupan setelah mati.

Penelitian yang dilakukan oleh Fernando dan Jacson (2006) meneliti 13 pemimpin bisnis yang ada di Sri Lanka dari agama Buddha, Kristen, Hindu, dan Muslim yang mendasari agama sebagai proses menentukan keputusan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam keadaan sulit, mereka mengandalkan proses dimana mereka terhubung dengan yang sesuatu realitas yang tinggi dalam kata lain realitas transenden atau Tuhan. Hasil juga menunjukkan bahwa ritual ibadah tiap agama mempengaruhi kualitas motivasi pengambilan keputusan pemimpin di Sri Lanka.

Penelitian yang dilakukan oleh Amin dan Alam (2008) meneliti mengenai pengaruh kegiatan keagamaan pada pekerja perempuan dalam pengambilan keputusan di Malaysia. Penelitian ini dilakukan pada perempuan yang telah menikah dan bekerja full time sebagai karyawan di Malaysia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan keagamaan atau ritual ibadah dalam agama kurang berpengaruh dalam proses pengambilan keputusan pada subjek daerah perkotaan daripada pedesaan.

Penelitian terdahulu ditemukan adanya pro dan kontra mengenai topik kegiatan ritual ibadah dalam proses menentukan pilihan, serta berbagai pengalaman yang dirasakan subjek. Hal ini menarik bagi peneliti dan mendorong peneliti untuk mengkaji kembali mengenai pengalaman

(21)

keagamaan ketika seseorang melaksanakan shalat istikharah dan kaitannya dalam menyelesaikan permasalahan dalam hidup. Penelitian ini memiliki ciri khas yang berbeda dari penelitian sebelumnya. Perbedaan terletak pada hubungan antara shalat istikharah dengan pengalaman keagamaan seseorang. Penelitian ini diajukan dengan pertanyaan bagaimana pengalaman keagamaan yang dialami individu, baik saat melaksanakan shalat tersebut maupun peristiwa yang terjadi sesudahnya. Pengalaman keagamaan yang dimaksud disini terkait dengan fikiran, perasaan dan perubahan perilaku yang dirasakan subjek.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang permasalahan yang dijelaskan diatas, peneliti ingin mengajukan pertanyaan berikut:

“Bagaimana pengalaman keagamaan individu ketika melakukan shalat istikharah?”

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui gambaran dari pengalaman keagamaan individu ketika melakukan shalat istikharah.

1.4 Manfaat Penelitian

Dari penelitian yang dilkukan diharapkan memiliki manfaat.

Manfaat dalam penelitian ini terbagi menjadi 2 yakni manfaat teoritis dan manfaat praktis.

1.4.1 Manfaat Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi serta menambah literatur materi dalam topik psikologi transpersonal yang fokus

(22)

kepada gambaran pengalaman keagamaan dan kaitannya salah satu ritual agama islam yaitu shalat istikharah. Penelitian ini juga diharapkan mampu memberikan insight untuk peneliti selanjutnya yang tertarik dengan topik pengalaman religius yang berhubungan dengan shalat istikharah dan dapat dijadikan bahan penelitian selanjutnya.

1.4.2 Manfaat Praktis

Manfaat praktis dari hasil penelitian ini adalah:

a. Hasil penelitian ini diharapkan mampu memberikan informasi mengenai pengalaman keagamaan yang dialami seseorang ketika melakukan ibadah shalat. Masyarakat bisa belajar dari penelitian ini bahwa ibadah shalat bukan sekedar kewajiban seorang muslim untuk melaksanakannya, melainkan ada hal yang lebih mendasar yang terjadi yaitu pengalaman keagamaan terkhususnya pada individu yang melakukan shalat istikharah.

b. Hasil dari penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan insight kepada masyarakat muslim yang mengalami kebimbangan untuk melaksanakan shalat istikharah.

1.5 Sistematika Penulisan

Berikut merupakan sistematika penulisan dari penelitian ini : BAB I Pendahuluan

Pada bab ini, berisikan latar belakang permasalahan, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan sistematika penulisan BAB II Landasan Teori

(23)

Pada bab ini berisikan teori yang akan digunakan sebagai landasan teori. Teori yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah pengalaman religius, karakteristik pengalaman religius, teori lainnya yang akan dibahas dalam bab ini adalah shalat istikharah yang terdiri dari definisi shalat istikharah, hikmah dari shalat istikharah, penelitian terkait pengalaman religius dan shalat, dan yang terakhir adalah dinamika pengalaman religius shalat istikharah

BAB III Metode Penelitian

Pada bab ini berisikan penjelasan mengenai metode penelitian yang akan digunakan, subjek penelitian yang terdiri dari sampel dan karakteristik penelitian, prosedur pengambilan data, lokasi pengambilan data, alat bantu pengambilan data, prosedur penelitian dan metode analisis data.

BAB IV Analisa Data dan Pembahasan

Bab ini berisikan deksripsi data mengenai masing-masing subjek.

Selain itu bab ini juga berisikan pengalaman yang dialami masing-masing indivdu. Bab ini juga memuat pembahasan dari ketiga subjek dengan menggunakan karakteristik pengalaman keagamaan Compton dan Hoffman (2012).

BAB V Kesimpulan dan Saran

Bab ini berisikan kesimpulan terkait penelitian dan memuat saran bagi penelitian ini. Saran dalam penelitian ini terbagi menjadi 2 yakni saran metodologis terkait penyusunan laporan skripsi, dan saran praktis yakni manfaatnya bagi individu (orang Muslim)

(24)

BAB II

LANDASAN TEORI

Pada penelitian ini, peneliti menggunakan teori-teori mengenai pengalaman keagamaan dan shalat istikharah.

2.1 Pengalaman Keagamaan 2.1.1 Definisi

James (2002) mendefinisikan pengalaman keagamaan sebagai sebuah perasaan dan tindakan pengakuan terhadap kekuatan diluar diri yang dapat dijadikan sebagai sumber nilai luhur abadi yang mengatur hidup manusia dan alam semesta dalam kaitannya dengan ilahi.

O’Kane (1989) mendefinisikan pengalaman keagamaan sebagai pengalaman mistik atau pengalaman rohani dimana orang merasakan bersentuhan dengan sesuatu yang bersifat keTuhanan atau merasakan penyatuan seluruh dimensi dalam diri dan kehidupannya. Rankin (2008) mengatakan bahwa pengalaman keagamaan berlangsung dalam setting ibadah atau ritual yang dilakukan oleh individu dan mereka merasa bahwa menjalin hubungan dengan yang Ilahi.

Menurut Smart (dalam Rankin, 2008), pengalaman keagamaan melibatkan semacam persepsi yang tak terlihat dalam dunia. Glock dan Stark (1965) mendefinisikan pengalaman keagamaan adalah semua perasaan, persepsi, dan sensasi yang dialami oleh individu atau biasa didefinisikan oleh kelompok agama atau masyarakat melibatkan beberapa komunikasi dengan esensi ilahi yaitu dengan Tuhan. Sedangkan definisi

(25)

lain yang diungkapkan Compton dan Hoffman (2012) mengenai pengalaman keagamaan yaitu merupakan kejadian singkat ketika seeorang merasakan terhubung dengan sesuatu yang lebih besar dari dirinya.

Pengalaman keagamaan dan emosi yang menyertainya dapat menjadi sangat positif, seperti merasakan spiritualitas yang mendalam dan perasaan yang sangat menenangkan, seperti perasaan nyaman dan aman ketika memasuki bangunan keagamaan.

Berdasarkan pendapat para tokoh diatas dapat disimpulkan bahwa pengalaman keagamaan merupakan pengalaman yang dialami individu dilandasi dengan esensi agama dan merasakan hubungan dengan sesuatu yang Ilahi atau kekuatan diluar diri manusia yang dapat menimbulkan perasaan tenang dan damai bagi orang yang mengalaminya.

2.1.2 Dimensi Pengalaman Keagamaan

Dimensi pengalaman keagamaan diungkapkan oleh Compton dan Hoffman (2012) adalah sebagai berikut:

a. Elation (kegembiraan) dan Awe (Kagum)

Elation atau kegembiraan merupakan pengalaman yang relatif umum, biasanya hal ini berkaitan dengan perilaku melakukan suatu kebaikan yang sukarela, amal dan tanpa pamrih atau melakukan sesuatu berkaitan dengan kebaikan moral. Beberapa orang yang menyaksikan tindakan orang lain yang menolong dengan sukarela dan tanpa pamrih menimbulkan emosi yang positif. Haidt (dalam Compton dan Hoffman, 2012) memberikan contoh untuk memahami hal

(26)

tersebut. Haidt mengilustrasikan ketika kita melihat tindakan menolong yang spontan yang benar-benar tanpa pamrih, resolusi untuk menjadi orang yang lebih baik, meningkatnya kebutuhan afiliasi dengan orang lain dan meningkatnya rasa kasih sayang dan well-being pada diri seseorang. Ia mengasumsikan pada orang yang mengalami momen elation memiliki kekuatan membuat sesorang mengubah hidupnya.

Awe (kagum) merupakan apresiasi yang mendalam dan takjub dengan luasnya, indahnya terhadap suatu fenomena yang universal. Otto (dalam Compton dan Hooffman, 2012) mengartikan awe dalam konteks religius seperti perasaan yang sangat kuat akan keagungan dan misteri perasaan atas kehadiran sesuatu yang suci . Dalam hal ini, pengalaman awe yang mendalam terjadi ketika seseorang merasakan sesuatu namun tidak bisa terkatakan terhadap sesuatu yang misteri, keagungan dan kekuatan ilahi.

b. Wonder (Takjub)

Wonder atau takjub merupakan keterbukaan hati dan fikiran, pada kebahagiaan, rasa syukur dan rasa cinta. Perasaan wonder (takjub) merupakan hal yang mendasar sebelum merasakan peak experience (pengalaman puncak). Ungkapan perasaan wonder atau takjub menemukan perasaan takjub pada dunia ketika sesuatu menjadi mungkin yang awalnya tidak akan mungkin terjadi pada kita.

(27)

c. Peak Experience (Pengalaman Puncak)

Peak experience atau pengalaman puncak merupakan momen singkat ketika seseorang mengalami pengalaman kegembiraan, takjub, apresiasi, atau merasakan hubungan yang dekat dengan realitas spiritual yang lebih besar. Pengalaman puncak juga merupakan perasaan ekstasi yang tinggi dari rasa takjub dan kagum dalam ruang dan waktu, ketenangan yang mendalam dan akhirnya meyakini sesuatu yang sangat besar dan bernilai telah terjadi.

d. Numinous Experience (Pengalaman Numinous)

Seseorang yang merasakan pengalaman numinous merasa telah diberikan kesadaran akan hal yang suci diluar alam batas inderawi manusia. Orang yang sangat religius biasanya melaporkan perasaan jika mereka merasakan kehadiran Tuhan dan mengalami perasaan transenden. Pengalaman numinous juga menanamkan keyakinan yang besar bahwa keberadaan atau kehadiran sesuatu yang bersifat transenden itu sepenuhnya nyata.

e. Conversion

Pengalaman keagamaan sangat luar biasa mengarah pada perubahan yang bersifat radikal dalam artian memaknai hidup dan tujuan dalam hidup. Sering kali perubahan ini mengubah hidup seseorang dengan berbagai arah yang berbeda biasanya hal ini

(28)

berkaitan dengan perubahan sikap, kepercayaan, nilai, tujuan dan tujuan keseluruhan. Hal yang menarik dari pengalaman konversi biasanya didahului keraguan pertanyaan tentang iman seseorang antara apa yang orang anggap bagaimana agama seharusnya dan bagaimana kenyatannya. Bagaimanapun juga, perubahan biasanya terjadi dalam beberapa porsi yang signifikan dalam makna hidup seseorang dan perubahan total biasanya jarang terjadi. Hal ini dikarenakan pengalaman konversi bersifat pribadi.

Peneliti ingin mengetahui lebih lanjut apakah seseorang yang melaksanaan shalat istikharah merasakan pengalaman sesuatu dalam dirinya berkaitan dengan perasaan yang berhubungan dengan Tuhan. Hal ini dilihat berdasarkan dimensi pengalaman keagamaan yang diungkapkan Compton dan Hoffman (2012).

Shalat merupakan salah satu ritual ibadah dengan esensi agama, hal ini sesuai dengan definisi dari pengalaman religius itu sendiri.

Dimensi pengalaman keagamaan Compton dan Hoffman (2012) digunakan sebagai acuan untuk menjelaskan fenomena pengalaman keagamaan individu ketika melaksanakan shalat sunnah istikharah.

2.2 Shalat Istikharah 2.2.1 Definisi

Shalat sunnah istikharah adalah shalat sunnat dua rakaat untuk meminta atau memohon pilihan sesuatu yang yang baik dan cocok kepada Allah SWT, terhadap salah satu diantara dua atau lebih dari yang lebih baik dan lebih cocok sehingga hatinya mantap tidak bimbang serta tidak

(29)

menyesal dikemudian hari. Hanafi mengatakan shalat istikharah dilakukan ketika seseorang sedang berhadapan dengan 2 perkara atau lebih dan harus memilih salah satu diantaranya, maka dalam keadaan ini disunatkan mengadakan shalat sunat istikharah (Hanafi, 2013).

2.2.2 Hikmah Shalat Istikharah

Adapun hikmah yang didapat ketika melakukan shalat istikharah adalah (Ayyash, 2008) :

a. Mendapat jiwa yang tenang

Ketika semua persoalan dan pilihan sudah diserahkan kepada Allah, aka nada ketenangan dalam jiwa. Karena itulah sebuah pilihan terbaik yang Allah pilihkan kepada kita.

b. Akan dilapangkan dada terhadap pilihan yang Allah pilihkan

Itulah buah dari Istikharah kepada Allah. Salah satu cirri yang diberikan adalah dilapangkan dada dan dimantapkan hati terhadap pilihan kita setelah melakukan istikharah.

c. Tidak menyesal dengan pilihan yang Allah berikan kepada kita

Dengan melakukan shalat istikharah diharapkan apapun hasilnya yang telah, Allah tidak ada perasaan menyesal dalam diri individu.

Peneliti memaparkan definisi dari shalat istikharah dan hikmah apa yang akan didapat saat melaksanakan shalat tersebut. Salah satu hikmah yang didapat adalah mendapatkan jiwa yang tenang. Hal ini sesuai dengan

(30)

definisi dari pengalaman religius yang apabila sesorang mengalaminya maka akan timbul perasaan tenang dan damai. Peneliti memaparkan hikmah shalat istikharah dengan tujuan untuk mengetahui lebih lanjut dampak setelah individu melaksanakan shalat tersebut.

2.3 Penelitian Terdahulu

Valera dan Taylor (2011) melakukan penelitian yang bertujuan untuk melihat pengalaman religius pada sembilan pria kulit hitam yang telah menikah, namun melakukan hubungan seksual dengan pria (homoseksual). Penelitian ini dilakukan di Black Church (Gereja Hitam) yang menjadi lembaga utama dalam melayani komunitas hitam dan menjadi sumber harapan dan kekuatan bagi banyak orang kulit hitam di Amerika. Metode penelitian ini adalah kualitatif yang menargetkan orang kulit hitam, metode pengumpulan data dengan cara wawancara semi stuktur dan melakukan survei sebelum wawancara dilakukan. Wawancara yang dilakukan peneliti sekitar 60 hingga 90 menit.. Penelitian dilakukan di South Carolina.

Peneliti membuat kriteria untuk dijadikan subjek penelitian yaitu orang kulit hitam; usia antara 30 hingga 60 tahun; teridentifikasi sebagai heterosexual; telah menikah; pergi ke gereja sekali seminggu; dan memiliki hubungan dengan perilaku seks sesama jenis selama 6 bulan.

Penelitian ini menunnjukkan bahwa pengalaman keagamaan dengan mengikuti ritual gereja menjadikan mereka untuk mengambil keputusan tetap menjalin hubungan dengan sesame jenis namun tetap menjadi pria yang religius dengan beribadah yang intens di gereja.

(31)

Bradshaw, Heaton, Decoo, Delhin, Galliher, & Crowell (2015) melakukan penelitian yang melihat hubungan antara pengalaman keagamaan dengan orietasi seksual. Banyak orang dewasa di US melaporkan bahwa agama menjadi sangat penting di kehidupan mereka, namun hal ini menjadi sedikit masalah pada beberapa lesbian, gay, biseksual, transgender dan queer/questioning (LGBTQ) karena dalam Kristen homoseksual merupakan sebuah dosa. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan melihat hubungan antara orientasi seksual dengan pengalaman keagamaan pada tradisi agama di gereja Jesus Christ yang melihat bahwa hubungan seksual diluar pernikahan adalah perbuatan dosa dan menolak hubungan sesama jenis. Penelitian ini dilakukan pada pria remaja awal hingga dewasa yang termasuk dalam kategori GBTQ.

Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode survei pada 1042 pria dengan karakter gay, biseksual dan transgender yang merupakan aggota dari gereja Jesus Christ yang melihat hubungan seksual sebelum menikah merupakan perbuatan dosa, kemudian mengutuk perilaku homoseksual, dan melaknat pelegalan dalam pernikahan dengan jenis kelamin yang sama. Sampel dalam penelitian ini berasal dari 48 area da 21 negara diluar US.

Metode pengukuran dilakukan dengan menggunakan skala LDS religious experience. Responden akan ditanya mengenai kepercayaan mereka. Kepercayaan diukur berdasarkan merasakan kehadiran Tuhan, Jesus Christ adalah penyelamat dunia, Josep Smith adalah nabi dari Tuhan dan Mormon sebagai kitab suci. Seksualitas diukur dengan menggunakan 3

(32)

pertanyaan meliputi perilaku seksual, ketertarikan seksual dan identitas seksual Kinsey. Hasil penelitian ini menunjukkan kesenjangan antara harapan dan pengalaman keagamaan pada pria gay, biseksual dan transgender. Subjek melaporkan hal ini disebabkan karena program gereja yang tidak mendukung komunitas gay. Pengalaman keagamaan awal membentuk identitas religius yang positif, namun kegagalan untuk mempengaruhi perubahan orientasi terhadap gay menyebabkan konflik (Bradshaw, Heaton, Decoo, Delhin, Galliher, & Crowell, 2015).

Lyadurai (2011) melakukan penelitian didasari oleh fenomena konversi perpindahan agama menjadi Kristen dari agama yang berbeda dalam tradisi agama yang ada di India. Untuk melihat fenomena ini, penulis menggunakan desain inter-diciplinary study (psikologi, sosiologi, dan agama) kemudian untuk melihat lebih dalam mengenai pengalaman konversi dengan cara perspektif fenomenologi. Fenomenologi melihat makna dari sebuah pengalaman dan melihat deskripsi mengapa hal tersebut terjadi.

Subjek dalam penelitian ini adalah seseorang yang mengubah agamanya menjadi Kristen dari agama dan tradisi yang berbeda. Studi ini dikembangkan dengan berbagai metode dalam mengumpulkan data seperti survei kualitatif, wawancara mendalam, focus group interview, dan analisis dokumen. Penulis menggunakan survei kualitatif dengan pertanyaan terbuka mengenai konversi dan efek dari pengalaman tersebut dan bagaimana mereka menghadapinya. Setelah menyebar 250 kuesioner, hanya 67 yang merespon. Setelah itu penulis melakukan wawancara

(33)

mendalam pada 45 orang yang mengubah agamanya menjadi Kristen.

Wanita pada kebudayaan Tamil merasa lebih nyaman untuk membagikan pengalaman mereka dalam sebuah grup dari pada pria. Melihat faktor tersebut, 5 fokus grup interview dibuat secara ekslusif terdiri dari wanita yang terdiri dari 33 wanita dengan kelompok usia yang berbeda antara 20 hingga 60 tahun. Selanjutnya penulis menggabungkan 20 pengalamn konversi untuk analisis dokumen dari testimoni, laporan, dan biografi.

Partisipan terdiri dari 87 pria dan 78 wanita. Usia dari partisipan yang terlibat berkisar antara usia belasan hingga 60 tahun. Latar belakang pendidikan dari partisian bervariasi dari sekolah hingga jenjang peneliti.

Kemudian agama dan latar belakang ideologi terdiri dari 145 Hindu, 10 Islam, 3 dari Sikhism, agama Tribal, dan 4 dari Ateis. Pendapatan perbulan yang didapat berkisar antara U$ 110- U$ 333,333. 10 orang melaporkan pernah mengalami pengalaman konversi sewaktu masa anak- anak, 66 sewaktu masa remaja, 25 orang sewaktu usia 20 tahun, dan 13 melaporkan sewaktu mereka berusia 30 tahun. 5 orang melaporkan ketika mereka diusia 40 tahun dan 1 orang melaporan pada usia 50 tahun. Data diberi kode dan di kategorikan menjadi beberapa kelompok untuk menemukan istilah dan tema yang muncul. Tema atau istilah yang muncul adalah sebagai berikut:

a. Exposure, subjek mengidentifikasi bahwa beberapa sumber mereka dapatkan mengenai Kristen dari keluarga, sekolah, film, gereja, pertemuan keagamaan, dan kasus beberapa Muslim, dan Koran. Hal ini memberikan mereka pengetahuan dasar tentang Kristen. Komala seorang

(34)

wanita dari keluarga Brahmin yang memiliki pengalaman konversi saat berusia 40 tahun yang mengungkapkan bahwa pengalaman dalam mimpinya ia mengatakan melihat Jesus berjalan perlahan, dia melihat gambar Benhur yang telah dipelajarinya di sekolah kristen.

b. Disenchantment, subjek melaporkan bahwa mereka merasa kecewa dengan agama yang dibawa mereka sejak lahir. Subjek mengungkapkan bahwa agama yang mereka bawa sejak lahir tidak memberikan perdamaian. Beberapa juga melaporkan agama yang mereka bawa sejak lahir tidak mampu membantu apa yang mereka butuhkan, doanya tidak terjawab, dan tidak mampu mencegah peristiwa sedih dalam keluarga dan gagal dalam memecahkan masalah dalam kehidupan sehari- hari dan rasa dendam.

c. Crunch, mengarah pada situasi sulit dalam kehidupan sebelum memutuskan untuk pindah agama. Crunch mengarah kepada keadaan ketika menemukan dirinya merasa helpless untuk mengatasi krisis yang dialami. Beberapa melaporkan bahwa mereka mengalami krisis psikologis, behavior, krisis pada kesehatan, lokasi yang baru, namun beberapa dari mereka juga melaporkan ada yang tidak mengalami hal ini.

d. Pursuit, hal ini mengacu kepada keinginan untuk mengetahui lebih lanjut mengenai Kristen. Hal ini didapatkan dari orang ke orang.

Alavi seorang anak Muslim pada usia 12 dan mempelajari mengenai jalur Kristen dan dia menjadi lebih tertarik untuk tahu mengenai Jesus. Ia menayakan mengenai Jesus kepada pemimpin keagamaan Muslim, namun ia tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan. Sampai akhirnya ia

(35)

bertanya kepada tokoh agama Kristen di daerah tempat tinggalnya. Tanpa orang tuanya tau, ia mengikuti kelas Minggu (Kristen) dengan temannya.

e. Test, Potensi perubahan tidak secara sederhana diterima dalam agama Kristen, namun melihat apakah hal tersebut mempengaruhi kehidupan mereka. Beberapa partisipan melaporkan bahwa doa mereka dijawab oleh Jesus.

f. Spark, pengalaman keagamaan dari proses konversi disebut dengan istilah spark. Partisipan menyatakan sangat antusias mengenai pengalaman yang mereka alami. Pengalaman keagaman yang mereka rasakan beragam, salah satunya ada yang melaporkan mereka memiliki pengalaman dengan Jesus secara personal. Secara personal hal ini menyatakan bahwa Kristen memang agama yang nyata. Sania seorang wanita muslim yang memiliki pengalaman konversi saat berusia 18 tahun, ia termasuk orang yang ramah sampai suatu ketika ia mengalami depresi dan tiba-tiba ada sosok yang mengatakan ia harus berdoa. Ia mengatakan melihat sosok yang wajahnya bercahaya sedang berdiri dan ia beranggapan bahwa sosok tersebut adalah Jesus.

g. Transformative effects, Pengaruh dari perubahan agama dilaporkan beberapa orang mempengaruhi pengalaman keagamaan mereka. Pengaruh transformasi tersebut meliputi pengaruh spiritual, pengaruh psikologis, pengaruh kognitif pada sikap dan perilaku, pengaruh fisik, sosial dan ekonomi. Pengaruh spiritual merupakan pengaruh yang berhubungan dengan dosa, Tuhan dan kehidupan setelah mati. Partisipan menyatakan bahwa mereka memiliki pandangan dan pengetahuan yang

(36)

baru mengenai dosa. Pengaruh psikologis merupakan self-perceived yang meningkat pada subjective well-being seseorang. Merasa tentram dengan kehadiran sosok Ilahi, dan memiliki self-image yang positif. Kemudian dalam pengaruh kognitif beberapa melaporkan bahwa mereka mendapatkan kejelasan tujuan dan makna hidup. Mereka menyatakan Kristen adalah agama yang nyata dan kepastiannya datang dari pengalaman langsung. Selanjutnya mereka meninggalkan kebiasaan buruk seperti mengonsumsi alkohol, mencuri, membaca buku yang buruk, pergi menonton, dan menonton tv. Selanjutnya pengaruh pada fisik well-being mereka melaporkan bahwa mereka merasaan pengobatan secara ilahi. Rasa sakit bervariasi bisa penyakit punggung, kulit, masalah jantung, tuberculosis dan kanker. Hal ini dirasakan oleh Bai ketika ia sudah tidak mampu melakukan apa-apa dan hanya bisa terbaring di tempat tidur kemudian ia berdoa pada Jesus dan seketika itu juga ia merasakan ada kekuatan dalam dirinya. Pengaruh sosial, seseorang yang mengubah agamanya menjadi Kristen menyatakan bahwa skill interpersonal mereka meningkat. Misal kemampuan untuk menyayangi dan memberikan maaf pada orang lain. Selanjutnya untuk pengaruh ekonomi ada yang melaporkan bahwa mereka mendapatkan finansial yang baik dan hal tersebut berkat doa yang dijawab Jesus.

Fernando dan Jacson (2006) meneliti 13 pemimpin bisnis yang ada di Sri Lanka dari agama Buddha, Kristen, Hindu, dan Muslim yang mendasari agama sebagai proses menentukan keputusan . Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam keadaan sulit, mereka mengandalkan proses

(37)

dimana mereka terhubung dengan yang sesuatu realitas yang tinggi dalam kata lain realitas transenden atau Tuhan. Hasil juga menunjukkan bahwa ritual ibadah tiap agama mempengaruhi kualitas motivasi pengambilan keputusan pemimpin di Sri Lanka.

Penelitian yang dilakukan oleh Amin dan Alam (2008) meneliti mengenai pengaruh kegiatan keagamaan pada pekerja perempuan dalam pengambilan keputusan di Malaysia. Penelitian ini dilakukan pada perempuan yang telah menikah dan bekerja full time sebagai karyawan di Malaysia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan keagamaan atau ritual ibadah dalam agama kurang berpengaruh dalam proses pengambilan keputusan pada subjek daerah perkotaan daripada pedesaan.

2.4 Pengalaman Keagamaan Individu yang Melakukan Shalat Istikharah

Dalam Islam, shalat Istikharah diperuntukkan bagi seseorang yang mengalami kebimbangan dan bingung untuk memutuskan suatu pilihan.

Setiap manusia hidup didunia pasti memiliki segala urusan, konflik, dan keputusan yang harus diambil. Beberapa dari mereka merasakan kebimbangan ketika diharuskan memilih atau mengambil keputusan karena takut akan dampak apa yang diterima apabila pilihan yang mereka ambil ternyata tidak sesuai dengan apa yang mereka inginkan. Maka dari itulah Islam menganjurkan orang muslim untuk melaksanakan shalat tersebut.

Beberapa orang melaporkan kegiatan shalat dapat menimbulkan perasaan tenang dan damai, hal ini sesuai dengan pendapat Sangkan

(38)

(2006) yakni shalat dapat menjernihkan jiwa dan mengangkat individu yang melakukannya untuk mencapai taraf kesadaran yang lebih tinggi (altered states of consciousness) dan pengalaman puncak (peak experience). Namun apakah hal tersebut juga dirasakan seseorang yang melaksanakan shalat istikharah yang memiliki tujuan tertentu dalam shalatnya? Peneliti melakukan pencarian data awal pada muslim yang melaksanakan shalat istikharah. Beberapa melaporkan mereka merasakan kehadiran Tuhan, dan biasanya doa mereka dijawab melalui mimpi. Hal ini termasuk salah satu dimensi pengalaman keagamaan yang diungkapkan oleh Compton dan Hoffman (2012) yaitu numinous experience atau merasakan kehadiran Tuhan. Hal ini membuat peneliti tertarik dan ingin menggali lebih lanjut mengenai pengalaman keagamaan shalat istikharah, dikarenakan setiap individu memiliki pengalaman yang berbeda.

Melihat paparan diatas, definisi pengalaman keagamaan yang digunakan peneliti untuk menjelaskan fenomena ini yakni merupakan suatu pengalaman yang dialami individu dilandasi dengan esensi agama dan merasakan hubungan dengan sesuatu yang Ilahi atau keTuhanan dan menimbulkan ketenangan bagi orang yang mengalaminya. Bentuk pengalaman yang digunakan untuk menjelaskan pengalaman keagamaan yang dirasakan seseorang akan dijelaskan berdasarkan dimensi pengalaman keagamaan yang diungkapkan oleh Campton dan Hoffman (2012) yaitu Elation dan awe, wonder, peak experience, numinous experience, dan conversion.

(39)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

Bab ini berisikan mengenai pendekatan kualitatif, responden penelitian yang berisikan sampel, dan karakteristik responden.

Selanjutnya, akan diuraikan mengenai prosedur penelitian data, alat bantu pengambilan data, kredibilitas penelitian, prosedur penelitian, dan metode analisis data.

3.1 Pendekatan Kualitatif

Berdasarkan jenis datanya, jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Menurut Poerwandari (2009) penelitian kualitatif menghasilkan dan mengolah data yang sifatnya deskriptif, seperti transkip wawancara, catatan lapangan, gambar, foto, rekaman video dan lain sebagainya. Sedangkan Creswell (2009) mendefinisikan penelitian kualitatif sebagai gambaran kompleks meneliti kata-kata, laporan yang terperinci dari pandangan responden dan melakukan studi pada situasi alami. Proses dari penelitian kualitatif meliputi pertanyaan dan prosedur yang muncul, mengumpulan data, menganalisis data secara induktif atau khusus ke tema umum, dan peneliti membuat interpretasi dari data yang telah dikumpulkan.

Selanjutnya, penelitian ini menggunakan pendekatan fenomenologi. Pendekatan fenomenologi merupakan strategi penyelidikan dimana peneliti mengidentifikasi esensi pengalaman manusia tentang suatu fenomena seperti yang dijelaskan oleh seseorang yang

(40)

mengalaminya (Creswell, 2009). Pendekatan ini digunakan untuk melihat pengalaman keagamaan yang dirasakan masing-masing individu ketika melaksanakan shalat istikharah.

3.2 Subjek Penelitian

3.2.1 Sampel Penelitian

Sampel merupakan sebagian yang dipilih dalam populasi yang telah ditentukan. Patton (dalam Poerwandari, 2009) mengungkapkan dalam desain kualitatif memiliki sifat yang luwes, oleh sebab itu tidak ada aturan yang pasti dalam jumlah sampel yang harus diambill untuk penelitian kualitatif. Jumlah sampel sangat tergantung pada apa yang dianggap bermanfaat dan dapat dilakukan dengan waktu dan sumber daya yang tersedia. Berdasarkan hal tersebut, peneliti menggunakan pengambilan sampel berdasarkan teori atau berdasakan konstuk operasional (theory-based/operational construct sampling). Sampel dipilih dengan kriteria tertentu, berdasarkan teori atau konstruk operasional sesuai studi-studi sebelumnya, atau sesuai tujuan penelitian. Hal ini dilakukan agar sampel sungguh-sungguh mewakili (bersifat representatif) terhadap fenomena yang dipelajari (Poerwandari, 2009). Alasan peneliti menetapkan 3 orang sebagai subjek penelitian karena atas kesanggupan peneliti dan variasi jawaban yang hampir sama.

3.2.2 Karakteristik Penelitian

Pemilihan responden penelitian didasarkan pada karakteristik tertentu. Dalam penelitian ini peneliti memilih responden berdasarkan karakteristik sampel sebagai berikut:

(41)

a. Berusia Dewasa Muda

Usia dewasa merupakan masa peralihan dari remaja. Menurut Hurlock (1986) masa dewasa muda dimulai dari pada usia 18 sampai kira-kira 40 tahun. Hal ini menjadi patokan peneliti dikarenakan masa dewasa awal sebagai masa ketegangan emosional. Hal ini dilihat dari ketakutan atau kekhawatiran yang timbul bergantung pada tercapainya penyesuaian terhadap persoalan yang dihadapi.

b. Individu yang merasakan pengalamaan keagamaan setelah melaksanakan shalat istikharah.

Dalam hal ini tidak ada patokan berapa kali seseorang harus melaksanakan shalat istikharah. karena Pujiastuti (2017) dalam penelitiannya mengatakan bahwa pengalaman keagamaan seseorang berbeda dan bersifat individu. Kemungkinan setiap untuk mendapatkan pengalaman keagamaan berbeda setiap orang.

3.3 Prosedur Pengambilan Data

Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode wawancara. Wawancara merupakan percakapan dan tanya jawab yang diarahkan untuk mencapai tujuan tertetu. Menurut Banister (dalam Poerwandari, 2009), wawancara kualitatif dilakukan bila peneliti bermaksud untuk memperoleh pengetahuan tentang makna-makna

(42)

subjektif yang dipahami individu berkenaan dengan topik yang diteliti, dan bermaksud melakukan eksplorasi terhadap isu tersebut.

Variasi dalam metode wawancara yang digunakan adalah wawancara dengan pedoman umum, yakni peneliti dilengkapi dengan pedoman wawancara yang sangat umum, yang mencantumkan isu-isu yang harus diliput tanpa menentukan urutan pertanyaan, bahkan mungkin tanpa bentuk pertanyaan eksplisit (Poerwandari, 2009). Wawancara dilakukan untuk mendapatkan informasi yang mendalam secara langsung dari subjek penelitian tanpa perantara.

3.4 Alat Bantu Pengambilan Data

Untuk mengumpulkan data, peneliti menggunakan alat bantu untuk memudahkan peneliti dalam proses mengumpulkan informasi. Alat bantu yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

a. Alat Perekam

Alat bantu perekam digunakan untuk merekam selama proses jalannya wawancara. Alat perekam digunakan sebagai alat bantu agak tidak ada informasi yang terlewatkan sewaktu wawancara berlangsung. Alat perekam juga memudahkan peneliti untuk mengulang hasil wawancara agar tidak ada data yang terlewat, dan sesuai dengan apa yang disampaikan responden dalam proses wawancara.

b. Pedoman Wawancara

Pedoman wawancara digunakan untuk mengingatkan peneliti mengenai aspek-aspek yang harus dibahas, sekaligus menjadi

(43)

daftar (checklist) apakah aspek-aspek yang relevan telah dibahas atau ditanyakan. Dengan pedoman wawancara peneliti bisa mengarahkan pembicara pada hal-hal atau aspek-aspek tertentu dari pengalaman subjek (Poerwandari, 2009).

3.5 Kredibilitas Penelitian

Kredibilitas merupakan istilah yang sering digunakan dalam penelitian kualitatif. Kredibilitas dimaksudkan untuk merangkum bahasan menyangkut kualitas penelitian kualitatif. Kredibilitas studi kualitatif terletak pada keberhasilannya mencapai maksud mengeksplorasi masalah atau mendeskripsikan setting, proses, kelompok sosial atau pola interaksi yang kompleks (Poerwandari, 2009). Kredibilitas pada penelitian ini terletak pada keberhasilan peneliti dalam mengungkapkan pengalaman keagamaan individu yang melaksanakan shalat istikharah. Untuk mencapai keberhasilan dalam penelitian ini, peneliti melakukan hal sebagai berikut:

a. Mencatat setiap data yang terkait dengan penelitian, dan mencatat hal-hal yang terkait dengan responden.

b. Mengumpulkan data yang telah dicatat dan menganalisa data tersebut.

c. Melihat penelitian terdahulu yang terkait dengan topik pada penelitian ini. Peneliti mereview penelitian terdahulu dan mempelajari setiap langkah yang dilakukan oleh penelitian terdahulu dengan tujuan mendapatkan gambaran contoh mengumpulkan data yang baik.

(44)

d. Melakukan allo-anamnesa yakni mencari informasi tambahan dari orang terdekat subjek guna memastikan informasi yang diungkapkan subjek dapat dipercaya.

e. Menyertakan orang yang berperan memberikan kritik dan saran terhadap analisis data yang dilakukan peneliti. Orang yang terlibat adalah dosen pembimbing yang fungsinya sebagai professional judgement terhadap pengumpulan data seperti mengkritisi pedoman wawancara dan starategi analisa yang digunakan peneliti.

f. Melakukan pengecekan kembali data dan strategi analisis yang telah dibuat agar data yang telah dikumpulkan bisa digunakan semaksimal mungkin.

Kredibilitas dalam penelitian ini berguna untuk memastikan bahwa proses pengumpulan dan pengolahan data tepat guna memperoleh data yang valid dan data yang telah dikumpulkan memiliki derajat kepercayaan dan kecocokan antara konsep dan hasil penelitian.

3.6 Prosedur Penelitian

Dibawah ini akan diuraikan mengenai jadwal prosedur penelitian yang dimuat dalam bentuk tabel 3.1 berikut ini:

Tabel 3.1

Perosedur Penelitian

Tahapan Responden1 Responden2 Responden3 Persiapan Februari 2018 Februari 2018 Maret 2018 Pelaksanaan Maret 2018 Maret 2018 April 2018 Pencatatan April 2018 April 2018 Mei 2018

(45)

3.6.1 Tahap Persiapan Penelitian

Tahap pertama yang harus dilakukan peneliti sebelum melaksanakan penelitian adalah mempersiapkan keperluan dan bahan yang dijadikan acuan untuk proses pelaksanaan penelitian nantinya. Hal yang perlu dilakukan peneliti adalah sebagai berikut:

a. Penyusunan pedoman wawancara

Hal pertama yang harus dipersiapkan peneliti adalah pedoman wawancara. Pedoman wawancara digunakan agar bentuk percakapan terstruktur dan tidak keluar dari topik terkait.

Peneliti membuat pedoman wawancara setelah itu professional judgement atau dosen pembimbing untuk memberikan saran dan masukan terkait dengan pedoman yang dibuat.

b. Mencari responden dan mengumpulkan data

Setelah itu peneliti mencari responden yang sesuai dengan karakteristik yang telah dibuat. Peneliti bertanya kepada beberapa orang terkait dengan sudah melakukan shalat istikharah. Setelah menemukan beberapa responden peneliti menanyakan kesediaan orang tersebut untuk menjadi responden dalam penelitian ini.

c. Membangun rapport dan penentuan jadwal wawancara

Setelah responden menyatakan kesediaan dalam penelitian ini, peneliti dan responden kemudian membuat kesepakatan dan mengatur jadwal dan tempat untuk melakukan wawancara.

(46)

3.6.2 Tahap Pelaksanaan Penelitian

Setelah matang dalam mempersiapkan tahap persiapan, peneliti melakukan pelaksaanaan. Dalam tahap pelaksanaan hal yang dilakukan peneliti adalah:

a. Menghubungi responden dan menentukan tempat wawancara Dalam tahap pelaksanaan hal yang harus dilakukan adalah menghubungi responden dan mengkonfirmasi jadwal dan tempat untuk melakukan wawancara. Hal ini dilakukan agar memastikan responden bisa hadir dan tidak memiliki jadwal lain pada hari yang ditentukan untuk melaksanakan wawancara.

b. Melaksanakan wawancara berdasarkan pedoman wawancara Setelah menentukan tempat dan bertemu dengan responden, peneliti melakukan wawancara berdasarkan pedoman wawancara yang dibuat. Setelah itu mempersiapkan catatan kecil apabila ada hal yang harus di probing dalam proses wawancara berlangsung.

c. Menuliskan verbatim berdasarkan data wawancara

Setelah selesai melaksanakan wawancara, peneliti akan membuat verbatim dari data wawancara yang sudah direkam.

Setelah dibuat verbatim, peneliti melakukan analisis data.

Namun, sebelum melakukan analisis data langkah penting pertama sebelum analisis adalah membubuhkan kode-kode pada materi yang diperoleh (koding). Koding dimaksudkan untuk dapat mengorganisasi dan mensistematisasi data secara

(47)

lengkap dan mendetail sehingga data dapat memunculkan gambaran tentang topik yang dipelajari (Poerwandari, 2009).

d. Melakukan analisa data

Setelah verbatim dikode, dilakukanlah analisa data. Analisa data yang digunakan dalam penelitian kualitatif adalah analisa tematik. Analisa tematik memungkinkan peneliti menemukan pola yang pihak lain tidak melihatnya secara jelas. Analisa tematik merupakan proses mengkode informasi, yang dapat menghasilkan daftar tema, model tema atau indicator yang kompleks, kualifikasi yang biasanya terkait dengan tema tersebut (Poerwandari, 2009).

e. Menarik kesimpulan penelitian

Setelah dilakukan analisis data, peneliti melakukan penarikan kesimpulan dari data. Kemudian melihat apakah tujuan awal penelitian dapat terjawab dengan penelitian ini. Selanjutnya peneliti menuliskan kekurangan dari peneliian ini agar peneliti selanjutnya yang tertarik dengan topik ini bisa mengembangkan dan belajar dari penelitian ini.

3.6.3 Tahap Pencatatan Data

Data yang telah dikumpulkan dalam tahap pelaksanaan, akan dicatat dan dianalisa oleh peneliti. Setelah data dibuat dalam bentuk verbatim barulah data dapat dianalisis.

(48)

3.7 Metode Analisis Data

Menganalisis data membutuhkan kepekaan teorits, karena dalam keseluruhan proses penelitian khususnya saat menganalisis data, peneliti sesungguhnya sedang melakukan upaya mengembangkan teori. Kepekaan teoritis mengacu pada kemampuan untuk memperoleh insight, memberi makna pada data, memahami dan memilah mana yang esensial dan mana yang tidak (Poerwandari, 2009).

Poerwandari (2009) mengungkapkan beberapa proses dalam mengganalisis data sebagai berikut:

a. Organisasi data

Pengolahan data dan analisis data dimulai dengan mengorganisasikan data. Dengan data kualitatif yang sangat beragam dan banyak, menjadi kewajiban peneliti untuk mengorganisasikan datanya dengan rapi, sistematis dan selengkap mungkin.

b. Koding dan Analisis

Langkah penting pertama yang dilakukan sebelum analisis data dilakukan. Proses koding merupakan meletakan kode sesuai dengan kehendak peneliti pada transkrip verbatim. Setelah langkah-langkah penyusunan koding, peneliti dapat mulai memberikan perhatian pada susbstansi data yang dikumpulkan.

Disinilah analisa tematik mulai dilakukan.

(49)

c. Pengujian terhadap dugaan

Dugaan adalah kesimpulan sementara. Dengan mempelajari data, maka bisa dikembangkan dugaan-dugaan yang merupakan kesimpulan sementara. Dugaan yang berkembang tersebut harus dipertajam, diuji ketepatannya. Pengujian terhadap dugaan berkaitan erat, bahkan bertumpuk dengan upaya mencari penjelasan yang berbeda mengenai data yang sama.

d. Strategi Analisa

Analisis terhadap data pengamatan sangat dipengaruhi oleh kejelasan mengenai apa yang ingin diungkap peneliti melalui pengamatan yang dilakukan. Proses analisis dapat melibatkan konsep-konsep yang muncul dari jawaban atau kata-kata responden sendiri. Kata kunci dapat diambil dari istilah yang dipakai oleh responden sendiri.

e. Tahapan Interpretasi

Interpretasi mengacu kepada upaya memahami data secara lebih ekstensif sekaligus mendalam. Peneliti memiliki perspektif mengenai apa yang sedang diteliti dan menginterpretasikan data melalui perspektif tersebut. Peneliti mengembangkan struktur dan hubungan terkait topik penelitian yang tidak tertampilka dalam data mentah atau transkrip wawancara.

(50)

BAB IV

HASIL ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN

Bab ini berisikan uraian hasil analisa data yang telah dilakukan selama pengambilan data penelitian. Data diperoleh melalui hasil observasi, wawancara autoanamnesa dan wawancara alloanamnesa. Hasil yang didapat dianalisa untuk mendapatkan gambaran pengalaman keagamaan seseorang setelah melaksanakan shalat istikharah yang akan ditinjau melalui karakteristik-karakteristik pengalaman keagamaan Compton dan Hoffman (2012).

4.1 Analisa Data 4.1.1 Subjek 1 4.1.1.1 Identitas Diri

Subjek 1 merupakan seorang karyawan yang bekerja disalah satu restoran siap saji yang memiliki cabang diseluruh Indonesia. Jabatan subjek sebagai koki bidang umum. Subjek bekerja dari Senin sampai Minggu dan bisa mengambil off day (tidak bekerja) selama satu hari dalam seminggu, namun off day tidak bisa diambil sewaktu week end. Artinya subjek hanya bisa memilih untuk off bekerja antara hari Senin sampai dengan Jum’at sehingga dalam sebulan subjek memiliki jatah off selama 4 kali. Subjek bekerja selama 7 jam dalam sehari dan pekerjaan tersebut memiliki shift pagi dan siang. Subjek berusia 22 tahun dan merupakan anak terakhir dari 4 bersaudara. Subjek mengontrak rumah dengan sepupunya karena subjek bukan orang Medan asli, melainkan subjek

(51)

merantau ke Medan untuk mencari pekerjaan. Subjek sudah tinggal di Medan sejak tahun 2014.

4.1.1.2 Observasi

Pertemuan pertama peneliti berbincang dengan subjek untuk menentukan jadwal wawancara yang sesuai dengan waktu subjek dan peneliti. Pertemuan pertama peneliti dengan subjek yaitu di resto tempat subjek bekerja. Keadaan saat itu subjek telah selesai bekerja dan mengirimkan saya pesan singkat agar menemuinya di resto tempat subjek bekerja. Setelah berbincang akhirnya peneliti dan subjek menetapkan waktu untuk jadwal wawancara dan subjek meminta peneliti datang kerumah subjek pada jadwal wawancara tersebut.

Setelah peneliti menemui subjek, subjek baru selesai memasak dengan pakaian yang sedikit kotor subjek mempersilahkan peneliti untuk masuk kerumah. Subjek mempersilahkan peneliti untuk duduk, setelah itu subjek duduk didepan peneliti subjek terlihat menyentuh baju dari atas kebawah dan memastikan mengusap debu dan kotoran yang masih lengket. Subjek saat itu tengah berada sendirian dirumahnya, ia mengatakan bahwa sepupunya pergi berkuliah. Waktu saat itu menunjukkan pukul 14.00 siang, dan kemudian wawancara pun berlangusng

Selama proses wawancara berlangsung, sesekali peneliti melihat kearah ekspresi subjek ketika menjawab pertanyaan. Subjek dalam menjawab pertanyaan terkait latar belakang shalat istikharah yang dilakukan dan bercerita mengenai ketiga pria ersebut ia lebih memilih

(52)

untuk memalingkan pandangan kearah kanan. Selama proses wawancara berlangsng ia sesekali menopang dagunya disamping kursi sofa yang ia duduki. Subjek terlihat berfikir memilih kata yang tepat saat menjawab pertanyaan demi pertanyaan yang diberikan peneliti. Saat subjek menjawab pertanyaan berkaitan dengan tema bahagia dan nyaman, subjek selalu meletakkan tangan kanannya didada sambil memejamkan mata dan memberikan penjelasan kepada peneliti.

4.1.1.3 Wawancara Allo-anamnesa

Peneliti melakukan wawancara allo-anamnesa kepada orang terdekat subjek untuk mengetahui dan menggali lebih lanjut informasi yang berkaitan dengan subjek. Orang terdekat pada subjek pertama adalah sepupu subjek yang tinggal bersama dengan subjek. Menurut pernyataan sepupu subjek, subjek dahulu merupakan seseorang yang tidak terlalu taat dalam beragama karena hanya sesekali melaksanakan shalat. Namun, setelah mengenal orang kedua tersebut sedikit demi sedikit subjek mulai terlihat perubahan kearah yang lebih baik, subjek mulai mengenakan jilbab. Sepupu subjek menyatakan, subjek sempat bimbang dan meminta pendapat kepada sepupunya terkait pria yang mendekatinya dan sepupu menyarankan subjek untuk melaksanakan shalat istikharah.

Menurut sepupu subjek, setelah melakukan shalat ini, subjek terlihat lebih tenang dan menunjukkan perubahan yang signifikan dari sebelum melakukan shalat. Pertama adalah cara berbicara subjek yang terkesan lebih lembut dan pelan, kemudian belajar menggunakan syar’i ,

Referensi

Dokumen terkait

Bagi yang ingin melihat jurnal-jurnal ilmiah lain, yang diterbitkan oleh Minda Masagi Press, badan penerbitan milik ASPENSI (Asosiasi Sarjana Pendidikan Sejarah Indonesia) di

Saran yang perlu dilakukan dari penelitian ini yaitu identifikasi senyawa aktif dari ekstrak etanol daun keladi tikus (Typhonium flagelliforme), kemangi (Ocimum sanctum L), dan

Stringer (2002) juga berpendapat bahwa karakteristik atau komponen iklim organisasi mempengaruhi motivasi anggota organisasi untuk berperilaku tertentu.

Baja amutit ukuran penampang 17 mm x 17 mm dengan panjang ± 120 mm dibentuk menggunakan mesin potong, mesin milling dan mesin surface grinding menjadi menjadi balok

Berdasarkan analisis citra satelit, setidaknya ada 18 Sistem Penggunaan Lahan (SPL) yang ada di DAS Balantieng. Jika dilihat dari letaknya di DAS Balantieng, maka jenis-jenis SPL

6207 6207.99 - Lain-lain: Dari Bahan tekstil lainnya RVC (40) tersedia barang dipotong atau dirajut untuk membentuk dan berkumpul di satu wilayah atau lebih dari pihak atau

Pengaruh current ratio terhadap perubahan laba adalah semakin tinggi nilai current ratio maka laba bersih yang dihasilkan perusahaan semakin sedikit, karena rasio