• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III SETTING PENELITIAN. Desa yang dijadikan sebagai objek penelitian yakni berada di desa

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB III SETTING PENELITIAN. Desa yang dijadikan sebagai objek penelitian yakni berada di desa"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

BAB III

SETTING PENELITIAN

1.1 Profil Desa Watukarung a. Kondisi Desa

Desa yang dijadikan sebagai objek penelitian yakni berada di desa Watukarung. Yang terletak di Desa Watukarung Kecamatan Pringkuku Kabupaten Pacitan. Memahami dari kondisi Desa, untuk mengetahui keterkaitan perencanaan dengan muatan pendukung dan permasalahan yang ada dapat memberikan arti penting keputusan pembangunan sebagai langkah mendayagunakan dan penyelesaian masalah di dalam suatu lingkungan masyarakat.

Desa Watukarung merupakan salah satu dari 12 desa yang ada di wilayah Kecamatan Pringkuku, yang terletak 15 km kearah Kecamatan dan 30 km kearah pusat pemerintahan Kota. Desa Watukarung mempunyai luas wilayah seluas 2.028,76 Ha. Desa Watukarung mempunyai sejarah yaitu di awali dari datangnya pedagang dari Tiongkok yang bernama Dampo Awang ke sebuah wilayah pesisir selatan Pulau Jawa pada jaman pemerintah Kerajaan Majapahit, wilayah pesisir tersebut diberi nama “Watutarung”. Seiring dengan berjalannya waktu wilayah ini semakin ramai didatangi penduduk dari berbagai daerah, mengingat dahulu penduduk banyak salah ejaan, maka nama “Watutarung” berubah menjadi kata

“Watukarung”. Pemerintahan desa Watukarung berdiri sekitar tahun 1924 sebagai salah satu bagian wilayah administrasi Kecamatan Pringkuku.Dari tahun 1024- 2019 desa ini tidak mengalami pemekaran wilayah.

52

(2)

Tabel 3.1 Daftar Kepala Desa yang Pernah Menjabat

No Nama Jabatan

1 Surowijoyo 1924

2 Resosetiko 1925-1938

3 Resodikromo 1939-1941

4 Reso Sudarmo 1942-1945

5 Reso Sumarto 1946-1980

6 Reso Sudarmo 1981-1988

7 Darmadi 1988-1996

8 Sukadri 1997-2012

9 Wiwid Pheni Dwiantari, S.Pd., M.Pd. 2012-Sekarang Sumber: Dokumen Desa, 2019

Gambar 3.1 Peta Desa Watukarung

Sumber: Dokumen Desa, 2019

b. Kondisi Geografis

Desa Watukarung yaitu merupakan salah satu desa yang terletak di

53

(3)

Kecamatan Pringkuku Kabupaten Pacitan. Desa Watukarung mempunyai luas wilayah yaitu 2.081,76 hektar. Desa Watukarung memiliki batas desa yaitu Batas Desa

1) Sebelah Utara : Desa Dersono 2) Sebelah Selatan : Samudra Hindia 3) Sebelah Timur : Desa Jlubang 4) Sebelah Barat : Desa Sendang

Desa Watukarung mempunyai luas wilayah 2.028,76 Ha. Di Desa Watukarung ini mempunyai tinggi dari permukaan air laut 160,00 mdl, mempunyai bulan hujan yaitu 4 bulan pada setiap tahunnya serta mepunyai suhu dengan rata- rata 30,00 oC. Komoditas unggulan berdasarkan luas tanam yaitu ubi kayu dan komoditas unggulan berdasarkan nilai ekonomi yaitu kelapa.

c. Kondisi Demografis

Penduduk Desa Watukarung memiliki penduduk dengan jumlah 1.569 jiwa atau dengan jumlah 574 KK (dokumen profil desa Watukarung, 2019). Dengan perincian sebagaimana tabel berikut:

Tabel 3.2 Jumlah penduduk Desa Watukarung

No Tingkat Penduduk Jumlah (Jiwa)

1. Jumlah Penduduk Desa Watukarung

1.569 2. Jumlah Penduduk Berdasarkan

Kelamin

Laki-Laki 782

Perempuan 787

3. Jumlah Penduduk Berdasarkan Usia

0-17 406

18-55 888

55 tahun ke-atas 301

Sumber: Dokumen Desa, 2019

54

(4)

Tingkat pertumbuhan penduduk di Desa Watukarung dapat dikatakan relatif kecil. Hal ini dapat terjadi karena di Desa Watukarung sendiri sudah menerapkan wajib Program KB bagi setiap rumah tangga atau ibu-ibu berusia produktif.

Sehingga dengan adanya ini tingkat pertumbuhan penduduk Desa Watukarung tidak tinggi.

Tingkat pendidikan masyarakat Desa Watukarung adalah sebagai berikut:

Tabel 3.4 Tingkat Pendidikan Masyarakat

No Tingkat Pendidikan Jumlah(Orang)

1. Tidak sekolah/buta huruf 0

2. Tidak tamat SD/Sederajat 0

3. Tamat SD/Sederajat 125

4. Tamat SLTP/Sederajat 68

5. Tamat SLTA/Sederajat 51

6. Taman D1,D2,D3 2

7. Sarjana/S1 23

8. Pasca Sarjana/ S-2 1

Sumber: Dokumen Desa, 2019

Penduduk desa Watukarung mayoritas tamatan pendidikannya yakni Sekolah Dasar. Sehingga membuat masyarakat atau penduduk Desa Watukarung mayoritas bekerja sebagai nelayan. Akan tetapi nelayan-nelayan tersebut juga mempunyai pekerjaan sampingan yaitu berdagang,bertani dan beternak karna jika mengandalkan pekerjaan sebagai nelayan saja tidak mencukupi sebab mereka berlayar tidak dilakukan setiap hari atau melihat kondisi alam yang tidak menentu.

Saat berlayar juga tidak tentu mendapatkan ikan yang dapat dijual kadang juga tidak mendapatkan hasil sama sekali.

d. Kondisi Ekonomi

Dalam kondisi ekonomi erat kaitannya dengan sumber mata pencaharian atau pekerjaan dan sebagai jantung kehidupan manusia yang hidup di bumi. Masyarakat

55

(5)

bekerja untuk memenuhi kehidupan mereka sehari-hari. Karena desa Watukarung merupakan desa nelayan, maka sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai sebagai nelayan yaitu dengan jumlah 557. Berikut tabel mata pencaharian penduduk desa Watukarung:

Tabel 3.5 Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Pekerjaan

No Pekerjaan Jumlah

1. Karyawan 20 orang

2. Pegawai Negri Sipil 15 orang

3. TNI/POLRI 3 orang

4. Swasta/BUMN 2 orang

5. Wiraswasta/Pedagang 15 orang

6. Petani 457 orang

7. Buruh Tani 106 orang

8. Nelayan 617 orang

9. Peternak 0

10. Jasa 11 orang

11. Pengrajin 2 orang

12. Pekerja Seni 3 orang

13. Pensiunan 0

14. Lainnya 19 orang

15. Tidak

bekerja/Pengangguran

0 Sumber data desa, Watukarung tahun 2019

Desa Watukarung yaitu termasuk dalam daerah pesisir karena sangat dekat dengan pantai yaitu pantai Watukarung. Jumlah penduduk yang bekerja sebagai nelayan yaitu 617 jiwa, karena di wilayah pesisir ini terkenal dengan tempat pelalangan ikan tidak heran jika masyarakat sekitar lebih banyak bekerja sebagai nelayan. Akan tetapi mereka berlayar tidak dilakukan setiap hari karena mereka berlayar juga melihat situasi dan kondisi ombak apabila ombak tidak memungkinkan untuk berlayar biasanya nelayan bekerja sampingan yaitu mengolah lahan pertanian mereka jika mereka mempunyai lahan, apabila yang tidak mempunyai lahan mereka hanya menjadi buruh tani di lahan orang lain.

56

(6)

Berdasarkan data yang telah diperoleh, penduduk desa Watukarung yang memiliki mata pencaharian yakni sebagai petani 457 jiwa, sebagai buruh tani 106 jiwa dan sebagai nelayan 617 jiwa. Secara garis besar dapat dikatakan bahwasannya masyarakat Desa Watukarung merupakan masyarakat yang memiliki tingkat perekonomian menengah kebawah. Hal ini dapat dilihat berdasarkan pekerjaan yang digeluti oleh mayoritas penduduk masih bergantung pada laut atau bekerja sebagai nelayan. Sehingga dari banyaknya masyarakat yang bekerja sebagai nelayan dan mendapatkan hasil yang tidak menentu dikarenakan mereka berlayar tergantung dengan cuaca dan kondisi ombak maka menjadikan banyak kemiskinan di desa Watukarung.

e. Kondisi Sosial dan Budaya

Kondisi sosial budaya masyarakat yaitu merupakan suatu sistem atau tata nilai, pola pikir, pola perilaku dalam berbagai aspek kehidupan dalam kehidupan bermasyarakat. Sosial budaya dapat diartikan sebagai segala hal yang diciptakan oleh manusia atau individu dengan pikiran serta budinya yang berkaitan dengan pergaulan di dalam lingkungan sekitar baik kepada individu maupun di dalam kelompok.

Masyarakat desa Watukarung dalam kehidupan bermasyarakat tampak terlihat kerukunanya, seperti saling tolong menolong, saling menghormati antar warga, dan lain sebagainya. Sehingga di desa ini rasa hormat dan saling menghargai masih terlihat, penduduk juga masing sering bergotong royong mengerjakan pekerjaan untuk kepentingan bersama. Sebagai makhluk sosial penduduk desa Watukarung sangat menjujung tinggi rasa persaudaraan, hal ini nampak terlihat

57

(7)

dalam kegiatan gotong royong dalam membangun jalan desa. Dan masyarakat juga masih aktif dalam kegiatan karawitan, pengajian, sholawatan dan lain sebagainya.

Kesenian yang masih ada di masyarakat Desa Watukarung yaitu sebagai berikut:

Tabel 3.6 Kesenian Masyarakat

No Jenis Kesenian Jumlah Kelompok Status

1. Karawitan 1 Aktif

2. Musik Modern 1 Aktif

3. Sholawatan 1 Aktif

Sumber: Dokumen Desa, 2019

Kegiatan Karawitan, musik modern serta sholawatan masih aktif dilakukan dan dilestarikan oleh masyarkat desa Watukarung. Serta ada karawitan yang anggotanya yaitu istri para nelayan. Kegiatan tersebut juga sering ditampilkan di berbagai acara seperti penyambutan tamu-tamu. Dan sering dipentaskan dalam kegiatan berbagai lomba yang ada di Kabupaten Pacitan.

1.2 Industri Pariwisata Watukarung

Pengembangan wisata secara langsung akan memberikan dampak terhadap masyarakat sekitar wisata. Pantai Watukarung adalah salah satu objek wisata yang mampu memberikan daya tarik bagi para wisatawan lokal hingga wisatawan asing.

Pantai Watukarung dulunya dikenal sebagai tempat pelelangan ikan dan mayoritas warga desa Watukarung bekerja sebagai nelayan akan tetapi mereka berlayar tidak dilakukan setiap hari mereka berlayar dilakukan saat cuaca dan ombak sedang bagus. Masyarakat pantai Watukarung menggantungkan hidupnya hanya sebagai nelayan, dan pendapatan yang diperoleh hanya dari hasil melaut yang digunakan untuk kehidupan mereka sehari-hari dengan cara dijual ke pasar ikan. Dari penghasilan nelayan pendapatanya tidak seberapa oleh sebab itu nelayan

58

(8)

mempunyai peluang lain yaitu selain sebagai nelayan ada juga yang bekerja sebagai petani, jika cuaca tidak mendukung untuk berlayar biasanya nelayan-nelayan tersebut bekerja sampingan yaitu berkebun kadang juga mereka sebagai buruh atau menggarap kebun orang lain.. Dengan adanya pengembangan pantai Watukarung sebagai destinasi wisata baru yang mampu menyerap wisatawan untuk berkunjung, memberikan pemikiran baru terhadap masyarakat Watukarung untuk memanfaatkan peluang-peluang usaha baru akibat adanya pariwisata tersebut.

Keberadaan tempat pariwisata menyebabkan masyarakat sekitar memanfaatkan kawasan pariwisata tersebut dengan berbagai macam bentuk usaha pemanfaatan.

Kegiatan usaha yang dilakukan oleh masyarakat tersebut sebagian besar dijadikan sebagai mata pencaharian utama atau pokok. Jenis-jenis usaha yang dilakukan berdampak positif bagi masyarakat sekitar pantai Watukarung. Peluang-peluang ekonomi tersebut dimanfaatkan oleh masyarakat pantai Watukarung untuk mencari tambahan pendapatan dalam rangka memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarga mereka. Untuk menambah penghasilan beberapa masyarakat yang bekerja sebagai nelayan mendirikan warung di tepi pantai. Mereka berjualan makanan, minuman serta oleh-oleh khas pacitan yaitu batik dan aksesoris.

1.3 Potensi Pantai Watukarung

Kabupaten Pacitan memiliki potensi dalam kepariwisataan bahari, yaitu lokasinya yang berada di pinggir laut selatan membuat Pacitan memiliki pesona bahari berupa pantai. Potensi yang dimiliki oleh pantai Watukarung yaitu berupa pasir putih yang bersih, ombak yang cocok untuk berselancar serta gugusan- gugusan pulau kecil yang berada di sepanjang pantai Watukarung. Potensi lain yang

59

(9)

dimiliki oleh pantai Watukarung yaitu kali cokel yang airnya mengalir langsung menuju laut wisatawan juga dapat menikmati keindahannya dengan cara menaiki perahu melewati sungai cokel dan mengikuti aliran sungai hingga ke pantai. Selain itu juga memiliki potensi budaya yaitu ada kesenian karawitan, ketoprak, rontek dan hadrah. Cara melestarikannya juga dengan cara memperingati tradisi megengan dan peringatan Maulid Nabi dan Isra’Miraj dengan membuat ingkung.

Dan potensi ekonomi yang berada di pantai Watukarung yaitu mata pencaharian masyarakat sebagai nelayan, bertani, berdagang makanan minuman di tepi pantai dan juga membuat kerajinan khas pacitan yaitu souvenir yang juga dijual ditepi pantai dan teras-teras rumah warga.

Pantai Watukarung sebagai destinasi pariwisata bahari memanfaatkan semua komponen alamnya untuk bisa dijadikan sarana kegiatan pariwisata yang menarik.

Pemanfaatan kegiatan pariwisata bahari dapat dijabarkan yaitu, bentang darat pantai dimanfaatkan untuk kegiatan rekreasi olahraga susur pantai dan bola voli pantai dan pengunjung bisa berjalan-jalan di sepanjang pantai menikmati hamparan pasir putih yang halus dan melakukan berbagai aktivitas seperti bermain bola voly, bermain pasir dan air laut di bibir pantai. Kemudian bentang pantai dimanfaatkan untuk kegiatan berenang (swimming), memancing (fishing), dan berselancar (surfing). Sebagai tempat pariwisata bahari pantai Watukarung menyuguhkan ombak sebagai daya tarik utamanya. Deburan ombak yang bagus yang dimiliki oleh pantai Watukarung merupakan daya tarik bagi para wisatawan lokal maupun wisatawan manca negara khususnya para peselancar. Ombak besar yang berada di tengah pantai akan pecah sebelum sampai di bibir pantai sehingga pengunjung yang

60

(10)

tidak suka dan atau yang tidak bisa berselancar dapat bermain air dan berenang dengan tetap menaati aturan. Bagi pengunjung yang hobby memancing juga dapat melakukan aktivitas memancing dengan menaiki perahu ke tengah laut.

61

Gambar

Tabel 3.1 Daftar Kepala Desa yang Pernah Menjabat  No  Nama   Jabatan   1  Surowijoyo   1924  2  Resosetiko   1925-1938  3  Resodikromo  1939-1941  4  Reso Sudarmo  1942-1945  5  Reso Sumarto  1946-1980  6  Reso Sudarmo  1981-1988  7  Darmadi   1988-1996
Tabel 3.2 Jumlah penduduk Desa Watukarung
Tabel 3.4 Tingkat Pendidikan Masyarakat
Tabel 3.5 Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Pekerjaan
+2

Referensi

Dokumen terkait

Jika metode regresi diterapkan pada data spasial dengan metode MKT untuk mengestimasi parameter model regresi dengan asumsi error identik independen dan berdistribusi normal,

Kinerja terbaik dari proses produksi usaha tambak bandeng dalam mengubah 6 variabel input menjadi output bandeng maksimum yang dapat dihasilkan dengan menggunakan teknologi

SR1 tidak mengalami kesulitan dalam membuat soal, hal itu dibuktikan dalam membuat soal, subjek membuat banyaknya 3 soal tapi yang dikerjakan hanya 1, dengan taraf soal

pengujian Hasil yang diharapkan Hasil yang diperoleh Kesimpulan Melakukan aktivitas pada aplikasi IbuKreatif dengan mengumpulkan lebih dari 3000 poin dan mencantumkan

3 Masyfuk Zuhdi, Masail Fiqhiyah, Jakarta:Haji Mas Agung.1993, h.. untuk kemaslahatan masyarakat agar tidak menjadi “Modus” dikalangan masyarakat untuk mengajukan izin

Puji syukur penulis ucapkan atas karunia yang diberikan Allah SWT sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul Register Bidang Tata Boga pada Tabloid Saji Edisi

Panjang gelombang maksimum absorbsi dye pada spektrum cahaya tampak, dilakukan dengan cara zat warna yang telah diekstrak pada pengukuran alat spektrofotometer

Berdasarkan hasil-hasil yang telah diperoleh peserta Indonesia dalam mengikuti olimpiade internasional serta tingkat kesukaran soal yang dilombakan dalam olimpiade tersebut,