• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH BESARAN PERUSAHAAN, NET PROFIT MARGIN, LEVERAGE OPERASI DAN BEBAN PAJAK TERHADAP PRAKTIK PERATAAN LABA PADA BANK PEMBANGUNAN DAERAH

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PENGARUH BESARAN PERUSAHAAN, NET PROFIT MARGIN, LEVERAGE OPERASI DAN BEBAN PAJAK TERHADAP PRAKTIK PERATAAN LABA PADA BANK PEMBANGUNAN DAERAH"

Copied!
28
0
0

Teks penuh

(1)

1 PENGARUH BESARAN PERUSAHAAN, NET PROFIT MARGIN, LEVERAGE OPERASI DAN BEBAN PAJAK TERHADAP PRAKTIK

PERATAAN LABA PADA BANK PEMBANGUNAN DAERAH Ristya Agnes Vayadilla Sudibyo

Fakultas Ekonomika dan Bisnis, Universitas Kristen Satya Wacana Email : [email protected]

PENDAHULUAN

Laba merupakan salah satu informasi potensial yang terkandung dalam laporan keuangan dan sangat penting bagi berbagai pihak. Pentingnya informasi laba ini disadari oleh manajemen, sehingga manajemen cenderung melakukan disfunctional behaviour (perilaku tidak semestinya), yaitu dengan melakukan manajemen laba (Sugiarto, 2003). Manajemen sebagai penyedia laporan keuangan seharusnya menyajikan informasi akuntansi yang harus dapat dipahami, relevan, andal dan dapat diperbandingkan serta dapat menggambarkan kondisi perusahaan pada masa lalu dan proyeksi masa mendatang. Namun terkadang manajemen melakukan manajemen laba untuk kepentingan tertentu. Manajemen laba akan membawa dampak negatif apabila manajer berperilaku oportunistik, yaitu berusaha untuk memaksimalkan utilitasnya dalam menghadapi kontrak kompensasi, kontrak utang dan political cost (Scott, 2000)

Perataan laba (income smoothing) merupakan salah satu pola dari manajemen laba. Perataan laba yang dilakukan oleh manajemen merupakan suatu upaya untuk mengurangi fluktuasi laba yang dilaporkan agar sesuai dengan target yang diinginkan baik secara artificial maupun secara real. Praktik perataan laba menyebabkan pengungkapan informasi mengenai laba menjadi menyesatkan dan mengakibatkan terjadinya kesalahan dalam pengambilan keputusan (Jatiningrum, 2000).

(2)

2 Penelitian mengenai perataan laba sebelumnya telah dilakukan oleh Kusumawati (2002), yang meneliti pengaruh besaran perusahaan, net profit margin, leverage operasi, pajak serta komposisi pemilik terhadap praktik perataan laba. Hasil dari penelitian Kusumawati (2002) menemukan bahwa variabel yang berpengaruh signifikan sebelum krisis ekonomi adalah variabel net profit margin dan leverage operasi. Sedangkan variabel yang berpengaruh signifikan setelah krisis ekonomi adalah variabel besaran perusahaan dan pajak. Penelitian lain yang dilakukan oleh Cecilia (2012), Prabayanti dan Yasa (2011), Rifai dan Widyatmini (2012) menemukan bahwa variabel net profit margin, leverage operasi, besaran perusahaan berpengaruh tidak signifikan terhadap praktik perataan laba. Hasil dari penelitian terhadap praktik perataan laba yang dilakukan oleh peneliti sebelumnya masih inkonklusif, sehingga praktik perataan laba menarik untuk diteliti kembali.

Perusahaan perbankan mempunyai regulasi yang lebih ketat dibandingkan dengan industri lain, misalnya suatu bank harus memenuhi kriteria CAR (Capital Adequancy Ratio) minimum. Bank Indonesia menggunakan laporan keuangan sebagai dasar penentuan status suatu bank apakah bank tersebut merupakan bank yang sehat atau tidak. Ketatnya regulasi perusahaan perbankan tersebut menjadi salah satu alasan perusahaan perbankan melakukan praktik perataan laba (Nasution dan Setiawan, 2007). Penelitian Dewi (2010), Bestivano (2013), Daryanti dan Herman (2012) menemukan adanya praktik perataan laba pada perusahaan perbankan.

Penelitian ini merupakan replikasi dari penelitian Kusumawati (2002) yang meneliti faktor – faktor yang mempengaruhi praktek perataan laba pada perusahaan perbankan non go publik di Indonesia. Namun penelitian ini, objek yang diteliti berbeda yaitu Bank Pembangunan Daerah. Selain itu, penelitian ini tidak memasukkam variabel komposisi pemilik untuk diteliti karena data seluruh responden memiliki komposisi kepemilikan yang sama. Bank Indonesia meluncurkan inisiatif BPD Regional Champion (BRC) pada tahun 2010. BRC terdiri atas tiga pilar utama, yaitu (1) menjaga dan meningkatkan ketahanan

(3)

3 perbankan, (2) peran sebagai agent of regional development dan (3) peningkatan kemampuan melayani masyarakat khususnya di daerah. Untuk mewujudkan pilar pertama, ketahanan kelembagaan yang kuat, BPD berkomitmen untuk meningkatkan permodalan, meningkatkan efisiensi guna mencapai tingkat profitabilitas yang memadai didukung sehingga dapat memberikan kredit dengan suku bunga yang kompetitif kepada masyarakat (www.bi.go.id). Dalam meningkatkan permodalan tentunya BPD membutuhkan bantuan dana dari investor.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi pengaruh besaran perusahaan, net profit margin, leverage operasi dan beban pajak terhadap praktik perataan laba pada Bank Pembangunan Daerah. Hasil penelitian ini juga diharapkan memberi manfaat bagi semua pihak seperti otoritas moneter dalam hal ini Bank Indonesia, apakah perusahaan perbankan tersebut memiliki laporan keuangan yang dapat dipercaya. Selain itu untuk menambah literatur sebagai kajian baru karena sejauh pengetahuan penulis belum pernah diteliti terkait perataan laba pada Bank Pembangunan Daerah.

TELAAH PUSTAKA Teori Agensi

Teori agensi merupakan suatu pendekatan yang dapat menjabarkan konsep manajemen laba yang sangat terkait dengan perataan laba yang akan dibahas dalam penelitian ini. Teori agensi menyatakan bahwa praktik manajemen laba dipengaruhi karena adanya konflik kepentingan antara manajemen (agent) dan pemilik (principal) yang timbul ketika setiap pihak berusaha untuk mencapai atau mempertahankan tingkat kemakmuran yang dikehendakinya. Teori keagenan memiliki asumsi bahwa tiap-tiap individu termotivasi untuk kepentingan dirinya sendiri sehingga dapat menimbulkan konflik kepentingan antara pihak principal dan agent (Budiasih, 2009). Pihak principal termotivasi untuk melakukan kontrak dalam rangka mensejahterakan dirinya melalui profitabilitas yang pada umumnya

(4)

4 diharapkan selalu meningkat. Namun di sisi yang lain, agent termotivasi untuk pemenuhan kebutuhan ekonomi dan psikologisnya (Widyaningdyah, 2001).

Saat manajer mempunyai informasi yang lebih banyak dibandingkan pihak eksternal, akan terjadi asimetri informasi antara agen dan prinsipal. Agen atau manajer sebagai pihak internal lebih mengetahui keadaan perusahaan daripada pemilik. Manajer kemudian lebih memiliki kesempatan untuk melakukan disfunctional behavior, yakni menggunakan informasi yang diketahuinya untuk memanipulasi pelaporan keuangan dalam usaha memaksimalkan kemakmurannya.

Asimetri informasi menjadi motivasi manajemen untuk melakukan praktik perataan laba agar laporan keuangan terlihat stabil, sehingga perusahaan dengan ukuran besar selalu menciptakan keadaan dimana kinerja perusahaan itu terlihat baik dengan cara menghindari fluktuasi laba yang naik turun. Net profit margin merupakan rasio profitabilitas. Hubungannya dengan teori keagenan menggambarkan adanya konflik kepentingan antara pihak principal dan pihak agent, dimana setiap pihak ingin memenuhi kepentingannya sendiri. Pihak principal sebagai pemegang saham menginginkan penginformasian yang relevan terhadap tingkat profitabilitas perusahaan untuk melihat keuntungan yang akan benar-benar diterima dalam bentuk deviden (Prayudi dan Rochmawati, 2013), sedangkan manajer sebagai pihak agent termotivasi untuk menyejahterakan dirinya guna memenuhi kebutuhan ekonominya dengan menyajikan informasi tingkat profitabilitas yang stabil. Kestabilan laba yang tidak memiliki banyak fluktuasi atau variance dari satu periode ke periode lain dinilai sebagai prestasi baik (Prayudi dan Rochmawati, 2013).

Sama halnya dengan leverage operasi, karena investor tidak suka perusahaan dengan risiko hutang yang tinggi, maka manajemen selaku agen yang paling banyak memiliki informasi mengenai perusahaan berusaha untuk meratakan labanya agar tampak stabil dimata para investor. Hubungan teori agensi dengan beban pajak terkait pihak pemilik yang menginginkan penginformasian keuangan perusahaan yang relevan dan dapat dipertanggungjawabkan, namun pihak manajemen perusahaan akan cenderung

(5)

5 hanya menampilkan laba yang stabil dengan motif penghematan pajak. Jika dipandang dari sisi manajemen, manajer termotivasi untuk melakukan praktik perataan laba untuk memperoleh keuntungan ekonimis yaitu dapat mengurangi beban pajak terutang (Kusumawati, 2002).

Perataan Laba

Pengertian Perataan Laba

Salah satu pola manajemen laba adalah perataan laba. Belkaoui (2000) mendefinisikan perataan laba sebagai suatu upaya yang disengaja dilakukan oleh manajemen untuk mencoba mengurangi variasi abnormal dalam laba perusahaan dengan tujuan untuk mencapai suatu tingkat yang normal bagi perusahaan.

Perataan laba dilakukan oleh manajemen guna menarik minat pasar dalam berinvestasi karena perhatian investor seringkali hanya terpusat pada laba yang diperoleh oleh perusahaan.

Tujuan Perataan Laba

Suwito dan Herawaty (2005) mengungkapkan bahwa tujuan perataan laba adalah untuk memperbaiki citra perusahaan dimata pihak eksternal dan menunjukkan bahwa perusahaan tersebut memiliki risiko yang rendah. Disamping itu juga dapat meningkatkan persepsi pihak eksternal terhadap kemampuan manajemen dan meningkatkan kompensasi bagi pihak manajemen. Dalam penelitian Juniarti dan Corolina (2005) terdapat berbagai macam tujuan yang ingin dicapai oleh manajemen dalam perataan laba yaitu (1) Mencapai keuntungan pajak; (2) untuk memberi kesan baik dari pemilik dan kreditor terhadap kinerja manajemen; (3) mengurangi fluktuasi pada pelaporan laba dan mengurangi risiko, sehingga harga sekuritas yang tinggi menarik perhatian pasar; (4) untuk menghasilkan pertumbuhan profit yang stabil; (5) untuk menjaga posisi atau kedudukan mereka dalam perusahaan

(6)

6 Tipe Perataan Laba

Menurut Nasir, et all (2002) terdapat dua jenis perataan laba yaitu Natural Smoothing (Perataan Alami) dan Intentional Smoothing (Perataan yang disengaja). Natural smoothing adalah income generating process yang natural, bukan hasil dari tindakan yang diambil oleh manajemen. Intentional Smoothing biasanya dihubungkan dengan tindakan manajemen. Dapat dikatakan bahwa intentional smoothing berkenaan dengan situasi dimana rangkaian earning yang dilaporkan dipengaruhi oleh tindakan manajemen. Intentional Smoothing dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu :

a. Real Smoothing

Merupakan usaha yang diambil oleh manajemen dalam merespon perubahan kondisi ekonomi. Dapat juga berarti suatu transaksi yang sesungguhnya untuk dilakukan atau tidak dilakukan berdasarkan pengaruh perataan pada laba. Perataan ini menyangkut pemilihan waktu kejadian transaksi riil untuk mencapai sasaran perataan.

b. Artificial Smoothing

Merupakan suatu usaha yang disengaja untuk mengurangi variabilitas aliran laba secara artificial. Perataan laba ini menerapkan prosedur akuntansi untuk memindahkan biaya dan pendapatan dari satu periode ke periode tertentu. Dengan kata lain, artificial smoothing dicapai dengan menggunakan kebebasan memilih prosedur akuntansi yang memperbolehkan perubahan cost dan revenue dari suatu periode akuntansi.

PENGEMBANGAN HIPOTESIS

Pengaruh Besaran Perusahaan Terhadap Praktik Perataan Laba

Besaran perusahaan mempengaruhi praktik perataan laba. Besaran perusahaan pada dasarnya hanya dibagi dalam tiga kategori yaitu: perusahaan besar, perusahaan menengah dan perusahaan kecil. Penentuan besaran perusahaan ini didasarkan pada total aset perusahaan. Dalam hal ini, aset di perbankan berupa aset keuangan, tagihan serta pinjaman. Berdasarkan the political hypothesis,

(7)

7 perusahaan yang ukurannya lebih besar dan industri strategis cenderung meratakan labanya karena aktivitasnya melibatkan hajat hidup orang banyak dan karena mendapat perhatian yang besar dari para analis dan investor (Nasser dan Herlina, 2003). Perusahaan besar dianggap memiliki kemampuan yang lebih besar sehingga dibebani biaya yang lebih tinggi, misalnya biaya pajak yang tinggi (Simanjuntak, 2011). Dalam penelitian yang dilakukan oleh Budiasih (2009), Bestivano (2013) dan Kusumawati (2002), menemukan hal yang sama yaitu besaran perusahaan berpengaruh positif terhadap praktik perataan laba yang dilakukan manajemen. Dengan demikian, hipotesis pertama adalah :

H1: Besaran perusahaan berpengaruh positif terhadap praktik perataan laba Pengaruh Net Profit Margin Terhadap Praktik Perataan Laba

Net profit margin mengukur rupiah laba yang dihasilkan oleh setiap satu rupiah penjualan, sehingga dapat memberikan gambaran tentang laba untuk para pemegang saham sebagai presentase dari penjualan (Dewi, 2012). Dalam perbankan, net profit margin mengukur kemampuan bank dalam menghasilkan laba bersih dari kegiatan operasi pokok bank. Semakin besar rasio ini, maka dianggap semakin baik kemampuan perusahaan untuk mendapatkan laba yang tinggi (Santoso, 2010). Dimana principal (investor) pasar modal perlu mengetahui kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba. Manajer cenderung melakukan praktik perataan laba dengan harapan bahwa profitabilitas yang tinggi akan menaikkan standar bonus/laba di masa yang akan datang dan mengurangi kekhawatiran manajer dalam pencapaian target laba yang stabil di masa yang akan datang (Septoaji, 2002).

Net profit margin diduga mempengaruhi perataan laba karena secara logis margin ini terkait langsung dengan objek perataan laba. Penelitian yang dilakukan oleh Septoaji (2002) dan Kusumawati (2002) menemukan bahwa net profit margin berpengaruh terhadap praktik perataan laba.

H2 : Net profit margin berpengaruh positif terhadap praktik perataan laba

(8)

8 Pengaruh Leverage Operasi Terhadap Praktik Perataan Laba

Leverage operasi menunjukkan seberapa besar kebutuhan dana perusahaan yang didanai dengan hutang. Semakin besar hutang perusahaan maka semakin besar pula resiko yang dihadapi para investor sehingga investor akan meminta tingkat pengembalian yang semakin tinggi (Adiningsih dan Asyik 2014).

Menurut Zuhroh (1996), secara rasional investor memilih untuk berinvestasi pada perusahaan yang memiliki risiko rendah, sehingga pihak manajemen selalu berusaha menunjukkan kepada pihak eksternal bahwa perusahaan yang dikelolanya memiliki leverage operasi yang baik yang berarti memiliki resiko yang rendah. Akibat kondisi tersebut, perusahaan cenderung melakukan praktik perataan laba. Hal ini sesuai dengan penelitian Septoaji (2002), Kusumawati (2002) dan Yusuf dan Soraya (2004), bahwa leverage operasi berpengaruh terhadap praktik perataan laba.

H3 : leverage operasi berpengaruh positif terhadap praktik perataan laba Pengaruh Beban Pajak Terhadap Praktik Perataan Laba

Pajak adalah iuran rakyat kepada kas negara berdasarkan undang – undang dengan tidak mendapat jasa timbal balik secara langsung dan digunakan untuk membiayai rumah tangga negara. Pajak yang mempengaruhi praktik perataan laba ialah beban pajak. Beban pajak mempengaruhi praktik perataan laba dengan alasan bahwa manajer ingin membayar pajak seminimal mungkin. Laba yang terlalu tinggi akan meningkatkan pajak yang harus dibayar oleh perusahaan, sedangkan penurunan laba yang terlalu rendah akan memperlihatkan kinerja perusahaan yang buruk, oleh sebab itu terdapat kemungkinan bahwa manajemen membuat laba yang dilaporkan tidak berfluktuasi dengan cara melakukan perataan laba untuk menghindari pembayaran pajak yang terlalu tinggi. Hal ini akan membuat manajemen berusaha untuk menggeser laba dari satu tahun ke tahun berikutnya agar diperoleh pembayaran pajak yang paling minimal (Tanomi, 2012). Penelitian yang dilakukan oleh Kusumawati (2002) dan Rifai dan Widyatmini (2012), pajak mempunyai pengaruh secara positif terhadap praktik

(9)

9 perataan laba. Berdasar deskripsi tersebut, hipotesis ketiga dalam penelitian ini adalah :

H4 : Beban pajak berpengaruh positif terhadap praktik perataan laba

Gambar 1. Model Penelitian

H1 (+) H2 (+) H3 (+) H4 (+) Besaran Perusahaan

Net Profit Margin

Leverage Operasi

Beban Pajak

Praktik Perataan Laba

(10)

10 METODA PENELITIAN

Populasi dan Sampel

Populasi dalam penelitian ini adalah Bank Pembangunan Daerah yang ada di Indonesia. Sampel dipilih dengan menggunakan metode purposive sampling.

Purposive sampling adalah teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu (Sugiyono, 2011). Pemilihan metode ini berdasarkan pertimbangan agar peneliti dapat memperoleh sumber data yang tepat dan sesuai dengan variabel yang diteliti. Kriteria-kriteria yang harus dipenuhi perusahaan agar dapat dijadikan sampel yaitu:

1. Bank Pembangunan Daerah yang menerbitkan laporan keuangan dari tahun 2011 - 2015.

2. Perusahaan yang tidak mengalami rugi selama kurun waktu 2011 - 2015 karena penelitian ini bertujuan untuk melihat praktik perataan laba.

3. Perusahaan mengungkapkan data yang lengkap dalam laporan keuangan terkait dengan variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian.

Variabel Penelitian Praktik Perataan Laba

Variabel dependen yaitu praktik perataan laba, diukur menggunakan Indeks Eckel (1981). Indeks Eckel digunakan untuk mengindikasikan perusahaan melakukan praktik perataan laba atau tidak. Rumus yang digunakan adalah sebagai berikut :

Indeks Eckel = 𝑐𝑣∆𝐼

𝑐𝑣∆𝑆 dengan cv ∆I atau cs ∆S = X

n X

X 

1 )) (

( 2

Keterangan :

Cv : koefisien variasi variabel, yaitu standar deviasi dibagi dengan nilai yang diharapkan tahun 2011 – 2015

∆I : perubahan laba dalam satu periode

(11)

11

∆S : perubahan penjualan dalam satu periode

ΔX : perubahan laba (I) atau penjualan (S) antara tahun n dengan n-1

X : rata – rata perubahan laba (I) atau penjualan (S) antara tahun n dengan n-1

n : banyaknya tahun yang diamati

Kriteria perusahaan yang melakukan praktik perataan laba adalah:

1. Perusahaan dianggap melakukan praktik perataan laba apabila indeks perataan laba lebih kecil daripada 1 (CVΔS > CVΔI)

2. Perusahaan dianggap tidak melakukan praktik perataan laba apabila indeks perataan laba lebih besar sama dengan 1 (CVΔS < CVΔI)

Kelompok perusahaan yang melakukan praktik perataan laba diberi nilai 1, sedangkan kelompok perusahaan yang tidak melakukan praktik perataan laba diberi nilai 0.

Besaran Perusahaan

Besaran perusahaan adalah skala untuk menentukan besar kecilnya perusahaan. Besaran perusahaan dihitung dengan menggunakan logaritma natural dari total aset, sehingga dapat dirumuskan sebagai berikut (Budiasih, 2009) :

Size = Ln Total Aset

Net Profit Margin

Net Profit Margin merupakan rasio untuk mengukur kemampuan bank dalam menghasilkan net income dari kegiatan operasi pokoknya (Kashmir, 2012).

Rumus untuk mencari Net Profit Margin sebagai berikut : Net profit margin = 𝑁𝑒𝑡 𝐼𝑛𝑐𝑜𝑚𝑒

𝑂𝑝𝑒𝑟𝑎𝑡𝑖𝑛𝑔 𝑖𝑛𝑐𝑜𝑚𝑒 ×100%

(12)

12 Leverage Operasi

Leverage operasi menunjukkan seberapa besar kebutuhan dana perusahaan didanai dengan hutang. Satuan pengukuran variabel leverage operasi adalah prosentase (%) dan skala yang digunakan adalah skala rasio (Adiningsih dan Asyik 2014), leverage operasi dapat dihitung :

Leverage operasi = 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐻𝑢𝑡𝑎𝑛𝑔

𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐴𝑠𝑒𝑡 ×100%

Beban Pajak

Beban pajak diukur dengan menggunakan tarif pajak efektif. Beban pajak dan laba sebelum pajak dalam penghitungan tarif pajak merupakan beban pajak yang tercantum dalam laporan laba/rugi perusahaan (Darmadi, 2013)

Tarif pajak efektif = 𝐵𝑒𝑏𝑎𝑛 𝑝𝑎𝑗𝑎𝑘

𝐿𝑎𝑏𝑎 𝑠𝑒𝑏𝑒𝑙𝑢𝑚 𝑝𝑎𝑗𝑎𝑘×100%

Teknik Pengumpulan Data dan Teknik Analisis Data

Metode pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan berbagai sumber seperti Home Page Bank BI serta BPD, dan sumber – sumber lain yang relevan. Analisis yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah analisis regresi logistik (Logistic Regression) dengan menggunakan 4 variabel bebas dan 1 variabel terikat. Logistic Regression digunakan untuk menguji apakah probabilitas terjadinya variabel terikat dapat diprediksi dengan variabel bebasnya. Alat analisis dalam penelitian ini menggunakan Software SPSS 20. Adapun langkah-langkah untuk menganalisis menggunakan metode sebagai berikut:

Statistik Deskriptif

Statistik deskriptif digunakan untuk mendeskriptifkan variabel-variabel dalam penelitian ini. Statistik deskriptif akan memberikan gambaran umum atau sebuah informasi yang lebih jelas dan mudah untuk dipahami dari setiap variabel

(13)

13 penelitian. Gambaran atau deskripsi suatu data dapat dilihat dari nilai rata-rata (mean), standar deviasi, maksimum, dan minimum.

Statistik Inferensial (Uji Hipotesis)

Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah regresi logistik yang dilakukan terhadap keempat variabel secara serempak. Penggunaan regresi logistik ini digunakan jika variabel dependen merupakan variabel dummy yang berskala nominal, sementara variabel independennya dapat berskala nominal, rasio dan interval. Model statistik untuk menguji hipotesis-hipotesis penelitian adalah:

𝑙𝑛 𝑝

1 − 𝑝= 𝛽0+ 𝛽1𝐵𝑆𝑃 + 𝛽2 𝑁𝑃𝑀 + 𝛽3 𝐿𝐸𝑉 + 𝛽4 𝑃𝐽𝐾 + ɛ Keterangan:

ln : log of odds

𝑝

1−𝑝 : odds ratio untuk meratakan laba 𝛽 : koefisien regresi logistik

BSP : besaran perusahaan NPM : Net Profit Margin

𝐿𝐸𝑉 : Leverage operasi PJK : pajak

(14)

14 Terdapat tiga hal yang akan diuji dalam regresi logistik, yaitu:

1. Menilai Kelayakan Model Regresi (Goodness of Fit Test)

Tahap ini digunakan untuk menguji apakah model regresi logit layak dipakai untuk menganalisa selanjutnya.

2. Menilai Keseluruhan Model (Overall Model Fit)

Menilai keseluruhan model (overall model fit) ditunjukkan dengan logit likelihood value (nilai -2LL), yaitu dengan cara membandingkan antara -2LL pada awal (Block Number = 0) dimana model hanya memasukkan konstanta dengan nilai -2LL pada saat Block Number = 1, dimana model memasukkan konstanta dan variabel bebas. Apabila nilai -2LL block number = 1, menunjukkan model regresi lebih baik.

3. Menguji Koefisien Regresi Logit

Pengujian koefisien regresi dilakukan untuk menguji seberapa jauh semua variabel bebas yang dimasukkan dalam model mempunyai pengaruh terhadap variabel terikat. Koefisien regresi dapat ditentukan dengan menggunakan Wald Statistic dan nilai probabilitas (sig.) dibandingkan dengan α. Penolakan ataupun penerimaan Ho didasarkan pada tingkat signifikansi α=10%.

HASIL PENELITIAN Gambaran Umum Sampel

Populasi penelitian ini adalah Bank Pembangunan Daerah diseluruh Indonesia. Periode pengamatan dilakukan selama 5 tahun yaitu tahun 2011 – 2015. Populasi penelitian yang diperoleh adalah 26 perusahaan dan perusahaan yang layak dijadikan sampel penelitian berdasarkan kriteria yang sudah ditentukan berjumlah 17 perusahaan. Seleksi pengambilan sampel penelitian ini adalah sebagai berikut :

(15)

15 Tabel 1 Pengambilan Sampel

Kriteria Sampel Jumlah

1. Bank Pembangunan Daerah yang terdaftar di Bank Indonesia dan

menerbitkan laporan keuangan dari tahun 2011 – 2015 26

(1)

(8) 2.

1. Bank Pembangunan Daerah yang mengalami rugi selama kurun waktu 2011 – 2015

3.

2. Bank Pembangunan Daerah yang tidak mengungkapkan data yang lengkap dalam laporan keuangan terkait dengan variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian.

Total Bank Pembangunan Daerah yang memenuhi kriteria sampel

penelitian 17

Sumber: Laporan keuangan tahun 2011 - 2015 yang telah diolah

Berdasarkan kriteria – kriteria pengambilan sampel yang telah ditentukan pada tabel 1 diatas, dapat diketahui bahwa jumlah Bank Pembangunan Daerah yang memenuhi syarat sebagai sampel penelitian adalah 17 perusahaan, atau 85 unit analisis (17 dikali 5 tahun periode pengamatan).

Perusahaan - perusahaan sampel penelitian tersebut kemudian dikelompokkan berdasarkan status sebagai perusahaan yang melakukan praktik perataan laba maupun perusahaan yang tidak melakukan praktik perataan laba sesuai perhitungan yang telah dilakukan dengan menggunakan indeks Eckel.

Gambaran mengenai variabel – variabel peneliian tersebut akan diuraikan lebih lanjut dalam deskripsi variabel penelitian.

Statistik Deskriptif Variabel Penelitian Praktik Perataan Laba

Deskripsi variabel penelitian ini diantaranya mengenai praktik perataan laba yang berisi tentang penjelasan gambaran perusahaan-perusahaan sampel penelitian yang dikelompokkan berdasarkan status sebagai perusahaan yang melakukan praktik perataan laba dan perusahaan yang tidak melakukan perataan laba yang dihitung berdasarkan indeks Eckel. Perusahaan yang berdasarkan

(16)

16 perhitungan mempunyai indeks Eckel kurang dari 1, maka perusahaan tersebut tergolong sebagai perusahaan yang melakukan praktik perataan laba, sedangkan perusahaan yang berdasarkan perhitungan mempunyai indeks Eckel lebih dari atau sama dengan 1, maka perusahaan tersebut tergolong sebagai perusahaan bukan perata laba. Perataan laba merupakan variabel dummy yang diberi simbol : 1 = perusahaan melakukan praktik perataan laba dan 0 = perusahaan tidak melakukan praktik perataan laba. Daftar mengenai perusahaan-perusahaan sampel tersebut yang tergolong sebagai perusahaan perata laba dan perusahaan bukan perata laba disajikan dalam lampiran.

Tabel 2 Persentase Perusahaan Perata Laba dan Bukan Perata Laba

Tahun Perata Laba Bukan Perata Laba Total

Jumlah % Jumlah % Jumlah %

2011 5 29,41 12 70,59 17 100

2012 5 29,41 12 70,59 17 100

2013 3 17,65 14 82,53 17 100

2014 5 29,41 12 70,59 17 100

2015 7 41,18 10 58,82 17 100

Sumber data : Data diolah

Perusahaan yang terindikasi melakukan praktik perataan laba dari 17 Bank Pembangunan Daerah yang diteliti pada tahun 2011, 2012 dan 2014, terdapat 5 perusahaan atau 29,41% sedangkan sisanya 12 perusahaan atau 70,59% tidak terindikasi melakukan praktik perataan laba. Pada tahun 2013 perusahaan yang terindikasi melakukan praktik perataan laba yaitu 3 perusahaan atau 17,65%, sedangkan yang tidak terindikasi melakukan praktik perataan laba adalah 14 perusahaan atau 82,35%. Pada tahun 2015 perusahaan yang terindikasi melakukan praktik perataan laba yaitu 7 perusahaan atau 41,18%, sedangkan sisanya yaitu 10 perusahaan atau 58,82% tidak terindikasi melakukan praktik perataan laba.

Pengujian statistik deskriptif juga dilakukan terhadap variabel besaran perusahaan, NPM, leverage operasi dan pajak yang terdiri dari nilai minimum, nilai maksimum, nilai rata-rata ddan standar deviasi.

(17)

17 Besaran Perusahaan

Besaran perusahaan merupakan skala untuk menentukan besar kecilnya perusahaan. Deskripsi besaran perusahaan dapat dilihat pada tabel 3 berikut:

Tabel 3 Deskripsi Besaran Perusahaan BPD Tahun 2011 - 2015

Sumber : Data sekunder yang diolah

Besaran perusahaan adalah skala untuk menentukan besar kecilnya suatu perusahaan. Berdasarkan hasil pengujian statistik deskriptif yang disajikan pada tabel 3 diatas menunjukkan bahwa besaran perusahaan dalam 5 tahun pengamatan yakni tahun 2011 – 2015 mempunyai nilai aset minimum sebesar 1.147 dimiliki oleh Bank Sulteng pada tahun 2011. Sedangkan nilai aset maksimum sebesar

No Nama Bank Besaran Perusahaan (dalam milyaran rupiah)

2011 2012 2013 2014 2015

1. BPD DIY 4.808 5.611 6.523 7.821 8.690

2. BPD KALSEL 6.447 9.468 9.473 10.824 10.993

3. BPD KALTIM 23.094 30.932 27.660 29.436 22.938

4. BPD NTB 3.469 4.118 4.319 5.807 6.113

5. BPD RIAU &

KEPRI 16.984 19.841 19.460 22.854 19.738

6. BPD SULSEL-BAR 7.290 8.014 8.735 10.003 11.520

7. BPD BALI 10.587 12.632 14.367 16.951 19.538

8. BPD BJB 54.449 70.841 70.958 75.837 88.687

9. BPD JATENG 22.982 26.483 30.695 35.488 40.924

10. BPD JATIM 24.847 29.112 33.047 37.998 42.804

11. BPD KALBAR 7.126 8.395 9.643 11.218 13.035

12. BPD NTT 5.622 6.951 7.268 8.299 9.551

13. BPD PAPUA 13.673 14.766 17.665 20.177 20.358

14. BPD SULTENG 1.147 1.359 1.797 2.758 3.977

15. BPD SULUT 5.298 6.549 7.805 10.716 10.737

16. BPD SUMBAR 12.895 14.370 16.244 18.015 19.546

17. BPD SUMUT 18.951 19.965 21.495 23.389 24.130

Rata – rata 18.318,82

Standar Deviasi 16.719,196

Maksimum 88.687

Minimum 1.147

(18)

18 88.687 dimiliki oleh BPD BJB pada tahun 2015. Nilai aset rata – rata bank BPD dalam penelitian ini adalah sebesar 18.318,82 dengan standar deviasi 16.719,196.

Net Profit Margin

Net profit margin merupakan rasio untuk mengukur kemampuan bank dalam menghasilkan net income dari kegiatan operasi pokoknya. Deskripsi net profit margin dapat dilihat dalam tabel 4 berikut:

Tabel 4 Deskripsi Net Profit Margin BPD Tahun 2011 – 2015

NO Nama Bank NPM (dalam persentase)

2011 2012 2013 2014 2015

1 BPD DIY 17,34 18,21 19,78 19,95 20,48

2 BPD KALSEL 19,22 15,12 17,55 18,19 15,02

3 BPD KALTIM 26,05 24,04 22,41 20,43 9,29

4 BPD NTB 25,90 26,91 26,21 25,86 25,55

5 BPD RIAU &

KEPRI 17,89 14,45 16,26 21,41 11,29

6 BPD SULSEL-BAR 24,12 23,65 24,25 26,80 28,95

7 BPD BALI 22,81 29,89 27,70 26,12 22,30

8 BPD BJB 15,48 16,75 16,02 11,97 12,97

9 BPD JATENG 15,05 17,75 19,99 18,11 16,71

10 BPD JATIM 29,25 22,91 22,00 21,07 17,54

11 BPD KALBAR 16,66 21,15 21,77 20,49 19,46

12 BPD NTT 21,03 21,31 23,82 22,57 20,38

13 BPD PAPUA 22,15 23,01 21,69 7,07 16,33

14 BPD SULTENG 20,33 13,89 24,82 22,53 21,29

15 BPD SULUT 9,57 15,62 10,35 10,02 6,45

16 BPD SUMBAR 15,87 16,94 16,13 13,59 13,76

17 BPD SUMUT 19,11 16,69 18,74 15,93 13,46

Rata – rata 19,28

Standar Deviasi 5,13

Maksimum 29,89

Minimum 6,45

Sumber : Data sekunder yang diolah

Perhitungan Net Profit Margin yaitu dengan membagi laba bersih dengan laba operasi yang kemudian dikalikan 100%. Berdasarkan pengujian statistik deskriptif yang disajikan pada tabel 4 diatas menunjukkan bahwa Net Profit Margin dalam 5 tahun pengamatan memiliki nilai minimum 6,45% dan

(19)

19 maksimum sebesar 29,89%, sedangkan nilai rata – rata adalah sebesar 19,28%

dengan standar deviasi 5,13%. Nilai rata – rata 19,28% sangat baik karena angka net profit margin diatas 5%.

Leverage Operasi

Leverage operasi menunjukkan seberapa besar kebutuhan dana perusahaan didanai dengan hutang. Deskripsi leverage operasi dalam penelitian ini dapat dilihat dalam tabel 5 berikut:

Tabel 5 Deskripsi Leverage Operasi BPD Tahun 2011 – 2015

NO Nama Bank Leverage Operasi (dalam persentase)

2011 2012 2013 2014 2015

1 BPD DIY 89,53 90,14 88,53 87,58 85,90

2 BPD KALSEL 85,61 87,85 83,97 83,26 81,98

3 BPD KALTIM 87,12 88,65 86,08 91,33 84,63

4 BPD NTB 86,22 85,78 83,93 85,15 82,06

5 BPD RIAU &

KEPRI 90,54 90,86 89,33 89,55 87,87

6 BPD SULSEL-BAR 85,22 84,75 83,67 82,81 77,96

7 BPD BALI 89,56 88,27 87,32 85,77 84,03

8 BPD BJB 86,49 87,16 85,82 84,24 85,77

9 BPD JATENG 91,17 91,00 91,17 91,51 91,03

10 BPD JATIM 86,88 81,15 82,70 84,09 85,29

11 BPD KALBAR 90,19 88,99 87,79 86,97 83,23

12 BPD NTT 86,21 86,55 85,51 85,04 84,35

13 BPD PAPUA 88,99 88,22 87,98 88,58 86,22

14 BPD SULTENG 82,80 83,33 79,88 84,01 87,29

15 BPD SULUT 91,89 91,65 90,05 91,99 91,16

16 BPD SUMBAR 91,99 90,87 90,59 90,01 89,19

17 BPD SUMUT 92,19 92,22 91,83 91,40 91,74

Rata – rata 87,28

Standar Deviasi 3,27

Maksimum 92,22

Minimum 77,96

Sumber : Data sekunder yang diolah

Berdasarkan pegujian statistik deskriptif yang disajikan pda tabel 5 diatas menunjukkan bahwa leverage operasi dalam 5 tahun pengamatan memiliki nilai

(20)

20 minimum 77,96% dan nilai maksimum sebesar 92,22%. Sedangkan nilai rata – rata adalah sebesar 87,28% dengan standar deviasi 3,27%.

Beban Pajak

Beban pajak adalah beban yang harus dibayarkan kepada pemerintah sesuai dengan undang – undang perpajakan yang berlaku. Deskripsi beban pajak dalam penelitian ini dapat dilihat dalam tabel 6 berikut:

Tabel 6 Dekskripsi Beban Pajak BPD Tahun 2011 – 2015

No Nama Bank Beban Pajak (dalam persentase)

2011 2012 2013 2014 2015

1 BPD DIY 27,00 26,24 26,37 26,01 26,04

2 BPD KALSEL 25,45 27,41 26,98 27,20 27,00

3 BPD KALTIM 29,97 25,53 25,57 26,69 26,21

4 BPD NTB 26,28 27,03 30,18 25,92 23,47

5 BPD RIAU & KEPRI 26,59 29,86 29,93 27,47 28,25

6 BPD SULSEL-BAR 30,20 26,60 27,03 25,84 25,73

7 BPD BALI 25,18 25,44 25,48 25,56 26,15

8 BPD BJB 27,06 21,10 21,48 22,14 21,82

9 BPD JATENG 28,28 25,82 26,00 28,30 28,41

10 BPD JATIM 27,57 27,63 28,54 31,74 29,87

11 BPD KALBAR 25,34 26,13 26,14 26,33 26,54

12 BPD NTT 27,30 26,22 26,91 26,43 31,70

13 BPD PAPUA 31,54 25,16 24,63 26,92 27,44

14 BPD SULTENG 28,48 28,45 26,99 26,01 25,83

15 BPD SULUT 30,52 29,24 32,28 31,05 32,61

16 BPD SUMBAR 25,43 25,37 27,65 15,64 25,00

17 BPD SUMUT 28,16 32,15 27,41 24,72 25,76

Rata – rata 26,91

Standar Deviasi 2,61

Maksimum 32,61

Minimum 15,64

Sumber : Data sekunder yang diolah

Perhitungan beban pajak dalam penelitian ini yaitu menggunakan tarif pajak efektif. Berdasarkan hasil pengujian statistik deskriptif yang disajikan dalam tabel 6 diatas menunjukkan bahwa beban pajak dalam 5 tahun pengamatan memiliki nilai minimum 15,64% dan nilai maksimum sebesar 32,61%. Sedangkan

(21)

21 nilai rata- rata diperoleh sebesar 26,91% dan standar deviasinya sebesar 2,61%.

Rata – rata Bank Pembangunan Daerah di Indonesia membayar pajak sedikit lebih besar dari tarif pajak di Indonesia.

Hasil Uji Analisis Regresi Logistik

Menilai Kelayakan Model Regresi (Godness of Fit Test)

Analisis pertama untuk mengetahui bahwa suatu model regresi logistik merupakan sebuah model yang tepat, terlebih dahulu akan dilihat bentuk kecocokan atau kelayakan model secara keseluruhan. Dalam hal ini digunakan uji Hosmer and Lemeshow Test.

Tabel 7 Uji Hosmer and Lemeshow

Hosmer and Lemeshow Test

Step Chi-square Df Sig.

1 8,425 7 0,297

Tabel 7 diatas menunjukkan bahwa nilai hosmer-lemeshow sebesar 8,425 dan nilai signifikansi 0,297. Nilai hitung chi square 8,425 dengan df 7 lebih kecil dibandingkan dengan nilai chi square tabel 14,067, serta nilai signifikansi >0,05.

Hasil tersebut menunjukkan model layak untuk analisis selanjutnya dan model dikatakan fit karena tidak ada perbedaan yang nyata antara klasifikasi yang diprediksi dengan klasifikasi yang diamati sehingga model mampu memprediksi nilai observasinya.

Menilai Keseluruhan Model (Overall Model Fit)

Nilai dari keseluruhan model dapat dilihat dengan membandingkan nila -2 Log Likelihood (-2LL) pada block number = 0 dan -2 Log Likelihood pada block number = 1. Hasil pengujian overall mode fit disajikan dalam tabel berikut:

(22)

22 Tabel 8 Kelayakan Seluruh Model Regresi (Overall Model Fit)

Overall Model Fit

(-2LL) Block Number = 0 mempunyai nilai sebesar 102,986 (-2LL) Block Number = 1 mempunyai nilai sebesar 98,465

Berdasarkan Overall Model Fit pada tabel 8 diatas menunjukkan dua nilai -2LL yaitu pada Block Number = 0 dan Block Number = 1. Block Number = 0 mempunyai nilai -2LL sebesar 102,986 yang lebih besar dari nilai -2LL pada Block Number = 1 yang bernilai 98,465. Penurunan yang ada menunjukkan model regresi yang lebih baik dibandingkan sebelum variabel independen dimasukkan dalam model, sehingga dapat dikatakan bahwa penambahan variabel independen (besaran perusahaan, Net Profit Margin, leverage operasi dan pajak) tidak mengubah model regresi logistik.

Model Summary dalam regresi logistik sama dengan pengujian R2 pada persamaan regresi linear. R2 menunjukkan estimasi variasi dari variabel independen mampu menjelaskan variabel dependen. Model Summary disajikan dalam tabel 9 berikut:

Tabel 9 Nilai Negelkerke R Square

Model Summary

Step -2 Log likelihood Cox & Snell R Square Nagelkerke R Square

1 98,465a 0,052 0,074

Hasil pengujian yang ditunjukkan oleh tabel 9 di atas diketahui bahwa uji model summary (koefisien determinasi) menghasilkan -2 log likelihood sebesar 98,465 dan koefisien determinasi yang dilihat dari nilai Negelkerke R Square adalah sebesar 0,074 yang menunjukkan bahwa kemampuan variabel independen yaitu besaran peusahaan, Net Profit Margin, leverage operasi dan pajak dalam menjelaskan variabel dependen yaitu perataan laba adalah sebesar 0,074 atau 7,4% dan terdapat 100% - 7,4% = 92,6% faktor lain di luar model yang menjelaskan variabel dependen yaitu perataan laba.

(23)

23 Menilai Koefisien Regresi Logit

Pengujian koefisien regresi untuk menguji seberapa jauh semua variabel independen yang dimasukkan dalam model mempunyai pengaruh terhadap variabel independen. Untuk menganalisis koefisien regresi dapat dilihat dari nilai Wald statistic dan nilai probabilitas (sig.). hasil regresi logit dapat dilihat pada tabel 10 sebagai berikut:

Tabel 10 Hasil Pengujian dengan Regresi Logit

Variables in equation

B S.E. Wald df Sig. Exp(B)

Step 1a

BSP 0,278 0,328 0,719 1 0,397 1,320

NPM 0,105 0,058 3,237 1 0,072 1,111

LEV 0,098 0,089 1,215 1 0,270 1,103

PJK 0,081 0,104 0,611 1 0,434 1,085

Constant -22,053 12,753 2,990 1 0,084 0,000

Berdasarkan tabel 10 hasil regresi logistik diatas, estimasi maksimum likelihood parameter dari model dapat dilihat pada tampilan hasil regresi logit dengan melihat nilai B dari masing – masing variabel.

Berdasarkan pengujian diatas dapat dijelaskan sebagai berikut:

a. BSP tidak berpengaruh signifikan terahadap praktik perataan laba.

b. NPM berpengaruh signifikan terhadap praktik perataan laba.

c. LEV tidak berpengaruh signifikan terhadap praktik perataan laba.

d. PJK tidak berpengaruh signifikan terhadap praktik perataan laba.

PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN

Pengaruh Besaran Perusahaan terhadap Praktik Perataan Laba

(24)

24 Pengujian untuk variabel besaran perusahaan diperoleh nilai sig 0,397 (sig

= 0,397 > 0,10). Hal ini menunjukkan bahwa H1 yang menyatakan variabel besaran perusahaan berpengaruh positif terhadap praktik perataan laba ditolak.

Sehingga dapat dikatakan bahwa besaran perusahaan tidak berpengaruh terhadap praktik perataan laba.

Besaran perusahaan yang semula diduga mempengaruhi praktik perataan laba ternyata dalam penelitian ini diperoleh hasil yang berbeda. Hal ini disebabkan karena investor atau kreditur dalam mengalirkan dananya tidak menjadikan ukuran perusahaan sebagai pertimbangannya, karena selain dari ukuran perusahaan, terdapat pengukuran lainnya yang lebih penting yang dapat menggambarkan kinerja perusahaan. Hasil ini mendukung pernyataan Khazan (2003) bahwa besaran perusahaan tidak menjadi pertimbangan satu – satunya bagi investor, tapi masih terdapat faktor – faktor lain yang lebih penting untuk dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan investasi. Sehingga alasan tersebut membuat manajemen perusahaan tidak termotivasi untuk melakukan praktik perataan laba. Selain itu, besaran perusahaan tidak memilik pengaruh terhadap praktik perataan laba dapat disebabkan karena total aset kurang tepat untuk dijadikan tolak ukur besarnya suatu perusahaan.

Hasil penelitian ini tidak konsisten dengan penelitian Budiasih (2009), Bestivano (2013) dan Kusumawati (2002) yang menyatakan bahwa besaran perusahaan berpengaruh positif terhadap praktik perataan laba. Penelitian ini konsisten dengan penelitian Juniarti dan Carolina (2005), Salno dan Baridwan (2000) serta Jatiningrum (2000) yang menyimpulkan bahwa besaran perusahaan tidak mempengaruhi praktik perataan laba.

Pengaruh Net Profit Margin terhadap Praktik Perataan Laba

Net Profit Margin diduga merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap praktik perataan laba. Berdasarkan hasil pengujian variabel net profit margin diperoleh nilai signifikansi sebesar 0,072 (sig = 0,072 < 0,10). Hal ini menunjukkan bahwa H2 yang menyatakan bahwa net profit margin berpengaruh terhadap praktik perataan laba diterima. Sehingga dapat dikatakan bahwa net

(25)

25 profit margin yang tinggi mempengaruhi manajemen untuk melakukan praktik perataan laba.

Net profit margin merupakan rasio yang menggambarkan kemampuan perusahaan menghasilkan laba. Laba yang diperoleh perusahaan merupakan tolak ukur sebagian besar investor untuk menilai kinerja manajemen dan pertimbangan keputusan investasi. Ditemukannya secara empiris pengaruh variabel net profit margin merupakan ratio keuangan yang cukup signifikan diperhitungkan manajemen untuk menunjukkan bagian alat pengukur kinerja keuangan bagi pihak yang berkepentingan. Secara logis net profit margin dapat merefleksikan motivasi manajer untuk meratakan penghasilan. Dengan melakukan perataan laba maka fluktuasi penghasilan tidak berbeda terlalu jauh dengan periode sebelumnya.

Hasil penelitian ini konsisten dengan penelitian Septoaji (2002) dan Kusumawati (2002) yang menyatakan bahwa net profit margin berpengaruh terhadap praktik perataan laba. penelitian ini tidak konsisten dengan penelitian Astuti dan Widyarti (2013) yang meneyimpulkan net profit margin tidak berpengaruh terhadap praktik perataan laba.

Pengaruh Leverage Operasi terhadap Praktik Perataan Laba

Berdasarkan hasil pengujian variabel leverage operasi terhadap praktik perataan laba diperoleh nilai signifikansi sebesar 0,270 (sig = 0,270 > 0,10). Nilai signifikansi diatas (α) 0,10 menunjukkan bahwa H3 yang menyatakan leverage operasi berpengaruh terhadap praktik perataan laba ditolak. Sehingga dapat dikatakan bahwa leverage operasi tidak berpengaruh signifikan terhadap praktik perataan laba.

Tingkat leverage yang tinggi mengindikasikan resiko perusahaan juga tinggi. Kreditur sering memperhatikan besarnya resiko perusahaan dengan penggunaan utang yang tinggi sehingga akan dihadapkan pada kewajiban yang tinggi pula. Namun leverage operasi tidak berpengaruh terhadap praktik perataan laba karena perusahaan ini adalah perbankan, maka nilai hutang yang tinggi sudah menjadi hal yang wajar. Karena sebagian besar hutang berasal dari simpanan nasabah. Sehingga sebenarnya risiko perbankan lebih diukur dari indikator lainnya selain leverage, seperti NPL.

(26)

26 Hasil penelitian ini tidak mendukung penelitian Kusumawati (2002) dan Yusuf dan Soraya (2004) yang menyatakan bahwa leverage operasi berpengaruh terhadap perataan laba. Penelitian ini mendukung penelitian Susilowati (2010) dan Cahyaningsih (2014) yang menyatakan leverage operasi tidak berpengaruh terhadap praktik perataan laba.

Pengaruh Beban Pajak terhadap Praktik Perataan Laba

Berdasarkan hasil pengujian pengaruh variabel beban pajak terhadap praktik perataan laba diperoleh nilai signifikansi sebesar 0,434 (sig = 0,434 >

0,10). Nilai signifikansi yang berada diatas nilai (α) 0,10 menunjukkan bahwa H4 yang menyatakan beban pajak berpengaruh positif terhadap praktik perataan laba ditolak. Sehingga dapat dikatakan bahwa beban pajak tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap praktik perataan laba.

Tidak berpengaruhnya faktor ini terhadap praktik perataan laba dapat disebabkan karena pajak efektif untuk sebagai pengukur beban pajak tidak mampu menjelaskan fenomena perataan laba. Selain itu, pengawasan yang ketat dari pemerintah yang diperkirakan menjadi dorongan bagi perusahaan untuk melakukan perataan laba justru menjadi salah satu alasan perusahaan tidak berani melakukan praktik perataan laba. Hasil penelitian ini tidak mendukung penelitian Kusumawati (2002) dan Rifai dan Widyatmini (2012) yang menyatakan bahwa beban pajak berpengaruh terhadap praktik perataan laba.

KESIMPULAN

Penelitian ini meneliti faktor – faktor yang mempengaruhi praktik perataan laba pada Bank Pembangunan Daerah di Indonesia. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan dapat disimpulkan:

a) besaran perusahaan tidak berpengaruh signifikan terhadap praktik perataan laba. Hal ini menandakan bahwa semakin besar aset, tidak semakin besar probabilitas perusahaan melakukan praktik perataan laba. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Juniarti dan Carolina (2005), Salno dan Baridwan (2000) serta Jatiningrum (2000).

(27)

27 b) Net profit margin berpengaruh signifikan terhadap praktik perataan laba.

Semakin tinggi net profit margin, maka semakin tinggi pula probabilitas perusahaan melakukan praktik perataan laba. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Astuti dan Widyarti (2013).

c) Leverage operasi tidak berpengaruh signifikan terhadap praktik perataan laba. Hal ini menandakan bahwa semakin tinggi leverage operasi, tidak semakin tinggi probabilitas perusahaan melakukan praktik perataan laba.

Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Susilowati (2010) dan Cahyaningsih (2014).

d) Beban pajak tidak berpengaruh signifikan terhadap praktik perataan laba.

Hal ini menandakan bahwa semakin tinggi pajak tidak semakin tinggi probabilitas perusahaan melakukan praktik perataan laba.

Implikasi

Hasil penelitian secara empiris menghasilkan bahwa variabel net profit margin berpengaruh terhadap praktik perataan laba. Variabel net profit margin cukup diperhatikan oleh pengguna laporan keuangan. Dengan perhatian terhadap variabel tersebut maka implikasinya adalah bagaimana perusahaan dalam melakukan praktik perataan laba tidak terlalu dalam karena hal tersebut justru bisa melemahkan perusahaan.

Keterbatasan dan Saran

Banyaknya Bank Pembangunan Daerah yang tidak menerbitkan laporan keuangannya sehingga sampel yang diperoleh hanya sedikit. Diperolehnya sedikit variabel yang memiliki pengaruh terhadap praktik perataan laba, maka masih terdapat besarnya pengaruh variabel lain diluar penelitian yang berperan dalam praktik perataan laba. Sehingga tujuan dan fenomena penyebab dilakukannya perataan laba masih belum terjawab sepenuhnya.

Saran penulis dalam penelitian ini antara lain, penelitian yang akan datang sebaiknya menggunakan sampel yang lebih luas, tidak hanya menggunakan Bank Pembangunan Daerah saja agar hasil penelitian menjadi lebih representatif.

Diharapkan kepada peneliti selanjutnya agar menambah variabel lain yang diduga dapat mempengaruhi praktik perataan laba, seperti : rencana bonus, sektor

(28)

28 industri, jenis usaha dan lain sebagainya. Selain itu, dapat juga memodifikasi variabel sebagai variabel moderating maupun variabel intervening.

Referensi

Dokumen terkait

data yang telah diubah atau tombol kembali untuk menuju halaman

Abstrak: Pemerintah telah mengeluarkan undang-undang No 7DKXQ WHQWDQJ SRUQRJUDÀ 7XMXDQ GDUL XQGDQJ XQGDQJ tersebut salah satunya mewujudkan dan memelihara tatanan kehidupan

Data yang digunakan berupa data primer yang didapat dari Pemerintah Kota Bitung.Dari hasil penelitian pada Dinas Pengelola Keuangan dan Barang Pemerintah Kota

Hasil uji Kruskal Wallis menunjukkan bahwa nilai rasa pada kelima perlakuan masing-masing memperlihatkan perlakuan penambahan daging ikan tenggiri pada pembuatan

ALIMAN SARAGIH,Tim Verifikasi,Tim Pelaksana, dan TAUFIK REPIAWAN selaku Pelaksana Penyaluran Minyak goreng selaku Penanggung jawab dimana Berita Acara Verifikasi tersebut dibuat

Pant buatan yang sampai ke lajur jenuh dan yang mengalirkan air secara gravitasi dari akuifer ke permukaan bumi, atau ke dalam lopak atau sumur (Meinzer). Ac..:

Assalamu'alaikum Wr. Demikianlah pengantar skripsi ini dibuat dengan sebenar-benamya dan dapat di pergunakan sebagaimana mestinya.. Oleh sebab itu, dengan segala kebesaran hati

Penelitian lain yang dilakukan oleh Clapp &amp; Dickstein (1984) pada wanita hamil yang terus berlatih olahraga daya tahan sampai saat melahirkan temyata mendapat