• Tidak ada hasil yang ditemukan

SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI GALILEO BATAM

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI GALILEO BATAM"

Copied!
197
0
0

Teks penuh

(1)

SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI GALILEO BATAM

MODUL 1 & 2 :

Purchasing & Budgeting

Program Studi Manajemen & Akuntansi STIE Galileo

(2)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kehadirat Allah Subhanahuwata’ala atas segala limpahan Rahmat dan hidayahNya, sehingga penulis Modul Budgeting Alhamdulillah dapat diselesaikan.

Dalam penulisan ini penulis mengingat banyaknya aspek yang dibahas dengan kekurangannya, maka dalam penulisan ini hanya ditujukan untuk masalah Penganggaran.

Penulisan modul ini dilakukan dalam rangka salah satu usaaha untuk membantu mahasiswa/i kelas Penganggaran Program Studi Manajemen & Akuntansi STIE GALILEO Batam khususnya dan yang lain pada umumnya.

Penulis menyadari bahwa, tanpa bantuan dari berbagai pihak, mulai dari perkuliahan sampai pada penulisan penyusunan modul ini, sulit bagi penulis untuk menyelesaikan modul ini, banyak pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan modul ini. Oleh karena itu pada kesempatan ini ijinkanlah penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada yang terhormat :

1. Bapak Ketua Yayasan STIE Galileo

2. Bapak/Ibu Program Studi Manajemen & Akuntansi

3. Bapak/Ibu rekan-rekan dosen baik yang berada dilingkungan STIE Galileo khususnya dan yang lain pada umumnya.

4. Istriku Nurhidayah, SHI, dan anakku Nadiyatul Insyirah dan Adzin Ahmad Ijlal yang telah memberikan bantuan dukungan materil dan moral terima kasih atas segala pengertian yang diberikan. Sementara waktu buatmu habis tersita buat menyelesaikan modul ini.

5. Semua Mahasiswa/i ku yang tidak bisa disebutkan namanya satu persatu, yang telah menjadi tempat untuk berdiskusi dan mengumpulkan bahan-bahan yang diperlukan dalam penulisan ini, sehingga modul ini dapat diselesaikan.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa dalam penyusunan modul ini pastilah tidak terlepas dari adanya kekurangan dan kelemahan, dengan penuh kerendahan hati penulis masih mengharapkan adanya masukan berupa saran dan pemikiran membangun yang berguna untuk kegiatan penulisan selanjutnya.

Akhir kata, saya berharap Allah SWT berkenan membalas segalaa kebaikan semua pihak yang telah membantu. Semoga apa yang terkandung dalam modul ini dapat memberikan manfaat bagi kita sekalian.

Batam,

HAZRIYANTO, Ph.D

(3)

DAFTAR ISI

Kata Pengantar Daftara Isi Pendahuluan Pembahasan :

BAB I PERKENALAN & PENDAHULUAN BAB II FORE CAST PENJUALAN

BAB III ANGGARAN JUALAN BAB IV ANGGARAN PRODUK

BAB V ANGGARAN BIAYA ADMINISTRASI BAB VI ANGGARAN VARIABEL

UTS BAB VII ANGGARAN PENGELUARAN MODAL

BAB VIII ANGGARAN PIUTANG BAB IX ANGGARAN KAS

BAB X ANGGARAN BEP & ANGGARAN SEDIAAN BAB XI PENGANGGARAN DENGAN RASIO KEUANGAN BAB XII PELAPORAN ANGGARAN

UAS Daftar pustaka

(4)

MATERI POKOK PEMBAHASAN

No Materi Pokok

1 Fore Cast penjualan 2 Anggaran Penjualan 3 Anggaran Produksi

4 Anggaran Biaya Administrasi 5 Anggaran Bahan Mentah 6 Anggaran Variabel

7 Anggaran Pengeluaran Modal 8 Anggaran Piutang

9 Anggaran Kas

10 Analisis BEP/Anggaran Sediaan 11 Penganggaran dengan Rasio Keuangan 12 Pelaporan Anggaran

Dosen

HAZRIYANTO

(5)

Oleh : Hazriyanto

Forcasting

(6)

RAMALAN PENJUALAN

Metode Ramalan Jualan:

Ø Ramalan jualan (sales forecasting) merupakan proses aktivasi memperkirakan produk yang akan dijual dimasa mendatang dalam keadaan tertentu dan dibuat berdasarkan data yang pernah terjadi dan/atau mungkin akan terjadi.

Ø Ramalan (forecasting) adalah proses aktivitas meramalkan suatu kejadian yang mungkin terjadi di masa mendatang dengan cara mengkaji data yang ada.

Ø Penjualan (selling) artinya proses menjual. Menjual (sale) artinya menyerahkan sesuatu kepada pembeli dengan harga tertentu.

Ø Ramalan jualan berarti proses meramalkan produk yang dijual dari perusahaan tertentu dan pada saat tertentu.

(7)

Metode Kualitatif:

Ramalan jualan yang dibuat secara kualitatif dapat menggunakan :

Ø Metode pendapat para tenaga penjual

Ø Metode pendapat para manajer divisi penjualan

Ø Metode pendapat eksekutif

Ø Metode pendapat para pakar dan

Ø Metode pendapat survei konsumen.

(8)

Metode Kuantitatif:

Ramalan jualan yang dibuat secara kuantitatif dapat menggunakan:

Ø Analisis lini produk

Ø Metode distribusi probabilitas

Ø Analisis tren dan analisis regresi

(9)

Metode distribusi probabilitas:

Jualan Probabiltas = Nilai Tertimbang

1.000 10% 100 unit

5.000 20% 1.000

9.000 35% 3.150

13.000 30% 3.900

17.000 5% 850

100% 9.000 unit

(10)

ü Analisis tren merupakan salah satu metode statistik yang mudah digunakan dalam meramalkan (jualan).

ü Analisis regresi juga termasuk dalam metode statistik untuk meramalkan (jualan).

(11)

Analisis Tren Garis Lurus:

ü Contoh:

Data jualan susu dari PT Imma selama 5 tahun (yaitu, tahun 2011, 2012, 2013, 2014, dan 2015) masing-masing sebanyak 130 unit, 145 unit, 150 unit, 165 unit, dan 170 unit. Dari data jualan susu selama 5 tahun (n=5), maka dapat dihitung ramalan jualan dengan menggunakan analisis garis lurus (terdiri atas metode kuadrat terkecil dan metode momen).

(12)

Metode kuadrat terkecil:

Ramalan jualan menggunakan metode kuadrat terkecil (least square) dapat dihitung dengan rumus:

Y = a + bX

b = (n∑XY - ∑X ∑Y)/(n∑X² - (∑X)²) a = (∑Y/n) – (b (∑X/n))

Y = variabel terikat, X = variabel bebas, a = nilai konstan, b = koefisien arah regresi, n = banyaknya data.

(13)

Untuk mengunakan rumus metode kuadrat terkecil dibuat Tabel dan dihitung sebagai berikut:

n Tahun Jualan (Y) X XY

1 2011 130 0 0 0

2 2012 145 1 1 145

3 2013 150 2 4 300

4 2014 165 3 9 495

5 2015 170 4 16 680

760 10 30 1.620

(14)

b = (5 x 1.620 – 10 X 760)/(5X30) – (10)²

= (8.100 – 7.600)/(150 – 100) = 10

a = (760/5) – 10(10/5) = 152 – 20 = 132

Nilai a dapat juga dicari dengan rumus sebagai berikut:

a = (∑X² ∑Y) – (∑X ∑XY)/n(∑X² - (∑X)²

a = (30 X 760) – (10 X 1.620)/5(30) – (10)² = 132 Persamaan tren garis lurus Y = a + bX

Ramalan jualan tahun 2016 = 132 + 10(5) = 182 unit.

(15)

Metode kuadrat terkecil dapat juga dihitung dengan rumus yang lain dan dengan menggunakan tabel hitung sebagai berikut:

a = ∑Y/n b = ∑XY/∑X² Syarat ∑X = 0

n Tahun Jualan (Y) X XY

1 2011 130 -2 -260 4

2 2012 145 -1 -145 1

3 2013 150 0 0 0

4 2014 165 1 165 1

5 2015 170 2 340 4

760 0 100 10

(16)

Ø a = 760/5 = 152

Ø b = 100/10 = 10

Persamaan tren garis lurus Y = a + bX

Ramalan jualan tahun 2016 = 152 + 10(3) = 182 unit

(17)

Analisis tren garis lurus dengan metode kuadrat terkecil (syarat

∑X = 0) seperti tampak pada tabel menggunakan data (n) ganjil. Bagaimana bila banyaknya data (n) adalah genap.

Misalkan jualan tahun 2012 sebanyak 145 unit, tahun 2013 sebanyak 150 unit, tahun 2014 sebanyak 165 unit, dan tahun 2015 sebanyak 170 unit. Berapakah ramalan jualan tahun 2016 bila menggunakan metode kuadrat terkecil (syarat ∑X

= 0)?

(18)

Jawaban:

Ramalan jualan tahun 2016 bila menggunakan metode kuadrat terkecil (syarat ∑X = 0) maka didapat angka sebagai berikut:

n Tahun Jualan

(Y) X XY

1 2012 145 -3 -435 9

2 2013 150 -1 -150 1

3 2014 165 1 165 1

4 2015 170 3 510 9

630 0 90 20

(19)

Ø a = 630/4 = 157,5

Ø b = 90/20 = 4,5

Persamaan tren garis lurus Y = a + bX Ramalan jualan tahun 2016 = 157,5 + 4,5(5)

= 180 unit.

(20)

By Hazriyanto

Penyususnan Anggaran Operasional

1&2

(21)

Penyusunan Anggaran Jualan

Anggaran jualan berarti anggaran hasil penjualan atau anggaran hasil proses menjual.

Anggaran jualan adalah rencana tertulis yang dinyatakan dalam angka dari produk yang akan dijual perusahaan pada periode tertentu.

jualan merupakan unsur dapatan (revenues) yang disebut dapatan jualan (sales revenue).

(22)

Jualan terdiri atas jualan kotor dan jualan bersih. Jualan

bersih diperoleh setelah dikurang dengan potongan dan retur jualan.

Jualan kotor Rp11.000,00

Potongan penjualan Rp750,00 Retur jualan Rp250,00

Rp1.000,00 -

Jualan bersih Rp10.000,00

(23)

Retur jualan adaalah dikembalikan barang yang dijual oleh pembeli kepada penjual karena akibat tidak sesuai dengan pesanan.

Potongan penjualan adalaah potongan harga jual yang diberikan penjual kepada pembeli.

(24)

Kegunaan Anggaran Jualan

Anggaran jualan merupakan dasar penyusunan anggaran lainnya dan umumnya disusun terlebih dahulu sebelum menyusun anggaran lainnya. Karena itu anggaran jualan sering disebut anggaran kunci.

Kegunaan anggaran jualan yang utama ada dua:

a) Anggaran jualan sebagai dasar penyusunan anggaran lainnya, dan

b) Anggaran jualan sebagai ujung tombak dalam pencapai tujuan perusahaan memperoleh laba.

(25)

Sebagai contoh

Saat ini perusahaan mampu menjual 1.000 unit dengan harga jual per unit Rp10,00. kemudian perusahaan meningkatkan harga jual per unit menjadi Rp11,00 dan barang yang dijual meningkat menjadi 1.100 unit. Perusahaan dapat juga

menurunkan harga jual per unit menjadi Rp9,00 untuk meningkatkan kuantitas barang yang dijual sebanyak 1.500 unit. Misalnya semua harga pokok barang terjual per unit (beban) Rp6,00 dapat ditekan menjadi Rp5,00. dengan cara demikian laba dapat ditingkatkan seperti perhitungan pada Tabel berikut.

(26)

Tabel

Usaha Meningkatkan Laba

Keterangan Semula Kuantitas dan

Harga Meningkat Harga Turun dan Kuantitas Meningkat

Kuantitas terjual 1.000 unit 1.100 unit 1.500 unit

Harga jual per unit Rp 10,00 Rp 11,00 Rp 9,00

Jualan Rp10.000,00 Rp12.100,00 Rp13.500,00

Harga pokok barang terjual Rp6.000,00 Rp5.500,00 Rp7.500,00

Laba kotor Rp4.000,00 Rp6.600,00 Rp6.000,00

Harga pokok barang terjual = 1.000 unit X Rp6,00 = Rp6.000,00

= 1.100 unit X Rp5,00 = Rp5.500,00

= 1.500 unit X Rp5,00 = Rp 7.500,00

(27)

Faktor yang Mempengaruhi Anggaran Jualan

Faktor pemasaran

Faktor keuangan

Faktor ekonomi

Faktor teknis

Faktor penduduk

Faktor kondisi

Faktor lainnya

(28)

Ilustrasi Penyusunan Anggaran Jualan

Sebagai ilustrasi penyusunan anggaran jualan digunakan data Perusahaan Kecap Asli yang mempunyai data jualan kecap selama 5 tahun seperti yang tampak pada tabel berikut.

(29)

Tahun Triwulan

Setahun

I II III IV

2011 28 32 36 34 130

2012 32 35 38 40 145

2013 36 37 38 39 150

2014 40 40 42 43 165

2015 44 41 41 44 170

Jumlah 180 185 195 200 760

Rata-rata 36 37 39 40 -

% 23,68 24,34 25,66 26,32 100

Perusahaan Kecap Asli Jualan

Tahun 2011, 2012, 2013, 2014, 2015 (dalam botol)

(30)

Daerah penjualan, yaitu Banjarmasin dan Martapura dengan perbandingan 2 : 1. Berikut harga jual per botol kecap:

Banjarmasin Martapura Kecap sedang Rp500 Rp600

Kecap manis Rp600 Rp750

Kecap asin Rp500 Rp600

Distribusi penjualan tiap jenis produk untuk kicap sedang sebanyak 50%, kecap manis 30% dan kecap asin 20%.

Dari data tersebut buatlah ramalan jualan tahun 2016 dan menyusun anggaran jualan.

(31)

Ramalan jualan menggunakan metode kuadrat terkecil

Persamaan tren garis lurus Y = a + bX

Y = 132 + 10X Ramalan jualan tahun 2016 = 132 + 10(5)

= 182

Ramalan jualan kecap tahun 2016 sebanyak 182 botol untuk daerah Banjarmasin dan Martapura dengan perbandingan 2 : 1.

(32)

Banjarmasin 2/3 X 182 = 121 botol

Martapura 1/3 X 182 = 61 botol + Jumlah = 182 botol

ü Banjarmasin

üKecap sedang 50% X 121 = 61 botol

üKecap manis 30% X 121 = 36 botol

üKecap asin 20% X 121 = 24 botol + Jumlah = 121 botol

(33)

ü Martapura

üKecap sedang 50% X 61 = 31 botol

üKecap manis 30% X 61 = 18 botol

üKecap asin 20% X 61 = 12 botol + Jumlah = 61 botol

Total = 182 botol

(34)

Banjarmasin

Triwulan I

Kecap sedang (23,68% x 61 = 14 botol) x Rp500 = Rp7.000 Kecap manis (23,68% x 36 = 9 botol) x Rp600 = Rp5.400 Kecap asin (23,68% x 24 = 6 botol) x Rp500 = Rp3.000

Jumlah I = 29 botol = Rp15.400

(35)

Triwulan II

Triwulan II

Kecap sedang (24,34% x 61 = 15 botol) x Rp500 = Rp7.500 Kecap manis (24,34% x 36 = 9 botol) x Rp600 = Rp5.400 Kecap asin (24,34% x 24 = 6 botol) x Rp500 = Rp3.000 Jumlah II = 30 botol = Rp15.900

(36)

Triwulan III

Triwulan III

Kecap sedang (25,66% x 61 = 16 botol) x Rp500 = Rp8.000 Kecap manis (25,66% x 36 = 9 botol) x Rp600 = Rp5.400 Kecap asin (25,66% x 24 = 6 botol) x Rp500 = Rp3.000 Jumlah II = 31 botol = Rp16.400

(37)

Triwulan IV

Triwulan IV

Kecap sedang (26,32% x 61 = 16 botol) x Rp500 = Rp8.000 Kecap manis (26,32% x 36 = 9 botol) x Rp600 = Rp5.400 Kecap asin (26,32% x 24 = 6 botol) x Rp500 = Rp3.000 Jumlah II = 31 botol = Rp16.400 Total triwulan I + II + III + IV = 121 botol = Rp64.100

(38)

Martapura

Triwula I

Kecap sedang (23,68% x 31 = 7 botol) x Rp600 = Rp4.200 Kecap manis (23,68% x 18 = 4 botol) x Rp750 = Rp3.000 Kecap asin (23,68% x 12 = 3 botol) x Rp600 = Rp1.800 Jumlah I = 14 botol = Rp9.000

(39)

Triwulan II

Triwula II

Kecap sedang (24,34% x 31 = 8 botol) x Rp600 = Rp4.800 Kecap manis (24,34% x 18 = 4 botol) x Rp750 = Rp3.000 Kecap asin (24,34% x 12 = 3 botol) x Rp600 = Rp1.800 Jumlah II = 15 botol = Rp9.600

(40)

Triwulan III

Triwula III

Kecap sedang (25,66% x 31 = 8 botol) x Rp600 = Rp4.800 Kecap manis (25,66% x 18 = 5 botol) x Rp750 = Rp3.750 Kecap asin (25,66% x 12 = 3 botol) x Rp600 = Rp1.800

Jumlah II I = 16 botol = Rp10.350

(41)

Triwulan IV

Triwula IV

Kecap sedang (26,32% x 31 = 8 botol) x Rp600 = Rp4.800 Kecap manis (26,32% x 18 = 5 botol) x Rp750 = Rp3.750 Kecap asin (26,32% x 12 = 3 botol) x Rp600 = Rp1.800

Jumlah IV = 16 botol = Rp10.350 Total triwulan I + II + III + IV = 61 botol = Rp39.300

(42)

Daerah Penjualan dan Jenis Kecap

Triwulan

Setahun

I II III IV

Bt Rp Bt Rp Bt Rp Bt Rp Bt Rp

Banjarmasin:

Kecap sedang Kecap manis Kecap asin

14 9 6

7.000 5.400 3.000

15 9 6

7.500 5.400 3.000

16 9 6

8.000 5.400 3.000

16 9 6

8.000 5.400 3.000

61 36 24

30.500 21.600 12.000 Total 1 29 15.400 30 15.900 31 16.400 31 16.400 121 64.100 Martapura:

Kecap sedang Kecap manis Kecap asin

7 43

4.200 3.000 1.800

8 43

4.800 3.000 1.800

8 53

4.800 3.750 1.800

8 53

4.800 3.750 1.800

31 1812

18.600 13.500 7.200

Total 2 14 9.000 15 9.600 16 10.350 16 10.350 61 39.300

Perusahaan Kecap Asli Anggaran Jualan

Tiap Triwulan pada Tahun 2016

(43)

Penyusunan Angggaran Produk

Produksi adalah proses mengolah produk, sedangkan produk adalah hasil produksi.

Anggaran biaya produksi adalah anggaran tentang produk, biaya produksi dibebankan, dan biaya produksi diperhitungkan selama periode tertentu dari suatu perusahaan.

Biaya pabrik adalah biaya yang terjadi dipabrik periode ini meliputi BBB, BTKL, dan biaya BOP.

Biaya produk atau harga pokok produk atau harga perolehan adalah semua biaya yang berkaitan dengan produk yang diperoleh.

Produktivitas adalah kemampuan untuk menghasilkan sesuatu.

(44)

Penyusunan anggaran produk dapat disusun dengan empat cara, yaitu mengutamakan stabilitas produk, mengutamakan stabilitas sediaan, gabungan antara keduanya serta

disesuaikan dengan keperluan manajemen.

Perusahaan yang mengutamakan stabilitas produk dalam

penyusunan anggaran produk maka tingkat sediaan dibiarkan berfluktuasi dengan syarat sediaan awal dan akhir sesuai

rencana semula, disisi lain pola produk juga harus konstan.

Namun apabila dalam satu periode jumlah keseluruhan

produk dibagi sama dalam masing-masing periode yang lebih pendek tidak menghasilkan bilangan bulat, maka hanya

beberapa periode produk yang stabil.

(45)

Mengutamakan stabilitas produk

Satu macam produk.

Sebuah Perusahaan Kecap hanya memproduksi satu jenis kecap dan jualan tahun 2016 tiap triwulan dianggarkan pada

triwulan: I = 43 botol, II = 45 botol, III = 47 botol, IV = 47 botol, dan setahun 182 botol.

Direncanakan sediaan produk jadi awal 13 botol dan akhir 15 botol. Dari data tersebut dapat disusun angggaran produk

tiap triwulan dengan mengutamakan stabilitas produk sebagai berikut.

(46)

Jualan setahun ...182 botol Sediaan produk jadi akhir ...15 botol + Produk siap dijual ...197 botol Sediaan produk jadi awal ...13 botol – Anggaran produk ...184 botol

Anggaran produk tiap triwulan = 184/4 = 46 botol

Dari perhitungan tersebut dibuat angggaran produk seperti tabel berikut.

(47)

Tabel

Anggaran Produk Satu Macam cara Stabilitas Produk

Perusahaan Kecap Asli Anggaran Produk

Tahun Berakhir 31 Desember 2015 (dalam botol)

Keterangan Triwulan

Setahun

I II III IV

1. Jualan

2. Sediaan akhir + 43

16 45

17 47

16 47

15 182

15 3. Produk siap dijual

4. Sediaan awal - 59

13 62

16 63

17 62

16 197

13

(48)

Bermacam produk

Taksiran sediaan produk jadi awal dan akhir pada Perusahaan Kecap Asli tahun 2016 sebagai berikut.

Jenis kecap Sediaan awal Sediaan akhir

Sedang (S) 4 botol 7 botol

Manis (M) 3 botol 3 botol

Asin (A) 3 botol 5 botol

Total (T) 10 botol 15 botol

Anggaran jualan Perusahaan Kecap Asli pada tahun 2016 dapat dibuat secara ringkas seperti tabel berikut.

(49)

Anggaran Jualan

Jenis Kecap

Triwulan

Setahun

I II III IV

B M T B M T B M T B M T B M T

Sedanag Manis Asin

14 96

7 43

21 139

15 96

8 43

23 139

16 96

8 53

24 149

61 3624

8 53

24 149

61 3624

31 1812

92 5436 Jumlah

29 14 43 30 15 45 31 16 47 31 16 47 121 61 182

Perusahaan Kecap Asli Anggaran Jualan

Tahun Berakhir 31 Desember 2016 (dalam Botol)

B = Banjarmasin, M = Martapura, T = Total

(50)

Bila tidak terdapat sediaan produk dalam proses awal dan akhir, maka dapat disusun anggaran produk sebagai berikut.

Jualan tahun 2016 total 182 botol Sediaan produk jadi akhir 15 botol +

Produk siap dijual 197 botol

Sediaan produk jadi awal 10 botol – Anggaran produk tahun 2016 187 botol

Bila anggaran produk dibuat setahun dalam tiap triwulan, maka

produk tiap triwulan = 187/4 = 46,75 botol atau bila dibulatkan 40 botol tiap triwulan. Bila diproduksi tiap triwulan = 40 botol maka dalam setahun diproduksi hanya 160 botol (4 x 40). Dengan demikian, terdapat kekurangan = 187 – 160 = 27 botol.

(51)

Kekurangan 27 botol ini ditambahkan pada tingkat jualan tertinggi pada tahun tersebut, yaitu triwulan II, III, IV masing-masing mendapat tambahan 9 botol (27/3).

Jad, pada triwulan II, III, IV diproduksi masing-masing 49 botol (40+9), sehingga:

Tiga triwulan = 147 botol Triwulan I diproduksi = 40 botol + Produk jadi setahun = 187 botol

(52)

Berdasarkan perbandingan jualan, maka rincian produknya sebagai berikut.

Triwulan I

Kecap sedang (21/43) x 40 = 20 botol

Kecap manis (13/43) x 40 = 12 botol

Kecap asin (9/43) x 40 = 8 botol +

Jumlah produk triwulan I = 40 botol

Jualan kecap triwulan II, III, dan IV untuk masing-masing jenis kecap berjumlah:

Kecap sedang = 23+24+24 = 71botol

Kecap manis = 13+14+14 = 41botol

Kecap asin = 9+9+9 = 27 botol +

Jumlah = 139 botol

(53)

Kecap sedang = (71/139) x 49 = 25 botol

Kecap manis = (41/139) x 49 = 14 botol

Kecap asin = (27/139) x 49 = 10 botol +

= 49 botol

Dari perhitungan tersebut diatas dibuatlah anggaran produk yang mengutamakan stabilitas produk seperti Tabel berikut.

Rincian produk triwulan II, III,dan IV

masing-masing sebagai berikut:

(54)

Perusahaan Kecap Asli Anggaran Produk

Tahun Berakhir 31 Desember 2016 (dalam Botol)

Keterang an

Triwulan

Setahun

I II III IV

S M A T S M A T S M A T S M A T S M A T

Jualan Sediaan akhir +

213 13

2 9

2 43 7 23

5 13

3 9

3 45 11 24

6 14

3 9

4 47

13 24

7 14

3 9

5 47

15 92 7 54

3 36

5 182 15 Kebutuhan

Sediaan awal -

24

4 15

3 11

3 50 10 28

3 16 2 12

2 56 7 30

5 17

3 13

3 60

11 31

6 17

3 14

4 62

13 99 4 57

3 41

3 197 10

Produk jadi 20 12 8 40 25 14 10 49 25 14 10 49 25 14 10 49 95 54 38 187

(55)

Mengutamakan Stabilitas Sediaan

Dengan cara mengutamakan stabilitas sediaan, mestinya rencana sediaan stabil, artinya sediaan awal sama dengan sediaan akhir dan tingkat produk dibiarkan berubah.

Satu macam produk.

Ilusstrasi Perusahaan Kecap Asli yang memproduksi satu macam produk kecap dan jualan yang dianggarkan tahun 2016 sebagai berikut:

Triwulan I 43 botol

II 45 botol III 47 botol IV 47 botol

182 botol

Adapun sediaan awal dan akhir direncanakan sama yaitu 10 botol.

Perhitungan angggaran produk sebagai berikut.

(56)

Perusahaan Kecap Asli Anggaran Produk

Tahun yang Berakhir 31 Desember 2016 (dalam Botol)

Keterangan Triwulan

Setahun

I II III IV

1. Jualan

2. Sediaan akhir + 43

10 45

10 47

10 47

10 182

10 3. Produk siap dijual

4. Sediaan awal - 53

10 55

10 57

10 57

10 192

10

5. Produk 43 45 47 47 182

(57)

Bila rencana sediaan awal tahun berbeda dengan akhir tahun, sedangkan anggaran produk disusun dengan mengutamakan stabilitas sediaan. Dengan demikian, terjadi selisih antara

sediaan awal dengan sediaan akhir. Selisih tersebut dibagi tiga apabila ingin menyusun anggaran produk setahun yang

dirinci dalam tiap triwulan. Bila selisih tersebut setelah dibagi tiga menghasilkan bilangan bulat, maka hasilnya ini

dialokasikan tiap triwulan untuk menambah sediaan akhir yang terendah.

Misalnya Perusahaan Kecap Asli yang memproduksi satu jenis

(58)

Saldo awal tahun 2016 sebanyak 10 botol

Sediaan akhir tahun 2016 sebanyak 13 botol -

Selisih 3 botol

Selisih 3 botol tersebut dibagi tiga yang kemudian menhasilkan 1 botol. Berarti sediaan awal tiap triwulan ditambah 1 botol, kecuali sediaan triwulan I.

Bila rencana jualan sama dengan semula dan perusahaan ingin menyusun anggaran produk dengan mengutamakan stabilitas sediaan, maka dibuat seperti berikut.

(59)

Perusahaan Kecap Asli Anggaran Produk

Tahun yang Berakhir 31 Desember 2016 (dalam Botol)

Keterangan Triwulan

Setahun

I II III IV

1. Jualan

2. Sediaan akhir + 43

11 45

11 47

11 47

13 182

13 3. Produk siap dijual

4. Sediaan awal - 54

10 56

11 58

11 60

11 195

10

5. Produk 44 45 47 49 185

(60)

Bermacam produk

Ilustrasi Perusahaan Kecap Asli dengan data seandainya perusahaan memproduksi lebih dari satu macam produk, sedangkan sediaan awal dan akhir tahun direncanakan tidak sama besarnya, maka selisih sediaan awal dan akhir tersebut dialokasikan dengan cara sebagai berikut.

Keterangan Rencana Sediaan 2016

Selisih Selisih Dibagi 3

Awal Akhir

Sedang (S) 4 botol 7 botol 3 1

Manis (M) 3 botol 3 botol 0 0

Asin (A) 3 botol 5 botol 2 0,67

Total (T) 10 botol 15 botol 5 1,67

(61)

Perusahaan Kecap Asli Anggaran Produk

Tahun Berakhir 31 Desember 2016 (dalam Botol)

Keterang an

Triwulan

Setahun

I II III IV

S M A T S M A T S M A T S M A T S M A T

Jualan Sediaan akhir +

215 13

3 9

3 43 11 23

5 13

3 9

4 45 12 24

5 14

3 9

4 47

12 24

7 14

3 9

5 47

15 92 7 54

3 36

5 182 15 Kebutuhan

Sediaan awal -

26

4 16

3 12

3 54 10 28

5 16 3 13

3 57 11 29

5 17

3 13

4 59

12 31

5 17

3 14

4 62

12 99 4 57

3 41

3 197 10

Produk jadi 22 13 9 44 23 13 10 46 24 14 9 47 26 14 10 50 95 54 38 187

(62)

Bila sediaan awal lebih besar dari sediaan akhir, misalnya:

Keterangan Rencana Sediaan 2016

Selisih Selisih Dibagi 3

Awal Akhir

Sedang (S) 4 botol 7 botol 3 1

Manis (M) 3 botol 3 botol 0 0

Asin (A) 3 botol 5 botol 2 0,67

Total (T) 10 botol 15 botol 5 1,67

Misalnya rencana jualan sama dengan tabel yang baru dibahas, maka anggrana produk dapat kita susun seperti pada tabel berikut.

(63)

Keterang an

Triwulan

Setahun

I II III IV

S M A T S M A T S M A T S M A T S M A T

Jualan Sediaan akhir +

216 13

3 9

4 43 13 23

6 13

3 9

4 45 13 24

6 14

3 9

5 47

14 24

4 14

3 9

3 47

10 92 4 54

3 36

3 182 10 Kebutuhan

Sediaan awal -

277 16

3 13

3 56 15 29

6 16 3 13

4 58 13 30

6 17

3 14

4 61

13 28

6 17

3 12

5 57

14 96 7 57

3 39

5 192 15

Produk jadi 20 13 8 41 23 13 9 45 24 14 10 48 22 14 7 43 89 54 34 177

Perusahaan Kecap Asli Anggaran Produk

Tahun Berakhir 31 Desember 2016 (dalam Botol)

(64)

Gabungan antara Stabilitas Produk dengan Stabilitas Sediaan

Contoh: sediaan minimal sebanyak 8 botol dan maksimal 18 botol.

Produk jadi minimal tiap triwulan sebanyak 40 botol dan

maksimal 60 botol. Rencana sediaan awal tahun 2016 sebanyak 10 botol dan sediaan akhir 15 botol. Anggaran jualan dari Perusahaan Kecap Asli yang memproduksi satu macam produk selama tahun 2016 sebagai berikut.

Triwulan I 43 botol II 45 botol III 47 botol IV 47 botol

Setahun 182 botol

Dari data tersebut diatas dapat dibuat anggaran produk dengan cara kombinasi seperti berikut.

(65)

Keterangan Triwulan

Setahun

I II III IV

1. Jualan

2. Sediaan akhir + 43

11 45

11 47

13 47

15 182

15 3. Produk siap dijual

4. Sediaan awal - 54

10 56

11 60

11 62

13 197

10

5. Produk 44 45 49 49 187

Perusahaan Kecap Asli Anggaran Produk

Tahun yang Berakhir 31 Desember 2016 (dalam Botol)

(66)

Disesuaikan dengan Keperluan Manajemen

Contoh: Anggaran jualan Perusahaan Kecap Asli yaitu triwulan I, II, III, dan IV masing-masing 43 botol, 45 botol, 47 botol, 47 botol.

Kemudian manajemen menetapkan sediaan akhir triwulan I, II, III, dan IV masing-masing 11 botol, 12 botol, 13 botol dan 13 botol.

Dengan demikian, bila sediaan awal tahun sebanyak 10 botol maka anggaran produk dibuat seperti berikut. Dengan tingkat sediaan akhir seperti diatas berarti manajemen menghendaki putaran

sediaan triwulan I = 43 botol /11 botol = 3,91 kali, triwulan II = 45 botol / ((11 botol + 12 botol) /2) = 3,91 kali, triwulan III = 47 botol / ((12 botol + 13 botol)/2) = 3,76 kali, triwulan IV = 47 botol / ((13 botol + 13 botol)/2) = 3, 62 kali.

(67)

Tingkat putaran sediaan dihitung dengan rumus:

Perputaran sediaan produk jadi

= jualan/rata-rata sediaan produk jadi Putaran sediaan produk jadi

= (Sediaan produk jadi awal + Sediaan produk jadi akhir)/2

(68)

Keterangan Triwulan

Setahun

I II III IV

1. Jualan

2. Sediaan akhir + 43

11 45

12 47

13 47

13 182

13 3. Produk siap dijual

4. Sediaan awal - 54

10 57

11 60

12 60

13 195

10

5. Produk 44 46 48 47 185

Perusahaan Kecap Asli Anggaran Produk

Tahun yang Berakhir 31 Desember 2016 (dalam Botol)

(69)

By Hazriyanto

Penyususnan Anggaran Operasional

3

(70)

Penyususnan Anggaran Beban Administrasi dan Anggaran Rugi Laba

Beban administrasi dan umum terjadinya pada bagian

personalia, bagian tata usaha, bagian kerumahtanggaan kantor, manajemen puncak, bagian administrasi keuangan, dan bagian umum lainnya.

Beban yang termasuk beban administrasi dan umum adalah:

1. Beban gaji manajemen puncak

2. Beban gaji pegawai kantor

3. Beban pemeliharan kantor

4. Beban sewa kantor

5. Beban telepon, listrik, air keperluan kantor Beban pernik kantor

(71)

7. Beban depresiasi bangunan dan alat kantor, serta kendaraan kantor

8. Beban penarikan dan seleksi pegawai kantor

9. Beban pendidikan dan pengembangan pegawai kantor

10. Beban administrasi dan umum lainnya.

(72)

Kegunaan anggaran beban administrasi dan umum: secara umum untuk mendukung kegiatan produksi dan kegiatan penjualan.

Faktor yang mempengaruhi penyusunan anggaran beban administrasi dan umum; beban depreasi bangunan kantor, beban depresiasi alat kantor, beban depresiasi kendaraan kantor merupakan unsur beban administrasi dan umum.

Dalam menentukan beban depresiasi ada tiga faktor yang perlu dipertimbangkan:

Harga pokok (cost)

Nilai sisa

Masa manfaat

(73)

Harga pokok adalah nilai uang yang dikorbankan untuk memperoleh harta.

Masa manfaat adalah taksiran umur kegunaan aktiva tetap.

(74)

Metode Beban Tetap

Metode beban tetap terdiri atas; metode garis lurus, dan metode jam kerja/metode jam jasa.

Metode beban tetap cocok diterapkan untuk aktiva tetap berwujud yang mempunyai ciri:

Kegunaan ekonomis aktiva menurun sebanding tiap periode

Reparasi dan pemeliharaan tiap periode jumlahnya relatif tetap

Kegunaan ekonomis berkurang karena lewat waktu

Kapasitas aktiva tetap tiap periode relatif tetap

(75)

Misalkan harga pokok bangunan Rp10.000,- nilai residu Rp1.000,- dan masa manfaat 4 tahun, beban depresiasi

selama masa manfaat dihitung dengan metode garis lurus dan metode jam kerja sebagai berikut.

Metode garis lurus

Depresiasi = (Harga pokok – Nilai Residu) / Masa Manfaat

Depresiasi bagunan setahun = (Rp10.000,00 – Rp1.000,00)/4 = Rp2.250,00. atau

Rp2.250,00/Rp9.000,00 = 25% setahun.

Depresiasi selama masa manfaat menggunakan metode garis lurus seperti tabel berikut.

(76)

Tabel

Depresiasi Metode Garis Lurus

Tahun Beban Depresiasi Cadangan

Depresiasi Nilai Buku 0

12 3 4

-

Rp2.250,00 Rp2.250,00 Rp2.250,00 Rp2.250,00

-

Rp2.250,00 Rp4.500,00 Rp6.750,00 Rp9.000,00

Rp10.000,00 Rp7.750,00 Rp5.500,00 Rp3.250,00 Rp1.000,00

Total Rp9.000,00 Nilai Residu Rp1.000,00

(77)

Metode jam kerja / metode jam jasa

Depresiasi per jam = (Harga Pokok – Nilai Residu)/Jumlah jam.

Depresiasi setahun = (Jumlah Jam/Jumlah Masa Manfaat) Depresiasi Per Jam.

Depresiasi per jam = (Rp10.000,00 – Rp1.000,00)/10.000 jam = Rp0,9

Depresiasi per jam = (10.000 jam : 4 tahun) Rp0,9 =

Rp2.250,00. atau Rp2.250,00 : 10.000 jam = Rp0,9 per jam.

Depresiasi kendaraan selama masa manfaat, menggunakan metode jam kerja/jam jasa seperti tabel berikut.

(78)

Tabel

Depresiasi Metode Jam Kerja/Jam Jasa

Tahun Beban Depresiasi Cadangan

Depresiasi Nilai Buku 01

23 4

Rp2.250,00- Rp2.250,00 Rp2.250,00 Rp2.250,00

Rp2.250,00- Rp4.500,00 Rp6.750,00 Rp9.000,00

Rp10.000,00 Rp7.750,00 Rp5.500,00 Rp3.250,00 Rp1.000,00

Total Rp9.000,00 Nilai Residu Rp1.000,00

Baik dengan metode garis lurus, maupun dengan metode jam kerja, beban depresiasi tiap tahun tetap Rp2.250,00. oleh karena itu,

disebut metode beban tetap.

(79)

Metode Beban Berkurang

Metode beban berkurang didasarkan pada teori bahwa aktiva yang baru akan dapat digunakan dengan lebih efisien, dengan tingkat kapasitas yang besar dan semakin lama

kemampuannya semakin menurun. Dengan demikian, beban depresiasi juga semakin menurun.

Misalkan kendaraan dengan harga pokok Rp10.000,00 mempunyai masa manfaat 4 tahun dengan nilai residu

Rp1.000,00. beban depresiasi dapat dihitung dengan metode persentasi tetap dari nilai buku, dan metode jumlah angka tahun sebagai berikut.

(80)

Metode persentasi tetap dari nilai buku

Metode ini terdiri atas dua metode:

1. Metode saldo menurun berganda (double declining balance method)

2. Dan metode saldo menurun (declining balance method)

(81)

Seperti perhitungan metode garis lurus kendaraan disusut setahun 25% kemudian depresiasi setahun 25% x 2 = 50%.

Jadi depresiasi setahun menurut metode saldo berganda adalah 50% maka depresiasi setahun 50% perhitungannya seperti tabel berikut.

(82)

Tabel

Depresiasi Metode Saldo Menurun Berganda

Tahun Perhitungan Beban

Depresiasi Cadangan

Depresiasi Nilai Buku

12 3 4

Rp-

50% X 10.000 = 5.000 50% X 5.623 = 2.500 50% X 3.162 = 1.250 50% X 1.778 = 889

Rp- 5.377 7.500 8.750 9.375

Rp10.000 5.000 2.500 1.250 625

(83)

Metode jumlah angka tahun

Tahun Bobot Perhitungan Beban

Depresiasi Cadangan

Depresiasi Nilai Buku 01

23 4

04 32 1

4/10 X 9.000 = 3.600Rp- 3/10 X 9.000 = 2.700 2/10 X 9.000 = 1.800 1/10 X 9.000 = 900

3.600Rp 6.300 8.100 9.000

Rp10.000 6.400 3.700 1.900 1.000 Tabel

Depresiasi Metode Jumlah Angka Tahun

(84)

Metode Beban Variabel

1. Metode satuan hasil produksi

Depresiasi per unit produk = Harga pokok – Nilai

residu/Jumlah produk yang dihasilkan selama masa manfaat

2. Metode satuan jasa

Depresiasi per satuan jasa = Hp –Nr/Jumlah satuan jasa selama masa manfaat

(85)

Penyusunan anggaran beban administrasi umum

Data PT Ungah selama tahun 2017 sebagai berikut.

1. Ditaksir gaji sebulan untuk: bidang personalia Rp5.000 bidang kesekretariatan Rp6.000, direksi dan komisaris Rp8.000, bidang tata usaha Rp3.000, bidang keuangan Rp7.000

2. Beban pernik kantor ditaksir triwulan I Rp12.000,

triwulan II dan III masing-masing Rp10.000, triwulan IV Rp14.000.

3. Beban telepon, air, listrik, ditaksir tiap bulan sebagai

berikut: bulan pertama dan kedua masing-masing Rp8.000.

(86)

4. Bulan kedelapan sampai kedua belas masing-masing Rp9.000

5. Beban depresiasi bangunan dan alat kantor tiap bulan ditaksir Rp2.500

6. Pada awal tahun direncanakan beli kendaraan kantor dengan harga pokok Rp100.000 niilai residu Rp10.000 masa manfaat 4 tahun, selama masa manfaat ditaksir dapat menempuh 80.000 km dan tahun pertama ditaksir dapat menempuh 30.000 km, yaitu triwulan I 9.000 km,

triwulan II 8.000 km, triwulan III 7.000 km, triwulan IV 6.000 km. Depresiasi menggunakan metode satuan jasa.

(87)

7. Beban pemeliharaan kantor berdasarkan data dari bidang kerumahtenggaan ditaksir tiap bulan Rp10.000, kecuali untuk bulan juli dan agustus masing-masing sebesar

Rp12.000, dan desember Rp14.000.

8. Beban administrasi dan umum lainnya ditaksir sebulan Rp7.000.

Berdasarkan data tersebut perusahaan ingin menyusun anggaran beban administrasi dan umum tiap triwulan tahun 2017

dengan perhitungan sebagai berikut.

(88)

Beban gaji = 3 x Rp8.000 = Rp24.000

Beban gaji pegawai kantor tiap triwulan = 3 x (Rp5.000 + Rp6.000 + Rp3.000 + Rp7.000) = Rp63.000

Beban telepon, air, dan listrik triwulan I = 2 x Rp8.000 + Rp10.000 = Rp26.000 II = 3 x Rp10.000 = Rp30.000

III = Rp10.000 + 2 x Rp9.000 = Rp28.000 IV = 3 x Rp9.000 = Rp27.000

Beban depresiasi bangunan dan alat kantor tiap triwulan = 3 x Rp2.500 = Rp7.500

(89)

Beban depresiasi kendaraan per km = (Rp100.000 – Rp10.000) / 80.000 km = Rp1,125

Beban depresiasi kendaraan kantor triwulan:

I = 9.000 km x Rp1,125 = Rp10.125 II = 8.000 km x Rp1,125 = Rp9.000 III = 7.000 km x Rp1,125 = Rp7.875 IV = 6.000 km x Rp1,125 = Rp6.750

30.000 km x Rp1,125 = Rp33,750

(90)

Beban pemeliharaan kantor triwulan:

I & II masing-masing = 3 x Rp10.000 = Rp30.000 III = (2 x Rp12.000) + Rp10.000 = Rp34.000 IV = (2 x Rp10.000) + Rp14.000 = Rp34.000

Beban administrasi dan umum lainnya tiap triwulan = 3 x Rp7.000 = Rp21.000.

(91)

Tabel

Anggaran Beban Administrasi dan Umum

Keterangan Triwulan Setahun

I II III IV

Beban gaji komisaris & direksi Beban gaji pegawai kantor Beban telepon, air, dan listrik Beban depresiasi

Beban pemeliharaan

Beban administrasi lainnya

Rp24.000 63.000 26.000 17.625 30.000 21.000

Rp24.000 63.000 30.000 16.500 30.000 21.000

Rp24.000 63.000 28.000 15.375 34.000 21.000

Rp24.000 63.000 27.000 14.250 34.000 21.000

96.000 252.000 111.000 63.750 128.000

84.000 Beba administrasi & umum 181.625 184.500 185.375 183.250 734.750

PT Ungah

Anggaran Beban Administrasi & umum Tahun Berakhir 31 Desember 2017

(92)

By Hazriyanto

Anggaran Bahan Mentah

(93)
(94)
(95)
(96)
(97)
(98)
(99)
(100)
(101)
(102)

By Hazriyanto

Anggaran Variabel

(103)

Penyususnan Anggaran dalam Perencanaan Laba

Perencanaan laba dalam penyusunan anggaran laba rugi

mengunakan metode penghargapokokan (variable costing) sangat bermanfaat dalam pembuatan rencana jangka pendek.

Ilustrasi perencanaan laba jangka pendek digunakan data PT Iqra tahun 2016 sebagai berikut:

Biaya bahan baku per unit Rp 1.000

Biaya tenaga kerja langsung per unit Rp 1.100 Biaya overhead pabrik variabel per unit Rp 1.380 Biaya usaha variabel per unit Rp 50

(104)

Biaya tetap per triwulan Rp 2.350.000

Harga jual per unit Rp 5.530

Rumus perencanaan laba dengan menggunakan persamaan akunting sebagai berikut:

Jualan = FC + VC + Laba

Rp 5.530 = Rp 2.350.000 + Rp 3.530 + 0 Rp 5.530 – Rp 3.530 = Rp 2.350.000

Rp 2.000 = Rp 2.350.000

Rp 2.350.000/Rp 2.000 = 1.175 unit

(105)

Berdasarkan perhitungan tersebut dapat dibuat rumus jualan dalam unit sebagai berikut:

Jualan dalam unit = FC + Laba

Harga jual per unit – VC per unit

(106)

Rumus jualan dalam uang (Rp) sebagai berikut:

Jualan dalam uang (Rp) = FC + Laba 1 – VC/S

Referensi

Dokumen terkait

Data D2 yang tidak masuk pada D3 Serdos Gelombang 201701 ini akan dicek kembali pada database di PDPT untuk penyusunan data D3 Serdos selanjutnya.. PT dapat mengusulkan dosen yang

Data D2 yang tidak masuk pada D3 Serdos Gelombang 201602 ini akan dicek kembali pada database di PDPT untuk penyusunan data D3 Serdos selanjutnya.. PT dapat mengusulkan dosen yang

Data D2 yang tidak masuk pada D3 Serdos Gelombang 201602 ini akan dicek kembali pada database di PDPT untuk penyusunan data D3 Serdos selanjutnya.. PT dapat mengusulkan dosen yang

Data D2 yang tidak masuk pada D3 Serdos Ge lombang 20150 2 ini akan dice k kem bali pada database di PDPT untuk penyusunan data D3 Ser dos selanjutnya.. PT dapat mengusulkan dosen

Data D2 yang tidak masuk pada D3 Serdos Ge lombang 20150 2 ini akan dice k kem bali pada database di PDPT untuk penyusunan data D3 Ser dos selanjutnya.. PT dapat mengusulkan dosen

Data D2 yang tidak masuk pada D3 Serdos Ge lombang 20150 2 ini akan dice k kem bali pada database di PDPT untuk penyusunan data D3 Ser dos selanjutnya.. PT dapat mengusulkan dosen

Data D2 yang tidak masuk pada D3 Serdos Ge lombang 20150 2 ini akan dice k kem bali pada database di PDPT untuk penyusunan data D3 Ser dos selanjutnya.. PT dapat mengusulkan dosen

Data D2 yang tidak masuk pada D3 Serdos Ge lombang 20150 2 ini akan dice k kem bali pada database di PDPT untuk penyusunan data D3 Ser dos selanjutnya.. PT dapat mengusulkan dosen