BAB II DIAGNOSIS KEMISKINAN
”Kemiskinan tidak hanya ditentukan oleh ukuran pendapatan, tetapi juga menyangkut pemenuhan hak-hak dasar dalam bidang sosial, ekonomi, budaya dan politik”
“Pemahaman terhadap suara masyarakat miskin merupakan bagian integral dari penyusunan strategi penanggulangan kemiskinan”
2.1 Definisi Kemiskinan
Dalam konteks strategi penanggulangan kemiskinan ini, kemiskinan didefinisikan sebagai kondisi di mana seseorang atau sekelompok orang, laki-laki dan perempuan, tidak terpenuhi hak-hak dasarnya untuk mempertahankan dan mengembangkan kehidupan yang bermartabat.
Definisi kemiskinan ini beranjak dari pendekatan berbasis hak yang mengakui bahwa masyarakat miskin, baik laki-laki maupun perempuan, mempunyai hak-hak dasar yang sama dengan anggota masyarakat lainnya.
Kemiskinan tidak lagi dipahami hanya sebatas ketidakmampuan ekonomi, tetapi juga kegagalan pemenuhan hak-hak dasar dan perbedaan perlakuan bagi seseorang atau sekelompok orang, laki-laki dan perempuan, dalam menjalani kehidupan secara bermartabat.
Hak-hak dasar terdiri dari hak-hak yang dipahami masyarakat miskin sebagai hak mereka untuk dapat menikmati kehidupan yang bermartabat dan hak yang diakui dalam peraturan perundang-undangan. Hak-hak dasar
yang diakui secara umum antara lain meliputi terpenuhinya kebutuhan pangan, kesehatan, pendidikan, pekerjaan, perumahan, air bersih, pertanahan, sumberdaya alam dan lingkungan hidup, rasa aman dari perlakuan atau ancaman tindak kekerasan, dan hak untuk berpartisipasi dalam kehidupan sosial-politik, baik bagi perempuan maupun laki-laki.
Hak-hak dasar tidak berdiri sendiri tetapi saling mempengaruhi satu sama lain sehingga tidak terpenuhinya satu hak dapat mempengaruhi pemenuhan hak lainnya.
Dengan diakuinya konsep kemiskinan berbasis hak, maka kemiskinan dipandang sebagai suatu peristiwa penolakan atau pelanggaran hak dan tidak terpenuhinya hak. Kemiskinan juga dipandang sebagai proses perampasan atas daya rakyat miskin. Konsep ini memberikan pengakuan bahwa orang miskin terpaksa menjalani kemiskinan dan seringkali mengalami pelanggaran hak yang dapat merendahkan martabatnya sebagai manusia. Oleh karena itu, konsep ini memberikan penegasan terhadap kewajiban negara untuk menghormati, melindungi dan memenuhi hak-hak dasar masyarakat miskin.
Kemiskinan merupakan fenomena yang kompleks, bersifat multidimensi dan tidak dapat secara mudah dilihat dari suatu angka absolut. Luasnya wilayah dan sangat beragamnya budaya masyarakat menyebabkan kondisi dan permasalahan kemiskinan di Indonesia menjadi sangat beragam dengan sifat-sifat lokal yang kuat dan pengalaman kemiskinan yang berbeda antara perempuan dan laki-laki. Kondisi dan permasalahan kemiskinan secara tidak langsung tergambar dari fakta yang diungkapkan menurut persepsi dan pendapat masyarakat miskin itu sendiri, berdasarkan temuan dari berbagai kajian, dan indikator sosial dan ekonomi yang dikumpulkan dari kegiatan sensus dan survai.
2.2 Gambaran Umum
Indonesia masih menghadapi masalah kemiskinan yang antara lain ditandai oleh jumlah penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan dan yang rentan untuk jatuh ke bawah garis kemiskinan. Pada tahun 2004, BPS
Strategi Nasional Penanggulangan Kemiskinan
14
memperkirakan sekitar 36,146 juta jiwa atau 16,66% dari jumlah penduduk hidup dengan pengeluaran sebulan lebih rendah dari garis kemiskinan, yaitu jumlah rupiah yang diperlukan untuk membayar harga makanan setara 2.100 kkal sehari dan pengeluaran minimal untuk perumahan, pendidikan, pemeliharaan kesehatan, dan transportasi. Berdasarkan perkembangan penduduk miskin (Gambar 2.1), fluktuasi angka kemiskinan akibat krisis ekonomi pada tahun 1997 memperlihatkan kerentanan masyarakat untuk jatuh miskin terutama masyarakat yang berada sedikit di atas garis kemiskinan. Menurut perkiraan Bank Dunia sekitar 53,4% penduduk atau sekitar 114,8 juta jiwa hidup dengan tingkat pengeluaran kurang dari US $ 2 PPP per orang per hari.
4 3 .2 3 5
3 0 2 7 .2 2 5 .9 2 2 .5
3 4 .5 4 7 .9
3 8 .4 3 7 .4 3 6 .1 5 4 ,2
17.4 16.7 18.2 23.4
17.5 13.7 11.3
15.1 17.4 21.6 28.6 40.1
Gambar 2.1 Perkembangan Jumlah Penduduk Miskin Indonesia 1976-2004
Masalah kemiskinan juga ditandai oleh rendahnya mutu kehidupan masyarakat. Berbagai indikator pembangunan manusia dan indikator kemiskinan manusia menunjukkan ketertinggalan Indonesia dibanding dengan beberapa negara tetangga seperti Malaysia, Thailand dan Philipina.
Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia pada tahun 2002 masih lebih rendah, dan Indeks Kemiskinan Manusia (IKM) masih lebih tinggi dibanding negara-negara tersebut. Saat ini Indonesia hampir setara dengan Vietnam yang sepuluh tahun yang lalu jauh tertinggal di bawah Indonesia. Beberapa
0 10 20 30 40 50 60
1976 1980 1984 1987 1990 1993 1996 1996 1999 2002 2003 2004 Revisi metode
Jumlah p enduduk miskin (jut a) % p enduduk miskin
indikator IPM dan IKM tahun 2002 menunjukkan bahwa Indonesia lebih unggul dari Vietnam hanya pada tingkat pendapatan, akses terhadap air bersih dan kecukupan gizi balita, sedangkan tingkat pendidikan dan kesehatan berada sedikit di bawah Vietnam. Indonesia juga mempunyai masalah ketimpangan gender yang relatif lebih besar dibanding Thailand dan Filipina.
Kemiskinan juga ditandai oleh adanya masalah ketimpangan antarwilayah.
Kemiskinan di kawasan barat Indonesia dan kawasan timur Indonesia mempunyai karakteristik yang berbeda. Menurut data BPS, lebih dari 70%
penduduk miskin berada di Jawa dan Bali karena lebih dari 60% penduduk Indonesia tinggal di kawasan ini. Namun, persentase penduduk miskin di luar Jawa dan Bali khususnya di kawasan Timur Indonesia jauh lebih tinggi.
Hal ini dapat dilihat dalam lihat pada Gambar 2.2, yang menyajikan gambaran tentang penduduk miskin, IKM dan IPM antar wilayah tahun 2002.
Kesenjangan antarwilayah juga tercermin dari tingkat pendapatan dan pemenuhan berbagai hak dasar. BPS mencatat bahwa pada tahun 2004 angka kemiskinan di DKI Jakarta hanya sekitar 3,18%, sedangkan di Papua sekitar 38,69%. Penduduk di Jakarta rata-rata bersekolah selama 9,7 tahun, sedangkan penduduk di NTB rata-rata hanya sekolah selama 5,8 tahun.
Strategi Nasional Penanggulangan Kemiskinan
16
Hanya sekitar 30% penduduk Jakarta yang tidak mempunyai akses terhadap air yang bersih dan aman, tetapi di Kalimantan Barat lebih dari 70%
penduduk tidak mempunyai akses terhadap air yang bersih dan aman.
Masalah kemiskinan di Indonesia masih didominasi kemiskinan di daerah perdesaan. Data Susenas 2004 menunjukkan bahwa penduduk miskin di perdesaan diperkirakan 69%, dan sebagian besar bekerja di sektor pertanian. Jumlah petani gurem dengan penguasaan lahan kurang dari 0,5 ha dipekirakan sekitar 56,5% (Sensus Pertanian, 2003). Tingkat kedalaman dan keparahan kemiskinan di perdesaan cenderung lebih tinggi dari perkotaan. Masyarakat miskin perdesaan dihadapkan pada masalah rendahnya mutu sumberdaya manusia, terbatasnya pemilikan lahan, banyaknya rumahtangga yang tidak memiliki asset, terbatasnya alternatif lapangan kerja, belum tercukupinya pelayanan publik, degradasi sumber daya alam dan lingkungan hidup, lemahnya kelembagaan dan organisasi masyarakat, dan ketidakberdayaan dalam menentukan harga produk yang dihasilkan.
Di sisi lain, masalah kemiskinan di daerah perkotaan juga perlu mendapat perhatian. Krisis ekonomi tahun 1997 memperlihatkan masyarakat kota masih rentan untuk jatuh ke bawah garis kemiskinan. Persentase penduduk miskin di perkotaan juga cenderung untuk terus meningkat. Pada umumnya masyarakat miskin perkotaan menjalani pengalaman kemiskinan yang berbeda dengan penduduk miskin perdesaan. Mereka lebih sering mengalami keterisolasian dan perbedaan perlakuan dalam upaya memperoleh dan memanfaatkan ruang berusaha, pelayanan administrasi kependudukan, air bersih dan sanitasi, pelayanan pendidikan dan kesehatan, serta rasa aman dari tindak kekerasan. Pada umumnya masyarakat miskin di perkotaan bekerja sebagai buruh dan sektor informal yang tinggal di pemukiman yang tidak sehat dan rentan terhadap penggusuran.
Masyarakat miskin di kawasan pesisir dan kawasan tertinggal menghadapi permasalahan yang sangat khusus. Penduduk di kawasan pesisir umumnya menggantungkan hidup dari pemanfaatan sumberdaya laut dan pantai yang
membutuhkan investasi besar, sangat bergantung musim, dan rentan terhadap polusi dan perusakan lingkungan pesisir. Mereka hanya mampu bekerja sebagai nelayan kecil, buruh nelayan, pengolah ikan skala kecil dan pedagang kecil karena memiliki kemampuan investasi yang sangat kecil.
Nelayan kecil hanya mampu memanfaatkan sumberdaya di daerah pesisir dengan hasil tangkapan yang cenderung terus menurun akibat persaingan dengan kapal besar dan penurunan mutu sumberdaya pantai. Hasil tangkapan juga mudah rusak sehingga melemahkan posisi tawar mereka dalam transaksi penjualan.
Di samping itu, pola hubungan eksploitatif antara pemiliki modal dengan buruh dan nelayan, serta usaha nelayan yang bersifat musiman dan tidak menentu menyebabkan masyarakat miskin di kawasan pesisir cenderung sulit untuk keluar dari jerat kemiskinan dan belitan utang pedagang atau pemilik kapal. Tekanan ekonomi yang terlalu kuat seringkali mendorong eksploitasi pekerja anak seperti anak yang dipekerjakan di jermal. Kondisi kemiskinan yang dialami oleh masyarakat miskin menyebabkan terjadinya pewarisan kemiskinan antargenerasi.
Masalah kemiskinan juga terkait dengan keterisolasian wilayah. Hasil identifikasi yang dilakukan oleh Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal (KPDT) menyebutkan sekitar 199 kabupaten termasuk kategori tertinggal yang sebagiah besar (60%) berada di Kawasan Timur Indonesia.
Saat ini, komunitas adat terpencil tercatat sebanyak 205.029 KK atau sekitar 1,1 juta orang yang tersebar di 2.328 desa, 807 kecamatan, 211 kabupaten di 27 provinsi (Depsos, 2004). Masyarakat di daerah tertinggal dan komunitas adat terpencil seringkali menghadapi keterisolasian fisik, keterbatasan sumberdaya manusia dan kelangkaan prasarana dan sarana.
Kondisi ini menyebabkan mereka tidak mampu memanfaatkan sumberdaya dan mengembangkan kegiatan ekonomi secara optimal. Keterisolasian dalam waktu yang lama cenderung menyebabkan apatisme masyarakat miskin. Kurangnya pelayanan pendidikan dan kesehatan juga menyebabkan rendahnya kemampuan dan keterampilan masyarakat. Kurangnya peluang yang tersedia di kawasan ini dan rendahnya pendidikan dapat mendorong migrasi gelap dan perdagangan manusia.
Strategi Nasional Penanggulangan Kemiskinan
18
Masalah kemiskinan juga menyangkut dimensi gender. Laki-laki dan perempuan mempunyai peranan dan tanggungjawab yang berbeda dalam rumahtangga dan masyarakat, sehingga kemiskinan yang dialami juga berbeda. Laki-laki dan perempuan mempunyai akses, kontrol dan prioritas yang berbeda dalam pemenuhan hak-hak ekonomi, sosial dan politik.
Permasalahan yang terjadi selama ini adalah rendahnya partisipasi dan terbatasnya akses perempuan untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan, baik dalam keluarga maupun masyarakat. Masalah mendasar lainnya adalah kesenjangan partisipasi politik kaum perempuan yang bersumber dari ketimpangan struktur sosio-kulutral masyarakat. Hal ini tercermin dari terbatasnya akses sebagian besar perempuan terhadap layanan kesehatan yang baik, pendidikan yang lebih tinggi, dan keterlibatan dalam kegiatan publik yang luas.
Selain itu, masalah ketidakadilan gender ditunjukkan oleh rendahnya kualitas hidup dan peran perempuan, tingginya tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak, rendahnya angka Indeks Pembangunan Gender (Gender-related Development Index, GDI) dan angka Indeks Pemberdayaan Gender (Gender Empowerment Index, GEM), banyaknya peraturan perundang-undangan yang bias gender, diskriminatif terhadap perempuan, dan tidak peduli anak, serta lemahnya kelembagaan dan jaringan pengarusutamaan gender dan anak termasuk keterbatasan data terpilah.
2.3 Permasalahan kemiskinan
Sejalan dengan definisi kemiskinan yang berbasis pada hak-hak dasar, permasalahan kemiskinan perlu dilihat dari pendapat atau persepsi yang dikemukakan oleh masyarakat miskin itu sendiri dan diperkuat dengan data statistik. Permasalahan kemiskinan akan dilihat dari aspek pemenuhan hak dasar, beban kependudukan, serta ketidakadilan dan ketidaksetaraan gender.
2.3.1 Kegagalan Pemenuhan Hak Dasar
2.3.1.1 Terbatasnya Kecukupan dan Mutu Pangan
Pemenuhan kebutuhan pangan yang layak dan memenuhi persyaratan gizi masih menjadi masalah bagi masyarakat miskin. Terbatasnya kecukupan dan kelayakan mutu pangan berkaitan dengan rendahnya daya beli, ketersediaan pangan yang tidak merata, ketergantungan tinggi terhadap beras dan terbatasnya diversifikasi pangan. Di sisi lain, masalah yang dihadapi oleh petani penghasil pangan adalah terbatasnya dukungan produksi pangan, tata niaga yang tidak efisien, rendahnya penerimaan usaha tani pangan dan maraknya penyelundupan.
Permasalahan kecukupan pangan antara lain terlihat dari rendahnya asupan kalori penduduk miskin dan buruknya status gizi bayi, anak balita dan ibu.
Pada tahun 2002, BPS memperkirakan sekitar 20% penduduk dengan tingkat pendapatan terendah hanya mengkonsumsi 1.571 kkal per hari atau 75%
dari kebutuhan agar dapat bertahan hidup secara baik. Kekurangan asupan kalori, yaitu kurang dari 2.100 kkal per hari, masih dialami oleh 60%
penduduk berpenghasilan terendah. Kekurangan asupan kalori yang terjadi pada saat ketersediaan pangan nasional cukup memadai, menunjukkan adanya masalah dalam keterjangkauan bahan pangan yang bermutu.
Masalah kecukupan pangan dipengaruhi oleh pola konsumsi yang bertumpu pada beras sebagai bahan pangan pokok. Pola konsumsi seperti itu menyebabkan ketergantungan masyarakat pada beras dan peralihan konsumsi pangan dari bukan beras menjadi beras. Dalam jangka panjang, hal ini akan mengganggu ketahanan pangan masyarakat. Selain itu, ketergantungan pada beras juga melemahkan inisiatif untuk melakukan diversifikasi produksi dan konsumsi pangan selain beras seperti jagung, sagu, ubi jalar, ubi kayu dan bahan pangan lainnya yang tumbuh secara lokal.
Perbedaan perlakuan dalam pengaturan dan pembagian makan antaranggota keluarga juga berpengaruh terhadap pemenuhan kecukupan pangan. Pembagian makanan masih dipengaruhi oleh perilaku dan budaya
Strategi Nasional Penanggulangan Kemiskinan
20
masyarakat yang mengutamakan bapak dan anak laki-laki lalu anak perempuan, dan terakhir ibu. Pola pengaturan makan seperti itu juga berdampak pada buruknya kondisi gizi ibu hamil, dan dapat mengakibatkan kematian ibu pada waktu melahirkan dan setelah melahirkan.
Data BPS menunjukkan bahwa angka kekurangan gizi pada balita dan wanita usia subur terjadi di beberapa daerah.
Sekitar 34-38% dari jumlah anak balita terutama di daerah
perdesaan diperkirakan mempunyai berat badan kurang. Kondisi kekurangan gizi pada balita antardaerah juga memperlihatkan adanya ketimpangan yang tinggi. Pada tahun 2003, 10 provinsi dengan status gizi buruk tertinggi berada di Provinsi
Gorontalo yaitu sebesar 21,7%, selanjutnya Provinsi Papua (15,2%), Kalimantan Barat (13,8%), Sumatera Utara (12,8%), NTT (12,7%), Riau (10,8%), NTB (10,5%), Sulawesi Selatan (10,3%), Sulawesi Utara (10,0%).
0 2 4 6 8 10 12 14 16 18 20 [%]
2002 2003 2002 2003
Buruk Kurang
Gambar 2.3
Persentase Balita Menurut Status Gizi
Masalah kecukupan pangan juga dialami oleh petani penghasil pangan termasuk petani padi. Penyebab utamanya adalah fluktuasi harga yang terjadi pada saat musim panen dan musim paceklik yang tidak menguntungkan mereka. Impor beras yang dilakukan untuk menutup kebutuhan beras dan menjaga stabilitas harga seringkali tidak tepat waktu sehingga merugikan petani penghasil beras. Berdasarkan observasi Badan Bimas Ketahanan Pangan pada bulan Agustus 2003 di 486 lokasi yang tersebar di 15 provinsi, harga gabah terendah ditingkat petani mencapai Rp.
900/kg lebih rendah dari harga dasar yang ditetapkan oleh pemerintah.
Selain itu, terdapat 54,9% kasus harga di tingkat petani dan 38,9% kasus harga di tingkat penggilingan yang lebih rendah dari harga dasar pembelian
yang ditetapkan. Selain itu, penyelundupan beras juga menyebabkan kerugian bagi petani penghasil. Dengan kepemilikan lahan yang sempit (kurang dari 1 ha), dukungan prasarana dan sarana yang terbatas, dan harga jual yang tidak pasti, mereka tidak memperoleh surplus yang memadai untuk mencukupi kebutuhan menjelang musim panen berikutnya. Mereka cenderung hidup secara subsisten yang menghambat mereka untuk keluar dari perangkap kemiskinan.
Masalah lain yang juga mempengaruhi ketahanan masyarakat dalam menghadapi masalah kerawanan pangan adalah kemampuan menyediakan cadangan pangan untuk mengatasi musim paceklik. Saat ini, sebagian besar lumbung pangan milik masyarakat tidak berfungsi karena tidak dikelola dengan baik dan lemahnya dukungan dari pemerintah daerah.
Berbagai permasalahan tersebut menyiratkan pentingnya evaluasi terhadap sistem ketahanan pangan yang dapat mendukung pemenuhan hak masyarakat atas pangan yang cukup dan bermutu.
2.3.1.2 Terbatasnya Akses dan Rendahnya Mutu Layanan Kesehatan Masyarakat miskin menghadapi masalah keterbatasan akses layanan kesehatan dan rendahnya status kesehatan yang berdampak pada rendahnya daya tahan mereka untuk bekerja dan mencari nafkah, terbatasnya kemampuan anak dari keluarga untuk tumbuh dan berkembang, dan rendahnya derajat kesehatan ibu. Penyebab utama dari rendahnya derajat kesehatan masyarakat miskin selain kecukupan pangan adalah keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan dasar, rendahnya mutu layanan kesehatan dasar, kurangnya pemahaman terhadap perilaku hidup sehat, dan kurangnya layanan kesehatan reproduksi.
Salah satu indikator dari terbatasnya akses layanan kesehatan dasar adalah angka kematian bayi. Data Susenas menunjukkan bahwa angka kematian bayi (AKB) pada kelompok pengeluaran terrendah (Q1) masih di atas 50 per 1.000 kelahiran hidup. Angkat kematian bayi cenderung menurun untuk seluruh kelompok pengeluaran. Namun, penurunan tersebut relatif lambat
Strategi Nasional Penanggulangan Kemiskinan
22
untuk kelompok pengeluaran rendah dibanding kelompok pengeluaran tertinggi. Hal ini juga terlihat dari rasio angka kematian bayi untuk kelompok pengeluaran penduduk terrendah (Q1) dan tertinggi (Q5) yang cenderung meningkat.
Tabel 2.1 Angka Kematian Bayi menurut Kelompok Pengeluaran, Tahun 1998, 2001 dan 2003
Kelompok Pengeluaran 1998 2001 2003
20% Terendah (Q1) 61 64 53
20% Rendah (Q2) 50 51 46
20% Menengah (Q3) 46 47 38
20% Tinggi (Q4) 42 44 31
20% Tertinggi (Q5) 34 37 24
Rasio Q1 dan Q5 1,8 1,7 2,2
Sumber: BPS, Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas)
Data BPS tahun 2003 menunjukan bahwa provinsi yang berada di wilayah timur Indonesia cenderung mempunyai angka kematian bayi yang lebih tinggi dibanding provinsi yang ada di wilayah barat Indonesia. Angka kematian bayi tertinggi adalah Provinsi Gorontalo 77.0, Provinsi Nusa Tenggara Barat 74.0, Sulawesi Tenggara 67.00, dan Provinsi Lampung 55.0.
Sementara itu, 3 provinsi dengan angka kematian bayi terendah adalah Provinsi Bali 14.0, Provinsi DI. Yogyakarta 20.0, Provinsi Sulawesi Utara 25.0, dan Provinsi Sumatra Selatan 30.0.
Status kesehatan masyarakat miskin diperburuk dengan masih tingginya penyakit menular seperti malaria, Tuberkulosis paru, dan HIV/AIDS. Sekitar 46,3% penduduk atau lebih dari 90 juta orang hidup di daerah endemik malaria, dan beban penyakit terberat terjadi di kawasan timur Indonesia.
Jumlah penderita Tuberkulosis paru setiap tahun bertambah hampir 600.000 atau 280 kasus baru per 100.000 penduduk. Kerugian ekonomi yang dialami masyarakat miskin akibat penyakit Tuberkulosis paru sangat
besar karena penderita Tuberkulosis paru tidak dapat bekerja selama 3-4 bulan. Penyakit HIV juga berpengaruh langsung terhadap penduduk usia produktif dan para pencari nafkah dengan kasus yang terus meningkat.
Menurut data Departemen Kesehatan, sampai dengan Desember 2004 tercatat secara akumulatif 2.682 kasus AIDS dan 3.368 infeksi HIV terutama di DKI Jakarta, Papua, Jawa Timur, Jawa Barat, dan daerah lainnya. Kasus AIDS/HIV tertinggi dialami oleh kelompok usia 20-29 tahun. Kematian laki-laki dan perempuan pencari nafkah yang disebabkan oleh penyakit tersebut berakibat pada hilangnya pendapatan keluarga miskin dan meningkatnya jumlah anak yatim/piatu.
Rendahnya tingkat kesehatan masyarakat miskin juga disebabkan oleh perilaku hidup mereka yang tidak sehat. Sekitar 62,2% laki-laki berusia 15 tahun atau lebih merokok, dan persentase di perdesaan lebih besar, yaitu sekitar 67%. Pengeluaran rumahtangga untuk tembakau diperkirakan sekitar 4% dengan tingkat konsumsi yang meningkat sejalan dengan tingkat pendapatan. Kebiasaan merokok menyebabkan meningkatnya beban biaya pengobatan kronis untuk orang yang menderita kanker paru-paru dan penyakit lain yang berhubungan dengan tembakau, dan menurunkan tingkat produktivitas pekerja. Secara umum, penyakit tidak menular seperti kencing-manis, penyakit jantung, dan lain-lain menunjukkan kecenderungan meningkat. Hampir sepertiga penyebab kematian di Jawa-Bali disebabkan oleh penyakit jantung dan pembuluh darah, di samping itu beban akibat penyakit ini juga diperhitungkan sangat besar.
Jarak fasilitas layanan kesehatan yang jauh dan biaya yang mahal merupakan penyebab utama rendahnya aksesibilitas masyarakat miskin terhadap layanan kesehatan yang bermutu. Indikator ketiadaan akses, sebagai ukuran tingkat kesulitan menjangkau tempat layanan kesehatan terdekat, meningkat dari 21,6% pada tahun 1999 menjadi 23,1% pada tahun 2002, dan indikator ketiadaan akses di Jakarta (0,7%) jauh lebih rendah daripada di Way Kanan-Lampung (89%). Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat miskin sulit untuk menjangkau layanan kesehatan dan adanya kesenjangan antarwilayah dalam layanan kesehatan.
Strategi Nasional Penanggulangan Kemiskinan
24
Sebaran jumlah desa yang sulit mengakses rumah sakit dan puskesmas menurut kabupaten/kota tahun 2003 disajikan pada Gambar 2.4. Sekitar 9,5% kabupaten/kota termasuk daerah dengan tingkat kesulitan tinggi dalam mengakses rumah sakit dan puskesmas.
Masalah lain adalah rendahnya mutu layanan kesehatan dasar yang disebabkan oleh terbatasnya tenaga kesehatan, kurangnya peralatan, dan kurangnya sarana kesehatan. Pemanfaatan layanan kesehatan oleh kelompok masyarakat miskin umumnya jauh lebih rendah dibanding kelompok kaya. Bagi 20% masyarakat berpenghasilan terendah, layanan kesehatan yang sering digunakan adalah praktek petugas kesehatan (34,3%) dan praktek dokter (19,7%). Praktek petugas kesehatan yang paling sering dimanfaatkan oleh masyarakat miskin adalah bidan dan mantri yang lokasinya terdekat dari tempat tinggal mereka. Kecenderungan penyebaran tenaga kesehatan yang tidak merata dan terpusat di daerah perkotaan mengurangi akses terhadap pelayanan kesehatan bermutu. Daerah dengan rata-rata jumlah dokter per 100.000 penduduk terendah adalah Maluku dan Kalimantan Barat (0,4), sedangkan rata-rata jumlah dokter di Sulawesi Utara 1,5, di DKI 2,1, dan di Bali 3,2. Ketersediaan sarana layanan kesehatan
rujukan juga sangat timpang. Rasio tempat tidur Rumah Sakit (RS) per 100.000 penduduk di DKI mencapai lebih dari 160, sementara di NTB kurang dari 25.
Salah satu keluhan utama masyarakat miskin adalah mahalnya biaya pengobatan dan perawatan. Hal ini disebabkan oleh jauhnya tempat pelayanan kesehatan dan rendahnya jaminan kesehatan. Data Susenas 2004 menunjukkan hanya sekitar 20,6% penduduk yang memiliki salah satu bentuk jaminan kesehatan. Pada kelompok termiskin, hanya sekitar 15%
memiliki Kartu Sehat (KS) dan pemanfaatan pelayanan kesehatan oleh pemegang KS masih rendah. Penyebab utama rendahnya pemanfaatan tersebut adalah ketidaktahuan tentang proses pembuatan KS dan kurang jelasnya pelayanan terhadap pemegang KS.
Rendahnya mutu dan terbatasnya ketersediaan layanan kesehatan reproduksi mengakibatkan tingginya angka kematian ibu dan tingginya angka aborsi. Angka kematian ibu (AKI) pada tahun 2003 tercatat 307 tiap 100.000 kelahiran hidup. Angka ini terhitung tinggi dibanding
Strategi Nasional Penanggulangan Kemiskinan
26
negara-negara ASEAN. Secara umum terlihat adanya peningkatan pemanfaatan tenaga kesehatan dalam persalinan oleh keluarga miskin. Data Susenas menunjukkan bahwa angka persalinan keluarga termiskin yang ditolong oleh tenaga kesehatan meningkat dari 21% pada tahun 1995 menjadi hampir 55,64% pada tahun 2004. Pemanfaatan tenaga kesehatan oleh kelompok terkaya jauh lebih tinggi (sekitar 82%) dibanding pemanfaatan oleh kelompok miskin yang hanya sekitar 40%.
Masalah lain yang terjadi adalah kesenjangan antardaerah dalam pelayanan tenaga kesehatan. Pemanfaatan tenaga kesehatan tertinggi di DKI (96%) dan terendah (28,5%) di Sulawesi Tenggara. Perbedaan antarkota/desa jauh lebih tajam. Perbedaan tersebut menunjukkan rendahnya akses masyarakat miskin di perdesaan terhadap pelayanan kesehatan reproduksi. Distribusi tenaga bidan desa, sebagai tenaga kesehatan yang diharapkan dapat membantu proses persalinan yang aman dan mudah dijangkau juga masih belum merata. Data Susenas 2001 memperlihatkan bahwa hanya 45,83%
kelahiran di perdesaan yang ditolong oleh bidan. Jumlah seluruh bidan saat ini sekitar 80.000 orang. Sedangkan, jumlah bidan desa terus menurun dari 62.812 orang pada tahun 2000 menjadi 39.906 orang pada tahun 2003.
Saat ini sekitar 22.906 desa tidak memiliki bidan desa.
Rendahnya layanan kesehatan juga disebabkan oleh mahalnya alat kontrasepsi sehingga masyarakat miskin tidak mampu mendapatkan layanan kesehatan reproduksi. Peranan swasta cukup besar dalam layanan kesehatan reproduksi. Sebagian besar perempuan (63%) mendapat layanan kontrasepsi dari swasta. Bagi masyarakat miskin, layanan kesehatan reproduksi swasta terlalu mahal dan sulit dijangkau. Sebagai akibat dari mahalnya biaya layanan kesehatan reproduksi, angka prevalensi KB hanya sebesar 55%. Angka ini masih lebih rendah dari tingkat yang diperlukan untuk mencapai Angka Fertilitas Total 2,1 sebesar 70%. Selain itu, penggunaan kontrasepsi pada kelompok masyarakat termiskin (52,4%) lebih rendah dibanding kelompok terkaya (63,5%). Tidak terpenuhinya kebutuhan (unmet need) KB pada tahun 2002/2003 tidak berbeda dengan angka tahun
1997. Hal ini menunjukkan bahwa perempuan sebagai pengguna kontrasepsi terbesar menghadapi masalah dalam menjangkau pelayanan KB.
Tingginya unmet need KB dan terjadinya pergeseran nilai menuju norma keluarga kecil menjadi sebab dari tingginya angka kehamilan tidak dikehendaki. Sebagian dari kehamilan seperti ini berakhir dengan aborsi.
Perempuan miskin yang mengalami kehamilan tidak dikehendaki cenderung ditolong oleh bidan atau dukun aborsi yang sebenarnya tidak mempunyai kompetensi medis untuk melakukan aborsi. Aborsi tidak aman ini pada gilirannya ikut menyumbang pada tingginya angka mortalitas maternal.
Masalah lain dalam perluasan akses layanan kesehatan bagi masyarakat miskin adalah rendahnya anggaran yang tersedia bagi pembangunan dan pelayanan kesehatan. Menurut perkiraan Komisi Makroekonomi dan Kesehatan-WHO, kebutuhan pelayanan kesehatan per orang adalah sebesar US $30–40, sedangkan di Indonesia diperkirakan hanya sebesar US $3 pada tahun 2001.
2.3.1.3 Terbatasnya Akses dan Rendahnya Mutu Layanan Pendidikan Masyarakat miskin mempunyai akses yang rendah terhadap pendidikan formal dan non formal. Hal ini disebabkan oleh tingginya biaya pendidikan, terbatasnya jumlah dan mutu prasarana dan sarana pendidikan, terbatasnya jumlah dan guru bermutu di daerah dan komunitas miskin, terbatasnya jumlah sekolah yang layak untuk proses belajar-mengajar, terbatasnya jumlah SLTP di daerah perdesaan, daerah terpencil dan kantong-kantong kemiskinan, serta terbatasnya jumlah, sebaran dan mutu program kesetaraan pendidikan dasar melalui pendidikan non formal.
Rendahnya akses masyarakat terhadap pendidikan terjadi mulai dari pendidikan anak usia dini. Data BPS dan Depdiknas tahun 2002 menunjukkan bahwa dari 28,5 juta anak usia 0-6 tahun, baru 7,2 juta (25,3%) yang memperoleh layanan pendidikan dan perawatan melalui Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Secara spasial, angka partisipasi sekolah
Strategi Nasional Penanggulangan Kemiskinan
28
umur 13 – 15 tahun pada tahun 2004 disajikan dalam Gambar 2.6. yang menunjukkan sekitar 40% (176 kabupaten/kota) memiliki angka partisipasi yang rendah secara nasional.
Jika dilihat dari jenis kelamin, persentase perempuan yang berpendidikan rendah (SD dan SMP) relatif lebih tinggi dibanding laki-laki. Namun, persentase perempuan berpendidikan menengah dan tinggi lebih rendah
dibanding laki-laki (lihat Gambar 2.7).
2,63 6,75 7,49 15,16
14,7 16,43 26,18 26,96
25,64 28,04 39,15 37,46
29,64 23,86 10,05 6,557,22 5,29 1,48 1,05
0 5 10 15 20 25 30 35 40 45
Laki-laki Perempuan Laki-laki Perempuan
Perkotaan Perdesaan
Tidak/belum sekolah Belum Tamat SD SD /Sederajat SMP /Sederajat SMA /Sederajat PT
Gambar 2.7 Persentase Penduduk Usia 10 tahun ke atas
berdasarkan Tingkat Pendidikan dan Jenis Kelamin, 2003 Angka putus sekolah, secara absolut masih cukup tinggi,
4,7; 5%
8,7; 9%
2,6; 3%0,4; 0%2,3; 2%
3,8; 4%1,2; 1%9,6; 10%
67; 66%
Tidak ada biay a Tidak suka/malu Bekerja/mencari naf kah Menikah/mengurus rumah tangga
Tidak diterima/dikeluarkan sekolah
Sekolah jauh
Merasa pendidikanny a sudah cukup
Cacat Lainny a
Gambar 2.8 Persentase Penduduk Berumur 7 - 18 tahun Yang Tidak Melanjutkan Sekolah menurut
meskipun persentasenya terus menurun dari 3,1% pada tahun 1995/1996 menjadi 2,4% pada tahun 2004/2005 untuk jenjang SD/MI, dan dari 3,8%
menjadi 2,6% untuk jenjang SMP/MTs. Masih tingginya angka putus sekolah dan angka tidak melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi disebabkan oleh berbagai faktor. Data SUSENAS 2003 menunjukkan bahwa sekitar 75% penduduk usia 7-18 tahun tidak mampu melanjutkan sekolah.
Hal ini disebabkan oleh alasan ekonomi, yaitu tidak adanya biaya dan keharusan untuk mencari nafkah (lihat Gambar 2.8). Data SUSENAS 2003 juga menunjukkan bahwa biaya pendidikan merupakan salah satu pengeluaran rumahtangga yang cukup besar. Bagi rumahtangga yang termasuk kelompok 20% pengeluaran terendah, persentase biaya pendidikan per anak
terhadap total pengeluaran
mencapai 10% untuk SD, 18,5% untuk SLTP dan 28,4% untuk SLTA. Dari biaya pendidikan tersebut,
20% untuk transportasi, 10%
untuk membeli seragam dan biaya pendaftaran, dan pengeluaran lain-lain 11%.
Data Susenas 2004 menunjukkan bahwa tingginya angka putus sekolah pada kelompok usia 13-15 tahun, dapat ditunjukkan dari sepuluh provinsi dengan angka putus sekolah tertinggi di Indonesia, sebanyak 9 provinsi berada di wilayah bagian Timur Indonesia, yaitu berada di Provinsi Gorontalo (15,87%), Sulawesi Selatan (9,72%), Nusa Tenggara Barat (9,69), Sulawesi Tengah (9,39%), NTT (9,16%), Sulawesi Tenggara (8,84%), Sulawesi Utara (8,79%), Kalimantan Barat (7,77%) dan Kalimantan Selatan (7,35%). Provinsi Bangka Belitung merupakan satu-satunya provinsi di wilayah Indonesia
Strategi Nasional Penanggulangan Kemiskinan
30
bagian barat yang memiliki urutan kedua angka putus sekolah tertinggi di Indonesia yaitu sebesar 10,420%. Sementara provinsi yang memiliki angka putus sekolah usia 13-15 tahun terendah berada di Provinsi DI Yogyakarta yaitu sebesar 0,88%.
Tingginya biaya pendidikan menyebabkan akses masyarakat miskin terhadap pendidikan menjadi terbatas. Sesuai dengan ketentuan, biaya SPP untuk jenjang SD/MI telah secara resmi dihapuskan. Namun, kenyataan menunjukkan bahwa masyarakat tetap harus membayar berbagai iuran sekolah seperti pembelian buku, alat tulis, pakaian seragam, sepatu seragam, biaya transportasi, dan uang saku. Berbagai iuran tersebut menjadi penghambat bagi masyarakat miskin untuk menyekolahkan anaknya.
Masalah lain yang dialami oleh siswa SD/MI terutama di daerah perdesaan adalah kekurangan kalori dan kekurangan gizi yang mengakibatkan rendahnya daya tahan belajar dan semangat belajar siswa. Dalam jangka panjang, hal ini berpengaruh terhadap kemungkinan anak untuk putus belajar, mengulang kelas dan tidak mau sekolah.
Pendidikan formal belum dapat menjangkau secara merata seluruh lapisan masyarakat. Hal ini ditunjukkan oleh adanya kesenjangan antara penduduk kaya dan penduduk miskin dalam partisipasi pendidikan baik diukur dari Angka Partisipasi Sekolah (APS), Angka Partisipasi Kasar (APK) maupun Angka Partisipasi Murni (APM). Tabel 2.2 menggambarkan perbedaan angka partisipasi menurut kelompok pengeluaran rumahtangga. Rasio angka partisipasi kelompok pengeluaran 20% terendah (Q1) dan kelompok pengeluaran 20% tertinggi (Q5) cenderung mengecil untuk jenjang pendidikan SMP/MTs dan SMA/SMK/MA. Hal ini membuktikan bahwa hanya sebagian kecil anak usia sekolah dari keluarga miskin dapat bersekolah setara SMP dan SMA. Tanpa bekal pendidikan yang memadai, mereka akan sulit untuk keluar dari jebakan kemiskinan dan menghindarkan diri dari lingkaran kemiskinan.
Tabel 2.2 Angka Partisipasi Sekolah, Angka Partisipasi Kasar dan Angka Partisipasi Murni Menurut Kelompok Usia dan Pengeluaran Keluarga Tahun 2004
Angka Partisipasi Sekolah Angka Partisipasi Kasar Angka Partisipasi Murni Kelompok Pengeluaran
7–12 tahun
13-15 tahun
16–18
tahun SD/MI SMP/MTs SMA/ SMK/
MA SD/MI SMP/ MTs SMA/
SMK/ MA 20% Terendah (Q1) 94.04 70.85 32.74 106.60 63.82 27.71 91.95 49.97 21.90 20% Rendah (Q2) 96.83 80.37 42.61 107.76 77.85 40.89 93.79 62.38 32.63 20% Menengah (Q3) 97.37 86.46 54.38 107.26 87.69 54.01 93.57 69.30 43.49 20% Tinggi (Q4) 98.23 90.95 64.75 107.39 92.69 69.49 93.71 74.31 54.95 20% Tertinggi (Q5) 98.72 94.58 76.08 106.60 97.16 83.92 92.23 76.60 65.00
Rata-rata 96.77 83.49 53.48 107.13 82.24 54.38 93.04 65.24 42.96
Rasio Q1 ; Q5 0,95 0,75 0,43 1,00 0,66 0,33 1,00 0,65 0,34
Sumber: diolah dari data SUSENAS 2004 BPS
Strategi Nasional Penanggulangan Kemiskinan
32
106,58 91,43 72,22 18,61
107,5 75,89 40,33 3,3
0 50 100 150
SD/MI SMP/MTS SMU/MA/SMK PT
Jenjang Pendidikan
Perkotaan Perdesaan
107, 81
106 83,2
SD/
S
Jenjan
53 ,34 55,21 ,12
,71 53,47
0,36
0 50 100 150
MI MP/MTS SMU/MA/SM
g Pen
11 1
K PT
didikan
Laki-laki Perempuan
Masalah kesenjangan akses pendidikan juga terjadi antara penduduk perdesaan dan perkotaan dan antarwilayah.
Penduduk perdesaan yang berusia 10 tahun ke atas yang
menamatkan sekolah menengah dan perguruan tinggi hanya 9,6% jauh lebih rendah dari penduduk perkotaan (33,0%). Selain itu,
partisipasi pendidikan masyarakat perdesaan juga lebih rendah dibanding masyarakat perkotaan (lihat Gambar 2.9).
Gambar 2.9
Angka Partisipasi Kasar (APK) Menurut Jenjang Pendidikan, 2004
Data SUSENAS 2004 menunjukkan adanya kesenjangan antarprovinsi dalam APK. APK jenjang SMP/MTs di NTT hanya sekitar 63,4%, DI Yogyakarta
sekitar 97.3%. Sementara, APK jenjang SMA/SMK di Gorontalo hanya sekitar 37,9%, dan DKI Jakarta sekitar 77,63%.
Perbedaan akses pendidikan juga terjadi antara laki-laki dan perempuan.
Partisipasi pendidikan perempuan terus meningkat, namun pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi (SLTA dan perguruan tinggi) angka partisipasi perempuan lebih rendah dibanding laki-laki (lihat Gambar 2.10). Hal ini menunjukkan bahwa jumlah perempuan yang dapat menikmati jenjang pendidikan tinggi ternyata lebih sedikit. Masalah ini perlu diatasi karena perempuan yang lebih berpendidikan akan memberikan sumbangan yang lebih baik bagi perbaikan kesejahteraan generasi muda dan pemutusan proses pewarisan kemiskinan.
Masyarakat miskin juga menghadapi masalah persebaran SLTP/MTs yang tidak merata terutama di daerah perdesaan. Hal ini menyebabkan pendidikan nonformal menjadi alternatif bagi masyarakat yang putus sekolah, tidak sekolah, buta huruf, dan orang dewasa yang menganggur.
Saat ini perhatian dan dukungan terhadap penyelenggaraan pendidikan nonformal yang dilakukan oleh masyarakat masih sangat kurang.
Rendahnya tingkat pendidikan, tingginya angka putus sekolah dan rendahnya partisipasi masyarakat dalam pendidikan mengakibatkan tingginya angka buta aksara. Data Susenas 2004 menunjukkan bahwa jumlah penduduk usia 15 tahun keatas yang buta aksara sekitar 9,62%
dengan rasio angka buta aksara kelompok berpengeluaran terendah (Q1) lebih tinggi dibanding kelompok pengeluaran tinggi (lihat Gambar 2.11a).
Sebaran angka buta aksara menurut Kabupaten/Kota pada tahun 2003 menunjukkan masih terdapat 10% kabupaten/kota yang memiliki angka buta aksara yang relatif tinggi (lihat pada Gambar 2.11).
Dilihat dari jenis kelamin, angka melek aksara perempuan lebih rendah dibanding laki-laki untuk semua kelompok usia baik di perkotaan maupun di perdesaan (lihat Tabel 2.3). Pada tahun 2004, perempuan usia 10 tahun ke atas di perdesaan yang tidak/belum bersekolah sekitar 14,27% lebih tinggi dibanding laki-laki (6,86%). Di daerah perkotaan, perempuan usia 10 tahun ke atas yang tidak/belum bersekolah sekitar 6,6%
sedangkan laki-laki sekitar 2,4%.
Perempuan yang tidak tamat SD/MI di perdesaan 26,34% dan di perkotaan 16,69% sementara laki-laki yang tidak tamat SD/MI 25,32% di pedesaan dan 15,08% di perkotaan.
Gambar 2.11a
Angka Buta Aksara Menurut Kelompok Usia dan Pengeluaran Tahun 2004 0
5 10 15 20
15 Tahun keatas 15 - 24 tahun Quantile 1 Quantile 2 Quantile 3 Quantile 4 Quantile 5
Strategi Nasional Penanggulangan Kemiskinan
34
Alasan perempuan tidak menamatkan atau tidak melanjutkan sekolah antara lain masih kuatnya budaya kawin muda di perdesaan, anggapan bahwa sekolah tidak akan bermanfaat bagi perempuan karena pada akhirnya mereka tidak akan bekerja dan harus bertanggung jawab terhadap pekerjaan rumahtangganya. Di samping itu, jarak sekolah yang cukup jauh dari rumah menjadi penyebab lebih rendahnya partisipasi pendidikan perempuan dibanding laki-laki.
Tabel 2.3 Angka Melek Aksara Penduduk Usia 15 Tahun Keatas Menurut Kelompok Umur, Tempat Tinggal dan Jenis Kelamin, 2004
Kelompok Umur Tipe Daerah/
15 tahun ke atas
15 – 24 tahun
25-44 tahun
45 tahun ke atas Jenis Kelamin
Laki-laki 97,17 99,47 98,86 92,10
Perko- taan Perempuan 92,19 99,39 97,16 76,24
L + P 94,64 99,43 97,99 84,16
Laki-laki 91,56 98,36 95,83 79,98
Perde- saan Perempuan 82,47 97,77 91,21 57,77
L + P 87,00 98,07 93,47 68,85
Laki-laki 94,04 98,87 97,20 84,95
K + D Perempuan 86,80 98,54 93,90 65,34
L + P 90,38 98,71 95,51 75,13
Sumber : Survei Sosial Ekonomi Nasional, 2004 BPS
Masalah pendidikan yang dihadapi oleh masyarakat miskin adalah rendahnya mutu pendidikan. Data The International Consortium for Evaluation and Educational Achievement (IEA) yang dikumpulkan oleh Third International Mathematics and Science Study (TIMSS) pada tahun 2001 menunjukkan bahwa prestasi siswa kelas-2 SLTP untuk mata pelajaran matematika dan ilmu pengetahuan alam masih rendah, yaitu peringkat ke-34 untuk kemampuan matematika dan ke-32 untuk kemampuan IPA dari 38 negara yang disurvei. Hasil ini sangat jauh jika dibanding Singapura yang berada pada peringkat ke-1 untuk kemampuan matematika dan ke-2 untuk
kemampuan IPA, dan Malaysia berada pada peringkat ke-6 untuk kemampuan metematika dan ke-22 untuk kemampuan IPA.
37,10 9,30 3,30
1,50 7,90 0,90
45,10 7,70 1,70
2,50 17,30 12,20
13,80 57,80 82,20
0,00 10,00 20,00 30,00 40,00 50,00 60,00 70,00 80,00 90,00
SD/MI/SDLB SMP/MTs/
SMPLB
SMA/SMK/
MA/SMALB Tingkat Pendidikan
Persentase
< = SLTA D 1 D 2 Sar mud / D 3 > = S 1 Gambar 2.12
Persentase Guru Berdasarkan Tingkat Pendidikan
Salah satu penyebab rendahnya mutu pendidikan adalah kurangnya ketersediaan guru baik dari jumlah maupun mutu terutama di beberapa daerah. Pada tahun ajaran 2004/2005 rasio siswa per guru untuk jenjang pendidikan SD adalah 20 orang, MI 16 orang, SMP 22 orang, MTs 11 orang, SM (SMA dan SMK) 20 orang dan MA 9 orang. Sampai dengan tahun 2003 masih banyak guru yang belum
memiliki persyaratan kualifikasi pendidikan minimal
lulus Diploma II untuk SD/MI/SDLB/Paket A, minimal lulus Diploma III untuk jenjang SMP/MTs/SMPLB/Paket B, dan pendidikan sarjana atau lebih untuk jenjang SMA/SMK/MA.
Guru SD/MI yang memenuhi persyaratan rata-rata hanya 33,8%, dan guru SLTP rata-rata hanya 48,3% (lihat Gambar 2.12).
Rendahnya mutu pendidikan juga disebabkan oleh keterbatasan jumlah dan mutu sarana belajar siswa termasuk ketersediaan dan koleksi perpustakaan.
Berdasarkan temuan diketahui bahwa 40% siswa kelas 1–6, 43% siswa kelas 1–3 dan 38% siswa kelas 4–6 tidak memiliki buku teks baku.
Kemampuan layanan pendidikan bagi anak dengan kemampuan berbeda (diffable) terutama dari keluarga miskin masih lebih kecil dibanding jumlah anak yang memerlukan pelayanan. Mereka umumnya menjadi beban ekonomi keluarga miskin. Pada tahun 2003/2004 jumlah anak dengan kemampuan berbeda usia 7-15 tahun sekitar 1,5 juta anak. Dari jumlah
Strategi Nasional Penanggulangan Kemiskinan
36
tersebut sekitar 3,4% atau 51.291 anak yang memperoleh layanan pendidikan melalui SDLB dan SMPLB A,B,C,D,D1,E,G dan autis. Anak dengan kemampuan berbeda dari keluarga miskin masih dipandang sebagai beban dan yang harus dikasihani sehingga membuat hak-hak dasarnya terabaikan.
Oleh sebab itu, perlu dilakukan langkah khusus dan dukungan politik yang kuat agar separuh dari jumlah anak dengan kemampuan berbeda tersebut dapat menikmati pendidikan dasar.
Berbagai masalah dalam layanan pendidikan menyiratkan perlunya peninjauan kembali terhadap berbagai kebijakan untuk memperluas akses dan meningkatkan mutu layanan pendidikan seperti penurunan beban biaya pendidikan, peningkatan jumlah dan mutu prasarana dan sarana pendidikan, penambahan jumlah dan guru bermutu di daerah dan komunitas miskin, dan peningkatan prasarana pendidikan berupa gedung sekolah yang layak untuk proses belajar-mengajar.
2.3.1.4 Terbatasnya Kesempatan Kerja dan Berusaha
Masyarakat miskin umumnya menghadapi permasalahan terbatasnya kesempatan kerja dan berusaha, terbatasnya peluang mengembangkan usaha, lemahnya perlindungan terhadap aset usaha, dan perbedaan upah serta lemahnya perlindungan kerja terutama bagi pekerja anak dan pekerja perempuan seperti buruh migran perempuan dan pembantu rumahtangga.
Keterbatasan modal, kurangnya keterampilan, dan pengetahuan, menyebabkan masyarakat miskin hanya memiliki sedikit pilihan pekerjaan yang layak dan peluang yang sempit untuk mengembangkan usaha.
Terbatasnya lapangan pekerjaan yang tersedia saat ini seringkali menyebabkan mereka terpaksa melakukan pekerjaan yang beresiko tinggi dengan imbalan yang kurang memadai dan tidak ada kepastian akan keberlanjutannya.
Belum berhasil diatasinya masalah ketenagakerjaan yang terpuruk ketika krisis dan kurangnya perluasan kesempatan kerja dapat dilihat dari kondisi ketenagakerjaan pada tahun 2003 yang menunjukkan belum adanya perbaikan. Angka pengangguran terbuka selama 5 tahun terakhir terus meningkat. Menurut data Sakernas, pengangguran terbuka cenderung meningkat dari 5,0 juta orang atau 4,7% dari jumlah angkatan kerja pada tahun 1997 menjadi sekitar 6 juta orang atau 6,4% di tahun 1999, dan sekitar 9,5 juta orang atau 9,5% pada tahun 2003, dan sekitar 9,9 juta orang atau 9,7% pada tahun 2004. Tingkat pengangguran terbuka pada tahun 2003 berdasarkan jenis kelamin, menunjukkan 13% perempuan dan 7,6%
laki-laki. Berdasarkan tingkat pendidikan, pengangguran terbuka terbesar adalah kelompok Sekolah Menengah Umum yaitu 16,9%, dan perguruan tinggi 9,1% Sedangkan untuk kelompok usia didominasi oleh usia muda, yaitu usia 15-19 tahun sebesar 36,7% dan usia 20-24 tahun sebesar 23,1%.
Secara spasial, sebaran angka pengangguran pada tahun 2003 disajikan pada Peta 2.4. Daerah dengan angka pengangguran tinggi terletak di Provinsi Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Papua, Jawa Barat, Bali, NTB dan NTT.
Strategi Nasional Penanggulangan Kemiskinan
38
Tingginya tingkat pengangguran usia muda memerlukan perhatian khusus, karena usia muda merupakan transisi dari sekolah dan bekerja. Selain itu, usia muda merupakan tingkat usia yang paling rentan terhadap kemiskinan yang disebabkan karena tiga hal (ILO, 2003). Pertama, rumahtangga miskin mempunyai jumlah tanggungan (orang muda yang masih dalam tanggungan) besar, khususnya di daerah perdesaan. Kedua, kemiskinan seringkali diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Banyak pemuda yang berasal dari keluarga miskin sehingga terpaksa bekerja di usia yang sangat muda untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan biasanya mendapatkan pekerjaan yang tidak tetap dengan upah rendah. Ketiga, kaum muda merupakan masa transisi ke arah mandiri, mereka pada umumnya menemukan kesulitan mendapatkan pekerjaan produktif karena kurangnya pengetahuan dan integrasi dalam pasar kerja.
Tingginya jumlah pekerja yang bekerja di sektor kurang produktif berakibat pada rendahnya pendapatan sehingga tergolong miskin atau tergolong pada pekerja dengan pendapatan yang rentan menjadi miskin (near poor). Data Sakernas menunjukkan tingginya angka setengah pengangguran (bekerja kurang dari 35 jam per minggu) yang mencapai 31,4% pada tahun 2003.
Berdasarkan sektor usaha, pekerja setengah pengangguran tersebut sebagian besar bekerja di sektor pertanian yang terdapat di perdesaan.
Sementara itu, jumlah pekerja informal terus meningkat sejak adanya krisis, dari 58,5 juta pada tahun 2001 meningkat sebesar 1,5 juta (1 juta di daerah perdesaan dan 0,5 juta di perkotaan) pada tahun 2002 menjadi 60 juta dan 1,2 juta (0,5 juta di daerah perdesaan dan 0,7 juta perkotaan) pada tahun 2003 menjadi 61,2 juta. Hal ini juga didukung dengan meningkatnya pangsa lapangan kerja di sektor pertanian dari 40,1% tahun 1997 menjadi 43,3% tahun 2001, disertai dengan menurunnya pangsa lapangan kerja bergaji dari 35,5% tahun 1997 menjadi 33,3% tahun 2002, dan menurunnya lapangan kerja di sektor manufaktur dari 2,8% pada periode 1994-1997 menjadi 0,6% pada periode 1998-2001.
Penduduk miskin yang umumnya berpendidikan rendah harus bekerja apa saja untuk mempertahankan hidupnya. Kondisi tersebut menyebabkan lemahnya posisi tawar masyarakat miskin dan tingginya kerentanan
terhadap perlakuan yang merugikan. Masyarakat miskin juga harus menerima pekerjaan dengan imbalan yang terlalu rendah, tanpa sistem kontrak atau dengan sistem kontrak yang sangat rentan terhadap kepastian hubungan kerja yang berkelanjutan. Ketidakjelasan mengenai hak-hak mereka dalam bekerja menyebabkan kurangnya perlindungan terhadap keselamatan dan kesejahteraan mereka di lingkungan kerja.
Gambar 2.14
Diagram Distribusi Persentase Penduduk Miskin Menurut Lapangan Pekerjaan Kepala Rumah Tangga Tahun 2004
1,93 2,18 4,77 5,28 5,39 5,42 5,61 5,75 6,10 6,15 6,46 6,93 7,18 7,19 7,20 7,31 7,46 8,32 8,82 9,91 9,93 10,08 11,28 11,67 12,48 13,06 13,60 14,09 14,33 19,90
91,26 74,26 73,63 59,25 71,58 73,43 84,06 73,25 73,21 65,25 73,58 68,41 60,37 64,79 61,00 58,83 61,78 64,11 66,87 40,02 56,00 70,03 60,24 58,33 69,73 47,27 49,37 47,43 47,32 1,36
5,72 17,02 19,31 30,51 18,29 15,55 9,16 17,52 14,73 27,67 16,31 21,17 27,88 25,48 26,69 27,90 22,20 25,93 20,73 41,68 26,22 17,47 23,74 25,92 15,08 37,77 27,39 28,80 33,56 66,24
0%
20%
40%
60%
80%
100%
PAPUA
MALUUKU UTA RA KALTENG
JAMBI SULTENG
MALUKU NTT LAMPUNG
SULTRA BENGKULU
GO RONTALO
RIAU SUMUT
SUMSEL KALTIM
KALSE L BALI NAD
KALBAR JAB AR
JATENG SULUT
JATIM SUMBAR
SULSEL BABEL DIY
NTB BANTE
N
DKI JAKARTA
Tidak bekerja (%) Bekerja di bidang Pertanian (%) Bekerja di bidang Industri (%) Bekerja di bidang Lainnya (%)
Kesulitan ekonomi yang dihadapi keluarga miskin seringkali memaksa anak dan perempuan untuk bekerja. Pekerja perempuan, khususnya buruh migran perempuan dan pembantu rumahtangga dan pekerja anak menghadapi resiko sangat tinggi untuk dieksplotasi secara berlebihan, serta
Strategi Nasional Penanggulangan Kemiskinan
40
tidak menerima gaji atau digaji sangat murah, dan bahkan seringkali diperlakukan secara tidak manusiawi. Oleh karena itu, pekerja perempuan dan anak memerlukan perlindungan kerja yang lebih dan khusus, karena lebih rentan untuk mengalami pelanggaran hak dan eksploitasi secara berlebihan.
Berdasarkan lapangan pekerjaan, data Susenas 2004 menunjukkan bahwa sebagian besar rumahtangga miskin bekerja di sektor pertanian.
Rumahtangga miskin yang bekerja di sektor pertanian tertinggi berada di Papua (91,26%), NTT (84,06%), Maluku Utara (74,26%), dan Kalimantan Tengah (73,63%). Rumahtangga miskin yang bekerja di sektor industri dan lainnya sebagian besar di DKI Jakarta (lainnya 66,24% industri 12,50%), Jawa Barat (lainnya 41,68%, industri 8,39%), Banten (lainnya 33,56%, industri 4,79%) dan Bangka Belitung (lainnya 37,7%, industri 1,89%).
Kesulitan ekonomi juga memaksa remaja terutama perempuan dari keluarga miskin untuk bekerja sebagai pekerja seks komersial. Mereka umumnya penduduk musiman yang tinggal di permukiman kumuh perkotaan. Mereka sangat rentan terhadap tindak kekerasan, penyakit menular seksual dan terkucil dari kehidupan sosial. Oleh sebab itu, mereka perlu mendapatkan penanganan khusus melalui pendampingan dan konseling agar mampu keluar dari lingkaran kemiskinan.
Rendahnya posisi tawar pekerja menyebabkan konflik perburuhan yang terjadi seringkali dimenangkan oleh pihak perusahaan dan merugikan para buruh. Pemerintah sebagai pihak yang dapat menjadi mediasi dan pembela kepentingan masyarakat seringkali kurang responsif dan peka untuk secara cepat menindaklanjuti masalah perselisihan dalam hubungan antara pekerja dengan pemilik perusahaan. Dampak dari perselisihan tersebut seringkali membuahkan pemutusan hubungan kerja (PHK) secara tidak adil dan mengakibatkan munculnya sekelompok orang miskin baru.
Kecenderungan perempuan untuk memasuki pasar kerja jauh lebih kecil dibanding laki-laki. Menurut data Sakernas 2003, jumlah laki-laki berusia di atas 15 tahun yang termasuk usia produktif mencapai 76 juta jiwa penduduk
usia produktif, dan angkatan kerja laki-laki tercatat sebanyak 64,8 juta jiwa.
Dari angkatan kerja laki-laki tersebut, 59,9 juta jiwa termasuk kelompok pekerja. Sedangkan jumlah perempuan berusia di atas 15 tahun yang termasuk usia produktif adalah 76,7 juta jiwa. Dari jumlah tersebut, angkatan kerja perempuan tercatat sebesar 35,5 juta jiwa, dan hanya 30,9 juta jiwa yang termasuk kelompok pekerja.
Perempuan yang memasuki pasar kerja memiliki peluang yang lebih kecil untuk memperoleh pekerjaan daripada laki-laki. Hal ini terjadi karena pengaruh lingkungan yang kurang mendukung seperti pengambilan keputusan dan penguasaan aset yang didominasi laki-laki, perlunya ijin suami bila istri ingin bekerja atau berusaha, dan perempuan yang bekerja tetap bertanggung jawab mengelola urusan keluarga. Pekerja perempuan juga mengalami diskriminasi dalam hal penggajian dan kurang terlindungi dari pelecehan dan kekerasan seksual serta kurang mendapat hak-hak yang menyangkut kesehatan reproduksi di tempat kerja. Pada tahun 2002 tingkat upah rata-rata laki-laki (Rp. 703.901,- per bulan) lebih tinggi dibanding perempuan (Rp. 493.607,- per bulan). Perbedaan ini terjadi pada semua tingkat pendidikan pekerja (Tabel 2.4). Bagi perempuan pelaku usaha, mereka memiliki masalah kepemilikan usaha. Pada saat usaha yang dibangun oleh perempuan tersebut mulai berkembang, maka kepemilikan usaha tersebut beralih kepada suaminya dengan berbagai alasan seperti kemudahan untuk mendapatkan kredit dan mengurus surat perijinan dan alasan lainnya.
Strategi Nasional Penanggulangan Kemiskinan
42
Tabel 2.4 Rata-rata upah/gaji/pendapatan pekerja *) sebulan menurut tingkat pendidikan dan jenis kelamin 2001 dan 2002 (dalam rupiah)
2001 2002 Tingkat
Rasio Rasio
Pendidikan Perempuan Laki-laki Upah** Perempuan Laki-laki Upah**
< SD 172.018 326.394 52,7 187.059 367.284 51,1
SD 232.726 388.502 59,9 264.112 435.676 60,6
SLTP 340.685 489.951 69,5 399.176 558.648 71,5
SMU/SMK 555.175 711.013 78,1 640.035 809.694 79,0
>SMU/SMK 914.036 1.203.660 75,9 977.652 1.348.203 72,5
JUMLAH 442.928 623.904 67,22 493.607 703.901 66,94
Sumber : Sakernas tahun 2001 dan 2002
Keterangan : *) Pekerja buruh/karyawan dan pekerja bebas
**) Rasio upah adalah upah perempuan dibagi upah laki-laki
Masyarakat miskin juga mempunyai akses yang terbatas untuk memulai dan mengembangkan koperasi dan usaha, mikro dan kecil (KUMK).
Permasalahan yang dihadapi antara lain sulitnya mengakses modal dengan suku bunga rendah, hambatan untuk memperoleh ijin usaha, kurangnya perlindungan dari kegiatan usaha, rendahnya kapasitas kewirausahaan dan terbatasnya akses terhadap informasi, pasar, bahan baku, serta sulitnya memanfaatkan bantuan-teknis dan teknologi. Ketersediaan modal dengan tingkat suku bunga pasar, masih sulit diakses oleh pengusaha kecil dan mikro yang sebagian besar masih lemah dalam kapasitas SDM.
Selain kesulitan mengakses modal tersebut, tidak adanya lembaga resmi yang dapat memberi modal dengan persyaratan yang dapat dipenuhi kapasitas masyarakat miskin. Kenyataan ini tidak memberi pilihan lain untuk memperoleh modal dengan cara meminjam dari rentenir dengan tingkat bunga yang sangat tinggi. Masyarakat miskin juga menghadapi masalah lemahnya perlindungan terhadap aset usaha, terutama perlindungan terhadap hak cipta industri tradisional, dan hilangnya aset usaha akibat
penggusuran. Usaha koperasi juga seringkali menghadapi kesulitan untuk menjadi badan hukum karena persyaratan yang sangat rumit, seperti batas modal, anggota, dan kegiatan usaha. Dengan tidak menjadi badan hukum koperasi menjadi sulit berkembang dan kehilangan kesempatan untuk meningkatkan kapasitas melalui pelatihan yang diselenggarakan oleh pemerintah.
Masalah lain yang dihadapi dalam pengembangan KUMK adalah lemahnya perlindungan terhadap usaha yang dikembangkan oleh masyarakat, melimpahnya barang impor yang menyebabkan menurunnya daya saing produk KUMK, menyebarnya bisnis waralaba yang mempersempit ruang usaha mikro dan kecil, dan terbatasnya ruang bagi tempat usaha informal yang berakibat pada penggusuran. Menurut Statistik Koperasi 2004, saat ini jumlah koperasi aktif di Indonesia meningkat dari 92.531 menjadi 93.800.
Koperasi yang tidak aktif meningkat dari 26.113 menjadi 29.381. Dari keseluruhan jumlah koperasi di Indonesia, sebagian besar berada di pulau Jawa. Jumlah koperasi tertinggi adalah Jawa Barat dengan 18.042 koperasi, terdiri dari 13.396 koperasi yang aktif dan 4.646 koperasi yang tidak aktif).
Sedangkan jumlah koperasi terendah terdapat di Bangka Belitung, yaitu 483 (368 aktif dan 115 tidak aktif) pada tahun 2003.
2.3.1.5 Terbatasnya Akses Layanan Perumahan
Tempat tinggal yang sehat dan layak merupakan kebutuhan yang masih sulit dijangkau oleh masyarakat miskin. Dalam berbagai diskusi dengan masyarakat, kondisi perumahan merupakan ciri utama yang paling sering dipakai dalam mengenali penduduk miskin, dan gejala ini menunjukkan adanya ketimpangan dalam pemenuhan hak atas permukiman yang layak.
Secara umum, masalah utama yang dihadapi masyarakat miskin adalah terbatasnya akses terhadap perumahan yang sehat dan layak, rendahnya mutu lingkungan permukiman dan lemahnya perlindungan atas pemilikan perumahan.
Masalah perumahan yang dihadapi oleh masyarakat miskin di perkotaan berbeda dengan masyarakat miskin yang berada di perdesaan. Di perkotaan,
Strategi Nasional Penanggulangan Kemiskinan
44
keluarga miskin sebagian besar tinggal di perkampungan yang berada di balik gedung-gedung pertokoan dan perkantoran, dalam petak-petak kecil, saling berhimpit, tidak sehat dan seringkali dalam satu rumah ditinggali lebih dari satu keluarga. Keluarga miskin di perkotaan juga sering dijumpai tinggal di pinggiran rel, di bawah jembatan tol dan di atas tanah yang diterlantarkan. Mereka sering tidak mempunyai kartu tanda penduduk (KTP) dan dianggap sebagai penyandang masalah sosial yang setiap saat bisa digusur dan dipindahkan karena menempati tanah yang bermasalah. Dalam hal ini, tidak terpenuhinya hak atas permukiman cenderung membatasi akses mereka untuk mendapat pelayanan umum lainnya, seperti akses kredit atau pekerjaan formal yang memerlukan bukti kepemilikan KTP.
Data Potensi Desa 2003 BPS, menunjukkan sebaran keluarga yang bertempat tinggal di bantaran kali dan permukiman kumuh menurut kabupaten/kota (lihat Gambar 2.15). Sekitar 17 Kabupaten/Kota termasuk daerah dengan jumlah keluarga lebih dari 19.000 yang bertempat tinggal di bantaran sungai dan permukiman kumuh.
Kondisi permukiman mereka juga seringkali tidak dilengkapi dengan lingkungan permukiman yang memadai. Masalah ini sering terjadi di kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, Semarang dan kota lain yang tumbuh cepat. Untuk mendapatkan tempat bermukim yang sehat dan layak, mereka tidak mampu membayar biaya awal untuk mendapatkan perumahan sangat sederhana dengan harga murah. Perumahan yang diperuntukkan bagi golongan berpenghasilan rendah terletak jauh dari pusat kota tempat mereka bekerja sehingga beban biaya transportasi akan mengurangi kemampuan mereka untuk menenuhi kebutuhan hidup lain yang lebih mendesak. Hal ini berkaitan dengan lemahnya pelaksanaan aturan 1:3:6 bagi pengembang dalam pembangunan rumah mewah, rumah menengah dan rumah sederhana, pajak yang memberatkan, dan mahalnya harga tanah di perkotaan.
Masyarakat miskin yang tinggal di kawasan nelayan, pinggiran hutan, dan pertanian lahan kering juga mengeluhkan kesulitan memperoleh perumahan dan lingkungan permukiman yang sehat dan layak. Kesulitan perumahan dan permukiman masyarakat miskin di daerah perdesaan umumnya disiasati dengan menumpang pada anggota keluarga lainnya. Dalam satu rumah seringkali dijumpai lebih dari dari satu keluarga dengan fasilitas sanitasi
Strategi Nasional Penanggulangan Kemiskinan
46
yang kurang memadai. Hal ini terjadi pada masyarakat perkebunan yang tinggal di dataran tinggi seperti perkebunan teh di Jawa. Mereka jauh dan terisiolasi dari masyarakat umum. Sementara itu, bagi penduduk lokal yang tinggal di pedalaman hutan, masalah perumahan dan permukiman tidak berdiri sendiri, tetapi menjadi bagian dari masalah keutuhan ekosistem dan budaya setempat. Sebagai gambaran, sebaran keluarga yang bertempat tinggal di Kawasan Lindung disajikan pada Gambar 2.16.
Rumahtangga dengan lantai terluas dari tanah menunjukkan derajat kesejahteraan masyarakat. Lebih dari 18% rumahtangga yang tinggal di NTT, Jawa Tengah, Maluku Utara, Lampung, Jawa Timur, Papua, Maluku, dan NTB masih mendiami rumah yang lantai terluasnya adalah tanah. Perbandingan antarwaktu di setiap provinsi selama periode 2001-2003, menunjukkan bahwa persentase rumahtangga yang memiliki lantai tanah terluas mengalami peningkatan adalah Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Maluku, Papua, Jambi, Bangka Belitung, DKI dan Jawa Barat, (lihat Gambar 2.17)