Tadbir: Jurnal Manajemen Dakwah
https://jurnal.fdk.uinsgd.ac.id/index.php/tadbir ISSN: 2623-2014 (Print)ISSN: 2654-3648 (Online)
PEREMPUAN DALAM BINGKAI FILANTROPI DI DUNIA PENDIDIKAN
(Southern Poor Whites and Higher Education: Martha Berry’s Philanthropic Strategies in the Building of Berry College)
Karya : Andrea Walton
Noneng Irma Susanti*1, Sahrul2, Amin Hamdani3
123Jurusan Manajemen Dakwah Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung
*E-mail: 1[email protected]
ABSTRAK
Perempuan memiliki peran yang sangat vital dan juga berpengaruh bagi kelangsungan kehidupan masyarakat, diantaranya peran amal filantropi.
Filantropi adalah proses dialektika antara satu individu dengan individu lainnya, cinta, rahmat dan keadilan, kerelawan dan kewajiban, serta bantuan dan pengembangan (Payton, 1998:39). Relasi antara perempuan dan filantropi yang dekat dan saling berhubungan menjadikan perempuan sebagai aktor utama dalam suksesnya amal filantropi. Artikel ini bertujuan untuk mengetahui isi buku
“woman and phylantrophy in education“ yang ditulis oleh Andrea Walton, dan untuk mendapatkan gambaran terkait perkembangan filantropi di dunia. Adapun metode yang digunakan dalam penyusunan artikel review buku ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka, dengan langkah-langkah penelitiannya yaitu mengumpulkan sumber primer berupa artikel, jurnal, dan rujukan online lainnya terkait penjelasan materi yang relevan dengan judul review buku ini. Berdasarkan hasil pengamatan terhadap artikel didapatkan kesimpulan bahwa karya filantropis seorang perempuan bernama Martha Berry, adalah bukti tekadnya untuk memperluas kesempatan pendidikan di pedesaan Georgia, dimana hal ini merupakan salah satu kisah tentang kebangkitan
2 Tadbir: Jurnal Manajemen Dakwah
pendidikan yang hebat di Selatan, pada awal abad kedua. Martha Berry adalah seorang pemimpin dalam pendidikan selatan yang kegiatan filantropinya mampu mengubah lanskap pendidikan bagi ribuan anak kulit putih pedesaan. Sebagai wanita kulit putih selatan di paruh pertama abad kedua puluh, ia sering kali harus menyesuaikan strateginya dengan posisinya yang masih marjinal di masyarakat.
Gigih dan kreatif dalam mencari pendanaan, berani mengambil keputusan, serta optimis dalam mencapai tujuan, tak mengherankan jika usaha dan perjuangannya mampu membuatnya menciptakan institusi yang dapat bertahan lama.
Kata Kunci: Filantropi, Perempuan, Pendidikan
PENDAHULUAN
Di era disrupsi ini perempuan dituntut untuk mampu beradaptasi dengan adanya perubahan, baik dilingkungan keluarga maupun masyarakat sekitarnya. Perannya yang beraneka ragam menjadikan perempuan kebal akan terpaan dan cobaan yang dialaminya. Pembahasan perempuan tentu tidak terlepas dari pembahasan anak, dan keduanya menjadi relasi penting terutama dalam artikel yang akan kita bahas ini.
Perempuan memiliki peran yang sangat vital untuk kelangsungan hidup keluarga dan bagi kelangsungan kehidupan masyarakat. Salah satunya adalah peran amal filantropi. Filantropi adalah proses dialektika antara satu individu dengan individu lainnya, cinta, rahmat dan keadilan, kerelawan dan kewajiban, serta bantuan dan pengembangan (Payton, 1998:39). Relasi antara perempuan dan filantropi yang dekat dan saling berhubungan menjadikan perempuan sebagai aktor utama dalam suksesnya amal filantropi.
Filantropi menjadi salah satu modal sosial yang hampir dimiliki oleh mayoritas masyarakat dan telah menjadi tradisi yang menyatu di dalam kultur komunal yang telah mengakar sejak lama khususnya di masyarakat pedesaan.
Menurut elaborasi Hilman Latief (2013) konsep filantropi selalu berkaitan erat dengan rasa kepedulian, solidaritas dan relasi sosial antara orang miskin dan
Tadbir: Jurnal Manajemen Dakwah 3
orang kaya, orang yang kuat dan yang lemah, orang yang beruntung dan tidak beruntung, serta antara orang yang memiliki kuasa dan tuna-kuasa. Dimana dalam perkembangannya, konsep filantropi jika dimaknai secara lebih luas, yakni tak hanya berkaitan dengan kegiatan berderma itu sendiri, melainkan pada bagaimana efektifitas sebuah kegiatan "memberi", baik dari segi material maupun non-material, dapat mendorong perubahan kolektif di masyarakat.
Buku dengan judul "Women and Philantropy in Education" ini adalah buku berbahasa asing (Inggris) yang ditulis oleh Andrea Walton yang memiliki arti dalam bahasa Indonesia yaitu “Perempuan dan Filantropi dalam Pendidikan" akan memaparkan secara gamblang topik yang sudah disinggung diatas. Dan penulis memiliki tanggungjawab untuk melakukan review pada bagian tiga dalam buku ini yaitu tentang Southern Poor Whites and Higher Education: Martha Berry’s Philanthropic Strategies in the Building of Berry College yang artinya adalah "Kulit Putih Miskin Selatan dan Pendidikan Tinggi:
Strategi Filantropi Martha Berry di Gedung Berry College". Pembahasan yang dipaparkan dalam bab 3 dibuku ini adalah bagaimana penulis menjelaskan latar belakang dan tokoh yang berperan dalam dunia pendidikan yaitu strategi filantropi Martha Berry di Gedung Berry Collage dalam membangun sekolah dan memberikan pendidikan yang layak dan berkualitas bagi anak-anak kulit Putih miskin di Selatan, daerah pegunungan Georgia.
Dimana pendirian sekolahnya ini di ilhami oleh keinginan Berry untuk membantu anak-anak pemilik tanah miskin dan petani penyewa di Georgia yang tidak memiliki akses ke pendidikan berkualitas. Sebagai konsekuensi dari keinginannya ini Martha Berry tidak pernah menikah, dan ia mengabdikan seluruh hidupnya untuk mengembangkan sekolah yang pada akhirnya akan menjadi Berry College.
4 Tadbir: Jurnal Manajemen Dakwah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka penulis merasa tertarik untuk menganalisis beberapa aspek yang dibahas dalam buku ini, yakni: 1) Ingin menelaah lebih jauh terakit peran perempuan terhadap filantropi pendidikan di daerah pedesaan; 2) Ingin mengetahui strategis dan langkah apa saja yang dilakukan perempuan dalam memperjuangkan pendidikan bagi anak-anak pedesaan; 3) Untuk mengetahui dampak filantropi pendidikan yang dilakukan perempuan bagi anak-anak pedesaan.
Metode yang digunakan dalam penyusunan artikel review buku Women and Philantrophi in Education ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka, adapun langkah-langkah penelitiannya yaitu dengan mengumpulkan sumber primer berupa artikel, jurnal, dan rujukan online lainnya terkait penjelasan materi yang relevan dengan judul review buku ini. Namun, berdasarkan hasil penelusuran, penulis tidak dapat menemukan adanya review buku sejenis, sehingga penyusunan artikel review buku ini dibuat tanpa adanya contoh yang bisa dijadikan perbandingan. Akan tetapi, ada beberapa jurnal yang topik bahasannya relevan untuk dijadikan rujukan, diantaranya adalah: Lestari, Indah; Konsep Filantropi Menurut Hilman Latief; 2019. DanFauziah B, Lilis;
Pendidikan Filantropi untuk Perempuan Berbasis Kewirausahaan Perspektif Al-Qur'an;
2021.
LANDASAN TEORI Filantropi
Menurut Prihatna (2005:3), istilah filantropi (philanthropy) berasal dari bahasa yunani, Philos (cinta) dan anthropos (manusia). Secara harfiah, filantropi adalah konseptualisasi dari praktik memberi (giving), pelayanan servis (services) dan asosiasi secara Fundraising atau Pendanaan sukarela untuk membantu pihak lain yang membutuhkan sebagai ekspresi rasa cinta. Sebagai bentuk rasa cinta,
Tadbir: Jurnal Manajemen Dakwah 5
individu atau kelompok, filantropi diwujudkan dengan menyisihkan sebagian dari waktu, bantuan (pertolongan) atau uang untuk kebaikan masyarakat (Encarta, 2004). Dikutip dari American heritage Dictonary, bahwa pengertian filantropi mencakup tiga hal; 1) Upaya untuk meningkatkan taraf hidup umat manusia, 2) Mencintai umat manusia secara universal (menyeluruh) dan 3) Aktivitas yang ditujukan untuk mempromosikan kesejahteraan manusia.
Amal dan filantropi sulit dibedakan karena saling melengkapi, sama halnya dengan filantropi dan pendanaan, keduanya adalah dua aspek saling ketergantungan yang penting adanya agar terwujudnya kegiatan filantropi itu sendiri. Kata fundraising berasal dari bahasa Inggris yang berarti penghimpunan atau penggalangan dana. Orang yang mengumpulkan dana disebut fundraiser (Salim, 2000: 607). Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, penggalangan bermakna proses, cara perbuatan mengumpulkan, penghimpunan dan pengarahan. (Departemen Pendidikan Nasional, 2002: 612). Dalam konteks pembahasan ini, fundraising adalah kegiatan mengumpulkan dana atau bantuan yang dialokasikan untuk kepentingan sosial.
Selanjutnya dalam konteks Islam, kegiatan fundraising merupakan salah satu perintah Allah SWT, yang mana hal ini telah secara tegas diperintahkan dalam Al-Qur'an surat At-Taubah ayat 103 yang artinya: “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (QS. At-Taubah: 103)
Dengan demikian, kegiatan mengumpulkan dana atau bantuan sosial (fundraising) merupakan tugas mulia dalam mengamalkan ayat di atas. Kegiatan ini adalah dakwah pencerahan, suatu upaya maksimal untuk mewujudkan ajaran Islam dalam praksis sosial. Selanjutnya, kegiatan mengajak orang lain untuk
6 Tadbir: Jurnal Manajemen Dakwah
berbagi dan menolong sesama ini tentunya harus dilakukan dengan cara-cara yang baik, tepat, dan profesional. Maka dari itu, semua kegiatan ini harus dirancang dengan matang mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga pelaporan.
Peran Perempuan
Menurut soerjono Soekanto (2002) peranan ialah aspek dinamis kedudukan (status). Jika seseorang melaksanakan hak dan kewajibannya dengan kedudukannya maka ia menjalankan suatu peranan. Peranan menurut Komarudin adalah bagian dari tugas utama yang harus dilaksanakan oleh seorang pelaku manajemen. Pola prilaku yang diharapkan dapat menyertai status.Bagian suatu fungsi seseorang dalam suatu kelompok atau peranan serta pencapaian tujuan setiap variable hubungan sebab akibat. Berdasarkan uraian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa peranan merupakan penilaian sejauh mana fungsi seseorang atau bagian dalam menunjang usaha pencapaian tujuan yang ditetapkan atau ukuran mengenai hubungan dua variable yang mempunyai hubungan sebab-akibat.
Laki-laki dan perempuan pada hakikatnya sama dalam menerima hak kesetaraan gender, tetapi pada hal biologis keduanya memiliki perbedaan.
Gender selalu mengacu pada perbedaan peran social serta tanggungjawab perempuan dan lelaki pada prilaku dan karakteristik yang dipandang tepat untuk perempuan dan laki-laki serta pandangan tentang bagaimana beragam kegiatan yang mereka lakukan seharusnya dinilai dan dihargai. Peran ialah aspek dinamis dari status yang sudah terpola dan berada disekitar hak dan kewajiban tertentu.
Peran gender antar masyarakat atau bahkan antar kelompok di dalam masyarakat tertentu tentunya berbeda dan kerap mengalami perubahan.
Tadbir: Jurnal Manajemen Dakwah 7
Secara universal, peran gender untuk perempuan dan laki-laki dibedakan dalam tiga peranan pokok, yakni:
1. Peran reproduktif (Domestik) merupakan peran yang dilakukan oleh seseorang untuk melakukan kegiatan yang terkait dengan pemeliharaan sumber daya manusia dan tugas kerumahtanggaan seperti menyajikan makanan,mengisi air, mengisi gas, belanja kebutuhan keluarga, memelihara kesehatan dan gizi keluarga, serta mendidik dan mengasuh anak.
2. Peran Produktif, ialah pekerjaan produktif terkait pekerjaan yang menghasilkan barang dan jasa untuk dikonsumsi dan diperjualbelikan (petani, nelayan, konsultansi, jasa, pengusaha dan wirausaha).
3. Peran masyarakat (Sosial) yakni terkait dengan kegiatan jasa dan partisipasi politik yang dilakukan di lingkungan masyarakat.
Wanita adalah seorang manusia yang memiliki tendensi feminim dan memiliki daya tarik kecantikan. Maka dapat disimpulkan bahwa wanita ialah seorang gadis dengan daya tarik kecantikan dan memiliki sifat keibuan yang telah mencapai usia dewasa dan telah memiliki kematangan baik secara emosi dan afeksi serta memiliki sifat-sifat khas kewanitaan. Ibraham (2005).
Pada masa jahiliyah, posisi dan peran wanita sangat direndahkan dan tidak dihargai sama sekali, bahkan mendapatkan anak perempuan dizaman itu dianggap aib besar bagi kedua orang tuanya. Padahal jika kita lihat firman Allah SWT dalam Al-Qur’an surat An-Nahl ayat 97 dan Qs.Ali Imran ayat 195 dijelaskan bahwa penempatan wanita sejajar dengan laki-laki. Ayat tersebut secara tegas menempatkan kesejajaran antara laki-laki dan perempuan dalam bekerja dan mendapatkan hak-haknya. Pada dasarnya ajaran Islam sangat mendukung perempuan untuk berkarya sesuai dengan kemampuan dan kodratnya. Karena itulah, laki-laki dan perempuan memiliki kedudukan yang sama dalam pandangan Islam, diantaranya laki-laki dan perempuan memiliki
8 Tadbir: Jurnal Manajemen Dakwah
persamaan hak dalam Pendidikan dan ilmu pengetahuan. Wanita juga memiliki hak yang sama untukmenyuarakan hak dan aspirasinya.Bahkan pada masa Rasulullah Saw, wanita juga diperbolehkan untuk ikut berperang mendukung tugas laki-laki (suaminya).
Pendidikan
Mengutip pendapat Ki Hajar Dewantara terkait pendidikan, dijelaskan bahwa pendidikan merupakan tuntutan dalam hidup dan tumbuhnya anak-anak.
Adapun maksudnya, pendidikan yaitu menuntun segala kekuatan kodrat yang terdapat pada anak-anak, agar mereka sebagai manusia dan sebagai warga masyarakat diharap mampu mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya.
Filantropi dan pendidikan memiliki keterkaitan yang berhubungan dengan akhlak manusia dalam hal berbagi. Filantropi diharapkan mampu menjadi pola kebiasaan Islami yang positif dengan tujuan untuk kemaslahatan umat. Disamping itu filantropi dimaksudkan agar dapat meningkatkan daya intelektual serta melatih kepedulian terhadap sesama berlandaskan kasih sayang dengan proses yang teratur untuk jangka panjang. Dengan harapan setiap insan memiliki kepedulian terhadap lingkungannya sehingga dapat menjadi solusi problematika kemiskinan dengan konsep yang sesuai di era milenial saat ini.
Sikap tulus dari hati nurani dan rasa ikhlas memberi tanpa tuntutan dari pihak manapun menjadi poin utama dalam dalam melakukan filantropi demi terwujudnya tujuan yang diharapkan.
Selain itu disadari atau tidak, awal perkembangan dan penyebaran lembaga pendidikan Islam di Indonesia, mulai dari pesantren, madrasah dan sekolahhingga perguruan tinggi tidak bisa terlepas dari kegiatan filantropi. Salah satu bentuk kontribusi yang paling dominan dari masyarakat sipil terhadap pendirian lembaga-lembaga sosial dan pendidikan adalah kegiatan wakaf, yaitu
Tadbir: Jurnal Manajemen Dakwah 9
penyerahan aset berupa lahan atau bangunan dari seseorang atau sebuah keluarga (waqif) untuk dikelola oleh seseorang atau lembaga (nadzir). Praktik wakaf atau dalam bahasa Inggris sering diistilahkan “pious endowment‟
memiliki usia ribuan tahun bahkan dipraktikan sebelum zaman Islam. Jadi, dapat difahami bahwa wakaf adalah praktik kedermawanan yang juga dipraktikan dalam tradisi dan kebudayaan lain di luar tradisi Islam. Keterkaitannya dengan kemiskinan, gerakan filantropi dan pendidikan tidak hanya terjadi dan dilakoni orang Islam, melainkan hal yang sama justru lebih banyak terjadi di negara- negara Eropa, terutama pada abad ke enam belas sampai delapan belas bersamaan dengan munculnya gagasan mendirikan lembaga pendidikan oleh gereja-gereja seiring dan sejalan dengan pendirian panti-panti sosial.
HASIL DAN PEMBAHASAN Biografi Penulis
Andrea Walton adalah seorang perempuan yang berperan sebagai asisten professor Pendidikan di universitas Indiana, Bloomington, dimana ia mengajar program Pendidikan tinggi dan yayasan Pendidikan dan ia juga merupakan anggota fakultas studi filantropi. Minat penelitiannya berfokus pada sejarah Pendidikan dan sejarah filantropi, terutama yang berkaitan dengan pengalaman perempuan. Dia telah menerbitkan artikel tentang filantropi wanita, pendidikan tinggi wanita, dan sejarah universitas serta asosiasi sukarela di tempat-tempat seperti sejarah pendidikan, jurnal pendidikan tinggi, dan triwulanan sejarah pendidikan.
SKEMA ARTIKEL
Pada artikel dalam buku ini membahas mengenai perjalanan Martha Berry dalam merealisasikan mimpi dan harapannya mendirikan sekolah yang mewadahi anak-anak berkulit putih miskin pegunungan Georgia yang tidak
10 Tadbir: Jurnal Manajemen Dakwah
memiliki akses ke pendidikan berkualitas. Dan diantara perjalanannya dibagi menjadi beberapa sub bahasan, yaitu:
1. Merealisasikan Impian
Disinilah dimulainya perjuangan serta proses awal bagaimana Martha Berry mendirikan sekolahnya. Setelah sukses menjalankan sekolah harian untuk misi pertamanya, Berry kemudian merencanakan pengalaman pendidikan langsung sepanjang tahun yang dirancang untuk mempersiapkan anak gunung untuk pengalaman hidup, yakni pada tahun 1900 ia membuka Sekolah Sabat formal pertamanya di gedung yang lebih besar di tanah milik keluarganya. Pada tahun 1902 ia menyerahkan tanah warisannya ke Sekolah Industri Anak Laki-Laki, sekolah asrama pertama yang akan ia dirikan. Dan pada tahun 1909 Berry membuka sekolah perempuan, dan murid-muridnya seperti yang ada di sekolah laki-laki—bekerja di operasional lembaga sehari- hari. Setiap siswa mengikuti kurikulum sekolah umum biasa tetapi juga diwajibkan untuk mencurahkan dua jam untuk tugas-tugas setiap hari.
Kemudian pada tahun 1920-an, Sekolah Berry memiliki daftar tunggu yang panjang dan menerima perhatian dan uang dari para dermawan di seluruh negeri. Kegigihan, tekad, dan kecerdasan politik yang memungkinkan Berry untuk memanfaatkan kekayaan yang dihasilkan oleh industrialis dan pengusaha awal abad kedua puluh memungkinkan Sekolah dan Perguruan Tinggi untuk berkembang dan juga menarik perhatian nasional pada model sekolah kerja.
Sadar akan kurangnya pengetahuan dan pengalamannya sebagai guru, Berry mempekerjakan Elizabeth Brewster, wanita yang menjadi lulusan terbaik dari Leland Stanford University yang memiliki minat khusus dalam ggbgmendidik orang-orang yang kurang mampu. Kedua wanita ini, akhirnya
Tadbir: Jurnal Manajemen Dakwah 11
tinggal diasrama sekolah baru, karena keluarga Berry merasa keberatan jika Brewster tinggal bersama mereka.
Pada tahun-tahun pertama itu, Brewster dan Berry melakukan apa yang sekarang biasa kita sebut "multitasking". Pada siang hari mereka menjadi guru, sementara di malam hari mereka menjadi selayaknya ibu dengan mencoba meredakan kerinduan anak-anak lelaki yang jauh dari keluarga dan rumah untuk pertama kalinya dalam hidup mereka. Para wanita sopan ini juga merapikan tempat tidur, mencuci pakaian, memasak makanan yang tak terhitung banyaknya di atas tungku kayu sekolah, dan membersihkan semak-semak. Berry, seperti banyak dari kelas sosialnya di awal abad kedua puluh, percaya bahwa beberapa orang kulit putih pegunungan penuh keterbelakangan dan perlu diajari etika kerja yang sehat.
Setiap hari, dia dan Elizabeth Brewster menjalankan filosofi bahwa bekerja itu terhormat.
Namun, sejak awal, Berry menemukan bahwa filosofi ini dapat bertentangan dengan nilai-nilai budaya lokal. Pemberontakan hampir terjadi selama minggu-minggu pertama, ketika anak-anak lelaki itu mengetahui bahwa mereka harus melakukan "pekerjaan wanita" yaitu mencuci dan memasak. Berry dengan tegas masuk untuk memadamkan perlawanan anak laki-laki itu dengan memberinya pemahaman terhadap tugas-tugas khusus gender.
Terlepas dari jaminan siswa dan alumni bahwa mereka tidak melihat diri mereka sebagai buruh yang dieksploitasi, Martha Berry dan sekolahnya secara berkala mendapat kecaman karena mengandalkan tenaga kerja siswa daripada pekerja yang dibayar. Jarang orang kulit putih membuat tuduhan publik bahwa orang kulit hitam atau penduduk asli Amerika di sekolah industri sedang dieksploitasi, dan Berry tetap waspada untuk
12 Tadbir: Jurnal Manajemen Dakwah
mempertahankan apa yang dia inginkan, yang disebut “aristokrasi kerja”.
“Kami mengajarkan di sini bahwa satu-satunya bangsawan sejati adalah pekerja pria dan wanita yang melakukan sesuatu untuk seseorang, yang membantu orang lain dalam pekerjaan sehari-hari mereka di toko, di pertanian, di susu, dan di binatu”. Itulah prinsip yang senantiasa Berry yakini selama ini.
2. Langkah dan Strategi Perjalanan Berry dalam Memperjuangkan Filantropi Pendidikan
Perjalanan dan usaha yang ditempuh Martha Berry mencari donatur atau pendanaan untuk sekolahnya yang sedang membutuhkan sumbangan dana. Berry pergi ke New York pada musim dingin yang keras tahun 1905.
Dia juga memperoleh nama-nama pengusaha kaya di Wall Street.
Sumbangan signifikan pertama yang dia terima di New York adalah dari R.
Fulton Cutting sebesar lima ratus dolar. Perjalanan pertamanya ke utara menghasilkan total $1700 untuk sekolah dan kasus pneumonia yang parah.
Kemudian Berry menjadi lebih akrab dengan jaringan filantropis yang memberikan uang untuk Pendidikan selatan. Untuk mendidik dirinya sendiri dan mendapatkan informasi tentang pendonor potensial, dia juga menghadiri pertemuan seperti Konferensi Pendidikan untuk Selatan dan Institut Chautauqua Pendidikan orang dewasa yang populer.
Berry menerima bantuan dana dari Andrew Carnegie sebanyak $50.000, dengan syarat Berry mengumpulkan $50.000 yang sesuai dari sumber lain.
Kemudian ia juga mendapat sumbangan senilai $25.000 dari temannya bernama Margaret Olivia Sage. Selanjutnya, eksposur nasional pertama Berry melibatkan kunjungan mantan presiden Theodore. Setelah Roosevelt, Berry mendapatkan audiensi dengan setiap presiden sampai kematiannya pada tahun 1942.
Tadbir: Jurnal Manajemen Dakwah 13
Selain itu, Berry mendapat kesempatan untuk belajar langsung tentang karya Booker T. Washington's Tuskegee Institute dan memanfaatkan jaringan donor kayanya. Karena Perang Dunia I menghadirkan tantangan baru bagi Sekolah Berry yang sedang berkembang. Dengan penambahan Sekolah Perempuan pada tahun 1910, pendaftaran telah meningkat menjadi hampir dua ratus siswa. Banyak siswa yang tidak memiliki kesempatan untuk sekolah formal ketika mereka masih muda menghadiri Berry di akhir usia belasan dan awal dua puluhan, dan perang menarik siswa dari sekolah ke front Eropa. Demikian pula, banyak penasihat dan wali Martha juga dipanggil untuk melayani secara aktif. Sumber-sumber filantropi reguler dialihkan ke tujuan perang, dan dia semakin dibiarkan sendiri untuk mengelola urusan sekolah dan menghasilkan dana dari sumber-sumber baru.
Pada bulan berikutnya Martha telah berhasil bergabung dengan sekelompok donor dan pengawas yang mengunjungi Tuskegee. Terkesan dengan tingkat keterlibatan dan kantong yang dalam dari para wali Tuskegee, Martha bertekad untuk memasarkan sekolahnya kepada orang yang sama. Dia dengan sungguh-sungguh memulai kampanye yang menyatakan, “Kami melakukan pekerjaan seperti itu untuk anak laki-laki dan perempuan kulit putih yang malang di Selatan seperti yang telah dilakukan Dr. Washington untuk rasnya”
Cara yang ditempuh Martha yakni memanfaatkan ideologi patriotik seputar Perang Dunia I termasuk peningkatan nativismenya untuk meningkatkan dukungan bagi sekolahnya. Dimana ia terus menyuarakan akan pentingnya menyelamatkan ras Anglo-Saxon. Berry mengatakan “Saat ini patriotisme tertinggi menuntut agar kita memanfaatkan setiap sumber
14 Tadbir: Jurnal Manajemen Dakwah
daya bangsa kita. Bahan terbaik didunia dapat ditemukan tersembunyi diantara bukit-bukit selatan ini”.
3. Dampak Filantropi Berry Terhadap Pendidikan
Berakhirnya Perang Dunia I mengantarkan era baru dalam akuisisi filantropis untuk sekolah-sekolah. “Perjalanan mengemis" tahunan Martha akhirnya membuahkan hasil yang baik pada tahun 1920-an ketika dia berkenalan dengan Henry Ford dan istrinya Clara. Keluarga Ford mengembangkan persahabatan yang hangat dengan Martha dan sekolahnya, yang berlangsung sampai akhir hayatnya.
Selain menggunakan pesona dan kefasihannya untuk mengumpulkan uang, Berry menghibur para dermawan selama kunjungan dikampus yang diatur dengan cermat; memang, ia dikenal dengan kepiawaiannya dalam mendramatisasi prestasinya. Mungkin penaklukan terbesarnya adalah Henry Ford, yang begitu terpikat oleh apa yang digambarkan Berry ”sebagai makanan buatan sendiri, makan malam yang dimasak dirumah, dan sekolah yang dibuat dirumah" sehingga dia sering menjadi pengunjung. Selama tahun 1920-an, Ford menyumbangkan koleksi bangunan bergaya Gotik senilai empat juta dolar. Pada tahun 1926, Berry College didirikan, dan kemudian Sekolah Praktek Model ditambahkan. Kampus menjadi kota mandiri, dengan pabrik, kebun buah-buahan, ternak kambing dan sapi, toko roti, dan toko mobil tempat Ford bermain selama kunjungannya sementara istrinya melakukan lebih banyak kegiatan domestic dirumah perempuan.
Dengan bantuan uang Ford, tahun 1920-an adalah masa kejayaan bagi Sekolah Berry. Ekspansi telah memungkinkan Martha Berry untuk menerima lebih banyak siswa daripada sebelumnya. Pada tahun 1920-an dia telah memperoleh lebih dari dua puluh ribu hektar tanah, dan siswa
Tadbir: Jurnal Manajemen Dakwah 15
berjumlah ratusan. Mereka bekerja di fasilitas pertanian, memasak, dan binatu terkini sambil mendapatkan Pendidikan akademis. Sekolah Berry sekarang termasuk Sekolah Gunung untuk pria yang lebih tua (program Pendidikan lanjutan awal) dan Faith Cottage, sebuah sekolah kecil untuk anak perempuan (banyak diantaranya adalah anak yatim) yang terlalu muda untuk bersekolah disekolah menengah.
Pada saat kematian Martha Berry pada tahun 1942 pada usia tujuh puluh enam, Berry College telah meningkatkan kepemilikan tanahnya menjadi lebih dari tiga puluh ribu hektar. Prestasinya mendapatkan penghargaan yang masih langka bagi wanita kulit putih selatan. Pada tahun 1924 legislatif Georgia memberinya gelar "Warga Negara Georgia yang Terhormat." Pada tahun 1925, jurnalis pembohong Ida Tarbell mengidentifikasi Berry sebagai salah satu dari lima puluh wanita paling berpengaruh di Amerika. Tahun berikutnya Martha menerima Medali Theodore Roosevelt untuk Pelayanan Terhormat. Pada tahun 1932, gubernur Georgia mengangkatnya sebagai wanita pertama dari Dewan Bupati Sistem Universitas Georgia. Dan pada tahun 1934 dia menerima pengakuan internasional untuk karyanya ketika dia dipresentasikan di istana Raja George V dari Inggris.
Tanggapan Penulis
Buku Women and Philantropy in Education menyoroti dorongan filantropi yang telah mempengaruhi Pendidikan perempuan dan tempatnya dalam sejarah filantrofi yang lebih luas di Amerika. Berkontribusi pada sejarah perempuan, pendidikan, dan filantrofi, buku ini menunjukan bagaimana kegiatan sukarela dan usaha Pendidikan yang tumbuh di rumah sama pentingnya dengan donor besar dalam pengembangan filantrofi. Salah
16 Tadbir: Jurnal Manajemen Dakwah
satu esai dalam buku ini menjelaskan secara rinci mengenai perjalanan seorang wanita tangguh bernama Martha Berry dalam mendirikan lembaga pendidikan untuk anak-anak kulit Putih miskin di selatan, pegunungan Georgia. Yakni berfokus pada efek filantropi lokal, meski esai ini lebih berfokus pada kehidupan individu para tokohnya yang menawarkan potret pribadi filantropi pada abad ke-19 dan ke-20, namun kisah ini memberikan bukti tentang peran kunci yang dimainkan oleh perempuan salah satunya Martha Berry dalam pengembangan filantropi dan pentingnya pendidikan perempuan.
Dari kisah perjalanan dan perjuangan yang ditempuh Martha Berry untuk menjadi insan yang bermanfaat, dengan membantu orang-orang sekitarnya mendapatkan akses pendidikan yang berkualitas dan layak, adalah kisah inspiratif yang sangat memotivasi dan patut untuk kita teladani.
Kegigihannya membantu orang lain, mengabdikan hidupnya untuk membantu sesama, hingga merelakan kisah asmara dengan tunangannya kandas demi mewujudkan tekad mulianya untuk memberikan pendidikan yang layak dan meningkatkan kualitas serta taraf hidup masyarakat sekitarnya merupakan pengorbanan yang amat sangat patut diapresiasi.
Selain itu, cerita tentang nasihat dan pesan ayahnya juga dapat menjadi reminder bagi kita selaku pembaca untuk bisa mengimplementasikan perintah agama kita yakni menjadi khoiru ummat, karena sebaik-baik manusia adalah yang dapat memberikan manfaat bagi sesamanya. Semoga kita semua bisa lebih peka dan peduli terhadap problematika sosial yang terjadi disekitar kita, bisa mencontoh jejak mulia sebagaimana yang dilakukan oleh Martha Berry dalam hidupnya.
KESIMPULAN
Tadbir: Jurnal Manajemen Dakwah 17
Karya filantropis Martha Berry, adalah bukti tekadnya untuk memperluas kesempatan pendidikan di pedesaan Georgia, dimana hal ini merupakan salah satu kisah tentang kebangkitan pendidikan yang hebat di Selatan pada awal abad kedua. Martha Berry adalah seorang pemimpin dalam pendidikan selatan yang kegiatan filantropinyamampu mengubah lanskap pendidikan bagi ribuan anak kulit putih pedesaan. Sebagai wanita kulit putih selatan di paruh pertama abad kedua puluh, ia sering kali harus menyesuaikan strateginya dengan posisinya yang masih marjinal di masyarakat. Gigih dan kreatif dalam mencari pendanaan, berani mengambil keputusan, serta optimis dalam mencapai tujuan, tak mengherankan jika usaha dan perjuangannya mampu membuatnya menciptakan institusi yang dapat bertahan lama.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad Musthafa Al-Maraghi, Terjemah Tafsir Al-Maraghi, Semarang: PT.
Karya Toha Putra, 1993.
Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta:
Balai Pustaka, 2002), Edisi ke-3.
Flemming, Alice. Guru Wanita Hebat. Philadelphia, PA: Lippincott,1965.
James, Edward T.,ed.Wanita Amerika Terkemuka 1607-1950. Cambridge, MA:Belknap Press dari Harvard University Press,1971.
Latief, Hilman. “Filantropi dan Pendidikan Islam di Indonesia”, Vol.
XXVIII No. 1 2013/1434: 123-139.
18 Tadbir: Jurnal Manajemen Dakwah
Myers, Elisabeth P.Angel dari Appalachia: Martha Berry. NY:Julian Messner,1968.
Payton, R. L., & Moody, M. P. 2008. Understanding Philanthropy; Its Meaning and Mission. Bloomington: Indiana University Press.
Prihatna, Andi Agung. 2005. Filantropi Dan Keadilan Sosial di Indonesia dalam Bamualim, Chaider S. Bamualim dan Irfan Abubakar. Revitalisasi Filantropi Islam; Studi Kasus Lembaga Zakat dan Wakaf di Indonesia.Jakarta: PBB UIN Jakarta dan Ford Foundation
Salim, Peter ‟Collegiate Indonesia-English Dictionary”, (Jakarta: Modern Eglish Press, 2000), cet. ke-1.
https://hudanuralawiyah.wordpress.com/2011/11/25/makalah-teori-teori- pendidikan