• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN"

Copied!
41
0
0

Teks penuh

(1)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

1. Gambaran Umum Direktorat Jenderal Bea dan Cukai KPPBC Tipe Madya Cukai Kudus

Kepabeanan adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan pengawasan atas lalu lintas barang yang masuk (impor) atau keluar (ekspor) dari daerah pabean serta pemungutan bea masuk dan bea keluar.

Cukai adalah pungutan negara yang dikenakan terhadap barang-barang tertentu yang mempunyai sifat dan karakteristik tertentu, yaitu: konsumsinya perlu dikendalikan, peredarannya perlu diawasai, pemakaiannya dapat menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat atau lingkungan hidup, atau pemakaiannya perlu pembebanan pungutan negara demi keadilan dan keseimbangan.

Bea Cukai sering disebut Customs (English) atau Douane (Dutch) merupakan institusi global yang hampir semua negara di dunia memilikinya, seperti halnya kepolisian, angkatan bersenjata, kejaksaan, atau pengadilan, yang eksistensinya telah ada sepanjang masa sejarah negara itu sendiri.

Fungsi Bea Cukai di Indonesia diyakini sudah ada sejak zaman kerajaan dahulu, kemudian sejak VOC masuk, barulah Bea Cukai terlembagakan secara

“nasional”.Nama resmi Bea Cukai pada masa Hindia Belanda adalah De Dienst den Invoer en Uitvoerrechten en Accijnzen (I.U&A). Lembaga Bea Cukai setelah Indonesia merdeka dibentuk pada tanggal 1 Oktober 1946 dengan nama Pejabatan Bea Cukai. Tahun 1948 sampai 1965 berubah nama menjadi Jawatan Bea dan Cukai. Setelah tahun 1965 hingga sekarang, namanya menjadi Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC).

Direktorat Jenderal Bea dan Cukai merupakan instansi yang berada di bawah Kementerian Keuangan Republik Indonesia yang bertugas mengamankan kebijaksanaan Pemerintah yang berkaitan dengan lalu lintas barang yang masuk atau keluar dari daerah pabean Indonesia, dan pungutan bea masuk, bea keluar, cukai, serta pungutan negara lainnya berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

(2)

Dalam rangka melaksanakan tugas dan fungsinya, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) memiliki 3 Kantor Pelayanan Utama, 104 Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai, 154 Kantor Bantu, dan 663 Poos Pengawasan yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia.

Gambar 1. Peta Wilayah Kerja dan Mitra Kerja

Sumber: Informasi Umum Wilayah Kerja KPPBC Tipe Madya Cukai Kudus http://beacukaikudus.com/wilayah-kerja

Dalam menjalankan tugas dan fungsinya, KPPBC Tipe Madya Cukai Kudus memiliki 2 (dua) Kantor Bantu Pelayanan Bea dan Cukai serta 5 (lima) Pos Pengawasan Bea Cukai , yaitu:

1. Kantor Bantu Pelayanan Bea dan Cukai Juwana;

2. Kantor Bantu Pelayanan Bea dan Cukai Jepara;

3. Kantor Bantu Pelayanan Bea dan Cukai Banyutowo;

4. Kantor Bantu Pelayanan Bea dan Cukai Rembang;

5. Kantor Bantu Pelayanan Bea dan Cukai Cepu;

6. Kantor Bantu Pelayanan Bea dan Cukai Blora;

(3)

7. Kantor Bantu Pelayanan Bea dan Cukai Karimun Jawa.

Tabel 1. Pengguna Jasa

No. Pengguna Jasa Jumlah

1. Pengusaha Hasil Tembakau 95

2. Pengusaha TPE MMEA dan EA 13

3. Tempat Penimbunan Berikat 10

Sumber: Bea Cukai Kudus

Pengguna Jasa di KPPBC Tipe Madya Cukai Kudus lebih didominasi oleh pengusaha hasil tembakau yaitu sebanyak 95 (sembilan puluh lima) perusahaan, yang tersebar di seluruh wilayah kerja KPPBC Tipe Madya Cukai Kudus. Namun, percepatan pertumbuhan investasi di wilayah kerja KPPBC Tipe Madya Cukai Kudus telah merubah pandangan selama ini dari kantor yang fokus melakukan pelayanan di bidang cukai, menjadi layanan di bidang kepabeanan dan cukai. Hal ini menuntut KPPBC Tipe Madya Cukai Kudus untuk mengoptimalkan sumber daya yang ada agar mampu secara simultan melaksanakan pelayanan sesuai yang diharapkan pengguna jasa dan melaksanakan pengawasan untuk mencegah terjadinya pelanggaran ketentuan peraturan perundang-undangan Kepabeanan dan Cukai.

Pada tahun 2017, KPPBC Tipe Madya Cukai Kudus diberikan target penerimaan Pabean sebesar 53,005 Milyar rupiah atau naik sebesar 18,88% dari target penerimaan Pabean tahun 2016. Sedangkan target penerimaan Cukai tahun 2017 adalah sebesar 34,729 Trilyun rupiah atau naik sebesar 7,52% dari target penerimaan Cukai tahun 2016.

Tabel 2. Penerimaan Periode Tahun 2014 s.d. 2017 Penerimaan Cukai

Tahun Target (Rp) Realisasi (Rp) %

2014 27.883.565.000.000,- 28.009.364.142.260,- 100,45 2015 35.189.050.474.505,- 34.425.027.804.535,- 97,83 2016 33.944.905.945.736,- 32.527.287.298.460,- 95,82 2017 34.729.000.000.000,- 34.734.000.000.000,- 100,01 Sumber: Bea Cukai Kudus

(4)

Untuk meningkatkan pengawasan dan pelayanan Kepabeanan dan Cukai dalam rangka optimalisasi penerimaan dan pengawasan peredaran rokok ilegal tahun anggaran 2017, KPPBC Tipe Madya Cukai Kudus mencanangkan program kerja:

1. Meningkatkan kualitas pelayanan dengan melakukan peningkatan pengetahuan dan keterampilan pegawai.

2. Optimalisasi penerimaan dengan melakukan Focus Group Discussion (FGD) secara periodik bersama Pengusaha Hasil Tembakau.

3. Meningkatkan kegiatan intelijen dan penindakan terhadap rokok ilegal serta sinergi dengan Bea Cukai di pusat, perlintasan dan pemasaran rokok ilegal.

4. Melakukan pembinaan kepada Pengusaha Tempat Penimbunan Berikat (Customs Clinic) untuk memitigasi kendala-kendala yang ditemui di lapangan dalam menjalankan kegiatan Kepabeanan.

5. Sosialisasi dan pendampingan implementasi Fasilitas Kemudahan Impor Tujuan Ekspor Industri Kecil Menengah (KITE IKM).

a. Berkoordinasi dengan Pemerintah Daerah untuk meningkatkan perekonomian daerah melalui fasilitas KITE IKM.

2. Hasil Penindakan yang dilakukan KPPBC Tipe Madya Cukai Kudus a. Tahun 2015

Gambar 2.245 Ribu Batang Rokok Disita

Sumber: Bea Cukai Kudus

(5)

Kamis, 16 April 2015, Petugas KPPBC Tipe Madya Cukai Kudus berhasil melakukan penindakan terhadap bangunan atau tempat tinggal yang beralamat di Desa Ketileng Singolelo RT.03/RW.04 Kecamatan Welahan Kabupaten Jepara.Berdasarkan informasi yang diperoleh, bangunan tersebut digunakan untuk memproduksi rokok ilegal.

Petugas berhasil mengamankan barang bukti 245.000 batang rokok SKM berbagai merk dengan potensi kerugian negara sebesar 75 juta rupiah.

Beberapa orang pekerja yang saat itu berada di tempat kejadian juga diamankan guna proses penyidikan lebih lanjut.

Kegiatan memproduksi rokok tanpa ijin merupakan bentuk pelanggaran pasal 50 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1995 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2007 tentang Cukai, dengan ancaman hukuman pidana penjara minimal 1 (satu) tahun dan maksimal 5(lima) tahun dan pidana denda minimal 2 (dua) kali nilai cukai dan maksimal 10(sepuluh) kali nilai cukai yang seharusnya dibayar.

b. Tahun 2016

Gambar 3. 1,4 Juta Batang Rokok Ilegal Kembali Digagalkan Bea Cukai Kudus

Sumber: Bea Cukai Kudus

Pada hari Rabu, tanggal 27 Juli2016, Tim Penindakan KPPBC Tipe Madya Cukai Kudus melakukan Penindakan atas dua buah bangunan yang

(6)

berada di Desa Teluk Wetan RT.17/RW.02, Kecamatan Welahan, Kabupaten Jepara yang di dalamnya terdapat Barang Kena Cukai Ilegal. Berikut kronologisnya:

1) Tim Intelijen dan Penindakan KPPBC Tipe Madya Cukai Kudus memperoleh informasi tentang adanya bangunan atau tempat tinggal yang diduga digunakan untuk menimbun Barang kena Cukai (BKC) berupa Rokok Ilegal di daerah Jepara;

2) Berdasarkan informasi di atas, selanjutnya dilakukan pengamatan terhadap bangunan atau tempat tinggal dimaksud yang beralamat Desa Teluk Wetan RT.17/RW.02, Kecamatan Welahan, Kabupaten Jepara;

3) Pada tanggal 27 Juli 2016 sekitar pukul 09.30 WIB, Tim Intelijen dan Penindakan KPPBC Tipe Madya Cukai Kudus melakukan pemeriksaan terhadap bangunan atau tempat tinggal dimaksud dan diperoleh fakta terdapat BKC berupa rokok ilegal dengan total 1.459.856.000 batang, Tembakau Iris 6 karung seberat 242 Kg, 19 pack etiket seberat 270 Kg, 1 karton etiket seberat 20 Kg, 16 Roll CTP, dan 2 buah alat pemanas.

Terhadap barang bukti selanjutnya diamankan ke KPPBC Tipe Madya Cukai Kudus guna proses lebih lanjut.

c. Tahun 2017

Gambar 4. Bea Cukai Kudus Musnahkan 23,5 Ton Rokok Ilegal

Sumber: Bea Cukai Kudus

(7)

Jumat, 21 April 2017 Bea Cukai kudus mengadakan kegiatan pemusnahan terhadap 23,5 ton Barang Milik Negara yang merupakan barang hasil penindakan. Kegiatan seremonial pemusnahan dilaksanakan di halaman Kantor Bea Cukai Kudus, dengan turut disaksikan oleh jajaran Muspida se Eks Karesidenan Pati.

Kegiatan pemusnahan ini dilakukan terhadap obyek pemusnahan yang berupa Barang Milik Negara yang merupakan barang hasil penindakan selama periode bulan Februari 2016 sampai dengan Januari 2017, dengan total 36 berkas SBP. Jumlah dan jenis barang yang dimusnahkan berupa rokok jenis SKM sebanyak 14.425.744 batang, TIS (885 kg), Etiket (1.531 kg), Plastik OPP (10 kg), kertas CTP (59 roll), Jampel dan Pita Cukai yang diduga palsu (7.416 keping), Alat Pemanas (59 buah), dan Filter Rokok (27 tray), dengan total berat sebesar 23.5 ton. Perkiraan total nilai barang sebesar Rp 8.557.495.110,00 , sedangkan potensi kerugian negara yang dihitung dari BHP yang terkait pelanggaran ketentuanUndang-Undang Cukai tersebut adalah sebesar Rp 5.579.776.865,00. Angka tersebut dihitung dari nilai cukai yang seharusnya dibayar ditambah PPN Cukai dan Pajak Daerah.

Pemusnahan BMN (Barang Milik Negara) hasil penindakan dilaksanakan dengan cara ditimbun dan dibakar di TPA Tanjung Rejo sesuai dengan dengan rekomendasi dari Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman, dan Lingkungan Hidup Kabupaten Kudus.

Kepala Kantor Bea Cukai Kudus, Bapak Suryana dalam sambutannya menyampaikan terima kasih kepada para tamu undangan, karena kesuksesan hasil penindakan Bea Cukai Kudus tidak terlepas dari dukungan dan kerjasama dari mitra kerja Bea Cukai Kudus. Jumlah BMN hasil penindakan yang dimusnahkan kali ini meningkat sangat signifikan jika dibanding tahun-tahun sebelumnya.Hal ini menunjukkan keseriusan Bea Cukai dalam memberantas rokok ilegal yang semakin marak di masyarakat.Banyaknya penindakan yang dilaksanakan oleh Bea Cukai Kudus bukan hanya semata-mata karena kurangnya pemahaman masyarakat terkait peraturan di bidang cukai, tetapi juga karena ketatnya regulasi

(8)

dibidang cukai yang akhirnya mendorong beberapa pihak untuk berbuat curang dengan berusaha untuk menghindarinya.

Gambar 5. Bea Cukai Kudus Berhasil Gagalkan Produksi Hasil Tembakau Ilegal

Sumber: Bea Cukai Kudus

Pada hari Rabu, 14 Juli 2017, KPPBC Tipe Madya Cukai (TMC) Kudus melakukan press release terkait hasil penindakan produksi Barang Kena Cukai (BKC) jenis Hasil Tembakau (HT) ilegal.

Atas informasi yang didapat dan setelah melakukan pengamatan, tim Intelijen dan Penindakan KPPBC TMC Kudus berhasil menggagalkan produksi HT ilegal yang dilakukan pada 14 Juni 2017 di Desa Ngeling, Kecamatan Pecangan, Kabupaten Jepara.

Dari hasil penindakan diperoleh bahwa produksi BKC HT tersebut menjalankan kegiatan di bidang cukai tanpa memiliki ijin NPPBKC dan melanggar pasal 50 Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2007 tentang Cukai.

Atas penindakan tersebut, Bea Cukai Kudus berhasil mengamankan barang bukti berupa rokok jenis SKM sebanyak 2.132.320 batang dan pita cukai palsu sebanyak 5.318 keping dengan potensi kerugian negara sebesar Rp. 804.893.460,-.

(9)

Gambar 6. Ratusan Ribu Batang Rokok Ilegal dan Pita Cukai Palsu Disita Petugas Bea Cukai Kudus

Sumber: Bea Cukai Kudus

Senin, 2 Oktober 2017, Kantor Bea Cukai Kudus berhasil menggerebek bangunan yang digunakan sebagai tempat untuk menimbun Barang Kena Cukai (BKC) berupa rokok ilegal di lima lokasi sekaligus di wilayah Kabupaten Jepara. Ratusan ribu batang rokok SKM (Sigaret Kretek Mesin) siap edar dan puluhan ribu keping pita cukai diduga palsu disita oleh aparat Bea Cukai Kudus, yang berpotensi merugikan negara sebesar ratusan juta rupiah.

Hasil tangkapan ini merupakan buah dari pengamatan yang dilakukan oleh Tim Intelijen dan Penindakan Bea Cukai Kudus selama beberapa hari. Tim kemudian melakukan operasi penggerebekan pada hari Rabu, tanggal 27 September 2017 di dua bangunan yang beralamat di Desa Bandungrejo dan Desa Purwogondo, Kabupaten Jepara. Di dua tempat ini petugas mendapatkan barang bukti Rokok SKM sebanyak 364.060 batang dan pita cukai diduga palsu sebanyak 512 keping, dengan total potensi kerugian negara sebesar Rp 135.001.580,-. Pada hari berikutnya, Kamistanggal 28 September 2017 Tim Intelijen dan Penindakan juga

(10)

berhasil melakukan penggerebekan di tiga bangunan yang beralamat di Desa Robayan, Kabupaten Jepara. Di tiga tempat ini petugas mendapatkan barang bukti Rokok SKM sebanyak 458.230 batang dan pita cukai diduga palsu sebanyak 17.251 keping, dengan total potensi kerugian negara sebesar Rp 301.557.150,-.

Gambar 7. Bea Cukai Kudus Amankan Truk Bermuatan Jutaan Batang Rokok Ilegal

Sumber: Bea Cukai Kudus

Kamis, 9 November 2017, Kantor Bea Cukai Kudus kembali mengamankan sebuah truk yang berisi jutaan batang rokok ilegal. Ada sekitar 1,2 juta batang rokok ilegal yang diangkut truk tersebut. Truk bercat hijau tersebut saat ini diamankan di halaman parkir Kantor Bea Cukai Kudus untuk dilakukan penyelidikan lebih lanjut.

Penangkapan ini berawal dari informasi adanya pengiriman rokok ilegal yang berasal dari wilayah Kabupaten Jepara.Tim kemudian melakukan operasi tertutup dengan menyisir jalan-jalan penghubung ke luar Kabupaten Jepara.Alhasil, ditemukan sebuah truk yang dikemudikan oleh A (40 tahun) dengan kernet R (50 tahun) memuat jutaan batang rokok ilegal.Saat ini petugas masih melakukan pemeriksaan insentif, untuk mengetahui asal dan tujuan pengiriman rokok ilegal tersebut.

(11)

Dari hasil pemeriksaan, diperoleh barang bukti berupa rokok jenis Sigaret Kretek Mesin (SKM) tanpa dilekati pita cukai sebanyak 1,2 juta batang dengan perkiraan nilai barang sebesar 1,2 milyar rupiah. Dengan jumlah sebanyak itu, negara berpotensi dirugikan sebesar 440 juta rupiah.

Upaya insentif yang telah dilakukan Bea Cukai Kudus dalam pengawasan dan penegakan hukum terhadap rokok ilegal, diharapkan dapat meminimalisir peredaran rokok ilegal.

Gambar 8. Truk Pengangkut Rokok Ilegal Diamankan Bea Cukai Kudus

Sumber: Bea Cukai Kudus

Bea Cukai Kudus kembali berhasil mengamankan rokok ilegal, pada hari Selasa tanggal 28 November 2017.Keberhasilan ini bermula dari informasi masyarakat tentang adanya pengiriman rokok ilegal dari wilayah Kabupaten Jepara, menggunakan truk dengan ciri-ciri tertentu. Untuk mengelabuhi petugas, pengiriman rokok ilegal sering dilakukan pada malam sampai dini hari.Tim Intelijen dan Penindakan Bea Cukai Kudus mengembangkan informasi ini dengan melakukan operasi tertutup di jalan yang menghubungkan Jepara-Kudus, Jepara-Pati dan Jepara-Demak.Sampai akhirnya pada dini hari pukul 00.40 WIB didapati truk dengan ciri-ciri sesuai informasi yang diperoleh melintas menuju ke arah Semarang melalui jalan Raya Kudus-Demak.Sempat terjadi pengejaran truk oleh petugas.Saat

(12)

berhasil dihentikan, truk dalam kondisi penuh terisi 60 koli rokok ilegal.

Dalam pemeriksaan awal, petugas berhasil mendapati rokok jenis Sigaret Kretek Mesin (SKM) tanpa dilekati pita cukai sebanyak 240 bal. Kendaran beserta sopir berinisial N (29 tahun) dan kenek berinisial R (21 tahun) digelandang ke Kantor Bea Cukai Kudus untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.

Barang bukti yang berhasil diamankan berupa Rokok dengan Jenis Sigaret Kretek Mesin (SKM) sebanyak 960.000 batang, dengan perkiraan nilai barang yang ditegah sebesar Rp 960.000.000,- dan potensi kerugian negara berupa cukai yang tidak dibayar sebesar Rp 362.880.000,-.

Untuk pemeriksaan lebih lanjut, sarana pengangkut berupa truk, barang bukti , beserta sopir dan kenek diamankan di Kantor Bea Cukai Kudus, untuk dimintai keterangan lebih lanjut.

Gambar 9. Pemusnahan Barang Kena Cukai Ilegal di Akhir Tahun 2017 pada KPPBC TMP C Kudus

Sumber: Bea Cukai Kudus

Selanjutnya, di penghujung tahun, Selasa, 19 Desember 2017, Kantor Pengawasan dan Pelayanan TMP C Kudus kembali melakukan kegiatan pemusnahan atas barang bukti hasil penindakan yang didapati melanggar

(13)

Undang-Undang Kepabeanan dan Undang-Undang Cukai dan telah ditetapkan sebagai Barang Milik Negara (BMN). Hal ini dilakukan sebagai perwujudan peran nyata Bea dan Cukai sebagai community protector, terhadap Barang Kena Cukai (BKC) ilegal.

Kegiatan Pemusnahan dihadiri oleh Kepala Kantor Wilayah DJBC Jawa Tengah dan D.I. Yogyakarta, Direktur Teknis & Fasilitas Cukai, dan Direktur Kepabeanan Internasional & Antar Lembaga beserta tamu undangan dari KPKNL Semarang, Pemerintah Daerah Tingkat II, Kepolisian, Kejaksaan, Pengadilan Negeri, Satpol PP, Dinas PKPLH, KPP Pratama, yang berada di wilayah Kudus dan sekitarnya, serta beberapa media masa.Kegiatan yang diawali sambutan oleh Kepala Kantor Wilayah DJBC Jawa Tengah & D.I. Yogyakarta dan Kepala KPPBC TMP C Kudus kemudian dilanjutkan dengan pelaksanaan pemusnahan sampel BKC illegal di depan halaman KPPBC TMP C Kudus serta penandatanganan Berita Acara Pemusnahan. Sedangkan sisa BKC yang lain dilakukan pemusnahan di TPA Tanjungrejo.

Pemusnahan, dilakukan terhadap BKC ilegal yang diperoleh atas hasil penindakan selama periode bulan ferbuari-juli 2017 dengan nilai BKC ilegal sebesar Rp6.192.554.570,00 sehingga menimbulkan potensi kerugian negara sebesar Rp3.980.505.596,00. BKC ilegal tersebut terdiri dari 32 buah alat pemanas, 166 rol kertas CTP (cigarette typping paper), 376 kilogram kertas etiket (bungkus rokok), 144 kilogram filter rokok, 46 kilogram plastic OPP (plastic pembungkus etiket rokok), 140.458 keping pita cukai diduga palsu, 9.266.384 batang sigaret kretek mesin (SKM), dan 3.320 kilogram tembakau iris.

Sepanjang tahun 2017 KPPBC TMP C Kudus telah melakukan 74 penindakan terhadap rokok ilegal, barang bukti yang berhasil diamankan sebanyak 21.116.184 batang rokok SKM, dengan perkiraan nilai barang sebesar Rp24.952.945.130,00 dan potensi kerugian Negara sebesar Rp11.209.102.157,00 Dibandingkan tahun 2016, penindakan tahun ini mengalami kenaikan 25,4%, dilihat dari jumlah batang rokok yang ditindak.

Kepala Kantor Wilayah DJBC Jawa Tengah dan D.I. Yogyakarta, Parjiya, mengatakan “Penindakan dan pemusnahan ini dapat menimbulkan

(14)

efek jera pada pelaku pelanggaran, dan kami harapkan masyarakat juga dapat berperan aktif untuk memberantas peredaran barang-barang ilegal yang merugikan negara dan berbahaya bagi masyarakat maupun lingkungan”.

B. Pembahasan

1. Mengapa Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2007 tentang Cukai Belum Efektif Meningkatkan Ketaatan Pengusaha Rokok dalam Membayar Cukai?

Pungutan cukai saat ini hanya dikenakan terhadap tiga jenis barang tertentu yang disebut sebagai barang kena cukai yakni etil alkohol, minuman mengandung etil alkohol, dan produk hasil tembakau.Produk hasil tembakau atau yang lebih dikenal dengan istilah rokok dikategorikan sebagai barang yang layak dikenakan cukai karena bukan merupakan kebutuhan pokok, dikonsumsi secara luas dan permintaannya relatif inelastik sehingga dapat mudah diatur sebagai sumber penerimaan negara.

Dalam Undang-Undang Nomor 39 tahun 2007 tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 11 tahun 1995 tentang Cukai disebutkan bahwa pemakaian barang kena cukai perlu diawasi dan dibatasi agar tidak menimbulkan dampak negatif, meskipun peranannya masih diperlukan oleh masyarakat maupun oleh pemerintah. Bagi masyarakat, rokok diperlukan sebagai barang konsumsi terutama dalam bentuk produk jadi sedangkan pemerintah sendiri merasa diuntungkan karena penerimaan cukai rokok tiap tahun cenderung terus bertambah. Cukai rokok menghasilkan penerimaan yang sangat dominan di antara penerimaan cukai yang lain.

Permasalahan yang banyak ditemukan dilapangan antara lain:

a. Rokok polos tanpa cukai b. Pemakaian pita palsu

c. Bukan peruntukannya, misalnya: tarif 530,00 dipakai 80,00.

d. Salah personalisasi (bukan haknya), misalnya: pita cukai untuk pabrik A dipakai untuk pabrik B.

Berlakunya Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 147/PMK.010/2016 Tentang Perubahan Ketiga Atas Peraturan Menteri

(15)

Keuangan Nomor 179/PMK.011/2012 Tentang Tarif Cukai Hasil Tembakau menetapkan golongan pengusaha pabrik hasil tembakau dan batasan harga jual dan tarif cukai per batang sebagai berikut:

Tabel 3. Golongan Pengusaha Pabrik Hasil Tembakau No.

Urut

Pengusaha Pabrik Batasan Jumlah Produksi Pabrik

Jenis Golongan

1. SKM I Lebih dar 3 miliar batang

II Tidak lebih dari 3 miliar batang

2. SPM I Lebih dari 3 miliar batang

II Tidak lebih dari 3 miliar batang 3. SKT atau SPT I Lebih dari 2 miliar batang

II Lebih dari 500 juta batang tetapi tidak lebih dari 2 miliar batang

IIIA Lebih dari 10 juta batang tetapi tidak lebih dari 2 miliar batang IIIB Tidak lebih dari 10 juta batang 4. SKTF atau SPTF I Lebih dari 3 miliar batang

II Tidak lebih dari 3 miliar batang

5. TIS Tanpa

Golongan

Tanpa batasan jumlah produksi 6. KLM atau KLB Tampa

Golongan

Tanpa batasan jumlah produksi

7. CRT Tanpa

Golongan

Tanpa batasan jumlah produksi

8. HPTL Tanpa

Golongan

Tanpa batasan jumlah produksi

Tabel 4. Batasan Harga Jual Eceran Dan Tarif Cukai Per Batang atau Gram Hasil Tembakau Buatan Dalam Negeri

No.

Urut

Golongan pengusaha pabrik

hasil tembakau

Batasan harga jual eceran per batang atau gram

Tarif cukai per batang atau

gram Jenis Golongan

1. SKM I Paling rendah Rp 1.120,00 Rp530,00

II Lebih dari Rp 820,00 Rp365,00

Paling rendah Rp 655,00

sampai dengan Rp 820,00 Rp335,00 2. SPM I Paling rendah dari Rp

1.030,00 Rp555,00

II Lebih dari Rp 900,00 Rp330,00

Paling rendah Rp 585,00

sampai dengan Rp 900,00 Rp290,00

(16)

3. SKT atau SPT

I Lebih dari Rp 1.215,00 Rp345,00 Paling rendah Rp 860,00

sampai dengan Rp 1.215,00 Rp265,00

II Lebih dari Rp 730,00 Rp165,00

Paling rendah Rp 470,00

sampai dengan Rp 730,00 Rp155,00 IIIA Paling rendah Rp 465,00 Rp100,00 IIIB Paling rendah Rp 400,00 Rp80,00 4. SKTF

atau SPTF

I Paling rendah Rp 1.120,00 Rp530,00

II Lebih dari Rp 820,00 Rp365,00

Paling rendah Rp 655,00

sampai dengan Rp 820,00 Rp335,00 5. TIS Tanpa

Golongan

Lebih dari Rp 275,00 Rp28,00

Lebih dari Rp 180,00 sampai

dengan Rp 275,00 Rp22,00

Paling rendah Rp 55,00

sampai dengan Rp 180,00 Rp6,00 6. KLB Tanpa

Golongan

Lebih dari Rp 290,00 Rp28,00

Paling rendah Rp 200,00

sampai dengan Rp 290,00 Rp22,00 7. KLM Tanpa

Golongan

Paling rendah Rp 200,00

Rp22,00 8. CRT Tanpa

Golongan

Lebih dari Rp 198.000,00 Rp110.000,00 Lebih dari Rp 55.000,00

sampai dengan Rp 198.000,00

Rp22.000,00 Lebih dari Rp 22.000,00

sampai dengan Rp 55.000,00 Rp11.000,00 Lebih dari Rp 5.5000,00

sampai dengan Rp 22.000,00 Rp 1.320,00 Paling rendah Rp 495,00

sampai dengan Rp 5.500,00 Rp275,00 9. HPTL Tanpa

Golongan

Paling rendah Rp 305,00

Rp110,00

Tabel 5. Tarif Cukai dan Harga Jual Eceran Minimum Hasil Tembakau Yang Diimpor

No.

Urut

Jenis Hasil Tembakau

Batasan HJE terendah per batang

atau gram

Tarif Cukai per batang atau gram

1. SKM Rp1.120,00 Rp 530,00

2. SPM Rp1.030,00 Rp 555,00

3. SKT atau SPT Rp1.215,00 Rp 345,00

4. SKTF atau SPTF Rp1.210,00 Rp 530,00

5. TIS Rp276,00 Rp 28,00

6. KLB Rp291,00 Rp 28,00

(17)

7. KLM Rp200,00 Rp 22,00

8. CRT Rp 198.001,00 Rp110.000,00

9. HPTL Rp305,00 Rp 110,00

Setiap orang wajib memiliki izin berupa Nomor Pokok Pengusaha Barang Kena Cukai dari Menteri yang akan menjalankan kegiatan sebagai:

a. Pengusaha pabrik

b. Pengusaha tempat penyimpanan c. Importir barang kena cukai d. Penyalur, atau

e. Pengusaha tempat penjualan eceran.

Menurut Pasal 14 angka (1) Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2007 tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1995 tentang Cukai.

Keberadaan undang-undang tentang cukai telah mengatur mengenai keberadaan produk barang kena cukai, keberadaan barang kenai cukai tersebut harus dapat dilakukan pengawasan dan pengendalian. Keberadaan produk barang kena cukai dianggap mempunyai dampak yang luas bagi yang mengkonsumsinya tersebut, oleh karenanya sangat perlu dilakukan pengawasan dan pengendalian agar produk barang tersebut tidak disalahgunakan atau diselewengkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.

Latar belakang terbitnya Undang-Undang Cukai, pada mulanya pengaturan mengenai cukai masih terpisah dalam ordonansi-ordonansi yang belum diundangkan seperti Ordonansi Cukai Bir, Ordonansi Cukai Tembakau, dan Ordonansi Cukai Gula. Peraturan perundang-undangan cukai dalam beberapa ordonansi tersebut bersifat diskriminatif dalam pengenaan cukainya, yang tercermin pada pembebanan cukai atas impor Barang Kena Cukai, yaitu gula hasil tembakau, dan minyak tanah dikenai atas pengimporannya, sedangkan bird an alcohol sulingan tidak dikenai cukai. Selain itu, peraturan perundang- undangan cukai tersebut objeknya terbatas, padahal pembangunan nasional membutuhkan pembiayaan, terutama berasal dari penerimaan dalam negeri.

Oleh karena itu, potensi yang ada masih dapat digali dengan memperluas objek cukai sehingga sumbangan dari sector cukai terhadap penerimaan Negara dapat ditingkatkan.

(18)

Berdasarkan hal-hal diatas, kemudian dibentuk Undang-Undang anaomor 11 Tahun 1995 tentang Cukai. Dengan mengacu pada politik hukum nasional, penyatuan materi yang diatur dalam Undang-Undang Cukai merupakan upaya penyederhanaan hukum di bidang cukai yang diharapkan dalam pelaksanaannya dapat diterapkan secara praktis, efektif dan efisien.

Pada tahun 2007 kemudian diterbitkan Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2007 Tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1995 tentang Cukai. Ada beberapa hal yang mendasari dilakukannya perubahan tersebut.

Pertama, dalam pelaksanaan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1995 tentang Cukai, disadari masih terdapat hal-hal yang belum tertampung untuk memberdayakan peranan cukai sebagai salah satu sumber penerimaan Negara, sehingga perlu dilakukan perubahan sejalan dengan perkembangan social ekonomi dan kebijakan pemerintah. Kedua, pengenaan cukai perlu dipertegas batasannya sehingga dapat memberikan landasan dan kepastian hukum dalam upaya menambah atau memperluas objek cukai dengan tetap memperhatikan aspirasi dan kemampuan rakyat. Ketiga, perlunya upaya penyempurnaan system administrasi pungutan cukai dan peningkatan upaya penegakan hukum serta penegasan pembinaan pegawai dalam rangka tata pemerintahan yang baik.

Anthony Allot mengemukakan tentang efektivitas hukum, bahwa hukum akan menjadi efektif jika tujuan keberadaan dan penerapannya dapat mencegah perbuatan-perbuatan yang tidak diinginkan dapat menghilangkan kekacauan.

Hukum yang efektif secara umum dapat membuat apa yang dirancang dapat diwujudkan, jika suatu kegagalan, maka kemungkinan terjadi pembetulan secara gampang jika terjadi keharusan untuk melaksakan atau menerapkan hukum dalam suasana baru yang berbeda, hukum akan menyelesaikannya. Konsep Anthony Allot ini difokuskan pada perwujudannya. Hukum yang efektif secara umum dapat membuat apa yang dirancang dapat diwujudkan dalam kehidupan sosial kemasyarakatan.

Efektif atau tidaknya Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2007 tentang Cukai bergantung pada Pemerintah atau masyarakat yang terkait langsung dengan ketentuan pada Undang-Undang tersebut. Menurut Pasal 55 Undang-

(19)

Undang Nomor 39 Tahun 2007 tentang Cukai sudah dijelaskan mengenai ketentuan pidana dan dendanya, ketentuan tersebut berbunyi:

Setiap orang yang:

a. Membuat secara melawan hukum, meniru, atau memalsukan pita cukai atau tanda pelunasan cukai lainnya;

b. Membeli, menyimpan, mempergunakan, menjual, menawarkan, menyerahkan, menyediakan untuk dijual, atau mengimpor pita cukai atau tanda pelunasan cukai lainnya yang palsu atau dipalsukan; atau

c. Mempergunakan, menjual, menawarkan, menyerahkan, menyediakan untuk dijual, atau mengimpor pita cukai atau tanda pelunasan cukai lainnya yang sudah dipakai, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 8 (delapan) tahun dan pidana denda paling sedikit 10 (sepuluh) kali nilai cukai dan paling banyak 20 (dua puluh) kali nilai cukai yang seharusnya dibayar.

Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2007 tentang Cukai belum efektif meningkatkan ketaatan pengusaha rokok dalam membayar cukai karena sanksi yang diterapkan tidak efektif menjerat pelaku rokok ilegal dikarenakan Undang- Undang Nomor 39 Tahun 2007 tentang Cukai merupakan hukum fiscal yang hanya mengutamakan sanksi administratif sehingga penyelesaiannya hanya berupa sanksi denda, namun apabila dalam pelanggaran tersebut mengandung unsur-unsur kejahatan seperti pemalsuan pita cukai, penggunaan pita cukai yang bukan haknya, pemalsuan dokumen, menjual BKC tanpa mengindahkan ketentuan yang mengakibatkan kerugian negara, perusakan segel, maka pelanggaran yang semacam itu dikenakan sanksi pidana. Kurang tegasnya Pegawai KPPBC Tipe Madya Cukai Kudus dalam penindakan terhadap pengusaha rokok ilegal menjadi faktor penting masih banyak ditemukan pelanggaran rokok ilegal, dikarenakan SDM pada KPPBC Tipe Madya Cukai Kudus dalam bagian penindakan hanya terdapat 4 orang pegawai saja, sedangkan pelanggaran rokok ilegal mencapai puluhan pelanggaran setiap bulannya. Diharapkan kerjasama yang baik dari KPPBC Tipe Madya Cukai Kudus, Dinas Terkait, PPRK, beserta masyarakat agar bersama-sama melakukan pengawasan terhadap peredaran rokok ilegal ini.

(20)

Pengendalian terhadap peredaran rokok ilegal harus dilakukan secara tegas oleh dinas instansi terkait. Petugas yang berwenang harus melakukan pengendalian peredaran rokok ilegal, baik dalam produksi, maupun dalam peredaranya. Adapun bentuk pengendalian secara umum terhadap peredaran rokok ilegal, dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:

a. Pengendalian produksi di wilayah pemasok cukai hasil tembakau ilegal;

b. Pengendalian peredaran di wilayah peredaran cukai hasil tembakau ilegal.

Pengendalian terhadap peredaran rokok ilegal, salah satunya dapat dilakukan dengan bekerjasama dengan instansi terkait lainya. Kerjasama tersebut dilakukan melalui koordinasi secara terus-menerus dengan dinas instansi terkait, terhadap:

a. Pengawasan terhadap pabrik rokok yang dilakukan oleh Kantor Bea dan Cukai;

b. Pengawasan pelabuhan transit dan yang mengawasi wilayah peredaran/pemasaran BKC Hasil Tembakau.

Dengan berlakunya ketentuan seperti yang dijelaskan diatas seharusnya masyarat atau pengusaha rokok ilegal lebih taat untuk membayarkan pajak cukainya agar tidak terjadi kerugian terhadap Negara, Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) Kudus dan juga masyarakat selaku konsumen produk rokok tersebut.

Faktor Ekonomi pada Penjualan Rokok Tanpa Cukai. Faktor atau Motif dapat diartikan sebagai dorongan atau alasan. Dalam hal ini motif ekonomi adalah dorongan untuk melakukan tindakan ekonomi dalam rangka mencapai kemakmuran.

1. Motif Penjualan yang dilakukan Pabrik

a) Penghindaran Cukai dan Recycle (Mendaur Ulang) Bahan Baku

Dalam meminimalkan biaya terkadang perusahaan juga mengurangi dan mensiasati bahan yang digunakan untuk memproduksi rokok.

b) Menjaga Stabilitas Usaha: Penghindaran Cukai sebagai Bentuk Pengenalan Produk Awal. Fakta lain yang ditemukan, ternyata bukan hanya pabrik kecil yang memproduksi rokok tanpa cukai, tetapi

(21)

perusahaan yang ternama. Jadi perusahaan ternama memproduksi rokok tanpa cukai yang dijual untuk mempromosikan kualitas rasa. Perilaku konsumen merupakan suatu hal yang mendasar dalam membuat keputusan pembelian. Jadi jika konsumen sudah mengerti rasa dari rokok tersebut, otomatis konsumen akan terus mengkonsumsi apalagi dengan harga murah. Dari sini, perilaku konsumen sangat dimanfaatkan perusahaan untuk menambah jumlah produksinya. Perusahaan yang pada awalnya memproduksi rokok tanpa cukai akhirnya rokok tanpa cukai diresmikan dan menjadi rokok legal untuk diedarkan di pasaran.

2. Motif Penjualan Individu: Ditributor, Toko Grosir, Pengecer

Penyimpangan berupa rokok tanpa cukai dimanfaatkan para pelaku ekonomi untuk mencari keuntungan individu. Motif penjualan pada penelitian ini merupakan tujuan dari mengapa penjualan rokok tanpa cukai tetap dilakukan. Seperti yang diungkapkan oleh distributor, tujuan dari penjualan rokok tanpa cukai adalah keuntungan. Dalam transaksi ini, distributor mampu memasarkan rokok dengan jumlah yang tidak sedikit setiap bulannya. Selain keuntungan yang di dapat, munculnya rokok tanpa cukai ini disebabkan oleh besarnya permintaan konsumen dan murahnya harga rokok. Seperti yang dipahami bahwa tujuan perusahaan memproduksi dan mendistribusikan yaitu untuk memenuhi kebutuhan konsumen. Dalam hal ini, konsumen terkadang enggan memilih rokok yang mahal untuk di konsumsi melainkan mereka lebih memilih rokok murah. Rokok tanpa cukai sangat diminati oleh para pembeli. Peredaran rokok polos itu paling banyak di wilayah pedesaan daerah perbatasan atau pesisir.

Motif utama penjualan rokok tanpa cukai adalah keuntungan.

Keuntungan pada transaksi rokok cukai bisa 2 kali lipat bahkan lebih dari pada rokok legal. Sedangkan keuntungan yang didapat oleh distributor, selain dari rokok distributor mendapat keuntungan yang besar pada bahan baku. Selain itu, ternyata tidak semua toko grosir maupun pengecer mau menjadi penadah penjualan rokok tanpa cukai karena memiliki resiko yang mereka rasa cukup berat. Resiko tersebut dapat berupa penyitaan, denda dan penjara. Bahkan distributor rela rugi apabila ada salah satu pelanggannya

(22)

yang terkena kasus perampasan dengan syarat toko masih sanggup untuk menjual rokok ilegal tersebut.

Berdasarkan wawancara dengan penyalur rokok ilegal tanpa cukai (responden) diperoleh data sebagai berikut:

1. Faktor Permintaan Masyarakat

Berdasarkan wawancara peneliti dengan penyalur rokok ilegal tanpa cukai yaitu bapak Sofyan menyatakan bahwa ia menyalurkan rokok ilegal juga karena permintaan masyarakat karena rokok ilegal tanpa cukai ini lebih murah dibandingkan rokok bercukai, rokok-rokok tersebut juga didistribusikan langsung ke toko-toko dan warung-warung di Kota Kudus dan sekitarnya.

2. Faktor Keuntungan

Berdasarkan wawancara peneliti dengan penyalur rokok ilegal tanpa cukai yaitu bapak Sofyan menyatakan bahwa keuntungan dari penjualan rokok ilegal tanpa cukai per-bungkusnya berkisar Rp 2000 dan pengakuannya penjualan perminggu yaitu kurang lebih 35 (tiga puluh lima) slop dan penjualannya berkisar per-minggu 1 (satu) karton,.

Dalam hitungan Rokok yang dijelaskan Bapak Ican yaitu:

a. 1 bungkus = 12 -20 Batang b. 1 slop = 10 Bungkus c. 1 ball = 20 Slop d. 1 karton = 4 Ball

Dari hasil wawancara kepada responden menunjukkan bahwa keuntungan dari para penyalur sangat besar dalam hasil penjualan rokok tersebut, dibanding kan menjual rokok legal yang sudah dibebankan pungutan Negara dan dilekati pita cukai. Faktor permintaan masyarakat merupakan faktor pendorong yang paling dominan terjadinya dalam tindak pidana peredaran rokok ilegal tanpa cukai, karna mereka menyalurkan sesuai dengan kebutuhan masyarakat akan tingginya permintaan terhadap rokok ilegal tanpa cukai.

(23)

2. Bagaimana Optimalisasi Hukum untuk Meningkatkan Ketaatan Pengusaha Rokok Ilegal dalam Membayar Cukai?

Tabel 6. Pelanggaran Kepabeanan dan Cukai Periode Tahun 2015 s.d. 2017 KPPBC Tipe Madya Cukai Kudus

Tahun Jumlah Perkara

Penyelesaian Penetapan BHP

sebagai BDN Penyidikan Pengenaan Sanksi Administrasi

2015 49 41 7 1

2016 44 39 0 5

2017 92 72 2 16

Sumber: Bea Cukai Kudus Keterangan:

a. Penetapan BHP (Barang Hasil Penindakan) sebagai BDN (Barang yang dikuasai Negara) karena pelanggar tidak kenal/ditemukan (Pasal 66 ayat (1) UU Cukai) (proses hanya sampai bea cukai saja)

b. Penyidikan adalah kasus yang dilimpahkan ke kejaksaan dan kemudian disidangkan ke pengadilan

c. Pengenaan sanksi administrasi (proses hanya di bea cukai saja)

Putusan Pengadilan Negeri Jepara Nomor: 6/Pid.Sus/2016/PN.Jpa tanggal 14 April 2016 menetapkan Abdul Azis bin Syamsi (Alm), laki-laki, Jepara, Indonesia, 32 tahun/19 Mei 1983, Islam, Swasta, Desa Robayan RT.19/RW.03 Kecamatan Kalinyamatan, Kabupaten Jepara terbukti secara sah dan menyakinkan bersalah melakukan tindak pidana menjual barang kena cukai yang tidak dikemas untuk penjualan eceran atau tidak dilekati pita cukai atau tidak dibubuhi tanda pelunasan cukai lainnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 ayat (1) Undang-Undang Nomor 39 tahun 2007 tentang Cukai. Putusan Pengadilan tersebut menjatuhkan pidana kepada Terdakwa dengan pidana penjara selama 1 (satu) tahun dan pidana denda sebesar Rp. 700.000.000,- (tujuh ratus juta rupiah) dengan ketentuan apabila denda tidak dibayar maka diganti dengan pidana kurungan selama 10 (sepuluh) bulan.

Barang bukti yang disita berupa:

- 17 bale rokok SKM merek “SULTON MENTHOL’ @20 slop @10 bungkus @ 16 batang, tanpa dilekati pita cukai;

(24)

- 6 slop rokok SKM merek “SULTON MENTHOL” @10 bungkus @16 batang, tanpa dilekati pita cukai;

- 6 bale rokok SKM merek “LASEM” @20 slop @10 bungkus @16 batang tanpa dilekati pita cukai;

- 8 slop rokok SKM merek “LASEM” @10 bungkus @16 batang tanpa dilekati pita cukai;

- 4 bale rokok SKM merek “PB” @20 slop @10 bungkus @16 batang tanpa dilekati pita cukai;

- 5 slop rokok SKM merek “SULTON” @10 bungkus @16 batang tanpa dilekati pita cukai;

- 3 slop rokok SKM merek “PB” @10 bungkus @16 batang tanpa dilekati pita cukai;

- 1 bale rokok SKM merek “PB FREZZO” @20 slop @10 bungkus @16 batang tanpa dilekati pita cukai;

- 3 bale rokok SKM merek “DUA SEMBILAN DUA” @20 slop @10 bumgkus @16 batang tanpa dilekati pita cukai;

- 12 bale rokok SKM merek “VIRGO” @20 slop @10 bungkus @16 batang tanpa dilekati pita cukai;

- 3 bale rokok SKM merek “SULTON” @20 slop @10 bungkus @16 batang tanpa dilekati pita cukai;

- 10 package Etiket rokok jenis SKM dan SKT berbagai merek @10 kg, 3 buah alat pemanas;

- 18 bate rokok SKM merek “PB” @20 slop @10 bungkus @16 batang tanpa dilekati pita cukai;

- 16 bale rokok SKM merek “VIRGO” @20 slop @10 bungkus @20 batang tanpa dilekati pita cukai;

- 112 slop rokok SKM merek “PB FREZZO” @1O bungkus @16 batang tanpa dilekati pita cukai;

- 44454 bale rokok SKM merek “SULTON MENTHOL” @20 slop @10 bungkus @16 batang tanpa dilekati pita cukai;

- 48 slop rokok SKM merek “SULTON MENTHOL” @10 bungkus @16 batang tanpa dilekati pita cukai;

(25)

- 220 bungkus rokok SKM merek “SULTON MENTHOL” @16 batang tanpa dilekati pita cukai;

- 37 slop rokok SKM merek “PB” @10 bungkus @16 batang tanpa dilekati pita cukai;

- 28 bungkus rokok SKM merek “PB” @16 batang tanpa dilekati pita cukai;

- 30 slop rokok SKM merek “PB FREZZO” @10 bungkus @16 batang tanpa dilekati pita cukai;

- 68 bungkus rokok SKM merek “PB FREZZO” @16 batang tanpa dilekati pita cukai;

- 1 karung rokok batangan jenis SKM berat 21 kg;

- 4 karton rokok batangan jenis SKM dengan total berat 55 kg;

- 1 kantung plastic rokok jenis SKM berat 4 kg;

- 6 alat pemanas;

- 1 kantong pita cukai diduga palsu;

- 1 package Etiket merek “SULTON MENTHOL” 16 berat 9 kg;

- 8 karton rokok SKM merek “S.QIU 59” @4 bale @20 slop @10 bungkus

@20 batang tanpa dilekati pita cukai;

- 2 bale rokok SKM merek “S.QIU 59” @20 slop @10 bungkus @20 batang tanpa dilekati pita cukai;

- 12 karton rokok SKM merek “VIRGO” @4 bale @20 slop @10 bungkus

@16 batang tanpa dilekati pita cukai;

- 1 bale rokok SKM merek “VIRGO” @20 slop @10 bungkus @16 batang tanpa dilekati pita cukai;

- 19 bale rokok SKM merek “VIRGO” @20 slop @10 bungkus @20 batang tanpa dilekati pita cukai;

- 7 slop SKM merek “VIRGO” @10 bungkus @20 batang tanpa dilekati pita cukai;

- 5 bale rokok SKM merek “PB FREZZO” @20 slop @10 bungkus @16 batang tanpa dilekati pita cukai;

- 3 slop rokok SKM merek “PB FREZZO” @10 bungkus @16 batang tanpa dilekati pita cukai;

(26)

- 11 bale rokok SKM merek “SULTON” @20 slop @10 bungkus @16 batang tanpa dilekati pita cukai;

- 13 bale rokok SKM merek “DUA SEMBILAN DUA” @20 slop @10 bungkus @16 batang tanpa dilekati pita cukai;

- 28 bale rokok SKM merek “PB” @20 slop @10 bungkus @16 batang tanpa dilekati pita cukai;

- 48 slop rokok SKM merek “PB” @10 bungkus @16 batang tanpa dilekati pita cukai;

- 1 bale rokok SKM merek “PB” @20 slop @10 bungkus @20 batang tanpa dilekati pita cukai;

- 16 slop rokok SKM merek “PB” @10 bungkus @16 batang tanpa dilekati pita cukai;

- 5 bale rokok SKM merek “LASEM” @20 slop @10 bungkus @16 batang tanpa dilekati pita cukai;

- 173 slop rokok SKM merek “LASEM” @10 bungkus @16 batang tanpa dilekati pita cukai;

- 3 bale rokok SKM merek “ST EXECUTIVE” @20 slop @10 bungkus @20 batang tanpa dilekati pita cukai;

Dari Putusan Pengadilan tersebut Terdakwa merasa keberatan, maka pada tanggal 3 Agustus 2016 Pengadilan Tinggi Semarang memberikan Putusan Pengadilan Nomor: 147/Pid.Sus/2016/PT.Smg yang amar putusannya berbunyi:

a. Menyatakan Terdakwa ABDUL AZIS bin SYAMSI (Alm) telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana "menjual barang kena cukai yang tidak dikemas untuk penjualan eceran atau tidak dilekati pita cukai atau tidak dibubuhi tanda pelunasan cukai lainnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 ayat (1) Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2007 ";

b. Menjatuhkan pidana kepada Terdakwa oleh karena itu dengan pidana penjara selama 1 (satu) Tahun dan pidana denda sebesar Rp. 700.000.000,- (tujuh ratus juta rupiah) dengan ketentuan apabila denda tidak dibayar maka diganti dengan pidana kurungan selama 10 (sepuluh) bulan;

(27)

c. Menetapkan bahwa masa penahanan kota yang telah dijalani Terdakwa dikurangkanseluruhnya dari pidana yang dijatuhkan;

d. Menetapkan barang bukti tersebut :

- 17 bale rokok SKM merek “SULTON MENTHOL’ @20 slop @10 bungkus @ 16 batang, tanpa dilekati pita cukai;

- 6 slop rokok SKM merek “SULTON MENTHOL” @10 bungkus @16 batang, tanpa dilekati pita cukai;

- 6 bale rokok SKM merek “LASEM” @20 slop @10 bungkus @16 batang tanpa dilekati pita cukai;

- 8 slop rokok SKM merek “LASEM” @10 bungkus @16 batang tanpa dilekati pita cukai;

- 4 bale rokok SKM merek “PB” @20 slop @10 bungkus @16 batang tanpa dilekati pita cukai;

- 5 slop rokok SKM merek “SULTON” @10 bungkus @16 batang tanpa dilekati pita cukai;

- 3 slop rokok SKM merek “PB” @10 bungkus @16 batang tanpa dilekati pita cukai;

- 1 bale rokok SKM merek “PB FREZZO” @20 slop @10 bungkus @16 batang tanpa dilekati pita cukai;

- 3 bale rokok SKM merek “DUA SEMBILAN DUA” @20 slop @10 bumgkus @16 batang tanpa dilekati pita cukai;

- 12 bale rokok SKM merek “VIRGO” @20 slop @10 bungkus @16 batang tanpa dilekati pita cukai;

- 3 bale rokok SKM merek “SULTON” @20 slop @10 bungkus @16 batang tanpa dilekati pita cukai;

- 10 package Etiket rokok jenis SKM dan SKT berbagai merek @10 kg, 3 buah alat pemanas;

- 18 bate rokok SKM merek “PB” @20 slop @10 bungkus @16 batang tanpa dilekati pita cukai;

- 16 bale rokok SKM merek “VIRGO” @20 slop @10 bungkus @20 batang tanpa dilekati pita cukai;

(28)

- 112 slop rokok SKM merek “PB FREZZO” @1O bungkus @16 batang tanpa dilekati pita cukai;

- 44454 bale rokok SKM merek “SULTON MENTHOL” @20 slop @10 bungkus @16 batang tanpa dilekati pita cukai;

- 48 slop rokok SKM merek “SULTON MENTHOL” @10 bungkus @16 batang tanpa dilekati pita cukai;

- 220 bungkus rokok SKM merek “SULTON MENTHOL” @16 batang tanpa dilekati pita cukai;

- 37 slop rokok SKM merek “PB” @10 bungkus @16 batang tanpa dilekati pita cukai;

- 28 bungkus rokok SKM merek “PB” @16 batang tanpa dilekati pita cukai;

- 30 slop rokok SKM merek “PB FREZZO” @10 bungkus @16 batang tanpa dilekati pita cukai;

- 68 bungkus rokok SKM merek “PB FREZZO” @16 batang tanpa dilekati pita cukai;

- 1 karung rokok batangan jenis SKM berat 21 kg;

- 4 karton rokok batangan jenis SKM dengan total berat 55 kg;

- 1 kantung plastic rokok jenis SKM berat 4 kg;

- 6 alat pemanas;

- 1 kantong pita cukai diduga palsu;

- 1 package Etiket merek “SULTON MENTHOL” 16 berat 9 kg;

- 8 karton rokok SKM merek “S.QIU 59” @4 bale @20 slop @10 bungkus

@20 batang tanpa dilekati pita cukai;

- 2 bale rokok SKM merek “S.QIU 59” @20 slop @10 bungkus @20 batang tanpa dilekati pita cukai;

- 12 karton rokok SKM merek “VIRGO” @4 bale @20 slop @10 bungkus

@16 batang tanpa dilekati pita cukai;

- 1 bale rokok SKM merek “VIRGO” @20 slop @10 bungkus @16 batang tanpa dilekati pita cukai;

- 19 bale rokok SKM merek “VIRGO” @20 slop @10 bungkus @20 batang tanpa dilekati pita cukai;

(29)

- 7 slop SKM merek “VIRGO” @10 bungkus @20 batang tanpa dilekati pita cukai;

- 5 bale rokok SKM merek “PB FREZZO” @20 slop @10 bungkus @16 batang tanpa dilekati pita cukai;

- 3 slop rokok SKM merek “PB FREZZO” @10 bungkus @16 batang tanpa dilekati pita cukai;

- 11 bale rokok SKM merek “SULTON” @20 slop @10 bungkus @16 batang tanpa dilekati pita cukai;

- 13 bale rokok SKM merek “DUA SEMBILAN DUA” @20 slop @10 bungkus @16 batang tanpa dilekati pita cukai;

- 28 bale rokok SKM merek “PB” @20 slop @10 bungkus @16 batang tanpa dilekati pita cukai;

- 48 slop rokok SKM merek “PB” @10 bungkus @16 batang tanpa dilekati pita cukai;

- 1 bale rokok SKM merek “PB” @20 slop @10 bungkus @20 batang tanpa dilekati pita cukai;

- 16 slop rokok SKM merek “PB” @10 bungkus @16 batang tanpa dilekati pita cukai;

- 5 bale rokok SKM merek “LASEM” @20 slop @10 bungkus @16 batang tanpa dilekati pita cukai;

- 173 slop rokok SKM merek “LASEM” @10 bungkus @16 batang tanpa dilekati pita cukai;

- 3 bale rokok SKM merek “ST EXECUTIVE” @20 slop @10 bungkus

@20 batang tanpa dilekati pita cukai;

seluruhnya dirampas untuk dimusnahkan.

e. Membebankan biaya perkara kepada Terdakwa dalam kedua tingkat peradilan yang ditingkat banding ditentukan sebesar Rp. 2.500,- (dua ribu lima ratus rupiah).

Dari Putusan Banding tersebut Terdakwa merasa tidak puas, maka pada tanggal 16 Mei 2017 dalam rapat Permusyawaratan Mahkamah Agung Pasal 226 KUHAP Nomor 2368 K/Pid.Sus/2016 menyatakan bahwa:

(30)

Menolak permohonan kasasi dari Pemohon Kasasi/Terdakwa: Abdul Azis bin Syamsi (Alm), memperbaiki putusan Pengadilan Tinggi Semarang Nomor: 147/Pid.Sus/2016/PT.Smg tanggal 3 Agustus 2016, yang memperbaiki putusan Pengadilan Negeri Jepara Nomor: 6/Pi.Sus/2016/PN.Jpa tanggal 14 April 2016sekedar mengenai kualifikasi tindak pidana dan pidana yang dijatuhkan terhadap Terdakwa sehingga amar selengkapnya berbunyi sebagai berikut:

a. Menyatakan Terdakwa ABDUL AZIS bin SYAMSI (Alm) telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana "Menjual Barang Kena Cukai Tidak Dilekati Pita Cukai";

b. Menjatuhkan pidana kepada Terdakwa oleh karena itu dengan pidana penjara selama 1 (satu) Tahun dan pidana denda sebesar menjadi 2x Rp.

339.764.904,4 = Rp. 679.529.804,8 (enam ratus tujuh puluh sembilan lima ratus dua puluh sembilan delapan ratus empat koma delapan rupiah) dengan ketentuan apabila denda tidak dibayar maka diganti dengan pidana kurungan selama 8 (delapan) bulan;

c. Menetapkan bahwa pidana tersebut tidak usah dijalani, kecuali jika kemudian hari ada Putusan Hakim yang menentukan lain, disebabkan karena Terpidana melakukan suatu tindak pidana sebelum masa percobaan selama 2 (dua) tahun berakhir;

d. Menetapkan barang bukti tersebut :

- 17 bale rokok SKM merek “SULTON MENTHOL’ @20 slop @10 bungkus @ 16 batang, tanpa dilekati pita cukai;

- 6 slop rokok SKM merek “SULTON MENTHOL” @10 bungkus @16 batang, tanpa dilekati pita cukai;

- 6 bale rokok SKM merek “LASEM” @20 slop @10 bungkus @16 batang tanpa dilekati pita cukai;

- 8 slop rokok SKM merek “LASEM” @10 bungkus @16 batang tanpa dilekati pita cukai;

- 4 bale rokok SKM merek “PB” @20 slop @10 bungkus @16 batang tanpa dilekati pita cukai;

(31)

- 5 slop rokok SKM merek “SULTON” @10 bungkus @16 batang tanpa dilekati pita cukai;

- 3 slop rokok SKM merek “PB” @10 bungkus @16 batang tanpa dilekati pita cukai;

- 1 bale rokok SKM merek “PB FREZZO” @20 slop @10 bungkus @16 batang tanpa dilekati pita cukai;

- 3 bale rokok SKM merek “DUA SEMBILAN DUA” @20 slop @10 bumgkus @16 batang tanpa dilekati pita cukai;

- 12 bale rokok SKM merek “VIRGO” @20 slop @10 bungkus @16 batang tanpa dilekati pita cukai;

- 3 bale rokok SKM merek “SULTON” @20 slop @10 bungkus @16 batang tanpa dilekati pita cukai;

- 10 package Etiket rokok jenis SKM dan SKT berbagai merek @10 kg, 3 buah alat pemanas;

- 18 bate rokok SKM merek “PB” @20 slop @10 bungkus @16 batang tanpa dilekati pita cukai;

- 16 bale rokok SKM merek “VIRGO” @20 slop @10 bungkus @20 batang tanpa dilekati pita cukai;

- 112 slop rokok SKM merek “PB FREZZO” @1O bungkus @16 batang tanpa dilekati pita cukai;

- 44454 bale rokok SKM merek “SULTON MENTHOL” @20 slop @10 bungkus @16 batang tanpa dilekati pita cukai;

- 48 slop rokok SKM merek “SULTON MENTHOL” @10 bungkus @16 batang tanpa dilekati pita cukai;

- 220 bungkus rokok SKM merek “SULTON MENTHOL” @16 batang tanpa dilekati pita cukai;

- 37 slop rokok SKM merek “PB” @10 bungkus @16 batang tanpa dilekati pita cukai;

- 28 bungkus rokok SKM merek “PB” @16 batang tanpa dilekati pita cukai;

- 30 slop rokok SKM merek “PB FREZZO” @10 bungkus @16 batang tanpa dilekati pita cukai;

(32)

- 68 bungkus rokok SKM merek “PB FREZZO” @16 batang tanpa dilekati pita cukai;

- 1 karung rokok batangan jenis SKM berat 21 kg;

- 4 karton rokok batangan jenis SKM dengan total berat 55 kg;

- 1 kantung plastic rokok jenis SKM berat 4 kg;

- 6 alat pemanas;

- 1 kantong pita cukai diduga palsu;

- 1 package Etiket merek “SULTON MENTHOL” 16 berat 9 kg;

- 8 karton rokok SKM merek “S.QIU 59” @4 bale @20 slop @10 bungkus

@20 batang tanpa dilekati pita cukai;

- 2 bale rokok SKM merek “S.QIU 59” @20 slop @10 bungkus @20 batang tanpa dilekati pita cukai;

- 12 karton rokok SKM merek “VIRGO” @4 bale @20 slop @10 bungkus

@16 batang tanpa dilekati pita cukai;

- 1 bale rokok SKM merek “VIRGO” @20 slop @10 bungkus @16 batang tanpa dilekati pita cukai;

- 19 bale rokok SKM merek “VIRGO” @20 slop @10 bungkus @20 batang tanpa dilekati pita cukai;

- 7 slop SKM merek “VIRGO” @10 bungkus @20 batang tanpa dilekati pita cukai;

- 5 bale rokok SKM merek “PB FREZZO” @20 slop @10 bungkus @16 batang tanpa dilekati pita cukai;

- 3 slop rokok SKM merek “PB FREZZO” @10 bungkus @16 batang tanpa dilekati pita cukai;

- 11 bale rokok SKM merek “SULTON” @20 slop @10 bungkus @16 batang tanpa dilekati pita cukai;

- 13 bale rokok SKM merek “DUA SEMBILAN DUA” @20 slop @10 bungkus @16 batang tanpa dilekati pita cukai;

- 28 bale rokok SKM merek “PB” @20 slop @10 bungkus @16 batang tanpa dilekati pita cukai;

- 48 slop rokok SKM merek “PB” @10 bungkus @16 batang tanpa dilekati pita cukai;

(33)

- 1 bale rokok SKM merek “PB” @20 slop @10 bungkus @20 batang tanpa dilekati pita cukai;

- 16 slop rokok SKM merek “PB” @10 bungkus @16 batang tanpa dilekati pita cukai;

- 5 bale rokok SKM merek “LASEM” @20 slop @10 bungkus @16 batang tanpa dilekati pita cukai;

- 173 slop rokok SKM merek “LASEM” @10 bungkus @16 batang tanpa dilekati pita cukai;

- 3 bale rokok SKM merek “ST EXECUTIVE” @20 slop @10 bungkus

@20 batang tanpa dilekati pita cukai;

seluruhnva dirampas untuk dimusnahkan.

e. Membebankan biaya perkara kepada Terdakwa dalam kedua tingkat peradilan yang ditingkat banding ditentukan sebesar Rp. 2.500,- (dua ribu lima ratus rupiah);

Dari putusan Pengadilan tersebut menjelaskan bahwa tidak semua pelaku peredaran rokok ilegal kasusnya hanya pada tahap penyidikan Kantor Bea Cukai Kudus. Melihat dari banyaknya kasus pelanggaran rokok ilegal harusnya menjadi gambaran untuk pengusaha rokok lainnya agar taat membayarkan pajaknya.

Optimalisasi yang dilakukan Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Cukai Kudus untuk menekan atau menggurangi jumlah pengusaha rokok ilegal adalah dengan:

a. Desain pita cukai harus diganti setiap tahun;

b. Setiap tahun desain pita cukai harus berbeda;

c. Melakukan pembayaran baru dilekatkan pita cukai;

d. Jika tidak membayar cukai, pita cukainya tidak diterbitkan;

e. Jika ada pelanggaran yang bersifat biasa, akan diambil barangnya;

f. Jika ada pelanggaran hukum, izin pabrik rokok tersebut akan dicabut;

Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor PER-42/BC/206 Tentang Bentuk Fisik dan/atau Spesifikasi Desain Pita Cukai Hasil Tembakau dan Pita Cukai Minuman yang Mengandung Etil Alkohol Tahun 2017

(34)

menjelaskan bahwa Pita cukai hasil tembakau disediakan dalam bentuk lembaran dalam tiga seri, yaitu: seri I, seri II, dan seri III.

a. Seri I berjumlah 120 keping per lembar dengan ukuran setiap keping 0,8 cm x 11,4 cm;

b. Seri II berjumlah 56 keping per lembar dengan ukuran setiap keping 1,3 cm x 17,5 cm;

c. Seri III berjumlah 150 keping per lembar dengan ukuran setiap keping 1,9 cm x 4,5 cm.

Pita cukai dibagi dalam beberapa seri yaitu:

a. Pita cukai hasil tembakau seri I dan/atau seri II digunakan untuk jenis Sigaret Kretek Tangan (SKT), Sigaret Putih Tangan (SPT), Sigaret Kretek Tangan Filter (SKTF), Sigaret Putih Tangan Filter (SPTF), Rokok Daun atau Klobot (KLB), Cerutu (CRT) dan Hasil Pengolahan Tembakau Lainnya (HPTL).

b. Pita cukai hasil tembakau seri III digunakan untuk jenis Sigaret Kretek Mesin (SKM), Sigaret Putih Mesin (SPM), dan CRT.

Mengatasi pengusaha rokok ilegal yang menggunakan pita cukai palsu atau pita cukai polos maka pada Pasal 6 ini dijelaskan mengenai kekhususan identitas pita cukai agar menghindari pemakaian pita cukai yang bukan haknya.

a. Pita cukai hasil tembakau untuk pabrik hasil tembakau tertentu diberi tambahan identitas khusus yang selanjutnya disebut personalisasi pita cukai hasil tembakau.

b. Identitas khusus sebagaiman dimaksud pada huruf (a) berupa penambahan karakter yang secara umum diambil dari nama pabrik.

Terdapat beberapa faktor yang dapat menghambat Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Cukai Kudus dan Dinas terkait dalam rangka efektivitas pengawasan dan penegakan hukum terhadap peredaran rokok ilegal di wilayah kerja Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Cukai Kudus adalah masih kurangnya kesadaran masyarakat terhadap rokok ilegal, masih lemahnya pengawasan dan penindakan yang dilakukan oleh aparat terkait, masih kurangnya kesadaran produsen rokok dalam memproduksi rokok ilegal (keuntungan dengan modal dagang yang kecil), masih lemahnya

(35)

aturan atau regulasi terhadap peredaran rokok ilegal, adanya kenaikan tarif cukai.

Ketua PPRK, Agus Sarjono mengatakan bahwa pelanggaran percukaian banyak terjadi sampai saat ini, pelanggaran cukai ilegal yang sering dilakukan yaitu:

c. Dianggap ilegal rokoknya karena salah tempel (bukan peruntukannya);

d. Satu pabrik memiliki SKM (mesin) dan SKT (tangan), tetapi menjual rokoknya dengan melekatkan SKM (mesin) untuk SKT (tangan) dan sebaliknya;

e. Membeli nama perusahaan (pencantuman nama perusahaan ilegal);

f. Pencantuman dan produksi berbeda.

Agus Sarjono mengatakan untuk mengurangi pelanggaran cukai ilegal, pemerintah melakukan upaya dengan cara: Produsen cukai bekerjasama dengan Peruri, desain pita cukai atau cukai dapat diketahui palsu atau asli hanya dengan ditetesi oleh zat tertentu, zat tertentu tersebut setiap tahunnya berubah warnanya dan zat tersebut hanya dimiliki oleh Negara atau tidak dijual bebas.

Agus Sarjono juga mengatakan bahwa pengusaha-pengusaha rokok merasa terintimidasi dan merasa dirugikan dengan adanya peraturan dari Kementerian Kesehatan tentang bahaya merokok, gambar pada bungkus rokok harus diganti sesuai peraturan dari Kementerian Kesehatan dan itu menyebabkan kerugian bagi pengusaha rokok karena harus menarik ulang produksi rokoknya untuk diganti dengan bungkus rokok yang baru sesuai peraturan dari Kementerian Keuangan.

Keberadaan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan akan memberikan pemahaman bahwapemerintah berusaha untuk memberikan perlindungan dalam segala aspek yangberkaitan dengan kesehatan. Menciptakan perlindungan kesehatan terhadapmasyarakat dan lingkungan kehidupanya, merupakan prioritas utama yangharus diwujudkan bersama.Memberikan pemahaman yang baik mengenai hakdan kewajiban dari masing-masing individu dalam lingkungan kehidupanmerupakan hal terpenting yang harus diwujudkan.

Pemahaman terhadappengkonsumsian suatu produk yang akan berpengaruh terhadap kesehatan,seperti produk rokok merupakan hal penting, karena akan

(36)

berpengaruh danmembawa risiko tidak hanya untuk dirinya sendiri, melainkan juga terhadap kesehatan masyarakat secara umum. Adapun ketentuan Undang- Undang Kesehatan sebagai berikut :

Pasal 2 berbunyi :

Pembangunan kesehatan diselenggarakan dengan berasaskan perikemanusiaan, keseimbangan, manfaat, pelindungan, penghormatan terhadap hak dan kewajiban, keadilan, gender dan non diskriminatif dan norma-norma agama.

Pasal 3 berbunyi :

Pembangunan kesehatan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya, sebagai investasi bagi pembangunan sumber daya manusia yang produktif secara sosial dan ekonomis.

Pasal 45 ayat (1) berbunyi :

(1) Setiap orang dilarang mengembangkan teknologi dan/atau produk teknologi yang dapat berpengaruh dan membawa risiko buruk terhadap kesehatan masyarakat.

Pasal 113 ayat (1) dan (2) berbunyi :

(1) Pengamanan penggunaan bahan yang mengandung zatadiktif diarahkan agar tidak mengganggu dan membahayakan kesehatan perseorangan, keluarga, masyarakat, dan lingkungan.

(2) Zat adiktif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi tembakau, produk yang mengandung tembakau, padat, cairan, dan gas yang bersifat adiktif yang penggunaannya dapat menimbulkan kerugian bagi dirinya dan/atau masyarakat sekelilingnya.

Pasal 114 berbunyi :

Setiap orang yang memproduksi atau memasukkan rokok ke wilayah Indonesia wajib mencantumkan peringatan kesehatan.

Pasal 115 ayat (1) dan (2) berbunyi : (1) Kawasan tanpa rokok antara lain:

a. fasilitas pelayanan kesehatan;

b. tempat proses belajar mengajar;

(37)

c. tempat anak bermain;

d. tempat ibadah;

e. angkutan umum;

f. tempat kerja; dan

g. tempat umum dan tempat lain yang ditetapkan.

(2) Pemerintah daerah wajib menetapkan kawasan tanpa rokok di wilayahnya.

Pengiat anti rokok juga melakukan perlawanan dengan menyuarakan bahwa rokok itu sangat merugikan bagi kesehatan konsumennya. Kriminalisasi dan intimidasi itu tidak hanya datang dari Kementerian Kesehtan dan pengiat anti rokok saja, tetapi MUI (Majelis Ulama Indonesia) tahun 2013 sampai tahun 2014 juga mengeluarkan fatwa yang menyatakan bahwa rokok itu haram.

Pengiat anti rokok juga bekerjasama dengan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) untuk menginformasikan kepada masyarakat tentang bahaya merokok.

Apabila pelanggaran di bidang cukai semakin marak, dapat mengakibatkan tidak tercapainya penerimaan cukai secara optimal. Oleh karena itu, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan perlu dilakukan penegakan hukum (law enforcement) secara tegas sehingga target penerimaan cukai dapat tercapai secara optimal. Pemantauan harga jual eceran dimaksudkan untuk memantau kepatuhan semua pihak guna dijadikan bahan atau barang bukti dalam rangka menegakkan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang cukai khususnya cukai hasil tembakau. Pengawasan dilakukan terhadap kemungkinan terjadinya penggunaan pita cukai palsu serta penggunaan pita cukai yang bukan haknya antara lain dengan harga jual eceran yang lebih rendah (tidak sesuai dengan harga jual eceran minimum) atau dengan tarif cukai yang lebih rendah dan tidak sesuai dengan peruntukannya.

Penegakan hukum sangat diperlukan untuk memberikan kepastian hukum bagi pihak-pihak yang melakukan pelanggaran hukum terhadap peredaran rokok ilegal. Dalam melakukan penegakan hukum juga diperlukan adanya perlindungan hukum, terutama untuk melindungi masyarakat yang dirugikan dengan adanya peredaran rokok ilegal. Perlindungan hukum adalah memberikan pengayoman terhadap hak asasi manusia (HAM) yang dirugikan

(38)

orang lain dan perlindungan itu di berikankepada masyarakat agar dapat menikmati semua hak-hak yang diberikanoleh hukum.37

Ada dua macam bentuk perlindungan hukum, yaitu perlindungan hukum yang bersifat preventif dan represif. Preventif artinya perlindungan yang diberikan sebelum terjadinya sengketa, sedangkan sebaliknya perlindungan hukum yang represif bertujuan untuk menyelesaikan sengketa yang muncul apabila terjadi suatu pelanggaran terhadap norma-norma hukum dalam peraturan perundang-undangan.38

Pemantauan dilakukan dengan cara melakukan operasi pasar atas barang kena cukai berupa hasil tembakau yang beredar di bawah pengawasan Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Cukai Kudus (KPPBC) setempat. Hasil pengawasan tersebut wajib diinformasikan kepada Direktur Jenderal Bea dan Cukai. Apabila ada dugaan terjadi pemalsuan pita cukai, maka KPPBC setempat wajib mengirimkan masing-masing contoh barang kena cukai tersebut ke Kantor Pusat Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Daerah obyek pemantauan dipilih di daerah yang rawan peredaran barang kena cukai yang dilekati pita cukai palsu atau rokok polos, antara lain di daerah pinggiran kota, kantong transmigrasi, daerah pantai, dan pemukiman baru. Dengan adanya kegiatan pemantauan harga jual eceran ini diharapkan penerimaan cukai dapat lebih optimal. Secara berkala Pejabat Bea dan Cukai melakukan kunjungan ke pabrik untuk memeriksa situasi pabrik, persediaan pita cukai, rutinitas kegiatan produksi dan lainnya. Dengan pemeriksaan yang lebih efektif dan efisien maka diharapkan penerimaan cukai akan lebih optimal.

Manfaat dengan dapat ditekannya peredaran rokok ilegal, maka akanberdampak positif terhadap negara sebagai penerima pajak dari bidang cukai tembakau, produsen sebagai pihak yang melakukan produksi rokok, dan masyarakat sebagai pihak konsumen. Adapun dampak secara langsung dengan dapat ditekanya peredaran rokok ilegal adalah berupa: (1) Dapat membatasi peredaran rokok ilegal, (2) Dapat mencegah munculnyapeningkatan peredaran

37 Satjipto Rahardjo, 2000, Ilmu Hukum, Bandung: Citra Aditya Bakti, hal.53.

38 Shidarta, 2000, Hukum Perlindungan Konsumen, Jakarta: Grasindo, hal.10.

(39)

rokok ilegal, (3) Penindakan akan berpengaruhlangsung terhadap tingkat produksi.

Disamping melakukan pengawasan dan penindakan rokok ilegal, KPPBC setempat juga menyelenggarakan sosialisasi "Stop Rokok Ilegal"

kepada masyarakat yang terkait langsung maupun tidak langsung. Selain itu KPPBC juga bekerjasama dengan pemerintah daerah untuk melaksanakan sosialisasi peraturan perundang-undangan di bidang Cukai kepada seluruh lapisan masyarakat, amtara lain: pedagang, nelayan, perangkat desa, tokoh agama hingga petugas Satpol PP dan seterusnya.

Langkah yang dilakukan Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Cukai Kudus dan Dinas terkait dalam mengatasi faktor penghambat efektivitas pengawasan dan penegakan hukum terhadap peredaran rokok ilegal adalah melalui sosialisasi, melalui evaluasi langsung dilapangan, melalui kerjasama dengan instansi lain yang terkait. Selain itu juga perlu adanya penyederhanaan struktur tarif cukai dan penindakan yang intensitasnya rutin untuk memberi sinyal terhadap produsen agar tidak melakukan praktik-praktik curang.

Di samping melalui pengenaan cukai, usaha pemerintah dalam rangka membatasi peredaranrokok dilakukan dengan mengeluarkan Peraturan Pemerintah Nomor 81 Tahun 1999 tentang Pengamanan Rokok Bagi Kesehatan jo. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2000 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 81 Tahun 1999 tentang Pengamanan Rokok BagiKesehatan yang pada dasarnya mengatur 5 (lima) hal pokok, yaitu mengenai:

a. Kadar kandungan nikotin dan tar

b. Persyaratan produksi dan penjualan rokok c. Persyaratan iklan dan promosi rokok d. Penetapan kawasan bebas rokok

Masih adanya peredaran rokok ilegal, membuktikan bahwa masih banyak terjadinya pelanggaran terhadap rokok ilegal. Pelanggaran tersebut salah satunya disebabkan karena adanya keinginan untuk mendapatkan keuntungan yang lebih dari pihak produsen dan harga yang lebih murah dari pihak

Referensi

Dokumen terkait

Dalam hal ini falsafah hidup mereka adalah Ain na Fangnan Ain(satu sayang satu) yang merupakan bagian dari bingkai adat, menjadikan mereka hidup dalam nilai- nilai

Jika ada selisih suara pada tingkat suara antara pemancar, navigasikan ke menu Offset (Audio > Offset) pada pemancar untuk meningkatkan atau menurunkan Offset secara realtime

Berdasarkan hasil yang diperoleh di atas dari pertanyaan kuesioner nomor 8, di dapat bahwa sebagian besar responden-responden yang merupakan mahasiswa/i dari Bina

Seluruh penerimaan kayu bulat dari hutan negara terdapat DPKB yang telah dicetak dan ditandatangani oleh yang berwenang dan sesuai dengan dokumen angkutan hasil hutan

pendeteksi/detektor, yang bekerja secara fisikokimia, pendeteksi/detektor, yang bekerja secara fisikokimia, piezoelektronik, optik, elektrokimia, dll., yang mengubah sinyal

tanda pada gambar tersebut merupakan jenis symbol karena busana yang terlihat sangat minim dan menampilkan kemolekan dari tubuh wanita yang merupakan perilaku yang sedang

(5) Jenis, dasar hukum, persyaratan, prosedur, penyelenggara pelayanan, waktu penyelesaian, sarana prasarana dan biaya pelayana publik pada kecamatan