• Tidak ada hasil yang ditemukan

1. PENDAHULUAN. Universitas Kristen Petra

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "1. PENDAHULUAN. Universitas Kristen Petra"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Perilaku belanja pada umumnya dilihat dari sudut pandang wanita sebagai konsumen mayoritas. Sebagian besar survey tentang perilaku belanja menyatakan bahwa jumlah shopper wanita lebih banyak daripada shopper pria (Dholakia, 1995). Walaupun banyak penelitian mengenai perilaku belanja konsumen, sedikit sekali penelitian yang memberi pemahaman tentang bagaimana pria berbelanja dan bagaimana karakteristik mereka dalam berbelanja produk fashion yang menjadi konsumsi wanita pada umumnya. (Nugraha, 2003).

Menurut Aaron Marino (2008) dalam artikelnya The Fashionable and Well Groomed Modern Man, pria modern dewasa ini memiliki tekanan untuk selalu tampil rapi dan modis di segala kesempatan. Hilang sudah masa dimana pria tidak memperhatikan penampilannya. “Industri fashion yang semakin berkembang mengeksploitasi kebutuhan setiap orang untuk tampil menarik dan fashionable.

Telah menjadi fakta bahwa status sosial seseorang tercermin dari cara ia berpenampilan” (“Fashion Clothes Wholesale at Affordable Prices with Causeway Mall”, 2008, p.11) . ”Ketika itu sampai pada fashion, pria tidak terlalu menunjukkan, seperti halnya wanita. Mereka cenderung menyembunyikan keinginan mereka akan produk fashion. Tetapi ada juga beberapa tipe pria yang tidak malu-malu dan menunjukkan keinginan mereka akan produk fashion seperti halnya wanita. Mereka menjadi posesif ketika berhadapan dengan fashion styles, fashion designs, fashion lifestyle, and fashion trends”

(“Men’s Secret When it Comes to Fashion”, 2008, April, para.1).

Kesan modis seorang pria memang berbeda dari wanita. Pria cenderung membentuk kesan rapi dan maskulin. Pria modern, khususnya pria metropolis, sangat memperhatikan penampilan mereka, baik dalam lingkungan kantor, pergaulan, dsb. Ciri-ciri pria metropolis secara umum: meskipun tinggal di daerah yang sama, yaitu kota metropolis, pria metropolis berbeda dengan pria metroseksual. Pria metroseksual bisa jadi adalah pria metropolis, namun tidak seluruhnya dari pria metropolis adalah pria metroseksual. ”Metrosexual is a term

(2)

that generally refers to a male whose lifestyle, spending habits, and concern for personal appearance are likened to stereotypes associated with homosexual men”

(Blackwell Encyclopedia of Sociology, 2007). Dalam Wikipedia (2009) tentang metroseksual,

the typical metrosexual is “a young man with money to spend living in or within easy reach of a metropolis – because that's where all the best shops, clubs, gyms, and hairdressers are. He might be officially gay, straight, or bisexual, but this is utterly immaterial because he has clearly taken himself as his own love object”. Metrosexuals are an emerging breed of men who think outside the box of male stereotypes. They pay particular attention to their appearances, how they look, what they wear, how they smell; have a heightened sense of aesthetics and bond with others through sporting or leisure time experiences. Metrosexuals strive for equality of the sexes and are as straight as arrows. Metrosexuals replace the well known figure of a stoic man working from morn to night to bring home money which his wife can spend. Metrosexuals love shopping, not for the women in their lives, but for themselves.

Metrosexuals are the highest form of narcissist, one you may be have called “sissy” in earlier times. This version of “cool” demands something out of the ordinary and mundane when it comes to style and fashion. What is it? He is as much at ease in his jeans and T-shirt as he is in black-tie- suit. More so with "man-bags. He is as unruffled as his hair. He smells like a flower and his nails are buffed and polished. He will shop with his girl till both drop. He will buy his grooming products from the same place his girlfriend does. He sees a stylist instead of a barber. He will more than shave his face. He will exfoliate and moisturize. He will drink vintage wine rather than beer. Nevertheless, he is very secure in his masculinity. All that the metrosexual is doing is creating a new outlet of self-expression, primarily through his outer appearance. Primarily out of desperation to be different. He doesn't conform to the mindset of the majority of the society (Copperwiki, 2010). Pria metropolis secara umum adalah pria-pria yang tinggal di kota metropolis, hidup dengan dinamis, mengikuti

(3)

perkembangan zaman, berpikiran maju, serta memiliki intelektual yang tinggi. “ Intellectualistic quality which is thus recognized as a protection of the inner life against the domination of the metropolis, becomes ramified into numerous specific phenomena” (Simmel, 1903). Pria metropolis , meskipun mereka ingin tampil modis dan fashionable, namun mereka tidak terintimidasi untuk itu. Tidak seperti halnya pria metroseksual yang narsis dan membentuk dirinya sedemikian rupa menjadi sebuah objek fashion. Pria metropolis identik dengan pria yang berdandan rapi, wangi, trendy, dandy, good looking, dan berpostur ideal.

Dari sini terlihat bahwa terdapat kebutuhan yang besar pada kelompok konsumen pria akan produk fashion. Sebesar 86% pria modern mengikuti trend belanja online. Optimisme perusahaan yang memproduksi kosmetik khusus kaum pria, semakin meningkat seiring dengan tren pria masa depan. Hasil riset dari perusahaan Euro RSCG menyimpulkan bahwa tren pria masa depan atau yang lebih dikenal dengan metroseksual telah menjadi topik yang sering diperbincangkan dan menjadi mode global di seluruh dunia.

Pria metropolis Kuala Lumpur sangatlah memperhatikan penampilan mereka. Mereka selalu berpakaian rapi dan modis, baik saat bekerja, berjalan- jalan di mal, berekreasi, makan di restoran. Penampilan merupakan sesuatu yang mencitrakan kepribadian diri mereka. Pria berpakaian lusuh dan tidak rapi hampir tak pernah nampak dalam pemandangan kota Kuala Lumpur di Malaysia. Pria- pria di kota Kuala Lumpur suka berjalan-jalan, window shopping, dan berbelanja di shopping mall. Tak jarang bahkan menemukan pria di dalam salon, melakukan facial, manicure, pedicure, bahkan skincare. Pria metropolis di Kuala Lumpur sudah menyatu dengan produk fashion.

Ketika pria semakin terlibat dan aktif dalam marketplace, masih belum jelas mengenai pola perilaku mereka dalam berbelanja karena masih terbatasnya penelitian tentang hal ini. Pria metropolis yang menjadi subyek utama penelitian ini merupakan kelompok konsumen potensial. Mereka menyukai fashion dan suka berbelanja selayaknya wanita. Namun, pola perilaku belanja mereka yang masih belum teridentifikasi menyebabkan pelayanan yang belum maksimal bagi kelompok konsumen ini. Strategi pemasaran memiliki kaitan yang tinggi dalam

(4)

mempengaruhi keputusan pembelian oleh konsumen. Oleh karena itu, pelaksanaan strategi pemasaran harus ditentukan dengan menganalisa secara mendalam faktor-faktor karakteristik dari konsumen. Faktor yang menjadi dominan dalam mempengaruhi keputusan pembelian konsumen tergantung pada jenis produk dan faktor demografi (Deswindi, 2007).

1.2 Rumusan Masalah

Bertitik tolak dari latar belakang masalah yang telah disampaikan di atas, dapat dirumuskan permasalahan dari penelitian ini, yaitu :

“ Bagaimana perilaku belanja pria metropolis Kuala Lumpur dalam membeli produk fashion ditinjau dari faktor demografi?”

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah:

- Untuk mendeskripsikan karakteristik konsumen produk fashion di Kuala Lumpur dilihat dari faktor demografi, terutama konsumen pria metropolis,

- Untuk mengetahui perilaku belanja pria metropolis di Kuala Lumpur dalam berbelanja produk fashion,

- Untuk mengidentifikasikan sejauh mana faktor demografi mempengaruhi perilaku belanja pria metropolis di Kuala Lumpur.

1.4 Manfaat Penelitian

1. Bagi produsen produk fashion :

- Memberikan gambaran kebutuhan konsumen terhadap produk fashion

- Mengetahui segmentasi pasar dari segi demografi

2. Bagi retail produk fashion :

- Memberikan gambaran karakteristik konsumen, terutama konsumen pria, sehingga dapat memberikan service yang sesuai dengan keinginan konsumen

(5)

- Mengetahui pola perilaku konsumen , terutama konsumen pria , dalam membeli produk fashion sehingga dapat membuat managemen yang tepat

- Memberikan bahan-bahan masukan dalam memberikan pelayanan yang terbaik bagi konsumen

3. Bagi peneliti :

- Peneliti dapat memahami karakteristik konsumen produk fashion di Kuala Lumpur Malaysia

- Peneliti dapat mengetahui pola perilaku konsumen produk fashion di Kuala Lumpur dalam berbelanja produk fashion

- Sebagai bahan masukan ketika terjun ke dunia usaha, terutama dunia usaha retail dan service

1.5 Ruang Lingkup Penelitian

Agar permasalahan yang diteliti dapat menghasilkan suatu hasil penelitian yang komprehensif, maka perlu ditetapkan batasan-batasan. Adapun batasan- batasan masalah dalam penelitian ini adalah :

- Objek penelitian yang dianalisis adalah pria metropolis di Kuala Lumpur yang merupakan konsumen potensial dari produk fashion, karena mereka sangat memperhatikan penampilan. Pria metropolis adalah pria yang tinggal di kota metropolis, kota besar dengan masyarakat multietnik yang modern.

- Lokasi penelitian, yaitu Kuala Lumpur Malaysia karena peneliti berada di sana dalam jangka waktu 6 bulan untuk melakukan kegiatan kerja praktek.

Kuala Lumpur Malaysia juga merupakan kota besar dengan masyarakat multietnik yang modern. Kuala Lumpur sendiri memiliki 66 shopping mall.

Shopping mall di Malaysia menyumbang 7.7 milyar Ringgit Malaysia atau sekitar 2.26 milyar Dollar, atau 20.8 persen dari 31.9 milyar Ringgit Malaysia yang diterima Pariwisata Malaysia sepanjang tahun 2006. Kuala Lumpur memegang peranan yang penting dalam menarik konsumen.

- Produk yang diteliti adalah produk fashion yang merupakan kebutuhan masyarakat modern dan bersifat dinamis, terus berubah dan berkembang

(6)

mengikuti jaman sehingga menjadi bidang usaha potensial, sekarang dan di masa yang akan datang.

- Penelitian ini didasarkan pada perhitungan yang berasal dari data-data yang bersifat rasional dan statistikal, sedangkan faktor-faktor sosial dan politik yang mungkin mempengaruhi hasil penelitian berada di luar jangkauan peneliti.

Referensi

Dokumen terkait

didalam suatu perusahaan atau organisasi pada umumnya sebagai hubungan.. ataupun kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan masalah hubungan

Ada 15 jenis tumbuhan mangrove di HLAK dan kelompok monyet ekor panjang hanya memanfaatkan satu pohon Rhizophora apiculata untuk tidur, dengan ketinggian 16 m

Stereotip yang ditunjukkan dalam film 99 Cahaya di Langit Eropa Part 1 berupa setereotip terhadap orang Muslim Turki sebagai penjajah yang kalah dan stereotip terhadap pemakai

Hal ini dapat terjadi melalui dua mekanisme yaitu diawali dengan terjadinya hipertrofi ventrikel kiri yang menyebabkan kepayahan otot jantung dalam memompa, maupun

Meskipun terdapat banyak penelitian yang menunjukkan bahwa dislipidemia berhubungan erat dengan angka mortalitas pada penyakit jantung koroner, ternyata hal ini tidak

Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis dengan menggunakan pengujian hipotesis, dimana penelitian ini bertujuan untuk menguji bagaimana pengaruh masa

1) Semua peserta yang ikut PLPG diwajibkan untuk memakai seragam selama 10 hari: a) Laki-laki: Pakaian hitam-putih, lengan panjang, berdasi, peci dan sepatu pantofel b)

Terdapat hubungan positif antara minat siswa dengan keberhasilan melaksanakan praktek kerja industri pada siswa kelas XI SMK Gajah Mungkur Wonogiri yang