Berat perkembangan teknologi di era globalisasi ini sangat pesat. Hal ini ditandai dengan munculnyaberbagai macam teknologi canggih. Salah satunya adalah teknologi dalam pembuatan industri tinta printer. Semuaindustri yang bergerak di bidang pembuatan tinta printer berusaha menciptakan tinta yang berkualitas[1]. Tapi itu tidak mudah, karena mentahbahan tinta cukup mahal. Dengan demikian, produksiindustri ini dijual sangat mahal di pasaran, belum lagi bahan yang dibuat mengandung bahan kimia yang cukup berbahaya dan sensitif jika terkontaminasi oleh manusia. Tinta printerdibuat berbahaya terutama tinta kering (toner) yang jika terhirup oleh manusia maka akan mengganggu sistem pernafasan, sehingga dibutuhkansebuah inovasi untuk mengembangkan tinta kering (toner) yang tidak berbahaya dan dengan biaya produksi yang lebih murah [2]. Tinta kering (toner) yang merupakan bahan utama yang digunakan sebagai tinta pada mesin fotokopi atau laserprinter, menurut hasil analisis fluoresensi sinar-X memiliki kandungan mineral magnetik berupa magnetit (Fe3O4) sebanyak 95,01%.
Mineral magnetik ini merupakan mineral yang dominan dalam nada dengan komposisi >90% [3].
Tinta kering (toner) juga mengandung bubuk karbon, tetapi karbon biasanya dicampur dengan beberapa bahan adiktif seperti kopolimer stirena akrilat dan resin hidrokarbon atau lainnya bahan di sana dengan meningkatkan kualitas cetak dan daya rekat pada kertas dan aditif yang digunakan untuk pencetakan elektrofotografi (EP) [4].
Dalam beberapa dekade terakhir, EP telah menjadi sahalternatif untuk teknologi produksi cetak analog.
Bahan utama toner mengandungbahan magnetik (Fe3O4) hadir dalam pasir besi, sedangkan bubuk karbon dapat diperolehdari karbonasi dan aktivasi bahan alam seperti limbah kulit kacang mete,lebih berpeluang menghasilkan tinta kering (toner) yang berkualitas, efektif, efisien dan yang terpenting adalahaman dalam penggunaannya.