• Tidak ada hasil yang ditemukan

GAMBARAN PERTUMBUHAN ANAK BALITA STUNTING PESERTA PROGRAM PEMBERIAN MAKANAN TAMBAHAN (PMT) DI DESA PADANG TUALANG KABUPATEN LANGKAT TAHUN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "GAMBARAN PERTUMBUHAN ANAK BALITA STUNTING PESERTA PROGRAM PEMBERIAN MAKANAN TAMBAHAN (PMT) DI DESA PADANG TUALANG KABUPATEN LANGKAT TAHUN"

Copied!
89
0
0

Teks penuh

(1)

TAHUN 2018-2019

SKRIPSI

Oleh

RENY PUSPITA RAHAYU NIM. 151000181

PROGRAM STUDI S1 KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

2020

(2)

GAMBARAN PERTUMBUHAN ANAK BALITA STUNTING PESERTA PROGRAM PEMBERIAN MAKANAN

TAMBAHAN (PMT) DI DESA PADANG TUALANG KABUPATEN LANGKAT

TAHUN 2018-2019

SKRIPSI

Diajukan sebagai Salah Satu Syarat

untuk Memperoleh Gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat pada Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara

Oleh

RENY PUSPITA RAHAYU NIM. 151000181

PROGRAM STUDI S1 KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 2020

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(3)
(4)

ii Telah diuji dan dipertahankan

Pada tanggal: 05 Desember 2019

TIM PENGUJI SKRIPSI

Ketua : Ernawati Nasution, S.K.M., M.Kes.

Anggota : 1. Prof. Dr. Ir. Albiner Siagian, M.Si.

2. Dr. Ir. Zulhaida Lubis, M.Kes.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(5)

Pernyataan Keaslian Skripsi

Saya menyatakan dengan ini bahwa skripsi saya yang berjudul

“Gambaran Pertumbuhan Anak Balita Stunting Peserta Program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) di Desa Padang Tualang Kabupaten Langkat Tahun 2018-2019” beserta seluruh isinya adalah benar karya sendiri dan saya tidak melakukan penjiplakan atau pengutipan dengan cara yang tidak sesuai dengan etika keilmuan yang berlaku dalam masyarakat keilmuan kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebut dalam daftar pustaka. Atas peryataan ini, saya siap menanggung risiko atau sanksi yang dijatuhkan kepada saya apabila kemudian ditemukan adanya pelanggaran terhadap etika keilmuan dalam karya saya ini, atau klaim dari pihak lain terhadap keaslian karya saya ini.

Medan, Desember 2019

Reny Puspita Rahayu

(6)

iv Abstrak

Kurang gizi yang masih di dominasi di Indonesia adalah masalah balita pendek (stunting) dan masalah balita gizi kurus (wasted). Menurut WHO, pada Tahun 2016 ada sebanyak 155 juta jiwa (23%) anak-anak yang usianya dibawah lima tahun mengalami stunting, sedangkan sebanyak 52 juta jiwa mengalami gizi kurus.

Sebanyak 17 juta jiwa diantaranya mengalami kasus gizi buruk.Stunting disebabkan oleh kurangnya asupan gizi kronik, dimana faktor ekonomi dan pola asuh yang salah didalam keluarga sangat berpengaruh.Selain itu, stunting juga dapat disebabkan karena kurangnya akses ibu untuk membawa balita kepelayanan kesehatan.Program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) pada balita diharapkan dapat membantu mencukupi kebutuhan gizi anak balita terkhusus bagi balita yang mengalami masalah stunting agar dapat tumbuh dengan baik sesuai dengan tahap pertumbuhannya. PMT yang dikonsumsi oleh balita stunting berupa biskuit dan bahan panganan lokal yang didistribusikan dari puskesmas ke posyandu. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran pertumbuhan anak balita stunting setelah menjadi peserta program pemberian makanan tambahan (PMT) Di Desa padang tualang kabupaten langkat tahun 2018-2019. Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif berdesain potong-lintang (cross-sectional).Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan kriteria inklusi dan eksklusi.

Kriteria inklusi yaitu balita usia 12-59 bulan yang telah melakukan 12 kali pegukuran tinggi badan dan berat badan selama menerima Pogram Pemberian Makanan Tambahan tahun 2018-2019. Data dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian diperoleh program pemberian makanan tambahan (PMT) pada balita stunting efektif menormalkan tinggi badan balita yang dulunya stunting (Z-skor <- 3SD) menjadi normal (S-skor >-2SD) sebanyak 83 persen. Makanan Tambahan yang dikonsumsi balita juga efektif menurunkan angka gizi buruk pada stunting sebesar 13,5 persen dari 23,5 persen menjadi 10,0 persen. Harus terus dilakukan pengawasan dan pendampingan dari tenaga puskesmas terhadap seluruh ibu yang memiliki balita stunting ataupun tidak untuk dilakukannya pengayaan tentang pola asuh dan pengetahuan ibu tentang bagaimana cara pemberian dan penyajian makanan dalam keluarga.

Kata kunci: Stunting, pemberian makanan tambahan, pertumbuhan

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(7)

Abstract

Lack of nutrition that is still in dominance in Indonesia is a problem of toddlers (stunting) and the problem of skinny nutritional toddlers (wasted). According to WHO, in year 2016 there are as many as 155 million (23%). Children with five years of age are stunted, while a total of 52 million people have skinny nutrition. A total of 17 million people suffer fro poor nutritional cases. Stunting is caused by a lack of chronic nutritional intake, where the wrong economic factors and foster patterns in the family are very influential. In addition, stunting can also be caused by the lack of access to mothers to bring a toddler health care, and supported also by the low coverage of immunization, the exclusive Asi-and birth history of BBLR in infants. Additional food delivery Program in infants is expected to help meet the nutritional needs of special toddlers for toddlers who have stunting problems in order to grow well in accordance with the growth stage. Additional food is consumed by stunting toddlers in the form of biscuits and local food ingredients distributed from Public health center to integrated healthcare. The purpose of this research is to know the growth of children stunting child after being a participant of additional food delivery program in the village of Padang Tualang Langkat District in 2018-2019. The type of research used is a descriptive design cut- latitude (cross-sectional). Sampling techniques are conducted using inclusion and exclusion criteria. The inclusion criteria are toddlers aged 12-59 months who have done 12 times the measurements of height and weight during receiving additional feeding program from year 2018-2019. Data is analyzed descriptively. The results of the study obtained an additional feeding program in the effective stunting toddler normalizes the height of the previously stunting toddler (Z-score <-3SD) to normal (S-score >-2SD) as much as 83 percent. Additional foods consumed by toddlers also effectively lowered the number of bad nutrition at stunting by 13.5 percent from 23.5 percent to 10.0 percent. Should continue the supervision and mentoring of the health centers for all mothers who have a stunting toddler or not to do the enrichment of foster care patterns and mothers knowledge about how to give and food delivery in the family.

Keyword: Stunting, additional food feeding, growth .

(8)

vi

Kata Pengantar

Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT atas segala berkah yang telah diberikan-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Gambaran Pertumbuhan Anak Balita Stunting Peserta Program Pemberiaan Makanan Tambahan (PMT) di Desa Padang Tualang Kabupaten Langkat Tahun 2018-2019”. Skripsi ini adalah salah satu syarat yang ditetapkan untuk memperoleh gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.

Selama proses penyusunan skripsi ini, penulis banyak mendapatkan bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak baik moril maupun materil. Pada kesempatan ini, penulis menyampaikan ucapan terima kasih sebesar-besarnya kepada:

1. Prof. Dr. Runtung Sitepu, S.H., M.Hum. selaku Rektor Universitas Sumatera Utara.

2. Prof. Dr. Dra. Ida Yustina, M.Si. selaku Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.

3. Prof. Dr. Ir. Albiner Siagian, M.Si. selaku Ketua Departemen Gizi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara dan selaku Dosen Penguji I.

4. Ernawati Nasution, S.K.M., M.Kes. selaku Dosen Pembimbing yang telah meluangkan waktu dan dengan sabar memberikan bimbingan, arahan, dan masukan kepada penulis dalam penyempurnaan skripsi ini.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(9)

5. Dr. Ir. Zulhaida Lubis, M.Kes. selaku Dosen Penguji II yang telah meluangkan waktu dan pikiran dalam penyempurnaan skripsi ini.

6. dr. Heldy B. Z., M.P.H. selaku Dosen Penasehat Akademik yang telah membimbing penulis selama menjalani perkuliahan di Fakultas Kesehatan Masyarakat USU.

7. Para Dosen dan staff Fakultas Kesehatan Masyarakat USU terkhusus Departemen Gizi Kesehatan Masyarakat atas ilmu yang telah diajarkan selama ini kepada penulis.

8. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Langkat yang telah memberikan izin untuk melaksanakan penelitian.

9. Hj. Erlina, S.K.M. selaku Kepala Puskesmas Tanjung Selamat beserta staff pegawainya yang telah memberikan izin dan membantu memperoleh informasi dan data-data yang bersangkutan dengan penulisan skripsi ini.

10. Kepala Seksi Gizi Puskesmas Tanjung Selamat, bidan desa dan kader posyadu Desa Padang Tualang yang telah membantu memperoleh data selama penelitian.

11. Kepala Desa Padang Tualang beserta staff pegawainya atas izin dan bantuannya dalam pengumpulan data selama di desa.

12. Teristimewa untuk orangtua terkasih Sudarsono dan Ngatisah yang telah memberikan dukungan, doa, cinta dan kasih sayang yang begitu besar selama ini kepada penulis.

13. Kepada abang dan adik tercinta Dede Darmawan Syahputra dan Agung Wahyudi atas doa dan dukungannya selama ini kepada penulis.

(10)

viii

14. Kepada Fandy Pratama yang senantiasa ada disaat suka dan duka, yang selalu memberikan bantuan, motivasi dan dukungan kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

15. Kepada sahabat-sahabat yang saya sayangi, Wirda Verawati, Luthfi Fadila, Fatma Sari Daulay, Rini Handayani Lubis, dan Fiola Triana yang telah banyak memberikan bantuan dan dukungan kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

16. Kepada seluruh teman-teman stambuk 2015 kelas B dan seluruh teman-teman Departemen Gizi Masyarakat stambuk 2015 yang senantiasa mendukung penulis menyelesaikan skripsi ini.

17. Semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan skripsi ini dan tidak bisa disebutkan satu demi satu.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih terdapat kekurangan. Oleh sebab itu, penulis mengharapkan adanya kritik dan saran yang membangun dari semua pihak dalam rangka penyempurnaan skripsi ini. Akhir kata, penulis berharap skripsi ini dapat memberikan kontribusi yang positif dan bermanfaat bagi pembaca.

Medan, Desember 2019

Reny Puspita Rahayu

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(11)

Daftar Isi

Halaman

Halaman Persetujuan i

Halaman Penetapan Tim Penguji ii

Halaman Pernyataan Keaslian Skripsi iii

Abstrak iv

Abstract v

Kata Pengantar vi

Daftar Isi ix

Daftar Tabel xi

Daftar Gambar xii

Daftar Lampiran xiii

Daftar Istilah xiv

Riwayat Hidup xv

Pendahuluan 1

Latar Belakang 1

Perumusan Masalah 8

Tujuan Penelitian 8

Tujuan umum 8

Tujuan khusus 8

Manfaat Penelitian 8

Tinjauan Pustaka 9

Program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) Balita 9 Pemberian Makanan Tambahan (PMT) pada Anak Balita Stunting 12

Kandungan Zat Gizi pada Biskuit PMT Balita 13

Status Gizi 13

Pertumbuhan dan Perkembagan Anak 16

Jenis-Jenis Pertumbuhan 17

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Status Gizi Balita Stunting 19

Kerangka Teori 23

Kerangka Konsep 23

Metode Penelitian 25

Jenis Penelitian 25

Lokasi dan Waktu Penelitian 25

Populasi dan Sampel 25

Variabel dan Definisi Operasional 26

Metode Pengumpulan Data 28

Metode Pengukuran 28

Metode Analisis Data 30

(12)

x Hasil Penelitian

Gambaran Umum Lokasi Penelitian 31

Karakteristik Anak Balita Stunting 32

Distribusi Status Gizi Balita Berdasarkan TB/U dan BB/U

Sebelum Menjadi Peserta Program PMT 33

Distribusi Status Gizi Balita Berdasarkan TB/U dan BB/U

Sesudah Menjadi Peserta Program PMT 34

Distribusi Status Gizi Balita Berdasarkan Berat Badan Menurut Umur (BB/U) Setelah menjadi Peserta Program PMT Berdasarkan

Umur Balita 35

Distribusi Status Gizi Balita Berdasarkan Tinggi Badan Menurut Umur (TB/U) Setelah Menjadi Peserta Program PMT Berdasarkan

Umur Balita 36

Distribusi Riwayat Imunisasi Dasar, Riwayat BBLR dan

Pendapatan Keluarga Berdasarkan Umur Balita 36

Riwayat Imunisasi Dasar, Riwayat BBLR dan Pendapatan Keluarga

dengan Status Gizi Balita Berdasarkan BB/U 37

Riwayat Imunisasi Dasar, Riwayat BBLR dan Pendapatan Keluarga

dengan Status Gizi Balita Berdasarkan TB/U 38

Pembahasan 43

Pertumbuhan Balita Stunting Setelah Mendapatkan Paket PMT

Berdasarkan BB/U 43

Pertumbuhan Balita Stunting Setelah Mendapatkan Paket PMT

Berdasarkan TB/U 44

Pertumbuhan Balita Stunting Setelah Mendapatkan PMT

Berdasarkan Riwayat Imunisasi 46

Pertumbuhan Balita Stunting Setelah Mendapatkan PMT

Berdasarkan Riwayat BBLR 47

Pertumbuhan Balita Stunting Setelah Mendapatkan PMT

Berdasarkan Pendapatan Keluarga 48

Keterbatasan Penelitian 50

Kesimpulan dan Saran 51

Kesimpulan 51

Saran 51

Daftar Pustaka 53

Lampiran 56

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(13)

Daftar Tabel

No Judul Halaman

1 Klasifikasi Starus Gizi Balita 15

2 Distribusi Anak Balita Stunting pada Peserta Program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) di Desa Padang Tualang Tahun

2018-2019 Berdasarkan Karakteristik 33

3 Distribusi Status Gizi Anak Balita Stunting Sebelum Menjadi Peserta Program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) di

Desa Padang Tualang Tahun 2018-2019 34

4 Distribusi Status Gizi Anak Balita Stunting Berdasarkan TB/U dan BB/U Setelah Menjadi Peserta Program PMT di

Desa Padang Tualang Kabupaten Langkat Tahun 2018-2019 34 5 Distribusi Status Gizi Anak Balita Stunting Berdasarkan

BB/U dengan Umur Balita Setelah Menjadi Peserta Program PMT di Desa Padang Tualang Kabupaten Langkat

Tahun 2018-2019 35

6 Distribusi Status Gizi Anak Balita Stunting Berdasarkan TB/U dengan Umur Balita Setelah Menjadi Peserta Program PMT di Desa Padang Tualang Kabupaten Langkat

Tahun 2018-2019 36

7 Distribusi Riwayat Imuniasi Dasar, Riwayat BBLR dan

Pendapatan Berdasarkan Umur Balita Peserta Program PMT di

Desa Padang Tualang Kabupaten Langkat Tahun 2018-2019 37 8 Distribusi Riwayat Imunisasi Dasar, Riwayat BBLR dan

Pendapatan Keluarga dengan Status Gizi Anak Balita Stunting Berdasarkan BB/U Setelah Menjadi Peserta Program PMT di

Desa Padang Tualang Kabupaten Langkat Tahun 2018-2019 38 9 Distribusi Riwayat Imunisasi Dasar, Riwayat BBLR dan

Pendapatan Keluarga dengan Status Gizi Anak Balita Stunting Berdasarkan TB/U Setelah Menjadi Peserta Program PMT di

Desa Padang Tualang Kabupaten Langkat Tahun 2018-2019 39

(14)

xii

Daftar Gambar

No Judul Halaman

1 Kerangka teori 23

2 Kerangka konsep 24

3 Grafik pertumbuhan berdasarkan TB/U anak balita stunting

sebelum dan sesudah menerima PMT 39

4 Grafik pertumbuhan berdasarkan BB/U anak balita stunting

sebelum dan sesudah menerima PMT 40

5 Grafik pertumbuhan TB/U anak balita stunting

sesudah menerima PMT berdasarkan karakteristik 41 6 Grafik pertumbuhan BB/U anak balita stunting

sesudah menerima PMT berdasarkan karakteristik 42

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(15)

Daftar Lampiran

Lampiran Judul Halaman

1 Surat Izin Penelitian 56

2 Surat Selesai Penelitian 57

3 Hasil Output SPSS 58

4 Dokumentasi Penelitian 65

5 Master Data 69

(16)

xiv Daftar Istilah

BBLR Berat Badan Lahir Rendah PMT Pemberian Makanan Tambahan Stunting Balita Pendek / Sangat Pendek WHO World Health Organization

Z-skor Nilai Baku atau Nilai Standar Status Gizi

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(17)

Riwayat Hidup

Penulis bernama Reny Puspita Rahayu berumur 22 tahun, Dilahirkan di Benteng Rejo pada tanggal 2 Agustus 1997. Penulis beragama Islam, anak kedua dari tiga bersaudara dari pasangan Sudarsono dan Ngatisah.

Pendidikan formal dimulai di TK Tunas Medika Tanjung Selamat Tahun 2002. Pendidikan sekolah dasar di SD Negeri 050694 Batang Serangan Tahun 2003-2009, sekolah menegah pertama di SMP Swasta Ampera Batang Serangan Tahun 2009-2012, sekolah menengah atas di SMA Negeri 1 Padang Tualang Tahun 2012-2015, selanjutnya penulis melanjutkan pendidikan di program studi S1 Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.

Medan, 5 Desember 2019

Reny Puspita Rahayu

(18)

1 Pendahuluan

Latar Belakang

Stunting merupakan keadaan kegagalan perumbuhan terhadap anak balita yang diakibatkan karena kurangnya asupan gizi kronik, akibatnya anak tersebut terlalu pendek jika dilihat pada anak yang seusianya. Pemerintah telah membuat standar didalam Keputusan Menteri Kesehatan No.1995/MENKES/SK/XII/2010 mengenai standar yang dimaksud yaitu standart pengukuran Antropometri dalam menilai status gizi, defenisi dari status gizi, defenisi pendek dan sangat pendek dari anak dilihat klasifikasi panjang badan menurut umur (PB/U) atau tinggi badan menurut umur (TB/U).

Stunting bukan saja diakibatkan dari buruknya status gizi yang terjadi pada ibu saat hamil dan pada anak balita saja, namun dipengaruhi juga dari berbagai faktor mulidimensi. Intervensi yang dilakukan dalam mengurangi angka stunting yaitu perlunya dilakukan 1000 HPK (hari pertama kehidupan) untuk anak balita.

Penyebab utama stunting yang pertama yaitu disebabkan oleh praktik pengasuhan yang belum sepenuhmya baik, didukung juga dengan rendahnya pengetahuan ibu tentang kesehatan dan gizi yang diperlukan untuk mempersiapkan masa hamil dan sampai dengan masa persalinan. Kedua, masih minimnya pelayananan kesehatan, pelayanan ANC-Ante Natal Care (pelayanan kesehatan ibu pada masa kehamilan) Post Natal Care dan antisipasi dini yang baik . Ketiga, minimnya akses rumah tangga kemakanan yang bernutrisi, diakibatkan karena tingginya harga makanan bergizi di Indonesia. Keempat, minimnya akses masyarakat untuk mendapatkan sumberair bersih dan sanitasi.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(19)

Kuranganya zat gizi bisa terjadi pada saat anak tersebut masih berada didalam kandungan dan masa awal setelah anak tersebut dilahirkan, namun untuk kasus stunting baru akan terlihat pada anak diusia dua tahun. Stunting disebabkan oleh kekurangan gizi kronis karena faktor ekonomi dan pola asuh yang salah didalam keluarga sehingga dapat menyebabkan kegagalan pertumbuhan, kemampuan kognitif yang tidak berkembang dan menjadikan anak tersebut mudah sakit. Indonesia masih banyak mengalami permasalahan di bidang kesehatan, seperti yang disebutkan didalam Riskesdes Tahun 2013 yang berkaitan dengan masalah gizi masyarakat terutama stunting, untuk itu pemerintah sangat berupaya menurunkan angka stunting, penurunan angka anak balita stunting masuk kedalam salah satu tujuan utama pembangunan nasional dan tercantum didalam sasaran jangka menegah 2015-2019. Target dari penurunan angka balita stunting pada anak baduta (balita bawah dua tahun) menjadi sebesar 28 persen (RPJNM, 2015- 2019).

Indonesia masih sangat banyak sekali mengalami permasalahan dibidang kesehatan dan masalah gizi, dengan masih besarnya angka mortalitas ibu dan angka mortalitas neonatal, tinngginya anemi pada ibu hamil, tingginya angka Gangguan Akibat Kekurangan Yodium pada ibu yang sedang hamil dan bayi dan masih kurangnya asupan vitamin A terhadap anak balita, tingginya angka gizi kurang berdasarkan (BB/U) dan anak balita pendek/stunting (TB/U) pada anak balita. Balita yang berstatus gizi kurang atau gizi buruk bila dilihat dari hasil pengukuran berat badan menurut umur (BB/U) dan anak pendek atau sangat pendek (stunting) dilihat dari hasil pengukuran tinggi badan menurut umur (TB/U) dan hasilnya rendah apabila dibandingkan dengan standar WHO, maka anak

(20)

3

tersebut akan beresiko kehilangan tingkat kecerdasannya sebesar 10 sampai dengan 15 poin (RISKESDES, 2013).

Kurang gizi yang masih di dominasi di Indonesia adalah masalah balita pendek (stunting) dan masalah balita kurus (wasted). Menurut World Health Organization (WHO), pada tahun 2016 ada sebanyak 155 juta jiwa (23%) anak- anak yang usianya dibawah lima tahun mengalami kasus stunting, sedangkan sebanyak 52juta jiwa mengalami gizi kurus. Ada 17 juta jiwa diantaranya mengalami gizi buruk (WHO, 2016).

Angka gizi balita yang tercatat di Indonesia pada Tahun 2015 berdasaran indikator berat badan menurut umur, telah didapatkan hasilnya sebesar 79,7 persen balita dengan gizi yang baik, 14,9 persen anak mengalami kurangan gizi, 3,8 persen anak mengalami kasus gizi buruk, dan 1,5 persen mengalami gizi lebih.

Status gizi anak balita dilihat dari TB/U, diperoleh hasil sebesar 71 persen normal, sebesar 29,9 persen balita berstatus gizi pendek dan sangat pendek. Status gizi anak balita berdasaarkan Berat Badan menurut Tinggi Badan (BB/TB) diperoleh hasilnya sebanyak 82,7% persen memiliki status gizi yang normal, 8,2 persen mengalami gizi kurus 5,3 persen mengalami kegemukan dan 3,7 persen mengalami status gizi kurus (Kemenkes RI, 2016).

Stunting sangat berpengaruh buruk terhadap keberlangsungan hidup anak apabila tidak di tangani dengan serius. Menurut WHO, efek yang dapat ditimbulkan dari kejadian stunting yaitu: apabila dilihat dari dampak jangka pendek stunting akan meningkatkan tingginya angka mordibitas dan mortalitas.

Perkembangan akal pengetahuan, perkembangan motorik, dan verbal anak tidak akan berkembang secara maksimal, serta meningkatkan biaya pengeluaran untuk

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(21)

kesehatan. Dilihat dari dampak dari jangka panjang stunting akan membuat bentuk tubuh anak yang tidak optimal dan pada saat dewasa nanti atau anak akan kelihatan jauh lebih pendek dari teman seusianya, meningkatkan resiko kegemukan (obesitas) dan penyakit komplikasi lainnya. Turunnya angka kesehatan reproduksi serta angka produktivitas kerja menjadi tidak optimal.

Hasil Riskesdas Tahun 2018 telah memperlihatkan penurunan angka Stunting pada tingkat nasional dalam periode lima tahun sebesar 6,4%, yang awalnya 37,2% pada tahun 2013 menjadi 30,8% pada 2018. Stunting di Indonesia menduduki pringkat ke 108 dari 132 negara. Indonesia sendiri tercatat sebagai negara dari 17 negara yang mengalami masalah beban ganda gizi, mulai dari masalah gizi lebih, maupun masalah kurang gizi. Indonesia adalah negara yang angka privalensi suntingnya terbesar kedua di Asia Tenggara setelah Cambodia.

(TN2PK, 2018).

Tingginya jumlah anak stunting di negara Indonesia yang melewati batas angka stunting dari WHO yaitu sebesar 20 persen membuat pemerintah berupayah menurunkan prevalensi stunting didalam berbagai program strategi kesehatan.

Strategi kebijakan pemerintah merupakan strategi yang dibuat oleh Kemenkes RI, diantaranya Program Indonesia Sehat dengan pendekatan Keluarga (PIS-PK) dimana program tersebut diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan RI NO. 39 Tahun 2016 tentang Pedoman Penyelenggaraan PIS-PK, Pemberian Makanan Tambahan (PMT) yang telah diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 51 Tahun 2016, tentang standar dari Produk Suplementasi Gizi , dan 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Stunting adalah target dari salah satu Sustainable Development Goals (SDGs) dan masuk kedalam sasaran dari

(22)

5

pengembangan berkepanjangan yang ke-2 yaitu menuntaskan kelaparan dalam semua wujud kekurangan gizi di Tahun 2030 hingga tercapianya kebutuhan tahan pangan masyarakat. Poin yang harus dicapai yaitu mengurangi prevalensi balita stunting menjadi 40% di tahun 2025. Pemberian Makanan Tambahan (PMT) pada balita diharapkan dapat membantu mencukupi kebutuhan gizi anak balita, terkhusuus bagi balita yang mengalami masalah stunting. Pemberian Makanan Tambahan (PMT) merupakan tindakan memberikan makanan berbentuk biskuit yang terjamin keamanannya serta berkualitas dan memperhatikan aspek nilai gizi yang dibutuhkan balita yang menjadi sasaran (Buletin Jendela Data dan Informasi Kesehatan, 2018).

Beberapa program kebijakan dari pemerintah untuk mencegah terjadinya stunting yaitu berupa Peningkatan Gizi Masyarakat melewati program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) dan Peningkatan Sanitasi dengan berbasis Lingkungan dengan meningkatan kualitas sanitasi lingkungan di 250 desa di 60 Kabupaten/Kota, dengan target prioritas pada desa dengan angka stuntingnya yang sangat esar. Pemerintah juga harus membangun infrastruktur air minum, sarana jamban sehat dan mencuci tangan dengan sabun dan kebijakan yang ditujukan teruntuk keluarg kurang mampu (miskin) agar terjadi perubahan prilaku dalam berprilaku hidup besih dan sehat. Anggaran pada setiap program yang desanya memiliki angka stunting tinggi diberi dana sebesar 100 juta rupiah dan target yang harus dicapai serta terlayani jamban sehatnya minimal 22 KK. Dalam empat tahun lalu Pemerintah sudah membangun Instalansi Pengolahan Air Limbah (IPAL), Tempat untuk Pengolahan Air (TPA), serta Sanitasi Berbasis Masyarakat (SANIMAS), dimana infrastruktur tersebut diharapkan mampu meningkatkan

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(23)

kualitas hidup manusia, dan salah stunya untuk mencegah stunting.

Data yang diperoleh dari Dinas Kesehatan Kabupeten Langkat Tahun2018, dari pengukuran ulang yang telah dilakukan dengan sandar pengukuran WHO panjangbadan menurut umur (PB/U), tinggi badan menurut umur (TB/U) dengan indikator anak stunting (pendek+sangat pendek) sebanyak 641 anak (23,3%).

Jumlah keseluruhan anak yang mengalami stunting tersebut terdapat pada 10 desa dari delapan kecamatan yang lokasinya terintervensi sebagai lokus stunting yaitu, Desa Sematar, Desa Kebun Kelapa, Desa Secanggang, Desa Pematang Serai, Desa Sei Meren, Desa Perlis, Desa Paluh Manis, Desa Securai Selatan, Desa Securai Utara dan Desa Padang Tualang. Desa Padang Tualang Kecamatan Padang Tualang merupakan daerah dengan angka balita stunting sebesar 19 persen (43 anak). Desa Padang Tualang inilah yang akan jadikan sebagai tempat pentelitian untuk mengetahui bagaimana status gizinya setelah mendapatkan bantuan program PMT (Dinkes Kabupaten Langkat, 2018).

Data yang diperoleh dari Puskesmas Tanjung Selamat Tahun 2018, sebanyak 38 anak balita yang berumur 0-59 bulan d Desa Padang Tualang terdaftar sebagai peserta penerima program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) dengan status gizi kurang dan stunting. Pemberian Makanan Tambahan (PMT) yang diberikan dari Pusat dalam bentuk paket PMT pabrikan (biskuit) dan bantuan berupa sembako bahan pangan mentah yang berasal dari dana APBD untuk keluarga yang mengalami gizi buruk sekaligus memiliki anak stunting yang termasuk kedalam keluarga miskin. Salah satu cara pemerintah dalam menanggulangi stunting yang kebanyakan juga menderita gizi kurang yaitu dengan memberikan makanan tambahan (PMT) bagi anak yang mengalami kurang gizi.

(24)

7

Jumlah anak balita stunting di wilayah kerja Puskesmas Tanjung Selamat pada Tahun 2017 belum diketahui pasti, karena dari pemerintah kabupaten sendiri belum ada surat keputusan untuk pemberian program PMT khusus bagi balita stunting. Pada tahun 2017 anak balita stunting tersebut tidak terdaftar sebagai peserta program PMT. Tahun 2018 Pemerintah melalui Menteri Kesehatan memerintahkan untuk dilakukan pengukuran ulang status gizi, terutama mengukur Panjang Badan menurut Umur (PB/U) ataupun Tinggi Badan menurut Umur (TB/U) terhadap seluruh balita di Indonesia. Tidak hanya balita namun status gizi anak sekolah dan ibu hamil juga dapat perhatian khusus. Hasil pengukuran tersebut didapatkan bahwa laporan angka kejadian balita stunting di Indonesia sangat tinggi, terkhususnya di Kabupaten Langkat yaitu sebesar 23,3 persen (641 anak) (Dinkes Kabupaten Langkat, 2018).

Pada tahun 2018 Dinas Kesehatan Kabupaten Langkat memberikan bantuan PMT berupa biskuit dan Sembako kepada tiap Puskesmas yang wilayah kerjanya terdapat balita stunting, terkhususnya di puskesmas Tanjung Selamat.

Pada tahun 2018 jumlah balita stunting yang terdaftar di Puskesmas Tanjung Selamat untuk Desa Padang Tualang sebanyak 38 balita stunting. Seluruh balita stunting di Desa Padang Tualang terdaftar sebagai peserta penerima program PMT dari Puskesmas Tanjung Selamat. Peserta program PMT di Desa Padang Tualang yang terdata sebagai Penerima program PMT yaitu sebanyak 2 (dua) balita dengan rentang usia 0-12 bulan, 11 balita dengan rentang usia 13-24 bulan, 5 (lima) balita dengan rentang usia 25-36, dan 20 balita di rentang usia 37-59 bulan (Puskesmas Tanjung Selamat, 2018).

Dari penjelasan tersebut di atas, peneliti ingin mengetahui bagaimana

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(25)

“Gambaran Pertumbuhan Anak Balita Stunting (12-59 bulan) Setelah Menjadi Peserta Program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) di Desa Padang Tualang Kabupaten Langkat Tahun 2018-2019”

Perumusan Masalah

Perumusan masalah dalam penelitian ini adalah “bagaimana gambaran pertumbuhan anak balita stunting setelah menjadi peserta Program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) di Desa Padang Tualang Kabupaten Langkat tahun 2018-2019.

Tujuan Penelitian

Tujuan umum. Tujuan umum dalam penelitian ini adalah, untuk mengetahui gambaran perubahan tinggi badan anak balita stunting setelah menjadi peresta Program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) di Desa Padang Tualang Kabupaten Langkat pada Tahun 2018 sampai dengan Tahun 2019.

Tujuan khusus. Tujuan khusus dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran riwayat BBLR, riwayat imunisasi, dan status ekonomi keluarga yang menjadi faktor penyebab anak balita stunting peserta program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) di Desa Padang Tualang Kabupaten Langkat pada Tahun 2018-2019.

Manfaat Penelitian

Penlitian ini diharapkan mampu memberikan inforamsi kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Langkat dan Puskesmas Tanjung Selamat tentang gambaran anak balita stunting setelah menjadi peserta program pemberian makanan tambahan di Desa Padang Tualang Kabupaten Langkat pada tahun 2018-2019.

(26)

9

Tinjauan Pustaka

Program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) Balita

Program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) merupakan suplementasi bagi kelompok rawan untuk mengurangi masalah gizi. PMT yang diterima balita harus disesuaikan dengan umur masa pertumbuhan dan juga harus berkualitas untuk memenuhi kebutuhan zat gizinya. PMT diberikan kepada balita usia 6-59 bulan dan memenuhi persyaratan khusus mengandung unsur gizi yang diperlukan anak balita seperti kebutuhan energi, protein, lemak, vitamin dan mineral, (Permenkes, 2016).

Pemerintah mengembangkan Program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) agar bisa membantu memenuhi kebutuhan gizi untuk balita. Program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) adalah suatu tindakan memberikan makanan khusus pada anak balita dalam bentukan kudapan berupa biskuit yang baik dan bermutu, diharapkan PMT tersebut dapat mempertahankan keadaan status gizinya agar tidak semakin memburuk.

Proses PMT balita. Proses PMT terbagi dalam tiga tahapan, seperti adanya perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan yang mana mesti dilaksanakan sesuai dari petunjuk teknis Program Jaring Pengamanan Sosial Bidang Kesehatan (JPS-BK). Dalam tahap perencanaan, PMT tersebut ditentukan kepada siapa sasaran penerima dan kapan jadwal pendistribusian PMT tersebut dilaksankan dan diberikan. Setelah ditentukan perencanaan, kemudian ditentukanlah jenis bahan makanan yang akan dibeliberupabahan paketan PMT untuk balita sasaran.

Pengawasan, Pengendalian, dan Penilaian Program PMT selanjutnya dilakukan

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(27)

dengan cara mengisi registrasi yang sudah dibuat oleh Departemen Kesehatan Republik Indonesia.

Dalam menjalankan proses Pemberian Makanan Tambahan pada balita, diperlukan juga unsur-unsur lain seperti tenaga, dana, sarana, bahan, dan metode, Tenaga merupakan orang yang bertanggung jawab dan mengkoordinir program PMT balita sasaran di wilayah kerja Puskesmas tersebut. Unsur dalam Tenaga berupa Tenaga Pelaksana Gizi (TPG) dan Bidan Desa, bertugas melakukan pembinaan teknis dilapangan. Dana dalam pembelian bahan disesuaikan oleh banyaknya balita sasaran penerima program. Bahan paket yang dibeli berupa bahan pagan mentah dan dapat dibawa kerumah masing-masing seperti biskuit, beras, telur, gula, dan kacang-kacagan (Depkes RI, 1999).

Tujuan program PMT pada balita. Memberikan PMT yang berkualitas sangat bermanfaat untuk balita supaya tidak mengalami kekurangan gizi atau gizi kurang secara terus menerus atau berkelanjutan. PMT diberikan kepada seluruh anak balita yang mengalami gizi kurang, gizi buruk dan stunting. Balita yang menglami gizi buruk dan stunting biasanya datang dari keluarga ekonomi kelas bawah atau dari keluarga yang miskin. Sasaran utama penerima paket PMT adalah balita dengan umur 6-59 bulan dengan indikator Berat Badan menurut Panjang Badan / Tinggi Badan (BB/PB atau BB/TB) kurang dari minus 2 SD (≤ -2 SD). Puskemas Tanjung Selamat, Desa Padang Tualang memberikan PMT dalam bentuk paketan biskuit dan sembako untuk balita stunting dimana program tersebut bertujuan untuk memperbaiki status gizi balita stunting serta balita stunting yang mengalami gizi buruk agar tidak semakin memburuk.

Jenis-jenis pemberian makanan tambahan (PMT). Jenis PMT ada dua

(28)

11

jenis yaitu Pemberian Makanan Tambahan - Pemulihan dan Pemberian Makanan Tambahan - Penyuluhan, kedua jenis PMT ini mempunyai manfaat yangsama, yaitu untuk mencukupi asupan zat gizi yang diperlukan anak balita.

Pemberian makanan tambahan pemulihan. PMT-Pemulihan ditujukan

agar mencukupi asupan gizi balita sasaran serta memberikan pengayaan kepada ibu dari balita sasaran. PMT-Pemulihan biasanya berbentuk bahan panganan lokal yang dikonsumsi oleh anak balita sasaran saja dan dijadikan sebagai makanan tambahan sehari-hari saja tidak untuk dijadikan sebagai makanan pengganti utama pada balita. Makanan Tambahan Pemulihan yang disarankan harus banyak mengandung protein hewani dan nabati dan juga mengandung banyak vitamin dan mineral yang berasal dari buah dan sayur-sayuran. Makanan Tambahan Pemulihan juga bisa berupa makanan olahan pabrik dan makanan lokal. PMT pemulihan yang berasal dari olahan pabrik berupa biskuit dan mengandung 10 vitamin dan 7 mineral, dengan kandungan nilai gizi : energi total sebesar 180 kkal, protein 3 gr, lemak 6 gram. Jumlah zat gizi didalam sajian biskuit yaitu, terkandung 29 gram karbohidrat total, 2 gram serat pangan, 8 gram gula dan 120 mg natrium. Biskuit diperuntukan untuk anak dengan usia 6-24 bulan.

Pemberian makanan tambahan (PMT) penyuluhan. PMT-Penyuluhan

merupakan jenis makanan tambahan untuk pencegahan yang disediakan oleh kader Posyandu yang diberikan pada balita. Tujuan Pemberian Makanan Tambahan penyuluhan yaitu sasaran untuk penyuluhan terhadap orang tua balita yang mengalami masalah gizi berkaitan dengan makanan tambahan kudapan (biskuit/snack) yang bagus untuk dikonsumsi oleh balita agar terpenuhi asupan zatgizi pada balita dan salah satu sarana untuk memberdayakan peranan dari

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(29)

masyarakat untuk mendukung segala kegiatan penyelenggaaan di posyandu.

(Juknis PMT, 2018).

Pemberian Makanan Tambahan (PMT) pada Anak Balita Stunting

Bentuk makanan PMT Untuk Stunting yang diberikan untuk program PMT dari posyandu yaitu PMT penyuluhan berbentuk biskuit (kudapan) bagi balita usia 6-59 bulan yang mengalami masalah stunting, gizi kurus, dan gizi buruk berdasarkan indikator Tinggi Badan menurut Umur (TB/U) dibawah -2SD.

Lamanya pemberian biskuit PMT kepada balita yaitu selama tiga bulan (90 hari ) dan balita sasaran yang diberikan PMT dilakukan pemantauan berat badan dan tinggi badannya tiap bulan. Paket PMT yang diterima balita yaitu sebanyak satu kotak biskuit PMT (berat 840 gram) terdiri dari 21 biskuit dikemas dalam kemasan sekunder, setiap 4 keping biskuit dikemas dalam satu kemasan primer (berat 40 gram). Usia 6-11 bulan diberikan 8 keping (2 bungkus) per hari. Usia 12-59 bulan diberikan 12 keping (3 bungkus) per hari. Apabila balita sudah mencapai berat badan sesuai panjang/tinggi badan dan atau berat badan sesuai umur, PMT yang diberikan pada balita dihentikan dan selanjutnya mengkonsumsi makanan keluarga gizi seimbang. Balita stunting di desa padang tualang yang mengalami kasus gizi kurus atau gizi buruk mendapatkan tambahan PMT berupa bahan pangan mentah yang bisa dibawa pulang diberikan kepada orang tua balita yang mengalami stunting seperti beras, telur, kacang hijau dan minyak goreng untuk kebutuhan selama 15 hari dengan tujuan untuk membantu memenuhi kebutuhan zat gizi balita. Pada saat balita melakukan kegiatan posyandu, balita juga mendapatkan kudapan berupa bubur kacang hijau yang diolah oleh kader posyandu dengan takaran yang di berikan kurang lebih 100 gram (Puskesmas Tanjung Selamat,

(30)

13

2018).

Kandungan Zat Gizi pada Biskuit Makanan Tambahan Balita

Makanan Tambahan untuk balita berupa makanan tambahan berbentuk biskuit yang diformulasikan untuk balita serta ditambahkkan juga vitamin dan mineral yang diberikan untuk bayi dan balita usia 6-59 bulan dengan status gizi kurus. Tiap kemasan primer (berisi 4 kepingan /40 gram) Makanan Tambahan Balita mengandung zat gizi minimal 160 kalori, 4-7,2 gram lemak, dan 3,2-4,8 gram protein dan ditambah dengan 10 jenis vitamin (A, E, D, K, B1, B2, B3, B6, B12 dan folat) serta mengandung 7 jenis mineral sepert Besi (Fe), Iodium (I), Seng (Zn), Kalsium (Ca), Natrium (Na), Selenium (Se), dan Fosfor (P) (Juknis PMT, 2018)

Status Gizi

Status Gizi adalah pengklasifikasian dari hasil pengukuran yang dilakukan kedalam bentuk tingkat kebutuhan gizi secara fisiologis dari seseorang (Hammond, 2004). Menurut Supariasa, Bakri, dan Fajar (2002), status gizi menggambarkan keaadaan kesetimbangan dalam keadaan variabel tertentu, atau keadaan dari status tubuh yang berkaitan langsung dengan gizi dalam keadaan variabel tertentu. Artinya ada satu variabel dan dapat di ukur seperti berat badan dan tinggi badan yang dikelompokkan kedalam kelompok gizi tertentu seperti gizi baik, gizi kurang, gizi buruk, dan lain sebagainya. Pertumbuhan anak tidak bisa dilihat dari bentuk ukuran tubuh saja, tetapi bisa lebih daripada itu, pertumbuhan merupakan salah satu indikator kemajuan yang baik dari perkembangan status gizi anak (Depkes RI, 2002 a).

Balita stunting. Balita Pendek (Stunting) adalah suatu keadaan dari

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(31)

keadaan gizi balita berdasarkan pada ukuran panjangbadan menurut umur atau tinggi badan menurut umur, yang mana standar penilaian status gizi anak, diperoleh angka pengukurannya ada pada nilai ambang batas (Z-Score) <-2 Standar Deviasi sampai dengan - 3 Standar Deviasi (pendek) dan <-3 Standar Deviasi (sangat pendek). Stunting yang terjadi pada anak balita yaitu suatu bentuk penggambaran gangguan keadaan sosial ekonomi yang terjadi pada suatu keluarga.

Stunting adalah suatu kondisi dimana balita megalami defisit gizi kronis dan penyebabnya adalah asupan gizi yang kurang pada waktu lampau dan terjadi pada waktu yang sangat lama yang diakibatkan karena konsumsi nutrisi yang tidak tepat untuk memenuhi nutrisi balita tersebut. Resiko Stunting bisa terjadi dan dimulai pada saat balita masih didalam kandungan ibunya dan baru akan kelihatan bahwa balita itu stunting disaat balita tersebut berumur dua tahun.

Penilaian status gizi. Penilaian Status gizi balita dapat ditentukan bersumber pada umur balita, berat badan (BB) balita dan Tinggi Badan (TB) balita. Berat badan balita ditimbang menggunakan timbangan digital yang mempunyai presisi 0,1 kg, panjang badan balita dapat diketahui dengan menggunakan length-board dengan presisi 0,1cm dan tinggibadan balita dapat diketahui dengan memakai microtoise dengan presisi 0,1cm. Berat badan serta tiggi badan balita bisa ditampilkan kedalam indikator antropometri yaitu, beratbadan menurut umur (BB/U), tinggi badan menurut umur (TB/U) dan berat badan menurut tinggi badan (BB/TB).

Dalam penilaian status gizi anak balita, hasil dari berat badan dan tinggi badan pada tiap anak balita selanjutnya diubah kedalam nilai standar Z-score dengan memakai buku Antropometri balita dari WHO. Metode lain untuk

(32)

15

mengkonversikan hasil pengukuran agar didapatkan gambaran status gizi balita lengkap seperti umur dalam bulan, ploting status gizi dan sebagainya. Dalam menentukan status gizi yang dilakukan secara digital yaitu dengan menggunakan aplikasi WHO–Antro dan WHO–Antro plus. WHO-antro dipakai untuk hasil pengukuran status gizi dengan usia 0-5 tahun, sedangkan WHO-Antro plus digunakan untuk pengukuran dengan usia diatas 5 tahun atau usia anak sekolah sampai dengan usia 19 tahun.

Tabel 1

Klasifikasi Status Gizi Balita

Klasifikasi Status Gizi Balita Z-score Klasifikasi Status Gizi Berdasarkan

Indikator BB/U

Status Gizi Buruk Zscore <-3,0

Status Gizi Kurang Zscore ≥-3,0 s/d Zscore <-2,0 Status Gizi Baik Zscore ≥ -2,0 s/d Zscore ≤ 2,0 Status Gizi Lebih Zscore > -2,0

Klasifikasi Status Gizi Berdasarkan Indikator TB/U

Sangat Pendek Zscore <-3,0

Pendek Zscore ≥-3 s/d Zscore <-2,0

Normal Zscore ≥-2,0

Klasifikasi Status Gizi Berdasarkan Indikator BB/TB

Sangat Kurus Zscore < -3,0

Kurus Zscore ≥ -3 s/d Zscore <-2,0

Normal Zscore ≥ -2,0 s/d Zscore ≤ 2,0

Gemuk Zscore > -2,0

Klasifikasi status Gizi Berdasarkan Gabungan Indikator TB/U dan BB/TB

Status Pendek-Kurus Zscore TB/U <-2,0 dan Zscore BB/TB

<-2,0

Status Pendek-Normal Zscore TB/U < -2,0 dan Zscore BB/TB antara -2,0 s/d 2,0

Status Pendek-Gemuk Zscore TB/U ≤-2,0 dan Zscore BB/TB

>2,0

(bersambung)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(33)

Tabel 1

Klasifikasi Status Gizi Balita

Klasifikasi Status Gizi Balita Z-score

Status TB Normal-Kurus Zscore TB/U ≥-2,0 dan Zscore BB/TB

<-2,0

Status TB Normal-Normal Zscore TB/U ≥-2,0 dan Zscore BB/TB antara-2,0 s/d 2,0

Status TB-Normal-Gemuk Zscore ≥-2,0 s/d Zscore ≥2,0 Pertumbuhan dan Perkembangan Anak

Pertumbuhan. Pertumbuhan (growth) berkaitan dengan perubahan besar, jumlah, ukuran dan fungsi pada tingkat sel individu yang diukur menggunakan ukuran berat (gram, pound, dan kilogram), dan untuk ukuran panjang (cm, meter).

Menurut Jellife D.B (didalam Supariasa, 2016: 27) pertumbuhan yaitu suatu pertambahan yang bertahap dari dalam tubuh, organ dan jaringan dari masa konsepsi sampai anak tersebut memasuki masa remaja.

Laju pertumbuhan bisa berbeda-beda pada setiap tahap kehidupan, disebabkan oleh kelengkapan dan ukuran dari organ serta rasio otot dan lemak di dalam tubuh. Pada masa pubertas laju pertumbuhan sangat cepat terjadi pada tinggi badan yang dilihat juga dengan perubahan otot, lemak dan perkembangan organ yang diikuti dengan matangnya hormon seksual.

Perkembangan. Perkembangan (development) merupakan bertambahnya kemaampuan individu (skill) pada susunan dan fungsi dari tubuh yang lebih lengkap lagi pada pola yang teratur dari hasil proses pematangan. Perkembangan merupakan suatu bentuk kemampuan yang disebabkan oleh kematangan dari sistem saraf pusat khususnya pada otak. Menggukur perkembangan anak tidak bisa dilakukan menggunakan antropometri, karena di dalam anak yang sehat

(34)

17

perkembangan dapat terjadi searah (pararel) dengan pertumbuhannya.

Pekembangan menyangkut dari proses perubahan dari sel-sel pada tubuh, jaringan tubuh, organ dan sistem organ yang berkembang sangat baik sehingga organ lainnya dapat menjalankan fungsi kerjanya begitu juga dalam perkembangan emosi, pengetahuan dan tingkah laku yang merupakan hasil dari adaptasi dengan lingkungannya.

Berdasarkan pengertian di atas bahwa pertumbuhan perkembangan merupakan dua kejadian yang statusnya berbeda, namun saling berikatan dan susah dipisahkan. Pertumbuhan menuju kepada aspek fisik, sedangkan perkembangan menuju kearah kematangan fungsi pada organ, terkhusus pada kematangan sistem saraf pusat.

Jenis-Jenis Pertumbuhan

Pertumbuhan dibagi menjadi dua yaitu: pertumbuhan yang bersifat linier dan pertumbuhan massa jaringan. Pertumbuhan keduanya mempunyai arti yang tidak sama pula. Pertumbuhan linier mendiskripsikan status gizi yang dikaitkan dengan kejadian masa lalu sedangkan pertumbuhan massa jaringan menggambarkan status gizi yang dikaitkan dengan keadaan saat ini atau pada saat melakukan pengukuran.

Pertumbuhan linier. Pertumbuhan linier merupakan ukuran yang berkaitan dengan panjang, miasalnya ukuran panjang badan, lingkaran kepala, dan lingkaran dada. Ukuran linier yang kecil menunjukkan keadaan gizi yang kurang akibat kurangnya asupan nutrisi, tenaga dan protein yang terjadi pada masa lalu.

Ukuran linier yang sangat sering dipakai yaitu tinggi badan atau panjang badan.

Pertumbuhan massa jaringan. Bentuk dari pertumbuhan massa jaringan

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(35)

adalah massa tubuh. Contoh yang digunakan dalam pengukuran massa jaringan adalah berat badan, lingkaran lengan atas (LILA) serta tebalnya lemak yang ada dibawah kulit. Apabila ukuran massa jaringan yang didapatkan rendah atau kecil, ini berarti bahwa keadaan gizi yang kurang diakibatkan kurangnya energi dan protein yang terjadi di saat melakukan pengukuran. Ukuran massa jenis paling sering dipakai yaitu berat badan.

Antropometri. Antropometri sendiri asal dari kata “antropos” yang berati

“Tubuh”, sedangkan “metros” artinya “Ukuran”. Menurut Jellife (dalam Supariasa, 2016: 38) antropometri secara umum berarti “ukuran tubuh dari manusia.” Antropometri Gizi adalah sesuatu yang berhubungan dengan segala jenis pengukuran dari bentuk atau ukuran tubuh dengan komposisi tubuh dari berbagai tingkatan usia dan tingkatan gizi. Antropometri umumnya dipergunakan untuk alat ukur statusgizi yang berkaitan dengann asupan konsumsi protein serta asupan energi yang tidak seimbang di dalam tubuh. Penilaian yang dilakukan untuk mengetahui status balita stunting yaitu dengan menggunakan parameter tinggi badan menurut umur (TB/U).

Umur. Umur atau usia merupakan keteragan waktu untuk mengukur keadaan satu benda atau makhluk hidup antara lain manusia, hewan dan tumbuhan. Umur seseorang di ukur mulai dari orang tersebut lahir sampai masa sekarang ini. Misalnya, umur sesorang dikatakan sepuluh tahun diukur ketika dia baru lahir sampai dengan usia yang sekarang dihitung (masa sekarang).

Tinggi badan. Tinggi badan atau panjang badan adalah satu gambaran yang paling penting untuk menggambarkan kejadian masa lampau dan masa kini, angka tinggi badan menjadi hal yang paling berpengaruh karena mengaitkan berat badan

(36)

19

terhadap tinggi badan sehingga aspek umur bisa di kesampingkan. Ukuran tinggi badan akan terus naik selama masa pertumbuhan, sampai ukuran tinggi badan seseorang mencapai tinggi badan yang optimal. Mengukur tinggi badan anak balita yang bisa berdiri sendiri dapat memakai alat ukur yang namanya microtoise.

Mengukur dengan alat microtoise yaitu anak di ukur dengan posisi tegak lurus dan berdiri tidaak menggunakan alas di kakinya dan tidak memakai topi atau aksesoris apapun di kepala. Pada bayi dengan usia dibawah 2 tahun atau yang belum dapat berdiri dan ukuran linier mencapai 85 cm, tidak diukur tinggi badannya melainkan di ukur panjang badannya menggunakan lengh board dengan posisi berbaring.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Status Gizi Balita Stunting

Riwayat bayi berat lahir rendah (BBLR). BBLR menggambarkan permasalahan kesehatan dan sampai saat ini memerlukan perhatian yang khusus dari pemerintah, terutama bagi negara yang mulai maju atau negara yang sosial ekonominya rendah. WHO mengartikan BBLR sebagai bayi yang dilahirkan dalam keadaan berat badannya yang kurang yaitu ≤ 2500 gr. Berat bayi waktu lahir adalah faktor yang menentukan balita dapat bertahan, dapat tumbuh, dan berkembang di waktu yang akan datang. BBLR bukan hanya menggambarkan keadaan kesehatan dan gizi anak, tetapi menujukkan kualitas keberlangsungan hidup dan psikososial anak tersebut. BBLR mempunyai efek yang sangat banyak pada pertumbuhan, perkembangan dan tinggi badan anak di masa yang akan datang. Bayi yang dilahirkan dalam keadaan BBLR bisa beresiko besar terjadi mordibitas, penyakit komplikasi, kematian serta kehilangan berat badan dan stunting.

Menurut penelitian Sari (2017), tentang “Hubungan riwayat BBLR dengan

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(37)

kejadian stunting pada anak (usia 7-12 bulan) di Desa Selomartani wilayah kerja Puskesmas Kalasan” menyatakan bahwa ada kaitan yang signifikan pada riwayat BBLR terhadap kejadian stunting pada anak ballita (usia 7-12 bulan) dan telah di buktikan dari hasil uji chi-square dimana hasil uji diperoleh nilai yangg signifikasi 0,001, dan didapat p value < 0,05 dan nilai keeratan relasi kuat yang mana diperoleh nilai phi 0,63.

Bayi yang dilahirkan dalam keadaan BBLR akan mengakibatakan masalah saluran pencernaan, karena pada saat lahir saluran pencernaannnya belum bisa bekerja sempurna akibatnya penyerapan gizi makanan kurang baik. Seorang anak yang ketika lahir dalam keadaan berat lahir rendah kemungkinan dapat tumbuh menjadi anak sunting. Efek yang akan ditunjukkan berupa masalah kesehatan dan menurunnya angka produkif.

Riwayat imunisasi. Imunisasi adalah sutu bentuk pemberian kekebalan pada tubuh bayi ataupun anak balita dengan memasukkan vaksin kedalam tubuh anak tersebut sehingga terbentuk zat antibodi yang mana antibodi tersebut berfungsi sebagai pencegahan terhadap suatu penyakit tertentu. Vaksin sendiri yaitu antibodi yang diberikan untuk tubuh melalui suntikan (Hidayat, A, 2005).

Menurut Keputusan Menteri Kesehatan RI NOMOR 1059/Menkes/SK/IX/2004, cakupan munisasi dasar lengkap yang harus diberikan kepada anak usia 12-23 bulan yaitu gabungan dari satu kali imunisasi HB-0, Satu kali BCG, satu kali campak, tiga kali DPT-HB, dan empat kali polio (Kepmenkes RI, 2004).

Gizi kurang dan infeksi berawal dari kemiskinan, lingkungan serta sanitasi yang buruk. Infeksi dapat terjadi apabila anak tidak mendapatkan antibodi didalam tubuhnya. Antibodi didapat saat anak melakukan suntik vaksin pada saat imunisasi

(38)

21

di posyadu. Bilamana anak balita tidak mempunyai imun yang tinggi kepada satu penyakit, maka anak balita tersebut menjadi mudah kehilangan energi di dalam tubuhnya akibat dari penyakit infeksi yang dialaminya. Penyakit infeksi dapat menyebabkan kurangnya selera makan pada balita, akibatnya balita menolak makanan yang diberikan oleh ibunya. Menurunnya selera makan akan berdampak pada kurangnya pemasukan zat gizi didalam tubuh balita tersebut, akibatnya anak mengalami kekurangan gizi.

Menurut Hendra, dkk (2013) hasil penelitian menunjukkan tentang “Kajian Stunting Pada Anak Balita yang Diitinjau dari Pemberian ASI Eksklusif, MP-ASI, Status Imunisasi dan Karakteristik Keluarga di Kota Banda Aceh”, menyatakan bahwa proposi anak balita mengalami stunting sebesar 29,2 persen dikarenakan cakupan imunisasi dasar tidak lengkap, sedangkan sebanyak 89,6 persen di antaranya berstatus gizi normal kerena cakupan imunisasi dasar yang lengkap.

Hasil uji statistik diperoleh yaitu nilai p=0,040, bahwa kejadian stunting di kota Banda Aceh tahun 2010 pada anak balita benar disebabkan oleh imunisasi dasar tidak lengkap. Kejadian stunting yang dialami balita empat kali lebih besar disebabkan dari anak balita yang tidak mendpatkan imuisasi dasar lengkaap apabila di bandingkan dengan balita yang mendapatkan imunisasi dasar lengkaap.

Pendapatan keluarga. Secara tidak langsung, stunting sendiri diakibatkan oleh faktor sosial ekonomi, seperti rendahnya tingkat pendidikan, rendahnya pendapatan keluarga, dan ketersediaan pangan yang tidak memadai. Ketersediaan pangan adalah suatu kemampuan didalam tingkat rumah tangga dalam mencukupi kebutuhan pangan keluarga yang baik mulai dari segi kuantitas, kualitas dan keamanannya. Rendahnya status ekonomi keluarga umumnya disebabkan oleh

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(39)

berbagai faktor, seperti pekerjaan, pendidikan, dan banyaknya anggota keluarga dalam keluarga. Anak yang berasal dari keluarga tingkat ekonomi bawah akan beresiko menjadi stunting kerena ketidakmampuan keluarga untuk memenuhi gizi yang baik untuk anak, akibatnya dapat menyebabkan resiko kekurangan gizi pada anak tersebut.

Hasil penelitian dari Fikrina (2017) tentang “hubungan tingkat sosial ekonomi dengan kejadian stunting pada balita usia 24-59 bulan di Desa Karangrejek Wonosari Gunung Kidul”, menyatakan adanya hubungan yang signifikan dilihat dari pendapatan keluarga dengan kejadian stunting pada balita (usia 24-59 bulan) di Desa Karangrejek Wonosari. Dari analisis didapatkan nilai (p) adalah 0,001, maka p-value = 0,001 lebih kecil apabila dibandingkan dengan taraf kesalahan yang digunakan pada taraf α = 0,05.

Tingkat sosial keluarga bisa dilihat dari pendapatan perbulannya didalam satu keluarga. Besarnya pendapatan keluarga ini merupakan modal dasar menuju keluarga sejahtera. Oleh karena itu berbagai macam upaya dilakukan untuk mendapatkan penghasilan yang maksimal untuk menunjang kebutuhan hidup keluarganya. Pendapatan dalam keluarga merupakan besaran rupiah yang didapat dan banyaknya rupiah yang ingin dikeluarkan dalam membiayai kebutuhan dalam rumah tangga dalam tiap satu bulan (Manurung, 2009).

(40)

23

Kerangka Teori

Gambar 1. Kerangka teori Kerangka Konsep

Kerangka penelitian adalah konsep yang berhubungan dengan peneliti untuk menyusunkan teori dan mengkaitkannya dengan faktor-faktor yang penting sebagai permasalahan dalam penelitian (Hidayat, 2009). Variabel yang akan diteliti meliputi variabel Independen berupa Program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) dan variabel dependen berupa statusgizi menurut PB/U atau TB/U anak balita Stunitng setelah menjadi peserta Program Pemberian Makanan Tambahan di Desa Padang Tualang pada Tahun 2018-2019.

Kerangka konsep ini bertujuan untuk mengetahui Pemberian Makanan Tambahan (PMT) terhadap pertumbuhan anak balita stunting setelah menjadi

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(41)

peserta Program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) selama satu tahun, serta melihat riwayat BBLR, riwayat imunisasi, dan pendapatan keluarga sebagai faktor penyebab stunting. Untuk lebih jelas bagaimana penelitian ini dilaksanakan, maka akan dijelaskan dalam konsep penelitian sebagai berikut :

Gambar 2. Kerangka konsep Program Pemberian MakananTambahan Pada Balita Stunting

-Riwayat BBLR -Riwayat Imunisasi -Pendapatan Keluarga

-Pendapatan Keluarga

(42)

25

Metode Penelitian

Jenis Penelitian

Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif yang dilakukan di Wilayah Kerja Puskesmas Tanjung Selamat, Kabupaten Langkat. Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah potong-lintang (cross-sectional) dimana cara pengukuran variabel bebas dan variabel terikat dalam waktu yang bersamaan untuk mengetahui gambaran balita stunting setelah menjadi peserta program PMT di Desa Padang Tualang Kabupaten Langkat Tahun 2018-2019.

Lokasi dan Waktu Penelitian

Lokasi penelitan. Penelitian ini dilakukan di Desa Padang Tualang, Kacamatan Padang Tualang Kabupaten Langkat. Desa Padang Tualang dipilih sebagai lokasi penelitian karena Desa tersebut Masuk kedalam 10 Desa di Kabupaten Langkat dengan angka stunting nya yang paling tinggi.

Waktu penelitian. Penelitian yang dilakukan di desa Padang Tualang dimulai dari bulan Desember 2018 sampai dengan Nopember 2019.

Populasi dan Sampel

Populasi penelitian. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh anak balita stunting peserta program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) di Desa Padang Tualang yang berada di wilayah kerja Puskesmas Tanjung Selamat, Kecamatan Padang Tualang, Kabupaten Langkat pada tahun 2018-2019 yaitu sebanyak 38 balita.

Sampel penelitian. Sampel dalam penelitian ini adalah sebanyak 30 balita yang memiliki catatan pengukuran lengkap dan umur yang sesuai dengan kriteria

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(43)

inklusi. Data dari Puskesmas Tanjung Selamat (2018), terdapat 38 anak balita stunting dan terdaftar sebagai peserta penerima Program PMT di Puskesmas Tanjung Selamat. Sebanyak 38 anak balita, yang masuk kedalam kriteria inklusi penelitian hanya ada sebanyak 30 balita dikarenakan, lima balita tidak melakukan pengukuran secara lengkap, dan dua balita diantaranya masih di bawah 6 bulan.

Kemudian 3 balita lainnya bukan merupakan balita yang asli tinggal di desa Padang Tualang, melainkan balita daerah lain yang ikut terukur dan tercatat pada saat pengukuran pertama kali.

Kriteria inklusi dan eksklusi. Kriteria inklusi dan eksklusi yaitu:

Inklusi. Anak balita stunting usia 12-59 bulan yang terdaftar sebagai

peserta program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) dan diukur tinggi badan serta berat badanya setiap bulan (12 kali pengukuran) selama Tahun 2018-2019.

Eksklusi. Anak balita stunting yang berusia di bawah 12 bulan dan tidak

melakukan pengukuran tinggi badan dan berat badan sebanyak 12 kali pengukuran.

Variabel Penelitian dan Definisi Oprasional

Variabel penelitian. Variabel dalam penelitian ini terdiri dari variabel independen dan variabel dependen.

Variabel independen. Adapun yang menjadi variabel bebas (Independen

Variabel) adalah Program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) pada anak balita stunting di Desa Padang Tualang, Kecamatan Padang Tualang, Kabupaten Langkat Tahun 2018-2019.

Variabel dependen. Adapun yang menjadi variabel terikat (Dependen Variabel) adalah status gizi berdasarkan tinggi badan menurut umur (TB/U) dan

(44)

27

berat badan menrut umur (BB/U) anak balita stunting setelah mendapatkan program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) di Desa Padang Tualang Kecamatan Padang Tualang Kabupaten Langkat Tahun 2018-2019.

Definisi operasional. Defenisi operasional dalam penelitian ini adalah : Program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) pada balita stunting.

Program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) adalah kegiatan pemberian makanan tambahan selama satu tahun atau 12 kali menerima paket PMT dari puskesmas berupa biskuit dan bahan pangan mentah untuk mengatasi masalah balita stunting dan membantu mencukupi konsumsi kebutuhan zat gizi balita tersebut.

Status gizi. Status gizi adalah gambaran dari keadaan keseimbangan di

dalam tubuh anak balita stunting yang dilihat dari indeks tinggi badan menurut umur (TB/U) dan berat badan menurut tinggi badan (BB/TB) pada saat balita stunting sebelum dan sesudah mendapat program PMT.

Riwayat balita berat badan lahir rendah (BBLR). Riwayat balita dengan

berat badan lahir rendah adalah balita stunting pada saat lahir berat badannya kurang dari 2500 gram dan diatas 1500 gram (Depkes RI,2008).

Pertumbuhan. Pertumbuhan yaitu perubahan atau pertambahan yang

bertahap dari dalam tubuh yang berkaitan dengan perubahan berat badan dan tinggi badan.

Riwayat imunisasi. Riwayat imunisaasi adalah lengkap atau tidaknya

balita stunting yang mendapatkan 5 jenis imunisasi dasar berupa BCG, Hepatitis B, DPT, Polio, dan Campak dari balita berusia 0-59 bulan.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(45)

Anak balita. Anak balita adalah anak yang berusia 1 - < 5 tahun (12-59 )

bulan.

Pendapatan keluarga. Pendapatan keluaga adalah besaran rupiah yang

didapat oleh keluarga (Kepala Keluarga) untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga dalam satu bulan berdasarkan UMK (Upah Minimum Kota/Kabupaten).

Metode Pengumpulan Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang di peroleh dari catatan dan pelaporan Dinas Kesehatan Kabupaten, Puskesmas, Tenaga Pelaksana Gizi dan Bidan Desa yang berkaitan dengan data-data balita stunting di Desa Padang Tualang yang terdaftar sebagai peserta Program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) pada tahun 2018-2019, dan data-data lain seperti data riwayat imunisasi, riwayat BBLR, dan status ekonomi yang berkaitan dengan penelitian ini yang berhubungan dengan data balita stunting.

Metode Pengukuran

Program pemberian makanan tambahan balita. Pengukuran untuk hasil program makanan tambahan balita stunting diperoleh dari catatan dan pelaporan Puskesmas Tanjung Selamat sebagai pemberi layanan program PMT. Pengukuran program PMT dilihat dari seluruh peserta yang mendapatkan paket PMT.

Pertumbuhan balita stunting setelah menjadi peserta PMT. Status gizi balita stunting diperoleh dari hasil pengukuran tinggi badan menurut umur (TB/U) balita stunting yang mendapatkan program PMT sebelum dan sesudah menjadi peserta PMT dimulai dari Tahun 2018-2019. Pengukuran status gizi balita stunting diperoleh dari data catatan dan laporan bulanan di Puskesmas Tanjung Selamat.

Data tersebut meliputi data hasil pengukuran tinggi badan menurut umur (TB/U)

(46)

29

dan data berat badan menurut umur (BB/U) yang dilakukan tiap bulan di posyandu. Kriteria pengukuran status gizi pada balita stunting menggunakan standar Z-score dan hasil yang didapatkan yaitu Normal = Z-score ≥-2,0. Pendek = Z-score ≥-3 s/d <-2,0. Sangat pendek = Z-score <-3,0. Kriteria pengukuran status gizi berdasarkan BB/U yaitu Gizi Buruk = Z-skor <-3,0. Gizi kurang = Z-skor≥-3, s/d Z-skor <-2,0. Gizi Baik = Z-skor ≥ -2,0 s/d Zscore ≤ 2,0. Gizi Lebih = Z-skor

>-2,0.

Riwayat bayi berat lahir rendah (BBLR). Diperoleh dari hasil pencatatan dan pelaporan bidan desa. Balita stunting dengan riwayat BBLR diukur dari berat awal ketika bayi dilahirkan. Riwayat BBLR dikategorikan menjadi “ya”

jika berat lahir bayi <2500 gram dan dikatakan “tidak” apabila ≥2500 gram.

Riwayat imunisasi. Pengukuran riwayat imunisasi dilihat dari ketepatan jadwal dan pemberiannya. Riwayat imunisasi lengkap dilihat dari cakupan imunisasi dasar yang didapat oleh balita stunting mulai dari satu kali HB-0, satu kali BCG, tiga kali DPT-HB, empat kali Polio, dan satu kali campak. Riwayat imunisasi lengkap apabila kelima jenis imunisasi didapatkan oleh balita. Imunisasi tidak lengkap apabila salah satu dari kelima jenis imunisasi ini tidak didapat oleh anak balita stunting. Data kelengkapan imunisasi balita diperoleh dari hasil pencatatan dan laporan kegiatan posyandu dan sebagai penguat data diperoleh juga dari buku KMS balita dan data-data di Puskesmas Tanjung Selamat.

Pendapatan keluarga. Pengukuran pendapatan keluarga diperoleh dari hasil pencatatan dan pelaporan di Profil Kabupaten Langkat, serta data-data Kantor Desa Padang Tualang. Pendapatan keluarga akan diukur berdasarkan besaran UMK (Upah Minimun Kota/Kabupaten) yang ada di Kabupaten Langkat,

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(47)

apakah pendapatan didalam keluarga sesuai dengan UMK atau lebih rendah dari UMK. UMK untuk Kabupaten Langkat Tahun 2018 sebesar Rp 2,132,188.

Metode Analisis Data

Teknik pengolahan data. Pengolahan data dilakukan melalui tahapan- tahapan berikut:

Editing. Memeriksa kelengkapan, kesinambungan dan keseragaman dari

data yang telah diperoleh

Tabulating. Tabulating merupakan kegiatan mengolah data dalam bentuk

tabel distribusi frekuensi untuk mempermudah analis data, pengolahan data serta pengambilan kesimpulan.

Processing. Setelah semua data terkumpul, maka langkah selanjutnya

adalah memproses data agar dapat dianalisis. Pemrosesan data dilakukan dengan cara meng-entry data ke paket program komputer.

Cleaning. Pembersihan data merupakan kegiatan pengecekan kembali data

yang sudah di-entry apakah ada kesalahan atau tidak. Kesalahan tersebut dimungkinkan terjadi pada saat meng-entry data ke komputer.

Analisis data. Data-data hasil penelitian selanjutnya akan diolah dengan program pengolahan data statistik. Data univariat dianalisa dengan menggunakan uji deskriptif sedangkan data bivariat dianalisa dengan menggunakan uji crosstab.

Gambar

Gambar 1. Kerangka teori  Kerangka Konsep
Gambar  4.  Persentase  pertumbuhan  anak  balita  stunting  berdasarkan  BB/U  sebelum dan sesudah menerima program PMT Tahun 2018-2019
Gambar 5. Persentase pertumbuhan tinggi badan balita stunting setelah menerima  paket PMT berdasarkan karateristik balita
Gambar 6. Grafik pertumbuhan berat badan balita stunting berdasarkan riwayat  imunisasi, BBLR dan pendapatan keluarga setelah mendapatkan program PMT

Referensi

Dokumen terkait

Memberikan penyuluhan kesehatan pada orang tua berobat jalan dengan kasus anak balita kurang gizi di Puskesmas Air Dingin3. dengan menggunakan kaedah penyuluhan

Penyebab ibu hamil KEK tidak mengalami perubahan status gizi setelah program PMT-P adalah pola makan, konsumsi makanan, status ekonomi, status kesehatan dan faktor

Penyebab ibu hamil KEK tidak mengalami perubahan status gizi setelah program PMT-P adalah pola makan, konsumsi makanan, status ekonomi, status kesehatan dan faktor internal

Hasil penelitian tentang pemberian makanan tambahan (PMT) lokal di Kota Semarang menunjukan bahwa ada perbedaan status gizi anak balita gizi kurang berdasarkan

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara faktor jenis kelamin, status gizi anak, status ekonomi keluarga, pendidikan orang tua, serta stimulasi orang

GAMBARAN KETERSEDIAAN PANGAN DAN STATUS GIZI ANAK BALITA PADA KELUARGA PEROKOK DI DESA TRANS PIRNAK MARENU KECAMATAN AEK NABARA BARUMUN KABUPATEN..

Penyebab ibu hamil KEK tidak mengalami perubahan status gizi setelah program PMT-P adalah pola makan, konsumsi makanan, status ekonomi, status kesehatan dan faktor internal