123 Ringga Nur Fitria dan Bagus Surya Pratama
Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sebelas Maret Jalan Ir. Sutami No. 36, Kentingan, Jebres, Surakarta, Jawa Tengah, 57126
Telepon (0271) 646994, 085802736772, Faksimile (0271) 646655 Pos-el: [email protected]
*) Diterima: 9 Februari 2021; Disetujui: 27 Juli 2021
ABSTRAK
Gas merupakan suatu zat ringan yang bersifat seperti udara (di dalam suhu biasa tidak bisa menjadi cair). Gas juga dapat disebut sebagai minyak bumi yang sudah dicairkan dan dapat digunakan untuk keperluan memasak. Namun, kini kata gas tidak hanya bermakna seperti itu. Kata gas sekarang sudah biasa digunakan dalam bahasa sehari-hari. Penelitian ini mengkaji kata gas yang sudah mengalami pergeseran makna. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif. Data penelitian ini diperoleh melalui media sosial di Twitter. Metode analisis yang digunakan adalah metode agih. Dari penelitian ini dihasilkan bahwa kata gas sudah mengalami pergeseran makna. Kata gas digunakan sebagai ungkapan untuk mengiyakan ajakan orang lain atau menyetujui apa yang dibicarakan orang lain. Selain itu, penggunaan kata gas bisa dimaknai sebagai jangan marah atau jangan emosi. Dari penelitian ini pula diketahui bahwa kata gas sudah mengalami pergeseran makna meluas.
Kata kunci: gas, makna kata, pergeseran makna ABSTRACT
Gas is a light substance that behaves like air at temperature and usually cannot become liquid. Gas can also be referred to as petroleum which has been liquefied and can be used for cooking purposes. However, now the word gas doesn’t only mean like that. The word gas can now be used in everyday language. This research examines the word gas which has undergone a shift in meaning. This research is a descriptive qualitative research. The research data was obtained through social media on Twitter. The analytical method used is the method of agih. From this research, it will be found that the gas word had shifted in meaning. The word gas was used as an expression to say yes to someone else's invitation or to approve what other people statement. It also can be interpreted as not to be angry or, not to be emotional. From this research, it was also found that the word gas had undergone a broad shift in meaning.
Keywords: gas, word meaning, shift in meaning
124
PENDAHULUAN
Gas dalam bahasa Indonesia bermakna ‗zat ringan yang sifatnya seperti udara‘. Namun, dalam kenyataan di masyarakat saat ini kata gas sudah menjadi bagian dari kumpulan kosakata sehari-hari yang kapan saja bisa diucapkan, tanpa perlu membicarakan apa makna sebenarnya kata tersebut. Hal tersebut disebabkan semakin berkembangnya zaman ini bahwa penggunaan kata- kata dalam ucapan dan keterangan makin meluas dan banyak orang yang menggunakan kata-kata tersebut tanpa mengetahui maksudnya.
Bahasa memiliki fungsi sebagai alat untuk berkomunikasi. Hampir tidak ada kegiatan manusia yang berjalan tanpa menggunakan bahasa karena bahasa diperlukan dalam segala kegiatan yang dilakukan oleh manusia dalam kehidupan sehari-hari Bahasa adalah sistem lambang bunyi yang arbitrer digunakan manusia untuk berinteraksi (Aminuddin, 2001:
28).
Sementara itu, menurut Syamsuddin (1986: 2), bahasa memiliki dua pengertian. Pertama, bahasa ialah alat yang dipakai untuk membentuk pikiran serta perasaan, keinginan, dan perbuatan-perbuatan, alat yang dipakai untuk memengaruhi serta dipengaruhi. Kedua, bahasa ialah tanda yang jelas dari kepribadian yang baik ataupun yang buruk, tanda yang jelas dari keluarga serta bangsa, tanda yang jelas dari budi manusia.
Bahasa selalu mengalami perkembangan, baik perkembangan
dalam kosakata maupun
perkembangan dalam makna sebuah kata, sesuai dengan bagaimana
perkembangan pemakaian bahasa itu sendiri. Penggunaan bahasa dapat berubah ketika masyarakat menggunakan tambahan kosakata baru yang telah berkembang. Dalam suatu perubahan makna ditemukan fenomena ketika kata tersebut mengalami pergeseran makna, ada pula gejala yang menunjukkan suatu makna kata yang bertolak belakang dengan makna kata asalnya.
Dalam perkembangannya, bahasa selalu mengalami perubahan sesuai dengan bagaimana keadaan masyarakatnya itu sendiri yang menyebabkan gejala semantis. Gejala semantis yang dimaksud adalah pergeseran makna kata. Oleh karena itu, telah ditemukan pergeseran makna kata dalam bahasa yang digunakan masyarakat.
Parera (2004: 107) mengatakan bahwa ada dua istilah tentang pemakaian makna, yaitu pergeseran dan perubahan makna. Pergeseran makna adalah gejala perluasan, penyempitan, pengonotasian (konotasi), penyinestesiaan (sinestesia), dan pengasosiasian sebuah makna kata yang masih hidup dalam satu medan makna. Dalam pergeseran makna rujukan awal tidak berubah atau diganti, tetapi rujukan awal mengalami perluasan rujukan atau penyempitan rujukan. Setiap kata atau leksem pasti memiliki makna leksikal. Menurut Verhaar (dalam Chaer, 2007: 310), dalam waktu yang singkat biasanya makna sebuah kata cenderung tidak akan berubah.
Biasanya perubahan makna kata terjadi dalam waktu yang cukup lama dan perubahan ini terjadi sebagai akibat penggunaannya.
Chaer (2007: 311) menjelaskan bahwa perubahan makna kata
125 bermula pada sebuah kata yang pada
awalnya bermakna X dengan berjalannya waktu maka kata tersebut berubah menjadi Y. Bisa jadi makna ini saling berkaitan, tetapi bisa juga tidak.
Pergeseran makna kata terjadi karena perkembangan teknologi yang semakin meluas sehingga menunjukkan perubahan zaman yang menyebabkan terjadinya pergeseran makna kata. Menurut Suwandi (2011:
151), faktor penyebab terjadinya pergeseran makna adalah (1) linguistik, (2) kesejarahan, (3) sosial, (4) psikologis, (5) kebutuhan kata baru, (6) perbedaan pemakaian lingkungan, (7) perkembangan ilmu teknologi, (8) pengaruh bahasa asing, (9) penyingkatan kata, dan (10) pertukaran tanggapan indra. Faktor- faktor tersebut mengakibatkan pergeseran makna sehingga makna kata sekarang menjadi berbeda dengan makna kata yang sebelumnya.
Penelitian ini difokuskan pada pergeseran makna pada kata gas.
Awalnya kata gas memiliki arti zat ringan yang sifatnya seperti udara dan gas juga merupakan bahan bakar yang dapat digunakan untuk
memasak. Namun, pada
perkembangan saat ini, kata gas sudah digunakan secara bebas di masyarakat. Penggunaan kata gas ini sudah sering digunakan untuk berkomunikasi dan di masa sekarang kata ini sudah tidak lagi menunjukkan pengertian makna awalnya. Kata gas saat ini sudah mengalami pergeseran makna dan sering digunakan dalam komunikasi masyarakat sehari-hari.
Pada zaman sekarang teknologi berkembang sangat pesat. Siapa pun dapat dengan mudah menyampaikan apa saja melalui media sosial yang
dimilikinya. Kata gas sering digunakan untuk menyetujui ajakan dari seseorang atau ungkapan yang lain. Hal ini menjadi salah satu faktor penyebab pergeseran makna kata gas.
Kata gas ini bisa dengan mudah kita temui dalam perbincangan anak muda, baik melalui tatap muka maupun melalui media sosial.
Perbandingan makna kata gas dulu dan sekarang dapat diamati melalui data-data yang sudah ditemukan.
Sebagai alat komunikasi, bahasa selalu mengalami perkembangan dan perluasan. Ini terjadi karena adanya kreativitas masyarakat sesuai dengan kesepakatan. Oleh karena itu, kata gas memiliki variasi bahasa yang makna katanya sudah tidak lagi sama seperti pada Kamus Besar Bahasa Indonesia atau KBBI. Dari penjelasan tersebut penelitian ini bertujuan menganalisis pergeseran makna kata gas dalam kehidupan masyarakat sehari-hari dan melihat apakah makna kata gas yang dipahami masyarakat saat ini berbeda dengan makna kata gas yang sebenarnya.
Sebelumnya sudah ada beberapa penelitian yang memiliki kesamaan dengan penelitian ini, yakni membahas mengenai pergeseran makna. Hafiz (2015: 33—38) melakukan penelitian ―Pergeseran Makna Sabar dalam Bahasa Indonesia‖ dan Saleh (2017: 47—60) melakukan penelitian yang berjudul
―Pergeseran Makna dalam Berita tentang Sampah di GoRiau‖. Selain itu, Wakidah dkk. (2019: 179—189) melakukan penelitian ―Pergeseran Makna Sumpah dalam Bahasa Indonesia‖ dan Paramita (2018:
133—138) membahas ―Pergeseran Makna Budaya Ondel-Ondel pada Masyarakat Betawi Modern‖.
126
Walaupun keempat penelitian tersebut memiliki latar belakang yang sama, yakni membahas pergeseran makna, namun semuanya memiliki konteks yang berbeda. Penelitian ini membahas ―Pergeseran Makna Gas dalam Bahasa Indonesia‖.
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif.
Menurut Bogdan dan Taylor (dalam Moleong, 2001: 3), metode penelitian kualitatif merupakan prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati.
Sementara itu, Syah (2010: 34) menyatakan bahwa penelitian deskriptif adalah metode penelitian yang digunakan untuk menemukan pengetahuan yang seluas-luasnya terhadap objek penelitian pada suatu masa tertentu. Penelitian ini hanya menggunakan data berupa kata-kata, bukan angka karena merupakan penelitian kualitatif deskriptif. Objek penelitian ini adalah pergeseran makna yang terdapat dalam bahasa Indonesia. Data penelitian ini berupa kalimat yang di dalamnya terdapat kata gas. Sumber data diperoleh dari
media sosial Twitter.
Tabel 1
Sumber Data Penelitian
No. Sumber Data Waktu Jumlah data
1. Twitter 15 September 2020—30 September 2020 50
2. Twitter 1 Oktober 2020—15 Oktober 2020 47
Total Data 97
Berdasarkan tabel 1, data yang diperoleh dari media sosial Twitter pada kurun waktu 15 September 2020 hingga 15 Oktober 2020 diperoleh sebanyak 97 data.
Untuk memperoleh data, digunakan metode simak. Menurut Mahsun (2012: 92), metode simak merupakan cara memperoleh data dengan menyimak penggunaan bahasa. Metode simak dilakukan dengan menyimak media sosial Twitter untuk mencari tweet yang terdapat kata gas sebagai data. Teknik yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik catat. Teknik catat merupakan salah satu teknik lanjutan yang dilakukan saat peneliti menerapkan metode simak. Teknik catat dilakukan untuk mencatat data- data yang telah diperoleh untuk kemudian diklasifikasi dalam pembahasan.
Analisis data merupakan tahap pertengahan dalam sebuah penelitian yang memiliki fungsi yang sangat penting. Hasil penelitian yang dihasilkan harus melalui proses analisis data dahulu agar dapat dipertanggungjawabkan. Dalam menganalisis data ada beberapa metode dan teknik yang dapat diterapkan. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan metode agih. Menurut Sudaryanto (1993: 15), metode agih adalah metode analisis data yang alat penentunya bagian dari bahasa itu. Alat penentu dalam rangka kerja metode agih itu selalu berupa bagian atau unsur dari bahasa objek sasaran penelitian itu sendiri, seperti kata (ingkar, preposisi, adverbia), fungsi sintaksis (subjek, objek, predikat), klausa, silabe kata, dan titi nada.
127 Teknik dasar dalam metode agih
untuk analisis data adalah teknik BUL atau bagi unsur langsung. Adapun teknik lanjutan berupa teknik lesap yang dilakukan dengan melesapkan unsur tertentu satuan lingual yang bersangkutan dan teknik perluas dengan cara memperluas satuan lingual yang bersangkutan ke kanan atau ke kiri. Perluasan tersebut menggunakan unsur tertentu.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Menurut KBBI daring edisi V, gas memiliki tiga makna. Pertama, gas bermakna ‗zat ringan yang sifatnya seperti udara (dalam suhu biasa tidak menjadi cair)‘, kedua, gas bermakna
‗uap dari bensin (bensol dan sebagainya)‘, dan yang terakhir dalam bidang fisika, gas bermakna ‗tingkat wujud zat yang molekul-molekulnya bergerak bebas sehingga seluruh massa cenderung mengambang dan menempati seluruh volume wadahnya‘. Namun, kata gas pada zaman sekarang tidak digunakan sesuai dengan makna yang ada dalam KBBI. Penggunaan kata gas yang memiliki makna berbeda menimbulkan gejala semantis, yaitu pergeseran makna. Pergeseran makna pada kata gas dapat dilihat pada data berikut.
(1a) Jangan sok keras, gua gas juga nih mumpung gua lagi banyak bensin.
(1b) Jangan sok keras, gua bentak juga nih mumpung gua lagi banyak bensin.
Data (1a) menunjukkan pergeseran makna pada kata gas. Gas pada data (1a) memiliki makna membentak. Hal tersebut dapat dibuktikan pada data (1b). Kalimat yang mengandung kata gas diganti
dengan kata bentak. Kata gas yang diganti dengan kata bentak tidak mengakibatkan perubahan makna pada data. Dapat dikatakan bahwa kata gas bergeser maknanya menjadi bentak yang memiliki makna ‗hardik dengan suara yang keras‘.
Dalam pergeseran makna gas pada data (1a), kata gas diasosiasikan dengan suara mesin kendaraan bermotor. Suara mesin kendaraan bermotor akan menjadi keras atau nyaring saat ditarik gasnya. Suara keras yang terjadi dianggap sama dengan suara keras saat seseorang membentak.
(2a) Liga 1 ditunda, tp pemilu tetep gas.
(2b) Liga 1 ditunda, tapi pemilu tetap lanjut.
Selain memiliki makna membentak, kata gas memiliki makna lain yang terlihat pada data (2a). Kata gas pada data (2a) memiliki makna terus berjalan. Hal tersebut terbukti setelah diganti dengan kata lanjut pada data (2b) tidak mengubah makna data. Kata gas memiliki makna serupa dengan kata lanjut, yaitu terus berjalan.
Kata gas pada data (2a) digunakan untuk menyatakan bahwa pemilu tetap berjalan. Sama seperti data (1a), kata gas pada data (2a) memiliki asosiasi dengan mesin kendaraan bermotor. Asosiasi terletak pada mesin kendaraan bermotor yang terus berjalan jika ditarik gasnya.
Keadaan yang terjadi pada mesin kendaraan bermotor tersebut dianggap sama dengan pemilu yang terus berjalan.
(3a) Mantep nih gas terus comrade.
(3b) Mantep nih lanjut terus comrade.
(3c) Mantep ini semangat terus comrade.
128
Kata gas pada data (3a) dapat digantikan dengan kata lanjut sama seperti pada data (2a). Kata gas yang dapat digantikan oleh kata lanjut dapat dibuktikan pada data (3b).
Walaupun data (2a) dan (3a) sama- sama dapat digantikan dengan kata lanjut, kedua data tersebut memiliki makna yang berbeda. Kata gas pada data (3a) memiliki makna
‗penyemangat‘ agar comrade terus melakukan apa yang sedang dia lakukan. Makna penyemangat tersebut diperjelas pada data (3c).
Kata gas diganti dengan kata semangat. Penggantian kata tersebut tidak mengubah makna data. Hal tersebut membuktikan bahwa kata gas mengalami pergeseran makna menjadi penyemangat.
(4a) Gas Ayu Jaksel.
(4b) Ayo Ayu Jaksel.
(4c) Semangat Ayu Jaksel.
Kata gas pada data (4a) memiliki makna yang sama dengan data (3a).
Namun, pengganti kata yang digunakan pada data (4a) lebih cocok menggunakan kata ayo daripada kata lanjut. Data (4b) membuktikan bahwa kata gas juga bergeser maknanya, seperti kata ayo. Makna penyemangat dipertegas pada data (4c) dengan mengganti kata gas dan kata ayo dengan kata semangat. Dengan kata lain, makna kata gas dan kata ayo pada data tersebut memiliki makna yang sama, yaitu bermakna
‗penyemangat‘.
Kata gas yang memiliki makna penyemangat diasosiasikan dengan suara mesin kendaraan bermotor.
Suara mesin kendaraan akan terdengar tidak hanya keras, tetapi juga menderu-deru saat ditarik gasnya. Suara yang menderu-deru yang dihasilkan oleh mesin kendaraan
bermotor tersebut dianggap sama dengan semangat yang menggebu- gebu.
(5a) Gas streaming Genie sampai kamu dikira robot dan diminta kode sama Genie.
(5b) Ayo streaming Genie sampai kamu dikira robot dan diminta kode sama Genie.
Kata gas yang mengalami pergeseran seperti kata ayo juga dapat dilihat pada data (5a). Hal tersebut dibuktikan dengan kata gas yang diganti dengan kata ayo pada data (5b) tidak mengubah makna data.
Berbeda dengan data (4b), kata ayo pada data (5b) memiliki makna
‗mengajak‘. Dengan begitu, kata gas pada (5a) mengalami pergeseran makna menjadi makna mengajak.
(6a) Ayo gas berwisata mumpung minggu.
(6b) Ayo pergi berwisata mumpung minggu.
(6c) Gas berwisata mumpung minggu.
(6d) Ayo berwisata mumpung minggu.
Kata gas yang memiliki makna mengajak juga ditemukan dalam data (6a). Pergeseran makna tersebut dapat dilihat pada data (6b) dengan mengganti kata gas menjadi kata pergi. Pada data ini kata gas bermakna ajakan untuk pergi ke suatu tempat dengan nada yang semangat.
Adanya penggantian kata gas menjadi kata pergi pada data (6b) tidak mengubah makna kalimat yang ada.
Selain itu, terdapat pergeseran makna kata gas sebagai bentuk ajakan.
Pergeseran makna kata tersebut dapat dibuktikan dengan melesapkan kata ayo yang memiliki makna mengajak yang dapat dilihat pada data (6c).
Kata gas tanpa kata ayo masih memiliki makna ‗mengajak‘.
129 Pembuktian tersebut dipertegas pada
data (6d). kata gas diganti dengan kata ayo yang membuat makna data tetap sama, yaitu mengajak untuk berwisata. Dengan begitu, kata gas pada data (6a) memiliki makna mempertegas ajakan.
Kata gas yang memiliki makna mengajak diasosiasikan dengan kendaraan bermotor yang akan berjalan dan pergi ke suatu tempat saat ditarik gasnya. Kendaraan bermotor yang akan pergi ke suatu tempat saat ditarik gasnya tersebut dianggap seperti ajakan untuk pergi ke suatu tempat. Namun, penggunaan kata gas untuk mengajak tidak terbatas pada ajakan pergi seperti pada data (5a) yang mengajak streaming ‗menonton video secara daring‘, bukan seperti data (6a) yang mengajak untuk pergi ke suatu tempat untuk berwisata.
(7a) Iya awalnya pake ngerasa gitu, tapi ya karena butuh gas aja.
(7b) Iya awalnya pake ngerasa gitu, tapi ya karena butuh dilakukan aja.
Kata gas yang mengalami pergeseran makna juga terdapat pada data (7a). Kata gas pada data (7a) memiliki makna ‗melakukan sesuatu‘.
Pergeseran makna tersebut dibuktikan pada data (7b) dengan mengganti kata gas dengan kata dilakukan.
Penggantian tersebut tidak mengubah arti data. Kata gas bergeser maknanya menjadi makna ‗melakukan sesuatu‘.
(8a) Kalo ditahan siapa yang streaming, gas aja lah setiap jam.
(8b) Kalo ditahan siapa yang streaming, dilakukan aja lah setiap jam.
(8c) Kalo ditahan siapa yang streaming, streaming aja lah setiap jam.
Kata gas pada data (8a) menunjukkan makna yang sama dengan data (7a), yaitu melakukan sesuatu. Hal tersebut dibuktikan dengan penggantian kata gas dengan kata dilakukan pada data (8b).
Namun, pada data (8a), sesuatu tersebut sudah jelas, yakni melakukan streaming. Kata gas dapat diganti dengan kata streaming seperti yang ada pada data (8c) yang tidak mengubah arti data. Dengan begitu, kata gas memiliki makna ‗melakukan sesuatu‘, baik yang sudah jelas maupun yang belum jelas.
Kata gas yang bermakna
‗melakukan sesuatu‘ diasosiasikan dengan keadaan mesin kendaraan bermotor yang sedang ditarik gasnya.
Mesin kendaraan bermotor yang ditarik gasnya tersebut akan melakukan sesuatu, yaitu bergerak atau berjalan. Mesin kendaraan bermotor yang ditarik gasnya dan bergerak tersebut dianggap seperti makhluk hidup yang sedang melakukan sesuatu.
(9a) Hayoo mbak gas teruss, gaguna bgt asli.
(9b) Hayoo mbak dilakukan teruss, gaguna bgt asli.
Kata gas yang mempunyai makna ‗melakukan sesuatu‘ juga ditemukan pada data (9a). Kata gas pada data (9a) memiliki makna
‗melakukan sesuatu‘. Kata gas yang diganti dengan kata dilakukan pada data (9b) membuktikan kata gas bermakna ‗melakukan sesuatu‘.
Namun, kata gas pada data (9a) juga memiliki makna ‗menyindir‘. Kata gas menyindir si mbak yang melakukan sesuatu secara terus- menerus, tetapi tidak berguna.
Makna sindiran pada kata gas tersebut diasosiasikan seperti mesin
130
kendaraan bermotor yang tidak akan berhenti bergerak saat ditarik gasnya.
Namun, kendaraan bermotor tersebut masih berada di tempat dan tidak
bergerak sama seperti si mbak yang melakukan sesuatu terus-menerus walaupun tidak berguna.
Tabel 2
Pergeseran Makna Kata Gas
No. Pergeseran makna kata gas Jumlah data Persentase (%)
1. Melakukan sesuatu 44 45,36
2. Menyemangati 25 25,77
3. Mengajak 16 16,49
4. Menyatakan masih berlanjut 7 7,22
5. Membentak 3 3,09
6. Menyindir 2 2,06
Total 97 100
Berdasarkan tabel 2, kata gas mengalami pengeseran makna sebesar 45,36% melakukan sesuatu, 25,77%
menyemangati, 16,49% mengajak, 7,22% menyatakan masih berlanjut, 3,09% membentak, dan 2,06%
menyindir. Kata gas bergeser maknanya menjadi lebih luas.
Penggunaan kata gas sesuai dengan makna leksikal pada kamus cenderung digunakan dalam menjelaskan bentuk kebendaan.
Namun, makna tersebut sudah meluas sesuai dengan data yang ditemukan.
Makna baru yang muncul dari kata gas yang paling banyak
ditemukan adalah kata gas yang memiliki makna melakukan sesuatu, yakni sebesar 45,36 %. Kata gas yang memiliki makna melakukan sesuatu banyak ditemukan karena beberapa sebab. Pertama, kata gas lebih sering digunakan untuk mengganti unsur predikat. Kedua, kata gas lebih sering digunakan dalam kalimat yang singkat. Penggunaan kalimat yang singkat mengakibatkan makna tidak terlihat dengan jelas, tetapi masih memiliki makna melakukan sesuatu.
Ketiga, data masih dapat diperinci lagi seperti yang terlihat pada tabel berikut.
Tabel 3
Pergeseran Makna Kata Gas Melakukan Sesuatu No. Pergeseran makna kata
gas melakukan sesuatu Jumlah data Persentase (%) Persentase keseluruhan data (%)
1. Yang sudah jelas 15 34,10 15, 46
2. Yang belum jelas 29 65,90 29,90
Total 44 100 45,36
Berdasarkan tabel 3, kata gas yang mengalami pergeseran makna menjadi ‗melakukan sesuatu‘ dapat diperinci menjadi dua, yaitu bermakna ‗melakukan sesuatu yang sudah jelas‘ dan ‗melakukan sesuatu
yang belum jelas‘. Kata gas yang memiliki makna ‗melakukan sesuatu yang sudah jelas‘ sebesar 34,10% dan melakukan sesuatu yang belum jelas sebesar 65,90%. Jika dibandingkan dengan keseluruhan data, kata gas
131 yang memiliki makna ‗melakukan
sesuatu yang belum jelas‘ masih mendominasi keseluruhan data dengan persentase 29,90%. Hal tersebut terjadi karena kata gas lebih sering digunakan dalam kalimat yang singkat seperti yang disebutkan sebelumnya.
Pergeseran makna kata gas yang sedikit ditemukan dibandingkan dengan makna lain adalah makna membentak sebesar 3,09%, dan menyindir sebesar 2,06%. Makna membentak hanya ditemukan sedikit karena kata gas jarang digunakan dengan makna membentak dalam bentuk dasar, yaitu gas. Kata gas yang memilik makna membentak lebih sering ditemukan dalam kata gas yang sudah melalui proses afiksasi, seperti kata ngegas dan digas. Makna menyindir yang dimiliki oleh kata gas, hanya ditemukan sedikit karena kata gas yang mengandung makna ‗menyindir‘
jarang ditemukan dalam bentuk kalimat tanpa konteks. Makna gas yang memiliki makna ‗menyindir‘
lebih sering ditemukan dalam kalimat yang mengandung kata gas yang dikaitkan dengan konteksnya.
Pergeseran makna yang terjadi pada kata gas dipengaruhi oleh pengasosiasian kata gas dengan gas pada mesin kendaraan bermotor.
Pengguna bahasa memaknai kata gas karena asosiasinya dengan gas mesin kendaraan bermotor yang jika ditarik akan berjalan dan bersuara.
Makna membentak dan menyemangati yang dimiliki oleh kata gas diasosiasikan dengan suara mesin kendaraan bermotor yang menjadi keras dan menderu-deru saat ditarik gasnya. Suara keras yang terjadi dianggap sama seperti suara
keras yang terdengar saat seseorang membentak dan suara yang menderu- deru dianggap seperti semangat yang menggebu-gebu.
Kata gas yang memiliki makna
‗menyatakan masih berlanjut‘,
‗mengajak‘, ‗melakukan sesuatu‘, dan
‗menyindir‘ diasosiasikan dengan keadaan kendaraan bermotor yang akan berjalan saat ditarik gasnya.
Kendaraan bermotor setelah ditarik gasnya akan berjalan terus-menerus dan tidak berhenti sebelum gas dihentikan, sama seperti makna
‗menyatakan masih berlanjut‘ karena sama-sama tidak berhenti. Kendaraan bermotor setelah ditarik gasnya bertujuan untuk pergi ke suatu tempat sama seperti makna mengajak karena akan menuju ke sesuatu tempat tertentu. Kendaraan bermotor yang ditarik gasnya akan bergerak sama seperti makhluk hidup yang melakukan sesuatu. Namun, saat kendaraan bermotor ditarik gasnya, tetapi tidak bergerak dari tempat semula, hal tersebut seperti melakukan hal yang tidak berguna sama seperti seseorang yang terus melakukan sesuatu walaupun tidak ada gunanya. Hal tersebut dapat menimbulkan sindiran.
Analisis data di atas menunjukkan bahwa kata gas mengalami pergeseran makna, yaitu meluas. Kata gas yang pada mulanya dimaknai sebagai kata yang digunakan untuk merujuk pada sifat kebendaan mengalami perluasan makna. Makna baru yang muncul dari kata gas adalah ‗melakukan sesuatu‘,
‗menyemangati‘, ‗mengajak‘,
‗menyatakan masih berlanjut‘,
‗membentak‘, dan ‗menyindir‘. Kata gas mengalami pergeseran makna perluasan karena pada kata gas makna
132
yang muncul masih berkaitan dengan hubungan asosiatif pada makna leksikalnya, yakni hubungan dengan gas pada kendaraan bermotor.
SIMPULAN
Gas merupakan zat ringan yang memiliki sifat seperti udara, tetapi gas tidak dapat berubah menjadi cair di dalam suhu. Dari penelitian ini dapat diketahui bahwa kata gas tidak lagi memiliki makna seperti yang ada di dalam kamus, tetapi kata gas telah mengalami pergeseran makna kata meluas. Hal ini disebabkan kata gas tidak lagi bermakna zat uap yang awalnya digunakan dalam ilmu pengetahuan, tetapi kini kata gas sudah menjadi bahasa dalam kehidupan sehari- hari yang bermakna menyetujui ajakan dari penutur ataupun ungkapan kata lain yang berasosiasi dengan kata gas yang asli.
Pergeseran makna gas dapat digolongkan menjadi beberapa makna, yaitu ‗melakukan sesuatu‘,
‗menyemangati‘, ‗mengajak‘,
‗menyatakan masih berlanjut‘,
‗membentak‘, dan ‗menyindir‘.
Makna ‗melakukan sesuatu‘ paling banyak ditemukan karena kata gas sering digunakan sebagai pengganti unsur predikat dan lebih sering digunakan dalam kalimat yang pendek. Makna ‗membentak‘ hanya ditemukan sedikit karena kata gas
yang mengandung makna
‗membentak‘ lebih sering digunakan dalam bentuk yang sudah mengalami afiksasi, seperti kata ngegas dan digas. Makna ‗menyindir‘ yang dimiliki oleh kata gas hanya ditemukan sedikit karena kata gas yang mengandung makna menyindir jarang ditemukan dalam bentuk
kalimat tanpa konteks. Makna kata gas yang mengalami pergeseran makna diasosiasikan dengan gas pada kendaraan bermotor. Pergeseran makna kata gas ini menjadikan kata gas lebih umum dibandingkan dengan sebelumnya.
DAFTAR PUSTAKA
Aminuddin. 2001. Semantik (Pengantar Studi tentang Makna. Bandung: Sinar Baru Algesindo.
Chaer, A. 2007. Linguistik Umum (cetakan ketiga). Jakarta:
Rineka Cipta.
Hafiz, S. El. 2015. "Pergeseran Makna Sabar dalam Bahasa Indonesia". Jurnal Ilmiah Penelitian Psikologi: Kajian Empiris & Non-Empiris, 1(1), 33–38.
Mahsun. 2012. Metode Penelitian Bahasa: Tahapan Strategi, Metode, dan Tekniknya (Revisi). Jakarta: Rajawali Press.
Moleong, L.J. 2001. Metodologi Penelitian Kualitatif.
Bandung: Rosdakarya.
Paramita, S. 2018. "Pergeseran Makna Budaya Ondel- Ondel pada Masyarakat Betawi Modern". Jurnal Bakti Masyarakat Indonesia, 1(1), 133–138.
Parera, J.D. 2004. Teori Semantik (2nd ed.). Jakarta: Erlangga.
Saleh, R. 2017. "Pergeseran Makna dalam Berita tentang
133 Sampah di GoRiau".
Kandai, 13 (1), 47–60.
Sudaryanto. 1993. Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa (Pengantar Penelitian Wahana Kebudayaan secara Linguistis.
Yogyakarta: Duta Wacana University Press.
Suwandi, S. 2011. Semantik:
Pengantar Kajian Makna.
Yogyakarta: Media Perkasa.
Syah, H. 2010. Pengantar Umum Metodologi Penelitian
Pendidikan Pendekatan Verifikatif. Pekanbaru:
Suska Press.
Syamsuddin, A. R. 1986. Sanggar Bahasa Indonesia. Jakarta:
Universitas Terbuka.
Wakidah, A., Puspitasari, D., Aryandhini, M. N. S., &
Wulandari, K. 2019.
Pergeseran Makna Sumpah dalam Bahasa Indonesia.
Transformatika: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya, 3 (2), 179–
189.