• Tidak ada hasil yang ditemukan

METATIKA Jurnal Pendidikan Matematika

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "METATIKA Jurnal Pendidikan Matematika"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

METATIKA

Jurnal Pendidikan Matematika

METATIKA: Jurnal Pendidikan Matematika

Journal homepage: http://journal.stkipyasika.ac.id/index.php/metatika Journal Email: [email protected]

ANALISIS MINAT BELAJAR MATEMATIK SISWA PADA

PEMBELAJARAN CONCEPTUAL UNDERSTANDING PROCEDURES

BENNY ANGGARA

STKIP Yasika Majalengka, Kabupaten Majalengka Email: [email protected]

IMAN SOLAHUDIN

STKIP Yasika Majalengka, Kabupaten Majalengka Email: [email protected]

ABSTRACT

The purpose of this study is to provide an overview of the learning interests of students who learn to use learning models Conceptual Understanding Procedures (CUPs). The research method used is a qualitative research method. the subject of this research was several class VIII students at Lemahabang 1 Public Middle School, Cirebon. One of the instruments used to analyze student learning interest is the student learning interest questionnaire. Student learning interest is grouped into three learning interest categories, namely low, medium, and high learning interest. The application of the CUPs learning model has a positive impact on student learning interest. There were 16% of respondents had low interest in learning, 55%

of respondents had moderate learning interest, and 29% had a high interest in learning.

Keywords: Conceptual Understanding Procedures (CUPs) model, student learning interest, learning interest questionnaire.

ABSTRAK

Tujuan dari penelitian ini adalah memberikan gambaran tentang minat belajar siswa yang belajar menggunakan model pembelajaran Conceptual Understanding Procedures (CUPs).

Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif . subjek penelitan ini adalah beberapa siswa kelas VIII di SMP Negeri 1 Lemahabang, Cirebon. Salah satu instrumen yang digunakan untuk menganalisis minat belajar siswa adalah angket minat belajar siswa. Minat belajar siswa dikelompokan dalam tiga kategori minat belajar, yaitu

Article Received: 12 Desember 2018, Review process:16 Januari 2018 , Accepted: 05 Februari 2019, Article published: 28 Februari 2019

(2)

minat belajar rendah, sedang, dan tinggi. Penerapan model pembelajaran CUPs memiliki dampak yang positif terhadap minat belajar siswa. Terdapat 16% responden memiliki minat belajar rendah, 55% responden memiliki minat belajar sedang, dan 29% memiliki minat belajar tinggi.

Kata Kunci : Model Conceptual Understanding Procedures (CUPs), minat belajar siswa, angket minat belajar.

PENDAHULUAN

Matematika merupakan ilmu universal yang mempunyai peran penting dalam berbagai disiplin ilmu dan memajukan daya pikir manusia. Belajar matematika tidak lain adalah belajar konsep dan struktur matematika (Russefendi, 2005). Tujuan penting pembelajaran matematika adalah membantu siswa memahami konsep, bukan hanya sekedar mengingat fakta, prosedur dan algoritma yang secara terpisah (Suratno, 2008). Melaui konsep, siswa dapat mengembangkan kemampuan penalaran matematika. Konsep juga sebagai pilar dalam pemecahan masalah. Oleh karena itu, memahami dan menguasai konsep merupakan hal penting bagi siswa dalam belajar matematika. Jika siswa tidak memahami konsep matematika, mereka akan kesulitan ketika dihadapkan pada problem-problem matematika. Tetapi pada kenyataannya kini dalam proses pembelajaran matematika, siswa hanya mengingat- ingat fakta dan prosedur tanpa pemahaman sehingga seringkali siswa kurang merasa yakin dan bagaimana menggunakan apa yang mereka tahu, dan pembelajaran seperti ini seringkali menjadi agak rapuh.

Berdasarkan hasil observasi peneliti di salah satu sekolah negeri di Kabupaten Indramayu menemukan beberapa hal. Salah satunya adalah permasalahan yang dihadapi siswa dalam proses pembelajaran matematika. Siswa mampu menjawab pertanyaan dengan tepat ketika bentuk soal sama seperti contoh, dan pada saat diberikan pertanyaan dengan bentuk yang telah dimodifikasi siswa tidak mampu untuk menjawabnya dengan tepat. Menurut Silver (Turmudi, 2010) pada umumnya dalam pembelajaran matematika, siswa menonton bagaimana gurunya mendemonstrasikan penyelesaiaan soal-soal matematika di papan tulis dan siswa mengkopi apa yang telah dituliskan oleh gurunya. Ini menguatkan bahwa selama ini siswa hanya mengingat fakta dan prosedurnya saja dalam menyelesaikan suatu masalah.

Siswa tidak dibekali pemahaman yang cukup tentang konsep yang diberikan (Ahmad, 2012). Banyak faktor yang menyebabkan ini terjadi pada siswa, salah satunya bisa karena siswa malas untuk belajar ataupun bisa juga disebabkan oleh

(3)

metoda pembelajaran yang digunakan. Seperti yang dikemukakan oleh Senk dan Thompson (Turmudi, 2010) bahwa dalam kelas tradisional, umumnya guru-guru menjelaskan pembelajaran matematika dengan mengungkapkan rumus-rumus dan dalil-dalil matematika terlebih dahulu, baru siswa berlatih soal-soal yang disediakan.

Aktivitas siswa di kelas terbatas hanya mencatat apa yang dicatat di papan tulis lalu mengerjakan soal sehingga di dalam proses belajar, banyak siswa yang merasa bosan dan banyak yang tidak memperhatikan disaat guru menyampaikan materi (Sagala, 2011).

Kekeliruan siswa ketika menyelesaikan soal diakibatkan karena siswa berkonsentrasi pada hal-hal yang prosedural dan mekanistik, sehingga tanpa dilihat proses pemahamannya (Warman, 2013). Terkadang siswa juga tidak memiliki rasa percaya diri untuk mengemukakan pendapatnya, ataupun enggan untuk mengerjakan soal di depan yang diberikan oleh guru, yang dikarenakan ia kurang yakin dengan jawaban yang ia kerjakan. Sebagian siswa juga mengutarakan bahwa matematika itu merupakan pelajaran yang menjenuhkan dan sulit sehingga membuat siswa tidak menarik dan menjadi malas untuk belajar matematika. Ketika peneliti masuk ke dalam kelas dan bertanya kepada siswa di kelas mengenai ketertarikan mereka terhadap pelajaran matematika. Maka jawabannya kurang dari 50 persen siswa yang tidak tertarik dengan matematika. Hal ini memperlihatkan bahwa matematika memang merupakan pelajaran yang kurang diminati oleh siswa.

Rendahnya ketertarikan siswa untuk belajar matematika berpengaruh banyak terhadap kemampuan pemahaman konsep dari materi yang dipelajari. Secara umum dirumuskan bahwa pembelajaran matematika menggariskan siswa harus mempelajari matematika melalui pemahaman dan aktif membangun pengetahuan baru dari pengalaman dan pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya (Jihad &

Haris, 2010).

James (Iskandar, 2009) melihat bahwa minat siswa merupakan faktor utama yang menentukan derajat keaktifan belajar siswa. Mursell (Wasti, 2013), mengemukakan hakikatnya anak memiliki minat terhadap belajar. Untuk menganalisis minat belajar dapat digunakan beberapa indikator minat yaitu, perasaan senang dalam belajar, konsentrasi atau perhatian dalam belajar, dan ketertarikan dalam belajar. Berdasarkan Analisa di atas, dapat disimpulkan bahwa aspek-aspek minat dapat ditentukan melalui, pemusatan perhatian siswa terhadap pelajaran matematika, ketertarikan hati siswa terhadap pelajaran matematika,

(4)

keingintahuan siswa untuk mengetahui dan mempelajari matematika, dan sikap semangat siswa untuk mempelajari matematika, serta rasa suka siswa saat mengikuti pelajaran matematika.

Mengingat hal tersebut diatas, ada sebuah model pembelajaran yang dapat diimplementasikan di dalam kelas yaitu model pembelajaran Conceptual Understanding Procedures (CUPs). Menurut Kloot (2003), CUPs adalah prosedur pengajaran yang didesain untuk membangun pendekatan berdasarkan kepada keyakinan bahwa siswa membangun pemahaman mereka sendiri atas suatu konsep dengan mengembangkan atau memodifikasi pandangan yang ada. Kloot (2003) menyatakan ada enam langkah penting dalam pelaksanaan CUPs.

Pada model pembelajaran CUPs siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok yang disebut triplet karena setiap kelompok beranggotakan 3 siswa. Di dalam model pembelajaran CUPs memuat beberapa sesi yaitu, pada sesi 1 siswa diberi latihan dalam bentuk soal, pada sesi 2 siswa diberi waktu selama 5-10 menit untuk menyelesaikan soal secara individu dan menuliskannya pada kertas A4, pada sesi 3 siswa bergabung bersama tripletnya untuk berdiskusi dengan masing-masing siswa mengeluarkan idenya untuk menyelesaikan soal sebelumnya dan menuliskannya jawaban dari diskusi tripletnya kedalam karton, pada sesi 4 setiap triplet menempelkan karton jawaban mereka di depan kelas, pada sesi 5 siswa-siswa yang memiliki jawaban berbeda mempresentasikan jawaban mereka di depan kelas sehingga terjadi diskusi kelas, dan pada sesi 6 guru dan siswa bersama-sama memberikan kesimpulan dari soal tersebut.

Penggunaan model pembelajaran CUPs diharapkan mampu meningkatkan minat belajar siswa terhadap pelajaran matematika. Hal ini dapat dilihat dari sesi-sesi dalam model pembelajaran CUPs. Siswa berusaha untuk menyelesaikan soal yang diberikan secara individu dengan menggali pengetahuan yang dimilikinya dan mencari dari berbagai macam sumber untuk menyelesaikan soal tersebut, sehingga pada sesi ini siswa dituntut untuk memiliki rasa keingintahuan (Yuniar, 2013). Selain itu, siswa terlibat diskusi yang akan melatih siswa untuk dapat mengemukakan pendapatnya dan mempertahankan hasil yang telah diselesaikannya. terakhir siswa diberikan sedikit waktu untuk menempelkan hasil jawaban kelompoknya di depan kelas, hal ini dapat mengurangi rasa jenuh siswa pada saat pembelajaran matematika. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui minat siswa terhadap matematika setelah proses pembelajaran menggunakan model CUPs.

(5)

METODOLOGI

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis minat belajar siswa terhadap matematika dalam pembelajaran menggunakan model CUPs. Penelitian ini lebih membutuhkan data kualitatif, sehingga metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif. Menurut Moleong (2015), penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian, misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dan lain-lain secara holistik, dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah. Hal ini diperjelas oleh Sugiyono (2012) yang menjelaskan bahwa metode penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang digunakan untuk meneliti pada kondisi objek yang alamiah, dimana peneliti adalah sebagai instrumen kunci, teknik pengumpulan data dilakukan secara triangulasi (gabungan), analisis data bersifat induktif, dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna dari pada generalisasi. Subjek penelitian dalam penelitian ini adalah 36 siswa kelas VIII di SMP Negeri 1 Jatibarang, Kabupaten Indramayu.

Salah satu instrumen yang digunakan peneliti dalam menganalisis minat belajar siswa terhadap matematika adalah angket minat belajar. Skala yang digunakan dalam angket penelitian ini adalah skala likert. Skala likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat dan persepsi seseorang atau sekelompok tentang kejadian atau gejala sosial (Arikunto, 2010). Angket minat belajar siswa digunakan untuk mengetahui skor minat belajar siswa dan menempatkan siswa dalam kategori minat belajar rendah, sedang atau tinggi. Angket diberikan kepada subjek dan langsung memilih jawaban yang telah disediakan dalam item pernyataan. Adapun format respon yang digunakan model skala likert mempunyai 4 alternatif pilihan jawaban, yakni; Sangat setuju (SS), Setuju (S), Tidak setuju (TS), Sangat tidak setuju (STS).

Pada penelitian ini, responden akan dikelompokan menjadi 3 kategori minat belajar yaitu rendah, sedang, dan tinggi. Menurut Azwar (2014) pengkategorisasian tersebut sebagai berikut: Kategori rendah apabila ( ) kategori sedang apabila ( ) ( ), dan kategori tinggi apabila ( ) dimana adalah Mean teoritis sedangkan : Deviasi standar.

(6)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Proses pembelajaran yang telah dilakukan pada saat penelitian dari pertemuan awal sampai pertemuan akhir pada salah satu kelas VIII yaitu menggunakan model pembelajaran CUPs. Peneliti sebelumnya telah merencanakan proses pembelajaran secara maksimal yang dibuat dalam rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Materi yang disampaikan adalah kesebangunan pada bangun datar, kesebangunan pada segitiga dan penerapan kesebangunan dalam soal cerita.

Kegiatan pembelajaran yang dilakukan menggunkan model pembelajaran CUPs, dengan terbagi dalam tiga kegiatan, yaitu kegiatan awal, kegiatan inti dan kegiatan akhir.

Pada kegiatan awal peneliti mengkondisikan siswa, menyampaikan tujuan pembelajaran, menjelaskan alur model pembelajaran dan memberikan ilustrasi contoh kesebangunan dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan selanjutnya yaitu kegiatan inti, peniliti memberikan LKS yang berupa materi dan soal latihan yang harus dikerjakan siswa secara individu. Selanjutnya, peneliti membagi siswa kedalam tripet atau kelompok dan mendiskusikan soal tersebut bersama kelompoknya. Hal ini dimaksudkan agar siswa dapat membangun pemahamannya dari setiap uraian soal yang mereka jawab.

Pada gambar 1, siswa berdiskusi di dalam masing-masing tripletnya untuk memutuskan jawaban yang paling tepat dari masalah yang disajikan. Jawaban- jawaban siswa dalam setiap kelompoknya dituliskan dalam kertas karton dan ditempelkan di depan.

Gambar 1. Skema Kegiatan Siswa Saat Diskusi

Sisw a

Guru Ke

t:

(7)

P ada gamb ar 2,

Guru meng amati jawab

an dari setiap triplet dan meminta sebagian kelompok dengan jawaban yang berbeda mempresentasikan jawabannya di depan dan memulai diskusi antar triplet. Pada kegiatan akhir terdiri dari membuat kesimpulan, memberikan tugas rumah, menyampaikan rencana pembelajaran untuk pertemuan berikutnya dan mengakhiri proses pembelajaran. Untuk menganalisis minat belajar siswa pada pembelajaran CUPs, peneliti mengembangkan angket minat belajar.

Angket minat belajar dikembangkaan berdasarkan indikator minat belajar, diantaranya; pemusatan perhatian siswa terhadap pelajaran matematika;

ketertarikan/kecenderungan hati siswa terhadap pelajaran matematika;

keingintahuan/keinginan siswa untuk mengetahui dan mempelajari matematika;

sikap semangat/antusias/gairah siswa untuk mempelajari matematika; rasa suka/senang siswa saat mengikuti pelajaran matematika. Angket minat belajar siswa yang dibuat dalam penelitian ini memuat 20 pernyataan, dengan skor minimum yaitu 20 x dan skor maksimum yaitu 20 x . Sehingga rentangnya adalah 80 – 20 = 60. Dengan demikian, deviasi standarnya ( ) bernilai 10 dan mean teoritiknya ( ) adalah 20 x . Maka kategori untuk minat belajar siswa adalah sebagai berikut.

Tabel 1. Kategori Minat Belajar Siswa Kategori Rentang Skor

Rendah

Sedang

tinggi

-

Kertas karton yang ditempel Ket

:

Gambar 2. Skema Kegiatan Siswa saat Presentasi

(8)

Berdasarkan tabel 1, kategori minat belajar siswa dikelompokkan berdasarkan rentang skor minat belajar siswa yang diperoleh melalui angket minat belajar yang diisi oleh siswa. Untuk skor siswa dibawah 60 dikategorikan sebagai minat belajar rendah, untuk skor minat yang berada diantara 60 sampai 84 berada pada kategori sedang, sedangkan yang lebih dari 84 dikategorikan memiliki minat belajar tinggi.

Tabel 2. Hasil Angket Minat Belajar Siswa

Kategori Banyak Siswa Persentase

Rendah 6 16%

Sedang 20 55%

Tinggi 10 29%

Berdasarkan tabel 2, menunjukkan bahwa masih terdapat siswa yang berada pada kategori minat belajar rendah dan sebagian besar siswa berada pada kategori minat belajar sedang yakni sebesar 55%. Sedangkan, siswa yang berada pada kategori minat belajar tinggi ada 29%. Dengan melihat hasil analisis tersebut terlihat bahwa model pembelajaran CUPs yang digunakan menunjukkan hasil yang positif terhadap minat belajar siswa. Peneliti dalam menganalisis minat belajar siswa didasari pada empat hal. Pertama adalah perasaan senang, dimana seorang siswa yang memiliki senang atau suka terhadap pelajaran matematika misalnya, ia harus terus mempelajari ilmu yang berhubungan dengan matematika. Sama sekali tidak ada perasaan terpaksa untuk mempelajari bidang tersebut. Untuk mengetahui perasaan senang tersebut peneliti memantau melalui respon siswa berupa gairah siswa saat mengikuti pelajaran matematika dilakukan dan respon siswa saat mengikuti pelajaran matematika.

Kedua, melalui ketertarikan siswa yang berhubungan dengan daya mendorong siswa untuk cenderung merasa tertarik pada orang, benda, kegiatan atau bisa berupa pengalaman efektif yang dirangsang oleh kegiatan itu sendiri. Peneliti menganalisis bentuk ketertarikan siswa melalui dua hal, yaitu perhatiaan siswa saat mengikuti pelajaran matematika dan konsentrasi siswa saat mengikuti pelajaran matematika.

Ketiga, perhatian dalam belajar yang digambarkan melalui bentuk perhatian siswa merupakan konsentrasi atau jiwa terhadap pengamatan dan pengertian, dengan mengesampingkan yang lain daripada itu. Siswa memiliki minat pada obek tertentu, maka dengan sendirinya akan memperhatikan objek tersebut.Keterlibatan

(9)

siswa disaat mengikuti pelajaran matematika dan kemauan siswa untuk mengerjakan tugas, bertanya kepada guru lebih mampu jika belum memahami materi dan mencari buku penunjang yang lain saat menemui kesulitan.

Terakhir, menganalisis bentuk keterlibatan siswa. Ketertarikan seseorang akan sesuatu objek yang mengakibatkan orang tersebut senang dan tertarik untuk melakukan atau mengerjakan kegiatan dari objek tersebut. Hal-hal yang dilakukan peneliti untuk melihat peran keterlibatan siswa melalui kesadaran tentang belajar dirumah, langkah siswa setelah ia tidak masuk sekolah, kesadaran siswa untuk mengisi waktu luang, kesadaran siswa untuk bertanya, kesadaran untuk mengikuti les pelajaran matematika

Penelitian yang dilakukan oleh Ambar (2012) dengan judul penelitian “Pengaruh model pembelajaran CUPs terhadap hasil belajar siswa SMP”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah hasil belajar matematika siswa melalui Model Pembelajaran CUPs lebih baik daripada siswa yang menggunakan model pembelajaran secara konvensional dan untuk mengetahui respons siswa terhadap pembelajaran matematika menggunakan Model Pembelajaran CUPs. Pembelajaran matematika menggunakan model pembelajaran CUPs mendapat respon yang positif dari siswa. Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Iskandar (2009) respon dan sikap siswa terhadap pembelajaran matematika menggunakan model pembelajaran CUPs dilihat dari hasil angket juga sangat positif.

Belajar menggunakan model CUPs tidak hanya membuat siswa lebih aktif untuk menyampaikan pendapat dalam diskusi, tetapi siswa juga lebih terampil dalam mengerjakan soal-soal yang diberikan oleh guru (Wiguna, 2010). Siswa mengikuti dengan baik selama proses pembelajaran berlangsung, tugas-tugas yang diberikan oleh guru mampu mereka kerjakan dengan baik. Siswa saling berebut untuk menyampaikan pendapatnya dari hasil diskusi kelompok mereka sehingga dapat dikatakan bahwa siswa memiliki minat untuk belajar dan memahami materi. Karena di dalam model pembelajaran CUPs siswa tidak hanya duduk mendengarkan penjelasan dari guru seperti dalam metode ceramah tetapi siswa dapat lebih aktif mengembangkan pemahaman yang berkaitan dengan materi yang dipelajari.

Sedangkan menurut Mursell (Wasti, 2013), mengemukakan bahwa minat siswa merupakan faktor utama yang menentukan derajat keaktifan belajar siswa. Dapat dikatakan bahwa belajar menggunakan model pembelajaran CUPs dapat meningkatkan minat belajar siswa. Sesuai dengan Kloot (2003) bahwa CUPs

(10)

merupakan prosedur pengajaran yang didesain untuk membangun pendekatan berdasarkan kepada keyakinan bahwa siswa membangun pemahaman mereka sendiri atas suatu konsep dengan mengembangkan atau memodifikasi pandangan yang ada.

Keyakinan guru akan kemampuan siswanya inilah yang kemudian dapat meningkatkan minat belajar siswa. Guru sebisa mungkin mengupayakan siswanya untuk bediskusi dan saling berbagi ilmu dalam membangun konsep kesebangunan.

Sama halnya dengan upaya yang dilakukan oleh Puspasari (2010) yang mengupayakan peningkatan minat belajar matematika melalui metode spesialisasi tugas tipe Co-op Co-op. Dari hasil angket minat belajar matematika yang dikembangkannya rata-rata minat belajar matematika berada pada kriteria tinggi pada siklus I sedangkan pada siklus II berada pada kriteria sangat tinggi.

SIMPULAN

Minat belajar siswa ditinjau dari pemusatan siswa dalam belajar, ketertarikan siswa dalam belajar, rasa ingin tahu siswa, sikap semangat belajar, dan rasa senang terhadap matematika. Minat belajar siswa yang belajar matematika dengan menggunakan model pembelajaran CUPs memiliki hasil yang positif. Hal ini dapat dilihat dari hasil pengkategorian minat belajar siswa, yang sebagian besar siswa berada pada kategori minat belajar sedang dan hanya beberapa siswa yang berada pada kategori minat belajar rendah. Bahkan sebanyak 29% responden berada pada kategori minat belajar tinggi.

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad, A. (2012). Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif dengan Strategi Conceptual Understanding Procedures (CUPs) untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep Matematika pada Siswa. Skripsi: tidak diterbitkan.

Ambar, L. (2010). Pengaruh Model Pembelajaran Conceptual Understanding Procedures (CUPs) terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa SMP. Skripsi: tidak diterbitkan.

Arikunto, S. (2010). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta.

Azwar, S. (2012). Penyusunan Skala Psikologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Jihad, A., dan Haris, A. (2010). Evaluasi Pembelajaran. Yogyakarta: Multi Pressindo.

Iskandar, D. (2009). Upaya Meningkatkan Kemampuan Representasi Matematik Siswa SMP dengan Penerapan Model Pembelajaran Conceptual Understanding Procedures (CUPs). Skripsi FPMIPA UPI Bandung. Tidak Diterbitkan.

(11)

Kloot, D. (2003). CUPs Guide. [online] Tersedia:

http://www.education.monash.edu.au/research/groups/smte/projects/cups/[januar i 2014]

Moleong, L. (2015). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Rosda Karya.

Puspasari, A. (2010). Upaya Meningkatkan Belajar Matematika Menggunakan Metode Spesialisasi Tugas Tipe Co-op Co-op pada Siswa Kelas VIII C SMPN 3 Berbah. Skripsi: Universitas Negeri Yogyakarta. Tidak diterbitkan.

Ruseffendi, E.T. (2010). Dasar-dasar Penelitian Pendidikan & Bidang Non-Eksakta Lainnya. Bandung: Tarsito.

Ruseffendi, E.T. (2005). Pengantar Kepada Membantu Guru Mengembangkan Kompetensinya dalam Pengajaran Matematika untuk Meningkatkan CBSA.

Bandung: Tarsito.

Sagala, S. (2011). Konsep dan Makna Pembelajaran. Alfabeta: Bandung.

Sudjana. (2005). Metode Statistika. Bandung: Tarsito.

Sugiyono. (2012). Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D). Bandung: Alfabeta.

Sukardi. (2007). Metodologi Penelitian Pendidikan: Kompetensi dan Praktiknya.

Jakarta: PT. Bumi Aksara.

Suratno, T. (2008). Memahami Kompleksitas Pengajaran-Pembelajaran dan Kondisi Pendidikan dan Pekerjaan Guru. Jurnal FPMIPA UPI Bandung. Tidak Diterbitkan.

Turmudi. (2010). Pembelajaran Matematika Masa Kini dan Kecenderungan Masa Mendatang. Bandung: JICA.

Warman, D. (2013). Hubungan Percaya diri Siswa dengan Hasil Belajar Geografi Kelas XI IPS di SMAN 1 Bayang Kabupaten Pesisir Selatan. Skripsi: Tidak Diterbitkan.

Wasti, S. (2013). Hubungan Minat Belajar dengan Hasil Belajar Mata Pelajaran Tata Busana MAN 2 Padang. Skripsi: Universitas Negeri Padang. Tidak Diterbitkan.

Wiguna, W. (2010). Meningkatkan Kemampuan Komunikasi Matematis Siswa SMA Melalui Penerapan Model Pembelajaran Conceptual Understanding Procedures (CUPs). Skripsi FPMIPA UPI Bandung. Tidak Diterbitkan.

Yuniar, LP. (2013). Penerapan model pembelajaran conceptual understanding procedures (CUPs) berbantuan multimedia pembelajaran Interaktif untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep Siswa pada Mata Pelajaran TIK di SMP.

Skripsi Repositori UPI: Tidak Diterbitkan.

Gambar

Gambar 1. Skema Kegiatan Siswa Saat Diskusi
Gambar 2. Skema Kegiatan Siswa saat Presentasi

Referensi

Dokumen terkait

Sehubungan dengan akan dilaksanakannya Evaluasi Dokumen Kualifikasi dan Pembuktian Kualifikasi untuk paket pekerjaan Pengadaan Alat Kesehatan UTD RS (DAK), dengan ini kami

Pertama kalinya di Indonesia, system KAI Online menggunakan e-ticket diselenggarakan secara nasional dengan tujuan agar masyarakat pengguna jasa trasportasi kereta api lebih

Sahabat MQ/ Sejumlah politisi di DPR RI baru-baru ini menyatakan hendak menyusun sebuah kabinet bayangan// Kabinet bayangan ini akan terdiri dari sejumlah

Validasi pedoman evaluasi capaian kurikulum Draf Buku Pedoman hasil revisi 1 hari Buku Pedoman Evaluasi Capaian Kurikulum hasil validasi 9. Validasi akhir

jenis pakan yang diberikan adalah BR-1 untuk anak ayam umur 0-4 minggu dan BR-2 untuk umur 4-6 minggu. tingkat kematian ayam

Selanjutnya karakteristik teknis part diselesaikan dengan Quality Function Deployment fase II diperoleh tiga kontradiksi yaitu ketahanan terhadap suhu dingin, ketahanan terhadap

Hal ini juga sama dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Permatasari, Lukman, Supriadi (2014)., Penelitian Hu & Arao (2013), menyatakan bahwa Self Efficacy

Inspired by SLIC and the SIRV product model, this paper proposes an adaptive superpixel segmentation algorithm (Pol-ASLIC) for PolSAR images. The key points of this approach