• Tidak ada hasil yang ditemukan

KESIAPAN SEKOLAH VS PEMBELAJARAN TATAP MUKA DI ERA NEW NORMAL

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "KESIAPAN SEKOLAH VS PEMBELAJARAN TATAP MUKA DI ERA NEW NORMAL"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

115

KESIAPAN SEKOLAH VS PEMBELAJARAN TATAP MUKA DI ERA NEW NORMAL

Roland Candraguna Adhinata Mahasiswa BK FKIP UKSW Salatiga

ABSTRAK

Pandemi Covid-19 membuat sekolah harus siap dengan kondisi penerapan new normal yang mengacu pada pola pendidikan yang ditetapkan oleh pemerintah karena proses Pembelajaran Tatap Muka (PTM) akan dilakukan seperti biasa di sekolah. Seluruh data dalam penelitian ini diperoleh melalui serangkaian wawancara mendalam kepada sejumlah narasumber. Narasumber pada penelitian ini adalah Kepala Sekolah, Guru dan orang tua siswa di SMAN 2 Salatiga.

Persiapan SMAN 2 Salatiga sesuai protokoler kesehatan diantaranya adalah peserta didik dan guru wajib menggunakan masker baik masker kain maupun masker bedah di lingkungan sekolah, mencuci tangan dengan sabun pada tempat yang sudah disediakan, mengecek suhu tubuh, menjaga jarak antar peserta didik di dalam kelas dengan penataan tempat duduk sesuai jarak yang ditentukan maupun di luar kegiatan belajar mengajar dengan tetap menjaga jarak, adanya proses penyemprotan disinfektan di dalam kelas dan lingkungan sekolah secara rutin, serta sekolah juga membuat sosialisasi pencegahan Covid-19 di SMAN 2 Salatiga melalui spanduk pencegahan Covid-19 yang ditempelkan di lingkungan sekolah. SMAN 2 Salatiga memiliki kesiapan yang sudah sesuai dengan anjuran pemerintah dalam pelaksanaan Pembelajaran tatap Muka (PTM).

Kata Kunci: Kesiapan, Pembelajaran Tatap Muka, dan New Normal.

PENDAHULUAN

Proses kegiatan belajar mengajar pada kondisi sekarang ini dapat dilakukan dengan memperhatikan beberapa hal. Pertama adalah berkoordinasi dengan satuan gugus tugas Covid-19 mengenai kondisi bisa atau tidaknya dilaksanakan kegiatan kegiatan belajar mengajar di sekolah. Berkoordinasi dengan satuan tugas Covid-19 ini sangat penting sekali dalam menentukan keberadaan kita saat ini. Dengan mengetahui kondisi keberadaan kita maka kita dapat membuat sebuah rencana kegiatan belajar mengajar (D. H. Santoso &

Santosa, 2020). Kondisi suatu daerah dengan daerah lain berbeda. Jika kondisi daerah tersebut masuk ke dalam zona hijau maka dapat melaksanakan kegiatan belajar di kelas (Jamaluddin & Phradiansah, 2020). Pemerintah memberikan waktu kepada sekolah untuk mempersiapkan fasilitas protokol kesehatan di sekolah, seperti tempat cuci tangan, hand sanitizer, penataan kelas, penyemprotan disinfektan, serta pengaturan jadwal kegiatan belajar-mengajar dan jam pelajaran.

Berkaitan dengan hal tersebut rencana sekolah tatap muka di bulan Juli 2021 menjadi kebijakan yang diambil setelah mengevaluasi penyelenggaraan pembelajaran jarak jauh secara darurat di masa pandemic Covid-19 dan telah dilaksanakannya vaksinasi pendidik dan tenaga kependidikan sejak Maret 2021. Kebijakan sekolah tatap muka terbatas telah diumumkan dan menjadi keputusan dari empat Menteri yang terkait dengan pengambilan keputusan ini, namun menjadi suatu perbincangan yang hangat di tengah masyarakat.

(2)

116

Persiapan ini tentu akan menimbulkan pro dan kontra atau kesulitan tersendiri, baik di kalangan orang tua peserta didik maupun dari kalangan guru atau tenaga kependidikan sebagai pengelola sekolah. Dari kalangan orang tua, kekhawatiran mereka terhadap kesehatan peserta didik selama di sekolah tentunya dapat dimaklumi. Namun, dengan membekali masker, hand sanitizer, membawa bekal dari rumah, selalu mencuci tangan, dan menjaga jarak dengan sesama peserta didik di sekolah akan menjauhkan mereka dari tertular pandemi. Usaha pihak sekolah untuk memberikan jaminan kesehatan selama peserta didik berada di sekolah tidak akan ada artinya bila tidak didukung orang tua dan dimulai dari rumah masing-masing, melalui penerapan pola hidup bersih dan sehat (Jamaluddin & Phradiansah, 2020).

Di kalangan guru sendiri, pro dan kontra tentang kebijakan mengajar dua metode dalam satu kelas pasti akan muncul. Keberatan karena terlalu lama berada di lingkungan sekolah, kurang waktu untuk istirahat, dan alasan lain pasti akan dilontarkan para guru.

Namun, bila kita menginginkan gerakan new normal pendidikan ini berjalan maka mau tidak mau, suka tidak suka, harus tetap didukung dengan cara ikut melaksanakan kebijakan pemerintah. Peran seorang guru pada pengelolaan kelas sangat penting dalam menciptakan lingkungan kelas yang tertib dan kondusif dan tetap menjaga aturan selama new normal (Sanjaya, 2020).

Kondisi Pandemi Covid-19 pada akhirnya membuat lembaga pendidikan harus siap dengan pola pendidikan yang ditetapkan oleh pemerintah dengan penerapan new normal pada lembaga pendidikan. Rencana pemerintah dalam membuka kembali Pertemuan Tatap Muka (PTM) di sekolah menjadi angin segar untuk pendidikan karena proses pembelajaran akan dilakukan seperti biasa di sekolah. Namun untuk membuka kembali pembelajaran tatap muka di sekolah pemerintah memberikan syarat kepada masing-masing lembaga pendidikan untuk memenuhi protokol kesehatan. Sebagaimana persayaratan yang dikemukakan oleh Kemendikbud juga mengatur jumlah maksimal siswa di dalam suatu kelas. Untuk tingkat sekolah menengah dan sekolah dasar dibatasi hanya maksimal 18 peserta didik per kelas, sedangkan untuk SLB dan PAUD maksimal 5 orang per kelas. Jarak antar peserta didik di tingkat SD-SMP-SMA diatur minimal 1, 5 meter (Redaktur, 2020).

Menurut Joko, B., S. (2020) dalam Kesiapan Sekolah Pasca Akan Diperbolehkan Pembelajaran Tatap Muka, “alasan sekolah dibuka adalah orang tua mengeluh ke sekolah tidak memiliki kemampuan cukup mendampingi semua materi, belajar dari rumah yg berkepanjangan di anggap tidak optimal dan metode belajar online yang sulit dipahami, secara ekonomi: tidak mempunyai HP, membantu orangtua (petani, pedagang), desakan orangtua: orangtua mengeluh, siswa mulai bosan dan jenuh, lebih nyaman dengan suasana Pertemuan Tatap Muka (PTM)”.

Selain membahas alasan diatas, sekolah akan diperbolehkan melakukan pembelajaran tatap muka dengan mematuhi Protokol kesehatan Pembelajaran Tatap Muka, seperti: harus adanya spanduk berupa sosialisasi pencegahan Covid-19, surat persetujuan orangtua, pengukur suhu, menerapkan 3 M, penyemprotan disinfektan, tempat cuci tangan, hand sanitizer tiap ruang kelas, etika batuk, pengaturan meja kursi separuh kapasitas, pengadaan Alat Pelindung Diri (APD), menambah jaringan internet Sanitasi: penambahan wastafel/fasilitas cuci tangan dengan sabun dan air mengalir, kebersihan Kamar mandi. Jadi

(3)

117

setiap lembaga pendidikan, sekolah harus melakukan persiapan protokol kesehatan agar dapat melaksanakan proses Pertemuat Tatap Muka (PTM).

COVID-19

Menurut Kementerian Kesehatan (Kemenkes, 2020), Covid-19/coronavirus merupakan keluarga besar virus yang menyebabkan penyakit pada manusia dan hewan.

Pada manusia biasanya menyebabkan penyakit infeksi saluran pernapasan, mulai flu biasa hingga penyakit yang serius seperti Middle East Respiratory Syndrome (MERS) dan Sindrom Pernafasan Akut Berat/ Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS). Coronavirus jenis baru yang ditemukan pada manusia sejak kejadian luar biasa muncul di Wuhan, Cina, pada Desember 2019, kemudian diberi nama Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS-COV2), dan menyebabkan penyakit Coronavirus Disease-2019 (Covid-19). Gejala umum berupa demam 38 derajat Celcius, batuk kering, dan sesak napas. Seperti penyakit pernapasan lainnya, Covid-19 dapat menyebabkan gejala ringan termasuk pilek, sakit tenggorokan, batuk, dan demam. Sekitar 80% kasus dapat pulih tanpa perlu perawatan khusus. Sekitar 1 dari setiap 6 orang mungkin akan menderita sakit yang parah, seperti disertai pneumonia atau kesulitan bernafas, yang biasanya muncul secara bertahap.

Walaupun angka kematian penyakit ini masih rendah (sekitar 3%), namun bagi orang yang berusia lanjut, dan orang-orang dengan kondisi medis yang sudah ada sebelumnya (seperti diabetes, tekanan darah tinggi dan penyakit jantung), mereka biasanya lebih rentan untuk menjadi sakit parah.

Seseorang dapat tertular dan terinfeksi dari penderita Covid-19. Penyakit ini dapat menyebar melalui tetesan kecil (droplet) dari hidung atau mulut pada saat batuk atau bersin. Droplet tersebut kemudian jatuh pada benda di sekitarnya. Kemudian jika ada orang lain menyentuh benda yang sudah terkontaminasi dengan droplet tersebut, lalu orang itu menyentuh mata, hidung atau mulut (segitiga wajah), maka orang itu dapat terinfeksi Covid-19. Atau bisa juga seseorang terinfeksi Covid-19 ketika tanpa sengaja menghirup droplet dari penderita. Inilah sebabnya mengapa penting untuk menjaga jarak hingga kurang lebih satu meter dari orang yang sakit (Kemenkes, 2020).

SEKOLAH TATAP MUKA

Pendapat Malyana (2020), sekolah tatap muka adalah sistem pembelajaran yang membutuhkan pertemuan langsung atau tatap muka peserta didik dengan guru. Pendidikan berfungsi menghilangkan segala sumber penderitaan rakyat dari kebodohan dan ketertinggalan, membukakan wawasan untuk menambah pengetahuan dan keterampilan.

Pendidikan adalah sebuah usaha untuk meningkatkan ilmu pengetahuan yang didapat baik dari lembaga formal maupun informal untuk memperoleh manusia yang berkualitas. Agar kualitas yang diharapkan dapat tercapai, diperlukan penentuan tujuan pendidikan yang tepat.

Nengrum (2021) dalam penelitiannya mendapati bahwa dalam penyelenggaraan sekolah tatap muka terdapat kelebihan yaitu peserta didik lebih aktif dan antusias, serta untuk penyampaian materi dapat dilakukan dengan menyeluruh. Dari berbagai kajian, peneliti berpendapat bahwa sekolah tatap muka merupakan sistem pembelajaran dengan pertemuan langsung yang dapat meningkatkan ilmu pengetahuan dan keterampilan, karena penyampaian materi pembelajaran yang menyeluruh dan terjadi interaksi antara peserta didik dengan guru, yang ditandai dengan antusias dan keaktifan peserta didik

(4)

118 PENDIDIKAN DI MASA NEW NORMAL

Sebelum menetapkan kembali pada gerakan hidup baru (new normal), sebaiknya didahului tahap transisi, yaitu suatu tahap yang sangat menentukan berhasil tidaknya tahap new normal nantinya. Ada dua tahap perubahan yang bisa diterapkan, yaitu tahap pemutusan dan tahap transisi. Masih banyak yang belum berhasil melewati fase pertama ini karena masyarakat belum disiplin mengikuti protokol kesehatan. Konsekuensinya adalah menjadi sulit memasuki fase-fase berikutnya, yaitu tahap transisi, apalagi tahap new normal.

Jika tahap transisi gagal melaksanakan perubahan, maka kemungkinan akan mengalami kehancuran dan sangat sulit untuk kembali bangkit menuju tahap new normal. Oleh karena itu, penting untuk menyiapkan dan mengatur tahap transisi dengan lebih efektif sebelum menjalani new normal, sebagaimana indikator yang telah disahkan oleh WHO dan pemerintah (Bahri & Arafah, 2020).

Penerapan new normal di tengah pandemi Covid-19 dapat mempengaruhi dunia pendidikan (Abdusshomad, 2020) serta menjadi tantangan yang sulit bagi pengelola aktivitas pendidikan, yaitu lembaga sekolah, termasuk dalam hal pengelolaan sekolah maupun peserta didik. Proses kegiatan belajar mengajar tidak dapat dijalankan seperti biasanya sebelum kehadiran wabah pandemi Covid-19 (Afiyah et al, 2020; Firmansyah &

Kardina, 2020). Ditemukan kendala pada sekolah untuk menghadapi kehidupan baru di antaranya meliputi kesulitan menyediakan fasilitas pendukung wajib kenormalan baru serta kesadaran peserta didik yang masih rendah untuk berkegiatan sesuai dengan kenormalan baru (Mushlih et all., 2020).

Menurut Boy (2020), proses belajar dari rumah yang dilaksanakan saat ini belum dapat disebut sebagai kondisi belajar yang ideal, melainkan kondisi darurat yang harus dilaksanakan. Di berbagai tempat masih terdapat kendala sehingga semua pembelajaran belum dapat bekerja dengan baik. Pemerintah bekerja sama dengan berbagai sektor terkait melakukan berbagai upaya untuk dapat mengatasi hambatan yang terjadi dalam pembelajaran daring, baik dari sisi regulasi, peningkatan kesiapan pendidik, serta perluasan jaringan dan akses sumber belajar, agar dapat berjalan secara efektif. Menurut (D. Santoso, 2020), upaya yang efektif untuk mencegah penyebaran Covid-19 di lingkungan sekolah dan kampus di Kota Salatiga yaitu dengan menerapkan protokol Kesehatan dan melaksanakan kegiatan belajar mengajar secara online.

METODE PENELITIAN

Metode pelaksanaan di dalam pembimbingan sekolah untuk menghadapi kenormalan baru terdiri atas beberapa tahapan; di antaranya tahapan pertama adalah survei, tahapan kedua persiapan, tahapan ketiga pembuatan sarana dan prasarana sekolah, dan keempat adalah pelatihan bagi para peserta didik. Kegiatan survei bertujuan untuk meninjau lokasi serta subjek kegiatan. Tahapan kedua yaitu persiapan dilakukan dengan cara diskusi virtual maupun tatap muka dengan pihak sekolahan mencakup pembahasan SOP serta sarana dan prasarana yang harus tersedia. Tahapan ketika meliputi pembuatan sarana dan prasarana dalam hal ini dipersiapkan beberapa alat termasuk di dalamnya alat cuci tangan massal, penyediaan fasilitas masker hand sanitizer, papan petunjuk serta pengaturan tempat duduk. Tahap kelima yaitu sosialisasi kepada peserta didik dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan. Sosialisasi meliputi penjelasan tentang bahaya corona, hal-hal yang harus diketahui peserta didik dan persiapkan ketika kembali masuk ke sekolah,

(5)

119

pemberian fasilitas kepada seluruh peserta didik, sosialisasi metode cuci tangan dan penggunaan hand sanitizer yang baik dan benar, dan kehidupan keseharian di masa kenormalan baru.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Adanya pandemi Covid-19 merupakan kejadian luar biasa yang berlangsung di seluruh dunia. Akibat dari pandemi ini setidaknya kehidupan bermasyarakat berdampak hampir seluruh sektor termasuk di dunia pendidikan. Namun demikian kegiatan masyarakat tidak boleh berhenti secara total sehingga pemerintah mengeluarkan suatu kebijakan kehidupan kenormalan baru di mana masyarakat harus beradaptasi terhadap kebiasaan baru dan memperhatikan protokol kesehatan. Penyiapan fasilitas dan peningkatan pemahaman dari seluruh karangan menjadi kunci utama tetap jalannya kegiatan masyarakat serta tetap terhindar dari penularan virus.

Sebelum kegiatan dimulai, tahapan perencanaan kegiatan dimulai dengan bekerja sama dengan pihak sekolah. Hal itu dilakukan untuk mengetahui gambaran keadaan sekolah sehingga kegiatan yang dilakukan dapat berjalan dan sesuai dengan rencana. Pembuatan tempat cuci tangan dan hand sanitizer diletakkan di depan pintu gerbang masuk dan di depan seluruh ruangan yang ada di sekolah dengan harapan siapa saja yang beraktivitas di sekolah dapat melakukan pembersihan diri dan terhindar dari Covid-19. Tempat cuci tangan terbuat dari besi dan tandon berkapasitas 250 liter serta dirancang supaya tidak mudah goyah agar tetap aman dari jangkauan. Pada bagian ruang lain di sekolah juga disertai dengan media-media yang selalu mengingatkan akan pentingnya waspada terhadap kejadian Covid 19 seperti poster papan spanduk.

Dengan dilakukannya langkah di atas bukan berarti tanpa hambatan dalam persiapan Sekolah Tatap Muka, tetap ada pro dan kontra yang membuat persiapan menjadi penuh tantangan. Permasalahan yang dihadapi dalam rencana menyambut peserta didik kembali ke sekolah, dengan sebab langsung dan sebab tidak langsung, serta akar masalah sebagai berikut:

- Orang tua tidak dapat mendampingi anaknya dalam pembelajaran jarak jauh - Hasil atau capaian belajar peserta didik tidak maksimal

- Peserta didik tidak dapat focus belajar dalam pembelajaran jarak jauh - Lingkungan rumah yang tidak kondusif, tidak tersedia ruang belajar - Nilai-nilai seperti etika, kejujuran, komunikasi tidak seterbuka di sekolah - Terjadi kekerasan di rumah tanpa terdeteksi oleh guru

- Orang tua tidak ingin anaknya terpapar covid dan ada cluster sekolah

- Tidak yakin anak dapat melakukan protocol kesehatan selama berada di lingkungan sekolah

- Ketersediaan fasilitas pendukung di sekolah yang masih minim

- Pembagian waktu untuk berada di sekolah dinilai kurang efektif, karena terlalu singkat - Sekolah tidak bertanggungjawab jika ada yang terpapar covid

(6)

120

- Pendidik dan tenaga kependidikan belum menerima vaksinasi PENUTUP

Persiapan yang dilaksanakan di SMAN 2 Salatiga dalam pembelajaran tatap muka pada (PTM) masa new normal sudah baik dengan adanya penerapan protokol kesehatan yang telah ditetapkan oleh pemerintah, baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah.

Persiapan SMAN 2 Salatiga diantaranya adalah peserta didik dan guru wajib menggunakan masker baik masker kain maupun masker bedah di lingkungan sekolah, mencuci tangan dengan sabun pada tempat yang sudah disediakan dan mengecek suhu tubuh. Menjaga jarak antar peserta didik di dalam kelas dengan penataan tempat duduk sesuai jarak yang ditentukan maupun di luar kegiatan belajar mengajar dengan tetap menjaga protokol kesehatan. Adanya proses penyemprotan disinfektan di dalam kelas dan lingkungan sekolah secara rutin. Sekolah juga membuat sosialisasi pencegahan Covid-19 di seluruh lingkungan SMAN 2 Salatiga melalui spanduk pencegahan Covid-19 yang ditempelkan di berbagai sudut sekolah. SMAN 2 Salatiga memiliki kesiapan yang baik dalam pelaksanaan Pembelajaran tatap Muka (PTM).

KEPUSTAKAAN

Arifa, F. N. (2020). Tantangan Pelaksanaan Kebijakan Belajar Dari Rumah Dalam Masa Darurat Covid-19. Info Singkat;Kajian Singkat Terhadap Isu Aktual Dan Strategis.

Hayat, A., dkk (2020). Minimalisasi Penyebaran COVID 19 Pada Lingkungan Pesantren, Sekolah dan Puskesmas Melalui Bantuan Alat Wastafel Portabel. TEPAT Jurnal Teknologi Terapan untuk Pengabdian Masyarakat. Volume 3, Nomor 2. 65-72.

Joko, B., S. (2020). Kesiapan Sekolah Pasca Akan Diperbolehkan Pembelajaran Tatap Muka.

Jakarta. Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan Dan Kebudayaan Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan.

Maryani, K. (2020). Penilaian dan Pelaporan Perkembangan Anak Saat Pembelajaran di Rumah di Masa Pendemi Covid-19. Murhum, 1(2), 41–52.

https://doi.org/10.37985/murhum.v1i1.4.

Redaktur. (2020). Persiapan Pembelajaran Era New Normal. KumparanNews.

https://kumparan.com/kumparannews/persiapan-pembelajaran-era- newnormal1tcVKcbeIB8/full.

Wahjudi, M. (2020). Kontroversi Metode Deteksi COVID-19 di Indonesia. KELUWIH: Jurnal Kesehatan dan Kedokteran, Vol. 2 (1), 32-42.

COVID-19 Corona Virus Pandemic. (2020). Worldometer.

Naming the coronavirus disease (COVID-19) and the virus that causes it. (n.d.). World Health Organization.

Penetapan Kedaruratan Kesehatan Masyarakat Corona Virus Disease 2019 (COVID-19).

(2020). Peraturan. Bpk.Go.Id. https://peraturan.bpk.go.id/

Home/Details/135058/keppres-no-11- tahun-2020. di akses 24 Juli 2020

Referensi

Dokumen terkait

Setiap Pendeta, PHMJ dan Karyawan yang akan melakukan aktivitas/kerja, WAJIB memastikan kondisi sehat/fit dan selalu menggunakan Masker yang direkomendasikan (Masker Bedah, Masker

Walaupun keefektifannya tidak bisa dibandingkan dengan masker medis biasa, tapi masker kain bisa dijadikan sebagai alternatif dari kelangkaan masker medis, ketimbang tidak

Semua peserta wajib mematuhi protokol kesehatan dgn menggunakan APD (masker bedah, face shield dan handscoon) & mematuhi alur pemeriksaan sesuai arahan dari

Dalam new normal, kita mengadaptasi beberapa kebiasaan baru antara lain wajib memakai masker ketika berada di luar rumah, menjaga jarak dengan orang lain, sering mencuci

4) Tahap mengembangkan dan menyajikan hasil karya, pada tahap ini guru membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan, model dan berbagi tugas

 Wajib mengenakan masker (motif polos/bukan karakter), membawa masker cadangan, hand sanitizer.  Wajib membawa perlengkapan alat sholat pribadi.  Jika menggunakan

Berdasarkan pelaksanaan kegiatan pengabdian masyarakat ini, terpasang spanduk edukasi protokol kesehatan di lokasi Pasar Subuh, pedagang menggunakan masker kain yang

Setiap Pendeta, PHMJ dan Karyawan yang akan melakukan aktivitas/kerja, WAJIB memastikan kondisi sehat/fit dan selalu menggunakan Masker yang direkomendasikan (Masker Bedah, Masker