RISYWAH POLITIK DALAM PERSPEKTIF HANAFIYYAH
DAN SYAFI’IYYAH
Skripsi
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Hukum (S.H)
Oleh:
BADRUS SURUR CHOIRI NIM: 1112043100022
PROGRAM STUDI PERBANDINGAN MAZHAB FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA 1438 H/ 2017 M
ABSTRAK
Badrus Surur Choiri, NIM: 1112043100022, Risywah Politik Dalam Perspektif Hanafiyyah dan Syafi’iyyah, Program Studi Perbandingan Mazhab, Konsentrasi Perbandingan Mazhab Fikih, Fakultas Syarî’ah dan Hukum, Universitas Islâm Negeri Syarîf Hidâyatullâh Jakarta, 1438 H/ 2017 M. xv + 78 halaman + 12 halaman lampiran.
Skripsi ini merupakan upaya untuk membandingkan pendapat Madzhab Hanafiyyah dan Syafi’iyyah tentang risywah dalam politik serta cara penetapan hukum pada kedua madzhab. Hal tersebut untuk memberikan pengetahuan kepada masyarakat tentang risywah dalam politik khususnya di negara demokrasi menurut Hanafiyyah dan Syafi’iyyah.
Tujuan penelitian ini adalah untuk membandingkan pandangan ulama’ Hanafiyyah dan Syafi’iyyah tentang risywah dalam politik, cara penetapan hukum yang diambil oleh mereka, dan praktik risywah politik di negara demokrasi.
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode penelitian kualitatif yang tertulis dengan menggunakan jenis penelitian normatif yakni metode analisis yang memaparkan hukum yang telah tertulis dalam al-Qur’ân dan al-Hadîts yang kemudian diinterpretasikan oleh para ulama fikih sehingga muncul beberapa pendapat dengan berbagai persamaan dan perbedaan, penelitian ini juga menggunakan penelitian kepustakaan yaitu dengan mengambil bahan pustaka yang relevan dengan masalah ini.
Berdasarkan hasil penelitian skripsi ini menyimpulkan bahwa Risywah politik dalam perspektif Hanafiyyah dan Syaf’iyyah terdapat perbedaan cara pandang, diantaranya Hanafiyyah membolehkan saling memberi untuk menarik simpati meski dalam praktek politik, sementara Syafi’iyyah melarangnya karena menyerupai risywah. Sebab dengan maksud mengejar jabatan dan kekuasaan. Pendapat dari kedua madzhab ini memiliki kekuatan hukum yang mengikat apabila diperkuat dengan instrument-intrumen negara yang mempunyai alat legitimasi yang mempunyai Otoritas dalam masalah Keagamaan.
Kata Kunci : Risywah politik, Hanafiyyah, Syafi’iyyah. Pembimbing : 1. Dr. Supriyadi Ahmad, M.A
2. Atep Abdurofiq, M.Si Daftar Pustaka : Tahun 1955-2017.
vi
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allâh Subhânahu Wata’âla yang telah melimpahkan rahmat, nikmat, taufik, hidayah dan „inayah-Nya, terucap dengan tulus dan ikhlas
Alhamdulillâhi Rabbil ‘âlamîn tiada henti. Sesungguhnya hanya dengan
pertolongan-Nya lah akhirnya penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini. Salâwat seiring salâm semoga selalu tercurah limpahkan kepada insân pilihan Tuhan Nabî akhir zamân Muhammad Sallâllâhu ‘Alaihi Wasallam, beserta para keluarga, sahâbat dan umamatnya. Amin.
Dengan setulus hati penulis menyadari bahwa skripsi ini masih sangat jauh dari kesempurnaan. Namun demikian, skripsi ini hasil usaha dan upaya yang maksimal dari penulis. Banyak hal yang tidak dapat dihadirkan oleh penulis didalamnya karena keterbatasan pengetahuan dan waktu. Namun patut disyukuri karena banyak pengalaman yang didapat dalam penulisan skripsi ini. Penulis menyadari sepenuhnya bahwa skripsi ini tersusun bukan semata-mata hasil usaha sendiri, akan tetapi berkat bimbingan dan motivasi dari semua pihak. Oleh karena itu penulis secara khusus ingin menyampaikan terima kasih kepada:
1. Bapak Dr. Phil. Asep Saepudin Jahar, M.A., Dekan Fakultas Syari‟ah dan Hukum serta para Pembantu Dekan Fakultas Syari‟ah dan Hukum Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta;
vii
Perbandingan Mazhab dan ibu Hj. Siti Hana, S. Ag, Lc., M.A Sekretaris Program Studi Perbandingan Mazhab;
3. Bapak Prof. Dr. Yunasril Ali M.A, Dosen Penasehat Akademik Penulis; 4. Bapak Dr. Supriyadi Ahmad, M.A dan Atep Abdurofiq, M.Si dosen
pembimbing skripsi yang telah memberikan arahan, saran dan ilmunya hingga penulisan skripsi ini dapat diselesaikan dengan baik;
5. Seluruh dosen Fakultas Syari‟ah dan Hukum Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullâh Jakarta, yang telah mendidik dan mengajarkan „Ilmu dan Akhlâq yang tidak ternilai harganya, sehingga penulis dapat menyelesaikan studi di Fakultas Syari‟ah dan Hukum Universitas Islâm Negeri (UIN) Syarif Hidayatullâh Jakarta;
6. Pimpinan dan seluruh karyawan Perpustakaan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullâh Jakarta;
7. Kedua orang tua tercinta Ayahanda KH. Choiri Nor Arif (Alm) dan Ibunda Ny. Sakdiyah Basuni, yang telah mencintai saya dengan segenap jiwa dan raga sejak dari kecil, memberikan segala yang mereka bisa, baik doa maupun dukungan sehingga dengan ridha mereka saya bisa sampai seperti ini;
8. Adikku Yusiatul Jennah Choiri, tercinta dan seluruh keluarga besar yang terus menerus memberikan semangat yang luar biasa;
9. Calon tulang rusukku Adek Dian Akhyarini yang selalu memberikan motivasi dalam bentuk moril dan Do‟a.
viii
11. Sahabat-sahabat seperjuangan, khususnya mahasiswa penerima beasiswa Etos UIN Jakarta. Teman-teman Mahasiswa/i Perbandingan Mazhab Fakultas Syari‟ah dan Hukum UIN Jakarta angkatan 2012;
12. Teman-teman PT. AMS (Ayam Monyet Sejahtera);
13. Semua pihak yang turut membantu dalam menyelesaikan skripsi ini yang tidak dapat disebutkan satu persatu.
Akhir kata, semoga Allah Subhânahu Wata’âlâ memberikan pahala atas bantuan yang telah diberikan kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini. Semoga apa yang telah kalian berikan menjadi berkah dan amal kebajikan serta bermanfaat bagi kita semua. Amin.
Jakarta, 22 Mei 2017
BADRUS SURUR CHOIRI NIM: 1112043100022
ix
HALAMAN JUDUL ... i
LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii
LEMBAR PENGESAHAN ... iii
LEMBAR PERNYATAAN ... iv ABSTRAK ... v KATA PENGANTAR ... vi DARTAR ISI ... ix PEDOMAN TRANSLITERASI ... xi BAB I : PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang Masalah... 1
B. Identifikasi Masalah ... 5
C. Batasan Masalah Dan Rumusan Masalah ... 6
D. Tujuan Dan Manfaat Penelitian ... 7
E. Tinjauan (review) Kajian Terdahulu ... 8
F. Kerangka Berfikir ... 9
G. Metode Penelitian ... 10
H. Sistematika Penulisan ... 12
BAB II : RISYWAH POLITIK ... 14
A. Pengertian ... 14
B. Unsur-Unsur Risywah ... 19
C. Istilah-Istilah Yang Dapat Disamakan Dengan Risywah ... 20
x
A. Riwayat Hidup Imam Abu Hanifah dan Imam Asy-Syafi‟i ... 25
B. Pendidikan Imam Abu Hanifah dan Imam Asy-Syafi‟i ... 30
C. Guru-Guru Imam Abu Hanifah dan Imam Asy-Syafi‟i ... 34
D. Murid-Murid Imam Abu Hanifah dan Imam Asy-Syafi‟i ... 37
E. Karya-Karya Imam Abu Hanifah dan Imam Asy-Syafi‟i ... 40
F. Kehidupan Politik Imam Abu Hanifah dan Imam Asy-Syafi‟i ... 43
BAB IV : ANALISIS PERBANDINGAN ... 49
A. Metode Istinbat Hukum Imam Abu Hanifah dan Imam Asy-Syafi‟I ... 49
B. Analisis Perbandingan Dalil-Dalil Madzhab Hanafiyyah dan Syafi‟iyyah Tentang Risywah Politik ... 59
C. Risywah Di Negara Demokrasi Khususnya Indonesia ... 68
BAB V : PENUTUP ... 71
A. Kesimpulan ... 71
B. Saran-Saran ... 72
DAFTAR PUSTAKA ... 73 LAMPIRAN-LAMPIRAN
xi
1. Di dalam naskah skripsi ini banyak dijumpai nama dan istilah teknis
(technical term) yang berasal dari bahasa Arab ditulis dengan huruf Latin.
Pedoman transliterasi yang digunakan untuk penulisan tersebut adalah sebagai berikut:
ARAB LATIN
Kons. Nama Kons. Nama
ا Alif Tidak dilambangkan
ب Ba B Be
ت Ta T Te
ث Tsa Ts Te dan es
ج Jim J Je
ح Cha H Ha dengan dengan bawah
خ Kha Kh Ka dan ha
د Dal D De
ذ Dzal Dz De dan zet
ر Ra R Er
ز Zay Z Zet
س Sin S Es
ش Syin Sy Es dan ye
ص Shad S Es dengan garis bawah
ض Dhat D De dengan garis bawah
ط Tha T Te dengan garis bawah
ظ Dzha Z Zet dengan garis bawah
1 Pusat Peningkatan dan Jaminan Mutu (PPJM), Pedoman Penulisan Skripsi, (Ciputat:
xii ف Fa F Ef ق Qaf Q ki ك Kaf K Ka ل Lam L El م Mim M Em ن Nun N En و Wawu W We ـه Ha H Ha ء Hamzah ‟ Apostrof ي Ya Y Ye
2. Vokal tunggal atau monoftong dan vocal rangkap atau diftong bahasa Arab yang lambangnya berupa gabungan antara harakat dengan huruf. Transliterasi vocal tunggal dalam tulisan Latin dilambangkan dengan gabungan huruf sebagai berikut:
Tanda Vokal Arab Tanda Vokal Latin Keterangkan ؘ ‒ A Fathah ؘ ‒ I Kasrah ؘ ‒ I Dammah
Sedangkan Transliterasi vocal rangkap dalam tulisan Latin dilambangkan dengan gabungan huruf sebagai berikut:
xiii ؘ
ي ‒ Ai A dan I
ؘ
و ‒ Au A dan U
3. Vokal panjang atau maddah bahasa Arab yang lambangnya berupa harakat dan huruf, transliterasinya dalam tulisan Latin dilambangkan dengan huruf dan tanda macron (coretan horisontal):
ﺂ
 A dengan topi di atasى
ؘ‒ Î I dengan topi di atas
ؘ
و‒ Û U dengan topi di atas
4. Kata sandang, yan dalam bahasa arab dilambangkan dengan huruf (لا), dialihaksarakan menjadi huruf “l” (el), baik diikuti huruf syamsiyyah maupun huruf qomariyyah, Misalnya:
داهتجلإا = al-ijtihad
ةصخرلا = al-rukhsah, bukan ar-rukhsah
5. T a’ ma b utah mati atau yang dibaca seperti ber-ha a at su un transliterasinya dalam tulisan Latin dilambangkan dengan huruf “h”, sedangkan t a’ ma b tah yang hidup dilambangkan dengan huruf “t”, misalnya ( للاِهْلا ُةَي ْؤُر = u’yah al-hilâl atau u’yatul hilâl ).
6. Tasydîd, syaddah atau tasydid dilambangkan dengan huruf yaitu dengan menggandakan huruf yang diberi tanda syaddah itu. Akan tetapi, hal ini tidak berlaku jika huruf yang menerima tanda syaddah itu terletak setelah kata sandang yang diikuti oleh huruf-huruf syamsiyyah. Misalnya:
ّشلا
1 BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Masalah khilafiah merupakan persoalan yang terjadi dalam realitas kehidupan manusia. Di antara masalah khilafiah tersebut ada yang menyelesaikannya dengan cara yang sederhana dan mudah, karena ada saling pengertian berdasarkan akal sehat. Tetapi dibalik itu masalah khilafiah dapat menjadi ganjalan untuk menjalin keharmonisan di kalangan umat Islam karena sikap ta’asub (fanatik) yang berlebihan, tidak berdasarkan pertimbangan akal sehat dan sebagainya.1
Perbedaan pendapat dalam lapangan hukum sebagai hasil penelitian (ijtihad), tidak perlu dipandang sebagai faktor yang melemahkan kedudukan hukum Islam, bahkan sebaliknya bisa memberikan kelonggaran kepada orang banyak. Hal ini berarti, bahwa orang bebas memilih salah satu pendapat dari pendapat yang banyak itu, dan tidak terpaku hanya kepada satu pendapat saja.
Kelahiran madzhab-madzhab hukum dengan pola dan karakteristik tersendiri ini, tak pelak lagi menimbulkan berbagai perbedaan pendapat dan beragamnya produk hukum yang dihasilkan. Para tokoh atau imam madzhab seperti Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi‟i, Imam Ahmad dan lainnya, masing-masing menawarkan kerangka metodologi, teori dan kaidah-kaidah ijtihad yang menjadi pijakan mereka dalam menetapkan hukum. Metodologi,
1
Musthafa Muhammad Syak‟ah, Islam Tanpa Mazhab, Cet. I (Solo: PT. Tiga Serangkai Pustaka Mandiri, 2008), h. Ix.
teori dan kaidah-kaidah yang dirumuskan oleh para tokoh dan para Imam Madzhab ini, pada awalnya hanya bertujuan untuk memberikan jalan dan merupakan langkah-langkah atau upaya dalam memecahkan berbagai persoalan hukum yang dihadapi baik dalam memahami nash al-Quran dan al-Hadits maupun kasus-kasus hukum yang tidak ditemukan jawabannya dalam nash.
Metodologi, teori dan kaidah-kaidah yang dirumuskan oleh para imam madzhab tersebut terus berkembang dan diikuti oleh generasi selanjutnya dan ia
-tanpa disadari- menjelma menjadi doktrin (anutan) untuk menggali hukum dari
sumbernya. Dengan semakin mengakarnya dan melembaganya doktrin pemikiran hukum di mana antara satu dengan lainnya terdapat perbedaan yang khas, maka kemudian ia muncul sebagai aliran atau madzhab yang akhirnya menjadi pijakan oleh masing-masing pengikut madzhab dalam melakukan istinbat hukum.2
Teori-teori pemikiran yang telah dirumuskan oleh masing-masing madzhab tersebut merupakan sesuatu yang sangat penting artinya, karena ia menyangkut penciptaan pola kerja dan kerangka metodologi yang sistematis dalam usaha melakukan istinbat hukum. Penciptaan pola kerja dan kerangka metodologi tersebut inilah dalam pemikiran hukum Islam disebut dengan ushul
fiqh.3
Sampai saat ini Fiqih ikhtilaf terus berlangsung, mereka tetap berselisih paham dalam masalah furu’iyyah, sebagai akibat dari keanekaragaman sumber dan aliran dalam memahami nash dan mengistinbatkan hukum yang tidak ada
2 M. Ali Hasan, Perbandingan Mazhab, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2002), h.
13
nashnya. Perselisihan itu terjadi antara pihak yang memperluas dan mempersempit, antara yang memperketat dan yang memperlonggar, antara yang cenderung rasional dan yang cenderung berpegang pada zahir nash, antara yang mewajibkan madzhab dan yang melarangnya.
Adanya madzhab dan perselisihan beberapa kelompok membawa dampak yang buruk dan berbahaya bagi islam dan kaum muslimin, padahal, islam ditandai dengan toleransi. Islam menyeru kepada keselamatan. Para generasi islam diwarnai dengan darah-darah dari sebagian yang lain akibat perselisihan madzhab dan sempitnya kesadaran yang terjadi kepada mereka yang fanatik terhadap madzhab mereka.4
Seiring berjalannya waktu, bahaya bertebaran dari tempatnya dan pertikaian yang terjadi antar madzhab-madzhab yang berselisih menempati tempat yang jelas pada kehidupan muslimin, sedangkan kemenangan dimiliki oleh yang kuat, Yaitu pemilik kekuasaan.
Dalam menghasilkan produk hukum, para Imam Madzhab melihat dari sumber-sumber hukum terlebih dahulu. Sumber-sumber hukum tersebut adalah: Al-quran, As-sunnah, Ijmak dan Qiyas.
Lebih lanjut perintah untuk mengembalikan segala permasalahan yang diperselisihkan kepada Allah dan Rasul-Nya, berarti perintah menggunakan qiyas, bilamana tidak menjumpai nash (Al quran dan as-sunnah) atau ijmak. Dalam keadaan seperti ini akal harus berperan untuk memahami jiwa nash tersebut dengan cara membandingkan sesuatu yang sudah ada hukumnya.
Kemudian masih ada lagi sumber-sumber hukum yang dipergunakan oleh sebagian ulama‟ dan tidak dipergunakan oleh ulama‟ lainnya. Seperti: Maslahah
Mursalah, Istishab, „Urf, Mazhab shahaby dan Syar’uman Qablana (Syariat
orang-orang yang sebelum kita).5
Dengan adanya metodologi pengambilan sumber-sumber hukum yang berbeda inilah terjadi perbedaan jalan pemikiran dalam menetapkan suatu hukum. Sehingga menjadi khilafiyyah dikalangan umat islam.
Seiring dengan bertambahnya jumlah dan persebaran manusia dimuka bumi ini dengan segala kepentingan-kepentingannya, maka manusia terpecah belah menjadi kelompok-kelompok dalam sosial kemasyarakatan yang saling bekerjasama antara satu dengan yang lainnya, yang dikumpulkan oleh suatu model tetap dari berbagai perhubungan, yang bekerja untuk mewujudkan tujuan-tujuan secara bersama-sama baik tujuan-tujuan Agama, politik maupun ekonomi.6
Dalam hal mengatur masyarakat dengan segala pertumbuhannya, keberadaannya dan perubahannya memerlukan studi teratur mengenai tatacara mengatur, memimpin dan memutuskan sehingga diperlukan pemimpin-pemimpin yang cerdas dan lihai serta handal dalam menyelesaikan segala bentuk fenomena sosial yang ada.7
Untuk mewujudkan seorang pemimpin maka diperlukan suatu kompetisi yang dilakukan dengan sistem politik yang disepakati dan telah dijadikan konsitusi dalam kehidupan bernegara, berbangsa dan beragama.
5
M. Ali Hasan, Perbandingan mazhab, h. 7-8
6 Murad Mahmud Haidar, Pembentukan jama’ah dan partai politik dalam perspektif
fikih, (Jakarta: LTQ Al Taqwa, 2014), h. 28-29
7 Roy C. Macridis dan Bernard E. Brown, Perbandingan Politik, (Jakarta: Erlangga,
Pilpres, pilkada, pilleg bahkan sampai pemilihan ketua dalam Jamaah Islampun ternyata menjadi kesempatan yang menguntungkan bagi kader tokoh masyarakat dan orang yang mempunyai hak pilih untuk mencari keuntungan mendapatkan uang atau barang berharga lainnya. Mereka yang menerima berdalih sebagai shodaqah, hibah atau hadiah. Dan untuk yang tidak mau menerima, karena menganggap pemberian itu termasuk risywah. Sementara dari pihak calon ada pula dalam mengeluarkan harta yang dibagi-bagikan menjelang pencalonan dirinya diniatkan untuk mengeluarkan sedekah, hadiah, ongkos kerja dan sesamanya.8
Oleh karena itu penulis, akan mengangkat permasalahan ini dalam penelitian yang akan penulis beri judul dengan “RISYWAH POLITIK DALAM PERSPEKTIF HANAFIYYAH DAN SYAFI’IYYAH”
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan diatas, maka identifikasi masalahnya sebagai berikut:
1. Bagaimana pandangan-pandangan Ulama Hanafiyyah dan Syafi‟iyyah tentang risywah politik?
2. Metodologi serta dalil-dalil apa yang digunakan ulama‟-ulama‟ Hanafiyyah dan Syafi‟iyyah dalam menetapkan suatu hukum seputar
risywah?
3. Apa sebab-sebab terjadinya perbedaan pandangan hukum antara Hanafiyyah dan Syafi‟iyyah tentang risywah dalam politik?
4. Apakah hukum pemberian Sedekah atau Hadiah yang dimaksudkan agar penerima memilih calon tertentu, termasuk kategori risywah?
5. Bagaimana hukum risywah politik untuk memenangkan partai politik Islam?
6. Apakah pemberian kepada tim sukses parpol atas nama transport, ongkos kerja, kompensasi meninggalkan kerja termasuk kategori risywah?
7. Sejauh mana keberlakuan hukum antara pendapat ulama Hanafiyyah dan Syafi‟iyyah dikalangan elit politik di Indonesia?
C. Batasan Masalah Dan Rumusan Masalah 1. Batasan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah yang penulis kemukakan diatas, agar permasalah yang akan penulis bahas tidak meluas, maka penulis membatasinya hanya sekitar mengenai perbandingan cara pandang penetapan hukum risywah politik antara Madzhab Hanafiyyah dan Syafi‟iyyah, analisis perbandingan kedua madzhab ini serta keberlakuannya di era-demokrasi khususnya demokrasi pancasila.
Risywah politik merupakan praktek menyuap masyarakat untuk mendapatkan suara dukungan dengan uang, sembako, sarung dan lain-lain supaya bisa menduduki posisi strategis pemerintahan dan kekuasaan.
Fokus penelitian ini terbatas pada masalah furu‟iyyah tentang risywah politik dalam perbandingan ulama‟-ulama‟ Hanafiyyah dan Syafi‟iyyah.
2. Rumusan Masalah
Berdasarkan pada batasan masalah diatas dan dalam rangka mempermudah dalam menganalisa permasalahan, penulis menyusun suatu rumusan masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana hukum risywah menurut Hanafiyyah dan Syafi‟iyyah? 2. Apa dali-dalil yang diambil oleh kedua Madzhab tersebut tentang
risywah politik dan hal-hal yang berkaitan dengannya?
3. Pendapat mana yang relevan dengan politik di negara demokrasi khususnya demokrasi pancasila?
D. Tujuan dan Manfaat Penelitian
Dalam penulisan ini, ada beberapa tujuan yang hendak dicapai oleh penulis. Dan tujuan yang dimaksud adalah:
1. Untuk membandingkan cara penetapan hukum yang dilakukan Ulama‟-ulama‟ Hanafiyyah dan Syafi‟iyyah tentang risywah politik.
2. Untuk mengidentifikasi dalil-dalil yang dipakai oleh kedua Madzhab tersebut dalam hal ikhwal risywah politik.
3. Untuk melihat sejauh mana teori dan praktik risywah dalam negara demokrasi khususnya demokrasi pancasila.
Adapun manfaat atau kegunaan penelitian ini adalah:
1. Bagi para akademisi memperluas wawasan seputar risywah politik dan hal-halyang berkaitan dengannya.
2. Memberikan informasi kepada pembaca tentang dalil-dalil dalam risywah, sedekah, dan hadiah dalam politik serta metodologi apa yang dipakai dalam menetapkan hukum-hukumnya.
3. Menambah literatur perpustakaan khususnya dalam bidang perbandingan Madzhab dan Hukum.
E. Tinjauan (review) Kajian Terdahulu
Untuk mengetahui kajian terdahulu yang telah ditulis oleh yang lainnya, maka penulis me-review beberapa kajian pustaka terdahulu yang pembahasannya hampir sama dengan pembahasan yang penulis angkat. Dalam hal ini penulis menemukan beberapa:
1. Skripsi dengan Judul “Money Politic perspektif Hukum Islam dan Hukum
Positif” Fakultas Syari‟ah UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta, disini
membahas politik uang yang menekankan terhadap dua perbandingan Umum yaitu, Hukum Islam dan Hukum Positif.
2. Risywah politik (Studi analisis keputusan bahsul masail NU pondok
pesantren Lirboyo Jawa Timur), disini bahsul masail NU menjelaskan
tetang riswah politik secara umum tidak dalam perbandingan dengan merujuk pada Kitab-kitab klasik ala pesantren.
3. Skripsi dengan Judul “Kriteria Money Politic dalam pemilu perspektif
Hukum Islam” Fakultas Syari‟ah UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta, pada
skripsi ini membahas karakteristik-karakteristik yang tergolong dalam kategori politik uang serta praktik-praktik yang terjadi dalam pemilu. Dan juga melihat dalam perspektif hukum islam secara umum tanpa adanya
sebuah perbandingan pada Madzhab-madzhab dalam hukum islam itu sendiri.
Pembahasan dalam tiga buku yang telah penulis kemukakan diatas, difokuskan pada kajian perbandingan secara umum dan hukum risywah sebagai refleksi dari praktek politik, sedangkan pembahasan mengenai risywah politik dalam perbandingan Hanafiyyah dan Syafi‟iyyah tidak dibahas sama sekali. Dengan demikian permasalahan yang penulis angkat dalam skripsi ini, jauh berbeda dengan tiga buku tersebut dan belum ada yang membahasnya.
F. Kerangka Berfikir
Dengan mengetahui letak perbedaan dan metode penetapan hukum yang dilakukan Madzhab Hanafiyyah dan Syafi‟iyyah dalam hal ikhwal risywah politik, maka hal ini menjadi perhatian yang sangat serius bagi penulis untuk meneliti tentang Risywah politik dalam perbandingan Madzhab Hanafiyyah dan Syafi‟iyyah.
Kerangka berpikir akan digambarkan dalam diagram dibawah ini:
RISYWAH POLITIK DALAM PERBANDINGAN HANAFIYAH DAN SYAFI‟IYYAH
PANDANGAN ULAMA HANIAFIYAH DAN METODE ISTINBAT HUKUMNYA
PANDANGAN ULAMA SYAFI‟IYYAH DAN METODE ISTINBAT
HUKUMNYA
ANALISIS
G. Metode Penelitian 1. Jenis penelitian
Penelitian ini merupakan riset pustaka (library research) pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan normatif. Penelitian hukum normatif disebut juga penelitian hukum doktrinal. Pada penelitian hukum jenis ini, acap kali hukum dikonsepkan sebagai apa yang tertulis atau hukum dikonsepkan sebagai kaidah atau norma yang merupakan patokan berprilaku manusia yang dianggap pantas. 9 kaitannya dengan penelitian ini, yang dimaksud dengan hukum yaitu hukum islam (fiqih) yang bersumber dari al-Quran dan as-Sunnah yang kemudian diinterpretasikan oleh para Ulama sehingga muncul beberapa pendapat dengan berbagai persamaan dan perbedaan. Yang menjadi objek penelitian pustaka ini adalah Riswah politik dalam perbandingan Hanafiyyah dan Syafi‟iyyah.
2. Kriteria dan Sumber Data
Data yang terhimpun dalam penelitian ini terdiri menjadi (3) tiga, yaitu sumber data primer, sumber data skunder dan sumber data tersier.
a. Data primer, yaitu data yang berhubungan langsung dengan objek penelitian dalam kerangka perspektif para ulama yang telah menjelaskan risywah politik, dan sumbernya dari Kitab-kitab klasik para Ulama khususnya Ulama-ulama Hanafiyyah dan Syafi‟iyyah, seperti:
9 Amiruddin dan Zainal Asikin, Pengantar Metode Penelitian Hukum, (Jakarta: PT. Raja
1. Kitab al-Muhith al-Burhani, karya Imam Burhanuddin al-Hanafi (Hanafiyyah).
2. Kitab al-Ikhtiyar li ta’lilil mukhtar, karya Mahmudz abu daqiqah (Hanafiyyah).
3. Kitab Ar-Risalah, Karya Muhammad bin idris (Syafi’iyyah). 4. Kitab Raudatut Talibin, Imam Nawawi (Syafi’iyyah). 5. Kitab Kifayatul akhyar, Imam Taqiyuddin (Syafi’iyyah).
6. Kitab al-Hawi al-Kabir, karya Abi hasan bin Muhammad ali (Syafi’iyyah).
b. Data skunder, yaitu data yang berkaitan dengan data-data primer tetapi tidak langsung diambil dari karangan kedua Imam tersebut antara lain:
1. Kitab musnad Imam Ahmad bin hanbal, karya Abu abdillah ahmad ibn hanbal
2. Kitab Shahih Bukhary, karya Abu abdillah Muhammad ibn ismail al-Bukhary.
3. Kitab Ahkamul Fuqaha, (bahsul masail NU, Jatim)
4. Kitab al-Halal wa al-Haram fi al-Islam, karya Yusuf al-Qardawi. c. Sumber data tersier, meliputi Kamus-kamus dan Ensiklopedia Islam. 3. Teknik pengumpulan data
Untuk mendapatkan data yang lebih akurat dan faktual, teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan studi pustaka data-data kualitatif. Yaitu dengan mengumpulkan bahan-bahan (referensi) yang terkait serta
mempunyai relevansi dengan penelitian.10 Adapun tehnik pengumpulan data yang peneliti gunakan adalah dokumentasi, yaitu bahan-bahan yang telah tersusun baik berupa Kitab-kitab Ulama, buku maupun Jurnal yang memiliki kaitan dengan pembahasan judul.
4. Analisis data
Analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif, yaitu menganalisis data yang telah dikumpulkan yang berisi informasi, pendapat dan konsep para ulama, serta analisis hukum yang bersifat komprehensif yaitu menggambarkan tentang pandangan-pandangan dan metode istinbat dalam menetapkan hukum seputar risywah politik. Serta melihat dan membandingkan argumentasi mereka seputar dalil-dalil yang mereka gunakan dalam menyikapi permasalahan ini.
5. Teknis penulisan skripsi
Penulisan skripsi ini berpedoman pada “Buku Pedoman Penulisan Skripsi Fakultas Syari‟ah dan Hukum Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta yang diterbitkan oleh FSH UIN Jakarta tahun 2012”.
H. Sistematika Penulisan
Untuk memudahkan dalam penulisa Skripsi ini, penulis membuat sistematika penulisan dengan membagi kepada 5 (lima) bab, tiap-tiap bab terdiri dari sub-sub bab dengan rincian sebagai berikut:
BAB I: Pendahuluan yang berisi tentang latar belakang masalah, identifikasi masalah, batasan dan rumusan masalah, tujuan
penelitian, manfaat penelitian, review terdahulu, kerangka berfikir, metode penelitian dan sistematika penulisan.
BAB II: Membahas tentang pengertian politik, risywah, unsur-unsur
risywah, istilah-istilah yang berkaitan dengan risywah serta
dalil-dalil tentang risywah.
BAB III: Membahas tentang biografi, pola pemikiran dan kehidupan politik Imam Abu hanifah dan Imam asy-Syafi‟i
BAB IV: Membahas tentang analisis perbandingkan kedua Madzhab tersebut baik secara normatif, sosiologis maupun politis.
14
RISYWAH POLITIK
A. Pengertian
Secara etimologis berasal dari bahasa Arab “وشری – اشر” yang masdar ةوشر yang berarti لعجلا yaitu upah, hadiah, komisi atau suap. Ibnu Manzhur mengemukakan tentang makna risywah, dari kalimat “ خرفلا اشر “ anak burung merengek-rengek ketika mengangkat kepalanya kepada induk untuk di suapi.1
Sedangkan didalam “Mu‟jam al-Wasith” mengemukan rasya al-farakhu, artinya anak puyuh itu menjulurkan kepalanya kepada induknya.
Adapun secara terminologi, Para fuqaha bervariasi memberikan definisi tentang risywah, diantaranya :
a. Al-„Asqalani, risywah adalah :
لِحَی َلَ اَم ىَلَع اًنْوَع ُهاَج يِذ ْنِم ِهِب َعاَتْبَيِل َعِفُد لاَم ّلُك ةَوْشِّرلا
2
Artinya:“Setiap uang yang diberikan kepada pejabat sebagai kompensasi
atas pertolongan yang batil.”
b. Yusuf al-Qardhawi mengatakan, risywah adalah “uang yang diberikan kepada penguasa atau pegawai, supaya penguasa atau pegawai tersebut menjatuhkan hukuman yang menguntungkannya”.3
1 Muhammad ibnu Makram ibn Manzhur al-Afriki al-Mishri, Lisanul „Arab, (Beirut: Dar
al-Shadur, 1374 H), jilid ke- 14, h. 322.
2 Ahmad bin „Ali Ibn Hajar al- „Asqalanị, Fath al-Barị syarh Ṣahih al-Bukhari, (Riyaḍ:
Dar al-Salam, 2001 M/ 1421 H ), jilid ke- 5 , h. 311.
3 Yusuf Qardawị, Halal wa Haram fi Islam, (Beirut: Maktabah
c. Abdullah Ibn Abd. Muhsin mengatakan risywah adalah sesuatu yang diberikan kepada seseorang dengan syarat orang yang diberi tersebut dapat menolak orang yang memberi.4
d. Sayyid Abu Bakr mendefinisikan risywah sebagai “Memberikan sesuatu agar hukum diputuskan secara tidak benar/ tidak adil, atau untuk mencegah putusan yang benar atau adil.”5
e. Menurut Abd al-Azhim Syam al-Haq adalah “Sebuah perantara untuk dapat memudahkan urusan dengan pemberian sesuatu atau pemberian untuk membatalkan yang benar atau untuk membenarkan yang batil”. Penyuapan adalah dilakukan demi mengharapkan kemenangan dalam perkara yang diinginkan seseorang, atau ingin memudahkan seseorang dalam menguasai hak atas sesuatu.6
f. Sedangkan Ahmad Mukhtar dalam Mu‟jam al-Lugah al-„Arabiyah al
Mu‟asirah, risywah adalah “Pemberian yang tidak benar untuk
kepentingan tertentu, atau untuk membenarkan yang salah ( لطابلا ) dan menyalahkan yang benar (قحلا)”.7
g. Al-Gharyani berpendapat, risywah adalah upaya untuk mendapatkan sesuatu dengan rekayasa dan membayarkan sejumlah uang.8
4
Abdullah Bin Abd. Muhsin, Suap Dalam Pandangan Islam, trjmh. Muchotob Hamzah
dan Subakir Saerozi, (Jakarta: Gema Insani Press, 2001), h. 9.
5 Sayyid Abu Bakr, I‟anatuth Thalibin, (Semarang: Toha Putra, 2000), jilid ke-4, h. 261. 6 Tim Penulis Depdikbud RI, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Pustaka
Panjimas, 1980), h. 720.
7 Ahmad Mukhtar Umar, Mu‟jam al-Lugah al-„Arabiyah al-Mu‟asirah, (Kairo: „Alam
al- Kutub, 2008), jilid 1, h. 897.
8 Al-Shadiq Abdurrahman al-Gharyani, Fatwa-Fatwa Muamalah Kontemporer, (
h. Sedangkan Nurul Irfan menyebutkan, risywah adalah sesuatu yang diberikan dalam rangka mewujudkan kemaslahatan atau sesuatu yan diberikan dalam rangka membenarkan yang salah atau menyalahkan yang benar.
Menurut undang-undang republik Indonesia No. 11 tahun 1980 tentang tindak pidana suap, suap didefenisikan sebagai memberi atau menjanjikan sesuatu kepada seseorang dengan maksud untuk membujuk supaya orang itu berbuat sesuatu atau tidak berbuat sesuatu dalam tugasnya yang berlawanan dengan kewenangan atau kewajiban yang menyangkut kepentingan umum.9
Suap atau sogok adalah suatu pemberian dalam bentuk hadiah yang diberikan kepada orang lain dengan mengharapkan imbalan tertentu yang bernilai lebih besar. Selain itu bisa juga diterjemahkan sebagai suatu perbuatan memberikan sesuatu dengan tujuan membatalkan suatu yang haq atau untuk membenarkan suatu yang batil.
Al-Fayyumi mengatakan bahwa risywah secara terminologis berarti pemberian yang diberikan seseorang kepada hakim atau selainnya untuk memenangkan perkaranya memenuhi apa yang ia inginkan. Sedangkan Ibnu al-Atsir rahimahullah mengatakan bahwa risywah ialah sesuatu yang bisa mengantarkan seseorang pada keinginannya dengan cara yang dibuat-buat (tidak semestinya). Dengan kata lain, risywah ialah pemberian apa saja berupa uang atau yang lain kepada penguasa, hakim atau pengurus suatu urusan agar
9 Tim Penyusun Undang-Undang Republik Indonesia, Tindak Pidana Suap,
memutuskan perkara atau menangguhkannya sesuai dengan kehendak pemberi dengan cara yang zalim.
Menurut pakar hukum Tata Negara Universitas Indonesia, Yusril Ihza Mahendra, definisi risywah politik sangat jelas, yakni mempengaruhi massa pemilu dengan imbalan materi. Yusril mengatakan, sebagaimana yang dikutip oleh Indra Ismawan.10 kalau kasus risywah politik bisa di buktikan, pelakunya dapat dijerat dengan pasal tindak pidana biasa, yakni penyuapan. Tapi kalau penyambung adalah figur anonim (merahasiakan diri) sehingga kasusnya sulit dilacak, tindak lanjut secara hukum pun jadi kabur.
Secara umum risywah politik biasa diartikan sebagai upaya untuk mempengaruhi perilaku orang dengan menggunakan imbalan tertentu. Ada yang mengartikan risywah politik sebagai tindakan jual beli suara pada sebuah proses politik dan kekuasaan.
Pemahaman tentang risywah politik sebagai tindakan membagi-bagi uang (entah berupa uang milik partai atau pribadi). Publik memahami risywah politik sebagi praktik pemberian uang atau barang atau iming-iming sesuatu kepada masa (voters) secara berkelompok atau individual, untuk mendapatkan keuntungan politis (political again). Artinya tindakan risywah politik itu dilakukan secara sadar oleh pelakunya.
Praktik risywah politik dapat disamakan dengan uang sogok alias suap, tapi tidak semua kalangan berani secara tegas menyatakan haram. Menurut
10 Indra Ismawan, Money Politics Pengaruh Uang Dalam Pemilu, (Yogyakarta: Penerbit
Pendapat Rusdjdi Hamka, praktik risywah politik tidak berbeda dengan suap, karena itu haram hukumnya.11
Adapun pengertian politik uang adalah pertukaran uang dengan posisi/ kebijakan/ keputusan politik yang mengatasnamakan kepentingan rakyat tetapi sesungguhnya demi kepentingan pribadi/ kelompok/ partai.12
Politik uang dalam pemilu bisa dibedakan berdasarkan faktor dan wilayah operasinya yaitu:
Pertama, Lapisan atas yaitu transaksi antara elit ekonomi (pemilik uang)
dengan elit politik (pimpinan partai/ calon presiden) yang akan menjadi pengambil kebijakan/ keputusan politik pasca pemilu nanti. Bentuknya berupa pelanggaran dana perseorangan, Penggalangan dana perusahaan swasta, pengerahan dana terhadap BUMN/ BUMD. Ketentuan yang terkait dengan masalah ini berupa pembatasan sumbangan dana kampanye.
Kedua, Lapisan tengah yaitu transaksi elit politik (fungsionaris partai)
dalam manentukan calon legislatif/ eksekutif dan urutan/ pasangan calon. Bentuknya berupa uang tanda jadi caleg, uang harga nomor, uang pindah daerah pemilihan dan lain-lain. Sayangnya tidak satu pun ketentuan peraturan perundangan pemilu yang memungkinkan untuk menjerat kegiatan tersebut (politik uang). Semua aktivitas disini dianggap sebagai masalah internal partai.
Ketiga, Lapisan bawah yaitu transaksi antara elit politik (caleg dan
fungsionaris partai tingkat bawah) dengan massa pemilih. Bentuknya berupa
11 Indra Ismawan, Money Politics Pengaruh Uang Dalam Pemilu, h. 7-8.
12 Didik Supriyanto, Koordinator Pengawasan Panwas Pemilu, htp :// www Panwaslu,
pembagian sembako, “Serangan fajar”, ongkos transportasi kampanye, kredit ringan, peminjaman dan lain-lain. Dalam hal ini ada ketentuan administratif yang menyatakan bahwa calon anggaota DPRD/ DPD (pasangan calon presiden dan/ atau tim kampanye yang terbukti menjanjikan dana dan/ atau memberi materi lainnya untuk mempengaruhi pemilih dapat dibatalkan pencalonannya oleh KPU. B. Unsur - Unsur Risywah
Setelah dikemukan berbagai versi definisi risywah, maka dapat digaris bawahi bahwa unsur-unsur risywah adalah:
1. Penerima risywah, yaitu orang yang menerima suatu dari oang lain baik berupa harta atau uang maupun jasa supaya melaksanakan permintaan penyuap, padahal tidak dibenarkan oleh syara‟ baik berupa perbuatan atau justru tidak berbuat apa-apa.
2. Pemberi risywah, yaitu orang yan menyerahkan harta atau uang atau jasa untuk mencapai tujuan.
3. Suapan, yaitu harta atau uang maupun jasa yang diberikan sebagai sarana untuk mendapatkan sesuatu yang didambakan, diharapkan atau diminta. Menurut para ulama madzhab Hanafi mereka membagi risywah atau suap menjadi empat kategori, yaitu :
1. Suap supaya diangkat sebagai hakim atau penjabat, dan supaya bisa menjadi pegawai kelembagaan negara yang lain.
3. Menyerahkan sejumlah harta kepada seseorang dalam rangka mencegah bahaya (kezhaliman) orang tersebut atau untuk mendapatkan manfaat (yaitu menerima yang menjadi haknya).
4. Memberikan sejumlah harta kepada seseorang yang bisa membantu untuk mendapatkan haknya.
C. Istilah-Istilah Yang Dapat Disamakan Dengan Risywah (Suap) Adapun istilah-istilah yang dapat di samakan dengan risywah antara Lain :
1. Hadiah
Hadiah berasal dalam bahasa Arab yaitu تیدھلا . Dalam bahasa Indonesia, hadiah diartikan sebagai bentuk pemberian dalam rangka kenang -kenangan atau cendera mata.13
Adapun secara terminologi, hadiah adalah pemberian kepada orang lain dengan maksud untuk dimiliki sebagai bentuk penghormatan tanpa minta ganti.14
Hadiah dan suap ibarat dua sisi yang sulit dipisahkan. Keduanya masuk dalam kategori “pemberian” yang hanya dibedakan dalam niatan saja. Dalam fiqh hadiah memang diperbolehkan bahkan dianjurkan. Namun sering kali keikhlasan hadiah direduksi oleh beragam kepentingan dan tujuan pemberiannya, yang mengakibatkan ketidakpastian hukum hibbah tersebut karena sewaktu-waktu hibbah dapat berubah menjadi risywah, tidak ada batasan yang jelas diantara keduanya, melainkan “niat” yang letak tersembunyi dalam kalbu yang bersifat abstrak.
13 Suharso dan Ana Retningsih, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Semarang: Widya
Karya, 2011 ), h. 160.
Tidak semua hadiah harus diterima. Sebab realitas historis yang berjalan masa rasul berbeda dengan historis sekarang. Umar bin Abdul Aziz berkeyakinan bahwa “hadiah pada masa Rasulullah benar-benar murni tanpa tendensi. Namun masa sekarang hadiah berbeda tipis dengan dahulu.
Dalam setiap pemilu uang sebagai instrumen penting untuk mendapatkan dukungan dari pelbagai segmen politik. Karena itu dana tersebut juga di distribusikan kepada berbagai segmen penting dalam masyarakat, seperti tokoh agama, ulama atau tokoh kepemimpinan dan lain-lain.
Perebutan kekuasaan dalam pemilu dengan jalan batil sepeti itu sangat dilarang dalam Islam dan disepakati oleh para ulama sebagai perbuatan haram. Harta yang diterma dari hasil menyuap tersebut tergolong dalam harta yang diperoleh melalui jalan batil.
2. Mushana‟ah
Didalam al-Mu‟jam al-Wasith, di sebutkan bahwa arti kata mushana‟ah adalah melakukan sesuatu untuk orang lain agar orang tersebut melakukan hal lain untuknya sebagai balasan perlakuannya tersebut.15
3. Suht
Suht menurut bahasa adalah segala sesuatu yang buruk dari bentuk-bentuk
usaha. Sedangkan menurut istilah suth adalah setiap harta haram yang tidak boleh di usahakan dan di makan.
15 Ibrahim Musthafa dkk, al-Mu‟jam al-Wasith, (Istanbul: al-Maktabah al-Islamiyah,
D. Kedudukan Risywah Dalam Praktek Multi-Partai
Demokrasi sebagai dasar hidup bernegara memberi pengertian bahwa pada tingkat terakhir rakyat memberikan ketentuan dalam masalah-masalah pokok mengenai kehidupannya, termasuk dalam menilai kebijakan negara, karena kebijakan tersebut menentukan kehidupan rakyat.16
Pemilihan umum (pemilu) merupakan instrumen penting dalam demokrasi yang menganut sistem perwakilan. Pemilu berfungsi sebagai alat penyaring bagi “politikus-politikus” yang akan mewakili dan membawa suara rakyat di dalam lembaga perwakilan, mereka yang terpilih dianggap sebagai orang atau kelompok yang mempunyai kemampuan atau kewajiban untuk bicara dan bertindak atas nama suatu kelompok yang lebih besar melalui partai politik (parpol). Oleh sebab itu adanya partai politik merupakan keharusan dalam kehidupan politik modern yang demokratis. Hal itu dimaksudkan untuk mengaktifkan dan memobilisasi rakyat, mewakili kepentingan tertentu, memberi jalan kompromi bagi pendapat yang berlawanan, serta menyediakan sarana suksesi kepemimpinan politik secara sah dan damai.17
Pemilihan umum hampir tidak mungkin dilaksanakan tanpa kehadiran partai-partai politik di tengah masyarakat. Keberadaan partai juga merupakan salah satu wujud nyata pelaksanaan asas kedaulatan rakyat. Sebab dengan partai-partai politik itulah segala aspirasi rakyat yang kedaulatan berada di tangan rakyat. maka, kekuasaan harus dibangun dari bawah.
16 Moh. Mahfud MD, Hukum Dan Pilar-Pilar Demokrasi, (Yogyakarta: Penerbit Gama
Media, 1999), h. 8.
17 Moh. Mahfud MD, Politik Hukum Di Indonesia, cet ke-2 (Jakarta: Penerbit Rajawali
Dalam pelaksanaanya demokrasi selalu dikotori dengan cara-cara yang tidak baik. Risywah politik kini tidak hanya terjadi ditingkat pemerintahan pusat, tapi sudah sampai dipelosok daerah yang jauh dari pusat pemerintahan.
Sudah tidak asing memang, bahkan pelakunya tidak lagi sembunyi-sembunyi tapi sudah berani terang-terangan. Baik lewat sumbangan sarana prasarana, perbaikan jalan, renovasi sarana sosial, sampai masing-masing individu menerima uang “panas”, dengan syarat memberikan suaranya pada ajang pemilihan dan pemungutan suara.
Risywah politik merupakan bagian integral dari kehidupan modern.
Keberadaannya, sering dinistakan karena dalam banyak hal melahirkan malapetaka kehidupan bersama. Disisi lain, manusia modern mempraktekkannya atas dasar kesadaran dan keyakinan filosifinya agar dapat memenangkan persaingan. filosofi manusia modern mempunyai beberapa ciri. Diantaranya:
pertama, manusia modern hidup berdasarkan rasionalitas yang tinggi. Kedua, kebutuhan manusia terfokus pada materi kebendaan.
Sulit disangkal bahwa transisi menuju demokratisasi di Indonesia dapat terhambat oleh yang mungkin pada awalnya kurang diperhitungkan, seperti politik uang. Apabila politik uang tidak dapat dicegah, akan berpotensi menempatkan reformasi pada posisi deadlock, bahkan setback.
Dan pada akhirnya mereka yang punya uang saja yang akan memegang kedaulatan dan mengontrol kekuasaan, jargon-jargon kedaulatan rakyat akan tereliminasi pada tataran praksis. Tanpa mengurangi arti penting political
parpol menjadi sebuah lembaga akumulasi modal. Partai menjadi sebuah “jembatan” untuk mendapatkan akses politik dan kekuasaan, bukan institusi yang mewadahi kepentingan masyarakat secara luas.18
Kurangnya pemahaman mengenai pondasi dan substansi demokrasi mengakibatkan sebagian besar rakyat Indonesia melihat demokrasi sekadar sebagai ritual (pemilu, pemungutan suara, voting, kebebasan berpendapat, dan sebagainya) sedangkan relevansinya terhadap perbaikan kualitas kebijakan publik cenderung diabaikan. Selain itu melemahnya kepercayaan masyarakat terhadap para wakilnya karena dianggap bahwa semua wakil hanya mengumbar janji, sehingga selama mereka mendapatkan keuntungan kenapa tidak diambil, maka kesemuanya ini menyebabkan politik uang semakin merajalela dan seolah-olah tidak ada yang salah dengan itu.
25
DALAM BIDANG FIQIH
A. Biografi Imam Abu Hanifah Dan Imam Asy-Syafi’i a. Biografi Imam Abu Hanifah
Abu Hanifah dilahirkan pada tahun 80 Hijriah (696 M) dan meninggal di Kufah pada tahun 150 Hijriah (767 M). Abu Hanifah hidup selama 52 tahun dalam masa Umawiyah dan 18 tahun dalam masa Abbasi. Maka segala daya pikir, daya cepat tanggapnya dimiliki di masa Umawi, walaupun akalnya terus tembus dan ingin mengetahui apa yang belum diketahui, keistimewaan akal ulama yang terus mencari tambahan. Apa yang dikemukakan di masa Umawi adalah lebih banyak yang dikemukakan di masa Abbasi.1
Nama beliau dari kecil ialah Nu‟man bin Tsabit bin Zauta bin Mah. Ayah beliau keturunan dari bangsa persi (Kabul-Afganistan), tetapi sebelum beliau dilahirkan, ayahnya sudah pindah ke Kufah. Oleh karena itu beliau bukan keturunan bangsa Arab asli, tetapi dari bangsa Ajam (bangsa selain bangsa arab) dan beliau dilahirkan di tengah-tengah keluarga berbangsa Persia.2
Bapaknya adalah seorang pedagang, dan satu keturunan dengan saudara Rasulullah. Neneknya Zauta adalah suku (bani) Tamim. Sedangkan ibu Hanifah tidak dikenal dikalangan ahli-ahli sejarah tapi walau bagaimanapun juga ia
1 Moenawir Chalil, Biografi Empat Serangkai Imam Mazhab Hanafi, Maliki, Syafi’i,
Hambali, Cet. 9 (Jakarta: Bulan Bintang, 1955), h. 19.
2 Moenawir Chalil, Biografi Empat Serangkai Imam Mazhab Hanafi, Maliki, Syafi’i,
menghormati dan sangat taat kepada ibunya. Dia pernah membawa ibunya ke majlis-majlis atau perhimpunan ilmu pengetahuan. Dia pernah bertanya dalam suatu masalah atau tentang hukum bagaimana memenuhi panggilan ibu. Beliau berpendapat taat kepada kedua orang tua adalah suatu sebab mendapat petunjuk dan sebaliknya bisa membawa kepada kesesatan.3
Pada masa beliau dilahirkan, pemerintah Islam sedang di tangan kekuasaan Abdul Malik bin Marwan (Raja Bani Umayah yang ke V) dan beliau meninggal dunia pada masa Khalifah Abu Ja‟far Al-Mansur. Abu Hanifah mempunyai beberapa orang putra, diantaranya ada yang dinamakan Hanifah, maka karena itu beliau diberi gelar oleh banyak orang dengan Abu Hanifah. Dan menurut riwayat yang lain: sebab beliau mendapat gelar Abu Hanifah karena beliau adalah seseorang yang rajin melakukan ibadah kepada Allah dan sungguh-sungguh mengerjakan kewajiban dalam agama. Karena perkataan “hanif” dalam bahasa arab artinya “cenderung atau condong” kepada agama yang benar. Dan ada pula yang meriwayatkan, bahwa beliau mendapat gelar Abu Hanifah lantaran dari eratnya berteman dengan “tinta”. Karena perkataan “hanifah” menurut lughot Irak, artinya “dawat atau tinta”. Yakni beliau dimana-mana senantiasa membawa dawat guna menulis atau mencatat ilmu pengetahuan yang diperoleh oleh para guru beliau atau lainnya. Dengan demikian beliau mendapat gelar dengan Abu Hanifah.4
3 Ahmad Asy-Syurbasi, al-Aimatul Arba’ah, Penerjemah Sabil Huda dan Ahmadil,
Sejarah dan Biografi Empat Imam Mazhab, Cet. 3 (Jakarta: Sinar Grafika, 2001), h. 15.
4 Moenawir Chalil, Biografi Empat Serangkai Imam Mazhab Hanafi, Maliki, Syafi’i,
Setelah Abu Hanifah menjadi seorang ulama besar, dan terkenal disegenap kota-kota besar, serta terkenal di sekitar Jazirah Arabiyah pada umumnya, maka beliau dikenal pula dengan gelar: Imam Abu Hanifah. Setelah ijtihad dan buah penyelidikan beliau tentang hukum-hukum keagamaan diakui serta diikut oleh banyak orang dengan sebutan “Mazhab Imam Hanafi”.5
b. Biografi Imam Asy-Syafi‟i
Nama lengkap Imam Syafi‟i dengan menyebut nama julukan dan silsilah dari ayahnya adalah Muhammad bin Idris bin Abbas bin Utsman bin Syafi‟i bin As-Saib bin Ubaid bin Abdu Yazid bin Hasyim bin Al Muthalib bin Abdul Manaf bin Qusayy bin Kilab. Nama Syafi‟i diambilkan dari nama kakeknya, Syafi‟i dan Qusayy bin Kilab adalah juga kakek Nabi Muhammad SAW. Pada Abdul Manaf nasab Asy-Syafi‟i bertemu dengan Rasulullah SAW.6
Imam Syafi‟i dilahirkan pada tahun 150 H, di tengah-tengah keluarga miskin di palestina sebuah perkampungan orang-orang Yaman.7 Ia wafat pada usia 55 tahun (tahun 204 H), yaitu hari kamis malam jum‟at setelah shalat maghrib, pada bulan Rajab, bersamaan dengan tanggal 28 juni 819 H di
Mesir.8
Dari segi urutan masa, Imam Syafi‟i merupakan Imam ketiga dari empat orang Imam yang masyhur. Tetapi keluasan dan jauhnya jangkauan pemikirannya dalam menghadapi berbagai masalah yang berkaitan dengan ilmu dan hukum
5 Moenawir Chalil, Biografi Empat Serangkai Imam Mazhab Hanafi, Maliki, Syafi’i,
Hambali, Cet. 9, h. 20.
6
Djazuli, Imu Fiqih Penggalian, Perkembangan Dan Penerapan Hukum Islam, Cet. 5 (Jakarta: Kencana, 2005), h. 129.
7 M Alfatih Suryadilaga, Studi Kitab Hadits, Cet. 1 (Yogyakarta: Teras, 2003), h. 86. 8 M .Bahri Ghazali dan Djumaris, Perbandingan Mazhab, Cet. 1 (Jakarta: Pedoman
fiqih menempatkannya menjadi pemersatu semua imam. Ia sempurnakan permasalahannya dan ditempatkannya pada posisi yang tepat dan sesuai, sehingga menampakkan dengan jelas pribadinya yang ilmiah.9
Ayahnya meninggal saat ia masih sangat kecil kemudian ibunya membawanya ke Makkah, di Makkah kedua ibu dan anak ini hidup dalam keadaan miskin dan kekurangan, namun si anak mempunyai cita-cita tinggi untuk menuntut ilmu, sedang si ibu bercita-cita agar anaknya menjadi orang yang berpengetahuan, terutama pengetahuan agama islam. Oleh karena itu si ibu berjanji akan berusaha sekuat tenaga untuk membiayai anaknya selama menuntut ilmu.
Imam asy-Syafi‟i adalah seorang yang tekun dalam menuntut ilmu, dengan ketekunannya itulah dalam usia yang sangat muda yaitu 9 tahun ia sudah mampu menghafal al-Qur‟an, di samping itu ia juga hafal sejumlah hadits. Diriwayatkan bahwa karena kemiskinannya, Imam Syafi‟i hampir-hampir tidak dapat menyiapkan seluruh peralatan belajar yang diperlukan, sehingga beliau terpaksa mencari-cari kertas yang tidak terpakai atau telah dibuang, tetapi masih dapat digunakan untuk menulis.10 Setelah selesai mempelajari Al-qur‟an dan hadits, asy-Syafi‟i melengkapi ilmunya dengan mendalami bahasa dan sastra Arab. Untuk itu ia pergi ke pedesaan dan bergabung dengan Bani Huzail, suku bangsa Arab yang paling fasih bahasanya. Dari suku inilah, asy-Syafi‟i
9 Mustafa Muhammad Asy-Syaka‟ah, Islam Bila Mazahib, alih bahasa, A.M Basalamah,
Cet. 1 (Jakarta: Gema Insani Press, 1994), h. 349.
mempelajari bahasa dan syair-syair Arab sehingga ia benar-benar menguasainya dengan baik.11
Sesungguhnya Allah telah mempersiapkan Syafi‟i menjadi seseorang yang mengenalkan nilai-nilai fiqih dan itu lebih penting daripada bahasa dan sastra.
Syafi‟i menuntut ilmu di Makkah dan mahir disana. Ketika Muslim bin Khalid az-Zanji memberikan peluang untuk berfatwa, Syafi‟i merasa belum puas atas jerih payahnya selama ini. Ia terus menuntut ilmu hingga akhirnya pindah ke Madinah dan bertemu dengan Imam Malik. Sebelumnya ia telah mempersiapkan diri membaca kitab Al-Muwaththa‟ (karya Imam Malik) yang sebagian besar telah dihafalnya. Ketika Imam Malik bertemu dengan Imam Syafi‟i, Malik berkata, “ Sesungguhnya Allah SWT telah menaruh cahaya dalam hatimu, maka jangan padamkan dengan perbuatan maksiat.”
Mulailah Syafi‟i belajar dari Imam Malik dan senantiasa bersamanya hingga Imam Malik wafat pada tahun 179 H. Selama itu juga ia mengunjungi ibunya di Makkah.12 Kematian Imam Malik berpengaruh besar terhadap kehidupan Imam Syafi‟i. Semula ia tidak pernah memikirkan keperluan-keperluan penghidupannya, tetapi setelah kematian gurunya, hal itu menjadi beban pikiran yang tidak dapat diatasinya.
11 Lahmuddin Nasution, Pembaharuan Hukum Islam Dalam Mazhab Syafi’i, (Bandung:
PT Remaja Rosdakarya, 2001), h. 17.
12 Ahmad asy-Syurbasi, Al-Aimmah Al-Arba’ah, Futuhul Arifin, Terj 4 Mutiara Zaman,
B. Pendidikan Imam Abu Hanifah Dan Imam Asy-Syafi’i a. Pendidikan Imam Abu Hanifah
Pada mulanya Abu Hanifah adalah seorang pedagang, karena ayahnya adalah seorang pedagang besar dan pernah bertemu dengan Ali ibn Abi Thalib.
Pada waktu itu Abu Hanifah belum memusatkan perhatian kepada ilmu, turut berdagang di pasar, menjual kain sutra. Di samping berniaga ia tekun menghapal al-Quran dan amat gemar membacanya. Kecerdasan otaknya menarik perhatian orang orang yang mengenalnya, karena asy-Sya‟bi menganjurkan supaya Abu Hanifah mencurahkan perhatiannya kepada ilmu. Dengan anjuran asy-Sya‟bi mulailah Abu Hanifah terjun ke lapangan ilmu. Namun demikian Abu Hanifah tidak melepas usahanya sama sekali.13 Imam Abu Hanifah pada mulanya gemar belajar ilmu qira‟at, hadits, nahwu, sastra, sya‟ir, teologi dan ilmu-ilmu lainnya yang berkembang pada masa itu. Diantara ilmu-ilmu yang dicintainya adalah ilmu teologi, sehingga beliau salah seorang tokoh yang terpandang dalam ilmu tersebut. Karena ketajaman pemikirannya, beliau sanggup menangkis serangan golongan khawarij yang doktrin ajarannya sangat ekstrim. Selanjutnya, Abu Hanifah menekuni ilmu fiqh di Kufah yang pada waktu itu merupakan pusat perhatian para ulama fiqh yang cenderung rasional. Di Irak terdapat Madrasah Kufah yang dirintis oleh Abdullah ibn Mas‟ud (wafat 63 H/682 M). Kepemimpinan Madrasah Kufah kemudian beralih kepada Ibrahim al-Nakha‟i, lalu Muhammad ibn Abi Sulaiman al-Asy‟ari (wafat 120 H). Hammad ibn Sulaiman adalah salah seorang Imam besar (terkemuka) ketika itu. Ia murid dari
13 Hendri Andi Bastoni, 101 Kisah Tabi’in, Cet. 1 (Jakarta: Pustaka al-Kausar, 2006), h.
„Alqamah ibn Qais dan al-Qadhi Syuri‟ah, keduanya adalah tokoh dan fakar fiqh yang terkenal di Kufah dari golongan tabi‟in. Dari Hamdan ibn Sulaiman itulah Abu Hanifah belajar fiqh dan hadits. Selain itu, Abu Hanifah beberapa kali pergi ke Hijjaz untuk mendalami fiqh dan hadits sebagai nilai tambahan dari apa yang diperoleh di Kufah. Sepeninggal Hammad, majlis Madrasah Kufah sepakat mengangkat Abu Hanifah menjadi kepala Madrasah. Selama itu ia mengabdi dan banyak mengeluarkan fatwa dalam masalah fiqh. Fatwa-fatwanya itu merupakan dasar utama dari pemikiran mazhab Hanafi yang dikenal sekarang ini.14
Kufah dimasa itu adalah suatu kota besar, tempat tumbuh aneka rupa ilmu, tempat berkembang kebudayaan lama. Disana diajarkan filsafah Yunani, Persia dan disana pula sebelum Islam timbul beberapa mazhab, Nasrani memperdebatkan masalah-masalah aqidah serta didiami oleh aneka bangsa. Masalah-masalah politik, dasar-dasar aqidah di Kufahlah tumbuhnya. Disini hidup golongan Syi‟ah, Khawarij, Mu‟tazilah, sebagaimana disana pula lahir ahli-ahli ijtihad terkenal. Di Kufah dikala itu terdapat halaqah ulama: pertama, halaqah untuk mengkaji (mudzakarah) bidang akidah. Kedua, halaqah untuk bermudzakarah dalam bidang fiqh. Dan Abu Hanifah berkonsentrasi kepada bidang fiqih.15
Abu Hanifah tidak menjauhi bidang-bidang lain. Ia menguasai bidang qiraat, bidang arabiyah, bidang ilmu kalam. Dia turut berdiskusi dalam bidang kalam dan menghadapi partai-partai keagamaan yang tumbuh pada waktu itu.
14 Huzaimah Tahido Yanggo, Pengantar Perbandingan Mazhab, Cet. 1 (Jakarta: Logos
Wacana Ilmu, 1997), h. 95.
15 Syaikh Muhammad al-Jamal, Biografi 10 Imam Besar, (Jakarta: Pustaka al-Kausar,
Pada akhirnya ia menghadapi fiqh dan menggunakan segala daya akal untuk fiqh dan perkembangannya. Setelah menyelesaikan pendidikannya di Kufah dan Basrah, Abu Hanifah pergi ke Makkah dan Madinah sebagai pusat dari ajaran agama Islam. Lalu bergabung sebagai murid dari Ulama terkenal Atha‟ bin Abi Rabah.16
Abu Hanifah pernah bertemu dengan tujuh sahabat Nabi yang masih hidup pada masa itu. Sahabat Nabi itu itu di antaranya: Anas bin Malik, Abdullah bin Harist, Abdullah bin Abi Aufah, Watsilah bin al-Aqsa, Ma‟qil bin Yasar, Abdullah bin Anis, Abu Thufail („Amir bin Watsilah).17 Guru Abu Hanifah kebanyakan dari kalangan “tabi‟in” (golongan yang hidup pada masa kemudian para sahabat Nabi). Diantara mereka itu ialah Imam Atha bin Abi Raba‟ah (wafat pada tahun 114 H), Imam Nafi‟ Muala Ibnu Umar (wafat pada tahun 117 H), dan lain-lain lagi. Adapun orang alim ahli fiqh yang menjadi guru beliau yang paling masyhur ialah Imam Hamdan bin Abu Sulaiman (wafat pada tahun 120 H), Imam Abu Hanifah berguru kepada beliau sekitar 18 tahun. Di antara orang yang pernah menjadi guru Abu Hanifah ialah Imam Muhammad al-Baqir, Imam Ady bin Tsabit, Imam Abdur Rahman bin Harmaz, Imam Amr bin Dinar, Imam Manshur bin Mu‟tamir, Imam Syu‟bah bin Hajjaj, Imam Ashim bin Abin
16
A. Rahman Doi, Penerjemah Zaimudin dan Rusydi Sulaiman, Penjelasan Lengkap
Hukum-hukum Allah (Syari’ah The Islamic Law), Cet. 2 (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada,
2002), h. 122.
17 Al-Samsuddin al-Syarkhasi, al-Mabsuth, ( Beirut: Darul Kitab Amaliyah, 1993 ), Juz
Najwad, Imam Salamah bin Kuhail, Imam Qatadah, Imam Rabi‟ah bin Abi Abdur Rahman, dan lain-lainnya dari Ulama Tabi‟in dan Tabi‟it Tabi‟in.18
b. Pendidikan Imam Asy-Syafi‟i
Asy-Syafi‟i selain mengadakan hubungan yang erat dengan para gurunya di Makkah dan Madinah, juga melawat ke berbagai negeri. Di waktu kecil beliau melawat ke perkampungan Huzail dan mengikuti mereka selama sepuluh tahun, dan dengan demikian Syafi‟i memiliki bahasa Arab yang tinggi yang kemudian digunakan untuk menafsirkan Al-qur‟an.
Beliau belajar fiqih pada Muslim bin Khalid dan mempelajari hadits pada Sufyan bin Uyainah guru hadits di Makkah dan pada Malik bin Anas di Madinah. Pada masa itu pemerintahan berada di tangan Harun ar-Rasyid dan pertarungan sedang menghebat antara keluarga Abbas dan keluarga Ali. Pada waktu itu pula Asy-Syafi‟i dituduh memihak kepada keluarga Ali, dan ketika pemuka-pemuka syi‟ah di giring bersama-sama. Tapi karena rahmat Allah beliau tidak menjadi korban pada waktu itu. Kemudian atas bantuan al-Fadil ibn Rabi, yang pada waktu itu menjabat sebagai perdana menteri ar-Rasyid, ternyata bahwa beliau besih dari tuduhan itu.
Dalam suasana inilah asy-Syafi‟i bergaul dengan Muhammad Hasan dan memperhatikan kitab-kitab ulama‟ Irak. Setelah itu asy-Syafi‟i kembali ke Hijaz dan menetap di Makkah.
Pada tahun 195 H beliau kembali ke Irak sesudah ar-Rasyid meninggal dunia dan Abdullah ibn al-Amin menjadi khalifah. Pada mulanya beliau pengikut
18 Moenawir Chalil, Biografi Empat Serangkai Imam Mazhab Hanafi, Maliki, Syafi’i,
Maliki, akan tetapi setelah beliau banyak melawat ke berbagai kota dan memperoleh pengalaman baru, beliau mempunyai aliran tersendiri yaitu mazhab “ Qadimnya ” sewaktu beliau di Irak, dan mazhab “ Jadidnya “ sewaktu beliau sudah di Mesir.
C. Guru-Guru Imam Abu Hanifah Dan Imam Asy-Syafi’i a. Guru-Guru Imam Abu Hanifah
Menurut kebanyakan guru-guru beliau pada waktu itu ialah para ulama Tabi‟in dan Tabi‟it Tabi‟in diantaranya ialah:
1) Abdullah bin Mas‟ud (Kufah) 2) Ali bin Abi Thalib (Kufah) 3) Ibrahim al-Nakhai (wafat 95 H)
4) Amir bin Syarahil al-Sya‟bi (wafat 104 H)
5) Imam Hammad bin Abu Sulaiman (wafat pada tahun 120 H) beliau adalah orang alim ahli fiqh yang paling masyhur pada masa itu Imam Abu Hanifah berguru kepadanya dalam tempo kurang lebih 18 tahun lamanya.
6) Imam Atha bin Abi Rabah (wafat pada tahun 114 H) 7) Imam Nafi‟ Maulana Ibnu Umar (wafat pada tahun 117 H) 8) Imam Salamah bin Kuhail
10) Imam Rabi‟ah bin Abdurrahman dan masih banyak lagi ulama-ulama besar lainnya.19
Adapun silsilah guru-guru dan murid-murid Imam Hanafi adalah sebagai berikut: 20
b. Guru-guru Imam Asy-Syafi‟i
Imam Syafi‟i sejak masih kecil adalah seorang yang memang mempunyai sifat ”pecinta ilmu pengetahuan”, maka sebab itu bagaimanapun keadaannya,
19 Moenawir Chalil, Biografi Empat Serangkai Imam Mazhab Hanafi, Maliki, Syafi’i,
Hambali, Cet. 9, h. 23.
20 Jaih Mubarok, Sejarah dan Perkembangan Hukum Islam, Cet. 1 (Bandung: PT
Remaja Rosdakarya, 2000), h. 72-73.
Syiraih Ibn Al-Harits (w. 95 H) ‘Alqamah Ibn Qais Al-Nakha’i (w. 62 H) Al-Aswad Ibn Yazid Al-Nakha’i (w. 104 H) Masyruq Ibn
Al-Adja Al-Hamdani (w. 63 H) Abdullah Ibn Mas’ud (Kufah) Ibrahim Al-Nakha’i (w. 95 H)
Ali Ibn Thalib (Kufah)
‘Amir Ibn Syarahil Al-Sya’bi
(w. 104 H)
Abu Hanifah Al-Nu‟man (w. 150 H) Abu Yusuf Muhammad Ibn Al-Hasan Zufar
tidak segan dan tidak jenuh dalam menuntut ilmu pengetahuan. Kepada orang-orang yang dipandangnya mempunyai pengetahuan dan keahlian tentang ilmu, diapun sangat rajin dalam mempelajari ilmu yang sedang dituntutnya.
Diantara Guru-Guru utama yang membina kepada Imam Syafi‟i antara lain: 1. Ketika berada di Makkah
a. Muslim bin Kholid (guru bidang fiqih)
b. Sufyan bin Uyainah (guru bidang hadis dan tafsir) c. Ismail bin Qashthanthin (guru bidang Al-Qur‟an) d. Ibrahim bin Sa‟id
e. Sa‟id bin Al-Kudah
f. Daud bin Abdurrahman Al-Attar
g. Abdul Hamid bin Abdul Aziz bin Abi Daud 2. Ketika berada di Madinah
a. Malik bin Anas R.A
b. Ibrahim bin Saad Al-Ansari
c. Abdul Aziz bin Muhammad Al-Darawardi d. Ibrahim bin Yahya Al-Asami
e. Muhammad Said bin Abi Fudaik f. Abdullah bin Nafi Al-Shani 3. Ketika berada di Irak
a. Abu Yusuf
b. Muhammad bin Al-Hasan c. Waki‟ bin Jarrah
d. Abu usamah
e. Hammad bin Usammah f. Ismail bin Ulaiyah
g. Abdul Wahab bin Ulaiyah 4. Ketika berada di Yaman :
a. Yahya bin Hasan b. Muththarif bin mizan c. Hisyam bin Yusuf
d. Umar bin Abi Maslamah Al-Auza‟i 5. Di antara yang lain lagi :
a. Ibrahim bin Muhammad b. Fudhail bin Iyadl
c. Muhammad bin Syafi‟i21
D. Murid-Murid Imam Abu Hanifah Dan Imam Asy-Syafi’i a. Murid-Murid Imam Abu Hanifah
Murid-murid Imam Abu Hanifah yang paling terkenal yang pernah belajar dengannya di antaranya ialah:
1) Imam Abu Yusuf, Ya‟qub bin Ibrahim al-Anshari, dilahirkan pada tahun 113 H. Beliau ini setelah dewasa lalu belajar macam-macam ilmu pengetahuan yang bersangkut paut dengan urusan keagamaan, kemudian belajar menghimpun atau mengumpulkan hadits dari Nabi SAW yang diriwayatkan dari Hisyam bin Urwah asy-Syaibani, Atha
21
Sirajuddin Abbas, Sejarah Dan Keagungan Mazhab Syafi’i, (Jakarta: Pustaka Tarbiyah, 2004), h. 180
bin as-Saib dan lainnya. Imam Abu Yusuf termasuk golongan Ulama ahli hadits yang terkemuka. Beliau wafat pada tahun 183 H.
2) Imam Muhammad bin Hasan bin Farqad asy-Syaibani, dilahirkan dikota Irak pada tahun 132 H. Beliau sejak kecil semula bertempat tinggal dikota Kufah, lalu pindah kekota Baghdad dan berdiam disana. Beliaulah seorang alim yang bergaul rapat dengan kepala Negara Harun ar Rasyid di Baghdad. Beliau wafat pada tahun 189 H dikota Ryi.
3) Imam Zafar bin Hudzail bin Qais al-Kufi, dilahirkan pada tahun 110 H. Mula-mula beliau ini belajar dan rajin menuntut ilmu hadits, kemudian berbalik pendirian amat suka mempelajari ilmu akal atau ra‟yi. Sekalipun demikian, beliau tetap menjadi seorang yang suka belajar dan mengajar, maka akhirnya beliau kelihatan menjadi seorang dari murid Imam Abu Hanifah yang terkenal ahli qiyas. Beliau wafat lebih dahulu dari lainnya pada tahun 158 H.
4) Imam Hasan bin Ziyad al-Luluy, beliau ini seorang murid Imam Hanafi yang terkenal seorang alim besar ahli fiqh. Beliau wafat pada tahun 204 H.22
Empat orang itulah sahabat dan murid Imam Abu Hanifah yang akhirnya menyiarkan dan mengembangkan aliran dan buah ijtihad beliau yang utama, dan mereka itulah yang mempunyai kelebihan besar dalam memecahkan atau mengupas soal-soal hukum yang bertalian dengan agama.
b. Murid-Murid Imam Asy-syafi‟i
Guru-guru Imam Syafi‟i amatlah banyak, maka tidak kurang pula penuntut ilmu atau murid-muridnya, diantaranya ialah :
1. Abu Bakar Al-Humaidi
2. Ibrahim bin Muhammad Al-Abbas 3. Abu Bakar Muhammad bin Idris 4. Musa bin Abi Al-Jarud.
Murid-muridnya yang keluaran Bagdad, adalah : 1. Al-hasan Al-Sabah Al-Za‟farani
2. Al-Husain bin Ali Al-Karabisi 3. Abu Thur Al-Kulbi
4. Ahmad bin Muhammad Al-Asy‟ari Murid-muridnya yang keluaran Irak, yaitu : 1. Ahmad bin Hanbal
2. Dawud bin Al-Zahiri 3. Abu Tsaur Al-Bagdadi 4. Abu ja‟far At-Thabari.
Murid-muridnya yang keluaran Mesir, adalah : 1. Abu Ya‟kub Yusuf Ibnu Yahya Al-Buwaithi 2. Al-Rabi‟in bin Sulaiman Al-Muradi
3. Abdullah bin Zuber Al-Humaidi
4. Abu Ibrahim Ismail bin Yahya Al-Muzany 5. Al-Rabi‟in bin Sulaiman Al-Jizi
6. Harmalah bin Yahya At-Tujubi 7. Yunus bin Abdil A‟la
8. Muhammad bin Abdullah bin Abdul Hakim 9. Abdurrahman bin Abdullah bin Abdul Hakam 10. Abu Bakar Al-Humaidi
11. Abdul Aziz bin Umar
12. Abu Utsman Muhammad bin Syafi‟i 13. Abu Hanifah Al-Asnawi 23
E. Karya-Karya Imam Abu Hanifah Dan Imam Asy-Syafi’i a. Karya-Karya Imam Abu Hanifah
Sebagaimana ulama yang terkemuka dan banyak memberikan fatwa, Imam Abu Hanifah meninggalkan banyak ide dan buah fikiran. Sebagian ide dan buah fikirannya ditulisnya dalam bentuk buku, tetapi kebanyakan dihimpun oleh murid-muridnya untuk kemudian dibukukan. Kitab-kitab yang ditulisnya sendiri antara lain:
1. al-Fara’id: yang khusus membicarakan masalah waris dan segala ketentuannya menurut hukum Islam.
2. asy-Syurut: yang membahas tentang perjanjian.
3. al-Fiqh al-Akbar: yang membahas ilmu kalam atau teologi dan diberi syarah (penjelasan) oleh Imam Abu Mansur Muhammad al-Maturidi dan Imam Abu Muntaha Maula Ahmad bin Muhammad al-Maghnisawi.