• Tidak ada hasil yang ditemukan

DANA BANTUAN OPERASIONAL SEKOLAH DI KABUAPATEN WONOGIRI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "DANA BANTUAN OPERASIONAL SEKOLAH DI KABUAPATEN WONOGIRI"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

IMPLEMENTASI HASIL PELATIHAN DALAM MEMBERIKAN PENDAMPINGAN PENGELOLAAN KEUANGAN SEKOLAH DASAR PADA MASA PANDEMI COVID 19 GUNA MEWUJUDKAN AKUNTABILITAS PENGGUNAAN DANA

BANTUAN OPERASIONAL SEKOLAH DI KABUAPATEN WONOGIRI

Tri Mardiyanti Ratnasari,SE,M.Acc [email protected]

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pendampingan dalam sistem pengelolaan keuangan sekolah dasar di era pandemi guna mewujudkan akuntabilitas penggunaan dana di Kabupaten Wonogiri. Bagaimanakah hasil pendidikan dan pelatihan sudah terimplementasikan kepada pengelola keuangan sekolah, dan apakah tindak lanjut dari petugas pendamping dalam mewujudkan akuntabilitas keuangan guna mendapat kepercayaan masyarakat. Kondisi yang terjadi secara umum akhir-akhir ini membuat semua aktivitas berubah total. Seperti halnya pengelolaan keuangan yang mengalami refocusing dan realokasi anggaran. Dalam pengelolaan keuangan situasi saat ini dituntut tetap semakin transparan, akuntabilitas, efektif dan efisien serta dalam penyusunan anggaran tetap menerapkan partisipatif sebagiamana amanat dari Peraturan Pemerintah No 12 Tahun 2019. Penganggaran di dunia pendidikan menuntut untuk mencapai target peningkatan mutu pendidikan dengan berpedoman pada 8 Standar Nasional Pendidikan yaitu Standar kopetensi kelulusan , standar isi, Standar proses, standar penilaian , standar pendidik dan Tenaga Kependidikan, Standar pengelolaan, Standar Sarana prasaran dan standar pembiayaan Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Instrumen pengumpulan data yang digunakan adalah kuesioner dengan informan adalah peserta pelatihan keuangan di Kabupaten Wonogiri. Teknik pengumpulan data dengan menggunakan data primer. Terdapat 772 pengelola keuangan di tingkat sekolah dasar. Pengambilan data dengan metode sampling secara acak diambil 10 pengelola keuangan dana Bantuan Operasional Sekolah di Kabupaten Wonogiri. Dari sebagian besar pengelola keuangan mengalami kesulitan dalam mengelola keuangan. Apalagi disaat era pandemi, karena proses pengelolaan keuangan selain harus mengacu pada peningkatan mutu pendidikan juga harus dapat dipertanggungjawabkan dalam mewujudkan akuntabilitas penggunaan dana sekolah. Untuk itu perlunya dipersiapkan sumber daya manusia yang dapat melaksanakan tugas dengan baik melalui pendampingan dari petugas yang tealh mengikuti pelatihan keuangan.

(2)

PENDAHULUAN

Sistem pengelolaan pembiayaan keuangan sekolah harus dilakukan dengan prinsip pada

transparansi, akuntabilitas, efisien dan efektif. Bahwa biaya pendidikan mempunyai

peran yang sangat penting dan menentukan kegiatan pembelajaran. Hampir semua kegiatan membutuhkan biaya sehingga dapat dikatakan tidak ada yang tanpa biaya. Biaya yang diperlukan untuk menunjang kegiatan pendidikan di sekolah ada beberapa jenis pengeluaran yang berkenaan dengan penyelenggaraan pendidikan dalam pemenuhan Standar Nasional Pendididikan. Sebagaimana UU Nomor 20 tahun 2003, tentang Sistem Pendidikan Nasional, pasal 51 (1) yang menyatakan, “Pengelolaan satuan pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah dilaksanakan berdasarkan standart pelayanan minimal dengan prinsip pengelolaan berbasis sekolah/madrasah” dan pasal 48 (1) yang menyatakan “Pengelolaan dana pendidikan berdasarkan pada prinsip keadilan, efisiensi, transparansi, dan akuntabilitas publik”. Sistem pengelolaan keuangan sekolah/madrasah diharapkan adanya partisipasi aktif warga sekolah/madrasah dan

stakeholders dalam pengambilan keputusan, transparansi, dan akuntabilitas dalam pengelolaan keuangan sekolah/madrasah. Pengelolaan keuangan sekolah/ madrasah lebih bersifat otonomi. Hal ini terjadi karena sekolah menerapkan prinsip Pengelolaan Berbasis Sekolah (MBS) yang bertujuan untuk meningkatkan mutu proses dan hasil pendidikan. Dimana dalam mutu pendididkan mengacu pada standar pendidikan sebagai indikator keberhasilan yang meliputi : Standar kopetensi kelulusan , standar isi, Standar proses, standar penilaian , standar pendidik dan Tenaga Kependidikan, Standar pengelolaan, Standar Sarana prasaran dan standar pembiayaan .

Untuk mencapai hal tersebut pendidikan tidak terlepas dari kebutuhan dana untuk mendukung terselenggaranya program pendidikan secara efektif dan efisien. Di dalam pengelolaan keuangan sekolah berpedoman pada regulasi yang telah ditetapkan oleh Pemerintah dan harus menjadi pedoman

sekolah dalam pengelolaan keuangan di sekolah dalam menyelenggarakan pendidikan. Tujuan dari peraturan tersebut adalah agar pendidikan mempunyai arah dalam penyelenggaraannya, mempunyai akuntabilitas penyelenggaraan pendidikan yang dapat dipertanggungjawabkan kepada publik, dengan berpedoman pada Standar Nasional Pendidikan yang berfungsi sebagai dasar dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan pendidikan dalam mewujudkan pendidikan nasional yang bermutu.

Pengelolaan keuangan adalah seni pengurusan/ketatausahaan keuangan yang meliputi pencatatan, perencanaan, pelaksanaan, pertanggungjawaban, dan pelaporan. Upaya mengumpulkan dana untuk membiayai operasional dan pengembangan pendidikan, untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, sehingga mampu bekerjasama di lingkup lokal, regional, nasional, maupun internasional. Pengelolaan keuangan sekolah merupakan rangkaian aktivitas yang mengatur keuangan sekolah mulai dari perencanaan, pembukuan, pembelanjaan, pengawasan, dan pertanggungjawaban keuangan sekolah yang akan disampaikan kepada publik.

Disinilah dibutuhkan sumber daya manusia yang dapat mengelola keuangan sekolah sesuai dengan aturan-aturan yang ada, sehingga pimpinan dapat memberikan kebijakan untuk melangkah mencapai target organisasi. Sehubungan dengan sumber daya manusia yang diberikan wewenang dalam pengelolaan keuangan inilah yang harus dipersiapkan dengan matang oleh para pimpinan. Bagaimana pengelolandapat meningkatkan kompetensi dalam bidang keuangan. Selain peningkatan kompetensi diperlukan pendampingan secara teknis guna penyelesaian pekerjaan keuangan guna mempertanggungjawabkan keuangan sekolah. Hal ini merupakan keterkaitan dalam mempersiapkan laporan guna memberikan pertanggungjawaban secara akuntabel. Dalam rangka mempersiapkan pertanggungjawaban laporan keuangan yang betul-betul akuntabel tersebut harus dilakukan pendampingan dalam pengelolaannya.

(3)

Dalam sistem pengelolaan keuangan sekolah yang terdiri dari perencanaan program sekolah, perkiraan pemasukan dan pengeluaran dalam pelaksanaan program, pengesahan, dan penggunaan anggaran sekolah. Dari kegiatan pengelolaan keuangan, sehingga kebutuhan pendanaan kegiatan sekolah dapat direncanakan, dan diusahakan bagaimana pengadaan pendanaannya, disusun dalam pembukuan secara transparan, yang dapat digunakan untuk membiayai pelaksanaan program sekolah secara efektif dan efisien. Karena tujuan pengelolaan keuangan sekolah adalah:1) meningkatkan keefektifan dan efisiensi penggunaan keuangan sekolah/ madrasah, 2) meningkatkan akuntabilitas dan transparansi keuangan sekolah/ madrasah,3) meminimalkan penyalahgunaan anggaran sekolah/madrasah. Untuk itu diperlukan manajemen kepala sekolah/ madrasah dalam mencari atau menggali sumber-sumber dana, menempatkan bendaharawan yang menguasai dalam pembukuan dan pertanggungjawaban keuangan, serta memanfaatkannya secara benar sesuai dengan regulasi yang ada. Di dalam pengelolaan keuangan sekolah/madrasah perlu memperhatikan aturan-aturan sebagaimana aturan bahwa pengelolaan dana pendidikan berdasarkan pada prinsip keadilan, efisiensi, transparansi, dan akuntabilitas publik. Prinsip pengelolaan dana pendidikan meliputi transparansi, akuntabilitas, keefektifan, dan efisiensi. Dimana penjelasan masing-masing prinsip tersebut adalah sebagai berikut berikut: 1. Transparansi, Transparan berarti ada

keterbukaan. Transparan di bidang pengelolaan berarti adanya keterbukaan dalam mengelola suatu kegiatan. Di lembaga pendidikan, bidang pengelolaan keuangan yang transparan berarti adanya keterbukaan dalam pengelolaan keuangan lembaga pendidikan, yaitu keterbukaan baik itu dari sumber keuangan dan jumlahnya, rincian penggunaan, dan pertanggungjawabannya yang jelas dan dapat mempermudah pihak-pihak yang berkepentingan untuk mengetahui dan memahami. Transparansi keuangan sangat diperlukan dalam rangka meningkatkan dukungan atau partisipasi

orang tua, masyarakat dan pemerintah dalam penyelenggaraan seluruh program di lembaga pendidikan. Di samping itu transparansi dapat menciptakan kepercayaan (trust) timbal balik antara pemerintah, masyarakat, orang tua siswa dan warga sekolah melalui penyediaan informasi dan menjamin kemudahan di dalam memperoleh informasi yang akurat dan memadai (Siswanto,E, 2013)

2. Informasi keuangan yang bebas diketahui oleh semua stakeholders pendidikan dan orang tua peserta didik misalnya rencana anggaran pendapatan dan belanja sekolah (RAPBS), Rencana kegiatan dan Anggaran Sekolah (RKAS), Dokumen-dokumen ini, dipajang pada papan pengumuman sekolah, Rencana Bisnis Anggaran (RBA) di perguruan tinggi bisa di akses secara online (Ratnaningtyas, K; Setiyani R, Ratnaningtyas K ;)

3. Akuntabilitas adalah

pertanggungjawaban dari hasil pekerjaan yang dilakukan sesorang yang dapat dinilai oleh oring lain karena telah berhasil menyelesaikan suatu pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya. Akuntabilitas pengelolaan keuangan diartikan bahwa penggunaan uang sekolah dapat dipertanggungjawabkan sesuai dengan perencanaan yang telah ditetapkan serta sesuai dengan peraturan yang telah ditetapkan. Dari perencanaan dan peraturan yang berlaku, sekolah melaksanakan pembelanjaan uang bertanggung jawab. Sebagaimana dijelaskan juga bahwa akuntabilitas adalah kondisi yang dinilai oleh orang lain karena kualitas performansinya dalam melaksanakan tugas untuk mencapai tujuan yang menjadi tanggung jawabnya. Akuntabilitas di dalam manajemen keuangan lembaga pendidikan berarti penggunaan uang

lembaga pendidikan bisa

dipertanggungjawabkan sesuai dengan perencanaan yang telah ditetapkan dan peraturan yang berlaku. Untuk membangun akuntabilitas persyaratan yang perlu diterapkan antara lain, yaitu adanya

a. Keterbukaan dari pihak sekolah/madrasah dengan mengikutsertakan komponen pengelola sekoah ( komite ),

(4)

b. Pedoman pelaksanaan kinerja dari sekolah/madrasah yang dapat diukur dalam melaksanakan tugas, fungsi dan wewenangnya, dan

c. Keikutsertaan untuk saling membuat keadaan /situasi sekolah/madrasah dalam menciptkan situasi kondusif di dalam mengadakan pelayanan masyarakat dengan prosedur yang mudah, biaya yang murah, dan pelayanan yang cepat.

4. Keefektifan, bagaimana mencapai tujuan sesuai dengan visi misi organisasi /lembaga. Efektivitas menekankan pada kualitas outcome. Dikatakan efektif jika pengelolaan keuangan dapat membiaya kebutuhan guna mencapai tujuan organasiasi (Yudhaningsih, R, 2011).

5. Efisiensi, yaitu pencapaian output

dengan waktu dan biaya yang sekecil-kecinya dengan kualitas dan kuantitas yang sesuai dengan perencanaan. Untuk mengetahui efisiensi biaya pendidikan bisa juga menggunakan metode analisis keefektifan biaya (cost effectiveness analysis) yang memperhitungkan besarnya kontribusi setiap masukan pendidikan terhadap efektivitas pencapaian tujuan pendidikan atau prestasi belajar (Prasojo,LD, 2012)

Didalam pengelolaan keuangan sekolah harus memenuhi prosedur – prosedur yang terdiri dari penganggaran, pencatatan, pelaporan keuangan sekolah, dan pemeriksaan keuangan sekolah. Penganggaran harus dapat membuat suatu rencana kegiatan yang dinyatakan dalam ukuran keuangan. Penganggaran berperan dalam perencanaan, pengendalian, dan pembuatan keputusan. Anggaran dapat meningkatkan koordinasi dan komunikasi. Hal yang perlu dipertimbangankan dalam pengelolaan keuangan sekolah antara lain: 1) Menyusun sasaran program kerja sesuai dengan evaluasi diri sekolah yang telah disusun.

2) Penentuan prioritas kinerja guna

efisien, efektif dan ada dampak yang dapat di

hasilkan

3) Laporan keuangan tahunan dapat memberikan informasi keputusuan anggaran 4) Penganggaran dengan berdasarkan berbasis kinerja dan ada hasil yang diinginkan

5) Ada feedback dari evaluasi guna membantu sumber daya yang dibiayai agar lebih efisien

Untuk penyusunan anggaran prosedur yang harus dilakukan adalah:

1) Membuat identifikasi kegiatan yang akan dilakukan selama tahun anggaran 2) Mengidentifikasi sumber-sumber anggaran

3) Menyusun anggaran dalam bentuk bentuk formulasi yang telah ditetapkan 4) Melaksanakan penyusunan anggaran 5) Membuat revisi dari usulan anggaran yang telah disusun

6) Meminta persetujuan anggaran yang telah dilakukan revisi

7) Persetujuan revisi atas usulan anggaran yang dilakuakan

Dalam penyusunan anggaran ini merupakan langkah awal dalam pelaksanaan keuangan sekolah/madrasah dimana kepala sekolah/madrasah dengan dukungan pengawas sekolah/madrasah melaksanakan evaluasi diri sekolah bersama tim sekolah, dapat perwakilan dari guru, warga sekolah yag berkepentingan dalam pengelolaan keuangan sekolah. Keterlibatan pengawas sekolah/madrasah juga akan mendorong terciptanya transparansi dan keabsahan data yang dikumpulkan, serta membantu sekolah/madrasah dalam melangkah maju dalam program perbaikan berkelanjutan. Pengawas sekolah/madrasah akan menjadi pemain inti dalam pemangku kepentingan untuk mendapatkan gambaran yang realistis mengenai sekolah/madrasah dalam melakukan perbaikan dan bukan hanya sekedar megisi data yang menunjukkan pencapaian standar. Didalam menyusun rencana kegiatan dan Anggaran Sekolah perlu diperhatikan langkah-langkah dalam membuat perncanaan antara lain:

1. Menghitung biaya per program atau kegiatan:

a. Menentukan apakah penghitungan dilakukan untuk setiap program atau kegiatan; b. Menentukan jenis belanja yag diperlukan untuk merealisasikan program atau kegiatan tersebut;

c. Menghitung biaya per jenis belanja dari setiap program atau kegiatan;

(5)

d. Menghitung biaya per kategori Program sekolah yang dirinci per jenis belanja;

e. Menghitung biaya Program Reguler per jenis Belanja

2. Mengalokasikan biaya atau rencana penggunaan uang tersebut kepada sumber-sumber dana sesuai dengan aturan peruntukan dana masing-masing sumber dana 3. Menghitung jumlah surplus dan deficit

Dengan pengelolaan keuangan tersebut diatas perlu adanya pemahaman terhadap penatausahaan keuangan sekolah/madrasah. Tugas penatausahaan keuangan sekolah/madrasah berada di tangan kepala sekolah/madrasah sebagai penanggungjawab utama. Dalam pelaksanaannya, kepala sekolah/madrasah dibantu oleh bendahara sekolah/madrasah serta juru buku (jika dimungkinkan). Pemisahan tanggung jawab merupakan hal penting dalam penatausahaan sekolah/madrasah, dan merupakan prinsip yang berlaku umum. Semakin banyak staf yang terlibat dalam penerimaan, pengeluaran maupun pelaporan dana maka akan semakin kecil kemungkinan terjadinya penyalahgunaan. Hal yang terpenting dalam pengelolaan keuangan sekolah adalah tata cara penatausahaan keuangan, pentingnya pembagian peran dan tanggung jawab pengelola keuangan dan pentingnya penatausahaan keuangan ditingkat sekolah/madrasah.

Penatausahaan secara umum adalah pengeluaran fungsi dan alur pelaksanaan aktivitas keuangan sekolah/madrasah berkaitan dengan penerimaan, pengeluaran sampai pelaporan. Tata cara penerimaan, pengeluaran dan pelaporan merupakan inti dari penatausahaan keuangan sekolah/madrasah.

Penerimaan keuangan sekolah sebagaimana pasal 46 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2013 menyatakan bahwa pendanaan pendidikan menjadi tanggung jawab bersama antara Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah dan masyarakat. Sementara pengeluaran atau belanja sekolah/madrasah mencakup semua bentuk aliran dana keluar sekolah/madrasah yang digunakan untuk penyediaan layanan

pendidikan baik secara langsung maupun tidak langsung. Yang perlu diperhatikan bahwa setiap sumber dana umumnya memenuhi syarat bagi penggunaan dana tersebut. Untuk pelaporan dalam lingkup penatausahaan keuangan sekolah merupakan bentuk pertanggungjawaban secara vertical maupun horizontal atas penggunaan dana yang dikuasakan kepada sekolah/madrasah dalam kurun waktu tertentu. Tata cara pelaporan maupun bentuk laporan seringkali beragam untuk sumber dana yang berbeda. Berbicara tentang tugas dan tanggung jawab penatausahaan keuangan sekolah/madrasah ada 3 posisi yang berperan dalam hal ini yaitu : (1) Kepala Sekolah sebagai peanggung jawab utama dalam pelaksanaan penatausahaan keuangan sekolah/madrasah; (2) Bendahara sebagai penanggungjawab aktivitas keuangan di tingkat sekolah/madrasah; (3) Juru Buku sebagai penanggungjawab pencatatan aktivitas sekolah/madrasah. Peran ketiganya ini sangat diperlukan dalam pengendalian guna mewujudkan akuntabilitas.

Selain hal tersebut bagian terpenting dalam tata kelola keuangan dalam suatu organisasi termasuk sekolah/madrasah adalah pembukuan. Pembukuan merupakan sumber informasi dari pertanggungjawaban keuangan yang akan disusun dalam bentuk laporan. Dalam tahap awal pembukuan ini semua penerimaan dan pengeluaran uang harus dipertanggungjawabkan. Oleh karena itu perlu dibukukan sesuai dengan norma/aturan baku.

Secara umum, pembukuan didefinisikan sebagai pencatatan semua transaksi sebagai pencatatan penerimaan dan pengeluaran dana yang dilakukan sekolah/madrasah, baik secara manual ataupun menggunakan aplikasi komputer yang sudah ditentukan. Pengertian secara spesifik dalam Bantuan Opearsional Sekolah pembukuan adalah sebagai pencatatan penerimaan dan pengeluaran dana oleh sekolah, didalam buku kas umum dan buku pembantu. Dari definisi tersebut ada beberapa hal penting yang harus dipahami untuk dapat menyelenggarakan pembukuan dengan baik yang

(6)

meliputi:transaksi, jenis buku, proses alur pembukuan.

Pembukuan suatu transaksi tergantung pada jenis transaksi. Pembukuan juga berarti membukukan pada buku/buku-buku yang tepat karena ada saling keterkaitan antara buku-buku tersebut. Pembukuan juga harus dilakukan dengan cara dan pada waktu yang tepat. Pembukuan yang dilakukan secara baik dan benar akan memberikan manfaat bagi sekolah/madrasah, karena melalui pembukuan sekolah/madrasah memiliki data dan rincian yang terkait dengan:

1. Setiap penerimaan dan pengeluaran sekolah/madrasah sesuai dengan waktu terjadinya. Informasi mengenai jenis, jumlah dan waktu penerimaan atau pengeluaran dengan mudah diketahui

2. Dana yang masih tersedia dan telah terpakai pada periode tertentu. Informasi ini penting untuk mengetahui ketersediaan dana dalam jangka pendek guna memperlancar kegiatan belajar mengajar sekolah/madrasah. 3. Dasar penyusunan laporan keuangan, sebagai salah satu bentuk pertanggungjawaban sekolah/madrasah. Dalam pencatatan laporan keuangan yang harus sangat perlu diperhatikan adalah transaksi keuangan. Yaitu situasi atau kejadian yang melibatkan unsur lingkungan dan mempengaruhi posisi keuangan. Transaksi umumnya diukur dengan nilai uang, sehingga bisa dicatat. Untuk mencatat transaksi tersebut dibutuhkan dokumen atau bukti-bukti transaksi sebagai pendukungnya. Ada dua kelompok besar transaksi menurut arus masuk/keluanya uang yang perlu dipahami oleh pengelola keuangan, yaitu: 1. Transaksi penerimaan, yang dibedakan menjadi:

a. Transaksi penerimaan internal

Yaitu penerimaan yang hany mempengaruhi posisi kas dan bank, atau posisi kas saja. Seperti penyetoran uang kas ke bank, pemindahan dana milik sekolah dari satu rekening bank ke rekening sekolah/madrasah bank lain

b. Transaksi penerimaan eksternal Penerimaan yang mempengaruhi posisi kas dan atau posisi bank yang diterima dari sumber-sumber bukan milik

sekolah/madrasah. Sepertinya halnya pencairan dana bantuan operasional sekolah ke rekening sekolah, pajak yang dipungut sekolah, bunga tabungan/ deposito.

2. Transaksi pengeluaran, yaitu jika dana yang dimiliki sekolah/madrasah berkurang (baik dana tercatat di bank maupun di kas). Transaksi ini dibedakan menjadi:

a. Transaksi pengeluaran internal

Pengeluaran yang hanya mempengaruhi posisi kas dan posisi bank, atau posisi kas saja. Contohnya seperti pemindahan dana antar rekening milik sekolah/madrasah, dilihat dari sisi rekening bank yang mengeluarkan dana. b. Transaksi pengelauaran eksternal Yaitu pengeluaran yang mempengaruhi posisi/jumlah uang kas dan atau posisi jumlah uang di bank karena pembelian barang/jasa. Pecatatan setiap transaksi dilakukan dalam sebuah buku menurut kelompok/jenis akunnya. Pengelompokan berdasarkan akun ini untuk memudahkan penyusunan laporan. Untuk tingkat sekolah/madrasah, buku-buku yang dibutuhkan adalah:

1. Buku Kas Umum

Ini merupakan buku utama untuk mencatat transaksi keuangan. Umumnya hanya menampung transaksi eksternal saja. Bisa saja digunakan untuk mencatat transaksi internal, dan saat yang sama dilakukan pembukuan disebaliknya. Sebagai contoh adalah penerimaan uang kas dari bank, dibukukan di kolom penerimaan dan di saat yang sama dibukukan di kolom pengeljuaran uang bank karena pada saat yang sama uang di bank berkurang

2. Buku Pembantu

a. Buku Pembantu Kas untuk mencatat transaksi keuangan terkait dengan uang di bank. Buku ini menampung transaksi internal maupun eksternal yang dilakukan per kas b. Buku Pembantu Bank untuk mencatat transaksi keuangan terkait dengan uang di bank. Buku ini menampung transaksi internal maupun eksternal yang dilakukan oleh bank c. Buku Pembantu Pajak untuk mencatat transaksi keuangan terkait dengan pemungutan dan penyetoran pajak oleh bendahara sekolah/madrasah.

Masing-masing sumber dana setidaknya memiliki ke empat jenis buku diatas (Buku

(7)

Kas Umum, Buku Pembantu Kas, Buku Pembantu Bank dan Buku Pembantu Pajak), karena untuk sekolah/madrasah yang masih menggunakan sistem manual akan terdapat lebih dari satu buku kas umum dan buku pembantu. Untuk sekolah/madrasah sudah menggunakan komputer akan jauh lebih mudah untuk memelihara berbagai jenis buku yang ada. Transaksi yang dicatat di buku yang sesuai dengan harus disertai dengan bukti transaksi, nomor kode akun yang sesuai dengan aturan yang ada.

Pengetahuan pengelola keuangan sekolah terhadap proses atau alur pembukuan yang masih minim karena backgroundnya memang bukan dari basic keungan. Sekolah perlu mengenal bagaimana alur dari pembukuan dalam pengelolaan keuangan sekolah meskipun dari hal yang sederhana. Pemahaman terhadap pengisian bukti-bukti transaksi penerimaan yang harus disampaikan dalam format-format laporan keuangan. Dalam hal pembukuan yang harus dilakukan oleh pengelola dengan menggunakan aplikasi computer pengelola harus mengetahui kapan waktu yang paling tepat dalam menyelesaikan transaksi keuangan dan jenis-jenis pembukuan yang harus dikerjakan

Prosedur pencatatan terhadap penerimaan dan pengeluaran dana bantuan sekolah harus tepat waktu, sehingga dibutuhkan informasi bagi pengelola kapan dana sudah masuk rekening dan dapat digunakan untuk pembelajaan dalam memenuhi kebutuhan pendidikan. Semua transaksi harus diselesaikan dengan pembukuan yang relevan dan dicatat sesuai aturan yang berlaku dan harus sesuai dengan urutan tanggal kejadian. Format yang harus diselasaikan oleh pengelola keuangan merupakan dokumen syah yang harus disimpan oleh pihak sekolah dimana Kepala Sekolah bertanggung jawab penuh untuk menyampaikan hasil laporan pertanggungjawaban.

Setiap transaksi pengeluaran harus ada bukti yang mendukung berupa kwitansi yang sah. Bukti pengeluaran dalam jumlah tertentu harus ada ketentuan meterai sebagai bukti keabsahan pengeluaran dana. Segala nomor bukti harus ada tanggal, nomor urut, kode akun rekening, uraian, dan jumlah uang yang

diterima dan dikeluarkan. Uraian pembayaran harus disetujui Kepala Sekolah dan pembayaran lunas oleh bendahara. Uraian tentang jenis barang/jasa yang dibayarkan dapat dibuatkan secara terpisah dalam bentuk faktur sebagai lampiran bukti kwitansi` Uraian alur atau proses pembukuan inilah yang harus dipahami oleh semua pengelola keuangan di tingkat sekolah. Yang mana ini merupakan tugas dari pendamping untuk menyampaikannya setelah mengikuti pendidikan dan pelatihan.

Dikaitkan dengan regulasi terbaru tentang Pengelolaan Keuangan Daerah yang diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) No. 12 Tahun 2019, mengatur korelasi informasi pemerintahan daerah dalam satu sistem yang terhubung dan memberikan kemudahan untuk pemantauan kinerja pemerintah pusat ke pemerintah daerah serta memberikan kemudahan penyampaian informasi pemerintah daerah kepada masyarakat dengan harapan mewujudkan tiga pilar tata kelola keuangan daerah yang baik yaitu transparansi, akuntabilitas, dan partisipatif. Dari regulasi tersebut jelas bahwa prinsip dalam pengelolaan keuangan sekolah harus transparan, akuntabilitas dan partisipatif sejalan dengan PP 12 Tahun 2019.

Terkait dengan pertanggungjawaban yang harus disusun dan dilaporkan oleh pengelola keuangan sering kali menjadikan beban bagi pengelola keuangan terutama di tingkat sekolah dasar. Apalagi dengan adanya covid 19 dimana anggaran mengalami refocusing dan realokasi anggaran

Untuk melaksanakan proses ini, maka dibutuhkan pelatihan sebagai tahap persiapan

dalam penyusunan kebutuhan

sekolah/madrasah. Sehingga dalam pelaksanaan pendampingan paham apa yang diperlukan pengelola keuangan sekolah dalam menyampaikan pertanggungjawabannya. Pentingnya pendidikan dan pelatihan guna memperlancar pelaksanaan tugas sangat dibutuhkan bagi pendamping dalam penyusunan laporan keuangan sekolah. Peningkatan kompetensi sebagaimana Peraturan Pemerintah Nomor 11 Tahun 2017 tentang Manajemen Pegawai Negeri Sipil,

(8)

yang telah diperbaharui menjadi Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2020.

Sehingga dengan adanya peningkatan kompetansi yang salah satu melalaui pendidikan dan pelatihan maka akan membantu pegawai dalam memahami suatu pengetahuan praktis, guna meningkatkan keterampilan, kecakapan, sikap yang diperlukan oleh organisasi dalam usaha mencapai tujuan (Edy Sutrisno, 2011)

Pentingnya pendidikan dan pelatihan guna peningkatan komptensi yang lebih spesifik dan teknis harus dilaksanakan agar dalam pelaksanaan pekerjaan dapat diselesaikan dengan baik dalam rangka memberikan pelayanan kepada publik. Untuk itu jenis pelatihan yang diselenggarakan agar dapat memberikan kemanfaatan bagi isntansi atau organisasi.

Sinamora (2010:29) menyebutkan manfaat-manfaat yang diperoleh dari diadakannya pendidikan dan pelatihan (Diklat), yaitu: 1. Meningkatkan kualitas dan kuantitas produktivitas

2. Mengurangi waktu belajar yang diperlukan karyawan untuk mencapai standar-standar kinerja yang ditentukan

3. Menciptakan sikap, loyalitas dan kerjasama yang lebih menguntungkan

4. Memenuhi persyaratan perencanaan sumber daya manusia

5. Mengurangi jumlah dan biaya kecelakaan kerja

6. Membantu karyawan dalam peningkatan dan pengembangan pribadi mereka. (Henry, Sinamlora;, 2010)

Dari keadaan yang ada saat ini maka peneliti tertarik untuk menganalisa permasalahan bagaimanakah implementasi hasil pelatihan dalam memberikan pendampingan sistem pengelolaan keuangan sekolah dalam mewujudkan akuntabilitas, apakah tindak lanjut petugas pendamping dalam pengelolaan keuangan sekolah dalam mewujudkan akuntabilitas keuangan sekolah. Sehingga pada kesempatan ini peniliti berkeinginan untuk melakukan penelitian dengan judul Implementasi Hasil Pelatihan Dalam Pendampingan Sistem Pengelolaan Keuangan Sekolah Dasar Pada Masa Pandemi Covid 19 Guna Mewujudkan

Akuntabilitas Penggunaan Dana Bantuan Operasional Sekolah Di Kabuapaten Wonogiri.

Dari beberapa penelitian tentang keuangan sekolah yang terdahulu seperti yang ditulis oleh (Ghazali Adillah, 2016) dengan judul Manajemen Keuangan Sekolah membahas tentang pengelolaan beberapa anggaran di semua kegiatan di sekolah; (Rita Pusvitasari, Mukhamad Sukur)menulis artikel dengan judul Manajemen Keuangan Sekolah Dalam Pemenuhan Sarana Prasarana Pendidikan berisi tentang pentingnya pengelolaan keuangan dalam pemenuhan sarana dan prasana pendidikan melalui pelibatan stakeholders, baik internal maupun eksternal, guna mengevaluasi, menganalisis mengawasi dan memenuhi berbagai kebutuhan sekolah; artikel dari (Daniel Aditya Utama ,Rediana Setiyani, 2014)dengan judul Pengaruh Transparansi, Akuntabilitas, Dan Responsibilitas Pengelolaan Keuangan Sekolah Terhadap Kinerja Guru tentang variable-variabel yang mempengaruhi dari kinerja guru; (Jamaluddin Iskandar, 2019) dalam tulisan artikelnya yang berjudul Implementasi Sistem Manajemen Keuangan Pendidikan membahas tentang Pengelolaan dana BOS yang telah dilaksanakan di sekolah; serta artikel dari (Afrilliana Fitri, 2014) yang berjudul Pengelolaan Dana Bantuan Operasional Sekolah (Bos) Sekolah Dasar Negeri Kecamatan Mandiangin Koto Selayan Kota Bukittinggi melihat tentang pengelolaan keuangan dana Bantuan Opearsional Sekolah yang sudah dilaksanakan oleh beberapa sekolah. Sehingga pada kesempatan saat ini merupakan kebaruan yang penulis lakukan dengan melihat dari sisi pendampingan petugas dalam system pengelolaan keuangan sekolah setelah mendapatkan pendidikan dan pelatihan

METODE PENELITIAN

Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif, Penelitian ini merupakan survei dalam sistem pengelolaan keuangan sekolah dasar di Kabupaten Wonogiri yang dilaksanakan dengan mengambil data primer dari respoonden dengan menggunakan googleform. Sampel yang ada sejumlah 772, sementara dalam penelitian ini mengambil

(9)

sample secara acak sejumlah 10 responden dari pengelola keuangan sekolah dasar di Kabupaten Wonogiri

Untuk memperoleh data digunakan instrumen kuesionar dalam bentuk pertanyaan kepada responden. Kuesioner disampaikan kepada responden melalui whasapp Group Pengelola Keuangan Dana Bantuan Operasional Sekolah di Kabupaten Wonogiri.

Analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif dengan menggunakan diagram distribusi frekuensi serta persentase. Dalam analisis tersebut dilakukan interprestasi dengan menggunakan kategori-kategori yang dibuat secara naratif. Analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisa data dengan model Miles Dan Huberman. Dimana menurut Miles dan Huberman dalam (Emzir, 2010) ada tiga macam dalam analisis data kualitatif yaitu :

1. Reduksi Data

Reduksi data terjadi secara kontinu dari suatu proyek yang diorientasi secara kualitatif . Reduksi data adalah suatu bentuk analisi yang mempertajam, memilih, memokuskan, membuang dan menyusun data dalam suatu cara dimana kesimpulan akhir dapat di gambarkan dan diverifikasikan.

2. Model Data ( Data Display )

Bentuk yang sering dari model data kualitatif adalah teks naratif. Model ini dinilai sangat rumit dan menyusahkan peneliti, maka Miles dan Huberman menyederhanakan pola-pola dalam bentuk matrik, grafik, jaringan kerja dan bagan atau gambar.

3. Penarikan atau Verifikasi Kesimpulan.

Suatu proses kesimpulan akhir dalam proses analisis data . Didalam analisa data menurut Miles dan Huberman peneliti harus jelas, jujur dan muncul kecurigaan (skeptisme). HASIL DAN PEMBAHASAN

Informan dari penelitian ini adalah pengelola keuangan dana Bantuan Sekolah di Kabupaten Wonogiri yang mendapatkan pendampingan dari hasil pelatihan petugas di tingkat kabupaten. Pengelola keuangan tersebut rata-rata melaksanakan tugas lebih dari satu tahun 50 % dan 5 sampai 10 tahun sekitar 40 % serta lebih dari 10 tahun sejumlah 10 %. Sementara dari latar belakang pendidikan 90 % adalah Sarjana dan 10 % berpendidikan Pasca Sarjana.

Dari data yang sudah dianalisis dengan menggunakan teori Miles dan Huberman serta sudah dilakukan reduksi data maka diperoleh hasil sebagai berikut:

1. Bahwa dalam memberikan pendampingan kepada pengelola keuangan sekolah, dari responden yang ada menyatakan bahwa 40 % mendapatkan informasi lebih cepat dan jelas. Sementara 60 % dari responden menyatakan bahwa informasi sering diterima tidak tepat waktu. Melihat kondisi demikian maka beberapa langkah yang dilakukan oleh team manajemen untuk memantau dalam pengelolaan dana harus patuh pada regulasi yang melalui korwil setempat.

Gambar 1. Penyampian Regulasi terbaru

2. Dalam hal informasi pencairan dana

Bantuan Operasional Sekolah diperoleh hasil bahwa 50 % menyatakan tepat waktu

dalam penyampian informasi sementara 50 % sering menerima informasi agak terlambat, sehingga hal ini menjadi kendala ketika sekolah akan mencairkan dananya.

(10)

3. Sebesar 70% pengelola keuangan sekolah selalu melakukan koordinasi dengan team Manajemen BOS dalam hal memenuhi kekurangan penyaluran dana. Sementara 30 % hampir tidak pernah melakukan koordinasi. Sehingga perlu

dilakukan sinergitas antara team

manajemen BOS Kabupaten dengan

koordinator ditiap-tiap wilayah kecamatan

Gambar 3 Penyampaian Kekurangan Penyaluran dana

4. Team manajemen BOS Kabupaten

melakukan pengarahan untuk

mempertanggungjawabkan dari dana yang diterima oleh pengelola, dapat ditindak lanjuti dengan tepat sebesar 30 % sementara yang 70 % hal ini karena adanya keterbatasan waktu petugas pendamping. Selain itu sarana yang digunakan untuk menyampaikan informasi sangat terbatas disaat masa pandemik ini.

Gambar 4 Pemberian Pengarahan Dalam Penggunan Dana

5. Dalam memberikan

pertanggungjawaban terhadap pengelolaan keuangan kepada masayarakat umum sesuai dengan ketentuan Peratuan Menteri Pendidikan tentang Pengelolaan Dana Bantuan operasional Sekolah, dimana transparansi tersebut harus dipatuhinya dengan membuat laporan penggunaan dana yang di pasang pada papan pengumuman sekolah telah dilakukan oleh pihak penerima dana sebagai berikut : 60% menyatakan bahwa dalam membuat laporan tidak konsisten. Artinya kadang membuat laporan secara tertib tetapi setelah ada teguran dari pihak pendamping. 30 % selalu membuat laporan tanpa harus diingatkan oleh pihak pendamping dan 10

% membuat laporan setelah ada

pemeriksaan secara internal.

Gambar 5 Laporan Pertanggungjawaban yang disusun oleh Pengelola keuangan setelah Pengarah

6. Dari pengelola keuangan 40%

merasakan bahwa Team manajemen BOS

Kabupaten melakukan pembinaan

keuangan kepada pengelola keuangan sekolah. Sementara 60 % menyatakan

bahwa dalam menyusun laporan

pertanggungjawaban melakukan secara proaktif kepada Team manajamen BOS

Kabupaten yang dibentuk melalui

coordinator wilayah setempat. Hal inilah

yang membuat kelancaran dalam

menyajikan laporan keuangan dana BOS di Kabupaten Wonogiri

(11)

Gambar 6. Pembinaan Yang dilakukan oleh Petugas Pendamping

7. Petugas Pendamping melakukan

pembinaan secara berkala kepada sekolah penerima bantuan sebesar 40 % sementara untuk melengkapi berkas atau dokumen

dalam menyusun laporan

pertanggunjawaban keuangan yang

dilakukan oleh team manajemen BOS sebanyak 60% dengan melakukan monitoring dan evaluasi.

Gambar 7 Pembinaan secara berkala oleh Petugas Pendamping

8. Ketika terjadi kekurangan berkas

pertanggungjawaban keuangan, dalam

pembinaan team pendamping selalu

memberikan peringatan kepada pengelola keuangan sekolah . Kegiatan ini hanya

dapat menyelesaikan 30 %

pertanggungjawaban pengelola keuangan sekolah. Sehingga yang 70 % hanya lebih intensif dalam memberikan pembinaan secara berkala

Gambar 8 Pembinaan tentang kekurangan berkas administrasi Keuangan

9. Dalam membuat

pertanggungjawaban keuangan setelah

pencairan dana, pengelola sekolah yang selalu tepat waktu untuk sebesar 30 %. Sementara yang 70 % dalam penyampaian

pertanggungjawaban keuangan harus

dilakukan jemput bola ke sekolah atau korwil .

Gambar 8 Pembinaan Terhadap Laporan

10. Ketika diadakan pembinaan dalam

penyelesian keuangan, sekolah yang dapat mengikuti secara penuh atau full sekitar 30 % dan yang 70 % melalui bimbingan khusus diluar jadwal pembinaan. Hal ini karena Sumber Daya Manusia yang bertugas dalam pengelolaan Bantuan Operasional Sekolah adalah guru yang di beri tugas tambahan mengelola dana BOS. Sehingga masalah SDM ini merupakan masalah yang krusial dalam pengelolaan dana BOS.

(12)

Gambar 10. Penyampaian Pembinaan dalam penyelesaian kekurangan berkas

Pembahasan dari temuan saat observasi di lapangan tentang pemahaman terhadap regulasi dikaitkan dengan teori dalam pengelolaan keuangan sekolah maka petugas pendampingan harus lebih proaktif. Sehingga pengelola keuangan ditingkat sekolah dapat betul-betul paham aturan-aturan yang berlaku dalam menyampaikan laporan pertanggungjawaban.

Untuk melaksanakan tugas dalam pengelolaan keuangan telah diuraikan bahwa transaksi posisi dana yang ada di bendahara maupun di bank perlu diketahui dengan pasti. Sehingga ketika penyampaian informasi tentang pencairan dana belum maksimal akan mempengaruhi pengelola keuangan sekolah dalam memberikan pertanggungjawaban tepat pada waktunya. Langkah yang ditempuh sebagai petugas pendamping dalam hal ini adalah dengan membuat cros chek data untuk melihat sampai dimana informasi pencairan dana tersebut diterima oleh pengelola keuangan di tingkat sekolah. Ketika pengelola keuangan sekolah terjadi permasalahan dalam penyaluran dana, dari hasil observasi menunjukan prosentasi yang signifikan implementasi hasil pelatihan bahwa petugas pendamping sudah maksimal dalam penyampaian informasi dimana pengelola sekolah selalu proaktif dalam menyelesaikan permasalahan tersebut. Adapun ada sebagian kecil dari petugas pengelola keuangan sekolah yang belum dapat memanfaat komunikasi guna mencari solusi pemecahan masalah yang terjadi di instansinya

Kurangnya waktu dan sarana dalam menyampaikan informasi bagi petugas pendamping sehingga informasi tentang penyusunan pertanggungjawaban laporan keuangan belum dapat diterima secara maksimal sebagian besar pengelola keuangan sekolah. Guna antisipasi tersebut maka petugas pendamping dalam menindaklanjuti hasil pelatihan dengan dengan mengadakan monitoring secara berkala kepada pihak pengelola keuangan sekolah.

Dalam kegiatan penyusunan laporan keuangan sekolah yang harus disampaikan secara transparan maka implementasi yang dilakukan petugas pendamping dalam melaksanakan pendampingan sudah dirasakan secara optimal. Dimana pengelola keuangan sekolah sebagian besar sudah menindaklanjuti arahan guna mewujudkan akuntabilitasnya. Dari hasil observasi terbukti jumlah prosentasi tertinggi dari pengelola keuangan sekolah dalam menyampaikan laporan secara transparan kepada masyarakat. Meskipun ada sebagian kecil yang belum melaksanakan tugas dalam menyampaikan ketransparanan penggunaan dananya, sehingga perlu warning khusus kepada pengelola yang demikian tersebut. Dalam melaksanakan tugas pendampingan kepada pengelola keuangan sekolah, keterserapan penyampaian secara langsung dirasa belum maksimal. Sehingga dari team pendamping membuat semacam tangan kanan dalam penyampaian informasi pertanggungjawaban di setiap koordinator wilayah di masing-masing kecamatan. Hal ini merupakan terobosan yang dilakukan oleh

(13)

team pendamping guna penyampaian informasi dalam mencapai target mewujudkan akuntabilitas keuangan sekolah. Pembinaan secara berkala sebagai wujud dari implementasi pelatihan kurang optimal dirasakan oleh pengelola keuangan sekolah. Sehingga perlu tindak lanjut hasil pembinaan berkala tersebut dari team manajemen bantuan operasional sekolah dalam penyusunan laporan pertanggungjawaban. Jenis-jenis pembukuan yang harus diselesaikan oleh pengelola keuangan sekolah perlu disampaikan secara detail dalam rangka memahami tugas dan tanggung jawab pengelola keuangan sekolah. Karena dengan memahami apa yang dilakukan dan dikerjakan oleh pengelola keuangan sekolah maka akuntabilitas kepada masyarakat dapat terwujud.

Dalam rangka menjadikan sekolah yang akuntabel dalam pengelolaan keuangan, diharapkan dari petugas pendampingan dapat memfasilitasi penyusunan laporan keuangan sekolah khususnya kelengkapan berkas

administrasi yang dapat

dipertanggungjawabkan. Artinya sebagai petugas pendamping dapat menyampaikan hasil yang di peroleh saat pelatihan tentang apa yang menjadi dokumen keabsahan laporan keuangan yang dikehendaki oleh bagian audit atau pemeriksaan. Sementara dari hasil penelitian yang diperoleh di lapangan prosentase dalam implementasi ini masih rendah sehingga perlu support kepada pengelola keuangan sekolah dalam melengkapi berkas administrasi keuangan. Guna penyelesaian terhadap permasalahan ini perlu adanya kerjasama dengan koordinator wilayah di masing-masing kecamatan. Dari kondisi ini terlihat dalam penyelesaian terhadap dokumen keabsahan memerlukan rantai yang panjang guna penyelesaiannya.

Dari hasil observasi tentang kelengkapan berkas administrasi yang dibutuhkan dalam pertanggungjawaban pengelolaan keuangan sekolah tersebut diatas, maka sangat berimbas terhadap penyampaian akhir laporan pertanggungjawaban keuangan sekolah. Sehingga untuk mendapatkan hasil

laporan pertanggungjawaban secara lengkap diperlukan adanya koordinasi jemput bola kepada pihak sekolah.

Guna mencapai hasil yang maksimal dalam penyajian laporan keuangan sebagai wujud akuntabilitas pengelola maka dari observasi yang diperoleh, bahwa petugas pendamping melaksanakan pembinaan dalam penyelesaian tugas akhir. Tetapi dari petugas pendamping masih perlu memberikan pembinaan yang sifatnya lebih khusus dalam penyelesaian laporan akhir. Sehingga dari hal tersebut di rasa belum maksimal dan masinh dibutuhkan pembinaan lebih lanjut.

Dari hasil observasi dan pembahasan tersebut, maka dapat diketahui bahwa petugas pendamping sudah melaksanakan tugas meskipun belum maksimal dalam penyampaian hasil pendidikan dan pelatihan. Hal ini terlihat dari teori yang ada dalam pengelolaan keuangan sekolah, personil yang terlibat dalam penentuan anggaran sangat bervariasi, yaitu dari pihak warga sekolah yang teridi dari Kepala Sekolah, Pengawas Sekolah, Komite Sekolah. Sehingga perlu diambil langkah-langkah serta terobosan guna mewujudkan opini terbaik dalam mempertanggungjawabkan pengelolaan keuangan sekolah. Rantai pajang yang harus dilalui oleh petugas pendamping sangatlah panjang. Hal ini dikarenakan jumlah pengelola keuangan ditingkat sekolah sangat banyak dengan background pendidikan yang mayoritas bukan dari bidang keuangan. Belum lagi terhadap pembinaan dengan adanya kondisi perubahan terhadap anggaran saat ini yang sewaktu-waktu mengalami perubahan.

SIMPULAN

Dari hasil obervasi yang kemudian diolah dengan menggunakan teori Miles dan Huberman tersebut dapat disimpulkan bahwa implementasi pendidikan dan pelatihan petugas pendampingan dalam sistem pengelolaan keuangan dana sekolah di Kabupaten Wonogiri sudah dapat dilaksanakan dalam mewujudkan akuntabilitas laporan keuangan meskipun belum dapat secara maksimal.

(14)

Terobosan-terobosan yang dilakukan oleh petugas pendamping merupakan upaya dalam memberikan penguatan dalam implementasinya guna mencapai target penilaian keuangan yang baik. Sehingga tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pengelolaan keuangan sekolah dapat diterima dengan baik.

Guna lebih mengefktifkan dalam penyampaian materi diperlukan pendidikan dan pelatihan lebih lanjut bagi pengelola keuangan sekolah secara langsung dengan tetap didampingi oleh petugas dari tingkat kabupaten. Untuk materi dalam pendidikan dan pelatihan kurikulum perlu diperbanyak waktu untuk pembelajaran dengan praktek, sehingga akan lebih menambah wawasan dan pengetahuan bagi pengelola keuangan sekolah. Pemantapan materi pendidikan dan pelatihan dalam pengelolaan keuangan sekolah ada baiknya terjadwal kegiatan untuk study banding. Sehingga pengelola keuangan akan lebih memahami dan dapat mengambil contoh dari apa yang telah diterapkan oleh lokus atau obyek yang di pilih sebagai tempat study banding.

Perlunya kolabarasi antara fasilitator dengan praktisi sehingga akan ada sinergisitas dalam penyampaian materi yang sesuai dengan kebutuhan. Karena perlu dingat bahwa pengelolaan keuangan sekolah dengan pengelolaan keuangan Instansi, Badan atau Orginisasi lain sangat berbeda. Dimana dalam pengelolaan keuangan sekolah ada pisah batas tahun anggaran dengan tahun pelajaran. Hal inilah yang menjadikan perbedaan dalam menentukan jumlah dana yang diterima bagi sekolah.

Penyesuaian dana yang diterima oleh sekolah harus berorientasi pada jumlah peserta didik saat triwulan pencairan dana. Sehingga hal inilah yang perlu di samakan persepsinya antara fasilitator dengan praktisi di bidang keuangan.

Perlunya juga ada tambahan pendidikan dan pelatihan bagi warga sekolah yang mendorong terwujudnya akuntabilitas dalam pengelolaan keuangan sekolah. Dimana dalam dalam penentuan anggaran yang direncanakan dari warga sekolah dibutuhkan

evaluasi diri sekolah yang mana sangat membutuhkan pendidikan dan pelatihan bagi yang mempunyai kepentingan dalam hal ini DAFTAR RUJUKAN

Afrilliana Fitri. (2014, Juni ). Pengelolaan Dana Bantuan Operasional Sekolah. Bahana

Manajemen Pendidikan, 33-39.

Daniel Aditya Utama ,Rediana Setiyani. (2014). Pengaruh Transparansi,

Akuntabilitas, Dan Responsibilitas. Jurnal

Pendidikan Ekonomi Dinamika Pendidikan, IX, 100-114.

Edy Sutrisno. (2011). Manajemen Sumber

Daya Manusia. Jakarta: Kencana.

Emzir. (2010). Metodologi Penelitian

Kualitatif : Analisis Data. Jakarta: Rajawali

Pers PT Raja Grafindo Persada. Ghazali Adillah. (2016). Manajemen Keuangan Sekolah . Manajer Pendidikan, 343-346.

Henry, Sinamlora;. (2010). Manajemen

Sumber Daya Manusia . Yogyakarta: STIE

YKPN .

Jamaluddin Iskandar. (2019, Juni ).

Implementasi Sistem. Jurnal Idaarah,, III, 114-122.

Peraturan Pemerintah . Nomor 12 Tahun 2019.

Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2020.

Prasojo,LD. (2012). Financial Resources

Sebagai Faktor Penentu Dalam Implementasi Kebijkan.

Ratnaningtyas, K; Setiyani R, Ratnaningtyas K ;. (n.d.). Economic Education Analysis

Journal, 571-582.

Rita Pusvitasari dan Mukhamad Sukur. (2020). Manajemen Pendidikan Islam. Am

Tanzil, 04, 940-106.

Siswanto,E. (2013). In Prinsip Dan

IMplementasi Dalam Penggalian Pendapatan. Jakarta: Penerbit Gunung

Samudera (Grup Penerbit Pt Book Mart Indonesia ).

Wibowo . (2010). Manajemen Kinerja . Jakarta: Rajawali Pers.

Yudhaningsih, R. (2011). Peningkatan Efektifitas Kerja Melalui Komitmen,

(15)

Perubahan dan Budaya Organisasi.

Gambar

Gambar  2 Peenyampaian  Pencairan Dana
Gambar  5    Laporan  Pertanggungjawaban  yang  disusun oleh Pengelola keuangan setelah Pengarah
Gambar 6. Pembinaan Yang dilakukan oleh Petugas                     Pendamping
Gambar 10. Penyampaian Pembinaan dalam  penyelesaian kekurangan berkas

Referensi

Dokumen terkait

Atasan Hem Warna Putih Lengan Panjang, Bawah Celana Hitam Panjang (Bahan Kain), Sepatu Fantofel Hitam, Kaos Kaki Putih Polos.. Ikat Pinggang Warna Hitam, Berambut pendek maksimal

3.3.Aktifkan pemutaran dari beberapa posisi sebelum locator kiri,ketika kursor proyek mencapai locator kiri, rekaman akan diaktifkan secara otomatis.Menghentikan

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan pada objek wisata Pulau Tangkil memperoleh data biaya perjalanan total yang dikeluarkan pengunjung adalah sebesar

Dalam larangan perkawinan antar warga Desa Kemantren dan Desa Wado, Kecamatan Kedungtuban Kabupaten Blora,masyarakat berpedoman dengan kepercayaan yang dipelajari

Upaya hukum terhadap akibat yang timbul dari pembatalan perkawinan terhadap suami dan istri yang dibatalkan perkawinannya bisa bersatu kembali sebagai suami dan istri

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa (1) kepuasan kerja berpengaruh secara signifikan terhadap turnover intention karyawan, (2) stres pekerja

untuk mengelola sesuatu yang tak dapat dilihat atau dievaluasi. Testing yang efektif merupakan kebutuhan awal untuk mencapai manajemen kualitas yang efektif. Kualitas sistem

Ber- beda dengan penelitian sebelumnya, artikel ini tidak hanya melihat pada persoalan gender ataupun kolonial yang telah banyak diulas, teta- pi juga mengulas seberapa