• Tidak ada hasil yang ditemukan

Lilin Turlina*, Heny Ekawati** ABSTRAK

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Lilin Turlina*, Heny Ekawati** ABSTRAK"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

PERBEDAAN EFEKTIFITAS KOMPRES PANAS DAN KOMPRES DINGIN TERHADAP PENURUNAN INTENSITAS NYERI PERSALINAN KALA I FASE AKTIF DI RSUD

Dr.SOEGIRI KABUPATEN LAMONGAN Lilin Turlina*, Heny Ekawati**

ABSTRAK

Semua wanita yang pernah melahirkan secara normal 100% pasti merasakan sakit. Dari survei awal yang dilakukan pada 8 responden ibu bersalin kala I fase aktif di RSUD Dr.Soegiri kabupaten Lamongan, terdapat 75% yang mengalami nyeri berat dan 25% yang mengalami nyeri sedang. nyeri persalinan dapat dikurangi degan salah satu metode yaitu kompres panas dan dan dingin. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan efektifitas kompres panas dan kompres dingin terhadap penurunan intensitas nyeri persalinan kala I fase aktif

Desaine yang digunakan adalah pretest-posttest control group design, Pemilihan sample dengan tehnik simple random sampling, dimana sampel yang diamati sebanyak 28 orang. Data penelitian ini diambil dengan menggunakan lembar ceklist, setelah ditabulasi, data dianalisis dengan menggunakan uji Wilcoxon sign rank test dengan tingkat kesalahan α = 0,05.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan menunjukan bahwa sebelum dilakukan kompres panas setengahnya (50%) responden mengalami nyeri berat.Setelah diberikan kompres panas setengahnya (50%) responden mengalami nyeri sedang. Sedangkan sebelum dilakukan kompres dingin sebagian besar (71,4% ) responden mengalami nyeri berat. Setelah diberikan kompres dingin setengahnya (50%) responden mengalami nyeri sedang. Dari uji yang dilakukan maka didapatkan nilai signifikan pada kompres panas (p=0,001) dan pada kompres dingin(p=0,003) sehingga P<0,05 yang artinya terdapat perbedaan efektifitas kompres panas dan kompres dingin terhadap penurunan intensitas nyeri persalinan kala I fase aktif.

merujuk hasil penelitian ini adalah petugas kesehatan terutama bidan selalu memberikan motivasi dan perlakuan kompres panas pada ibu bersalin kala I fase aktif sehingga nyeri persalinan dapat berkurang. Kata kunci : ibu bersalin, nyeri persalinan, kompres panas, kompres dingin

PENDAHULUAN

Persalinan (inpartu) dimulai sejak uterus berkontraksi dan menyebabkan perubahan servik (membuka dan menipis) dan berakhir dengan lahirnya plasenta secara lengkap (JNPK-KR, 2008). Selama persalinan banyak wanita yang mengalami nyeri fisik (Varney, 2008). Persalinan yang disertai nyeri merupakan pengalaman subyektif seorang wanita tentang sensasi fisik yang terkait dengan kontraksi uterus. Meskipun sudah dialami oleh sebagian wanita, rasa nyeri saat melahirkan bersifat unik dan berbeda. Nyeri merupakan suatu kondisi yang lebih dari suatu sensasi tunggal yang disebabkan oleh stimulus tertentu (Perry Potter, 2006).

Berdasarkan survey awal yang dilakukan penulis di RSUD Dr.Soegiri kabupaten Lamongan pada bulan Januari 2014 didapatkan 8 ibu bersalin yang mengalami nyeri pada saat proses persalinan, 6 ibu

bersalin atau 75 % yang mengalami nyeri berat dan 2 ibu bersalin atau 25% yang mengalami nyeri sedang. Berdasarkan data di atas dapat diketahui bahwa hampir semua ibu bersalin mengalami nyeri berat pada saat proses persalinan.

Berbagai faktor yang dapat mempengaruhi nyeri persalinan kala I fase aktif antara lain adalah pengalaman masa lalu, anxietas, budaya, usia, dukungan keluarga dan sosial (Perry Potter, 2006).

Pengalaman nyeri sebelumnya tidak selalu berarti bahwa individu tersebut akan menerima nyeri dengan lebih mudah pada masa yang akan datangApabila individu sejak lama sudah mengalami serangkaian episode nyeri tanpa pernah sembuh atau menderita nyeri yang berat, maka anxietas atau rasa takut akan muncul(Perry Potter, 2006). Anxietas adalah rasa cemas yang dapat menimbulkan suatu masalah penatalaksanaan nyeri serius (Perry Potter, 2006).Budaya mempengaruhi cara

(2)

individu mengatasi nyeri. Individu mempelajari apa yang diharapkan dan apa yang diterima oleh kebudayaan mereka. Hal ini meliputi bagaimana individu bereaksi terhadap nyeri (Perry Potter 2006).Usia merupakan variabel penting yang mempengaruhi nyeri (Perry Potter 2006). Dukungan keluarga dan sosial merupakan faktor yang bermakna mempengaruhi respon nyeri.Individu dari kelompok sosio budaya yang berbeda memiliki harapan yang berbeda tentang orang tempat mereka menumpahkan keluhan tentang nyeri. (Perry Potter, 2006). Perhatian : Tingkat seseorang klien memfokuskan perhatianya pada nyeridapat mempengaruhi persepsi nyeri (perhatian yang meningkat dihubungkan dengan nyeri yang meningkat ) (Perry Potter, 2006). Jenis kelamin : Secara umum pria dan wanita tidak berbeda secara bermakna dalam berespon terhadap nyeri(Perry Potter, 2006). Natal care (perawatan dalam persalinan) asuhan yang diberikan secara langsung oleh tenaga kesehatan dalam bentuk bantuan dan dukungan untuk mengurangi kecemasan dan memenuhi kebutuhan ibu saat peroses persalinan secara fisik dan psikologis (Sumarah, dkk, 2009)

Apabila nyeri persalinan kala I fase aktif tidak ditangani, maka ibu akan merasakan nyeri yang berat sehingga anxietas atau rasa takut akan muncul yang dapat berakhir dengan kepanikan (Perry Potter, 2006). Nyeri dalam persalinan dapat dikendalikan dengan 2 metode yaitu farmakologis dan nonfarmakologis. Metode pengendalian rasa nyeri persalinan secara farmakologis yaitu dengan memberikan obat-obatan seperti sedatif(golongan barbiturate) dan opioid (morfin). Sedangkan metode pengurangan rasa nyeri persalinan secara nonfarmakologis yaitu dengan counterpresure, penekananlutut, gerakan, hidroterapi, kompres panas dan kompres dingin(Rohani, 2011). Kompres panas diberikan pada saat ibu mengalami kontraksi yaitu dengan cara meletakan buli-buli panas yang diisi air hangat pada perut bagian bawah, punggung, lipatan paha atau perineum (Simkin, 2008). Sedangkan untuk kompres dingin akan membuat baal daerah yang terkena dangan memperlambat transmisi nyeri melalui neuron-neuron sensorik, kompres dingin diberikan pada saat ibu mengalami kontraksi yaitu dengan cara

punggung bawah atau perineum (Rohani, 2011).

METODOLIGI PENELITIAN

Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian eksperimental dengan desain studi true eksperimen (pretest-posttest control group design).Dalam penelitian ini, peneliti ingin mengetahui perbedaan efektifitas kompres hangat dengan kompres dingin terhadap penurunan intensitas nyeri persalinan kala I fase aktif

Populasinya penelitian ini sejumlah 30 orang dengan tehnik simple random samplingdidapatkan sampel sejumlah 28 orang.Pemilihan kriteria populasi pada penelitian ini adalah: (1) Ibu bersalin yang menjadi responden yang menanda tangani informed concent (2) Ibu bersalin normal yang memasuki persalinan kala I fase aktif(3)ibu bersalin yang tidak mendapat obat perangsang ( oksitosin drip) dan tidak dengan komplikasi (eklamsia).

HASIL DAN PEMBAHASAN

Tabel 1 Distribusi Responden Kelompok Kompres Panas Berdasarkan Umur Ibu bersalin kala I fase aktif di RSUD Dr.Soegiri Kabupaten Lamongan Tahun 2014.

No. Umur Jumlah Responden Persentase (%) 1. 2. 3. <20 20-35 >35 4 10 0 28,6 71,4 0 Total 14 100

Berdasarkan tabel 1 diatas dapat dijelaskan bahwa pada kelompok kompres panas di RSUD Dr.Soegiri sebagian besar ibu bersalin berusia 20-35 tahun sebanyak 71,4% dan tidak satupun ibu bersalin yang berusia >35 tahun sebanyak 0%

Tabel 2 Distribusi Responden Kelompok Kompres dingin Berdasarkan Umur Ibu bersalin kala I fase aktif di RSUD Dr.Soegiri Kabupaten Lamongan Tahun 2014.

(3)

No. Umur Jumlah Responden Persentase (%) 1. 2. 3. ≤ 20 th 20-30 th ≥ 30 th 5 7 2 35,7 50 14,3 Total 14 100

Berdasarkan tabel 2 diatas dapat dijelaskan bahwa pada kelompok kompres dingin di RSUD Dr.Soegiri setengahnya dari ibu bersalin berusia 20-35 tahun sebanyak 50% dan sebagian kecil ibu bersalin berusia >35 tahun sebanyak 14,3%.

Tabel 3 Distribusi Responden Kelompok Kompres Panas Berdasarkan Pendidikan Ibu Bersalin Kala I Fase Aktif di RSUD Dr.Soegiri Kabupaten Lamongan Tahun 2014. No. Pendidikan Jumlah

Responden Persentase (%) 1. 2. 3. 4. Diploma/PT SMU SMP SD 0 5 8 1 0 35,8 57,1 7,1 Total 14 100

Berdasarkan tabel 3 di atas dapat dijelaskan bahwa pada kelompok kompres panas di RSUD Dr.Soegiri sebagian besar ibu bersalin berpendidikan SMP sebanyak 57,1 % dan sebagian kecil ibu bersalin berpendidikan SD sebanyak 7,1 %

Tabel 4 Distribusi Responden Kelompok Kompres dingin Berdasarkan pendidikan Ibu bersalin kala I fase aktif di RSUD Dr.Soegiri Kabupaten Lamongan Tahun 2014. No. Pendidikan Jumlah

Responden Persentase (%) 1. 2. 3. 4. Diploma/PT SMU SMP SD 2 5 7 0 14,3 35,7 50 0 Total 14 100

Berdasarkan tabel 4 di atas dapat dijelaskan bahwa pada kelompok kompres dingin di RSUD Dr. Soegiri setengahnya dari ibu bersalin berpendidikan SMP sebanyak

50% dan tidak satupun dari ibu bersalin berpendidikan SD sebanyak 0 %

Tabel 5 Distribusi Responden Kelompok Kompres panas Berdasarkan pekerjaan Ibu bersalin kala I fase aktif di RSUD Dr.Soegiri Kabupaten Lamongan Tahun 2014. No. Pekerjaan Jumlah

Responden Persentase (%) 1. 2. 3. 4. PNS/TNI/POLRI Swasta Petani IRT 1 4 2 7 7,1 28,6 14,3 50 Total 14 100

Berdasarkan tabel 5 diatas dapat di jelaskan bahwa pada kelompok kompres panas di RSUD Dr. Soegiri hampir setengahnya ibu bersalin sebagai ibu rumah tangga sebanyak 28,6% dan sebagian kecil bekerja sebagai PNS/POLRI/TNI sebanyak 7,1%

Tabel 6 Distribusi Responden Kelompok Kompres Dingin Berdasarkan Pekerjaan Ibu Bersalin Kala I Fase Aktif di RSUD Dr.Soegiri Kabupaten Lamongan Tahun 2014.

No. Pekerjaan Jumlah

Responden Persentas e (%) 1. 2. 3. 4. PNS/TNI/POLRI Swasta Petani Ibu Rumah Tangga

1 6 3 4 7,1 42,9 21,4 28,6 Total 14 100

Berdasarkan tabel 6 diatas dapat di jelaskan bahwa pada kelompok kompres dingin di RSUD Dr.Soegiri hampir setengahnya ibu bersalin bekerja swasta sebanyak 42,9% dan sebagian kecil bekerja sebagai PNS/POLRI/TNI sebanyak 7,1%

(4)

Tabel 7 Distribusi Responden Kelompok kompres panas berdasarkan jumlah anak ibu bersalin kala I fase aktif di RSUD Dr.Soegiri Kabupaten Lamongan Tahun 2014.

No. Jumlah Anak Jumlah Responden Persentase (%) 1. 2. 3. 4. 1 anak 2 anak 3 anak 4 anak atau lebih 7 6 1 0 50 42,9 7,1 0 Total 14 100

Berdasarkan tabel 7 diatas dapat diperjelas bahwa pada kelompok kompres panas di RSUD Dr. Soegiri setengahnya dari ibu bersalin memiliki 2 anak sebanyak 50% dan tidak satupun yang memiliki 4 anak atau lebih sebanyak 0%.

Tabel 8 Distribusi Responden Kelompok Kompres Dingin Berdasarkan Jumlah Anak Ibu Bersalin Kala I Fase Aktif di RSUD Dr.Soegiri Kabupaten Lamongan Tahun 2014. No. Jumlah Anak Jumlah Responden Persentase (%) 1. 2. 3. 4. 1 anak 2 anak 3 anak 4 anak / lebih 5 4 3 2 35,7 28,6 21,4 14,3 Total 14 100

Berdasarkan tabel 8 diatas dapat diperjelas bahwa pada kelompok kompres dingin di RSUD Dr. Soegiri hampir setengahnya ibu bersalin memiliki 1 anak sebanyak 35,7% dan sebagian kecil memiliki 4 anak atau lebih sebanyak 14,3%.

Tabel 9 Distribusi Responden Kelompok Kompres Panas Berdasarkan Pendamping Persalinan Ibu Bersalin Kala I Fase Aktif di RSUD Dr.Soegiri Kabupaten Lamongan Tahun 2014. No . Pendampin g persalinan Jumlah Responde n Persentas e (%) 1. 2. 3. Suami Keluarga Tidak didampingi 2 4 8 14,3 28,6 57,1 Total 14 100

Berdasarkan tabel 9 diatas dapat dijelaskan bahwa pada kelompok kompres panas ibu bersalin di RSUD Dr. Soegiri sebagian besar pendamping persalinan adalah keluarga sebanyak 57,1% dan sebagian kecil pendamping persalinan adalah suami sebanyak 14,3%.

Tabel 10 Distribusi Responden Kelompok Kompres Dingin Berdasarkan Pendamping Persalinan Ibu Bersalin Kala I Fase Aktif di RSUD Dr.Soegiri Kabupaten Lamongan Tahun 2014. No. Pendamping persalinan Jumlah Responden Persentase (%) 1. 2. 3. Suami Keluarga Tidak didampingi 3 5 6 21,4 35,7 42,9 Total 14 100

Berdasarkan tabel 10 diatas dapat dijelaskan bahwa pada kelompok kompres dingin ibu bersalin di RSUD Dr.Soegiri hampir setengahnya tidak didampingi saat proses persalinan sebanyak 42,9% dan sebagian kecil pendamping persalinan adalah suami sebanyak 21,4%

Tabel 11 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Intensitas Nyeri Persalinan Kala I Fase Aktif Sebelum Diberikan Kompres Panas di RSUD Dr.Soegiri Kabupaten Lamongan No. Skala nyeri Frekwensi Persentase

(%) 1 2 3 4 5 Tidak nyeri Nyeri ringan Nyeri sedang Nyeri berat Nyeri sangat berat 0 0 2 7 5 0 0 14,3 50 35,7 Total 14 100

(5)

Berdasarkan tabel 11 diatas dapat dijelaskan bahwa intensitas nyeri persalinan kala I fase aktif sebelum dilakukan kompres pada ibu bersalin di RSUD Dr.Soegiri setengahnya mengalami nyeri berat sebanyak 50% dan sebagian kecil mengalami nyeri sedang sebanyak 14,3%

Tabel 12 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Intensitas Nyeri Persalinan Kala I Fase Aktif Sesudah Diberikan Kompres Panas di RSUD Dr.Soegiri Kabupaten Lamongan No. Skala nyeri Frekwensi Persentase

(%) 1 2 3 4 5 Tidak nyeri Nyeri ringan Nyeri sedang Nyeri berat Nyeri sangat berat 0 4 7 3 0 0 28,6 50 21,4 0 Total 14 100

Berdasarkan tabel 12 diatas dapat dijelaskan bahwa setengah dari ibu bersalin di RSUD Dr.Soegiri kabupaten Lamongan mengalami nyeri sedang setelah diberikan kompres panas sebanyak 50% dan hanya sebagian kecil yang mengalami nyeri berat sebanyak 21,4%.

Tabel 13 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Intensitas Nyeri Persalinan Kala I Fase Aktif Sebelum Diberikan Kompres Dingin di RSUD Dr.Soegiri Kabupaten Lamongan No. Skala nyeri Frekwensi Persentase

(%) 1 2 3 4 5 Tidak nyeri Nyeri ringan Nyeri sedang Nyeri berat Nyeri sangat berat 0 0 1 10 3 0 0 7,1 71,4 28,6 Total 14 100

Berdasarkan tabel 13 diatas dapat dijelaskan bahwa sebagian besar intensitas nyeri pada ibu bersalin kala I fase aktif sebelum dilakukan kompres dingin di RSUD Dr.Soegiri mengalami nyeri berat sebanyak

71,4% dan sebagian kecil mengalami nyeri sedang Sebanyak 7,1 %

Tabel 14 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Intensitas Nyeri Persalinan Kala I Fase Aktif Sesudah Diberikan Kompres Dingin Di Rsud Dr.Soegiri Kabupaten Lamongan No. Skala Nyeri Frekwensi Persentase

(%) 1 2 3 4 5 Tidak nyeri Nyeri ringan Nyeri sedang Nyeri berat Nyeri sangat berat 0 0 7 6 1 0 0 50 42,9 7,1 Total 14 100

Berdasarkan tabel 14 diatas dapat dijelaskan bahwa setengah dari ibu bersalin setelah diberikan kompres dingin mengalami nyeri sedang sebanyak 50% dan hanya sebagian kecil yang mengalami nyeri sangat berat sebanyak 7,1%.

Berdasarkan Hasil uji statistic Wilcoxon sign rank test tentang perbedaan efektifitas kompres panas dan kompres dingin terhadap penurunan intensitas nyeri persalinan kala I fase aktif menunjukan nilai signifikan pada kompres panas (Psign 0,001) dimana Z hitung (-3,286), dan nilai signifikan pada kompres dingin (Psign 0,003) dimana Z hitung (-3.000) dan P < 0,05 sehingga H 1 diterima

artinya ada perbedaan efektifitaas kompres panas dan kompres dingin terhadap penurunan intensitas nyeri persalinan kala I fase aktif di RSUD Dr.Soegiri kabupaten Lamongan.

PEMBAHASAN

1) Intensitas Nyeri Persalinan Kala I Fase Aktif Sebelum Diberikan Kompres Panas Dan Dingin

Dari tabel 11 menunjukan bahwa pada kelompok kompres panas ibu bersalin kala I fase aktif sebelum dilakukan kompres panas setengahnya mengalami nyeri sangat berat sebanyak (50%), dan pada table 13 menunjukan bahwa sebelum diberikan kompres dingin sebagian besar mengalami nyeri sangat berat sebanyak (71,4%) dan dan hanya sebagian kecil yang mengalami nyeri sedang. Dari data tersebut dapat diketahui

(6)

bahwa masih banyak ibu bersalin yang mengalami nyeri persalinan pada kala I fase aktif biasanya para ibu yang tidak tahu cara mengendalikan rasa nyeri persalinan ibu akan mencari informasi mengenai metode pengendalian nyeri persalinan. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan nyeri persalinan kala I fase aktif data dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu usia, budaya, pengalamanan, masalalu, dukungan keluraga dan sosial.

Usia merupakan variabel penting yang mempengaruhi nyeri, pada ibu yang berusia sangat muda dan ibu yang tua mengeluh tingkat nyeri persalinan yang lebih tinggi. Sedangkan jumlah anak berhubungan dengan paritas dan juga pengalaman, paritas dapat mempengaruhi persepsi, pada primipara mengalami nyeri lebih besar pada awal persalinan, sedangkan multipara mengalami peningkatan nyeri setelah proses persalinan dengan penurunan cepat pada kala II. Pendamping saat persalinan juga berperan penting dalam proses persalinan, hal ini berhubungan dengan dukungan dan motivasi yang juga mempengaruhi respon terhadaap nyeri. Orang-orang yang sedang dalam keadaan nyeri sering bergantung pada keluarga untuk mensuport, membantu, dan melindung. Ketidakhadiran kelurga atau teman dekat mungkin akan membuat nyeri semakin bertambah.

Menurut hasil penelitian di RSUD Dr.Soegiri Kabupaten Lamongan pada ibu bersalin kala I fase aktif sebagian mengalami nyeri sangat berat, hal ini dikarenakan oleh terjadinya kontraksi uterus. Tingkat nyeri dikatakan berat apabila ibu bersalin kala I faase aktif secara subyektif mengatakan nyeri berat dan secara obyektif klien tidak dapat mengikuti perintah, tidak merespon tindakan, tidak bias menunjukan lokasi nyeri, klien tidak dapat menceritakan nyeri yang dirasakan

Nyeri sebagai suatu sensasi subyektif dan pengalaman emosional yang tidak menyenangkan berkaitan dengan kerusakan aringan yang actual atau potensial atau yang dirasakan dalam keadian-kejadian dimana terjaadi kerusakan (Perry Potter, 2006)

2) Intensitas Nyeri Persalinan Kala I Fase Aktif Setelah Diberikan Kompres Panas

Dari tabel 12 menunjukan bahwa pada kelompok kompres panas dapat dijelaskan

aktif sesudah diberikan kompres panas mengalami nyeri sedang sebanyak 7 ibu bersalin atau 50% dan hanya sebagian kecil mengalami nyeri berat sebanyak 3 ibu bersalin atau 21,4 %. Dari data diatas pada ibu bersalin kala I fase aktif setelah diberikan kompres panas sebagian besar nyeri sangat berat pada persalinan kala I fase aktif berkurang menjadi sedang.Tehnik kompres panas ini dianggap meredakan nyeri dengan mengurangi spasme otot yang disebabkan oleh iskemia, merangsang neuron yang memblok transmisi lanjut rangsang nyeri, menyebabkan vasodilatasi dan peningkatan aliran darah kearea punggung tersebut dan mengurangi produk inflamasi seperti histamine, prostaglandin dan bradiknin. Hal ini sesuai dengan teori tentang mekanisme terjadinya penurunan nyeri akibat dilakukan kompres panas karena panas menyebabkan vasodilatasi pembuluh darah sehingga membantu meningkatkan aliran darah kebagian tubuh yang cedera atau mengalami perubahan fungsi, panas mungkin meredakan nyeri dengan menyingkirkan produk inflamasi seperti bradikinin, histamine dan prostaglandin yang menimbulkan rasa nyeri local. Panas juga merangsang serat saraf yang menutup gerbang sehingga transmisi implus nyeri ke medulla spinalis dan otak dapat dihambat. Panas juga mengurangi ketegangan otot dan kekakuan sendi, Panas menurunkan nyeri melalui vasodilatasi dan efek relaksasi (Varney, 2008). Kompres panas merupakan tindakan yang bertujuan memenuhi rasa nyaman, menguranggi atau membebaskan nyeri, mengurangi atau mencegah terjadinya spasme otot karena memberikan rasa hangat (Hidayat, 2006)

3) Intensitas Nyeri Persalinan Kala I Fase Aktif Setelah Diberikan Kompres Dingin

Berdasarkan tabel diatas dapat dijelaskan bahwa setengah dari ibu bersalin kala I fase aktif setelah diberikan kompres dingin mengalami nyeri sedang sebanyak 7 ibu bersalin atau 50% dan sebagian kecil mengalami nyeri sangat berat sebanyak 1 ibu bersalin atau 7,1 %. Dari data tersebut dapat diketahui bahwa setengah dari ibu bersalin setelah diberikan kompres dingin mengalami nyeri sedang. Klien yang merasa nyeri akan berusaha menghilangkan rasa nyeri itu agar

(7)

aktifitas sehari-hari dapat tetap beralan. Kompres dingin merupakan tindakan yang bertujuan memenuhi rasa nyaman, mengurangi ketegangan nyeri sendi dan otot, mengurangi pembengkakan, dan menyejukan kulit.Pemakaian kompres dingin ini biasanya diberikan pada bagian tubuh seperti perut bagian bawah, punggung atau lipatan paha dan perinium (Hanifa, 2011).Tehnik kompres dingin ini dianggap meredakan nyeri dengan membuat baal daerah yang terkena dengan memperlambat transmisi nyeri melalui neuron-neuron sesorik.Sehingga dapat mengurangi ketegangan otot, mengurangi pembengkakan, membuat anastesi lokal dan menyejukan kulit.pengalihan persepsi nyeri menjadi rasa dingin yang lebih dominan adalah salah satu tipe transendensi yang telah tercapai sehingga responden merasa lebih nyaman (Varney, 2008).

4) Perbedaan Efektifitas Kompres Panas Dan Kompres Dingin Terhadap Pennurunan Intensitas Nyeri Persalinan Kala I Fase Aktif

Uji statistic Wilcoxon sign rank test menunjukan nilai signifikan tentang perbedaan efektifitas kompres panas dan kompres dingin terhadap penurunan intensitas nyeri persalinan kala I fase aktif menunjukan nilai signifikan pada kompres panas (Psign 0,001) dimana Z hitung (-3,286), dan nilai signifikan pada kompres dingin (Psign 0,002) dimana Z hitung (-3.000) dan P < 0,05 sehingga H 1 diterima

artinya ada perbedaan efektifitaas kompres panas dan kompres dingin terhadap penurunan intensitas nyeri persalinan kala I fase aktif.

Dari data tersebut dapat diketahui bahwa hampir seluruh ibu bersalin sebelum diberikan kompres mengalami nyeri berat dan setelah diberikan kompres panas dan diingin mengalami nyeri sedang.Dari sini dapat diketahui bahwa kompres panas dan kompres dingin sangat mempengaruhi penurunan nyeri persalinan kala I fase aktif.

Dari uraian diatas peneliti dapt menyimpulkan bahwa dalam hal ini kompres panas lebih efektif dalam menurunkan nyeri persalinan kala I fase aktif disebabkan karena efek dari panas menyebabkan vasodilatasi pembuluh darah dan efek relaksasi sehingga membantu meningkatkan aliran darah kebagian tubuh yang cedera atau mengalami perubahan fungsipanas juga mengurangi ketegangan otot dan kekakuan sendi.

Kompres panas merupakan tindakan yang memberikan kompres panas yang bertujuan memenuhi rasa nyaman, menguranggi atau membebaskan nyeri, mengurangi atau mencegah terjadinya spasme otot karena memberikan rasa hangat (Hidayat, 2006).

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan

Pada Penelitian Ini Akan Dibahas Mengenai Kesimpulan Dan Saran Dari Hasil Penelitian Tentang Perbedaan Efektifitas Koompres Panas Dan Kompres Dingin Terhadap Penurunan Intensitas Nyeri Persalinan Kala I Fase Aktif Di Rsud Dr.Soegiri Kabupaten Lamongan Adalah Sebagai Berikut:

1. Sebagian besar ibu bersalin kala I fase aktif sebelum diberikan kompres dingin mengalami nyeri berat.

2. Sebagian besar ibu bersalin kala I fase aktif sesudah diberikan kompres panas mengalami nyeri sedang.

3. Sebagian besar ibu bersalin kala I fase aktif sebelum diberikan kompres dingin mengalami nyeri berat.

4. Sebagian besar ibu bersalin kala I fase aktif sesudah diberikan kompres dingin mengalami nyeri sedang.

5. Kompres panas lebih efektif dalam menurunkan intensitas nyeri persalinan kala I fase aktif sehingga terdapat perbedaan efektifitaas kompres panas dan kompres dingin terhadap penurunan intensitas nyeri persalinan kala I fase aktif.

Saran

1. Bagi Profesi Kebidanan: diharapkan bidan dapat meningkatkan pelayanan melalui pengembagan asuhan kebidanan khususnya pada ibu bersalin yang mengalami nyeri berat.

2. Bagi Peneliti: diharapkan peniliti dapat

menambah wawasan dalam

mengaplikasikan ilmu yang telah diperoleh khususnya ilmu metode penelitian dengan ilmu yang lain dalam keadaan yang nyata. 3. Bagi Peneliti Selanutnya: diharapkan

penelitian ini dapat digunakan sebagai awal penelitian nerikutnya dengan menggunakan umlah responden yang lebih besar dan representatif dengan metode yang lebih akurat, serta meneliti dari faktor lain yang lebih banyak lagi dan menggunakan sudut

(8)

pendang yang lebih relevan dengan keadaan masyarakat.

4. Bagi instansi rumah sakit : diharapkan dapat dijadikan referensi untuk penelitian lebih lanjut seiring dengan perkembangan teknologi kedokteran yang semakin maju dan usaha untuk menurunkan angka kejadian nyeri berat saat persalinan.

DAFTAR PUSTAKA

Hidayat, Aziz Alimul A. 2007. Metode Penelitian Kebidanan dan Teknik Analisa Data.Jakarta : Salemba Medika JNPK-KR. 2008 Asuhan Persalinan

Normal.Jakarta : jaringan nasional pelatihan klinik

Perry, Pooter. (2006). Buku Ajar Fundamental Keperawatan Volume 1.Jakarta: EGC Rohani, Dkk. 2011.Asuhan Kebidanan pada

Masa Persalinan.Jakarta : Salemba Medika

Simkin, Penny. 2008. Panduan lengkap kehamilan, melahirkan dan bayi. Jakarta : EGC

Sumarah, dkk. (2009). Perawatan persalianan, Yogyakarta : fitramaya

Varney, Helen.2008. Buku Ajar Asuhan Kebidanan Jilid 2. Jakarta: EGC , dkk.2002. Buku Saku Bidan. Jakarta : EGC

Wiknjosastro, H. 2011. Ilmu Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo : Jakarta

Gambar

Tabel 1  Distribusi  Responden  Kelompok  Kompres  Panas  Berdasarkan  Umur  Ibu  bersalin  kala  I  fase  aktif  di  RSUD  Dr.Soegiri  Kabupaten  Lamongan Tahun 2014
Tabel 5   Distribusi  Responden  Kelompok  Kompres  panas  Berdasarkan  pekerjaan  Ibu  bersalin  kala  I  fase  aktif  di  RSUD  Dr.Soegiri  Kabupaten Lamongan Tahun 2014
Tabel 9   Distribusi  Responden  Kelompok  Kompres  Panas  Berdasarkan  Pendamping  Persalinan  Ibu  Bersalin  Kala  I  Fase  Aktif  di  RSUD  Dr.Soegiri  Kabupaten  Lamongan Tahun 2014
Tabel 12   Distribusi  Frekuensi  Berdasarkan  Intensitas Nyeri Persalinan Kala I  Fase  Aktif  Sesudah  Diberikan  Kompres  Panas  di  RSUD  Dr.Soegiri Kabupaten Lamongan  No

Referensi

Dokumen terkait

Dalam penanganan pada kasus fraktur collum femur fisioterapi berperan dalam mengurangi rasa nyeri, menambah lingkup gerak sendi (LGS), meningkatkan kekuatan otot

Dapat memberikan masukan, wawasan, dan pemahaman fisioterapi tentang pemberian kompres panas dan kompres dingin terhadap penurunan nyeri pada kondisi osteoarthritis

Perlu dianjurkan pemberian kompres dingin sebelum dilakukan tindakan pemasangan infus untuk mengurangi rasa nyeri sehingga dapat mengurangi stress dan trauma pada anak yang sedang

 Meningkatkan koordinasi  Mengurangi nyeri  Mengurangi ketegangan neuromuskular  Stimulasi sirkulasi  Memfasilitassi penyembuhan  Mempertahankan mobilitas sendi

Kompres hangat adalah tindakan yang dilakukan dengan menberikan cairan hangat untuk memenuhi kebutuhan rasa nyaman, mengurangi atau mencegah terjadinya spasme

Teknik relaksasi dapat mengurangi ketegangan otot, rasa jenuh, kecemasan, menurunkan kelelahan sehingga akan meningkatkan kontrol nyeri (4). Teknik relaksasi ini

Kompres hangat adalah tindakan yang dilakukan dengan menberikan cairan hangat untuk memenuhi kebutuhan rasa nyaman, mengurangi atau mencegah terjadinya spasme

Diagnosa keperawatan yang didapatkan pada lansia adalah gangguan rasa nyaman berhubungan dengan nyeri pada sendi dengan intervensi menggunakan terapi kompres hangat yang dilakukan