• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGEMBANGAN BUKU POP-UP TATA CARA DAN MANFAAT GERAKAN SHALAT BAGI ANAK USIA SEKOLAH DASAR DI RUMAH BELAJAR INDONESIA BANGKIT (RBIB) JOGJA.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PENGEMBANGAN BUKU POP-UP TATA CARA DAN MANFAAT GERAKAN SHALAT BAGI ANAK USIA SEKOLAH DASAR DI RUMAH BELAJAR INDONESIA BANGKIT (RBIB) JOGJA."

Copied!
191
0
0

Teks penuh

(1)

i

PENGEMBANGAN BUKU POP-UP TATA CARA DAN MANFAAT GERAKAN SHALAT BAGI ANAK USIA SEKOLAH DASAR DI RUMAH BELAJAR INDONESIA BANGKIT (RBIB) JOGJA

SKRIPSI

Diajukan kepada Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Oleh

Nur Ahya Hidayah NIM 12108244039

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR JURUSAN PENDIDIKAN SEKOLAH DASAR

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

(2)
(3)
(4)
(5)

v MOTTO

“Dan laksanakanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah beserta orang yang rukuk”

(Arti dari QS. Al-Baqarah ayat 43)

“Ketika sebuah karya selesai ditulis, maka pengarang tak mati. Ia baru saja memperpanjang umurnya lagi.”

(6)

vi

PERSEMBAHAN

Alhamdulillahi robbil’alamin, segala puji hanya milik Allah swt karena dengan izin-Nya saya dapat menyelesaikan skripsi ini. Karya ini saya persembahkan

untuk: 1. Ibu dan Bapakku 2. Kakak-kakakku

(7)

vii

PENGEMBANGAN BUKU POP-UP TATA CARA DAN MANFAAT GERAKAN SHALAT BAGI ANAK USIA SEKOLAH DASAR DI RUMAH BELAJAR INDONESIA BANGKIT (RBIB) JOGJA

Oleh

Nur Ahya Hidayah NIM 12108244039

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan langkah-langkah pengembangan buku pop-up dan mengetahui tingkat validitas buku pop-up yang dikembangkan.

Penelitian dilakukan di Rumah Belajar Indonesia Bangkit (RBIB) dengan subjek penelitian anak usia sekolah dasar sejumlah 38 anak dengan rincian 3 anak pada uji coba lapangan awal, 10 anak pada uji coba lapangan utama, dan 25 anak pada uji coba lapangan operasional. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian pengembangan atau Research and Development (R&D). Prosedur pengembangan yang digunakan penulis mengacu pada model penelitian dan pengembangan Borg and Gall. Tahapan penelitian yang dilakukan adalah (1) research and information collecting, (2) planning, (3) develop preliminary form of product, (4) preliminary field testing, (5) main product revision, (6) main field testing, (7) operational product revision, (8) operational field testing, (9) final product revision, (10) dissemination and implementation. Tahap kesepuluh yaitu dissemination and implementation tidak dilakukan dalam penelitian ini karena keterbatasan peneliti dalam melaksanakan tahapan tersebut. Buku pop-up yang dikembangkan diuji kelayakan dengan validasi oleh ahli materi dan ahli media sebelum diujicobakan. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah angket. Analisis data yang digunakan yaitu teknik analisis deskiptif kuantitatif.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa validasi oleh ahli materi memperoleh skor akhir 4,5 dengan kategori sangat baik. Hasil validasi oleh ahli media memperoleh skor akhir 4,09 dengan kategori baik. Hasil respon siswa pada uji coba lapangan awal memperoleh skor 4,57 dengan kategori sangat baik. Hasil respon siswa pada uji coba lapangan utama 4,49 dengan kategori sangat baik. Hasil respon siswa pada uji coba lapangan operasional memperoleh skor 4,35 dengan kategori sangat baik. Berdasarkan hasil tersebut, buku pop-up tata cara dan manfaat gerakan shalat yang dikembangkan layak digunakan untuk pembelajaran materi shalat kelas anak usia sekolah dasar di Rumah Belajar Indonesia Bangkit (RBIB).

(8)

viii

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, segala puji dan syukur penulis haturkan kehadirat Allah

SWT yang telah memberikan nikmat dan rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas akhir skripsi yang berjudul “Pengembangan Buku Pop-Up Tata Cara dan Manfaat Gerakan Shalat bagi Anak Usia Sekolah Dasar di Rumah Belajar Indonesia Bangkit (RBIB) Jogja” dengan lancar. Sholawat serta salam senantiasa tercurahkan kepada junjungan Rasulullah Muhammad SAW yang telah menjadi tauladan bagi umatnya.

Penulis menyadari dalam penyusunan tugas akhir skripsi ini mendapat bantuan dari berbagai pihak baik langsung maupun tak lansung. Oleh karena itu, pada kesempatan kali ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada:

1. Bapak Prof. Dr. Rochmat Wahab, M. Pd., M. A., selaku Rektor Universitas Negeri Yogyakarta yang telah memberikan kesempatan kepada peneliti untuk belajar di Universitas Negeri Yogyakarta.

2. Bapak Dr. Haryanto, M. Pd., selaku Dekan FIP UNY yang telah memberikan izin penelitian.

3. Bapak Suparlan, M. Pd. I., selaku ketua jurusan PGSD FIP UNY, juga sebagai dosen ahli materi yang telah menandatangani dan menyetujui hingga selesainya skripsi ini, serta memberikan saran dalam perbaikan materi buku ini.

4. Bapak Hieronimus Sujati, M. Pd. selaku Penasehat Akademik, yang telah membimbing saya selama ini.

5. Ibu Unik Ambar Wati, M. Pd., selaku dosen pembimbing yang senantiasa sabar meluangkan waktu, tenaga, ilmu, dan pikirannya untuk membimbing dan memotivasi dalam penyusunan skripsi ini.

6. Ibu Sisca Rahmadonna, M. Pd., selaku dosen ahli media yang bersedia meluangkan waktu untuk memberikan saran dalam perbaikan kegrafikaan buku dan memberikan validasi media. .

(9)
(10)

x DAFTAR ISI

hal

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN ... ii

HALAMAN PERNYATAAN ... iii

HALAMAN PENGESAHAN ... iv

MOTTO ... v

PERSEMBAHAN ... vi

ABSTRAK ... vii

KATA PENGANTAR ... viii

DAFTAR ISI ... x

DAFTAR TABEL ... xiii

DAFTAR GAMBAR ... xiv

DAFTAR LAMPIRAN ... xvi

BAB I PENDAHULUAN A.Latar Belakang ... 1

B.Identifikasi Masalah ... 6

C.Batasan Masalah ... 6

D.Rumusan Masalah ... 7

E. Tujuan Penelitian ... 7

F. Manfaat Penelitian ... 7

G.Spesifikasi Produk ... 8

H.Definisi Operasional ... 9

BAB II KAJIAN PUSTAKA A.Shalat... 11

1. Definisi Shalat ... 11

2. Syarat Wajib dan Syarat Syah Shalat ... 12

3. Tata Cara Shalat ... 14

4. Indikator Kemampuan Ibadah Shalat di Sekolah Dasar... 36

(11)

xi

B.Buku ... 51

1. Definisi Buku ... 51

2. Jenis Buku ... 51

3. Kriteria Penilaian Buku ... 55

C.Buku Pop-Up ... 62

1. Definisi Buku Pop-Up ... 62

2. Kriteria Pop-Up yang Baik ... 64

3. Manfaat Pop-Up ... 65

D.Karakteristik Anak Usia Sekolah Dasar ... 67

1. Perkembangan Kognitif... 68

2. Perkembangan Bahasa... 69

3. Perkembangan Moral ... 71

4. Perkembangan Penghayatan Keagamaan ... 72

E. Buku Pop-Up Tata Cara dan Manfaat Gerakan Shalat ... 72

F. Penelitian yang Relevan ... 73

G.Kerangka Pikir ... 75

BAB III METODE PENELITIAN A.Desain Penelitian ... 78

B.Prosedur pengembangan ... 78

1. Penelitian dan Pengumpulan Informasi ... 79

2. Perencanaan ... 79

3. Pengembangan Format Produk Awal ... 80

4. Uji Coba Lapangan Awal ... 81

5. Revisi Produk Tahap Pertama ... 82

6. Uji Coba Lapangan Utama ... 82

7. Revisi Produk Tahap Kedua ... 83

8. Uji Lapangan Operasional ... 83

9. Revisi Produk Akhir ... 84

C.Validasi Ahli dan Uji Coba Produk ... 84

1. Validasi ... 84

(12)

xii

D.Instrumen Penelitian ... 87

1. Validasi Ahli Media dan Ahli Materi ... 88

2. Angket Respon Anak ... 90

E. Teknik Analisis Data ... 91

BAB IV HASIL PENETIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian ... 93

1. Penelitian dan Pengumpulan Informasi ... 93

2. Perencanaan ... 95

3. Pengembangan Produk ... 96

4. Uji Coba Lapangan Awal ... 121

5. Revisi Produk Tahap Pertama ... 124

6. Uji Coba Lapangan Utama ... 124

7. Revisi Produk Tahap Kedua ... 126

8. Uji Coba Lapangan Operasional ... 127

9. Revisi Produk Akhir ... 131

B. Deskripsi Hasil Pengembangan Produk ... 132

C. Pembahasan ... 135

D. Produk Akhir ... 137

E. Keterbatasan Penelitian ... 138

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ... 140

B. Saran ... 141

DAFTAR PUSTAKA ... 142

(13)

xiii

DAFTAR TABEL

hal

Tabel 1 Kompetensi Dasar dan Indikator Ibadah Shalat di Sekolah Dasar .. 37

Tabel 2 Kisi-kisi Instrumen Validasi Ahli Materi ... 88

Tabel 3 Kisi-kisi Instrumen Validasi Ahli Media... 89

Tabel 4 Kisi-kisi Instrumen Validasi Angket Respon Anak ... 90

Tabel 5 Pedoman Pemberian Skor ... 91

Tabel 6 Konversi Data Kuantitatif ke Data Kualitatif Berskala 5 ... 92

Tabel 7 Data Hasil Validasi Ahli Materi Tahap Pertama ... 100

Tabel 8 Data Hasil Validasi Ahli Materi Tahap Kedua ... 112

Tabel 9 Data Hasil Validasi Ahli Media Tahap Pertama ... 114

Tabel 10 Data Hasil Validasi Ahli Media Tahap Kedua ... 119

Tabel 11 Data Hasil Uji Coba Lapangan Awal... 122

Tabel 12 Data Hasil Uji Coba Lapangan Utama... 125

Tabel 13 Data Hasil Uji Coba Lapangan Operasional ... 128

(14)

xiv

DAFTAR GAMBAR

hal

Gambar 1 Bagan Kerangka Pikir ... 77

Gambar 2 Sketsa Gambar Karakter ... 97

Gambar 3 Scan Gambar Pdf ... 97

Gambar 4 Karakter pada Aplikasi Adobe Photoshop CC ... 97

Gambar 5 Karakter pada Aplikasi Adobe Ilustrator ... 98

Gambar 6 Karakter pada Aplikasi Corel Draw X6 ... 98

Gambar 7 Desain yang dicetak ... 98

Gambar 8 Proses Pemotongan Gambar ... 99

Gambar 9 Pembuatan Halaman Pop-Up ... 99

Gambar 10 Perubahan Penambahan Contoh Bacaan Niat ... 101

Gambar 11 Perubahan Rambut pada Karakter Pop-Up ... 102

Gambar 12 Perubahan Konten pada Halaman Takbiratul Ihram ... 103

Gambar 13 Perubahan Konten Cara Takbir ... 103

Gambar 14 Perubahan Konten pada Halaman Membaca Doa Iftitah ... 104

Gambar 15 Doa Iftitah ... 105

Gambar 16 Perubahan Desain pada Pop-Up Rukuk ... 106

Gambar 17 Perubahan Konten pada Halaman Rukuk ... 107

Gambar 18 Perubahan Konten Halaman I’tidal ... 107

Gambar 19 Perubahan Konten Halaman Sujud ... 108

Gambar 20 Perubahan Bacaan Doa Duduk di Antara Dua Sujud... 109

Gambar 21 Penambahan Materi pada Halaman Duduk Tasyahud Awal... 110

Gambar 22 Perubahan Konten dan Desain pada Halaman Salam ... 111

Gambar 23 Halaman Daftar Pustaka ... 111

Gambar 24 Penambahan Kata pada Halaman Duduk Tasyahud Awal ... 112

Gambar 25 Diagram Batang Penilaian Ahli Materi ... 113

Gambar 26 Perubahan Warna pada Bagian Isi Buku ... 116

Gambar 27 Perubahan Warna pada Karakter Pop-Up ... 116

Gambar 28 Perubahan Desain Cover ... 117

(15)

xv

Gambar 30 Halaman Petunjuk Penggunaan Buku bagi Anak ... 119

Gambar 31 Diagram Batang Penilaian Ahli Media ... 120

Gambar 32 Uji Coba Lapangan Awal ... 122

Gambar 33 Uji Coba Lapangan Awal ... 122

Gambar 34 Uji Coba Lapangan Utama ... 125

Gambar 35 Uji Coba Lapangan Utama ... 125

Gambar 36 Uji Coba Lapangan Operasional ... 128

(16)

xvi

DAFTAR LAMPIRAN

hal

Lampiran 1 Isi Buku Tata Cara Shalat dan Manfaat Gerakan Shalat ... 146

Lampiran 2 Surat Permohonan menjadi Ahli Materi ... 154

Lampiran 3 Surat Permohonan menjadi Ahli Media ... 155

Lampiran 4 Hasil Validasi Materi Tahap 1 ... 156

Lampiran 5 Hasil Validasi Materi Tahap 2 ... 159

Lampiran 6 Hasil Validasi Media Tahap 1 ... 161

Lampiran 7 Hasil Validasi Media Tahap 2 ... 163

Lampiran 8 Data Angket Uji Coba Awal ... 165

Lampiran 9 Data Angket Uji Coba Lapangan Utama ... 166

Lampiran 10 Data Angket Uji Lapangan Operasional ... 167

Lampiran 11 Angket Respon Anak ... 169

Lampiran 12 Dokumentasi ... 172

Lampiran 13 Surat Izin Penelitian Fakultas ... 173

Lampiran 14 Surat Izin Penelitian Dinas Perizinan Kota Yogyakarta ... 174

(17)

1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Agama menjadi kebutuhan fitrah manusia. Manusia membutuhkan agama dalam kehidupannya. Keyakinan dan keimanan terhadap agama menjadi sumber kekuatan untuk mendapatkan rasa bahagia, tenteram, dan damai dalam kehidupan manusia. Selain itu, agama memiliki peran penting dalam mempererat hubungan antar manusia. Demikianlah pandangan manusia terhadap agama dalam pembawaan nalurinya sebagai manusia.

Indonesia merupakan negara yang menjunjung tinggi nilai agama dan moralitas. Hal ini sebagaimana tertera dalam dasar negara Pancasila sila

pertama yang berbunyi “Ketuhanan yang Maha Esa”. Ada enam agama yang

diakui di Indonesia, yaitu Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Budha, dan Kong hu Chu.

Islam merupakan agama yang dianut oleh mayoritas masyarakat Indonesia. Shalat dalam Islam memiliki kedudukan yang tinggi yaitu sebagai rukun dan tiang agama. Shalat menjadi kewajiban dan kebutuhan bagi setiap muslim. Shalat merupakan perintah dari Allah dan memiliki berbagai manfaat. Manfaat tersebut dapat dirasakan secara lahiriah dan batiniah bagi orang-orang yang mendirikan shalat dengan baik.

Pentingnya nilai religi dalam kehidupan masyarakat juga ditunjukkan oleh peran pemerintah dalam memetakan Kompetensi Inti kurikulum 2013 aspek religi pada poin pertama sejak berada pada tingkat Sekolah Dasar.

(18)

2

yang dianutnya”. Begitu pula mengingat pentingnya shalat dalam agama

Islam, pemerintah juga sudah memetakan Kompetensi Dasar pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan mengenai shalat sejak dari kelas 1 SD.

Kompetensi Dasar tersebut masuk dalam KD 3.7 yang berbunyi “mengenal

shalat dan kegiatan agama yang dianutnya di sekitar rumahnya melalui

pengamatan”. Selain itu kompetensi mengenai shalat juga tertuang pada KD

4.7.1 yang berbunyi “melaksanakan shalat dan kegiatan agama yang

dianutnya di sekitar rumahnya melalui pengamatan”. Hal ini menunjukkan

pentingnya pengetahuan tentang shalat sejak seseorang berada di bangku Sekolah Dasar.

Anak pada usia Sekolah Dasar idealnya sudah mendapatkan pembelajaran mengenai shalat dimulai dari lingkungan keluarga. Keluarga menjadi lingkungan pertama dalam pendidikan anak sebelum dipengaruhi juga oleh lingkungan sekolah dan lingkungan bermainnya. Walaupun pendidikan formal mengajarkan pendidikan tentang shalat, lingkungan keluarga tetap memegang pengaruh terbesar terhadap perkembangan anak dalam pembiasaan dan penguasaannya mengenai tata cara shalat.

(19)

3

ini memiliki anak didik yang tinggal di beberapa tempat, mayoritas berada di bantaran Kali Code, Tungkak, sedangkan yang lain yaitu anak-anak usia Sekolah Dasar yang tinggal di Alun-alun Utara, Gedongkuning, dan Krapyak. Anak-anak di sana umumnya berasal dari orang tua seorang pemulung, penarik becak, dan pedagang yang membuka warung angkringan. Sebagian ada yang memiliki tempat tinggal berbentuk rumah atau kontrakan, sebagian lagi ada yang tinggal di Alun-alun Utara. Sebagian besar anak di sana belajar di sekolah formal, akan tetapi ada juga yang tidak mengenyam pendidikan formal.

(20)

4

Terbatasnya waktu pembelajaran di sekolah dan RBIB juga mempengaruhi pemahaman anak mengenai tata cara shalat. Untuk mempelajari shalat, tidak bisa jika hanya mengandalkan pendidikan di sekolah. Hal ini dikarenakan waktu pembelajaran di sekolah terbatas dan lebih dominan berada di lingkungan keluarga. Pembelajaran di rumah belajar juga terbatas, yaitu hanya 2 x 90 menit dalam satu minggu. Materi yang disampaikan di RBIB pun umum, tidak hanya fokus pada materi pendidikan agama anak. Selain itu, peran orang tua dalam pendampingan pendidikan keagamaan anak juga masih kurang.

Berdasarkan permasalahan tersebut, anak memerlukan adanya media interaktif untuk mempelajari tata cara shalat di luar jam belajar di sekolah. Media berperan penting dalam pembelajaran, karena dapat menciptakan interaksi antara anak dengan materi yang akan dipelajari. Penggunaan media dapat menambah motivasi belajar anak, sehingga perhatian anak terhadap materi pembelajaran semakin meningkat (Wina Sanjaya, 2010: 209).

(21)

5

penggunaan buku bacaan yang tepat dan sesuai dengan kebutuhan anak, maka tujuan akan mudah tercapai.

Kondisi ini memacu peneliti untuk melakukan pengembangan buku bacaan tata cara dan manfaat gerakan shalat dalam bentuk buku pop-up. Buku pop-up diharapkan dapat menjadi media untuk membangkitkan motivasi

belajar anak. Buku ini menyajikan informasi belajar yang dapat diulang menurut kebutuhan. Sementara itu, buku bacaan berbentuk pop-up dapat mendekatkan hubungan antara anak dengan orang tua, karena dapat memberikan kesempatan bagi orang tua untuk menikmati cerita bersama anak, mengembangkan kreativitas dan merangsang imajinasi anak, menambah pengetahuan, menanamkan kecintaan anak terhadap membaca, dan dapat lebih aktif dalam mempelajari isi buku. Tampilan dua dimensi yang dapat bergerak dalam buku pop-up dapat menghadirkan dunia nyata dalam aktivitas belajar anak, sehingga sesuai dengan tahap perkembangan kognitif anak yang bersifat operasional konkret. Penggunaan buku pop-up akan membantu anak dan orang tua dalam proses pembelajaran. Melalui penggunaan buku pop-up yang tepat dan sesuai dengan kebutuhan anak, maka tujuan akan mudah tercapai. Selain itu, buku ini dapat digunakan secara mandiri maupun kelompok.

(22)

6

pop-up tata cara dan manfaat gerakan shalat. Buku pop-up tata cara dan

manfaat gerakan shalat dirancang untuk menyampaikan tata cara dan manfaat gerakan shalat dengan menarik agar mudah dipahami. Dengan adanya buku pop-up ini, diharapkan dapat membantu anak dan orang tua dalam memahami materi tentang tata cara dan manfaat gerakan shalat.

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang di atas, dapat diidentifikasi permasalahan sebagai berikut.

1. 70% anak didik Rumah Belajar Indonesia Bangkit (RBIB) belum bisa cara melaksanakan shalat dengan benar.

2. Terbatasnya sumber belajar yang digunakan anak untuk mempelajari materi tata cara dan manfaat gerakan shalat.

3. Sumber belajar anak di sekolah hanya berasal dari buku pelajaran Pendidikan Agama Islam.

4. Buku pelajaran Agama Islam yang menjadi sumber belajar anak penyajiannya kurang menarik dilihat dari segi metodologi penulisan, desain grafis, penggunaan bahasa, dan ilustrasi yang kurang komunikatif. C. Batasan Masalah

(23)

7

gerakan shalat bagi anak usia Sekolah Dasar di Rumah Belajar Indonesia Bangkit (RBIB) Jogja.

D. Rumusan Masalah

Berdasarkan batasan masalah di atas, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.

1. Bagaimana langkah-langkah sistematis pengembangan buku pop-up tata cara dan manfaat gerakan shalat bagi anak usia Sekolah Dasar di Rumah Belajar Indonesia Bangkit (RBIB) Jogja?

2. Seberapa baik tingkat kelayakan buku pop-up tata cara dan manfaat gerakan shalat bagi anak usia Sekolah Dasar di Rumah Belajar Indonesia Bangkit (RBIB) Jogja yang dikembangkan?

E. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut.

1. Mengetahui langkah-langkah sistematis pengembangan buku pop-up tata cara dan manfaat gerakan shalat bagi anak usia Sekolah Dasar di Rumah Belajar Indonesia Bangkit (RBIB) Jogja.

2. Mengetahui tingkat kelayakan buku pop-up tata cara dan manfaat gerakan shalat bagi anak usia Sekolah Dasar di Rumah Belajar Indonesia Bangkit (RBIB) Jogja yang dikembangkan.

F. Manfaat Penelitian 1. Segi Teoritis

(24)

8

pengembangan buku pop-up dapat menambah referensi buku bacaan mengenai tata cara dan manfaat gerakan shalat bagi anak usia Sekolah Dasar.

2. Segi Praktis a. Bagi Anak

1) Mempermudah anak untuk memahami materi tata cara dan manfaat gerakan shalat.

2) Menambah sumber belajar bagi anak. b. Bagi orang tua dan pendidik

1) Sebagai alternatif buku bacaan tata cara dan manfaat gerakan shalat yang menarik.

2) Membantu orag tua dan pendidik untuk mengajarkan materi tata cara dan manfaat gerakan shalat.

c. Bagi pengembangan ilmu

Memperluas wawasan tentang alternatif buku bacaan menggunakan buku pop-up.

G. Spesifikasi Produk

Spesifikasi produk yang dikembangkan dalam penelitian pengembangan ini adalah sebagai berikut.

1. Buku pop-up berisi materi tentang tata cara dan manfaat gerakan shalat untuk anak usia Sekolah Dasar.

(25)

9

3. Penyampaian materi pada buku pop-up menggunakan bahasa yang mudah dipahami anak-anak.

4. Buku pop-up dapat digunakan secara mandiri maupun kelompok. 5. Bagian pada buku pop-up meliputi:

a. Halaman sampul

b. Petunjuk penggunaan buku c. Materi pokok

6. Buku pop-up memenuhi aspek penilaian kualitas: a. Aspek materi/ isi

b. Aspek media

7. Bentuk buku pop-up adalah sebagai berikut: a. Ukuran buku pop-up: 21 cm x 28,5 cm b. Ukuran kertas: A4

c. Halaman sampul: menggunakan kertas Art Paper d. Pop up: menggunakan kertas ivory 260

e. Isi: menggunakan kertas ivory 260 H. Definisi Operasional

(26)

10

2. Buku pop-up merupakan buku yang mempunyai unsur dua atau tiga dimensi dan gerak. Materi pada buku pop-up disampaikan dalam bentuk gambar yang menarik karena terdapat bagian yang apabila dibuka dapat bergerak atau berubah bentuk.

(27)

11 BAB II

KAJIAN PUSTAKA A.Shalat

1. Definisi shalat

Shalat menurut arti bahasa yaitu berdoa. Sedangkan menurut istilah, shalat adalah sistem ibadah yang tersusun dari beberapa perkataan dan perbuatan yang dimulai dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam, berdasarkan syarat dan rukun tertentu (Moh. Islam, 2014: 18).

Shalat merupakan jalinan (hubungan) yang kuat antara langit dan bumi, antara Allah dan hamba-Nya (Hilmi Al-Khuli, 2008: 27). Shalat dalam Islam memiliki kedudukan yang tinggi yaitu sebagai rukun dan tiang agama.

M. Mas‟udi Fathurrohman (2012: 1) mengemukakan bahwa shalat

adalah suatu kewajiban bagi orang mukmin yang wajib dipelihara waktunya yang sudah ditetapkan. Dalam sehari semalam, umat Islam melakukan shalat agar selalu ingat kepada Allah, sehingga meniadakan kemungkinan terjerumus ke dalam kejahatan dan kesesatan.

Sedangkan menurut Moh. Rifa‟i (2005: 32) menyatakan bahwa

shalat ialah berhadap hati kepada Allah sebagai ibadat, dalam bentuk beberapa perkataan dan perbuatan, yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam serta menurut syarat-syarat yang telah ditentukan

syara‟.

(28)

12

perkataan dan perbuatan yang dimulai dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam berdasarkan syarat dan rukun tertentu. Shalat dalam Islam memiliki kedudukan yang tinggi yaitu sebagai rukun dan tiang agama dan merupakan bentuk hubungan yang kuat antara Allah dan hamba-Nya.

2. Syarat Wajib dan Syarat Syah Shalat

Syarat wajib shalat merupakan perkara yang apabila terpenuhi pada diri seseorang maka ia wajib melaksanakan ibadah shalat. Syarat wajib shalat menurut Moh. Islam (2014:19), yaitu islam, berakal sehat, baligh (dewasa), suci dari haid dan nifas, serta telah sampai dakwah kepadanya. Syarat wajib melakukan shalat (Hilmi Al-Khuli, 2008:34-36), mengemukakan syarat wajib shalat, yaitu islam, berakal, baligh (dewasa), masuknya waktu shalat, dan bersih dari haid dan nifas. Qowam Karim, dkk (2013: 33) menjelaskan syarat wajib shalat, yaitu islam, baligh, berakal sehat, suci, dan telah sampai dakwah padanya. Berdasarkan pendapat beberapa ahli, dapat disimpulkan bahwa syarat wajib shalat, antara lain islam, berakal sehat, baligh (dewasa), suci dari haid dan nifas, serta telah sampai dakwah kepadanya. Telah sampainya dakwah berarti telah diberitahu dan mengerti bahwa shalat itu kewajiban umat Islam.

(29)

13 a. Suci dari hadas besar dan hadas kecil.

b. Suci pakaian, badan, dan tempat yang dipergunakan untuk shalat. c. Menutup aurat.

d. Mengetahui masuknya waktu. e. Menghadap kiblat.

Syarat sahnya shalat menurut Moh. Islam (2014: 20) adalah sebagai berikut.

a. Sudah masuk waktu shalat. b. Suci dari hadats besar dan kecil. c. Suci dari najis.

d. Menutup aurat dengan pakaian yang suci dan menutupi warna kulit. e. Menghadap kiblat.

Syarat syahnya shalat menurut Qowam Karim, dkk (2013: 33), yaitu: a. suci badan, pakaian, dan tempat dari najis dan suci badan dari hadast, b. menutup aurat,

c. telah masuk waktu shalat, d. mengetahui tata cara shalat, dan e. menghadap kiblat.

Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa syarat syahnya shalat meliputi

(30)

14 d. telah masuk waktu shalat, dan e. menghadap kiblat.

3. Tata Cara Shalat

Shalat memiliki tata cara sendiri sesuai perintah dari Allah. Berikut ini merupakan tata cara shalat yang dikaji berdasarkan buku kumpulan hadits Nailul Authar dan Bulughul Maram.

a. berdiri tegak menghadap kiblat

M. Mas‟udi Fathurrohman (2012: 10) menyatakan bahwa ka‟bah

adalah kiblat bagi orang yang dekat dan dapat melihatnya. Menurut

Syafi‟i (dalam M. Mas‟udi Fathurrohman, 2012: 10), orang yang tidak

mengetahui arah kiblat, maka wajib menyelidiki dan berusaha sampai mengetahuinya. Akan tetapi, apabila tetap tidak bisa mengetahuinya, maka seseorang boleh shalat menghadap ke mana saja dan sah shalatnya. Moh. Islam (2014: 23) mengemukakan cara berdiri, yaitu sembari mempersiapkan niat untuk mendirikan shalat, hadapkan seluruh badan dan wajah ke arah kiblat. Setelah itu, renggangkan kedua kaki dengan kerenggangan yang tidak terlalu lebar. Cara shalat juga dijelaskan pada HR Bukhari yang berbunyi:

Dari Imran bin Hushain, ia berkata, Aku menderita penyakit wasir, lalu aku bertanya kepada Rasulullah saw. mengenai cara shalat yang harus aku lakukan. Rasulullah saw. kemudian bersabda,

”Kerjakanlah shalat dengan berdiri. Jika engkau tidak mampu,

kerjakanlah dengan duduk. Jika engkau tidak mampu, maka

(31)

15

Berdasarkan pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa shalat diawali dengan berdiri menghadap kiblat sembari mempersiapkan niat untuk mendirikan shalat.

b. niat

Niat merupakan tujuan dari suatu perbuatan yang didorong oleh rasa taat dan patuh mengikuti perintah-perintah Allah. Kedudukan niat itu dalam hati, apabila diucapkan hukumnya sunnah (M. Mas‟udi Fathurrohman, 2012: 11). Niat shalat dilakukan di dalam hati menurut shalat yang sedang dikerjakan (Moh. Rifa‟i, 2005: 37). Sayyid Sabiq (2008: 227) menjelaskan bahwa niat terletak dalam hati dan tidakada hubungan dengan lisan. Penjelasan mengenai niat tercantum dalam HR Bukhari (Sayyid Sabiq, 2008: 227) yang berbunyi:

Sesungguhnya segala amal bergantung pada niat. Setiap orang akan (memperoleh balasan) sesuai dengan apa yang diniatknnya. Siapa yang berhijrah karena Allah dan rasul-Nya, maka hijrahnya menuju Allah dan rasul-Nya. Siapa yang berhijrah untuk duniawi atau perempuan yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya akan sesuai dengan diniatkannya itu.

(32)

16 c. takbiratul ihram

Takbiratul ihram dilakukan dengan cara mengangkat kedua tangan

sambil membaca „Allahu Akbar‟. Bersamaan dengan itu, hati

meneguhkan niat untuk mendirikan shalat tertentu yang hendak dilaksanakan. Kedua lengan tangan diangkat sebahu, telapak tangan terbuka dihadapkan ke arah kiblat, jari-jari tangan lurus, dan ibu jari disejajarkan dengan daun telinga (Moh. Islam, 2014:23). Cara takbiratul ihram dijelaskan dalam hadits pada buku Nailul Authar (Mu‟ammal Hamidy, dkk, 2001: 488) sebagai berikut.

Menurut riwayat Abu Daud, dari „Ashim bin Kulaib, dari ayahnya, dan

Wail bin Hujr, sesungguhnya ia (Nabi) merapatkan antara (jari-jari) kedua tangannya itu, dan Wail berkata:

(33)

17

kanan di atas tangan kiri pada buku Nailul Authar (Mu‟ammal Hamidy,

dkk, 2001: 492).

Selain itu, Saat shalat diperintahkan untuk melihat ke tempat sujud dan larangan memandang ke atas. Berikut ini merupakan hadits tentang melihat ke tempat sujud saat shalat pada buku Nailul Authar

(Mu‟ammal Hamidy, dkk, 2001: 495).

(34)

18

tangan bersedekap dengan posisi tangan kanan diletakkan di atas tangan kiri dan pandangan melihat ke tempat sujud.

d. doa iftitah

Setelah takbiratul ihram, kedua belah tangan disedekapkan pada dada, kemudian disunnahkan membaca doa iftitah. Bacaan doa iftitah

menurut HR Jama‟ah dalam buku Nailul Authar yang diterjemahkan

oleh Mu‟ammal Hamidy (2001: 497) adalah sebagai berikut.

(35)

19

Artinya: Ya Allah, YaTuhanku! Jauhkanlah antara daku dengan dosa-dosaku sebagaimana Engkau jauhkan antara Timur dan Barat, Ya Allah! Ya Tuhanku! Bersihkanlah aku dari dosa-dosaku, bagaikan dibersihkannya pakaian putih dari kotoran, Ya Allah! Ya Tuhanku! Cucilah aku dari dosa-dosaku dengan es, air dan embun.

Setelah membaca do‟a iftitah dan sebelum membaca Surat

Al-Fatihah, dianjurkan membaca ta‟awudz. Anjuran ini tercantum dalam

Al-Qur‟an Surat An-Nahl ayat 9 sebagaimana yang dijelaskan dalam

buku Nailul Authar (Mu‟ammal Hamidy, 2001: 503).

e. membaca Surat Al-Fatihah

Setelah membaca doa iftitah, kemudian membaca surat Al Fatihah. Ibnu Qayyim (dalam Sayyid Sabiq, 2008:232) menyatakan bahwa

“Rasulullah saw. membaca „Bismillahirahmanirrahim‟, dengan suara

(36)

20

HR. Jama‟ah dalam buku Nailul Authar (Mu‟ammal Hamidy, dkk,

2001: 512).

Setelah membaca surat Al-Fatihah, hendaknya membaca “aamien” setelah bacaan ghoiril maghdlubi „alaihim waladh-daallin. Hal ini

dijelaskan dalam HR. Abu Daud dalam buku Nailul Authar (Mu‟ammal

Hamidy, 2001: 519).

Dari hadits di atas, dijelaskan bahwa dalam shalat wajib membaca Surat Al Fatihah. Setelah membaca surat Al-Fatihah, hendaknya membaca

“aamien” setelah bacaan ghoiril maghdlubi „alaihim waladh-daallin.

(37)

21

Arti ayat dalam surat Al-Fatihah pada Al Qur‟an yaitu:

1) Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, 2) segala puji bagi Allah Tuhan seluruh alam, 3) Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, 4) Pemilik hari pembalasan, 5) Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan, 6) Tunjukilah kami jalan yang lurus, 7) (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.

f. membaca surat pendek

Pada raka‟at pertama dan kedua bagi orang yang shalat sendiri

ataupun berjamaah, disunnahkan membaca surat atau ayat Al-Qur‟an. Hal ini dijelaskan dalam HR Ahmad, Bukhari, dan Muslim pada buku

(38)

22

Berdasarkan hadits di atas, dapat disimpulkan bahwa setelah membaca Surat Al-Fatihah disunnahkan untuk membaca ayat atau surat pendek dalam Al-Qur‟an. Contoh surat pendek dalam Al-Qur‟an misalnya Surat An Nas, sebagai berikut:

Arti ayat dalam surat An Nas pada Al Qur‟an yaitu:

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. 1)

Katakanlah, “Aku berlindung kepada Tuhannya manusia, 2) Raja

manusia, 3) Sembahan manusia, 4) dari kejahatan (bisikan) setan yang bersembunyi, 5) yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada

(39)

23 g. rukuk

Setelah membaca surat dalam Al-Qur‟an, lalu dilanjutkan dengan

mengangkat kedua tangan setinggi telinga seraya membaca “Allahu

Akbar”. Cara rukuk dijelaskan dalam hadits pada buku Nailul Authar

(Mu‟ammal Hamidy, dkk, 2001: 543) sebagai berikut.

Bacaan rukuk dijelaskan dalam hadits pada buku Nailul Authar

(40)

24

Bacaan rukuk juga dijelaskan dalam hadits pada buku Nailul Authar

(Mu‟ammal Hamidy, dkk, 2001: 546) sebagai berikut.

Selain itu, bacaan rukuk juga dijelaskan dalam hadits pada buku

(41)

25

Berdasarkan hadits di atas, dapat disimpulkan bahwa cara rukuk adalah dengan membungkukkan tubuh hingga kedua tangan mencapai kedua lutut dengan meregangkan jari-jari di atas permukaan kedua lutut. Bacaan rukuk adalah sebagai berikut.

Artinya: Maha suci Allah, Dzat yang maha agung

Selain itu, bacaan rukuk juga bisa menggunakan bacaan sebagai berikut.

Artinya: Maha suci Engkau, ya Allah, Tuhan kami, dan dengan memujiMu ya Allah, ampunilah aku.

h. i‟tidal

Selesai rukuk, lalu dilanjutkan dengan bangkit menegakkan badan dengan mengangkat kedua belah tangan setinggi telinga. Cara i‟tidal dijelaskan dalam hadits pada buku Nailul Authar (Mu‟ammal Hamidy, dkk, 2001: 552) sebagai berikut.

Bacaan i‟tidal dijelaskan dalam hadits dalam buku Nailul Authar

(42)

26

Dari hadits tersebut, dapat diketahui bahwa i‟tidal dilakukan

dengan berdiri setelah gerakan rukuk dengan meluruskan tulang punggung. Apabila imam membaca „SAMI‟ALLAHU LIMAN

HAMIDAH‟, maka makmum membaca „RABBANA WALAKAL

HAMDU‟.

i. sujud

Setelah i‟tidal, dilanjutkan dengan sujud seraya membaca takbir:

Allaahu akbar. Cara sujud dijelaskan dalam hadits dalam buku Nailul

Authar (Mu‟ammal Hamidy, dkk, 2001: 553) sebagai berikut.

Anggota tubuh yang menempel ke tanah pada saat sujud dijelaskan

dalam hadits dalam buku Nailul Authar (Mu‟ammal Hamidy, dkk,

(43)

27

Dalam riwayat yang lain disebutkan, “Saya diperintahkan sujud

dengan anggota yang tujuh, dan tidak dibenarkan menjadikan rambut dan pakaian sebagai alas di lantai, yaitu: dahi, hidung,

kedua tangan, kedua lutut dan kedua telapak kaki.” HR Muslim dan

Nasai (Sayyid Sabiq, 2008: 236).

Anggota tubuh yang menempel ke tanah pada saat sujud juga dijelaskan dalam kitab shahih Bukhari (diakses dari www.islamicfinder.org tanggal 26 Februari 2016).

“Telah menceritakan kepada kami Mu‟alla bin Asad berkata, telah

menceritakan kepada kami Wuhaib dari „Abdullah bin Thawus dari

Bapaknya dari Ibnu „Abbas radiallahu „anhu, ia berkata, “Nabi shallallahu „alaihi wasallam bersabda: “Aku diperintahkan untuk

melaksanakan sujud dengan tujuh tulang (anggota sujud); kening – beliau lantas memberi isyarat dengan tangannya menunjuk hidung- kedua telapak tangan, kedua lutut dan ujung jari dari kedua kaki dan tidak boleh menahan rambut atau pakaian (sehingga

menghalangi anggota sujud).” (Kitab Shahih Bukhari Nomor

Hadist: 770)

Bacaan sujud dijelaskan dalam hadits dalam buku Nailul Authar

(44)

28

Dapat disimpulkan bahwa cara sujud dilakukan dengan meletakkan dua lutut sebelum dua tangan. Ada tujuh anggota tubuh yang menempel ke tanah, yaitu dahi sampai hidung, dua telapak tangan, dua lutut, dan ujung jari kedua kaki. Bacaan sujud adalah sebagai berikut.

Artinya: sucikanlah nama Tuhanmu yang maha tinggi

Selain itu, bacaan rukuk juga bisa menggunakan bacaan sebagai berikut.

Artinya: Maha suci Engkau, ya Allah, Tuhan kami, dan dengan memujiMu ya Allah, ampunilah aku.

j. duduk di antara dua sujud

(45)

29

Selain itu, cara duduk di antara dua sujud juga dijelaskan dalam hadits dalam buku Bulughul Maram hal 156 sebagai berikut.

Kata „genggam lima puluh tiga‟ itu merupakan satu cara menghitung

orang Arab dengan menggenggam jari yang hasilnya ialah tergenggam semua jari, kecuali telunjuk untuk isyarat. Sedangkan bacaan duduk di antara dua sujud dijelaskan dalam hadits dalam buku Nailul Authar

(Mu‟ammal Hamidy, dkk, 2001: 560) sebagai berikut.

Bacaan duduk di antara dua sujud dijelaskan dalam hadits pada

buku Nailul Authar (Mu‟ammal Hamidy, dkk, 2001: 560) sebagai

(46)

30

Berdasarkan hadits di atas, dapat diketahui bahwa posisi duduk di antara dua sujud dilakukan dengan duduk di atas kaki kiri dan kaki kanan tegak dan menghadapkan jari-jarinya ke arah kiblat. Posisi tangan kiri diletakkan di atas lutut kiri dan tangan kanan di atas lutut kanan dengan menggenggam semua jari kecuali telunjuk. Bacaan duduk di antara dua sujud adalah sebagai berikut.

Artinya: Ya Tuhanku! Ampunilah dosaku.

Selain itu bacaan duduk di antara dua sujud juga dapat menggunakan bacaan sebagai berikut.

(47)

31 k. duduk tasyahud awal

Pada raka‟at kedua, jika melakukan shalat tiga atau empat raka‟at,

maka pada raka‟at kedua, melakukan duduk untuk membaca

tasyahud/tahiyat, dengan duduk kaki kanan tegak dan telapak kaki kiri diduduki. Cara duduk tasyahud awal sama seperti duduk antara dua sujud. Bacaan tasyahud dijelaskan dalam hadits pada buku Nailul

Authar (Mu‟ammal Hamidy, dkk, 2001: 567) sebagai berikut.

Selain itu bacaan tasyahud juga dijelaskan dalam hadits pada buku

(48)

32

Dari hadits di atas, dapat disimpulkan bahwa duduk tasyahud awal merupakan duduk setelah sujud kedua pada rekaat kedua. Posisi duduk sama dengan duduk iftirasy (seperti duduk antara dua sujud) dan jari telunjuk kanan menunjuk ke kiblat, sambil membaca lafal tasyahud dan disunnahkan membaca shalawat nabi. Bacaan tasyahud adalah sebagai berikut.

(49)

33 l. duduk tasyahud akhir

Duduk tasyahud akhir dilakukan pada rakaat yang terakhir dalam shalat. Cara duduk tasyahud akhir dijelaskan dalam hadits pada buku

Nailul Authar (Mu‟ammal Hamidy, dkk, 2001: 570) sebagai berikut.

Cara duduk tasyahud akhir juga dijelaskan dalam hadits pada buku

(50)

34

Setelah melakukan duduk tasyahud akhir dengan benar, diiringi dengan membaca bacaan tasyahud dilanjutkan dengan shalawat Nabi Muhammad SAW.

Berdasarkan hadits tersebut, dapat diketahui bahwa cara duduk tasyahud akhir adalah duduk dengan memajukan kaki yang kiri dan menancapkan kaki kanan sambil duduk dengan pantat (di atas tanah). Setelah itu, diiringi dengan membaca tasyahud dan shalawat Nabi. m. membaca shalawat Nabi Muhammad SAW

Setelah membaca bacaan tasyahud, sebaiknya dilanjutkan dengan membaca shalawat nabi. Bacaan shalawat nabi dijelaskan dalam hadits

pada buku Nailul Authar (Mu‟ammal Hamidy, dkk, 2001: 580) sebagai

(51)

35

Dari hadits di atas, dapat disimpulkan bahwa bacaan shalawat Nabi Muhammad SAW adalah sebagai berikut.

Artinya: Ya Tuhanku curahkanlah rahmat atas Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah curahkan rahmat itu kepada keluarga Ibrahim, dan berkatilah keluarga Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah berbakti keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau adalah Maha terpuji dan Maha mulia.

n. salam

Selesai tasyahud akhir, kemudian salam sebagai penutup seluruh rangkaian shalat dengan menengok kepala ke kanan dan ke kiri. Bacaan dan cara melakukan salam dijelaskan pada Hadits Riwayat Imam yang lima dan disahkannya oleh Tirmidzi dalam Buku Nailul Authar (Mu‟ammal Hamidy, dkk, 2001: 590) sebagai berikut. Dari Ibnu

Mas‟ud, sesungguhnya Nabi saw. biasa memberi salam ke kanan dan ke

kiri dengan “ASSALAMU „ALAAIKUM WARAHMATULLAH”,

(52)

36

salam dua kali dalam shalat hukumnya sunnah, sementara yang wajib hanya satu kali.

Sayyid Sabiq (2008: 239) mengemukakan bahwa dalam kitab Bulugh al-Maram, Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata, bahwasanya

Wa‟il bin Hajar berkata, “Aku mengerjakan shalat bersama

Rasulullah saw., dan beliau salam ke arah kanan dengan mengucapkan, „Assalamu‟alaikum warahmatullahi wabarakatuh,‟ kemudian kea rah kiri seraya mengucapkan „Assalamu‟alaikum warahmatullahi wabarakatuh.‟ HR Abu Daud dengan sanad yang sahih.

Bacaan salam dijelaskan dalam hadits pada buku Bulughul Maram hal 161 sebagai berikut.

Berdasarkan hadits di atas, dapat diketahui bahwa salam dilakukan dengan dengan menengok kepala ke kanan dan ke kiri sampai terlihat pipinya seraya membaca bacaan salam yaitu Assalamu „alaikum warahmatullahi wabarakatuh, yang artinya mudah-mudahan sejahtera

(bercucuran) atas kamu dan rahmat Allah dan karunia-karunia-Nya. 4. Indikator Kemampuan Ibadah Shalat di Sekolah Dasar

(53)

37

dasar. Ukuran tersebut tentu sudah dirumuskan melalui Kompetensi Dasar dan indikator mengenai aspek ibadah shalat di Sekolah Dasar. Berikut ini Kompetensi Dasar dan indikator ibadah shalat di Sekolah Dasar.

Tabel 1. Kompetensi Dasar dan Indikator Ibadah Shalat di Sekolah Dasar

Kelas Kompetensi Dasar Indikator

2 Hafal bacaan dan melakukan gerakan shalat (M. Maksum, 2004: xiv)

Siswa dapat

 melafalkan niat shalat,

 hafal bacaan shalat, yaitu takbiratulihram, doa iftitah, surat Al Fatihah, bacaan surat pendek pilihan, rukuk, iktidal, sujud, duduk di antara dua sujud, tasyahud awal, tasyahud akhir, dan salam,

 berdiri bagi yang mampu,

 mempraktikkan gerakan takbiratul ihram, rukuk, dan iktidal.

Melakukan shalat fardu dengan benar

Siswa dapat

 menghafal bacaan sujud, duduk di antara dua sujud, tasyahud awal, tasyahud akhir, dan salam,

 mempraktikkan gerakan sujud, duduk di antara dua sujud, tasyahud awal, tasyahud akhir, dan salam,

 mempraktikkan keserasian bacaan dan gerakan shalat.

3 Mampu

melaksanakan shalat fardu (pemantapan) (M. Maksum, 2004: xiv)

 melakukan gerakan shalat yang benar,

 menampilkan bacaan shalat yang benar,

 menyerasikan gerakan dan bacaan shalat dengan benar,

 mempraktikkan gerakan dan bacaan shalat fardu,

 mengamalkan shalat Zuhur, Asar, dan Isya dengan sempurna,

 mempraktikkan shalat Zuhur, Asar, dan Isya dengan sempurna.

4 5.Mengenal

ketentuan-ketentuan shalat (Tim Bina Karya Guru, 2007)

4.1Menyebutkan rukun shalat 4.2Menyebutkan sunah shalat

4.3Menyebutkan syarat sah dan syarat wajib shalat

(54)

38 5. Manfaat Gerakan Shalat

Shalat terdiri dari gerakan yang diulang-ulang. Gerakan tersebut adalah

berdiri, ruku‟, bangun dari ruku‟, turun menuju sujud, sujud, bangun dari

sujud (duduk), kemudian sujud kedua. Setiap gerakan ini harus dilakukan

secara tenang (thuma‟ninah). Ketenangan dalam melakukan gerakan shalat

telah disarankan oleh Rasulullah guna memperoleh manfaat kesehatan bagi tubuh dan menghindarkan dari penyakit.

Shalat memiliki gerakan-gerakan yang bermanfaat bagi tubuh. Shalat merupakan olahraga yang cocok untuk otot-otot dan persendian-persendian tubuh. Manfaat gerakan shalat seperti yang disebutkan oleh Hilmi al-Khuli dalam bukunya Menyingkap Rahasia Gerakan – Gerakan Shalat, antara lain:

a. al qiyam (berdiri)

Dalam posisi ini seorang muslim berdiri tegak tidak kaku. Antara kaki merenggang selebar jarak antara dua bahu tubuh. Tangan kanan memegang tangan kiri. Dalam posisi ini otot yang berada di punggung memberi kesempatan kepada tulang punggung pada posisi lurus.

b. ruku‟

Gerakan ruku‟ dilakukan dengan posisi punggung kokoh dan lurus

dengan kepala terangkat sejajar dengan memanjangnya badan. Hilmi

al-Khuli (2008:109) menyatakan bahwa gerakan ruku‟ dapat memperkuat

otot punggung dan mencegah terjadinya pembengkokan. Selain itu,

(55)

39

dapat menghilangkan sesuatu yang menumpuk pada lambung dari bahan minyak dan lemak.

c. i‟tidal (bangun dari ruku‟)

Gerakan ini dilakukan dengan cara mengangkat kepala dengan tenang, hingga kembali ke posisi berdiri. Sementara kedua lengan dengan tenang berada di kedua sisi tubuh. Gerakan ini memberi kesempatan bagi darah yang ada di kaki untuk naik menuju urat perut yang akan diteruskan ke jantung (Hilmi al-Khuli, 2008: 122).

d. dari berdiri menuju sujud

Dr. Taufik Ulwan (dalam Hilmi ak-Khuli, 2008: 100) menyatakan gerakan ini berlangsung cepat, tetapi manfaatnya baik untuk sirkulasi darah manusia. Gerakan ini bertujuan untuk memeras darah urat yang terdapat dalam jaringan darah menuju urat kecil dan diteruskan ke urat-urat yang besar (Hilmi al-Khuli, 2008: 123)

e. sujud

(56)

40

Hilmi al-Khuli (2008:111) menyatakan bahwa sujud dapat mencegah penumpukan bahan-bahan minyak dan kegemukan. Sujud juga mampu mengaktifkan (melancarkan) aliran darah pada paru-paru dan kepala. Di samping itu, sujud juga dapat memperkuat otot perut dan mencegah pengendoran otot-otot tertentu pada perut.

f. bangun dari sujud (duduk)

Dengan tenang kepala diangkat dari atas tanah, hingga badan berada dalam posisi duduk dengan punggung tegak. Paha kiri tetap di atas tulang kering kaki kiri. Adapun tulang kering kaki kanan tenang di atas ujung jari-jari kaki kanan. Sementara kedua telapak tangan berada di atas kedua paha. Gerakan ini dapat membantu aktivitas pemompaan dada dan memberi kesempatan kepada darah yang ada di permukaan untuk mendapatkan jalan menuju aliran bagian dalam (Hilmi al-Khuli, 2008: 124).

Shalat dapat menjadi sumber kebahagiaan dan kesehatan manusia. Sulaiman Al-Kumayi (2007: 74) menyatakan bahwa shalat dilakukan dengan melakukan delapan posisi tubuh yang berbeda-beda dan membaca ayat Al-Qur‟an pada setiap postur. Manfaat setiap postur dalam shalat terhadap kesehatan, antara lain:

a. Postur 1 (postur niat)

(57)

41

postur 1, seseorang bisa menghayati kehadiran Allah, merasakan ihsan, yakni seolah-olah melihat Allah. Kalaupun tidak mampu melihat, maka sadar bahwa Allah melihat. Postur ini bermanfaat untuk melancarkan peredaran darah (proses keseimbangan sirkulasi darah). Jika darah lancar, maka tubuh akan sehat.

b. Postur 2 (postur qiyam): percakapan intim

Postur ini dilakukan dengan meletakkan tangan di bawah pusar atau di atas pusar, tangan kanan di atas tangan kiri. Setelah itu membaca doa iftitah dan Surah Al Fatihah, dilanjutkan dengan membaca surah atau ayat-ayat Al-Qur‟an. Pelaku shalat akan merasa semakin dekat dan siap menerima kehendak Tuhannya.

Konsentrasi penuh pada postur 2, menyebabkan relaksasi pada kaki dan punggung. Selain itu, juga dapat menggerakkan perasaan rendah hati, kesederhanaan, dan ketaatan.

c. Postur 3 (postur rukuk)

Postur ini dilakukan dengan membungkukkan punggung dan meletakkan telapak tangan pada lutut dengan jari-jari menyebar. Punggung sejajar dengan permukaan lantai. Mata memandang lurus ke bawah. Tidak boleh mendongakkan dan menundukkan kepala, akan tetapi antara keduanya.

(58)

42

ruas-ruas palsu, misalnya melekatnya tulang kelangkang dan tulang tungging yang dapat mengakibatkan kesulitan, terutama bagi wanita yang hendak melahirkan anak. Menurut tiga ahli, yaitu Dr. Frierich W., Dr. G. Laborie dan Dr. TY. Arramon yang menulis tentang Principles of Rheumatismetherapie (dalam Sulaiman Al-Kumayi, 2007: 92)

menyatakan bahwa jika sikap rukuk dilaksanakan secara sempurna, penyakit yang bersumber pada ruas tulang belakang dapat dihindari. d. Postur 4 (iktidal/qauna)

Sewaktu bangkit dari posisi rukuk, membaca Sami‟a Allahu liman

hamidah. Rabbana laka al-hamdu. Kemudian kembali ke posisi berdiri, tangan berada di samping. Di sini seseorang harus yakin bahwa jika seseorang dekat dengan Allah, maka Allah akan memberikan jalan keluar dari segala kesulitan.

e. Postur 5 (sujud)

Sujud dilakukan dengan meletakkan kedua tangan di atas lutut dan secara perlahan-lahan bergerak ke posisi berlutut. Setelah itu, menyentuhkan kepala dan tangan pada permukaan lantai. Ketujuh bagian tubuh berikut harus menyentuh permukaan lantai: dahi, kedua telapak tangan, kedua lutut, dan jari-jari kaki.

(59)

43

menyebabkan otot-otot berkembang baik. Sikap sujud juga bermanfaat bagi otak. Sekejap saja otak tidakteraliri darah, berakhirlah kehidupan seseorang. Pada waktu sujud, kepala berada pada posisi terendah. Posisi ini menyebabkan darah yang membawa zat-zat yang dibutuhkan otak relatif banyak mengalir ke bagian tersebut.

f. Postur 6 (duduk antara dua sujud/ qu‟ud)

Setelah sujud, gerakan selanjutnya ialah duduk disertai dengan ucapan Allahu Akbar, lalu membaca doa. Bagi laki-laki, tumit kaki kanan mengerut dan berat kaki serta bagian tubuh berada pada tumit tersebut. Posisi ini membantu pengeluaran zat racun dari liver dan memacu gerak peristaltik pada usus besar. Bagi perempuan, pertahankan kedua kaki di bawah badan dan telapak kaki menghadap ke atas. Tubuh akan kembali mengalami relaksasi yang sama, dan postur ini membantu pencernaan dengan menggerakkan isi perut ke arah bawah.

g. Postur 7 tasyahud (iftirasy dan tawarruk)

(60)

44

di atas kaki kiri. Posisi terbaik adalah berat badan dialokasikan ke sebelah kiri.

Gerakan pada postur 7 menyebabkan tumit menekan otot-otot pangkal paha serta saraf pangkal paha yang besar, sehingga saraf pangkal paha terpijit. Pijatan tersebut dapat menghindarkan atau menyembuhkan suatu penyakit saraf pangkal paha yang terasa sakit, nyeri, sengal, hingga tidak dapat berjalan, yang biasa disebut ischias.

Bagi laki-laki, posisi tawarruk menyebabkan terjadi pemijitan terhadap beberapa anggota kelamin yang penting, misalnya saluran kandung kemih. Manfaat lainnya untuk mengatasi impotensi. Sedangkan bagi wanita, posisi ini bermanfaat untuk mengatasi haid dan dingin terhadap seks.

h. Postur 8 salam

Salam merupakan gerakan akhir dalam shalat. Ketika hendak salam, lepaskan genggaman tangan kanan dan ulurkan jari-jari di atas paha. Sesudah itu palingkan muka ke kanan sehingga benar-benar melihat ke samping kanan. Kemudian palingkan muka ke kiri sehingga benar-benar melihat ke samping kiri.

(61)

45

yang menyebabkan perasaan lelah, kaku, dan linu di bagian kepala. Kontraksi otot-otot juga menghasilkan energi panas dan zat-zat yang diperlukan untuk merehabilitasi jaringan-jaringan yang rusak oleh proses pemisahan adenosine-triphosphorzuur menjadi adenosine dan diphosphorzuur.

Di tengah kesibukannya, terkadang manusia lupa akan dirinya sendiri, lupa untuk merawat tubuh dengan cara yang sebenarnya sangat sederhana. Madyo Wratsongko dan Sagiran (2005: 41-15) menjabarkan manfaat gerakan shalat untuk kesehatan adalah sebagai berikut.

a. Gerakan rukuk

Kelenturan tulang belakang yang berisi sumsum tulang dan merupakan saraf sentral beserta sistem aliran darahnya, dapat dirawat dengan melakukan gerakan rukuk yang maksimal. Rukuk yang ditekuk maksimal, kingga tangan memegang pangkal kaki dapat berguna untuk menarik urat pinggang, sehingga dapat mencegah sakit pinggang, yang merupakan awal dari sakit ginjal. Kelenturan saraf memori dapat dijaga dengan gerakan rukuk ketika mengangkat kepala secara maksimal, mata menghadap ke depan.

b. Berdiri dari rukuk

(62)

46

keseimbangan tubuh kita dan berguna untuk mencegah terjadinya pingsan dengan tiba-tiba.

c. Duduk tasyahud awal (duduk pembakaran)

Duduk tasyahud awal jika dilakukan agak lama, akan mengaktifkan kelenjar keringat sehingga dapat mencegah pengapuran. Gerakan ini akan menjaga supaya kaki dapat secara optimal menopang tubuh kita. d. Duduk di antara dua sujud (duduk perkasa)

Duduk di mana posisi kedua belah kaki, seluruh jari-jari kakinya ditekuk, akan dapat menyeimbangkan sistem elektrik dan saraf keseimbangan tubuh. Selain itu, juga dapat memperbaiki dan menjaga kelenturan saraf keperkasaan yang banyak terdapat pada bagian paha dalam, cekungan lutut, cekungan betis, sampai ke ibu jari kaki. Kelenturan saraf keperkasaan ini dapat mencegah penyakit diabetes, sulit buang air kecil, prostat, dan hernia.

e. Sujud

(63)

47

membiasakan pembuluh darah halus di otak untuk mendapat tekanan lebih sehingga mencegah stroke.

f. Takbiratul ihram

Takbiratul ihram dilakukan dengan mengangkat tangan, membuka dada, menarik napas, memberikan aliran darah dari pembuluh balik yang terdapat di lengan untuk diisi ke mata, telinga, mulut, bagian otak pengatur keseimbangan tubuh sehingga membuka mata dan telinga, serta menjaga keseimbangan tubuh.

g. Tasyahud akhir

Gerakan ini sebenarnya lebih baik dari gerakan bersila, karena pada gerakan ini tulang kering yang seperti mata pisau tapi tumpul diletakkan di cekungan telapak kaki kiri dengan jempol kaki ditekuk. h. Gerakan salam

Jika dilakukan secara maksimal dengan menarik urat leher, gerakan ini bermanfaat untuk menjaga kelenturan urat leher. Makna dari gerakan ini adalah menjaga agar tidak ada urat leher yang kering, kaku, dan tersalut kista/ benjolan.

i. Berdiri

Berdiri pada saat shalat dapat dimanfaatkan untuk melatih keseimbangan tubuh dan konsentrasi.

(64)

48 a. Al-qiyam (berdiri)

Konsentrasi penuh pada posisi berdiri saat shalat menyebabkan relaksasi pada kaki dan punggung. Dalam posisi ini, otot yang berada di punggung memberi kesempatan kepada tulang punggung pada posisi lurus. Posisi ini dapat dimanfaatkan untuk melatih keseimbangan tubuh dan konsentrasi.

b. Rukuk

Kelenturan tulang belakang yang berisi sumsum tulang dan merupakan saraf sentral beserta sistem aliran darahnya dapat dirawat dengan melakukan gerakan rukuk yang maksimal. Gerakan rukuk dapat memperkuat otot punggung dan mencegah terjadinya pembengkokan. Jika sikap rukuk dilakukan secara sempurna, penyakit yang bersumber pada ruas tulang belakang dapat dihindari.

c. I‟tidal

(65)

49 d. Sujud

Pada waktu sujud, kepala berada pada posisi terendah, pembuluh darah nadi balik dan di kunci di pangkal paha. Posisi ini menyebabkan tekanan darah akan lebih banyak dialirkan kembali ke jantung dan darah yang membawa zat-zat yang dibutuhkan otak relatif banyak mengalir ke bagian tersebut. Sujud mampu mengaktifkan (melancarkan) aliran darah pada paru-paru dan kepala. Hal ini dapat membiasakan pembuluh darah halus di otak untuk mendapat tekanan lebih sehingga dapat mencegah koroner dan stroke.

e. Duduk di antara dua sujud

Gerakan ini dapat membantu aktivitas pemompaan dada dan memberi kesempatan kepada darah yang ada di permukaan untuk mendapatkan jalan menuju aliran bagian dalam. Selain itu, juga dapat menyeimbangkan sistem elektrik dan saraf keseimbangan tubuh. Bagi laki-laki, posisi ini membantu pengeluaran zat racun dari liver dan memacu gerak peristaltik pada usus besar. Bagi perempuan, postur ini dapat membantu pencernaan dengan menggerakkan isi perut ke arah bawah.

f. Duduk tasyahud awal (duduk iftirasy)

(66)

50

penyakit saraf pangkal paha yang terasa sakit, nyeri, sengal, hingga tidak dapat berjalan.

g. Duduk tasyahud akhir (duduk tawarruk)

Gerakan ini lebih baik dari gerakan bersila, karena pada gerakan ini tulang kering yang seperti mata pisau tapi tumpul diletakkan di cekungan telapak kaki kiri dengan jempol kaki ditekuk. Gerakan ini menyebabkan tumit menekan otot-otot pangkal paha serta saraf pangkal paha yang besar, sehingga saraf pangkal paha terpijit. Pijatan tersebut dapat menghindarkan atau menyembuhkan suatu penyakit saraf pangkal paha yang terasa sakit, nyeri, sengal, hingga tidak dapat berjalan, yang biasa disebut ischias. Bagi laki-laki, posisi tawarruk menyebabkan terjadi pemijitan terhadap beberapa anggota kelamin yang penting, misalnya saluran kandung kemih. Sedangkan bagi wanita, posisi ini bermanfaat untuk mengatasi nyeri haid.

h. Gerakan salam

(67)

51 B. Buku

1.Definisi Buku

Pada Kamus Besar Bahasa Indonesia yang disusun oleh tim penyusun kamus pusat bahasa (2007: 172), buku merupakan lembar kertas yang berjilid, berisi tulisan atau kosong. Definisi buku yang tertera dalam http://www.artikata.com/arti-322580-buku.html, juga menyatakan bahwa buku adalah lembar kertas yang berjilid, berisi tulisan atau kosong. Sedangkan pengertian buku yang tercantum pada manfaat.co.id, buku merupakan sumber berbagai informasi yang dapat membuka wawasan tentang berbagai hal, seperti ilmu pengetahuan, ekonomi, sosial, budaya, politik, maupun aspek-aspek kehidupan lainnya. Berdasarkan penjelasan tersebut, dapat diketahui bahwa buku merupakan lembar kertas yang berjilid, berisi tulisan atau kosong, yang menjadi sumber berbagai informasi untuk membuka wawasan tentang berbagai hal.

2. Jenis Buku

(68)

52 a. Buku teks

Buku teks terdiri dari buku teks pokok dan buku teks pelengkap. Buku teks pokok disediakan oleh pemerintah yang biasa disebut buku paket. Buku teks pelengkap adalah buku-buku terbitan swasta yang dibeli oleh sekolah atau siswa berdasarkan pilihan sekolah atau daerah. b. Buku bacaan

Buku bacaan merupakan buku yang digunakan untuk mendorong minat baca siswa. Di Sekolah Dasar, buku-buku tersebut sebagian besar disediakan oleh pemerintah. Selain itu, juga ada buku bacaan yang dibeli oleh sekolah atau disumbangkan oleh masyarakat, penerbit, siswa, dan orang tua. Buku-buku bacaan yang digunakan di sekolah harus mendapat pengesahan dari Dirjen Dikdasmen.

c. Buku sumber

Buku sumber merupakan buku-buku yang dijadikan referensi oleh guru maupun siswa, misalnya kamus, ensiklopedia, dan atlas. Sebagian buku sumber biasanya juga diadakan oleh pemerintah dan sumbangan dari masyarakat.

d. Buku pegangan guru

(69)

53

disertai atau terlepas sama sekali dari buku teks untuk siswa, buku-buku lain yang menjadi pedoman guru dalam mengajar.

Buku di perpustakaan sekolah tidak seperti di perpustakaan umum, di mana semua jenis buku dapat masuk. Wiji Suwarno (dalam Syaiful Imran, diakses dari ilmu-pendidikan.net) menjelaskan bahwa ada dua jenis koleksi buku di perpustakaan sekolah, antara lain sebagai berikut. 1) Buku bacaan

Buku bacaan merupakan buku yang digunakan sebagai bahan bacaan. Buku bacaan dibagi menjadi 3 kategori, yaitu buku bacaan fiksi, non-fiksi, dan fiksi ilmiah.

2) Buku ilmiah

Buku ilmiah merupakan buku yang ditulis dan dihasilkan dari studi maupun kegiatan ilmiah yang disajikan dalam berbagai bentuk yang dapat mempengaruhi daya intelektual pembaca. Contoh dari buku ilmiah, yaitu laporan penelitian, jurnal, handbook, buku teks, dan sejenisnya.

(70)

54

1) buku dapat digunakan sekolah, tetapi bukan buku pegangan pokok peserta didik dalam mengikuti pembelajaran,

2) tidak menyajikan materi yang dilengkapi instrumen evaluasi dalam bentuk tes, LKS, atau bentuk lainnya untuk mengukur pemahaman pembaca mengenai isi bacaan sebagai pembelajaran,

3) penerbitan tidak berdasarkan tingkatan kelas,

4) materi terkait dengan sebagian atau salah satu Standar Kompetensi atau Kompetensi Dasar yang tertuang dalam Standar Isi,

5) materi dapat dimanfaatkan pembaca dari semua jenjang pendidikan dan tingkatan kelas, dan

6) materi cocok digunakan sebagai bahan pengayaan atau panduan dalam kegiatan pendidikan.

Dari beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa buku pop-up tata cara dan manfaat gerakan shalat termasuk dalam kategori

(71)

55 3. Kriteria Penilaian Buku

a. Aspek penilaian buku

Buku merupakan sumber pengetahuan yang perlu diuji kelayakannya. Untuk dapat dikatakan layak, buku perlu melalui proses penilaian terlebih dahulu. Penilaian meliputi empat aspek, yaitu isi/substansi, bahasa, grafika, dan keamanan nasional. Buku yang akan dibuat pada penelitian ini termasuk dalam buku bacaan nonfiksi, maka pengkajian akan difokuskan pada jenis buku tersebut. Kementrian Pendidikan Nasional menjabarkan kriteria penilaian buku pengayaan kepribadian nonfiksi (diunduh dari litbang.kemdikbud.go.id), yaitu:

1) Penilaian aspek materi/ isi:

Indikator yang digunakan dalam penilaian ini, meliputi:

a) materi/isi sesuai dan mendukung pencapaian tujuan pendidikan nasional

b) materi/ isi tidak bertentangan dengan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia,

c) materi/ isi merupakan karya orisinal (bukan hasil plagiat), tidak menimbulkan masalah SARA, dan tidak diskriminasi gender,

(72)

56

e) materi/ isi membangun karakter bangsa Indonesia yang mantap, stabil, dan diidamkan.

2) Penilaian aspek penyajian

Indikator yang digunakan dalam penilaian ini,meliputi:

a) penyajian materi/ isi dilakukan secara runtun, bersistem, lugas, dan mudah dipahami,

b) penyajian materi/ isi mengembangkan karakter, kecakapan intelektual, emosional, sosial, spiritual, kewirausahaan, dan ekonomi kreatif, serta

c) penyajian materi/ isi menumbuhkan motivasi untuk mengetahui lebih jauh.

3) Penilaian aspek bahasa

Indikator yang digunakan dalam penilaian ini meliputi:

a) bahasa yag digunakan etis, estetis, komunikatif, dan fungsional, sesuai dengan sasaran pembaca,

b) bahasa (ejaan, tanda baca, kosa kata, kalimat, dan paragraf) sesuai dengan kaidah, dan istilah yang digunakan baku. 4) Penilaian aspek grafika

Indikator yang digunakan dalam penilaian ini meliputi:

(73)

57

b) tipografi yang digunakan mempunyai tingkat keterbacaan yang tinggi.

Dedi Supriadi (2000, 177-179) menjabarkan indikator untuk setiap aspek penilaian buku bacaan nonfiksi, yaitu:

1) Penilaian segi isi/materi

Indikator yang digunakan dalam penilaian ini, meliputi: a) kebenaran dan ketepatan materi,

b) penyajian dan keterbacaan,

c) relevansi dengan tujuan pendidikan nasional untuk menunjang mata pelajaran, dan

d) daftar pustaka. 2) Penilaian segi bahasa

Indikator yang digunakan dalam penilaian ini, meliputi: a) struktur kalimat,

b) paragraf,

c) bentuk dan pilihan kata, d) penggunaan istilah, dan e) ejaan.

3) Penilaian segi fisik/ grafika

Indikator yang digunakan dalam penilaian ini, meliputi:

a) tipografi: jenis huruf, korp, spasi, lebar susunan, bentuk susunan/kolom, dan aksentuasi,

(74)

58

c) kualitas cetak: kerataan tinta, kerapatan cetak, dan cetakan tembus,

d) kualitas penyelesaian: pengeleman, jahitan, pelipatan, dan pemotongan,

e) ilustrasi: jenis, daya tarik, anatomi,

f) perwajahan sampul: daya tarik, tipografi, dan ilustrasi, g) ukuran buku,

h) kesesuaian jenis kertas, dan i) kesesuaian jenis sampul. b. Kriteria gambar dalam pengajaran

(75)

59

James W. Brown, dkk (dalam Nana Sudjana dan Ahmad Rivai, 2002: 12-13) menyatakan hasil penelitian Edmund Faison tentang penggunaan gambar dan grafik dapat disimpulkan sebagai berikut.

1) Untuk memperoleh hasil belajar siswa secara maksimal, gambar harus berkaitan dengan materi pelajaran dan memiliki ukuran yang cukup besar, sehingga rincian unsur-unsurnya mudah diamati. Selain itu, gambar juga harus sederhana, diproduksi bagus, menyatu dengan teks, dan lebih realistik. 2) Gambar-gambar berwarna lebih menarik minat anak daripada

hitam putih. Selain itu, daya tarik terhadap gambar bervariasi sesuai dengan umur, jenis kelamin, serta kepribadian seseorang.

3) Suatu penyajian visual yang sempurna realismenya adalah pewarnaan, karena pewarnaan pada gambar akan menumbuhkan impresi atau kesan realistik.

c. Anggota tim penilai

(76)

60

1) aspek isi/ substansi dinilai oleh para pakar dari perguruan tinggi, LIPI, Pusbangkurandik, dan guru-guru senior SD, SLTP, dan SLTA yang terpilih,

2) aspek bahasa dinilai oleh pakar bahasa dari Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa (Pusbinbangsa) Depdiknas dan perguruan tinggi,

3) aspek grafika dinilai oleh ahli dari Pusat Grafika, dan

4) aspek keamanan dinilai oleh tenaga dari Kejaksaan Agung, Mabes ABRI/TNI, dan Itjen Depdikbud.

d. Status kelulusan penilaian buku

(77)

61

Dedi Supriadi (2000: 182) juga menjelaskan jenis status penilaian, antara lain:

1) lulus/ memenuhi syarat tanpa catatan, apabila nilai rata-rata di atas 70 untuk buku bacaan dan 80 untuk buku pelajaran pelengkap tanpa ada catatan dari penilai,

2) lulus dengan catatan, apabila nilai rata-rata mencapai kriteria minimal tersebut tetapi ada catatan dari penilai yang menyarankan buku tersebut diperbaiki, dan

3) tidak lulus/ tidak memenuhi syarat, apabila nilai rata-rata kurang dari kriteria minimal dan banyak kesalahan.

Buku-buku yang lulus tanpa catatan langsung ditetapkan dengan SK Dirjen Dikdasmen. Buku-buku yang “lulus dengan

catatan” dikembalikan kepada penerbit untuk diperbaiki dengan

disertai surat pengantar agar buku tersebut diperbaiki. Sedangkan buku-buku yang dinyatakan “tidak memenuhi syarat” dikembalikan kepada penerbit disertai keterangan/ alasan bahwa buku tersebut tidak lulus.

(78)

62

e. Pemilihan buku bacaan untuk anak Sekolah Dasar

Dedi Supriadi (2000: 273-274) mengemukakan bahwa untuk lebih meningkatkan keterbacaan dan daya tarik buku bacaan anak-anak SD, mulai tahun 1994 Ditjen Dikdasmen memprakarsai survei guna memilih buku-buku bacaan yang lebih sesuai dengan kebutuhan anak. Jika sebelumnya buku-buku bacaan tersebut langsung dipilih oleh suatu tim untuk kemudian dibeli oleh Proyek PBBA-SD, maka kini buku-buku tersebut dibaca terlebih dahulu oleh anak-anak SD. Dengan cara ini, anak-anak dilibatkan dan suara mereka didengar.

Ada tiga hal yang dinilai oleh anak, yaitu kemenarikan isi buku, kebermanfaatan isi buku, dan pemahaman isi buku. Penilaian anak dituangkan dalam bentuk skala, yaitu 4-3-2-yang menunjuk pada daya tarik dan manfaat buku. Keterangan dari skala tersebut, yaitu 4=daya tarik dan manfaat tinggi, 3=cukup, 2=sedang, 1=kurang/rendah. Sementara itu, pemahaman siswa dibuat dalam pertanyaan berbentuk forced choice (Ya-Tidak). Bahasa yang digunakan dalam kuesioner dibuat sederhana dengan sapaan

“kamu” agar anak lebih mudah memahami maksudnya.

C. Buku Pop-Up

1. Definisi Buku Pop-Up

Pop-up merupakan salah satu bidang kreatif dari teknik kertas di

Gambar

Gambar 1.  Bagan Kerangka Pikir
Tabel 3. Kisi-kisi Instrumen Validasi Ahli Media
Gambar 3. Scan Gambar Pdf
Gambar 6. Karakter pada Aplikasi Corel Draw X66)  Desain yang sudah jadi kemudian dicetak atau diprint
+7

Referensi

Dokumen terkait

Dari kelima aspek penilaian, buku pop up ini termasuk dalam kualitas baik (B).Oleh karena itu, bahan ajar buku kimia berbasis pop up pada materi kimia minyak

Media buku pop up cerita bergambar karena dinilai lebih tepat digunakan sebagai media pembelajaran pendidikan multikultural dasar untuk anak usia dini “6-8” dibandingan

Maka dari itu, penulis tertarik untuk membuat buku cerita bergambar dengan sistem pop-up, tentang pentingnya mengkonsumsi sayur- sayuran yang dapat membantu

Dengan memilih beberapa gambar yang berkaitan dengan sila pertama Pancasila, siswa dapat menunjukkan contoh perilaku di rumah yang sesuai dengan sila pertama

Data yang diperoleh bahwa buku pop-up dapat menjadi media yang baik untuk anak usia 2-4 tahun karena adanya efek 3D dan menarik minat anak untuk mempelajari isi dalam

Strategi visualisasi yang digunakan agar dapat menarik perhatian anak-anak usia dini untuk menyaksikan media interaktif tata cara shalat fardhu yang dirancang adalah

Maka hasil uji statistic ini dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh edukasi tentang pertolongan pertama pada kecelakaan P3K dengan media buku pop up terhadap tingkat pengetahuan anak usia

Penelitian ini bertujuan untuk merancang buku pop-up tentang makanan bergizi seimbang untuk anak usia 2-5 tahun sebagai media edukasi, khususnya tentang sayuran, di wilayah Tegal Angus untuk mengatasi masalah