• Tidak ada hasil yang ditemukan

Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja, Indonesia. 1, 2,

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja, Indonesia. 1, 2,"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

PENERAPAN MODEL QUANTUM TEACHING BERBANTUAN

MEDIA PEMBELAJARAN BERBASIS POWERPOINT

UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI DAN

HASIL BELAJAR IPS SISWA KELAS III

SDN. 26 DANGIN PURI-DENPASAR

Ni Luh Wiari Astuti

1

, Siti Zulaikha

2

, I Ketut Ardana

3

1,2,3

Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar, FIP

Universitas Pendidikan Ganesha

Singaraja, Indonesia

e-mail: [email protected]

1

, [email protected]

2

,

[email protected]

3

Abstrak

Penelitian ini bertujuan (1) untuk meningkatkan motivasi belajar IPS melalui penerapan Model Quantum Teaching Berbantuan Media Pembelajaran Berbasis Powerpoint pada siswa kelas III SDN. 26 Dangin Puri Denpasar, (2) untuk meningkatkan hasil belajar IPS melalui penerapan Model Quantum Teaching Berbantuan Media Pembelajaran Berbasis Powerpoint pada siswa kelas III SDN. 26 Dangin Puri Denpasar. Desain penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam dua siklus. Subjek penelitian adalah siswa kelas III SDN. 26 Dangin Puri Denpasar tahun pelajaran 2013/2014. Data penelitian tentang motivasi belajar siswa dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner dan hasil belajar siswa dikumpulkan dengan menggunakan tes. Data yang terkumpul dianalisis dengan deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan persentase nilai rata-rata motivasi belajar siswa pada siklus I 70,6% berada pada kriteria cukup, mengalami peningkatan pada siklus II menjadi 80,17% tergolong pada criteria tinggi. Persentase nilai rata-rata hasil belajar pada pra siklus sebesar 66,37% berada pada kriteria cukup. Setelah pelaksanaan tindakan pada siklus I persentase rata-rata hasil belajar menjadi 73,67% berada pada kriteria cukup. Setelah diadakan perbaikan pada siklus II mengalami peningkatan menjadi 82,17% berada pada kriteria tinggi. Ketuntasan belajar pada pra siklus mencapai 57% berada pada kriteria rendah. Setelah dilakukan perbaikan pembelajaran pada siklus I mencapai 73,33% berada pada kriteria cukup dan mengalami peningkatan pada siklus II mencapai 86,67% yang berada pada kriteria tinggi. Simpulan dari penelitian ini, penerapan model Quantum Teaching berbantuan media pembelajaran berbasis Powerpoint dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar IPS siswa kelas III SDN. 26 Dangin Puri.

Kata Kunci: quantum teaching, media pembelajaran berbasis powerpoint, motivasi

belajar dan hasil belajar.

Abstract

The purpose of this research (1) to increase of IPS motivation study through the implementation of the model of quantum teaching assisted powerpoint instructional media on third grade student of SDN. 26 Dangin Puri Denpasar, (2) to increase of learning result of IPS through the implementation of model of quantum teaching assisted powerpint instructional media on third grade student of SDN. 26 Dangin Puri Denpasar, Design of this study is classroom action research conducted in two cycles. The subject is the third grade students of SDN. 26 Dangin Puri Denpasar in academic year 2013/2014. The research data on students motivation was collected using questioner and student learning result data collected using the test. The data is analyzed by descriptive quantitative. The results of this research is showed the percentage of the average value of student motivation in the first cycle was 70,6% in sufficient criteria, increase in second cycle to be 80,17% at the high critera. The percentage of the average value of learning

(2)

result in the pre-cycle is 66,37% at sufficient criteria. After the implementation of the action in the first cycle the average percentage of learning result be 73,67% at sufficient criteria. After is held the repair on the second cycle increased to 82,17% at the high criteria. The learning completeness in pre-cycles is 57% at the low criteria. After is held the improvement of learning process in first cycle the percentage to be 73,33% in sufficient criteria and it is increasing in the second cycles to be 86,67% at the high criteria. The conclusion of this research, implementation of model of quantum teaching assisted powerpoint instructional media can increase the motivation and learning resultof IPS of the third grade students in SDN. 26 Dangin Puri Denpasar.

Keywords: quantum teaching, powerpoint-based instructional media, motivation of

learning and learning result.

PENDAHULUAN

Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan integrasi dari berbagai cabang ilmu-ilmu sosial seperti sosiologi, sejarah, geografi, ekonomi, politik, hukum, dan budaya (Fatma, 2010:1). Banyaknya pokok kajian yang merupakan cabang dari IPS membuat siswa sulit memahami pelajaran IPS. Dalam proses pembelajarannya, IPS bukan hanya sebatas pada upaya menjejali siswa dengan sejumlah konsep yang bersifat hapalan belaka melainkan terletak pada upaya agar nantinya mereka mampu menjadikan apa yang telah mereka pelajari sebagai bekal dalam memahami dan ikut serta dalam melakoni kehidupan masyarakat lingkungannya serta sebagai bekal bagi dirinya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, (Etin Solihatin dan Raharjo, 2009:14).

Berbagai upaya telah dilakukan guru untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa dalam mata pelajaran IPS. Namun hal tersebut dirasakan belum dapat meningkatkan motivasi siswa yang berdampak pada hasil belajarnya. Hal ini ditunjukkan oleh hasil ulangan siswa di akhir semester ganjil tahun ajaran 2013/2014. Dimana persentase rata-rata hasil ulangan siswa di akhir semester ganjil tahun ajaran 2013/2014 yang berjumlah 30 baru mencapai 67,37 %. Hasil ulangan semester menunjukkan 43% dari 30 siswa mendapatkan nilai dibawah KKM, sedangkan sesuai Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM), nilai yang ditetapkan untuk mata pelajaran IPS di kelas III yaitu 70,00. Hasil belajar tersebut merupakan prestasi belajar siswa yang dapat diukur dari nilai siswa setelah mengerjakan soal evaluasi.

Berdasarkan permasalahan tersebut peneliti tertarik untuk menerapkan model

Quantum Teaching dalam meningkatkan

motivasi dan hasil belajar IPS. Model

Quantum Teaching dikembangkan oleh

Bobby Deporter dan Mike Henarcki pada tahun 1982 di SuperCamp yaitu sebuah lembaga yang terletak di Kirkwood Meadows, Negara bagian California, Amerika Serikat. Kaifa, 1999 (dalam Saifudin, 2008: 125) mengatakan bahwa

Quantum Teaching sebagai salah satu

model, strategi dan pendekatan pembelajaran khususnya menyangkut keterampilan guru dalam merancang, mengembangkan dan mengelola sistim pembelajaran sehingga guru mampu menciptakan suasana pembelajaran yang efektif, menggairahkan dan memiliki keterampilan hidup. Hernacki, 2001 (dalam Wena, 2011: 160–161) menyatakan bahwa

Quantum Teaching merupakan cara baru

yang memudahkan proses belajar, yang memadukan unsur seni dan pencapaian yang terarah untuk segala mata pelajaran. Selanjutnya Miftahul (2010) mengatakan bahwa Quantum Teaching ialah model pembelajaran yang berisi seperangkat metode dan falsafah belajar yang mengijinkan pendidik untuk memahami perbedaan gaya belajar para siswa di dalam kelas dan efektif untuk semua umur. Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa model Quantum Teaching sebagai salah satu alternatif

pembaharuan pembelajaran yang meriah

dengan segala nuansanya yang

menyertakan segala kaitan interaksi, dan perbedaan yang memaksimalkan momen belajar untuk menciptakan lingkungan belajar yang efektif dan bagaimana menyederhanakan proses belajar sehingga

(3)

memudahkan belajar siswa. Quantuam

Teaching bersandar pada suatu konsep

yaitu “ bawalah dunia mereka ke dunia kita,

dan antarkan dunia kita ke dunia mereka”.

Mereka yang dimaksud dalam hal ini adalah siswa sedangkan kita yang dimaksud adalah guru. Sintaks pembelajaran kuantum dikenal dengan istilah TANDUR, yang di dalamnya memiliki 6 tahap/fase yaitu Tumbuhkan, Alami, Namai, Demontrasikan, Ulangi dan Rayakan (De Porter, et al., 2003). Dengan cara pembelajaran yang dilakukan di atas, maka pembelajaran akan menjadi bermakna dan menyenangkan. Belajar yang bermakna menurut Trianto (2010: 28) merupakan suatu proses dikaitkannya informasi baru pada konsep-konsep relevan yang terdapat dalam struktur kognitif seseorang.

Selain penerapan model

Quantum Teaching, dalam penelitian ini

juga diupayakan penggunaan bantuan media dalam proses pembelajarannya. Penggunaan media pembelajaran dapat berfungsi untuk membantu menjelaskan program pembelajaran yang sulit dijelaskan secara verbal sehingga materi pembelajaran akan lebih mudah dipahami siswa. Mengoptimalkan Powerpoint sebagai media pembelajaran berarti memanfaatkan secara maksimal segala fitur yang dimiliki oleh Microsoft Powerpoint untuk menunjang kegiatan pembelajaran. Dalam konteks sebagai media pembelajaran, powerpoint difungsikan untuk mempresentasikan pesan pembelajaran. Untuk itu presentasi dengan power point harus dapat memenuhi karakteristik media pembelajaran yang baik. Media berbasis powerpoint ini merupakan media bantu guru dalam menunjang proses pembelajaran yang ditampilkan dalam bentuk slide dengan dukungan elemen multimedia (teks, grafis, animasi, suara dan video) sehingga bahan-bahan ajar yang semula abstrak dapat disajikan lebih konkrit. Media ini dalam penggunaannya masih diperlukan improvisasi dari seorang guru dalam transformasi materi ke siswa, artinya media ini tidak dijalankan dengan mandiri tanpa kehadiran seorang guru. Penggunaan

media masih dikontrol oleh guru dengan demikian guru berperan sebagai fasilitator.

Menurut Djamarah (2002: 114) motivasi adalah suatu pendorong yang rnengubah energi dalam diri seseorang kedalam bentuk aktivitas nyata untuk mencapai tujuan tertentu. Sedangkan menurut Mc. Donald (dalam Sardiman. 2011: 73) motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya “feeling” dan didahului dengan tanggapan terhadap adanya tujuan. Jadi dari beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan motivasi adalah suatu kondisi yang mendorong seseorang untuk berbuat sesuatu dalam mencapai tujuan tertentu.

Hasil belajar menurut Sudjana (2006:22) adalah “kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajar”. Menurut Arikunto (2006) mengatakan bahwa hasil belajar adalah hasil akhir setelah mengalami proses belajar dan perubahan itu tampak dalam perbuatan yang dapat diamati dan diukur . Sedangkan Oemar Hamalik (2006: 30) mengemukakan hasil belajar adalah perubahan tingkah laku pada orang tersebut yang dari tidak tahu menjadi tahu, dan dari tidak mengerti menjadi mengerti. Bloom (dalam Sudjana, 2011:22) mengklasifikasikan secara garis besar hasil belajar menjadi tiga ranah yaitu ranah kognitif, psikometer dan afektif. Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah suatu hasil yang dicapai siswa setelah mengalami interaksi proses pembelajaran selama kurun waktu tertentu yang meliputi tiga ranah yaitu:kognitif, afektif dan psikomotor yang dinyatakan dalam nilai.

Berdasarkan uraian permasalahan yang telah dipaparkan, dapat diupayakan untuk melaksanakan penelitian tindakan kelas dengan judul “Penerapan Model

Quantum Teaching Berbantuan Media

Pembelajaran Berbasis Powerpoint Untuk Meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar IPS Pada Siswa Kelas III SDN. 26 Dangin Puri Denpasar”.

METODE

Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (classroom action research)

(4)

yang dilaksanakan di SDN. 26 Dangn Puri. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) adalah penelitian yang bersifat aplikasi (terapan), terbatas, segera dan hasilnya untuk memperbaiki dan menyempurnakan proses atau program pembelajaran yang sedang berjalan” (Agung, 2010:3).

Penelitian ini bersifat reflektif yang dilakukan oleh pelaku pendidikan dalam hal ini guru yang bertujuan untuk memperbaiki dan memecahkan suatu masalah yang dihadapi dalam proses pembelajaran. Peneliti mengadakan suatu penelitian tindakan kelas guna memperbaiki strategi dalam proses pembelajaran IPS sehingga dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar IPS dengan penerapan model

Quantum Teaching berbantuan media

pembelajaran berbasis powerpoint pada siswa kelas III SDN. 26 Dangin Puri Denpasar.

Subjek dalam Penelitian Tindakan Kelas ini adalah siswa kelas III SDN. 26 Dangin Puri Denpasar tahun pelajaran 2013/2014 yang berjumlah 30 orang, terdiri dari 13 siswa perempuan dan 17 laki-laki. Dalam penelitian ini menitik beratkan pada motivasi belajar IPS dan hasil belajar IPS siswa kelas III SDN. 26 Dangin Puri Denpasar dengan penerapan model

Quantum Teaching berbantuan media

pembelajaran berbasis powerpoint.

Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang bersifat kolaboratif yang didasarkan pada masalah yang muncul dalam pembelajaran IPS di SDN. 26 Dangin Puri Denpasar. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini dilaksanakan secara bersiklus. Namun jika penelitian belum mencapai peningkatan motivasi dan hasil belajar sesuai dengan yang diharapkan maka penelitian dapat dilanjutnya ke siklus berikutnya. Masing-masing siklus terdiri dari empat tahap yaitu: (1) perencanaan tindakan, (2) pelaksanaan, (3) observasi dan (4) refleksi.

Pada Tahap perencanaan dilakukan analisis kurikulum,sosialisasi tentang model

Quantum Teaching berbantuan media

pembelajaran berbasis powerpoint, sampai pada penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Pada tahap pelaksanaan kegiatan yang dilakukan

adalah melaksanakan penerapan model

pembelajaran Quantum Teaching

berbantuan media pembelajaran berbasis powerpoint pada mata pelajaran IPS yang telah direncanakan dalam RPP. Secara garis besarnya, tahapan penerapan model

Quantum Teaching dilaksanakan dengan

langkah-langkah sebagai berikut: (1) tumbuhkan, pada tahap ini seorang guru harus menumbuhkan suasana yang menyenangkan, relaks, menumbuhkan interaksi dengan siswa dengan masuk ke alam pikiran mereka, (2) alami, pada tahap ini seorang guru memberikan pengalaman nyata kepada setiap siswa untuk mencoba, (3) namai, pada tahap ini guru menyediakan kata kunci, konsep, model, rumus, strategi dan metode lainnya yang kemudian menjadi masukan bagi siswa, (4) demonstrasikan, pada tahap ini guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menunjukkan kemampuannya (5) ulangi, pada tahap ini guru memberikan kesempatan untuk mengulangi dan menegaskan bahwa mereka benar-benar tahu akan apa yang dipelajari. (6) rayakan, seorang guru dalam mengajar dapat memberi pengakuan atas usaha siswa salah satunya dengan mengajak bernyanyi.

Pada tahap observasi/evaluasi dilaksanakan observasi terhadap pembelajaran serta evaluasi terhadap hasil belajar siswa pada setiap pertemuan dan akhir pembelajaran dengan memberikan tes berupa lembar evaluasi hasil belajar kepada siswa untuk mengetahui keberhasilan siswa dalam memahami materi pembelajaran.

Sedangkan pada tahap refleksi dilakukan refleksi terhadap proses pembelajaran untuk melihat, mengkaji dan mempertimbangkan dampak tindakan yang diberikan. Berdasarkan hasil refleksi ini, peneliti bersama guru mitra dapat melakukan perbaikan kekurangan-kekurangan dalam proses pembelajaran. Kegiatan yang dilakukan pada rancangan refleksi ini adalah peneliti mengkaji dan merenungkan hasil penilaian terhadap pelaksanaan tindakan tersebut dengan maksud jika terjadi hambatan, akan dicari

(5)

direncanakan tindakan pada siklus selanjutnya.

Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode observasi dan metode tes. Observasi dapat mengukur atau menilai hasil dan proses belajar, misalnya keterampilan membaca permulaan siswa saat proses belajar mengajar berlangsung.

Menurut Arikunto (2006: 223) tes adalah serentetan pertanyaan atau alat lain yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan, intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki individu atau kelompok. Metode tes pada hakikatnya merupakan cara pengumpulan data dengan memberikan beberapa pertanyaan atau tugas yang semuanya harus dikerjakan atau dijawab oleh peserta tes, dan hasil dari tes berupa skor.

Untuk mengumpulkan data tentang motivasi belajar IPS digunakan kuesioner motivasi belajar kepada setiap siswa yang diberikan pada setiap akhir siklus. Pada dasarnya “kuesioner merupakan daftar pertanyaan yang akan digunakan oleh periset untuk memperoleh data dari sumbernya secara langsung melalui proses komunikasi atau dengan mengajukan pertanyaan” (Fajar.2010). Alat ukur motivasi belajar ini menggunakan skala tipe Likert dengan 5 range jawaban dimulai (1) dari selalu , (2) sering, (3) kadang-kadang, (4) jarang, (5) tidak pernah.

Sedangkan untuk mengumpulkan data tentang hasil belajar IPS siswa digunakan tes. Agar butir tes dapat mengukur tujuan pembelajaran yang diharapkan, maka perlu dibuatkan kisi-kisi tes. Tes yang digunakan berupa tes objektif berupa pilihan ganda biasa (PGB) dengan empat option. Tes objektif adalah tes yang terdiri dari butir-butir soal yang dapat dijawab dengan memilih salah satu alternatif yang benar dari sejumlah alternatif yang tersedia/dengan mengisi jawaban yang benar dengan beberapa perkataan/ simbol. Dalam pemeriksaannya dapat dilakukan secara objektif.

Data yang diperoleh dalam penelitian ini dianalisis dengan metode analisis deskriptif kuantitatif. Menurut Agung (2010:67) metode analisis deskriftif

kuantitatif adalah suatu cara pengolahan data yang dilakukan dengan jalan menyusun secara sistematis dalam bentuk angka – angka atau persentase mengenai keadaan suatu objek yang diteliti sehingga diperoleh kesimpulan umum. Untuk mengetahui rata-rata motivasi dan hasil belajar siswa digunakan rumus mean (M) yaitu dengan membandingkan jumlah nilai keseluruhan siswa (

X

) dibagi dengan jumlah siswa (N). Untuk mengetahui daya serap siswa dihitung dengan membagi nilai rata-rata seluruh siswa (X ) dengan nilai standar minimal ideal (SMI) dikalikan 100%. Untuk melihat peningkatan hasil belajar persiklusnya digunakan ketuntasan belajar (KB) setiap akhir siklus dengan membandingkan jumlah siswa tuntas (n) dengan jumlah siswa (N) kemudian dikalikan 100%. Tingkatan motivasi dan hasil belajar siswa dapat ditentukan dengan membandingkan DS (Daya Serap) ke dalam PAP skala lima dengan kriteria sebagai berikut: 1) Tingkat penguasaan 0% - 54% berada pada kriteria sangat rendah. 2) Tingkat penguasaan 55% - 64% berada pada kriteria rendah. 3) Tingkat penguasaan 65% - 79 berada pada kriteria cukup. 4) Tingkat penguasaan 80% - 89% berada pada kriteria tinggi. 5) Tingkat penguasaan 90% - 100% berada pada kriteria sangat tinggi.

Tolak ukur keberhasilan pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini ditentukan dari kriteria keberhasilan. Adapun indikator kinerja dalam penelitian ini adalah : (1) Persentase motivasi belajar IPS siswa kelas III minimal 80 % atau minimal berada pada kriteria tinggi, (2)Persentase hasil belajar IPS siswa kelas III minimal 80 % atau minimal berada pada kriteria tinggi, (3) Ketuntasan klasikal yang diharapkan pada pembelajaran ini yaitu minimal 80 % siswa mencapai KKM yang ditentukan oleh sekolah ( ≥ 70,00 )

HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil

Sesuai dengan permasalahan yang diungkapkan pada bagian pendahuluan, dilaksanakanlah tindakan kelas dengan menerapkan model Quantum Teaching berbantuan media pembelajaran berbasis

(6)

powerpoint pada siswa kelas III SDN. 26 Dangin Puri Denpasar tahun ajaran 2013/2014. Subjek dari penelitian ini sebanyak 30 orang siswa. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data mengenai motivasi dan hasil belajar IPS.

Sebelum dilaksanakan penelitian, terlebih dahulu dicatat keadaan kelas untuk dapat dilihat motivasi dan hasil belajar siswa kelas III. Hasil pencatatan menunjukkan bahwa terdapat masalah mengenai motivasi dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS masih rendah. Hasil belajar IPS siswa yang tercatat tersebut diperoleh dari dokumen nilai ulangan harian IPS yang didapatkan hasil sebagai berikut.

Pencapaian nilai rata-rata hasil belajar siswa pra siklus adalah sebesar 66,37. Sedangkan presentasi nilai rata-rata yang dicapai siswa adalah 66,37%. Pencapaian ini berada pada criteria cukup. Sedangkan ketuntasan klasikal yang dicapai siswa sebelum penelitian adalah sebesar 57%, karena dari 30 siswa hanya 17 siswa yang tuntas dan mencapai nilai ≥ KKM yaitu 70, sedangkan 13 siswa lainnya hanya mencapai nilai dibawah KKM.

Dengan demikian pengulangan materi remedial dilakukan secara klasikal, agar tercapai ketuntasan maksimal. Data ini selanjutnya menjadi refleksi awal untuk memperbaiki proses pembelajaran melalui PTK secara bersiklus yang terdiri dari perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi

Perencanaan pada siklus pertama dirancang dengan tiga kali pertemuan. dengan Standar Kompetensi (SK) yang ingin dicapai tentang memahami jenis pekerjaan dan uang. Sedangkan Kompetensi Dasar (KD) pada siklus pertama yang ingin dicapai adalah mengenal sejarah uang. Pada tindakan siklus I akan dilaksanakan penerapan model Quantum Teaching berbantuan media pembelajaran berbasis powerpoint pada mata pelajaran IPS. Rancangan yang direncanakan pada siklus I yaitu: 1) menyiapkan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) sesuai dengan sintaks model Quantum Teaching, 2) menyiapkan

media yang akan digunakan, 3) menyiapkan instrument penilaian.

Pada tahap pelaksanaan dilakukan kegiatan pembelajaran yang disesuaikan

dengan rencana pelaksanaan

pembelajaran dengan model Quantum

Teaching. Secara singkat urutan proses

pembelajaran yang dilakukan pada pertemuan pertama sebagai berikut.

(a)Menyampaikan tujuan pembelajaran dan menumbuhkan minat belajar siswa dengan menyampaikan manfaat setelah mereka mempelajari materi tersebut sehingga siswa akan termotivasi untuk mengikuti pembelajaran. (b) Mengadakan apersepsi dengan mengajukan beberapa pertanyaan dan memperlihatkan beberapa gambar atau video yang ditayangkan melalui LCD dan dirancang dalam media powerpoint. (c) Mengelompokkan siswa ke dalam beberapa kelompok, dimana setiap kelompoknya terdiri dari 5-6 siswa yang

memperioritaskan heterogenitas

(keragaman) kelas. (d.) Mengajukan tanya jawab terkait gambar yang ditayangkan pada media powerpoint. (e) Memberikan permasalahan dan menugaskan siswa untuk membahasnya bersama dengan kelompok yang telah dibentuk melalui LKS yang telah dibagikan sebagai pedoman bagi kerja kelompok, sehingga semua anggota menguasai dan masing-masing memberikan kontribusi. (f) Selama bekerja dalam kelompok, guru membimbing diskusi pada masing-masing kelompok dan menanyakan permasalahan-permasalahan yang ditemui serta menyediakan kata kunci untuk menyelesaikan pemasalahan tersebut (g) Salah satu perwakilan dari masing-masing kelompok yang telah dipilih secara acak menyampaikan hasil diskusi kelompoknya di depan kelas dan kelompok lain memberikan tanggapan atas presentasi temannya. (h) Guru membimbing diskusi kelompok dengan mengarahkan siswa untuk menemukan konsep yang benar. (i) Siswa diberikan pertanyaan sehingga dapat mengulang materi yang telah dipelajari dan mengetahui sejauh mana pemahaman mereka mengenai materi yang telah diperoleh, (j) Guru menuntun siswa untuk membuat kesimpulan mengenai materi yang telah dipelajari. (k) Guru memberikan

(7)

penghargaan pada masing-masing kelompok dan Melalui media presentasi powerpoint yang ditayangkan,, siswa diajak membaca poster untuk merayakan pembelajaran yang telah mereka ikuti. (l) Siswa mengerjakan soal yang diberikan guru sesuai dengan materi yang dipelajari. (m) Menentukan skor kemajuan masing-masing siswa berdasarkan skor evaluasi yang diperoleh siswa. Langkah-langkah pembelajaran ini dilakukan dalam setiap pertemuan, pada pertemuan ke tiga dilakukan tes untuk mengetahui motivasi dan hasil belajar IPS siswa setelah dilakukan tindakan pada siklus I.

Berdasarkan observasi pada siklus I yang dilakukan diperoleh presentasi nilai rata-rata motivasi belajar siswa mencapai 70,6%. Secara umum motivasi belajar siswa berada pada kriteria cukup. Sedangkan persentasi nilai rata-rata hasil belajar siswa mencapai 73,67%. Persentase ketuntasan klasikal siswa mencapai 73,33%, dan belum mencapai ketuntasan klasikal yang diharapkan yaitu 80%.

Berdasarkan data di atas, motivasi dan hasil belajar yang diperoleh siswa sudah ada peningkatan dari pra siklus ke siklus I namun rata-rata kelas dan ketuntasan belajar secara klasikal belum memenuhi kriteria yang ditargetkan karena masih berada pada criteria cukup, maka dapat dikatakan bahwa pembelajaran IPS di kelas III pada siklus I belum tuntas sehingga dilanjutkan ke siklus II.

Pelaksanaan tindakan pada siklus II didasarkan atas hasil refleksi pada siklus I. Untuk mengatasi kekurangan-kekurangan yang ditemukan pada siklus I, peneliti

bersama teman sejawat guru

mendiskusikan perbaikan tindakan untuk selanjutnya diterapkan pada siklus II. Untuk siklus II tetap melalui tahap perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi.

Berdasarkan hasil refleksi siklus I, maka dalam perencanaan siklus II ini dilakukan beberapa persiapan sebagai berikut. Perencanaan pada siklus kedua dirancang dengan tiga kali pertemuan. dengan Standar Kompetensi (SK) yang

ingin dicapai tentang memahami jenis pekerjaan dan uang. Sedangkan Kompetensi Dasar (KD) pada siklus kedua yang ingin dicapai adalah mengenal sejarah uang. Pada tindakan siklus II akan dilaksanakan penerapan model Quantum

Teaching berbantuan media pembelajaran

berbasis powerpoint pada mata pelajaran IPS. Rancangan yang direncanakan pada siklus I yaitu: 1) menyiapkan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) sesuai dengan sintaks model Quantum Teaching dengan membandingkan RPP pada siklus I untuk memperbaiki kelemahan yang muncul pada siklus I, 2) menyiapkan media berbasis powerpoint yang akan digunakan, 3) menyiapkan instrument penilaian (berupa kuisioner untuk motivasi belajar dan tes untuk mengukur hasil belajar IPS).

Secara singkat urutan proses pembelajaran yang dilakukan pada pertemuan pertama pada siklus II sebagai berikut: (a) Mengadakan apersepsi dengan mengajukan beberapa pertanyaan terkait beberapa gambar yang ditayangkan melalui LCD dan dirancang dalam media powerpoint. (b) Menyampaikan tujuan pembelajaran dan menumbuhkan minat belajar siswa dengan menyampaikan manfaat setelah mereka mempelajari materi tersebut sehingga siswa akan termotivasi untuk mengikuti pembelajaran

serta mensosialisasikan model

pembelajaran yang digunakan yaitu model pembelajaran Quantum Teaching dan langkah-langkah pembelajarannya. (c) Guru membimbing siswa membentuk kelompok belajar menjadi beberapa kelompok, tiap kelompok beranggotakan 5-6 orang siswa berdasarkan pertimbangan menurut tingkat prestasi dan jenis kelamin. (d.) Mengajukan tanya jawab terkait media berupa uang yang diperlihatkan guru. (e)

Memberikan permasalahan untuk

menjelaskan cirri-ciri dari uang kertas yang terterapada LKS dan menugaskan siswa untuk membahasnya bersama dengan kelompok yang telah dibentuk. (f) Dalam diskusi kelompok ditunjuk ketua kelompok yang memiliki prestasi lebih dari temannya sebagai tutor sebaya agar nantinya dapat membantu teman yang belum paham. (g) Siswa dalam kelompok diarahkan untuk

(8)

melakukan interaksi antar anggota kelompok dengan memanfaatkan sumber belajar untuk menemukan konsep pembelajaran sesuai dengan tujuan dan menyelesaikan tugas pada LKS yang dibagikan. (h) Selama bekerja dalam kelompok, guru membimbing diskusi pada masing - masing kelompok dan menanyakan permasalahan -permasalahan yang ditemui serta menyediakan kata kunci untuk menyelesaikan pemasalahan tersebut (i) Salah satu perwakilan dari masing-masing kelompok yang telah dipilih secara acak menyampaikan hasil diskusi kelompoknya di depan kelas dan kelompok lain memberikan tanggapan atas presentasi temannya. (j) Guru membimbing diskusi kelompok dengan mengarahkan siswa untuk menemukan konsep yang benar. (k) Siswa diberikan pertanyaan sehingga dapat mengulang materi yang telah dipelajari dan mengetahui sejauh mana pemahaman mereka mengenai materi yang telah diperoleh, Siswa yang kurang diberi motivasi sedangkan yang dapat melakukan dengan baik diberi penguatan. (l) Guru

menuntun siswa untuk membuat

kesimpulan mengenai materi yang telah dipelajari. (m) Melalui media presentasi powerpoint yang ditayangkan, siswa diajak membaca yel yel untuk merayakan pembelajaran yang telah mereka ikuti. (n) Siswa mengerjakan soal yang diberikan guru sesuai dengan materi yang dipelajari. (o) Menentukan skor kemajuan masing-masing siswa berdasarkan skor evaluasi yang diperoleh siswa. (p) sebagai tindak lanjut menugaskan siswa mengerjakan latihan soal untuk pertemuan selanjutnya. Langkah-langkah pembelajaran ini dilakukan dalam setiap pertemuan, pada pertemuan ke tiga dilakukan tes untuk

mengetahui motivasi dan hasil belajar IPS siswa setelah dilakukan tindakan pada siklus II.

Dari pelaksanaan perbaikan pembelajaran pada siklus II diperoleh presentasi nilai rata-rata motivasi belajar siswa mencapai 80,17% dan ketuntasan klasikal motivasi siswa mencapai 90%. Secara umum motivasi belajar siswa berada pada kriteria tinggi. Sedangkan hasil belajar IPS diperoleh dengan nilai rata-rata kelas (X ) yaitu 82,16 sudah memenuhi kriteria yang ditetapkan yaitu (X ) ≥ 80, daya serap (DS) yaitu 82,16% sudah memenuhi kriteria yang ditetapkan yaitu DS ≥ 80%, ketuntasan belajar (KB) secara klasikal yaitu 86,67% sudah memenuhi kriteria yang ditetapkan yaitu KB ≥ 80%. Penelitian ini tidak dilanjutkan karena rata rata kelas sudah mencapai 82,16 dan ketuntasan belajar secara klasikal sudah mencapai 86,67%. Karena hasil analisis data dari siklus II sudah mencapai indikator keberhasilan yang ditetapkan, maka penelitian ini sudah dapat dihentikan.

Berdasarkan hasil observasi dalam pelaksanaan tindakan pada siklus II upaya guru dalam mengkondisikan kesiapan belajar siswa untuk mengerjakan tugas dalam kelompoknya sudah dilakukan dengan baik. Hal ini tentunya berdampak pada meningkatnya motivasi dan hasil belajar siswa.

Peningkatan motivasi dan hasil belajar siswa pada siklus I dan siklus II dapat dilihat dari persentase rata-rata dan ketuntasan belajar yang diperoleh yang disajikan dalam tabel berikut ini.

Tabel 1. Data Motivasi dan Hasil Belajar IPS Siswa Kelas III SDN. 26 Dangin Puri Denpasar pada Siklus I dan Siklus II

Variabel Siklus I Siklus II Peningkatan

Motivasi Belajar Siswa 70,6% 80,17% 9,57%

Hasil Belajar Siswa 73,67% 82,17% 8,50%

(9)

Dari tabel diatas dapat dilihat telah terjadi peningkatan pada pemberian tindakan yang telah dilaksanakan baik pada motivasi, hasil belajar dan ketuntasan klasikal. Berdasarkan data yang diperoleh pada siklus II kriteria yang diharapkan dalam penelitian ini sudah tercapai. Hal ini dapat dilihat pada data yang diperoleh, yakni motivasi belajar IPS siswa sudah mencapai persentase nilai rata-rata yang diharapkan yakni 80,17%. Bila dikonversikan ke dalam tabel kriteria persentase berada pada interval 80-89 pada kriteria “tinggi” dan hasil belajar IPS siswa sudah memperoleh persentase nilai rata-rata 82,17% yang berada pada interval 80-89 pada kriteria “tinggi”. Sedangkan ketuntasan klasikal sudah mencapai persentase yang diharapkan yakni ≥80 %, pada siklus kedua mencapai 86,67%.

Dari uraian yang telah dipaparkan di atas adanya peningkatan hasil motivasi dan hasil belajar yang diperoleh pada siklus II sudah mencapai indikator keberhasilan yang ditetapkan. Maka diputuskan tidak melakukan siklus berikutnya. Artinya penelitian yang dilaksanakan ini terdiri dari dua siklus yaitu siklus I dengan tiga kali pertemuan dan siklus II dengan tiga kali pertemuan.

Pembahasan

Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh dengan menerapkan model Quantum Teaching berbantuan media pembelajaran berbasis Powerpoint menunjukkan bahwa terjadi peningkatan pada motivasi dan hasil belajar IPS siswa kelas III SDN. 26 Dangin Puri. Peningkatan tersebut dapat dilihat dari data yang diperoleh berdasarkan hasil evaluasi pada akhir pembelajaran.

Secara umum penelitian yang dilakukan sudah dikatakan berhasil karena sudah memenuhi kriteria yang diharapkan. Berdasarkan hasil analisis data yang diperoleh pada siklus I persentase nilai rata-rata motivasi siswa mencapai 70,6% yang berada pada kriteria “cukup” dan menjadi 80,17% yang tergolong pada kriteria “tinggi” pada siklus II. Penerapan model Quantum Teaching berbantuan media pembelajaran berbasis Powerpoint

mengarahkan siswa untuk termotivasi belajar sehingga membiasakan diri aktif dan berinteraksi bersama kelompoknya.

Begitu juga dengan analisis hasil belajar siswa siklus I mengalami peningkatan dari 73,67% menjadi 82,17% pada siklus II. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi peningkatan hasil belajar siswa dari kriteria “cukup” menjadi kriteria “tinggi”. Ketuntasan klasikal yang diperoleh pada siklus I masih belum memenuhi kriteria yang diharapkan yakni 80% siswa memperoleh nilai sesuai dengan KKM yaitu 70,00. Data ketuntasan klasikal siklus I menunjukkan bahwa dari 30 siswa hanya 22 siswa yang mencapai ketuntasan yaitu baru mencapai 73,33% sedangkan pada siklus II menunjukkan peningkatan menjadi 86,67%, dimana 26 siswa sudah mencapai ketuntasan dan memenuhi nilai sesuai KKM.

Dengan peningkatan hasil belajar yang terjadi baik ditinjau dari motivasi maupun hasil belajar dengan penerapan model Quantum Teaching berbantuan media pebelajaran berbasis Powerpoint memberikan kontribusi positif untuk peningkatan kualitas pendidikan. Pada

prinsipnya, seluruh rangkaian proses

penelitian dengan menggunakan model ini dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa karena membantu siswa untuk melihat makna dari suatu teori atau bahan pelajaran dengan cara mengaitkan materi pelajaran yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa, mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki dan menerapkannya dalam

kehidupan mereka sehari-hari,

pembentukan kelompok secara heterogen, adanya tutor sebaya yang memungkinkan siswa saling bertukar pikiran dan ide sehingga siswa yang mampu dapat membantu siswa yang kurang mampu.

Berdasarkan analisis di atas,

dengan penerapan model Quantum

Teaching berbantuan media pebelajaran berbasis Powerpoint dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar IPS siswa kelas III SDN. 26 Dangin Puri. PENUTUP

(10)

Berdasarkan hasil dan pembahasan penelitian di atas, dapat disimpulkan sebagai berikut. (1) Penerapan model

Quantum Teaching berbantuan media

pebelajaran berbasis Powerpoint pada mata pelajaran IPS secara efektif dapat meningkatkan motivasi belajar siswa kelas III SDN. 26 Dangin Puri. Hal ini terlihat dari persentase nilai rata-rata motivasi belajar pada siklus I mencapai 70,6 % yang berada pada kriteria cukup mengalami peningkatan sehingga mencapai persentase nilai rata-rata 80,17 % pada siklus II yang berada pada kriteria tinggi. Hal ini menunjukkan

bahwa model Quantum Teaching

berbantuan media pebelajaran berbasis Powerpoint baik diterapkan untuk meningkatkan motivasi belajar. (2) Penerapan model Quantum Teaching

berbantuan media pebelajaran berbasis Powerpoint pada mata pelajaran IPS secara efektif dapat meningkatkan hasil belajar IPS siswa kelas III SDN. 26 Dangin Puri. Hal ini terlihat dari persentase nilai rata-rata hasil belajar IPS siswa pada siklus I mencapai 73,67 % yang berada pada kriteria cukup mengalami peningkatan sehingga mencapai persentase nilai rata-rata 86,67% pada siklus II yang berada pada kriteria tinggi. Hal ini menunjukkan

bahwa model Quantum Teaching

berbantuan media pebelajaran berbasis Powerpoint baik diterapkan untuk meningkatkan hasil belajar.

Saran yang dapat disampaikan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut. (1) Disarankan kepada guru agar model Quantum Teaching berbantuan media pembelajaran berbasis Powerpoint dapat diterapkan dalam mata pelajaran lainnya yang telah disesuaikan dengan materi dan pokok bahasan tertentu yang akan

diajarkan dikarenakan mampu

meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa (2) Diharapkan kepada sekolah untuk selanjutnya lebih menambah variasi media dalam proses pembelajaran agar lebih menarik perhatian siswa sehingga

dapat menambah wawasan pengetahuan siswa.

Daftar Rujukan

Agung, A.A. Gede. 2010. Metodelogi

Penelitian Pendidikan. Singaraja: Undiksha Singaraja

Arikunto,Suharsini, dkk. 2006. Dasar-dasar

Evaluasi Pendidikan. Jakarta:Bumi Aksara

De Porter, B., Reardon, M., dan Nourie, S.

S. 2003. Quantum

Teaching:Mempraktekan quantum learning di ruang-ruang kelas.

Bandung: Kaifa

Djamarah,Syaiful Bahri dan Aswan Zain. 2010. Strategi Belajar Mengajar.

Cetakan Keempat. Jakarta : Rineka Cipta

Fajar. 2010. Pengertian Kuesioner dan

Jenis – jenis Kuesioner. Tersedia pada

http: //bloggerfajar.

Blogspot.com/2010/06/pengertian-dan-jenis-jenis-kuesioner.html( diakses tanggal 26 mei 2012 ).

Oemar Hamalik. 2006. Kurikulum dan

Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara

Saifudin Sau’d, Udin. 2008. Inovasi

Pendidikan. Bandung: Alfabeta

Sardiman. 2011. Interaksi dan Motivasi

Belajar Mengajar. Jakarta : Pt Raja

Grafindo Persada.

Solihatin, EtindanRaharjo. 2009. Cooperative

Learning Analisis Model Pembelajaran IPS.

Jakarta: PT BumiAksara

Sudjana, Nana. 2006. Penilaian Proses

Belajar Mengajar. Bandung:Remaja

Rosdakarya

Sudjana, Nana. 2011. Penilaian Hasil

Proses Belajar Mengajar. Bandung:

(11)

Trianto. 2007. Model Pembelajaran Terpadu dalam Teori dan Praktek.

Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher Wena, Made.2011. Strategi Pembelajaran

Inovatif Kontemporer. Jakarta: Bumi

Referensi

Dokumen terkait

Perilaku konsemen adalah sebagai perilaku yang terlibat dalam hal perencanaan, pembelian, dan penentuan produk serta jasa yang konsumen harapkan untuk dapat

Pemilihan tipe seven segment pada perancangan tugas akhir ini disesuaikan dengan IC decoder yang digunakan, tipe MAN5760 dipilih karena menggunakan metode common

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui jumlah spesies/jenis lamun, mengetahui kerapatan dan tutupan lamun, dan mengetahui nilai biomassa dan estimasi simpanan

Untuk mengetahui pemberian Ultra Sound therapy dapat pengurangan nyeri pada kasus sinusitis frontalis bagi awak kabin. Untuk mengetahui pemberian Micro Wave Diathermy

Berdasarkan Hasil Penelitian bahwa Implementasi Sistem Standarisasi Kerja Nasional dalam pelatihan Tenaga Kerja di Balai Latihan Kerja Luar Negeri Semarang berjalan

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa harga minyak dunia memiliki dampak yang signifikan terhadap nilai tukar namun tidak berpengaruh pada IHSG, harga emas dunia tidak berpengar uh

Tulisan ini mengkaji bagaimana respons Ulama Dayah Aceh Tamiang terhadap pemberlakuan Kompilasi Hukum Islam (KHI), khususnya yang terkait dengan hak-hak kaum perempuan yang diatur

Media dakwah merupakan salah satu unsur yang terdapat proses dakwah. Proses dakwah tidak ada bedanya dengan proses komunikasi karena dalam prosesnya dakwah juga