• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB XII PERJANJIAN ROEM-ROYEN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB XII PERJANJIAN ROEM-ROYEN"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

307 | S N I 5 BAB XII

PERJANJIAN ROEM-ROYEN

ada Bab sebelumnya telah dibahas mengenai Serangan Umum 1 Maret yang dilaksanakan oleh TNI sebagai pembuktian masih adanya kekuatan Militer Indonesia kepada pihak Belanda. Selanjuntnya pada bab ini akan dibahas mengenai Perjanjian Roem-Royen sebagai upaya menyelesaikan masalah mengenai Kemerdekaan Indonesia. Berikut merupakan tujuan instruksional khusus pada Bab ini.

TIK

Setelah mempelajari Bab 12 ini, mahasiswa diharapkan dapat:

1. Mendeskripsikan latar belakang dilaksanakannya Perjanjian

Roem-Royen

2. Mendeskripsikan pelaksanaan Perjanjian Roem-Royen

3. Menganalisis dampak positif dan negatif hasil Perjanjian Roem-Royen terhadap upaya mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

1. Latar Belakang Perjanjian Roem-Royen

Perjanjian Roem-Roijen (juga disebut Perjanjian Roem-Van Roijen) adalah sebuah perjanjian antara Indonesia dengan Belanda yang dimulai pada tanggal 14 April 1949 dan akhirnya ditandatangani pada tanggal 7 Mei 1949 di Hotel Des Indes, Jakarta. Namanya diambil dari kedua pemimpin delegasi, Mohammad Roem dan Herman van Roijen. Maksud pertemuan ini adalah untuk menyelesaikan beberapa masalah mengenai kemerdekaan Indonesia sebelum Konferensi Meja Bundar di Den Haag pada tahun yang sama. Perjanjian ini sangat alot sehingga memerlukan kehadiran Bung Hatta dari pengasingan di Bangka, juga Sri Sultan Hamengkubuwono IX dari Yogyakarta untuk mempertegas sikap Sri Sultan HB IX terhadap Pemerintahan Republik Indonesia di Yogyakarta, dimana Sultan Hamengku Buwono IX mengatakan “Jogjakarta is de Republiek Indonesie” (Yogyakarta adalah Republik Indonesia).

(2)

308 | S N I 5 Harapan yang diinginkan oleh bangsa Indonesia setelah penandatanganan Perjanjian Renville akan terjadi suasana baru bagi pihak yang bertikai, supaya pembicaraan-pembicaraan atas perbedaan-perbedaan politik antara kedua belah pihak dapat dilanjutkan kembali. Ternyata yang terjadi justru sebaliknya, karena Belanda segera melanggar perjanjian yang telah ditandatanganinya, yaitu dengan mendirikan negara-negara bagian didalam wilayah kekuasaan Republik Indonesia. Seperti dikatakan oleh Ide Anak Agung Gede Agung bahwa:

“Konferensi Jawa Barat yang menghasilkan keputusan bagi pembentukan Negara Pasundan pada tanggal 27 Februari 1948 dan pemilihan R.A.A.Wiranatakusuma sebagai wali negara (kepala negara bagian) pada tanggal 6 Maret 1948 serta pembentukan Negara Madura tanggal 15 Maret 1948”(1983:81)

Tindakan Belanda tersebut merupakan suatu pelanggaran terhadap Perjanjian Renville, sehingga RI mengajukan protes kepada Dewan Keamanan PBB, sehingga pada tanggal 28 Februari 1948 DK PBB memohon kepada Komisi Jasa-Jasa Baik untuk memperhatikan perkembangan-perkembangan politik di Jawa Barat dan Madura dan secara teratur memberikan laporan kepada Dewan Keamanan mengenai hal tersesbut.

Sementara itu Belanda menuduh Republik Indonesia melanggar asas-asas Renville, karena menurut Belanda RI terus memperluas hubungannya dengan luar negeri. Kedua belah pihak saling melempar tanggung jawab atas sering terjadinya pertempuran-pertempuran di sepanjang garis demarkasi Van Mook.

Untuk mengatasi jalan buntu tersebut, maka wakil-wakil Amerika Serikat dan Australia berusaha mencarikan kompromi yang realistis, yang kemudian disebut “Du Bois Critchy Plan” yang kemudian menyerahkan kepada pihak RI dan Belanda secara rahasia pada tanggal 10 Januari 1948, yang isi pokoknya sebagai berikut:

“Rakyat Indonesia dan segala administrasi pemerintahan akan memilih satu atau lebih pemilih sesuai dengan pebandingan jumlah penduduk. Pemilih yang terpilih akan memilih utusan ke Majelis pembentukan UUD yang sekaligus akan menjadi DPR Sementara juga”.

1. Atas dasar geografi, ethnologi, sejarah, tradisi dan perasaan

(3)

309 | S N I 5 2. Akan memilih presiden yang akan mengangkat perdana menteri yang

selanjutnya akan membentuk Kabinet yang bertanggung jawab kepada DPR Sementara.

3. Mempunyai kekuasaan penuh atas pemerintahan sendiri termasuk

pengawasan akan militer.

Komisaris Tinggi Belanda akan memiliki hak veto yang mempunyai wewenang untuk menyatakan keadaan bahaya (perang) melampaui kekuasaan pemerintah sementara, dan dalam keadaan demikian ia mempunyai kekuatan atas militer.

Dewan pembentuk UUD sebagai DPR Sementara bersama wakil kerajaan Belanda akan menyusun kerangka dasar pembentukan (status) UNI Indonesia-Belanda yang akan menyelenggarakan bersama urusan ekonomi, kebudayaan dan kepentingan militer masing-masing dan segala kerjasama untuk menyelenggarakan kepentingan bersama. Dewan pembentuk UUD buat NIS. Bila rencana UUD dan statut UNI telah

disahkan, Belanda akan menyerahkan kedaulatan pada NIS

(Moedjanto,1988:26)

Pada prinsipnya RI menerima rencana Du Bois Critchly Plan, tetapi Belanda menolaknya serta menuduh pihak Australia dan Amerika Serikat bertindak melampaui wewenangnya. Penolakan Belanda atas rencana Du Bois Critchly Plan membawanya keposisi yang menyulitkannya sendiri.

Dengan penolakan Belanda tersebut, maka perundingan mengalami kemacetan lagi. Selanjutnya KTN dalam bulan September mengusahakan agar perundingan antara RI dengan Belanda dapat dilanjutkan kembali. Selanjutnya wakil Amerika Serikat yang baru dalam KTN Marle Cochran mengajukan rencana Cochran yang didasarkan atas rencana Du Bois yang diubah dengan memberikan sejumlah konsesi kepada Belanda. Akan tetapi kedua belah pihak tidak setuju dengan rencana Cochran, dengan demikian rencana Cochran mengalami kegagalan.

Berhubungan dengan adanya jalan buntu dihadapi oleh kedua belah pihak dalam perundingan-perundingan untuk mencari penyelesaian sengketa, maka Belanda memutuskan untuk melancarkan Agresi Militer yang kedua pada tanggal 19 Desember 1948, sebagaimana telah disinggung pada pembahasan sebelumnya.

Agresi militer Belanda kedua berhasil menduduki Ibu kota RI Yogyakarta dan menangkap Presiden Soekarno, wakil Presiden Moh.Hatta dan sejumlah pejabat tinggi negara. Namun demikian sebelumnya kabinet sempat mengadakan

(4)

310 | S N I 5 sidang, dalam sidang kabinet tersebut berhasil diputuskan untuk memberikan mandat ke pada Mr. Syafruddin Prawiranegara yang berada di Sumatra agar berusaha membentuk pemerintahan darurat di Sumatra.

Reaksi dunia atas agresi Belanda tersebut luar biasa, dunia umumnya mengutuk serangan Belanda karena Belanda berani melanggar suatu persetujuan gencatan senjata yang disponsori oleh PBB melalui KTN. Kemudian pada tanggal 28 Januari 1949, Dewan Keamanan PBB mengeluarkan resolusi yang antara lain berisi:

1. Mendesak Belanda untuk segera dan sunguh-sungguh menghentikan seluruh operasi militernya dan mendesak pemerintah RI untuk memerintahkan kesatuan-kesatuan gerilya supaya menghentikan aksi gerilya mereka.

2. Mendesak Belanda untuk membebaskan tanpa syarat presiden dan wakil

presiden serta tawanan politik lainnya yang ditahan sejak tanggal 17 Desember 1948 di wilayah RI dan mengembalikan pemerintahan RI ke Yogyakarta.

3. Menganjurkan agar RI dengan Belanda membuka kembali perundingan atas

dasar Perjanjian Linggarjati, Perjanjian Renville dan usul-usul Cochran, dalam perundingan tersebut supaya disusun rencana pembentukan pemerintahan Federal Sementara pada tanggal 15 Maret 1949, yang diberi hak menyelenggarakan urusan intern, pemilihan Majelis Konsituante paling lambat 1 Oktober 1949, dan penyerahan kedaulatan atas Indonesia kepada NIS paling lambat 1 Juni 1949.

4. KTN diubah menjadi UNCI (United Nation Commission for Indonesia)

dengan kekuasaan yang lebih besar dan dengan hak mengambil keputusan yang mengikat atas dasar suara mayoritas. UNCI diberi kuasa untuk memberi rekomendasi kepada Dewan Keamanan dan pihak-pihak yang bersengketa, membantu mereka mengambil keputusan dan melaksanakan resolusi Dewan Keamanan.

Belanda tidak mau menerima resolusi DK tersebut karena Belanda masih tetap yakin bahwa RI hanya tinggal namanya saja. Sementara itu Sri Sultan Hamengkubuwono IX lewat radio dapat menangkap berita, bahwa DK PBB akan

(5)

mengadakan sidang lagi dalam bulan Maret

Oleh karena itu Sri Sultan Hamengkubuwono bersama pimpinan militer RI berusaha berbuat sesuatu untuk mempengaruhi jalannya sidang DK PBB dan meyakinkan dunia Internasional bahwa RI pada tanggal 1 Maret 1949. TNI melancarkan serangan umum dan berhasil menduduki Ibu kota Yogyakarta selama 6 jam.

Berita serangan umum itu kemudian disiarkan oleh RRI ke Rangon dan India, dengan demikian propoganda Belanda yang mengatakan bahwa RI tinggal nama tidak dapat dipercaya lagi. Dan ser

mempengaruhi pandangan dunia umumnya dan sidang DK pada khususnya. 2. Proses Pelaksanaan Perjanjian Roem

Atas desakan Amerika Serikat, akhirnya pada tanggal 14 April 1949 perundingan dapat dibuka kembali, delegasi Indonesia dip

Roem, sedangkan delegasi Belanda dipimpin oleh Van Roijen, yang merupakan perundingan pendahuluan sebelum diadakan perundingan puncak, perundingan tersebut diketuai oleh Cochran. Yang kemudian menyampaikan pidato tentang tujuan perundingan dan tugas

ini.

Mohammad Roem (Delegasi Indonesia)

Sumber :(https://www.google.com/search?q=perjanjian+roem Selanjutnya ketua delegasi Bela

dalam pidatonya antara lain dikatakan bahwa:

311

mengadakan sidang lagi dalam bulan Maret untuk membahas masalah Indonesia. Oleh karena itu Sri Sultan Hamengkubuwono bersama pimpinan militer RI berusaha berbuat sesuatu untuk mempengaruhi jalannya sidang DK PBB dan meyakinkan dunia Internasional bahwa RI pada tanggal 1 Maret 1949. TNI n serangan umum dan berhasil menduduki Ibu kota Yogyakarta

Berita serangan umum itu kemudian disiarkan oleh RRI ke Rangon dan India, dengan demikian propoganda Belanda yang mengatakan bahwa RI tinggal nama tidak dapat dipercaya lagi. Dan serangan umum tersebut dapat mempengaruhi pandangan dunia umumnya dan sidang DK pada khususnya.

Proses Pelaksanaan Perjanjian Roem-Royen

Atas desakan Amerika Serikat, akhirnya pada tanggal 14 April 1949 perundingan dapat dibuka kembali, delegasi Indonesia dipimpin oleh Muhammad Roem, sedangkan delegasi Belanda dipimpin oleh Van Roijen, yang merupakan perundingan pendahuluan sebelum diadakan perundingan puncak, perundingan tersebut diketuai oleh Cochran. Yang kemudian menyampaikan pidato tentang gan dan tugas-tugas yang harus dilaksanakan dalam perundingan

Mohammad Roem Van Roijen

(Delegasi Indonesia) (delegasi Belanda) https://www.google.com/search?q=perjanjian+roem-royen)

Selanjutnya ketua delegasi Belanda Van Roijen menyampaikan pidato, dalam pidatonya antara lain dikatakan bahwa:

311 | S N I 5 untuk membahas masalah Indonesia. Oleh karena itu Sri Sultan Hamengkubuwono bersama pimpinan militer RI berusaha berbuat sesuatu untuk mempengaruhi jalannya sidang DK PBB dan meyakinkan dunia Internasional bahwa RI pada tanggal 1 Maret 1949. TNI n serangan umum dan berhasil menduduki Ibu kota Yogyakarta

Berita serangan umum itu kemudian disiarkan oleh RRI ke Rangon dan India, dengan demikian propoganda Belanda yang mengatakan bahwa RI tinggal angan umum tersebut dapat mempengaruhi pandangan dunia umumnya dan sidang DK pada khususnya.

Atas desakan Amerika Serikat, akhirnya pada tanggal 14 April 1949 impin oleh Muhammad Roem, sedangkan delegasi Belanda dipimpin oleh Van Roijen, yang merupakan perundingan pendahuluan sebelum diadakan perundingan puncak, perundingan tersebut diketuai oleh Cochran. Yang kemudian menyampaikan pidato tentang tugas yang harus dilaksanakan dalam perundingan

(delegasi Belanda)

(6)

312 | S N I 5

1. Pemerintah Belanda telah menerima undangan untuk konferensi persiapan ini

tanpa syarat.

2. Pemerintah Belanda bersedia menempatkan soal kembalinya pemerintah RI ke Yogyakarta sebagai pasal yang akan dibicarakan dengan syarat bahwa hasil-hasil perundingan ini hanya akan mengikat seandainya tercapai kata sepakat mengenai kedua pokok acara, yakni soal penghentian permusuhan dan pemulihan ketertiban dan ketentraman, serta syarat-syarat dan tanggal untuk mengadakan Konferensi Meja Bundar di Den Haag.

3. Usul Belanda mengenai penyerahan kedaulatan yang dipercepat, Van Roijen

mengatakan bahwa ini akan bersifat tanpa syarat, nyata dan lengkap, sedang Uni Indonesia-Belanda tak akan menjadi super state melainkan hanya merupakan suatu bentuk kerjasama antara negara-negara yang berdaulat, Indonesia dan Belanda atas dasar persamaan dan kesukarelaan sepenuhnya (Agung, 1983).

Selanjutnya ketua delegasi Indonesia Mohammad Roem menyampaikan pidato tentang pandangannya sebagai berikut:

1. Pemerintah RI dengan menyesal harus menyatakan bahwa aksi militer

Belanda yang kedua telah menggoyahkan kepercayaan pada itikad baik pemerintah Belanda, reaksi negatif ini tidak saja terlihat di dalam RI seperti ternyata telah diletakkan jabatan oleh pemerintah Indonesia Timur dan pemerintah Pasundan serta dari resolusi badan-badan yang menyalahkan tindak tanduk militer itu, dan resolusi dari luar negeri, yakni konferensi New Delhi yang dihadiri oleh negara-negara Asia Selatan dan Tenggara

2. Pemerintah Republik tidak berpendapat bahwa pokok-pokok yang disebut

instruksi Dewan Keamanan tanggal 23 Maret sebagai pokok-pokok untuk dibicarakan konferensi ini, merupakan satu kesatuan utuh. Harus dibicarakan terlebih dahulu tentang kembalinya pemerintahan Republik ke Yogyakarta setelah tercapai kata sepakat tentang hal ini, maka mudahlah untuk membicarakan pokok-pokok hal yang lain unruk suatu pemecahan menyeluruh. Keputusan-keputusan hakiki kemudian akan diambil oleh pemerintah Republik di Yogya. sepakat tentang persoalan kembalinya

(7)

313 | S N I 5 pemerintah Republik. Jalan akan terbuka untuk mengadakan perundingan-perundingan mendasar dan kepercayaan yang tergoyah akan dipulihkan (Ide Anak Gede Agung, 1983:270)

Pada tanggal 16 April, dimulailah pembicaraan antara kedua delegasi yang berlangsung hingga 7 Mei 1949. Perundingan tersebut berhasil mencapai persetujuan yang kemudian dikenal dengan perjanjian Roem-Roijen.

Perjanjian Roem-Roijen bukan merupakan suatu perjanjian yang sifatnya satu, akan tetapi merupakan suatu perjanjian yang terdiri dari dua keterangan yang berbeda. Pernyataan ini masing-masing disampaikan oleh kedua delegasi Indonesia dan Belanda.

Mohammad Roem, sebagai ketua delegasi Indonesia kemudian mengemukakan peryataan yang berbunyi sebagai berikut: Sebagai ketua delegasi RI saya diberi kuasa oleh Presiden Soekarno dan wakil Presiden Moh.Hatta untuk menyatakan kesanggupan mereka pribadi sesuai dengan resolusi Dewan Keamanan tanggal 28 Januari 1949 dan petunjuk-petunjuknya tanggal 23 Maret 1949 untuk memudahkan tercapainya:

1. Pengeluaran perintah kepada pengikut Republik yang bersenjata untuk

menghentikan perang gerilya.

2. Bekerjasama dalam hal pengembalian perdamaian dan menjaga ketertiban

dan keamanan.

3. Turut serta pada Konferensi Meja Bundar di Den Haag dengan maksud untuk

mempercepat penyerahan kedaulatan yang sungguh dan lengkap kepada negara Indonesia Serikat dengan tiada bersyarat (Roem, 1989)

Sementara itu, ketua delegasi Belanda, Van Roijen menyampaikan pendapat sebagai berikut:

1. Pemerintah Belanda menyetujui kembalinya pemerintah RI ke Yogyakarta, dan dibawah pengawasan UNCI akan menghentikan perang gerilya disamping bersedia menjaga perdamaian dan ketertiban serta keamanan.

2. Pemerintah RI bebas menjalankan tugasnya dalam residensi Yogyakarta.

3. Pihak Belanda akan menghentikan segala operasi militer dan akan

(8)

4. Belanda tidak akan mendirikan daerah dan negara baru di daerah RI sebelum 19 Desember 1948.

5. Belanda akan menyokong RI

sepertiga anggota dari segenap anggota Dewan Perwakilan Federal.

6. Belanda menyetujui, bahwa semua areal diluar residensi Yogya, dimana pegawai-pegawai Republik masih bertugas tetapi menjalankan tugasnya (Marwati Djonaedi, 1984:170)

Kedua pernyataan tersebut diatas merupakan pokok

Roem-Roijen, yang sekaligus merupakan dasar menuju KMB, dan peristiwa yang sangat menentukan bagi RI. Karena dengan dicapainya persetujuan tersebut maka pemerintah RI akan dikembalikan dan dipulihkan ke Yogyakarta. Pernyataan Roem-Roijen juga merupakan suatu kemajuan yang akan membawa kedalam perundingan-perundingan selanjutnya.

Berikut adalah ga berlangsung:

314

Belanda tidak akan mendirikan daerah dan negara baru di daerah RI sebelum

Belanda akan menyokong RI masuk Indonesia Serikat dan mempunyai sepertiga anggota dari segenap anggota Dewan Perwakilan Federal.

Belanda menyetujui, bahwa semua areal diluar residensi Yogya, dimana pegawai Republik masih bertugas tetapi menjalankan tugasnya

i, 1984:170)

Kedua pernyataan tersebut diatas merupakan pokok-pokok perjanjian Roijen, yang sekaligus merupakan dasar menuju KMB, dan peristiwa yang sangat menentukan bagi RI. Karena dengan dicapainya persetujuan tersebut maka dikembalikan dan dipulihkan ke Yogyakarta. Pernyataan Roijen juga merupakan suatu kemajuan yang akan membawa kedalam

perundingan selanjutnya.

Berikut adalah gambar, suasana ketika perjanjian Roem

314 | S N I 5 Belanda tidak akan mendirikan daerah dan negara baru di daerah RI sebelum

masuk Indonesia Serikat dan mempunyai sepertiga anggota dari segenap anggota Dewan Perwakilan Federal.

Belanda menyetujui, bahwa semua areal diluar residensi Yogya, dimana pegawai Republik masih bertugas tetapi menjalankan tugasnya

pokok perjanjian Roijen, yang sekaligus merupakan dasar menuju KMB, dan peristiwa yang sangat menentukan bagi RI. Karena dengan dicapainya persetujuan tersebut maka dikembalikan dan dipulihkan ke Yogyakarta. Pernyataan Roijen juga merupakan suatu kemajuan yang akan membawa kedalam

(9)

Suasana Perunding

Sumber: (https://www.google.com/search?q=perjanjian+roem+royen Dengan tercapainya kesepakatan dalam Perjanjian Roem Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI)

Sultan Hamengku Buwono IX untuk mengambil alih pemerintahan di Yogyakarta dari tangan Belanda. Sementara itu, pihak TNI dengan penuh kecurigaan menyambut hasil persetujuan itu. Namun, Panglima Besar Jenderal Sudirman memperingatkan seluruh komando di bawahnya agar tidak memikirkan masalah masalah perundingan.

Untuk mempertegas amanat Jenderal Sudirman itu, Panglima Tentara dan Teritorium Jawa Kolonel A.H. Nasution memerintahkan agar para komandan lapangan dapat membedakan genca

kepentingan militer. Pada umumnya kalangan TNI tidak mempercayai sepenuhnya hasil-hasil perundingan, karena selalu merugikan perjuangan bangsa Indonesia. Pada tanggal 22 Juni 1949 diadakan perundingan segitiga ant Republik Indonesia, Bijeenkomst voor Federaal Overleg

bawah pengawasan Komisi PBB yang dipimpin oleh Christchley. Perundingan itu menghasilkan tiga keputusan, yaitu sebagai berikut:

1. Pengembalian pemerintahan Republik Indonesia ke

dilaksanakan pada tanggal 4 Juni 1949.

315 Suasana Perundingan Roem-Royen

https://www.google.com/search?q=perjanjian+roem+royen)

Dengan tercapainya kesepakatan dalam Perjanjian Roem-Royen maka Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) di Sumatra memerintahkan Sri Sultan Hamengku Buwono IX untuk mengambil alih pemerintahan di Yogyakarta dari tangan Belanda. Sementara itu, pihak TNI dengan penuh kecurigaan menyambut hasil persetujuan itu. Namun, Panglima Besar Jenderal Sudirman tkan seluruh komando di bawahnya agar tidak memikirkan masalah

Untuk mempertegas amanat Jenderal Sudirman itu, Panglima Tentara dan Teritorium Jawa Kolonel A.H. Nasution memerintahkan agar para komandan lapangan dapat membedakan gencatan senjata untuk kepentingan politik atau kepentingan militer. Pada umumnya kalangan TNI tidak mempercayai hasil perundingan, karena selalu merugikan perjuangan bangsa Indonesia. Pada tanggal 22 Juni 1949 diadakan perundingan segitiga ant

Bijeenkomst voor Federaal Overleg (BFO), dan Belanda di bawah pengawasan Komisi PBB yang dipimpin oleh Christchley. Perundingan itu menghasilkan tiga keputusan, yaitu sebagai berikut:

Pengembalian pemerintahan Republik Indonesia ke Yogyakarta akan dilaksanakan pada tanggal 4 Juni 1949.

315 | S N I 5 Royen maka di Sumatra memerintahkan Sri Sultan Hamengku Buwono IX untuk mengambil alih pemerintahan di Yogyakarta dari tangan Belanda. Sementara itu, pihak TNI dengan penuh kecurigaan menyambut hasil persetujuan itu. Namun, Panglima Besar Jenderal Sudirman tkan seluruh komando di bawahnya agar tidak memikirkan

masalah-Untuk mempertegas amanat Jenderal Sudirman itu, Panglima Tentara dan Teritorium Jawa Kolonel A.H. Nasution memerintahkan agar para komandan tan senjata untuk kepentingan politik atau kepentingan militer. Pada umumnya kalangan TNI tidak mempercayai hasil perundingan, karena selalu merugikan perjuangan bangsa Indonesia. Pada tanggal 22 Juni 1949 diadakan perundingan segitiga antara (BFO), dan Belanda di bawah pengawasan Komisi PBB yang dipimpin oleh Christchley. Perundingan itu

(10)

316 | S N I 5 2. Perintah penghentian perang gerilya akan diberikan setelah pemerintahan

Republik Indonesia berada di Yogyakarta pada tanggal 1 Juli 1949.

3. Konferensi Meja Bundar (KMB) akan dilaksanakan di Den Haag.

Perjanjian Roem-Roijen yang ditandatangani tanggal 7 Mei 1949, mulai dilaksanakan pada tanggal 6 Juli 1949, yang ditandai dengan kembalinya pemerintah RI ke Yogyakarta. Yaitu bersamaan dengan kembalinya Presiden Soekarno dan Moh. Hatta pada hari tersebut. Yang kemudian disusul dengan pengembalian mandat dari Mr. Syafruddin Prawiranegara kepada Presiden Soekarno pada tanggal 13 Juli 1949, maka dengan demikian akan semakin dekat menuju pengakuan kedaulatan.

(11)

317 | S N I 5 Kesimpulan

Perjanjian Roem-Royen diadakan tanggal 14 April 1949 di Hotel Des Indes, Jakarta. Sebagai wakil dari PBB adalah Merle Cochran (Amerika Serikat), delegasi Republik Indonesia dipimpin oleh Mr. Moh. Roem, sedangkan delegasi Belanda dipimpin oleh van Royen. Dalam perundingan Roem-Royen, masing-masing pihak mengajukan pernyataan dimana masing-masing-masing-masing pernyataan ini merupakan isi dari Perundingan Roem-Royen.

Dengan adanya perundingan Roem-Royen ini, Belanda harus

meninggalkan Yogyakarta, TNI memasuki Yogyakarta. Sementara itu Presiden dan Wakil Presiden kembali ke ibukota Yogyakarta yang mana pada saat terjadinya Agresi Militer Belanda II kedua pemimpin tersebut ditangkap dan diasingkan.

(12)

318 | S N I 5 Glosarium

BFO : Bijeenkomst voor Federaal Overleg, adalah forum

kerja sama federal antara negara-negara bagian dan

daerah keculai Indonesai yang disponsori oleh

Negara Indonesia Timur dan konferensi pada bulan

Juni 1948 di Bandung untuk mengusulkan

penyelesaian masalah politik antara Belanda dan

Republik Indonesia.

Du Bois Critchy Plan : Rencana Du Bois Critchy, rencana usul kompromi

untuk mengatasi kebuntuan dalam perundingan

(13)

319 | S N I 5 Latihan 1

1. Berikanlah pendapat kalian tentang perundingan Roem-Roiyen

2. Buatlah analisis dari hasil perundingan tersebut.

3. Bagaimanakah dampak yang diperoleh dari pihak Indonesia dari perundingan

tersebut.

4. Buatlah kelompok 5 sampai 6 orang, kemudian diskusikan materi tersebut.

5. Buatlah laporan mengenai diskusi kalian. Latihan 2

1. Perjanjian Roem-Roijen dimulai pada tanggal....

a. 14 April 1949 d. 17 April 1949

b. 15 April 1949 e. 18 April 1949

c. 16 April 1949

2. Tempat Pelaksanaan Perjanjian Roem-Roijen adalah....

a. Kapal Renville Amerika Serikat

b. Hotel Des Indes Jakarta c. Linggarjati, Jawa Barat

d. Den Haag, Belanda

e. Inggris.

3. Dalam perundingan Roem-Royen delegasi Indonesia diwakili oleh....

a. Mohammad Roem

b. Mohammad Hatta

c. Sutan Syahrir

d. Amir Syarifuddin

e. Abdulkadir Wijoyoatmojo

4. Delegasi Belanda dalam Perjanjian Roem-Roijen adalah....

a. Mohammad Roem

b. Mohammad Hatta

c. Sutan Syahrir

d. Amir Syarifuddin

(14)

320 | S N I 5 5. Perjanjian Roem-Roijen dapat terlaksana karena adanya pendekatan antara

pihak....

a. RI, Belanda dan BFO

b. RI, Belanda dan Amerika Serikat

c. BFO, Amerika Serikat dan RI

d. BFO, Belgia dan RI

e. RI, BFO, dan Australia.

6. Salah satu isi pernyataan pihak RI dalam Perjanjian Roem-Roijen adalah...

a. Pengeluaran perintah kepada “pengikut RI yang bersenjata”untuk

menghentikan perang gerilya.

b. Mengembalikan Ibukota negara di Yogyakarta

c. Pembebasan para pemimpin Indonesia dari tahanan

d. Pengembalian Irian Barat

e. Wilayah Indonesia terdiri dari Jawa, Sumatra, dan Madura.

7. Salah satu isi pernyataan pihak Belanda dalam Perjanjian Roem-Roijen adalah...

a. Mengakui kedaulatan Indonesia

b. Pemerintah Belanda menyetujui RI sebagai bagian dari Negara Indonesia

Serikat

c. Penghentian perang gerilya

d. Belanda menarik pasukannya dari Indonesia.

e. Mengadakan perundingan selanjutnya.

8. Sebagai tindak lanjut dari Perjanjian Roem-Roijen, maka pada tanggal 22 Juni 1949 diadakan perundingan antara RI, BFO, dan Belanda. Salah satu isi perundingan tersebut adalah....

a. Konferensi Meja Bundar diusulkan akan diadakan di Den Haag.

b. Belanda harus menarik pasukannya dari Indonesia

c. Penghentian perang gerilya

d. Pengembalian Irian Barat

e. Pembebasan para pemimpin Indonesia.

(15)

321 | S N I 5 a. Konfrensi Asia d. Sekutu

b. BFO e. Belanda c. UNCI

10. Perhatikan pernyataan di bawah ini.

1. Tokoh politik di kembalikan ke Jogjakarta 2. Wilayah Indonesia semakin luas

3. Pengembalian kekuasaan PDRI ke RI 4. Membentuk Republik Indonesia Serikat 5. Penghentian perang griliya

Hasil perundingan Roem-Royen ditunjukkan oleh nomor .... a. 1, 3, dan 6 c. 1, 3, dan 5

b. 2, 3, dan 6 d. 2, 3, dan 5

TAMBAHAN SOAL

1. Apakah yang akan terjadi apabila perjanjian Roem-royen tidak diadakan untuk pihak Indonesia ?

a. Pemerintahan Darurat Republik Indonesia tidak akan dikembalikan ke Yogyakarta.

b. Indonesia dan Belanda akan melakukan perjanjian-perjanjian berikutnya

c. Indonesia akan kehilangan sebagian wilayah yang dimiliki

d. Pemerintahan Darurat Republik Indonesia akan tetap di Bukit Tinggi

2. Apakah yang akan terjadi apabila perjanjian Roem-royen tidak diadakan untuk pihak Belanda

a. Belanda akan terus berkuasa di Indonesia

b. tidak akan ada pengakuan kedaulatan bagi pihak Indonesia

c. Belanda akan mendapatkan sanksi dari UNCI

d. Perang gerilya antara Indonesia dengan Belanda tidak akan dihentikan

3. Bagaimanakah peranan BFO dalam Perjanjian Roem-Royen.

a. Sebagai penyelenggara dilaksanakannya Konferensi-Inter Indonesia

sebelum diadakannya KMB.

(16)

322 | S N I 5

c. BFO adalah negara-negara pendukung Belanda

d. Sebagai penghubung antara Belanda dengan Indonesia

4. “Du Bois Critchy Plan” dalam perjanjian Roem-Royen adalah....

a. Organisasi yang menagani Perjanjian Roem-Royen

b. Pihak yang mempertemukan Indonesia-Belanda dalam perundingan

Roem-Royen

c. Sebagai penentu didalam perjanjian Roem-Royen

d. Usul kompromi yang dikeluarkan oleh Amerika Serikat dan Australia

5. Berikut adalah tujuan dari UNCI kecuali...

a. Membantu melancarkan perundingan untuk mengurus pengembalian

kekuasaan pemerintah RI.

b. Mengamati pemulihan keadaan.

c. Memiliki hak mengajukan usul untuk tercapainya penyelesaian konflik.

d. Sebagai penghubung antara Indonesia dengan Belanda

6. Negara-negara yang menjadi anggota UNCI adalah....

a. Indonesia

b. Belgia

c. Australia

d. Amerika Serikat

(17)

323 | S N I 5 Daftar Pustaka

Agung, Ide Anak Agung Gede. 1983. Renville. Jakarta: Sinar Harapan

Marwati Djonaedi dkk. 1984. Sejarah Nasional Indonesia Jilid VI: Zaman Jepang dan Zaman Republik (1943-1998). Jakarta: Balai Pustaka

Moedjianto, G. 1988. Indonesia Abad ke-20 (1). Yogyakarta: Konisius. Roem, Mohammad. 1989. Diplomasi Ujung Tombak Perjuangan RI. Jakarta:

Gramedia

Sekretaris Negara Republik Indonesia. 1985. 30 Tahun Indonesia Merdeka. Jakarta: PT. Citra Lemtoro Gung Persada

https://id.wikipedia.org/wiki/Perjanjian_Roem-Roijen https://www.google.com/search?q=perjanjian+roem-royen

(18)

Pengembalian

Pemerintahan

Republik Indonesia

Perjanjian Roem

324 BAGAN MATERI

Usaha Indonesia

dalam Jalur

Diplomasi

Republik Indonesia

Penghentian Perang

Indonesia - Belanda

Menujun

Konferensi Meja

Bundar

Perjanjian

Roem-Royen

324 | S N I 5

Menujun

Konferensi Meja

Bundar

Referensi

Dokumen terkait

Mengusung konsep design nuansa perpaduan Majapahit, Cina dan Bali, kondotel Meritus Seminyak dijual sebanyak 100 unit kamar hotel untuk publik, dengan sisa 80 unit akan tetap

Rasuk berkeratan rentas segi empat tepat seperti yang ditunjukkan dalam Rajah 2.15 di bawah akan dibebankan dengan beban titik pada kedudukan C.. Rasuk disokong mudah dan

Penelitian ini juga diharapkan dapat dijadikan sebagai ilmu pengetahuan bagi siswa agar berkompetisi secara sehat dalam belajar tanpa harus bermusuhan sehingga dapat

Salah satu hipotesis yang paling menarik dalam teori atribusi adalah bahwa orang sampai kepada perrsepsi keadaan intern mereka sen- diri dengan cara yang sama jika mereka sam-

Sistem informasi telah menjadi bagian yang berhubungan dengan kegiatan bisnis suatu perusahaan ataupun organisasi tertentu, oleh karena itu dengan adanya sebuah

Studi Potensi dan Persepsi Fungsi Hutan Kota pada Ruang Terbuka Hijau di KamPus Universitas Mataram..

Aktivitas fisik tidak ada hubungan dengan kejadian osteoarthritis genu di Rumah Sakit Islam Surabaya dengan nilai odds ratio untuk aktivitas fisik adalah 0,71 yang berarti bahwa

[r]