FAKTOR RISIKO DEHIDRASI PADA REMAJA DAN DEWASA
GUSTAM
DEPARTEMEN GIZI MASYARAKAT FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2012
ABSTRACT
GUSTAM. Risk Factors of Dehydration in Adolescents and Adults. Supervised by HARDINSYAH and DODIK BRIAWAN
The objective of this research was to analyzed risk factors of dehydration among adolescents and adults. The research was carried out throught analyzing a data set of THIRST (The Indonesian Regional Hydration Study) collected in 2008 and 2009 by applying a crossectional study design among 604 adolescents (male and female aged 15-18 yrs) and 582 adults (male and female aged 25-55 yrs) in North Jakarta, Lembang, Surabaya, Malang, Makasar and Malino. Data processing and analysis were conducted in Bogor in April-June 2011. The results shows that the mean fluid intake among all subjects is 2750±753 mL/d, and among adolescents and adults is 2773±439 mL/d and 2730±456 mL/d respectively. Based on the urine specific gravity, 46,3% of the subject categorized as dehydration, and among adolescents and adults is 44,5% and 48,1% respectively. The results of logistic regression analysis showed that the dehydration risk factors in adolescents are ecological areas, gender, body temperature, hydration knowledge, and fluid intake. Dehydration risk factors in adults are ecological areas and body temperature. Dehydration risk factors in all subjects are ecological areas, body temperature, hydration knowledge, and fluid intake.
RINGKASAN
GUSTAM. Faktor Risiko Dehidrasi pada Remaja dan Dewasa. Dibimbing oleh HARDINSYAH dan DODIK BRIAWAN
Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk menganalisis faktor risiko dehidrasi pada remaja dan dewasa. Adapun tujuan khusus penelitian ini yaitu: (1) Mengetahui asupan air remaja dan dewasa, (2) Mengetahui status dehidrasi remaja dan dewasa dewasa (3) Menganalisis faktor risiko dehidrasi meliputi jenis kelamin, aktivitas fisik, suhu tubuh, status gizi, tingkat asupan air, pengetahuan tentang air minum dan hidrasi, dan letak geografis pada remaja dan dewasa.
Penelitian ini dilaksanakan menggunakan desain cross sectional study. Penelitian dilakukan dengan mengolah data sekunder yang diperoleh dari hasil penelitian mengenai Kebiasaan Minum dan Status Hidrasi pada Remaja dan Dewasa di Dua Wilayah Ekologi Berbeda yang dilaksanakan oleh THIRST (The
Indonesian Regional Hydration Study). Wilayah penelitian ini terdiri atas enam
lokasi yaitu Lembang (Jawa Barat), Jakarta Utara (DKI Jakarta), Malang dan Surabaya (Jawa Timur), serta Malino dan Makasar (Sulawesi Selatan). Pengumpulan data penelitian Kebiasaan Minum dan Status Hidrasi pada Remaja dan Dewasa di Dua Wilayah Ekologi Berbeda dilakukan dari akhir tahun 2008 sampai awal tahun 2009 (Hardinsyah et al. 2010). Pengolahan, analisis, dan interpretasi data dilakukan pada bulan April-Juni 2011 di Kampus IPB Darmaga Bogor, Jawa Barat.
Jumlah subyek dihitung berdasarkan perhitungan rumus jumlah minimum subyek studi cross-sectional penelitian memperhitungkan proporsi diasumsikan dehidrasi 30% (Manz & Wentz 2005). Setelah mempertimbangkan dua kelompok jenis kelamin, dua kelompok umur dan dua lokasi penelitian, maka jumlah total subyek yang menjadi subyek penelitian yaitu 1186 subyek. Kelompok usia remaja (15-18 tahun) merupakan pelajar SMU. Penelitian ini juga mencakup subyek dari golongan usia dewasa. Pemilihan subyek dewasa dilakukan dengan cara memilih guru dan karyawan sekolah yang berusia 25-55 tahun yang berada di semua lokasi penelitian.
Data terdiri atas karakteristik subyek yang terdiri dari wilayah ekologi, umur, jenis kelamin, status gizi (berat badan dan tinggi badan) aktivitas fisik (jenis dan durasi dari berbagai aktivitas selama 6 hari), konsumsi makanan dan minuman (jenis, jumlah dan sumber air minum dan minuman). Pengetahuan tentang air minum (kuisioner berisi pertanyaan kebutuhan air minum dan hidrasi, jenis minuman yang aman diminum, jenis minuman dan hubungannya dengan dehidrasi) pemeriksaan fisik (suhu tubuh) status dehidrasi (berat jenis urin). Data yang diperoleh diolah dan dianalisis dengan menggunakan program komputer
Microsoft Office Excell 2007 for Windows dan SPSS 16 for Windows. Proses
pengolahan meliputi coding, entry dan analisis.
Hasil pengolahan data selanjutnya dianalisis secara univariat, bivariat, dan multivariat. Analisis univariat dilakukan untuk mendeskripsikan data karakteristik subyek dan asupan air serta status dehidrasi. Analisis bivariat menggunakan uji beda-t (Independent Sample t-Test), analisis Chi square dan korelasi Spearman. Analisis multivariat digunakan untuk melihat faktor risiko dehidrasi dengan menggunakan analisis regresi logistik.
Total asupan air rata-rata pada remaja adalah 2770±439 mL/hari yang terbagi kedalam 1623±574 mL minuman air putih, 474±465 mL minuman lainnya, 513±211 mL air dari makanan, serta 196±86 mL air metabolik. Total asupan air pada dewasa tidak jauh berbeda dengan total asupan air pada remaja dengan
nilai yang lebih kecil yaitu rata-rata 2730±456 mL/hari. Pada dewasa total asupan air berasal dari asupan minuman air putih rata-rata sebesar 1584±590 mL/hari, minuman lainnya 474±465 mL/hari, air dari makanan 535±198 mL/hari serta air metabolik 186±64 mL/hari. Total asupan air rata-rata pada total subyek adalah 2750±753 mL/hari yang terbagi ke dalam 1611±580 mL minuman air putih, 456±449 mL minuman lainnya, 524±205 mL air dari makanan, serta 191±76 mL air metabolik
Status dehidrasi berdasarkan berat jenis urin pada remaja dan dewasa yaitu masing masing yaitu 48,1% dan 44,5% dan total dehidrasi pada semua subyek yaitu 46,3%. Faktor risiko dehidrasi pada remaja adalah willayah ekologi, suhu tubuh, jenis kelamin, tingkat pengetahuan, tingkat asupan air. Faktor risiko dehidrasi pada dewasa adalah wilayah ekologi dan suhu tubuh. Faktor risiko dehidrasi pada total subyek adalah willayah ekologi, suhu tubuh, tingkat pengetahuan serta tingkat asupan air.
Pada remaja, subyek yang tinggal di dataran rendah berisiko 2,74 kali mengalami dehidrasi dibandingkan subyek yang berada di dataran tinggi. Subyek yang memiliki suhu tubuh di luar batas normal berisiko 1,50 kali mengalami dehidrasi dibandingkan subyek yang memiliki suhu tubuh normal. Subyek wanita berisiko 1,60 kali mengalami dehidrasi dibandingkan pada subyek laki-laki. Subyek dengan tingkat pengetahuan kurang berisiko 1,42 kali mengalami dehidrasi dibandingkan dengan subyek dengan tingkat pengetahuan baik. Tingkat asupan air subyek yang kurang dari 90% berisiko mengalami dehidrasi 1,67 kali jika dibandingkan dengan subyek yang asupan airnya lebih dari 90%.
Pada dewasa, subyek yang tinggal di dataran rendah berisiko 2,88 kali mengalami dehidrasi dibandingkan subyek yang berada di dataran tinggi. Subyek yang memiliki suhu tubuh di luar batas normal berisiko 1,54 kali mengalami dehidrasi dibandingkan subyek yang memiliki suhu tubuh normal. Pada total subyek, yang tinggal di dataran rendah berisiko 2,75 kali mengalami dehidrasi dibandingkan subyek yang berada di dataran tinggi. Subyek yang memiliki suhu tubuh di luar batas normal berisiko 1,54 kali mengalami dehidrasi dibandingkan subyek yang memiliki suhu tubuh normal. Subyek dengan tingkat pengetahuan kurang berisiko 1,33 kali mengalami dehidrasi dibandingkan dengan subyek dengan tingkat pengetahuan baik. Tingkat asupan air subyek yang kurang dari 90% berisiko mengalami dehidrasi 1,31 kali jika dibandingkan dengan subyek yang asupan airnya lebih dari 90%.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa wilayah ekologi di dataran rendah dimana suhu lingkungan yang panas berisiko besar menyebabkan dehidrasi. Kondisi ini perlu disadari dengan menggantikan air yang hilang melalui penguapan dan keringat dengan asupan air yang cukup. Kondisi lain seperti suhu tubuh, jenis kelamin, status gizi, pengetahuan dan sikap serta khususnya tingkat asupan air juga perlu diperhatikan dalam rangka untuk menjaga keseimbangan air tubuh. Tanda-tanda dehidrasi berupa haus serta mukosa mulut kering merupakan pertanda akurat seseorang sedang mengalami dehidrasi ringan, sehingga regulasi minum perlu untuk dijaga.
FAKTOR RISIKO DEHIDRASI PADA REMAJA DAN DEWASA
GUSTAM
Skripsi
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Gizi pada
Departemen Gizi Masyarakat
DEPARTEMEN GIZI MASYARAKAT FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2012
Judul Skripsi : Faktor Risiko Dehidrasi pada Remaja dan Dewasa Nama : Gustam
NIM : I14070109
Menyetujui :
Dosen Pembimbing I Dosen Pembimbing II,
Prof. Dr. Ir. Hardinsyah, MS Dr. Ir. Dodik Briawan, MCN NIP. 19590807 198303 1 001 NIP. 19660701 199002 1 001
Mengetahui : Ketua
Departemen Gizi Masyarakat
Dr. Ir. Budi Setiawan, MS NIP: 19621218 198703 1 001
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan sebagai anak bungsu dari empat bersaudara oleh pasangan Bapak H. Sereng Andokke dan Ibu Hj. Binsing Panji. Penulis dilahirkan di Jambi pada tanggal 2 Maret 1989. Penulis menempuh Pendidikan Sekolah Dasar pada tahun 1995 dan lulus pada tahun 2001 di Sekolah Dasar Negeri 102 Kota Jambi. Penulis melanjutkan pendidikan sekolah menengah pertama pada tahun 2001 sampai 2004 di MTS N Model Jambi. Pada tahun 2004 sampai 2007 penulis melanjutkan pendidikan di SMA Negeri I Geragai Tanjung Jabung Timur Jambi.
Pada tahun 2007, melalui jalur Beasiswa Utusan Daerah (BUD) Provinsi Jambi penulis diterima sebagai mahasiswa Mayor Ilmu Gizi, Departemen Gizi Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia di Institut Pertanian Bogor. Selama menjadi mahasiswa, penulis tercatat sebagai Staf Kementrian Lingkungan Hidup BEM KM IPB periode 2008/2009, Badan Pengawas Himpunan Mahasiswa Ilmu Gizi FEMA IPB (BP HIMAGIZI FEMA IPB) 2008/2009, Ketua Himpunan Mahasiswa Ilmu Gizi FEMA IPB (HIMAGIZI FEMA IPB) periode 2009/2010, Tim formatur dan pengurus Klub Gizi Peduli HIMAGIZI FEMA IPB, Dewan Pertimbangan Agung Ikatan Lembaga Mahasiswa Gizi Indonesia (DPA ILMAGI) periode 2010/2011. Selain itu penulis juga aktif di Organisasi Daerah Himpunan Mahasiswa Jambi (HIMAJA) serta dalam berbagai kepanitiaan yang diselenggarakan oleh BEM KM IPB, BEM FEMA IPB, DPM FEMA IPB, BP HIMAGIZI, HIMAGIZI FEMA IPB serta DPA ILMAGI.
Penulis melaksanakan Kuliah Kerja Profesi (KKP) di Desa Sukajadi, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor selama 2 bulan terhitung dari Juni-Agustus 2010. Penulis juga telah melaksanakan Internship Dietetik di Rumah Sakit Umum Daerah Cibinong Bogor pada bulan Juni 2011.
PRAKATA
Besar rasa syukur penulis tujukan kepada Allah SWT atas karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Faktor Risiko Dehidrasi pada Remaja dan Dewasa” sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Gizi pada Departemen Gizi Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor.
Penyusunan skripsi ini tidak terlepas dari bantuan dan masukan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada Dinas Pendidikan Provinsi Jambi, kepada Prof. Dr. Ir. Hardinsyah, MS dan Dr. Ir. Dodik Briawan, MCN selaku dosen pembimbing skripsi, dan kepada dr. Yekti Hartanti Effendi selaku dosen penguji skripsi. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada kedua orangtua atas dukungan yang telah diberikan. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada rekan-rekan yang telah terlibat dalam penyusunan skripsi penulis.
Besar harapan penulis semoga penelitian ini dapat memberikan manfaat dan daya guna, khususnya bagi penulis dan semua pihak pada umumnya. Amin.
Bogor, 03 Januari 2012
DAFTAR ISI
Halaman DAFAR TABEL ... ix DAFTAR GAMBAR ... x DAFTAR LAMPIRAN ... xi PENDAHULUAN ... 1 Latar Belakang ... 1 Tujuan ... 3 Hipotesis ... 3 Kegunaan ... 3 TINJAUAN PUSTAKA... 4Remaja dan Dewasa ... 4
Air sebagai Zat Gizi Esensial….. ... 5
Kebutuhan Air ... 6
Keseimbangan Air Tubuh ... 7
Dehidrasi dan Gejala Dehidrasi ... 9
Pengukuran Status Dehidrasi ... 10
Faktor Risiko Dehidrasi ... 12
KERANGKA PEMIKIRAN ... 17
METODE ... 19
Desain, Tempat dan Waktu ... 19
Jumlah dan Cara Penarikan Subyek ... 19
Jenis dan Cara Pengumpulan Data ... 20
Pengolahan dan Analisis Data ... 20
Definisi Operasional ... 25
HASIL DAN PEMBAHASAN ... 27
Karakteristik Subyek ... 27
Asupan Air Remaja dan Dewasa... 28
Status Dehidrasi ... 29
Status dehidrasi dan jenis kelamin ... 30
Status dehidrasi dan wilayah ekologi ... 31
Status dehidrasi dan tingkat asupan air ... 32
Status dehidrasi dan indeks massa tubuh ... 35
Status dehidrasi dan tingkat aktivitas fisik ... 36
Status dehidrasi dan tingkat pengetahuan air minum dan hidrasi .... 38
Status dehidrasi dan suhu tubuh ... 39
Faktor Risiko Dehidrasi ... 40
KESIMPULAN DAN SARAN ... … 45
Kesimpulan ... … 45
Saran ... … 46
DAFTAR PUSTAKA ... 47
DAFTAR TABEL
Halaman
1 Volume air menurut sumber dan pengeluaran tubuh ... 7
2 Kekuatan dan kelemahan metode penilaian kecukupan air ... 12
3 Kategori tingkat aktivitas fisik berdasarkan nilai PAL ... 14
4 Aspek, cakupan, data, dan metode yang digunakan dalam penelitian . 20 5 Kategori status gizi berdasarkan nilai IMT/U ... 22
6 Kategori tingkat aktivitas fisik berdasarkan nilai PAL ... 23
7 Sebaran subyek menurut karakteristik subyek ... 27
8 Asupan air subyek berdasarkan sumbernya ... 29
9 Rata-rata nilai USG, jumlah dan persentase dehidrasi berdasarkan kelompok umur, jenis kelamin dan status dehidrasi ... 30
10 Sebaran subyek menurut kelompok umur, jenis kelamin dan status dehidrasi ... 31
11 Sebaran subyek menurut kelompok umur, wilayah ekologi dan status dehidrasi ... 32
12 Sebaran subyek menurut rata-rata kebutuhan cairan pada remaja dan dewasa ... 33
13 Asupan air pada remaja dan dewasa berdasarkan status dehidrasi ... 33
14 Sebaran subyek menurut kelompok umur, tingkat asupan air dan status dehidrasi ... 34
15 Indeks massa tubuh berdasarkan kelompok umur dan status dehidrasi ... 35
16 Sebaran subyek menurut kelompok umur, status gizi dan status dehidrasi ... 36
17 Rata-rata nilai PAL berdasarkan kelompok umur dan status dehidrasi . 36 18 Sebaran subyek menurut kelompok umur, tingkat aktivitas fisik dan status dehidrasi ... 37
19 Rata-rata skor tingkat pengetahuan berdasarkan kelompok umur dan status dehidrasi ... 38
20 Sebaran subyek menurut kelompok umur, tingkat pengetahuan air minum dan hidrasi dan status dehidrasi ... 38
21 Rata-rata suhu tubuh berdasarkan status dehidrasi ... 39
22 Sebaran subyek menurut kelompok umur, suhu tubuh dan status dehidrasi ... 40
23 Hasil regresi logistik faktor risiko dehidrasi pada remaja, dewasa dan total subyek... 41
DAFTAR GAMBAR
Halaman
1 Kerangka pemikiran faktor risiko dehidrasi pada remaja dan
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
1 Peubah dan data yang digunakan dari kuesioner THIRST ... 52 2 Hasil uji t antara karakteristik subyek remaja dan dewasa ... 53 3 Hasil uji t antara asupan air remaja dan dewasa ... 54 4 Hasil uji t antara nilai berat jenis urin pada remaja dehidrasi dan tidak
dehidrasi ... 54 5 Hasil uji t antara nilai berat jenis urin pada dewasa dehidrasi dan tidak
dehidrasi ... 55 6 Hasil uji t antara nilai berat jenis urin dehidrasi dan tidak dehidrasi ... 55 7 Hasil analisis Chi square status dehidrasi dan kelompok umur ... 55 8 Hasil analisis Chi square status dehidrasi dan jenis kelamin pada
remaja ... 55 9 Hasil analisis Chi square status dehidrasi dan jenis kelamin pada
dewasa ... 56 10 Hasil analisis Chi square status dehidrasi dan jenis kelamin pada total
subyek ... 56 11 Hasil analisis Chi square status dehidrasi dan wilayah ekologi pada
remaja ... 56 12 Hasil analisis Chi square status dehidrasi dan wilayah ekologi pada
dewasa ... 57 13 Hasil analisis Chi square status dehidrasi dan wilayah ekologi total
subyek ... 57 14 Hasil uji t antara status dehidrasi dan kebutuhan air pada remaja ... 57 15 Hasil uji t antara status dehidrasi dan kebutuhan air pada dewasa ... 57 16 Hasil uji t antara status dehidrasi dan kebutuhan air pada total subyek 58 17 Hasil uji t antara status dehidrasi dan asupan air pada remaja ... 58 18 Hasil uji t antara status dehidrasi dan asupan air pada dewasa ... 58 19 Hasil uji t antara status dehidrasi dan asupan air pada total subyek... 68 20 Hasil uji korelasi Spearman status dehidrasi, tingkat asupan air, suhu
tubuh, aktivitas fisik, skor pengetahuan dan indeks massa tubuh pada remaja ... 59 21 Hasil uji korelasi Spearman status dehidrasi, tingkat asupan air, suhu
tubuh, aktivitas fisik, skor pengetahuan dan indeks massa tubuh pada dewasa ... 60 22 Hasil uji korelasi Spearman status dehidrasi, tingkat asupan air, suhu
tubuh, aktivitas fisik, skor pengetahuan dan indeks massa tubuh pada total subyek... 61
23 Hasil uji t antara status dehidrasi dan indeks massa tubuh pada total
subyek ... 62
24 Hasil uji t antara status dehidrasi dan indeks massa tubuh pada dewasa ... 62
25 Hasil uji t antara status dehidrasi dan indeks massa tubuh pada remaja ... 62
26 Hasil uji t antara status dehidrasi dan tingkat aktivitas fisik pada total subyek ... 63
27 Hasil uji t antara status dehidrasi dan tingkat aktivitas fisik pada dewasa ... 63
28 Hasil uji t antara status dehidrasi dan tingkat aktivitas fisik pada remaja ... 63
29 Hasil uji t antara status dehidrasi dan tingkat pengetahuan pada total subyek ... 64
30 Hasil uji t antara status dehidrasi dan tingkat pengetahuan pada dewasa ... 64
31 Hasil uji t antara status dehidrasi dan tingkat pengetahuan pada remaja ... 64
32 Hasil uji t antara status dehidrasi dan suhu tubuh pada total subyek.... 64
33 Hasil uji t antara status dehidrasi dan suhu tubuh pada dewasa ... 65
34 Hasil uji t antara status dehidrasi dan suhu tubuh pada remaja... 65
35 Hasil regresi logistik faktor risiko dehidrasi pada remaja ... 65
36 Hasil regresi logistik faktor risiko dehidrasi pada dewasa ... 66
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Air merupakan bagian terbesar dari komposisi tubuh manusia. Batmanghelidj (2007) menjelaskan bahwa tubuh manusia rata-rata tersusun atas 75% air dan 25% bahan padat. Muchtadi et al. (1993) menjelaskan bahwa tubuh manusia rata-rata tersusun atas 63% air, 17% protein, 13% lemak, 6% mineral, 1% karbohidrat dan vitamin. Seseorang yang kehilangan 40% lemak dan protein sampai terjadi penurunan berat badan masih mampu bertahan hidup, akan tetapi kehilangan 20% air dapat menyebabkan kematian.
Reaksi di dalam tubuh manusia hampir sepenuhnya memerlukan air. Air merupakan komponen utama dari semua struktur sel dan merupakan media kelangsungan proses metabolisme dan reaksi kimia di dalam tubuh. Metabolisme tubuh akan berjalan dengan baik, apabila pemenuhan kebutuhan air untuk menggantikan air tubuh yang hilang dapat terpenuhi setiap harinya (Atam 2005).
Hydration for Health (2010) menyatakan bahwa setiap hari, setidaknya
2,6 L air hilang melalui pernapasan, keringat, feses dan urin. Dalam laporan yang dipublikasikan oleh World Health Organization (WHO) (2005), jumlah asupan air yang diperlukan (termasuk air yang diambil dari makanan) untuk mempertahankan keseimbangan air untuk rata-rata orang dewasa dalam kondisi normal adalah 2,9 L/hari untuk laki-laki dan 2,2 L/hari untuk wanita. The
European Food Safety Authority (EFSA) dan Institute of Medicine (IOM)
menyatakan bahwa pola makan rata-rata menyediakan 20% dari asupan air total yang direkomendasikan. Berdasarkan pendapat ahli EFSA untuk asupan air harian yang direkomendasikan, ini dapat dihitung sebagai 2 L untuk laki-laki dan 1,6 L untuk wanita.
Hartanto (2007) menyatakan bahwa pada keadaan normal, seseorang harus memenuhi asupan air rata-rata sebanyak 2000-2500 mL/hari, dalam bentuk air maupun makanan padat. Jumlah tersebut untuk menggantikan kehilangan 250 mL air dari feses, 800-1500 mL dari urin, dan hampir 600 mL kehilangan air yang tidak disadari (insensible water loss) dari kulit dan paru-paru. Asupan air yang direkomendasikan pada usia dewasa untuk memenuhi kecukupan aktivitas dan metabolisme yaitu antara 1,01 sampai 1,08 mL/kkal untuk Jerman dan 1,21 sampai 1,31 mL/kkal di Amerika (Manz & Wentz 2005).
Penelitian Maulad (2009) menunjukkan bahwa pada remaja laki-laki rata-rata asupan air dari makanan sebesar 777,5 mL atau 26,4% dari total asupan air dan pada wanita rata-rata sebesar 542,5 mL atau 24,1% dari total asupan air. Asupan air pada anak usia sekolah rata-rata asupan air dari makanan yaitu 492 mL perhari dan rata-rata asupan air dari minuman sebesar 1791 mL (Annisa 2009).
Kebutuhan air tubuh yang tidak terpenuhi dikarenakan karena jumlah yang keluar lebih banyak daripada jumlah yang masuk akan menyebabkan dehidrasi. Asian Food Information Centre (AFIC) (2000) menyebutkan bahwa rasa haus merupakan pertanda sedang mengalami dehidrasi. Air tubuh mempunyai fungsi yang sangat vital. Whitmire (2004) menyatakan bahwa kekurangan air tubuh 1% akan mulai menimbulkan rasa haus dan gangguan
mood, kekurangan air tubuh 2-3% meningkatkan suhu tubuh, rasa haus dan
gangguan stamina, kekurangan air tubuh 4% dapat menurunkan kemampuan fisik 25%, dan pingsan bila kadar air tubuh berkurang sampai 7%.
Sebagian besar individu tidak minum dalam jumlah yang cukup, sehingga kebutuhan akan asupan air tidak terpenuhi. Di Perancis, 70% dari populasi minum kurang dari 1,5 L/hari, survei di Inggris menunjukkan bahwa 40% dari anak 11-18 tahun asupan air kurang dari 1,5 L/hari. Data dari Jerman mengungkapkan bahwa asupan air dari 28% orang tua (usia 65-74 tahun) dan 41% usia lanjut (usia > 85 tahun) di bawah target yang direkomendasikan (Manz & Wentz 2005).
Di Indonesia, hasil penelitian The Indonesian Hydration Study (THIRST) (2009) menunjukkan bahwa hampir setengah dari penduduk Indonesia mengalami gejala dehidrasi ringan. Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 46,1% dari 1.200 orang penduduk Indonesia di DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur dan Sulawesi Selatan, mengalami dehidrasi ringan. Penelitian Rachma (2009), pada siswi kelas 4 dan 5 sebesar 62,8% mengalami dehidrasi ringan berdasarkan tanda-tanda dehdrasi. Berdasarkan data mengenai tingginya kecenderungan dehidrasi di Indonesia, maka peneliti ingin mengetahui lebih jauh mengenai faktor yang mempengaruhi risiko dehidrasi pada remaja dan dewasa di Indonesia.
Tujuan
Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk menganalisis faktor risiko dehidrasi pada remaja dan dewasa. Adapun tujuan khusus penelitian ini, yaitu (1) mengetahui asupan air remaja dan dewasa, (2) mengetahui status dehidrasi remaja dan dewasa dewasa, (3) menganalisis faktor risiko dehidrasi meliputi jenis kelamin, aktivitas fisik, suhu tubuh, status gizi, pengetahuan tentang air minum dan hidrasi, tingkat asupan air serta wilayah ekologi pada remaja dan dewasa.
Hipotesis
Terdapat hubungan jenis kelamin, aktivitas fisik, suhu tubuh, status gizi, pengetahuan tentang air minum dan hidrasi, tingkat asupan air serta wilayah ekologi terhadap risiko dehidrasi pada remaja dan dewasa.
Kegunaan
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat dalam mengetahui status dehidrasi di Indonesia khususnya pada remaja dan dewasa serta faktor risiko yang mempengaruhinya.
TINJAUAN PUSTAKA
Remaja dan Dewasa
Yulianasari (2009) yang mengacu pada WHO (1995) mengkategorikan usia remaja berada pada kisaran umur 10-19 tahun dan dewasa berada pada kisaran umur 20-59 tahun. Ciri-ciri yang spesifik pada usia remaja adalah pertumbuhan yang cepat, perubahan emosional, dan perubahan sosial. Wahlquist (1997) menegaskan bahwa pada fase remaja seseorang mengalami perubahan pada karakteristik fisik, psikis, aturan sosial dan tanggung jawab. Satu hal yang penting akibat perubahan tersebut adalah kontrol yang berlebihan terhadap pola asupan makanan dan asupan minuman ke arah yang kurang baik.
Remaja belum sepenuhnya matang, baik secara fisik, kognitif dan psikososial. Dalam masa pencarian identitas ini remaja cepat sekali terpengaruh oleh lingkungan. Lebih jauh, kebiasaan makan dan minum pada remaja dipengaruhi oleh keluarga, teman, dan media, terutama iklan di televisi. Teman sebaya berpengaruh besar pada remaja, dalam hal memilih jenis makanan. Ketidakpatuhan terhadap teman dikhawatirkan dapat menyebabkan dirinya “terkucil” dan akan merusak rasa percaya diri (Mann & Stewart 2007).
Hurlock (2004) menyatakan bahwa istilah dewasa (adult) berasal dari bahasa latin adultus yang berarti telah tumbuh menjadi kekuatan dan ukuran yang sempurna atau telah menjadi dewasa. Secara psikologis orang dewasa adalah individu yang telah menyelesaikan pertumbuhan fisiknya. Selain itu orang dewasa telah siap menerima kedudukan dalam masyarakat bersama dengan orang dewasa lainnya.
Masa dewasa dibagi menjadi tiga fase, yaitu masa dewasa dini, masa dewasa madya, dan masa dewasa lanjut. Masa dewasa dini dimulai pada umur 18 tahun hingga 40 tahun, saat terjadi perubahan-perubahan fisik dan psikologis yang menyertai berkurangnya kemampuan reproduktif. Masa dewasa dini merupakan periode penyesuaian diri terhadap pola-pola kehidupan baru dan harapan-harapan sosial baru. Masa dewasa madya dimulai pada umur 40 hingga 60 tahun, yakni saat menurunnya kemampuan fisik dan psikologis yang jelas nampak pada setiap orang. Masa dewasa madya, dilihat dari sudut posisi usia dan terjadinya perubahan fisik maupun psikologis, memiliki banyak kesamaan dengan masa remaja.
Secara fisik, pada masa remaja terjadi perubahan yang demikian pesat (menuju ke arah kesempurnaan/kemajuan) yang berpengaruh pada kondisi
psikologisnya, sedangkan masa dewasa madya juga mengalami perubahan kondisi fisik, namun dalam pengertian terjadi penurunan/kemunduran, yang juga akan mempengaruhi kondisi psikologisnya. Kemudian masa dewasa lanjut dimulai pada umur 60 tahun keatas hingga kematian, saat kemampuan fisik dan psikologis cepat menurun (Hurlock 2004).
Air sebagai Zat Gizi Esensial
Air merupakan komponen yang yang sangat dibutuhkan oleh tubuh manusia. Asupan air yang kurang ataupun berlebih akan menimbulkan masalah bagi tubuh. Sebagian besar tubuh manusia terdiri dari air. Bayi normal berkisar 70-75% berat badan, pada bayi prematur sebesar 80%, sebelum pubertas sebesar 65-70%, dan orang dewasa 50-60% dari berat badan (Santoso et al. 2011). Almatsier (2003) menyatakan bahwa air mempunyai berbagai fungsi dalam proses vital tubuh, antara lain:
Pelarut dan alat angkut
Air di dalam tubuh berfungsi sebagai pelarut zat-zat gizi berupa monosakarida, asam amino, lemak, vitamin, serta mineral dan bahan-bahan lain yang oleh tubuh seperti oksigen dan hormon-hormon. Zat-zat gizi dan hormon ini dibawa ke sel-sel yang membutuhkan. Disamping itu, air sebagai pelarut mengangkut sisa-sisa metabolisme termasuk karbondioksida dan ureum untuk dikeluarkan dari tubuh melalui paru-paru, kulit dan ginjal.
Pelumas
Air berperan sebagai pelumas dalam sendi-sendi tubuh. Katalisator
Air berperan sebagai katalisator dalam berbagai reaksi biologik dalam sel, termasuk dalam saluran cerna. Air diperlukan pula untuk memecah atau menghidrolisis zat gizi kompleks menjadi bentuk-bentuk yang lebih sederhana.
Fasilitator pertumbuhan
Air sebagai bagian jaringan tubuh diperlukan untuk pertumbuhan, dalam hal ini air berperan sebagai zat pembangun.
Pengatur suhu
Air memegang peranan dalam mendistribusikan panas di dalam tubuh karena kemampuan air untuk menyalurkan panas. Sebagian panas yang dihasilkan dari metabolisme energi diperlukan untuk mempertahankan suhu tubuh pada 37°C. Suhu ini paling cocok untuk bekerjanya enzim-enzim di dalam tubuh.
Kelebihan panas yang diperoleh dari metabolisme energi perlu segera disalurkan ke luar. Sebagian besar pengeluaran kelebihan panas ini dilakukan melalui penguapan air dari permukaan tubuh (keringat). Tubuh setiap waktu mendinginkan diri melalui penguapan air.
Kebutuhan Air
Kebutuhan air sangat bervariasi antar individu. Besarnya kebutuhan air individu dipengaruhi oleh usia, jenis kelamin, jenis pekerjaan, suhu tubuh dan kelembaban lingkungan serta aktivitas fisik. Penentuan kebutuhan air untuk orang sehat dapat didasarkan pada umur, berat badan, asupan energi dan luas permukaan tubuh (Proboprastowo & Dwiriyani 2004). Kebutuhan yang dipengaruhi oleh aktivitas fisik, kelompok umur, berat badan, iklim atau suhu (ekologi) serta diet (asupan air pangan) akan berpengaruh terhadap jenis makanan dan minuman yang diasupan air dan jumlah asupan air yang menjadi salah satu tolak ukur pemenuhan kebutuhan air seseorang (Hardinsyah et al. 2009).
The National Research Council (NRC) (1989) dalam Manz dan Wentz
(2003) merekomendasikan asupan air 1,5 mL/kkal untuk bayi dan 1mL/kkal untuk anak-anak dan dewasa. Selain itu NRC (1989) dalam Sawka et al. (2005) juga merekomendasikan asupan air harian yaitu sekitar 1 mL/kkal energi yang dikeluarkan.
Kebutuhan air akan meningkat seiring bertambahnya umur, mulai 0,6 L pada bayi hingga 1,7 L pada anak-anak. Pada orang dewasa kebutuhan air meningkat menjadi 2,5 L untuk aktivitas sedentary dan 3,2 L untuk aktivitas fisik sedang, untuk orang dewasa yang lebih aktif yang tinggal di lingkungan panas memiliki kebutuhan air sekitar 6 L (Sawka et al. 2005). Secara rata-rata tubuh orang dewasa akan kehilangan 2,5 L air/harinya. Sekitar 1,5 L air tubuh keluar melalui urin, 500 mL melalui keluarnya keringat, 400 mL keluar dalam bentuk uap air melalui proses respirasi (pernapasan) dan 100 mL keluar bersama dengan feses (Irawan 2007).
Batmanghelidj (2007) menyatakan bahwa air harus diminum saat merasa haus. Air harus diminum saat bangun pagi untuk memperbaiki dehidrasi yang dihasilkan selama tidur panjang. Air harus diminum sebelum olahraga untuk menyediakan serta menggantikan air yang akan keluar menjadi keringat. Air juga harus diminum oleh orang yang sembelit dan tidak cukup makan buah dan sayur.
Keseimbangan Air Tubuh
Keseimbangan air ditentukan antara air yang masuk ke dalam tubuh dan air yang dikeluarkan dari tubuh. Air yang masuk ke dalam tubuh diperoleh dari makanan dan minuman serta pertukaran zat bahan yang sudah berada dalam tubuh. Air dikeluarkan dari tubuh melalui air seni, keringat dan dalam penguapan air melalui pernapasan paru-paru (Harper 1986). Pengeluaran air tubuh dapat berupa keluaran air wajib dan keluaran air kehendak sendiri (alektif). Keluaran air wajib yaitu keluaran air berasal dari urin, kulit, saluran nafas, dan feses. Keluaran air alektif yaitu pengeluaran air tubuh yang biasanya dipengaruhi oleh suhu dan aktivitas fisik (Santoso et al. 2011).
Keseimbangan air tercapai apabila volume asupan air sama dengan keluaran air. Asupan dan keluaran air dapat berupa asupan atau keluaran wajib dan asupan atau keluaran alektif. Keseimbangan air tubuh dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1 Volume air menurut sumber dan pengeluaran tubuh No Sumber air tubuh Jumlah
(mL)
No Pengeluaran air tubuh Jumlah (mL)
1. Minuman 550-1500 1. Urin/Ginjal 500-1400
2. Makanan 700-1000 2. Keringat/kulit 450-900 3. Hasil metabolisme 200-300 3. Pernapasan/paru 350
4. Tinja 150
Total 1450-2800 Total 1450-2800
Sumber: Santoso et al. (2011)
Laporan yang dipublikasikan oleh WHO (2007) menunjukkan bahwa jumlah air yang diperlukan (termasuk air yang diambil dari makanan) untuk mempertahankan keseimbangan air untuk rata-rata orang dewasa dalam kondisi normal adalah 2,9 L/hari untuk laki-laki dan 2,2 L/hari untuk wanita. Batmanghelidj (2007) mengemukakan bahwa tubuh manusia terus menerus membutuhkan air. Tubuh kehilangan air melalui paru-paru ketika bernafas. Tubuh juga kehilangan air melalui keringat, produksi urin dan ketika buang air besar. Tolak ukur yang baik bagi kebutuhan tubuh akan air adalah warna dari urin. Seseorang yang terhidrasi dengan baik menghasilkan urin yang tidak berwarna. Seseorang yang relatif terdehidrasi menghasilkan urin yang kuning dan seseorang yang terdehidrasi berat menghasilkan urin berwarna jingga (orange).
Kehilangan air dari tubuh terutama melalui ginjal (urin) dan saluran pencernaan (feses) disebut dengan sensible/measurable water loss. Kehilangan
air melalui paru paru dan kulit disebut dengan invisible water loss. Ginjal merupakan organ utama yang mengatur kehilangan air kentara (Whitmire 2004). Hartanto (2007) menyatakan bahwa pada keadaan normal, seseorang harus memenuhi asupan air rata-rata sebanyak 2000-2500 mL per hari, dalam bentuk air maupun makanan padat. Jumlah tersebut untuk menggantikan kehilangan 250 mL air dari feses, 800-1500 mL dari urin, dan hampir 600 mL kehilangan air yang tidak disadari dari kulit dan paru-paru dari invisible water loss.
Tubuh kehilangan air terutama melalui urin, tinja, pernapasan, dan penguapan yang biasanya tidak disadari oleh tubuh. Orang yang tinggal di iklim panas biasanya kehilangan beberapa liter tambahan keringat sehari. Tubuh mendapatkan asupan air sebagian besar dari air yaitu sekitar 75% sampai 80% dan sisanya 20-25% dari makanan. Pada saat haus, tubuh sudah mengalami dehidrasi. Dibandingkan mengukur dari rasa haus, warna urin dan frekuensi buang air kecil adalah alat ukur yang lebih baik. Urin yang berwarna kuning emas, gelap atau kuning jeruk bisa menjadi tanda dehidrasi (Biali 2007).
Manz dan Wentz et al. (2003) menyatakan bahwa asupan air merupakan total air dari makanan dan minuman serta air metabolik. Briggs dan Calloway (1987) menyatakan bahwa kehilangan air harus diganti dengan air yang diperoleh dari tiga sumber, yaitu dari minuman, air yang terkandung dalam makanan serta air yang diperoleh sebagai hasil metabolisme.
Kandungan air pada makanan padat bervariasi, mulai 5% pada makanan yang sangat kering seperti crackers sampai lebih dari 90% pada buah dan sayuran segar seperti tomat, semangka, strawberry, bunga kol, dan daun selada. Muchtadi et al. (1993) menyatakan bahwa asupan air seseorang dipenuhi dalam beberapa cara. Kebanyakan air diperoleh dari minuman, yaitu sekitar 1650 mL per hari dalam bentuk air, teh, kopi, soft drink, susu dan sebagainya. Air dalam makanan padat menyumbangkan 750 mL.
Total asupan air pada penelitian Hellert et al. (2001) diperoleh dari air yang terkandung dalam makanan, minuman serta air oksidasi. Hasil penelitian Hellert et al. (2001) menunjukkan bahwa secara keseluruhan total asupan air meningkat seiring bertambahnya umur, yaitu dari 1114 g/hari pada anak umur 2-3 tahun air meningkat menjadi 1891 g/hari untuk anak laki-laki umur 9-12-3 tahun serta 1676±386 g/hari untuk anak wanita umur 9-13 tahun. Total asupan air yang berasal dari makanan berkisar antara 33-38%, dari minuman 49-55% dan dari hasil oksidasi sebesar 12-13%.
Third National Health and Nutrition Survey (NHANES III) dalam Manz
dan Wentz (2005) menyatakan bahwa pada anak-anak dan orang dewasa sekitar 80% total asupan air diperoleh dari minuman, sementara 20% sisanya diperoleh dari makanan. Hasil penelitian Bossingham et al. (2005) tentang keseimbangan air dan status hidrasi pada orang muda dan dewasa menyatakan bahwa total asupan air tidak berbeda antara orang muda dan dewasa. Mereka juga melaporkan bahwa umur tidak mempengaruhi total asupan air.
Tubuh dalam jumlah yang terbatas akan memproduksi air melalui proses oksidasi. Studi pada kelompok dewasa laki-laki dengan berat 70 kg, dengan asupan energi 2900 kkal rata-rata membutuhkan air sebesar 2900 mL/hari. Jika produksi air dalam tubuh sebesar 250 mL, maka selebihnya kebutuhan air harus dipenuhi dari minuman dan makanan (Kleiner 1999).
Minum air yang cukup penting untuk menghindari dehidrasi dan dari hasil penelitian menunjukkan jenis minuman yang diminum tidak berpengaruh signifikan. Berdasarkan hasil penelitian antara subyek yang asupan minumannya berupa air putih dengan asupan minuman dari berkafein atau jus tidak memiliki perbedaan yang signifikan terhadap status hidrasi. Air dalam bentuk yang paling murni dapat memberikan manfaat lain seperti suplemen fluorida, tapi bukan satu-satunya cara untuk menghindari dehidrasi (Grandjean 2003).
Dehidrasi dan Gejala Dehidrasi
Greenleaf (1992) dalam Shirreffs (2003) menyebutkan Euhydration adalah keadaan atau situasi keseimbangan air. Hyperhydration adalah keadaan keseimbangan air positif (kelebihan air) dan hypohydration adalah keadaaan dalam keseimbangan air negatif (kekurangan air). Dehydration adalah proses kehilangan air dari tubuh, sedangkan rehydration adalah proses mendapatkan air tubuh.
Dehidrasi didefinisikan sebagai keadaan dimana terjadi kekurangan air dan elektrolit tubuh yang dapat berakibat serius dan berpotensi mematikan (Thompson et al. 2008). Menurut Gavin (2006) dehidrasi dapat terjadi akibat kehilangan air yang terlalu banyak, tidak minum air dalam jumlah cukup, ataupun akibat kedua hal di atas. AFIC (2000) menyebutkan bahwa rasa haus merupakan pertanda seseorang sedang mengalami dehidrasi. Banyak orang mengasumsikan bahwa haus merupakan indikator yang baik dari kebutuhan air. Meskipun demikian, haus sebenarnya merupakan suatu tanda bahwa tubuh baru saja mengalami dehidrasi.
Batmanghelidj (2007) menyatakan bahwa pengaturan air manusia bergantung pada sensasi hausnya. Namun sensasi haus seperti yang dipahami sampai saat ini (yaitu mulut yang kering) bukanlah pertanda yang akurat dari kebutuhan air yang sebenarnya. Jika tidak merasa haus, manusia cenderung tidak minum air. Biasanya, seseorang menunggu sampai haus sebelum mulai berpikir untuk minum air. Primana (2009) menyatakan bahwa minum air jangan menunggu sampai rasa haus timbul karena rasa haus tidak cukup baik sebagai indikator keinginan untuk minum. Keinginan minum air lebih banyak dan lebih sering karena kebiasaan, bukan karena adaptasi fisiologis. Rasa haus baru timbul apabila tubuh telah mengalami kekurangan air (dehidrasi).
Tanda-tanda dehidrasi bervariasi mulai dari haus dan lemas sampai kerusakan fungsi ginjal. Menurut AFIC (2000) tanda-tanda dehidrasi adalah sebagai berikut:
Dehidrasi tingkat ringan: haus, lelah, kulit kering, mulut dan tenggorokan kering.
Dehidrasi tingkat sedang: detak jantung makin cepat, pusing, tekanan darah rendah, lemas, konsentrasi urinnya pekat, tetapi volumenya kurang.
Dehidrasi tingkat berat: muscle spams (kejang), swollen tongue (lidah bengkak), kegagalan fungsi ginjal, poor blood circulation (sirkulasi darah yang tidak lancar) dan sebagainya.
Whitmire (2004) menyatakan bahwa gejala dehidrasi akut bervariasi sesuai dengan pengurangan berat badan. Pada kehilangan berat badan 1-2% akan timbul rasa haus, lemah, lelah, sedikit gelisah serta hilang selera makan. Mulut kering, penurunan jumlah urin dan kulit kering akan terjadi pada pengurangan berat badan sebesar 3-4%. Kehilangan 5-6% berat badan akan menimbulkan sulit berkonsentrasi, sakit kepala, kegagalan pengaturan suhu tubuh serta peningkatan frekuensi nafas. Kehilangan 7-10% berat badan dapat mengakibatkan otot kaku serta colapse. Pada kehilangan 11% berat badan dapat menimbulkan penurunan volume darah serta dapat berakibat pada kegagalan fungsi ginjal.
Pengukuran Status Hidrasi
Dokter dapat mendiagnosa kondisi dehidrasi berdasarkan tanda-tanda dan gejala seperti buang air kecil sedikit atau jarang, mata cekung, kulit yang tidak elastis serta ketika mengalami dehidrasi tekanan darah cenderung rendah, jantung berdetak lebih cepat dari kondisi normal. Untuk memperkuat diagnosis
dan menentukan tingkat dehidrasi, perlu menjalani tes lain seperti tes darah dan analisis urin. Pada tes darah, contoh darah dapat digunakan untuk memeriksa sejumlah faktor seperti tingkat elektrolit tubuh, terutama natrium dan kalium serta seberapa baik kerja ginjal. Pada urinalisis pengujian dilakukan pada urin untuk dapat menentukan status dehidrasi dan derajat dehidrasi (Mayo 2011).
Manz dan Wentz (2005) menjelaskan beberapa indikator yang sering digunakan untuk mengukur status hidrasi antara lain parameter keseimbangan air (contoh: asupan air), perubahan berat badan atau total air tubuh, indikator plasma, serta indikator urin. Bossingham et al. (2005) menjelaskan bahwa pengukuran status hidrasi dapat dilakukan menggunakan urine specific gravity (USG) dan osmolalitas plasma. USG diasumsikan sama dengan densitas urin yang diukur dengan menimbang volume urin selama 24 jam. Pengukuran osmolalitas plasma dilakukan dengan menimbang darah sampel kemudian disentrifugasi untuk mendapatkan plasma dan diukur nilai osmolalitasnya dengan osmometer. Nilai USG yang normal adalah 1,006-1,020, sedangkan osmolalitas plasma yang normal adalah 280-300 mOsm/kg.
Metode yang dapat digunakan dalam untuk penilaian kecukupan air bagi tubuh yaitu penurunan berat badan (body mass loss), air tubuh total (total body
water) dengan pemeriksaan isotop (D2O), analisis aktivitas neutron, multiple
frequency bioelectrical impedance, volume darah, perubahan volume darah,
perubahan volume plasma, osmolaritas plasma, berat jenis urin, osmolaritas urin, konduktivitas urin, volume urin 24 jam, warna urin, variabel tambahan (urine
dipsticks), pemeriksaan klinis mengenai status hidrasi, rasa haus (ratings of thirst). Metode yang memiliki tingkat akurasi tinggi yaitu metode isotop, analisis
aktivitas neutron, osmolaritas plasma atau urin, perubahan volume plasma. Metode ini memerlukan biaya, keahlian serta risiko yang tinggi, sehingga metode yang sering digunakan yaitu penurunan berat badan, berat jenis urin, volume urin 24 jam, warna urin serta rasa haus.
Metode berat jenis urin memiliki kolerasi kuat dengan metode osmolaritas urin, warna urin juga berkolerasi kuat dengan berat jenis urin (r2=0,80) maupun osmolaritas urin (r2=0,82). Oleh karena itu, pada tingkat laboratorium, metode yang digunakan adalah berat jenis urin, sedangkan pada tingkat masyarakat, metode warna urin dapat digunakan untuk penilaian kecukupan air. Kekuatan dan kelemahan metode penilaian kecukupan air dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2 Kekuatan dan kelemahan metode penilaian kecukupan air No Metode Biaya Waktu
analisis Keahlian yang diperlukan Ketepatan Portabilitas alat Risiko bagi subyek 1 Berat jenis urin
Sedang Singkat Sedang Sedang Ya Rendah 2 Penurunan
berat badan
Rendah Singkat Minimal Sedang Ya Rendah 3 Volume urin
24jam
Rendah Lama Minimal Sedang Tidak Rendah
4 Warna urin Rendah
5 Rasa haus Rendah Singkat Minimal Rendah Ya Rendah Sumber: Santoso et al. (2011)
Faktor Risiko Dehidrasi Jenis kelamin
Jenis kelamin akan berpengaruh terhadap kebutuhan akan air. Berdasarkan Dietary Recommendation International (DRI), kebutuhan laki-laki terhadap air (2,4-3,7 L) lebih besar daripada kebutuhan wanita (2,1-2,7 L). Hal ini karena, aktivitas yang dilakukan oleh laki-laki biasanya lebih banyak daripada wanita sehingga dibutuhkan air yang lebih banyak untuk menggantikan air yang keluar akibat aktivitas tersebut (Didinkaem 2006).
Almatsier (2003) menyatakan bahwa kandungan air laki-laki lebih banyak daripada wanita. Pada remaja wanita yang mengalami pubertas juga menunjukkan persentase air yang lebih rendah dibandingkan laki-laki karena massa lemak yang tinggi (Novak 1989 dalam Pivarnik & Palmer 1994). Penelitian yang dilakukan Viktor (2007) menunjukkan bahwa asupan air laki-laki lebih banyak dari makanan dan minuman dibandingkan wanita. Wanita mengontrol kelebihan energi sebagai lemak simpanan, sedangkan laki-laki menggunakan kelebihan energinya untuk mensintesis protein (WHO 2000).
Usia
Hal ini berkaitan dengan perkembangan tubuh, semakin tinggi usia seseorang semakin banyak air yang dibutuhkan oleh tubuh untuk melakukan metabolisme dan aktivitas yang dilakukan oleh tubuh (Didinkaem 2006). Pada masa remaja fungsi pengaturan keseimbangan air berada dalam kondisi yang cukup baik artinya semua sistem organ yang terlibat telah mengalami pematangan yang sempurna dibanding masa anak-anak. Adanya keadaan yang dapat mengancam keseimbangan air, normalnya dapat diatasi dengan baik
melalui fungsi ginjal, sehingga pada kondisi sehat remaja tidak mengalami dehidrasi (Hardinsyah 2009).
Status gizi
Status gizi merupakan keadaan kesehatan tubuh seseorang atau sekelompok orang yang diakibatkan oleh asupan air, penyerapan dan utilisasi zat gizi makanan. Penilaian terhadap status gizi akan menentukan apakah seseorang tersebut memiliki status gizi baik atau tidak (Riyadi 2003).
Penilaian status gizi secara langsung dibagi menjadi empat, yaitu antropometri, klinis, biokimia, dan asupan air pangan (Riyadi 2003). WHO (2007) membedakan status gizi menjadi kurus, normal, dan gemuk. Klasifikasi terhadap status gizi tersebut didasarkan pada Indeks Massa Tubuh (IMT). Perhitungan ini dilakukan dengan cara membagi berat badan (kg) dengan hasil kuadrat tinggi badan (m). Status gizi dikategorikan kurus dengan nilai IMT <18,5 (kg/m2), normal 18,5-24,9 (kg/m2), serta gemuk ≥ 25 (kg/m2).
Santoso et al. (2011) menyatakan bahwa pada obesitas, air tubuh total lebih rendah dibandingkan dengan orang yang tidak obesitas, kandungan air di dalam sel lemak lebih rendah daripada kandungan air di dalam sel otot sehingga orang obesitas lebih mudah kekurangan air dibandingkan dengan orang yang tidak obesitas.
Aktivitas fisik
Kehilangan air melalui keringat dapat meningkat mencapai 3 L/jam selama aktivitas berat dan di lingkungan yang panas dan jika asupan air yang tidak mencukupi dapat menimbulkan hypohydration persistent. Volume air yang direkomendasikan umumnya antara 100-150% dari volume yang hilang untuk menggantikan kehilangan air setelah melakukan aktivitas fisik (Sharp 2007).
AFIC (1999) menyatakan bahwa ketika berolahraga, air yang dibutuhkan meningkat karena tubuh banyak kehilangan air, sehingga diperlukan penggantian air secara cepat untuk mencegah dehidrasi. Semakin banyak aktivitas yang dilakukan oleh tubuh, maka akan semakin banyak air yang dibutuhkan. Tambahan 1-2 gelas air, biasanya cukup untuk olahraga yang singkat, tetapi bila olahraga dalam durasi yang lama maka perlu jumlah air minum tambahan. Banyak air yang dibutuhkan tergantung dari banyaknya keringat selama olah raga, biasanya 2-3 gelas dalam sejam sudah cukup, kecuali ketika udara sangat panas. Lebih baik menggantikan air dengan air
elektrolit agar elektrolit tubuh yang hilang (Natrium) bersama keringat dapat tergantikan.
Selama aktivitas ringan di lingkungan yang dingin atau sedang, tingkat berkeringat hanya mencapai 100 mL/jam, namun selama aktivitas berat di lingkungan panas, beberapa individu dapat berkeringat mencapai lebih dari 3.000 mL/jam. Tingkat berkeringat tinggi (misalnya 1,5 L/jam) dapat menyebabkan kondisi dehidrasi yang signifikan dan cenderung mengalami gangguan kerja (Murray 2007). WHO/Food and Agriculture Organization (FAO) (2002) menyatakan bahwa aktivitas fisik adalah variabel utama setelah angka metabolisme basal dalam penghitungan pengeluaran energi.
Besarnya aktivitas fisik yang dilakukan seseorang selama 24 jam dinyatakan dalam Physical Activity Level (PAL) atau tingkat aktivitas fisik. PAL merupakan besarnya energi yang dikeluarkan (kkal) per kilogram berat badan dalam 24 jam. PAL ditentukan dengan rumus sebagai berikut:
PAL = PAR × Alokasi waktu tiap aktivitas 24 jam
Keterangan:
PAL : Physical activity level (tingkat aktivitas fisik)
PAR : Physical activity rate (jumlah energi yang dikeluarkan untuk tiap jenis aktivitas per satuan waktu tertentu)
Tingkat aktivitas fisik berdasarkan nilai PAL menurut WHO/FAO (2002) tercantum dalam tabel berikut:
Tabel 3 Kategori tingkat aktivitas fisik berdasarkan nilai PAL
Kategori Nilai PAL
Ringan (sedentary lifestyle) 1,40-1,69
Sedang (active or moderately active lifestyle) 1,70-1,99 Berat (vigorous or vigorously active lifestyle) 2,00-2,40 Sumber: WHO/FAO (2002)
Wilayah ekologi
Suhu lingkungan tempat seseorang tinggal akan mempengaruhi fisiologis tubuh, yaitu dalam upaya untuk merespon dengan baik agar dapat mempertahankan dan meningkatkan kualitas hidup. Suhu lingkungan yang tinggi menyebabkan suhu tubuh seseorang meningkat dan tubuh melakukan adaptasi dengan lingkungan dengan cara mengekskresikan keringat. Apabila ekskresi keringat terjadi secara terus menerus tanpa diimbangi dengan asupan air yang cukup maka dapat menyebabkan dehidrasi (Hardinsyah et al. 2009).
Ahrens (2007) dalam Hardinsyah et al. (2009) menyatakan bahwa apabila suhu tubuh meningkat maka kelenjar hipotalamus mengaktifkan mekanisme regulasi panas tubuh. Salah satu cara penurunan suhu tubuh adalah penguapan. Pada tubuh manusia, penguapan terjadi melalui pernapasan dan keringat. Saat penguapan banyak air dan elektrolit yang hilang sehingga terjadi ketidakseimbangan air dalam tubuh.
Udara yang panas dan lembab dapat membuat tubuh berkeringat sehingga membutuhkan tambahan air. Kondisi udara dalam ruangan yang panas juga dapat membuat kulit kehilangan kelembabannya. Ketinggian lebih dari 2500 meter (8200 kaki) dapat menyebabkan peningkatan urinasi dan proses bernapas menjadi lebih cepat, sehingga lebih banyak air yang terbuang (Didinkaem 2006).
Saat berada di udara dingin, biasanya seseorang jarang merasa haus. Seseorang biasanya tidak minum ketika tidak merasa haus. Saat kekurangan asupan air itulah tubuh kita akan terkena dehidrasi. Air tubuh akan banyak hilang saat berada di tempat berudara dingin, hal ini disebabkan oleh proses pernapasan. Tubuh juga dipaksa bekerja keras untuk menghangatkan badan. Keringat cepat menguap ketika berada di tempat berudara dingin dan kering. Dua pertiga komposisi tubuh terdiri atas air. Ketika jumlah air dalam tubuh berkurang beberapa persen saja, kita akan berisiko terserang dehidrasi. Seseorang yang berdiam di tempat berudara dingin, ia akan berisiko kehilangan air sebesar 3-8% dari total berat badan (Robert 2005).
Pengetahuan gizi
Pranadji (1988) mendefinisikan pengetahuan secara sederhana sebagai informasi yang disimpan dalam ingatan diperoleh seseorang melalui pendidikan formal, informal, serta non-formal. Tingkat pengetahuan gizi seseorang berpengaruh terhadap sikap dan perilaku dalam memilih pangan, yang pada akhirnya berpengaruh pada keadaan gizi seseorang (Khomsan 2000).
Menurut Notoadmodjo (2003) pengetahuan merupakan hasil dari tahu dan terjadi setelah penginderaan terhadap suatu obyek. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. Menurut Khomsan (2000), tingkat pengetahuan gizi seseorang berpengaruh terhadap sikap dan perilaku dalam memilih pangan, yang pada akhirnya berpengaruh pada keadaan gizi seseorang.
Suhu tubuh
Suhu di dalam tubuh (suhu inti) hampir selalu konstan, kecuali pada orang yang menderita demam. Ketika membicarakan suhu tubuh seseorang, biasanya diartikan sebagai suhu bagian dalam yang dinamakan suhu inti, bukan suhu kulit atau jaringan di bawah kulit. Suhu inti dalam keadaan normal selalu diatur dengan tepat berkisar rata-rata tidak lebih dari 1oF.
Pada suhu permukaan akan meningkat dan turun sesuai dengan suhu di sekitarnya. Ketika membicarakan pengaturan suhu tubuh, kita hampir selalu menghubungkan dengan suhu inti dan bila kita menghubungkan dengan kemampuan kulit untuk melepaskan panas sekitarnya, biasanya kita menyatakan suhu permukaan. Untuk menghitung jumlah total panas yang disimpan didalam tubuh yang digunakan adalah suhu tubuh rata-rata dengan diperkirakan dengan rumus:
Suhu tubuh rata-rata = 0,7 suhu internal + 0,3 suhu permukaan
Suhu tubuh dapat berubah pada waktu kerja dan pada suhu lingkungan ekstrem, karena mekanisme pengaturan suhu tidak 100% efektif. Bila dihasilkan panas berlebihan pada tubuh akibat kerja yang berat suhu rektum dapat meningkat sampai setinggi 101-104oF. Sebaliknya pada keadaan sangat dingin dapat turun sampai 98oF (Gibson 2002).
Suhu tubuh dipertahankan antara 36-37,5oC. pada sebagian besar orang dalam sehari terjadi perubahan antara suhu yang rendah pada pagi hari dan tinggi pada siang hari dengan suhu minimum dalam beberapa jam dan maksimum pada sore hari. Pola tersebut bersifat khas pada setiap individu dan tidak menunjukkan variasi dalam musim. Hal ini tidak berubah bila seseorang bekerja pada malam hari. Pada wanita terdapat variasi dalam bulanan. Suhu selama setengah siklus pertama menstruasi menjadi rendah dibandingkan dengan selama setengah kedua. Terdapat kenaikan yang tiba tiba sekitar 0,5oC pada saat terjadinya ovulasi (Gibson 2002).
Tubuh memerlukan air dalam jumlah yang sangat banyak dalam keadaan dingin. Karena persepsi individu tentang haus dan butuh untuk minum akan tertahan saat dingin, dehidrasi terjadi saat asupan air ke tubuh berkurang. Dehidrasi menyebabkan menurunnya ketahanan mental, menurunnya kapasitas kerja, menurunkan kemampuan tekanan darah saat suhu tubuh turun (Nugroho 2009).
KERANGKA PEMIKIRAN
Air mempunyai peranan penting dalam tubuh manusia untuk hidup sehat. Kekurangan dan kelebihan air akan memberikan dampak negatif bagi tubuh, sehingga keseimbangan air di dalam tubuh perlu dijaga. Keseimbangan air di dalam tubuh dipengaruhi oleh tingkat asupan air dan pengeluaran air. Tubuh memperoleh air dari makanan dan minuman, serta melalui hasil metabolisme, sedangkan pengeluaran air dilakukan melalui pernapasan, kulit, ginjal (urin), serta saluran pencernaan (feses) (Harper 1986).
Keseimbangan air di dalam tubuh perlu dijaga melalui pemenuhan kebutuhan air. Kebutuhan air sangat bervariasi antar individu. Besarnya kebutuhan dipengaruhi oleh usia, jenis kelamin, aktivitas fisik dan status gizi. Penentuan kebutuhan air untuk orang sehat dapat didasarkan pada umur, berat badan, asupan energi dan luas permukaan tubuh (Proboprastowo & Dwiriyani 2004).
Pemenuhan kebutuhan air diperlukan untuk menggantikan pengeluaran air dari pernapasan, kulit, ginjal (urin), serta saluran pencernaan. Pemenuhan kebutuhan air yang diperoleh dari asupan air berasal dari asupan air pangan dan hasil metabolisme tubuh. Asupan air yang berasal dari asupan air pangan yaitu berupa minuman serta dari air yang terkandung dalam makanan. Muchtadi et al. (1993) menyatakan bahwa asupan air dipenuhi dalam beberapa cara. Kebanyakan air diperoleh dari minuman, yaitu sekitar 1650 mL/hari dalam bentuk air, teh, kopi, soft drink, susu dan sebagainya. Air dalam makanan padat menyumbangkan 750 mL. Asupan air hasil metabolisme tubuh sebesar 12-13% (Hellert et al. 2001) atau sebesar 250 mL (Kleiner 1999).
Pengetahuan juga akan berpengaruh terhadap pemenuhan asupan air dan status hidrasi. Pengetahuan yang rendah akan mengakibatkan seseorang tidak mengetahui pentingnya memenuhi asupan air yang cukup dan jumlah yang dibutuhkan setiap harinya sehingga berpengaruh terhadap status hidrasinya. Menurut Khomsan (2000) tingkat pengetahuan gizi seseorang berpengaruh terhadap sikap dan perilaku dalam memilih pangan, yang pada akhirnya berpengaruh pada keadaan gizi seseorang.
Wilayah ekologi tempat tinggal seseorang akan berpengaruh terhadap status hidrasi seseorang. Makin tinggi suhu dan makin rendah kelembaban akan meningkatkan kehilangan air (Santoso et al. 2011). Suhu tubuh seseorang juga dapat mempengaruhi pengeluaran air dan status hidrasi. Seseorang dengan
suhu tubuh tinggi akan meningkatkan penguapan kulit, banyak berkeringat sehingga ekskresi air melalui kulit akan lebih tinggi. Pada suhu tubuh rendah akibat lingkungan yang dingin juga akan meningkatkan pengeluaran air melalui urin.
Apabila asupan air seseorang tidak mencukupi dari kebutuhan air yang diperlukan maka akan menimbulkan kekurangan air dan atau dehidrasi. Pengeluaran air yang berlebih tanpa diimbangi asupan air yang cukup juga dapat menimbulkan kekurangan air atau dehidrasi. Kerangka pemikiran faktor risiko dehidrasi pada remaja dan dewasa pada Gambar 1.
Gambar 1 Kerangka pemikiran faktor risiko dehidrasi pada remaja dan dewasa
Keterangan gambar:
: variabel yang diteliti : variabel yang tidak diteliti : hubungan yang diteliti
: hubungan yang tidak diteliti Pengetahuan
Suhu tubuh Dehidrasi
Tingkat asupan air Pengeluaran air
Wilayah ekologi
Asupan air Kebutuhan air
Usia
Jenis kelamin Aktivitas fisik
METODE
Desain, Tempat, dan Waktu
Penelitian ini dilaksanakan menggunakan desain cross sectional study. Penelitian dilakukan dengan mengolah data sekunder yang diperoleh dari hasil penelitian mengenai Kebiasaan Minum dan Status Hidrasi pada Remaja dan Dewasa di Dua Wilayah Ekologi Berbeda yang dilaksanakan oleh THIRST (2009). Wilayah penelitian ini terdiri atas enam lokasi yaitu Lembang (Jawa Barat), Jakarta Utara (DKI Jakarta), Malang dan Surabaya (Jawa Timur), serta Malino dan Makasar (Sulawesi Selatan). Pengumpulan data penelitian THIRST dilakukan pada bulan November tahun 2008 dan bulan Oktober-Novermber tahun 2009. Tahun pertama dilakukan di Jakarta Utara dan Bandung Barat dan tahun kedua di empat lokasi lainnya (Hardinsyah et al. 2010). Pengolahan, analisis dan interpretasi data dilakukan pada bulan April-Juli 2011 di Kampus IPB Darmaga Bogor, Jawa Barat.
Jumlah dan Cara Penarikan Subyek
Subyek pada penelitian ini adalah kelompok remaja (laki-laki dan wanita) berusia 15-18 tahun dan dewasa (laki-laki dan wanita) berusia 25-55 tahun yang bermukim di lokasi penelitian. Jumlah subyek dihitung berdasarkan rumus perhitungan jumlah subyek minimal penelitian cross sectional study dengan mempertimbangkan proporsi dehidrasi diasumsikan sebesar 30%, seperti berikut:
n ≥ za2 x p (1 – p)/d2
Keterangan:
n = jumlah subyek minimum za2 = 1,96
p = 0.3 atau 30% (Manz & Wentz 2005) d = perkiraan akurasi prediksi (0,1)
Berdasarkan rumus perhitungan tersebut, jumlah subyek minimum untuk tiap jenis kelamin di masing-masing lokasi penelitian adalah 41 orang. Jumlah tersebut dibulatkan menjadi 50 orang untuk meningkatkan ketepatan penelitian, sehingga jumlah subyek menjadi 50 orang untuk tiap kelompok umur dan jenis kelamin. Setelah mempertimbangkan dua kelompok jenis kelamin, dua kelompok umur dan dua lokasi penelitian, maka jumlah total subyek yang menjadi subyek penelitian adalah 50 x 2 (jenis kelamin) x 2 (kelompok umur) x 6 (lokasi penelitian) yaitu 1200 subyek.
Melalui pertimbangan bahwa kelompok usia remaja (15-18 tahun) merupakan pelajar Sekolah Menengah Umum (SMU), maka cara yang paling mudah dan tepat (secara teknis dan ekonomi) adalah dengan memilih SMU dan institusi/lembaga pendidikan dengan jumlah siswa yang banyak di masing-masing lokasi penelitian. Penelitian ini juga mencakup subyek dari golongan usia dewasa. Pemilihan subyek dewasa dilakukan dengan cara memilih guru dan karyawan sekolah yang berusia 25-55 tahun yang berada di semua lokasi penelitian. Subyek akhir yang diperoleh dan diolah dalam penelitian ini berjumlah 604 orang untuk remaja dan 582 orang untuk dewasa.
Jenis dan Cara Pengumpulan Data
Data dari penelitian ini sebagian merupakan data penelitian THIRST (Hardinsyah et al. 2010) yang diperoleh dalam bentuk electronic file (e-file). Daftar jenis dan cara pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4 Aspek, cakupan data, dan metode yang digunakan dalam pengumpulan data
No Aspek Cakupan Metode
1 Sosial-ekonomi-demografi Karakteristik individu (umur, jenis kelamin) dan wilayah ekologi
Kuisioner diisi sendiri diawali penjelasan 2 Aktivitas fisik Jenis, durasi dan frekuensi
aktivitas fisik dan olahraga selama enam hari
Kuesioner diisi sendiri diawali penjelasan 3 Status gizi Berat badan dan tinggi badan Pengukuran langsung
dengan timbangan analog dan microtoise untuk tinggi badan 4 Tingkat pengetahuan air
minun dan hidrasi
Pertanyaan tentang kebutuhan air, tanda-tanda air minum yang aman dan jenis minuman yang diminum dalam hubungannya dengan dehidrasi
Wawancara kuisioner
5 Asupan makanan dan minuman
Jenis, jumlah, dan frekuensi minuman dan makanan
Wawancara selama 7 hari (semi FFQ) 6 Status dehidrasi Gejala atau tanda dehidrasi &
berat jenis, warna, mikrokopik urin
Kuisioner dan pemerik -saan fisik, urinalisis 7 Pemeriksaan fisik Tensi, nadi, serta suhu tubuh Pengukuran langsung.
Tekanan darah dengan menggunakan tensi meter merek OMRON. Suhu tubuh dengan thermometer air raksa
Data dan peubah pada penelitian THIRST yang digunakan terdapat pada Lampiran 1.
Pengolahan dan Analisis Data
Data yang diperoleh diolah dan dianalisis dengan menggunakan program komputer Microsoft Office Excell 2007 for Windows dan SPSS 16 for Windows. Pengolahan data diawali dengan pemeriksaan kelengkapan e-file data. Sehingga data subyek yang dapat digunakan untuk analisis yaitu 1186 subyek.
Kebutuhan air. kebutuhan air remaja dan dewasa diperoleh dari data sekunder penelitian Fauji (2011) dihitung dengan rekomendasi dari dari NRC dalam Sawka et al. (2005) yaitu 1 mL/kkal untuk anak-anak dan dewasa didasarkan pada perhitungan kebutuhan energi.
Kebutuhan energi dihitung berdasarkan rumus perhitungan kebutuhan energi dari Institute of Medicine (IOM) tahun 2002 dalam Mahan dan Escott-Stump (2008) yang didasarkan pada Oxford Equation. Kebutuhan energi individu pada penelitian ini diperoleh dengan menghitung kebutuhan energi sesuai berat badan dan tinggi badan aktual berdasarkan Total Energy Expenditure (TEE) yang dikoreksi dengan PAL dan Thermic Effect of Food (TEF). TEF adalah peningkatan pengeluaran energi yang berhubungan dengan asupan air pangan. Besarnya nilai TEF dihitung dari total pengeluaran energi yaitu sebesar 10% dari TEE (Mahan & Escott-Stump 2008).
Asupan air. Data Asupan air dikelompokkan menjadi empat kategori berdasarkan sumbernya, yaitu minuman air putih, minuman lainnya (berwarna dan berasa), air dalam makanan, dan air metabolik. Asupan air yang berasal dari makanan dikonversikan kedalam kandungan air dengan menggunakan Daftar Komposisi Bahan Makanan (DKBM). Konversi ini dihitung dengan rumus (Hardinsyah & Briawan 1994) sebagai berikut:
KGij = (Bj/100) x Gij x (BDDj/100)
Keterangan:
KGij : kandungan air dalam bahan makanan j Bj : berat makanan j yang diasupan air (gram)
Gij : kandungan air dalam 100 gram BDD bahan makanan j BDDj : bagian bahan makanan j yang dapat dimakan
Total asupan air merupakan jumlah air dari minuman dan air yang berasal dari makanan serta air metabolik. Air dari minuman selain air putih dihitung dengan koreksi berat padatan zat gizi yang dikandungnya. Contoh perhitungan air minuman, segelas teh botol kemasan volume 220 mL mengandung 22 gram gula (karbohidrat) maka jumlah air dalam teh botol kemasan adalah 220 – 22 = 198 mL.
Sebagian asupan air tubuh dapat pula diperoleh dari hasil metabolisme zat gizi pangan yang dikonsumsi (air metabolik). Menurut Verdú (2009) bahwa jumlah air yang dihasilkan dari metabolisme pemecahan lemak, protein dan karbohidrat per 100 gram adalah 107 mL, 40 mL, dan 55 mL, sehingga dapat diformulasikan kedalam rumus perhitungan per gram zat gizi, yaitu:
Air metabolik (mL)= (1,07 x gram lemak) + (0,40 x gram protein) + (0,55 x gram Karbohidrat)
Adapun rumus untuk menghitung total asupan air sebagai berikut:
Keterangan:
A : Minuman air putih
B : Minuman lainnya (bewarna dan berasa) C : Air dalam makanan
D : Air hasil metabolik
Tingkat asupan air. Asupan air dibandingkan dengan kebutuhan sehingga dapat dilakukan penilaian tingkat asupan air terhadap kebutuhan. Rumus yang digunakan adalah:
Tingkat Asupan air =
Tingkat asupan air dikategorikan mengacu pada cut off point tingkat kecukupan energi Depkes (1996) yaitu defisit tingkat berat jika (<70%), defisit tingkat sedang (70-70%), defisit tingkat ringan (89-90%) dan cukup (90-119%) serta kelebihan (>120%). Subyek dikategorikan menjadi 2 kategori yaitu tingkat asupan air defisit (<90%) dan tingkat asupan cukup dan lebih (≥90%).
Status gizi. Status gizi remaja dan dewasa diperoleh dari data sekunder penelitian Perdana (2011) dengan perhitungan berdasarkan standar penilaian status gizi berdasarkan IMT menurut umur. Berikut rumus perhitungan IMT dan standar penilaian status gizi remaja dan dewasa menurut WHO (2007):
IMT =
Tabel 5 Kategori status gizi remaja berdasarkan IMT menurut umur
Umur (Tahun)
Laki-laki Wanita
Kurus Normal Gemuk Kurus Normal Gemuk
14 < 16,0 16,0 – 21,9 > 21,9 < 16,0 16,0 – 22,9 > 22,9 15 < 16,5 16,5 – 22,8 > 22,8 < 16,5 16,5 – 23,7 > 23,7 16 < 17,1 17,1 – 23,7 > 23,7 < 16,8 16,8 – 24,2 > 24,2 17 < 17,5 17,5 – 24,4 > 24,4 < 17,0 17,0 – 24,7 > 24,7 18 < 17,9 17,9 – 25,0 > 25,0 < 17,1 17,1 – 24,9 > 24,9
Total asupan air (mL) =A+B+C+D
Asupan air x 100% Kebutuhan air
BB(Kg) TB (m) x TB (m)
Nilai IMT yang normal untuk dewasa berkisar antara 18,5-24,9 kg/m2. Subyek dikatakan kurus bila nilai IMT nya <18,5 kg/m2 dan mengalami kegemukan bila ≥25 (WHO 2007). Subyek kemudian dikategorikan menjadi gemuk dan tidak gemuk. Subyek gemuk dalam penelitian ini terdiri dari subyek yang mengalami overweight dan obesitas, sedangkan subyek tidak gemuk terdiri dari subyek dengan status gizi kurus dan normal.
Tingkat aktivitas fisik. Nilai pengukuran aktivitas fisik diperoleh dari data sekunder penelitian Fauji (2011). Berdasarkan WHO/FAO (2002), besarnya aktivitas fisik yang dilakukan seseorang selama 24 jam dinyatakan dalam PAL (Physical Activity Level) atau tingkat aktivitas fisik. PAL merupakan besarnya energi yang dikeluarkan (kkal) per kilogram berat badan dalam 24 jam.
PAL ditentukan dengan rumus sebagai berikut:
PAL =
Keterangan:
PAL : Physical activity level (tingkat aktivitas fisik)
PARj : Physical activity rate (jumlah energi yang dikeluarkan untuk tiap jenis aktivitas per jam)
Wi : Alokasi waktu tiap aktivitas
Nilai PAL kemudian dikelompokkan kedalam beberapa tingkatan aktivitas fisik yaitu sangat ringan dan ringan serta sedang dan berat. Kategori tingkat aktivitas fisik berdasarkan nilai PAL dapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel 6 Kategori tingkat aktivitas fisik berdasarkan nilai PAL
Kategori Nilai PAL
Ringan dan sangat ringan ≤ 1,70
Sedang dan Berat > 1,70
Pengetahuan air minum dan hidrasi. Pengetahuan air tentang air minum diketahui melalui wawancara kuisioner dengan memberikan nilai untuk pertanyaan tentang kebutuhan air, tanda-tanda air yang aman diminum dan jenis minuman yang diminum dalam hubungannya dengan dehidrasi. Total poin untuk semua jawaban yang benar adalah 100. Pengetahuan air minum dikelompokkan mengacu pada cut off point pengetahuan gizi yaitu pengetahuan baik apabila >80 poin dan sedang 60-80 poin dan kurang apabila <60 (Khomsan 2000). Tingkat pengetahuan air minum dan hidrasi dikelompokkan ke dalam 2 kategori. Kelompok sedang atau baik apabila skor jawaban ≥60 dan kurang apabila skor jawaban <60.
∑ (PARj x Wj)