BAB II : LANDASAN TEORI 5
BAB II
LANDASAN TEORI
Pada bab ini akan dibahas beberapa teori aljabar linier yang mendukung dalam penurunan Teori Perron-Frobenius pada Bab III. Teori-teori yang akan dibahas berupa subruang invarian, proyektor, indeks matriks, dekomposisi core-nilpotent, serta norm dari vektor dan matriks. Teori tersebut merupakan teori yang mendukung mengenai properti dari nilai karakteristik, matriks Jordan, dan Cesaro Summable. Ketiga teori ini sangat erat kaitannya untuk mempelajari dan menurunkan Teori Perron-Frobenius. Untuk selanjutnya, notasi yang digunakan dalam penulisan tugas akhir ini merupakan notasi yang biasa digunakan dalam aljabar.
2.1 Subruang Invarian
Subruang invarian ini akan digunakan untuk menjabarkan dekomposisi
core-nilpotent pada Subbab 2.4. Namun, sebelum kita memasuki pada pembahasan
mengenai subruang invarian, kita akan mendefinisikan dulu mengenai matriks perubahan basis secara singkat. Misalkan adalah operator linier pada V . Misalkan pula dan adalah dua basis bagi V , maka matriks perubahan
basis dari ke diberikan oleh
A B B' B B'
[ ]
1[ ]
' − = B A P A B P , dimana P=[ ]
I BB'BAB II : LANDASAN TEORI
Jika S adalah basis baku untuk n, maka kolom ke- pada j
[
A adalah]
S[ ]
( ) ∗ ∗
⎡ ⎤ =⎡ ⎤ = ⇒ =
⎣A ej ⎦S ⎣A j⎦S A j A S A.
Dengan kata lain, koordinat matriks terhadap adalah sendiri. Jadi, kita peroleh bahwa A S A
[ ]
= −1[ ]
= −1 B S A P A P P AP , (2.1) dimana P=[ ]
I BS =(
[ ] [ ]
x1 S | x2 S |…| x[ ]
n S)
=(
x | x |1 2 …| xn)
.Selanjutnya, untuk suatu operator linier T pada ruang vektor V dan χ⊆ V ,
( )
χ ={
( )
x | x χ}
T T ∈ adalah himpunan semua hasil peta yang mungkin dari vektor di χ dibawah transformasi T . Perhatikan bahwa T
( )
V =R( )
T . Jika χadalah subruang dari V , akibatnya T
( )
χ adalah subruang dari V dan biasanya( )
χT tidak berhubungan dengan χ. Namun, dalam kasus-kasus tertentu
( )
χT bisa merupakan subruang dari χ.
Definisi 2.1 Untuk suatu operator linier T pada V , subruang χ ⊆V disebut
subruang invarian dibawah T jika T
( )
χ ⊆χ.Subruang invarian untuk operator linier sangat penting karena subruang tersebut menghasilkan koordinat matriks representasi dari yang sederhana. Untuk membuktikan hal ini, kita misalkan bahwa
T
T
χ dan γ adalah subruang invarian dibawah T. Misalkan pula Bχ =
{
x , x ,1 2 …, xr}
dan{
y , y ,1 2 , y}
γ = … q
B masing-masing merupakan basis bagi χ dan γ yang merupakan himpunan bagian dari B=
{
x , x ,1 2 …, x , y , y ,r 1 2 …, yq}
, yaitu basis bagi V . Koordinat matriks terhadap basis B adalahBAB II : LANDASAN TEORI
[ ]
T B = ⎡(
⎣T( )
x1 ⎤⎦B … ⎡⎣T( )
xr ⎤⎦B ⎣⎡T( )
y1 ⎦⎤B … ⎣⎡T( )
yq ⎦⎤B)
.Karena setiap T
(
xj)
berada pada χ, maka hanya buah vektor pertama pada yang dapat merepresentasikanr
B T
( )
xj , sehingga untuk setiap j=1, 2,....,r( )
1 x x r j ij i i T α = =∑
dan( )
1 x 0 0 j rj j B T α α ⎛ ⎞ ⎜ ⎟ ⎜ ⎟ ⎜ ⎟ ⎡ ⎤ = ⎜ ⎟ ⎣ ⎦ ⎜ ⎟ ⎜ ⎟ ⎜ ⎟ ⎜ ⎟ ⎝ ⎠ .Karena setiap T
( )
yj berada pada γ, maka hanya q buah vektor akhir pada yang dapat merepresentasikanB
( )
yjT , sehingga untuk setiap j=1, 2,....,q
( )
1 y β y = =∑
q j ij i i T dan( )
1 0 0 y β β ⎛ ⎞ ⎜ ⎟ ⎜ ⎟ ⎜ ⎟ ⎡ ⎤ = ⎜ ⎟ ⎣ ⎦ ⎜ ⎟ ⎜ ⎟ ⎜ ⎟ ⎜ ⎟ ⎝ ⎠ j B j qj T .Jadi, kita peroleh
[ ]
11 1 1 11 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 α α α α β β β β × × ⎛ ⎞ ⎜ ⎟ ⎜ ⎟ ⎜ ⎟ ⎛ ⎞ =⎜ ⎟ ⎜= ⎟ ⎜ ⎟ ⎝ ⎠ ⎜ ⎟ ⎜ ⎟ ⎜ ⎟ ⎝ ⎠ … … … … … … … … r r rr r r B q q q qq P 0 T 0 Q q , dimana / χ χ ⎡ ⎤ = ⎣ ⎦B P T dan / γ γ ⎡ ⎤ = ⎣ ⎦B Q T .Secara umum, pernyataan mengenai subruang invarian dan matriks representasi tersebut diberikan oleh Teorema 2.2 berikut ini.
BAB II : LANDASAN TEORI
Teorema 2.2 Misalkan adalah operator linier pada ruang vektor V
berdimensi . Misalkan pula
T
n χ γ, ,...,Z adalah subruang V dengan dimensinya masing-masing adalah dan basisnya adalah
. Selanjutnya, misalkan 1, ,....,2 k r r r , ,...., χ γ B B BZ
∑
i = ir n dan B=Bχ ∪Bγ ∪ ∪ B.... Zadalah basis bagi V . Subruang χ γ, ,...,Z invarian dibawah T jika dan hanya
jika
[ ]
T mempunyai bentuk matriks diagonal blok B[ ]
1 1 2 2 0 0 0 0 0 0 × × × ⎛ ⎞ ⎜ ⎟ ⎜ ⎟ == ⎜ ⎟ ⎜ ⎟ ⎜ ⎟ ⎝ ⎠ … … … k k r r r r B r r P Q T R dimana / χ χ ⎡ ⎤ = ⎣ ⎦B P T , / γ γ ⎡ ⎤ = ⎣ ⎦B Q T , dan =[ ]
/ B R T g Z .Akibat 2.3 Misalkan T adalah matriks n n× , maka
1 1 2 2 1 0 0 0 0 0 0 × × − × ⎛ ⎞ ⎜ ⎟ ⎜ = ⎜ ⎜ ⎟ ⎜ ⎟ ⎝ ⎠ … … … k k r r r r r r P Q D TD R ⎟ ⎟ (2.2)
untuk D suatu matriks nonsingular jika dan hanya jika
(
1 2= … k
D D D D
)
dengan setiap kolom pada adalah span dari subruang invarian dibawah T .i
D
Bukti. Berdasarkan persamaan (2.1), jika B=
{
q q1, 2,…,qn}
adalah basis bagi dan jikan
(
1 2
= q q … qn
Q
)
adalah matriks yang memuat vektor di pada setiap kolomnya, makaB
[ ]
= −1 BT D TD . Bentuk persamaan (2.2) adalah
BAB II : LANDASAN TEORI
2.2 Proyektor
Pada subbab ini akan diuraikan beberapa sifat yang dimiliki oleh proyektor yang diberikan oleh Teorema 2.4 berikut.
Teorema 2.4 Misalkan χ dan γ adalah ruang bagian komplementer dari V
sehingga untuk setiap v V∈ secara tunggal bisa dituliskan sebagai v= +x y
dimana x∈ dan yχ ∈ . Operator linier tunggal didefinisikan sebagai γ , yaitu proyektor pada
P
x =
v
P χ sepanjang γ, dan mempunyai sifat sebagai berikut.
P
(a). I P− adalah proyektor pada γsepanjangχ. (b). R
( )
P =N(
I−P)
=χ dan R(
I P−)
=N( )
P =γ . (c). Jika V = n atau n, maka P diberikan oleh[
]
[
]
1 | ⎛ ⎞ | − = ⎜ ⎟ ⎝ ⎠ I 0 P X Y X Y 0 0 ,dimana setiap kolom dari dan , masing-masing menyatakan basis dari
X Y
χ dan γ. Formula lain untuk P dapat dilihat pada Teorema 2.9.
Bukti. Untuk (a), kita peroleh bahwa v= + =x y Pv+y
)v
. Akibatnya . Jadi,
y= −v Pv= −(I P I P adalah proyektor pada − γsepanjangχ. Untuk
(b) merupakan akibat dari definisi proyektor itu sendiri. Formula pada (c) diperoleh dengan memisalkan Bχ dan Bγ sebagai basis bagi χ dan γ , maka
{
x , x ,...., x , y , y ,...., y1 2 r 1 2}
B=Bχ∪Bγ = n r− adalah basis bagi V . Matriks P relatif terhadap basis B adalah
BAB II : LANDASAN TEORI
[ ] [
]
[
]
[
]
1 1 1 1 [ x ] | | [ x ] | [ y ] | | [ y ] [x ] | | [x ] | [0] | | [0] e | | e | 0 | | 0 − = = = ⎛ ⎞ = ⎜ ⎟ ⎝ ⎠ … … … … … … B r B B n r B B r B B B r r P P P P P I 0 0 0 BJika adalah basis baku, maka S
[ ]
P B =Q−1[ ]
PSQ , dimana
[ ]
[
[x ] |1 | [x ] | [y ] |1 | [y − ]] [
|]
= BS = S … r S S … n r S = Q I X Y . Akibatnya,[ ]
=[ ]
−1=[
|]
⎛⎜ ⎞⎟[
|]
−1 ⎝ ⎠ r S B I 0 P Q P Q X Y X Y 0 0 . 2.3 Indeks MatriksPada subbab ini akan diuraikan beberapa teorema yang berhubungan dengan indeks dari suatu matriks yang menunjang dalam pembahasan mengenai matriks Jordan.
Definisi 2.5 Bilangan bulat nonnegatif terkecil k yang memenuhi
( )
k ⊕( )
k =R A N A n disebut indeks dari A.
Akibat 2.6 Indeks dari matriks adalah bilangan bulat bulat nonnegatif
terkecil , maka pernyataan berikut ini benar.
A
k
(a). R
( ) ( )
Ak =R Ak+1 (b). N( )
Ak =N( )
Ak+1Indeks matriks ini erat kaitannya mengenai matriks nilpoten. Suatu matriks disebut nilpoten jika
× n n
N Nk =0 untuk suatu bilangan bulat positif. k
( )
BAB II : LANDASAN TEORI
biasa disebut dengan indeks nilpotensi. Sebagai contoh, matriks
jika dipangkatkan maka akan diperoleh dan .
Jadi, Matriks N adalah matriks nilpoten dengan
0 1 0 0 0 1 0 0 0 ⎛ ⎞ ⎜ ⎟ = ⎜ ⎟ ⎜ ⎟ ⎝ ⎠ N 2 0 0 1 0 0 0 0 0 0 ⎛ ⎞ ⎜ ⎟ = ⎜ ⎟ ⎜ ⎟ ⎝ ⎠ N 3 0 0 0 0 0 0 0 0 0 ⎛ ⎞ ⎜ ⎟ = ⎜ ⎟ ⎜ ⎟ ⎝ ⎠ N
( )
indeks N =3 karena N3 =0, tetapi 2 . 0 ≠ N 2.4 Dekomposisi Core-NilpotentDengan teori dasar mengenai subruang invarian yang telah dibahas pada Subbab 2.1, berikut ini adalah teorema yang menjelaskan mengenai salah satu subruang yang invarian terhadap . Teorema ini akan digunakan untuk pembuktian teorema selanjutnya mengenai dekomposisi core-nilpotent yang diberikan pada Teorema 2.8.
A
Teorema 2.7 Misalkan k =indeks
( )
A , maka R( )
Ak dan adalahsubruang invarian terhadap .
(
kN A
)
A
Bukti.
(
k)
invarian terhadapA karena A(
R( )
Ak)
=R( ) (
Ak+1 =R AR A k
)
)
dan invarian terhadap karena
(
k N A A( )
(
)
( ) ( )
( )
( )
(
)
( )
1 1 1 x x untuk suatu x 0 x . + + + ∈ ⇒ = ∈ = ⇒ = = ⇒ ∈ ⇒ ⊆ k k k k k k k N w w N w N N N A A A A A A A A A A A k NTeorema 2.8 Jika An n× adalah matriks singular dengan indeks dimana k
( )
BAB II : LANDASAN TEORI 1 × − = ⎢⎡ ⎤ ⎥ ⎣ ⎦ r r C 0 Q AQ 0 N
dimana adalah matriks nonsingular dan adalah matriks nilpoten dengan indeks k . Dengan kata lain, serupa dengan matriks blok diagonal
yang memuat matriks nonsingular core dan matriks nilpoten. Matriks blok diagonal tersebut dinamakan dekomposisi core-nilpotent dari .
× r r C N A 2 2× A
Bukti. Misal Q=
(
X Y dimana kolom dari |)
Xn r× dan Yn n r× − merupakan basis dari R( )
Ak dan N(
Ak)
. Karena R( )
Ak dan N( )
Ak merupakan subruang invarian terhadap berdasarkan Teorema 2.7, maka dari Akibat 2.3, kita peroleh bentuk A[ ]
1 × − = = ⎢⎡ ⎤ ⎥ ⎣ ⎦ r r B C 0 Q AQ A 0 N dengan dan . / ( ) ⎡ = ⎣ R k X A C A ⎤⎦ / ( ) ⎡ ⎤ = ⎣ N k ⎦ Y A N AUntuk menunjukkan bahwa N nilpoten, misalkan −1 = ⎜ ⎟⎛ ⎞ ⎝ ⎠ U Q V , dan tulis
(
)
1 | − ⎡ ⎤ ⎛ ⎞ ⎡ = = = ⎢ ⎥ ⎜ ⎟⎝ ⎠ ⎢ ⎣ ⎦ ⎣ k k k k k k C 0 U UA X 0 Q A Q A X Y V 0 N VA X 0 ⎤ ⎥ ⎦. Akibatnya, Nk =0 dan −1 ⎡ ⎤ = ⎢ ⎥ ⎣ ⎦ k k C 0 Q A Q0 0 . Karena berukuran dan
k
C r r×
( )
(
1)
( )
rank rank − rank
= k = k =
r A Q A Q k
C . Hal ini menunjukkan bahwa nonsingular akibatnya C juga nonsingular.
k
C
Teorema 2.9 Misal An n× mempunyai indeks dengan k rank
( )
Ak =r.Misalkan pula −1 = ⎢⎡ × ⎤⎥ ⎣ ⎦ r r C 0 Q AQ 0 N dengan Q=
(
Xn r× |Y dan)
1 − = ⎜⎛ × ⎞ ⎟ ⎝ ⎠ n r U Q VBAB II : LANDASAN TEORI
(a). ⎡⎢ ⎤⎥ −1= adalah proyektor pada
⎣ ⎦ r I 0 Q Q 0 0 XU
( )
k R A sepanjang .( )
k N A(b). −1 adalah proyektor pada sepanjang
− ⎡ ⎤ = ⎢ ⎥ ⎣ n r⎦ 0 0 Q Q 0 I YV
(
)
k N A( )
k R A . Bukti. Karena( )
k R A dan( )
kN A adalah subruang komplememter dan karena kolom X dan Y masing-masing merupakan basis untuk subruang
( )
kR A dan , maka berdasarkan Teorema 2.4(c) diperoleh
merupakan proyektor pada
(
k N A)
=[
]
[
]
1 1 | ⎛ ⎞ | − − ⎛ ⎞ = ⎜ ⎟ = ⎜ ⎟ ⎝ ⎠ ⎝ ⎠ r I 0 I 0 P X Y X Y Q Q XU 0 0 0 0( )
k R A sepanjang N( )
Ak . Selanjutnya, merupakan proyektor pada sepanjang[
]
[
]
1 1 | | − − − ⎛ ⎞ ⎛ ⎞ − = ⎜ ⎟ = ⎜ ⎟ = ⎝ ⎠ ⎝ n r⎠ 0 0 0 0 I P X Y X Y Q Q YV 0 I 0 I(
k N A)
R( )
Ak .2.5 Norm dari Vektor dan Matriks
Ukuran panjang dari suatu vektor disebut dengan norm. Untuk dimensi n, kita definsikan norm-p dari suatu vektor pada Definisi 2.10 berikut ini.
Definisi 2.10 Untuk p≥1, norm-p dari vektor x∈ n didefinisikan dengan
(
)
1/ 1 x =∑
= p n p i p i xBAB II : LANDASAN TEORI
Pada teorema berikut ini, kita akan melihat pembutikan dari Pertidaksamaan Cauchy-Bunyakovskii-Schwarz (CBS) untuk kondisi dimana hanya persamaan yang muncul dalam CBS tersebut (Teorema 2.11). Hal ini dibutuhkan karena mendukung Teorema 2.12 yang akan bermanfaat dalam pembuktian salah satu teorema di Bab III. CBS ini melibatkan hasil kali dalam dan norm.
Teorema 2.11 Misalkan x, y∈Cn, x≠ , 0 x,y = x y jika dan hanya jika
dimana
y= xa x, y
x, x
a= .
Bukti. Jika y= xa maka x,y = a x 2 = x y . Sebaliknya, jika
x,y = x y maka 2 2 2 2 2 2 2 2 x y x,y 0, karena x,y y,x x,y maka
x y x,y y,x x,y
0 y,y y,x ,dengan
x,x x y, x y x, x y x y, x y x y − = = − = = − = − − + − = − − = − a a a a a a a a = maka ax− =y 0 ⇒ y=ax
Teorema 2.12 Misalkan x, y∈Cn, vektor tak nol, x+y = x + y jika dan
hanya jika y= xa atau x=ay, untuk suatu a>0.
Bukti.
(
⇒)
Misalkan x, y∈Cn,(
) (
)
(
)
2 2 x y x y x y x y x x,y y,x y x 2 x y y x 2 Re x,y y x 2 x y y + = + + = + + + + = + + + + = + +BAB II : LANDASAN TEORI
maka, Re
(
x,y)
= x y . Kita tahu bahwa Re(
x,y)
≤ x,y , maka(
)
x y =Re x,y ≤ x,y ≤ x y , maka x,y = x y . Dari Teorema 2.14 kita peroleh jika x,y = x y , maka y=ax, dimana x, y
x, x
a= . Selanjutnya, cukup dibuktikan bahwa bilangan real positif. Dengan mensubtitusikan kedalam persamaan
a y= xa x+y = x + y , maka
(
)
(
)(
)
( )
( )
2 2 2 1 1 1 1 1 1 1 2 1 2 Re 1 2 Re a a a a a a a a a aa a aa a a + = + + = + + + = + + + + = + + =Jadi, adalah bilangan real dan a a=Re
( )
a = a ≥ . Karena 0 y= xa dan y≠0 maka a≠0 akibatnya a>0.( )
⇐ Misal y= xa , maka x y x x (1 )x (1 ) x , karena 0 maka 1 x x x x x y a a a a a a + = + = + = + > = + = + = +Secara umum, misalkan x , x ,...., x1 2 p∈Cn, vektor tak nol,
1 1 x x = = =
∑
p i∑
p i i i jikadan hanya jika untuk suatu i∈
{
1, 2,....,s x}
j =πjxi dengan i≠ j dan πj >0BAB II : LANDASAN TEORI
Definsi 2.13 Unit p-sphere didefinisikan sebagai Sp =
{
x / x p =1}
, untuk.
1, 2,
p= ∞
Sebagai contoh, unit 1-, 2-, dan ∞-sphere di ℜ3 adalah oktahedron, bola, dan kubus secara berturut-turut. Kita bisa perhatikan bahwa oktahedron akan termuat didalam bola dan kedua-duanya akan termuat didalam kubus.
Setelah kita mengenal norm vektor, selanjutnya kita akan membahas mengenai norm matriks. Norm matriks ini digunakan untuk membantu dalam pembuktian
beberapa teorema di Bab III. Misalkan 2 1
4 2 − ⎡ ⎤ = ⎢ − ⎥ ⎣ ⎦ A . Dengan menguraikan
elemen dari menjadi empat elemen dari suatu vektor, norm Euclidean pada
, maka kita bisa menuliskan
A 4
( )
2( )
2 1/ 2 2 2 2 1 4 2 ⎡ ⎤ 5 = −⎣ + + + − ⎦ = A .Ini merupakan salah satu cara sederhana untuk mendefinisikan norm matriks
dan hal ini biasa disebut dengan norm Frobenius. Norm Frobenius dari matriks
ini didefinisikan oleh × ∈ m n A 2 , =
∑
ij i jA a . Secara umum, norm matriks
merupakan suatu fungsi yang memenuhi sifat-sifat seperti yang ada pada definisi berikut ini.
Definsi 2.14 Norm matriks adalah suatu fungsi ∗ dari himpunan matriks
kompleks ke bilangan real yang memenuhi sifat-sifat berikut ini. (a). A ≥0 dan A = ⇔0 A=0
(b). αA =α A untuk setiap konstanta α
(c). A B+ ≤ A + B
BAB II : LANDASAN TEORI
Norm Frobenius memenuhi Definisi 2.14 diatas. Selain itu, kita bisa
mendefinisikan norm matriks selain norm Frobenius dengan cara norm matriks
tersebut dibangkitkan (induced) dari vektor seperti pada teorema berikut ini.
Teorema 2.15 Vektor x∈ p, p=m n membangkitkan norm matriks pada ,
dengan mendefinisikan × m n x 1 max x = = A A , untuk A∈ m n× dan x∈ n×1. Hal ini dikenal dengan norm matriks induced.
Bukti. Karena
x 1
max x
= A memenuhi Definisi 2.14, maka maxx 1= Ax adalah
norm matriks dari A.
Toerema 2.16 Norm matriks yang dibangkitkan dari vektor 1 dan
didefinisikan sebagai berikut.
∞ (a). 1 1=maxx =1 x 1=max
∑
ij = j ia nilai absolut jumlah kolom terbesar
A A . (b). x 1 max x max ∞ ∞ = = ∞=
∑
ij = j ia nilai absolut jumlah baris terbesar
A A .
Bukti (a) . Untuk setiap dengan x x1= , pertidaksamaan segitiga 1
menghasilkan 1 x x maks maks . ∗ = = ≤ = ⎛ ⎞⎛ ⎞ ≤⎜ ⎟⎜ ⎟= ⎝ ⎠ ⎝ ⎠
∑
∑ ∑
∑∑
∑ ∑
∑
∑
∑
i ij j ij j j ij i i j i j j i j ij ij j j j i i a x a x x a x a a A ABAB II : LANDASAN TEORI
Bentuk persamaan diatas dapat diperoleh karena jika A adalah kolom dengan ∗k
jumlah absolut terbesar, tulis x =e dan perhatikan bahwa k ek 1=1 dan 1 = ∗ 1=maks
∑
k k j i e a A A ij .Bukti (b). Untuk setiap dengan x x ∞ = , 1
i i
x ∞ =maks
∑
ij j ≤maks∑
ij j ≤maks∑
ij i j j a x a x a A j .Bentuk persamaan diatas dapat diperoleh karena jika A adalah baris dengan k∗
jumlah absolut terbesar dan jika adalah vektor dimana x
x , untuk setiap 1, jika 0 maka 1, jika 0 x maks ∗ ∗ ⎧ = ≤ ≥ ⎧ ⎪ = ⎨− < ⎨ ⎩ ⎪⎩ = =
∑
∑
∑
∑
i j ij j j ij kj j kj k j kj i j ij a x a i a x a a a A A ,maka x ∞ =1 dan x ∞ =maksi i∗x =maksi
∑
ij j aA A .
2.6 Properti dari Nilai Karakteristik
Misalkan λ λ λ1, 2, 3,...,λs adalah nilai-nilai karakteristik yang berbeda dari sebarang matriks Anxn. Himpunan σ( )A =
{
λ λ λ1, 2, 3,...,λs}
disebut spektrum dari , yaitu himpunan semua nilai karakteristik dari . Selain itu, kita mengenal istilah yang disebut dengan spectral radiusA A
(
ρ( )A)
dari matriks , yaitu A(
1 ( ) max)
ρ λ ≤ ≤ = i i sA . Spectral radius ini merupakan lingkaran terkecil dalam bidang kompleks yang memuat semua nilai karakteristik dari matriks A.
Misalkan , maka kita mempunyai beberapa istilah lain seperti nilai karakteristik simple dan nilai karakteristik semisimple. Jika
( )
λ σ∈ A
( )
ma λ = maka 1 λ disebut dengan nilai karateristik simple. Nilai karakteristik yang memenuhi
BAB II : LANDASAN TEORI
( )
λ =( )
λma mg disebut dengan nilai karateristik semisimple. Selanjutnya, berikut ini diberikan definisi indeks dari suatu nilai karakteristik.
Definisi 2.17 Indeks nilai karakteristik λ dari matriks A∈ nxn didefinisikan
sebagai indeks dari matriks
(
A−λI yang memenuhi sifat pada Akibat 2.6.)
Dengan kata lain, indeks
( )
λ adalah bilangan asli terkecil sehingga pernyataan berikut ekivalen.k
(a). R
(
(
A−λI)
k)
=R(
(
A−λI)
k+1)
(b). N(
(
A−λI)
k)
=N(
(
A−λI)
k+1)
Teorema 2.18 Misalkan A∈ nxn, maka ρ
( )
A ≤ A , untuk setiap normmatriks.
Bukti. Misalkan
(
λ, x)
adalah sebarang pasangan karakteristik dari A maka[
x | x | ... | x]
0= nxn
X ≠ dan λX=AX mengakibatkan
λ X = λX = AX ≤ A X . Jadi λ ≤ A untuk setiap λ σ∈
( )
A , artinya( )
ρ A ≤ A .
Teorema 2.19 Misalkan A∈ nxn, maka untuk setiap norm matriks berlaku
( )
1 lim ρ →∞ = k k k A A .Bukti. Perhatikan bahwa ρ
( )
k =ρ( )
k ≤A A Ak (berdasarkan Teorema 2.18). Kita peroleh ρ
( )
A ≤ Ak 1k. Sekarang perhatikan bahwauntuk setiap
( )
(
)
(
/)
1 ρ A ρ A +ε < 0 ε > makaBAB II : LANDASAN TEORI
( )
(
( )
)
lim 0 lim 0 ρ ε ρ ε →∞ →∞ ⎛ ⎞ = ⇒ = ⎜ ⎟ ⎜ + ⎟ + ⎝ ⎠ k k k k k A A A A .Akibatnya terdapat bilangan bulat positif N sehingga Ak /
(
ρ( )
A +ε)
k <1 untuk setiap k ≥N, maka Ak 1/k <(
ρ( )
A +ε)
untuk setiap k≥N dan( )
1/( )
ρ ≤ k k <ρ
A A A + untuk ε . Karena pertidaksamaan ini berlaku untuk setiap k≥N 0 ε > , maka 1
( )
lim ρ →∞ = k k k A A .Teorema 2.20 Misalkan A∈ n n× dan misalkan A menyatakan matriks
dengan elemennya adalah aij . Untuk matriks ,B C∈ n n× , definisikan B≤C ,
yaitu bij <cij untuk setiap i dan . Jika j A ≤B maka ρ
( )
A ≤ρ( )
A ≤ρ( )
B .Bukti. Ketaksamaan segitiga memberikan Ak ≤ Ak untuk setiap bilangan
bulat positif. Selanjutnya,
k
≤
A B mengakibatkan Ak ≤Bk. Dengan
menggunakan Teorema 2.19, maka
( )
( )
( )
1/
1/ 1/
1/ 1/
1/
lim lim lim
ρ ρ ρ ∞ ∞ ∞ ∞ ∞ ∞ ∞ ∞ ∞ ∞ →∞ →∞ →∞ = ≤ ≤ ⇒ ≤ ≤ ⇒ ≤ ≤ ⇒ ≤ ≤ k k k k k k k k k k k k k k k k k k k A A A B A A B A A A A A B 2.7 Matriks Jordan
Bentuk Jordan dari A∈ nxn diperoleh dengan menggunakan dekomposisi
core-nilpotent yang akan diuraikan berikut ini. Misalkan, λ σ1∈
( )
A dan, maka terdapat matriks nonsingular sehingga
( )
1BAB II : LANDASAN TEORI
(
)
1 1 1 1 1 1 λ − − ⎛ ⎞ = ⎜ ⎟ ⎝ ⎠ L 0 X A I X 0 C , (2.3)dimana adalah matriks nilpoten dengan indeks dan adalah matriks nonsingular. Hal ini tidak menjadi masalah andaikan pada blok diagonal pertama adalah ataupun pada (2.3). Untuk kasus ini, kita posisikan blok nilpoten berada pada pada blok diagonal pertama. Berdasarkan hasil dari matriks nilpoten maka terdapat matriks nonsingular sehingga
1 L k1 C1 1 L C1 1 Y
( )
( )
( )
1 1 1 1 2 1 1 1 1 1 0 0 0 0 0 0 λ λ λ − ⎛ ⎞ ⎜ ⎟ ⎜ ⎟ = ⎜ ⎟ ⎜ ⎟ ⎜ ⎟ ⎝ ⎠ … … … t N N Y L Y Nyang merupakan matriks blok diagonal yang memiliki sifat-sifat sebagai berikut.
(a). Setiap blok di N1
( )
λ1 mempunyai bentuk( )
1 . 0 1 1 0 λ ∗ ⎡ ⎤ ⎢ ⎥ ⎢ ⎥ = ⎢ ⎥ ⎢ ⎥ ⎣ ⎦ N(b). Terdapat t1=dim
( )
L1 =dim(
N(
A−λ1I)
)
buah blok pada N1( )
λ1 . (c). Banyaknya blok berukuran i i dengan bentuk × N∗( )
λ1 dalam N1( )
λ1adalah vi
( )
λ1 =ri−1( )
λ1 −2ri( )
λ1 +ri+1( )
λ1 ⎟ dimana .( )
λ1 =(
(
−λ1)
)
i i r rank A ISelanjutnya, 1= 1⎛⎜ 1 ⎞ adalah matriks nonsingular dan
⎝ ⎠ Y 0 Q X 0 I
(
)
( )
1 1 1 1 1 1 λ λ − − ⎛ ⎞ = ⎜ ⎝ ⎠ N Q A I Q 0 C ⎟ 0BAB II : LANDASAN TEORI
( )
1 1( )
1 1 1 1 1 1 1 λ λ λ λ − =⎛ + ⎞ ⎛= ⎜ + ⎟ ⎜ ⎝ ⎠ ⎝ A N I 0 J Q Q 0 C I 0 A ⎞ ⎟ ⎠ 0 1 . (2.4) Matriks J( )
λ1 =N( )
λ1 +λI pada (2.4) mempunyai bentuk blok diagonal( )
( )
( )
( )
1 1 1 2 1 1 1 0 0 0 0 0 0 λ λ λ λ ⎛ ⎞ ⎜ ⎟ ⎜ ⎟ = ⎜ ⎟ ⎜ ⎟ ⎜ ⎟ ⎝ ⎠ … … … t J J J J dengan J∗( )
λ1 =N∗( )
λ1 +λ1I .Matriks J
( )
λ1 disebut dengan segmen Jordan yang berkorespondensi dengan nilai karakteristik λ1 dan setiap blok J∗( )
λ1 yang termuat di J( )
λ1 disebut dengan blok Jordan yang berkorespondensi dengan nilai karakteristik λ1. Struktur segmen Jordan ini diturunkan dari struktur Jordan yang berkorespondensi dengan matriks nilpoten L1.Setiap blok Jordan mempunyai bentuk
( )
( )
1 1 1 1 1 1 1 λ λ λ λ λ ∗ ∗ ⎛ ⎞ ⎜ ⎟ ⎜ ⎟ = + =⎜ ⎟ ⎜ ⎟ ⎝ ⎠ J N I .Terdapat t1=dim
( )
L1 =dim(
N(
A−λ1I)
)
buah blok Jordan pada segmen( )
λ1J . Banyaknya blok Jordan J∗
( )
λ1 berukuran i i dalam × J( )
λ1 adalah( )
λ1 = −1( )
λ1 −2( )
λ1 + +1( )
1i i i i
v r r r λ dimana ri
( )
λ1 =rank(
(
A−λ1I)
i)
.Nilai karakteristik yang berbeda untuk A adalah σ
( ) {
A = λ λ1, 2,....,λs}
, maka nilai karakteristik yang berbeda untuk A−λ1I adalah(
1)
{
0,(
2 1) (
, 3 1)
,....,(
1)
}
σ A−λI = λ λ− λ λ− λs−λ . Karena nilai karakteristik
untuk L1 adalah nol maka kita peroleh bahwa
( ) (
1{
2 1) (
, 3 1)
,....,(
1)
}
BAB II : LANDASAN TEORI
pada (2.4) adalah σ
( ) {
A1 = λ λ2, 3,....,λs}
. Hal ini berarti proses dekomposisicore-nilpotent diatas bisa diulang untuk A1−λ2I untuk mendapatkan matriks
nonsingular Q2 sehingga
( )
2 1 2 1 2 2 λ − = ⎜⎛ ⎞ ⎟ ⎝ ⎠ J Q A Q 0 A 0 dimana σ( ) {
A2 = λ λ3, 4,....,λs}
.Proses tersebut terus diulangi sedemikian rupa sehingga semua nilai karakteristik hilang dan diperoleh matriks nonsingular P sehingga s
( ) ( )
( )
(
)
1 1 2 diag λ , λ ,...., λ − = = s sP AP J J J J s . Setiap J
( )
λj adalah segmenJordan yang memiliki tj =dim
(
N A(
−λjI)
)
buah blok Jordan. Matriks J disebut dengan bentuk Jordan dari . Struktur Jordan dari didefinisikan sebagai banyaknya segmen Jordan di beserta dengan banyaknya dan ukuran dari blok Jordan untuk setiap segmen. Berikut ini merupakan ringkasan dari bentuk Jordan yang telah diuraikan diatas.A A
J
Teorema 2.21 Untuk setiap A∈ n n× dengan nilai karakteristik yang berbeda
( ) {
1, 2,....,}
σ A = λ λ λs , terdapat matriks nonsingular P sehingga
( )
( )
( )
1 2 1 0 0 0 0 0 0 λ λ λ − ⎛ ⎞ ⎜ ⎟ ⎜ ⎟ = = ⎜ ⎟ ⎜ ⎟ ⎜ ⎟ ⎝ ⎠ … … … s J J P AP J J(a). J disebut matriks Jordan yang mempunyai satu buah segmen Jordan
( )
λjJ untuk setiap nilai karakteristik λ σj∈
( )
A .(b). Setiap segmen J
( )
λj terdiri atas tj =dim(
N A(
−λjI)
)
buah blokBAB II : LANDASAN TEORI
( )
( )
( )
( )
1 1 0 0 0 0 0 0 λ λ λ λ ⎛ ⎞ ⎜ ⎟ ⎜ ⎟ = ⎜ ⎟ ⎜ ⎟ ⎜ ⎟ ⎜ ⎟ ⎝ ⎠ … … … j j j j t j J J J J dengan( )
1 1 λ λ λ ∗ ⎛ ⎞ ⎜ ⎟ ⎜ ⎟ = ⎜ ⎟ ⎜ ⎟ ⎜ ⎟ ⎝ ⎠ j j j J .(c). Ukuran blok Jordan terbesar adalah kj×k dimana j kj =indeks
( )
λj . (d). Banyaknya blok Jordan i i dalam × J( )
λj diberikan oleh( )
λ = −1( )
λ −2( )
λ + +1( )
i j i j i j i j
v r r r λ dimana ri
( )
λj =rank(
(
A−λjI)
i)
.Teorema 2.22 Indeks
( )
λ =1 jika dan hanya jika λ adalah nilai karakteristiksemisimple. Dengan kata lain mg
( )
λ =ma( )
λ .Bukti. jika dan hanya jika untuk setiap blok Jordan berukuran
, yang akan terjadi jika dan hanya jika banyaknya vektor karakteristik yang berkorespondensi dengan
( )
Indeks λ =1 1 1×
λ untuk P sehingga P AP−1 =J sama banyaknya dengan blok Jordan. Hal ini sama saja dengan mengatakan bahwa
( )
( )
mg λ =ma λ atau λ adalah nilai karakteristik semisimple.
Selanjutnya, kita akan melihat fungsi pada matriks blok Jordan. Misalkan dengan 1 − = ∈ nxn A PJP σ( )A =
{
λ λ λ1, 2, 3,...,λs}
dan( ) ( )
( )
(
λ1 , λ2 ,...,)
=diag sJ J J J λ adalah bentuk Jordan dari dimana setiap segmen Jordan
A
(λj)
J adalah matriks blok diagonal yang memuat satu atau lebih blok Jordan. Dengan kata lain, kita bisa menuliskan suatu segmen Jordan sebagai berikut
BAB II : LANDASAN TEORI
( )
( )
( )
( )
1 2 0 0 0 0 0 0 λ λ λ λ ⎡ ⎤ ⎢ ⎥ ⎢ ⎥ = ⎢ ⎥ ⎢ ⎥ ⎢ ⎥ ⎢ ⎥ ⎣ ⎦ … … … j j j j t j J J J J dengan( )
1 1 λ λ λ ∗ ⎡ ⎤ ⎢ ⎥ ⎢ ⎥ =⎢ ⎥ ⎢ ⎥ ⎢ ⎥ ⎣ ⎦ j j j J .Kita ingin mendefinisikan f J menjadi
( )
( )
( )
(
)
( )
(
)
1 λ λ ⎡ ⎤ ⎢ ⎥ = ⎢ ⎥ ⎢ ⎥ ⎢ ⎥ ⎣ s ⎦ f f f J J J dengan(
( )
λ)
(
*( )
λ)
⎡ ⎤ ⎢ ⎥ = ⎢ ⎥ ⎢ ⎥ ⎣ ⎦ j j f J f J .Untuk mendefinisikan tersebut, kita cukup bekerja pada f J
(
*( )
λj)
. Agar notasi yang ada tidak membingungkan dalam proses pengerjaan, maka kitadapat sederhanakan dengan memisalkan *
1 1 λ λ ⎡ ⎤ ⎢ ⎥ ⎢ ⎥ = ⎢ ⎥ ⎢ ⎥ ⎣ ⎦ J yang
merupakan blok Jordan berukuran k k× . Jadi kita dapat mendefinisikan f J
( )
dari f J
( )
* .Misalkan adalah fungsi yang dapat diekspansi dengan deret Taylor disekitar
:
f →
λ maka untuk suatu r>0,
( )
( )
( )(
)
''( ) ( )
2 '''( ) ( )
3 ' .... 2! 3! f f f z = f λ + f λ z−λ + λ z−λ + λ z−λ + , dimana z− < . Maka, λ r( )
( )
( )(
)
( ) (
)
2( ) (
)
3 * * * * '' ''' ' .... 2! 3! λ λ λ λ λ λ λ = + − + f − + f − + f J f I f J I J I J INamun, karena N=J*−λI adalah matriks nilpoten dengan indeks , maka
deret ini menjadi deret berhingga,
BAB II : LANDASAN TEORI
( )
* 1 ( )( )
0 ! λ − = =∑
i k i i f f i J N (2.5)artinya hanya nilai dari f
( ) ( )
λ , f ' λ ,..., f(k−1)( )
λ yang terdefinisi dan0 1 1 0 ⎡ ⎤ ⎢ ⎥ ⎢ ⎥ = ⎢ ⎥ ⎢ ⎥ ⎣ ⎦ N , 2 0 0 1 1 0 0 0 ⎡ ⎤ ⎢ ⎥ ⎢ ⎥ ⎢ ⎥ = ⎢ ⎥ ⎢ ⎥ ⎢ ⎥ ⎣ ⎦ N ,…., 1 . 0 0 1 0 0 − ⎡ ⎤ ⎢ ⎥ ⎢ ⎥ = ⎢ ⎥ ⎢ ⎥ ⎣ ⎦ k N
Jadi, representasi f J
( )
* pada (2.5) bisa dituliskan seperti pada teorema berikut ini.Teorema 2.23 Untuk blok Jordan berukuran dengan nilai
karakteristik
*
J k k×
λ. Suatu fungsi f z dimana
( )
f( ) ( )
λ , f ' λ ,..., f(k−1)( )
λ ada maka f J( )
* bisa dituliskan sebagai berikut.( )
( )
( )
( )
(
( )( )
)
( )
( )
( )
( )
( )
( )
1 * '' ' 2! 1 ! 1 ' '' 1 2! ' λ λ λ λ λ λ λ λ λ λ λ λ − ⎡ ⎤ ⎢ ⎥ − ⎢ ⎥ ⎛⎡ ⎤⎞ ⎢ ⎥ ⎜⎢ ⎥⎟ ⎢ ⎥ ⎜⎢ ⎥⎟ = ⎜ ⎟= ⎢ ⎥ ⎢ ⎥ ⎢ ⎥ ⎜⎢ ⎥⎟ ⎜⎣ ⎦⎟ ⎢ ⎥ ⎝ ⎠ ⎢ ⎥ ⎢ ⎥ ⎣ ⎦ k f f f f k f f f f f f f f JTeorema 2.24 Misal A=PJP−1 untuk suatu matriks nonsingular. Misalkan
pula, P
(
)
( )
( )
1 1 1 1| 2| | , , dan λ λ − ⎛ ⎞ ⎛ ⎞ ⎜ ⎟ ⎜ ⎟ = =⎜ ⎟ ⎜ ⎟ ⎜ ⎟ ⎜ ⎟ ⎝ ⎠ ⎝ ⎠ … s s = s Q J P P P P J P J QBAB II : LANDASAN TEORI
Definisikan Gi =P Qi i. Jika ki =indeks
( )
λi maka Gi adalah proyektor pada(
)
(
−λ ki)
i N A I sepanjang(
(
−λ)
ki)
i R A I .Bukti. Perhatikan bahwa Li =J
( )
λi −λiI merupakan matriks nilpoten denganindeks ki, tetapi J
( )
λi −λiI nonsingular jika i ≠ , maka j(
)
( )
( )
1 1 1 λ λ λ λ λ λ − − − ⎛ ⎞ ⎜ ⎟ ⎜ ⎟ ⎜ ⎟ − = − = ⎜ ⎟ ⎜ ⎟ ⎜ − ⎟ ⎝ ⎠ i i i i s i J I A I P J I P P L P J Iadalah matriks core-nilpotent seperti yang telah diuraikan pada Teorema 2.8 dengan mengurutkan nilai karakteristik sehingga matriks blok nilpoten berada pada blok diagonal paling bawah. Berdasarkan Teorema 2.9(b) maka,
adalah proyektor pada
i L = i i i P Q G
(
(
−λ)
ki)
i N A sepanjang(
(
−λ)
ki)
i R A .2.8 Limit dari Matriks
Berikut ini terdapat dua teorema yang menyatakan mengenai limit dari suatu matriks berdasarkan nilai spectral radius dari matriks tersebut.
Teorema 2.25 Misalkan A∈ nxn dan ρ
( )
A adalah spectral radius, makajika dan hanya jika
lim 0
→∞ = k
k A ρ
( )
A <1.Bukti.
( )
⇒ Misal(
λ,v)
adalah pasangan karakteristik untuk A. Karenaλ = k
v
A kv, maka
(
lim)
lim limλ limλ 0→∞ = →∞ = →∞ = →∞
k k k k
BAB II : LANDASAN TEORI
Karena v≠0, maka lim k 0
k→∞λ = , akibatnya λ < . Karena hal tersebut berlaku 1 untuk sebarang nilai karakteristik, maka ρ
( )
A <1.( )
⇐ Jika P AP−1 =J adalah bentuk Jordan untuk A, maka1 1 − − ∗ ⎛ ⎞ ⎜ = = ⎜ ⎜ ⎟ ⎝ ⎠ k k k A PJ P P J ⎟⎟P dimana 1 ( ) λ λ λ ∗ ⎛ ⎞ ⎜ = ⎜ ⎜ ⎟ ⎝ ⎠ i J ⎟⎟ merupakan
blok Jordan di . Selanjutnya, jika dan hanya jika untuk setiap blok Jordan. Jadi, kita hanya perlu membuktikan bahwa maka
J Ak →0 J∗k →0
0 ∗k →
J
( ) 1
ρ A < . Dengan menggunakan fungsi f z
( )
=z pada Teorema 2.28 dengan nsyarat bahwa ⎛ ⎞⎜ ⎟=0 untuk
⎝ ⎠ k j j>k, maka,
( )
( )
( )
( )
( )
( )
1 2 1 1 2 1 1 1 2 2 1 1 λ λ λ λ λ λ λ λ λ λ ∗ − − − + − − − − × ⎡ ⎤ ⎢ ⎥ ⎢ ⎥ ⎢ ⎥ = ⎢ ⎥ ⎢ ⎥ ⎢ ⎥ ⎢ ⎥ ⎢ ⎥ ⎣ ⎦ … k k k k k k k m m k k k k k k k k k k m m J .Berdasarkan elemen diagonalnya, jelas bahwa jika J∗k →0 maka λk →0. Jadi 1
λ < , artinya ρ
( )
A <1.Sekarang kita akan melihat li ada tetapi nilainya tak nol. Sebelumnya, kita tahu bahwa ada jika dan hanya jika ada untuk setiap blok Jordan. Jika m →∞ k k A lim →∞ k k A lim→∞ * k k J 1
λ = dengan λ≠ (yaitu, 1 λ =eiθ , 0< <θ 2π ) maka diagonal dari blok Jordan, yaitu λ , nilainya akan terus berubah dan hal ini akan membuat k
tidak mempunyai limit. Jika
(
* dan k
BAB II : LANDASAN TEORI * 1 1 1 1 1 × ⎡ ⎛ ⎞ ⎛ ⎞⎤ ⎢ ⎜ ⎟ ⎜ − ⎟⎥ ⎝ ⎠ ⎝ ⎠ ⎢ ⎥ ⎢ ⎥ = ⎢ ⎥ ⎛ ⎞ ⎢ ⎥ ⎜ ⎟ ⎢ ⎝ ⎠ ⎥ ⎢ ⎥ ⎢ ⎥ ⎣ ⎦ k m m k k m k J
mempunyai limit jika dan hanya jika m=1, artinya λ= adalah nilai 1 karakteristik semisimple. Tetapi λ= bisa ada sebanyak buah sehingga 1 terdapat blok Jordan dengan bentuk
p
p J* =
[ ]
11 1x . Akibatnya, ada jika dan hanya jika bentuk Jordan untuk mempunyai bentuk, dimana lim →∞ k k A A 1 − ⎡ = = ⎢ ⎣ ⎦ pxp I 0 J P AP 0 K ⎤
⎥ p=ma(1) dan ρ
( )
K <1. Berikut ini teorema yang menyajikan eksistensi dari limit suatu matriks yang dipangkatkan dengan suatu bilangan tertentu seperti yang telah diuraikan diatas.Teorema 2.26 Untuk matriks A∈ n n× , lim ada jika dan hanya jika
→∞ k k A
(a). ρ
( )
A <1, atau(b). ρ
( )
A =1, dimana λ= adalah satu-satunya nilai karakteristik pada 1lingkaran satuan dan λ= adalah semisimple. 1
2.9 Cesaro Summable
Misal
{ }
αn adalah barisan yang konvergen ke α . Misalkan pula terdapat barisan lain, yaitu{ }
μn yang berkorespondensi dengan{ }
αn dimana1 1 μ α= , 1 2 2 2 α α μ = + , ….. , 1 2 .... n n n α α α μ = + + + .
Barisan
{ }
μn ini disebut dengan barisan Cesaro yang berkorespondensi dengan{ }
αn . Jika lim nn→∞μ =α , maka
{ }
αn n 1 ∞BAB II : LANDASAN TEORI
kata lain, kekonvergenan mengakibatkan summability tetapi summability tidak mengakibatkan kekonvergenan. Sebagai contoh, perhatikan barisan
{
1, 0,1, 0,.... . Barisan ini tidak konvergen, tetapi memiliki summability}
, yang merupakan nilai rata-rata dari1/ 2
{ }
0,1 .Teorema 2.27 Jika
{ }
αn n∞=1 konvergen ke α maka{ }
μn n∞=1 konvergen ke α dimana 1 2 .... nn
n
α α α
μ = + + + .
Bukti. Jika
{ }
αn barisan yang konvergen ke α maka untuk setiap ε > 0terdapat N bilangan bulat positif sehingga α α εn− < / 2 untuk setiap dan terdapat bilangan real
n≥N
β sehingga α α βn− < untuk setiap . Akibatnya, untuk setiap n N n ≥
(
)
(
)
1 2 1 1 1 1 .... 1 1 1 2 2 α α α μ α α α α α α β ε β α α α α = = + = = + + + + − = − = − + − − ≤ − + − < + ≤∑
∑
∑
∑
N n n n k k k N N n k k k k N n n N n N N n n n n n ε + kJika n cukup besar maka
2 N n β ε≤ , sehingga n μ α ε− < . Jadi barisan
{ }
μn konvergen ke α . Hal ini berlaku pula untuk vektor dan matriks dengan mensubtitusikan ∗ dengan norm vektor dan norm matriks.Kita katakan matriks An n× konvergen jika ada dan matriks
summable jika ada. Seperti dalam bilangan, jika konvergen ke G maka summable ke G . Untuk menganalisis bahwa
lim →∞ k k A A
(
2 1 lim ... − / →∞ + + + + k k I A A A)
k A A ABAB II : LANDASAN TEORI
summable adalah dengan memperhatikan bahwa summable jika dan hanya
jika bentuk Jordan untuk juga summable. Dengan kata lain
setiap blok jordan di summable. Akibatnya, tidak mungkin summable
jika A 1 − = J P AP A ∗ J J A
( )
1 ρ A > , karena jika 1 λ λ ∗ ⎡ ⎤ ⎢ ⎥ = ⎢ ⎥ ⎢ ⎥ ⎣ ⎦J adalah blok Jordan dengan λ > , 1
maka setiap elemen diagonal dari lim
(
∗ ∗2 ... ∗ −1)
/ →∞ + + + + k k I J J J k adalah(
)
(
)
2 1 1 ... 1 1 1 1 , 1 1 k k k k k k k λ λ λ λ δ λ λ λ − + + + + ⎛ − ⎞ ⎛ = = ⎜ ⎟= ⎜ − − ⎝ ⎠ ⎝ k λ ⎞ − ⎟ ⎠)
. (2.6) Nilai dari akan menjadi tidak terbatas jika . Dengan kata lain, kita bisa membatasi(
,kδ λ k→ ∞
( )
1ρ A ≤ untuk A menjadi summable. Jika ρ
( )
A <1 maka konvergen (dan summable juga) ke nol. Jadi, kita hanya perlumembuktikan untuk kasus
A
( )
1ρ A = , dimana nilai karakteristiknya terletak pada lingkaran satuan dalam bidang kompleks. Jika λ σ∈
( )
A dimana1, 1
λ = λ ≠ dan jika indeks
( )
λ > maka terdapat blok Jordan 1 1 λ λ ∗ ⎡ ⎤ ⎢ = ⎢ ⎢ ⎥ ⎣ ⎦J ⎥⎥ yang ukurannya lebih besar dari 1 1× . Setiap elemen pada
superdiagonal pertama dari
(
I+J∗+J∗2+ +... J∗k−1)
/k adalah turuan ∂ ∂ δ λ/ dari (2.6). Turunan ini akan berosilasi tidak terbatas jika . Dengan kata lain, tidak summable jika terdapat nilai karakteristikk→ ∞
A λ≠ pada lingkaran 1
satuan dan indeks
( )
λ > . 1Jika λ= dan 1 indeks
( )
λ > , maka tidak summable karena elemen pada 1 superdiagonal pertama dariA
(
2 1)
... lim − ∗ ∗ ∗ →∞ + + + + k k k I J J J adalahBAB II : LANDASAN TEORI
(
)
(
)
1 2 ... 1 1 1 2 2 + + + k− =k k− = k− → k k ∞.Akibatnya, jika ingin ditunjukkan bahwa summable dan memiliki nilai
karakteristik
A
λ sehingga λ = , maka haruslah 1 indeks
( )
λ = . 1Jika λ adalah nilai karakteristik untuk A dimana λ = , blok Jordan 1 11 × yang berkorespondensi dengan λ akan summable, karena (2.6) akan
mengakibatkan
(
2 1)
1 1 1 ... 0, untuk 1, 1 1 1, untuk 1 k k k k k λ λ λ λ λ λ λ λ − ⎧ ⎛ ⎞ + + + + ⎪ ⎜ − ⎟→ = =⎨ − ⎝ ⎠ ⎪ = ⎩ ≠ maka,(
2 1)
[ ]
[ ]
1 1( )
( )
1 11 , jika 1 dan indeks 1 ...
lim 0 , jika 1, 1 dan indeks 1
0, jika 1 λ λ λ λ λ λ − × ∗ ∗ ∗ × →∞ ⎧ = = + + + + ⎪ =⎨ = ≠ = ⎪ < ⎩ k k k I J J J
Akibatnya, jika A summable maka bentuk Jordan untuk A adalah
1 0 0 × − ⎡ ⎤ = = ⎢ ⎥ ⎣ ⎦ p p I J P AP C , dimana p=ma
(
λ= . 1)
Nilai karakteristik untuk C adalah λ < atau 1 λ = , 1 λ≠ dengan 1
( )
indeks λ = , maka C summable ke 0, akibatnya summable ke 1 .
Misalkan dan J ⎡⎢ × ⎤⎥ ⎣ ⎦ p p I 0 0 0
(
1| 2)
= P P P 1 1 2 − ⎛ ⎞ = ⎜⎜ ⎝ ⎠ Q P Q ⎟⎟ , maka(
)
2 1 2 1 1 1 1 1 2 1 1 2 ... ... 0 0 | 0 0 0 0 − − − ∗ ∗ ∗ × − × ⎛ + + + + ⎞ + + + + = ⎜ ⎟ ⎝ ⎠ ⎛ ⎞ ⎡ ⎤ ⎡ ⎤ → ⎢ ⎥ = ⎢ ⎥ ⎜⎜ ⎟⎟= ⎣ ⎦ ⎣ ⎦ ⎝ ⎠ k k p p p p k k I J J J I A A A P P Q I I P P P P P Q Q = GBAB II : LANDASAN TEORI
Berdasarkan Teorema 2.9(b) maka G adalah proyektor pada sepanjang
(
−)
N I A
(
−)
R I A . Berikut ini adalah ringkasan singkat dalam Teorema 2.28
mengenai Cesaro Summable yang telah dijelaskan sebelumnya.
Teorema 2.28 A∈ n n× disebut Cesaro Summable jika dan hanya jika
(a). ρ
( )
A <1, atau(b). ρ
( )
A =1 dengan setiap nilai karakteristik pada lingkaran satuan bersifat semisimple.Jika ada, limit Cesaro, yaitu