PENGARUH KEPADATAN LARVA Aedes aegypti DAN KEKERINGAN
TERHADAP SURVIVAL DAN PATOGENISITAS CENDAWAN
Aspergillus niger
Oleh:
DENY KURNIAWAN
G34104016
DEPARTEMEN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2010
ABSTRAK
DENY KURNIAWAN. Pengaruh Kepadatan Larva Aedes aegypti dan Kekeringan Terhadap Survival dan Patogenisitas Cendawan Aspergillus niger. Dibimbing oleh NAMPIAH SUKARNO, dan UPIK KESUMAWATI HADI.
Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh kepadatan larva Aedes aegypti dan kekeringan terhadap survival dan patogenisitas cendawan Aspergillus niger. Pengaruh kepadatan larva terhadap survival dan patogenisitas cendawan dipelajari pada larva instar III, sedangkan pengaruh kekeringan dipelajari pada telur A. aegypti. Uji survival dan patogenisitas A. niger terhadap larva A. aegypti dilakukan pada media air kran tidak steril. Cendawan yang digunakan ialah A. niger transgenik yang mempunyai marker penanda molekuler gfp. Perlakuan kepadatan larva yang digunakan ialah 10, 50, 100, 150, dan 200 ekor, sedangkan telur yang digunakan ialah telur yang berumur satu minggu. Parameter yang diamati ialah jumlah koloni cendawan A. niger, kematian larva, dan daya tetas telur A. aegypti. Survival cendawan pada media air menurun pada hari kedua pada semua perlakuan. Jumlah koloni cendawan pada hari kedua setelah inokulasi menurun dari 1x108 menjadi sekitar 225 spora per ml media dan pada hari keenam menjadi 30 spora per ml. Pada hari ketujuh terjadi peningkatan kembali menjadi sekitar 40 spora per ml. Kematian larva terjadi mulai pada hari ketiga inkubasi. Kematian larva pada hari ketiga inkubasi pada kepadatan 10, 50, 100, 150, dan 200 ekor larva, masing-masing ialah sebesar 6.7, 9.3, 13.0, 18.0, dan 21.5%. Kematian larva terus meningkat sampai pada hari keempat belas inkubasi yaitu menjadi 33.3, 38.7, 52.0, 54.4, dan 58.5% untuk masing-masing perlakuan kepadatan larva. Patogenisitas A. niger terhadap telur A. aegypti sangat tinggi. Sebanyak 200 butir telur A. aegypti yang diinokulasi A. niger dan diinkubasi selama empat belas hari seluruhnya tidak menetas.
ABSTRACT
DENY KURNIAWAN. Effect of larval density of Aedes aegypti and dryness on survival and pathogenicity of Aspergillus niger. Supervised by NAMPIAH SUKARNO, and UPIK KESUMAWATI HADI.
The aim of the experiment was to study the effect of Aedes aegypti larval density and dryness on survival and pathogenicity of Aspergillus niger. The effect of larval density on survival and pathogenicity of A. niger was studied using instar III of A. aegypti larvae, whereas the effect of dryness was studied on A. aegypti egg. The survival and pathogenicity test of A. niger on A.
aegypti larvae were carried out in unsterilized tap water. The fungi used was A. niger carrying gfp
gene as a marker. The treatment of larval density used were 10, 50, 100, 150, and 200 larvae. The number and age of eggs used were 200 and a week-old, respectively. Parameters measured were number of A. niger colony, larval mortality, and eggs hatching. The result showed that fungal survival that indicated by number of colony reduced from 1x108
spores in first day to 225 spores in the second day and the reduction continued until 6 days after incubation to 30 spores. At 7 days incubation, the colony increased to 40 spores. A. niger had high pathogenicity on larvae and eggs of A. aegypti. The mortality of larvae at all treatments started at 3 days after inoculation. The mortality at 3 days after inoculation were 6.7, 9.3, 13.0, 18.0, and 21.5% at 10, 50, 100, 150, and 200 larval, respectively. The mortality increased at 14 days after inoculation. The values were 33.3, 38.7, 52.0, 54.4, and 58.5% at 10, 50, 100, 150, and 200 larval density treatment, respectively. The A. niger had high pathogenicity on A. aegypti eggs. All of eggs tested did not hatch after inoculated by A. niger and incubated for 14 days.
PENGARUH KEPADATAN LARVA Aedes aegypti dan KEKERINGAN
TERHADAP SURVIVAL DAN PATOGENISITAS CENDAWAN
Aspergillus niger
Skripsi
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Sains
pada Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Institut Pertanian Bogor
Oleh:
Deny Kurniawan
G34104016
DEPARTEMEN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2010
Judul : Pengaruh Kepadatan Larva Aedes aegypti dan Kekeringan Terhadap
Survival dan Patogenisitas Cendawan Aspergillus niger.
Nama : Deny Kurniawan
NIM : G34104016
Menyetujui :
Pembimbing I,
Pembimbing II,
Dr. Ir. Nampiah Sukarno
Dr. drh. Upik Kesumawati H, MS
NIP 19590504 198703 2 001
NIP 19581023 1984 03 2001
Mengetahui :
Ketua Departemen
Dr. Ir. Ence Darmo Jaya Supena, M. Si
NIP 19641002 198903 002
PRAKATA
Alhamdulillah, puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT, atas segala karunia yang telah dilimpahkan-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan karya ilmiah yang berjudul Pengaruh Kepadatan Larva Aedes aegypti dan Kekeringan Terhadap Survival dan Patogenisitas Cendawan Aspergillus niger. Karya ilmiah ini dilaksanakan dari bulan Februari 2008 sampai dengan April 2009 bertempat di Bagian Mikologi FMIPA IPB dan Laboratorium Entomologi FKH IPB.
Terima kasih penulis ucapkan kepada Ibu Dr. Ir. Nampiah Sukarno dan Ibu Dr. drh. Upik Kesumawati Hadi, MS selaku pembimbing yang telah memberikan saran, bimbingan, dan motivasi serta kepada Ibu Dra. Hilda Akmal selaku penguji yang telah memberikan saran dan kritik dalam penyusunan karya ilmiah ini. Ucapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada Bapak, Ibu, dan adikku atas doa, kasih sayang, dan dukungannya. Terima kasih juga penulis ucapkan kepada staf Laboratorium Entomologi FKH IPB, staf Bagian Mikologi, Mba Rida, Teh Yuli, Sinta, Yadi, Andik, dan teman-teman di Lab Mikologi, Mba Nindi, K Miftah, teman-teman kost COKLAT, rekan-rekan Biologi 41 atas bantuan, perhatian, dan persahabatannya dalam penyelesaian Karya Ilmiah ini.
Semoga karya ilmiah ini bermanfaat.
Bogor, April 2010
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Jakarta tanggal 3 Desember 1985 dari ayah Hadi Suroyo dan ibu Purwati. Penulis merupakan anak kedua dari tiga bersaudara. Tahun 2004 penulis lulus dari SMU YPI 45 Bekasi dan pada tahun yang sama diterima di Institut Pertanian Bogor melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI). Penulis memilih Departemen Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam.
Selama mengikuti perkuliahan penulis pernah menjadi asisten mata kuliah Ekologi Dasar tahun ajaran 2004/2005, mata kuliah Biologi Dasar 2006/2007 dan 2007/2008, mata kuliah Fisiologi Tumbuhan tahun ajaran 2006/2007, dan mata kuliah Biologi Cendawan tahun ajaran 2007/2008. Penulis juga pernah aktif sebagai anggota BEM FMIPA periode 2006/2007 dan kegiatan ekstrakurikuler dalam bidang kewirausahaan di Departemen Biologi yaitu BIOWORLD dan turut serta sebagai panitia dalam berbagai kegiatan kemahasiswaan. Penulis pernah mendapat beasiswa BBM pada tahun 2006/2007, dan 2007/2008. Penulis melaksanakan praktik lapangan dengan judul Tatalaksana Pemberian Pakan pada Sapi Perah di PT Susu Surya Sukabumi, Jawa Barat pada bulan Januari 2007.
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL ………... DAFTAR GAMBAR ……….. DAFTAR LAMPIRAN ………... PENDAHULUAN ………... Tujuan ……… Waktu dan Tempat ………... BAHAN DAN METODEAlat dan Bahan ……….. Metode Penelitian ………... Produksi telur dan larva nyamuk A. aegypti ………... Produksi cendawan ………... Survival cendawan A. niger pada air kran tidak steril. …………... Patogenisitas cendawan A. niger terhadap larva A. aegypti ……...….…………... Pengaruh A. niger terhadap penetasan telur A. aegypti ………….……… Uji Postulat Koch ………...…. Morfologi larva mati akibat inokulasi A. niger. ………...…………. Analisis Data ………... HASIL DAN PEMBAHASAN
Survival cendawan A. niger pada air kran tidak steril. ……….. Patogenisitas cendawan A. niger terhadap larva A. aegypti ……….. Pengaruh A. niger terhadap penetasan telur A. aegypti ………..…….. Uji Postulat Koch. …...………...……... Morfologi larva mati akibat inokulasi A. niger. ………..……….. SIMPULAN ……….… SARAN ……… DAFTAR PUSTAKA ……….. LAMPIRAN ……...……….
Halaman
3 4 4 4 4 4 3 3 3 3 3 4 8 9 8 6 4 10 10 10 12 1 viii viii viiiDAFTAR TABEL
Pengaruh jumlah larva A. aegypti terhadap populasi cendawan A. niger pada hari keempat belas. .. Pengaruh inokulum cendawan A. niger terhadap telur A. aegypti.………
DAFTAR GAMBAR
Jumlah koloni A. niger selama 7 hari inkubasi. A) Botol selanjutnya ditambahkan 10 ekor larva pada hari kedelapan, B) Botol selanjutnya ditambahkan 50 ekor larva pada hari kedelapan, C) Botol selanjutnya ditambahkan 100 ekor larva pada hari kedelapan, D) Botol selanjutnya ditambahkan 150 ekor larva pada hari kedelapan, dan E) Botol selanjutnya ditambahkan 200 ekor larva pada hari kedelapan. Jumlah koloni pada perlakuan inokulasi A. niger sebelum pemberian larva A. aegypti (SI), dan jumlah koloni pada perlakuan tanpa inokulasi (kontrol) sebelum pemberian larva A. aegypti. …...……….…….……….. Koloni A. niger hasil uji survival yang ditumbuhkan pada media PDA. ………..…………... Kurva persentase kematian larva A. aegypti pada berbagai kepadatan dibandingkan dengan masing-masing kontrol selama 14 hari inkubasi. A) Kepadatan 10 ekor larva, B) Kepadatan 50 ekor larva, C) Kepadatan 100 ekor larva, D) Kepadatan 150 ekor larva, dan E) Kepadatan 200 ekor larva. Jumlah larva (L), Inokulasi A. niger (I), dan tanpa inokulasi A. niger (K). …….…..…… Koloni A. niger hasil uji postulat Koch. ……...……….. Proses kolonisasi cendawan pada larva. A) Miselium yang menembus saluran pencernaan (perbesaran 100x), B) Miselium yang tumbuh di sela antar sekat (perbesaran 100x), dan C) Kepala konidia (perbesaran 400x). ………...
DAFTAR LAMPIRAN
Struktur mikroskopis Aspergillus niger ... Jumlah koloni cendawan A. niger sebelum penambahan larva A. aegypti ... Persentase kematian pada berbagai kepadatan larva A. aegypti yang diinokulasi A. niger dibandingkan dengan kontrol ... Persentase kematian larva pada tiap-tiap kepadatan larva A. aegypti yang diinokulasi A. niger ...
Halaman
Halaman
Halaman
16 15 13 14 9 9 7 6 5 8 8 viii 1 2 1 2 3 4 5 2 3 4 1PENDAHULUAN
Demam Berdarah Dengue (DBD) masih merupakan masalah kesehatan utama di banyak negara sub tropis dan tropis. Penyakit ini menyebar baik di pedesaan maupun di perkotaan serta menimbulkan kejadian luar biasa (KLB) di berbagai daerah. Pandemi DBD mulai timbul di Asia pada masa perang dunia ke-2. Akibat proses urbanisasi penduduk guna mencari penghidupan, tempat tinggal, dan pekerjaan serta migrasi ke daerah-daerah lain sebagai dampak perang dunia ke-2, penyebaran dengue semakin meluas. Epidemi pertama DBD di Asia Tenggara terjadi di Manila, Filipina pada tahun 1954. Semakin sering terjadi, hingga pada tahun 1995 DBD telah menjadi penyebab utama kematian pada anak-anak di berbagai negara Asia (Gubler 1997).
Di Indonesia, DBD pertama kali dicurigai di Surabaya pada tahun 1968, tetapi konfirmasi virologis baru diperoleh pada tahun 1970. Tahun 1972 kasus DBD berturut-turut dilaporkan di Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta. Dari tahun 1968 sampai tahun 1972 wabah hanya dilaporkan di Pulau Jawa. Epidemi pertama di luar Pulau Jawa dilaporkan pada tahun 1972 di Sumatera Barat dan Lampung, disusul pada tahun 1973 di Riau, Sulawesi Utara dan Bali. Pada tahun 2007 sebanyak 1.256 orang meninggal dari 123.828 kasus (Suharyono et
al. 2007).
Penyakit DBD disebabkan oleh virus dari famili Flaviridae yang ditularkan oleh nyamuk (arthropod borne virus =
arbovirus). Virus tersebut mempunyai 4
serotipe yaitu DEN-1, DEN-2, DEN-3 dan DEN-4.
Di Indonesia, vektor utama virus dengue yang menyebabkan penyakit demam berdarah adalah Aedes aegypti dan A.
albopictus. Nyamuk A. albopictus hidup di
semak-semak dan berada di luar rumah di pepohonan, kebun, atau kawasan pinggir hutan serta di pedesaan (Hadi & Koesharto 2006), sedangkan A. aegypti bersifat antropofilik (senang pada manusia) dan menyukai genangan air bersih untuk tempat berbiaknya, sehingga yang banyak berperan menularkan DBD adalah A. aegypti. Selain penyakit DBD, nyamuk A. aegypti juga dapat menularkan penyakit cikungunya (Hadi & Koesharto 2006), filariasis serta demam kuning.
Sampai saat ini pengobatan untuk DBD belum ditemukan, sedangkan pengobatan yang ada hanya bersifat menyembuhkan gejala yang terjadi. Oleh karena itu, cara pencegahan yang dilakukan adalah dengan memutus siklus hidup nyamuk vektor. Cara-cara pencegahan vektor yang umum dilakukan adalah dengan cara mekanis, kimiawi, dan menggunakan agen biotik. Cara mekanis yaitu dengan upaya-upaya penghilangan tempat berkembang biak nyamuk A. aegypti seperti gerakan 3M (Menguras, Menutup tempat penampungan dan Mengubur barang-barang bekas), dan menjaga kebersihan lingkungan. Adapun cara kimiawi menggunakan insektisida. Insektisida dapat menyebabkan resistensi terhadap serangga target atau membunuh serangga nontarget, meninggalkan residu pada lingkungan serta menyebabkan gangguan kesehatan pada manusia.
Nyamuk A. aegypti termasuk ke dalam kelas Insekta, ordo Diptera, subordo Nematocera, famili Culicidae, subfamili Culicinae, dan genus Aedes (Borror & White 1970). Nyamuk A. aegypti mengalami metamorfosis sempurna, yaitu telur, larva (jentik), pupa, dan dewasa.
Nyamuk penular demam berdarah adalah A. aegypti dan A. albopictus. Nyamuk dari genus Aedes ini berwarna belang hitam putih, tersebar di daerah tropis, tetapi berasal dari Afrika. Nyamuk Aedes dapat dibedakan dari jenis nyamuk umum lainnya dengan melihat ujung abdomen (perut) yang meruncing. Aedes yang berperan sebagai vektor penyakit, semuanya tergolong dari subgenus Stegomyia, dengan ciri-ciri tubuhnya memiliki corak belang hitam putih pada toraks (dada), abdomen (perut), dan tungkai (kaki). Corak ini merupakan sisik yang menempel di luar tubuh nyamuk (Hadi & Koesharto 2006).
Nyamuk A. aegypti umumnya berkembang biak dalam tempat penampungan air yang tidak beralaskan tanah seperti bak mandi, tempayan, drum, vas bunga, dan barang bekas yang dapat menampung air hujan di daerah urban dan suburban. A. albopictus juga memiliki sifat yang sama namun lebih banyak terdapat di luar rumah.
Telur Aedes berwarna hitam, oval, dengan permukaan poligonal, serta berwarna hitam. Telur diletakkan satu persatu atau berkelompok di dekat permukaan air di
dinding wadah. Jumlah telur untuk satu kali masa bertelur berkisar antara 100-400 butir. Apabila telur ini dalam keadaan kering, telur dapat bertahan (dorman) selama beberapa minggu atau bahkan hingga satu tahun. Ketika wadah air tersebut berisi air lagi seluruh bagian telur terendam air, maka telur tersebut akan menetas menjadi jentik (larva).
Jentik nyamuk tidak berlengan, dadanya lebih lebar dari kepalanya. Kepalanya berkembang baik dengan sepasang antena dan mata majemuk, serta sikat mulut yang menonjol. Stadium larva atau jentik, sewaktu istirahat tubuhnya membentuk sudut dengan permukaan air. Makanan larva berupa berupa alga, bakteri, dan bahan-bahan kecil sebesar 20-100 mikron. Jentik mengalami empat kali proses pergantian kulit (instar) dan dalam kondisi yang sesuai akan berkembang menjadi pupa (kepompong) dalam waktu 6-8 hari (Hadi & Koesharto 2006).
Stadium selanjutnya adalah pupa, merupakan stadium terakhir berada dalam air. Pupa berbentuk koma dengan kepala yang besar. Stadium pupa ini adalah stadium tidak makan. Bila terganggu dia akan bergerak naik turun di dalam wadah air. Setelah menjadi pupa, akhirnya menjadi imago (dewasa) yang dapat terbang dan keluar dari air (Hadi & Koesharto 2006).
Nyamuk betina biasanya sangat aktif di dalam rumah atau kadang-kadang juga di luar rumah. Pada malam hari nyamuk ini beristirahat di dalam rumah pada benda-benda yang digantung di dinding atau di luar rumah dekat dengan tempat berbiaknya yang agak gelap. A. aegypti mempunyai kebiasaan menggigit berulang kali (multiple bitters) yaitu menggigit beberapa orang secara bergantian dalam waktu yang singkat. Hal ini disebabkan dia sangat sensitif dan mudah terganggu. Keadaan ini sangat membantunya dalam memindahkan virus ke beberapa orang sekaligus sehingga dilaporkan adanya beberapa orang penderita DBD pada satu rumah.
Nyamuk A. aegypti aktif pada siang hari antara pukul 08.00-13.00 dan sore pukul 15.00-17.00. Nyamuk betina mengisap darah dan nyamuk jantan menghisap madu, air gula, atau air buah-buahan. Nyamuk betina yang telah mengisap darah, tiga hari sesudahnya mampu bertelur sebanyak 100 butir dan 24 jam kemudian nyamuk itu dapat mengisap darah kembali untuk selanjutnya kembali bertelur. Siklus hidup bisa lengkap hanya dalam waktu satu minggu atau lebih,
tergantung pada suhu, makanan, spesies dan faktor lain (Hadi & Koesharto 2006).
Pengendalian A. aegypti sebagai vektor DBD dapat ditunjukkan pada individu maupun populasinya. Seperti serangga pada umumnya, stadium terlemah dalam siklus hidupnya adalah stadium larva (Putra 1995). Tekanan pengendalian pada sasaran ini adalah memutus siklus hidupnya. Stadium larva sangat rentan karena hampir seluruh masa hidupnya dilakukan di dalam air dan media tersebut mempermudah dalam pengamatan. Dalam perkembangannya, pertumbuhan larva dipengaruhi oleh banyak faktor, yaitu suhu, nutrisi, predator atau parasit. Oleh karena itu, aplikasi penggunaan cendawan entomopatogen sangat baik dilakukan pada stadium ini. Pada stadium berikutnya, yaitu telur merupakan stadium yang paling tahan terhadap perubahan lingkungan. Namun telur bersifat nonmotil atau tidak dapat bergerak, sehingga memudahkan infeksi cendawan entomopatogen dan melihat pengaruh kekeringan dalam pertumbuhan cendawan.
Sensitivitas stadium telur terhadap kolonisasi cendawan entomopatogen lebih rendah dari larva namun telur merupakan salah satu stadium nyamuk Aedes yang tahan terhadap kekeringan dalam waktu yang lama (Hadi & Koesharto 2006), sehingga stadium telur diduga berperan penting dalam menjaga kelangsungan hidup cendawan pada saat mengalami proses kekeringan.
Dalam rangka upaya pengendalian nyamuk vektor DBD, penelitian dalam skala laboratorium digunakan air steril dan tidak steril dan telah menghasilkan beberapa isolat potensial yang mampu membunuh lebih dari 80% larva nyamuk dari berbagai instar dalam waktu yang relatif singkat yaitu kurang dari 12 jam. Salah satu isolat yang potensial tersebut ialah A. niger (Natalia et
al. 2000; Oktaviani 2007). Cendawan ini
mempunyai potensi yang baik sebagai agen pengendali hayati nyamuk A. aegypti jika dibandingkan dengan isolat-isolat yang dipakai di luar negeri seperti Amerika karena bersifat parasitik fakultatif sehingga mudah untuk diperbanyak. Selain itu, isolat tersebut telah berhasil disisipi dengan gen
gfp yang dapat digunakan sebagai penanda
khusus untuk mempelajari kelangsungan hidup, ekologi, proses kolonisasi, dan interaksi antara cendawan dengan inang di alam (Lorang et al. 2001). Oleh karena itu diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai
survival dan patogenisitas cendawan A. niger terhadap larva dan telur nyamuk A. aegypti. Kepadatan larva A. aegypti sebagai
inang diduga dapat mempengaruhi survival dan patogenisitas cendawan A. niger sebagai cendawan entomopatogen. Telur A. aegypti merupakan stadium yang tahan terhadap kekeringan sehingga perlu dilakukan penelitian terhadap kemampuan cendawan dalam mengendalikan daya tetas telur. Informasi ini diperlukan untuk mengetahui
survival cendawan pada kondisi kekeringan
dan pengaruhnya terhadap pengendalian nyamuk A. aegypti terutama pada stadium telur.
Cendawan A. niger merupakan cendawan kosmopolit asal tanah. Cendawan
A. niger tergolong dalam kelas Deuteromycetes, Famili Moniliaceae, dan Genus Aspergillus (Kiffer & Morelet 2000). Secara mikroskopik memiliki hifa septat dan tidak berwarna. Koloni pada agar Czapek pada suhu 250C memiliki diameter sekitar 4-5 cm slama 7 hari inkubasi, dengan bagian yang padat berwarna putih atau kuning bila dilihat pada bagian belakang media, dan konidiospora berwarna coklat gelap atau hitam. Kepala konidia berbentuk radiat. Konidiofor berdinding tipis, hialin, namun sering berwarna coklat. Vesikel berbentuk globus atau subglobus, dan berdiameter 50-100 µm. Fialid tumbuh pada metula, dengan metula berwarna hialin atau coklat. Konidia berbentuk glabus atau subglobus dengan
diameter 3.5-5 µm (Samson & van Reenen-Hoekstra 1998).
Penyebaran utama cendawan entomopatogen ini ialah dengan cara menghasilkan propagul yang infektif dalam jumlah besar ke lingkungan. Siklus infeksi akan berlanjut apabila inang yang rentan melakukan kontak dengan propagul cendawan yang infektif sehingga keberhasilan dari penyebaran cendawan tersebut bergantung pada kerapatan (jumlah) populasi inang yang rentan. Karena keberhasilan kolonisasi pada inang bergantung pada jumlah inokulum yang tinggi maka cendawan melakukan eksploitasi inang untuk menghasilkan jumlah spora atau miselium yang sangat besar. Sedangkan di alam, penyebaran inang tidak homogen sehingga peluang kontak dengan cendawan entomopatogen ini rendah. Oleh karena itu, perlu dipelajari pengaruh jumlah larva pada populasi yang
berbeda dan ketahanan telur terhadap infeksi patogen.
Tujuan
Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh kepadatan larva nyamuk A. aegypti sebagai inang terhadap survival dan patogenisitas cendawan A.
niger pada larva dan telur nyamuk A. aegypti tersebut.
Waktu dan Tempat
Penelitian ini dilaksanakan mulai bulan Januari 2008 sampai dengan Maret 2009 di Laboratorium Mikologi dan Laboratorium Entomologi Fakultas Kedokteran Hewan (FKH), Institut Pertanian Bogor.
BAHAN DAN METODE
Alat dan Bahan
Alat yang digunakan adalah botol selai ukuran 300 ml, tabung Falcon 15 ml, mikroskop cahaya dan flourescens, nampan plastik, pipet mikro, dan peralatan umum laboratorium mikologi lainnya. Bahan yang digunakan ialah telur koleksi Laboratorium Entomologi FKH-IPB, larva nyamuk A.
aegypti instar III, kloroks 1%, Tween 80
1%, media Potato Dextrose Agar (PDA) yang mengandung antibiotik higromisin, dan hati ayam.
Metode
Produksi telur dan larva nyamuk A. aegypti.
Larva A. aegypti yang bebas dari infeksi patogen (larva steril) diproduksi dari telur koleksi Laboratorium Entomologi FKH, IPB. Telur tersebut ditetaskan dalam nampan berisi air hingga menetas menjadi larva instar I, kemudian diberi makan hati ayam rebus selama beberapa hari sampai terbentuk pupa. Pupa-pupa dimasukkan ke dalam wadah plastik berisi air kemudian dipelihara di dalam kandang nyamuk sampai stadium dewasa (nyamuk). Nyamuk dewasa akan melakukan perkawinan, dan setelah beberapa hari nyamuk-nyamuk tersebut diberikan pakan darah marmut untuk merangsang pengeluaran telur. Nyamuk betina yang telah diberi makan darah setelah 2-3 hari akan meletakkan telurnya pada permukaan kertas saring yang direndam
pada wadah gelap berisi air yang sisinya telah ditempelkan kertas untuk memerangkap telur. Telur-telur kemudian dikeringudarakan dan disimpan dalam wadah tertutup untuk kemudian ditetaskan kembali untuk perlakuan.
Produksi Cendawan.
Cendawan A. niger diperbanyak pada media PDA yang mengandung antibiotik kloramfenikol dan higromisin sebanyak 50 mg/ml selama 7-14 hari. Spora dipanen dengan cara dikerok menggunakan batang pengaduk kemudian dimasukkan ke dalam cairan Tween 80 1% steril (Tarrand et al. 2005; Glare & Milner 1991). Jumlah spora dapat dihitung dengan menggunakan hemasitometer (Neubauer chamber). Spora yang dibutuhkan sebanyak 1x108 spora per ml.
Survival cendawan A. niger pada air kran tidak steril.
Sebanyak 1x108 spora diinokulasikan ke dalam botol berukuran 300 ml yang berisi 150 ml air kran, selanjutnya cairan yang mengandung spora di dalam botol diinkubasi selama 7 hari. Pemanenan dilakukan dengan mengambil sampel cairan sebanyak 100 µl kemudian ditumbuhkan pada media PDA yang mengandung 50 mg/ml higromisin dan kloramfenikol. Media tersebut selanjutnya diinkubasi selama 1 hari dan diamati di bawah mikroskop cahaya guna memastikan koloni yang tumbuh adalah cendawan A.
niger serta pengamatan di bawah mikroskop
stereo untuk menghitung jumlah koloni yang tumbuh.
Patogenisitas cendawan A. niger terhadap larva A. aegypti.
Setelah dilakukan pengambilan sampel cairan pada hari ketujuh botol percobaan untuk daya survival cendawan A.
niger selanjutnya dibagi kedalam 5 kelompok; yaitu kelompok pertama, ditambahkan 10 ekor larva; kelompok ke-2, ditambahkan 50 ekor larva; kelompok ke-3, ditambahkan 100 ekor larva; kelompok ke-4, ditambahkan 150 ekor larva; dan kelompok ke-5, ditambahkan 200 ekor larva. Setiap botol diinkubasi pada suhu ruang selama 14 hari. Pengamatan terhadap kematian larva dilakukan setiap hari dan penghitungan terhadap jumlah koloni dilakukan pada inkubasi hari ketujuh dan hari keempat belas. Setiap perlakukan diulang sebanyak 3 kali.
Pengaruh A. niger terhadap penetasan telur A. aegypti.
Sebanyak 1x108
spora dalam 1 ml larutan diinokulasikan pada 200 telur yang diletakkan di dalam cawan dan diinkubasi selama 7 hari. Setelah 7 hari telur ditetaskan dengan cara direndam dengan air kran dan dihitung jumlah telur yang telah menetas menjadi larva. Perlakuan diulang sebanyak 3 kali.
Uji Postulat Koch.
Larva nyamuk yang mati diambil dari botol kultur kemudian direndam di dalam klorox satu persen selama satu menit dan dibilas dengan air steril selama satu menit sebanyak 2 kali, kemudian dibiarkan kering pada kertas tisu steril. Setelah kering, larva diinokulasikan pada media PDA yang ditambah antibiotik higromisin dan diinkubasi selama 3-4 hari.
Morfologi larva mati akibat inokulasi A. niger.
Larva dikatakan mati apabila memiliki ciri, yaitu: tidak bergerak sama sekali atau sudah tidak berenang, warna tubuh pucat, kondisi tubuh masih utuh atau hanya beberapa bagian tubuh saja yang rusak, berada di dasar botol atau mengapung di permukaan air. Larva yang mati diletakkan di atas gelas objek dan diberi gliserin kemudian ditutup kaca penutup untuk dibuat preparat semi permanen untuk kemudian diamati di bawah mikroskop cahaya. Larva yang mati diamati seluruh bagian tubuhnya, mulai dari kepala hingga ekor guna mencari bagian yang terinfeksi oleh cendawan.
Analisis Data.
Data pertumbuhan koloni dianalisis secara statistik menggunakan program SAS dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dan dilanjutkan dengan uji Duncan pada taraf α=5%.
HASIL DAN PEMBAHASAN I. Survival cendawan A. niger pada air kran tidak steril.
Spora cendawan entomopatogen A.
niger yang ditumbuhkan pada media air
kran tumbuh, dan membentuk koloni, tetapi populasinya menurun selama masa inkubasi.
A
4
C
B
Gambar 1 Jumlah koloni A. niger selama 7 hari inkubasi. A) Botol selanjutnya ditambahkan 10 ekor larva pada hari kedelapan, B) Botol selanjutnya ditambahkan 50 ekor larva pada hari kedelapan, C) Botol selanjutnya ditambahkan 100 ekor larva pada hari kedelapan, D) Botol selanjutnya ditambahkan 150 ekor larva pada hari kedelapan, dan E) Botol selanjutnya ditambahkan 200 ekor larva pada hari kedelapan. Jumlah koloni pada perlakuan inokulasi A. niger sebelum pemberian larva A. aegypti (SI), dan jumlah koloni pada perlakuan tanpa inokulasi (kontrol) sebelum pemberian larva A. aegypti.
Populasi cendawan menurun dengan tajam pada hari kedua setelah inkubasi dan penurunan ini terus berlanjut sampai pada hari ketujuh sebelum inokulasi, kecuali pada perlakuan botol D (Gambar 1). Pada hari keenam inkubasi, jumlah koloni A. niger tumbuh mendekati nilai pada perlakuan kontrol atau tanpa inokulasi cendawan. Secara umum jumlah populasi cendawan
mulai meningkat kembali pada hari ketujuh inkubasi, kecuali pada perlakuan botol C yang menunjukkan penurunan jumlah koloni. Pada perlakuan botol A jumlah koloni pada hari kedua sudah terjadi penurunan dari jumlah koloni sebanyak 210 menjadi 85 koloni. Pada hari ketiga populasi cendawan naik kembali menjadi 100 koloni, dan pada hari keenam jumlah koloninya
A
B
C
E
mendekati jumlah koloni pada kontrol. Pada hari ketujuh inkubasi, populasi mulai meningkat kembali menjadi 35 koloni. Pada perlakuan botol B, jumlah koloni pada inkubasi hari kedua terjadi penurunan dari 230 koloni menjadi 105 koloni. Pada hari ketiga terjadi peningkatan menjadi 120 koloni dan terjadi penurunan kembali hingga hari keenam dan ketujuh dengan jumlah mendekati kontrol. Pada perlakuan botol C juga terjadi penurunan jumlah koloni pada hari kedua yaitu dari 200 koloni menjadi 85 koloni, dan terjadi peningkatan pada hari ketiga menjadi 145 koloni serta terjadi penurunan kembali hingga hari ketujuh dengan jumlah mendekati kontrol. Pada perlakuan botol D, terjadi penurunan jumlah populasi pada inkubasi hari kedua, yaitu dari 160 menjadi 110 koloni dan populasi meningkat kembali menjadi 130 koloni pada hari ketiga. Pada hari berikutnya terjadi penurunan jumlah koloni sampai mendekati kontrol. Pada perlakuan botol E, terjadi penurunan di hari kedua dari 200 koloni menjadi 85 koloni, dan naik kembali pada hari ketiga menjadi 120 koloni. Selanjutnya terjadi penurunan hingga hari keenam bahkan sampai pada jumlah di bawah jumlah populasi kontrol. Kemudian populasi meningkat kembali pada hari ketujuh yaitu menjadi 55 koloni sedangkan pada kontrol sebanyak 25 koloni. Cendawan A. niger merupakan cendawan asal tanah yang bersifat parasit fakultatif sehingga sangat mudah beradaptasi pada berbagai macam lingkungan. Walaupun cendawan asal tanah,
A. niger mampu bertahan pada kondisi
lingkungan air. Penurunan jumlah kolonisasi cendawan pada penelitian ini kemungkinan disebabkan oleh tidak bisa beradaptasinya
A. niger transforman yang mengandung gen gfp di lingkungan akuatik.
Koloni yang tumbuh pada pemberian inokulum spora yang ditumbuhkan di media PDA dengan penambahan antibiotik higromisin menunjukkan ciri-ciri yang sama dengan A. niger yang digunakan (Gambar 2). Pada perlakuan sebelum inokulasi larva yang tidak mendapat inokulum spora (kontrol) terdapat koloni A. niger yang terhitung. Hal ini diduga media air yang dipakai merupakan air keran yang tidak disterilisasi agar menyerupai keadaan seperti di lapang. Sehingga diduga terdapat cendawan A. niger alami yang resisten terhadap antibiotik higromisin yang tumbuh sebagai kontaminan.
Gambar 2 Koloni A. niger hasil uji survival yang ditumbuhkan pada media PDA.
II. Patogenisitas cendawan A. niger terhadap larva A. aegypti.
Pada perlakuan patogenisitas cendawan A. niger terhadap larva A. aegypti, menunjukkan bahwa terjadi kematian larva pada semua perlakuan kepadatan (Gambar 3) Persentase kematian meningkat seiring meningkatnya kepadatan populasi larva A.
aegpti. Pada kepadatan 10 ekor larva (kurva
A), kematian larva yang mendapat inokulum cendawan mempunyai jumlah kematian lebih rendah dari perlakuan yang tidak mendapat inokulasi cendawan.
A
A
B
6
B
A
6
Gambar 3 Kurva persentase kematian larva A. aegypti pada berbagai kepadatan dibandingkan dengan masing-masing kontrol selama 14 hari inkubasi. A) Kepadatan 10 ekor larva, B) Kepadatan 50 ekor larva, C) Kepadatan 100 ekor larva, D) Kepadatan 150 ekor larva, dan E) Kepadatan 200 ekor larva. Jumlah larva (L), Inokulasi A. niger (I), dan tanpa inokulasi A. niger (K).
Pada kurva kepadatan 50 ekor larva (kurva B), kematian larva yang mendapat inokulum cendawan hampir sama atau mendekati kematian larva yang tidak diberi inokulum cendawan. Hal ini mungkin terjadi karena larva yang dimasukkan ke dalam botol perlakuan kondisinya tidak sehat. Pada kepadatan larva 100, 150, dan 200 ekor pada perlakuan tersebut terjadi perubahan jumlah kematian larva yang signifikan antara larva yang mendapat inokulasi dengan perlakuan kontrol. Pada kepadatan 100 ekor larva (kurva C), pada hari kedua terjadi kematian larva sebesar 0.3%, dan pada hari ke empat belas selama perlakuan persentase kematian larva naik menjadi 52.0%. Sedangkan pada perlakuan kontrol dengan larva 100 ekor, kematian larva pada hari kedua sebesar 2.0% dan terus meningkat hingga hari keempat belas menjadi 20.0%. Pada kurva kepadatan 150 ekor larva (kurva D), persentase kematian pada perlakuan yang mendapat inokulasi pada hari kedua inkubasi sebesar 0.4% sedangkan pada perlakuan kontrol sebesar 2.0%. Pada hari keempat belas persentase kematian larva pada yang diinokulasi sebesar 54.4% sedangkan yang
tidak diinokulasi atau kontrol sebesar 16.0%. Pada perlakuan kepadatan 200 ekor larva (kurva E). Pada hari kedua perlakuan tidak terjadi kematian pada larva yang diinokulasi sedangkan pada yang tidak diinokulasi terjadi kematian larva sebesar 1.0%. Pada hari keempat belas inkubasi, terjadi kematian larva sebesar 58.5% pada perlakuan yang mendapat inokulum sedangkan pada kontrol sebesar 16.0%.
Di alam, kepadatan populasi larva A.
aegypti beragam, sehingga berpengaruh
terhadap patogenisitas cendawan A. niger. Daya patogenisitas A. niger bergantung kepada kondisi lingkungan, umur inang, dan kepadatan inokulum yang diberikan (Glare & Milner 1991).
Meningkatnya jumlah larva mengakibatkan meningkat pula jumlah feses yang dapat digunakan sebagai sumber makanan oleh cendawan. Menurut Glare dan Milner (1991) meningkatnya kepadatan inang akan meningkatkan persentase kematian inang yang terpapar oleh cendawan.
Pada penelitian yang dilakukan Ananda (2009) yang menggunakan A.
E
D
C
aegypti instar III melaporkan bahwa kematian larva terjadi pada hari ketiga setelah inokulasi, sedangkan Oktaviani (2006) melaporkan terjadi kematian awal pada hari pertama dengan menggunakan instar yang sama. Pada penelitian Nnakumusana (1985) yang menggunakan A.
parasiticus melaporkan bahwa kematian
larva pada 24 jam setelah inokulasi sebesar 25.6% pada kepadatan 200 ekor larva. Kematian tertinggi terjadi pada kepadatan 200 ekor larva di hari keempat belas yaitu sebesar 58.5%. Glare dan Milner (1991) menyatakan bahwa waktu yang diperlukan oleh cendawan sampai inang mati dapat terjadi 24 jam atau bahkan 1 minggu, bergantung kepada kondisi lingkungan, umur inang, dan kepadatan inokulum. Kepadatan inang akan mempengaruhi kerentanan inang terhadap infeksi cendawan.
Pada perlakuan kontrol juga terjadi kematian, hal ini diakibatkan karena baik perlakuan maupun kontrol selama 14 hari inkubasi larva tidak diberi makan. Menurut Indrawati (2006) kematian larva pada kontrol ini diduga akibat dari daya tahan tubuh, kemampuan mencari makan (kelaparan), dan umur larva. pada larva dengan umur lebih muda (tahap instar lebih kecil) kerentanan terhadap pengaruh lingkungan seperti penyakit dan patogen sangat berpengaruh pada pertumbuhan dan perkembangan larva. Hal inilah kemungkinan yang berpengaruh pada kematian populasi 10 dan 50 ekor larva dimana perlakuan dengan kontrol hampir mendekati persentase kematian yang sama atau bahkan kematian kontrol lebih tinggi dari persentase kematian perlakuan seperti pada populasi 10 ekor larva.
Tabel 1 Pengaruh jumlah larva A. aegypti terhadap populasi cendawan A.
niger pada hari keempat belas Jumlah koloni
untuk kepadatan
10 50 100 150 200
Perlakuan 10bc 21abc 20abc 4ab 23ab kontrol 1abc 5abc 8abc 5abc 6abc
Setelah dilakukan uji patogenisitas cendawan A. niger terhadap larva A. aegypti, kemudian dilihat pengaruh jumlah larva terhadap populasi A. niger (Tabel 1) dengan menumbuhkan dari media air yang
digunakan dalam penelitian ini ke dalam media PDA dan melihat jumlah koloni A.
niger yang tumbuh. Tabel tersebut menunjukkan hanya pada perlakuan 10 dan 200 ekor larva terdapat beda nyata berdasarkan uji statistik.
III. Pengaruh A. niger Terhadap Penetasan Telur A. aegypti.
Pada perlakuan pemberian inokulum pada penetasan dan perkembangan telur, seluruh telur dari 200 butir telur seluruhnya tidak menetas sedangkan pada kontrol telur menetas sebanyak 165 butir dari 200 butir telur (Tabel 2). Hal ini membuktikan bahwa inokulum yang diberikan dapat menghambat atau menekan angka penetasan telur larva. Menurut Luz et al. (2008) bahwa telur dapat terinfeksi oleh patogen yang secara aktif masuk melalui cangkang telur dan berpengaruh pada larva di dalamnya akibat dari metabolit yang dikeluarkan oleh patogen. Coelomomyces opifexi dapat menginfeksi semua tipe instar dari larva nyamuk dan semua fase dari copepoda kecuali fase telur. Pada fase telur yang terinfeksi dapat menetas sebagai inang intermediet (Glare & Milner 1991).
Tabel 2 Pengaruh inokulum cendawan A.
niger terhadap telur A. aegypti
Yang diuji Yang menetas
Perlakuan 200 0
Kontrol 200 165
Perlakuan diulang sebanyak 3 kali
IV. Uji Postulat Koch.
Untuk membuktikan larva yang mati disebabkan oleh cendawan entomopatogen maka dilakukan uji postulat Koch. Uji postulat Koch menunjukkan bahwa cendawan yang tumbuh pada larva nyamuk yang mati pada media PDA memiliki kesamaan ciri dengan A. niger (Gambar 5). Hal ini menunjukkan bahwa kematian larva disebabkan oleh A. niger yang diinokulasikan ke dalam botol kultur. Postulat Koch digunakan untuk menunjukkan apakah cendawan yang tumbuh merupakan saprofit atau cendawan patogen yang sebenarnya (Glare & Milner 1991).
8
A
B
0.1 µm 0.1 µmA
Gambar 4 Koloni A. niger hasil uji postulat Koch.
V. Morfologi Larva Mati akibat inokulasi A. niger.
Larva memperoleh makanan dengan jalan mengambil benda dengan sikat mulut atau dengan jalan menggigit bahan-bahan yang busuk di pinggir perairan. Pada saat istirahat, tabung pernapasannya berada di atas air sedangkan kepalanya menggantung ke dalam air (Hadi & Koesharto 2006). Sifat seperti ini memudahkan infeksi spora secara eksternal maupun internal. Akan tetapi hanya beberapa spora saja yang dapat menginfeksi inang (Glare & Milner 1991). Saluran pencernaan larva berwarna hitam yang mirip dengan spora cendawan A. niger (ditunjukkan oleh Gambar 6). Kemudian pada antarsekat kutikula larva terlihat propagul cendawan yang telah bersporulasi membentuk konidia.
Pada kebanyakan cendawan patogen, cendawan menginfeksi tubuh inang dengan mempenetrasi langsung dinding kutikula, ada juga yang melalui luka, serta organ indera (Moore & Landecker 1996). Namun ada juga yang melalui saluran pencernaan (Glare & Milner 1991).
G Spora yang mengikuti saluran pencernaan, akan berkecambah dan mempenetrasi kutikula. Dari titik tumbuh tersebut, akan tumbuh hifa, dan menyebar melalui cairan hemosol inang. Pada
Metarhizium anisopliae kitinase dihasilkan
hanya dalam waktu yang singkat selama penetrasi kutikula inang (Leger 1998).
ambar 5
Gambar 5 Proses kolonisasi cendawan pada larva. A) Miselium yang menembus saluran pencernaan (perbesaran 100x), B) Miselium yang tumbuh di sela antar sekat (perbesaran 100x), dan C) Kepala konidia (perbesaran 400x).
C
9
100 µm 100 µmB
100 µmA
SIMPULAN
Faktor kepadatan populasi nyamuk mempengaruhi patogenisitas cendawan A.
niger. Dari uji postulat Koch, kematian
nyamuk A. aegypti disebabkan oleh A. niger. Pada umumnya kepadatan inang yang tinggi persentase infeksi akan lebih tinggi. Pada perlakuan telur penggunaan cendawan A.
niger sebagai pengendali hayati dapat
dipergunakan.
SARAN
Perlu dilakukan uji interaksi antara faktor biotik dengan abiotik yang terjadi sehingga dapat dipastikan mekanisme infeksi cendawan A. niger. Dilakukan juga pengujian pada berbagai tingkat kelembapan yang mempengaruhi daya hambat terhadap daya tetas telur.
DAFTAR PUSTAKA
Ananda S. 2009. Pengaruh Suhu, Kaporit dan pH Terhadap Pertumbuhan Cendawan Entomopatogen
Aspergillus niger-gfp dan Patogenisitasnya pada Larva Nyamuk Aedes aegypti. [skripsi]. Bogor: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Pertanian Bogor.
Borror DJ & Richard EW. 2001. A Field
Guide to Insects Americe North of Mexico. New York: Houghton
Mifflin Company.
Coronel MAR, Gustavo VG, Alan D, and Cristopher A. 2003. A Novel Tannase from Aspergillus niger with β-glucosidase Activity. J
Microbiol. 149: 2941-2946.
Glare TR, Milner RJ. Ecology of Entomopathogenic Fungi. Di dalam: Arora DK, Ajello L, Mukerji KG, editor. Handbook of
Applied Mycology. Vol 2. New
York: Marcell Dekker, Inc; 1991. hlm 547-612.
Griffin DH. 1981. Fungal Physiology. New York: John Wiley & Sons, Inc.
Gubler DJ. 1998. Dengue and Dengue Hemorrhagic Fever. Clinical
Microbiol Review 11 (3): 480-496.
Hadi, UK, Koesharto FX. Nyamuk. 2006. Di dalam: Sigit SH, Hadi UK, editor.
Hama Pemukiman Indonesia.
Bogor: UKPHP IPB. hlm 23-49. Indrawati A. 2006. Kapang Entomopatogen
Lagenidium giganteum sebagai Agen Pengendali Hayati Larva Nyamuk Aedes aegypti Vektor Penyakit Demam Berdarah Dengue [tesis]. Bogor: Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.
Kiffer E, Morelet M. 2000. The
Deuteromycetes, Mitosporic Fungi: Classification and Generic Keys.
New Hampshire: Sciense Pub., Inc. Leger ST, Nelsen JO, Screen SE. 1999. The
Entomophatogenic Fungus
Metarhizium anisopliae alters ambient pH, allowing extracellular protease production and activity.
Microbiol 145: 2691-2699.
Lorang JM, Tuori RP, Martinez JP, Sawyer TL, Redman RS, Rollins JA, Wolpert TJ, Johnson KB, Rodriguez RJ, Dickman MB, Ciuffetti LM. 2001. Green Flourescent Protein Is Lighting Up Fungal Biology. Appl Environt
Microbiol. 67(5): 1987-1994.
Luz C, Tai MHH, Santos AH, Silva HHG. 2008. Impact of Moisture on Survival of Aedes aegypti Eggs and Ovicidal Activity of Metarhizium
anisopliae under Laboratory Conditions. Mem Inst Oswaldo
Cruz. 103(2): 214-215.
Natalia T, Sukarno N, dan Hadi UK. 2000. Isolasi cendawan patogen pada larva nyamuk demam berdarah (Aedes aegypti) dan pemanfaatannya sebagai pengendali hayati. Seminar jurusan biologi, FMIPA-IPB, Bogor.
Nnakumusana SE. 1985. Laboratory infection of Mosquito Larvae by Entomopathogenic Fungi with
particular Reference to Aspergillus
parasiticus and Its Effects on
Fecundity and Longevity of Mosquitoes exposed to Conidial Infections in Larval Stages. Curr
Sci 54(23): 1221-1228.
Oktavianti Z. 2007. Isolasi, Identifikasi, Patogenisitas, dan Proses
Kolonisasi Cendawan Entomopatogen pada Larva
Nyamuk Aedes aegypti. [skripsi]. Bogor: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Pertanian Bogor.
Papp L, Darvas B, editor. 2000. Manual of
Pala Earctic Diptera (With Special Reference to Flies of Economic Important. Vol 1 General and
Applied Dipterologi. Budapest: Science Herald. Tarrand JJ, Xiang YH, Dimitros PK, and Gregory SM. 2005. Aspergillus Hyphae in Infected Tissue: Evidence of Physiologic Adaptation and Effect on Culture Recovery. J of Clin
Microbiol 45(1): 382-386.
Samson RA, Reenen-Hoekstra ES van. 1988. Introduction to Food-Borne Fungi. Netherlands: Centraalbureau voor Schimmelcultures
Suharyono SR, dan Imari S. 2007. Analisis Epidemiologi Demam Berdarah Indonesia, 1982-2007. Warta DBD. 16: 1-4.
LAMPIRAN
Lampiran 1 Struktur mikroskopis Aspergillus niger.
.
Gambar Struktur mikroskopis A. niger perbesaran 100X (A) yang terdiri dari konidia (a), vesikel (b), dan konidiofor (c); perbesaran 400X (B) yang terdir dari konidia (a), vesikel (b), konidiofor (c), dan fialid (d); dan perbesaran 1000X yang terdiri dari konidia (a), vesikel (b), dan fialid (c).
12
A
c
b
a
b
c
d
a
b
c
A
B
30 µm 100 µm 100 µmC
b
a
Lampiran 2 Jumlah koloni cendawan A. niger sebelum penambahan larva A. aegypti. Tabel 1 Jumlah koloni A. niger sebelum penambahan 10 ekor larva (tiap ml)
Hari 1 2 3 4 5 6 7 SI 10 210a 85a 100a 55a 15a 15a 35a SI K 20b 15b 20b 20b 25b 10a 15b
Huruf yang sama menunjukkan perlakuan tidak berbeda nyata sesuai uji lanjut Duncan dengan α=5%. Koloni pada perlakuan inokulasi A. niger tetapi sebelum perlakuan penambahan larva A. aegypti (SI), dan koloni pada perlakuan tanpa inokulasi A. niger (perlakuan control) sebelum penambahan larva A. aegypti (SI K).
Tabel 2 Jumlah koloni A. niger sebelum penambahan 50 ekor larva (tiap ml) Hari 1 2 3 4 5 6 7 SI 50 230a 105a 120a 85ac 40a 20a 45ae SI K 25b 35b 25b 40b 20b 25a 40b
Huruf yang sama menunjukkan perlakuan tidak berbeda nyata sesuai uji lanjut Duncan dengan α=5%. Koloni pada perlakuan inokulasi A. niger tetapi sebelum perlakuan penambahan larva A. aegypti (SI), dan koloni pada perlakuan tanpa inokulasi A. niger (perlakuan control) sebelum penambahan larva A. aegypti (SI K).
Tabel 3 Jumlah koloni A. niger sebelum penambahan 100 ekor larva (tiap ml) Hari 1 2 3 4 5 6 7 SI 100 200a 85a 145a 50a 65a 55ad 15a SI K 25b 35b 30b 15b 30b 25a 10b
Huruf yang sama menunjukkan perlakuan tidak berbeda nyata sesuai uji lanjut Duncan dengan α=5%. Koloni pada perlakuan inokulasi A. niger tetapi sebelum perlakuan penambahan larva A. aegypti (SI), dan koloni pada perlakuan tanpa inokulasi A. niger (perlakuan control) sebelum penambahan larva A. aegypti (SI K).
Tabel 4 Jumlah koloni A. niger sebelum penambahan 150 ekor larva (tiap ml) Hari 1 2 3 4 5 6 7
SI 150 160a 110a 130a 45a 50a 30a 35a SI K 40b 25b 40b 25b 25b 25a 30b
Huruf yang sama menunjukkan perlakuan tidak berbeda nyata sesuai uji lanjut Duncan dengan α=5%. Koloni pada perlakuan inokulasi A. niger tetapi sebelum perlakuan penambahan larva A. aegypti (SI), dan koloni pada perlakuan tanpa inokulasi A. niger (perlakuan control) sebelum penambahan larva A. aegypti (SI K).
Tabel 5 Jumlah koloni A. niger sebelum penambahan 200 ekor larva (tiap ml) Hari 1 2 3 4 5 6 7
SI 200 200a 85a 120a 60ac 40a 30ad 55ae SI K 25b 25b 25b 35b 30b 40a 25b
Huruf yang sama menunjukkan perlakuan tidak berbeda nyata sesuai uji lanjut Duncan dengan α=5%. Koloni pada perlakuan inokulasi A. niger tetapi sebelum perlakuan penambahan larva A. aegypti (SI), dan koloni pada perlakuan tanpa inokulasi A. niger (perlakuan control) sebelum penambahan larva A. aegypti (SI K).
14
13
Lampiran 3 Persentase kematian larva pada berbagai kepadatan larva A. aegypti yang diinokulasi
A. niger dibandingkan dengan kontrol.
Tabel 6 Persentase kematian larva A. aegypti pada kepadatan 10 ekor larva selama 14 hari inokulasi spora A. niger
Hari 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 P1(10) 0a 0a 7a 7b 20a 33a 33a 33a 33a 33a 33a 33a 33a 33a Kontrol 0a 0a 0a 10a 10a 10a 20a 30a 30a 30a 40a 40a 40a 50a Huruf yang sama menunjukkan perlakuan tidak berbeda nyata sesuai uji lanjut Duncan dengan α=5%
Tabel 7 Persentase kematian larva A. aegypti pada kepadatan 50 ekor larva selama 14 hari inokulasi spora A. niger
Huruf yang sama menunjukkan perlakuan tidak berbeda nyata sesuai uji lanjut Duncan dengan α=5%
Tabel 8 Persentase kematian larva A. aegypti pada kepadatan 100 ekor larva selama 14 hari inokulasi spora A. niger
Huruf yang sama menunjukkan perlakuan tidak berbeda nyata sesuai uji lanjut Duncan dengan α=5%
Tabel 9 Persentase kematian larva A. aegypti pada kepadatan 150 ekor larva selama 14 hari inokulasi spora A. niger
Hari 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 P4(150) 0a 0.4a 18a 34a 40a 44b 44a 45a 47b 48a 50b 52a 53a 54a Kontrol 0a 2a 4a 5a 6a 6a 9a 10a 10a 11a 12a 14a 15a 16a Huruf yang sama menunjukkan perlakuan tidak berbeda nyata sesuai uji lanjut Duncan dengan α=5%
Tabel 10 Persentase kematian larva A. aegypti pada kepadatan 200 ekor larva selama 14 hari inokulasi spora A. niger
Hari 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 P5(200) 0b 0b 22a 43a 47a 50a 50a 50a 52a 53a 54a 56b 58b 59b Kontrol 0a 1a 3a 4a 6a 8a 8a 10a 10a 12a 12a 14a 15a 1a Huruf yang sama menunjukkan perlakuan tidak berbeda nyata sesuai uji lanjut Duncan dengan α=5%
Hari 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 P2(50) 0a 0a 9a 19a 27a 29a 31a 33a 34a 34a 35a 35a 36a 39a Kontrol 0a 2a 4a 4a 8a 16a 18a 18a 22a 22a 26a 28a 32a 34a
Hari 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 P3(100) 0a 0.3a 13a 31a 36a 40a 41b 43b 44b 46b 49b 49a 50a 52a Kontrol 0a 2a 5a 6a 6a 9a 12a 13a 14a 17a 18a 19 19a 20a
Lampiran 4 Persentase kematian larva pada tiap-tiap kepadatan larva A. aegypti yang diinokulasi A. niger
Tabel 1 Persentase kematian larva A. aegypti pada berbagai kepadatan larva (10 ekor larva, 50 ekor larva, 100 ekor larva, 150 ekor larva, dan 200 ekor larva)
Hari 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14
P1 (10) 0kjnml 0kjnml 6.7kjnml 6.7kjnml 20.0knml 33.3nml 33.3nml 33.3nml 33.3nml 33.3nml 33.3nml 33.3nml 33.3nml 33.3n P2 (50) 0fgh 0fgh 9.3fgh 19.3ijgh 27.3kijgh 28.7kijnml 31.3kijnml 32.7kijnml 34.0kijnml 34.0kijnml 34.7kijnml 35.3kijnml 36.0kjnml 38.7kjnml P3 (100) 0cd 0.3cd 13.0cd 30.7de 35.7ef 39.7kijnml 41.0kijnml 42.7kijnml 44.0kijnml 46.0kijnml 46.7kijnml 48. 7kjnml 50.0kjnml 52.0knml P4 (150) 0b 0.4b 18.0b 34.4b 40.2c 44.0kijghl 44.4kijgmhl 44.7kijnml 47.1kijnml 48.4kijnml 49.8kijnml 51.8kijnml 52.7kijnml 54.4kjnml P5 (200) 0a 0a 21.5b 43.2c 46.8cd 49.7f 50.2fg 50.3igh 51.5kijnmhl 52.7kijnml 54.2kijnml 56.0nml 57.7nml 58.5nm