PEMANFAATAN TEPUNG JERAMI HASIL FERMENTASI DALAM PAKAN PEMBESARAN
IKAN BANDENG
Kamaruddin, Noor Bimo Adhiyudanto, Usman, dan Asda Laining Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Air Payau Jl. Mamur Dg. Sitakka No. 129, Maros 90512, Sulawesi Selatan
E-mail: [email protected] ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk memanfaatkan tepung jerami hasil fermentasi dalam pakan untuk pertumbuhan ikan bandeng. Perlakuan yang dicobakan adalah dosis tepung jerami fermentasi dalam pakan yaitu: (A) 0% (Kontrol); (B) 5%, (C) 10%, D (15%), dan (E) 20%. Hewan uji yang digunakan adalah ikan bandeng berbobot awal sekitar 30,4±5,3 g. Ikan tersebut dipelihara dalam keramba tancap berukuran 2 m x 2 m x 2 m dengan kepadatan 50 ekor/keramba. Jumlah keramba digunakan sebanyak 15 unit yang ditempat dalam tambak. Selama pemeliharaan, ikan uji diberi pakan sebanyak 4-5%/hari pada pagi dan sore hari selama 4 bulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sintasan ikan cukup tinggi (88,0-90,7%) dan relatif sama untuk semua perlakuan (P>0,05). Namun demikian, laju pertumbuhan, efisiensi pakan, efisiensi protein, retensi protein, dan retensi lemak tertinggi didapatkan pada ikan yang diberi pakan kontrol dan berbeda nyata (P<0,05) dengan perlakuan lainnya. Semakin meningkat kandungan tepung jerami hasil fermentasi dalam pakan cenderung menurunkan kinerja pertumbuhan ikan dan pemanfaatan pakan uji.
KATA KUNCI: jerami hasil fermentasi, pakan, ikan bandeng, pertumbuhan
PENDAHULUAN
Intensifikasi usaha budidaya ikan dicirikan dengan kepadatan tebar ikan yang tinggi per unit luas areal budidaya. Meningkatnya kepadatan ikan tentu membutuhkan juga peningkatan jumlah pakan seiring dengan peningkatan biomassa ikan, sementara daya dukung pakan alami dari areal budidaya tersebut sangat terbatas, sehingga diperlukan adanya pakan tambahan. Kecilnya daya dukung dari pakan alami, menyebabkan peran pakan alami diabaikan dalam budidaya intensif, sehingga hampir 100% budidaya ikan mengandalkan pakan buatan. Penggunaan pakan buatan dalam budidaya memiliki beberapa keuntungan antara lain: mutu pakan dapat dikontrol, teknik penanganannya lebih mudah, dapat diproduksi dalam jumlah banyak sesuai kebutuhan, kontinuitasnya dapat diatur/dijamin dan sistem transportasinya lebih mudah.
Saat ini, komponen pakan buatan untuk ikan didominasi oleh penggunan tepung ikan sebagai sumber protein utama karena tepung ikan memiliki kandungan nutrisi yang sangat cocok dengan kebutuhan ikan budidaya utamanya profil asam amino esensialnya. Namun demikian, jumlah kebutuhan tepung ikan dunia semakin meningkat karena tepung ikan tidak hanya digunakan untuk pakan ikan tetapi juga digunakan untuk pakan babi dan unggas, sementara di sisi lain produksi tepung ikan cenderung stabil akibat hasil penangkapan yang stagnan.
Survai yang dilakukan Palinggi et al. (2002) mengenai ketersediaan bahan baku lokal telah dilakukan pada tahun 1998/1999 pada 23 Kabupaten di Sulawesi Selatan, sebagai salah satu upaya untuk mendapatkan beberapa bahan yang potensi untuk mensubstitusi bahan impor dalam pembuatan pakan. Jenis bahan baku tersebut adalah ikan rucah, rebon, kepala udang sebagai limbah cold storage, darah sebagai limbah dari tempat pemotongan hewan, limbah pabrik tapioka, limbah kelapa sawit dan dedak halus. Hasil survai maupun analisis komposisi nutrisi menunjukkan bahwa ikan rucah, rebon, kepala udang, darah, dapat mensubstitusi tepung ikan dan bungkil kedelai yang merupakan bahan baku impor.
Jerami padi juga merupakan limbah pertanian yang saat ini sangat melimpah. Produksi jerami padi sangat tinggi yaitu antara 12-15 ton/ha/panen atau 4-5 ton bahan kering tergantung lokasi dan
jenis varietas tanaman yang digunakan (Anonim, 2000). Potensi fisik jerami yang sangat besar ini belum sepenuhnya dimanfaatkan. Pemanfaatan jerami sebagian besar dibakar (37%) untuk pupuk, dijadikan alas kandang (36%) yang kemudian dijadikan kompos, dan hanya sekitar 15% sampai 22% yang digunakan sebagai pakan ternak (Anonim2010). Penggunaan jerami padi ini sebagai makanan hewan terkendala oleh beberapa faktor antara kandungan serat hingga 46,5% dan kandungan protein yang rendah sekitar 3,5% (Anonim, 2003). Oleh karena itu, pada sektor peternakan, jerami padi baru dapat meningkat penggunaannya sebagai pakan ternak setelah melalui proses fermentasi. Pada tahun anggaran 2011, telah dilakukan percobaan fermentasi jerami padi untuk menghasilkan bahan baku yang dapat digunakan dalam pakan ikan. Seperti yang dilaporkan oleh Adhyudanto et al. (2011) bahwa penggunaan bakteri komersial dalam fermentasi jerami menunjukkan adanya penurunan serat kasar yang cukup nyata (34,13% sebelum fermentasi menjadi 22,52% setelah difermentasi) serta peningkatan protein (3,12% menjadi 14,35%) dan bahan tanpa nitrogen (12,68% menjadi 28,54%). Melihat kenyataan tersebut bahwa potensi jerami sangat tinggi, dan mampu kualitasnya diperbaiki maka perlu dilakukan penelitian mengenai pemanfaatan tepung jerami dalam pakan pembesaran ikan bandeng.
BAHAN DAN METODE Fermentasi dan Pakan Uji
Proses fermentasi jerami secara massal dilakukan dengan tahapan sebagai berikut: (i) Proses aktivasi dilakukan dengan menginkubasi mikroba probion sebanyak satu bagian dalam campuran molase : urea : NPK : air matang = 2 : 1 : 1 : 100 dan diaerasi selama 36 jam. Inokulum aktif sebanyak 1 L diencerkan dengan 100 L air, lalu disiramkan secara merata pada 100 kg substrat jerami padi. Proses penyiraman dilakukan secara bertahap pada setiap 5 cm lapisan tumpukan jerami. Jerami padi yang telah tercampur dengan mikroba tersebut selanjutnya dibungkus dengan kain terpal. Setelah proses fermentasi selama 30 hari, jerami tersebut dikeringkan dan ditepungkan untuk bahan pakan ikan. Hasil analisis proksimat tepung jerami hasil fermentasi memilki kandungan protein kasar 14,4%; lemak 0,05%; serat kasar 19,3%; abu 35,1%; dan BETN 31,1% bobot kering. Tabel 1 memperlihatkan
Tabel 1. Komposisi bahan pakan (%) dan analisis proksimat pakan uji (bahan kering)
A B C D E
Tepung ikan 15 15 15 15 15
Tepung bungkil kopra 50 50 50 50 50
Dedak halus 20 15 10 5 0
Tepung jerami fermentasi 0 5 10 15 20 Limbah pollard 14,5 14,5 14,5 14,5 14,5 Vitamin mix 0,25 0,25 0,25 0,25 0,25 Mineral mix 0,25 0,25 0,25 0,25 0,25 Analisis proksimat Protein kasar (%) 21,0 21,1 21,4 20,5 21,4 Lemak (%) 10,4 9,9 9,0 8,5 8,3 Abu (%) 9,9 11,1 11,3 13,1 14,3 Serat kasar (%) 10,2 10,9 11,9 12,4 12,7 Energi (Kkal/kg) 4120 4050 3960 3820 3770
Energi total dihitung berdasarkan nilai konversi protein = 5,64 kkal/g; lemak 9,44 kkal/g; dan BETN = 4,11 kkal/g (NRC, 1993)
formulasi pakan pembesaran ikan bandeng dilakukan dengan mensubstitusi penggunaan dedak halus sekaligus sebagai perlakuan yaitu: (A) 0% (Kontrol), (B) 5%, (C) 10%, D (15%), dan (E) 20% dengan memanfaatkan tepung jerami hasil fermentasi.
Pemeliharaan Ikan Uji
Hewan uji yang digunakan adalah ikan bandeng berukuran sekitar 30,4±5,3 g. Ikan tersebut dipelihara dalam keramba tancap berukuran 2 m x 2 m x 2 m dengan kepadatan 50 ekor/keramba. Jumlah karamba yang digunakan sebanyak 15 unit yang di tempat dalam tambak yang berukuran 1.500 m2. Selama pemeliharaan, ikan uji diberi pakan sebanyak 4-5%/hari pada pagi dan sore hari
selama 4 bulan. Selain itu, juga dilakukan pergantian air setiap 2 minggu sebanyak 20-30%. Monitoring kualitas air yang meliputi suhu, pH, salinitas, oksigen terlarut, dilakukan setiap minggu secara in situ dan di laboratorium, total ammonia nitrogen (TAN), nitrit, nitrat, dan fosfat dilakukan setiap bulan.
Perhitungan Respon Pertumbuhan dan Pemanfaatan Pakan Uji
Setelah aplikasi pakan uji selama 120 hari, peubah pertumbuhan yang dihitung adalah laju pertumbuhan spesifik (SGR) ikan berdasarkan formulasi berikut (Schulz et al., 2005):
di mana :
We = bobot ikan pada akhir percobaan (g) Ws = bobot ikan pada awal percobaan (g) d = periode pemeliharaan (hari)
Efisiensi pakan (FE) = Pertambahan bobot ikan (g bobot basah)/ jumlah konsumsi pakan (g bobot kering) (Takeuchi, 1988)
Rasio efisiensi protein = Pertambahan bobot ikan (g bobot basah)/ jumlah konsumsi protein (g bobot kering) (Takeuchi, 1988; Hardy, 1989)
Retensi protein (%) = 100 x {pertambahan protein ikan (g) / jumlah konsumsi protein (g)} (Takeuchi, 1988)
Retensi lemak (%) = 100 x {pertambahan lemak ikan (g) / jumlah konsumsi lemak (g)} (Takeuchi, 1988)
Sintasan (%) = {jumlah ikan akhir / jumlah ikan awal} x 100 Analisis Kimia dan Statistik
Pada analisis proksimat pakan dan feses, sampel yang representative dianalisis berdasarkan metode AOAC International (1999): bahan kering (DM) dikeringkan dengan oven pada suhu 105ºC selama 16 jam, serat kasar dengan ekstraksi ether, abu dengan pembakaran dalam muffle furnace pada suhu 550ºC selama 24 h dan protein kasar dianalisis dengan micro-Kjeldahl, lemak dideterminasi secara gravimetric dengan extraksi chloroform: methanol pada sampel.
Peubah laju pertumbuhan ikan, efisiensi pakan, efisiensi protein, sintasan ikan dianalisis kovarian dengan menggunakan bobot awal ikan sebagai kovariatnya, sementara retensi protein, retensi lemak, dan komposisi kimia tubuh ikan dianalisis ragam (Steel & Torrie, 1995). Sementara nilai peubah kualitas air (Suhu, TAN, nitrit, nitrat, fosfat, pH, DO, dan salinitas) dianalisis secara deskriptif.
d Ws ln We ln x 100 hari) / (% SGR HASIL DAN BAHASAN
Kinerja pertumbuhan ikan bandeng setelah pemberian pakan uji selama 120 hari disajikan pada Tabel 2. Pada Tabel tersebut terlihat juga bahwa ikan bandeng yang diberi pakan uji memiliki sintasan yang cukup tinggi (88-90,7%) dan relatif sama untuk semua perlakuan (P>0,05). Ini menunjukkan bahwa semua pakan uji tersebut mampu memberikan kebutuhan nutrien dasar untuk kelangsungan hidup ikan bandeng. Namun demikian, beberapa peubah seperti laju pertumbuhan, efisiensi pakan, efisiensi protein, retensi protein, dan retensi lemak didapatkan respon yang berbeda nyata lebih tinggi (P<0,05) pada ikan yang diberi pakan kontrol dibandingkan ikan yang diberi pakan uji mengandung tepung jerami padi hasil fermentasi. Sementara pemberian pakan uji yang mengandung tepung jerami hasil bioprosessing sebanyak 5 sampai 20% dalam pakan belum menunjukkan adanya perbedaan nyata (P>0,05) terhadap pertumbuhan ikan, efisiensi pakan dan efisiensi protein. Namun ada kecenderungan bahwa semakin meningkat kandungan tepung jerami hasil bioprosessing dalam pakan, semakin menurun pula laju pertumbuhan ikan, efisiensi pakan, dan efisiensi protein. Tabel 2. Kinerja pertumbuhan ikan bandeng yang diberi pakan dengan kandungan tepung jerami
hasil bioprosessing berbeda
A B C D E Bobot akhir (g) 120 ± 10,7 100,4 ± 8,1 85,6 ± 7,2 82,3 ± 4,3 88,9 ± 6,8 Laju pertumbuhan spesifik (%/hari) 1,32 ± 0,11a 0,95 ± 0,13b 0,92 ± 0,06b 0,78 ± 0,16b 0,82 ± 0,10b Pertambahan bobot 389 ± 66,9a 216 ± 46,7b 204 ± 20,6b 151 ± 50,8b 168 ± 31,5b Efisiensi pakan 0,41 ± 0,03a 0,31 ± 0,03b 0,30 ± 0,04bb 0,24 ± 0,06c 0,25 ± 0,02bc Rasio efisiensi protein 1,97 ± 0,16a 1,49 ± 0,14b 1,41 ± 0,18b 1,15 ± 0,26b 1,21± 0,10b Sintasan (%) 90,7 ± 2,3a 88,0 ± 5,3a 90,0 ± 11,1a 90,0 ± 4,0a 88,7 ± 1,15a Retensi protein (%) 33,9 ± 4,1a 26,2 ± 4,4ab 24,0 ± 4,2b 19,8 ± 4,3b 22,2 ± 3,2b Retensi lemak (%) 20,9 ± 4,5a 17,2 ± 5,4b 15,3 ± 6,1b 12,4 ± 1,4b 13,9 ± 3,7b
Peubah Pakan uji
Rendahnya laju pertumbuhan ikan dan efisiensi pakan uji dengan meningkatnya kandungan tepung jerami hasil fermentasi dalam pakan uji disebabkan karena meningkatnya kandungan serat kasar dari tepung jerami tersebut. Tepung jerami hasil bioprosessing ini masih memiliki kualitas yang tergolong rendah. Tepung jerami hasil bioprosessing mengandung serat kasar yang masih tinggi sekitar 23% dan abu sekitar 35% (Adhiyudanto et al., 2011). Meskipun pada dasarnya tepung jerami hasil
bioprosessing ini memiliki kandungan serat kasar yang lebih rendah dari pada tepung jerami yang
tidak difermentasi (sekitar 34%). Serat kasar tepung jerami juga banyak mengandung lignin yang sangat susah dicerna oleh hewan non-ruminansia (termasuk ikan) karena tidak mengandung aktivitas enzim lignolitik dalam saluran pencernaannya (Lubis et al., 1992). Kandungan serat kasar yang terlalu tinggi dalam pakan akan menurunkan tingkat kecernaan pakan dan nutrientnya, sehingga akan mengakibatkan pertumbuhan ikan dan tingkat pemanfaatan pakan rendah. Pada penelitian ini digunakan pakan yang mengandung serat kasar antara 10-13% dengan meningkatnya penggunaan kandungan tepung jerami hasil bioprosessing. Tingginya serat kasar dalam pakan ini khususnya pada pakan dasar (basal diets) disebabkan karena penggunaan tepung bungkil kopra yang tinggi (50%). Menurut Ensminger et al. (1990), kadar serat kasar pakan yang baik tidak lebih dari 5-6% dari total bahan pakan yang ada (Ensminger et al., 1990). Penggunaan kadar serat kasar yang relatif tinggi dalam pakan ikan bandeng ini didasarkan atas hasil penelitian yang dilakukan oleh Sumagaysay (1991) yang melaporkan bahwa ikan bandeng yang diberi pakan mengandung serat kasar cukup tinggi (33,3%) yang bersumber dari sekam padi mampu tumbuh sebaik dengan ikan yang diberi
pakan mengandung serat kasar 15% saat diberi pakan protein sama di tambak, karena serat kasar pakan yang tidak dapat dicerna langsung ikan bandeng dapat dimanfaatkan kembali melalui jalur makanan alami (bakteri dan plankton). Ikan bandeng juga merupakan ikan herbivora yang cenderung dapat memanfaatkan bahan-bahan nabati dalam pakan untuk pertumbuhannya dibandingkan ikan-ikan karnivora (Lim et al. 2002).
Secara umum, laju pertumbuhan ikan yang didapatkan pada penelitian ini berkisar antara 0,78-1,32%/hari. Nilai ini tergolong relatif rendah untuk pemeliharaan ikan bandeng di tambak. Namun pada penelitian ini, meskipun ikan dipelihara dalam tambak, tetapi tetap dikurung di dalam jaring keramba sehingga peluang untuk memanfaatkan makanan alami khususnya klekap tidak ada, hanya terbatas memanfaatkan plankton yang ada di dalam jaring berukuran 2 m x 2 m x 2 m. Selain itu, pakan yang digunakan dalam penelitian ini memiliki kandungan protein yang relatif rendah sekitar 21% yang merupakan pakan untuk pembesaran ikan bandeng skala tradisional plus (teknologi sederhana) yang masih membutuhkan peran pakan alami khususnya dalam pensuplaian kebutuhan nutrien essensial yang belum mencukupi dari pakan buatan (pakan uji). Makanan alami masih cukup berperan dalam budidaya ikan bandeng di tambak (skala tradisonal plus-semi intensif), khususnya untuk mensuplai kebutuhan nutrien esensial yang tidak tersedia di dalam pakan tambahan (Sumagaysay, 1991; Sumagaysay & Borlongan, 1995; Yap & Villalusz, 2010).
Efisiensi protein, dan retensi protein pakan tertinggi terjadi pada ikan yang diberi pakan kontrol, kemudian menurun dengan meningkatnya kandungan tepung jerami hasil fermentasi dalam pakan. Menurunnya tingkat pemanfaatan protein bagi pertumbuhan ikan ini dapat disebabkan oleh 2 faktro utama yaitu tingkat kecernaan pakan yang dapat diakibatkan oleh kandungan serat kasar yang tinggi dalam pakan dan kualitas protein pakan (keseimbangan komposisi asam amino essensial pakan uji). Meningkatnya kandungan serat kasar dalam pakan dapat menyebabkan nilai kecernaan protein menjadi rendah (Hertrampf & Piedad-Pascual, 2000; Glencross et al., 2012). Selain tepung jerami yang difermentasi mengalami peningkatan kandungan protein, namun belum diketahui susunan asam aminonya.
Ikan bandeng merupakan salah satu jenis ikan yang dapat melakukan sintesis dan akumulasi lemak dalam tubuhnya, utamanya pada bagian abdominal yang cukup tinggi. Tingkat akumulasi lemak dalam tubuh dapat diketahui dari nilai retensi lemaknya. Pada penelitian ini tampak bahwa ikan yang diberi pakan kontrol memiliki tingkat retensi lemak yang tertinggi dan menurun dengan meningkatnya kandungan tepung jerami dalam pakan. Menurunnya retensi lemak dalam tubuh ikan dengan meningkatnya tepung jerami tersebut diduga disebabkan karena energi yang dikonsumsi oleh ikan bandeng yang bersumber dari karbohidrat, lemak dan protein pakan memiliki kecernaan yang menurun akibat meningkatnya kandungan serat kasar pakan. Selain itu, kandungan energi total dari pakan juga cenderung menurun dengan meningkatnya penggunaan tepung jerami hasil fermentasi dalam pakan uji.
Meskipun respon pertumbuhan ikan bandeng cukup rendah pada penggunaan pakan yang mengandung tepung jerami. Namun tepung jerami ini memiliki peluang untuk dimanfaatkan sebagai bahan pakan ikan herbivora. Mutu tepung jerami padi ini masih perlu ditingkatkan terus utamanya menurunakan kadar serat kasarnya dan meningkatkan kandungan proteinnya.
Komposisi proksimat ikan bandeng setelah pemeliharaan selama 4 bulan disajikan pada Tabel 3. Pada tabel tersebut terlihat bahwa ikan yang diberi pakan kelima jenis pakan uji tersebut cenderung mengalami sedikit peningkatan kadar lemak dibandingkan ikan awal sebelum pemberian pakan uji. Namun kelima jenis pakan uji tersebut tidak memberikan pengaruh yang berbeda nyata (P>0,05) terhadap komposisi proksimat ikan bandeng selama pemeliharaan.
Kualitas Air
Kisaran media kualitas air selama pemeliharaan disajikan pada Tabel 4. Pada tabel tersebut terlihat bahwa beberapa peubah kualitas air seperti suhu, pH, amonia total (TAN), nitrit, nitrat, dan fosfat relatif cukup baik bagi pertumbuhan ikan bandeng. Sementara kandungan oksigen terlarut relatif rendah pada waktu pagi yaitu sebelum matahari terbit, namun masih cukup aman bagi kehidupan ikan bandeng. Salinitas air media berubah mulai dari 16 ppt pada awal penebaran hingga 45 ppt
pada akhir pemeliharaan. Perubahan salinitas tambak ini terjadi karena ada peralihan dari musim hujan menjadi musim kemarau. Meskipun ikan bandeng termasuk ikan bersifat euryhaline, namun salinitas yang cukup tinggi tersebut memberi dampak pada laju pertumbuhan ikan dan tingkat efisiensi pakan yang rendah. Menurut Jobling (1994), ikan yang dipelihara dalam kondisi tekanan cairan osmotiknya sangat berbeda dengan tekanan cairan osmotik di lingkungannya akan menggunakan banyak energi untuk melakukan kompesasi penyesuaian tekanan osmotik tersebut, sehingga dapat menekan pertumbuhan dan efisiensi pakannya.
KESIMPULAN DAN SARAN
Tepung jerami hasil bioprosesing mengalami peningkatan kandungan protein kasar dan penurunan serat kasar. Namun demikian, pemanfaatan tepung jerami hasil bioprosessing tersebut masih cenderung menurunkan laju pertumbuhan ikan bandeng dan pemanfaatan pakan uji. Metode fermentasi tepung jerami ini masih perlu diperbaiki dengan fokus menurunkan serat kasarnya. DAFTAR ACUAN
Adhiyudanto, N.B., Usman, & Laining, A. 2011. Fermentasi jerami padi dengan berbagai mikroba komersil untuk produksi bahan pakan ikan. Laporan Hasil Penelitian. Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Air Payau, 14 hlm.
Anonim. 2000. Pembuatan jerami fermentasi. Lembaran Informasi Pertanian (Liptan). IPTP Mataram, 3 hlm.
Anonim. 2003. Jerami padi fermentasi sebagai ransum dasar ternak ruminansia. Warta Penelitian dan
Pengembangan Pertanian, 25(3): 2.
Tabel 3. Komposisi proksimat tubuh ikan bandeng sebelum dan setelah pemberian pakan berbasis bungkil kopra (% bobot basah)
A B C D E Protein kasar 17,6 17,7 ± 0,43a 18,0 ± 0,30a 17,8 ± 1,30a 17,6 ± 0,57a 18,0 ± 0,16a Lemak 3,5 5,0 ± 0,55a 4,8 ± 0,84a 4,3 ± 0,90a 4,1 ± 0,39a 4,2 ± 0,42a Abu 3,6 3,1 ± 0,55a 3,5 ± 0,34a 3,5 ± 0,26a 3,5 ± 0,36a 3,6 ± 0,48a Serat kasar 0,3 0,4 ± 0,12a 0,5 ± 0,14a 0,4 ± 0,07a 0,4 ± 0,06a 0,3 ± 0,06a BETN 1,5 1,4 ± 0,07a 0,9 ± 0,24a 1,1 ± 1,18a 0,4 ± 0,32a 1,1 ± 0,32a Air 73,5 72,4 ± 0,79a 72,3 ± 1,30a 72,9 ± 1,25a 73,6 ± 0,50a 72,9 ± 1,02a Ikan awal
Variabel Pakan uji
Tabel 4. Nilai kisaran kualitas air media selama pemeliharaan ikan bandeng di tambak
Variabel Nilai kisaran Suhu (oC) 27,4-31,6 Oksigen terlarut (mg/L) 2,25-4,95 pH 7,0-7,7 Salinitas (ppt) 16-45 TAN (mg/L) 0,020-1,415 Nitrit (mg/L) 0,003-0,094 Nitrat (mg/L) 0,0305-1,4108 Fosfat (mg/L) 0,0378-0,7264
Anonim. 2010. Fermentasi jerami untuk pakan ternak sapi. BPTP Jawa Barat, 3 hlm.
Ensminger, M.E., Olfield, J.E., & Heinemann, W.W. 1990. Feeds and Nutrition. Second Edition. The Ensminger Publishing Company. California. USA, p. 1175.
Glencross, B., Blyth, D., Tabrett, S., Bourne, N., Irvin, S., Anderson, M., Fox-Smith & Smuller, R. 2012. Aquaculture Nutrition, 18: 388-399.
Hertrampf, J.W. & Piedad-Pascual, P. 2000. Handbook on ingredient for aquaculture feeds. Kluwer Academic Publishers, 573 pp.
Jobling, M. 1994. Fish bioenergetics. Chapman & Hall, London, 309 pp.
Lim, C, Borlongan, I.G., & Pascual, F.P. 2002. Milkfish, Chanos chanos. In: Webster CD, Lim C. editors.
Nutrient Requirement and Feeding of Finfish for Aquaculture. Frankfort, USA. CABI Publishing, p.
172-183.
NRC (National Research Council). 1993. Nutrient requirement of fish. National Academy Press, Washington. D.C., 114 pp.
Palinggi, N.N, Rachmansyah, & Laining, A. 2002. Potensi bahan baku pakan lokal di Sulawesi Selatan. Australia-Indonesia Fisheries Showcase. 20 Years of Collaborative Research, Jakarta 31 Juli. Schulz, C.U., Knaus, Wirth, M., & Rennet, B. 2005. Effect of varying Dietary Fatty Acid profile on
Growth perpormance, Fatty Acid Body on Tissue Composition of juvenile pike perch (Stander
lucioperca), aquaculture nutrition, 11: 430-413.
Steel, R.G.D. & Torrie, J.H. 1995. Prinsip dan Prosedur Statistika. Alih bahasa: Bambang Sumantri. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 748 hlm.
Sumagaysay, N.S. 1991. Effect of fibre in supplemental feeds on milkfish (Chanos chnaos Forsskal) production in brackishwater ponds. Asian Fisheries Science, 4: 189-199.
Sumagaysay, N.S. & Borlongan, I.G. 1995. Growth and production of milkfish (Chanos chanos) in brackishwater ponds: effect of dietary protein and feeding levels. Aquaculture, 132: 273-283. Takeuchi, T. 1988. Laboratory work Chemical evaluation of dietary nutrients. In: Watanabe, T. (ed.)
Fish Nutrition and Mariculture. Jica Kanagawa Internasional Fisheries Training Center, Tokyo, p. 179-233.
Yap, W.T. & Villalus, A.C. 2010. Milkfish production systems in brackishwater ponds in the Philippines.
In: Liao, C.I. & Leano, E.M. (Eds.), Milkfish Aquaculture in Asia. National Taiwan Ocean University,
DISKUSI
Nama Penanya : Marjuki Pertanyaan:
Kenapa tepung jerami justru menurunkan laju pertumbuhan Tanggapan:
Penurunannya terjadi diatas 10% jadi disarankan untuk menggunakan bahan tepung jerami maksimal 10%
Nama Penanya: Suryono Pertanyaan:
Ikan bandeng adalah Herbivor, dengan perubahan bahan pakan, apakah ada perubahan morfologi pada ikan bandeng
Tanggapan: