Rektor: Amalkan Ilmu Melalui
KKN-BBM
UNAIR NEWS – Sebagai bentuk pengamalan Tri Dharma Perguruan
Tinggi, Universitas Airlangga terus berupaya menghadirkan mahasiswa dan dosen ke tengah-tengah masyarakat. Melalui program Kuliah Kerja Nyata – Belajar Bersama Masyarakat, mahasiswa diajak untuk belajar merumuskan dan menyelesaikan masalah di tengah publik.
Rektor UNAIR, Prof. Dr. M. Nasih, S.E., M.T., Ak., melepas 2.327 mahasiswa dan 112 dosen pembimbing lapangan (DPL) untuk terjun dalam program KKN-BBM ke-53 UNAIR. Bertempat di Airlangga Convention Center, Senin (11/1), pelepasan KKN-BBM ke-53 UNAIR dihadiri oleh Wakil Rektor III, Direktur Pendidikan, Ketua Lembaga Pengabdian, Pendidikan, Pelatihan, dan Pengembangan Masyarakat (LP4M), Ketua Lembaga Penelitian dan Inovasi, dan tamu lainnya.
Para mahasiswa dan dosen tersebut melaksanakan program KKN-BBM reguler di lima daerah, yaitu Surabaya (314 mahasiswa dan 18 DPL), Sampang (481 mahasiswa dan 24 DPL), Probolinggo (494 mahasiswa dan 23 DPL), Bojonegoro (507 mahasiswa dan 23 DPL), dan Nganjuk (495 mahasiswa dan 24 DPL).
Selain itu, ada juga 104 mahasiswa dan 5 DPL yang mengikuti KKN-BBM Tematik Cipta Karya di sepuluh kelurahan yang berada di lima kecamatan di Surabaya, diantaranya Kecamatan Asemrowo, Bubutan, Krembangan, Semampir, dan Simokerto. Diantara para peserta KKN-BBM UNAIR, ada juga 36 mahasiswa asing yang terdiri dari 16 mahasiswa asal Malaysia dan 20 mahasiswa asal Brunei Darussalam.
Dalam sambutannya, Rektor UNAIR mengatakan pada mahasiswa bahwa kegiatan belajar akan lebih optimal apabila disertai praktik dan contoh yang nyata. “Pengetahuan tidak ada gunanya
apabila tidak disertai amalan atau implementasi. Tunjukkan keunggulan Anda sebagai mahasiswa UNAIR. Keunggulan ini dibuktikan secara logis, sistematis, dan solutif dalam menghadapi masalah di masyarakat,” tutur Prof. Nasih.
Seluruh kelompok peserta KKN-BBM akan melakukan pengabdian masyarakat pada empat bidang, yaitu pendidikan, kesehatan, ekonomi produktif, dan lingkungan. Kegiatan tersebut berlangsung pada tanggal 11 Januari – 6 Februari 2016. Salah satu mahasiswa UNAIR peserta KKN-BBM reguler di Nganjuk, Ganang, menyampaikan bahwa ia dan rekan satu timnya akan mengadakan berbagai program, salah satunya di bidang kesehatan. “Kami akan mengadakan program cuci tangan dan sikat gigi bagi anak-anak usia dini. Hal ini dilakukan agar mereka memiliki kesadaran terhadap perilaku bersih dan sehat,” tutur Ganang.
Nur Izatin Asyiqin, mahasiswa asal Brunei Darussalam, yang melaksanakan KKN-BBM reguler di Nganjuk, bercerita bahwa ia dan rekan satu timnya akan memberikan pelatihan Bahasa Inggris kepada warga sekitar. “Dengan kehadiran kami di sana, saya berharap bisa membantu mereka untuk berkomunikasi dengan menggunakan Bahasa Inggris,” tutur Izatin.
Para mahasiswa melakukan persiapan sebelum diterjunkan KKN-BBM di Airlangga Convention Center (Foto: UNAIR News)
Cipta karya
Satu hal yang baru dari pelaksanaan KKN-BBM ke-53 UNAIR adalah penyelenggaraan KKN Tematik Cipta Karya yang dilangsungkan di 10 kelurahan di Surabaya. Program KKN Tematik Cipta Karya ini merupakan bentuk kerjasama dari UNAIR dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat RI.
Dalam pelaksanaannya, program KKN Tematik Cipta Karya yang pertama kali dilangsungkan oleh UNAIR ini mengajak mahasiswa untuk belajar bersama masyarakat di bidang sanitasi, penyediaan air minum, dan pemukiman.
“Khusus untuk KKN Tematik Cipta Karya, kami baru terapkan di Surabaya tepatnya di sepuluh kelurahan. Sebab, program ini baru sebatas uji coba. Kalau yang di Surabaya ini hasilnya positif, maka program ini akan menyusul ke semua daerah,” tutur Ketua LP4M UNAIR, Prof. Dr. H. Jusuf Irianto, Drs., M.Comm.
Dalam program KKN Tematik Cipta Karya ini, mahasiswa UNAIR diminta untuk memfasilitasi masyarakat untuk memelihara proyek pekerjaan umum yang telah dikerjakan oleh Kementerian PU dan Pera.
“UNAIR menyediakan mahasiswa dan perangkatnya. Sementara, sasaran programnya adalah proyek-proyek cipta karya yang dibangun di Surabaya. Mahasiswa diminta untuk memfasilitasi bagaimana cara memberdayakan masyarakat, dan memanfaatkan proyek itu secara optimal, termasuk pemeliharaannya,” jelas Prof. Jusuf.
“Mahasiswa tidak berperan pada aspek fisik, tapi mahasiswa diminta untuk memfasilitasi masyarakat untuk membentuk organisasi dalam memelihara proyek cipta karya itu,” imbuh Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UNAIR itu. (*)
Penulis: Defrina Sukma Satiti
Membuka
Wawasan
Global
Bersama University of Rhode
Island
UNAIR NEWS – Prosesi pembukaan University of Rhode Island (URI) and UNAIR Global Health Joint Program digelar di ruang
301 gedung manajemen Senin pagi (11/1). Kegiatan yang bakal berlangsung selama empat hari (11-14 Januari 2016) ini dibuka oleh Wakil Rektor I UNAIR Wakil Rektor I Prof. Djoko Santoso, dr., Ph.D., Sp.PD., K-GH.
Namun, di dalamnya ada tukar pengalaman. Dan bukan tidak mungkin, nantinya bakal ada riset bersama yang lebih komprehensif. Kegiatan ini pasti bermanfaat bagi UNAIR maupun University of Rhode Island Amerika Serikat,” kata dia.
Djoko menambahkan, problem kesehatan global itu berkutat pada sejumlah aspek. Antara lain, budaya, perubahan iklim, dan sumber daya manusia. Tiga aspek itu turut mempengaruhi kualitas kesehatan di seluruh dunia. Memang, level tiap negara berbeda-beda. Namun, secara umum, pengkajian detail tentang ini pasti tidak lepas dari ketiganya.
Para peserta program melakukan sesi foto bersama (Foto: Alifian Sukma)
Setidaknya ada 12 mahasiswa dan dua profesor dari URI yang akan saling berbagi dengan civitas akademika di UNAIR selama empat hari ini. Profesor dari URI Jennifer Gail Audette mengatakan, kesempatan berkunjung ke Indonesia kali ini pasti bakal memberi wawasan baru bagi para mahasiswanya. “Pengetahuan yang bersifat global adalah sebuah keharusan di zaman sekarang ini. Kita mesti terbuka dengan referensi baru
di negara lain,” papar dia. “Kami pasti akan menikmati waktu di UNAIR. Teman pasti akan bertambah. Demikian pula dengan ilmu yang kami miliki,” imbuh Gabrielle Rate, mahasiswa keperawatan URI.
Selama empat hari akan ada seminar kesehatan, sharing session, dan sejumlah kunjungan. Misalnya, ke Puskesmas Mulyorejo, Rumah Sakit UNAIR, Posyandu Manyar Sabrangan, Lab. Pythopharmacy, dan ITD UNAIR. Selain itu, dilaksanakan pula kunjungan ke Mojokerto dan Tulungagung untuk mengamati kondisi di bidang kesehatan publik di sana. (*)
Penulis : Rio F. Rachman
BPN Gresik dan FH Kerjasama
Program Pelayanan Pertanahan
Terpadu
UNAIR NEWS – Badan Pertanahan Nasional (BPN) Gresik
meluncurkan program pelayanan pertanahan terpadu pada Minggu lalu (10/1). Program ini dilatarbelakangi adanya kesulitan dalam proses pendaftaran tanah. Sebab, kerap terjadi perbedaan data dalam beberapa peta tanah yang dimiliki oleh desa dengan yang dimiliki oleh Kantor Pertanahan. Program ini bersemangat sinergitas. Langkah awal yang akan diambil adalah membuat kebijakan satu peta (one map policy) yang berbasis desa.
Program ini diresmikan oleh Menteri Agraria dan Tata Ruang / Kepala BPN Ferry Mursyidan Baldan di Desa Wotan Kecamatan Panceng Kabupaten Gresik. “Adanya kebijakan satu peta menjadikan layanan pertanahan makin efisien, berkepastian hukum dan menghindari mis-persepsi,” kata Ferry yang
mengapresiasi gagasan tersebut.
BPN dan Pemkab Gresik menggandeng Fakultas Hukum (FH) UNAIR untuk mengkaji segala aspek hukum dalam program anyar ini. Tujuannya, bersama-sama melakukan review atas aspek-aspek hukum untuk mendukung kebijakan ini. Juga, menghasilkan produk-produk hukum yang mendukung layanan tersebut. Pejabat Bupati Gresik, Akmal Budianto, menyambut positif kerjasama dengan FH UNAIR. “Program ini butuh perangkat hukum yang bisa memudahkan dan memberikan kepastian kepada aparatur desa dalam layanan pertanahan,” kata dia. (*)
Penulis : FH UNAIR Editor: Rio F. Rachman
Beberapa Langkah Awal Memburu
Beasiswa
UNAIR NEWS – Pendidikan adalah pondasi kemajuan bangsa.
Seperti kita ketahui, sejarah perjuangan bangsa melawan penjajah diinisiasi oleh kaum terpelajar. Jika dulu pendidikan hanya diperuntukkan bagi kaum bangsawan, kini semua kalangan punya kesempatan yang sama untuk belajar.
Sudah banyak lembaga, institusi, baik plat merah maupun swasta, yang menawarkan beasiswa pendidikan sampai jenjang doktor. Mulai kursus singkat hingga pendidikan bertahun-tahun. Kuliah dengan beasiswa menjadi impian banyak orang. Khususnya, bagi yang memiliki keterbatasan biaya. Berikut sejumlah langkah awal memburu beasiswa. Mudah-mudahan bermanfaat.
Informasi beasiswa bisa didapatkan melalui internet dengan memasukkan kata kunci yang relevan. Misalnya, ingin mencari beasiswa S1, masukkan kata kunci beasiswa S1.
Selain itu, saat ini banyak website yang disediakan bagi para pencari beasiswa, seperti Beasiswa Pascasarjana, Scholarship Position, dan sebagainya. Biasanya, website tersebut menyediakan layanan milis untuk mendapatkan update informasi melalui email sesuai dengan kriteria beasiswa yang diinginkan. Kita bisa memasukkan kriteria beasiswa, seperti jenjang pendidikan, jurusan, hingga jenis beasiswa (penuh atau sebagian).
2. Menyeleksi informasi
Dengan banyaknya informasi beasiswa yang kita dapatkan, selanjutnya kita bisa memilih beasiswa yang paling sesuai dengan kemauan dan kemampuan. Cermati persyaratan, deadline pendaftaran, serta besaran dan durasi beasiswa.
3. Persiapan administrasi
Setelah menentukan beasiswa apa yang akan kita lamar, selanjutnya adalah mempersiapkan semua persyaratan. Terutama, persyaratan administrasi. Syarat-syarat administrasi ini di antaranya ijazah dan transkrip, portofolio, bukti prestasi, surat rekomendasi, rencana studi, kemampuan bahasa, dan lain sebagainya.
Saat ini, hampir semua beasiswa mensyaratkan kemampuan Bahasa Inggris. Kadang-kadang beberapa beasiswa di negara dengan bahasa selain Bahasa Inggris, mensyaratkan pelamar menguasai bahasa asli negara tersebut.
4. Pelajari tahapan seleksi
Tahapan seleksi masing-masing beasiswa berbeda. Ada beasiswa yang hanya menyeleksi pelamar dari persyaratan administrasi, ada yang mengadakan tes tulis sampai wawancara.
Jika hanya dilakukan seleksi administrasi, pastikan bahwa persyaratan yang Anda kumpulkan lengkap dan relevan dengan beasiswa yang Anda lamar. Cantumkan pengalaman penelitian Anda yang sesuai dengan jurusan yang Anda tuju untuk meyakinkan
reviewer bahwa Anda bisa menyelesaikan studi dengan baik.
Rencana studi juga menjadi salah satu poin yang harus diperhatikan. Reviewer memilih pelamar yang sudah memiliki rencana studi yang jelas. Sehingga, bisa dipetakan penerima beasiswa akan berkontribusi di mana.
Jika ada tahapan tes tulis, pelajari materinya. Biasanya pihak pemberi beasiswa memberikan kisi-kisi ujian tulis. Untuk wawancara, lebih mengarah pada penggalian informasi tentang diri pelamar. Mulai dari keluarga, motivasi belajar hingga cita-cita.
5. Manfaatkan relasi
Langkah kelima ini bisa menjadi yang terpenting dari keempat langkah sebelunya. Jika Anda memiliki kakak kelas yang mendapatkan beasiswa sama dengan yang Anda minati, Anda bisa bertanya dan meminta saran padanya. Hal ini tentu memudahkan dan dapat memperbesar peluang Anda mendapatkan beasiswa.
Selamat mencoba. Semoga berhasil! (*) Penulis: Inda Karsunawati
Kantin FKG Bersertifikat Laik
Hygiene Sanitasi dari Dinkes
UNAIR NEWS – Sejak tahun 2013 kantin FKG di Kampus A UNAIR iniKesehatan Kota Surabaya. Tentu saja, sertifikasi ini untuk menunjang kesehatan serta kelayakan menu makanan dan minuman yang disajikan.
Pentingnya sertifikasi ini dilandasi oleh Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 1098/MENKES/SK/VII/2003 tentang “Persyaratan Hygiene Sanitasi Rumah Makan dan Restoran”. Sertifikat laik sehat rumah makan/restoran adalah surat tanda bukti yang dikeluarkan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota kepada rumah makan/restoran yang telah memenuhi persyaratan kesehatan.
Syarat kesehatan tersebut meliputi lokasi dan bangunan, fasilitas sanitasi, dapur dan gudang penyimpanan, pengelolaan bahan makanan dan makanan jadi, peralatan dan tenaga baik secara fisik maupun bakteriologis, dan pengawasan serangga tikus dan hewan piaraan.
“Sertifikat Laik Hygiene Sanitasi ini merupakan bentuk keseriusan kami dalam menyajikan kantin yang sesuai dengan kebutuhan mahasiswa. Khususnya, dengan memperhatikan aspek kesehatan sebagai faktor utama. Selain itu, ada pula pelatihan untuk para penjual di sana agar secara konsisten memberi perhatian pada kehigienisan makanan dan minuman, ” tutur Drs. Abdul Basith, Kabag Keuangan FKG UNAIR.
Susi Erni, salah satu pemilik stan di kantin FKG menilai, pelatihan itu memberikan pengetahuan baru bagi dia dan rekan-rekannya sesama pedagang. Sementara menurut alumnus FKG Imam Mahmuda, sertifikasi membuat mahasiswa yakin kalau makanan yang dibeli tidak berbahaya untuk tubuh. (*)
Penulis: Ahalla Tsauro Editor: Binti Quryatul