• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jangkah :Penerapan Jangkah Laras Pelog Terhadap Klonthong

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Jangkah :Penerapan Jangkah Laras Pelog Terhadap Klonthong"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

V. PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan penjelasan tentang jangkah, laras pélog, metode pengukuran jangkah, garap, maka dapat disimpulkan bahwa jangkah pada laras pélog merupakan elemen estetika musikal yang digagas dengan menggunakan konsep frekuensi pada setiap laras yang terdapat di dalam laras pélog. Jangkah di dalam laras pélog dalam susunan laras/nada 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, i (dalam satu gembyang) dengan analogi jarak; ‘dekat, dekat, jauh, dekat, dekat, dekat, jauh’ merupakan konsep jarak nada yang membuktikan bahwa nada 4 sebagai nada lintasan yang mempunyai jangkah jauh dari nada 3 pada praktiknya nada 4 jarang digunakan sebagai nada rasa sèlèh. Tetapi hal tersebut bukan berarti nada 4 tidak bisa digunakan sebagai nada rasasèlèh, hal tersebut masih bisa digarap di dalam laras pélog dengan penggarapan jangkah.

Pengukuran jangkah yang melalui beberapa tahapan pada dasarnya sebagai konsep persamaan jangkah meskipun terjadi perbedaan embat. Metode pengukuran jangkah pada dasarnya belum terjadi kesepakatan di dalam masyarakat/pelaku karawitan. Hal tersebut dikarenakan pada umumnya di era sekarang para pemesan maupun pembuat gamelan dalam hal pengadaan gamelan meniru atau nyukillaras yang sudah ada sebelumnya.

Jangkah berkaitan dengan konsep rasa sèlèh dan pathet di dalam karawitan. Rasa sèlèh atau laras akhir (aksen) di dalam frasa, gatra, maupun baris akhir merupakan konsep sèlèh dalam kalimat Jawa yaitu sèlèh yang mempunyai makna

(2)

ditaruh yang pada umumnya di tempat bawah. Kaitannya dengan rasa sèlèh di dalam rangkaian laras hal tersebut dibuktikan melalui jangkah yang terdapat di dalam gending-gending maupun gerongan yang ada di dalam karawitan ‘klasik’. Pada umumnya rasa sèlèh gending-gending ‘klasik’ yaitu laras bawah (rendah), dan sebelum laras terakhir pada umumnya laras yang dekat yaitu laras sebelumnya atau sesudahnya. Tetapi dalam konsepnya sebagai rangkaian laras di dalam penciptaan karya judul Jangkah proses menuju rasa sèlèh laras bawah (rendah) tidak harus dari laras atas (tinggi), dan sebaliknya, laras atas (tinggi) dapat dijadikan sebagai larasrasasèlèh.

Konsep pathet di dalam karawitan merupakan konsep yang digagas berdasarkan rangkaian laras dan rasa sèlèh. Pathet lima, nem, dan barang yang terdapat di dalam karawitan sesuatu hal yang membedakan kaitannya dengan peran atau fungsi setiap nada di dalam karawitan. Pathet campuran merupakan penggabungan atau percampuran dari pathet lima, nem, dan barang. Dominasi percampuran laras/nada 1, 7, 4 merupakan permainan bunyi nada yang tidak lazim di dalam karawitan ‘klasik’, tetapi pada masa sekarang hal tersebut justru kadang digarap oleh beberapa penggarap. Istilah yang berkembang pada masyarakat (seni), pelaku karawitan maupun penggarap dengan hal tersebut yaitu laras ‘ndiatonis’.

Garap merupakan suatu proses kerja di dalam menganalisis subjek maupun objek dengan menggunakan idiom maupun idiom di dalam karawitan. Garap dapat berkembang apabila mengetahui unsur-unsur atau elemen-elemen penting di dalam karawitan. Penggarapan bunyi selain gamelan yang menggunakan konsep

(3)

idiom karawitan merupakan suatu usaha proses penggarapan yang melibatkan idiom maupun mediom karawitan dengan menggunakan imajinasi dan imaji. Klónthóng sebagai mediom garap di dalam komposisi bunyi yang dipadukan dengan beberapa ricikan gamelan merupakan proses penciptaan yang membutuhkan kejelian maupun keakuratan dalam merumuskan laras pélog dan jangkah laras pélog. Klónthóng yang dalam proses pembuatannya tidak dilaras tetapi bahan yang dimasukkan ke dalam cetakan berbeda-beda mengakibatkan klónthóng menghasilkan bunyi yang berbeda dan dapat dirumuskan ke salah satu laras atau sistem tangga nada di dalam karawitan, dalam hal ini laras pélog. Proses penciptaan karya seni karawitan dengan melalui tahapan-tahapan yang berbeda pada umumnya menimbulkan suatu pengalaman yang berkaitan dengan pengetahuan bidang lain. Pengetahuan tersebut mendukung di dalam mencari jawaban yang berkaitan dengan hal-hal yang belum terpaparkan dengan jelas di dalam karawitan, salah satunya pengukuran jangkah.

B. Saran

Penulis banyak mendapatkan pengalaman dalam proses penciptaan karya seni dengan judul Jangkah. Oleh sebab itu, agar mengerti dan memahami proses penciptaan karya seni karawitan maka perlu diberikan saran yang mempunyai tujuan berkembang. Saran-saran tersebut diantarannya;

Pertama, diperlukan proses pengkajian dalam penciptaan karya seni. Pengkajian tersebut dengan maksud proses penciptaan tidak sekedar berdasarkan imajinasi tetapi berdasarkan penelitian/riset. Karya seni dengan diimbangi

(4)

pengkajian lebih mempunyai makna yang dapat dijelaskan dengan hasil pengkajian dan maksud penciptaan.

Kedua, sangat dibutuhkan konvensi dalam hal pengukuran jangkah. Konvensi tersebut membantu dalam menentukan jangkah terhadap gamelan maupun mediom selain gamelan yang mempunyai potensi bunyi dalam hal laras. Metode pengukuran laras maupun jangkah yang terjadi di dalam praktisi gamelan saat ini pada umumnya masih menggunakan ngeng. Ngeng berkurang ketajamannya dikarenakan faktor usia, hal tersebut berpengaruh terhadap laras maupun jangkah di gamelan.

Ketiga, proses penciptaan tidak harus sama dengan proses penciptaan penggarap lainnya. Setiap manusia di dalam proses mencipta karya seni (karawitan) mempunyai metode yang sama maupun berbeda. Metode tersebut pada dasarnya jarang didiskusikan atau dikomunikasikan. Metode penciptaan yang berbeda bukan hal yang menyimpang, tetapi suatu usaha dengan tujuan karya yang diciptakan berbeda dengan karya yang sudah ada.

Keempat, tradisi akan berubah secara sedikit maupun banyak. Tradisi yang berkaitan dengan karawitan mengalami perubahan-perubahan yang disebabkan dalam poses transformasi atau pewarisan terjadi sedikit pengurangan maupun penambahan di dalam tradisi tersebut. Tradisi dibuat oleh manusia dan dipertahankan maupun dikembangkan oleh manusia.

Kelima, penciptaan karya seni karawitan diperlukan suatu pembedaan antara aransemen dengan penciptaan. Pada dasarnya yang berkembang saat ini menggunakan istilah penciptaan tetapi masih menggunakan bentuk-bentuk klasik

(5)

yang sudah ada. Hal tersebut dikarenakan tidak adanya suatu sistem yang memberikan pemahaman antara aransemen dan penciptaan di dalam masyarakat/pelaku karawitan. Pada dasarnya aransemen merupakan penggarapan dengan menggunakan bentuk-bentuk gending dalam karawitan yang sudah ada, sedangkan penciptaan merupakan karya cipta yang berorientasi dalam hal yang berbeda, atau suatu usaha penemuan hal yang baru.

(6)

KEPUSTAKAAN

As, Sumijati. (2001). Manusia dan Dinamika Budaya, Fakultas Sastra UGM Bekerjasama dengan BIGRAF Publising, Yogyakarta.

Bandem, I Made. (2001), “Metodologi Penciptaan Seni” buku ajar Program Pascasarjana ISI Yogyakarta.

Barthes, Roland. (2010), Imaji Musik Teks, Yogyakarta : Jalasutra (Anggota IKAPI).

Forster, Cris. (2010), Musical Mathematics, California : Chronicle Books LLC. Hastanto, Sri. (2009), Konsep Pathet Dalam Karawitan Jawa, Surakarta :

Program Pascasarjana bekerja sama dengan ISI Press Surakarta.

___________. (1997), “Pendidikan Karawitan Situasi Problema dan Angan-angan”, dalam Wiled : Jurnal Kesenian STSI Surakarta, Surakarta.

Hardjana, Suka. (2003), Corat-coret Musik Kontemporer Dulu dan Kini, Jakarta : Ford Foundation dan Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia.

Haryatmoko. (2016), Membongkar Rezim Kepastian; Pemikiran kritis post- strukturalis. Yogyakarta: PT Kanisius.

Hendarto, Sri. (2011), Organologi dan Akustika I&II, Bandung : CV. Lubuk Agung.

Jati, Eka. (2008), Fisika Dasar, Yogyakarta : ANDI Yogyakarta.

Johnston, Ian. (2002), Measured Tones, London : Institute of Physies Publishing Bristol and Philadelpia.

Kussudiarjo, Bagong. (1993), Bagong Kussudiarjo dari Klasik hingga Kontemporer, Yogyakarta : Padepokan Press.

Kunst, Jaap. (1973), Music In Java, Netherlands : Tanpa penerbit.

Maulana, Achmad. (2008), Kamus Ilmiah Populer Lengkap, Yogyakarta : Absolut.

(7)

Masjkuri & Sutrisno Kutoyo. (1976/1977), Sejarah Daerah Istimewa Yogyakarta, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah.

Marianto, Dwi M. (2002), Seni Kritik Seni, Yogyakarta : Lembaga Penelitian Institut Seni Yogyakarta.

Mardianto, Herry. (2014), Buku Panduan Museum Negeri Sono Budoyo, Yogyakarta : Jentera Intermedia.

Martopangrawit. (1975), Pengetahuan Karawitan I, ASKI Surakarta : Surakarta. Negoro, ST dan Harahap, B. (2014), Ensiklopedia Matematika, Bogor : Ghalia

Indonesia.

Palgunadi, Bram. (2002), Serat Kandha Karawitan Jawi, Bandung : ITB.

Rustopo. (1980/1981), Pengetahuan Membuat Gamelan, Surakarta : Proyek Pengembangan IKI Sub Bagian Proyek ASKI Surakarta.

Setiawan, Erie. (2015), Serba-serbi Intuisi Musikal dan Yang Alamiah, : Yogyakarta : Art Music Today.

Siswadi. (2002), Nirmana Nada Bertautan, Tesis Pertanggungjawaban Penciptaan Karya Seni Program Pascasarjana ISI Yogyakarta.

Smith, Jacqueline. (1985), Komposisi Tari:Sebuah Petunjuk Praktis Bagi Guru, (terjemahan Ben Suharto), Yogyakarta : Ikalisti.

Supanggah, Rahayu. (2002), Bothekan karawitan I, Jakarta : Ford Foundation & Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia.

_________________(2009), Bothekan karawitan II : GARAP, Surakarta : Program Pasca Sarjana bekerjasama dengan ISI Press Surakarta.

SP, Soedarso. (1990), Tinjauan Seni, Yogyakarta : Saku Dayar Sana Yogyakarta. Sumarsam. (2002), Hayatan Gamelan, Surakarta : STSI Press Surakarta.

_________ (2003), Gamelan, Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

Susilo, Edhi. (1993), Musik Keroncong Langgam Jawa Asimilasi Diatonis dan Pentatonis, Jurnal Pengetahuan dan Penciptaan Seni SENI, Yogyakarta : BP ISI Yogyakarta.

Soeroso. (1983), Menuju Ke Garapan Komposisi Karawitan, Yogyakarta : Akademi Musik Indonesia Yoogyakarta.

(8)

______. (1999), Kamus Istilah Karawitan Jawa, Yogyakarta : Tanpa Penerbit. Tedjoworo, H. (2001), Imaji dan Imajinasi, Yogyakarta : Kanisius.

Tim Balai Bahasa Yogyakarta. (2011), Kamus Basa Jawa (Bausastra Jawa), Yogyakarta : Kanisius.

Trimanto. (1983), Membuat dan Merawat Gamelan, Yogyakarta : Proyek Javanologi.

Waridi. (2005), Menimbang Pendekatan Pengkajian & Penciptaan Musik Nusantara, Surakarta : Jurusan Karawitan bekerjasama dengan program Pendidikan Pasca Sarjana dan STSI Press Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Surakarta.

____________ (2008), Gagasan dan Kekaryaan Tiga Empu Karawitan, Etnoteater Publisher bekerjasama dengan BACC Kota Bandung dan Pascasarjana ISI Surakarta.

Webtografi

Rexi. (12 Desember 2016), Kua Etnika Sebuah Komunitas Seni. https://www.kaskus.co.id/thread/000000000000000013646344/kuaetnika-sebuah-komunitas-seni/). Diskografi https://www.youtube.com/watch?v=L1GwYACFkTQ http:/ www.youtube.com/watch?v=y6J3NAaT4uq https://www.youtube.com/watch?v=8jmUfse8z3M https://www.youtube.com/watch?v=MhXvf2-VveU Nara Sumber/Informan

Otok Bima Sidharta (57 th.), seniman, wawancara tanggal 4 November 2016 di Taman Budaya Yogyakarta.

Rendi Prasetya (24 th.), pemandu museum Sono Budoyo, wawancara tanggal 23 November 2016 di museum Sono Budoyo Yogyakarta.

(9)

Raharja (47 th. ), dosen jurusan karawitan ISI Yogyakarta, wawancara tanggal 24 April 2017 di dusun Prancak Dukuh, Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul. Sumardi, (69 th.), petani, wawancara tanggal 4 Februari 2015 di dusun Njaban,

Sinduharjo, Ngaglik, Sleman.

Teguh Suyanto (44 th.), seniman dan penglaras gamelan, wawancara tanggal 23 April 2017 di dusun Gendengan, Kecamatan Margodadi, Kabupaten Sleman. Yuti (27 th.), gemblak (pembuat klónthóng), wawancara tanggal 29 Mei 2016 di

Referensi

Dokumen terkait

Dewasa ini istilah karawitan telah dibakukan menjadi pengertian yang semata-mata meliputi seni musik secara umum, khususnya adalah musik dengan system nada (laras)

seseorang yang dapat menguasai dan memadukan tiga unsur pokok yaitu wiraga, wirama dan wirasa (Haryono 2012). Akan tetapi, dalam karya garap tari lebih luas lagi yaitu

Karena bagian dhawah pada gending ini juga memiliki balungan nibani, dalam hal ini menjadi alasan penulis berkeyakinan bisa menyajikan gending jatipurno laras pelog pathet lima

Adapun tujuan dari penulisan naskah ini, selain untuk kelengkapan ujian peaktek pagelaran tingkat III semester gasal tahun ajaran 2009/2010, juga dimaksud untuk memperkaya

Gending soran Bedhaya laras pelog pathet barang mempunyai jenis balungan yang kompleks, yaitu: pada bagian dados kenong pertama hampir satu kenongan terdapat

Saguh Hadi Raharja mengatakan bahwa dalam penyajian gending patalon Lambangsari versi Karawitan Ngripto Laras terdapat garap pamijen pada bagian inggah ciblon irama

Secara umum penelitian ini bertujuan untuk melakukan pengujian tentang spektrum bunyi yang dihasilkan dari masing-masing wilahan Saron barung laras pelog yang dianalisis menggunakan

Enam elemen pembentuk garap ini adalah 1 materi garap menampilkan transkrip notasi, analisis tangga nada/ laras dan pathet yaitu menggunakan laras slendro pathet manyura; 2 penggarap