Pendahuluan
Probiotik merupakan istilah yang digunakan pada mikroorganisme hidup yang dapat memberikan efek baik atau kesehatan pada organisme lain atau inangya. Pada akuakultur, probiotik digunakan dengan cara menambahkannya pada campuran pakan serta dapat langsung ditambahkan ke kolam budidaya. Penambahan pada pakan ataupun kolam perairan memiliki tujuan yang berbeda dalam proses kegunaannya. Pemberian probiotik pada pakan lebih diutamakan untuk mempermudah pencernaan ikan dalam mencerna pakan agar proses penyerapan menjadi lebih baik. Disisi lain, penambahan probiotik pada kolam budidaya lebih diutamakan untuk menekan bakteri pathogen pada kolam budidaya sehingga ikan yang berda di kolam tersebut tidak mudah untuk terserang penyakit.
Penerapan probiotik pada sistem budidaya mampu meningkatkan resistensi ikan terhadap suatu penyakit. Pakan dan kesehatan ikan menjadi bagian penting dalam lingkup budidaya perikanan, karena itu harus ditingkatkan efisiensi dan efektivitas yaitu dengan cara penambahan probiotik. Probiotik merupakan makanan tambahan berupa sel-sel mikroba hidup, yang memiliki pengaruh menguntungkan bagi hewan inang yang mengkonsumsinya melalui penyeimbangan flora mikroba intestinalnya (Fuller 1987). Selanjutnya Verschere et al, (2000) menyatakan bahwa probiotik sebagai penambah mikroba hidup yang memiliki pengaruh menguntungkan bagi komunitas mikroba lingkungan hidupnya. Pendapat lain oleh Salminen et al, (1999) bahwa probiotik merupakan segala bentuk preparasi sel mikroba atau komponen sel mikroba yang memiliki pengaruh menguntungkan bagi kesehatan dan
kehidupan inang. Menurut Feliatra dkk. (2004) prinsip kerja dari probiotik adalah dengan pemecahan molekul-molekul kompleks
Penggunaan probiotik dalam akuakultur merupakan cara antisipasi atau strategi yang efisien untuk pencegahan dari infeksi mikroba dan sebagai pengganti antibiotik dan kemoterapi. Penggunaan probiotik sebagai bentuk pengendalian biologis (biological control) karena perannya dalam membatasi atau membunuh hama dan penyakit, juga berperan dalam peningkatan kualitas air media pemeliharaan ikan (Yulvizar dkk. 2014). Pemberian probiotik secara terus menurus juga dapat menurunkan keefektifan keguanaan pada probiotik tersebut, sehingga pemberian probiotik harus dengan selang waktu dan dapat menghasilkan sistem imun yang lebih efektif karena setiap probiotik yang masuk kedalam tubuh dapat langsung merangsang aktifnya sistem imunitas dan ketahanan ikan terhadap penyakit.
Praktikum ini bertujuan untuk menyeleksi bakteri yang baik untuk digunakan sebagai probiotik dalam bidang nutrisi dan kesehatan ikan.
Metodologi
1. Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan pada Kamis, 6 Oktober 2016 pukul 15.00 hingga 18.00 di R-Benk dan Laboratorium Kesehatan Ikan lantai 4, Departemen Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.
2. Alat dan Bahan
Alat yang digunakan pada praktikum ini antara lain cawan petri, mikropipet, mikrotip, korek api, kertas cakram, batang penyebar, cawan petri, bunsen, jarum ose, erlenmeyer, waterbath, shaker, dan inkubator. Sedangkan Laporan Praktikum Besar m.k Bioteknologi Akuakultur
Laboratorium Reproduksi dan Genetika Ikan Departemen Budidaya Perairan
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor
2016
Seleksi Bakteri Probiotik Untuk Akuakultur
Nuralim Paturakhman (C14140035)1Kelompok III
1Departemen Budidaya Perairan, FPIK, IPB
ABSTRAK
bahan-bahan yang digunakan yaitu, isolat NP-5, isolat Aeromonas hydrophila, isolat SKT-b, isolat 1-Ub, isolat Vibrio harveyi MR-5339, larutan fisiologis, alkohol 70% dan 96%, media TSA, media TCBS, media SWC, susu skim, minyak zaitun, tepung kanji, CuSO4 dan KI.
3. Prosedur Kerja
3.1 Probiotik Untuk Nutrisi 3.1.1 Uji Protease
Pertama tangan dan meja disterilkan menggunakan alkohol 70% agar aseptik, kemudian bunsen dinyalakan menggunakan korek api. Selanjutnya bakteri uji digoreskan pada media SWC yang bunsen dinyalakan menggunakan korek api. Kemudian bakteri uji diinokulasi ke media agar yang mengandung tepung kanji dan diberi kertas wrap. Media yang dicampur lalu diinkubasi selama 24 jam dalam inkubator. Setelah 24 jam permukaan media ditetesi KI dan diamati zona bening yang terbentuk.
3.1.2 Uji Lipase
Meja dan tangan disemprotkan terlebih dahulu dengan alkohol 70%, kemudian bunsen dinyalakan dengan korek api. Kultur bakteri uji diinokulasi ke media agar yang mengandung minyak zaitun dan diberi kertas wrap. Media yang dicampur lalu diinkubasi selama 24 jam dalam inkubator. Setelah 24 jam permukaan media ditetesi CuSO4 dan diamati warna hijau mengkilat yang
terbentuk.
3.2 Probiotik Untuk Kesehatan 3.2.1 Metode Zona Hambat
Terlebih dahulu dibuat kultur murni Aeromonas hydrophila dan NP-5 pada media agar TSB. Meja dan tangan disemprotkan terlebih dahulu dengan alkohol 70%, kemudian bunsen dinyalakan dengan korek api. Diambil Aeromonas hydrophila dalam mikrotube dengan digunakannya mikropipet dan mikrotip, kemudian dituang ke media TSA. Pada media tersebut disebar dengan batang penyebar yang sebelum digunakan direndam dengan alkohol 90% dan dibakar pada api bunsen. Diambil 4 buah kertas cakram dengan pinset dan satu per satu dicelupkan terlebih dahulu kedalam mikrotube yang berisi NP-5 lalu dimasukkan ke cawan yang berisi media tadi. Diberi kertas wrap dan diinkubasi selama 24 jam. 3.2.2 Metode Kultur Bersama
Meja dan tangan disemprotkan terlebih dahulu dengan alkohol 70%, kemudian bunsen dinyalakan dengan korek api. Kultur bakteri 1-Ub dan Vibrio harveyi diinokulasi dengan jarum ose dan dimasukkan kedalam labu erlenmeyer yang berisi media SWC cair 15 mL dan dishaker selama 18 jam maka akan diperoleh kepadatan 108. Kepadatan tersebut diencerkan sebanyak 5 kali pada
Vibrio harveyi dan sebanyak 2 kali pada 1-Ub. Setelah diencerkan hasil kepadatan dicampur dan dishaker kembali selama 18 jam dan menghasilkan kepadatan 109.
Kultur mix diencerkan dan dipakai pada kepadatan 10-1
dan 10-2. Kepadatan dari kontrol diencerkan 7 kali dan
dipakai dengan kepadatan 10-5 , 10-6 , dan 10-7. Hasil
pengenceran tersebut disebar pada media TCBS kemudian diberi plastik wrap dan diinkubasi selama 24 jam. Nilai TPC dapat dihitung dengan rumus:
TPC = jumlah koloni x 1/V x 1/fp (satuan CFU/mL)
Hasil
Berikut ini merupakan tabel hasil pengamatan pada seleksi bakteri probiotik untuk nutrisi dan kesehatan.
Tabel 1. Hasil pengamatan probiotik untuk nutrisi Nama
Keterangan: + = terdapat zona bening dan tumbuh - = tidak terdapat zona bening dan
tidak tumbuh
Berdasarkan hasil pengamatan didapatkan hasil yaitu pada setiap uji terdapat zona bening dan tumbuh bakteri
Tabel 2. Hasil pengamatan probiotik untuk kesehatan Nama
Metode Diameter(cm) koloni∑ Gambar
Kultur
Berdasarkan pada tabel diatas didapatkan hasil yaitu pada metode zona hambat memiliki diameter sebesar 0.8 cm pada perlakuan PBS dan berturut-turut zona hambat yang lain sebesar 0.7 cm, 0.7 cm, 0.7 cm dan 0.7 cm. Sedangkan pada metode kultur bersama jumlah koloni terbanyak pada kultur bersama VH 10-5
sebanyak 12 koloni dan jumlah koloni terdikit pada kultur bersama VH 10-7 sebanyak 1 koloni.
Pembahasan
Hasil uji metode zona hambat menunjukkan bahwa rata-rata pada perlakuan kontrol zona bening muncul, namun pada perlakuan kontrol terdapat zona bening. Seharusnya pada perlakuan kontrol tidak terdapat zona bening karena yang dikultur adalah bakteri patogen murni tanpa diberikan probiotik. Munculnya zona bening pada perlakuan kontrol kemungkinan disebabkan oleh beberapa faktor seperti adanya senyawa metabolit primer atau adanya perubahan pH (Widanarni et al 2008). Zona bening pada perlakuan dengan menggunakan probiotik Np-5 menunjukkan bahwa terdapatnya zona bening. Zona bening dengan diameter terbesar yaitu sebesar 1 cm, sedangkan zona bening terkecil yaitu sebesar 0,8 cm. Perlakuan yang dilakukan oleh kelompok 2 menunjukkan adanya zona bening disekeliling kedua kertas cakram yang ditetesi oleh probiotik np-5, dengan diameter zona bening kedua-duanya sebesar 0.8-1 cm. Zona bening yang terbentuk menandakan bahwa bakteri probiotik mampu menghambat pertumbuhan bakteri patogen. Menurut (Yulvizar et al 2014). Secara umum kemampuan menghambat pertumbuhan bakteri lain dikarenakan satu atau kombinasi dari beberapa faktor seperti: produksi antibiotik, bakteriosin, siderophores, lysozymes, protease dan atau hidrogen peroksida atau mempengaruhi pH media dengan menghasilkan asam organik tertentu.
Hasil uji pada metode kultur bersama probiotik 1-UB menunjukkan bahwa koloni bakteri Vibro harveyi yang terbentuk hanya terdapat pada satu ulangan yang dilakukan oleh kelompok besar 4, dengan jumlah koloni Vibro harveyi sebesar 4 x 103 CFU/ml. Koloni
Vibro harveyi tidak terbentuk pada rata-rata ulangan dari perlakuan metode kultur bersama dikarenakan bakteri probiotik dapat menekan pertumbuhan bakteri patogen. Menurut (Kanmani et al 2010) bakteri probiotik menghasilkan metabolisme antimikroba seperti hidrogen
peroksida, asam laktat, diasetil dan senyawa bakteriosin. Komponen senyawa-senyawa tersebut lah yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri. Walaupun koloni Vibro harveyi ada yang tumbuh, namun jumlahnya lebih sedikit dibanding kontrol. Hal tersebut juga menandakan bahwa pertumbuhan Vibro harveyi terhambat oleh adanya bakteri probiotik 1-UB. Hasil perhitungan TPC kontrol dan perlakuan berbeda karena pada perlakuan kontrol tidak terjadi aktivitas penghambatan pertumbuhan Vibro harveyi, sedangkan pada perlakuan terdapatnya probiotik 1-UB yang mampu menghambat pertumbuhan Vibro harveyi. Hal ini sesuai dengan pernyataan dari (Widanarni et al 2008) bahwa bakteri 1-UB mampu menghambat pertumbuhan bakteri Vibro harveyi sehingga larva udang windu dapat mencapai Survival rate (SR) yang cukup tinggi, sekitar 80%.
Bakteri SKT-b digunakan pada uji protease, amilase dan lipase pada praktikum. Menurut (Puspita 2009) bakteri SKT-b merupakan bakteri Vibrio alginolyticus. Bakteri ini merupakan salah satu probiotik untuk menekan pertumbuhan dari Vibrio harveyi, sehingga bakteri ini umumnya digunakan pada budidaya udang. Bakteri SKT-b ini dapat meningkatkan kecernaan pakan dari inangnya, karena bakteri SKT-b menghasilkan enzim amilase dan protease (Widanarni et al 2010). Bakteri 1-UB digunakan pada uji amilase dan protease pada praktikum. Berdasarkan penelitian (Widanarni et al 2008) menyatakan bahwa bakteri 1-UB merupakan bakteri Pseudoalteromonas piscisida dengan indeks kemiripan 98% menggunakan 16-rRNA. Berdasarkan penelitian Widanarni et al (2012) bakteri ini merupakan probiotik yang dapat digunakan dalam meningkatkan laju pertumbuhan udahg sebesar 9.03% dengan nilai FCR 1,35. Bakteri NP5 digunakan pada uji amilase. Bakteri NP5 merupakan bakteri dari genus Bacillus. Kegunaan dari bakteri NP5 tersebut adalah sebagai probiotik yang dapat meninkatkan sistem imun inangnya serta meningkatkan kecernaan pakan inangnya sehingga dapat meningkatkan performa ikan inangnya. Hal tersebut sesuai dengan hasil penelitian Azhar (2013) yang menyatakan bahwa penambahan probiotik NP5 dengan prebiotik yang berasal dari ubi jalar mampu meningkatkan pertumbuhan, FCR, respon imun non-spesifik, dan resistensi penyakit pada juvenil ikan kerapu bebek.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil praktikum dari kelompok 2 dapat disimpulkan bahwa pada perlakuan seleksi bakteri probiotik untuk nutrisi seluruh uji terdapat zona bening dan tumbuh bakteri. Pada perlakuan seleksi bakteri probiotik untuk kesehatan untuk perlakuan zona hambat terdapat zona bening pada seluruh bagian dan perlakuan kultur bersama koloni juga tumbuh
Daftar Pustaka
Kanmani P, Kumar R S, Yuvaraj N, Paari K A, Pattukumar V, Arul V. 2010. Comparison of Antimicrobial Activity of Probiotic Bacterium Streptococcus phocae P180, Enterococcus faecium MC13 and Carnobacterium divergens Against Fish Pathogen. World Journal of Dairy and Food Sciences. Vol 5(2): 145-151.
Puspita F. 2009. Pengaruh pemberiam bakteri probiotik melalui pakan terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup udang windu Paneus monodon [skripsi]. Bogor (ID): Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor.
Septiarini, Esti H, Wardiyanto. 2012. Pengaruh Waktu Pemberian Probiotik yang Berbeda Terhadap Respon Imun Non-Spesifik Ikan Mas (Cyprinus carpio L.) yang Diuji Tantang dengan Bakteri Aeromonas salmonicida. Jurnal Rekayasa dan Teknologi Budidaya Perairan. Vol 1 (1): 39-46. Widanarni, Ayuzar E, Sukenda. 2008. Mekanisme
penghambatan bakteri probiotik terhadap pertumbuhan Vibrio harveyi pada larva udang windu Penaeus monodon. Jurnal Akuakultur Indonesia. Vol7: 181-190.
Widanarni, Lidaenni M A, Wahjuningrum D. 2010. Pengaruh pemberian bakteri probiotik Vibrio SKT-b dengan dosis yang SKT-berSKT-beda terhadap kelangsungan hidup dan pertumbuhan larva udang windu (Penaeus monodon) Fab. Jurnal Akuakultur Indonesia. Vol 9(1): 21-29.
Widanarni, Sukenda, Setiawati M. 2008. Bakteri probiotik dalam budidaya udang: seleksi, mekanisme aksi, karakterisasi dan aplikasinya sebagai agen biokontrol. Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia. Vol 13(2): 80-80.
Widanarni, Wahjuningrum D, Puspita F. 2012. Aplikasi bakteri probiotik melalui pakan buatan untuk meningkatkan kinerja pertumbuhan udang windu Penaeus monodon. Jurnal Sains Terapan Edisi II. Vol 2(1): 32-49.
Yulvizar C, Dewiyanti I, Defira C N. 2014. Seleksi bakteri berpotensi probiotik dari ikan mas (Cyprinus carpio) Indegenous jantho berdasarkan aktivitas antibakteri secara in vitro. Jurnal Teknologi dan Industri Pertanian Indonesia. Vol 6(2): 20-24.