PERAN MASYARAKAT SEBAGAI SUATU SOCIAL CAPITAL TERHADAP
KEGIATAN KONSERVASI SUMBERDAYA LAHAN PERTANIAN
(PENDEKATAN EKONOMI)
(Tugas Kebijakan Agraria)
Oleh:
Faurani I Santi S
H363090131
SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
PRAKARTA
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT, Tuhan semesta alam Shalawat dan salam bagi Rasulullah, Nabi Muhammad SAW.
Rasa syukur penulis panjatkan atas karunia dan ridho Allah SWT, penulis dapat menyelesaikan tugas ini, Paper ini menyajikan hasil penelitian pustaka mengenai Peran Masyarakat Sebagai Social Capital Terhadap Kegiatan Konservasi Sumberdaya Lahan Pertanian Sebagai Suatu Pendekatan Ekonomi
Adapun paper ini bertujuan untuk lebih memperdalam kemampuan dan keterampilan dalam menganalisa permasalahan ekonomi yang berkaitan dengan upaya pelestarian alam khususnya yang berkaitan dengan sector pertanian, sehingga dalam hal ini penulis selain mengacu pada paper yang telah ditulis sebelumnya oleh beberapa literature, makalah, dan jurnal dari beberapa penulis, namun melalui beberapa analisa dan teori tambahan, sehingga paper ini bisa disusun. Pada kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada Dr. Ir. Yusman Syaukat, MS, selaku dosen pembimbing sekaligus dosen pengasuh mata kuliah Kebijakan Agraria.
Penulis menyadari masih ada beberapa kekurangan dan keterbatasan, mengingat waktu dan lamanya persiapan dan proses penulisan yang cukup singkat. Sehingga paper ini bisa ditulis. Walau demikian penulis berharap agar senua yang tertuang dalam paper ini dapat bermanfaat bagi semua yang membutuhkannya. Amin
Peran Masyarakat Sebagai Social Capital Terhadap Kegiatan Konservasi
Sumberdaya Lahan Pertanian Sebagai Suatu Pendekatan Ekonomi
Oleh:
Faurani I Santi S(H363090131)
Abstrak
Pangan adalah sumber energi bagi manusia dan pangan merupakan salah satu tujuan kenapa manusia berusaha dan melakukan kegiatan. Upaya memperoleh sumber pangan tidaklah terlepas dari peran sektor pertanian dalam rangka meningkatkan kuantitas dan kualitas pangan yang harus tersedia bagi masyarakat secara keseluruhan. Akan tetapi upaya pengadaan pangan seringkali terhambat dengan fenomena yang terjadi dilingkungan sekitar, dengan semakin bertambahnya jumlah penduduk diikuti dengan semakin besarnya kebutuhan pangan yang tersedia seringkali menjadi penghambat, belum lagi perilaku manusia yang diikuti dengan semakin berkembangnya pengetahuan dan teknologi yang ditemukan yang mendasari motivasi manusia untuk menemukan suatu inovasi dalam rangka meningkatkan kuantitas dan kualitas sumber pangan. Seringkali inovasi yang pada awalnya ditemukan bertujuan untuk meningkatkan sumber pangan, akan tetapi justru menjadi kendala bagi tujuan manusia tersebut. Sehingga seringkali pengetahuan dan teknologi justru menjebak manusia dalam dampak negatif yang dihasilkan setelahnya.
Untuk itu, upaya pelestarian/konservasi lahan khususnya lahan pertanian haruslah menjadi fokus bagi pemerintah dan masyarakat dalam rangka mengatasi potensi-potensi dan dampak yang bisa terjadi akibat semakin berkembangnya teknologi dan pengetahuan serta semakin besarnya tuntutan kebutuhan masyarakat akan ketersediaan pangan yang cukup dan berkualitas.
Selain faktor-faktor sosiologis, faktor-faktor ekonomis seperti cost-benefit framework sebagai landasan penentuan kebijakan pemerintah maupun komunitas masyarakat juga patut diperhatikan, karena jika kita bicara mengenai upaya pelestarian alam berarti kita juga bicara mengenai suatu kegiatan investasi, yang jika dipandang sepintas tidaklah terlalu menguntungkan dalam jangka pendek tetapi justru akan dirasakan manfaatnya dalam jangka waktu panjang. Dengan kata lain investasi yang berkaitan dengan upaya kelestarian alam/lahan akan dirasakan baru setelah beberapa tahun kemudian. Namun demikian setelah dipelajari dan dipertimbangkan lebih jauh lagi, jenis investasi ini justru akan menghasilkan hasil yang jauh berlipat ganda daripada biaya yang telah dikeluarkan.
Kata kunci: kebijakan, konservasi lahan pertanian, social capital, dan cost-benefit framework
I. Pendahuluan
Sumberdaya alam merupakan aset penting suatu negara dalam melaksanakan pembangunan, khususnya pembangunan di sektor ekonomi. Selain dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia, sumberdaya alam juga memberikan kontribusi yang cukup besar bagi kesejahteraan suatu bangsa (wealth of nation). Oleh karena itu, pemanfaatan dan pengelolaan sumberdaya alam secara optimal, lestari dan berwawasan lingkungan sudah semestinya dilakukan.
Sumberdaya alam merupakan anugerah Tuhan yang harus dijaga oleh setiap umat manusia, dimana dengan keberadaan sumberdaya tersebut mampu memberikan nilai ekonomis bagi manusia itu sendiri. Selain sebagai sumber pangan juga merupakan sumber penghasilan bagi penduduk yang ada disekitarnya. Karena dari sumberdaya alam itulah, maka penduduk disekitar bisa memanfaatkan untuk memperoleh bahan makanan (berbagai buahan, sayuran, ikan, hewan ternak, dan sebagainya), maupun sumber pendapatan yang dapat dikembangkan manusia sehingga memiliki nilai ekonomis (seperti lahan pertanian, kehutanan, perikanan, maupun industri).
terhadap alam karena selain alam merupakan sumber bahan, baik bahan baku juga merupakan tempat dimana kegiatan ekonomi tersebut dilakukan. Meskipun dengan semakin majunya suatu teknologi, keberadaan sumberdaya alam tetap saja dibutuhkan dan tidak dapat disubstitusi. Justru dengan semakin berkembangnya teknologi dan ilmu pengetahuan, manusia dihadapkan suatu fenomena dimana dampak perkembangan teknologi dan pengetahuan adalah langsung terhadap eksistensi dan kualitas sumberdaya alam kedepan sehingga manusia dihadapkan oleh dua kemungkinan apakah dampak yang disebabkan oleh perkembangan teknologi dan pengetahuan tersebut searah atau justru bertentangan dengan keberadaan sumber daya alam.
Seperti diketahui, bahwa seringkali muncul permasalahan dalam pengelolaan sumberdaya alam akibat berkembangnya teknologi dan pengetahuan. Dampak seperti kerusakan hutan, degradasi lahan pertanian, pencemaran udara dan air, hama, ataupun kematian hewan seringkali justru timbul akibat perkembangan tersebut. Sebaliknya apabila teknologi dan pengetahuan tersebut diterapkan secara bijaksana dan bertanggungjawab maka akan menambah nilai ekonomis dari sumberdaya alam tersebut. Dengan kata lain, manusia dalam menerapkan dan mengembangkan teknologi dan pengetahuan sebaiknya memperhatikan aspek-aspek lain seperti aspek sosial budaya selain aspek ekonomis. Hal ini berkaitan dengan eksistensi dan kesinambungan dari manfaat sumberdaya alam itu sendiri dalam jangka panjang. Jangan sampai tindakan yang mengeksploitasi alam hanya bisa dirasakan manfaatnya oleh generasi sekarang tetapi sebaliknya tidak dapat dirasakan manfaatnya bagi generasi selanjutnya.
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, bahwa sumberdaya alam merupakan unsur penunjang bagi keberhasilan pembangunan khususnya pembangunan ekonomi nasional, oleh Triharso (1992) dalam jurnalnya yang berjudul Pembangunan Pertanian Lingkungan Berwawasan Lingkungan Yang Berkelanjutan dikatakan bahwa Pembangunan Nasional, merupakan usaha mempertemukan empat unsur pokok, yakni: (i) Manusia Indonesia, (ii) sumber daya alam, (iii) dinamika sosial yang bergolak dan iv) teknologi. Dan dengan menguasai teknologi, bangsa Indonesia dapat mengembangkan serta memanfaatkan sumber daya alamnya secara bijaksana dan efisien; di dalamnya sudah terkandung usaha pengamanan tata lingkungan. Usaha pembangunan tersebut bertumpu pada tiga jalan sekaligus, yang secara politik dikenal sebagai Trilogi Pembangunan yaitu:
1. Mencapai laju pertumbuhan setinggi-tingginya, 2. Pemerataan pendapatan,
3. Memelihara kestabilan nasional dengan jalan memperluas kesempatan kerja, memupuk kemampuan nasional dalam bidang ekonomi, penyediaan pangan yang cukup, keamanan lahir dan batin.
Secara operasional perlu ditambahkan logi yang keempat, menjadi caturlogi yakni: Menjaga kelestarian dan meningkatkan nilai tambah dalam alam lingkungan.Agar keempat usaha tersebut dapat terlaksana sangat perlu diadakan kebijaksanaan nasional di bidang pengelolaan sumber daya alam yang mencakup pengelolaan:
1. sumber daya mineral dan energi, 2. sumber daya tanah dan air,
3. sumber daya hutan dan tumbuhan,
4. sumber daya kelautan (marine resources).
Adapun tujuan dari kebijakan pengelolaan sumberdaya alam yang dilaksanakan berlandaskan sudut pandang yang menyeluruh, rasional, bersistem, dan terpadu antara lain:
1. Menjamin persediaan bahan mentah terus menerus dalam jumlah dan mutu yang sesuai dengan keperluan sedemikian rupa agar laju pertumbuhan ekonomi dan peningkatan taraf hidup rakyat secara merata tercapai,
3. Meningkatkan nilai tambah sumber daya alam disertai dengan usaha memelihara kelestarian tata lingkung,
4. Mengusahakan agar pemanfaatan sumber daya alam dapat meningkatkan ketahanan nasional dalam arti kemampuan dan ketangguhan suatu bangsa untuk dapat menjamin kelangsungan hidupnya.
Maka dari itu, kelestarianian lingkungan berdasarkan empat tujuan diatas harus berdasarkan suatu tata nilai, yakni tata nilai tata lingkungan dengan falsafah hidup secara damai dengan alam lingkungan itu sendiri. Asas ini harus ditumbuhkan di sekolah maupun di luar sekolah, dari taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi (Zen, 1982).
II. Sumberdaya dan Konservasi Sumberdaya
Konservasi adalah segenap proses pengelolaan suatu tempat agar makna kultural yang dikandungnya terpelihara dengan baik (Piagam Burra, 1981). Konservasi adalah pemeliharaan dan perlindungan terhadap sesuatu yang dilakukan secara teratur untuk mencegah kerusakan dan kemusnahan dengan cara pengawetan (Peter Salim dan Yenny Salim, 1991). Kegiatan konservasi selalu berhubungan dengan suatu kawasan, kawasan itu sendiri mempunyai pengertian yakni wilayah dengan fungsi utama lindung atau budidaya (UU No. 24 Tahun 1992). Kawasan lindung adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama melindungi kelestarian lingkungan hidup yang mencakup sumber daya alam, sumber daya buatan, dan nilai sejarah serta budaya bangsa guna kepentingan pembangunan berkelanjutan. Kawasan budidaya adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama untuk dibudidayakan atas dasar kondisi dan potensi sumber daya alam, sumber daya manusia, dan sumber daya buatan.
a. Ruang Lingkup Sumber Daya
alam non hayati yang ditunjuk untuk meningkatkan kualitas, kuantitas, dan/atau kemampuan daya dukungnya, antara lain hutan buatan, waduk, dan jenis unggul.
b. Konservasi Sumber Daya Alam di Indonesia
Mulai tahun 1970-an konservasi sumber daya alam di Indonesia berkembang dan memiliki suatu strategi yang bertujuan untuk: a. Memelihara proses ekologi yang penting dan sistem penyangga kehidupan, b. Menjamin keanekaragaman genetik, dan c. Pelestarian pemanfaatan jenis dan ekosistem.
Berdasarkan Pasal 5 UU No. 5 Tahun 1990 dan Strategi Konservasi Dunia kegiatan konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya meliputi kegiatan: a. Perlindungan proses-proses ekologis yang penting atau pokok dalam sistem-sistem penyangga kehidupan, b. Pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya, c. Pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya.
c. Macam-macam Konservasi
Ada empat macam konservasi sumberdaya alam yaitu: a) konservasi sumberdaya alam hayati , b) konservasi sumberdaya alam non hayati, c) konservasi energi dan sumber daya mineral dan d) konservasi sumber daya buatan dan cagar alam
Konservasi sumberdaya alam hayati merupakan upaya perlindungan terhadap proses ekologi sebagai suatu sistem penyangga kehidupan, keanekaragaman genetik, dan pemanfaatan jenis dan ekosistem. Yang mana peranannya adalah sebagai: a). Penyelamat usaha pembangunan dan hasil-hasil pembangunan, b) Pengembangan Ilmu Pendidikan, c) Pengembangan kepariwisataan dan peningkatan devisa, d). Pendukung pembangunan bidang pertanian, e). Keseimbangan lingkungan alam, dan f). sumber manfaat bagi manusia.
Sedangkan konservasi sumberdaya alam non hayati meliputi konservasi tanah dan air, dan pengelolaan daerah aliran sungai. Konservasi tanah diartikan sebagai penempatan setiap bidang tanah pada cara penggunaan yang sesuai dengan kemampuan tanah tersebut dan memperlakukannya sesuai dengan syarat-syarat yang diperlukan agar tidak terjadi kerusakan tanah. Sedangkan konservasi air pada prinsipnya adalah penggunaan air yang jatuh ke tanah seefisien mungkin, pengaturan waktu aliran sehingga tidak terjadi banjir yang merusak dan terdapat cukup air pada waktu musim kemarau. Persoalan konservasi tanah dan air adalah kompleks dan memerlukan kerjasama yang erat antara berbagai disiplin ilmu pengetahuan seperti ilmu tanah, biologi, hidrologi, dan sebagainya. Pembahasan tentang konservasi tanah dan air ini selalu tidak akan terlepas dari pembahasan tentang siklus hidrologi. Siklus hidrologi ini meliputi proses-proses yang ada di dalam tanah, badan air, dan atmosfer, yang pada intinya terdapat dua proses yaitu evaporasi dan presipitasi yang dikendalikan oleh energi matahari. Daerah Aliran Sungai (DAS) merupakan wilayah yang dibatasi oleh batas alam (topografi) di mana aliran permukaan yang jatuh akan mengalir ke sungai-sungai kecil menuju ke sungai besar akhirnya mencapai danau atau laut. Pengelolaan DAS berupaya untuk menselaraskan dikotomi kepentingan ekonomi dan ekologi. Kepentingan ekonomi jangka pendek akan terancam bila kepentingan ekologi diabaikan. Sebaliknya gerakan perbaikan ekologi yang melibatkan masyarakat tidak akan terpelihara secara terus menerus tanpa memberi dampak langsung terhadap peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat. Untuk mencapai tujuan pengelolaan DAS diperlukan upaya pokok dengan sasaran: a. Pengelolaan Lahan, b. Pengelolaan Air, dan c. Pengelolaan Vegetasi.
Konservasi Energi dan Sumber Daya Mineral, didefinisikan sebagai kemampuan untuk melakukan kerja. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaan energi supaya berkelanjutan antara lain adalah bagaimana mengatur penggunaan energi yang berkualitas, meminimumkan penggunaan energi untuk transportasi, dan mengubah energi secara efisien. Konservasi energi dapat dilakukan pada bidang-bidang transportasi, bangunan, dan industri. Jenis-jenis sumber daya mineral dapat digolongkan menurut kegunaannya yaitu menjadi sumber daya mineral logam dan non logam.
dan atau kemampuan daya dukungnya. Pengertian tersebut di atas menggambarkan bahwa sumber daya buatan adalah sumber daya alam yang karena intervensi manusia telah berubah menjadi sumber daya buatan. Bentuk sumber daya buatan ini dapat dilihat pada kawasan budidaya, kawasan perdesaan, kawasan perkotaan, maupun kawasan cagar alam. Fungsi kawasan-kawasan tersebut dapat sebagai pelindung kelestarian lingkungan hidup, dibudidayakan, permukiman, pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi untuk kesejahteraan manusia dan kesinambungan pembangunan.
III. Konservasi Lahan Pertanian
Konservasi lahan pertanian adalah suatu tindakan atau kegiatan yang yang dilakukan oleh manusia dalam mengelola lahan pertanian sehingga dapat digunakan secara lebih baik dan bertanggung jawab melalui kegiatan pengelolaan sumberdaya lahan, air, dan biologi secara terintegrasi dengan menggunakan input eksternal yang terbatas. Konservasi tersebut berfungsi dalam menjaga sustainabilitas/keberlanjutan produksi pertanian dan lahan pertanian melalui suatu usaha atau tindakan dalam menyuburkan lahan pertanian yang bersifat permanen atau semi permanen, seperti melakukan kegiatan pengolahan lahan yang beresiko nol atau minimum dalam melakukan penggunaan pupuk organik (non pestisida), pembibitan secara langsung dan tindakan pengolahan macam-macam varietas tanaman pangan sebagai suatu elemen/unsur yang penting dalam kegiatan konservasi ini.
dan teknologi yang menghasilkan limbah yang berlebihan seperti sabun digantikan deterjen, musuh alami hama dimatikan oleh pestisida, karet alam digantikan oleh karet sintetik, zat warna nabati digantikan oleh zat warna sintetik dan sebagainya merupakan masalah lingkungan. Dalam buku Silent Spring telah didramatisasi penggunaan pestisida yang tidak terkendali untuk mengendalikan hama, khususnya untuk produksi pangan. Hal-hal tersebut di atas berlangsung secara intensif dan sangat cepat, sehingga terjadi kesenjangan waktu antara kecepatan perusakan dan pencemaran sistem alam yang tidak seimbang dengan kemampuan alam untuk membersihkan dan merehabilitasi diri dari segala macam kerusakan dan pencemaran. Oleh karena itu, strategi pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi haruslah menjadi penyelamat masalah lingkungan dan memperkecil kesenjangan waktu tersebut, misalnya substitusi energi minyak dengan energi hayati atau energi matahari, teknologi kayu lapis, serta penggunaan pestisida yang seminimal mungkin, yang kurang persisten, kurang toksik dan lebih selektif (Soerjani, 1988).
IV. Penurunan Kualitas Lahan Pertanian (Lahan Kritis Pertanian)
Lahan kritis mempunyai beberapa definisi, meskipun pada dasarnya memiliki pengertian yang sama. Dikatakan bahwa kritisnya lahan tersebut merupakan suatu pengurangan kemampuan lahan secara agregat/menyeluruh atas potensi produktif lahan termasuk dalam hal ini adalah pengurangan kualitas pada hutan, sawah tadah hujan, irigasi, sistem pertanian, maupun lahan lainnya yang memiliki nilai ekonomis (Stocking and Murnaghan 2001). Gretton and Salma (1997).
kimia berbahaya yang dapat menurunkan laba pertanian akibat menurunnya kemampuan tanah dalam meningkatkan kesuburan, sebagai hasil adalah 1.9 miliar hektar lahan pertanian diseluruh dunia mengalami kerusakan lahan (El-Beltagy 1997). Dregne and Chou (1992) dan diperkirakan hampir 70% tanah mengalami kekeringan.
V. Dampak Lahan Kritis Pertanian Terhadap Nilai Ekonomis Pertanian.
Rata-rata lahan kritis diperkirakan sekitar 21 juta hektar per tahun, dengan 6 juta hektar secara permanen berdampak pada resiko yang sangat kritis terhadap lahan pertanian. Permasalahan mengenai pengaruh lahan kritis terhadap krisis pangan dunia yang berdampak pada potensi meningkatnya jumlah kemiskinan merupakan suatu isu global sejak tahun 1969. Akibat dari lahan kritis tersebut berpengaruh pada menurunnya produktivtas pertanian dan lingkungan yang mempengaruhi menurunnya produktivitas penghasil tanaman pangan. Beberapa penelitian telah memperkirakan bahwa jika trend/arah produktivitas pertanian negatif terus berlanjut maka ketahan pangan untuk jangka panjang akan dialami oleh seluruh dunia khususnya bagi negara-negara yang masuk dalam kategori negara miskin (El-Beltagy 1997; Eswaran et al. 2001).
Seperti negara-negara di belahan Afrika (disekitar wilayah gurun Sahara) yang secara geologi merupakan wilayah tua dengan banyaknya populasi penduduk miskin dan tanah yang tidak subur. Berkurangnya jumlah nutrisi pada tanah merupakan faktor utama penyebab terjadinya lahan kritis dan mengurangi nilai ekonomis dari lahan itu sendiri. Sebagai contoh 38 negara di benua Afrika, meliputi 26 LDC dengan rata-rata lahan per hektar kehilangan nutrisi sebesar 22 kg nitrogen, 3 kg fosfor, dan 15 kg potassium (Holden 1997).
semakin besar dengan nilai 16.5-20 persen. Dikatakan bahwa lahan secara praktis akan kehilangan kemampuan produktivitasnya jika lahan kritis tersebut terus terjadi.
Sebagai tambahan informasi, diketahui di China dan Thailand mengalami lahan kritis pada tingkat mikro (plot) yang disebabkan oleh menurunnya tingkat kesuburan tanah, dan berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh Eswara (2001), ditemukan bukti bahwa secara tidak langsung kondisi ini mempengaruhi tingkat kesejahteraan masyarakat khusunya masyarakat yang hidup dan mengandalkan penghasilannya pada sektor pertanian. Sedangkan dampak negatif selanjutnya sangat berpotensi pada ketahanan pangan, kekurangan gizi, dan besarnya angka kematian anak.
VI. Hubungan Antara Peran Masyarakat Sebagai Social Capital dengan Konservasi Sumberdaya Lahan
Konsep Social Capital dimulai dari hasil pengamatan bahwa terdapat pola interaksi masyarakat yang tersusun dan terbagi atas struktur masyarakat setempat dengan karakteristik dari struktur masyarakat yang akan mempengaruhi beberapa keputusan ekonomi dari berbagai pihak yang masuk dalam kelompok masyarakat tersebut. Secara spesifik dijelaskan bahwa struktur masyarakat setempat tersebut dapat mempengaruhi keputusan ekonomi dan hasil yang diperoleh melalui 3 mekanisme yaitu: pengadaan informasi, pengaruh pada biaya transaksi, dan adanya kenyataan terjadinya penurunan peran serta dan tindakan secara kolektif oleh masyarakat. Hubungan antara peran masyarakat dengan kegiatan konservasi lahan dapat dilihat sebagai berikut:
berbeda (sebagai contoh pihak yang terlibat dilapangan), maka masyarakat dapat membedakan berapa frekwensi penyebaran informasi menjadi informasi satu arah ataupun informasi dua arah. Kedua, interaksi masyarakat dapat mempengaruhi tingkat dan jumlah biaya transaksi yang dikeluarkan bersamaan dengan adanya beberapa proses pertukaran di masyarakat. Saat terjadinya interaksi antar individu, terbentuklah suatu pola kehidupan masyarakat maka interaksi yang terpola tersebut akan menciptakan suatu ekspektasi/harapan dari suatu kebiasaan untuk saling mempercayai dalam melakukan suatu perjanjian berdasarkan kontrak-kontrak surat berharga yang harus disepakati bersama, dikombinasikan dengan sangsi-sangsi dan peraturan-peraturan di masyarakat. Sebaliknya, jika kondisinya menunjukan terdapat kelangkaan norma-norma yang mengikat masyarakat maka akan memicu biaya yang lebih besar sehingga terciptalah in-efisiensi pasar.
Ketiga, tanpa adanya suatu batasan tertentu, maka pihak-pihak yang terlibat dalam interaksi tersebut tidak akan memperoleh insentif dalam bentuk hubungan kerjasama secara kolektif yang saling menguntungkan. (Olson 1965) misalnya seperti keterlibatan dalam membangun sistem pengairan sawah. Sehinga secara berkala interaksi tersebut dapat membentuk suatu batasan-batasan/aturan-aturan yang mengikat didalam masyarakat seperti yang terjadi pada budaya masyarakat Bali pada sistem pengairan lahan pertanian (subak)
Sebagai ilustrasi dari tiga mekanisme tersebut, maka unsur-unsur yang terlibat dalam masyarakat seringkali bertindak sebagai penentu kebijakan ekonomi. Dampak selanjutnya dari hubungan interkasi masyarakat tersebut adalah berpengaruh pada optimalisasi para pelaku ekonomi yang bertindak sebagai institusi informal dalam masyarakat yang mampu meningkatkan atau justru bisa menurunkan produktivitas yang dihasilkan dalam masyarakat.
Sebagai ilustrasi dapat kita lihat persamaan 1 yang dijelaskan dalam hubungan fungsi sebagai berikut: (1) Et.<t Qt=At*Q(Kt, Lt, Ht, St)
Dimana (Qt) merupakan proyek lingkungan dalam tahun t, dan (Kt, Lt, Ht, and St) , dimana Kt dinotasikan sebagai vektor-vektor input yang tersedia pada tahun t sebagai modal, Lt adalah upah tenaga kerja, Ht adalah Sumberdaya manusia/tenaga kerja, St adalah social capital, dan At adalah berubahnya produk, dan Et<t dinotasikan sebagai produktivitas yang diharapkan yang berhubungan dengan pengembangan proyek di tahun ke t.
Persamaan ini berdasarkan tulisan Schiff, (1992) dan merupakan perpektif dari social capital yang dijelaskan diatas, sehingga dengan persamaan ini diharapkan dapat menjadi saran alternatif untuk menghasilkan produktifitas yang diharapkan berdasarkan aturan-aturan yang berlaku dalam masyarakat sepanjang semakin banyaknya standard input yang digunakan dan bergesernya produktivitas tersebut, sehingga dari hal terebut ditemukan empat alternatif cara yang diharapkan akan menghasilkan produksi yang diharapkan dan menghasilkan Qt sebagai contoh jumlah air bersih yang tersedia per rumah tangga setiap minggu pada masyarakat tertentu yang berkaitan langsung dengan proyek pengembangan pengairan atau pembatasan penggunaan pestisida pada lahan pertanian yang berdampak pada penurunan tingkat kesuburan lahan pertanian sehingga berpengaruh pada peburunan produktivitas dan hasil serta kualitas tanaman yang dihasilkan masyarakat setempat.
Hasil yang akan diperoleh adalah hubungan yang positif antara produktivitas dengan minimal satu elemen struktur masyarakat (Sit),
(2) Et.<t (∂Qt/∂Sit) > 0
berdasarkan persamaan tersebut diatas adalah diketahui produktivitas untuk semua elemen adalah nol.
(3) Et.<t (∂Qt/∂Sit) = 0, i = 1 . j
Persamaan diatas menjelaskan sampai sejauhmana alasan-alasan dilakukannya investasi tersebut dapat mempengaruhi unsur-unsur masyarakat sebagai bentuk dari social capital, sepanjang salah satu kondisi tersebut tetap berpegang teguh pada prinsip-prinsip dalam struktur masyarakat.
(4) Et.<t (∂Kt/∂Sit) > 0; Et.<t (∂Lt/∂Sit) > 0; or Et.<t (∂Ht/∂Sit) > 0, i = 1 . j.
Persamaan tersebut menjelaskan bahwa jika beberapa elemen masyarakat memiliki peran dalam meningkatkan produktivitas melalui pembentukan modal fisik, tenaga kerja, dan human capital. Dengan kata lain, jika beberapa unsur masyarakat memiliki peran dalam proses produksi melalui penciptaan modal fisik, tenaga kerja, dan sumber daya manusia yang mempengaruhi terciptanya output yang diinginkan sehingga diperoleh (Et.<t (∂Qt/∂Kit)*(∂Kt/∂Sit) > 0), dalam hal ini alasan untuk dilakukannya suatu investasi masih dapat diterima, sebagai contoh jika terdapat partisipasi antara para wanita di wilayah tersebut maka hasilnya adalah dapat dimungkinkan untuk dilakukan. Meskipun dilain pihak terdapat kemungkinan adanya hubungan yang negatif untuk dengan output yang diharapkan baik itu langsung maupun tidak langsung
(5) Et.<t (∂Qt/∂Sit) < 0
(6) Et.<t (∂Kt/∂Sit) < 0; Et.<t (∂Lt/∂Sit) < 0; or Et.<t (∂Ht/∂Sit) < 0, i = 1 . j.
Persamaan (5) dan (6) dapat diilustrasikan sebagai bentuk norma-norma masyarakat dalam suatu wilayah yang melarang para petani untuk memperoleh informasi yang lengkap mengenai dampak dari penggunaan pestisida, fenomena ini mungkin terjadi pada masyarakat berpenghasilan rendah yang sangat bergantung pada peran tenaga kerja lokal dalam menghasilkan suatu produk. Sebagai contoh kasus adalah jika suatu investasi yang membentuk
social capital diperbolehkan untuk terlibat dalam suatu proyek pengembangan pupuk organik.
Social Capital berpengaruh pada rancangan proyek yang akan didesain/disusun selanjutnya, yang umumnya berupa pengelolaan sumber kekayaan alam, dan sangat sedikit investasi jenis itu dilakukan oleh pihak swasta (sebagai akibat dari aturan-aturan yang mengikat). Kemungkinan-kemungkinan ini dengan sendirinya mampu memberikan petunjuk dalam proses pembangunan melalui investasi, dimana dalam kondisi ini keuntungan dan biaya yang dihasikan (cost- benefit) berkaitan dengan peran masyarakat dalam proyek investasi tersebut.
III. Hubungan antara Social Capital dengan Pendekatan Cost-Benefit
Dalam hal ini, masyarakat dipandang sebagai input yang mampu memberikan hasil dan memiliki hubungan fungsional dengan unsur masyarakat yang terlibat serta memiliki kemampuan ekonomis dalam menghasilkan output yang diinginkan. Sehingga dalam hal ini peran masyarakat harus dihitung berdasarkan cost dan benefit yang dihasilkan.
Jika diketahui keuntungan pertama yang diperoleh maka notasinya dapat dijelaskan sebagai berikut: Jika diketahui keuntungan yang diharapkan (pada t′< to ) sebagai potensi proyek dimana: {B(to), B(t1) .. B(tn)} adalah waktu t0 ke tn, sehingga expected present value dari keuntungan yang akan diperoleh pada to maka:
(7) Et.<t0 PVBt0 = Σ[B(ti)/(1+r)i], i = 1 . n
(dimana diketahui indeks I adalah 0 sampai ke-n ). Sebagai tambahan jika laba yang diinginkan dari proyek tersebut meningkat dan kurva produksi berbentuk concave setiap tahunnya.
(8) Et.< t0 ∂B(t)/ ∂Qt > 0, ∂2B(t)/ ∂Qt 2 < 0.
Persamaan (8) menunjukan bahwa terdapat keuntungan yang diperoleh proyek sebagai contoh meningkatnya kesehatan akibat ketersediaan air bersih untuk diminum sehingga akan berhubungan positif dengan jumlah pupuk organik yang tersedia
Dengan kata lain social capital memiliki pengaruh positif atau negatif terhadap expected present value dari proyek yang dijalankan kecuali pada saat satu unsur dari masyarakat memiliki memberikan pengaruh positif atau negatif pada produksi yang dihasilkan di masa yang akan datang. Sebagai tambahan, dengan menkombinasikan bahan/materi yang sama dan analisis hubungan antara social capital dan nilai ekonomi yang berbeda maka dapat kita lihat pada persamaan sebagai berikut:
(9c) Et.< t0 ∂PVBt0 / ∂Sit |CPR > ∂PVBt0 / ∂Sit |T, C , (9d) Et.< t0 ∂PVBt0 / ∂Sit |CPR >> ∂PVBt0 / ∂Sit |P,
Persamaan (2), (3) dan (4) menunjukan bahwa CPR menyatakan bentuk tujuan utama proyek yang dibuat untuk menghasilkan keuntungan dalam suatu wilayah tertentu, T dan C menunjukkan tujuan utama dari proyek yang diadakan adalah menghasilkan barang-barang yang bersifat kolektif dan umum untuk wilayah yang sama. Dengan kata lain, social capital
(keterlibatan masyarakat) dalam suatu wilayah tertentu akan memberikan dampak yang lebih besar bagi perkembangan pengadaan barang-barang publik dibandingkan barang-barang individu.
masyarakat (social capital) sebagai faktor pendukung yang patut diperhitungkan sebagai suatu bentuk dari kebijakan.
Fungsi dari cost-benefit framework adalah mampu mengarahkan adanya potensi-potensi investasi yang bisa dilakukan dalam keterlibatan masyarakat (social capital) melalui perencanaan-perencanaan proyek yang berkaitan dengan kegiatan-kegiatan investasi baik secara fisik, maupun non fisik (human capital misalnya). Selain itu juga pada persamaan (9a) menyimpulkan bahwa terdapat kemungkinan-kemungkinan yang didapat dari adanya keterlibatan masyarakat yang mampu memberikan pengaruh positif kepada beberapa nilai keuntungan dari proyek yang dilakukan, dimana keuntungan positif tersebut akan sangat berguna apabila dihubungkan dengan tingkat harapan (expected) terhadap modal fisik, tenaga kerja, dan human capital.
V. Kesimpulan dan Saran
5.1. Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang dapat diambil dari artikel ini adalah:
1. Sumberdaya alam merupakan aset penting suatu negara dalam melaksanakan pembangunan, khususnya pembangunan di sektor ekonomi. Selain dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia, sumberdaya alam juga memberikan kontribusi yang cukup besar bagi kesejahteraan suatu bangsa (wealth of nation). Oleh karena itu, pemanfaatan dan pengelolaan sumberdaya alam secara optimal, lestari dan berwawasan lingkungan sudah semestinya dilakukan. Oleh karena itu, upaya untuk mengembangkan teknologi dan pengetahuan semestinya harus dapat diselaraskan dengan memperhatikan kelestarian alam termasuk dalam hal ini adalah lahan dimana merupakan sumber utama dari penghasil kekayaan alam yang dapat mengoptimalkan output yang diinginkan dalam jangka panjang sekaligus menjaga keberlangsungan program pengentasan kemiskinan penduduk pedesaan pada khususnya dan warga negara pada umumnya.
membentuk apa yang disebut dengan social capital, dimana dengan upaya tersebut seluruh komponen masyarakat bersama pemerintah turut andil dan berperan serta dalam mengatasi lahan kritis yang berpengaruh pada penurunan kualitas dan produktivitas kegiatan pertanian yang pada akhirnya akan mengancam eksistensi dan keberlanjutan ketahan pangan masyarakat.
3. Social Capital sangat berkaitan dengan perilaku ekonomi yang mana akan menentukan kebijakan pemerintah dalam upaya mendorong investasi yang mendukung pembangunan ekonomi sektor riil.
4. Dalam hubungannya dengan Cost-Benefit framework dimana sangatlah diperlukan dalam kegiatan investasi yang berkitan dengan upaya meningkatkan produktivitas hasil-hasil pertanian, disini pendekatan cost-benefit menjadi sangat penting untuk diperhatikan. Dengan tujuan supaya investasi yang akan dilakukan tidak saja memeprhatikan kepentingan jangka pendek tetapi juga memperhatikan keberlangsungan jangka panjang dari dampak yang dihasilkan oleh investasi tersebut dalam sektor pertanian (pada khususnya) dan konservasi lahan (pada umumnya). Sehingga peran dari masyarakat sebagai penghasil output (produsen) maupun pengguna sangatlah diperlukan melalui usaha penyebaran informasi dan pengetahuan yang jelas akan dampak yang akan dihasilkan.
5.2. Saran
Adapun saran yang bisa diberikan adalah sebagai berikut:
1. Pemerintah dalam rangka menerapkan kebijakan yang berkaitan dengan masalah lingkungan dan sektor pertanian, hendaklah memperhatikan bahwa potensi resiko dari lahan kritis akan berdampak secara makro khususnya masalah ekonomi, sehingga akan menjadi penghambat jalannya pembangunan nasional. Untuk itu pemerintah dalam hal ini harus melakukan tindakan nyata dan tegas dalam menanggulangi potensi lahan kritis di Indonesia.
3. Social Capital sebagai salah satu unsur utama bagi suatu penentuan kebijakan merupakan langkah yang cukup tepat dalam upaya meningkatkan pembangunan ekonomi maupun sosial masyarakat pedesaan perlu diperhatikan.
4. Dalam upaya melibatkan masyarakat pedesaan melalui kegiatan investasi cost-benefit framework dari bidang usaha tersebut sebaiknya dilakukan dan perlu adanya arahan/petunjuk yang jelas melalui peraturan-peraturan yang terkait dan dukungan modal fisik sebagai salah satu jenis investasi yang cukup membutuhkan modal yang besar tetapi return yang akan dihasilkan justru akan jauh lebih besar dibanding dengan biaya yang telah dikeluarkan dalam investasi tersebut dalam jangka panjang. Sehingga dalam hal ini pemerintah juga tidak perlu ragu untuk fokus kepada keputusan investasi yang berkaitan dengan konservasi lahan.
Daftar Pustaka
El-Beltagy, A., 1997. Land degradation: a global and regional problem. ICARDA, Aleppo. [http://www.unu.edu/millennium/el- beltagy.pdf#search=%22land%20degradation %20global% 20regional%20problem%22]
Eswaran, H., Lal, R. and Reich, P.F., 2001. Land degradation: an overview. In: Bridges, E.M., Hannam, I.D., Oldeman, L.R., et al. eds. Responses to land degradation: proceedings 2nd international conference on land degradation and desertification, Khon Kaen, Thailand. Oxford Press, New Delhi.[http://soils.usda.gov/use/worldsoils/papers/land-degradation-overview.html]
Hillary, E. (1984). Ecology 2000, The Changing Face of Earth London.: Mihcael Joseph, 252 pp
ISAAA, (1992). International Service for the Ecquisition of Agribiotech Applications. San Jose. Costa Rica. ISAAAA Biosafety Workshop. 17-21 February 1992.
Isham, Jonathan. 1999. .A Model of Technology Adoption with Social Capital. Mimeo. Middlebury College
Responsiveness, Service Rules, and Social Capital. Paper prepared for the the Initiative for Defining, Monitoring and Measuring Social Capital. Washington, DC: The World Bank.
Manwan, Ibrahim & Made Oka A.. (1992). Peranan Penelitian dalam Pembangunan Pertanian Tanaman Pangan: Suatu Tinjauan ke Depan. Makalah disampaikan pada pertemuan Tim Ahli Bimas, Departemen Pertanian, Megamendung, Bogor, 12-14 Mei 1992.: 24 pp.
Olson, Mancur. 1965. The Logic of Collective Action. Cambridge: Harvard University Press. Schiff, Maurice. 1992. .Social Capital, Labor Mobility, and Welfare: The Impact of Uniting
States.. Rationality and Society4 (2): 157-175.
Triharso, 1992, Pembangunan Pertanian Berwawasan Lingkungan Yang Berkelanjutan, Universitas Gajah Mada
Woolcock, Michael. 1998. .Social Capital and Economic Development: Toward a Theoretical Synthesis and Policy Framework. Theory and Society 27(2): 151-208.
World Bank. 1994. The World Development Report 1994: Investing in Infrastructure.New York: Oxford University Press.
www. massofa-worldpress.com