• Tidak ada hasil yang ditemukan

STRATEGI PENGEMBANGAN EKSPOR TEH HITAM P (1)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "STRATEGI PENGEMBANGAN EKSPOR TEH HITAM P (1)"

Copied!
178
0
0

Teks penuh

(1)

STRATEGI PENGEMBANGAN EKSPOR TEH HITAM PADA PERKEBUNAN GUNUNG MAS PTPN VIII

BOGOR, JAWA BARAT

Oleh :

SEPTINA ERIANOFA SINAGA A 14105705

PROGRAM SARJANA EKSTENSI MANAJEMEN AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN

(2)

RINGKASAN

SEPTINA ERIANOFA SINAGA. Strategi Pengembangan Ekspor Teh Hitam

Pada Perkebunan Gunung Mas PTPN VIII Bogor, Jawa Barat. Dibawah bimbingan RAHMAT YANUAR.

Perkebunan teh merupakan salah satu subsektor pertanian yang memiliki peranan penting dalam menghasilkan komoditas ekspor dari sektor non migas Indonesia setelah kelapa sawit dan kakao. Secara Nasional, industri teh yang terdiri dari 90 persen teh hitam dan 10 persen teh hijau menyumbang Produk Domestik Bruto (PDB) sekitar Rp1,2 trilyun (0,3 persen dari total PDB non migas) dan menyumbang devisa bersih sekitar 110 juta dollar AS pertahun. Perkebunan Gunung Mas (PGM) merupakan salah satu unit produksi PTPN VIII yang bergerak dalam bidang produksi teh hitam. Perusahaan ini memiliki tiga unit perkebunan yaitu Gunung Mas I, Gunung Mas II, dan Cikopo Selatan. Sekitar 80-90 persen teh hitam yang dihasilkan ditujukan untuk ekspor dan sisanya sekitar 10-20 persen untuk pasar lokal. Tingginya persentase ekspor ini disebabkan rendahnya konsumsi teh dalam negeri dibandingkan dengan konsumsi teh luar negeri di beberapa negara.

Permasalahan yang dihadapi perusahaan saat ini adalah terjadi penurunan persentase ekspor teh perusahaan yang sangat drastis. 80-90 persen dari total teh hitam perusahaan ditujukan untuk pasar ekspor, dan sisanya untuk pasar lokal. Namun dari tahun 2001-2007, persentase ekspor teh hitam perusahaan mengalami penurunan hingga menjadi 56,8 persen. Selain terjadinya penurunan persentase ekspor teh hitam perusahaan, persaingan dari industri teh juga semakin ketat, khususnya pesaing dari luar negeri, dalam hal ini negara Vietnam. Untuk itu, perusahaan selaku perusahaan pengekspor teh hitam, perlu melakukan analisis strateginya untuk dapat bertahan dan menghadapi persaingan di dunia industri teh. Tujuan dari penelitian ini adalah: (1) Mengidentifikasi faktor lingkungan internal yang menjadi kekuatan dan kelemahan perusahaan. (2) Mengidentifikasi faktor-faktor lingkungan eksternal yang menjadi peluang dan ancaman perusahaan. (3) Merumuskan strategi yang dapat dijalankan perusahaan sesuai dengan kondisi lingkungan perusahaan. Penelitian ini dilakukan di Perkebunan Gunung Mas, PT Perkebunan Nusantara VIII Jl. Raya Puncak Km 87, Cisarua, Bogor. Pemilihan lokasi dilakukan secara sengaja (purposive). Masalah yang dianalisis mencakup kondisi internal dan eksternal yang dihadapi perusahaan. Pengambilan data dilakukan pada bulan Juli-November 2008. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan sekunder. Data primer diperoleh langsung dari pihak manajemen melalui wawancara, pengamatan langsung di lapangan (observasi), dan pengisian kuisioner dengan pihak yang dianggap paling berkompeten di PGM yaitu Wakil Administratur, Sinder Pengolahan, dan Sinder TUK. Sedangkan data sekunder diperoleh dari

International Tea Committe (ITC), Asosiasi Teh Indonesia (ATI), internet,

(3)

Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor internal yang menjadi kekuatan PGM PTPN VIII adalah memiliki perkebunan dan pabrik pengolahan sendiri, sistem organisasi yang terspesialisasi berdasarkan fungsi dan tugas, tenaga kerja yang disesuaikan berdasarkan serikat pekerja perkebunan (SP-BUN), produk sudah terstandarisasi berdasarkan sertifikasi ISO dan HACCP. Sedangkan yang menjadi kelemahan adalah kandungan unsur bahan organik (BO) tanah rendah, fungsi litbang masih kurang dimanfaatkan dengan maksimal, produktivitas tenaga kerja pemetik rendah, sistem pemasaran yang terbatas, letak topografi perkebunan yang berada diantara dataran rendah hingga medium. Berdasarkan faktor eksternal yang menjadi peluang adalah pertumbuhan penduduk dunia, hasil penelitian akan manfaat teh bagi kesehatan, tingkat konsumsi teh luar negeri yang tinggi, lahan perkebunan perusahaan yang masih tersedia, dan tersedia lembaga riset dan pengembangan. Sedangkan ancaman dari faktor eksternal adalah produksi tergantung alam, pesaing global yang lebih efisien dalam biaya produksi dan pengolahan, kenaikan harga BBM dan tarif listrik, kebijakan pemerintah untuk Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan air, non tariff barrier dengan adanya sertifikasi, penjarahan tanah PGM dan daya saing teh Indonesia yang rendah.

(4)

STRATEGI PENGEMBANGAN EKSPOR TEH HITAM PADA PERKEBUNAN GUNUNG MAS PTPN VIII

BOGOR, JAWA BARAT

Oleh :

Septina Erianofa Sinaga A14105705

Skripsi

Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian

pada

Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor

P

ROGRAM SARJANA EKSTENSI MANAJEMEN AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN

(5)

Judul : Strategi Pengembangan Ekspor Teh Hitam Pada Perkebunan Gunung Mas PTPN VIII Bogor, Jawa Barat

Nama : Septina Erianofa Sinaga

Nrp : A 14105705

Tanggal Lulus Ujian:

Mengetahui, Dekan Fakultas Pertanian

Prof. Dr. Ir. Didy Sopandie, M. Agr NIP. 131 124 019

Menyetujui, Dosen Pembimbing

(6)

PERNYATAAN

DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI YANG BERJUDUL

“STRATEGI PENGEMBANGAN EKSPOR TEH HITAM PADA

PERKEBUNAN GUNUNG MAS PTPN VIII BOGOR, JAWA BARAT”

BELUM PERNAH DIAJUKAN SEBAGAI KARYA TULIS ILMIAH PADA PERGURUAN TINGGI ATAU LEMBAGA MANAPUN UNTUK TUJUAN

MEMPEROLEH GELAR AKADEMIK TERTENTU. SAYA JUGA

MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI INI BENAR-BENAR MERUPAKAN

HASIL KARYA SAYA SENDIRI DAN TIDAK MENGANDUNG BAHAN-BAHAN YANG PERNAH DITULIS ATAU DITERBITKAN OLEH PIHAK LAIN KECUALI SEBAGAI RUJUKAN YANG DINYATAKAN DALAM NASKAH.

Bogor, Desember 2008

SEPTINA ERIANOFA SINAGA

(7)

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Penulis adalah anak ketiga dari delapan bersaudara yang lahir dari

keluarga J. Sianaga dan S. Simarmata. Penulis dilahirkan di Simpang Empat pada

tanggal 26 September 1984. Masa pendidikan penulis dimulai dari jenjang

Sekolah Dasar di SD Prayoga Pasaman Barat. Penulis memasuki jenjang Sekolah

Menengah Pertama di SLTP Negeri 2 Pasaman. Penulis kemudian melanjutkan

pendidikan ke jenjang Sekolah Menengah Atas di SMU Negeri 1 Pasaman.

Penulis melanjutkan pendidikan ke jenjang Perguruan Tinggi di Program

Diploma III Teknisi Medis Veteriner, Fakultas Kedokteran Hewan, Institut

Pertanian Bogor dan lulus pada tahun 2005. Kemudian pada tahun 2006 penulis

melanjutkan pendidikan ke jenjang Sarjana Ekstensi Manajemen Agribisnis,

(8)

KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yesus Kristus atas

berkat dan kasih karunia-Nya sehingga penulis mampu menyelesaikan

penyusunan skripsi ini. Semua yang terindah selalu Ia sediakan dan berikan tepat

serta indah pada waktu Nya.

Penelitian ini berjudul ”Strategi Pengembangan Ekspor Teh Hitam Pada

Perkebunan Gunung Mas PTPN VIII”. Penelitian ini bertujuan untuk

menganalisis faktor-faktor lingkungan internal dan eksternal Perkebunan Gunung

Mas serta merumuskan strategi yang dijalankan sesuai dengan kondisi lingkungan

perusahaan.

Penulis berharap semoga penelitian ini dapat memberikan manfaat bagi

penulis khususnya dan umumnya bagi para pembaca.

Bogor, Desember 2008

Septina Erianofa Sinaga

(9)

UCAPAN TERIMA KASIH

Puji dan Syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yesus Kristus atas

berkat dan kasih karunia-Nya yang sungguh besar, sehingga penulis mampu

menyelesaikan penyusunan skripsi ini. Untuk itu, penulis juga mengucapkan

terima kasih pada pihak-pihak yang telah memberikan masukan dan dukungan

kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini, antara lain:

1. Rahmat Yanuar, SP, MSi selaku dosen pembimbing skripsi, yang telah

memberikan bimbingan dan arahan selama penyusunan skripsi.

2. Ir. Popong Nurhayati, MM selaku dosen evaluator kolokium dan penguji

yang telah memberikan saran dan koreksi dalam skripsi ini.

3. Etrya, SP, MM selaku dosen komdik atas masukan dan koreksi dalam

penulisan skripsi ini.

4. Ibuku dan Ayahku tercinta atas Doa, kasih sayang, dukungan, dan

motivasi yang telah diberikan kepada penulis.

5. Kakakku tercinta Hotnida dan Meliyanti, serta adik-adikku tersayang

Rimdo Elrado Maradona, Elvina Rahmi Fitri, Boni Olan Doli, Maria

Enjelina dan Titin Theresia Nisalia.

6. Bapak Dudhy Irawadhy, SP selaku pembimbing lapang di Perkebunan

Gunung Mas PTPN VIII, Bapak Ir. Tri Hermawan dan Bapak Sugama, SE

atas waktu, kesempatan, pengarahan dan bimbingan selama penelitian.

7. Bapak Dadan Ruswandyat, Ibu Eni, Mas Wawan, Pak Yedi, dan semua

staf Perkebunan Gunung Mas atas bantuannya dalam penelitian penulis.

8. Bapak Endi Singarimbun dan staf di Kantor Pemasaran Bersama (KPB)

(10)

9. Bapak Dadang dan staf Kantor Direksi PTPN VIII Bandung, atas

informasi data bagi penulis.

10.Mas Stevanus, teman baik ku Anto Binsar Sitompul dan Nike Redian

David Siagian atas waktu dan bantuannya kepada penulis dalam pencarian

data dan penelitian.

11.Jan Ryando Aritonang atas segala Doa dan motivasi kepada penulis.

12.Abangku Marunggas Sinaga, sahabatku Iil Holilah, Alfredo Zebua, Natalia

Simorangkir, Agus, Menti Arios, Dina, Nova, Junita, Elfrida, Laura

Pinem, Juan Sitanggang, Davit Eric Hasian, Mark Majus Aritonang,

Frengky dan Marudut Hutabalian. Terima kasih atas cinta, kasih sayang,

Doa, dukungan dan motivasinya selama ini, God bless you all...

13.Saudara terkasih kost Perwira 10 dan Taman Malabar 15 terima kasih atas

segala kebersamaan yang tidak terlukiskan, dan teman-teman Ekstensi

serta berbagai pihak lainnya yang telah membantu penulis dalam

(11)

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ... i

DAFTAR TABEL ... iv

DAFTAR GAMBAR ... vi

I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Perumusan Masalah ... 4

1.3 Tujuan Penelitian ... 8

1.4 Kegunaan Penelitian ... 8

1.5 Ruang Lingkup Penelitian ... 8

1.6 Batasan Penelitian ... 8

II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Sejarah Teh di Indonesia ... 9

2.2 Karakteristik Teh ... 10

2.3 Teh Hitam ... 11

2.4 Manfaat Teh ... 14

2.5 Penelitian Terdahulu ... 17

III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis ... 24

3.1.1 Konsep Manajemen Strategi ... 24

3.1.2 Lingkungan Perusahaan ... 25

3.1.2.1 Analisis Lingkungan Internal ... 25

3.1.2.2 Analisis Lingkungan Eksternal. ... 29

3.1.3 Konsep Perumusan Strategi ... 33

3.1.3.1 Tahap Input ... 34

3.1.3.2 Tahap Pencocokan ... 36

3.1.3.3 Tahap Keputusan ... 37

3.2 Kerangka Pemikiran Operasional ... 38

IV METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian ... 41

4.2 Jenis dan Sumber Data ... 41

4.3 Pengolahan dan Analisis Data ... 42

4.3.1 Tahap Pengolahan Data ... 42

4.3.2 Tahap Analisis Matriks IFE dan EFE ... 45

(12)

4.3.4 Tahap Analisis SWOT ... 48

4.3.5 Tahap Pengambilan Keputusan ... 49

V GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN 5.1 Sejarah Singkat Perusahaan ... 51

5.8 Penilaian Kinerja, Promosi dan Mutasi ... 68

VI IDENTIFIKASI BAURAN PEMASARAN DAN ANALISIS LINGKUNGAN INTERNAL DAN EKSTERNAL 6.1 Analisis Lingkungan Perusahaan ... 69

6.1.1 Analisis Lingkungan Internal ... 69

6.1.1.1 Manajemen ... 69

6.1.1.5 Penelitian dan Pengembangan ... 90

6.1.1.6 Sistem Informasi ... 91

6.1.2 Analisis Lingkungan Eksternal ... 91

6.1.2.1 Lingkungan Makro ... 92

6.2 Identifikasi Lingkungan Internal dan Eksternal Perusahaan ... 103

6.2.1 Identifikasi Lingkungan Internal Perusahaan ... 103

(13)

VII PERUMUSAN ALTERNATIF STRATEGI

7.1 Analisis Matriks Evaluasi Faktor Internal (IFE) ... 105

7.2 Analisis Matriks Evaluasi Faktor Eksternal (EFE) ... 106

7.3 Matriks IE ... 108

7.4 Matriks SWOT ... 109

7.4.1 Strategi S-O ... 110

7.4.2 Strategi S-T ... 111

7.4.3 Strategi W-O ... 111

7.4.4 Strategi W-T ... 112

7.5. Tahap Keputusan ... 112

VIII KESIMPULAN DAN SARAN 8.1 Kesimpulan ... 118

8.2 Saran ... 119

DAFTAR PUSTAKA ... 121

(14)

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

1. Lima Kekuatan yang Mempengaruhi Persaingan Industri ... 31

2. Kerangka Pemikiran Operasional Strategi Pengembangan Ekspor Teh Hitam di PGM PTPN VIII ... 40

3. Matriks Internal Eksternal (IE) ... 48

4. Matriks Analisis SWOT ... 48

5. Alur Proses Pembuatan Teh Hitam CTC di Pabrik Pengolahan PGM ... 89

6. Populasi Penduduk Dunia Tahun 1950-2050 ... 93

7. Matriks Internal (IE) PGM ... 108

(15)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran Halaman

1. Struktur Organisasi PGM PTPN VIII ... 123

2. Tingkat Persediaan Teh PGM pada Peti Miring ... 124

3. Alur Proses Pengolahan Teh Hitam CTC, PGM ... 125

4. Alur Proses Basah ... 126

5. Alur Proses Kering ... 127

6. Alur Proses Pengepakan ... 128

7. Alur Gigir dan Proses Ulang ... 129

8. Persentase Jenis Grade dan Harga Tertimbang Teh tahun 2003-2005 130

9. Persentase Jenis Grade dan Harga Tertimbang Teh Tahun 2006- 2007 131 10.Sasaran Mutu Pengolahan Pabrik Teh Hitam CTC Gunung Mas ... 132

11.Sasaran Mutu Pengolahan Pabrik Teh Hitam CTC Gunung Mas ... 133

12.Sasaran Mutu Teknik Perkebunan Gunung Mas ... 134

13.Sasaran Mutu TUK Perkebunan Gunung Mas ... 135

14.Sasaran Mutu Manajemen Perkebunan Gunung Mas ... 136

15.Keadaan Lahan di Perkebunan Gunung Mas I ... 137

16.Keadaan Lahan di Perkebunan Gunung Mas II ... 138

17.Keadaan Lahan di Perkebunan Cikopo Selatan ... 139

18.Kuisioner penelitian ... 140

19.Kuisioner Pemberian Bobot Terhadap Faktor-faktor Internal ... 141

20.Kuisioner Pemberian Bobot Terhadap Faktor-faktor Eksternal ... 142

21.Kuisioner Penetapan Rating Faktor-faktor Internal ... 143

22.Kuisioner Penetapan Rating Faktor-faktor Eksternal ... 144

23.Kuisioner Pemilihan Alternatif Strategi ... 145

24.Bentuk Kuisioner QSPM ... 146

25.Hasil Analisis IFE ... 147

26.Hasil Analisis IFE ... 148

(16)

28.Hasil Analisis EFE ... 150 29.Matriks QSPM ... 151

30.Realisasi Pengapalan Teh Hitam Grade BP 1 dan PF 1

PGM PTPN VIII ... 152

31.Realisasi Pengapalan Teh Hitam Grade PD dan D1

PGM PTPN VIII ... 153

32.Realisasi Pengapalan Teh Hitam Grade FANN dan FNGS

(17)

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

1. Perkembangan Produksi dan Area Perkebunan Teh

Indonesia Tahun 2000-2007... 2

2. Ekspor Teh Indonesia Tahun 2000-2007 ... 2

3. Perkembangan, Produksi, Ekspor dan Harga Teh Hitam PGM PTPN VIII Tahun 2001-2007. ... 5

4. Perkembangan Produksi dan Ekspor Produsen-Produsen Teh Dunia Tahun 2007 ... 7

5. Kandungan Unsur Teh Hitam dalam 100 gram ... 16

6. Penelitian Terdahulu ... 23

7. Penilaian Bobot Faktor Strategi Internal Perusahaan ... 43

8. Penilaian Bobot Fakor Strategi Eksternal Perusahaan ... 43

9. Matriks Evaluasi Faktor Internal (IFE) ... 46

10. Matriks Evaluasi Faktor Eksternal (EFE) ... 46

11. Matriks QSPM (Quantitative Strategic Planning Matriks) ... 50

12. Luas Areal Perkebunan Gunung Mas PTPN VIII... 53

13. Rekapitulasi Data Induk Karyawan PGM PTPN VIII ... 70

14. Persediaan Teh Minimal pada Peti Miring dan Berat Bersih per sak Tiap Grade ... 75

15. Harga Realisasi Teh Hitam PGM Tahun 2008 Berdasarkan Jenis Mutu ... 77

16. Kandungan Polifenol dan Kafein pada Daun Teh ... 85

(18)

18. Populasi Penduduk Berdasarkan Negara-negara Dunia

Tahun 2005 ... 94

19. Ekspor Produsen-produsen Teh Dunia Tahun 2001-2007 ... 100

20. Identifikasi Lingkungan Internal PGM PTPN VIII ... 103

21. Identifikasi Lingkungan Eksternal PGM PTPN VIII ... 104

22. Hasil Analisis Matriks IFE PGM PTPN VIII ... 105

23. Hasil Analisis Matriks EFE PGM PTPN VIII ... 106

(19)

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sektor agribisnis memiliki kekuatan struktur ekonomi yang kuat. Hal ini

terbukti dari situasi krisis seperti pada saat sekarang ini sektor tersebut masih

mampu menghasilkan keuntungan berupa devisa dan bertahan di pasar

Internasional, sehingga sektor ini harus dipacu perkembangannya melalui

pembangunan pertanian yang berbasis pada agribisnis.

Perkebunan teh merupakan salah satu subsektor pertanian yang memiliki

peranan penting dalam menghasilkan komoditas ekspor dari sektor non migas

Indonesia setelah kelapa sawit dan kakao. Saat ini di Indonesia teh dihasilkan oleh

tiga jenis badan usaha, yaitu Perkebunan Besar Negara (PBN), Perkebunan Besar

Swasta (PBS) dan Perkebunan Rakyat (PR). PBN memiliki potensi paling besar

dalam produksi teh dibandingkan Berkebunan Besar Swasta maupun Perkebunan

Rakyat.

Perkebunan teh di Jawa Barat merupakan yang terbesar di Indonesia. Luas

areal perkebunan mencapai 109.900 hektar atau 70 persen dari luas areal

perkebunan teh di Indonesia. Tiap tahun produksi teh dari provinsi ini

menyumbang hingga 80 persen terhadap produksi teh Nasional. Perkebunan

tersebut sebagian besar dikelola oleh PT Perkebunan Nusantara VIII. Areal

perkebunan teh tersebar di Kabupaten Bandung, Sukabumi, Cianjur, Bogor,

Purwakarta, Subang, Garut, Tasikmalaya, Ciamis, dan Majalengka. Bandung

adalah daerah penghasil teh utama di Jabar. 1

(20)

Tabel 1 Perkembangan Produksi dan Luas Areal Perkebunan Teh Indonesia

Sumber: International Tea Committee, 2008 (Diolah)

Perkembangan produksi teh Indonesia cenderung mengalami fluktuasi yang

menurun seperti yang terjadi mulai dari tahun 2000-2007. Luas areal perkebunan

juga mengalami pengurangan tiap tahun, hal ini disebabkan adanya karena adanya

beberapa perkebunan milik rakyat yang cenderung beralih ke jenis pertanian lain.

Tabel 2 Perkembangan Ekspor Teh Indonesia Tahun 2000-2007

Tahun Volume

Sumber: International Tea Committee, 2008 (Diolah)

Ekspor teh Indonesia dari tahun 2001 hingga tahun 2007 cenderung

mengalami fluktuasi yang menurun. Penurunan ekspor ini diakibatkan karena

turunnya volume produksi. Meskipun terjadi penurunan volume produksi tahun

2007, harga jual teh Indonesia tahun 2007 merupakan angka tertinggi

dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya yaitu sebesar 1,51 U$ dolar.

(21)

Tahun 2006 merupakan perolehan nilai tertinggi ekspor teh dibandingkan pada

tahun-tahun sebelumnya selama tujuh tahun terakhir.

Secara Nasional, industri teh yang terdiri dari 90 persen teh hitam dan 10

persen teh hijau menyumbang Produk Domestik Bruto (PDB) sekitar Rp1,2

trilyun (0,3 persen dari total PDB non migas) dan menyumbang devisa bersih

sekitar 110 juta dollar AS pertahun. Penurunan ekspor teh Indonesia

menyebabkan pangsa ekspor teh curah Indonesia di pasar dunia menurun menjadi

hanya 7 persen pada tahun 2002, sedangkan pangsa ekspor negara produsen teh

lainnya seperti Sri Lanka meningkat dari 18,2 persen menjadi 20 persen dan

Kenya meningkat dari 16,4 persen menjadi 18,6 persen (ITC,2003 dalam Jurnal

managemen dan Agribisnis maret 2004). Hingga tahun 2007, pangsa pasar teh

Indonesia sebesar 6,5 persen (Antara News, 2007). 2

Sebagai salah satu negara penghasil teh, Indonesia baru mampu mengekspor

antara 90.000-100.000 ton per tahun dari total kebutuhan teh dunia sebanyak tiga

juta ton per tahun (Pimpinan Asosiasi Teh Indonesia, Insyaf Malik). Prospek teh

hitam sekarang ini sangat menjanjikan, sehingga produsen-produsen teh dunia

juga banyak yang mengembangkan budidaya tehnya, karena banyak

negara-negara di kawasan Eropa dan Timur Tengah, terutama negara-negara-negara-negara pecahan Uni

Sovyet yang meminati jenis teh hitam.3

(22)

Tingginya permintaan teh dunia, menjadi peluang yang besar bagi Indonesia

untuk dapat terus mengembangkan ekspor teh hitamnya dan bisa menguasai

pangsa pasar yang lebih besar. Hal ini juga ditegaskan oleh Badan Pangan Dunia

FAO (Food Agricultural Organization) yang memprediksi peningkatan konsumsi

teh dunia tahun 2005 sebesar tiga persen. Peningkatan konsumsi teh tersebut

didasari atas pertumbuhan populasi penduduk dunia yang akan meningkat diatas

lima persen, selain itu juga ditambah dengan gencarnya promosi tentang teh

dalam hubungannya untuk kesehatan tubuh yang dilakukan oleh produsen teh di

seluruh dunia.4

1.2 Perumusan Masalah

Perkebunan Besar Negara (PBN) di Indonesia tergabung dalam PT

Perkebunan Nusantara (PTPN) dengan pengusahaan komoditas yang

berbeda-beda. PTPN yang mengusahakan komoditas teh adalah PTPN IV Jambi, PTPN VI

Padang, PTPN VII Bandar Lampung, PTPN VIII Bandung, PTPN IX Surakarta

dan PTPN XII Surabaya. PTPN VIII Bandung merupakan perkebunan negara

yang memberikan kontribusi ekspor teh hitam terbesar di Indonesia

Perkebunan Gunung Mas (PGM) merupakan salah satu unit produksi PTPN

VIII yang bergerak dalam bidang produksi teh hitam. Perusahaan ini memiliki

tiga unit perkebunan yaitu Gunung Mas I, Gunung Mas II, dan Cikopo Selatan.

Sekitar 80-90 persen teh hitam yang dihasilkan ditujukan untuk ekspor dan

sisanya sekitar 20-10 persen untuk pasar lokal. Tingginya persentase ekspor ini

disebabkan rendahnya konsumsi teh dalam negeri dibandingkan dengan konsumsi

(23)

Tabel 3 Perkembangan, Produksi, Ekspor dan Harga Teh Hitam PGM PTPN VIII

2001 1.16 1.385.287 1.106.420 1.286.706 278.867 1.965.341.292 2002 0.91 1.324.823 957.720 872.794,57 367.103 3.375.341.656 2003 1.02 1.629.863 830.760 847.375,5 799.103 5.431.196.389 2004 1.10 1.242.818 822.280 907.799,40 420.538 2.892.253.553 2005 1.01 958.314 646.080 656.707,20 312.234 2.166.747.471 2006 0.79 709.840 423.040 566.260,40 286.800 2.503.416.793 2007 0.56 864.660 491.300 648.190,74 373.360 3.635.042.039 Sumber: Kantor Direksi PTPN VIII Bandung, 2008 (Diolah).

Volume produksi teh PGM PTPN VIII relatif mengalami kecenderungan

yang menurun. Peningkatan produksi hanya terjadi pada tahun 2003, dimana

produksi meningkat sebesar 18,71 persen. Namun mulai dari tahun 2005-2007,

volume produksi cenderung mengalami penurunan. Sama halnya dengan volume

ekspor yang juga mengalami fluktuasi yang cenderung mengalami penurunan dari

tahun ke tahun. Faktor yang menyebabkan penurunan ekspor teh ini diduga

disebabkan karena volume produksi, harga ekspor teh periode tertentu, harga teh

domestik periode tertentu dan nilai tukar rupiah terhadap dolar.

Penurunan persentase ekspor teh hitam yang terjadi di PGM dapat

disebabkan akibat tingginya kandungan timbal pada teh yang dihasilkan. Hal ini

sesuai dengan pernyataan Harahap yang melakukan penelitian kandungan timbal

(plumbum/Pb) dari udara dan tanah terhadap daun, batang, akar, dan air seduhan

teh pada tiga Perkebunan Besar Negara, yang salah satunya adalah PGM.

Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan, kandungan timbal udara tertinggi

(24)

timbal di udara tidak berkorelasi dengan kandungan timbal di tanah. Demikian

juga dengan kandungan timbal tertinggi pada batang juga pada PGM.5

Teh yang diekspor oleh PGM PTPN VIII adalah jenis teh hitam, dimana

hingga tahun 2001, persentase ekspor teh hitam PGM sekitar 80 sampai 90 persen

ditujukan untuk pasar ekspor dan sisanya untuk pasar domestik. Namun, dari

tahun 2002 sampai tahun 2007, persentase pasar ekspor teh hitam PGM

mengalami penurunan hingga menjadi 56,82 persen dan peningkatan pada

penjualan domestik yang harga jualnya lebih rendah dibandingkan harga jual

ekspor, sehingga perusahaan mengalami penurunan pendapatan dari hasil

penjualan teh nya.

Hal yang sama juga terjadi pada harga jual rata-rata teh hitam PGM lebih

rendah dibandingkan dengan harga jual rata-rata teh Indonesia. Hal ini mungkin

disebabkan karena tingginya persentase teh mutu III perusahaan, sehingga volume

untuk ekspor dengan jenis mutu I dan II lebih sedikit. Pengurangan persentase

jenis mutu teh ini dapat disebabkan berkurangnya persentase pucuk yang baik di

kebun, sehingga menyebabkan pengurangan untuk jenis mutu I.

Berdasarkan data penjualan tahun 2008, negara tujuan ekspor teh hitam

PGM PTPN VIII antara lain adalah Singapura, Malaysia, Pakistan, UEA, Inggris,

USA, Rusia, Jerman, Ukrania, New Zealand, Belanda, Jepang, India, Mesir,

Polandia, Cuba, dan Kazakstan. PGM PTPN VIII mengalami persaingan yang

semakin ketat di dunia Internasional. Dimana, pasokan teh dari negara-negara

eksportir utama seperti India, Cina, Sri Lanka, dan Kenya yang cenderung

mengalami peningkatan pangsa pasar.

(25)

Pesaing baru seperti Vietnam mulai masuk dalam perdagangan teh

Internasional. Dengan semakin ketatnya persaingan ini, perusahaan perlu

melakukan analisis terhadap faktor-faktor internal akan adanya kekuatan dan

kelemahan dan faktor eksternal yaitu peluang dan ancaman untuk dapat

merumuskan strategi perusahaan, sehingga perusahaan terus mampu bersaing di

pasar dunia Internasional.

Tabel 4 Perkembangan Produksi dan Ekspor Produsen-Produsen Teh Dunia Tahun 2007

Negara-Negara Produsen Produksi (000 Ton)

Ekspor (000 Ton)

India 944,912 156,710

Sri Lanka 304,613 294,254

Indonesia 149,510 83,659

Cina 1.165,000 289,431

Jepang 100,000 1,769

Turki 178,000 3,000

Vietnam 148,270 110,929

Kenya 369,606 343,703

Malawi 48,141 46,585

USSR 3,100 0

Argentina 90,000 74,234

Total 3.501,152 1.404,274

Sumber: International Tea Committee, 2008 (Diolah)

Sehubungan dengan kondisi diatas maka perumusan masalah yang dapat

dikaji dalam penelitian ini adalah:

1. Faktor-faktor internal apakah yang menjadi kekuatan dan kelemahan PGM

PTPN VIII dalam pengembangan ekspor?

2. Faktor-faktor eksternal apakah yang merupakan peluang dan ancaman PGM

PTPN VIII dalam menghadapi pesaingnya?

3. Bagaimana alternatif strategi perusahaan untuk dapat mengembangkan ekspor

(26)

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan perumusan masalah yang telah dikemukakan diatas, maka

tujuan dari penelitian ini adalah:

1. Mengidentifikasi faktor lingkungan internal yang menjadi kekuatan dan

kelemahan perusahaan

2. Mengidentifikasi faktor-faktor lingkungan eksternal yang menjadi peluang dan

ancaman perusahaan.

3. Merumuskan strategi yang dapat dijalankan perusahaan sesuai dengan kondisi

lingkungan perusahaan.

1.4 Kegunaan Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna bagi PGM PTPN VIII dalam

hal merumuskan strategi pengembangan ekspornya, sebagai bahan acuan dan

sebagai bahan pembanding untuk penelitian berikutnya.

1.5 Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian ini dilakukan di PGM PTPN VIII yang merupakan perusahaan

ekspor teh hitam. Analisis dilakukan menggunakan analisis lingkungan internal

dan eksternal perusahaan, untuk mengetahui strategi pengembangan ekspor yang

tepat bagi perusahaan.

1.6 Batasan Penelitian

Penelitian ini difokuskan pada kondisi internal maupun eksternal perusahaan

yang dianalisis dalam strategi pengembangan ekspor khusus untuk teh hitamnya.

Dalam hal ini pengembangan ekspor tersebut dianalisis menggunakan matriks IFE

dan EFE, IE dan analisis SWOT. Analisis yang dilakukan dalam pengambilan

(27)

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Sejarah Teh di Indonesia

Tanaman teh (Camellia sinensis), pertama kali ditemukan di daratan Cina

dengan nama popular di Cina yaitu cha. Tanaman teh pertama kali dikenal oleh

Kaisar Shen Nung di Cina pada tahun 2737 sebelum masehi. Teh dikenal di

Indonesia sejak tahun 1686 ketika seorang Belanda bernama Dr. Andreas Cleyer

membawa ke Indonesia sebagai tanaman hias.

Tahun 1728, pemerintah Belanda mulai mendatangkan biji-biji teh secara

besar-besaran dari Cina untuk dibudayakan di pulau Jawa. Usaha tersebut tidak

terlalu berhasil dan baru berhasil pada tahun 1824 saat Dr.Van Siebold seorang

ahli bedah tentara Hindia Belanda yang pernah melakukan penelitian alam di

Jepang mempromosikan usaha pembudidayaan dengan bibit teh dari Jepang.

Usaha perkebunan teh pertama dipelopori oleh Jacobson pada tahun 1828

dan sejak itu menjadi komoditas yang menguntungkan pemerintah Hindia

Belanda, sehingga pada masa pemerintahan Gubernur Van Den Bosh, teh menjadi

salah satu tanaman yang harus ditanam rakyat melalui politik Tanam Paksa

(Culture Stetsel).Pada masa kemerdekaan, usaha perkebunan dan perdagangan teh

diambil alih oleh pemerintah Republik Indonesia.6

(28)

2.2 Karakteristik Teh

Tanaman teh yang selalu berdaun hijau (Evergreen shrub), berbentuk pohon

tetapi karena dilakukan pemangkasan rutin dan terus menerus, bentuk tanaman teh

menjadi perdu, tanaman ini tumbuh baik di dataran tinggi, dan paling produktif di

dataran tropis. Daerah komersial teh dunia terpusat pada pegunungan yang

terletak dekat atau di sekitar khatulistiwa antara 42 derajat utara dan 33 derajat

selatan. Selain itu, tanaman teh peka terhadap keadaan fisik tanah. Secara

geografis, teh dapat tumbuh baik di benua Asia, Afrika, Eropa dan Amerika.

Namun, budidaya tanaman teh tidak dikembangkan di Amerika karena

kekurangan tenaga kerja manusia yang sangat diperlukan untuk memetik teh.

Oleh karena itu hanya terdapat di Asia dan Afrika.

Menurut ketinggian daerah penanamannya, teh yang dihasilkan perkebunan

Indonesia dapat digolongkan dalam lima golongan (Spillane, 1992), yaitu:

a. High Grown, untuk teh dari perkebunan dengan ketinggian diatas 1500 m,

seperti perkebunan Sinumbra, Perkebunan Sperata di Jawa Barat.

b. Good Medium, untuk teh dari perkebunan di daerah antara 1000-1200 m,

seperti Perkebunan Malabar, Perkebunan Kertamanah, Perkebunan Gunung

Mas, dan Perkebunan Goalpara Jawa Barat.

c. Medium, untuk teh dari perkebunan di daerah antara 1000-1200 m, seperti

Perkebunan Wonosari Jawa Timur, dan Perkebunan Panghotelan Jawa Barat.

d. Low Medium, untuk teh dari perkebunan di daerah antara 800-1000 m, seperti

Perkebunan Pasir Nangka, Perkebunan Cikopi Selatan dan lainnya di Jawa

(29)

e. Common, untuk teh dari perkebunan di daerah dibawah 800 m, seperti

Perkebunan Gunung Raung.

Di dunia Internasional, dikenal tiga golongan teh, yaitu Black Tea (Teh

Hitam), Green Tea (Teh Hijau), dan Oolong Tea (Teh Oolong). Perbedaan pokok

antara teh hitam dan teh hijau adalah bahwa teh hitam mengalami proses

fermentasi (proses pemeraman) yang merupakan ciri khasnya, sedangkan teh hijau

tidak mengenal fermentasi dalam proses pengolahannya. Selain itu, teh hitam

tidak mengandung unsur-unsur lain diluar pucuk teh, sedangkan teh hijau bau

daunnya tidak hilang (karena tidak mengalami proses fermentasi) maka harus

dikompensasi dengan wangi-wangian dari bahan non teh, misalnya bunga melati.

Teh Oolong khas teh Cina atau Taiwan, merupakan perkawinan antara teh hitam

dengan teh hijau, yang mengalami setengah fermentasi (Spillane, 1992).

2.3 Teh Hitam

Teh hitam merupakan jenis teh yang paling umum di Asia Selatan (India,

Sri Langka, Bangladesh) dan sebagian besar negara-negara di Afrika seperti:

Kenya, Burundi, Rwanda, Malawi dan Zimbabwe. Teh hitam sama dengan teh

hijau yang berbeda hanyalah proses pengolahannya, dimana dihasilkan melalui

sistem pengolahan yang melakukan proses fermentasi didalam proses

pengolahannya. Sistem pengolahan teh hitam terdiri dari dua jenis yaitu Orthodox

dan CTC (Cutting, Tearing, dan Curling). Sistem pengolahan teh hitam orthodox,

diolah dengan metode pengolahan secara tradisional yaitu melalui proses

pelayuan, perajangan, penyobekan, penggulungan, fermentasi, dan sortasi hingga

(30)

fermentasi dengan cara menurunkan kadar air dan menghentikan kegiatan enzim

dalam daun teh.

Proses pengolahan teh hitam CTC dilakukan dengan tiga tahapan yaitu: (1)

Proses pelayuan, (2) Proses penggilingan yang bertujuan untuk memecah sel-sel

daun agar proses fermentasi dapat berlangsung secara merata. (3) Proses

pengeringan, Menggunakan ECP drier (Endless Chain Pressure drier) dan FB

(Fluid bed drier) kadar air produk yang dihasilkan 3-5 persen7. Teh jenis

Ortodoks dan CTC masih dibagi-bagi lagi menurut kualitas daun pasca produksi

sesuai standar.

Menurut Irawadi (1986), teh hitam diperoleh dari hasil pengolahan pucuk

teh dengan proses fermentasi sebelum pengeringan. Pada dasarnya, proses

fermentasi telah berlangsung sejak permulaan proses penggulungan dan sebagai

hasilnya adalah terjadinya perubahan warna daun, yaitu dari warna hijau menjadi

warna tembaga.

Perubahan yang penting selama proses fermentasi adalah terjadinya proses

oksidasi tanin yang akan menimbulkan warna, rasa, serta terbentuknya minyak

atsiri. Perubahan ini akan berlangsung mencapai jumlah yang optimum pada

waktu tertentu. Proses oksidasi lebih lanjut adalah melalui proses kondensasi yang

menghasilkan theaflavin berwarna kuning keemasan dan thearubigin yang

berwarna merah kecoklatan.

(31)

Hasil pengolahan teh hitam dihasilkan dua macam teh, yaitu teh daun dan

teh bubuk. Teh daun adalah bubuk teh yang selama pengolahan mengalami

penggulungan sempurna. Teh bubuk atau teh hancur (dust) adalah bubuk teh yang

selama pengolahannya daun tidak tergulung sempurna akan tetapi tersobek-sobek

sehingga diteruskan dengan menghancurkannya (Ciptadi, 1979).

Jenis-jenis mutu teh hitam menurut Spillane 1992, dapat dibagi dalam tiga

golongan dengan perincian sortasi mutu sebagai berikut:

1. Teh daun (Leaf tea), terdiri dari mutu: Orange Pekoe, Pekoe Souchon

2. Teh remuk (Broken tea), terdiri darai mutu: Broken orange Pekoe, Broken

Pekoe, dan Broken tea.

3. Teh bubuk (Powdered Tea), terdiri dari mutu: Fanning, dan Dust.

Orange Pekoe berasal dari kuncup teh yang masih tergulung dengan

bulu-bulu halus, warna hitam mengkilat, dan titik kuning emas. Pekoe mirip dengan

orange Pekoe, tetapi lebih pendek, lebih besar-besar, warna kuning emas lebih

sedikit, demikian juga bulu-bulu halusnya, warna hitam bercampur coklat dan

bubuk ini berasal dari kuncup yang tergulung pendek, kasar, dan berwarna hitam.

Proses pengolahan teh akan mempengaruhi keberadaan katekin dalam

pucuk teh. Pada pengolahan teh hitam yang terdiri atas tahap pelayuan,

penggulungan, dan oksidasi polifenol ensimatik, pengeringan, sortasi, dan

pengepakan, penurunan katekin sangat nyata terjadi. Penurunan kadar katekin

selama pengolahan teh hijau tidak sebanyak yang terjadi pada pengolahan teh

hitam. Hal ini dimungkinkan karena adanya inaktivasi enzim oksidasi selama

proses pemanasan atau pelayuan. Tahap berikutnya adalah penggulungan,

(32)

2.4 Manfaat Teh

Sebagai minuman penyegar, teh disukai karena dipercaya mampu

memberikan efek awet muda. Hal ini dipercaya karena daun teh mengandung

riboflavin (vitamin B2) dan asorbic acid (vitamin C). Teh dapat meringankan

masalah kesehatan seperti cystitis (radang kandung kemih), konstipasi bahkan

sakit kepala atau kelesuan sebagai akibat kurangnya cakupan cairan yang diserap

tubuh. Teh hitam dapat dipercaya dapat menurunkan kandungan kolesterol dalam

darah, kanker, serta mencegah dan mengobati penyakit jantung, karena dapat

meningkatkan darah ke jantung, diduga peningkatan aliran darah ini dapat

ditemukan setelah dua jam minum teh hitam.

Penelitian yang baru ini, yang dilaporkan dalam The American Journal of

Cardiology menduga bahwa aliran darah yang meningkat disebabkan oleh karena

adanya vasodilatasi atau melebarnya pembuluh darah. Penyebabnya kemungkinan

karena adanya flavonoids yang terdapat dalam teh. Flavonoids memperbaiki

fungsi lapisan dalam pembuluh darah (endotel) sehingga vasodilatasi dapat

semakin meningkat. Pada penderita penyakit jantung, endotel pembuluh darah

jantungnya mengalami penyempitan. Efek flavonoids pada penderita jantung

masih belum diketahui, oleh karena itu para ahli kini sedang melakukan penelitian

untuk melihat manfaat teh bagi penderita penyakit jantung koroner tersebut.8

(33)

Berdasarkan hasil penelitian, flavonoid yang merupakan antioksidan

polifenol pada teh mampu memperkuat dinding sel darah merah dan mengatur

permeabilitasnya, mengurangi kecenderungan trombosis, dan menghambat

oksidasi LDE (Laju Endap Darah) sehingga mengurangi terjadinya proses

atherosklerosis di pembuluh darah yang selanjutnya akan mengurangi risiko

kematian akibat penyakit jantung koroner.9

Riset pada tahun 2006 yang dilakukan oleh Van Siebold ahli bedah

berkebangsaan Belanda yang pernah belajar di Jepang menuturkan selain

minuman kesegaran, teh hitam juga berkasiat menstimulasi sistem saraf pusat,

memberikan efek menenangkan, meningkatkan detak jantung, dan diuretik. Saraf

pusat yang terangsang sistem pengendali irama dan gerak fisik menjadi terkendali.

Dampaknya, pengaturan serapan nutrisi lebih baik. Teh kaya polifenol, tanin,

mineral, vitamin, dan antioksidan. Selain itu, teh hitam membantu kerja lever

lebih efektif, sehingga tingkat metabolisme jadi lebih cepat. Akibatnya proses

penyembuhan penyakit pun lebih optimal.10

Teh juga dapat memperkuat gigi dan mencegah karies pada gigi,

mengurangi risiko keracunan makanan (menurut penelitian dari Taiwan dan

Jepang), memperkuat daya tahan tubuh, dan menyegarkan tubuh. Berdasarkan

penelitian yang dilakukan oleh Universitas Nasional Singapura, secangkir teh baik

untuk otak karena dapat memperlambat kerusakan sel dan menjaga daya ingat

tetap tajam diusia tua.

(34)

Dalam teh hitam ditemukan senyawa catechin yang dapat melindungi otak dari

pembentukan protein yang merusak selama bertahun-tahun sehingga menjaga

kemampuan kognitif otak. Selain itu, teh juga mengandung Theanine yang dapat

melawan efek samping dari kafein.11

Tanaman teh juga bisa digunakan sebagai bahan-bahan kosmetik. Di

antaranya, untuk perawatan tubuh seperti hand & body lotion, cream antiseptik,

produk-produk perawatan rambut seperti shampo atau conditioner; perawatan

mulut seperti pasta gigi, mouthwash, dan pelindung bibir, deodorant, produk

pembersih seperti sabun atau pembersih kulit, dan perawatan kaki. Berdasarkan

penelitian akan unsur kandungan teh terdapat pada Tabel 5.

Tabel 5 Kandungan Unsur Teh Hitam dalam 100 Gram

Unsur Kandungan Satuan

Kalori 132 kal

Lemak 0,7 gr

Kalsium 717 mg

Besi 11,8 mg

Air 7,6 gr

Protein 19,5 g

Karbohidrat 67,8 g

Fosfor 265 mg

Vitamin A 2.095 SI

Vitamin C 300 mg

Vitamin B 0,01 mg

Sumber: Mujawati 1999 dalam Hutajulu 2005

Menurut ahli gizi Institut Pertanian Bogor Prof Dr Ali Khomsan, daun teh

mengandung 30-40 persen polifenol yang dikenal sebagai katekin, lebih dari 400

komponen kimiawi telah diidentifikasi. Katekin adalah antioksidan yang kuat,

bahkan lebih kuat daripada vitamin E, vitamin C dan betakaroten. Berdasarkan

penelitian yang dilakukan oleh Deparment of Biokimia, University of New Jersey

Amerika Serikat, melakukan uji mutagenesitas untuk mendeteksi sifat

(35)

antikarsiogenik teh dan komponen kimiawi lainnya, hasilnya teh dan katekin

secara signifikan dapat menghambat mutagenesis. Artinya semakin banyak

mengonsumsi teh akan meningkatkan mutagenesis dalam tubuh sehingga

penjagaan tubuh terhadap kanker akan semakin kokoh.12

2.5 Penelitian Terdahulu

Iriana (2004), menganalisis Strategi Pengembangan Bisnis Teh, studi kasus

di Perkebunan Gedeh PTPN VIII, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Berdasarkan

hasil analisis yang dilakukan, faktor internal yang menjadi kekuatan utama

Perkebunan Gedeh adalah iklim kerja yang kondusif, areal konsesi yang cukup

luas, memiliki pengolahan yang sesuai standar. Kelemahan yang utama yang

dimiliki adalah pemeliharaan kebun yang belum optimal, manajemen pemetikan

yang belum tepat, penanganan pucuk yang belum optimal. Sedangkan faktor

eksternal yang menjadi peluang adalah perkembangan teknologi mekanisasi

pengolahan, adanya pelanggan yang loyal dan tingkat konsumsi dalam negeri

yang masih rendah. Ancaman terbesar yang dihadapi adalah kelangkaan pasokan

pupuk, ketergantungan produksi kepada kondisi alam, perkembangan industri teh

negara pesaing dan sistem pemasaran yang lemah.

Berdasarkan alternatif strategi SWOT, yang kemudian dianalisis

menggunakan matriks QSP, tujuh strategi yang dihasilkan berdasarkan urutan

prioritas adalah memperbaiki pemeliharaan kebun dan manajemen pemetikan

untuk memperbaiki kualitas bahan baku, menghasilkan produk yang sesuai

dengan selera pelanggan, mengembangkan produk bernilai tambah untuk

memanfaatkan pasar domestik, pengembangan keterampilan dan motivasi

(36)

karyawan terutama bagi karyawan pemetik, mengendalikan biaya produksi sesuai

dengan RKB/PMK/RKAP, peremajaan tanaman untuk meningkatkan

produktivitas kebun, mengoptimalkan kinerja pabrik pengolahan dengan

memanfaatkan perkembangan teknologi.

Tatakomara (2004), menganalisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Ekspor

Komoditi Teh Indonesia, serta Daya Saing Komoditi Teh di Pasar Internasional.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan, bahwa dari hasil regresi untuk model

ekspor teh Indonesia dapat disimpulkan bahwa variabel-variabel yang

mempengaruhi ekspor Indonesia yaitu produksi teh domestik, volume ekspor teh

Indonesia tahun sebelumnya, harga teh dunia, lag harga teh dunia, nilai tukar

rupiah tahun sebelumnya, konsumsi teh domestik dan variabel harga domestik.

dari tujuh variabel tersebut tiga variabel berpengaruh nyata pada taraf lima persen,

variabel tersebut adalah variabel produksi teh Indonesia, volume ekspor tahun

sebelumnya, dan konsumsi teh domestik, sedangkan sisanya merupakan variabel

yang tidak berpengaruh nyata.

Kristiana (2006), menganalisis Daya Saing Teh Hitam Indonesia di Pasar

Internasional. berdasarkan hasil penelitian tersebut, terdapat empat faktor yang

diduga berpengaruh terhadap pangsa pasar ekspor teh hitam Indonesia di pasar

Internasional, yaitu harga rill teh hitam Indonesia, nilai tukar rill, produksi teh

hitam Indonesia, serta jumlah konsumen teh hitam dalam negeri. Berdasarkan

metode fixed effect, diketahui bahwa peningkatan jumlah produksi teh hitam

Indonesia, menyebabkan peningkatan pangsa pasar teh hitam Indonesia,

sedangkan peningkatan jumlah konsumsi dalam negeri teh hitam Indonesia,

(37)

terbesar yang diperoleh dari pengolahan data dengan metode fixed effect adalah

variabel produksi teh hitam Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa pangsa pasar

teh hitam Indonesia bersifat sangat responsif atau elastis terhadap perubahan

produksi teh hitam Indonesia.

Resmisari (2006), menganalisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Ekspor

Teh PTPN VIII, berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan bahwa variabel yang

berpengaruh secara nyata terhadap ekspor teh PTPN VIII terhadap negara Inggris

adalah harga ekspor periode t, harga domestik periode t, nilai tukar rupiah

terhadap dolar, variabel yang bersifat tidak elastis adalah volume produksi dan

harga kopi, ekspor teh ke negara Rusia dipengaruhi oleh harga ekspor periode t,

harga ekspor periode t-1, dan lag ekspor dan variabel yang paling responsif adalah

harga ekspor periode t. Sedangkan variabel yang berpengaruh nyata terhadap pada

taraf nyata lima persen adalah variabel harga ekspor.

Sukmawati (2006), menganalisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi

Produksi Teh Hitam serta Peramalan Harga Jenis BOP, PF, dan DUST pada

PTPN VIII Perkebunan Goalpara. Berdasarkan analisis faktor-faktor yang

mempengaruhi produksi teh hitam, variabel produksi teh basah dan tenaga kerja

pengolahan secara simultan berpengaruh nyata terhadap produksi teh hitam pada

tingkat kepercayaan 99 persen. Penambahan penggunaan teh basah sebesar satu

persen sementara faktor-faktor produksi lain dianggap konstan (cateris paribus)

akan meningkatkan jumlah produksi teh hitam yang dihasilkan sebesar 0,933

persen. Sedangkan penambahan tenaga kerja sebesar satu persen, dengan asumsi

cateris paribus akan meningkatkan jumlah produksi teh hitam sebesar 0,142

(38)

pola data harga jual teh hitam jenis PF pada tiga bulan kedepan, yaitu April, Mei

dan Juni tahun ini cenderung turun dari rata-rata bulan Maret tahun ini.

Susanti (2006), menganalisis Strategi Perusahaan untuk meningkatkan

Pemasaran Lokal Produk Teh Hitam di PT Perkebunan Tambi Wonosobo, Jawa

Tengah. Berdasarkan hasil identifikasi faktor internal perusahaan, yang menjadi

kekuatan perusahaan adalah adanya fasilitas karyawan yang baik, areal

perkebunan yang luas dan subur, memiliki pabrik pengolahan sendiri, kualitas dan

stabilitas mutu terjaga, produk yang dihasilkan berkualitas tinggi, terdapat divisi

penelitian dan pengembangan, dan memiliki pembeli yang tetap. Sedangkan yang

menjadi faktor kelemahan adalah kemasan produk yang kurang menarik,

kurangnya upaya promosi produk, ketersediaan mesin teh celup masih sedikit,

pemasaran dalam negeri untuk produk teh celup kurang luas, dan kurangnya

inovasi produk. Adapun yang menjadi peluang perusahaan adalah kondisi

budidaya yang cocok untuk teh, peluang pasar yang masih terbuka, hasil

penelitian tentang manfaat teh bagi kesehatan, hubungan yang baik dengan

pelanggan. Adapun yang menjadi ancaman bagi perusahan yaitu daya beli

masyarakat menurun, pesaing industri sejenis, ancaman produk substitusi,

masuknya pendatang baru dan pesaing yang gencar melakukan promosi.

Chandra Timor (2008) menganalisis Strategi Pengembangan Ekspor

Manggis pada PT Agroindo Usaha Jaya di Pasanggrahan, Jakarta Selatan.

Berdasarkan hasil analisa yang telah dilakukan terhadap strategi pemasaran ekspor

manggis, faktor internal yang menjadi kekuatan adalah menguasai daerah

produksi buah manggis, mempunyai pengalaman kerja dan berorganisasi yang

(39)

kompetitif, mempunyai kolega di negara tujuan ekspor, mempunyai modal asing

kuat serta bekerjasama dengan lembaga tentang mutu dan pengembangan ekspor,

sedangkan kelemahannya adalah tidak mempunyai kebun sendiri, informasi pasar

kurang, promosi kurang, marketing kurang dan kurangnya pelatihan karyawan

Hollylucya (2008), menganalisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Ekspor

Teh Indonesia, suatu pendekatan Error Correction Model. Mengatakan bahwa

perkembangan produksi teh Indonesia selama sepuluh tahun terahir dari tahun

1995 sampai 2004 menunjukkan rata-rata pertumbuhan hanya sebesar 0,92 persen

dan rata-rata produksi selama tahun tersebut hanya sebesar 163.419,30 ton.

Pertumbuhan produksi ini searah dengan pertumbuhan luas areal perkebunan teh

sebesar 0,63 persen. Perkembangan volume ekspor teh Indonesia rata-rata

mengalami peningkatan 5,80 persen untuk kurun waktu sepuluh tahun terakhir.

Peningkatan volume ekspor teh ini diikuti dengan peningkatan dalam hal nilai

ekspor, dimana nilai ekspor untuk kurun waktu tersebut mengalami peningkatan

rata-rata sebesar 4,2 persen. Dari periode sepuluh tahun terakhir, volume tertinggi

komoditi teh sebesar 107.144 ton dengan nilai ekspor mencapai US$ 112,524 juta.

Faktor eksternal yang menjadi peluang adalah negara ekspor jelas, harga

buah manggis di pasar Internasional tinggi, adanya peningkatan produksi manggis

dalam negeri dan permintaan yang tinggi. Berdasarkan analisis matrik SWOT,

alternatif strategi yang diperoleh yaitu memperluas pangsa pasar, menekan biaya

operasional, meningkatkan biaya promosi, dan melakukan kerjasama dengan

lembaga-lembaga terkait untuk meningkatkan ekspor, sedangkan berdasarkan

(40)

meningkatkan promosi dan meningkatkan kualitas Manajemen Sumberdaya

Manusia (MSDM).

Penelitian terdahulu tentang teh sudah banyak dilakukan, diantaranya

faktor-faktor yang mempengaruhi ekspor teh Indonesia dengan menggunakan

pendekatan Error Correction Model, analisis faktor-faktor yang mempengaruhi

ekspor teh PTPN VIII dengan menggunakan analisis regresi berganda, analisis

faktor-faktor yang mempengaruhi ekspor komoditi teh Indonesia, strategi

pengembangan bisnis teh serta daya saing komoditi teh di pasar Internasional

dengan menggunakan perumusan model ekspor, identifikasi model, uji

multikolinier, pengukuran elastisitas, dan mengukur tingkat daya saing.

Sedangkan penelitian tentang strategi pengembangan ekspor teh ini belum pernah

dilakukan. Penelitian tentang strategi pengembangan ekspor yang pernah

dilakukan adalah strategi pengembangan ekspor manggis pada PT Agroindo

Usaha Jaya di Pasanggrahan, Jakarta Selatan, menggunakan analisis lingkungan

internal dan eksternal perusahaan, dan analisis bauran pemasaran 4P, Matriks IFE

dan EFE, analisis SWOT dan analisis QSPM. Penelitian Strategi pengembangan

bisnis teh studi kasus di perkebunan Gedeh, PTPN VIII. Sedangkan pada

penelitian ini, yaitu strategi pengembangan ekspor teh hitam di PGM PTPN VIII,

dengan memfokuskan kepada perumusan strategi pengembangan ekspor teh hitam

dengan menggunakan analisis evaluasi faktor internal dan eksternal, analisis

internal eksternal (IE), analisis SWOT (Strength, Weakneses, Opportunities,

(41)

Tabel 6 Penelitian Terdahulu Penulis dan

Tahun

Judul Skripsi Alat Analisis

Sukmawati (2006) Faktor-faktor yang Mempengaruhi Produksi Teh Hitam serta Peramalan Harga Jenis BOP, PF, dan DUST pada PTPN VIII Perkebunan Goalpara.

Peramalan dengan model ARIMA

Hollylucya (2008) Faktor-faktor yang Mempengaruhi Ekspor Teh Indonesia.

Pendekatan Error

Correction Model Resmisari (2006) Faktor-faktor yang Mempengaruhi

Ekspor Teh PTPN VIII.

Regresi

Tatakomara (2004)

Faktor-faktor yang Mempengaruhi

Ekspor Komoditi Teh Indonesia

Regresi

Kristiana (2006) Daya Saing Teh Hitam Indonesia di Pasar Internasional.

Metode fixed effect

Susanti (2006) Strategi Perusahaan untuk

meningkatkan Pemasaran Lokal

Produk Teh Hitam di PT Perkebunan Tambi Wonosobo, Jawa Tengah.

IFE, EFE, dan AHP

Iriana (2004) Strategi Pengembangan Bisnis Teh, studi kasus di Perkebunan Gedeh

Strategi Pengembangan Ekspor

Manggis pada PT Agroindo Usaha Jaya di Pasanggahan, Jakarta Selatan.

(42)

III. KERANGKA PEMIKIRAN

3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1 Konsep Manajemen Strategi

Manajemen strategi dapat didefinisikan sebagai ilmu tentang perumusan,

pelaksanaan dan evaluasi keputusan-keputusan lintas fungsi yang memungkinkan

organisasi mencapai tujuannya (David, 2004). Manajemen strategi berkaitan

dengan upaya memutuskan persoalan strategi dan perencanaan, dan bagaimana

strategi tersebut dilaksanakan dalam praktek.

Tujuan manajemen strategi adalah memanfaatkan dan menciptakan

peluang-peluang baru dan berbeda dimasa mendatang. Manajemen strategi meliputi semua

aktivitas yang menyebabkan timbulnya perumusan sasaran organisasi,

strategi-strategi dan pengembangan rencana-rencana, tindakan-tindakan dan kebijakan

untuk mencapai sasaran-sasaran strategi tersebut untuk organisasi secara total.

Menurut Fisk (2006), Strategi adalah arahan dalam mengklasifikasi visi,

misi dan tujuan, membuat tujuan organisasi jelas, penyesuaian dan momentum,

strategi juga dikatakan sebagai pilihan dalam menentukan dimana dan bagaimana

cara berkompetisi, memprioritaskan pasar, pelanggan, merek dan produk yang

akan difokuskan. Selain itu, strategi juga dikatakan masalah diferensiasi dalam

menemukan sumber-sumber keunggulan kompetitif yang bertahan lama dan

(43)

3.1.2 Lingkungan Perusahaan

Perusahaan adalah sesuatu organisasi produksi yang menggunakan dan

mengkordinir sumber-sumber ekonomi untuk memuaskan kebutuhan dengan cara

yang menguntungkan. Sebelum merumuskan pilihan strategi yang akan diterapkan

oleh suatu perusahaan, terlebih dahulu mengetahui faktor-faktor internal dan

eksternal perusahaan. Kedua faktor ini dapat mempengaruhi baik secara langsung

maupun tidak langsung terhadap kinerja perusahaan.

3.1.2.1 Analisis Lingkungan Internal

Lingkungan internal merupakan lingkungan organisasi yang berada didalam

organisasi tersebut dan secara normal memiliki implikasi langsung dan khusus

pada perusahaan. Tujuan analisis lingkungan internal adalah untuk dapat menilai

kekuatan dan kelemahan dalam mencapai tujuan perusahaan. Identifikasi faktor

yang menjadi kekuatan dan kelemahan adalah untuk memanfaatkan peluang dan

menghindari ancaman.

David (2004) membagi fungsional bisnis untuk analisis internal terdiri dari

lima variabel analisis, yaitu: (1) Manajemen, (2) Pemasaran, (3) Keuangan, (4)

Produksi atau Operasi (5) Penelitian dan Pengembangan dan (6) Sistem Informasi

(44)

1. Manajemen

Fungsi manajemen terdiri dari lima aktivitas dasar, yaitu perencanaan,

pengorganisasian, memotivasi, penyusunan staf, dan pengawasan. Robinson

(1997), menyajikan manajemen kedalam faktor personalia dan manajemen mutu.

Manajemen terdiri dari, manajemen personalia, keterampilan dan moral kerja

karyawan, efesiensi dan efektivitas kebijakan dan kepersonaliaan, tingkat keluar

masuk dan kemangkiran karyawan atas keterampilan khusus serta pengalaman

karyawan. Sedangkan kedalam manajemen mutu yaitu hubungan pemasok dengan

pelanggan, dan praktik-praktik intern untuk meningkatkan mutu produk dan jasa.

2. Pemasaran

Menurut David (2004), Riset pemasaran adalah mengumpulkan, mencatat,

dan menganalisis secara sistematis data mengenai masalah yang berkaitan dengan

pemasaran barang dan jasa yang dapat mengungkapkan kekuatan dan kelemahan

yang penting. Robinson (1997), analisis pemasaran untuk mengumpulkan

informasi yang dibutuhkan tentang pasar, bagian pasar atau sub-pasar.

Menurut Kotler (2004), bauran pemasaran adalah seperangkat alat

pemasaran yang digunakan perusahaan untuk terus menerus mencapai tujuan

pemasarannya di pasar sasaran. Mc Carthy mengklasifiksikan alat-alat itu menjadi

empat kelompok yang luas yang disebut empat P dalam pemasaran yaitu produk

(product), harga (price), tempat (place) dan promosi (promotion). Bauran

pemasaran merupakan bentuk strategi pemasaran yang dilakukan oleh perusahaan

(45)

3. Keuangan

Robinson (1997), membagi faktor internal kunci ini menjadi beberapa

bagian, yaitu: (1) Kemampuan mendapatkan modal jangka pendek, (2)

Kemampuan mendapatkan modal jangka panjang dengan adanya rasio utang

modal, (3) Pertimbangan pajak, (4) Hubungan dengan pemilik, investor dan

pemegang saham, (4) Biaya masuk industri dan hambatan masuk, (5) Modal kerja,

(6) Pengendalian biaya yang efektif atas kemampuan menekan biaya, (7) Efisiensi

dan efektivitas sistem akunting biaya, anggaran dan perencanaan laba.

4. Produksi atau Operasi

Fungsi produksi atau operasi dari suatu usaha terdiri dari semua aktivitas

yang mengubah masukan menjadi barang dan jasa, yang berkaitan dengan input,

transformasi, dan output yang berbeda antar industri dan pasar. Operasi

manufactur mentransformasi atau mengubah masukan seperti bahan baku, tenaga

kerja, modal, mesin, dan fasilitas menjadi barang jadi dan jasa. Lima fungsi

manajemen atau operasi dalam keputusan, yaitu proses, kapasitas, sediaan, tenaga

kerja dan mutu. Kekuatan dan kelemahan dalam lima fungsi produksi dapat

menjadi suatu penentu keberhasilan suatu usaha dalam merumuskan suatu

(46)

5. Penelitian dan Pengembangan

Penelitian dan pengembangan (Research and Depelopment) dapat

merupakan keunggulan bersaing. Hal ini dilihat dari misi litbang secara

keseluruhan yaitu memiliki dasar yang luas termasuk mendukung bisnis yang

sudah ada, membantu meluncurkan bisnis baru, mengembangkan produk baru,

meningkatkan mutu produk, meningkatkan efisiensi manufaktur dan

memperdalam atau memperluas kemampuan teknologi perusahaan. Dua jenis

litbang dalam organisasi, yaitu: (1) Litbang internal, artinya organisasi memiliki

Departemen litbang sendiri dan (2) Litbang eksternal, yaitu perusahaan menyewa

peneliti atau lembaga independen untuk mengembangkan produk spesifik.

6. Sistem Informasi Manajemen (SIM)

Tujuan dari sistem informasi manajemen adalah meningkatkan kinerja

perusahaan dengan cara meningkatkan kualitas keputusan manajerial. Sebuah

sistem informasi yang efektif mengumpulkan, memberi kode, menyimpan,

mensintesa, dan menyajikan informasi sedemikian rupa sehingga dapat menjawab

pertanyaan operasional dan strategi yang penting. Sistem ini mengumpulkan data

mengenai pemasaran, keuangan, produksi, dan personalia internal, serta

faktor-faktor sosial budaya, demografi, lingkungan, ekonomi, politik, pemerintah,

(47)

3.1.2.2 Analisis Lingkungan Eksternal A. Lingkungan Makro

Lingkungan makro tersusun dari sekumpulan kekuatan yang timbul dan di

luar jangkauan serta biasanya terlepas dari situasi operasional perusahaan.

Faktor-faktor pada lingkungan makro adalah, ekonomi, politik, sosial, teknologi dan

persaingan. Faktor-faktor ini dapat mempengaruhi perusahaan memberikan

kesempatan, ancaman dan kendala perusahaan tetapi sebaliknya perusahaan secara

indivindu tidak dapat mempengaruhi lingkungan jauh ini.

David (2004), mengemukakan bahwa analisis eksternal adalah

pengungkapan peluang dan ancaman utama yang dihadapi perusahaan, sehingga

dengan adanya peluang maka akan didapatkan keuntungan, sebaliknya dengan

adanya ancaman maka perusahaan akan berusaha untuk menghindarinya.

Kekuatan-kekuatan eksternal dapat dibagi menjadi lima kategori, yaitu:

1. Kekuatan Ekonomi

Keadaan ekonomi sekarang dan masa yang akan datang sangat

mempengaruhi strategi dan keuntungan perusahaan, diantaranya tingkat bunga,

inflasi, kecenderungan perkembangan GNP dan GDP, ketersediaan kredit, dan

tingkat kecenderungan orang untuk membelanjakan uangnya.

2. Kekuatan Sosial, Budaya, Demografi, dan Lingkungan

Faktor-faktor sosial yang mempengaruhi perusahaan meliputi keyakinan,

nilai-nilai, pendapatan dan gaya hidup dari orang-orang yang berada dalam

lingkungan eksternal perusahaan. Faktor-faktor sosial ini berkembang dari

keadaan budaya, ekologi, demografi, agama, pendidikan, dan suku bangsa. Jika

(48)

3. Kekuatan Politik, Pemerintah dan Hukum

Faktor-faktor politik seperti stabilitas politik, kebijakan dan peraturan

pemerintah telah menjadi pertimbangan yang semakin penting bagi perusahaan

dalam merumuskan strategi. Kebijaksanan dan peraturan pemerintah ini biasannya

bersifat membatasi, dan sebagai akibatnya cenderung mengurangi keuntungan

potensial perusahaan, seperti program perpajakan dan pengaturan upah minimum.

4. Kekuatan Teknologi

Adaptasi teknologi yang kreatif dapat mempunyai dampak terhadap

perencanaan perusahaan melalui perkembangan produk baru atau perbaikan

produk yang telah ada, serta melalui pengembangan proses produksi dan

pemasaran produk perusahaan. Persoalan yang berkaitan tentang teknologi akan

mendasari hampir setiap keputusan penting yang dibuat perencana strategi.

Strategi teknologi yang efektif dibuat berdasarkan analisis penetrasi dari peluang

dan ancaman teknologi, dan penilaian seberapa penting faktor-faktor ini terhadap

strategi korporasi secara keseluruhan.

5. Kekuatan Persaingan

Mengumpulkan dan mengevaluasi informasi mengenai pesaing sangat

penting untuk merumuskan strategi. Mengidentifikasi pesaing utama tidak selalu

mudah karena banyak perusahaan mempunyai berbagai divisi yang bersaing di

industri yang berbeda. Persaingan industri tidak hanya terjadi diantara sesama

(49)

B. Lingkungan Mikro

Suatu perusahaan dalam jangka panjang akan mampu bertahan jika

perusahaan berhasil mengembangkan strategi untuk menghadapi lima kekuatan

yang membentuk suatu struktur persaingan dalam industri yang terdiri dari

ancaman pendatang baru, kekuatan daya tawar pembeli, ancaman produk

substitusi dan persaingan diantara anggota industri.

Gambar 1. Lima Kekuatan yang Mempengaruhi Persaingan Industri. Sumber: Porter E (1995).

1. Ancaman Masuknya Pendatang Baru

Menurut Jauch (1998), Pendatang baru ke suatu industri membawa masuk

kapasitas baru, keinginan untuk merebut bagian pasar dan seringkali sumberdaya

yang cukup besar, enam sumber utama hambatan masuk yaitu skala ekonomis,

diferensiasi produk, kebutuhan modal, hambatan biaya bukan karena skala, akses

ke saluran distribusi dan kebijakan pemerintah.

Ancaman Masuknya Pendatang Baru

Ancaman Produk Pengganti atau Substitusi

Strategi Persaingan Perusahaan

Kekuatan Tawar Menawar Pembeli Kekuatan Tawar

(50)

2. Kekuatan Tawar Menawar Pemasok

Pemasok dapat memanfaatkan kekuatan tawar menawarnya atas para

anggota industri dengan menaikan harga atau menurunkan kualitas barang dan

jasa yang dijualnya. Kekuatan masing-masing pemasok bergantung pada

sejumlah karakteristik situasi pasarnya dan pada tingkat kepentingan relatif

penjualan pembeliannya dalam industri tersebut dibandingkan dengan keseluruhan

bisnisnya.

Faktor-faktor yang menentukan kekuatan pemasok adalah diferensiasi input,

hadirnya input produk pengganti, konsentrasi pemasok, peran penting volume

perusahaan bagi pemasok, biaya relatif terhadap keseluruhan pembelian dalam

industri, pengaruh input pada biaya atau diferensiasi produk, dan ancaman

integrasi maju yang relatif terhadap ancaman integrasi mundur yang dilakukan

oleh semua perusahaan yang bergerak dalam industri yang sama (Jauch, 1998).

3. Kekuatan Tawar Menawar Pembeli

Pembeli atau pelanggan dapat juga menekan harga, menuntut kualitas harga,

menuntut kualitas lebih tinggi, atau layanan lebih banyak dan mengadu domba

sesama anggota industri ini dapat menurunkan laba. Menurut Jauch (1998),

Faktor-faktor yang menentukan kekuatan pembeli adalah konsentrasi pembeli

versus konsentrasi perusahaan, volume pembeli, switching cost pembeli yang

relatif terhadap switching cost perusahaan, informasi pembeli, kemampuan

(51)

4. Ancaman Produk Pengganti atau Substitusi

Dengan menetapkan batas harga tertinggi, produk atau jasa subsitusi

membatasi potensi suatu industri. Jika industri tidak mampu meningkatkan

kualitas atau mendeferensiasikannya, laba, dan pertumbuhan industri dapat

terancam. Faktor-faktor yang menentukan ancaman produk pengganti atau

substitusi adalah kinerja harga yang relatif terhadap produk pengganti, biaya

peralihan (switching cost) kecenderungan pembeli terhadap produk pengganti.

5. Persaingan Diantara para Anggota Industri

Persaingan dikalangan industri terjadi karena mereka berebut posisi dengan

menggunakan taktik seperti persaingan harga, introduksi produk dan perang iklan.

Adapun faktor-faktor yang menentukan persaingan adalah pertumbuhan industri,

biaya tetap atau biaya penyimpanan penambah nilai, kelebihan kapasitas

sementara, perbedaan-perbedaan produk, brand identity, biaya peralihan,

konsentrasi dan keseimbangan, kompleksitas informasi, diversitas para pesaing,

taruhan perusahaan (corporate stakes) dan hambatan keluar (exit barrier).

3.1.3. Konsep Perumusan Strategi

Menurut David (2004), teknik perumusan strategi dapat dipadukan menjadi

kerangka kerja keputusan yang dapat dipakai untuk semua ukuran dan tipe

organisasi dan dapat membantu ahli strategi mengenali, mengevaluasi dan

memilih strategi. Tahap pertama disebut tahap input (matrik IFE dan EFE) dan IE,

tahap kedua disebut tahap pencocokan (matriks SWOT) dan tahap ketiga disebut

Gambar

Gambar  Halaman
Tabel Halaman
Tabel 2 Perkembangan Ekspor Teh Indonesia Tahun 2000-2007  Tahun Volume Pertumbuhan Harga
Tabel 3 Perkembangan, Produksi, Ekspor dan Harga Teh Hitam PGM PTPN VIII
+7

Referensi

Dokumen terkait

Pasar Rusia memberikan peluang yang cukup besar bagi produk Indonesia, baik dalam meningkatkan pangsa pasar yang ada maupun dalam rangka mengembangkan ekspor ke

Berdasarkan Matriks SWOT dihasilkan alternatif strategi yaitu (1) peningkatan mutu SDM melalui pelatihan guna menjaga kualitas produk, (2) diversifikasi kemasan

Matriks SWOT merupakan alat yang sangat penting untuk membantu manajer dalam mengembangkan empat tipe strategi yaitu strategi SO ( Strength-Opportunities ) yaitu

mengembangkan UKM berorientasi ekspor, pemerintah propinsi lebih mem- fokuskan pada pemilihan alternatif strategi konsentrasi untuk meninjau kembali pada penguatan di sumber daya

Dari hasil matriks analisis SWOT, terdapat 4 alternatif strategi pemasaran yang dapat diterapkan oleh KADAKA Cafetaria, yaitu memperluas distribusi penjualan dengan

Analisis matriks SWOT menghasilkan delapan alternatif strategi yaitu mengembangkan produk padi organik dengan optimalisasi sumber daya yang ada, mengembangkan pasar

Hasil analisis matriks SWOT yang mengacu pada hasil matriks IEmenghasilkan empat alternatif strategi yaitu 1 Strategi S-O menciptakan inovasi program wisata dengan menggali potensi

Hasil dari Matriks SWOT menghasilkan 13 strategi alternatif untuk pengembangan bisnis Cikarang Dry Port, yaitu: a mengembangkan aplikasi pendukung E-DO, E-Billing dan E-Tracking