BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Lokasi dan Subjek Penelitian
Penelitian Tindakan Kelas ini dilakukan di TK ASRI II, yang beralamat di Komplek Permata Kopo Blok DA No. 31A/B Kelurahan
Sayati Kecamatan Margahayu Kabupaten Bandung. Adapun yang menjadi subjek penelitian dalam penelitian ini yaitu anak kelompok A yang berusia 4 sampai 5 tahun, pada Tahun Ajaran 2013/2014 yang berjumlah 20 orang anak terdiri dari 7 siswa laki-laki dan 13 siswa perempuan.
Latar belakang pemilihan TK ASRI II sebagai lokasi penelitian didasarkan pada: (1) kondisi pemahaman anak dalam kemampuan mengenal bentuk geometri belum berkembang dengan baik, (2) kondisi guru belum mampu melaksanakan pembelajaran tentang geometri dengan baik, (3) media yang digunakan guru kurang memfasilitasi rasa ingin tahu anak dan belum memadai, (4) metode pembelajaran yang diterapkan guru dalam meningkatkan kemampuan mengenal bentuk geometri kurang variatif dan belum berpusat pada anak, (5) dikarenakan peneliti merupakan salah satu guru pada TK ASRI II, maka peneliti melakukan Penelitian Tindakan Kelas pada Kelompok A di TK ASRI II dalam upaya memperbaiki dan meningkatkan kinerja peneliti sebagai guru dalam mengembangkan kemampuan anak dalam mengenal bentuk geometri dan meningkatkan hasil pembelajaran.
B. Metode Penelitian
Berdasarkan permasalahan yang telah dirumuskan sebelumnya,
serta mengatasi permasalahan pembelajaran mengenal bentuk geometri yang terjadi di lapangan yaitu pada anak kelompok A di TK ASRI II Kecamatan Margahayu Kabupaten Bandung melalui penerapan metode proyek. Oleh karena itu, untuk mencapai tujuan di atas maka pada penelitian ini menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK).
Menurut Sugiyono (2009: 2), metode penelitian pada dasarnya merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan
kegunaan tertentu. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kolaborasi antara metode penelitian kualitatif dan kuantitatif. Hal ini dilihat dari pemaparan proses dan hasil penelitian dalam bentuk deskriptif dan pengambilan data yang bersifat kuantitatif. Hal ini sesuai dengan pendapat Kunandar (2012 : 45) bahwa “penelitian tindakan kelas termasuk penelitian kualitatif meskipun data yang dikumpulkan bisa saja bersifat kuantitatif, dimana uraiannya bersifat deskriptif dalam bentuk kata-kata, peneliti merupakan instrument utama dalam pengumpulan data, proses sama pentingnya dengan produk”.
Sugiyono (2009:13-14) juga menyebutkan bahwa:
1. Metode penelitian kualitatif dilakukan pada kondisi yang alamiah, langsung ke sumber data dan peneliti adalah instrument kunci.
2. Penelitian kualitatif lebih bersifat deskriptif. Data yang terkumpul berbentuk kata-kata atau gambar sehingga tidak menekankan pada angka.
3. Penelitian kualitatif lebih menekankan pada proses dari pada produk atau outcome.
4. Penelitian kualitatif melakukan analisis data secara induktif.
5. Penelitian kualitatif lebih menekankan makna (data dibalik yang teramati).
Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan metode
penelitian menjadi penelitian tindakan kelas atau Classroom Action Research (CAR). Penelitian tindakan kelas adalah penelitian tindakan
yang dilaksanakan di dalam kelas ketika pembelajaran berlangsung. Penelitian tindakan kelas dilakukan dengan tujuan untuk memperbaiki atau meningkatkan kualitas pembelajaran. Penelitian tindakan kelas merupakan suatu pencermatan terhadap kegiatan yang sengaja dimunculkan, dan terjadi dalam sebuah kelas (Arikunto dkk, 2010: 4).
Arikunto dkk (2010: 2) juga menjelaskan bahwa penelitian tindakan kelas melalui gabungan definisi dari tiga kata yaitu penelitian adalah kegiatan mengamati suatu hal tertentu dengan menggunakan aturan yang telah ditentukan untuk memperoleh informasi yang bermanfaat untuk meningkatkan kualitas suatu hal yang menarik dan bermanfaat. Tindakan adalah suatu pemberian perlakuan yang sengaja dilakukan sesuai tujuan yang diharapkan, berupa siklus kegiatan. Kelas adalah sekelompok siswa yang mengikuti kegiatan pembelajaran.
Dalam literatur lain, menurut Hopkins (Muslich, 2009:8) menyatakan bahwa:
PTK adalah suatu bentuk kajian yang bersifat reflektif, yang dilakukan oleh pelaku tindakan untuk mewujudkan kemantapan rasional dan tindakan-tindakannya dalam melaksanakan tugas dan memperdalam pemahaman terhadap kondisi dalam praktik pembelajaran.
Sedangkan menurut Kunandar (2012:41), “Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research) memiliki peranan yang sangat penting
dan strategis untuk meningkatkan mutu pembelajaran apabila diimplementasikan dengan baik dan benar”.
pengamatan dan refleksi dalam upaya memperbaiki pembelajaran yang telah dilakukan sebelumnya melalui pengembangan teknik pembelajaran, metode pembelajaran maupun media yang digunakan dalam pembelajaran.
C. Desain Penelitian
Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah
penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan melalui proses pengkajian berdaur atau siklus. Para ahli mengemukakan model penelitian tindakan
kelas dengan bagan yang berbeda. Namun pada umumnya, Penelitian Tindakan Kelas (PTK) terdiri atas rangkaian empat tahapan yang dilakukan dalam siklus yang berulang, dimana setiap siklus terbagi ke dalam empat yaitu perencanaan, pelaksanaan/tindakan, pengamatan dan refleksi (Arikunto dkk, 2010: 16).
Menurut John Elliot (Muslihuddin, 2009: 6) mengemukakan bahwa yang dimaksud dengan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) adalah suatu kajian dengan situasi sosial dengan maksud untuk meningkatkan kualitas tindakan penelitian didalamnya yaitu: 1) Perencanaan tindakan, 2) pelaksanaan tindakan, 3) pengamatan, 4) refleksi.
Adapun bentuk penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu penelitian tindakan kelas model John Elliot karena di dalam setiap siklus memungkinkan terdiri dari beberapa tindakan yaitu antara dua sampai lima tindakan. Sementara itu, setiap tindakan terdiri dari beberapa langkah yang terealisasi dalam kegiatan belajar mengajar.
Penelitian ini akan dilakukan dalam beberapa siklus sampai
sebagai pertimbangan dalam menyusun perencanaan untuk siklus berikutnya hingga mencapai hasil yang diharapkan.
Prosedur ini secara garis besar dapat digambarkan dengan skema sebagai berikut:
Riset Aksi Model John Elliot (Muslihuddin, 2009: 9)
Pelaksanaan
Perencanaan Pengamatan
Refleksi
Refleksi Perencanaan
Pelaksanaan
Pengamatan Siklus 1
Siklus 2
Menurut Arikunto, dkk (2010:17-19), desain pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang akan dilakukan sesuai skema di atas dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Perencanaan (Planning) disusun berdasarkan masalah yang akan dipecahkan dan hipotesis tindakan yang diajukan.
2. Pelaksanaan Tindakan (Acting) dilakukan setelah persiapan selesai, pada tahap ini peneliti akan melaksanakan tindakan sesuai dengan perencanaan yang telah disusun dalam situasi
yang aktual dimana didalamnya terdapat pengamatan dan refleksi terhadap tindakan yang telah dilaksanakan.
3. Pengamatan (Observing). Pada tahap ini dilakukan perekaman data meliputi proses dan hasil dari pelaksanaan kegiatan dengan tujuan memperoleh data yang akurat sebagai bahan perbaikan siklus berikutnya.
4. Refleksi (Reflecting). Pada tahap ini dilakukan refleksi dengan analisis data mengenai proses, masalah dan hambatan yang ditemui dalam setiap tindakan untuk mengetahui apakah tindakan yang dilakukan telah mencapai tujuan atau belum. Jika belum maka peneliti harus menyusun rencana lanjutan.
Disisi lain, penelitian tindakan yang dilakukan juga merupakan penelitian kolaboratif artinya guru dengan peneliti bekerja sama untuk memperbaiki pembelajaran. Seperti diungkapkan oleh Kunandar (2012: 45), yaitu:
Sesuai model tersebut maka langkah kegiatannya adalah (1) permohonan izin penelitian, (2) melakukan observasi untuk mengetahui kondisi awal pelaksanaan pembelajaran di TK ASRI II Kecamatan Margahayu Kabupaten Bandung, (3) identifikasi permasalahan dalam pembelajaran mengenal bentuk geometri, (4) merumuskan penerapan metode proyek dalam pembelajaran mengenal bentuk geometri, (5) melakukan kolaborasi antara peneliti dan guru dalam penerapan metode proyek untuk meningkatkan kemampuan mengenal bentuk geometri, (6)
melaksanakan tindakan kelas serta menetapkan teknik pengamatan.
Prosedur penelitian tindakan kelas ini diawali dengan melaksanakan observasi awal untuk melihat kondisi objektif pembelajaran, khususnya dalam mengenal bentuk geometri, kemudian melaksanakan dua siklus dimana masing-masing siklus terdiri dari dua tindakan untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Secara prosedural dapat diuraikan sebagai berikut:
1. Observasi Awal
Sebelum melakukan penelitian dan perencanaan penelitian, peneliti terlebih dahulu mengajukan permohonan izin penelitian di TK ASRI II Kecamatan Margahayu Kabupaten Bandung. Dikarenakan peneliti merupakan salah satu pengajar di TK yang bersangkutan maka dalam hal permohonan izin penelitian tidak menemui kendala yang berarti. Dalam tahap ini, peneliti melakukan observasi awal untuk memperoleh gambaran tentang kondisi objektif pembelajaran mengenal bentuk geometri di TK ASRI II, meliputi: perencanaan, pembelajaran,
menemukan keadaan anak Kelompok A di TK ASRI II dalam kemampuan mengenal bentuk geometri masih kurang. Sebagian anak masih belum dapat menunjuk dan menyebutkan bentuk geometri (lingkaran, bujur sangkar, segitiga dan persegi panjang) dengan baik. Hal ini menjadi rujukan bahwa dalam kemampuan mengenal bentuk geometri pada anak Kelompok A di TK ASRI II memerlukan suatu tindakan (treatment) agar dapat memperbaiki dan meningkatkan hasil pembelajaran.
2. Meningkatkan Kemampuan Mengenal Bentuk Geometri melalui Penerapan Metode Proyek
a. Tahap Perencanaan
Menurut Kunandar (2012:45), penelitian tindakan kelas didefinisikan sebagai suatu penelitian tindakan (action research) yang dilakukan oleh guru yang sekaligus sebagai peneliti di kelasnya atau bersama-sama dengan orang lain (kolaborasi) dengan jalan merancang, melaksanakan dan merefleksikan tindakan secara kolaboratif dan partisipasif yang bertujuan untuk memperbaiki atau meningkatkan mutu (kualitas) proses pembelajaran di kelasnya melalui suatu tindakan (treatment) tertentu dalam satu siklus.
Pada tahap ini peneliti bersama guru/kolaborator merancang kegiatan yang akan dilakukan dalam upaya meningkatkan dan memperbaiki hasil belajar anak dalam meningkatkan kemampuan mengenal bentuk geometri. Hal-hal yang perlu disiapkan dalam menyusun perencanaan antara lain: menyiapkan surat ijin penelitian, mempersiapkan lembar
Penelitian ini terdiri dari dua siklus dimana setiap siklus terdiri dari dua tindakan. Dalam setiap siklus dirancang akan membuat sebuah proyek. Proyek yang akan dibuat pada siklus pertama berjudul “ Pesta Kelompok Matahari”. Proyek pertama ini bersifat indoor karena dalam kegiatan pembelajarannya anak secara bersama-sama akan membuat berbagai hiasan kelas yang telah disepakati sebelumnya pada tindakan 1 dan 2, anak dibagi ke dalam empat kelompok dan membuat berbagai
macam hiasan kelas yang terdiri dari bentuk-bentuk geometri dan pada akhir tindakan kedua ditutup dengan perayaan pesta di kelas. Penyelesaian proyek “Pesta Kelompok Matahari” akan dibagi ke dalam dua tindakan, yaitu pada tindakan 1 dan 2, hal ini disesuaikan dengan kemampuan pada anak Kelompok A dalam menyelesaikan hasil kegiatannya. Pada kegiatan penutup di tindakan 2 akan diakhiri dengan pesta kelas di Kelompok Matahari sebagai bagian puncak dari pelaksanaan proyek “Pesta Kelompok Matahari’.
Pada siklus kedua, proyek yang akan dibuat berjudul “Peringatan Hari Kartini”. Hal ini dikarenakan penelitian dilakukan pada bulan April yang bertepatan dengan peringatan Hari Kartini dan sesuai dengan tema pembelajaran “Tanah Airku”. Salah satu tema yang dapat disesuaikan dengan kegiatan proyek yaitu merayakan hari besar nasional (Moeslichatoen, 2004: 147). Agar lebih variatif, proyek kedua ini bersifat outdoor, dimana anak-anak akan menyelesaikan tugas yang telah
disepakati dalam menyiapkan hiasan-hiasan di luar kelas untuk perayaan Hari kartini. Sesuai dengan karakteristik metode proyek, setiap kegiatan
mendapatkan kesempatan yang cukup untuk menyelesaikan proyeknya dengan baik.
b. Pelaksanaan
Pelaksanaan merupakan implementasi isi dari rancangan pembelajaran yang telah dibuat. Dalam pelaksanaan pembelajaran, guru menggunakan penerapan metode proyek untuk meningkatkan kemampuan mengenal bentuk geometri pada anak Kelompok A di TK ASRI II
Kecamatan Margahayu Kabupaten Bandung. Pelaksanaan pembelajarannya diuraikan sebagai berikut:
1) Guru membuka pembelajaran dengan apersepsi terhadap tema pembelajaran.
2) Guru memperlihatkan beberapa media yang akan digunakan dalam kegiatan pembelajaran.
3) Sebagaimana ciri khas metode proyek, sebelum melaksanakan kegiatan pembelajaran guru melakukan kesepakatan dengan anak tentang proyek apa yang akan diselesaikan dalam kegiatan pembelajaran, dalam hal ini berkaitan dengan upaya meningkatkan kemampuan mengenal bentuk geometri. Proyek yang akan dibuat dalam penelitian ini yaitu proyek “ Pesta Kelompok Matahari” pada siklus 1 dan “Peringatan Hari kartini” pada siklus 2.
4) Setelah mencapai kesepakatan dan pembagian kelompok, guru menjelaskan tentang langkah-langkah kegiatan dalam menyelesaikan proyek dengan berbagai media yang telah disiapkan.
Berdasarkan hasil wawancara dan diskusi dengan guru TK ASRI II
menyelesaikan proyek yang telah disepakati yaitu proyek “Pesta Kelompok Matahari” di siklus 1 dan “Peringatan Hari Kartini” di siklus 2 dengan menggunakan media yang telah disediakan dari berbagai bahan yang berupa bentuk-bentuk geometri.
Setelah pelaksanaan siklus I yang terdiri dengan 2 tindakan dan menyelesaikan satu proyek selesai, jika masih terdapat sesuatu yang dianggap kurang dalam penerapan metode maupun peningkatan
kemampuan anak dalam mengenal bentuk geometri belum mencapai tujuan yang diharapkan maka dilanjutkan ke siklus II yang terdiri dari dua tindakan dengan melaksanakan proyek yang kedua dalam upaya meningkatkan kemampuan mengenal bentuk geometri sehingga mencapai hasil yang diharapkan.
c. Pengamatan
Pada tahap ini peneliti menyiapkan instrumen penelitian untuk guru dan anak. Peneliti mengamati segala proses dalam kegiatan pembelajaran mengenal bentuk geometri melalui penerapan metode proyek. Pengamatan dilakukan secara berkala dari siklus I sampai siklus berikutnya sampai tercapai tujuan pembelajaran yang diharapkan. Pengamatan dilakukan untuk mengetahui bagaimana kondisi awal anak dalam kemampuan mengenal bentuk geometri, proses pembelajaran mengenal bentuk geometri melalui penerapan metode proyek, peningkatan kemampuan anak dalam mengenal bentuk geometri setelah penerapan metode proyek dan berbagai kendala yang dihadapi dalam penerapan metode proyek untuk meningkatkan kemampuan anak dalam mengenal bentuk geometri.
pembelajaran mengenal bentuk geometri melalui penerapan metode proyek sehingga dapat mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan.
d. Refleksi
Refleksi dilakukan setelah guru/peneliti selesai melaksanakan tindakan. Dalam refleksi peneliti dan guru bersama-sama melakukan evaluasi terhadap kegiatan yang telah dilakukan, bagaimana tingkat pencapaian keberhasilannya dan memikirkan kembali langkah apa yang
akan dilakukan dalam siklus berikutnya hingga benar-benar mencapai hasil atau tujuan pembelajaran yang diharapkan dan telah ditentukan sebelumnya.
D. Penjelasan Istilah
Penjelasan istilah dalam penelitian meningkatkan kemampuan mengenal bentuk geometri pada anak Kelompok A TK ASRI II Kecamatan Margahayu Kabupaten Bandung antara lain menjelaskan pengertian geometri, kemampuan mengenal bentuk geometri dan penerapan metode proyek dalam meningkatkan kemampuan mengenal bentuk geometri, yaitu sebagai berikut:
a. Geometri adalah satu cabang matematika yang membahas tentang benda-benda, luas permukaan, titik-titik, garis-garis, sudut-sudut beserta hubungan-hubungan yang tercipta, sifat-sifat dan semua ukuran yang berlaku, termasuk letak-letak titik, garis dan sudut di dalam ruang (Wiratama, 2009)
seperti lingkaran, bujur sangkar, segitiga dan persegi panjang (Kemendiknas, 2010).
c. Metode proyek merupakan salah satu cara pemberian pengalaman belajar dengan menghadapkan anak dengan persoalan sehari-hari yang harus dipecahkan secara berkelompok (Moeslichatoen, 2004: 137).
E. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data dilakukan untuk mendapatkan informasi yang akurat dan objektif dalam penelitian. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini didasarkan atas metode serta situasi dan kondisi di lapangan yang dijadikan sebagai objek penelitian.
Adapun teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Pedoman Observasi (Pengamatan) yaitu kegiatan pengamatan (pengambilan data) untuk mengetahui sejauh mana kondisi objektif sebelum diberikan tindakan dan untuk mengetahui dampak perubahan setelah diberikan tindakan dan untuk mengetahui sejauh mana hasil yang dicapai sesuai dengan tujuan yang telah ditentukan.
2. Catatan lapangan yaitu berupa catatan kejadian berupa narasi yang menggambarkan atau menceritakan peristiwa yang terjadi selama penelitian untuk memperoleh informasi yang lebih rinci mengenai peningkatan kemampuan mengenal bentuk geometri di TK ASRI II Kecamatan Margahayu kabupaten Bandung melalui penerapan
metode proyek.
Berikut penjelasan dari teknik pengumpulan data yang akan digunakan dalam penelitian ini, yaitu:
1. Pengamatan (Observasi)
Pengamatan (observasi) dalam penelitian terdiri dari dua tahapan yaitu secara kuantitatif dan kualitatif. Dalam pengamatan secara kuantitatif yaitu dilakukan dengan cara menggunakan instrument penelitian yang telah disusun dan dikuatkan atau dibenarkan oleh ahli.
Pengamatan secara kualitatif yaitu dengan menggunakan catatan lapangan.
Pengamatan (Observasi) dilakukan selama proses penelitian tindakan dilakukan mulai dari siklus 1 dan siklus 2. Melalui pengamatan ini diharapkan dapat mengetahui kekurangan dalam setiap pelaksanaan tindakan, sehingga dapat dijadikan landasan dalam melakukan refleksi dan bahan perbaikan dalam pemberian tindakan berikutnya.
Pengamatan ini dilakukan untuk mengetahui peningkatan kemampuan mengenal bentuk geometri pada anak. Melalui kegiatan observasi, peneliti dapat melihat peningkatan kemampuan mengenal bentuk geometri melalui penerapan metode proyek pada anak Kelompok A di TK ASRI II Kecamatan Margahayu Kabupaten Bandung.
Langkah-langkah dalam menyusun format observasi anak adalah sebagai berikut:
a. Membuat kisi-kisi instrumen.
b. Menyusun instrumen dengan menentukan indikator.
2. Catatan Lapangan
Menurut Suparno (2008:46), mengemukakan bahwa “catatan lapangan (Field Notes) adalah catatan penelitian di lapangan. Ketika melakukan penelitian, sebaiknya peneliti membawa buku catatan untuk menulis dan mencatat semua hal yang ditemukan di lapangan.
Manfaat yang diperoleh dengan memiliki catatan lapangan yaitu peneliti mengetahui secara detail setiap peristiwa yang terjadi selama penelitian untuk memperbaiki kekurangan yang muncul selama
penelitian (bahan refleksi) dan memperbaiki perencanaan sehingga tujuan penelitian dapat tercapai dengan baik. Isinya antara lain adalah catatan pribadi tentang pengamatan, perasaan, tanggapan, penafsiran, refleksi, hipotesis dan penjelasan (Wiriaatmadja, 2012:123).
Catatan tidak hanya melaporkan kejadian lugas sehari-hari, melainkan juga mengungkap perasaan bagaimana rasanya berpartisipasi dalam penelitian. Kejadian khusus, percakapan, introspeksi, perasaan, sikap motivasi dan pemahaman terhadap kondisi yang akan membantu menggambarkan kejadian pada waktu itu (Wiriaatmadja, 2012: 123).
3. Dokumentasi
Dokumentasi merupakan suatu instrumen yang digunakan dalam penelitian berupa foto, gambar dan sebagainya. Dokumen yang digunakan peneliti untuk memperoleh data yang diperlukan berupa dokumen tertulis seperti RKH yang berisi tentang kegiatan pembelajaran dan fofo-foto kegiatan. Hasil dari studi dokumentasi tersebut dijadikan bahan rujukan sebagai penunjang dalam penelitian ini.
F. Instrumen penelitian
digunakan dalam melakukan peng ukuran, dalam hal ini alat untuk mengumpulkan data pada suatu penelitian.
Arikunto dkk, (2010: 203) menyatakan bahwa:
Instrumen penelitian adalah alat atau fasilitas yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data agar pekerjaannya lebih mudah dan hasilnya lebih baik, dalam arti lebih cermat, lengkap dan sistematis sehingga lebih mudah diolah. Variasi jenis instrument penelitian adalah: angket, ceklis (Chek-list) atau daftar centang, pedoman wawancara dan pedoman pengamatan.
Instrumen dalam penelitian ini digunakan untuk mengumpulkan data dan mengukur suatu pengaruh dari perlakuan yang diberikan yaitu penerapan metode proyek dalam meningkatkan kemampuan mengenal bentuk geometri pada anak Kelompok A di TK ASRI II Kecamatan Margahayu Kabupaten Bandung.
G. Proses Pengembangan Instrumen
Peneliti berkolaborasi dengan guru TK ASRI II (kolaborator) Kecamatan Margahayu kabupaten Bandung untuk membahas permasalahan yang dihadapi dalam meningkatkan kemampuan mengenal bentuk geometri pada anak. Setelah peneliti dan guru memperoleh kesepakatan tentang fokus permasalahan yang harus diatasi, peneliti mengembangkan instrumen penelitian. Instrumen penelitian ini digunakan untuk membantu mempermudah peneliti dalam memperoleh data yang diperlukan.
Adapun kisi-kisi instrumen yang dimaksud pada penelitian ini adalah sebagai berikut:
Tabel 3.1
Kisi-kisi Instrumen Penelitian
VARIABEL SUB VARIABEL INDIKATOR ITEM
Kemampuan
1. Menyebutkan bentuk lingkaran
2. Menunjuk bentuk lingkaran
3.Mengelompokkan bentuk lingkaran dengan benda tiga dimensi
bujur sangkar dengan benda tiga dimensi
4.Menyusun pola bentuk bujur sangkar
bentuk segitiga
segitiga
2. Menunjukkan bentuk segitiga
3. Mengelompokkan bentuk segitiga dengan benda tiga dimensi persegi panjang dengan benda tiga dimensi
4.Menyusun pola bentuk persegi panjang
5.Mencipta bentuk persegi panjang dengan berbagai media
Ditjen Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Depdiknas (2006). Depdikbud (2005).
H. Analisis data
Analisis data adalah proses menyusun data agar dapat disajikan dan ditafsirkan (Creswell, 2013:179). Dalam penelitian ini, analisis data dilakukan melalui analisis kualitatif dan kuantitatif. Dalam analisis kualitatif, tahap analisis data berlangsung dari awal sampai akhir penelitian. Menurut Nasution (Sugiyono, 2009:245), mengungkapkan bahwa dalam penelitian kualitatif, analisis data telah dimulai sejak merumuskan masalah dan menjelaskan masalah, sebelum terjun ke lapangan, selama penelitian berlangsung sampai
pada penulisan hasil penelitian. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu menggunakan model interaktif yang dikembangkan oleh Miles dan Huberman, 1994 (Creswell, 2014: 181).
Creswell (2013: 180) juga mengemukakan bahwa terdapat tiga analisis data dalam penelitian kualitatif yaitu terdiri dari menyiapkan data baik berupa teks, gambar atau foto, kemudian pemberian kode dan menggambarkan data dalam bentuk angka, tabel atau diskusi. Dari ketiga analisis tersebut di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa dalam penelitian kualitatif data yang diambil harus digambarkan atau dipaparkan secara jelas dari mulai perencanaan termasuk semua dokumentasi di lapangan, kemudian disederhanakan dalam bentuk pemberian kode dan diambil kesimpulan yang disajikan dalam bentuk grafik atau tabel.
Menurut Sugiyono (2009:246), aktivitas dalam analisis data interaktif yaitu reduksi data, paparan data dan penyimpulan.
1. Reduksi Data
Mereduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok,
memfokuskan pada hal-hal penting, dicari tema dan polanya, menyederhanakan, meringkas dan mengubah bentuk data mentah yang ada dalam catatan lapangan. Dalam penelitian ini proses ini dilaksanakan dalam 3 skala penilaian yaitu:
Skor 2=DP (Dalam Proses) Skor 3=BB (Berkembang Baik)
Berikut tabel skala penilaian kemampuan anak:
Tabel 3.2
Berdasarkan pendapat Muslihuddin (2010), pemaparan ini meliputi: a. Siklus penelitian. Data dalam siklus penelitian dipaparkan dengan
jelas dan rinci secara keseluruhan untuk memudahkan dalam mengevaluasi setiap tindakan yang diberikan. Demikian halnya dalam penelitian ini dijelaskan pemaparan data mengenai rencana tindakan, pelaksanaan dan refleksi dalam setiap siklus.
c. Hasil-hasil otentik. Untuk memperoleh hasil otentik maka hasil penelitian ini disertai foto-foto dan catatan lapangan.
3. Penyimpulan
Dalam penarikan kesimpulan pada penelitian ini menggunakan analisis kuantitafif .Penarikan kesimpulan tentang peningkatan atau perubahan yang terjadi dilakukan secara bertahap mulai dari kesimpulan sementara yang ditarik pada akhir satu dan kesimpulam akhir pada siklus kedua atau terakhir. Untuk lebih memberikan
gambaran yang jelas mengenai peningkatan kemampuan mengenal bentuk geometri pada anak TK (dalam hal ini pada Kelompok A di TK ASRI II Kecamatan Margahayu Kabupaten Bandung) sebelum dan sesudah pelaksanaan penelitian, maka penelitian ini diperkuat oleh persentase sederhana. Hasil persentase tersebut, disajikan dalam bentuk grafik.
Untuk menghitung nilai persentase dapat digunakan rumus yang dikemukakan oleh Purwanto (Estiwi, 2012: 97), sebagai berikut: NP = R x 100%
SM Keterangan:
NP = Nilai persen yang dicari