• Tidak ada hasil yang ditemukan

2017 73

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan " 2017 73"

Copied!
2
0
0

Teks penuh

(1)

PENGADILAN NEGERI BANGKINANG

M en im b a n g

M en g in g a t

KEPUTUSAN KETUA PENGADILAN NEGERI BANGKINANG N o m o r : W 4 .U 7 / 7 3 /K P .0 4 .0 6 /I I I /2 0 1 7

TENTANG

PENYEDIAAN AREA MEROKOK (SMOKING AREA) PADA PENGADILAN NEGERI BANGKINANG KETUA PENGADILAN NEGERI BANGKINANG

: 1. Bahwa untuk meningkatkan pelayanan publik yang efektif dan efisien dan untuk menjaga kenyamanan masyarakat pencari keadilan diperlukan adanya Area Merokok (Smoking Area); 2. Bahwa Area Merokok merupakan fasilitas di Pengadilan

Negeri Bangkinang untuk memberikan kenyamanan pelayanan kepada Masyarakat pencari keadilan;

3. Bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf 1 dan huruf 2 di atas perlu ditetapkan dengan Keputusan Ketua Pengadilan Negeri Bangkinang;

: 1. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik;

2. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985 sebagaimana telah diubah dan ditambah dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2009 Tentang Mahkamah Agung;

6. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara

7. Keputusan Ketua Mahkamah Agung RI Nomor 076/KMA/SK/VI/2009 tentang Petunjuk Pelaksanaan Penanganan Pengaduan pada Badan Peradilan;

8. Keputusan Ketua Mahkamah Agung RI Nomor 1- 144/KMA/SK/2011 tentang Pedoman Pelayanan Informasi di Pengadilan;

MEMUTUSKAN

(2)

PERTAMA

KEDUA

Kepada Pegawai dan Masyarakat yang merokok tidak diperkenankan merokok di sembarang tempat, namun harus di Area Merokok (Smoking Areaj yang telah disediakan pada Pengadilan Negeri Bangkinang;

Surat Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan, dengan ketentuan apabila dikemudian hari ternyata terdapat kekeliruan dalam keputusan ini akan diadakan perbaikan sebagaimana mestinya.

D ite ta p k a n d i : BANGKINANG P a d a ta n g g a l : 1 MARET 2 0 1 7

A kETUA PENGADILAN NEGERI BANGKINANgA

II a | WfcfCS. /> '

Referensi

Dokumen terkait

Asas Praduga Rechmatig: Setiap tindakan badan pemerintahan dianggap benar dan sah hingga ada pembatalannya. Asas Penyelenggaraan Kekuasaan Kehakiman yang Merdeka dan Bebas: Pengadilan harus beroperasi secara merdeka dan bebas dari campur tangan kekuasaan. Asas Hakim Aktif: Hakim PTUN memiliki peran aktif dalam mencari kebenaran materiil selama persidangan. Asas Kesatuan Beracara: Terdapat satu panduan beracara untuk perkara sejenis, mencegah simpang siur penerapan hukum. Asas Sidang Terbuka untuk Umum: Setiap sidang harus terbuka untuk umum, kecuali undang-undang menentukan sebaliknya. Asas Peradilan Dilakukan dengan Sederhana, Cepat, dan Biaya Ringan: Proses peradilan harus efisien, cepat, dan biaya ringan agar dapat dijangkau oleh masyarakat. Asas Pembuktian Bebas: Hakim bebas menentukan bukti apa saja yang relevan dalam sengketa, tidak terikat pada bukti dari para pihak. Asas Audi et Alteram Partem: Hakim harus mendengar kedua belah pihak yang bersengketa untuk menjaga keseimbangan hak. Asas Objektivitas: Hakim wajib menjaga objektivitas, termasuk mengundurkan diri jika terdapat konflik kepentingan. Asas Peradilan Berjenjang: Sengketa dapat diajukan ke pengadilan yang lebih tinggi untuk pengoreksian putusan. Asas Erga Omnes: Putusan PTUN mengikat secara publik, tidak hanya pada pihak yang bersengketa. Asas Ultimatum Remedium: Pengadilan sebagai upaya terakhir dalam mencari keadilan setelah upaya