runcing dan posisinya menggantung pada ketiak daun. Ketika muda warna buahnya hijau, setelah tua berubah menjadi merah (Anonymous. 2007a).
Cabai dapat dengan mudah ditanam, baik di dataran rendah maupun
Cabai dikembangbiakkan dengan biji yang diambil dari buah tua atau yang berwarna merah. Biji tersebut disemaikan terlebih dahulu. Tanah
diberi pupuk kandang. Pupuk kandang ini sebaiknya diletakkan di dalam lubang kecil yang dibuat lurus dengan jarak antar lubang 50 - 60 cm dan jarak antar baris 60 - 70 cm, tergantung kepada jenis yang akan ditanam. Setelah bibit
lubang tersedia. Satu bulan setelah tanam, tanaman diberi pupuk buatan. Pupuk
tersebut merupakan campuran urea, TSP, dan KCL dengan perbandingan 1 : 2 : 1 sebanyak 10 gram tiap tanaman. Oleh karena itu, diperlukan 150 kg urea, 300 kg TSP dan 150 kg KCL. Pada tanah tandus, pupuk urea dapat diberikan
sampai 200 kg per hektar. Pupuk buatan ini diberikan di sekeliling tanaman sejauh 5 cm dari batangnya. Saat tanaman berumur dua bulan sebaiknya diberi
urea susulan 150 kg/ ha (Pracaya, 2003)
2. Pemeliharaan Tanaman
Pemeliharaan tanaman cabai tidak terlalu sulit, dengan cara membersihkan rumput pengganggu, menjaga ketersediaan air, dan memberantas hama serta penyakit. Hama yang sering menyerang tanaman
cabai ialah lalat buah (Dacus ferrugineus), kutu daun (Myzus persicae), dan tungu merah (Tetranycus sp.). Lalat buah merusak dengan menusuk buah cabai
hingga berguguran. Pemberantasan hama ini dengan penyemprotan Kelthane 0,1-0,2%.
Penyakit yang sering mengancam tanaman cabai adalah penyakit busuk buah. Penyakit ini disebabkan cendawan Collectrichum nigrum. Cendawan Oeidium sp. menyebabkan penyakit gugur daun, sedangkan cendawan
Phytophthora capsici penyebab terjadinya penyakit busuk daun. Penyakit busuk daun dan busuk buah tersebut dapat dicegah dengan disemprotkan Dithane M-45
besar ialah penyakit yang disebabkan virus daun keriting (TMV). Virus TMV
ditularkan kutu daun. Virus tersebut merusak daun muda sehingga menjadi keriting atau menggulung dan mengecil. Penyakit ini sampai kini belum dapat diberantas sehingga bila ada tanaman yang terserang lebih baik
dicabut dan dibuang agar tidak menular ke tanaman yang lain (setiadi, 1990).
3. Pemanenan
Pemungutan buah pertama dapat dilakukan setelah tanaman berumur empat bulan. Tanaman yang baik dapat menghasilkan buah 4 - 10 ton buah per
hektar. Buah cabai mempunyai pasaran yang luas, baik dalam atau luar negeri. Dalam bentuk olahan (sambal atau tepung) telah dipasarkan sampai Eropa dan Amerika. Akan tetapi, harga cabai tidak stabil. Harga dapat berkisar antara
Rp.1.000, sampai Rp.15.000, per kilogram tergantung musim panen dan hari besar (setiadi, 1990).
2.2 LANDASAN TEORI
Teori Produksi
fungsi produksi adalah suatu persamaan yang menunjukkan jumlah maksimum output yang dihasilkan dengan kombinasi input tertentu (Nasir, M. 1999).
Hubungan antara jumlah output (Q) dengan sejumlah input yang digunakan dalam proses produksi (X1, X2, X3, ……Xn) secara matematis dapat ditulis sebagai berikut:
Q = f (X1 X2 X3... Xn) (2.1) Keterangan:
Q = output X = input
Berdasarkan fungsi produksi di atas maka akan dapat diketahui hubungan antara input dengan output, dan juga akan dapat diketahui hubungan antar input itu sendiri.
Apabila input yang dipergunakan dalam proses produksi hanya terdiri atas modal (K) dan tenaga kerja (L) maka fungsi produksi yang dimaksud dapat diformulasikan menjadi:
menggunakan kombinasi alternatif dari modal (K) dan tenaga kerja (L).
Dalam teori ekonomi, setiap proses produksi mempunyai landasan teknis yang disebut fungsi produksi. Fungsi produksi adalah suatu fungsi atau persamaan yang menunjukkan hubungan fisik atau teknis antara faktor-faktor yang dipergunakan dengan jumlah produk yang dihasilkan per satuan waktu, tanpa memperhatikan harga, baik harga faktor-faktor produksi maupun harga produk (Prajnanta, F. 2005) Secara matematis fungsi produksi tersebut dapat dinyatakan:
Y = f (X1, X2, X3, ... , Xn) Dimana
Y = tingkat produksi atau output yang dihasilkan, dan X1, X2, X3, ... , Xn adalah berbagai faktor produksi atau input yang digunakan. Fungsi ini masih bersifat umum, hanya bisa menjelaskan bahwa produk yng dihasilkan tergantung dari faktor-faktor produksi yang dipergunakan, tetapi belum bisa memberikan penjelasan kuantitatif mengenai hubungan antara produk dan faktor produksi tersebut. Untuk dapat memberikan penjelasan kuantitatif, fungsi produksi tersebut harus dinyatakan dalam bentuknya yang spesifik antara lain:
a) Y = a + bX (fungsi linear)
b) Y = a +bX – cX2 (fungsi kuadratis) c) Y = aX1 bX2 c X3
d (fungsi Cobb-Douglas)
berkurang. Hukum ini menyatakan bahwa jika penggunaan satu macam input ditambah sedang input-input lain tetap maka tambahan output yang dihasilkan dari setiap tambahan satu unit input yang ditambahkan tadi mula-mula naik tetapi kemudian seterusnya menurun jika input tersebut terus ditambahkan. Hubungan antara produk total, produk marginal dan produk rata-rata diperlihatkan dalam gambar:
Hubungan produk dan faktor produksi yang diperlihatkan pada pada gambar 1. mempunyai lima sifat (Epp & Malone, 1981) yaitu:
1. Mula-mula terdapat kenaikan hasil bertambah (garis 0B), di mana produk marginal semakin besar; produk rata-rata naik tetapi di bawah produk marginal.
2. Pada titik balik atau inflection point B terjadi perubahan dari kenaikan hasil bertambah menjadi kenaikan hasil berkurang, di mana produk marginal mencapai maksimum (titik B’); produk rata-rata masih terus naik.
3. Setelah titik B, terdapat kenaikan hasil berkurang (garis BM), di mana produk marginal menurun; produk rata-rata masih naiksebentar kemudian mencapai maksimum pada titik C’, di mana pada titik ini produk rata-rata sama dengan produk marginal. Setelah titik C’ produk ratarata menurun tetapi berada di atas produk marginal.
4. Pada titik M tercapai tingkat produksi maksimum, di mana produk marginal sama dengan nol; produk rata-rata menurun tetapi tetap positif.
5. Sesudah titik M, mengalami kenaikan hasil negatif, di mana produk marginal juga negatif; produk rata-rata tetap positif. Dari sifat-sifat tersebut dapat disimpulkan bahwa tahapan produksi seperti yang dinyatakan dalam The Law of Diminishing Return dapat dibagi ke dalam tiga tahap yaitu:
Faktor produksi sering disebut dengan korbanan produksi untuk menghasilkan produksi. Faktor produksi disebut dengan input. Faktor-faktor yang mempengaruhi produksi dibedakan menjadi 2 kelompok (Soekartawi, 1990), antara lain: (1) Faktor biologi, seperti lahan pertanian dengan macam dan tingkat kesuburannya, bibit, varietas, pupuk, obat-obatan, gulma, dan sebagainya; (2) Faktor social ekonomi, seperti biaya produksi, harga, tenaga kerja, tingkat pendidikan, tingkat pendapatan, resiko, dan ketidakpastian, kelembagaan, tersedianya kredit dan sebagainya.
Input merupakan hal yang mutlak, karena proses produksi untuk menghasilkan produk tertentu dibutuhkan sejumlah faktor produksi tertentu. Misalnya untuk menghasilkan jagung dibutuhkan lahan, tenaga kerja, tanaman, pupuk, pestisida, tanaman pelindung dan umur tanaman. Proses produksi menuntut seorang pengusaha mampu menganalisa teknologi tertentu dan mengkombinasikan berbagai macam faktor produksi untuk menghasilkan sejumlah produk tertentu seefisien mungkin.
Teori Penetapan Harga
Menurut (Ginting, P. 2006) salah satu tujuan kebijakan harga pertanian adalah menstabilkan harga produk pertanian untuk meningkatkan kegiatan usaha tani, serta terciptanya harga pangan yang stabil bagi konsumen. Kebijakan harga pertanian dapat dilakukan melalui berbagai instrumen yaitu kebijakan perdagangan, kebijakan nilai tukar, pajak dan subsidi serta intervensi langsung. Secara tidak langsung stabilitas harga dapat diterapkan melalui kebijakan pemasaran output dan kebijakan input. Kebijakan input dapat dijalankan berupa subsidi harga sarana produksi yang diberlakukan pemerintah terhadap pupuk, benih, pestisida dan kredit.
Harga jual adalah sejumlah biaya yang dikeluarkan perusahaan untuk memproduksi suatu barang atau jasa ditambah dengan persentase laba yang diinginkan perusahaan, karena itu untuk mencapai laba yang diinginkan oleh perusahaan salah satu cara yang dilakukan untuk menarik minat konsumen adalah dengan cara menentukan harga yang tepat untuk produk yang terjual. Harga yang tepat adalah harga yang sesuai dengan kualitas produk suatu barang, dan harga tersebut dapat memberikan kepuasan kepada konsumen.
Tidak semua produsen akan memperoleh keuntungan ekonomi karena hal ini bergantung pada struktur dan biaya. Sekalipun harga sama untuk setiap produsen, struktur beaya akan berbeda karena hal ini bergantung pada teknologi yang digunakan dan manajemen dalam melakukan produksi. Dalam hal ini akan dijumpai produsen yang hanya memperoleh keuntungan normal (di mana AC=P) sehingga TC=TR. Dikatakan keuntungan normal karena produsen telah membebamkan keuntungan per unit Q pada harga pasar yang terjadi. Dalam kasus ini P=AC (Amir, 2004).
P C AC
MC
P B AR=MR=P
0 Q
Q1
Keterangan Gambar 1:
a) Pada harga OP, output yang dihasilkan OQ1, biaya rata-rata Q1B. b) Pada titik B, AC = MC = MR = P.
c) TR = Luas segi empat OQ1BP, TR = luas segi empat OQ1BP, TR = TC. d) Keuntungan = TR = TC = 0, keuntungan normal.
Salah satu metode untuk menetapkan harga jual menurut (Mei, Theresia. M.H. 2006) adalah dengan metode fixed percentage margin. Di sini margin dihitung atau ditentukan berdasarkan suatu persentase di tingkat eceran. Secara aljabar adalah sebagai berikut. Pr = Pf + M , di mana Pr adalah harga jual, Pf adalah harga di tingkat petani, dan M adalah margin atau keuntungan.
` Pemerintah turut campur dalam perekonomian negara kita. Salah satu bentuk turut campur tangan pemerintah dalam perekonomian yaitu dalam menentukan harga agar dianggap adil baik produsen maupun konsumen. Patokan harga yang dibuat oleh pemerintah itu tidak lain untuk mewujudkan pendekatan antara konsumen dan produsen dalam pembentukan harga yang riil. (Soekartawi 2006)
Menurut (Nurliah, Elly. 2002) bentuk campur tangan pemerintah tersebut adalah melalui penetapan harga eceran tertinggi, penetapan harga terendah, pajak atau melalui subsidi. Beberapa macam harga yang ditetapkan oleh pemerintah yaitu :
Harga eceran tertinggi (ceiling price), adalah harga tertinggi yang ditetapkan oleh pemerintah yang bertujuan untuk melindungi konsumen. Dimana pemerintah menetapkan harga maksimum suatu barang. Penjual tidak diperbolehkan menetapkan harga di atas harga maksimum tersebut.
Adanya penetapan harga eceran tertinggi menyebabkan kelebihan permintaan, yang dapat diatasi dengan impor atau usaha-usaha lain terkait peningkatan produksi / layanan jasa. Harga eceran tertinggi bertujuan untuk mencapai tingkat harga yang tidak merugikan produsen maupun konsumen. Dari uraian tersebut penetapan harga eceran tertinggi akan memberikan pengaruh pada menurunnya harga pasar, tercipta kelebihan permintaan atau kekurangan penawaran, menurunkan kuantitas yang diperjualbelikan, dan menurunkan penerimaan produsen.
Gambar 3. Kebijakan Harga Tertinggi (ceiling price)
Price excess supply Supply
Harga Batas Bawah ( floor price )
Demand
Q1 Q2 Quantity
Gambar 4. Kebijakan Harga Terendah ( floor price )