• Tidak ada hasil yang ditemukan

INBREEDING DEPRESSION PADA PROGENI HASIL PENYERBUKAN SENDIRI DAN OUTBREEDING DEPRESSION PADA HASIL PENYERBUKAN SILANG JARAK PAGAR (Jatropha curcas L.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "INBREEDING DEPRESSION PADA PROGENI HASIL PENYERBUKAN SENDIRI DAN OUTBREEDING DEPRESSION PADA HASIL PENYERBUKAN SILANG JARAK PAGAR (Jatropha curcas L."

Copied!
31
0
0

Teks penuh

(1)

INBREEDING

DEPRESSION

PADA PROGENI HASIL

PENYERBUKAN SENDIRI DAN

OUTBREEDING

DEPRESSION

PADA HASIL PENYERBUKAN SILANG

JARAK PAGAR (

Jatropha curcas

L.)

Rr. Sri Hartati1, Asep Setiawan2, B. Heliyanto3 dan Sudarsono2 1) Departemen Agronomi dan Hortikultura Faperta IPB dan

Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan Bogor 2) Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian IPB

3) Balai Penelitian Tanaman Tembakau dan Serat Abstrak

Untuk mengetahui pengaruh tangkar dalam (inbreeding depression) dan tangkar luar (outbreeding depression) pada tanaman jarak pagar telah dilakukan evaluasi pada sejumlah populasi S1 hasil penyerbukan sendiri (selfing) dan F1 hasil penyerbukan silang (crossing) genotipe terpilih. Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Aneka Tanaman Industri Pakuwon, Sukabumi mulai bulan Juni 2009 – Juli 2010. Evaluasi menggunakan 100 populasi F1 yang berasal dari persilangan diallel lengkap antar 10 tetua yang terdiri atas 1 tetua berdaya hasil rendah (< 200 buah per tanaman pada tahun I), 6 tetua berdaya hasil sedang (200-400 buah per tanaman pada tahun I), dan 3 tetua berdaya hasil tinggi (>400-600 buah per tanaman pada tahun I). Karakter yang diamati meliputi tinggi tanaman, lingkar batang, lebar kanopi, jumlah cabang total, jumlah cabang produktif, umur berbunga, jumlah infloresen, jumlah tandan dan jumlah buah per tanaman. Penurunan nilai karakter sebagai akibat inbreeding depression atau outbreeding depression dihitung berdasarkan rumus Charlesworth dan Charlesworth (1987).

Penyerbukan sendiri pada tanaman jarak pagar tidak selalu mengakibatkan

inbreeding depression. Pada genotipe tertentu penyerbukan silang mengakibatkan

outbreeding depression. Inbreeding depression ditemukan pada sebagian karakter

progeni hasil penyerbukan sendiri (S1) tetua 1 (575-3), 2 (HS 49-2), 4 (PT 13-1), 5 (SP 16-2), 6 (PT 33-2), 7 (3012-1), 8 (PT 15-1), 9 (PT 14-1) dan 10 (Sulsel 8), sedangkan outbreeding depression ditemukan pada progeni hasil persilangan (F1) tetua 3 (IP 1A-2) dengan tetua lain. Penyerbukan sendiri pada tetua 2 (HS 49-2), 6 (PT 33-2), 8 (PT 15-1), dan 9 (PT 14-1) mengakibatkan inbreeding depression pada karakter umur berbunga dan outbreeding depression pada karakter jumlah buah per tanaman sehingga penyerbukan sendiri akan menghasilkan progeni yang lebih cepat berbunga dan menghasilkan buah yang lebih banyak dibanding persilangannya dengan genotipe lain. Outbreeding depression mengakibatkan terjadinya penurunan hasil pada F1. Persilangan antar tetua yang memiliki daya hasil yang berbeda menghasilkan progeni F1 yang memiliki daya hasil yang lebih rendah dari tetua terbaiknya. Persilangan dengan tetua jantan berdaya hasil rendah akan menghasilkan progeni F1 yang berdaya hasil rendah dan lebih rendah dari tetua betinanya. Penurunan daya hasil pada progeni F1 akibat persilangan dengan tetua jantan berdaya hasil rendah berkisar 31 – 76 %.

(2)

INBREEDING DEPRESSION IN SELFED

AND OUTBREEDING DEPRESSION IN CROSSED PROGENY

ARRAYS OF PHYSIC NUT (

Jatropha curcas

L.)

Abstract

A sets of F1 and S1 arrays were generated to determine the presence of inbreeding and outbreeding depression effects among progeny arrays of physic nut. This research was conducted at Indonesian Spice and Other Industrial Crops Research Institute Experimental Station during the period of June 2009 to July 2010. Ten J. curcas genotypes from low yielding group producing less than 200 fruits per plant in the 1st year (575-3), medium yielding with 200-400 fruits per plant in the 1st year (IP 1A-2, PT 13-2, SP 16-2, PT 33-2, PT 14-1, and Sulsel 8), and high yielding ones with 400-600 fruits per plant in the 1st year (HS 49-2, 3012-1, and PT 15-1) were used to generate F1 and S1 arrays by full diallel scheme. One hundreed F1 and S1 arrays were evaluated for plant height, stem girth, canopy width, days to flowering, number of total branches, productive branches, inflorescences, fruit bunches, and fruits per plant. Inbreeding and outbreeding depression was calculated using method formulated by Charlesworth and Charlesworth (1987).

Results of the observation indicated inbreeding depression only occurred in a number of physic nut genotypes while the rest indicated the presence of outbreeding depression. The inbreeding depression for a number of characters were observed among S1 progeny arrays derived from parents number 1 (575-3), 2 (HS 49-2), 4 (PT 13-1), 5 (SP 16-2), 6 (PT 33-2), 7 (3012-1), 8 (PT 15-1), 9 (PT 14-1) and 10 (Sulsel 8), while outbreeding depression were observed among F1 progeny arrays derived from parent number 3 (IP 1A-2) and other parents . Selfing of parents number 2 (HS 49-2), 6 (PT 33-2), 8 (PT 15-1), and 9 (PT 14-1) resulted in inbreeding depression for days to flowering and outbreeding depression for number of fruit. Selfing of these parents resulted in progenies that were early flowering and high fruit yielding. Outbreeding depression resulted yield reduction on several F1 progeny arrays. Crossing among parents with different yield level resulted in F1 progeny arrays with lower yield than that of the best parent. Crossing to low yielding male parent resulted F1 progeny arrays having lower yield than that of low yielding female parent. Yield reduction among F1 progeny arrays ranged from 31 to 76 %.

(3)

Pendahuluan

Tanaman jarak pagar (Jatropha curcas L.) merupakan tanaman berumah satu (monoecious) dengan bunga jantan dan bunga betina berada pada satu tanaman yang sama. Pada genotipe tertentu muncul bunga hermaprodit disamping bunga jantan (trimonoecious). Bunga jantan dan bunga betina berada pada satu infloresen yang sama dan terletak berdampingan (Dehgan & Webster 1979). Setiap bunga betina selalu dikelilingi oleh sekumpulan bunga jantan dengan perbandingan yang bervariasi 1 : 29 (Raju & Ezradanam 2002) sampai 1 : 50 (Hartati 2007), tergantung genotipe dan kondisi lingkungan. Adakalanya bunga betina mekar lebih dahulu dari bunga jantan (protogini), dan kadangkala bunga jantan mekar lebih dahulu dari bunga betina (protandri). Pada kondisi bunga jantan dan bunga betina mekar pada saat yang tidak bersamaan, peluang terjadinya penyerbukan silang (xenogamy) cukup besar tetapi pada kondisi bunga jantan dan bunga betina mekar bersamaan, peluang terjadinya penyerbukan sendiri (geitonogamy) cukup besar. Tipe penyerbukan ini sangat tergantung pada serangga penyerbuk. Serangga terbang membantu tanaman melakukan penyerbukan silang sedangkan semut membantu tanaman melakukan penyerbukan sendiri (Hartati 2007). Meskipun demikian, berdasarkan peluang terjadinya tipe penyerbukan, tanaman ini digolongkan ke dalam kelompok tanaman yang menyerbuk silang (Dehgan & Webster 1979).

Sebagai tanaman yang menyerbuk silang sekaligus menyerbuk sendiri, maka biji yang dihasilkan pada tanaman jarak pagar dapat berasal dari hasil penyerbukan silang maupun penyerbukan sendiri. Pada tanaman menyerbuk silang, terjadinya penyerbukan sendiri dapat mengakibatkan inbreeding

depression atau penurunan nilai karakter karena dengan penyerbukan sendiri,

akan terjadi penggabungan gen-gen yang sama sehingga genotipe yang dihasilkan semakin homosigot. Bila gen-gen itu merupakan gen resesif yang mengendalikan sifat yang kurang baik, maka dalam kondisi homosigot sifat tersebut akan muncul dan mendorong terjadinya inbreeding depression (Singh 1990).

Sejumlah hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan nilai karakter sebagai akibat inbreeding depression pada tanaman menyerbuk silang. Beberapa

(4)

peneliti melaporkan pengaruh yang tidak nyata antara hasil penyerbukan sendiri dengan hasil penyerbukan silang, sementara peneliti lainnya melaporkan adanya

outbreeding depression. Kephart et al. (1999) melaporkan produksi benih hasil

penyerbukan sendiri pada tanaman Silene douglasii var oraria hanya 40 % dari produksi benih hasil pernyerbukan silang. Sheridan & Karowe (2000) melaporkankan bahwa produksi benih hasil penyerbukan sendiri pada tanaman

Sarracenia flava hanya 25 % dari produksi benih hasil penyerbukan silang. Lene

et al. (2007) melaporkan adanya pengaruh yang sangat buruk dari penyerbukan

sendiri pada perkecambahan tanaman Scalesia affinis yang mengakibatkan persentase kematian kecambah hingga 84 %. Sementara itu Mustajarvi et al. (2005) melaporkan tidak ada perbedaan produksi buah pada tanaman Lychnis

viscaria. Pada tanaman jarak pagar, belum banyak informasi yang berkaitan

dengan penurunan nilai karakter tersebut terutama karakter daya hasil yang diwujudkan dalam bentuk jumlah buah per tanaman, baik inbreeding depression maupun outbreeding depression.

Disamping kemungkinan terjadinya inbreeding depression, hasil observasi di lapangan menunjukkan adanya variasi hasil pada suatu populasi tanaman jarak pagar yang terlihat dari variasi jumlah buah per tanaman. Berdasarkan pendugaan ragam genetik pada percobaan 2 dan studi genetik pada percobaan 3, diketahui bahwa karakter jumlah buah per tanaman memiliki nilai heritabilitas dalam arti luas yang tinggi dan dikendalikan oleh gen aditif dan gen non aditif. Progeni hasil penyerbukan silang akan mewarisi sifat karakter jumlah buah dari kedua tetuanya. Persilangan antar dua tetua yang berdaya hasil tinggi akan menghasilkan F1 yang sebagian besar berdaya hasil tinggi karena terkumpulnya gen-gen aditif yang mengendalikan karakter jumlah buah tersebut. Persilangan antara tetua berdaya hasil tinggi dengan tetua berdaya hasil rendah akan menghasilkan keturunan yang tergantung kepada tindak gen pengendalinya. Data di lapangan menunjukkan populasi yang berasal dari genotipe terpilih yang berdaya hasil tinggi akan menghasilkan sejumlah besar keturunan yang berdaya hasil rendah, tetapi belum banyak informasi yang menjelaskan hal tersebut. Mengingat tanaman jarak pagar dapat melakukan penyerbukan silang sekaligus penyerbukan sendiri, perlu diketahui informasi yang berkaitan dengan adanya penurunan nilai karakter

(5)

tersebut, terutama pada karakter daya hasil yang merupakan perhatian penting dalam pengembangan tanaman ini.

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi terjadinya inbreeding

depression dan outbreeding depression yang mengakibatkan penurunan hasil pada

progeni tanaman jarak pagar. Informasi yang diperoleh diharapkan akan bermanfaat dalam program pengembangan tanaman jarak pagar dan dapat digunakan untuk menyusun strategi pengembangannya terutama yang berkaitan dengan penyediaan bahan tanaman berdaya hasil tinggi.

Bahan dan Metode

Penurunan Nilai Karakter pada Populasi Hasil Penyerbukan Sendiri (inbreeding depression) dan Penyerbukan Silang (outbreeding depression)

Untuk mengetahui ada tidaknya inbreeding depression pada tanaman jarak pagar, dilakukan evaluasi terhadap populasi hasil penyerbukan sendiri (S1) dan hasil penyerbukan silang (F1) di Kebun Percobaan Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Aneka Tanaman Industri mulai bulan Agustus 2008 sampai dengan Juli 2010. Pembentukan populasi S1 dan F1 dilakukan melalui persilangan diallel lengkap dari 10 tetua yang terdiri atas 1 tetua berdaya hasil rendah, 6 tetua berdaya hasil sedang dan 3 tetua berdaya hasil tinggi. Keragaan tetua yang digunakan seperti yang disajikan pada Tabel 16 pada percobaan 3. Persilangan antar 10 tetua dilakukan sejak bulan Agustus 2008 sehingga diperoleh 100 kombinasi persilangan yang terdiri atas 10 populasi S1 yang merupakan hasil persilangan sendiri dan 90 populasi F1 yang merupakan hasil penyerbukan silang antar tetua. Untuk mendapatkan benih S1 dan F1, semua bunga jantan dikastrasi dan selanjutnya persilangan dilakukan secara manual. Untuk menghasilkan benih S1 digunakan polen dari genotipe/tanaman yang sama, sedangkan untuk menghasilkan benih F1 digunakan polen dari genotipe yang berbeda. Dari setiap persilangan diambil 15 butir benih S1 atau F1 yang selanjutnya dibibitkan selama 2 bulan, kemudian ditanam di lapangan dengan jarak tanam 2 x 1 m. Penanaman dilakukan pada bulan Juni 2009. Rancangan lingkungan yang digunakan adalah Acak Kelompok diulang 3 kali, setiap unit percobaan terdiri atas 5 tanaman yang

(6)

ditanam dalam 1 baris. Jarak antar barisan 2 m dan jarak dalam baris 1 m. Pemeliharaan tanaman sesuai petunjuk budidaya jarak pagar (Mahmud et al. 2006).

Pengamatan dilakukan terhadap karakter vegetatif yang meliputi tinggi tanaman, lingkar batang, lebar kanopi, jumlah cabang total dan jumlah cabang produktif, dan karakter generatif yang meliputi umur mulai berbunga, jumlah infloresen, jumlah tandan, dan jumlah buah per tanaman. Pengamatan dilakukan selama 1 tahun sejak tanaman mulai berbunga yaitu mulai bulan Agustus 2009 sampai dengan Juli 2010. Data yang diperoleh diuji keragamannya dengan analisis ragam (Uji F) menggunakan program SAS. Analisis ragam dilakukan terhadap setiap populasi S1 dan F1 dari setiap tetua sehingga akan terdapat 10 kelompok populasi dari 10 tetua yaitu:

- Unit penelitian = populasi (F1 i x i + F1 i x j + F1 j x i)

- i x i adalah penyerbukan sendiri dan i x j dan j x i adalah hasil persilangan beserta resiproknya.

- i/j = tetua no 1 - 10

Penurunan nilai karakter dihitung berdasarkan rumus inbreeding depression (Charlesworth dan Charlesworth, 1987) sebagai berikut :

 = 1−(zs/zo)

 = nilai inbreeding depression

zs= nilai tanaman hasil penyerbukan sendiri zo= nilai tanaman hasil penyerbukan silang

Penurunan Hasil pada Populasi Hasil Penyerbukan Silang Antar Tetua dengan Daya Hasil Berbeda

Untuk mengetahui penyebab terjadinya penurunan hasil pada populasi hasil persilangan antar tetua yang memiliki daya hasil berbeda, dilakukan analisis terhadap 90 populasi F1 hasil persilangan antar 10 tetua terpilih yang terdiri atas tetua berdaya hasil rendah (< 200 buah per tanaman), sedang (200 – 400 buah per tanaman), dan tinggi (> 400 – 600 buah per tanaman). Keragaan daya hasil tetua seperti yang disajikan pada Tabel 16 pada percobaan 3. Data daya hasil populasi F1 yang diperoleh diuji keragamannya dengan analisis ragam (Uji F)

(7)

menggunakan program SAS. Penurunan daya hasil dihitung berdasarkan rumus berikut :

PDH =

x 100 %

PDH = penurunan daya hasil (%) sebagai akibat persilangan dengan tetua berdaya hasil berbeda

P1 = rataan hasil persilangan tetua berdaya hasil sama (TxT; SxS; RxR) P2 = rataan hasil persilangan tetua berdaya hasil berbeda (TxS; SxT; TxR;

RxT; SxR; RxS)

Hasil dan Pembahasan

Penurunan Nilai Karakter pada Populasi Hasil Penyerbukan Sendiri (Inbreeding depression) dan Hasil Penyerbukan Silang (Outbreeding depression)

Kuadrat tengah perlakuan pada karakter yang dievaluasi dari setiap unit penelitian disajikan pada Tabel 29 dan Tabel 30. Tinggi tanaman, lingkar batang, lebar kanopi, jumlah cabang total, umur mulai berbunga, jumlah cabang produktif, jumlah infloresen dan jumlah tandan populasi S1 hasil penyerbukan sendiri dan F1 hasil penyerbukan silang berbeda nyata pada beberapa unit persilangan. Jumlah buah per tanaman pada populasi S1dan F1 hasil penyerbukan sendiri dan hasil penyerbukan silang berbeda nyata pada semua unit penelitian (Tabel 30). Berdasarkan nilai rataan karakter yang dievaluasi, dilakukan penghitungan nilai

inbreeding depression pada semua karakter. Data karakter yang dievaluasi dan

inbreeding depression disajikan pada Tabel 31 sampai dengan Tabel 48.

Penyerbukan sendiri pada tanaman jarak pagar tidak selalu mengakibatkan

inbreeding depression. Nilai  menunjukkan besaran perubahan nilai karakter S1

dibanding F1. Nilai positif berarti penyerbukan sendiri mengakibatkan inbreeding

depression atau penurunan nilai suatu karakter sebesar nilai tersebut dibandingkan

hasil penyerbukan silangnya dengan tetua tertentu, sedangkan nilai negatif berarti penyerbukan sendiri mengakibatkan peningkatan nilai suatu karakter dibanding penyerbukan silangnya (Mustajarvi et al. 2005). Outbreeding depression berarti penyerbukan silang mengakibatkan penurunan nilai suatu karakter.

(8)

Tabel 29. Kuadrat tengah perlakuan pada karakter tinggi tanaman, lingkar batang, lebar kanopi, dan jumlah cabang total S1 hasil penyerbukan sendiri tetua ke i dan F1 hasil penyerbukan silang antar tetua ij.

Table 29. Mean square of plant height, stem girth, canopy width and total

branches of S1 progenies of selfing ith parents and F1progenies of

crossing between ith and jth parents

Tetua Parent Tinggi tanaman Plant height Lingkar batang Stem girth Lebar kanopi Canopy width Jumlah cabang total Number of total branches 1 1037,84 tn 16,31 tn 1884,21** 41,14** 2 872,19 tn 22,74** 1048,51 tn 8,06 tn 3 1353,44** 13,43 tn 1610,62 tn 18,87 tn 4 843,50 tn 22,87 tn 2098,24 tn 8,67 tn 5 508,59 tn 14,19 tn 1181,95 tn 19,79** 6 862,24 tn 10,62 tn 6075,55 tn 28,51** 7 749,46 tn 20,84 tn 1493,36** 18,40** 8 773,83 tn 10,20 tn 4827,83 tn 18,43 tn 9 494,26 tn 9,06 tn 970,82 tn 11,41 tn 10 511,59 tn 15,45 tn 1475,53 tn 13,24 tn

Tabel 30. Kuadrat tengah perlakuan pada karakter umur berbunga, jumlah cabang produktif, jumlah infloresen, jumlah tandan, dan jumlah buah S1 hasil penyerbukan sendiri dan F1 hasil penyerbukan silang.

Table 30. Mean square of days to flowering, productive branches, inflorencences, total bunches and fruit number per plant of S1

progenies of selfing ith parents and F1progenies of crossing between ith

and jth parents Tetua Parent Umur mulai ber bunga Days to flowering Jml cabang produktif No of prod branches Jumlah infloresen Number of inflorecences Jumlah tandan Number of bunches Jumlah buah Number of fruits per 1 1787,24 tn 19,70** 292,49** 189,32** 4426,18 ** 2 2415,35 ** 12,53** 298,49 tn 270,44 tn 11604,94 ** 3 2285,75 * 18,84* 832,80 tn 449,75** 15053,15 ** 4 2662,84 ** 9,21tn 341,44 tn 282,17 tn 12135,30 ** 5 1760,73 tn 23,36** 811,58 tn 283,99** 21092,24 ** 6 1962,50 tn 17,54* 505,67 tn 733,07** 18793,54 ** 7 2850,22 ** 27,47** 577,92** 656,77** 14687,50 ** 8 3031,50 * 21,23* 572,07** 348,64 tn 12166,48 ** 9 1888,43 * 8,46tn 266,82 tn 280,67 tn 10235,33 ** 10 3310,63 * 8,11tn 527,59 tn 499,56** 15742,64 **

(9)

Tabel 31. Rataan tinggi tanaman pada S1 hasil penyerbukan sendiri tetua ke i dan F1 hasil penyerbukan silang tetua ke i dengan tetua ke j.

Table 31 Plant height averages of S1 progenies of selfing ith parents and

F1progenies of crossing between ith and jth parents

Tetua i Parent i Tetua j (Parent j) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 1 193 183 182 200 165 149 182 175 151 174 2 196 145 183 161 169 164 186 158 183 147 3 177 142 188 150 164 155 186 140 157 161 4 154 170 194 183 188 168 164 166 157 181 5 156 171 187 191 173 154 187 169 167 148 6 179 182 206 153 169 180 193 192 175 172 7 218 199 220 204 175 182 208 195 169 179 8 203 195 186 180 180 197 201 176 189 173 9 184 172 183 186 187 201 181 185 185 178 10 176 167 183 190 193 188 172 192 185 172

Tabel 32. Perubahan nilai karakter () tinggi tanaman pada S1 hasil penyerbukan sendiri tetua ke i dibanding F1 hasil penyerbukan silang tetua ke i dengan tetua ke j.

Table 32. Inbreeding depression () on plant height of S1 progenies of selfing ith

parents compare to F1progenies of crossing between ith and jth parents

Tetua i Parent i Tetua j (Parent j) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 1 -0.05 -0.06 0.04 -0.17 -0.30 -0.06 -0.10 -0.28 -0.11 2 0.26 0.21 0.10 0.14 0.12 0.22 0.08 0.21 0.01 3 -0.06 -0.32 -0.25 -0.14 -0.21 -0.01 -0.34 -0.20 -0.17 4 -0.19 -0.08 0.05 0.03 -0.09 -0.12 -0.11 -0.17 -0.01 5 -0.10 -0.01 0.08 0.10 -0.12 0.08 -0.02 -0.04 -0.17 6 0.00 0.01 0.13 -0.17 -0.06 0.07 0.06 -0.03 -0.04 7 0.05 -0.05 0.05 -0.02 -0.19 -0.14 -0.07 -0.23 -0.16 8 0.13 0.09 0.05 0.02 0.02 0.10 0.12 0.07 -0.02 9 -0.01 -0.08 -0.01 0.00 0.01 0.08 -0.02 0.00 -0.04 10 0.02 -0.03 0.06 0.10 0.11 0.08 0.00 0.10 0.07

Keterangan:  = 1 – ws/wo (ws = nilai karakter pada hasil penyerbukan sendiri; wo = nilai karakter pada hasil penyerbukan silang)

Note: = 1 – ws/wo (ws = characters value of selfed; wo = characters

(10)

Tabel 33. Rataan lingkar batang pada S1 hasil penyerbukan sendiritetua ke i dan F1 hasil penyerbukan silang tetua ke i dengan tetua ke j

Table 33. Stem girth averages of S1 progenies of selfing ith parents and

F1progenies of crossing between ith and jth parents

Tetua i Parent i Tetua j (Parent j) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 1 33 32 30 33 29 27 33 31 27 32 2 32 23 29 26 30 28 26 27 24 26 3 32 25 30 25 25 25 24 26 25 27 4 26 23 29 26 29 26 25 27 25 28 5 29 28 31 33 28 25 30 28 27 28 6 29 28 30 25 31 26 28 30 28 27 7 35 31 30 30 27 30 29 29 26 27 8 33 29 29 27 29 27 28 27 29 25 9 31 27 27 29 29 28 28 27 29 25 10 31 31 28 31 33 30 28 30 29 27

Tabel 34. Perubahan nilai karakter () lingkar batang pada S1 hasil penyerbukan sendiri tetua ke i dibanding F1 hasil penyerbukan silang tetua ke i dengan tetua ke j.

Table 34. Inbreeding depression () on stemggirth of S1 progenies of selfing ith

parents compare to F1progenies of crossing between ith and jth parents

Tetua i Parent i Tetua j (Parent j) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 1 -0.03 -0.09 0.00 -0.12 -0.22 0.00 -0.04 -0.20 -0.01 2 0.29 0.20 0.12 0.23 0.19 0.11 0.15 0.04 0.12 3 0.06 -0.20 -0.20 -0.18 -0.17 -0.21 -0.14 -0.18 -0.09 4 0.01 -0.11 0.10 0.11 -0.01 -0.05 0.05 -0.03 0.07 5 0.03 0.01 0.09 0.15 -0.14 0.05 -0.01 -0.05 -0.01 6 0.11 0.09 0.13 -0.03 0.17 0.07 0.13 0.09 0.03 7 0.18 0.07 0.05 0.05 -0.08 0.04 0.00 -0.11 -0.07 8 0.17 0.06 0.05 0.01 0.05 0.01 0.04 0.06 -0.09 9 0.07 -0.05 -0.05 0.02 0.00 -0.03 -0.03 -0.05 -0.13 10 0.13 0.12 0.05 0.14 0.18 0.10 0.05 0.11 0.06

Keterangan:  = 1 – ws/wo (ws = nilai karakter pada hasil penyerbukan sendiri; wo = nilai karakter pada hasil penyerbukan silang)

Note: = 1 – ws/wo (ws = characters value of selfed; wo = characters

(11)

Tabel 35. Rataan lebar kanopi pada S1 hasil penyerbukan sendiri tetua ke i dan F1 hasil penyerbukan silang tetua ke i dengan tetua ke j.

Table 35. Canopy width averages of S1 progenies of selfing ith parents and

F1progenies of crossing between ith and jth parents

Tetua i Parent i Tetua j (Parent j) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 1 156 162 158 154 138 126 153 161 142 177 2 183 146 199 185 190 179 190 186 175 154 3 165 159 208 161 180 159 198 155 160 167 4 103 159 202 171 180 191 160 178 160 198 5 181 171 198 190 172 155 160 169 175 156 6 170 199 219 142 179 183 200 197 186 175 7 210 211 234 216 184 195 210 214 170 189 8 179 208 196 196 179 347 212 183 210 177 9 203 167 208 187 188 201 183 186 196 174 10 162 195 207 206 234 223 171 203 196 171

Tabel 36. Perubahan nilai karakter () lebar kanopi pada S1 hasil penyerbukan sendiri tetua ke i dibanding F1 hasil penyerbukan silang tetua ke i dengan tetua ke j

Table 36. Inbreeding depression () on canopy width of S1 progenies of selfing

ith parents compare to F1progenies of crossing between ith and jth

parents Tetua i Parent i Tetua j (Parent j) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 1 0.04 0.01 -0.01 -0.13 -0.24 -0.01 0.04 -0.10 0.12 2 0.20 0.27 0.21 0.23 0.19 0.23 0.22 0.17 0.05 3 -0.26 -0.30 -0.29 -0.16 -0.30 -0.05 -0.34 -0.30 -0.24 4 -0.65 -0.07 0.16 0.05 0.11 -0.07 0.04 -0.07 0.14 5 0.05 0.00 0.13 0.09 -0.11 -0.07 -0.02 0.02 -0.10 6 -0.08 0.08 0.16 -0.29 -0.03 0.08 0.07 0.01 -0.05 7 0.00 0.00 0.10 0.03 -0.15 -0.08 0.02 -0.24 -0.12 8 -0.02 0.12 0.07 0.06 -0.02 0.47 0.14 0.13 -0.04 9 0.03 -0.17 0.06 -0.05 -0.04 0.02 -0.07 -0.06 -0.12 10 -0.06 0.12 0.17 0.17 0.27 0.23 0.00 0.16 0.13

Keterangan:  = 1 – ws/wo (ws = nilai karakter pada hasil penyerbukan sendiri; wo = nilai karakter pada hasil penyerbukan silang)

Note: = 1 – ws/wo (ws = characters value of selfed; wo = characters

(12)

Tabel 37. Rataan jumlah cabang total pada S1 hasil penyerbukan sendiri tetua ke i dan F1 hasil penyerbukan silang tetua ke i dengan tetua ke j.

Table 37. Number of total branches averages of S1 progenies of selfing ith

parents and F1progenies of crossing between ith and jth parents

Tetua i Parent i Tetua j (Parent j) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 1 7 9 10 9 6 10 7 8 6 10 2 10 13 11 12 14 13 12 11 10 13 3 10 13 13 11 13 10 16 10 9 10 4 10 13 13 9 11 11 12 11 9 11 5 16 12 13 12 9 7 10 10 12 10 6 22 13 16 11 15 14 14 13 13 11 7 13 14 16 13 11 11 14 13 15 10 8 12 15 18 14 15 13 15 13 13 10 9 11 11 12 10 10 11 12 11 10 11 10 9 14 14 15 14 15 8 12 10 9

Tabel 38. Perubahan nilai karakter () jumlah cabang total pada S1 hasil penyerbukan sendiri tetua ke i dibanding F1 hasil penyerbukan silang tetua ke i dengan tetua ke j.

Table 38. Inbreeding depression () on numbe of total branches of S1 progenies

of selfing ith parents compare to F1progenies of crossing between ith

and jth parents Tetua i Parent i Tetua j (Parent j) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 1 0.30 0.36 0.26 -0.02 0.34 -0.02 0.14 -0.08 0.33 2 -0.36 -0.16 -0.09 0.03 0.01 -0.11 -0.21 -0.33 -0.01 3 -0.36 -0.07 -0.28 -0.04 -0.33 0.14 -0.37 -0.49 -0.33 4 0.16 0.34 0.36 0.19 0.18 0.28 0.24 0.04 0.24 5 0.41 0.19 0.29 0.20 -0.29 0.09 0.02 0.22 0.08 6 0.38 -0.03 0.15 -0.20 0.12 0.02 -0.08 -0.03 -0.26 7 -0.13 0.00 0.10 -0.11 -0.26 -0.30 -0.08 0.06 -0.39 8 -0.16 0.12 0.26 0.02 0.10 -0.02 0.09 -0.05 -0.41 9 0.09 0.10 0.20 -0.02 -0.04 0.10 0.20 0.07 0.06 10 0.08 0.41 0.38 0.43 0.37 0.42 -0.03 0.31 0.14 Keterangan:  = 1 – ws/wo (ws = nilai karakter pada hasil penyerbukan

sendiri; wo = nilai karakter pada hasil penyerbukan silang)

Note: = 1 – ws/wo (ws = characters value of selfed; wo = characters

(13)

Tabel 39. Rataan umur mulai berbunga pada S1 hasil penyerbukan sendiri tetua ke i dan F1 hasil penyerbukan silang tetua ke i dengan tetua ke j.

Table 39. Days to flowering averages of S1 progenies of selfing ith parents and

F1progenies of crossing between ith and jth parents

Tetua i Parent i Tetua j (Parent j) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 1 226 200 217 204 195 184 189 213 192 214 2 165 109 131 146 140 113 145 124 157 144 3 173 95 148 118 152 113 108 119 143 151 4 195 95 119 158 162 118 122 136 143 126 5 134 132 107 162 180 165 188 171 151 188 6 162 91 124 90 132 105 124 125 116 150 7 176 116 137 120 162 125 147 110 100 143 8 157 102 129 116 134 91 99 99 97 133 9 176 155 130 129 185 136 156 161 149 153 10 220 111 140 133 178 139 198 171 149 224

Tabel 40. Perubahan nilai karakter () umur mulai berbunga pada S1 hasil penyerbukan sendiri tetua ke i dibanding F1 hasil penyerbukan silang tetua ke i dengan tetua ke j.

Table 40. Inbreeding depression () on days to flowering of selfing ith parents

compare to F1progenies of crossing between ith and jth parents

Tetua i Parent i Tetua j (Parent j) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 1 -0.13 -0.04 -0.11 -0.16 -0.23 -0.20 -0.06 -0.18 -0.06 2 0.34 0.17 0.25 0.22 0.04 0.25 0.13 0.31 0.25 3 0.14 -0.56 -0.26 0.03 -0.32 -0.38 -0.24 -0.03 0.02 4 0.19 -0.67 -0.33 0.03 -0.34 -0.29 -0.16 -0.10 -0.25 5 -0.34 -0.36 -0.68 -0.11 -0.09 0.04 -0.05 -0.19 0.05 6 0.35 -0.16 0.15 -0.17 0.20 0.15 0.16 0.09 0.30 7 0.16 -0.27 -0.07 -0.22 0.09 -0.17 -0.34 -0.47 -0.03 8 0.37 0.03 0.23 0.15 0.26 -0.09 0.01 -0.02 0.26 9 0.15 0.04 -0.15 -0.16 0.19 -0.10 0.04 0.07 0.02 10 -0.02 -1.01 -0.60 -0.69 -0.26 -0.61 -0.13 -0.31 -0.50

Keterangan:  = 1 – ws/wo (ws = nilai karakter pada hasil penyerbukan sendiri; wo = nilai karakter pada hasil penyerbukan silang)

Note: = 1 – ws/wo (ws = characters value of selfed; wo = characters

(14)

Tabel 41. Rataan jumlah cabang produktif pada S1 hasil penyerbukan sendiri tetua ke i dan F1 hasil penyerbukan silang tetua ke i dengan tetua ke j.

Table 41. Number of productive branches averages of S1 of selfing ith parents

and F1progenies of crossing between ith and jth parents

Tetua i Parent i Tetua j (Parent j) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 1 5 5 5 5 2 4 3 4 3 6 2 4 11 8 7 8 10 7 10 6 7 3 4 8 14 4 7 7 10 8 5 5 4 5 8 6 8 5 7 5 8 5 8 5 12 6 8 5 10 3 5 5 6 6 6 11 8 10 5 13 9 7 9 8 7 7 8 11 11 9 8 7 16 10 9 7 8 5 10 11 8 8 9 10 15 9 6 9 8 5 8 7 5 7 6 5 8 5 10 5 8 7 11 8 10 4 7 6 7

Tabel 42. Perubahan nilai karakter () jumlah cabang produktif pada S1 hasil penyerbukan sendiri tetua ke i dibanding F1 hasil penyerbukan silang tetua ke i dengan tetua ke j.

Table 42. Inbreeding depression () on number of productive branch of S1

progenies of ith selfed parents compare to F1progenies of ith and jth crossed parents Tetua i Parent i Tetua j (Parent j) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 1 -0.10 0.01 -0.09 -1.85 -0.45 -0.78 -0.27 -1.00 0.06 2 -1.70 -0.46 -0.67 -0.32 -0.05 -0.61 -0.08 -0.80 -0.60 3 -2.38 -0.66 -2.13 -1.05 -1.15 -0.45 -0.73 -2.01 -1.57 4 -0.61 -0.04 -0.40 -0.78 -0.21 -0.67 -0.06 -0.79 -0.02 5 0.18 -0.72 -0.25 -0.93 -1.93 -0.91 -1.20 -0.57 -0.81 6 0.17 -0.08 0.16 -0.83 0.32 -0.21 0.05 -0.08 -0.23 7 -1.06 -0.55 -0.53 -0.78 -0.98 -1.33 -0.60 -0.79 -1.51 8 -1.87 -0.48 -0.31 -0.82 -0.77 -0.60 -0.46 -0.69 -1.45 9 -0.07 -0.52 -0.10 -0.20 -0.58 -0.12 -0.34 -0.55 -0.73 10 -0.29 0.19 0.07 0.37 0.13 0.32 -0.67 0.04 -0.09

Keterangan:  = 1 – ws/wo (ws = nilai karakter pada hasil penyerbukan sendiri; wo = nilai karakter pada hasil penyerbukan silang)

Note: = 1 – ws/wo (ws = characters value of selfed; wo = characters

(15)

Tabel 43. Rataan jumlah infloresen pada S1 hasil penyerbukan sendiritetua ke i dan F1 hasil penyerbukan silang tetua ke i dengan tetua ke j.

Table 43. Number of inflorescences averages of S1 progenies of selfing ith

parents and F1progenies of crossing between ith and jth parents

Tetua i Parent i Tetua j (Parent j) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 1 14 26 21 30 12 22 16 21 17 25 2 32 41 52 45 55 58 46 47 42 41 3 25 51 66 46 49 46 68 40 40 35 4 20 50 62 30 37 48 43 46 40 45 5 38 55 87 37 30 23 38 29 38 28 6 43 60 67 44 57 60 59 62 56 46 7 44 60 67 59 40 40 57 67 48 41 8 34 64 72 51 51 58 63 58 62 39 9 40 40 54 38 36 50 50 41 41 38 10 30 58 58 61 60 70 29 52 41 26

Tabel 44. Perubahan nilai karakter () jumlah infloresen pada S1 hasil penyerbukan sendiri tetua ke i dibanding F1 hasil penyerbukan silang tetua ke i dengan tetua ke j.

Table 44. Inbreeding depression () on number of inflorescences of S1 progenies

of selfing ith parents compare to F1progenies of crossing between ith

and jth parents Tetua i Parent i Tetua j (Parent j) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 1 0.48 0.36 0.55 -0.15 0.37 0.13 0.34 0.22 0.45 2 -0.27 0.20 0.08 0.25 0.29 0.11 0.12 0.02 0.00 3 -1.68 -0.30 -0.44 -0.35 -0.43 0.02 -0.65 -0.66 -0.90 4 -0.49 0.41 0.52 0.20 0.37 0.30 0.35 0.25 0.34 5 0.20 0.45 0.65 0.19 -0.31 0.20 -0.04 0.20 -0.07 6 -0.39 0.00 0.10 -0.37 -0.07 -0.02 0.03 -0.08 -0.30 7 -0.28 0.06 0.15 0.03 -0.42 -0.43 0.15 -0.19 -0.37 8 -0.69 0.09 0.20 -0.13 -0.14 0.01 0.08 0.07 -0.49 9 -0.02 -0.04 0.24 -0.07 -0.13 0.18 0.17 -0.01 -0.09 10 0.14 0.55 0.55 0.58 0.57 0.63 0.13 0.51 0.38 Keterangan:  = 1 – ws/wo (ws = nilai karakter pada hasil penyerbukan sendiri;

wo = nilai karakter pada hasil penyerbukan silang)

Note: = 1 – ws/wo (ws = characters value of selfed; wo = characters

(16)

Tabel 45. Rataan jumlah tandan pada S1 hasil penyerbukan sendiri tetua ke i dan F1 hasil penyerbukan silang tetua ke i dengan tetua ke j.

Table 45. Number of bunches averages of S1 progenies of selfing ith parents and

F1progenies of crossing between ith and jth parents

Tetua i Parent i Tetua j (Parent j) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 1 10 21 15 22 10 6 4 17 6 6 2 23 31 44 37 43 46 37 32 31 28 3 15 33 45 35 35 29 45 23 31 20 4 10 32 40 24 30 38 30 36 31 36 5 7 35 27 24 26 18 26 24 23 24 6 10 50 52 26 19 51 51 43 41 28 7 32 52 51 52 33 9 46 58 31 29 8 25 49 49 39 41 41 48 42 50 32 9 24 27 44 27 32 42 42 34 30 24 10 18 49 47 49 13 53 23 39 30 19

Tabel 46. Perubahan nilai karakter () jumlah tandan buah pada S1 hasil penyerbukan sendiri tetua ke i dibanding F1 hasil penyerbukan silang tetua ke i dengan tetua ke j.

Table 46. Inbreeding depression () on number of bunches of S1 progenies of

selfing ith parents compare to F1progenies of crossing between ith and

jth parents Tetua i Parent i Tetua j (Parent j) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 1 0.51 0.31 0.53 -0.05 -0.69 -1.37 0.40 -0.69 -0.59 2 -0.36 0.29 0.16 0.28 0.32 0.16 0.03 0.00 -0.11 3 -2.00 -0.38 -0.31 -0.31 -0.56 -0.01 -0.95 -0.45 -1.32 4 -1.45 0.25 0.39 0.18 0.37 0.19 0.32 0.23 0.32 5 -2.74 0.26 0.03 -0.10 -0.41 0.02 -0.08 -0.11 -0.07 6 -4.05 -0.02 0.02 -0.95 -1.63 0.00 -0.17 -0.23 -0.78 7 -0.44 0.12 0.10 0.11 -0.41 -3.92 0.21 -0.52 -0.60 8 -0.72 0.14 0.14 -0.08 -0.03 -0.04 0.12 0.15 -0.32 9 -0.27 -0.13 0.32 -0.13 0.06 0.28 0.28 0.12 -0.25 10 -0.04 0.61 0.60 0.61 -0.47 0.64 0.19 0.52 0.38

Keterangan:  = 1 – ws/wo (ws = nilai karakter pada hasil penyerbukan sendiri; wo = nilai karakter pada hasil penyerbukan silang)

Note: = 1 – ws/wo (ws = characters value of selfed; wo = characters

(17)

Tabel 47. Rataan jumlah buah pada S1 hasil penyerbukan sendiri tetua ke i dan F1 hasil penyerbukan silang tetua ke i dengan tetua ke j.

Table 47. Number of fruits averages of S1 progenies of of selfing ith parents and

F1progenies of crossing between ith and jth parents

Tetua i Parent i Tetua j (Parent j) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 1 51 88 78 97 66 28 82 96 64 81 2 123 243 258 208 297 255 247 282 250 204 3 77 273 243 197 270 144 312 202 212 182 4 47 252 205 134 230 203 220 260 212 223 5 44 195 158 147 183 116 219 176 184 183 6 51 269 292 142 351 239 322 293 269 202 7 167 302 322 317 319 268 308 338 239 199 8 116 289 283 214 267 221 309 278 276 203 9 120 220 243 133 228 222 242 216 213 170 10 81 269 262 270 321 285 159 246 213 180

Tabel 48. Perubahan nilai karakter () jumlah buah pada S1 hasil penyerbukan sendiri tetua ke i dibanding F1 hasil penyerbukan silang tetua ke i dengan tetua ke j.

Table 48. Inbreeding depression () on number of fruits of S1 progenies of of

selfing ith parents compare to F1progenies of crossing between ith and

jth parents Tetua ke i Tetua ke j 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 1 0.42 0.34 0.47 0.22 -0.83 0.38 0.46 0.20 0.37 2 -0.97 0.06 -0.17 0.18 0.05 0.01 0.14 0.03 -0.19 3 -2.17 0.11 -0.23 0.10 -0.69 0.22 -0.20 -0.14 -0.34 4 -1.82 0.47 0.35 0.42 0.34 0.39 0.48 0.37 0.40 5 -3.19 0.06 -0.16 -0.25 -0.57 0.16 -0.04 0.00 0.00 6 -3.74 0.11 0.18 -0.69 0.32 0.26 0.18 0.11 -0.19 7 -0.84 -0.02 0.04 0.03 0.03 -0.15 0.09 -0.29 -0.55 8 -1.40 0.04 0.02 -0.30 -0.04 -0.26 0.10 -0.01 -0.37 9 -0.77 0.03 0.13 -0.60 0.07 0.04 0.12 0.01 -0.25 10 -1.22 0.33 0.31 0.34 0.44 0.37 -0.13 0.27 0.16

Keterangan:  = 1 – ws/wo (ws = nilai karakter pada hasil penyerbukan sendiri; wo = nilai karakter pada hasil penyerbukan silang)

Note: = 1 – ws/wo (ws = characters value of selfed; wo = characters

(18)

Hasil evaluasi menunjukkan adanya perbedaan nilai inbreeding depression antar genotipe yang dievaluasi. Berdasarkan nilai rataan  persilangan yang dievaluasi, setiap tetua yang digunakan mengalami inbreeding depression pada karakter yang berbeda. Tetua 1 (575-3) mengalami inbreeding depression pada karakter jumlah cabang total, jumlah infloresen, dan jumlah buah. Tetua 2 (HS 49-2) mengalami inbreeding depression pada karakter tinggi tanaman, lingkar batang, lebar kanopi, umur mulai berbunga, jumlah infloresen, dan jumlah tandan. Tetua 3 (IP 1A-2) tidak mengalami inbreeding depression, tetapi secara umum mengalami outbreeding depression pada semua karakter yang dievaluasi. Tetua 4 (PT 13-2) mengalami inbreeding depression pada karakter lingkar batang, jumlah cabang total, jumlah infloresen, jumlah tandan dan jumlah buah. Tetua 5 (SP 16-2) mengalami inbreeding depression pada karakter lingkar batang, jumlah cabang total dan jumlah infloresen. Tetua 6 (PT 33-2) mengalami inbreeding depression pada karakter lingkar batang, jumlah cabang total dan umur mulai berbunga. Tetua 7 (3012-1) mengalami inbreeding depression pada karakter lingkar batang. Tetua 8 (PT 15-1) mengalami inbreeding depression pada karakter lingkar batang, lebar kanopi dan umur mulai berbunga. Tetua 9 (PT 14-1) mengalami inbreeding

depression pada karakter jumlah cabang total, umur mulai berbunga, jumlah

infloresen dan jumlah tandan. Tetua 10 (Sulsel 8) mengalami inbreeding

depression pada karakter tinggi tanaman, lingkar batang, lebar kanopi, jumlah

cabang total, jumlah infloresen, jumlah tandan dan jumlah buah.

Karakter yang cukup penting pada tanaman jarak pagar adalah umur mulai berbunga dan karakter yang berkorelasi dengan komponen hasil seperti jumlah buah per tanaman. Tanaman yang diharapkan adalah yang cepat berbunga dan berbuah banyak. Berdasarkan karakter umur mulai berbunga, penyerbukan sendiri (selfing) pada tetua 2, 6, 8, dan 9 mengakibatkan terjadinya inbreeding

depression yaitu menghasilkan F1 yang lebih cepat berbunga. Hal ini

menguntungkan karena tanaman menjadi lebih cepat berbunga.

Berdasarkan karakter jumlah buah, yang diharapkan adalah jumlah buah yang lebih banyak sehingga inbreeding depression mengakibatkan F1 yang dihasilkan memiliki jumlah buah yang lebih sedikit (Gambar 12). Tetua 1 (575-3) menunjukkan nilai  rata-rata yang paling tinggi diantara genotipe yang dievaluasi

(19)

dengan nilai positif 0,20 sedangkan genotipe nomor 5 memiliki nilai  rata-rata terendah dengan nilai – 0,40. Penyerbukan sendiri pada tetua nomor 1 (575-3), 4 (PT 13-2), dan 10 (Sulsel-8) secara umum mengakibatkan inbreeding depression dengan nilai  rata-rata berturut-turut 0,20, 0,14 dan 0,09. Sementara itu pada tetua 2 (HS 49-2), 3 (IP 1A-2), 5 (SP 16-2), 6 (PT 33-2), 7 (3012-1), 8 (PT 15-1) dan 9 (PT 14-1) terjadi outbreeding depression dengan nilai berturutturut 0,09, -0,33, -0,40, -0,35, -0,17, -0,22 , dan -0,12. Berdasarkan karakter umur mulai berbunga dan jumlah buah per tanaman, maka penyerbukan sendiri pada tetua 2 (HS 49-2), 6 (PT 33-2), 8 (PT 15-1) dan 9 (PT 14-1) menghasilkan keturunan yang lebih cepat berbunga dan berbuah lebih banyak (Gambar 13). Outbreeding

depression memberi peluang untuk menghasilkan varietas jarak pagar dari hasil

penyerbukan sendiri individu terpilih.

Adanya inbreeding dan outbreeding depression juga dilaporkan oleh sejumlah peneliti yang bekerja pada berbagai macam tanaman. Grindeland (2008) yang melakukan penelitian pada tanaman Digitalis purpurea melaporkan bahwa pada tanaman yang terdiri atas tanaman diploid dan tetraploid ini, ditemukan adanya inbreeding dan outbreeding depression pada fase pertumbuhan yang berbeda dan jarak tanam yang berbeda. Inbreeding depression semakin meningkat dengan bertambahnya umur tanaman sementara outbreeding

depression lebih konstan sepanjang fase hidup tanaman. Untuk mencegah

terjadinya inbreeding depression pada tanaman ini Grindeland menyarankan untuk menggunakan jarak tanam yang tidak terlalu dekat. Chang (2007) yang melakukan penelitian pada tanaman Geranium, tanaman gynodioecious, melaporkan inbreeding depression lebih tinggi pada tanaman yang dihasilkan dari bunga hermaprodit dibanding tanaman yang dihasilkan oleh bunga betina. Untuk menghindarkan terjadinya inbreeding depression pada tanaman Geranium, Chang menyarankan untuk menggunakan bahan tanaman yang berasal dari bunga betina.

Penelitian lain pada tanaman ginseng Amerika yang dilakukan oleh Mooney dan McGraw (2007) menunjukkan adanya inbreeding depression pada karakter luas daun, tinggi tanaman dan biomassa akar dan tidak ditemukan adanya

outbreeding depression. Peneliti lain (Goodwillie dan Knight 2006) juga

(20)

pertumbuhan tanaman Leptosiphon jepsonii. Nilai inbreeding depression ditemukan semakin besar pada fase akhir pertumbuhan tanaman. Sementara itu Anderson dan Waldmann (2002) melaporkan inbreeding depression pada

Scabiosa canescens terjadi baik pada awal pertumbuhan tanaman maupun pada

akhir pertumbuhan tanaman dengan nilai berturut-turut 0,37 pada fase bibit dan 0,14 pada fase berbunga. Penyerbukan sendiri pada tanaman Scabiosa canescens mengakibatkan penurunan biomasa bibit dan ukuran bunga. Kephart et al. (1999) yang melakukan penelitian selama 3 musim pada tanaman Silene douglassi var

oraria menemukan bahwa inbreeding depression sangat besar pada fase awal dan

akhir pertumbuhan tanaman. Menaa-Ali et al (2008) melaporkan inbreeding

depression pada tanaman Solanum carolinenses di rumah kaca relatif lebih rendah

dibandingkan di lapangan.

Pandin (2009) melaporkan kelapa dalam mapanget mengalami peningkatan nilai inbreeding depression pada sejumlah karakter vegetatif pada generasi yang lebih lanjut. Inbreeding depression semakin meningkat pada karakter lingkar batang 20 cm dan 150 cm dari permukaan tanah, jumlah daun dan lebar daun kelapa. Cardoso (2004) melaporkan adanya peningkatan nilai

inbreeding depression pada karakter berat buah, panjang buah, berat 100 biji,

jumlah biji per buah, dan hasil biji per buah timun (Cucurbita moschata, cv. Piramoita) pada generasi yang lebih lanjut.

Penelitian pada tanaman jarak pagar ini dilakukan pada generasi pertama (F1) selama periode satu tahun dan nilai inbreeding depression dianalisis berdasarkan data karakter-karakter yang diperoleh dari tanaman yang berumur 1 tahun. Ada kemungkinan nilai inbreeding dan outbreeding depression juga berfluktuasi selama periode pertumbuhan tanaman dan dari generasi ke generasi selanjutnya. Mustajarvi et al. (2005) menyarankan untuk melakukan penelitian

inbreeding depression pada suatu jenis tanaman, sebaiknya pengamatan dilakukan

selama beberapa fase pertumbuhan tanaman dan pada beberapa kondisi lingkungan yang berbeda, agar diketahui fluktuasi nilai inbreeding depression selama pertumbuhan tanaman serta pengaruh faktor lingkungan terhadap

inbreeding depression. Pada umumnya inbreeding depression semakin

(21)

Gambar 12. Keragaan S1 hasil penyerbukan sendiri yang mengalami

inbreeding depression. (A) S1 tetua 1 (1 x 1) dan (B) S1 tetua 4 (4

x 4) yang mengalami inbreeding depression, menghasilkan buah sedikit (< 200 buah per tanaman)

Figure 12. S1 performance which exhibited inbreeding depression. (A) S1 of

parent no 1 (1 x 1) and (B) S1 of parent no 4 (4 x 4) which exhibited inbreeding depression produce few fruits (< 200 fruits per plant)

Gambar 13. Keragaan S1 hasil penyerbukan sendiri yang tidak mengalami

inbreeding depression. (A) S1 tetua 5 (5 x 5) dan (C) S1 tetua 7 (7

x 7) yang tidak mengalami inbreeding depression, menghasilkan buah sedang – banyak) (> 200 buah per tanaman)

Figure 13. S1 performance which exhibited no inbreeding depression. (A) S1

of parent no 5 (5 x 5) and (B) S1 of parent no 7 (7 x 7) which exhibited no inbreeding depression produce lots of fruits (> 200 fruits per plant)

7.7

5.5

B A B A

(22)

Penurunan Hasil pada Populasi F1 Hasil Penyerbukan Silang Antar Tetua Berdaya Hasil Berbeda (outbreeding depression)

Pada tetua-tetua yang tidak mengalami inbreeding depression, terjadi hal yang sebaliknya yaitu outbreeding depression. Besarnya outbreeding depression bervariasi tergantung dari daya hasil kedua tetua. Keragaan F1 hasil persilangan antar 10 tetua terpilih disajikan pada Tabel 49 dan Tabel 50.

Hasil persilangan tetua berdaya hasil tinggi dengan tetua berdaya hasil tinggi (T x T) menghasilkan populasi F1 yang rataannya berdaya hasil sedang (S), persilangan tetua berdaya hasil tinggi dengan tetua berdaya hasil sedang (T x S) menghasilkan populasi F1 yang rataannya berdaya hasil sedang dan rendah, dan persilangan tetua yang berdaya hasil tinggi dengan tetua yang berdaya hasil rendah (T x R) menghasilkan populasi F1 yang rataannya berdaya hasil rendah (R) (Tabel 49 dan Tabel 50).

Tabel 49. Rataan jumlah buah per tanaman pada setiap F1 hasil penyerbukan silang antar tetua ke i dengan tetua ke j.

Table 49. Averages of fruits per plant of F1 progenies of crossing between ith

and jth parents Tetua i ith parents Tetua ke j (jth parent) 1(R) (L) 3 (S) (M) 4 (S) (M) 5(S) (M) 6 (S) (M) 9 (S) (M) 10(S) (M) 2(T) (H) 7(T) (H) 8(T) (H) 1 (R/L) 51 78 97 66 28 64 81 88 82 96 3 (S/M) 77 243 197 270 144 212 182 273 312 202 4 (S/M) 47 205 134 230 203 212 223 252 220 260 5 (S/M) 44 158 147 183 116 184 183 195 219 176 6 (S/M) 51 292 142 351 239 269 202 269 322 293 9 (S/M) 120 243 133 228 222 213 170 220 242 216 10(S/M) 81 262 270 321 285 213 180 269 159 246 2 (T/H) 123 258 208 297 255 250 204 243 247 282 7 (T/H) 167 322 317 319 268 239 199 302 308 338 8 (T/H) 116 283 214 267 221 276 203 289 309 278 Keterangan : R = Rendah (daya hasil 200 buah per tanaman), S = Sedang (daya

hasil 200-400 buah per tanaman), T = Tinggi (daya hasil > 400-600 buah per tanaman)

Note: L = Low yield (200 fruits per plant), M = Medium yield (fruits

200-400 fruits per plant), H = High yield (> 400-600 fruit per plant)

(23)

Tabel 50. Kriteria daya hasil setiap F1 hasil penyerbukan silang antara tetua ke i dengan tetua ke j.

Table 50. Yield criteria of F1 progenies of crossing between ith and jth parents

Tetua i ith parent Tetua ke j (jth parent) 1(R) (L) 3(S) (M) 4(S) (M) 5(S) (M) 6(S) (M) 9(S) (M) 10(S) (M) 2(T) (H) 7(T) (H) 8(T) (H) 1 (R/L) R R R R R R R R R R 3 (S/M) R S R S R S R S S S 4 (S/M) R S R S S S S S S S 5 (S/M) R R R R R R R R S R 6 (S/M) R S R S S S S S S S 9 (S/M) R S R S S S R S S S 10(S/M) R S S S S S R S R S 2 (T/H) R S S S S S S S S S 7 (T/H) R S S S S S R S S S 8 (T/H) R S S S S S S S S S

Keterangan : R = Rendah (daya hasil , 200 buah per tanaman), S = Sedang (daya hasil 200-400 buah per tanaman), T = Tinggi (daya hasil > 400-600 buah per tanaman)

Note: L = Low yield (200 fruits per plant), M = Medium yield (fruits

200-400 fruits per plant), H = High yield (> 400-600 fruit per plant)

Persilangan tetua berdaya hasil sedang dengan tetua berdaya hasil sedang (S x S) menghasilkan populasi F1 yang rataannya berdaya hasil rendah dan sedang, persilangan tetua berdaya hasil sedang dengan tetua berdaya hasil rendah (S x R) menghasilkan populasi F1 yang rataannya berdaya hasil rendah. Persilangan tetua berdaya hasil rendah dengan tetua berdaya hasil sedang maupun tinggi (R x S dan R x T) selalu menghasilkan populasi F1 yang rataannya berdaya hasil rendah (Tabel 50).

Penurunan daya hasil (PDH) sebagai akibat persilangan dengan tetua yang berdaya hasil berbeda disajikan pada Tabel 51. Penurunan daya hasil (jumlah buah) pada F1 hasil persilangan 2 tetua yang berbeda daya hasilnya bervariasi, tergantung kategori kedua tetuanya. Dengan membandingkan rataan daya hasil F1 hasil persilangan antar tetua berdaya hasil sama, dengan F1 hasil persilangan antar tetua berdaya hasil berbeda, diperoleh data penurunan daya hasil pada populasi F1 yang bervariasi.

(24)

Persilangan tetua betina berdaya hasil sedang dengan tetua jantan berdaya hasil rendah (S x R) menghasilkan populasi F1 yang memiliki daya hasil 31-76 % lebih rendah dibanding daya hasil F1 hasil persilangan tetua betina berdaya hasil sedang dengan tetua jantan berdaya hasil sedang (S x S), persilangan tetua betina berdaya hasil tinggi dengan tetua jantan berdaya hasil rendah (T x R) menghasilkan populasi F1 yang memiliki daya hasil 47-60 % lebih rendah dibanding daya hasil populasi F1 hasil persilangan tetua betina berdaya hasil tinggi dengan tetua jantan berdaya hasil tinggi (T x T), sedangkan persilangan tetua betina berdaya hasil tinggi dengan tetua jantan berdaya hasil sedang (T x S) menghasilkan populasi F1 yang memiliki daya hasil 9-20 % lebih rendah dibanding daya hasil tetua populasi F1 hasil persilangan tetua betina berdaya hasil tinggi dengan tetua jantan berdaya hasil tinggi (T x T). Sementara itu persilangan tetua betina berdaya hasil sedang dengan tetua jantan berdaya hasil tinggi (S x T) menghasilkan populasi F1 yang memiliki daya hasil 8 – 22 % lebih tinggi dibanding daya hasil F1 hasil persilangan tetua betina berdaya hasil sedang dengan tetua jantan berdaya hasil sedang (Tabel 51).

Penurunan hasil pada populasi F1 dapat dilihat pada Gambar 14 dan Gambar 15. Terjadinya penurunan daya hasil sebagai akibat persilangan antar tetua yang berdaya hasil berbeda dapat disebabkan adanya peran gen aditif pada karakter daya hasil. Hasil penelitian daya gabung pada 10 tetua jarak pagar yang berdaya hasil rendah, sedang dan tinggi menunjukkan bahwa tetua berdaya hasil rendah (575-3) merupakan tetua yang memiliki daya gabung umum yang paling buruk untuk karakter jumlah buah per tanaman. Hasil penelitian juga menunjukkan adanya aksi gen aditif yang lebih dominan dibanding aksi gen non aditif pada karakter jumlah buah per tanaman yang ditunjukkan oleh DGU/DGK >

1. Aksi gen aditif akan mengakibatkan nilai karakter pada progeni hasil persilangan antar 2 tetua yang berbeda daya hasilnya merupakan hasil resultan dari sejumlah gen secara bersama-sama. Nilai karakter yang dihasilkan akan berada di antara nilai kedua tetuanya. Nilai karakter akan bergeser dari tetua berdaya hasil tinggi ke arah tetua berdaya hasil rendah sehingga menghasilkan keturunan yang memiliki nilai karakter lebih rendah dari tetua terbaiknya.

(25)

Adanya outbreeding depression juga ditemukan pada sejumlah tanaman. Hasil penelitian Quilichini et al. (2001) pada tanaman Anchusa crispa Viv menunjukkan adanya outbreeding depression pada generasi F1 dan F2 yaitu pada karakter jumlah infloresen bunga dimana jumlah infloresen pada generasi F1 dan F2 hasil persilangan lebih sedikit dibanding F1 dan F2 hasil penyerbukan sendiri. Sementara itu hasil penelitian Waser et al. (2000) pada tanaman Ipomopsis

aggregate menunjukkan adanya outbreeding depression selama periode

pertumbuhan tanaman.

Hasil penelitian pada tanaman jarak pagar ini menunjukkan semua persilangan dengan tetua berdaya hasil rendah baik sebagai tetua betina maupun sebagai tetua jantan selalu menghasilkan F1 yang berdaya hasil lebih rendah dari tetua terbaiknya (Gambar 14 dan Gambar 15). Penurunan nilai karakter khususnya komponen hasil tanaman jarak pagar sebagai akibat persilangan terutama dengan tetua jantan berdaya hasil rendah tidak diharapkan terutama bila akan mengembangkan tanaman jarak pagar. Populasi yang semula terdiri dari individu berdaya hasil tinggi akan menghasilkan keturunan yang berdaya hasil lebih rendah bila diantara populasi terdapat individu berdaya hasil rendah atau sedang. Heritabilitas dalam arti luas yang tinggi pada karakter jumlah buah memperbesar peluang diwariskannya karakter berbuah sedikit (daya hasil rendah) pada F1 yang dihasilkan dari persilangan dengan tetua berdaya hasil rendah. Disamping itu, karakter jumlah buah yang dikendalikan oleh gen aditif dan non aditif juga berperan dalam menentukan nilai karakter pada populasi F1 yang dihasilkan. Kondisi ini yang diduga terjadi pada populasi-populasi jarak pagar, diantaranya Improved Population.

Dalam program penyediaan bahan tanaman (benih) untuk jarak pagar, fenomena tersebut diatas harus diantisipasi. Seleksi terhadap individu-individu yang memiliki daya hasil kurang dari kriteria harus terus dilakukan agar tidak terdapat individu yang berdaya hasil rendah ataupun sedang pada areal pembenihan. Hal ini untuk menghindarkan terjadinya persilangan antara tetua berdaya hasil tinggi dengan tetua berdaya hasil sedang maupun rendah yang akan menghasilkan benih F1 yang berdaya hasil rendah atau sedang.

(26)

(T= berdaya hasil Tinggi, S= berdaya hasil Sedang, R= berdaya hasil Rendah).

Table 51. Yield decreasing percentage of F1 population resulted by outcrossed among LxM, LxH, MxL, MxT, HxL, and HxM (H=high yield, M=medium yield, and L=low yield)

Tetua Parent

Rataan jumlah buah F1 hasil penyerbukan silang antar tetua Fruits averages of F1 progenies of outcrossing among parent

Penurunan Daya Hasil pada F1 hasil penyerbukan silang antar tetua yang berbeda daya hasil (%)* Yield decreasing of F1 population of difference

yield level parents

S x S T x T R x S R x T S x R S x T T x R T x S SS-SR SS-ST TT-TR TT-TS 1 (R) 69 89 - - 3 (S) 208 77 228 63 -10 4 (S) 201 47 217 76 -8 5 (S) 162 44 197 73 -22 6 (S) 249 172 295 31 -18 9 (S) 202 120 194 40 4 10 (S) 255 81 225 68 12 2 (T) 270 123 245 54 9 7 (T) 316 167 277 47 12 8 (T) 292 116 234 60 20

Keterangan: * dihitung menggunakan rumus Penurunan Daya Hasil)

(27)

2008 pada umur 3 bulan sampai > 12 bulan

Table 54. Hermaphrodite and non hermaphrodite performance of 15 genotypes evaluated during August 2007 – July 2008 at 3 months to > 12 months old.

Genotipe

Genotype

Periode (Periods) /umur tanaman (plant age) Agus-Okt (August-Oct) 2007 3-6 bln (3-6 months) Nov-Jan (Nov-Jan)2008 6-9 bln (6-9 months) Feb-Apr (Feb-Apr)2008 10-12 bln (10-12 months) Mei-Juli (May-July) 2008 > 12 bln (>12 months) Non-hermaprodit Hermaprodit Non-hermaprodit Hermaprodit Non-hermaprodit Hermaprodit Non-hermaprodit Hermaprodit SP 16 – 1 4 1 3 0 0 0 0 0 SP 16 – 2 3 1 5 0 4 0 3 0 SP 16 – 3 0 0 0 0 6 4 7 0 IP-1M – 1 0 0 2 0 2 0 8 0 IP-1M – 2 1 0 18 2 6 4 6 1 IP-1M – 3 0 0 0 0 0 0 0 0 SP 8 – 1 1 0 0 0 17 0 19 0 SP 8 – 2 0 0 13 4 17 17 17 21 SP 8 – 3 4 1 3 2 11 4 11 9 554 – 1 0 0 4 0 18 11 21 21 554 – 2 2 0 17 0 13 0 14 0 554 – 3 2 0 4 0 3 0 8 0 PT 33 – 1 0 0 9 4 3 6 9 2 PT 33 – 2 6 0 21 0 22 0 42 0 PT 33 - 3 8 0 23 0 33 0 18 0

(28)

Gambar 14. Rataan jumlah buah pada F1 hasil penyerbukan silang antar tetua berdaya hasil tinggi x sedang ( ), tinggi x rendah ( ) dan sedang x rendah ( ).

Figure 14. Fruit averages of F1 progenies of crossing between high x medium

( ), high x low ( ), and medium x low ( ) yieldparents

Gambar 15. Rataan jumlah buah pada F1 hasil penyerbukan silang antar tetua berdaya hasil rendah x tinggi ( ) dan rendah x sedang ( ).

Figure 15. Fruit averages of F1 progenies of crossing between low x high ( )

and low x medium ( ) yieldparents

413 252 272 413 135 83 272 90 83 0 100 200 300 400 500 T T x S S T T x R R S S x R R 83 89 413 83 69 272 0 100 200 300 400 500 R R x T T R R x S S Juml ah bua h ( Fruit numbe r ) Juml ah bua h ( Fruit numbe r )

(29)

Simpulan

Penyerbukan sendiri pada tanaman jarak pagar tidak selalu mengakibatkan terjadinya inbreeding depression tetapi pada genotipe tertentu penyerbukan silang dapat mengakibatkan outbreeding depression. Inbreeding depression ditemukan pada sebagian karakter progeni hasil penyerbukan sendiri tetua 1 (575-3), 2 (HS 49-2), 4 (PT 13-1), 5 (SP 16-2), 6 (PT 33-2), 7 (3012-1), 8 (PT 15-1), 9 (PT 14-1) dan 10 (Sulsel 8), sedangkan outbreeding depression ditemukan pada progeni hasil persilangan tetua 3 (IP 1A-2) dengan tetua lainnya. Penyerbukan sendiri pada tetua 2 (HS 49-2), 6 (PT 33-2), 8 (PT 15-1), dan 9 (PT 14-1) mengakibatkan

inbreeding depression pada karakter umur berbunga dan outbreeding depression

pada karakter jumlah buah per tanaman sehingga penyerbukan sendiri akan menghasilkan progeni yang lebih cepat berbunga dan menghasilkan buah yang lebih banyak dibanding persilangannya dengan genotipe lain.

Outbreeding depression mengakibatkan terjadinya penurunan hasil pada

F1. Persilangan antar tetua yang memiliki daya hasil berbeda akan menghasilkan progeni F1 yang memiliki daya hasil yang lebih rendah dari tetua terbaiknya. Persilangan dengan tetua jantan berdaya hasil rendah akan menghasilkan progeni F1 yang berdaya hasil rendah dan lebih rendah dari tetua betinanya. Penurunan daya hasil pada progeni F1 akibat persilangan dengan tetua jantan berdaya hasil rendah berkisar 31 – 76 %.

Daftar Pustaka

Anderson S, Waldmann P. 2002. Inbreeding depression in a rare plant, Scabiosa

canescens (Dipsacaceae). Hereditas 136: 207–211 (2002)

Cardoso AI I. 2004. Depression by inbreeding after four successive self-pollination of squash generations. Sci Agric (Piracicaba, Braz.) 61(2): 224-227.

Chang Shu-Mei. 2007. Gender-specific inbreeding depression in a gynodioecious plant,

Geranium maculatum (Geraniaceae). Am J of Bot 94(7): 1193–1204.

Charlesworth D, Charlesworth B. 1987. Inbreeding depression and its evolutionary consequences. Annu Rev Ecol Syst 18: 237–268.

Dehgan B, Webster GL. 1979. Morphology and infrageneric relationships of the

(30)

Goodwillie C, Knight MC. 2006. Inbreeding depression and mixed mating in

Leptosiphon jepsonii: A comparison of three populations. Annals of Bot 98:

351–360, 2006

Grindeland JM. 2008. Inbreeding depression and outbreeding depression in

Digitalis purpurea: optimal outcrossing distance in a tetraploid.J Evo Biol

21: 716–726

Hartati RS. 2007. Jarak pagar, menyerbuk silang atau menyerbuk sendiri?.

Infotek Jarak pagar 2 (10): 37.

Heller J. 1996. Physic Nut, Promoting The Conservation and Use of Under Utilized and

Neglected Crops:Jatropha Curcas L. Internat Plant Gen Res Ins. Rome. 54 p. Kephart SR, Hall EJ. 1999. Inbreeding depression and partial selfing:

Evolutionary implication of mixed mating in a coastal endemic, Silene

douglasii var oraria (Caryophillaceae). Heredity 82 : 543-554.

Lene R, Nielsen HR, Siegismund, Hansen T. 2007. Inbreeding depression in the partially self-incompatible endemic plant species Scalesia affinis (Asteraceae) from Galapagos islands. Evol Ecol 21:1–12

Mahmud Z, Allorerung D, Rivaie AA. 2008. Teknik Budidaya Jarak pagar (Jatropha curcas L.). Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan. 18 hlm.

Mena-Ali JI, Keser LH, Stephenson AG. 2008. Inbreeding depression in Solanum carolinense (Solanaceae), a species with a plastic self-incompatibility response.

BMC Evol Biol 8(10)

Mooney EH, McGraw JB. 2007. Effects of self-pollination and outcrossing with cultivated plants in small natural populations of American ginseng, Panax quinquefolius (Araliaceae). Am J of Bot 94(10): 1677–1687.

Mustajarvi K, Siikamaki P, Kerberg AA. 2005. Inbreeding depression in perennial

Lychnis viscaria (Caryophyllaceae): effect of poplation mating history and nutrient availability. Am J of Bot 92(11): 1853–1861.

Pandin DS. 2009. Inbreeding depression analysis based on morphological characters in four generations of selfed mapanget tall coconut no. 32 (Cocos

nucifera L.). Indonesian J of Agric 2(2): 110-114.

Quilichini A, M Debusshe, Thompson JD. 2001. Evidence for local outbreeding depression in the Mediterranean island endemic Anchusa crispa Viv. (Boraginaceae). Heredity 87: 190-197.

Raju AJS, Ezradanam V. 2002. Pollination ecology and fruiting behaviour in a monoecious species, Jatropha curcas L. (Euphorbiaceae). Current Sci 83 (11) : 1395-1398

SAS Institute. 2006. SAS for Mixed Models. 2nd Ed. NC, USA. 814 p.

Sheridan PM, Karowe DN. 2000. Inbreeding, outbreeding, and heterosis in the yellow pitcher plant, Sarracenia flava (Sarraceniaceae), in Virginia. Am J of Bot 87(11): 1628–1633.

Singh BD. 1990. Plant Breeding Principles and Methods. 4th Ed. Kalyani Pub. New Delhi – Ludhiana. 620 hlm.

(31)

Waser NM, Price MV, Shaw RG. 2000. Outbreeding depression varies among cohort of Ipomopsis aggregate planted in nature. Evol 54 (2): 485-491.

Gambar

Tabel 29.  Kuadrat  tengah  perlakuan  pada  karakter  tinggi  tanaman,  lingkar  batang,  lebar  kanopi,  dan  jumlah  cabang  total  S1  hasil  penyerbukan  sendiri tetua ke i dan F1 hasil penyerbukan silang antar tetua ij
Table 31  Plant  height  averages  of  S1  progenies  of  selfing  i th   parents  and  F1progenies of crossing between i th  and j th  parents
Tabel 35.  Rataan  lebar kanopi pada S1 hasil penyerbukan  sendiri  tetua ke  i dan  F1 hasil penyerbukan silang tetua ke i dengan tetua ke j
Table 39.  Days  to  flowering  averages  of  S1  progenies  of  selfing  i th   parents  and  F1progenies of crossing between i th  and j th  parents
+7

Referensi

Dokumen terkait

Modus tunnel IPSec memungkinkan IP paket data dapat dienkripsi, dan kemudian dikemas dalam sebuah IP header yang akan dikirim di sebuah perusahaan IP

&#34;STRI VI NG FOR WORLD SPORT ACHI VEMENTS THROUGH SPORT AND PHYSI CAL EDUCATI ON&#34; conducted by Faculty of Sport Science, Yogyakarta State University on May 24, 2011. as

Sedangkan menurut Sujarweni (2015:3) mengatakan bahwa: “Akuntansi adalah proses dari transaksi yang dibuktikan dengan faktur, lalu transaksi dibuat jurnal, buku

Nilai rasio odds gingiva kelompok kasus dibandingkan dengan kelompok kontrol adalah 16,4 yang artinya subjek dengan paparan uap belerang mempunyai risiko 16,4 kali

28 tahun 2007 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara perpajakan, pajak adalahpajak adalah kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan

First, the learning outcomes of students' ability to read narrative texts that are taught by communicative approaches are higher than the students' ability to

75 dibuktikan dari bagaimana suasana nyaman dan adanya kepercayaan di dalam kelompok ini membuat setiap anggota dalam komunitas Akar Tuli terbuka satu sama

Iklan Baris Iklan Baris JAKARTA UTARA JAKARTA BARAT Rumah Dijual Rumah Dikontrakan JAKARTA PUSAT JAKARTA SELATAN LAIN-LAIN JAKARTA TIMUR BODETABEK DIKONTR RMH 105M, 1 1 / 2Lt, Baru,