• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGEMBANGAN MULTIMEDIA INTERAKTIF MOBIL. pdf

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PENGEMBANGAN MULTIMEDIA INTERAKTIF MOBIL. pdf"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

PENGEMBANGAN MULTIMEDIA INTERAKTIF MOBILE LEARNING PEMBELAJARAN GEOGRAFI GUNA MENINGKATKAN

SPATIAL THINKING PESERTA DIDIK KELAS X IPS DI SMA NEGERI 2 SURAKARTA TAHUN 2016/2017 (Materi Dinamika Hidrosfer dan Dampaknya Terhadap Kehidupan)

Farida Khoirunnisa

¹

Djoko Subandriyo & Yasin Yusup

²

¹

Mahasiswa S1 Pendidikan Geografi, FKIP, UNS Surakarta

²

Dosen Pendidikan Geografi, FKIP, UNS Surakarta

Keperluan Korespondensi, HP : 082242610483, e-mail: [email protected]

This development research aims to (1) discover the appropriateness of Interactive Multimedia m-learning (mobile learning) in Geography class as learning media for Grade X SMAN 2 Surakarta. (2) discover the effectiveness of m-learning Interactive Multimedia products for increasing the Spatial Thinking of Grade X SMAN 2 Surakarta.

The method which is used in this research is Research and Development (R&D) method. The subjects of the research are media experts, marerial experts, and Grade X Social 1 and Grade X Social 3 classes. The sample technique of the research is Proportional Random Sampling.Validity sheet of media experts, material experts,

students assessments, interviews, observations, questionnaires, tests and

documentation are used for data collection instruments.

The research and development results are (1) the development of m-learning in Geography class based on Adobe Flash is avowedly appropriate for learning in Grade X Social Clasa based on the assessment from the material experts, media experts, teachers and students with modus scores 4(good category of Likert Scale) as it has been decided by the researchers. (2) the application of m-learning in Geography class based on Adobe Flash is provenly enhance the Spatial Thinking ability of the students which has been discovered from 82% post-test scores improvement.

(2)

PENDAHULUAN

Berdasarkan Permendikbud No. 81 A tahun 2013 tentang Implementasi

Kurikulum 2013 dalam dunia pendidikan formal mengalami perubahan paradigma

yang diterapkan ke dalam sistem pendidikan nasional yang secara teoritis semula

Teacher Centered Learning (TCL) atau pembelajaran berpusat pada guru berubah

menjadi Student Centered Learning (SCL) atau pembelajaran berpusat pada peserta

didik. Sejalan dengan sistem pendidikan tersebut peserta didik diharuskan untuk

mengeksplor sendiri berbagai minat, bakat dan potensi dalam belajar, meningkatkan

keaktifan dan kemandirian dalam mendapatkan ilmu serta pengetahuan dengan

memanfaatkan berbagai sumber belajar selain dari guru atau pendidik. Sesuai dengan

tujuan sistem pembelajaran pada Kurikulum 2013 yang menghendaki peserta didik

untuk belajar secara mandiri, maka dibutuhkan sumber belajar yang tentunya

menarik, efektif dan bersifat interaktif bagi peserta didik.

Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi yang terjadi saat ini

berpengaruh pada segala bidang kehidupan, termasuk dalam bidang pendidikan.

Teknologi yang kian maju dan mutakhir dapat membantu dalam variasi pengadaan

media pembelajaran bagi peserta didik. Salah satu pemanfaatan teknologi dalam

bidang pendidikan adalah pengembangan media pembelajaran interaktif m-learning

(mobile learning). M-learning merupakan pembelajaran dengan menggunakan

berbagai perangkat seperti handphone android, I-phone, PDAs, komputer atau PC

dan lain sebagainya (Sutopo, 2012: 175). Menurut Andi dalam Husamah (2014:176)

mendefiniskan sebab m-learning sebagai penyampaian bahan pembelajaran

elektronik pada alat komputasi mobile agar dapat diakses dari mana saja dan kapan

saja. M-learning yang dikembangkan ini menggunakan software yang disebut dengan

Adobe Flash. Adobe Flash merupakan program aplikasi yang mampu membuat

berbagai macam aplikasi seperti animasi, gambar, game, video, CD tutorial dan lain

ebagainya. Beberapa kelebihan Adobe Flash menurut Pramono (2006:2) adalah (1)

Hasil akhir file flash memiliki ukuran yang lebih kecil (setelah dipublish (2) Adobe

(3)

presentasi dengan flash dapat lebih hidup (3) Animasi dapat dibentuk, dijalankan dan

dikontrol (4) Flash mampu membuat file executable (*.exe) sehingga dapat

dijalankan pada PC manapun tanpa harus menginstall terlebih dahulu program flash

(5) Font presentasi tidak akan berubah meskipun PC yang digunakan tidak memiliki

font tersebut (6) Gambar flash merupakan gambar vektor sehingga tidak akan pernah

pecah meskipun dizoom beratus kali (7) Flash mampu dijalankan pada sistem operasi

Windows maupun Machintos.

Geografi merupakan salah satu mata pelajaran wajib di SMA IPS. Tujuan

pembelajaran Geografi di sekolah pada umumnya adalah mewujudkan peserta didik

yang memiliki kemampuan sikap dan keterampilan untuk mengembangkan

kemampuan berpikir analitis dalam memahami gejala geosfer, dapat berpikir dan

menganalisis berbagai fenomena geosfer dengan sudut pandang spasial, memupuk

rasa cinta tanah air, menghargai keberadaan negara lain dan mampu menghadapi

masalah-masalah yang timbul sebagai akibat adanya interaksi antara manusia dengan

lingkungannya (Ishikawa: 2012). Geografi merupakan bidang disiplin ilmu yang

mengkaji fenomena atau gejala alam, kehidupan manusia dan interaksi antara

keduanya yang dilihat berdasarkan aspek kelingkungan, kewilayahan dan

keruangannya. Maka dari itu agar dapat mengkajinya seorang geograf harus

mempunyai skill atau kemampuan spatial thinking yaitu kemampuan dalam melihat

fenomena secara keruangan. Spatial thinking merupakan cara berpikir yang

digunakan untuk memahami arti dalam suatu bentuk, ukuran, lokasi, arah/ tujuan,

dari objek, fenomena atau gejala atau posisi relatif ruangan dari berbagai objek,

proses atau gejala (National Research Council, 2006). Menurut Association of

American Geographers terdapat 8 kemampuan dasar spatial thinking yakni

Comparison, Aura, Region, Transition, Analogy, Hierarki, Pattern dan Association.

SMA Negeri 2 Surakarta merupakan salah satu sekolah yang telah

menggunakan kurikulum 2013, maka dari itu kegiatan pembelajaran yang dilakukan

menerapkan sistem Student Centered Learning. Guna mendukung sistem

(4)

pembelajaran yang aktif dan efektif salah satunya dengan menyediakan media

pembelajaran yang sesuai dengan materi pelajaran. Namun pada pelaksanaannya

kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan cenderung monoton, sebab pendidik masih

menggunakan metode pembelajaran ceramah konvensional dan terkadang

pemanfaatan media pembelajaran hanya sebatas menggunakan powerpoint.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini merupakan Research and Development atau penelitian dan

pengembangan. Penelitian jenis ini bertujuan untuk menemukan, merumuskan,

memperbaiki, mengembangkan, menghasilkan, menguji kelayakan produk, menguji

keefektivan produk, model, metode, media dan lain sebagainya guna meningkatkan

kualitas pembelajaran dan pendidikan. Pada penelitian ini peneliti mengembangkan

produk media pembelajaran Geografi yang berupa multimedia pembelajaran

interaktif m-learning pada materi Dinamika Hidrosfer dan Dampaknya Terhadap

Kehidupan guna meningkatkan spatial thinking peserta didik kelas X IPS SMA

Negeri 2 Surakarta.

Model pengembangan ini mengadopsi model dan desain pengembangan yang

dikembangkan oleh Stephen M. Alessi & Stanley R Trollip. Model pengembangan ini

memiliki tiga fase meliputi planning (perencanaan), design (desain) dan development

(pengembangan).

Sampel pada penelitian ini terdiri dari dua kelas yakni kelas X IPS 1 sebagai

kelompok uji beta dengan jumlah 20 peserta didik dan kelas X IPS 3 kelompok uji

sumatif dengan jumlah 26 peserta didik. Pengambilan sampel dilakukan dengan

teknik proportional random sampling yakni pemilihan sampel penelitian dilakukan

secara acak dan merata pada peserta didik yang memiliki kemampuan akademik

rendah, sedang dan tinggi. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan wawancara,

observasi, angket, dokumentasi dan tes. Validitas data dilakukan oleh ahli materi, ahli

(5)

Teknik analisis data mencakup data kelayakan dan efektivitas multimedia

interaktif m-learning. Teknik analisis data kelayakan multimedia interaktif

m-learning yang dilakukan dengan menggunakan Skala Likert. Teknik ini digunakan

untuk mengolah data ahli media, ahli materi, pendidik dan peserta didik. Setiap

indikator yang ada diberikan skor 1-5 (Harvey, 1998:21). Sedangkan analisis data

untuk mengetahui efektivitas produk m-learning adalah dengan menggunakan data

nilai pre-test dan postest peserta didik pada uji sumatif.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Secara geografis Secara astronomis SMA Negeri 2 Surakarta terletak pada 7°33’53”.45” S dan 110°49’36.01” T dan secara administrasi terletak di Jalan Monginsidi No 40 Gilingan, Banjarsari, Surakarta, Jawa Tengah.

Gambar 1. Peta Lokasi SMA Negeri 2 Surakarta

Pengembangan m-learning sebagai media pembelajaran Geografi dalam

(6)

pengumpulan data awal, pembuatan desain produk, melakukan uji alpha yang berupa

validasi ahli materi dan ahli media, uji beta yang berupa penilaian dari peserta didik,

penilaian dari pendidik dan uji sumatif berupa pemberian soal pre-test dan post-test

atau secara garis besar terdiri dari tiga tahapan yaitu perencanaan, desain dan

pengembangan.

1. Validasi Ahli Materi

Angket validasi ahli materi terdiri dari 2 aspek dan 12 indikator. Berikut tabel

penilaian ahli materi terhadap m-learning.

Tabel 1. Hasil Validasi Ahli Materi

No Aspek Indikator Skor Kriteria

1. Kualitas materi

Kesuaian materi dengan standar kompetensi

4 Baik

Kebenaran materi 4 Baik

Keluasan materi 3 Cukup

Ketepatan urutan penyajian materi 4 Baik

Keterbacaan teks 4 Baik

Kesesuaian gambar atau video 4 Baik

Kejelasan uraian materi 4 Baik

Pemberian soal dan latihan 4 Baik

Waktu penyajian materi 4 Baik

2. Kemanfaatan materi

Penggunaan media pembelajran interaktif membantu dalam proses pembelajaran

4 Baik

Memberikan motivasi pada peserta didik

3 Cukup

Memberikan fokus pada peserta didik

4 Baik

Sumber : Data Primer Penelitian dan Pengembangan, R&D 2016/2017

2. Validasi Ahli Media

Angket validasi ahli materi terdiri dari 4 aspek dan 15 indikator. Berikut

tabel penilaian ahli media terhadap m-learning.

Tabel 2. Hasil Validasi Ahli Media

(7)

1. Efektivitas desain layar

Ketepatan ukuran tulisan 4 Baik

Ketepatan pemilihan jenis huruf

Ilustrasi musik mendukung proses pembelajaran

4 Baik

Keefektivan penggunaan animasi

4 Baik

Keserasian volume suara dengan suara latar dan efek

Sistematika penyajian materi dalam media pembelajaran

4 Baik

3. Efektivitas navigasi

Efektivitas navigasi maju mundur yang disajikan

pembelajaran relevan dalam meningkatkan perhatian peserta didik terhadap materi pembelajaran

4 Baik

(8)

3. Validasi Pendidik

Angket validasi ahli materi terdiri dari 2 aspek dan 12 indikator. Berikut

tabel penilaian pendidik terhadap m-learning.

Tabel 3. Hasil Validasi Pendidik

No Aspek Indikator Skor Kriteria

1. Kualitas strategi pembelajaran

Interaktivitas media 4 Baik

Umpan balik dalam mengerjakan soal dalam media pembelajaran

2. Kualitas teknis Kejelasan petunjuk

penggunaan media

sehingga tidak membuat peserta didik kesulitan dalam mengoperasikannya

4 Baik

Kejelasan materi 4 Baik

Kejelasan gambar 4 Baik

Kejelasan video 4 Baik

Kejelasan animasi 4 Baik

Kejelasan soal-soal yang diberikan

4 Baik

(9)

4. Uji Beta

Penilaian oleh peserta didik mencakup 11 indikator. Berikut tabel hasil

penilaian oleh peserta didik pada uji beta.

Tabel 4. Hasil Penilaian Peserta Didik

No Aspek Nilai kriteria penilaian dengan 1 butir kriteria termasuk dalam kategori sangat baik yakni pada indikator m-learning Geografi memberikan waktu dan kesempatan belajar bagi peserta didik. Sedangkan 4 kriteria termasuk kedalam kategori baik yakni pada tingkat kejelasan konten, tingkat kemudahan dalam mengakses m-learning, tingkat konsistensi tampilandan navigasi dan fasilitas interaksi pada mobile learning. indikator tingkat kemudahan dalam mempelajari materi yang disajikan pada m-learning, produk m-learning memotivasi peserta didik, kemudahan m-learning dalam mendukung belajar peserta didik dan tingkat kesesuaian materi yang disajikan dalam m-learning. terdapat dua indikator yakni tingkat kemenarikan produk m-learning untuk belajar dan tampilan konten yang disajikan dalam m-learning. Masing-masing indikator termasuk kedalam kategori sangat baik dengan skor nilai 5.

(10)

Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan berikut ditampilkan hasil

skor modus penilaian pengembangan produk m-learning.

Tabel 5. Skor Modus Validasi dan Ujicoba Produk

Tahapan validasi dan ujicoba Skor modus

Uji alpha / Validasi ahli materi 4

Uji alpha / Validasi ahli media 4

Validasi pendidik 4

Uji beta / Ujicoba peserta didik 4

Sumber:Data Primer Penelitian dan Pengembangan, R&D 2016/2017

Berikut merupakan tabel perbandingan hasil evaluasi sumatif peserta didik

dalam bentuk uji kompetensi yang diperoleh melalui pre-test dan post-test yang

meliputi kemampuan dasar spatial thinking.

Tabel 1. Perbandingan Nilai Rata-Rata Pre-test dan Post-test

No Waktu Rata-rata nilai

1 Pre-test 61,54

2 Post-test 82,31

Sumber : Data Primer Penelitian dan Pengembangan, R&D 2016/2017

1. Comparison

Kemampuan comparison ialah kemampuan peserta didik untuk dapat

membandingkan satu tempat atau fenomena dengan tempat dan fenomena

lainnya. Misalnya membandingkan curah hujan, pendapatan, peta, citra satelit

dan grafik. Dari soal pre-test yang diujikan diperoleh hasil sebesar 51%.

Setelah dilakukan pre-test kemudian dilakukan post-test dan diperoleh hasil

sebesar 75%. Dari hasil pre-test dan post-test mengalami peningkatan sebesar

24%, sehingga dapat dikatakan peserta didik mengalami peningkatan dalam

kemampuan comparation.

2. Aura

Kemampuan aura menjelaskan bahwa letak suatu tempat dapat

berpengrauh pada tempat yang berada didekatnya. Sebagai contoh nilai

properti yang berada di dekat pusat kota lebih mahal dibandingkan yang

(11)

Hasil pre-test peserta didik kelas X IPS 3 diperoleh hasil sebesar 65% dan

mengalami peningkatan setelah dilakukan post-test sebesar 77%. Dengan

demikian dapat diketahui bahwa peserta didik mengalami peningkatan

kemampuan aura sebesar 12%.

3. Region

Kemampuan region menjelaskan bahwa tempat memiliki karakteristik

sama atau terkait dalam beberapa cara sehingga dapat ditarik garis

deliniasinya, misalnya daerah tanaman jagung, jalan kecil, lorong tornado dan

lain sebagainya. Hasil penelitian penguasaan kemampuan region dilakukan

dengan cara pre-test dan post-test. Dari hasil pre-test yang diujikan diperoleh

hasil sebesar 77% dan mengalami peningkatan 15% dengan hasil pre-test

sebesar 92%. Sehingga dapat dikatakan bahwa peserta didik mengalami

kemajuan dan peningkatan dalam hal kemampuan region.

4. Transition

Kemampuan transition merupakan kemampuan peserta didik untuk

dapat menggambarkan apa yang terjadi antara dua tempat degan kondisi yang

diketahui. Contohnya kenampakan yang berubah secara bertahap atau

tiba-tiba dari satu tempat ke tempat lain. Untuk mendapatkan hasil penelitian dari

penguasaan kemampuan transition dilakukan dengan cara menyajikan

beberapa soal yang terkait dengan hal tersebut. Dari soal pre-test yang

diujikan diperoleh has ebesar 46%. Setelah dilakukan pre-test kemudian

dilakukan post-test. Dari soal post-test yang disajikan diperoleh hasil sebesar

85%. Dari hasil pre-test dan post-test tersebut mengalami selisih peningkatan

sebesar 39%, sehingga dapat dikatakan bahwa peserta didik mengalami

kemajuan dan peningkatan dalam hal kemampuan transition.

5. Analogy

Kemampuan analogy ialah kemampuan peserta didik untuk dapat

menemukan tempat di benua atau lokasi lain yang memiliki posisi sama dan

(12)

sebagainya. Untuk mendapatkan hasil penelitian dari penguasaan kemampuan

analogy dilakukan dengan cara menyajikan beberapa soal yang terkait dengan

hal terseb. Dari soal pre-test yang diujikan diperoleh hasil sebesar 58%.

Setelah dilakukan pre-test kemudian dilakukan post-test dan diperoleh hasil

sebesar 85%. Dari hasil pre-test dan post-test tersebut mengalami selisih

peningkatan sebesar 27%, sehingga dapat dikatakan bahwa peserta didik

mengalami kemajuan dan peningkatan dalam hal kemampuan analogy.

6. Hierarchy

Hierarchy merupakan kemampuan peserta didik untuk mengidentifikasi

hierarki spasial atau sekumpulan kenampakan yang saling berhubungan.

Sebagai contoh jaringan sungai, distribusi hierarki, hierarki politik dan lain

sebagainya. Hasil penelitian penguasaan kemampuan hierarchy dilakukan

dengan cara pre-test dan post-test. Hasil pre-test yang diujikan diperoleh hasil

sebesar 68% dan mengalami peningkatan 16% dengan hasil pre-test sebesar

84%. Sehingga dapat dikatakan bahwa peserta didik mengalami kemajuan dan

peningkatan dalam hal kemampuan hierarchy.

7. Pattern

Kemampuan Pattern merupakan kemampuan peserta didik untuk dapat

menggambarkan susunan fitur atau kondisi suatu daerah atau wilayah. Contoh

susunan melingkar, cluster, memanjang, merata dan lain sebagainya. Guna

mendapatkan hasil penelitian dari penguasaan kemampuan pattern maka

dilakukan pre-test dan post-test. Hasil pre-test peserta didik kelas X IPS 3

diperoleh hasil sebesar 50% dan mengalami peningkatan setelah dilakukan

post-test sebesar 85%. Dengan demikian dapat diketahui bahwa peserta didik

mengalami peningkatan kemampuan pattern sebesar 35%.

8. Association

Kemampuan association adalah kemampuan peserta didik untuk dapat

mengidentifikasi sejauh mana kenampakan dalam peta memiliki pola yang

(13)

sebagainya. Hasil pre-test peserta didik diperoleh hasil sebesar 71% dan

mengalami peningkatan setelah dilakukan post-test sebesar 90%. Dengan

demikian dapat diketahui bahwa peserta didik mengalami peningkatan

kemampuan association sebesar 19%. Berikut tampilan diagram persentase

skor spatial thinking.

Hasil pre-test peserta didik diperoleh hasil sebesar 71% dan mengalami

peningkatan setelah dilakukan post-test sebesar 90%. Dengan demikian dapat

diketahui bahwa peserta didik mengalami peningkatan kemampuan

association sebesar 19%. Berikut tampilan diagram persentase skor spatial

thinking.

Gambar 2. Diagram Persentase Skor Spatial Thinking

Proses pembelajaran yang telah dilaksanakan dengan bantuan m-learning

Geografi berbasis web dapat berjalan dengan baik dan sesuai dengan yang

diharapkan. Nilai spatial thinking peserta didik kelas X IPS 3 pada hasil post-test

telah mencapai indikator keberhasilan penelitian yaitu 82%. Nilai spatial thinking

tersebut yaitu comparison 75%, aura 77%, region 92%, transition 85%, analogy

85%, hierarchy 84%, pattern 85% dan association 90%.

0% 20% 40% 60% 80% 100%

Comparison Aura Region transition Analogy Hierarchy Pattern Association

Kenaikan

Post-test

Pre-test

(14)

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis penelitan maka dapat ditarik kesimpulan sebagai

berikut:

1. Berdasarkan hasil penilaian produk dari ahli materi, ahli media, pendidik dan

ujicoba peserta didik diperoleh masing-masing skor modus 4 yang termasuk

dalam kategori baik dalam Skala Likert, sehingga dapat dinyatakan bahwa

multimedia pembelajaran interaktif m-learning Geografi untuk meningkatkan

spatial thinking layak digunakan sebagai media pembelajaran, sebab

berdasarkan penilaian produk telah memenuhi syarat dari batas minimal

kelayakan m-learning Geografi skor modus 3 (kategori cukup dalam Skala

Likert) sebagaimana yang telah ditentukan oleh peneliti.

2. Multimedia pembelajaran interaktif m-learning Geografi efektif untuk

meningkatkan spatial thinking berdasarkan hasil analisis peningkatan nilai

pre-test dan post-test yang telah dilaksanakan yakni 61,54 meningkat menjadi

82,31 dengan peningkatan sebesar 33.75%. Berdasarkan hasil pengamatan

kemampuan spatial thinking peserta didik mengalami peningkatan, yakni

dalam kemampuan comparison, aura, region, tra nsition, analogy, hierarchy,

pattern dan association. Pada hasil pre-test kemampuan comparison peserta

didik sebesar 51% setelah dilakukan post-test meningkat menjadi 75%,

kemampuan aura peserta didik sebesar 65% setelah dilakukan post-test

meningkat menjadi 77%, kemampuan region peserta didik sebesar 77%

setelah dilakukan post-test meningkat menjadi 92%, kemampuan transition

peserta didik sebesar 46% setelah dilakukan post-test meningkat menjadi

85%, kemampuan analogy peserta didik sebesar 58% setelah dilakukan

post-test meningkat menjadi 85%, kemampuan hierarchy peserta didik sebesar

(15)

peserta didik sebesar 50% meningkat menjadi 85% dan kemampuan association

peserta didik sebesar 71% meningkat menjadi 90%.

Saran

Berdasarkan penelitian dan pengembangan yang telah dilakukan maka dapat

dikemukakan beberapa saran sebagai berikut:

1. Penelitian ini menunjukkan bahwa m-learning Geografi berbasis Adobe Flash

dapat membantu dalam menyampaikan materi pembelajaran sehingga dituntut

untuk lebih kreatif dan inovatif dalam mengkolaborasikan berbagai konten

media didalamnya.

2. Bagi pendidik mata pelajaran Geografi dapat digunakan sebagai media

pembelajaran yang menarik, variatif dan inovatif sehingga peserta didik lebih

antusias dan bersemagat dalam belajar.

3. Bagi peserta didik agar lebih aktif dalam menggali dan mengeksplor

pengetahuan dengan memanfaatkan berbagai sumber belajar yang mendukung

perkembangan pengetahuan dan wawasan. M-learning Geografi ini sebagai

salah satu alternatif pembelajaran untuk mengembangkan, meningkatkan dan

mengeksplorasi ilmu pengetahuan.

4. Bagi penelti selanjutnya untuk lebih berkontribusi dalam mengembangkan media

pembelajaran yang menarik, menyenangkan, kreatif, inovatif dan dapat mengeksplor

(16)

DAFTAR PUSTAKA

Alessi, M.S. & Trollip, R.S. (2001). Multimedia for learning, methods and development. Massachusetts: Pearson Education Inc.

Bungin, Burhan. (2005). Metodologi Penelitian Kuantitatif. Jakarta: Kencana Prenada Media Group

Harvey, Jen. (1998). Evaluation Cookbook. Edinburgh: Heriout- Watt University.

Husamah. (2014). Pembelajaran Bauran (Blended Learning) Terampil memadukan keunggulan pembelajaran Face to face, e-learning offline-online dan

Ishikawa, Toru. (2012). Geospatial Thinking and Spatial Ability: An Empirical Examination of Knowledge and Reasoning in Geographical Science. Vol 65, No 4. University of Tokyo.

Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan republik Indonesia No 81 A Tahun 2013 Tentang Implementasi Kurikulum.

Pramono. (2006). Berkreasi Animasi dengan Macromedia Flash MX. Yogyakarta: Andi.

Gambar

Gambar 1. Peta Lokasi SMA Negeri 2 Surakarta
Tabel 1. Hasil Validasi Ahli Materi No  Aspek
Tabel 3. Hasil Validasi Pendidik No Aspek
Tabel 4. Hasil Penilaian Peserta Didik No Aspek Nilai Kriteria
+2

Referensi

Dokumen terkait

Dari hasil wawancara kepada 3 subjek tersebut maka berdasarkan dimensi Humor style, (1) affiliative humor, (2) self enhancing, (3) aggressive humor, (4) self defeating

1) Didalam membuat peraturan perun- dang-undangan yang ada kaitannya dengan PMI harus memuat bagai- mana proses pelaporan yang dibuat oleh PMI yang mendapat tindak

Menimbang : : bahwa bahwa untuk untuk melaksanakan melaksanakan ketentuan ketentuan Pasal Pasal 20 20 Peraturan Peraturan Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan

Kesaksian yang kebanyakan dilakukan oleh perempuan, Jumhur ulama telah bersepakat tentang masalah ini seperti melahirkan, haid, cacat seorang perempuan yang ada

Kesan daripada penggunaan kesan khas ini walau bagaimanapun sebenarnya hanyalah bersifat membawa penonton untuk merasai dunia realiti bayangan yang dicipta melalui

Peserta didik dalam kelompok mengumpulkan informasi dari buku paket, internet (modul : google classroom dan video youtube ) dan sumber yang lain untuk memahami

Dari hasil pengamatan diketahui bahwa faktor- faktor yang diidentifikasi dapat mempengaruhi kepuasan pelanggan (siswa) Master Privat adalah faktor : kompetensi