PENGEMBANGAN MULTIMEDIA INTERAKTIF MOBILE LEARNING PEMBELAJARAN GEOGRAFI GUNA MENINGKATKAN
SPATIAL THINKING PESERTA DIDIK KELAS X IPS DI SMA NEGERI 2 SURAKARTA TAHUN 2016/2017 (Materi Dinamika Hidrosfer dan Dampaknya Terhadap Kehidupan)
Farida Khoirunnisa
¹
⃰
Djoko Subandriyo & Yasin Yusup
²
¹
Mahasiswa S1 Pendidikan Geografi, FKIP, UNS Surakarta²
Dosen Pendidikan Geografi, FKIP, UNS Surakarta⃰
Keperluan Korespondensi, HP : 082242610483, e-mail: [email protected]
This development research aims to (1) discover the appropriateness of Interactive Multimedia m-learning (mobile learning) in Geography class as learning media for Grade X SMAN 2 Surakarta. (2) discover the effectiveness of m-learning Interactive Multimedia products for increasing the Spatial Thinking of Grade X SMAN 2 Surakarta.
The method which is used in this research is Research and Development (R&D) method. The subjects of the research are media experts, marerial experts, and Grade X Social 1 and Grade X Social 3 classes. The sample technique of the research is Proportional Random Sampling.Validity sheet of media experts, material experts,
students assessments, interviews, observations, questionnaires, tests and
documentation are used for data collection instruments.
The research and development results are (1) the development of m-learning in Geography class based on Adobe Flash is avowedly appropriate for learning in Grade X Social Clasa based on the assessment from the material experts, media experts, teachers and students with modus scores 4(good category of Likert Scale) as it has been decided by the researchers. (2) the application of m-learning in Geography class based on Adobe Flash is provenly enhance the Spatial Thinking ability of the students which has been discovered from 82% post-test scores improvement.
PENDAHULUAN
Berdasarkan Permendikbud No. 81 A tahun 2013 tentang Implementasi
Kurikulum 2013 dalam dunia pendidikan formal mengalami perubahan paradigma
yang diterapkan ke dalam sistem pendidikan nasional yang secara teoritis semula
Teacher Centered Learning (TCL) atau pembelajaran berpusat pada guru berubah
menjadi Student Centered Learning (SCL) atau pembelajaran berpusat pada peserta
didik. Sejalan dengan sistem pendidikan tersebut peserta didik diharuskan untuk
mengeksplor sendiri berbagai minat, bakat dan potensi dalam belajar, meningkatkan
keaktifan dan kemandirian dalam mendapatkan ilmu serta pengetahuan dengan
memanfaatkan berbagai sumber belajar selain dari guru atau pendidik. Sesuai dengan
tujuan sistem pembelajaran pada Kurikulum 2013 yang menghendaki peserta didik
untuk belajar secara mandiri, maka dibutuhkan sumber belajar yang tentunya
menarik, efektif dan bersifat interaktif bagi peserta didik.
Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi yang terjadi saat ini
berpengaruh pada segala bidang kehidupan, termasuk dalam bidang pendidikan.
Teknologi yang kian maju dan mutakhir dapat membantu dalam variasi pengadaan
media pembelajaran bagi peserta didik. Salah satu pemanfaatan teknologi dalam
bidang pendidikan adalah pengembangan media pembelajaran interaktif m-learning
(mobile learning). M-learning merupakan pembelajaran dengan menggunakan
berbagai perangkat seperti handphone android, I-phone, PDAs, komputer atau PC
dan lain sebagainya (Sutopo, 2012: 175). Menurut Andi dalam Husamah (2014:176)
mendefiniskan sebab m-learning sebagai penyampaian bahan pembelajaran
elektronik pada alat komputasi mobile agar dapat diakses dari mana saja dan kapan
saja. M-learning yang dikembangkan ini menggunakan software yang disebut dengan
Adobe Flash. Adobe Flash merupakan program aplikasi yang mampu membuat
berbagai macam aplikasi seperti animasi, gambar, game, video, CD tutorial dan lain
ebagainya. Beberapa kelebihan Adobe Flash menurut Pramono (2006:2) adalah (1)
Hasil akhir file flash memiliki ukuran yang lebih kecil (setelah dipublish (2) Adobe
presentasi dengan flash dapat lebih hidup (3) Animasi dapat dibentuk, dijalankan dan
dikontrol (4) Flash mampu membuat file executable (*.exe) sehingga dapat
dijalankan pada PC manapun tanpa harus menginstall terlebih dahulu program flash
(5) Font presentasi tidak akan berubah meskipun PC yang digunakan tidak memiliki
font tersebut (6) Gambar flash merupakan gambar vektor sehingga tidak akan pernah
pecah meskipun dizoom beratus kali (7) Flash mampu dijalankan pada sistem operasi
Windows maupun Machintos.
Geografi merupakan salah satu mata pelajaran wajib di SMA IPS. Tujuan
pembelajaran Geografi di sekolah pada umumnya adalah mewujudkan peserta didik
yang memiliki kemampuan sikap dan keterampilan untuk mengembangkan
kemampuan berpikir analitis dalam memahami gejala geosfer, dapat berpikir dan
menganalisis berbagai fenomena geosfer dengan sudut pandang spasial, memupuk
rasa cinta tanah air, menghargai keberadaan negara lain dan mampu menghadapi
masalah-masalah yang timbul sebagai akibat adanya interaksi antara manusia dengan
lingkungannya (Ishikawa: 2012). Geografi merupakan bidang disiplin ilmu yang
mengkaji fenomena atau gejala alam, kehidupan manusia dan interaksi antara
keduanya yang dilihat berdasarkan aspek kelingkungan, kewilayahan dan
keruangannya. Maka dari itu agar dapat mengkajinya seorang geograf harus
mempunyai skill atau kemampuan spatial thinking yaitu kemampuan dalam melihat
fenomena secara keruangan. Spatial thinking merupakan cara berpikir yang
digunakan untuk memahami arti dalam suatu bentuk, ukuran, lokasi, arah/ tujuan,
dari objek, fenomena atau gejala atau posisi relatif ruangan dari berbagai objek,
proses atau gejala (National Research Council, 2006). Menurut Association of
American Geographers terdapat 8 kemampuan dasar spatial thinking yakni
Comparison, Aura, Region, Transition, Analogy, Hierarki, Pattern dan Association.
SMA Negeri 2 Surakarta merupakan salah satu sekolah yang telah
menggunakan kurikulum 2013, maka dari itu kegiatan pembelajaran yang dilakukan
menerapkan sistem Student Centered Learning. Guna mendukung sistem
pembelajaran yang aktif dan efektif salah satunya dengan menyediakan media
pembelajaran yang sesuai dengan materi pelajaran. Namun pada pelaksanaannya
kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan cenderung monoton, sebab pendidik masih
menggunakan metode pembelajaran ceramah konvensional dan terkadang
pemanfaatan media pembelajaran hanya sebatas menggunakan powerpoint.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini merupakan Research and Development atau penelitian dan
pengembangan. Penelitian jenis ini bertujuan untuk menemukan, merumuskan,
memperbaiki, mengembangkan, menghasilkan, menguji kelayakan produk, menguji
keefektivan produk, model, metode, media dan lain sebagainya guna meningkatkan
kualitas pembelajaran dan pendidikan. Pada penelitian ini peneliti mengembangkan
produk media pembelajaran Geografi yang berupa multimedia pembelajaran
interaktif m-learning pada materi Dinamika Hidrosfer dan Dampaknya Terhadap
Kehidupan guna meningkatkan spatial thinking peserta didik kelas X IPS SMA
Negeri 2 Surakarta.
Model pengembangan ini mengadopsi model dan desain pengembangan yang
dikembangkan oleh Stephen M. Alessi & Stanley R Trollip. Model pengembangan ini
memiliki tiga fase meliputi planning (perencanaan), design (desain) dan development
(pengembangan).
Sampel pada penelitian ini terdiri dari dua kelas yakni kelas X IPS 1 sebagai
kelompok uji beta dengan jumlah 20 peserta didik dan kelas X IPS 3 kelompok uji
sumatif dengan jumlah 26 peserta didik. Pengambilan sampel dilakukan dengan
teknik proportional random sampling yakni pemilihan sampel penelitian dilakukan
secara acak dan merata pada peserta didik yang memiliki kemampuan akademik
rendah, sedang dan tinggi. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan wawancara,
observasi, angket, dokumentasi dan tes. Validitas data dilakukan oleh ahli materi, ahli
Teknik analisis data mencakup data kelayakan dan efektivitas multimedia
interaktif m-learning. Teknik analisis data kelayakan multimedia interaktif
m-learning yang dilakukan dengan menggunakan Skala Likert. Teknik ini digunakan
untuk mengolah data ahli media, ahli materi, pendidik dan peserta didik. Setiap
indikator yang ada diberikan skor 1-5 (Harvey, 1998:21). Sedangkan analisis data
untuk mengetahui efektivitas produk m-learning adalah dengan menggunakan data
nilai pre-test dan postest peserta didik pada uji sumatif.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Secara geografis Secara astronomis SMA Negeri 2 Surakarta terletak pada 7°33’53”.45” S dan 110°49’36.01” T dan secara administrasi terletak di Jalan Monginsidi No 40 Gilingan, Banjarsari, Surakarta, Jawa Tengah.
Gambar 1. Peta Lokasi SMA Negeri 2 Surakarta
Pengembangan m-learning sebagai media pembelajaran Geografi dalam
pengumpulan data awal, pembuatan desain produk, melakukan uji alpha yang berupa
validasi ahli materi dan ahli media, uji beta yang berupa penilaian dari peserta didik,
penilaian dari pendidik dan uji sumatif berupa pemberian soal pre-test dan post-test
atau secara garis besar terdiri dari tiga tahapan yaitu perencanaan, desain dan
pengembangan.
1. Validasi Ahli Materi
Angket validasi ahli materi terdiri dari 2 aspek dan 12 indikator. Berikut tabel
penilaian ahli materi terhadap m-learning.
Tabel 1. Hasil Validasi Ahli Materi
No Aspek Indikator Skor Kriteria
1. Kualitas materi
Kesuaian materi dengan standar kompetensi
4 Baik
Kebenaran materi 4 Baik
Keluasan materi 3 Cukup
Ketepatan urutan penyajian materi 4 Baik
Keterbacaan teks 4 Baik
Kesesuaian gambar atau video 4 Baik
Kejelasan uraian materi 4 Baik
Pemberian soal dan latihan 4 Baik
Waktu penyajian materi 4 Baik
2. Kemanfaatan materi
Penggunaan media pembelajran interaktif membantu dalam proses pembelajaran
4 Baik
Memberikan motivasi pada peserta didik
3 Cukup
Memberikan fokus pada peserta didik
4 Baik
Sumber : Data Primer Penelitian dan Pengembangan, R&D 2016/2017
2. Validasi Ahli Media
Angket validasi ahli materi terdiri dari 4 aspek dan 15 indikator. Berikut
tabel penilaian ahli media terhadap m-learning.
Tabel 2. Hasil Validasi Ahli Media
1. Efektivitas desain layar
Ketepatan ukuran tulisan 4 Baik
Ketepatan pemilihan jenis huruf
Ilustrasi musik mendukung proses pembelajaran
4 Baik
Keefektivan penggunaan animasi
4 Baik
Keserasian volume suara dengan suara latar dan efek
Sistematika penyajian materi dalam media pembelajaran
4 Baik
3. Efektivitas navigasi
Efektivitas navigasi maju mundur yang disajikan
pembelajaran relevan dalam meningkatkan perhatian peserta didik terhadap materi pembelajaran
4 Baik
3. Validasi Pendidik
Angket validasi ahli materi terdiri dari 2 aspek dan 12 indikator. Berikut
tabel penilaian pendidik terhadap m-learning.
Tabel 3. Hasil Validasi Pendidik
No Aspek Indikator Skor Kriteria
1. Kualitas strategi pembelajaran
Interaktivitas media 4 Baik
Umpan balik dalam mengerjakan soal dalam media pembelajaran
2. Kualitas teknis Kejelasan petunjuk
penggunaan media
sehingga tidak membuat peserta didik kesulitan dalam mengoperasikannya
4 Baik
Kejelasan materi 4 Baik
Kejelasan gambar 4 Baik
Kejelasan video 4 Baik
Kejelasan animasi 4 Baik
Kejelasan soal-soal yang diberikan
4 Baik
4. Uji Beta
Penilaian oleh peserta didik mencakup 11 indikator. Berikut tabel hasil
penilaian oleh peserta didik pada uji beta.
Tabel 4. Hasil Penilaian Peserta Didik
No Aspek Nilai kriteria penilaian dengan 1 butir kriteria termasuk dalam kategori sangat baik yakni pada indikator m-learning Geografi memberikan waktu dan kesempatan belajar bagi peserta didik. Sedangkan 4 kriteria termasuk kedalam kategori baik yakni pada tingkat kejelasan konten, tingkat kemudahan dalam mengakses m-learning, tingkat konsistensi tampilandan navigasi dan fasilitas interaksi pada mobile learning. indikator tingkat kemudahan dalam mempelajari materi yang disajikan pada m-learning, produk m-learning memotivasi peserta didik, kemudahan m-learning dalam mendukung belajar peserta didik dan tingkat kesesuaian materi yang disajikan dalam m-learning. terdapat dua indikator yakni tingkat kemenarikan produk m-learning untuk belajar dan tampilan konten yang disajikan dalam m-learning. Masing-masing indikator termasuk kedalam kategori sangat baik dengan skor nilai 5.
Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan berikut ditampilkan hasil
skor modus penilaian pengembangan produk m-learning.
Tabel 5. Skor Modus Validasi dan Ujicoba Produk
Tahapan validasi dan ujicoba Skor modus
Uji alpha / Validasi ahli materi 4
Uji alpha / Validasi ahli media 4
Validasi pendidik 4
Uji beta / Ujicoba peserta didik 4
Sumber:Data Primer Penelitian dan Pengembangan, R&D 2016/2017
Berikut merupakan tabel perbandingan hasil evaluasi sumatif peserta didik
dalam bentuk uji kompetensi yang diperoleh melalui pre-test dan post-test yang
meliputi kemampuan dasar spatial thinking.
Tabel 1. Perbandingan Nilai Rata-Rata Pre-test dan Post-test
No Waktu Rata-rata nilai
1 Pre-test 61,54
2 Post-test 82,31
Sumber : Data Primer Penelitian dan Pengembangan, R&D 2016/2017
1. Comparison
Kemampuan comparison ialah kemampuan peserta didik untuk dapat
membandingkan satu tempat atau fenomena dengan tempat dan fenomena
lainnya. Misalnya membandingkan curah hujan, pendapatan, peta, citra satelit
dan grafik. Dari soal pre-test yang diujikan diperoleh hasil sebesar 51%.
Setelah dilakukan pre-test kemudian dilakukan post-test dan diperoleh hasil
sebesar 75%. Dari hasil pre-test dan post-test mengalami peningkatan sebesar
24%, sehingga dapat dikatakan peserta didik mengalami peningkatan dalam
kemampuan comparation.
2. Aura
Kemampuan aura menjelaskan bahwa letak suatu tempat dapat
berpengrauh pada tempat yang berada didekatnya. Sebagai contoh nilai
properti yang berada di dekat pusat kota lebih mahal dibandingkan yang
Hasil pre-test peserta didik kelas X IPS 3 diperoleh hasil sebesar 65% dan
mengalami peningkatan setelah dilakukan post-test sebesar 77%. Dengan
demikian dapat diketahui bahwa peserta didik mengalami peningkatan
kemampuan aura sebesar 12%.
3. Region
Kemampuan region menjelaskan bahwa tempat memiliki karakteristik
sama atau terkait dalam beberapa cara sehingga dapat ditarik garis
deliniasinya, misalnya daerah tanaman jagung, jalan kecil, lorong tornado dan
lain sebagainya. Hasil penelitian penguasaan kemampuan region dilakukan
dengan cara pre-test dan post-test. Dari hasil pre-test yang diujikan diperoleh
hasil sebesar 77% dan mengalami peningkatan 15% dengan hasil pre-test
sebesar 92%. Sehingga dapat dikatakan bahwa peserta didik mengalami
kemajuan dan peningkatan dalam hal kemampuan region.
4. Transition
Kemampuan transition merupakan kemampuan peserta didik untuk
dapat menggambarkan apa yang terjadi antara dua tempat degan kondisi yang
diketahui. Contohnya kenampakan yang berubah secara bertahap atau
tiba-tiba dari satu tempat ke tempat lain. Untuk mendapatkan hasil penelitian dari
penguasaan kemampuan transition dilakukan dengan cara menyajikan
beberapa soal yang terkait dengan hal tersebut. Dari soal pre-test yang
diujikan diperoleh has ebesar 46%. Setelah dilakukan pre-test kemudian
dilakukan post-test. Dari soal post-test yang disajikan diperoleh hasil sebesar
85%. Dari hasil pre-test dan post-test tersebut mengalami selisih peningkatan
sebesar 39%, sehingga dapat dikatakan bahwa peserta didik mengalami
kemajuan dan peningkatan dalam hal kemampuan transition.
5. Analogy
Kemampuan analogy ialah kemampuan peserta didik untuk dapat
menemukan tempat di benua atau lokasi lain yang memiliki posisi sama dan
sebagainya. Untuk mendapatkan hasil penelitian dari penguasaan kemampuan
analogy dilakukan dengan cara menyajikan beberapa soal yang terkait dengan
hal terseb. Dari soal pre-test yang diujikan diperoleh hasil sebesar 58%.
Setelah dilakukan pre-test kemudian dilakukan post-test dan diperoleh hasil
sebesar 85%. Dari hasil pre-test dan post-test tersebut mengalami selisih
peningkatan sebesar 27%, sehingga dapat dikatakan bahwa peserta didik
mengalami kemajuan dan peningkatan dalam hal kemampuan analogy.
6. Hierarchy
Hierarchy merupakan kemampuan peserta didik untuk mengidentifikasi
hierarki spasial atau sekumpulan kenampakan yang saling berhubungan.
Sebagai contoh jaringan sungai, distribusi hierarki, hierarki politik dan lain
sebagainya. Hasil penelitian penguasaan kemampuan hierarchy dilakukan
dengan cara pre-test dan post-test. Hasil pre-test yang diujikan diperoleh hasil
sebesar 68% dan mengalami peningkatan 16% dengan hasil pre-test sebesar
84%. Sehingga dapat dikatakan bahwa peserta didik mengalami kemajuan dan
peningkatan dalam hal kemampuan hierarchy.
7. Pattern
Kemampuan Pattern merupakan kemampuan peserta didik untuk dapat
menggambarkan susunan fitur atau kondisi suatu daerah atau wilayah. Contoh
susunan melingkar, cluster, memanjang, merata dan lain sebagainya. Guna
mendapatkan hasil penelitian dari penguasaan kemampuan pattern maka
dilakukan pre-test dan post-test. Hasil pre-test peserta didik kelas X IPS 3
diperoleh hasil sebesar 50% dan mengalami peningkatan setelah dilakukan
post-test sebesar 85%. Dengan demikian dapat diketahui bahwa peserta didik
mengalami peningkatan kemampuan pattern sebesar 35%.
8. Association
Kemampuan association adalah kemampuan peserta didik untuk dapat
mengidentifikasi sejauh mana kenampakan dalam peta memiliki pola yang
sebagainya. Hasil pre-test peserta didik diperoleh hasil sebesar 71% dan
mengalami peningkatan setelah dilakukan post-test sebesar 90%. Dengan
demikian dapat diketahui bahwa peserta didik mengalami peningkatan
kemampuan association sebesar 19%. Berikut tampilan diagram persentase
skor spatial thinking.
Hasil pre-test peserta didik diperoleh hasil sebesar 71% dan mengalami
peningkatan setelah dilakukan post-test sebesar 90%. Dengan demikian dapat
diketahui bahwa peserta didik mengalami peningkatan kemampuan
association sebesar 19%. Berikut tampilan diagram persentase skor spatial
thinking.
Gambar 2. Diagram Persentase Skor Spatial Thinking
Proses pembelajaran yang telah dilaksanakan dengan bantuan m-learning
Geografi berbasis web dapat berjalan dengan baik dan sesuai dengan yang
diharapkan. Nilai spatial thinking peserta didik kelas X IPS 3 pada hasil post-test
telah mencapai indikator keberhasilan penelitian yaitu 82%. Nilai spatial thinking
tersebut yaitu comparison 75%, aura 77%, region 92%, transition 85%, analogy
85%, hierarchy 84%, pattern 85% dan association 90%.
0% 20% 40% 60% 80% 100%
Comparison Aura Region transition Analogy Hierarchy Pattern Association
Kenaikan
Post-test
Pre-test
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis penelitan maka dapat ditarik kesimpulan sebagai
berikut:
1. Berdasarkan hasil penilaian produk dari ahli materi, ahli media, pendidik dan
ujicoba peserta didik diperoleh masing-masing skor modus 4 yang termasuk
dalam kategori baik dalam Skala Likert, sehingga dapat dinyatakan bahwa
multimedia pembelajaran interaktif m-learning Geografi untuk meningkatkan
spatial thinking layak digunakan sebagai media pembelajaran, sebab
berdasarkan penilaian produk telah memenuhi syarat dari batas minimal
kelayakan m-learning Geografi skor modus 3 (kategori cukup dalam Skala
Likert) sebagaimana yang telah ditentukan oleh peneliti.
2. Multimedia pembelajaran interaktif m-learning Geografi efektif untuk
meningkatkan spatial thinking berdasarkan hasil analisis peningkatan nilai
pre-test dan post-test yang telah dilaksanakan yakni 61,54 meningkat menjadi
82,31 dengan peningkatan sebesar 33.75%. Berdasarkan hasil pengamatan
kemampuan spatial thinking peserta didik mengalami peningkatan, yakni
dalam kemampuan comparison, aura, region, tra nsition, analogy, hierarchy,
pattern dan association. Pada hasil pre-test kemampuan comparison peserta
didik sebesar 51% setelah dilakukan post-test meningkat menjadi 75%,
kemampuan aura peserta didik sebesar 65% setelah dilakukan post-test
meningkat menjadi 77%, kemampuan region peserta didik sebesar 77%
setelah dilakukan post-test meningkat menjadi 92%, kemampuan transition
peserta didik sebesar 46% setelah dilakukan post-test meningkat menjadi
85%, kemampuan analogy peserta didik sebesar 58% setelah dilakukan
post-test meningkat menjadi 85%, kemampuan hierarchy peserta didik sebesar
peserta didik sebesar 50% meningkat menjadi 85% dan kemampuan association
peserta didik sebesar 71% meningkat menjadi 90%.
Saran
Berdasarkan penelitian dan pengembangan yang telah dilakukan maka dapat
dikemukakan beberapa saran sebagai berikut:
1. Penelitian ini menunjukkan bahwa m-learning Geografi berbasis Adobe Flash
dapat membantu dalam menyampaikan materi pembelajaran sehingga dituntut
untuk lebih kreatif dan inovatif dalam mengkolaborasikan berbagai konten
media didalamnya.
2. Bagi pendidik mata pelajaran Geografi dapat digunakan sebagai media
pembelajaran yang menarik, variatif dan inovatif sehingga peserta didik lebih
antusias dan bersemagat dalam belajar.
3. Bagi peserta didik agar lebih aktif dalam menggali dan mengeksplor
pengetahuan dengan memanfaatkan berbagai sumber belajar yang mendukung
perkembangan pengetahuan dan wawasan. M-learning Geografi ini sebagai
salah satu alternatif pembelajaran untuk mengembangkan, meningkatkan dan
mengeksplorasi ilmu pengetahuan.
4. Bagi penelti selanjutnya untuk lebih berkontribusi dalam mengembangkan media
pembelajaran yang menarik, menyenangkan, kreatif, inovatif dan dapat mengeksplor
DAFTAR PUSTAKA
Alessi, M.S. & Trollip, R.S. (2001). Multimedia for learning, methods and development. Massachusetts: Pearson Education Inc.
Bungin, Burhan. (2005). Metodologi Penelitian Kuantitatif. Jakarta: Kencana Prenada Media Group
Harvey, Jen. (1998). Evaluation Cookbook. Edinburgh: Heriout- Watt University.
Husamah. (2014). Pembelajaran Bauran (Blended Learning) Terampil memadukan keunggulan pembelajaran Face to face, e-learning offline-online dan
Ishikawa, Toru. (2012). Geospatial Thinking and Spatial Ability: An Empirical Examination of Knowledge and Reasoning in Geographical Science. Vol 65, No 4. University of Tokyo.
Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan republik Indonesia No 81 A Tahun 2013 Tentang Implementasi Kurikulum.
Pramono. (2006). Berkreasi Animasi dengan Macromedia Flash MX. Yogyakarta: Andi.