• Tidak ada hasil yang ditemukan

Meningkatkan Hasil Belajar Siswa dengan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Meningkatkan Hasil Belajar Siswa dengan"

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

Meningkatkan Hasil Belajar IPA Tentang Alat Pencernaan ManusiaMelalui Model Pembelajaran Student Team Achievement Division (STAD)

Pada Siswa Kelas V SDN Kuin Utara 6 Banjarmasin

Disampaikan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Metodelogi

Penelitian

Dosen

: Drs. H. Sulaiman, M.Pd

Disusun Oleh

Nama : Maulidi Abdurahman

NIM : A1E311061

Kelas : 6A

No. Absen : 34

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

PROGRAM STUDI S-1 PGSD BANJARMASIN

(2)

KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas perkuliahan, yang berjudul “Meningkatkan Hasil Belajar IPA Tentang Alat Pencernaan Manusia Melalui Model Pembelajaran Student Team Achievement Division (STAD)Pada Siswa Kelas V SDN Kuin Utara 6 Banjarmasin”.

Pada kesempatan ini dengan kerendahan hati yang paling dalam penulis mengucapkan banyak-banyak terimakasih kepada Bapak Drs. H. Sulaiman, M.Pd selaku pembimbing yang telah meluangkan waktu dan tenaga untuk memberikan bimbingan dalam pembuatan tugas ini.

Penulis menyadari bahwa dalam penulisan ini masih banyak kekurangan karena keterbatasan pengetahuan dan pengalaman yang penulis miliki. Semoga tugas ini dapat memberikan manfaat bagi pengembangan mutu pendidikan, terutama dalam rangka peningkatan hasil belajar siswa.

Banjarmasin, Mei 2014

(3)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL SAMPUL ...i

KATA PENGANTAR ...ii

DAFTAR ISI ...iii

BAB I PENDAHULUAN... 4

A. Latar Belakang ... 4

B. Rumusan Masalah ... 7

C. Rencana Perumusan Masalah ... 7

D. Tujuan Penelitian ... 8

E. Manfaat Penelitian ... 8

BAB II KAJIAN PUSTAKA...10

A. Kerangka Teori...10

1. Karakteristik Anak Usia SD ...10

2. Teori Belajar ...12

3. Hakikat Pembelajaran IPA ...13

4. Model Pembelajaran Kooperatif ...14

4.1 Pengertian Pembelajaran Kooperatif ...14

4.2 Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD ...15

5. Media Pembelajaran ...18

5.1 Pengertian Media Pembelajaran ...18

5.2 Penggunaan Media Pembelajaran Berbasis Audio-Visual ...19

B. Kerangka Berpikir...19

C. Hipotesis ...21

DAFTAR PUSTAKA ...22 BAB I

(4)

Pendidikan merupakan serangkaian peristiwa kompleks yang melibatkan beberapa komponen, antara lain tujuan, peserta didik, pendidik, isi/bahan ajar, cara/metode, dan situasi/lingkungan. Hubungan ke enam faktor ini saling berkaitan satu dengan yang lainnya dan saling berhubungan dalam suatu aktifitas suatu pendidikan (Hardikusumo, 1995:36).

Terkait dengan hal diatas, mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan salah satu mata pelajaran pokok di Sekolah Dasar (SD). Mata pelajaran IPA merupakan ilmu yang bersifat empirik dan membahas tentang fakta serta gejala alam.

Salah satu materi pembelajaran IPA di SD, khususnya pada kelas 5, adalah tentang alat pencernaan manusia. Dengan mempelajari materi ini, diharapkan siswa dapat memahami tentang proses pecernaan makanan pada manusia dan dapat mencapai ketuntasan belajar yang telah ditentukan pada mata pelajaran ini.

Kondisi siswa kelas 5 SDN Kuin Utara 6 saat proses pembelajaran materi ini terlihat sangat pasif, siswa tampak hanya duduk rapi mendengarkan

penjelasan dari guru, dan tidak begitu banyak siswa yang bertanya. Sehingga menyebabkan hasil belajar siswa pada materi pelajaran alat pencernaan manusiamenjadi rendah.

Hal ini mungkin disebabkan karena tingkat keaktifan atau aktifitas siswa pada proses pembelajaran IPA ini sangat rendah, terlihat siswa hanya diam dan terkesan tidak ingin bertanya pada guru. Sehingga kemampuan berpikir siswa tidak berkembang dan tingkat pemahaman siswa pada materi ini juga rendah.

Aktivitas yang dimaksudkan di sini penekanannya adalah pada siswa, sebab dengan adanya aktivitas siswa dalam proses pembelajaran terciptalah situasi belajar aktif, seperti yang dikemukakan oleh Rochman Natawijaya dalam Depdiknas (2005:31), belajar aktif adalah “Suatu sistem belajar

mengajar yang menekankan keaktifan siswa secara fisik, mental intelektual dan emosional guna memperoleh hasil belajar berupa perpaduan antara aspek kognitif, afektif dan psikomotor”.

Menurut E. Mulyasa (2003:107), “kualitas pembelajaran sangat ditentukan oleh aktifitas dan kreatifitas guru dengan segala kompetensi

(5)

bergantung pada aktivitas dan kreativitas guru dalam mempersiapkan rencana pembelajaran, penyampaian dan pengembangan materi pelajaran, pemilihan metode dan media pembelajaran, serta penciptaan lingkungan belajar yang kondusif. Guru dapat menggunakan berbagai pendekatan untuk meningkatkan aktivitas dan kreativitas peserta didik. Pendekatan mana yang digunakan, harus disesuaikan dengan kondisi lingkungan, kebutuhan peserta didik, dan tujuan yang ingin dicapai.

Keaktifan siswa selama proses belajar mengajar merupakan salah satu indikator adanya keinginan atau motivasi siswa untuk belajar. Siswa dikatakan memiliki keaktifan apabila ditemukan ciri-ciri perilaku seperti: sering bertanya kepada guru atau siswa lain, mau mengerjakan tugas yang diberikan guru, mampu menjawab pertanyaan, senang diberi tugas belajar, dan lain sebagainya. (Rosalia, 2005:4).

Sedangkan mengenai pemahaman siswa di dalam proses pembelajaran, pada hakikatnya, pemahaman merupakan salah satu bentuk hasil belajar. Pemahaman ini terbentuk akibat dari adanya proses belajar. Dalam teori belajar kognitif menurut Mex Wertheimenr, teori Gestalt, disebutkan bahwa belajar adalah proses yang didasarkan pada pemahaman (insight). Karena pada dasarnya setiap tingkah laku seseorang selalu didasarkan pada kognisi, yaitu tindakan mengenal atau memikirkan situasi di mana tingkah laku tersebut terjadi. Dengan kata lain, teori Gestalt ini menyatakan bahwa yang paling penting dalam proses belajar individu adalah dimengertinya apa yang dipelajari oleh orang tersebut.

Sudjana (2010:24) membagi pemahaman ke dalam 3 kategori, (1) tingkat pertama atau terendah, yaitu pemahaman terjemahan mulai dari terjemahan dalam arti sebenarnya. (2) tingkat kedua, adalah pemahaman penafsiran, yaitu menghubungkan bagian-bagian terdahulu dengan yang diketahui berikutnya, atau menghubungkan beberapa bagian dari grafik dengan kejadian,

membedakan yang pokok dan yang bukan. (3) pemahaman tingkat ketiga atau tingkat tertinggi, yaitu pemahaman ekstrapolasi. Dengan ekstrapolasi

(6)

tentang konsekuensi atau dapat memperluas persepsi dalam arti waktu, dimensi, kasus, ataupun masalahnya.

Sedangkan Partowisastro (1983:22-24), mengemukakan empat macam pengertian pemahaman, yakni sebagai berikut: (1) Pemahaman berarti melihat hubungan yang belum nyata pada pandangan pertama. (2) Pemahaman berarti mampu menerangkan atau dapat melukiskan tentang aspek-aspek tingkatan, sudut-sudut pandangan yang berbeda. (3) Pemahaman berarti

memperkembangkan kesadaran akan faktor-faktor yang penting. (4)

Berkemampuan membuat ramalan yang beralasan mengenai tingkah lakunya. Jika permasalahan tentang keaktifan dan pemahaman pada siswa ini tidak diatasi maka akan berdampak pada hasil belajar siswa yang tidak sesuai dengan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM), sehingga tujuan pembelajaran yang diinginkan pun tidak dapat dicapai. Bahkan akan berdampak lanjut pada terhambatnya pembelajaran dimateri berikutnya.

Untuk mengatasi permasalahan mengenai rendahnya tingkat aktifitas dan pemahaman siswa pada materi alat pencernaan manusia di kelas V SDN Kuin Utara 6, maka pemecahan yang dirasa tepat adalah dengan pelaksanaan kegiatan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran Student Team Achievement Division (STAD) dengan penggunaan media audio-visual.

Penggunaan model STAD bertujuan untuk meningkatkan keaktifan, pemahaman, dan hasil belajar siswa melalui diskusi kelompok. Dan keberhasilan kolektif kelompok yang menjadi tujuan dari diskusi ini,

sehingga setiap siswa di dalam kelompok akan mendapat pemahaman lebih, karena setiap siswa di dalam kelompok akan dituntut untuk belajar dan saling mengajarkan satu sama lain. Karena keberhasilan seorang siswa akan

menentukan keberhasilan kelompoknya (Barlian, 2009).

Kemudian agar proses belajar menjadi lebih menarik, guru dapat menggunakan media audio-visual pada saat guru menyajikan materi

pembelajaran melalui model STAD. Sehingga dengan penggunaan media ini diharapkan dapat merangsang minat dan perhatian siswa di kelas.

(7)

Berdasarkan latar belakang di atas, maka dalam penelitian ini dirumuskan rumusan masalah sebagai berikut:

Apakah penggunaan model pembelajaran STAD dengan media audio-visual dapat meningkatkan keaktifan dan pemahaman siswa terhadap materi alat pencernaan manusia di kelas V SDN Kuin Utara 6?

C. Rencana Perumusan Masalah

Berdasarkan rumusan masalah tersebut di atas, peneliti merancang pemecahan masalah melalui tindakan perbaikan dengan menggunakan pembelajaran kooperatif model STAD pada materi alat pencernaan manusia.

Adapun langkah-langkah penerapan pembelajaran kooperatif model STAD ini adalah sebagai berikut:

1) persiapan pembelajaran, yakni menyiapkan materi pelajaran dan menempatkan siswa dalam kelompok kecil serta menentukan skor dasar

2) penyajian materi, yakni guru dapat memulai dengan menjelaskan tujuan pelajaran dengan menggunakan metode ceramah menggali pengetahuan awal siswa

3) belajar kelompok, yakni menggunakan Lembar Kerja Siswa (LKS), pembelajaran tidak boleh berakhir sampai semua anggota

kelompok menguasai materi

4) pemeriksan terhadap hasil kegiatan kelompok, yakni masing-masing kelompok membacakan di depan kelas kalompok memberikan tanggapan atas jawaban kelompok penyaji 5) siswa mengerjakan soal-soal tes secara individual, dalam

menyelesaikan soal tes siswa tidak boleh kerjasama

6) pemeriksan hasil tes, guru membuat daftar skor peningkatan individu dan dimasukan menjadi skor kelompok

(8)

Ketujuh tahap tersebut diberi bimbingan secara intensif oleh guru selama proses tindakan berlangsung.

D. Tujuan Penelitian

Berdasarkan permasalahan di atas, maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan keaktifan dan pemahaman siswa terhadap materi

pembelajaran alat pencernaan manusia melalui pembelajaran kooperatif model Student Team Achievement Division(STAD) di kelas V SDN Kuin Utara 6.

E. Manfaat Penelitian

a. Manfaat bagi guru:

1) Menumbuhkan kreativitas guru untuk lebih inovatif dalam menyajikan proses pembelajaran

2) Membantu guru untuk menyelesaikan masalah-masalah pembelajaran di dalam kelas yang diampu

3) Sebagai bahan masukan untuk mempopulerkan model-model pembelajaran modern yang menuntut keaktifan siswa di dalam proses belajar mengajar

b. Manfaat bagi siswa

1) Meningkatkan semangat belajar siswa kelas V SDN Kuin Utara 6 pada mata pelajaran IPA tentang materi alat pencernaan manusia 2) Meningkatkan aktivitas siswa dalam proses pembelajaran dan

meningkatkan prestasi belajar siswa setelah mengikuti proses pembelajaran

(9)

c. Manfaat bagi sekolah

1) Dapat menerapkan konsep pembelajaran yang mengajak siswa terlibat langsung sehinga dapat meningkatkan keberanian, keterampilan, dan kepercayaan diri pada masing-masing individu 2) Digunakan sebagai pertimbangan dalam memotivasi guru untuk

melaksanakan proses pembelajaran yang efektif dan efisien dengan melaksanakan pembelajaran yang inovatif

3) Menumbuhkan kerja sama antar guru yang berdampak positif pada kualitas pembelajaran di sekolah.

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Kerangka Teori

(10)

Sebagai manusia yang berpotensi, maka di dalam diri anak didik ada suatu daya yang dapat tumbuh dan berkembang di sepanjang usianya. Sebagai makhluk sosial anak didik memiliki karakteristik tertentu yaitu:

a. Belum memiliki pribadi dewasa susila sehingga masih menjadi tanggung jawab pendidik.

b. Masih menyempurnakan aspek tertentu dari kedewasaannya sehingga masih menjadi tanggung jawab pendidik.

c. Memiliki sifat-sifat dasar manusia yang sedang berkembang secara terpadu, yaitu kebutuhan biologis, rohani, sosial, intelegensi, emosi, kemampuan bicara, kerja anggota tubuh, latar belakang sosial, biologis serta perbedaan individu (Djamarah, 2005:52).

Guru perlu memahami karakteristik anak didik sehingga mudah melaksanakan interaksi edukatif, yang dapat menunjang kegiatan pembelajaran itu sendiri sehingga akan tercipta suasana yang kondusif, efektif dan efisien guna mencapai tujuan pembelajaran itu sendiri.

Perkembangan merupakan suatu perubahan, dan perubahan ini tidak bersifat kuantitatif. Perkembangan tidak ditekankan pada segi materi, melainkan pada segi fungsional (Dalyono, 2009:78).

Menurut Nasution dalam (Djamarah, 2005:123) ‘masa sekolah dasar sebagai masa kanak-kanak akhir yang berlangsung dari usia enam tahun hingga kira-kira sebelas atau dua belas tahun. Usia ini ditandai dengan mulainya anak masuk sekolah dasar, dan dimulainya sejarah baru dalam kehidupannya yang kelak akan mengubah sikap-sikap dan tingkah lakunya. Masa usia sekolah dapat juga disebut masa matang, karena pada saat itu untuk pertama kalinya mereka menerima pendidikan secara formal’.

(11)

besar pada perkembangannya, lingkungan yang baik adalah lingkungan yang edukatif yang mampu mendukung arah perkembangannya kearah yang positif, roda becak bagian belakang adalah orang tua anak tesebut, yang dapat men-support, memfasilitasi, dan memberi arah sesuai norma dan aturan pada masyarakat dan keluarga’.

Slavin (2008:105) “Anak-anak yang memasuki kelas satu sekolah dasar berada dalam periode transisi dari pertumbuhann pesat masa anak-anak awal ke fase perkembangan yang lebih bertahap. Perubahan dalam perkembangan mental maupun sosial menjadi ciri khas masa-masa sekolah awal”.

Beberapa tahun kemudian, ketika anak-anak mencapai kelas sekolah dasar yang lebih tinggi, mereka mendekati akhir masa anak-anak dan memasuki masa pra-remaja.

Ditunjau dari teori perkembangan kognitif, anak SD memasuki tahap operasional konkret. Dari apa yang dipelajari di sekolah, ia belajar

menghubungkan konsep-konsep baru dengan konsep-konsep lama. Berdasar pengalaman ini, siswa membentuk konsep-konsep tentang angka, ruang, waktu, fungsi-fungsi badan, jenis kelamin, moral, dan sebagainya. Bagi anak SD, penjelasan guru tentang materi pelajaran akan lebih dipahami jika anak melaksanakan sendiri, sama halnya dengan memberi contoh bagi orang dewasa. Dengan demikian guru hendaknya merancang model pembelajaran yang memungkinkan anak terlibat langsung dalam proses pembelajaran. Sebagai contoh, anak akan lebih memahami tentang arah mata angin dengan cara membawa anak langsung kearah mata angin tersebut, bahkan dengan sedikit menjulurkan lidah, akan diketahui secara persis dari arah mana angin saat itu bertiup.

(12)

Albert Bandura (Lapono, 2010:9) mengemukakan bahwa ‘belajar sebagai aktifitas meniru melalui pengamatan (observasi), individu yang perilakunya ditiru menjadi model pembelajar yang meniru’.

Menurut Gagne dalam (Dahar, 2006:2) ‘belajar dapat didefinisikan sebagai suatu proses di mana suatu organisasi berubah perilakunya sebagai akibat pengalaman’.

Menurut Ernest R. Hilgard (Sumardi Suryabrata, 1984:252), ‘belajar merupakan proses perbuatan yang dilakukan dengan sengaja, yang

kemudian menimbulkan perubahan, yang keadaannya berbeda dari perubahan yang ditimbulkan oleh lainnya’. (Haryanto, 2010:online)

Menurut Morgan (Gino, 1988:5) menyatakan bahwa belajar adalah merupakan salah satu yang relatif tetap dari tingkah laku sebagai akibat dari pengalaman. (Solihin, 2014:online).Dengan demikian dapat diketahui bahwa belajar adalah usaha sadar yang dilakukan manusia melalui pengalaman dan latihan untuk memperoleh kemampuan baru dan

merupakan perubahan tingkah laku yang relatif tetap, sebagai akibat dari latihan.

Selanjutnya menurut Gerow (1989:168) mengemukakan bahwa “Learning is demonstrated by a relatively permanent change in behavior that occurs as the result of practice or experience”.

Belajar adalah ditunjukkan oleh perubahan yang relatif tetap dalam perilaku yang terjadi karena adanya latihan dan pengalaman-pengalaman. (Solihin, 2014:online)

Di pihak lain, Slameto (Djamarah, 2002:13) juga merumuskan pengertian tentang belajar. Menurutnya belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.

(13)

Sains menurut Suyoso (1998:23) ‘merupakan pengetahuan hasil kegiatan manusia yang bersifat aktif dan dinamis tiada henti-hentinya serta diperoleh melalui metode tertentu yaitu teratur, sistematis, berobjek, bermetode dan berlaku secara universal’. (Rajieb, 2013:online)

Menurut H.W Fowler (Trianto, 2010), ‘IPA adalah pengetahuan yang sistematis dan dirumuskan yang berhubungan dengan gelaja-gejala

kebendaan dan didasarkan terutama atas pengamatan dan deduksi. Sedangkan Kardi dan Nur (Trianto, 2010) mengatakan bahwa, ‘IPA atau ilmu kealaman adalah ilmu tentang dunia zat, baik makhluk hidup maupun benda mati yang diamati’. (Arief, 2013:online)

Menurut kurikulum KTSP (Depdiknas, 2006) bahwa “IPA berhubungan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis, sehingga bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta, konsep, atau prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses penemuan”.

Muslichah (2006:22) menyatakan bahwa keterampilan proses yang perlu dilatih dalam pembelajaran IPA meliputi keterampilan proses dasar misalnya mengamati, mengukur, mengklasifikasikan, mengkomunikasikan, mengenal hubungan ruang dan waktu, serta keterampilan proses terintegrasi misalnya merancang dan melakukan eksperimen yang meliputi menyusun hipotesis, menentukan variabel, menyusun definisi operasional, menafsirkan data, menganalisis dan mensintesis data. (Samultian, 2013:online)

Poedjiati (2005:78) menyebutkan bahwa keterampilan dasar dalam pendekatan proses adalah observasi, menghitung, mengukur,

(14)

produk-produk IPA yaitu fakta, konsep, generalisasi, hukum dan teori-teori baru. (Samultian, 2013:online)

4. Model Pembelajaran

4.1Pengertian Pembelajaran Kooperatif

Menurut Johnson (Isjoni, 2007:23), pembelajaran kooperatif mempunyai ciri-ciri: 1) saling ketergantungan yang positif, 2) dapat dipertanggungjawabkan secara individu, 3) heterogen, 4) berbagi

kepemimpinan, 5) berbagi tanggungjawab, 6) ditekankan pada tugas dan kebersamaan, 7) mempunyai ketrampilan dalam berhubungan sosial, 8) guru mengamati, dan 9) efektivitas tergantung pada kelompok.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Pembelajaran kooperatif memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

1) Untuk menuntaskan materi belajarnya, siswa belajar dalam kelompok secara kooperatif.

2) Kelompok dibentuk dari siswa-siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang dan rendah.

3) Jika dalam kelas terdapat siswa-siswa yang terdiri dari beberapa ras, suku, budaya jenis kelamin yang berbeda, maka diupayakan agar dalam tiap kelompok terdiri dari ras, suku, budaya, jenis kelamin yang berbeda pula, dan

4) Penghargaan lebih diutamakan pada kerja kelompok dari pada perorangan.

(15)

Menurut Kauchak dan Eggen (Azizah, 1998) ‘Cooperative

learning merupakan strategi pembelajaran yang melibatkan siswa untuk bekerja secara kolaboratif dalam mencapai tujuan. (Dedi, 2013:online)

Berdasarkan beberapa pendapat yang ada, pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang memandang keberhasilan individu

diorientasikan dalam keberhasilan kelompok. Dalam hal ini, maka siswa bekerjasama dalam mencapai tujuan dan siswa berusaha keras membantu dan mendorong teman-temannya untuk berhasil bersama-sama dalam belajar (Khair, 2013:33).

4.2 Model Pembelajaran Kooperatif STAD

Menurut Slavin (Darmiyati, 2008:16) Model pembelajaran tipe STAD adalah pembelajaran kooperatif yang paling sederhana. Siswa ditempatkan dalam tim belajar beranggotakan empat orang yang merupakan campuran menurut tingkat kinerja, jenis kelamin dan suku. Guru menyajikan pelajaran kemudian siswa bekerja dalam tim untuk memastikan bahwa seluruh anggota tim telah menguasai pelajaran tersebut. Akhirnya seluruh siswa dikenai kuis tentang materi itu dimana pada saat kuis mereka tidak boleh saling membantu.

Nasution (Darmiyati, 2008:17) menyatakan strategi pembelajaran kooperatif model STAD menekankan pada kerja kelompok dan tanggung jawab bersama dalam mencapai tujuan dan adanya saling interaksi diantara anggota kelompok belajar.

Menurut Slavin (Eggen dan Kauchak, 2012:144) STAD adalah sebuah strategi pembelajaran kooperatif yang memberi tim

berkemampuan majemuk latihan untuk mempelajari konsep dan keahlian.

(16)

1. Membentuk kelompok yang terdiri dari 4 orang peserta didik yang memiliki kemampuan beragam.

2. Guru menyajikan pelajaran, dan peserta didik menyimak. 3. Guru memberi tugas kepada kelompok untuk dikerjakan oleh

anggotaanggota kelompok. Anggota yang tahu menjelaskan kepada anggota lainnya sampai semua anggota dalam kelompok itu

memahami.

4. Guru memberi soal kepada seluruh siswa. Pada saat menjawab soal, sesama anggota kelompok tidak boleh saling membantu.

5. Guru memberi nilai kelompok berdasarkan dari jumlah nilai yang berhasil diperoleh seluruh anggota kelompok.

6. Guru mengevaluasi kegiatan belajar, dan

7. Menyimpulkan materi pembelajaran (Mulyatiningsih, 2012:245)

Tahap-tahap pelaksanaan model pembelajaran STAD:

a) Persiapan materi dan penetapan siswa dalam kelompok

b) Sebelum menyajikan harus menyiapkan lembar kegiatan siswa dan lembar jawaban yang akan dipelajari siswa dalam kelompok. Kemudian penetapan siswa dalam kelompok yang beranggotakan 4 – 6 orang dilakukan dengan heteroginitas. Maksud kelompok heterogen ini terdiri dari campuran kemampuan siswa, jenis kelamin, dan suku. Hal ini bermanfaat untuk melatih siswa menerima perbedaan pendapat dalam bekerja dengan teman yang berbeda latar belakangnya.

c) Penyajian materi pelajaran, di tekankan pada hal-hal berikut:

 Pendahuluan; disini perlu ditekankan apa yang akan dipelajari dalam kelompok dan menginformasikan hal yang penting untuk memotivasi rasa ingin tahu siswa tentang konsep yang akan dipelajari.

(17)

jawaban diberikan sesering mungkin untuk mengontrol pemahaman siswa dan jawaban siswa harus diberikan penjelasan benar atau salah. Jika siswa memahami konsep maka dapat beralih ke konsep lain.

 Praktek terkendali; dilakukan dalam menyajikan materi dengan cara menyeluruh siswa mengerjakan soal, memanggil secara acak untuk menjawab atau

menyelesaiakan masalah agar siswa selalu siap, dan dalam memberikan tugas jangan menyita waktu lama.

d) Kegiatan kelompok

Guru membagikan LKS kepada setiap kelompok sebagai bahan yang akan dipelajari siswa. Guru memberikan bantuan dengan memperjelas perintah mereviu konsep dan jawaban pertanyaan siswa. Perlu ditekankan kepada siswa bahwa mereka belum boleh mengakhiri diskusinya sebelum mereka yakin bahwa seluruh anggota timnya menyelesaikan seluruh tugas. Siswa diminta menjelaskan jawabannya di lembar kerja siswa (LKS). Apabila seorang siswa memiliki pertanyaan, teman satu kelompok diminta untuk menjelaskan, sebelum menanyakan jawabannya kepada guru. Pada saat siswa sedang bekerja dalam kelompok, guru berkeliling di antara anggota kelompok, memberikan pujian dan mengamati bagaimana kelompok bekerja.

e) Evaluasi

Dilakukan selama beberapa menit secara mandiri untuk

(18)

mereka pelajari sebagai individu. Hasil evaluasi digunakan sebagai nilai perkembangan individu dan disumbangkan untuk nilai perkembangan kelompok.

f) Penghargaan kelompok

Menurut Naparin (Darmiyati, 2008:18) menyatakan ”Kelompok diberikan dalam tingkatan penghargaan seperti kelompok baik, kelompok hebat dan kelompok super”. Waktu yang baik untuk mengumumkan skor kelompok pada pertemuan pertama setelah tes. Hal ini akan meningkatkan motivasi mereka untuk melakukan yang terbaik.

5. Media Pembelajaran

5.1 Pengertian Media Pembelajaran

Kata media berasal dari bahasa latin medius yang secara harfiah berarti ‘tengah’, ‘perantara’, atau ‘pengantar’. Gerlach dan Ely dalam Arsyad (2011:3) mengatakan bahwa ‘media apabila dipahami secara garis besar adalah manusia, materi, atau kejadian yang membangun kondisi yang membuat siswa mampu memperoleh pengetahuan, keterampilan, atau sikap.

Media pembelajaran secara umum adalah alat bantu proses belajar mengajar. Segala sesuatu yang dapat dipergunakan untuk merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan kemampuan atau ketrampilan pebelajar sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar. Batasan ini cukup luas dan mendalam mencakup pengertian sumber, lingkungan, manusia dan metode yang dimanfaatkan untuk tujuan pembelajaran/pelatihan. (Haryanto, 2012:online)

(19)

video recorder, film, slide, foto, gambar, grafik, televisi, dan komputer.

Dengan kata lain, media adalah komponen sumber belajar atau wahana fisik yang mengandung materi instruksional di lingkungan siswa yang dapat merangsang siswa untuk belajar (Arsyad, 2011:4-5)

Sedangkan menurut Briggs (1977) ”media pembelajaran adalah sarana fisik untuk menyampaikan isi/materi pembelajaran seperti: buku, film, video dan sebagainya”.

5.2 Penggunaan Media Berbasis Audio-Visual

Media visual yang menggabunkan penggunaan suara

memerlukan pekerjaan tambahan untuk memproduksinya. Salah satu pekerjaan penting yang diperlukan dalam media audio-visual adalah penulisan naskah dan storyboard yang memerlukan persiapan yang banyak, rancangan, dan penelitian.

B. Kerangka Berpikir

Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) berhubungan dengan mencari tahu tentang alam secara sistematis, sehingga pelajaran IPA bukan hanya tentang penguasaan kumpulan fakta-fakta, konsep-konsep, dan pengetahuan saja melainkan tentang sebuah proses penemuan yang dialami siswa.

Artinya siswa mengalami proses pembelajaran secara utuh, siswa diajak untuk memahami fenomena alam yang terjadi melalui berbagai kegiatan penemuan dan pemecahan masalah.

Pendidikan IPA diharapkan dapat menjadi wahana bagi peserta didik untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar, serta prospek

pengembangan lebih lanjut dalam menerapkannya di dalam kehidupan sehari-hari. Proses pembelajarannya menekankan pada pemberian

(20)

Kenyataannya, pada pembelajaran IPA di lapangan siswa terlihat kurang aktif dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. Akibatnya proses pembelajaran cenderung menjadi pasif dan banyak didominasi oleh guru, hal tersebut menyebabkan keterampilan berpikir siswa tidak tumbuh dan berkembang dengan baik.

Jika permasalahan tentang keaktifan dan pemahaman pada siswa ini tidak diatasi maka akan berdampak pada hasil belajar siswa yang tidak sesuai dengan KKM, sehingga tujuan pembelajaran yang diinginkan pun tidak dapat dicapai. Bahkan akan berdampak lanjut pada terhambatnya proses pembelajaran pada materi berikutnya.

Padahal, keberhasilan kegiatan pembelajaran sangat tergantung kepada tingkat aktivitas siswa dalam proses pembelajaran. Pembelajaran yang berjalan dengan baik dan menyenangkan juga akan meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa dalam pembelajaran.

Sukidin (Bambang, 2009:49) Pembelajaran kooperatif merupakan strategi pembelajaran yang mengutamakan adanya kerjasama, yakni kerjasama antar siswa dalam kelompok untuk mencapai tujuan

pembelajaran. Para siswa dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil dan diarahkan untuk mempelajari materi yang telah ditentukan. Tujuan

pembelajaran kooperatif adalah untuk membangkitkan interaksi yang efektif diantara anggota kelompok melalui diskusi. Dengan interaksi yang efektif dimungkinkan semua anggota kelompok dapat menguasai materi pada tingkat yang relatif sejajar.

(21)

Dan untuk meningkatkan minat belajar siswa, media audio-visual yang relevan dengan materi pembelajaran dapat digunakan sebagai alat bantu pembelajaran agar proses pembelajaran menjadi lebih menarik dan tidak terkesan monoton.

C. Hipotesis

Berdasarkan kerangka berpikir di atas, maka hipotesis penelitian ini dapat dirumuskan bahwa hasil belajar siswa kelas V SDN Kuin Utara 6 tentang alat pencernaan manusia akan meningkat jika menggunakan model Student Teams Achievement Division (STAD) dan dibantu dengan media pembelajaran audio-visual.

(22)

Arief, Ardha. 2013. Hakikat Pembelajaran IPA. [online]. Tersedia.

http://ardhaphys.blogspot.com/2013/04/vbehaviorurldefaultvmlo_92 76.html [29 April 2013]

Arsyad, Azhar. 2011. Media Pembelajaran. Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada

Dalyono . 2008. Psikologi Pendidikan. Jakarta : Rineka Cipta

Dedi. 2013. Pengertian Pembelajaran Kooperatif Menurut Para Ahli. [online]. Tersedia: http://dedi26.blogspot.com/2013/05/pengertian-pembelajaran-kooperatif.html [6 Mei 2013]

Djamarah, Syaiful Bahri. 2005. Guru dan Anak Didik. Jakarta: RinekaCipta

Djamarah, Syaiful Bahri. 2008. Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta Haryanto. 2004. Sains untuk Sekolah Dasar Kelas V. Jakarta: Erlangga Haryanto. 2010. Pengetian Belajar Menurut Para Ahli. [online]. Tersedia:

http://belajarpsikologi.com/pengertian-belajar-menurut-para-ahli [22 November 2010]

Haryanto. 2012. Pengertian Media Pembelajaran. [online]. Tersedia: http://belajarpsikologi.com/pengertian-media-pembelajaran [21 Januari 2012]

Lapono, Nabisi. Dkk. 2010.Belajar dan pembelajaran, Jakarta:Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi

Mudjiono & Dimyati 2009. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: PT. Rineka Cipta.

Mulyasa.H.E. 2009. Praktik Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: PT .Remaja Rosdakarya

Rajieb Ahmed. 2013. Hakikat IPA. [online]. Tersedia:

http://utakatikituk.blogspot.com/2013/03/hakikat-ipa-a_17.html [17 Maret 2013]

Samultian, Cayang. 2013. [online]. Tersedia:

(23)

Trianto. 2007. Model pembelajaran terpadu dalam teori dan praktik. Jakarta: Prestasi Pustaka

Trianto. 2010. Model Pembelajaran Terpadu. Jakarta: PT. Bumi Aksara. Trianto. 2010. Model Pembelajaran Terapdu: Konsep strategi, dan

Referensi

Dokumen terkait

Formulir biodata harus diisi lengkap terlebih dahulu secara online kemudian di cetak dan dikirimkan bersama dengan berkas lamaran (di cetak dua, satu dikirim

Dalam kacamata cultural studies hal ini menjadi hal yang penting, karena potret komodifikasi dalam budaya pop bukan lagi masalah produk kreatif yang dihasilkan dari masyarakat

Berdasarkan hasil penelitian mengenai reaksi siklisasi-asetilasi sitronelal dengan menggunakan enzim lipase dari Aspergillus niger sebagai katalis dapat disimpulkan bahwa

program pemerintah kepada publik sesuai arahan Presiden;. melaksanakan diseminasi dan edukasi terkait

PENERAPAN PENDEKATAN KONSTRUKTIVISME UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF SISWA KELAS V PADA PEMBELAJARAN IPA MATERI POKOK SIFAT-SIFAT CAHAYA.. Universitas

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan segala rahmat serta hidayah-NYA, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul

Muamalah adalah bagian dari hukum Islam yang berkaitan dengan hak dan harta yang muncul dari transaksi antara seseorang dengan orang lain, atau antara seseorang dengan badan

resiko cedera pada bagian tubuh yang melakukan aktifitas kerja fisik yang statis. Sebagian besar industri belum merealisasikan pentingnya