• Tidak ada hasil yang ditemukan

UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN FAKULTAS HUKUM

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN FAKULTAS HUKUM"

Copied!
24
0
0

Teks penuh

(1)

UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN FAKULTAS HUKUM

Terakreditasi Berdasarkan Keputusan Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi

Nomor: 429/SK/BAN-PT/Akred/S/XI/2014

“Analisis Yuridik Tanggung Jawab Apoteker, Konsumen dan Pengemudi Dalam Transaksi Go-Med Menurut Kitab Undang-Undang Hukum Perdata”

OLEH

Nama Penyusun : Prabawati Claraningtyas

NPM : 2013200274

PEMBIMBING I

Djaya Sembiring Meliala, S.H., M.H.

PEMBIMBING II

Aluisius Dwi Rachmanto, S.H., M.Hum.

Penulisan Hukum

Disusun Sebagai Salah Satu Kelengkapan Untuk Menyelesaikan Program Pendidikan Sarjana

Program Studi Ilmu Hukum

(2)

i

Disetujui Untuk Diajukan Dalam Sidang Ujian Penulisan Hukum Fakultas Hukum

Universitas Katolik Parahyangan

Pembimbing I

(Djaya Sembiring Meliala, S.H., M.H.)

Pembimbing II

(Aluisius Dwi Rachmanto, S.H., M.Hum.)

Dekan,

(3)

PERNYATAAN INTEGRITAS AKADEMIK

Dalam rangka mewujudkan nilai-nilai ideal dan standar mutu akademik yang setinggi-tingginya, maka Saya, Mahasiswi Fakultas Hukum Katolik Parahyangan uang bertandatangan di bawah ini:

Nama : Prabawati Claraningtyas

No. Pokok : 2013200274

Dengan ini menyatatakan dengan penuh kejujuran dan dengan kesungguhan hati dan pikiran, bahwa karya ilmiah / karya penulisan hukum yang berjudul:

Analisis Yuridik Tanggung Jawab Apoteker, Konsumen dan Pengemudi Dalam Transaksi Go-Med Menurut Kitab Undang-Undang Hukum Perdata adalah sungguh-sungguh merupakan karya ilmiah /Karya Penulisan Hukum yang telah Saya susun dan selesaikan atas dasar upaya, kemampuan dan pengesahan akademik Saya pribadi, dan sekurang-kurangnya tidak dibuat melalui dan/atau mengandung hasil dari tindakan-tindakan yang

a. secara tidak jujur dan secara langsung atau tidak langsung melanggar

hak-hak atas kekayaan intelektual orang lain, dan/atau

b. dari segi akademik dapat dianggap tidak jujur dan melanggar nilai-nilai

integritas akademik dan itikad baik;

Seandainya di kemudian hari ternyata bahwa Saya telah menyalahi dan/atau melanggar pernyataan Saya di atas, maka Saya sanggup menerima akibat-akibat dan/atau sanksi-sanksi sesuai dengan peraturan yang berlaku di lingkungan Universitas Katolik Parahyangan dan/atau peraturan perundang-undangan yang berlaku.

(4)

Pernyataan ini Saya buat dengan penuh kesadaran dan kesukarelaan, tanpa paksaan dalam bentuk apapun juga.

Bandung, 6 Juni 2017

Mahasiswi Penyusun Karya Ilmiah /Karya Penulisan Hukum

Prabawati Claraningtyas 2013200274

(5)

ABSTRAK

Manusia merupakan makhluk sosial, di mana ia selalu berinteraksi satu

sama lain untuk memenuhi kebutuhannya. Kebutuhan pokok manusia

terdiri atas kebutuhan sandang, pangan dan papan. Seiring

bertambahnya kebutuhan manusia, tidak hanya cukup dengan

kebutuhan pokok tersebut. Manusia membutuhkan alat transportasi

untuk melakukan perpindahan. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut

maka muncullah alat-alat transportasi untuk mengakomodasi hal- hal

tersebut.

Mobilitas yang terus menerus dilakukan manusia tidak menutup

kemungkinan untuk dilakukan komunikasi pada jarak jauh.

Komunikasi secara langsung yakni

person to person

dianggap tidak

dapat mewakili seluruh kebutuhan manusia dalam berkomunikasi.

Manusia membutuhkan teknologi tertentu untuk membantu kehidupan

sehari-hari. Tidak hanya terbatas pada media komunikasi, namun juga

meliputi media transportasi.

Perkembangan selanjutnya muncul penggabungan media komunikasi

dan transportasi. Penggabungan tersebut difasilitasi oleh sebuah

perusahaan teknologi di mana perusahaan tersebut tidak hanya

mengakomodir permasalahan transportasi dan komunikasi, namun juga

mengenai penyediaan fasilitas obat-obatan. Hal yang disebut terakhir

merupakan jembatan bagi manusia untuk mengenal sistem pembelian

obat dengan bantuan teknologi berbasis aplikasi.

(6)

ii

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan berkat dan rahmat-Nya. Sehingga dapat terselesaikan penulisan

hukum berupa skripsi dengan judul Analisis Yuridik Tanggung Jawab,

Apoteker, Konsumen dan Pengemudi dalam Transaksi Go-Med Menurut

Kitab Undang-Undang Hukum Perdata”. Penulisan ini disusun sebagai salah

satu kelengkapan untuk menyelesaikan program pendidikan sarjana program studi Ilmu Hukum periode 2017 yang diselenggarakan oleh Universitas Katolik Parahyangan . Semoga penulisan ini dapat menambah wawasan dan pengetahuan bagi pembaca, serta dapat digunakan sebagai referensi dalam perkembangan ilmu pengetahuan.

Penulis menyadari bahwa tanpa bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak, maka penulisan ini tidak dapat diselesaikan dengan baik. Pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada:

1. Dr. Tristam P. Moeliono, SH., M.H., LL.M selaku Dekan Fakultas

Hukum Universitas Katolik Parahyangan.

2. Dr. Niken Savitri, S.H., MCL selaku Wakil Dekan I Bidang Akademik

Fakultas Hukum Universitas Katolik Parahyangan.

3. Wurinalya Maria Novenanty, SH., LL.M selaku Wakil Dekan III Bidang

Kemahasiswaan dan Alumni Fakultas Hukum Universitas Katolik Parahyangan.

4. Djaya Sembiring Meliala, S.H., M.H selaku Dosen Pembimbing I (satu)

dalam penulisan hukum ini.

5. Aluisius Dwi Rachmanto, S.H., M.Hum selaku selaku Dosen

Pembimbing II (dua) dalam penulisan hukum ini.

6. Dr. Sentosa Sembiring, S.H., M.H yang telah meluangkan waktunya

untuk berdiskusi serta memberikan koreksi mengenai objek penulisan ini terhadap fenomena yang ada pada masyarakat.

(7)

iii

7. Yanly Gandawijaya, S.H., SP1., M.H yang telah meluangkan waktunya

untuk berdiskusi serta memberikan tanggapan mengenai permasalahan yang diajukan penulis.

8. Maria Ulfah, S.H., M.Hum yang telah sangat membimbing penulis

dalam membuat kutipan, parafrase dan catatan kaki.

9. FORWARD (Forum of Writing and Receptive Discussions) 198 yang

telah memberikan wadah kepada penulis sebagai salah satu komunitas yang bergerak di bidang penulisan.

10.Keluarga besar yang selalu memberi semangat, dukungan serta selalu

percaya bahwa penulis akan menyelesaikan penulisan ini tepat waktu.

11.Lingkungan perkuliahan, tempat tinggal dan gereja yang harmonis serta

memiliki nilai kekeluargaan yang tinggi.

12.Dosen-dosen Fakultas Hukum Universitas Katolik Parahyangan yang

telah banyak membantu dengan memberikan sumbangan ilmu pengetahuan yang sangat bermanfaat bagi penulis. Tidak hanya pada bidang akademik, namun juga dalam kehidupan sehari-hari.

13.Pihak-pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah

(8)

iv DAFTAR ISI

Halaman Pengesahan………... i

Kata Pengantar………. ii

Daftar Isi……….. iv

Daftar Tabel………. vii

Bab I Pendahuluan I. Latar Belakang………. 1 2. Perumusan Masalah………. 10 3. Tujuan Penelitian………. 10 4. Manfaat Penelitian………... 10 5. Metode Penelitian……… 10 6. Sistematika Penelitian……….. 12

Bab II Tinjauan Umum Perjanjian 1. Pengertian Perjanjian………... 14

2. Subjek dan Objek Perjanjian……… 16

3. Asas Dalam Perjanjian………. 20

4. Jenis-jenis Perjanjian Pada Umumnya……….. 22

5. Wanprestasi ………. 26

6. Berakhirnya Perjanjian………. 27

Bab III Perkembangan Sistem Transportasi Jalan Online 1. Pengertian Pengangkutan………. 29

2. Pihak yang Terkait dalam Pengangkutan………. 31

3. Perjanjian Pengangkutan……….. 34

4. Asas-asas dan Tujuan Hukum Pengangkutan……….. 35

5. Kategori Pengangkutan Menurut UU No.22 Tahun 2009………. 37

6. Kedudukan Transportasi Jalan Menurut UU No.22 Tahun 2009 dan PP No. 74 Tahun 2014... 38 6.1 Perusahaan Angkutan Umum……… 38

(9)

v

6.3 Angkutan Orang dengan Kendaraan Bermotor Umum dalam Trayek….. 41

6.4 Angkutan Orang dengan Kendaraan Bermotor Umum Tidak dalam Trayek ……….. 42 7. Kedudukan Hukum Transportasi Jalan Online Berupa Kendaraan Beroda Dua (Sepeda Motor)………. 43 7.1 Istilah Transportasi Jalan Online……… 44

7.2 Para Pihak Dalam Go-Med………. 45

7.2.1 Go-Jek……….. 45

7.2.2 Apoteker………... 46

7.2.3 Pengemudi……… 47

7.2.4 Konsumen……… 47

7.3 Hubungan Apoteker, Konsumen dan Pengemudi dalam Go-Med……… 48

7.4 Pengaturan tentang Sepeda Motor……….. 49

7.5 Angkutan Orang dengan Kendaraan Bermotor Umum ……….. 50

7.6 Angkutan Barang dengan Kendaraan Bermotor Umum………. 52

8. Pembaharuan Sistem Pengangkutan dengan Sistem Informasi dan Transaksi Elektronik………. 53 Bab IV Analisis Hubungan Apoteker, Konsumen dan Pengemudi dalam Go-Med 1. Tanggung Jawab Apoteker Terhadap Konsumen………. 55

1.1 Kedudukan Apoteker Menurut PP No. 51 Tahun 2009……….. 55

1.2 Kedudukan Konsumen Menurut KUHPerdata………... 56

1.3 Tanggung Jawab PT. Gojek, Apoteker dan Konsumen………. 57

1.3.1 Tanggung Jawab PT. Gojek………. 57

1.3.2 Tanggung Jawab Apoteker………... 59

1.3.3 Tanggung Jawab Konsumen………. 62

4. Tanggung Jawab Pengemudi Terhadap Konsumen……….. 68

4.1 Kedudukan Pengemudi Menurut UU No. 22 Tahun 2009………. 68

4.2 Tanggung Jawab Pengemudi dan Konsumen………. 69

4.2.1 Tanggung Jawab Pengemudi……… 69

(10)

vi Bab V Kesimpulan dan Saran

5.1 Kesimpulan……… 72 5.2 Saran……….. 79

(11)

vii

DAFTAR TABEL

Bab 3 Perkembangan Sistem Transportasi Jalan Online

Tabel 3.1 Klasifikasi Kendaraan Bermotor Umum……… 50

Tabel 3.2 Perbedaan Barang Berbahaya dan Tidak Berbahaya……… 52

Bab 4 Analisis Hubungan Apoteker, Konsumen dan Pengemudi dalam Go-Med

(12)

1 BAB 1

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Manusia merupakan makhluk sosial yang hidup berdampingan dengan manusia yang lainnya. Sebagai makhluk sosial, manusia tidak terlepas dari pemenuhan kebutuhan sehari-hari baik kebutuhan primer dan sekunder. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut manusia berinteraksi satu dengan yang lain untuk membagi-bagi tugasnya masing-masing. Dalam proses interaksi tersebut terdapat proses mobilisasi dari satu tempat ke tempat yang lain. Mobilisasi tersebut semakin lama semakin luas dan menjangkau berbagai tempat.

Pada jaman dahulu, transportasi umum yang sering digunakan adalah delman dan becak yang menggunakan tenaga manusia. Seiring berjalannya waktu muncul perkembangan dan/atau pembaharuan dari moda transportasi baik transportasi udara, darat, laut dan kereta api berdampingan dengan kebutuhan masyarakat. Pada transportasi darat, umumnya masyarakat menggunakan jalur jalan raya dan kereta api. Becak dan delman yang menggunakan tenaga manusia

mulai tergantikan dengan kendaraan bermotor1 yang menggunakan tenaga

mesin demi memenuhi tuntutan masyarakat akan efisiensi waktu dan tenaga.

Perkembangan jaman tidak hanya terbatas pada bidang transportasi namun juga pada bidang teknologi komunikasi. Kebutuhan masyarakat akan komunikasi jarak jauh telah dijawab dengan hadirnya telepon genggam yang sifatnya nirkabel sehingga memudahkan untuk dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain. Telepon genggam pun mengalami perkembangan menjadi telepon pintar

1 Menurut Pasal 1 ayat 8 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan

Angkutan Jalan (LNRI Tahun 2009 Nomor 96, TLN Nomor 5025), Kendaraan Bermotor adalah setiap kendaraan yang digerakkan oleh peralatan mekanik berupa mesin selain Kendaraan yang berjalan di atas rel.

(13)

2

(smartphone) yang dapat mengakses data melalui internet serta dilengkapi berbagai fasilitas yang mendukung kebutuhan manusia. Masyarakat semakin lama semakin tergantung terhadap telepon pintar, hal ini terbukti dengan adanya fenomena bahwa hampir setiap orang memiliki telepon pintar dan menggunakan telepon pintar untuk menunjang aktivitasnya.

Peningkatan penggunaan telepon pintar menarik perhatian beberapa pihak untuk menyediakan transportasi yang berbasis internet dengan menggunakan aplikasi tertentu yang sering disebut masyarakat sebagai transportasi jalan

online2. Transportasi jalan online menghubungkan penumpang dan pengemudi dalam suatu aplikasi tertentu untuk membuat kesepakatan tentang jasa

pengangkutan orang dan/atau barang. Transportasi jalan online yang marak

beredar saat ini mencakup namun tidak terbatas pada Uber Taxi, Grab Car, Go-Car, Go-Jek, Go-Box, Grab Bike, Blu-Jek dan Lady-Jek. Dalam waktu singkat,

transportasi jalan online tersebut telah menarik perhatian masyarakat karena

dinilai lebih efektif dan efisien dalam memberikan jasa pengangkutan. Penilaian tersebut diperoleh berdasarkan kemudahan masyarakat dalam menggunakan

aplikasi transportasi jalan online, pelayanan jasa pengangkutan yang relatif

lebih cepat serta pengenaan tarif yang dianggap lebih terjangkau oleh masyarakat.

Transportasi jalan online sendiri termasuk dalam ruang lingkup Hukum

Pengangkutan. Pasal 1 butir 3 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang

Lalu Lintas dan Angkutan Jalan memberikan pengertian mengenai angkutan

sebagai “perpindahan orang dan/atau barang dari satu tempat ke tempat lain dengan menggunakan Kendaraan di Ruang Lalu Lintas Jalan”. Sementara itu fungsi pengangkutan ialah memindahkan barang atau orang dari suatu tempat

2 Pada undang-undang tidak ditemukan istilah transportasi jalan online, istilah tersebut berasal

dari masyarakat yang melakukan pemesanan jasa pengangkutan secara online. Oleh sebab itu muncul istilah transportasi online. Namun dalam Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 32 tahun 2016 ditemukan satu bab tersendiri yang membahas penyelenggaraan angkutan umum dengan aplikasi berbasis teknologi informasi di mana penyelenggaraan angkutan umum yang dimaksud adalah angkutan darat.

(14)

3

ke tempat yang lain dengan maksud untuk meningkatkan daya guna dan nilai3.

Definisi pengangkutan menurut H.M.N Purwosutjipto adalah perjanjian timbal balik antara pengangkut dengan pengirim di mana pengangkut mengikatkan diri untuk menyelenggarakan pengangkutan barang dan/atau orang dari suatu tempat ke tempat tertentu dengan selamat, sedangkan pengirim mengikatkan

diri untuk membayar uang angkutan4. Maka dari itu Hukum Pengangkutan

merupakan serangkaian kaidah yang mengatur tentang pengangkutan.

Salah satu transportasi jalan online yang banyak digunakan oleh masyarakat

adalah Go-jek. Go-Jek merupakan perusahaan teknologi dengan tujuan

meningkatkan kesejahteraan pekerja sektor informal di Indonesia5. Dalam

rangka memberikan pelayanan kepada masyarakat, Go-Jek menyediakan berbagai fasilitas aplikasi salah satunya yakni Go-Medition (untuk selanjutnya

disingkat Go-Med)6. Go-Med bukanlah suatu aplikasi yang memberi jasa

berupa jual beli produk melainkan sebagai penghubung antara pengguna aplikasi dengan lebih dari 1000 (seribu) apotek di 10 (sepuluh) kota; Jabodetabek, Bandung, Surabaya, Makassar, Medan, Palembang, Semarang,

Yogjakarta dan Balikpapan7.

Go-Med dalam situsnya merupakan kolaborasi antara Go-Ride dan HaloDoc. Go-Ride merupakan salah satu aplikasi Go-Jek di mana kendaraan yang digunakan berupa sepeda motor. Sementara HaloDoc merupakab sebuah aplikasi dengan fitur apotek antar. HaloDoc memiliki lebih dari 1000 (seribu) apotek berlisensi yang memiliki Surat Ijin Apotek (SIA) dan Surat Ijin Praktik Apoteker (SIPA). Hal ini tercantum dalam situs resmi Go-Med.

3 H.M.N Purwosutijpto, Pengertian Pokok Hukum Dagang Indonesia: Hukum Pengangkutan, Jakarta: Djambatan, 1987, hal.1.

4 Abdulkadir Muhammad, Hukum Pengangkutan Niaga, Bandung: Citra Aditya Bakti, 2013,

hal.1.

5 https://www.go-jek.com/ , diakses pada 12 Desember 2016 Pukul 21.06 WIB.

6 Menurut website Go-Jek, Go-Med adalah solusi layanan terintegrasi yang memungkinkan pengguna untuk membeli obat-obatan, vitamin dan kebutuhan medis lainnya dari apotek berlisensi.

(15)

4

Cara penggunan Go-Med pun relatif mudah yakni dengan melakukan

langkah-langkah sebagai berikut8:

a. Pilih layanan Go-Med dalam aplikasi Go-Jek. Kemudian terdapat 3

(tiga) cara untuk melakukan order yakni mencari melalui kategori dan

pilihan produk, mencari produk yang diinginkan melalui menu search

dan menggungah resep dokter;

b. Memberikan catatan pada obat-obatan dengan resep dokter;

c. Menambahkan alamat tujuan pengiriman, lalu masukkan informasi

pasien dengan memilih penerima dari obat-obatan (diri sendiri atau orang lain);

d. Pengguna dapat memonitor status order dengan melihat halaman

"History" pada halaman utama aplikasi Go-Jek;

e. Pengguna akan mendapatkan dua email dan notifikasi dalam

aplikasi mengenai konfirmasi untuk melanjutkan pesanan. Email

tersebut berisi konfirmasi harga akhir dari apotek yang terpilih serta petunjuk penggunaan obat-obatan.

Melalui fasilitas Go-Med, pengguna dimudahkan dalam melakukan pemesanan obat. Selain itu fasilitas ini memungkinkan pengguna untuk berdiam diri di rumah tanpa harus pergi ke apotek untuk membeli obat. Fasilitas ini dapat digunakan kapan saja dan di mana saja selama 24 (dua puluh empat) jam sehari. Kenyaman berupa efisien waktu lah yang menjadi daya tarik utama Go-Med. Hal ini berbeda dengan apotek pada umumnya di mana konsumen harus mendatangi apotek secara langsung untuk membeli obat. Saat ini sering terdapat kemacetan pada kota-kota besar di Indonesia. Fenomena seperti ini yang mendorong terbentuknya apotek antar dengan bantuan teknologi (Go-Med) oleh Go-Jek selaku penyedia aplikasi.

Fasilitas Go-Med melibatkan 4 (empat) pihak dalam melakukan pelayanannya yakni apoteker (mitra Go-Jek dan/atau penjual), pengguna aplikasi (konsumen

(16)

5

dan/atau pembeli), driver (pengemudi dan/atau kurir) dan Go-Jek (penyedia

aplikasi dan/atau penghubung). Untuk menghindari kaburnya pemahaman mengenai pihak-pihak dalam fasilitas Go-Med, penulis akan menjelaskan sebagai berikut:

a. Menurut Pasal 1 butir 5 Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 2009

tentang Pekerjaan Farmasi, apoteker adalah “sarjana farmasi yang telah lulus sebagai Apoteker dan telah mengucapkan sumpah jabatan Apoteker”. Kemudian Pasal 1 butir 13 menyebutkan bahwa apotek adalah “sarana pelayanan kefarmasian tempat dilakukan praktek

kefarmasian oleh Apoteker”;

b. Pengguna aplikasi dapat berupa individu dan/atau badan hukum tertentu

yang menggunakan aplikasi Go-Med dalam rangka membeli perlengkapan medis;

c. Driver dalam Go-Med merupakan pengemudi kendaraan beroda dua (sepeda motor) milik pribadi yang telah bermitra dengan Go-Jek.

Melalui kemitraan tersebut driver dapat melakukan kegiatan

pengangkutan barang dan/atau jasa. Jasa berupa sarana transportasi darat dengan sepeda motor, sedangkan pengangkutan barang berupa pengiriman barang dari satu tempat ke tempat lainnya;

d. Go-Jek sebagaimana telah disebutkan di atas merupakan perusahaan

teknologi yang memberikan sarana penghubung antara pihak yang bermitra dengan Go-Jek dengan pengguna dalam suatu aplikasi tertentu. Mitra Go-Jek tidak hanya terbatas pada bidang transportasi namun juga termasuk pada bidang kecantikan, otomatif, pemesanan pulsa, pemesanan tiket untuk acara mulai dari musik, olahraga, seni dan

budaya, atraksi hingga workshop9serta pemesanan obat melalui aplikasi

Go-Med. Dalam bidang transportasi, kendaraan yang digunakan berupa kendaraan beroda dua (sepeda motor) dan kendaraan beroda empat (mobil). Untuk sarana pindahan dan mengirim barang dalam jumlah

(17)

6

besar menggunakan mobil pickup, mobil boks, truk engkel, dan truk

engkel boks10.

Penelitian ini akan membahas mengenai hubungan apoteker, pengguna aplikasi dan driver. Go-Jek sebagai penyedia aplikasi tidak akan dibahas di sini. Pembahasan mengenai Go-Jek dinilai terlalu luas antara lain meliputi bentuk badan usaha, jenis bidang usaha, produk bidang usaha, mitra bisinisnya serta kedudukannya sebagai penghuhung antara mitra bisnisnya dengan pengguna aplikasi. Analisis terhadap hal-hal tersebut juga berkaitan dengan berbagai peraturan perundang-undangan yang menyebabkan luasnya ruang lingkup penelitian.

Dalam Go-Med, para pihak terikat dengan perjanjian melalui media aplikasi

dan/atau sarana elektronik. Driver bertindak atas nama pengguna aplikasi

untuk melakukan pembelian perlengkapan medis dan berkewajiban untuk melakukan pengiriman barang (dalam konteks ini obat) kepada pengguna aplikasi. Pembelian tersebut dilakukan terhadap apotek yang telah bermitra

dengan Go-Jek. Kemitraan ini memungkinkan driver membeli resep dokter

dengan bantuan visualisasi dari kamera (photo). Dalam hal ini terdapat 3 (tiga)

perjanjian yang terjadi diantara 3 (tiga) pihak di atas yakni perjanjian pemberian kuasa, perjanjian pengiriman barang dan perjanjian jual-beli. Berikut uraiannya antara lain:

a. Perjanjian pembelian pribadi, terjadi antara driver dan pengguna

aplikasi. Driver bersedia membelikan barang sesuai keperluan pribadi

pengguna aplikasi dengan harga yang telah ditafsirkan;

b. Perjanjian pengiriman barang, terjadi antara driver dan pengguna

aplikasi di mana driver berkewajiban untuk mengantar obat kepada

pengguna aplikasi;

(18)

7

c. Perjanjian jual-beli, terjadi antara apoteker dan pengguna aplikasi

dalam rangka membeli obat atau perlengkapan medis di apotek yang menjadi mitra Go-Jek.

Perjanjian sebagaimana diungkapkan di atas dilakukan melalui sarana aplikasi dan/atau media elektronik. Karakteristik dari perjanjian ini antara lain

perjanjian dilakukan melalui media elektronik (digital medium) di mana para

pihak tidak hadir secara fisik dalam membuat perjanjian. Media ini terdapat

dalam jaringan umum dengan sistem terbuka yaitu internet atau The World Wide

Web (WWW) yang terlepas dari batas ruang dan waktu. Hal khas lainnya yakni

sistem pembayaran yang non-tunai artinya dapat dilakukan dengan aplikasi berbasis teknologi informasi baik melalui jasa bank atau lembaga perbankan lainnya. Singkatnya sistem pembayaran dalam perjanjian elektronik bersifat

cashless. Selain itu perjanjian elektronik dapat disimpan dalam bentuk digital

sehingga bersifat paperless.

Perjanjian pada umumnya diatur menggunakan Pasal 1313 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (untuk selanjutnya disingkat menjadi KUHPerdata) di mana perjanjian adalah suatu perbuatan dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang lain atau lebih. Mengenai keabsahan perjanjian diatur oleh Pasal 1320 KUHPerdata yang menyebutkan mengenai syarat sahnya suatu perjanjian. Menurut Pasal 1320 KUHPerdata, suatu

perjanjian adalah sah apabila memenuhi empat syarat sebagai berikut11:

a. “sepakat mereka yang mengikatkan dirinya;

b. kecakapan untuk membuat suatu perjanjian;

c. suatu hal tertentu; dan

d. suatu sebab yang halal”.

Huruf a dan b dalam uraian di atas merupakan syarat subjektif sedangkan huruf c dan d merupakan syarat objektif. Suatu perjanjian dikatakan sah apabila telah memenuhi syarat subjektif dan objektif. Perjanjian juga mengikat bagi para

11 Djaya S. Meliala, Hukum Perdata Dalam Perspektif BW, Bandung: Nuansa Aulia, 2014,

(19)

8

pihak mengenai hak dan kewajibannya, sehingga pemenuhan syarat sahnya suatu perjanjian mutlak untuk dipenuhi, hal ini kelak apabila dikemudian hari terjadi suatu permasalahan atau sengketa maka penyelesaiannya dapat

didasarkan pada perjanjian yang telah disepakati12.

Perjanjian elektronik/kontrak elektronik sendiri adalah perjanjian para pihak

yang dibuat dalam sistem elektronik13. Pengaturan tentang kontrak elektronik

(e-contract) dituangkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2012 Tentang Penyelenggaraan Sistem dan Transaksi Elektronik. Pasal 47 ayat (1) menyatakan bahwa “Transaksi Elektronik dapat dilakukan berdasarkan Kontrak Elektronik atau bentuk kontraktual lainnya sebagai bentuk kesepakatan yang dilakukan oleh para pihak”. Selanjutnya dalam Pasal 47 ayat (2) menjelaskan syarat sahnya kontrak elektronik yakni:

a. “terdapat kesepakatan para pihak;

b. dilakukan oleh subjek hukum yang cakap atau yang berwenang

mewakili sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;

c. terdapat hal tertentu; dan

d. objek transaksi tidak boleh bertentangan dengan peraturan

perundang-undangan, kesusilaan, dan ketertiban umum”.

Apabila dicermati syarat sahnya perjanjian kontrak elektronik dalam Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2012 Tentang Penyelenggaraan Sistem dan Transaksi Elektronik sesuai dengan syarat sahnya perjanjian menurut KUHPerdata.

Dalam perjanjian melalui media aplikasi Go-Med selain menguntungkan para pihak, juga terdapat peluang terjadinya masalah yakni antara lain sebagai berikut:

a. Penggunaan Go-Med dengan cara mengunggah resep dokter dapat diartikan

bahwa resep dokter tersebut berada di tangan pengguna aplikasi. Hal yang

12 R. Subekti, Aneka Perjanjian, Bandung: PT. Prandya Paramita, 2003, hal.59.

13 Pasal 1 butir 17 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi

(20)

9

mungkin terjadi yakni resep tersebut dapat dipalsukan atau resep tersebut dapat digunakan berkali-kali untuk penggunaan yang tidak sah;

b. Aplikasi ini menghambat pekerjaan apoteker dalam memberikan pelayanan

yang komprehensif. Untuk konsumen dengan jenis penyakit tertentu, tidak hanya cukup dengan membeli obat. Namun diperlukan juga konsultasi

dengan apoteker di mana hal ini tidak bisa diwakili dengan baik oleh driver

Go-Med;

c. Apabila obat yang dibeli salah, keliru dan/atau expied (kadaluarsa) apakah

pihak apotek akan bertanggung jawab dan apakah driver bersedia untuk

membantu mengembalikan obat tersebut sesuai dengan kriteria yang diingakan pengguna aplikasi. Hal semacam ini tidak diatur dalam perjanjian aplikasi Go-Med;

d. Dalam pembelian obat melalui Go-Med terdapat petunjuk penggunaan obat

yang dikirimkan lewat email. Bagaimana jika apoteker salah menafsirkan

baik seluruh atau sebagian tentang resep dokter atau apotek yang bersangkutan bukan merupakan apotek yang sah sehingga merugikan pengguna aplikasi. Hal semacam ini juga tidak diatur dalam perjanjian aplikasi Go-Med.

Go-Jek selaku perusahaan teknologi sebagaimana diungkapkan di atas tidak bertanggung jawab atas segala kerugian para pihak dalam penggunaan aplikasi Go-Med. Berikut adalah kutipan ketentuan penggunaan layanan Go-Med:

“Anda setuju bahwa Kami tidak bertanggung jawab kepada Anda ataupun kepada pihak lainnya untuk segala kerugian yang disebabkan oleh tindakan yang Anda atau pihak lain ambil berdasarkan atau sehubungan dengan pemesanan Obat melalui

fitur GO-MED pada Aplikasi GO-JEK”14.

Selanjutnya apabila ketentuan layanan Go-Med tidak mengatur hubungan antara para pihak, hubungan para pihak akan menggunakan Hukum Perikatan sebagai kaidah berpedoman. Berdasarkan uraian di atas maka dirasa perlu untuk menganalisis tanggung jawab apoteker, konsumen dan pengemudi dalam transaksi Go-Med menurut KUHPerdata.

(21)

10 2. Perumusan Masalah

Berdasarkan pemaparan di atas maka perumusan masalah yang akan diteliti adalah bagaimana analisis yuridik tanggung jawab apoteker, konsumen dan pengemudi dalam transaksi Go-Med menurut KUHPerdata?

3. Tujuan Penelitian

Sehubungan dengan perumusan masalah di atas maka tujuan penelitian yang ingin dicapai yakni

3.1 Untuk mengetahui tanggung jawab apoteker terhadap konsumen dalam

transaksi Go-Med menurut KUHPerdata.

3.2 Untuk mengetahui tanggung jawab pengemudi terhadap konsumen

dalam transaksi Go-Med menurut KUHPerdata.

4. Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian yang ingin dicapai sebagai berikut:

4.1 Manfaat Teoritis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan dalam perkembangan ilmu hukum dan teknologi terutama yang terjadi di Indonesia.

4.2 Manfaat Praktis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan bagi penulis maupun pihak-pihak lain yang terkait dengan objek penelitian serta dapat digunakan sebagai referensi untuk perkembangan ilmu pengetahuan.

5. Metode Penelitian

Metode penelitian berasal dari 2 (dua) kata yakni metode dan penelitian. Kata

metode berasal dari bahasa Yunani yakni methodos yang berarti cara atau

(22)

11

dan analisis data yang dilakukan secara sistematis, untuk mencapai

tujuan-tujuan tertentu15. Berdasarkan uraian di atas maka dapat diketahui bahwa

metode penelitian adalah cara memahami suatu penelitian secara sistematis untuk mencapai tujuan tertentu. Penjelasan lebih jauh lagi, menurut Sugiyono metode penelitian adalah cara-cara ilmiah untuk mendapatkan data yang valid,

dengan tujuan dapat ditemukan, dikembangkan dan dibuktikan,

suatu pengetahuan tertentu sehingga pada gilirannya dapat digunakan untuk

memahami, memecahkan, dan mengantisipasi masalah16.

Penelitian ini akan menggunakan metode yuridis-normatif di mana dalam menemukan kebenaran dalam suatu penelitian hukum dilakukan dengan cara berpikir deduktif dan kriterium kebenaran koheren. Metode ini merupakan suatu prosedur penelitian ilmiah untuk menemukan kebenaran berdasarkan

logika keilmuaan hukum dari sisi normatifnya17. Metode penelitian

yuridis-normatif dipilih karena peneliti menggunakan bahan pustaka sebagai bahan utama dalam penelitian. Melalui metode ini dapat dikaji peraturan hukum yang berlaku dengan perkembangan masyarakat yang terjadi. Penelitian yuridis-normatif ini didukung oleh data-data kepustakaan yang terdiri dari:

5.1 Bahan Hukum Primer

Bahan hukum primer merupakan bahan-bahan yang terdiri dari peraturan perundang-undangan nasional yang sesuai dengan hierarki dari yang tertinggi hingga terendah, peraturan dasar serta peraturan

pelaksanaan dalam suatu undang-undang18. Peraturan yang akan

digunakan peneliti antara lain:

a. Kitab Undang-Undang Hukum Perdata;

15 Nana Syaodih Sukmadinata, Metode Penelitian Pendidikan, Bandung: Rosda Karya, 2005,

hal. 5.

16 Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan: Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R&D,

Bandung: Alfabeta, 2009, hal. 6.

17 Johnny Ibrahim, Teori dan Metodologi Penelitian Hukum Normatif, Surabaya: Bayu Media

Publishing, 2005, hal.57.

18 Elly Erawati, Pedoman Penulisan Esai Akademik Bagi Mahasiswa Ilmu Hukum, Bandung:

(23)

12

b. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan

Angkutan Jalan;

c. Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 2009 tentang Pekerjaan

Farmasi;

d. Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2014 tentang Angkutan

Jalan;

e. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 73 Tahun 2016 tentang

Strandar Pelayanan Kefarmasian Di Apotek;

f. Peraturan perundang-undangan lainnya yang berhubungan

dengan penelitian.

5.2 Bahan Hukum Sekunder

Bahan hukum sekunder merupakan bahan-bahan yang menjelaskan serta mendukung bahan-bahan primer. Bahan-bahan ini seperti doktrin atau pendapat para ahli, jurnal-jurnal ilmiah, data empirik dan tulisan lainnya yang bersifat ilmiah serta berkaitan dengan penulisan hukum ini.

5.3 Bahan Hukum Tersier

Bahan hukum tersier merupakan bahan-bahan penunjang bahan hukum primer dan sekunder. Misalnya Kamus Besar Bahasa Indonesia

(KBBI), ensiklopedia, Black’s Law Distionary dan sebagainya.

6. Sistematika Penulisan

Sistematika dari penulisan ini akan terbagi menjadi beberapa bagian yaitu:

Bab I : Pendahuluan

Bab ini membahas mengenai latar belakang penelitian terkait

dengan pemaparan mengenai transportasi jalan online pada

umumnya kemudian membahas Go-Med pada khususnya. Pada latar belakang juga membahas pembatasan masalah mengenai pihak yang akan diteliti dengan jenis perjanjian yang diterapkan. Selain itu bab ini mencakup mengenai perumusan masalah, tujuan

(24)

13

dan manfaat penelitian, metode penelitian dan sistematika penulisan.

Bab II : Tinjauan Umum Perjanjian

Bab ini akan membahas mengenai subjek dan objek hukum perjanjian, pengertian hukum tentang perjanjian, asas dalam perjanjian, jenis-jenis perjanjian pada umumnya serta akibat hukum dari suatu perjanjian.

Bab III : Perkembangan Sistem Transportasi Jalan Online

Pada bab ini akan membahas perkembangan sistem transportasi jalan dilihat dari aspek Hukum Pengangkutan. Konsep pengangkutan jalan berupa asas-asas dan tujuan pengangkutan

serta kedudukan transportasi jalan online berupa kendaraan

beroda dua (sepeda motor) oleh undang-undang lalu lintas dan angkutan jalan.

Bab IV : Analisis Hubungan Hukum Apoteker, Konsumen dan

Pengemudi dalam Go-Med

Bab ini akan membahas permasalahan hukum sebagaimana dirumuskan dalam Bab I. Kemudian menggunakan teori-teori dan peraturan perundang-undangan yang berhubungan dengan penulisan ini. Hubungan apoteker, konsumen dan pengemudi dalam Go-Med beserta tanggung jawabnya juga akan dibahas.

Hubungan tersebut dianalisis melalui perjanjian yang

menghubungkan para pihak.

Bab V : Kesimpulan dan Saran

Bab ini merupakan bab terakhir yang berisi kesimpulan dan saran

dari penulis, sekaligus menjawab secara menyeluruh

permasalahan yang diajukan dalam penulisan ini. Saran yang diberikan diharapkan dapat bermanfaat untuk perkembangan ilmu pengetahuan sekarang dan masa yang akan datang.

Referensi

Dokumen terkait

3) permintaan persetujuan dari anggota secara lisan oleh pimpinan rapat paripurna;.. 4) pengambilan keputusan berupa persetujuan bersama DPRD dengan pemerintah daerah

Analisis data yang dilakukan meliputi struktur ukuran, hubungan panjang berat, nisbah kelamin, Tingkat Kematangan Gonad, rata-rata panjang karapas udang pertama kali matang gonad

TELAH DISEMAK DAN DIAKUI BETUL... TELAH DISEMAK DAN

Dengan metode ini diharapkan siswa Sekolah Dasar dapat secara mendalam memahami materi Aksara Jawa dan dapat membaca dengan lancar dan baik, sehingga Aksara Jawa yang

Dari semua ordo dalam kelas Polypodiophyta, ordo Polypodiales mempunyai bentuk dan susunan sori yang sangat beragam seperti berbentuk garis pada tepi daun,

Kecenderungan perilaku tersebut nampak pada keinginan remaja yang serba cepat dan instan, seperti diterima di sekolah favorit, mempunyai rumah yang megah, mobil mewah dan

Hasil pengamatan yang telah dilakukan adalah semua aspek sudah dilaksanakan, hal ini menunjukkan bahwa guru mampu melaksanakan kegiatan penutup dalam proses

Dalam penelitian ini, pengkategorian otomatis artikel ilmiah dilakukan dengan menggunakan kernel graph yang diterapkan pada graph bipartite antara dokumen artikel