BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Indonesia merupakan bangsa yang memiliki keberagaman suku dan budaya. Keberagaman ini tidak hanya ada pada salah satu daerah di Indonesia saja, namun di setiap penjuru nusantara terdapat suku bangsa yang berbeda sehingga menghasilkan khasanah kebudayaan yang khas dan sangat beragam. Hal ini merupakan manifesto dari bangsa Indonesia yang Berbhinneka Tunggal Ika.
Mengingat keberadaan budaya yang sangat penting bagi kehidupan bermasyarakat di Indonesia, karena itu perlu adanya upaya pengembangan kebudayaan agar tidak “tererosi” bahkan terjadinya kepunahan. Pemerintah sendiri telah menyadari peran penting budaya bagi rakyat Indonesia yang tertuang dalam pasal 32 Undang-Undang Dasar 1945 Republik Indonesia bahwa “Pemerintah memajukan kebudayaan nasional Indonesia.” Maknanya sendiri tentu dapat dipahami oleh seluruh masyarakat Indonesia yaitu agar masyarakat ikut serta dalam mengembangkan dan melestarikan kebudayaan lokal maupun nasional.
Kebudayaan tidak akan lepas dari kehidupan manusia, sebab manusia sendiri yang menciptakan kebudayaan dan digunakan untuk menuntun perilaku hidupnya di dalam masyarakat dengan belajar. Hal tersebut senada dengan definisi kebudayaan yang dikemukakan oleh Koentjaraningrat (2011: 72) bahwa “Kebudayaan adalah keseluruhan manusia dari kelakuan dan hasil kelakuan yang teratur oleh tata kelakuan yang harus didapatnya dengan belajar dan yang semuanya tersusun dalam kehidupan masyarakat”. Kemudian lebih lanjut Soedjito (1986: 19) menyatakan bahwa “yang membedakan antara manusia dengan makhluk lain adalah bahwa manusia mampu menciptakan kebudayaan. Sejak manusia lahir di muka bumi ini, dia sudah dikelilingi dan diliputi oleh kepercayaan-kepercayaan dan nilai-nilai tertentu.” Namun yang telah terjadi saat ini adalah nilai-nilai dan kepercayaan tersebut menjadi tidak jelas atau bias akibat globalisasi.
Globalisasi yang menjamah seluruh aspek kehidupan sangat dipengaruhi oleh berkembang-pesatnya teknologi dan informasi sehingga membawa pengaruh besar terhadap lunturnya nilai-nilai di kalangan generasi muda dan juga mengakibatkan kedangkalan budaya atau bahkan hilangnya sebuah budaya. Seperti yang dikemukakan oleh Nasbit (Tilaar, 2011: 190) bahwa:
Bahaya globalisasi terhadap budaya yang cenderung kepada kedangkalan seperti kebudayaan yang dilahirkan oleh teknologi komunikasi dapat menyebabkan pendangkalan budaya dan kehilangan identitas.
Generasi muda yang merupakan tonggak pembangunan bangsa seakan tergerus oleh dampak-dampak negatif dari globalisasi. Hal ini dapat dilihat bukti nyatanya yaitu budaya kekerasan, kenakalan remaja, lunturnya semangat kebersamaan, sudah tidak mengenal gotong royong, terkikisnya rasa toleransi, kurangnya kerjasama, kurangnya kepedulian dan perhatian terhadap budayanya sendiri, budaya konsumerisme, lebih mencintai dan membanggakan produk luar negeri dibandingkan produk dalam negeri, dan masih banyak perilaku yang diakibatkan pengaruh negatif dari globalisasi terhadap melunturnya nilai-nilai budaya bangsa.
Dampak tersebut tentu akan menghambat dalam upaya pembangunan bangsa Indonesia, sebab upaya pembangunan bangsa tidak dapat tercapai jika diciptakan oleh manusia yang cenderung berperilaku negatif. Pengaruhnya globalisasi dalam nilai budaya disebabkan oleh asumsi bahwa nilai budaya merupakan tolak ukur untuk menyatakan baik buruk terhadap sesuatu yang ada di dalam masyarakat demi keberlangsungan hidup mereka sehingga nilai budaya yang luntur adalah indikasi dari dampak negatif globalisasi.
Melunturnya nilai budaya tentu merupakan sebuah krisis kebudayaan. Jika mengutip pernyataan Tilaar (2011: 71) yang menyatakan bahwa “… krisis kebudayaan adalah pula merupakan krisis pendidikan”. Tentu harus ada bentuk kesinergian antara kebudayaan dan pendidikan. Keberhasilan proses pendidikan sangat bergantung kepada budaya yang didalamnya terkandung sebuah nilai-nilai budaya, dan begitu pula dengan budaya yang secara kodrati tidak terlepas dari
proses pendidikan. Disini terlihat bahwa keterkaitan antara kebudayaan dan pendidikan yang sangat erat dan tidak dapat dipisahkan, keduanya terdapat hubungan yang sangat erat berkenaan dengan suatu hal yang sama yakni nilai.
Karena itu, dalam menentukan keberhasilan dalam proses pendidikan juga sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai budaya yang ada. Hal tersebut dipertegas oleh Ralph Linton (Tilaar, 2011: 190) bahwa “Pendidikan akan berhasil apabila bertitik tolak dari nilai-nilai budaya asal yang secara bertahap memasuki nilai yang dimiliki oleh masyarakat yang lebih luas.” Namun yang terjadi saat ini adalah belum adanya upaya untuk mensinergikan kebudayaan dan pendidikan terutama dari tataran konsep maupun praksis baik dari pemerintah, lembaga pendidikan, ataupun masyarakat. Seperti halnya dengan Budimansyah (2010: 50) yang mengungkapkan bahwa:
Konsep-konsep maupun praksis mengenai pendidikan dan kebudayaan, belum semuanya melihat keterkaitan organis antara pendidikan dan kebudayaan, demikian pula konsep mengenai kebudayaan banyak yang terlepas dari pandangan tentang pendidikan.
Untuk itu perlu adanya pengembangan pendidikan yang berbudaya dan bukan hanya pengembangan pendidikan tapi bebas budaya. Pendidikan harus mampu untuk menjalankan fungsinya sebagai alat untuk mengembangkan pembangunan serta mampu mentransformasikan nilai budaya yang ada di dalam kebudayaan. Berkaitan dengan nilai-nilai budaya dalam masyarakat dan pentingnya pemanfaatan kebudayaan daerah untuk pembelajaran, dewasa ini telah dikembangkan sebuah proses indiginasi. Menurut Winataputra (Budimansyah dan Winataputra, 2012: 181) bahwa:
… proses “indiginasi”, yakni pemanfaatan kebudayaan daerah untuk pembelajaran mata pelajaran lain dengan tujuan untuk mendekatkan pelajaran itu dengan lingkungan sekitar siswa, agar hasil belajar lebih bermakna sebagai wahana pengembangan watak individu sebagai warga negara.
Melihat pernyataan tersebut, tentu salah satu mata pelajaran yang dapat mengembangkan proses indiginasi adalah pendidikan kewarganegaraan yang selanjutnya disingkat PKn. PKn sebagai pembelajaran yang multidimensional
yang salah satunya meliputi pendidikan nilai. moral, dan norma disamping pendidikan karakter konstitusi, politik, dan hukum (Sapriya, dkk., 2009: 9). Didalamnya, PKn mempunyai tanggung jawab dalam mendidik para peserta didik agar dapat membentuk perilaku yang baik di dalam kehidupannya sesuai dengan nilai, norma, serta moral yang hidup di masyarakat dan biasanya lebih berwujud nilai budaya. Sebab, seperti yang telah dikemukakan sebelumnya bahwa nilai budaya merupakan sebuah pedoman kehidupan di masyarakat.
Hal itu bukan sebuah keniscayaan keterikatan antara kebudayaan dan PKn, sebab Somantri (Wahab dan Sapriya, 2011: 316) sendiri menyatakan bahwa
“Objek studi civics dan civic education adalah warga negara dalam hubungannya
dengan organisasi kemasyarakatan, sosial, ekonomi, agama, kebudayaan, dan negara.” Oleh sebab itu, dalam sebuah proses pembelajaran PKn salah satu pokoknya haruslah membentuk keterikatan antara warga negara dengan kebudayaan karena peserta didik itu sendiri merupakan bagian dari masyarakat yang berbudaya.
Dengan demikian, PKn merupakan sebuah mata pelajaran yang juga diyakini sebagai salah satu alat dari pendidikan untuk mentransmisikan nilai-nilai budaya di dalam masyarakat tersebut. Melalui proses indiginasi, pembelajaran PKn akan lebih bermakna dan dapat mencapai tujuan yang diharapkan, yaitu membentuk watak warga negara yang baik.
Namun, mengingat begitu beragamnya kekayaan budaya di Indonesia, sehingga dalam pembelajarannya perlu untuk memahami dan mengerti nilai-nilai budaya di sekitar siswa, sebab pemahaman tersebut akan dapat mensukseskan kegiatan pembelajaran jika menyeimbangkan antara kebutuhan siswa dengan lingkungan sekitarnya. Kemudian dalam pembelajaran PKn di sekolah, siswa dapat menemukan sumber belajarnya melalui lingkungan sekitar yang salah satunya dalam wujud kebudayaan seperti adat istiadat, upacara adat, tradisi, dan lain-lain. Para peserta didik diyakini akan mampu belajar secara mandiri sehingga dapat mencapai tujuan PKn.
Dikemukakan oleh Peursen (1976: 14) bahwa “Kebudayaan merupakan semacam sekolah di mana manusia dapat belajar”, dan Komalasari (2010: 139) menyatakan bahwa:
Lingkungan dapat dimanfaatkan sebagai sarana dalam mengembangkan kemampuan siswa dalam proses pembelajaran seperti mengamati,
mengklarifikasikan, menggolongkan, menurunkan, meramaikan,
memprediksi, mengukur, menafsirkan, mengkomunikasikan, membuat definisi, merumuskan pertanyaan dan hipotesis, eksperimen, dan sebagainya.
Karena itu, kebudayaan yang hidup dalam lingkungan masyarakat dapat dimanfaatkan sebagai sumber belajar. Menurut Yulaelawati (2004: 133) bahwa “Sumber belajar yang utama bagi guru adalah sarana cetak, seperti buku, brosur, majalah, surat kabar, poster, lembar informasi lepas, naskah brosur, peta, foto, dan lingkungan sekitar”. Dalam kaitannya dengan sumber belajar di lingkungan, Cirebon merupakan daerah yang memiliki corak kebudayaan yang unik dalam melaksanakan kegiatan sehari-harinya. Cirebon juga merupakan daerah yang memiliki nilai-nilai khasanah budaya sendiri dan berbeda dengan daerah lain, serta masih dipegang kuat oleh masyarakatnya. Hal ini dapat terlihat dengan masih dipertahankannya tradisi perayaan-perayaan ritual keagamaan dan kegiatan lain yang dipengaruhi oleh unsur budaya. Bukti wujud kebudayaan di Cirebon yang masih lestari keberadaannya, seperti: keraton kasepuhan Cirebon, keraton kanoman, gua sunyaragi, batik trusmi, kampung adat kuta, dan lain-lain.
Melihat kondisi Cirebon yang masih kuat memegang nilai-nilai budayanya, sudah seyogyanya dalam pembelajaran PKn mengadopsi berbagai nilai-nilai budaya yang ada dalam sebuah tradisi sebagai salah satu sumber pembelajaran dalam mata pelajaran PKn yang khususnya di daerah tersebut. Sebab dilihat dari metodologis PKn yang dikemukakan oleh Wahab dan Sapriya (2011: 316) bahwa “PKn sebagai bidang keilmuan merupakan pengembangan
salah satu dari lima tradisi social studies yakni transmisi kewarganegaraan
(citizenship transmission).” Karena konsep tentang tradisional mengenai “citizenship transmission” ini menurut Wahab dan Sapriya (2011: 301) sangat bergantung pada kemampuan orang dewasa dalam meneruskan nilai-nilai budaya
kepada generasi mudanya dan dalam hal itu peran orang dewasa/orang tua adalah sebagai “guru partisan”.
Sehingga dalam perwujudannya, PKn dapat menjadi salah satu mata pelajaran yang dapat melestarikan dan mentransimisikan kebudayaan dengan dibantu peranan orang dewasa didalamnya. Kemudian secara perlahan dan tanpa disadari juga akan dapat mengarah kepada tujuan PKn yaitu untuk membentuk
warga negara yang baik (to be a good citizenship). Seperti yang dikemukakan oleh
Gultom (Iswandi, 2004: 28) sebagai berikut:
Salah satu sosok sebagai warga negara yang baik adalah menjadi insan budaya, yakni bahwa warga negara harus mampu membuktikan dirinya sebagai mahluk yang memiliki peradaban yang tinggi, begitu pula seorang warga negara harus ikut bagian dalam melestarikan kebudayaan yang telah ada sebagai hasil dari cipta, karsa dan karya.
Hal tersebut mengisyaratkan bahwa untuk menjadi warga negara yang baik tidak hanya dilaksanakan dalam praktik-praktik politik maupun hukum saja, namun juga menjadi warga negara berbudaya yang dapat membawa dirinya dan negaranya ke dalam peradaban yang tinggi sehingga menciptakan sebuah kekhasanahan sebuah negara.
Pesta laut nadran merupakan salah satu wujud kebudayaan yang masih hidup di lingkungan masyarakat pesisir Cirebon. Tradisi nadran dianggap sebagai bentuk rasa syukur para nelayan kepada Sang Pencipta atas hasil laut yang diperoleh dan berharap ke depan akan memperoleh hasil yang lebih baik lagi, serta senantiasa mendapatkan limpahan berkah dan keselamatan dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Tradisi nadran ini hampir dilaksanakan di setiap lokasi pesisir Cirebon, dan tak terkecuali oleh masyarakat pesisir desa Waruduwur di kecamatan Mundu. Waktu mereka melaksanakan tradisi ini adalah setiap setahun sekali. Namun dalam rangkaian persiapannya tersebut dibutuhkan waktu yang cukup lama yaitu sekitar satu tahun sebab kebutuhan-kebutuhan yang harus dipenuhi cukup banyak sehingga perlu membutuhkan tenaga dan materi yang tidak sedikit.
Pesta laut nadran mempunyai makna tersendiri, sehingga sampai sekarang upacara tersebut masih dilaksanakan oleh masyarakat Waruduwur. Pelaksanaan
pesta laut nadran ini selalu dibuat meriah sehingga menarik perhatian banyak orang termasuk peneliti sendiri yang melihat acara tersebut secara langsung.
Pesta laut nadran membentuk sebuah nilai-nilai masyarakat Waruduwur yang diwujudkan dalam ritual keagamaan yang bersifat religi dan bernilai sosial. Pesta laut nadran ini mengandung nilai-nilai, norma-norma dan aturan yang berguna bagi kehidupan masyarakat sehingga budaya ini akan menciptakan hubungan kekeluargaan yang erat dan pada akhirnya akan terwujud semangat persatuan dan kesatuan di masyarakat.
Dalam pelaksanaaanya, kegiatan yang diselenggarakan adalah arak-arakan, hiburan kesenian (wayang kulit, wayang golek, dan sandiwara), dan ritual inti yaitu melarungkan sesajen ke tengah laut. Dalam kegiatan tersebut mempunyai kandungan nilai-nilai yang sangat besar bagi kehidupan masyrakat pesisir. Misalnya saja gotong royong dan kerjasama dalam mempersiapkan segala bentuk materi untuk arak-arakan dan bentuk biasanya berupa hiasan atau patung yang mirip seperti burung, ular naga, perahu dan lainnya. Dari kegiatan tersebut mampu menciptakan keakraban dan kebersamaan diantara masyarakat dan akhirnya terwujud semangat persatuan dan kesatuan diantara masyarakat Waruduwur.
Tidak hanya itu, dalam hiburan yang disajikan seperti wayang kulit, wayang golek, dan sandiwara menampilkan sebuah hiburan yang memberikan petuah-petuah kepada masyarakat agar dapat menjalankan kehidupan dengan baik. Jika ditinjau dari sisi pendidikan, hiburan yang ada dalam pesta laut nadran merupakan salah satu alat atau sarana pendidikan bagi masyarakat.
Dilihat dari beberapa contoh kegiatan tersebut, tentu akan sangat menarik sekali untuk memasukan unsur-unsur nilai budaya yang ada di dalam tradisi nadran dalam pembelajaran PKn dan diharapkan dapat memberikan warna tersendiri ketika tradisi ini dapat dijadikan sebagai sumber belajar PKn. Sebab dalam satu kegiatan dalam nadran saja mempunyai kandungan nilai-nilai budaya yang sangat tinggi dan bermanfaat bagi masyarakat sekitar, serta impilikasinya menimbulkan sebuah nilai-nilai yang mencirikan misi atau tujuan dari PKn. Kekhasan yang ditampilkan oleh tradisi nadran ketika dalam pembelajaran PKn
baik dipersekolahan ataupun ketika peserta didik menjadikannya sebagai sumber belajar PKn langsung di lingkungannya diprediksi akan menghasilkan kebermaknaan dan keberhasilan dalam pembelajarannya, baik secara kognitif, afektif, maupun psikomotriknya. Dipertegas oleh Komalasari (2010: 141) bahwa “Pembelajaran akan memiliki kebermaknaan bagi siswa bila lingkungan yang paling dekat dan diakrabinya dijadikan sebagai salah satu sumber belajar.”
Untuk itu, para pendidik bidang PKn diharapkan untuk mampu memahami dan mengerti akan nilai-nilai budaya yang ada pada kebudayaan yang ada di lingkungan siswa. Peserta didik pun dapat mempelajari PKn secara mendalam melalui nilai-nilai kebudayan di lingkungan sekitarnya sebagai sumber pembelajaran PKn sehingga diyakini akan dapat menemukan sebuah pemahaman konsep dan praksis dalam materi yang diajarkan didalam mata pelajaran PKn.
Seperti yang telah kita ketahui bahwa dalam pembelajaran PKn di persekolahan siswa dihadapkan pada suasana kebosanan karena sering kali hanya mencakup ranah kognitif saja, misalkan dalam bentuk hafalan ataupun mendengarkan ceramah. Hal itu dipertegas oleh Komalasari (2010: 17) bahwa “Dalam pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan yang pada umumnya menghadapi kendala persepsi siswa bahwa Pendidikan Kewarganegaraan membosankan.”
Sumber pembelajaran PKn melalui tradisi nadran ini diharapkan akan mampu menciptakan sebuah korelasional antara pengetahuan (kognitif), afektif (sikap), dan keterampilan (psikomotorik). Sehingga tiga komponen utama yang
perlu dipelajari dalam PKn yaitu civic knowledge, civic skills, dan civic
dispositions (Branson,1998: 5), akan dapat terpenuhi dan dicapai oleh siswa. Kemudian dikemukakan oleh Herry (Komalasari, 2010: 124) nilai-nilai yang dapat diperoleh dengan menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar diantaranya :
(1) lingkungan menyediakan berbagai hal yang dapat dipelajari siswa, memperkaya wawasannya, tidak terbatas oleh empat dinding kelas dan
kebenarannya lebih akurat; (2) belajar akan lebih bermakna (meaningfull
learning) sebab siswa dihadapkan dengan keadaan yang sebenarnya dengan memahami dan menghayati aspek-aspek kehidupan yang ada di
lingkungannya, dapat dimungkinkan terjadinya pembentukan pribadi para siswa seperti cinta akan lingkungan; (3) kegiatan belajar dimungkinkan akan lebih menarik, tidak membosankan dan menumbuhkan antusiasme siswa untuk lebih giat belajar.
Dengan demikian lingkungan yang didalamnya terdapat sebuah tradisi dari kebudayaan perlu untuk digunakan oleh seorang guru dalam pelaksanaan pembelajarannya sehingga siswa dapat mencerna nilai-nilai yang ada di dalam lingkungan yang kemudian dikonfirmasi oleh seorang guru dan setelah itu siswa diharapkan akan mampu mengimplementasikannya di dalam kehidupan sehari-harinya.
Melihat begitu besarnya pengaruh kebermanfaatan kebudayaan sebagai sumber belajar dan juga kuatnya masyarakat Waruduwur memegang kebiasaan-kebiasaan tersebut, penulis tertarik untuk mengkaji bagaimana nilai-nilai budaya dalam pesta laut nadran dapat dijadikan sebagai sumber pembelajaran PKn.
Berdasarkan latar belakang diatas, penulis tertarik untuk meneliti lebih lanjut mengenai pesta laut nadran untuk dijadikan sebagai sumber pembelajaran yang dituangkan dalam judul “Kajian Nilai Budaya Pesta Laut Nadran Di Masyarakat Pesisir Sebagai Sumber Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (Studi Deskriptif Analitis Tradisi Upacara Nadran Di Desa Waru Duwur Kecamatan Mundu Kabupaten Cirebon).
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan masalah tersebut penulis ingin meneliti “Apakah tradisi pesta laut Nadran yang dilakukan masyarakat pesisir desa Waru Duwur dapat dijadikan sebagai sumber pembelajaran pendidikan kewarganegaraan?
Untuk lebih memudahkan pembahasan hasil penelitian, maka pada masalah pokok tersebut penulis menjabarkan dalam bentuk sub-sub masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana perkembangan pesta laut nadran sebagai sumber pembelajaran
PKn?
2. Nilai-nilai budaya apa saja yang terkandung dalam pesta laut nadran yang
3. Bagaimana peran guru dalam mengimplementasikan nilai-nilai budaya yang terkandung dalam pesta laut nadran sebagai sumber pembelajaran PKn?
1.3 Tujuan Penelitian
Secara umum tujuan penelitian yang dilakukan oleh penulis yaitu untuk mengidentifikasi dan mengkaji tradisi pesta laut Nadran yang dilakukan masyarakat pesisir desa Waru Duwur dapat dijadikan sebagai sumber pembelajaran pendidikan kewarganegaraan.
Sedangkan secara khusus, penelitian ini bertujuan untuk:
1. Mendeskripsikan perkembangan pesta laut nadran sebagai sumber
pembelajaran PKn?
2. Mengidentifikasi nilai-nilai budaya apa saja yang terkandung dalam pesta
laut nadran yang relevan untuk dijadikan sebagai sumber pembelajaran PKn?
3. Mengidentifikasi peranan guru dalam mengimplementasikan nilai-nilai
budaya yang terkandung dalam pesta laut nadran sebagai sumber pembelajaran PKn?
1.4 Kegunaan Penelitian 1.4.1 Secara Teoritis
Kegunaan dari penelitian ini diharapkan sebagai upaya untuk memperkaya khasanah tentang budaya di masyarakat Cirebon khususnya pesta laut nadran, serta untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan pelestarian nilai budaya pesta luat nadran sebagai upaya pengembangan lingkungan sebagai sumber belajar dalam PKn.
1.4.2 Secara Praktis
Secara praktis hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat praktis sebagai beriku:
1) Sebagai bahan kajian bagi pihak-pihak yang berkompeten dalam
2) Guru dan peserta didik dapat mengetahui serta mewariskan nilai budaya dalam pesta laut nadran sebagai sumber pembelajaran PKn.
3) Guru dapat menggunakannya sebagai upaya memperkaya sumber
pembelajaran PKn dipersekolahan dan peserta didik pun mampu belajar PKn secara nyata dalam lingkungan disekitarnya.
4) Masyarakat mampu menerapkan nilai-nilai budaya sebagai sumber
pembelajaran PKn di persekolahan atau masyarakat.
5) Menjaga kekayaan budaya yang ada di daerah.
1.5 Struktur Organisasi Skripsi
Sistematika penulisan merupakan hal penting demi memperlancar penulisan skripsi yang akan dilakukan, dan sistematikanya adalah sebagai berikut:
Bab I Pendahuluan, mengemukakan mengenai latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, kegunaan penelitian serta struktur organisasi skripsi.
Bab II Kajian Pustaka, mengemukakan tentang kajian pustaka yang mendukung dan relevan dengan permasalahan penelitian ini, berikut dengan hasil penelitian terdahulu.
Bab III Metodologi Penelitian, mengemukakan metode penelitian, pendekatan penelitian, teknik pengumpulan data, analisis data penelitian, pengujian keabsahan data, dan tahap penelitian.
Bab IV Hasil Penelitian dan Pembahasan, mengemukakan laporan hasil penelitian, deskripsi hasil penelitian, analisis hasil penelitian, dan pembahasan hasil-hasil yang diperoleh dalam penelitian.
Bab V Kesimpulan dan Rekomendasi, mengemukakan kesimpulan berdasarkan hasil dari penelitian yang telah dilaksanakan serta rekomendasi yang membangun bagi institusi yang bersangkutan.