(Disusun untuk memenuhi prasyarat mata kuliah Survey Hidrografi) (Disusun untuk memenuhi prasyarat mata kuliah Survey Hidrografi)
Disusun oleh : Disusun oleh : Kelompok VII A Kelompok VII A
1.
1. Gabriel Gabriel Yedaya Yedaya I.R I.R 2111011512001621110115120016 2.
2. M M Haris Haris Febriansyah Febriansyah 2111011512001721110115120017 3.
3. Chairunisa Chairunisa Afnidya Afnidya N N 2111011512021110115120018018 4.
4. Yohana Yohana Christie Christie N N 2111011512021110115120037037
5.
5.
Mavita Mavita Nabata Nabata Dzakiya Dzakiya 2111011512021110115120038038DEPARTEMEN TEKNIK GEODESI
DEPARTEMEN TEKNIK GEODESI
FAKULTAS TEKNIK - UNIVERSITAS DIPONEGORO
FAKULTAS TEKNIK - UNIVERSITAS DIPONEGORO
Jl. Prof. Sudarto SH,Jl. Prof. Sudarto SH, Tembalang SemaraTembalang Semarang Telp.(024) 76480785, 76480788ng Telp.(024) 76480785, 76480788 e-mail
e-mail : : jurusan@[email protected] 2017
Kelompok VII-A, 2017
Kelompok VII-A, 2017 iiii
HALAMAN PENGESAHAN
HALAMAN PENGESAHAN
Laporan ini telah disetujui dan disahkan oleh Dosen Pengampu Suvey Laporan ini telah disetujui dan disahkan oleh Dosen Pengampu Suvey Hidrografi, Departemen Teknik Geodesi Fakultas Teknik, Universitas Hidrografi, Departemen Teknik Geodesi Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro. Diponegoro. Disusun oleh: Disusun oleh: Kelompok VII-A Kelompok VII-A 1.
1. Gabriel Gabriel Yedaya Yedaya I.R I.R 2111011512001621110115120016 2.
2. M M Haris Haris Febriansyah Febriansyah 2111011512001721110115120017 3.
3. Chairunisa Chairunisa Afnidya Afnidya N N 2111011512021110115120018018 4.
4. Yohana Yohana Christie Christie N N 2111011512021110115120037037
5.
5.
Mavita Mavita Nabata Nabata Dzakiya Dzakiya 2111011512021110115120038038Semarang,
Semarang, April April 20172017
Menyetujui, Menyetujui, Mengetahui, Mengetahui, Asisten Dosen Asisten Dosen
Icha Oktaviana Putri Kalinda Icha Oktaviana Putri Kalinda
NIM 21110114
NIM 21110114120044120044
Arief Laila Nugraha ,ST., M.Eng Arief Laila Nugraha ,ST., M.Eng
NIP 1981053
NIP 19810530200604100102006041001 Dosen
Dosen Pengampu Pengampu I I Dosen Dosen Pengampu Pengampu IIII
Bandi Sasmito, ST., MT Bandi Sasmito, ST., MT NIP. 197802
Kelompok VII-A, 2017
Kelompok VII-A, 2017 iiiiii
KATA PENGANTAR
KATA PENGANTAR
Tiada kata yang lebih mulia selain memanjatkan puja dan puji syukur Tiada kata yang lebih mulia selain memanjatkan puja dan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas limpahan rahmat, taufik, hidayah kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas limpahan rahmat, taufik, hidayah serta inayah-Nya kami dapat menyelesaikan Laporan Perhitungan Pasang Surut serta inayah-Nya kami dapat menyelesaikan Laporan Perhitungan Pasang Surut ini tanpa menemui hambatan yang berarti dan tepat waktu. Tidak lupa pula kami ini tanpa menemui hambatan yang berarti dan tepat waktu. Tidak lupa pula kami ucapkan terima kasih kepada :
ucapkan terima kasih kepada : 1.
1. Bapak Ir.Sawitri Subiyanto, M.Si. selaku Ketua Departemen TeknikBapak Ir.Sawitri Subiyanto, M.Si. selaku Ketua Departemen Teknik Geodesi Fakultas Teknik Universitas Diponegoro.
Geodesi Fakultas Teknik Universitas Diponegoro. 2.
2. Bapak Arief Laila Nugraha, ST., M. Eng. dan Bapak Bandi Sasmito, ST.,Bapak Arief Laila Nugraha, ST., M. Eng. dan Bapak Bandi Sasmito, ST., MT. selaku dosen pengampu mata kuliah Survey Hidrografi yang telah MT. selaku dosen pengampu mata kuliah Survey Hidrografi yang telah membimbing kami dalam penyusunan laporan ini.
membimbing kami dalam penyusunan laporan ini. 3.
3. Icha Oktaviana Putri Kalinda selaku asisten dosen mata kuliah SurveyIcha Oktaviana Putri Kalinda selaku asisten dosen mata kuliah Survey Hidrografi yang telah membimbing kami dalam
Hidrografi yang telah membimbing kami dalam penyusunan laporan ini.penyusunan laporan ini. 4.
4. Seluruh pihak yang telah membantu kami dalam menyusun laporan SurveySeluruh pihak yang telah membantu kami dalam menyusun laporan Survey Hidrografi yang tidak dapat kami sebutkan namanya satu persatu
Hidrografi yang tidak dapat kami sebutkan namanya satu persatu
Kami sadar bahwa laporan yang kami susun masih sangat jauh dari Kami sadar bahwa laporan yang kami susun masih sangat jauh dari sempurna, oleh karena itu masukan dan kritikan yang bersifat membangun sangat sempurna, oleh karena itu masukan dan kritikan yang bersifat membangun sangat kami harapkan sebagai acuan agar menjadi lebih baik lagi. Terima kasih.
kami harapkan sebagai acuan agar menjadi lebih baik lagi. Terima kasih.
Semarang,
Semarang, April April 20172017
Penulis Penulis
Kelompok VII-A, 2017
Kelompok VII-A, 2017 iviv
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI
LAPORANLAPORAN PERHITUNGAN PERHITUNGAN ... i... i HALAMAN
HALAMAN PENGESAHAN ....PENGESAHAN ... ... iiii KATA
KATA PENGANTAR PENGANTAR ... ii.. iiii DAFTAR
DAFTAR ISI ...ISI ... ... iviv DAFTAR
DAFTAR GAMBAR GAMBAR ... ... vivi BAB I
BAB I PENDAHULUAN PENDAHULUAN ... ... I-1I-1 I.1
I.1 Latar Latar Belakang ...Belakang ... I-1... I-1 I.2
I.2 Rumusan Rumusan Masalah ...Masalah ... I-2.... I-2 I.3
I.3 Maksud Maksud dan dan Tujuan Tujuan ... ... I-2I-2 I.4
I.4 Sistematika Sistematika Pembuatan Pembuatan Laporan Laporan Praktikum ...Praktikum ... ... I-2I-2 BAB II
BAB II DASAR DASAR TEORI ...TEORI ... ... II-1II-1 II.1
II.1 Pengertian Pengertian Pasang Pasang Surut ...Surut ... II-1... II-1 II.2
II.2 Tipe Tipe Pasang Pasang Surut ...Surut ... II-2... II-2 II.3
II.3 Metode Metode Perhitungan PasaPerhitungan Pasang Surut ...ng Surut ... II-4... II-4 II.3.1
II.3.1 Metode Metode Least Least Square Square ... .. II-5II-5 II.4
II.4 Konstanta Konstanta Harmonik ...Harmonik ... ... II-7II-7 II.5
II.5 Software Software SLP64 ...SLP64 ... ... II-9II-9 BAB III
BAB III PELAKSANAAN PELAKSANAAN DAN DAN ANALISA ANALISA ... III-1... III-1 III.1
III.1 Alat Alat dan dan Bahan...Bahan... III-1... III-1 III.1.1
III.1.1 Alat Alat ... ... III-1III-1 III.1.2
III.1.2 Bahan...Bahan... ... III-1III-1 III.2
III.2 Tahapan Tahapan Pelaksanaan ...Pelaksanaan ... . III-3III-3 III.2.1
III.2.1 Perhitungan Pasang Surut MetodePerhitungan Pasang Surut Metode Least Square Least Square ... III-3 ... III-3 III.3
III.3 Perhitungan Pasang Perhitungan Pasang Surut Surut menggunakan SLP menggunakan SLP 64 64 ... III-7... III-7 BAB IV
Kelompok VII-A, 2017 v IV.1.1 Hasil Data Awal Pasut ... IV-1 IV.1.2 Hasil Matrik A ... IV-4
IV.1.3 Hasil AT... IV-6 IV.1.4 Hasil AT*A... IV-7
IV.1.5 Hasil Matriks (ATA)-1... IV-8
IV.1.6 Hasil Matriks L ... IV-10 IV.1.7 Hasil Matriks ATL ... IV-11
IV.1.8 Hasil (ATL)-1ATL atau matrik X. ... IV-11 IV.1.9 Hasil Kalkulasi ... IV-15
IV.1.10Hasil Perhitungan Bilangan Form-zal ... IV-16 VI.3 Perhitungan Pasut dengan SoftwareSLP64 ... IV-17
I.1 IV-17
IV.2.1 Cleaning ... IV-17 IV.2.2 Convert Data ... IV-18
IV.2.3 Analisa Harmonik ... IV-18 IV.2.4 Prediksi Pasut ... IV-20
IV.2.5 Prediksi Pasut ... IV-21 IV.3 Perbandingan Tiga Metode ... IV-23
IV.4 Prediksi pasut pada tahun 2017 ... IV-24
BAB V PENUTUP ... V-1 V.1 Kesimpulan ... V-1
DAFTAR PUSTAKA ... x LAMPIRAN ... V-1
Kelompok VII-A, 2017 vi
DAFTAR GAMBAR
Gambar II-1 Pengaruh Posisi Bulan dan Matahari Terhadap Pasang Surut di Bumi (Academia, 2017) ... II-2 Gambar II-2 Pasang surut harian ganda (Wyrtki, 1961) ... II-3 Gambar II-3 Pasang surut harian tunggal (Wyrtki, 1961)... II-3 Gambar II-4 Pasang surut campuran condong ke harian ganda (Wyrtki, 1961) . II-4 Gambar 5 Pasang surut campuran condong ke harian tunggal (Wyrtki, 1961) II-4
Gambar II-6 Komponen Harmonik Pasang Surut Air Laut (Slideshare, 2017) .. II-8 Gambar II-7 Tampilan SLP64 dalam command prompt ... II-10 Gambar III-1 Data Pasut Semarang bulan Juli 2017 (DISHIDROS AL) ... III-1 Gambar III-2 Data Pasut Semarang bulan Agustus 2017 (DISHIDROS AL) ... III-2 Gambar III-3 Data Pasut Semarang bulan September 2017 (DISHIDROS AL) III-2 Gambar III-4 Data Data Pasut Semarang untuk Pengolahan SLP64 ... III-3 Gambar III-22 Matriks A ... III-4 Gambar III-23 Matriks ATA ... III-5 Gambar III-24 Matriks (ATA)-1... III-5 Gambar III-25 Matriks ATL ... III-6 Gambar III-26 Matriks X ... III-7 Gambar III-27 Hasil hitungan Amplitudo dan Fase ... III-7 Gambar III-28 Cleaning data pasut ... III-8 Gambar III-29 Tampilan STAINFO ... III-9 Gambar III-30 Pengecekan DTDCNV.DIN ... III-9 Gambar III-31 Langkah-langkah convert data... III-10 Gambar III-32 Proses convert data... III-11 Gambar III-33 Tampilan file wa92512 ... III-11 Gambar III-34 Proses fill data... III-12 Gambar III-35 Tampilan file fill ... III-13 Gambar III-36 Proses tideanl ... III-13 Gambar III-37 Tampilan stasiun yang digunakan ... III-14 Gambar III-38 Pengisian parameter untuk analisis harmonik... III-14 Gambar III-39 Proses analisis harmonik ... III-14
Kelompok VII-A, 2017 vii Gambar III-41 Langkah-langkah prediksi pasut ... III-15 Gambar III-42 Parameter prediksi pasut ... III-16 Gambar III-43 Proses prediksi pasut ... III-17 Gambar III-44 Hasil prediksi pasut ... III-17 Gambar III-45 Prediksi pasut tahun 2017 ... III-18 Gambar III-46 Prediksi pasut tahun 2036 ... III-18 Gambar IV-5 Hasil Matrik A Data Pasut Bulan Juli 2017... IV-5 Gambar IV-6 Hasil Matrik A Data Pasut Bulan Agustus 2017 ... IV-5 Gambar IV-7 Hasil Matrik A Data Pasut Bulan September 2017 ... IV-5 Gambar IV-8 Hasil Matrik AT data pasut bulan Juli 2017 ... IV-6 Gambar IV-9 Hasil Matrik AT data pasut bulan Agustus 2017... IV-6 Gambar IV-10 Hasil Matrik AT data pasut bulan September 2017... IV-7 Gambar IV-11 Hasil Matrik AT*A data pasut bulan Juli 2017 ... IV-7 Gambar IV-12 Hasil Matrik AT*A data pasut bulan Agustus 2017 ... IV-8 Gambar IV-13 Hasil Matrik AT*A data pasut bulan September 2017 ... IV-8 Gambar IV-14 Hasil Matrik (ATA)-1 data pasut bulan Juli 2017 ... IV-9 Gambar IV-15 Hasil Matrik (ATA)-1 data pasut bulan Agustus 2017 ... IV-9 Gambar IV-16 Hasil Matrik (ATA)-1 data pasut bulan September 2017 ... IV-10 Gambar IV-17 Hasil Matrik L data pasut bulan Juli, Agustus dan September 2017
... IV-10 Gambar IV-20 Hasil Matriks ATL data pasut bulan Juli, Agustus dan September 2017 ... IV-11 Gambar IV-21 Hasil Matrik X data pasut bulan Juli 2017 ... IV-12 Gambar IV-22 Hasil Matrik X data pasut bulan Agustus 2017 ... IV-12 Gambar IV-23 Hasil Matrik X data pasut bulan September 2017 ... IV-13 Gambar IV-24 Hasil cleaning ... IV-17 Gambar IV-25 Hasil convert data... IV-18 Gambar IV-26 Pemisah data antar bulan ... IV-18 Gambar IV-27 Hasil analisa harmonik ... IV-19 Gambar IV-28 Chat komponen harmonik hasil perhitungan SLP64 ... IV-20 Gambar IV-29 Hasil high low tidal listing ... IV-21
Kelompok VII-A, 2017 viii Gambar IV-30 Hasil equally space (hourly) values ... IV-22 Gambar IV-31 Contoh prediksi pasut pada tahun 2017 ... IV-25
Kelompok VII-A, 2017 ix
DAFTAR TABEL
Table III-4 Konstanta Harmonik Least Square data pasut bulan Juli 2017 ... III-4 Table IV-1 Tabel Data Pasut Bulan Juli 2017 ... IV-2 Table IV-2 Tabel Data Pasut Bulan Agustus 2017 ... IV-3 Table IV-3 Tabel Data Pasut Bulan September 2017 ... IV-4 Table IV-4 Tabel komponen Amplitudo dan Phase bulan Juli 2017 ... IV-14 Table IV-5 Tabel komponen Amplitudo dan Phase bulan Agustus 2017 ... IV-14 Table IV-6 Tabel komponen Amplitudo dan Phase bulan September 2017 .... IV-14 Table IV-7 Tabel Hasil Kalkulasi data pasut bulan Juli 2017 ... IV-15 Table IV-8 Tabel Hasil Kalkulasi data pasut bulan Agustus 2017 ... IV-15 Table IV-9 Tabel Hasil Kalkulasi data pasut bulan September 2017 ... IV-15 Table IV-10 Komponen Harmonic Utama ... IV-20 Table IV-11 Table Perbandingan ... IV-23
Kelompok VII-A, 2017 I-1
BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Pasang surut adalah fluktuasi muka air laut sebagai fungsi waktu karena adanya gaya tarik benda-benda di langit, terutama matahari dan bulan terhadap massa air laut dibumi. Meskipun massa di bulan jauh lebih dekat, maka pengaruh gaya tarik bulan terhadap bumi lebih besar dari pada pengaruh gaya tarik matahari (Wibawa dkk, 2014).
Pasang surut ini erat hubungannya dengan siklus perjalanan matahari dan bulan dalam keadaan relatifnya terhadap bumi. Keadaan pasang surut di suatu
tempat dilukiskan oleh konstanta harmonik. Sehingga yang dimaksud dengan analisis harmonik pasang surut adalah suatu cara untuk mengetahui sifat dan karakter pasang surut di suatu tempat dari hasil pengamatan pasang surut dalam kurun waktu tertentu. Pengamatan pasang surut idealnya adalah selama 18,6 tahun. Gerakan pasang surut pada tempat-tempat tertentu tidak hanya tergantung pada gaya tarik bulan dan matahari saja, tetapi juga ditentukan oleh gaya friksi; rotasi bumi (gaya coriolis); resonansi gelombang yang disebabkan oleh bentuk, luas, kedalaman, topografi bawah air serta hubungan perairan tersebut dengan laut di sekitarnya (lautan terbuka/laut bebas dengan laut tertutup/laut terisolir) (Kurniawan, 2000). Selain itu, terdapat faktor-faktor non astronomi yang mempengaruhi pasut, seperti tekanan atmosfer, angin, densitas air laut, penguapan dan curah hujan (Mihardja, 1989).
Dalam hal ini pasang surut sangat diperlukan dalam menentukan tinggi muka air laut rata-rata yang digunakan sebagai referensi kedalaman atau tinggi suatu titik. Selain itu data tersebut juga dapat digunakan untuk perhitungan pasut, dan mengetahui karakteristik pasut di suatu daerah. Untuk mendapatkan hasil yang tepat maka perhitungan pasang surut digunakan dalam metode pengolahan data dalam pengukuran pasut yang telah dikembangkan, yaitu metode Admiralt dan metode Least square (Emery and Thomson, 1997) dan menggunkan metode SLP64.
Kelompok VII-A, 2017 I-2 I.2 Rumusan Masalah
Rumusan masalah dari laporan ini adalah :
1. Bagaimana cara perhitungan pasut menggunakan metode Admiralty
dengan data pasut bulan Juli sampai September tahun 2017 ?
2. Bagaimana cara perhitungan pasut menggunakan metode Least square
dengan data pasut bulan Juli sampai September tahun 2017?
3. Bagaimana cara perhitungan pasut menggunakan software SLP64 dengan data pasut tahun 2017 ?
I.3 Maksud dan Tujuan
Maksud diadakannya praktikum ini adalah agar praktikan mampu mengolah data pengamatan pasang surut sehingga diketahui nilai konstanta harmonik dan tipe pasut pada daerah pengamatan. Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam praktikum ini antara lain yaitu :
1. Mengetahui cara dan hasil perhitungan pasut menggunakan metode
Admiralty.
2. Mengetahui cara dan hasil perhitungan pasut menggunakan metode Least square.
3. Mengetahui cara dan hasil perhitungan pasut menggunakan software
SLP64..
I.4 Sistematika Pembuatan Laporan Praktikum
Sistematika penulisan laporan perhitungan pasang saurut ini adalah:
BAB I PENDAHULUAN
Membahas mengenai latar belakang laporan, rumusan masalah laporan, maksud dan tujuan laporan, serta sistematika penulisan laporan.
BAB II DASAR TEORI
Membahas mengenai pengertian Pasang Surut yang di dalam bahasan itu dibahas mengenai teori pasang surut, tipe pasang surut dan arus pasut, kemudian membahas metode Admiralty, metode Least square, serta pada pengolahan software SLP64.
Kelompok VII-A, 2017 I-3 Membahas mengenai perhitungan pasang surut menggunakan metode
Admiralty, metode Least square dan dengan menggunakan software SLP64. BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
Berisi mengenai hasil dan pembahasan pengolahan data dalam pengukuran pasang surut.
BAB V PENUTUP
Berisi kesimpulan dari perhitungan pasang surut menggunakan metode
Admiralty, metode Least square dan dengan menggunakan software SLP64 serta saran-saran.
Kelompok VII-A, 2017 II-1
BAB II
DASAR TEORI
II.1 Pengertian Pasang Surut
Pasang surut laut merupakan suatu fenomena pergerakan naik dan turunnya permukaan air laut secara berkala yang diakibatkan oleh kombinasi gaya gravitasi dan gaya tarik menarik dari benda-benda astronomi terutama oleh matahari, bumi dan bulan. Pengaruh benda angkasa lainnya dapat diabaikan karena jaraknya lebih jauh atau ukurannya lebih kecil. Pasang surut yang terjadi di bumi ada tiga jenis, yaitu: pasang surut atmosfer (atmospheric tide), pasang surut laut (oceanic tide) dan pasang surut bumi padat (tide of the solid earth) (Dronkers, 1964).
Menurut Mac Millan (1966), berkaitan dengan dengan fenomeana pasut, gaya Coriolis mempengaruhi arus pasut. Faktor gesekan dasar dapat mengurangi tunggang pasut dan menyebabkan keterlambatan fase (Phase lag) serta mengakibatkan persamaan gelombang pasut menjadi non linier semakin dangkal perairan maka semaikin besar pengaruh gesekannya. Selain itu juga terdapat beberapa faktor lokal yang dapat mempengaruhi pasut disuatu perairan seperti, topogafi dasar laut, lebar selat, bentuk teluk, dan sebagainya, sehingga berbagai lokasi memiliki ciri pasang surut yang berlainan (W yrtki, 1961).
Pasang surut laut merupakan hasil dari gaya tarik gravitasi dan efek sentrifugal. Efek sentrifugal adalah dorongan ke arah luar pusat rotasi. Gravitasi bervariasi secara langsung dengan massa tetapi berbanding terbalik dengan jarak.
Meskipun ukuran bulan lebih kecil dari matahari, namun gaya tarik gravitasi bulan dua kali lebih besar daripada gaya tarik matahari dalam membangkitkan pasang surut laut karena jarak bulan lebih dekat daripada jarak matahari ke bumi. Gaya tarik gravitasi menarik air laut ke arah bulan dan matahari dengan menghasilkan dua tonjolan (bulge) pasang surut gravitasional di laut. Lintang dari tonjolan pasang surut ditentukan oleh deklinasi, sudut antara sumbu rotasi bumi dan bidang orbital bulan dan matahari (Priyana,1994).
Kelompok VII-A, 2017 II-2 Gambar II-1 Pengaruh Posisi Bulan dan Matahari Terhadap Pasang Surut di Bumi
(Academia, 2017)
Berdasarkan Gambar II-1 dapat kita ketahui posisi Bumi, Bulan dan Matahari yang berbeda dan menyebabkan perbedaan ketinggian pasang surut pada saat posisi konfigurasi tertentu.
II.2 Tipe Pasang Surut
Menurut Dronkers (1964), ada tiga tipe pasut yang dapat diketahui, yaitu : 1. Pasang Surut Diurnal.
Yaitu bila dalam sehari terjadi satu satu kali pasang dan satu kali surut. Biasanya terjadi di laut sekitar katulistiwa.
2. Pasang Surut Semi Diurnal.
Yaitu bila dalam sehari terjadi dua kali pasang dan dua kali surut yang hampir sama tingginya.
3. Pasang Surut Campuran.
Yaitu gabungan dari tipe 1 dan tipe 2, bila bulan melintasi khatulistiwa (deklinasi kecil), pasutnya bertipe semi diurnal, dan jika deklinasi bulan mendekati maksimum, terbentuk pasut diurnal.
Menurut Wyrtki (1961), pasang surut di Indonesia dibagi menjadi 4 yaitu : 1. Pasang Surut Harian Ganda ( semi diurnal tide)
Dalam satu hari terjadi dua kali pasang dan dua kali air surut dengan tinggi yang hampir sama dan pasang surut terjadi secara berurutan secara teratur. Periode pasang surut rata-rata adalah 12 jam 24 menit. Jenis harian tunggal misalnya terdapat di perairan sekitar selat Karimata, antara Sumatra dan Kalimantan.
Kelompok VII-A, 2017 II-3 Gambar II-2Pasang surut harian ganda (Wyrtki, 1961)
2. Pasang Surut Harian tunggal (diurnal tide)
Dalam satu hari terjadi satu kali air pasang dan satu kali air surut. Periode pasang surut adalah 24 jam 50 menit. Pada jenis harian ganda misalnya
terdapat di perairan Selat Malaka sampai ke Laut Andaman.
Gambar II-3Pasang surut harian tunggal (Wyrtki, 1961) 3. Pasang Surut Campuran Condong ke Harian Ganda
Dalam satu hari terjadi dua kali air pasang dan dua kali air surut, tetapi tinggi dan periodenya berbeda. Pada pasang surut campuran condong ke harian ganda (mixed tide, prevailing semidiurnal ) misalnya terjadi di sebagian besar perairan Indonesia bagian timur.
Kelompok VII-A, 2017 II-4 Gambar II-4Pasang surut campuran condong ke harian ganda ( Wyrtki, 1961) 4. Pasang Surut Campuran Condong ke Harian Tunggal
Pada tipe ini dalam satu hari terjadi satu kali air pasang dan satu kali air surut, tetapi kadang-kadang untuk sementara waktu terjadi dua kali pasang dan dua kali surut dengan tinggi dan periode yang sangat berbeda. Sedangkan jenis campuran condong ke harian tunggal (mixed tide, prevailing diurnal ) contohnya terdapat di pantai selatan Kalimantan dan pantai utara Jawa Barat.
Gambar II-5Pasang surut campuran condong ke harian tunggal (Wyrtki, 1961) II.3 Metode Perhitungan Pasang Surut
Data tinggi muka air laut pada rentang waktu tertentu diperlukan untuk menentukan tinggi muka air laut rata-rata yang digunakan sebagai referensi kedalaman atau tinggi suatu titik. Selain itu data tersebut juga dapat digunakan untuk perhitungan pasut, dan mengetahui karakteristik pasut di suatu daerah. Metode perhitungan pasut sendiri ada dua, yaitu:
Kelompok VII-A, 2017 II-5 Metode Least square merupakan metode perhitungan pasang surut di mana metode ini berusaha membuat garis yang mempunyai jumlah selisih (jarak vertikal) antara data dengan regresi yang terkecil. Pada prinsipnya metode Least square meminimumkan persamaan elevasi pasut, sehingga diperoleh persamaan simultan. Kemudian, persamaan simultan tersebut diselesaikan dengan metode numerik sehingga diperoleh konstanta pasut. Analisa dari metode Least square faung adalah menentukan apa dan berapa jumlah parameter yang ingin diketahui. Pada umumnya, jika data yang diperlukan untuk mengetahui tipe dan datum pasang surut diperlukan 9 konstanta harmonis yang biasa digunakan. Cukup aman untuk mengasumsikan bahwa konstanta yang sama mendominasi sifat pasang surut pada lokasi yang baru sama seperti pada lokasi yang sebelumnya untuk daerah geografis yang sama (Wibawa, dkk, 2014).
Secara umum persamaan numerik pasang surut (Wibawa, dkk). :
H = S0 + a.f cs ( t + ( V+u)-G) ………... 2.2 Dimana :
η(tn A) = elevasi pasang surut sebagai fungsi waktu k dan Bk
k = jumlah konstituen yang harus ditentukan = konstanta harmonicωk = Tk
t = periode komponen ke k n = waktu pengamatan tiap jam
Pada metode ini hitungan dilakukan dengan menggunakan persamaan harmonik pasut sebagai berikut :
H = S0 + a.f cs ( t + ( V+u)-G) ………... 2.2 Dimana :
H = tinggi pasut
So = tinggi muka air laut rata-rata terhadap nol palem A = amplitudo komponen pasut
G = fase komponen pasut
V = Argumen astronomis komponen pasut yang berhubungan dengan waktu universal dan ruang
Kelompok VII-A, 2017 II-6 tahun
Dengan mengetahui nilai komponen harmonik maka tahapan selanjutnya untuk mengenal karakteristik pasut adalah dengan memprediksikan kondisi pasut itu. Itulah sebabnya sebelum dilakukan pengolahan pasut harus dilakukan smoothing data pasut agar dapat diketahui kecenderungan pasut itu. Data pasut dapat diolah dari pengamatan pasut selama 15 atau 29 hari. Namun saat ini kita diperkenalkan dengan pengamatan pasut selama 29 hari (piantan 29). Perbedaan lama pengamatan pasut akan memberikan data tabelyang berbeda.
Analisis pasut dilakukan untuk menemukan pola – pola harmonik atau periode pada periodisasi gerak vertikal muka laut, karenanya analisis pasut sering juga disebut sebagai analisis harmonik. Jika faktor meteorologis dihilangkan dari
model gelombang pasut, maka akan diperoleh persamaan sebagai berikut:
Yp(t) = Yo+ ∑Aicos (ωit – Pi )……… 2.3 Keterangan :
Yp(t) = Tinggi muka air karenapasut saat t Yo = Tinggi muka air rata – rata
Ai = Amplitudo komponen pasut ke-i Ti = Periode komponen pasut ke-i T = Waktu
n = Jumlah komponen
Metode kuadrat terkecil didasarkan pada penentuan tinggi muka air model yang memberikan kuadrat kesalahan terhadap tinggi muka air pengamatan yang minimum.
Dalam hal ini panjang pengamatan harus dapat menggambarkan perubahan kecepatan sudut dalam satu bulan untuk kemudian digunakan untuk menghitung besarnya pengaruh dari komponen-komponen pasang surut tersebut. Perubahan kecepatan sudut ini dapat didekati dengan pengamatan setengah bulan yaitu dengan asumsi bahwa perubahan kecepatan sudut untuk setengah bulan berikutnya bisa tergambarkan dari data pengamatan setengah bulan tersebut.
Metode ini dapat digunakan untuk :
1. Penentuan Konstanta Harmonik Pasut : K1, O1, P1, M2, S2, N2, K2, M4, dan MS4. Dalam besaran amplitudo dan fase. Besarnya komponen
Kelompok VII-A, 2017 II-7 tempat ke tempat lainnya.
2. Penentuan tinggi Mean Sea Level (So).
3. Penentuan chart datum berdasarkan Zo (merupakan fungsi dari komponen pasut yang dianalisis).
4. Penentuan kedalaman terhadap chart datum.
Model matematika yang dapat digunakan untuk menyatakan hubungan antara pengamatan dengan parameter dalam hitung perataan parameter adalah : persamaan tersebut menyatakan bahwa pengamatan merupakan fungsi dari parameter.
Data hasil pengamatan akan selalu dihinggapi oleh berbagai kesalahan, baik itu kesalahan sistematik, acak, maupun blunder. Metode kuadrat terkecil hanya dapat digunakan untuk data yang mengandung kesalahan yang bersifat acak saja (artinya kesalahan sistematik dan blunder sudah tidak ada lagi). Selanjutnya, untuk mengeliminasi kesalahan pada hasil pengamatan yang bersifat acak, maka dalam model matematikanya akan selalu disertai dengan vektor koreksi V. Setelah melalui proses linierisasi diperoleh persamaan dasar parameter dalam bentuk matriks :
V = A.X + F ………...……… 2.4 Dengan:
V : Adalah matriks koreksi
A : Adalah matriks koefisien dengan n banyaknya pengamatan L dan u : Banyaknya parameter X
F : Adalah vektor komponen (L – Xo) X : Adalah vektor parameter
II.4 Konstanta Harmonik
Penentuan konstanta pasut laut berhubungan dengan komponen-komponen harmonik gaya yang menyebabkan terjadinya pasut laut. Setelah memperoleh komponen-komponen harmonik gaya pembangkit pasut, maka selanjutnya dilakukan penentuan nilai perubahan amplitude dan fase dari setiap komponen
Kelompok VII-A, 2017 II-8 harmonik terhadap kondisi bumi setimbang yang nantinya akan dinyatakan dalam sebuah konstanta.
Dasar dari analisa harmonik adalah hukum Laplace “ gelombang komponen pasang surut setimbang perjalanannya akan mendapatkan respons dari laut yang dilewatinya, sehingga amplitodenya akan mengalami perubahan, dan fasenya mengalami keterlambatan, namun frekuiensi atau kecepatan sudut masing-masing komponen adalah tetap”. Jadi variasi tinggi muka air laut di suatu tempat dapat dinyatakan sebagai superposisi dari berbagai gelombang komponen harmonik pasang surut (Wibawa, dkk, 2014).
Gambar II-6Komponen Harmonik Pasang Surut Air Laut (Slideshare, 2017) Dalam analisis pasang surut air laut yang menghitung konstanta amplitudo dan fase dari komponen – komponen harmonik, sangat bergantung pada panjangnya data pengamatan tinggi muka laut. Panjang data pengamatan mempengaruhi, banyaknya gelombang komponen harmonik pasang surutlaut yang akan ditentukan konstantanya. Salah satu kriteria yang dapat digunakan ialah kriteria Reyleigh yang apabila terdapat dua komponen A dan B hanya dapat dipisahkan satu sama lain jika panjangnya data lebih dari suatu periode tertentu yang disebut periode sinodik.Periode sinodik dapat dirumuskan sebegai berikut (Emery, 1998):
Kelompok VII-A, 2017 II-9 PS =
−
...2.5 Dimana:PS : Periode Sinodik (jam)
ωA = Kecepatan sudut komponen harmonik A (º/jam) ωB = Kecepatan sudut komponen harmonik B (º/jam) II.5 Software SLP64
Software SLP64 merupakan software yang menggunakan bahasa pemrograman untuk mendapatkan konstanta harmonik dan prediksi pasang surut selama 18,6 tahun. Software ini dapat dimiliki dengan mudah karena berbasis free opensource dan dioperasikan menggunakan command prompt. Data yang dapat dimasukkan dalam yang ada di Local Disk C dan di simpan dalam format .dat (manual book SLP64, 2017). Software ini dengan format yyyy,mm,dd,hh (tinggi dengan 3 angka dibelakang koma). Dalam pengolahannya data tersebut di simpan dalam folder dat pada slp64 .
Selain memasukkan data dalam bentuk .dat tersebut ada data masukan lain yang dimasukkan yaitu stasiun info dengan format isi nomer wilayah pengolahan, nama wilayah yang akan diolah, latitude, longitude, time zone, awal bulan pengukuran negara wilayah yang data pasang surut akan diolah, dalam penulisannya tidak boleh menggunakan tab maupun enter, disarankan menggunakan spasi. Data stasiun info tersebut disimpang dengan format stainfo.din.
Dalam pengolahannya skrip yang digunakan antara lain : 1. Convert.py
2. Fillvm.exe 3. Tideanl.bat 4. Tideprd.py
Kelompok VII-A, 2017 II-10
Kelompok VII-A, 2017 III-1
BAB III
PELAKSANAAN DAN ANALISA
III.1 Alat dan Bahan III.1.1 Alat
Peralatan yang digunakan untuk pengolahan data pasut ini adalah software Microsoft Office Excel 2010 dan software SLP64 serta satu unit komputer dengan spesifikasi berikut:
1. Operasi : Microsoft Windows 8.1 Pro 2. Tipe Sistem : 64-bit Operating System
3. RAM : 2.00 GB Sistem
4. Processor : Intel ® Core ™ i3 Extreme @ 1.80 GHz
III.1.2 Bahan
Bahan yang kelompok kami gunakan untuk melakukan pengolahan adalah 1 buah data pasang surut Kota Semarang bulan Juli sampai September tahun 2017.
Kelompok VII-A, 2017 III-2 Gambar III-2Data Pasut Semarang bulan Agustus 2017 (DISHIDROS AL)
Kelompok VII-A, 2017 III-3 Gambar III-4 Data Data Pasut Semarang untuk Pengolahan SLP64
III.2 Tahapan Pelaksanaan
III.2.1 Perhitungan Pasang Surut Metode
Least Square
Perhitungan pasang surut metode Least Square menggunakan rumus sebagai berikut:
ɳ () + ∑
=
(×) +∑
=
(×)
Rumus diatas digunakan untuk menentukan komponen pada matriks A dengan ω yang didapat melalui 2π x konstanta harmonik dan t adalah waktu pengamatan pasut dalam 24 jam selama 31 hari, sehingga terdapat 744 data untuk data pasut bulan Juli dan Agustus 2017 dan 30 hari, sehingga terdapat 720 data untuk data pasut bulan September 2017
Proses penghitungannya menggunakan Ms. Excel . Rumus diatas dipecah menjadi tiga bagian, antara lain:
Kelompok VII-A, 2017 III-4 1. So
2. Ar .Cos(ωr .t) 3. Br .-Sin(ωr .t)
Berikut adalah contoh sampel perhitungannya, yaitu data pasut bulan Juli 2017:
So = 1
A = cos (0.50587 x 1) = 0.874754152 B = -sin (0.50587 x 1) = -0.484566996 Berikut adalah data dari konstanta harmonik :
Table III-1 Konstanta Harmonik Least Squaredata pasut bulan Juli 2017 Type Keterangan Phase (P) Amplitudo
(H) M2 semi diurnal 12,4206 0,50587 S2 12,0000 0,52360 N2 12,6582 0,49637 K 2 11,9673 0,52503 K 1 diurnal 23,9346 0,26251 O1 25,8194 0,24335 P1 24,0658 0,26108 M4 quarterly 6,2103 1,01174 MS4 6,1033 1,02947
Berikut adalah proses pengolahan data pasang surut menggunakan metode Least Square:
1. Membuat Matriks A.
Kelompok VII-A, 2017 III-5 matriks A itu sendiri, sehingga menghasilkan matriks ATA seperti berikut:
Gambar III-6Matriks ATA
3. Laluinverse matriks ATA sehingga menghasilkan matriks (ATA)-1.
Gambar III-7Matriks (ATA)-1
4. Matriks L merupakan data pengamatan pasut dengan jam dan tanggal yang berurutan. Kemudian matriks L dikalikan dengan matriks AT sehingga
Kelompok VII-A, 2017 III-6 Gambar III-8Matriks ATL
5. Hasil matriks ATL ini kemudian dikalikan dengan matriks (ATA)-1 sehingga menghasilkan matriks X
Matriks X = X = AT[ ATA ]-1 L
Dari hasil matriks X ini kemudian menghasilkan amplitudo dan fase dari konstanta harmonik dengan perhitungan sebagai berikut:
a. Cr =
√ ( )
+ ()
untuk perhitungan amplitudo b. Pr= Arctan
Kelompok VII-A, 2017 III-7 Gambar III-9Matriks X
Amplitudo (H) Phase ( P) M2 0,145475924 -1,352999037 S2 0,095692344 0,966817379 N2 0,042471618 1,143983329 K 2 0,022236834 0,990271513 K 1 0,197770362 0,09316688 O1 0,041826284 -0,429751922 P1 0,069567918 -0,08097554 M4 0,011487403 -0,80592674 MS4 0,010826359 -0,562239246
Gambar III-10Hasil hitungan Amplitudo dan Fase III.3 Perhitungan Pasang Surut menggunakan SLP 64
Langkah-langkah perhitungan pasang surut menggunakan SLP 64 sebagai berikut:
1. Melakukan cleaning data pasut, yaitu merubah format data pasut menjadi yyyy,mm,dd,hh, (tinggi dengan tiga angka dibelakang koma)
Kelompok VII-A, 2017 III-8 Untuk bulan, tanggal, dan jam dengan 1 angka maka didepan angka tersebut harus diberi 0. Contoh tanggal 1, maka penulisannya menjadi 01.
Gambar III-11Cleaning data pasut
2. Kemudian data tersebut di copy kedalam notepad lalu di save atau save as dengan format .dat
3. Lakukan hal tersebut untuk semua bulan yang ada. Setelah itu lakukan penggabungan semua data pasut selama satu tahun menjadi file dengan
format .dat
4. Kemudian data pasut gabungan tersebut di copy ke dalam folder dat yang terdapat pada folder software slp64.
Kelompok VII-A, 2017 III-9 terletak pada folder din pada software slp64, nama file nya adalah STAINFO.DIN
Data pasut yang diolah adalah data hasil pengamatan pasut di wilayah Semarang sehingga stasiun pasut yang digunakan yaitu stasiun pasut dengan nomor 925 yang merupakan stasiun pasut di Semarang.
Gambar III-12 Tampilan STAINFO
6. Setelah itu lakukan pengecekan pada DTDCNV.DIN yang berada pada folder din.
Gambar III-13 Pengecekan DTDCNV.DIN
Pengecekan ini dilakukan untuk mengetahui apakah informasi pada file DTDCNV sudah tepat atau belum. Yaitu pada file DTDCNV year start column = 1 dan year end column = 4, kemudian dilihat pada file data pasut apakah posisi tahun berawal di kolom 1 dan berakhir di kolom 4. Apabila berbeda maka harus dilakukan penggantian baik pada file data pasut maupun
Kelompok VII-A, 2017 III-10 pada data DTDCNV sehingga sesuai. Begitupula untuk bulan, tanggal, jam,
dan data ketinggian.
7. Selanjutnya mulai dilakukan pengolahan data pasut menggunakan software slp64. Sebelumnya pastikan bahwa folder slp64 sudah di copy kedalam drive C. Pengolahan data pasut menggunakan software slp64 memerlukan command prompt untuk memasukkan perintah-perintah yang digunakan.
8. Melakukan convert data pasut ke dalam format slp64 seperti berikut:
Buka command prompt Folder slp64 Folder Util Ketik convert.py
Gambar III-14 Langkah-langkah convert data
Akan muncul perintah untuk memasukkan nama file yang akan di convert, zona, dan juga code untuk format data pasut hasil convert.
File yang akan di convert adalah YaAllahtolong.dat sesuai dengan yang berada pada folder dat. Format penulisan harus diperhatikan, penulisan nama
harus sama pada folder dat dengan yang ditulis pada command prompt . a. Originator filename (in\slp64dat) : diisi dengan YaAllahtolong.dat.
b. Time zone of original data : diisi 105E, informasi ini dapat dilihat pada folder STAINFO.
Kelompok VII-A, 2017 III-11
Gambar III-15Proses convert data
Setelah proses convert selesai maka data hasil convert akan tersimpan pada folder dat dengan nama wa92512.dat, 925 merupakan nomor stasiun pasur dan 12 merupakan tahun data yang digunakan.
Kelompok VII-A, 2017 III-12 9. Langkah selanjutnya adalah melakukan pengisian gap data. Hal ini dilakukan apabila data yang diproses tidak penuh selama satu tahun, karena slp64 hanya memproses data selama satu tahun sehingga apabila data tidak penuh harus dilakukan pengisian terhadap data yang kosong. folder slp64
folder util fillvm.exe
Perintah ini digunakan untuk melengkapi data yang belum ada, setelah proses selesai file nya akan tersimpan pada folder dat dengan nama fill
Kelompok VII-A, 2017 III-13 Gambar III-18 Tampilan file fill
10. Selanjutnya adalah Analisis Harmonik, yaitu untuk mendapatkan nilai konstanta harmonik pasang surut. folder slp64 folder tide folder ana TIDEANL.BAT.
Maka akan muncul tampilan seperti pada gambar dibawah ini. Saat muncul perintah untuk memasukkan nomor stasiun masukkan nomor stasiun yang
digunakan yaitu 925.
Gambar III-19 Proses tideanl
Selanjutnya akan muncul pertanyaan apakah perlu untuk memodifikasi data stasiun yang ada. Jika perlu memodifikasi pilih Y namun jika tidak pilih N. pada gambar dibawah ini karena stasiun sudah benar maka tidak diperlukan
Kelompok VII-A, 2017 III-14 Gambar III-20 Tampilan stasiun yang digunakan
a. Y untuk waktu yang bereferensi ke GMT.
b. Masukkan waktu perekaman data pasut awal dan yang terakhir. c. Untuk versi outputnya pilih A (untuk hasil observasi).
Gambar III-21 Pengisian parameter untuk analisis harmonik
Kelompok VII-A, 2017
Kelompok VII-A, 2017 III-15III-15
berformat LIS dan INP925 y
berformat LIS dan INP925 yang berformat PRD pada folder harm.ang berformat PRD pada folder harm.
Gambar III-23
Gambar III-23 Tampilan hasil analisa konstanta Tampilan hasil analisa konstanta harmonik harmonik 11.
11. Terakhir adalah prediksi pasut, yang digunakan untuk melihat keadaan pasangTerakhir adalah prediksi pasut, yang digunakan untuk melihat keadaan pasang surut beberapa waktu yang akan datang. Prediksi yang dilakukan yaitu selama surut beberapa waktu yang akan datang. Prediksi yang dilakukan yaitu selama 19 tahun.
19 tahun. Folder slp64
Folder slp64 Folder tide Folder tide folder pyprd folder pyprd tideprd.py tideprd.py
Gambar III-24
Kelompok VII-A, 2017
Kelompok VII-A, 2017 III-16III-16
Maka akan muncul tampilan seperti pada gambar dibawah ini. Akan muncul Maka akan muncul tampilan seperti pada gambar dibawah ini. Akan muncul perintah untuk
perintah untuk memasukkan nomor memasukkan nomor stasiun, stasiun, waktu awal waktu awal prediksi, prediksi, waktu akhirwaktu akhir prediksi, dan juga zona ny
prediksi, dan juga zona nya.a. a.
a. Nomor stasiun yang digunakan Nomor stasiun yang digunakan adalah 925.adalah 925. b.
b. Waktu awal prediksi dipilih tahun 2012.Waktu awal prediksi dipilih tahun 2012. c.
c. Waktu akhir prediksi 2031, karena prediksi dilakukan untuk 19 tahunWaktu akhir prediksi 2031, karena prediksi dilakukan untuk 19 tahun kedepan.
kedepan. d.
d. Zona nya yaitu 105Zona nya yaitu 105
Gambar III-25
Kelompok VII-A, 2017
Kelompok VII-A, 2017 III-17III-17
Gambar III-26
Gambar III-26 Proses prediksi pasutProses prediksi pasut
Hasil dari prediksi pasut yaitu file prediksi pasut untuk 19 tahun dari tahun Hasil dari prediksi pasut yaitu file prediksi pasut untuk 19 tahun dari tahun 2012-2031 yang disimpan pada folder prd dengan format LIS f
2012-2031 yang disimpan pada folder prd dengan format LIS f ile.ile.
Gambar III-27
Kelompok VII-A, 2017
Kelompok VII-A, 2017 III-18III-18
Gambar III-28
Gambar III-28 Prediksi pasut tahun 2017Prediksi pasut tahun 2017
Gambar III-29
Kelompok VII-A, 2017 IV-1
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
IV.1 Perhitungan Pasut Metode Least Square Menggunakan rumus sebagai berikut :
ɳ () + ∑
=
(×) +∑
=
(×)
Rumus ini digunakan untuk menentukan komponen pada matriks A dengan ω didapat melalui 2π x konstanta harmonik dan t adalah waktu pengamatan pasut dalam jam selama 31 hari, sehingga terdapat 744 data untuk bulan Juli Agustus 2017 dan selama 30 hari, sehingga terdapat 720 data. Dalam penghitungannya melalui Ms. Excel, rumus tadi dipecah menjadi tiga bagian, antara lain So, Ar.Cos(ωr.t), dan Br.Sin(ωr.t).
IV.1.1 Hasil Data Awal Pasut
Penyusunan data awal dibuat atau disusun berdasarkan dengan waktu pengamatan awal hingga pengamatan akhir. Dalam data pasut untuk bulan Juli 2017 pengamataan berlangsung dimulai pada tanggal 1 Juli 2017 pada pukul 01.00 hingga sampai pada tanggal 31 Juli 2017 pada pukul 00.00. Data pasang surut yang digunakan adalah selama 31 hari untuk menyamakan dengan metode pengolahan Admiralty. Untuk bulan Agustus 2017 pengamataan berlangsung
dimulai pada tanggal 1 Agustus 2017 pada pukul 01.00 hingga sampai pada tanggal 31 Agustus 2017 pada pukul 00.00. Data pasang surut yang digunakan adalah selama 31 hari dan untuk bulan September 2017 pengamataan berlangsung dimulai pada tanggal 1 September 2017 pada pukul 01.00 hingga sampai pada tanggal 30 September 2017 pada pukul 00.00. Data pasang surut yang digunakan adalah selama 30 hari
Kelompok VII-A, 2017 IV-2 Table IV-1Tabel Data Pasut Bulan Juli 2017
Kelompok VII-A, 2017 IV-4 Table IV-3Tabel Data Pasut Bulan September 2017
IV.1.2 Hasil Matrik A
Sebelum kita melakukan pengolahan datapasut dengan menggunakan metode Least Square ini, maka kita perlu untuk menyusun matrik A. Berdasarkan data kelompok kami ukuran matrik A 744 x 19 untuk data pasut bulan Juli dan Agustus 2017 dan ukuran matriks A 720 x 19 untuk data pasut bulan September 2017.
Kelompok VII-A, 2017 IV-5 Gambar IV-1Hasil Matrik A Data Pasut Bulan Juli 2017
Gambar IV-2Hasil Matrik A Data Pasut Bulan Agustus 2017
Kelompok VII-A, 2017 IV-6 Salah satu penjelasannya adalah sebagai berikut:
Misalnya untuk data pasut bulan Juli pada t = 1
So cos (w1*t) -sin(w1*t) cos (w2*t) -sin(w2*t) cos (w3*t) -sin(w3*t) cos (w4*t) -sin(w4*t)
1 0.874754152 -0.484566 0.866025404 -0,5 0.87931579 -0.47623 0.865309165 -0.5012385
cos
(w5*t) -sin(w5*t) cos (w6*t) -sin(w6*t)
cos (w7*t) -sin(w7*t) cos (w8*t) -sin(w8*t) cos (w9*t) -sin(w9*t) 0.9657404 -0.2595099 0.9705359 -0.2409565 0.966110 -0.258127 0.5303896 -0.84775 0.515270 -0.85702 IV.1.3 Hasil AT
Pada tabel ini terdapat hasil transpose dari matrik A pada Microsoft Excel dimana sebelumnya data data matrik A tersebut didapat dari perhitungan menggunakan Rumus. Ukuran dari matrik A Transpose ini adalah 19 x 744 untuk data pasut bulan Juli dan Agustus 2017 dan ukuran matrik A transpose 19 x 720 untuk data pasut bulan September 2017, atau kebalikan dari ukuran matrik A.
Gambar IV-4Hasil Matrik AT data pasut bulan Juli 2017
Kelompok VII-A, 2017 IV-7 Gambar IV-6Hasil Matrik AT data pasut bulan September 2017
IV.1.4 Hasil AT*A
Pada Tabel ini terdapat hasil perkalian antara perkalian matrik A yang telah di transpose sebelumnya dengan matrik A dengan menggunakan formula MMULT pada Microsoft excel . Ukuran dari matrik ini adalah 19 x 19,dengan menggunakan rumus di bawah ini:
Kelompok VII-A, 2017 IV-8 Gambar IV-8Hasil Matrik AT*A data pasut bulan Agustus 2017
Gambar IV-9Hasil Matrik AT*A data pasut bulan September 2017
IV.1.5 Hasil Matriks (ATA)-1
Pada Tabel ini terdapat hasil perkalian antara perkalian matriks antara A transpose dengan matiks L kemudian di inverse kan dengan menggunakan formula MINVERSE pada Microsoft excel . Ukuran matrik ini adalah 19 x 19.
Kelompok VII-A, 2017 IV-9
Gambar IV-10 Hasil Matrik (ATA)-1 data pasut bulan Juli 2017
Kelompok VII-A, 2017 IV-10 Gambar IV-12Hasil Matrik (ATA)-1 data pasut bulan September 2017
IV.1.6 Hasil Matriks L
Hasil matriks L diambil dari hasil data pengamatan pasut bulan Juli dan Agustus 2017 yang berjumlah 744 data, dengan ukuran matrik yaitu 744 x 1, sedangkan data pengamatan pasut bulan September yang berjumlah 720 data, dengan ukuran matrik yaitu 720 x 1
Kelompok VII-A, 2017 IV-11 IV.1.7 Hasil Matriks ATL
Pada Tabel ini terdapat hasil perkalian antara perkalian matriks antara A transpose dengan matiks L dengan menggunakan formula MMULT pada Microsoft Excel. Ukuran dari matrik ini adalah 19 x 1.
Gambar IV-14Hasil Matriks ATL data pasut bulan Juli, Agustus dan September 2017
IV.1.8 Hasil (ATL)-1ATL atau matrik X.
Pada Tabel ini terdapat hasil perkalian antara perkalian matriks antara
Matriks (ATL)-1 dengan Matriks ATL menggunakan formula MMULT pada Microsoft excel sehingga hasil perkalian tersebut dinyatakan sebagai Matrik X A (744 x19) At (19 x 744) L ( 744 x 1) At x L ( 19 x1) 446.3 9.499 -54.637 -20.929 -24.215 -3.936 -21.015 -30.525 -12.026 -92.579 9.073 -21.806 -1.574 -84.203 -38.733 -3.123 3.111 3.151 -1.922 A (744 x19) At (19 x 744) L ( 744 x 1) At x L ( 19 x1) 445.8 -25.586 -49.234 -26.117 -25.098 -15.722 -4.251 -36.946 -8.655 -66.256 -20.362 -1.901 7.045 -49.363 -48.666 2.768 2.634 0.898 -3.828 A (720 x19) At (19 x 720) L ( 720 x 1) At x L ( 19 x1) 432.9 -45.464 -25.437 -22.605 -28.576 -1.362 10.484 -35.021 -13.493 -21.829 -43.786 14.861 -2.177 -1.729 -45.938 3.479 -1.456 -1.908 -3.021
Kelompok VII-A, 2017 IV-12 Gambar IV-15 Hasil Matrik X data pasut bulan Juli 2017
Gambar IV-16 Hasil Matrik X data pasut bulan Agustus 2017 0.59992 0.03143 -0.14204 -0.05435 -0.07876 -0.01758 -0.03866 0.01220 0.01859 -0.19691 -0.01840 -0.03802 0.01743 -0.06934 0.00563 -0.00795 0.00829 0.00916 -0.00577 X = AtA-1 * AtL (19 x 1) 0.59930 -0.06107 -0.13178 -0.04269 -0.06544 -0.03806 0.01071 -0.01996 0.01149 -0.15992 -0.13259 0.00492 0.04344 -0.06348 0.05434 0.00826 0.00693 0.00238 -0.01114 X = AtA-1 * AtL (19 x 1)
Kelompok VII-A, 2017 IV-13 Gambar IV-17 Hasil Matrik X data pasut bulan September 2017
Hasil komponen amplitudo dan hasil phase dari matrik X
Nilai Amplitudo adalah hasil penjumlahan antara A2 ditambahkan dengan B2, menggunakan formula SQRT pada Microsoft excel sehingga hasil tersebut dinyatakan sebagai berikut:
AMPLITUDO = A2 + B2
Misalnya untuk amplitudo M2data pasut bulan Juli 2017: Amplitudo M2 = ((0.03143)2 +( -0.14204)2)
= 0.145475924
Nilai Phase adalah hasil pembagian antara A2 dengan B2 menggunakan formula ATAN pada Microsoft excel sehingga hasil tersebut dinyatakan sebagai berikut: .
PHASE (P)= ATAN (B : A)
Misalnya untuk phase M2data pasut bulan Juli 2017: PHASE (P) = ATAN (0.03143: -0.14204) = -1.352999037 -0.12602 -0.07258 -0.05315 -0.07014 0.00798 0.04085 -0.01337 -0.00509 -0.07307 -0.17938 0.04285 0.01079 -0.02585 0.05693 0.01003 -0.00463 -0.00544 -0.00889 X = AtA-1 * AtL (19 x 1)
Kelompok VII-A, 2017 IV-14 Table IV-4 Tabel komponen Amplitudo dan Phase bulan Juli 2017
Table IV-5 Tabel komponen Amplitudo dan Phase bulan Agustus 2017
Table IV-6 Tabel komponen Amplitudo dan Phase bulan September 2017 M2 0.145475924 -1.352999037 S2 0.095692344 0.966817379 N2 0.042471618 1.143983329 K2 0.022236834 0.990271513 K1 0.197770362 0.09316688 O1 0.041826284 -0.429751922 P1 0.069567918 -0.08097554 M4 0.011487403 -0.80592674 MS4 0.010826359 -0.562239246 Amplitudo (H) Phase ( P) M2 0.145243266 1.136845463 S2 0.078131164 0.992808746 N2 0.039536882 -0.274325833 K2 0.023031176 -0.522320486 K1 0.207734378 0.692219214 O1 0.043716649 1.457903223 P1 0.083561445 -0.707902443 M4 0.010780264 0.69804015 MS4 0.011387512 -1.360686703 Amplitudo (H) Phase ( P) M2 0.145426937 0.522529365 S2 0.088001381 0.922317676 N2 0.041625322 1.377865946 K2 0.014311653 0.363821313 K1 0.193694185 1.183978804 O1 0.044190172 0.246625313 P1 0.062523127 -1.144593006 M4 0.011050496 -0.432776518 MS4 0.010426377 1.021473419 Amplitudo (H) Phase ( P)
Kelompok VII-A, 2017 IV-15
IV.1.9 Hasil Kalkulasi
Pada Tabel ini terdapat hasil kalkulasi yang didapat dari hasil nilai nilai pada amplitudo.
Misalnya untuk HHWL data pasut bulan Juli 2017 HHWL= S0+(M2+S2+K 2+K 1+O1+P1)
= 1.172493
Table IV-7Tabel Hasil Kalkulasi data pasut bulan Juli 2017
Table IV-8 Tabel Hasil Kalkulasi data pasut bulan Agustus 2017
Table IV-9 Tabel Hasil Kalkulasi data pasut bulan September 2017
Symbol Formula Result
Higher High Water Level HHWL S0+(M2+S2+K2+K1+O1+P1) 1.172493 Mean High Water Level MHWL S0+(M2+K1+O1) 0.98500
Mean Sea Level MSL S0 0.59992
Mean Low Water Level MLWL S0-(M2+K1+O1) 0.21485 Chart Datum Level CDL S0-(M2+S2+K1+O1) 0.11916 Lower Low Water Level LLWL S0-(M2+S2+K2+K1+O1+P1) 0.02735 Lowest Astronomical Tide LAT S0-(all constituents) -0.03743
Symbol Formula Result
Higher High Water Level HHWL S0+(M2+S2+K2+K1+O1+P1) 1.180722 Mean High Water Level MHWL S0+(M2+K1+O1) 0.99600
Mean Sea Level MSL S0 0.59930 Mean Low Water Level MLWL S0-(M2+K1+O1) 0.20261 Chart Datum Level CDL S0-(M2+S2+K1+O1) 0.12448 Lower Low Water Level LLWL S0-(M2+S2+K2+K1+O1+P1) 0.01789 Lowest Astronomical Tide LAT S0-(all constituents) -0.04382
Symbol Formula Result
Higher High Water Level HHWL S0+(M2+S2+K2+K1+O1+P1) 1.149510 Mean High Water Level MHWL S0+(M2+K1+O1) 0.98467
Mean Sea Level MSL S0 0.60136
Mean Low Water Level MLWL S0-(M2+K1+O1) 0.21805 Chart Datum Level CDL S0-(M2+S2+K1+O1) 0.13005 Lower Low Water Level LLWL S0-(M2+S2+K2+K1+O1+P1) 0.05321 Lowest Astronomical Tide LAT S0-(all constituents) -0.00989
Kelompok VII-A, 2017 IV-16 IV.1.10 Hasil Perhitungan Bilangan Form-zal
Perhitungan bilangan Form-zal ini dilakukan untuk menentukan jenis Pasang Surut dari data pasang surut yang telah kita olah. Yaitu dengan menggunakan rumus dibawah ini:
1 + 1
2 + 2
Kemudian kita masukkan besarnya angka-angka bedasarkan komponen yang telah diperoleh dengan metode Least Square ini, data pasut bulan Juli 2017
F = (0.197770362+ 0.041826284)/( 0.145475924+ 0.095692344) F = 0.993483301
Data pasut bulan Agustus 2017
F = (0.207734378+ 0.043716649)/( 0.145243266+ 0.078131164) F = 1.125692973
Data pasut bulan September 2017
F = (0.193694185+ 0.044190172)/( 0.145426937+ 0.088001381) F = 1.019089538
Dengan melihat tabel pengelompokan Tipe Pasut kita dapat menentukan tipe pasut dari data pasang surut kita.
Berdasarkan hasil perhitungan dan melihat tabel pengelompokan pasut dapat di tetapkan bahwa tipe pasut kelompok kami adalah Campuran Ganda
Kelompok VII-A, 2017 IV-17 berbeda
VI.3 Perhitungan Pasut dengan
Software
SLP64Pada perhitungan pasut tahun dengan dengan software SLP64 kelompok kami menggunakan data Kota Semarang pada tahun 2017. Hasil dari perhitungan ini adalah cleaning , convert data, analisa harmonik dan prediksi pasut selama 19 tahun.
IV.2.1 Cleaning
Hasil cleaning sesuai dengan format pada file DTDCNV yaitu (YYYY,MM,DD,HH,hhhh) dimana YYYY adalah tahun, MM dalah bulan, DD adalah hari dan hhhh adalah data pasut. Pengaturan ini dilakukan agar software SLP64 dapat membaca file dan mengkonversinya ke format yang dapat di olah di software SLP64. Proses cleaning juga mengubah data yang bernilai nol (0) menjadi 9999 agar software SLP64 pada saat proses lanjut tidak membaca data tersebut (data kosong).
Kelompok VII-A, 2017 IV-18
IV.2.2 Convert Data
Konversi data ini dilakukan untuk proses lanjut yaitu analisis harmonik agar data dapat dibaca oleh SLP64. Pada data hasil konversi dapat kita lihat data pasut dikonversi dari kolom kedalam baris dimana satu baris data pasut
mempunyai 12 jam data pengamatan dengan total baris pada konversi yaitu 766 baris. Data tiap bulan dipisahkan dengan angka 9 hingga 2 baris..
Gambar IV-19Hasilconvert data
Gambar IV-20 Pemisah data antar bulan
IV.2.3 Analisa Harmonik
Pada hasil analisa harmonik menghasilkan 51 konstanta harmonik yang menggunakan stasiun Semarang yakni 925 pada tahun 2017. Hasil data harmonik ini mulai dari jam 1, 1 Juli 2017 sampai jam 24, 31 Desember 2017 Dari hasil analisa harmonik ini kita mendapatkan nilai-nilai berikut :
TIME ZONE = 105, LATITUDE = 655, LONGITUDE = 11024E NUMBER OF VALID DATA = 4393
Kelompok VII-A, 2017 IV-19 THEORETICAL RMS = 3.07 MATRIX CONDITION = 0.89 NO.OBS.= 4392 NO.PTS.ANAL.= 4393 MIDPT=12H 30/ 9/17 SEPARATION =1.00
Gambar IV-21 Hasil analisa harmonik Tipe pasut :
(AK1 + AO1)
(AM2+AS2)
F= (21.9384+4.7560)/( 14.0786+8.8405) F = 1,1647
Karena F berada 0.25 < F ≤ 1.50 maka tipe pasut Semarang pada bulan Juli sampai Desember tahun 2017 adalah pasang surut campuran ganda
Kelompok VII-A, 2017 IV-20
Table IV-10 Komponen Harmonic Utama
Gambar IV-22 Chat komponen harmonik hasil perhitungan SLP64
MSL = Z0
Z0 = 59.9775m
IV.2.4 Prediksi Pasut
Data yang dimasukan sebagai berikut :
File version for output predicted tides file : A Station Number : 925 Star year for prediction : 2017 End year for prediction : 2036
Time Zone Reference for Prediction : 105 (Tidak ditambah dengan E atau W)
NO NAME FREQUENCY STN M-Y/M-Y A G AL GL
1 M2 0.0805114 925 717/1217 14.0786 243.51 14.4929 121.39 2 S2 0.08333334 925 717/1217 8.8405 94.65 8.8246 94.57 3 K2 0.08356149 925 717/1217 1.9955 91.06 1.5947 83.79 4 N2 0.07899925 925 717/1217 3.981 174.34 4.1025 274.69 5 K1 0.04178075 925 717/1217 21.9384 341.71 20.0938 248.46 6 O1 0.03873065 925 717/1217 4.756 208.49 4.161 176.61 7 P1 0.04155259 925 717/1217 6.9751 342.88 7.0568 82.76 8 M4 0.1610228 925 717/1217 0.9833 207.42 1.042 323.18 9 MS4 0.16384473 925 717/1217 0.8546 186.61 0.8782 64.41
Kelompok VII-A, 2017 IV-21
Gambar IV-23 Hasil high low tidal listing
Hasil high low prediction adalah daftar prediksi pasang surut tertinggi dan terendah yang di tampilkan berupa prediksi tide table yang berisi ketinggian muka laut satu tahun. Data dibagi per 1 hari dimana dalam 1 hari dibagi lagi menjadi 6 waktu pasang surut. Data yang berisi angka 9999 merupakan data kosong
IV.2.5 Prediksi Pasut
Data yang dimasukan sebagai berikut :
File version for output predicted tides file : A
Station Number : 925
Star year for prediction : 2017 End year for prediction : 2036
Time Zone Reference for Prediction : 105 (Tidak ditambah dengan E atau W)
Kelompok VII-A, 2017 IV-22 Gambar IV-24Hasil equally space (hourly) values
Hasil equally spaced hourly adalah data rata-rata pasut dalam satuan jam yang di tampilkan berupa tabel prediksi pasut yang sama formatnya dengan hasil convert data dimana data dibagi menjadi tiap jam kedalam baris dan perbulan dipisah dengan angka 9 hingga 2 baris.
Kelompok VII-A, 2017 IV-23 IV.3 Perbandingan Tiga Metode
Table IV-11Table Perbandingan
Analisa :
1. Konstanta Harmonik
Dari hasil pengolahan menggunakan ketiga metode tersebut, konstanta harmonik yang dihasilkan pada metode admiralty dan least square memiliki besaran yang hampir sama. Dan dari kedua metode ini didapatkan konstanta harmonik K1, K2, M2, M4, MS4, N2, O1, P1, S2. Sedangkan pada penggunaan SLP64 didapatkan hasil yang berbeda karena rentan waktu yang digunakan berberda. Pada metode least square dilakukan perhitungan untuk data pengamatan selama 3 bulan, sedangkan untuk SLP64 menggunakan data pengamatan selama 6 bulan. Dan pada SLP64 dihasilkan 51 jenis konstanta harmonik.
2. Perkiraan Jenis Pasut
Dengan mengamati nilai bilangan Form-zal, kita bisa memnentukan jenis pasang surut. Dari kedua metode yang digunakan, dihasilkan nilai bilangan Form-zal 0.25 < F ≤ 1.50 yang megindikasikan jenis pasut campuran ganda dimana terjadi fenomena 2X pasang sehari dengan perbedaan tinggi dan interval yang berbeda.
M2 14.0786 M2 0.14548 M2 0.14524 M2 0.14543 S2 8.8405 S2 0.09569 S2 0.07813 S2 0.088 N2 3.981 N2 0.04247 N2 0.03954 N2 0.04163 K2 1.9955 K2 0.02224 K2 0.02303 K2 0.01431 K1 21.9384 K1 0.19777 K1 0.20773 K1 0.19369 O1 4.756 O1 0.04183 O1 0.04372 O1 0.04419 P1 6.9751 P1 0.06957 P1 0.08356 P1 0.06252 M4 0.9833 M4 0.01149 M4 0.01078 M4 0.01105 MS4 0.8546 MS4 0.01083 MS4 0.01139 MS4 0.01043 F 1.1647 F 0.99348 F 1.12569 F 1.01909 HHWL 118.5616 HHWL 1.17249 HHWL 1.18072 HHWL 1.14951 MHWL 100.7505 MHWL 0.985 MHWL 0.996 MHWL 0.98467 MSL 59.9775 MSL 0. 59992 MSL 0.5993 MSL 0.60136 MLWL 19.2045 MLWL 0.21485 MLWL 0.20261 MLWL 0.21805 C DL 10.364 C DL 0.11916 C DL 0.12448 C DL 0.13005 LLWL 1.3934 LLWL 0.02735 LLWL 0.01789 LLWL 0.05321 LAT -4.4255 LAT -0.0374 LAT -0.0438 LAT -0.0099 campuran ganda campuran ganda CHART DATUM
3
HASIL PERKIRAAN JENIS PASUT 2
PARAMETER PERBANDINGAN NO
KONSTANTA HARMONIK 1
campuran ganda campuran ganda SOFTWARE SLP64
JULI AGUSTUS SEPTEMBER METODE LEASTSQUARE
Kelompok VII-A, 2017 IV-24 3. Chart Datum
Sedangkan untuk chart datum metode least square untuk bulan Juli sampai Desember, kita bisa mendapatkan HHWL, MHWL, MSL, MLWL, CDL, LLWL, LAT. Dengan nilai yang tidak terlalu berbeda jauh. Sedangkan pada pennggunaan SLP64 kami ambil sempel pada prediksi untuk 6 bulan
di tahun 2017.
Kelompok VII-A, 2017 IV-25
Gambar IV-25 Contoh prediksi pasut pada tahun 2017
Dengan menggunakan software SLP64 kita bisa mengetahui prediksi pasan dan surut pada tahun 2017. Gambar diatas merupakan beberapa contoh tampilan prediksi pada bulan Januari dan Februari. Pada lampiran telah disertakan hasil prediksi secara lengkap selama 6 bulan dalam tahun 2017.
Pada tabel prediksi didapatkan data berupa waktu dan ketinggian permukaan air laut pada waktu itu. Selain mendetail per bulannya, data yang
didapatkan juga mencapai rentang waktu per hari dimana akan lebih mudah didalam analisis pasang surutnya. Meskipun data ini mendetail perharinya, tetap harus dilakukan validasi dengan mngambil sempel beberapa hari untuk memastikan lagi keakuratan data prediksi ini.
V-1
Kelompok II-A, 2017
BAB V
PENUTUP
V.1 Kesimpulan
1. Perhitungan pasut menggunakan metode Least Square pada bulan Juli sampai September tahun 2017 dilakukan dengan tahapan awal melakukan cleaning data, menghitung matriks A, matriks A transpose, matriks A transpose dikali matriks A dan diinverskan, kemudian memasukkan data tinggi per jam untuk matriks L dan menghitung matriks X, sehingga di dapatkan hasil 9 komponen harmonik berupa M2, S2,N2,K2,K1,01,P1,M4 dan MS4 hasilnya dapat dilihat pada Gamabar dalam satuan cm seperti pada Tabel IV.4.
2. Perhitungan pasut menggunakan metode Least square dengan data pasut selama setahun pada tahun 2017, namun pada praktikum ini hanya ada data dari bulan Juli sampai bulan Desember. Data yang sudah di cleaning di save dalam format.DAT dalam folder dat. Selanjutnya melakukan convert data menjadi convert.py dan melakukan pengecekan stainfo. Apabila ada data pasut yang kosong maka dapat dilakukan analisa komponen harmonic dan melakukan prediksi pasut.
3. Jenis pasut yang dihasilkan dari perhitungan SLP64 pada tahun 2017 adalah harian tunggal, MSL =0 dengan nilai bilangan Form Zal = 1,1647
Saran
1. Gunakan data pasut untuk perhitungan leastsquare yang setiap harinya diamati selama 24 jam
2. Jangan menggunakan dua data dengan tahun yang berbeda untuk mengolah SLP64.
x
Kelompok II-A, 2017
DAFTAR PUSTAKA
Academia. 2017. Makalah Pasang Surut Air Laut (Perencanaan Pelabuhan). http://www.academia.edu/8539470/Makalah_Pasang_Surut_Air_L aut_Perencanaan_Pelabuhan_. Diakses pada tanggal 25 April 2017. Dronkers, J. J. 1964. Tidal Computations in rivers and coastal waters.
North-Holland Publishing Company. Amsterdam
Miharja, D. K., S. Hadi, dan M. Ali, 1994. Pasang Surut Laut. Kursus Intensive Oseanografi bagi perwira TNI AL. Lembaga Pengabdian
masyarakat dan jurusan Geofisika dan Meteorologi. Institut Teknologi Bandung. Bandung.
Priyana, 1994. Studi pola Arus Pasang Surut di Teluk Labuhantereng Lombok. Nusa Tenggara Barat. Skripsi. Skripsi. Program Studi Ilmu dan
Teknologi Kelautan, Fakultas Perikanandan Kelautan.Institut Pertanian Bogor
Rufaida, Nida H. 2008. Perbandingan Metode Least Square (Program World Tides Dan Program Tifa) dengan Metode Admiralty Dalam Analisis Pasang Surut . Tugas Akhir. Program Studi Oseanografi.
Institut Teknologi Bandung.
Slideshare. 2017. Pasang Surut . https://www.slideshare.net/guest01cdf1/pasang-surut-pasut. Diakses pada tanggal 25 April 2017.
Wibawa, dkk. 2014. Studi Naiknya Muka Air Laut di Kawasan Semarang . http://geometocean.blogspot.co.id/2014/02/peramalan-pasang-surut.html. Diakses pada 25 April 2017.
Wyrtki, K. 1961. Phyical Oceanography of the South East Asian Waters. Naga Report Vol. 2 Scripps, Institute Oceanography, California
V-1 Kelompok II-A, 2017
V-2 Kelompok II-A, 2017 AT*L 446,3 9,4994 -54,6371 -20,9289 -24,2145 -3,93607 -21,0148 -30,5248 -12,0263 -92,5791 9,07258 -21,806 -1,57422 -84,2034 -38,733 -3,12284 3,111022 3,15092 -1,92174
V-3 Kelompok II-A, 2017 X 0,59992 z0 0,03143 A1 -0,14204 B1 -0,05435 A2 -0,07876 B2 -0,01758 A3 -0,03866 B3 0,01220 A4 0,01859 B4 -0,19691 A5 -0,01840 B5 -0,03802 A6 0,01743 B6 -0,06934 A7 0,00563 B7 -0,00795 A8 0,00829 B8 0,00916 A9 -0,00577 B9 Amplitudo (H) Phase ( P) M2 0,145475924 -1,352999037 S2 0,095692344 0,966817379 N2 0,042471618 1,143983329 K 2 0,022236834 0,990271513 K 1 0,197770362 0,09316688 O1 0,041826284 -0,429751922 P1 0,069567918 -0,08097554 M4 0,011487403 -0,80592674 MS4 0,010826359 -0,562239246
V-4
Kelompok II-A, 2017
Symbol Formula Result HHWL S0+(M2+S2+K2+K1+O1+P1) 1,172493 MHWL S0+(M2+K1+O1) 0,98500 MSL S0 0,59992 MLWL S0-(M2+K1+O1) 0,21485 CDL S0-(M2+S2+K1+O1) 0,11916 LLWL S0-(M2+S2+K2+K1+O1+P1) 0,02735 LAT S0-(all constituents) -0,03743
V-5
Kelompok II-A, 2017
Least Square Bulan Agustus
AT*L 445,8 -25,586 -49,2341 -26,1172 -25,0976 -15,7222 -4,25132 -36,9455 -8,65488 -66,2557 -20,3621 -1,90141 7,044883 -49,3632 -48,6655
V-6 Kelompok II-A, 2017 2,633599 0,897881 -3,8279 AT*L 0,59930 So -0,06107 A1 -0,13178 B1 -0,04269 A2 -0,06544 B2 -0,03806 A3 0,01071 B3 -0,01996 A4 0,01149 B4 -0,15992 A5 -0,13259 B5 0,00492 A6 0,04344 B6 -0,06348 A7 0,05434 B7 0,00826 A8 0,00693 B8 0,00238 A9 -0,01114 B9 Amplitudo (H) Phase ( P) M2 0,145243266 1,136845463 S2 0,078131164 0,992808746 N2 0,039536882 -0,274325833 K2 0,023031176 -0,522320486 K1 0,207734378 0,692219214 O1 0,043716649 1,457903223 P1 0,083561445 -0,707902443 M4 0,010780264 0,69804015 MS4 0,011387512 -1,360686703
V-7
Kelompok II-A, 2017
Symbol Formula Result
HHWL S0+(M2+S2+K2+K1+O1+P1) 1,180722 MHWL S0+(M2+K1+O1) 0,99600 MSL S0 0,59930 MLWL S0-(M2+K1+O1) 0,20261 CDL S0-(M2+S2+K1+O1) 0,12448 LLWL S0-(M2+S2+K2+K1+O1+P1) 0,01789
V-8 Kelompok II-A, 2017 AT*L 432,9 -45,4643 -25,4365 -22,6047 -28,576 -1,36219 10,48384 -35,0208 -13,4926 -21,8292 -43,7858 14,86132 -2,17709 -1,72928 -45,9382 3,478732 -1,45627 -1,90804 -3,02088
V-9 Kelompok II-A, 2017 X 0,60136 So -0,12602 A1 -0,07258 B1 -0,05315 A2 -0,07014 B2 0,00798 A3 0,04085 B3 -0,01337 A4 -0,00509 B4 -0,07307 A5 -0,17938 B5 0,04285 A6 0,01079 B6 -0,02585 A7 0,05693 B7 0,01003 A8 -0,00463 B8 -0,00544 A9 -0,00889 B9 Amplitudo (H) Phase ( P) M2 0,145426937 0,522529365 S2 0,088001381 0,922317676 N2 0,041625322 1,377865946 K2 0,014311653 0,363821313 K1 0,193694185 1,183978804 O1 0,044190172 0,246625313 P1 0,062523127 -1,144593006 M4 0,011050496 -0,432776518 MS4 0,010426377 1,021473419
V-10 Kelompok II-A, 2017
Symbol Formula Result HHWL S0+(M2+S2+K2+K1+O1+P1) 1,149510 MHWL S0+(M2+K1+O1) 0,98467 MSL S0 0,60136 MLWL S0-(M2+K1+O1) 0,21805 CDL S0-(M2+S2+K1+O1) 0,13005 LLWL S0-(M2+S2+K2+K1+O1+P1) 0,05321
V-11 Kelompok II-A, 2017
V-12
V-13 Kelompok II-A, 2017
V-14 Kelompok II-A, 2017
V-15 Kelompok II-A, 2017
V-16 Kelompok II-A, 2017
V-17 Kelompok II-A, 2017