BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Jenis penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK). Penelitian tindakan kelas adalah penelitian yang dilakukan untuk meningkatkan proses dan praktis pembelajaran (Arikunto, 2006:96). PTK berfokus pada kelas atau pada proses belajar mengajar bukan pada input kelas maupun output. Adapun tujuan PTK yakni:
a. Meningkatkan mutu isi, masukan, proses serta hasil pendidikan dan pembelajaran di sekolah.
b. Meningkatkan sikap profesional pendidikan dan tenaga pendidikan c. Membantu guru dan tenaga pendidikan mengatasi masalah pembelajaran
dan pendidikan di dalam dan luar kelas.
Penelitian tindakan kelas memiliki karakteristik (1) Dirancang untuk mengatasi permasalahan nyata. (2) Diterapkan secara kontektual. (3) Data di peroleh langsung dari pengamatan atas perilaku refleksi (Natawidjaya,1997). Menurut Aqib (2006), PTK memiliki karakteristik: (1) Didasarkan pada masalah yang dihadapi guru dalam instruksional. (2) Adanya kolaborasi dalam pelaksanaanya. (3) Peneliti sekaligus sebagai praktisi yang melakukan refleksi. (4) Bertujuan memperbaiki dan atau meningkatkan kualitas praktik instruksional. (5) Dilaksanakan dalam rangkaian langkah dengan beberapa siklus.
3.2 Setting dan Karakteristik Subjek Penelitian 3.2.1 Tempat Penelitian
Penelitian Tindakan Kelas ini dilakukan di SD N Kebondowo 01 terletak di desa Kebondowo. Lingkungan sekitar SD dilingkupi dengan rumah penduduk sekitar. SD Kebondowo 01 terletak di pinggir jalan raya Salatiga-Banyubiru. Di samping kiri SD terdapat rumah penduduk desa Kebondowo, dan di samping kanan SD terdapat warung fotocopy yang memfalitisi siswa dan staff guru SD N Kebondowo 1 jika membutuhkan alat tulis ataupun memfotocopy dokumen. Di
38
dalam area sekolah, terdapat lapangan yang digunakan untuk mendukung proses pembelajaran dan kegiatan upacara. Di dalam sekolah terdapat 6 ruangan yang digunakan untuk menunjang proses pembelajaran, satu ruang untuk kantor guru, satu ruang digunakan untuk ruangan agama katolik dan kristen, satu ruang untuk koperasi sekolah yang menyediakan makanan dan minuman serta alat tulis, satu ruang untuk perpustakaan sekolah, dan satu mushola di bagian belakang sekolah yang digunakan untuk melakukan sholat setelah jam sekolah selesai. Di dalam ruang khususnya kelas 5 terdapat alat peraga dan gambar tokoh, gambar peta yang digunakan untuk menunjang proses pembelajaran. Di dalam kelas banyak dipajang karya siswa, inidigunakan untuk memotivasi siswa dalam berkreativitas. 3.2.2 Subjek Penelitian
Subjek dari penelitian tindakan kelas ini adalah siswa kelas 5 sejumlah 29 siswa yang terdiri dari 14 siswa laki-laki dan 15 siswa perempuan. Karakteristik siswa kelas 5 yang rata - rata berumur 11 tahun menuju tahap berpikir konkret atau nyata. Kondisi sosial ekonomi orang tua siswa sangat beragam. Sebagian besar berprofesi sebagai nelayan dan petani. Banyak siswa yang kurang dipantau dalam perkembangan belajarnya. Saat kegiatan belajar mengajar berlangsung, banyak siswa yang asyik bermain sendiri, berbincang – bincang dengan temannya tanpa memperhatikan guru yang sedang menjelaskan, siswa kurang aktif dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar. Sehingga dalam hal ini mempengaruhi hasil belajar siswa khususnya dalam mata pelajaran IPA yang masih rendah.
3.2.3 Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada semester II tahun pelajaran 2014/2015, dimana pelaksanaannya diperkirakan berlangsung mulai akhir bulan Februari 2015.
3.3 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional
Dalam penelitian ini terdapat tiga variabel yaitu team games tournament keaktifan belajar, dan hasil belajar. Adapun rinciannya sebagai berikut:
39
1) Team games tournament merupakan variabel independen atau variabel bebas
dalam penelitian ini. Team games tournament adalah salah satu bentuk pembelajaran kooperatif yang menuntut siswa untuk bekerja sama dengan kemampuan yang berbeda-beda dalam tim dan berkomunikasi antar siswa dalam menyelesaikan permainan dalam turnamen. Saat turnamen berlangsung, siswa memperoleh poin-poin bagi tim belajar mereka dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan. Siswa dituntut untuk berpikir teliti dan tepat dalam menjawab pertanyaan.
2) Keaktifan belajar dan hasil belajar merupakan variabel dependen atau variabel terikat dalam penelitian ini. Definisi operasional keaktifan belajar dan hasil belajar adalah sebagai berikut:
a) Keaktifan belajar adalah suatu kegiatan yang bersifat fisik maupun mental dalam suatu proses pembelajaran seperti aktif menjawab pertanyaan guru, aktif mengajukan pertanyaan pada guru, aktif memperhatikan penjelasan dari guru dan mencatat hal – hal yang penting dari penjelasan guru, serta aktif mengikuti pembelajaran sesuai dengan langkah – langkah model pembelajaran yang diterapkan oleh guru. Keaktifan belajar siswa dapat diukur dengan menggunakan lembar observasi.
b) Hasil belajar adalah perubahan tingkah laku yang meliputi pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang merupakan hasil dari aktivitas belajar. Dalam penelitian ini hasil belajar yang digunakan dapat diperoleh dari rata-rata penilaian pengetahuan, sikap, dan keterampilan pada pembelajaran IPA.
3.4 Prosedur Penelitian
Model penelitian tindakan kelas yang peneliti gunakan mengikuti metodologi penelitian tindakan kelas dari Kemmis dan McTaggart. Tiap siklus pada penelitian ini terdiri dari empat komponen, yaitu perencanaan (planning), tindakan (acting), pengamatan (observing), dan refleksi (reflecting). Namun antara komponen acting dan observing dijadikan sebagai sebuah kesatuan. Dalam penerapannya, acting dan observing merupakan dua kegiatan yang tidak
41
3.5 Rencana Tindakan
3.5.1 Rencana Tindakan Siklus I
Berdasarkan pembelajaran team games tournament pada mata pelajaran IPA maka kegiatan siklus I dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Tahap Perencanaan
Tahap perencanaan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Menentukan SK, KD, dan indikator pembelajaran berdasarkan materi IPA yang akan diajarkan.
b. Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). c. Menyiapakan kartu soal dan kartu jawaban.
d. Menyiapkan alat peraga.
e. Menyusun lembar observasi aktivitas guru dan siswa . f. Menyusun lembar observasi keaktifan belajar siswa. g. Menyusun soal tes formatif.
2. Tahap Pelaksanaan Tindakan dan Observasi
Pelaksanaan tindakan merupakan implementasi kegiatan pembelajaran yang sesuai dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Observasi tidak dipisahkan dengan pelaksanaan tindakan karena observasi dilakukan selama tindakan berlangsung. Kepala sekolah berperan sebagai observer. Observer mengamati jalannya pembelajaran untuk menilai kemampuan guru dalam mengelola kelas serta aktivitas siswa dalam pembelajaran. Observer melakukan pengamatan terhadap proses pelaksanaan tindakan dengan mengisi lembar observasi aktivitas siswa, lembar observasi aktivitas guru, dan lembar observasi keaktifan siswa.
Adapun gambaran pelaksanaan tindakan sebagai berikut: a) Membuka pelajaran dengan mengucapkan salam dan berdoa.
b) Mempersiapkan media pembelajaran dan menyampaikan tujuan pembelajaran.
42
d) Guru menyampaikan materi menggunakan alat peraga diiringi dengan tanya jawab dengan siswa.
e) Pembagian kelompok yang terdiri dari empat sampai lima siswa dalam satu kelompok.
f) Guru menjelaskan tata cara permainan.
g) Siswa melakukan permainan turnamen pembelajaran setelah tim menerima amplop yang berisi permainan yang akan dilakukan
h) Masing-masing tim melakukan permainan dengan waktu yang tercepat. i) Guru menghitung waktu yang diperoleh masing-masing tim.
j) Guru bersama siswa menghitung skor dan waktu yang diperoleh masing-masing tim melalui lembar skor yang diisi masing-masing-masing-masing tim berdasarkan kebenaran jawaban.
k) Guru mengumumkan pemenang turnamen dan memberikan penghargaan kepada tim yang menang.
l) Guru membimbing siswa dalam menarik kesimpulan.
m) Guru menanamkan nilai moral pada siswa berdasarkan kegiatan pembelajaran yang baru saja dilakukan.
n) Siswa mengerjakan soal – soal tes formatif. 3. Tahap Refleksi
Pada tahap ini perlu memahami hal-hal yang berkaitan dengan proses dan hasil yang diperoleh dari tindakan yang telah dilakukan. Kemudian melakukan analisis terhadap temuan-temuan yang berupa hambatan, kekurangan atau kelemahan yang diperoleh selama pelaksanaan siklus pertama sebagai masukan untuk siklus berikutnya. Berdasarkan data yang telah dianalisis tersebut maka peneliti dapat menyimpulkan apakah semua kegiatan telah berjalan sesuai dengan yang diharapkan atau tidak. Pada tahap refleksi juga dilakukan perencanaan tindak lanjut siklus II untuk memperbaiki kekurangan siklus I.
3.5.2 Rancangan Siklus II dan seterusnya.
Rancangan siklus II dan seterusnya sama seperti pada siklus I, tetapi dikembangkan berdasarkan refleksi siklus I dengan langkah-langkah seperti pada
43
siklus I. Penelitian dilakukan sampai semua indikator baik indikator proses maupun indikator hasil sudah mencapai indikator kinerja.
3.6 Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data
Berikut ini akan disajikan mengenai teknik dan instrumen pengumpulan data. Teknik yang dipakai untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini adalah teknik observasi dan teknik tes. Sedangkan instrumen pengumpulan data dalam penelitian ini adalah lembar observasi dan butir soal tes dengan bentuk uraian. 3.6.1 Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini ada dua yaitu dengan teknik observasi dan tes. Teknik observasi digunakan untuk mengukur kegiatan guru, kegiatan siswa, dan keaktifan siswa. Sedangkan teknik tes digunakan untuk mengukur hasil belajar siswa.
3.6.1.1 Observasi
Teknik observasi digunakan untuk mengetahui perkembangan kegiatan guru, kegiatan siswa, dan keaktifan siswa dalam menerapkan pembelajaran team games tournament pada mata pelajaran IPA. Observer bertugas untuk melakukan pengamatan dan penilaian melalui pengisian lembar observasi kegiatan guru, kegiatan siswa, dan lembar observasi keaktifan siswa pada setiap pertemuan. Untuk menentukan apakah kegiatan guru dan kegiatan siswa siswa sudah berjalan baik atau belum, peneliti membuat presentasi keberhasilan terlaksana sintak pembelajaran team games tournament pada pembelajaran IPA.
Pada lembar observasi keaktifan siswa, peneliti membuat 3 kategori keaktifan yaitu keaktifan tinggi, sedang, dan kurang dengan rentang skor yang telah ditetapkan oleh peneliti. Dari jumlah skor yang didapatkan pada lembar observasi keaktifan masing-masing siswa kemudian disimpulkan apakah termasuk dalam kategori keaktifan tinggi, sedang, atau rendah. Dalam penelitian ini, salah satu syarat pembelajaran dikatakan berhasil jika minimal 80% siswa berada pada kategori keaktifan tinggi.
44
Teknik tes digunakan untuk mengukur kemampuan siswa sebelum dan sesudah menerapkan pembelajaran team games tournament pada pembelajaran IPA. Bentuk tes yang diberikan pada siswa ialah berupa soal uraian. Tes dilakukan sebelum tindakan, setelah tindakan siklus I, dan setelah tindakan siklus II. Dari hasil belajar baik pada prasiklus, siklus I, dan siklus II kemudian masing-masing dibuat tabel distribusi frekuensi. Untuk mempermudah dalam membuat tabel distribusi frekuensi, menurut Subana (2000:48) rentang skor hasil belajar yang perlu dilakukan yaitu menentukan Jangkauan (J), Banyaknya kelas (K), dan Panjang kelas (P). Adapun rumus yang digunakan adalah sebagai berikut:
Kelas Interval = 1+ 3,3 (log n) = 1+3,3 (log 30) = 1 + 3,3 (1,46)
= 5,81 dibulatkan menjadi 6 Jangkauan = Nilai Tertinggi – Nilai Terendah
Setelah itu dibuat tabel ketuntasan hasil belajar IPA prasiklus, siklus I, dan siklus II. Dari tabel ketuntasan hasil belajar IPA kemudian peneliti membuat data ketuntasan hasil belajar IPA kedalam bentuk diagram lingkaran.
3.6.2 Instrumen Pengumpulan Data
Instrumen pengumpulan data dalam penelitian ini terdiri dari lembar observasi untuk mengukur kegiatan guru, kegiatan siswa, keaktifan belajar siswa, dan butir soal tes digunakan untuk mengukur hasil belajar siswa.
a) Lembar Observasi
Lembar observasi digunakan untuk mengamati kegiatan guru, kegiatan siswa, dan keaktifan siswa selama proses pembelajaran dengan penerapan pembelajaran team games tournament dari awal sampai akhir pembelajaran. Pengisian lembar observasi ini dengan memberikan tanda checklist (√) pada kolom sesuai hasil yang diamati observer terhadap kegiatan guru dan kegiatan siswa. Adapun kisi-kisi lembar observasi kegiatan guru, kegiatan siswa, dan keaktifan belajar IPA disajikan dalam tabel 3.
45
Tabel 3
Kisi – Kisi Lembar Observasi Kegiatan Guru
No Aspek Indikator No. Item
1. Pra
Pembelajaran
a. Mempersiapkan perlengkapan pembelajaran atau alat peraga yang digunakan selama proses
pembelajaran.
b. Memeriksa kesiapan siswa .
1
2 2. Kegiatan
Awal
a. Melakukan apersepsi dan menyampaikan tujuan pembelajaran.
3, 4 3. Kegiatan Inti a. Menyampaikan materi dengan alat
peraga.
b. Melakukan tanya jawab dengan siswa tentang materi yang disampaikan.
c. Menjelaskan langkah – langkah permainan team games
tournament.
d. Membagi siswa ke dalam 7 tim. e. Membagikan amplop yang berisi
kartu lembar pertanyaan, lembar jawaban
f. Meminta setiap tim untuk
melakukan permainan berdasarkan lembar kerja yang diterima oleh masing-masing tim dengan waktu yang paling cepat.
g. Menghitung waktu yang diperoleh masing-masing tim.
h. Mengawasi aktivitas siswa dan memberikan bantuan siswa selama melakukan permainan.
i. Menghitung skor dan waktu yang diperoleh masing-masing tim melalui lembar skor yang diisi masing-masing tim berdasarkan kebenaran jawaban j. Mengumumkan pemenang permainan. 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14
46
4. Kegiatan Akhir
a. Menyimpulkan materi yang dipelajari.
b. Melakukan refleksi.
15 16 Total
Setelah dihitung skor total dari seluruh indikator kegiatan guru selama proses pembelajaran maka kemudian dihitung presentase pelaksanaan kegatan pembelajaran team games tournament yang sesuai dengan indikator. Penghitungan presentase tersebut dengan cara
x 100%
Kisi-kisi lembar observasi kegiatan belajar siswa disajikan dalam tabel berikut ini:
Tabel 4
Kisi – Kisi Lembar Observasi Kegiatan Siswa
No Aspek Indikator No. Item
1. Pra
Pembelajaran
a. Menyiapkan perlengkapan pembelajaran (buku, alat tulis) yang digunakan selama
pembelajaran.
b. Kesiapan siswa dalam menerima materi pembelajaran.
1
2 2. Kegiatan
Awal
a. Siswa memperhatikan dan menanggapi apersepsi yang dilakukan guru dengan melakukan tanya jawab. b. Siswa menyimak tujuan
pembelajaran yang disampaikan oleh guru.
3
4
3. Kegiatan Inti a. Siswa mendengarkan penjelasan guru.
b. Siswa mengajukan pertanyaan yang berhubungan dengan materi kepada guru.
c. Siswa menjawab pertanyaan yang diajukan guru.
d. Siswa berkelompok sesuai yang telah ditentukan guru
5 6
7 8
47
No Aspek Indikator No. Item
e. Setiap tim menerima amplop f. Setiap tim melakukan permainan
dan dengan waktu yang tercepat. g. Perwakilan tim maju ke depan
dan mengambil amplop kedua di meja utama.
h. Membuat jumlah skor yang diperoleh masing-masing tim
9 10 11 12 4. Kegiatan Akhir
a. Siswa membuat kesimpulan dengan bimbingan guru.
b. Siswa melakukan refleksi dengan membuka kartu lembar ke tiga untuk membacakan pesan moral.
13 14
Total
Setelah dihitung skor total dari seluruh indikator kegiatan siswa selama proses pembelajaran maka kemudian dihitung presentase pelaksanaan kegatan pembelajaran team games tournament yang sesuai dengan indikator. Penghitungan presentase tersebut dengan cara
x 100%
Kisi – kisi lembar observasi keaktifan belajar siswa disajikan dalam tabel berikut ini:
Tabel 5
Kisi-Kisi Lembar Keaktifan Siswa
No. Aspek
Keaktifan Indikator Keaktifan Terlaksana
1 Pengalaman 1. melakukan pengamatan 2. membaca
3. membuat sesuatu 2 Interaksi 1. berdiskusi
2. mengajukan pertanyaan 3. meminta pendapat orang lain 4. bekerja dalam kelompok
3 Komunikasi 1. memperhatikan atau memberi komentar atau pertanyaan yang menantang
2. menceritakan/mempresentasikan 3. mendengarkan atau memberi komentar
48
No. Aspek
Keaktifan Indikator Keaktifan Terlaksana
4. melaporkan secara lisan atau tertulis 5. mengemukakan pikiran atau pendapat 4 Refleksi 1. menyimpulkan kembali hasil kerja atau
pikiran sendiri Jumlah skor
Dalam mengisi lembar observasi keaktifan belajar siswa pada masing-masing indikator, observer memberi skor 1 pada indikator keaktifan apabila terlaksana
Penentuan kategori hasil pengukuran keaktifan belajar siswa pada mata pelajaran IPA dapat dilihat pada tabel berikut ini :
Tabel 6
Pedoman Pengkategorian Keaktifan Belajar Siswa
Lembar observasi kegiatan guru terdiri dari 16 item pernyataan, lembar observasi kegiatan siswa terdiri dari 14 item pertanyaan, sedangkan lembar observasi keaktifan siswa terdiri dari 4 aspek keaktifan, dan 13 indikator pengukuran keaktifan siswa.
b)Butir Soal Tes
Instrumen butir soal tes digunakan untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan tingkat pemahaman siswa terhadap pembelajaran, untuk mengetahui kondisi hasil belajar siswa prasiklus, dan sebagai pembanding peningkatan hasil belajar antar siklus. Soal tes ini berbentuk soal uraian yang diberikan sebelum pembelajaran atau prasiklus dan akhir kegiatan pembelajaran tiap siklus.
Penelitian ini dilaksanakan sampai siklus II. Adapun kisi-kisi soal siklus I, dan siklus II sebagai berikut:
No Skor Kategori Keaktifan Belajar
1. ≥10 Tinggi
2. 5-9 Sedang
49 Tabel 7
Kisi – Kisi Soal IPA Siklus I Mata Pelajaran : Ilmu Pengetahuan IPA
Kelas/Semester : V/II
Standar Kompetensi :7. Memahami perubahan yang terjadi di alam dan hubungannya dengan penggunaan sumber daya alam.
Kompetensi Dasar : 7.6 Mengidentifikasi peristiwa alam yang terjadi di Indonesia dan dampaknya bagi makhluk hidup dan lingkungan.
Indikator Tujuan Soal
1. Menyebutkan peristiwa alam yang terjadi di Indonesia.
1. Diberikan kesempatan mereview
pengalamannya dari media massa tentang peristiwa alam, siswa dapat menyebutkan 4 contoh peristiwa alam yang pernah terjadi di Indonesia dengan benar.
1. Berdasarkan informasi yang telah kamu lihat dari televisi atau dari kehidupan nyata. Sebutkan 4 contoh peristiwa alam yang pernah terjadi di Indonesia yang kamu ketahui!
2. Disajikan jenis-jenis gempa dalam tabel,
siswa dapat
mengemukakan jenis gempa dan pengertian jenis gempa tersebut dengan runtut dengan benar.
1. Kemukakan jenis-jenis gempa dan jelaskan pengertian pada tabel yang tersedia!
53
Indikator Tujuan Soal
Melaporkan hasil kerja tim.
Diberikan kesempatan untuk melaporkan hasil kerja tim di depan kelas, siswa secara berkelompok dapat melakukan presentasi dengan sungguh-sungguh.
Tabel 8
Kisi-Kisi Soal IPA Siklus II Mata Pelajaran : Ilmu Pengetahuan IPA
Kelas/Semester : V/II
Standar Kompetensi : 7. Memahami perubahan yang terjadi di alam dan hubungannya dengan penggunaan sumber daya alam
Kompetensi Dasar : 7.7 Mengidentifikasi beberapa kegiatan manusia yang dapat mengubah permukaan bumi. .
Indikator Tujuan Soal
1. Menyebutkan contoh sumber daya alam yang dapat diperbarui.
1. Diberikan pengertian sumber daya alam yang dapat diperbarui, siswa dapat menyebutkan 4 contoh sumber daya alam yang dapat diperbarui dengan benar.
1. Pengertian sumber daya alam yang dapat diperbarui adalah yaitu sumber daya alam yang dapat dikembangkan dan tetap tersedia walaupun dipakai terus menerus. Dari pengertian tersebut, sebutkan 4 contoh-contoh sumber daya alam yang dapat diperbarui!
2. Pengertian sumber daya alam yang dapat diperbarui adalah yaitu sumber daya alam yang dapat dikembangkan dan tetap tersedia walaupun dipakai terus menerus. Dari pengertian tersebut, sebutkan 3 contoh sumber daya alam yang dapat diperbarui dan manfaat dari sumber daya alam tersebut!
57
Berdasarkan tabel kisi – kisi soal pada siklus I dan siklus II dapat dijelaskan pedoman penskoran pada Tabel 7 dan Tabel 8 dibawah ini :
Tabel 9
Pedoman Penskoran Penilaian Soal Uraian Siklus I No.
Soal Kunci Jawaban Skor
Total Skor 1 a. Banjir b. Tanah longsor c. Tsunami d. Gempa bumi a. 1 b. 1 c. 1 d. 1 4 2 a. Gempa tektonik
Gempa yang ditimbulkan oleh pergeseran letak batuan yang ada di dalam bumi.
b. Gempa vulkanik
Gempa yang terjadi karena akan ada gunung meletus. c. Gempa runtuhan
Gempa yang terjadi akibat dindig gua dalam tanah runtuh.
a. 1 1 b. 1 1 c. 1 1 6 3 a. Gunung meletus
Terdengar suara gemuruh dari dalam tanah
Terjadinya gempa dengan kekuatan kecil hingga sedang Naiknya suhu di sekitar kawah gunung berapi
Keringnya sumber-sumber mata air.
1 1 1 1 1 5
4 Tanda-tanda tanah longsor: Terdengar suara gemuruh
Tanah bergetar seperti gempa bumi Penyebab tanah longsor:
hutan yang gundul hujan lebat
tanah terlalu curam (miring)
1 1 1 1 1 5
5 Angin puting beliung
Penyebab: ada angin yang sangat kencang Dampak : pohon banyak yang tumbang
Banyak rumah yang rusak Tsunami
Penyebab: adanya gempa bumi di bawah laut Dampak : menimbulkan korban jiwa
Kerusakan bangunan 1 1 1 1 1 1 6
6 Membuang sampah pada tempatnya
Membersihkan saluran air agar menjadi lancar Penanaman kembali hutan yang gundul (reboisasi) Pembuatan tanggul permanen di sekitar aliran sungai Melakukan penghijauan di lahan-lahan kosong sebagai daerah resapan air.
1 1 1 1 1 5
58
No.
Soal Kunci Jawaban Skor
Total Skor 7 a. Kehilangan tempat tinggal (menimbun
rumah-rumah penduduk)
b. Meruntuhkan semua benda diatasnya
2 2
4
8 Gunung meletus Dampak positif:
Abu dan lahar dingin dapat menyuburkan lahan pertanian Gunung berapi mengeluarkan belerang yang bisa digunakan pada industri obat-obatan
Daerah gunung berapi dapat dijadikan obyek wisata Dampak negatif:
Merusak daerah pemukiman, pertanian, Merusak jalan
Manusia dan hewan juga menjadi korban jiwa
1 1 1 1 1 1 6 Tabel 10
Pedoman Penskoran Penilaian Soal Uraian Siklus II No.
soal Kunci Jawaban Skor
Total Skor 1 a. Udara b. Air c. Tanah d. Tumbuhan 1 1 1 1 4
2 a. Udara :untuk bernafas
b. Air: untuk kebutuhan sehari-hari, minum, mandi c. Tanah: untuk menanam pohon.
2 2 2
6
3. a. Alumunium
Sifat: mudah menghantarkan panas, ringan, dan tahan karat
Kegunaan: bahan pembuatan peralatan rumah tangga dan pesawat terbang.
b. Besi
Sifat: mudah berkarat
Kegunaan: bahan bangunan, mesin, bahan dasar pembuatan baja
c. Tembaga
Sifat: mudah menghantarkan listrik
Kegunaan: bahan dasar pembuatan kabel listrik.
1 1 1 1 1 1 6
59
No.
soal Kunci Jawaban Skor
Total Skor 4. Penebangan pohon secara liar
Hutan akan berubah menjadi lahan tandus dan gersang, penggundulan hutan juga berdampak pada kehidupan makhluk hidup dan menyebabkan hewan-hewan hutan kehilangan makanan dan tempat berlindung.
5
Jika menyebutkan dampak dari penebangan hutan secara jelas secara benar, runtut, dan jelas.
5 Jika menyebutkan dampak dari penebangan hutan benar,
runtut, dan kurang jelas.
4 Jika menyebutkan dampak dari penebangan hutan secara
benar, kurang runtut, dan kurang jelas.
3 Jika menyebutkan dampak dari penebangan hutan kurang benar, kurang runtut, dan kurang jelas.
2 Jika menyebutkan dampak dari penebangan hutan tidak
benar, tidak runtut, dan tidak jelas.
1 5. Penambangan pasir
Penambangan pasir digali secara meluas sehingga meninggalkan kubangan-kubangan raksasa di area bekas penambangan.
5
Jika menyebutkan dampak dari penambangan pasir secara benar, runtut, dan jelas.
5 Jika menyebutkan dampak dari penebangan hutan benar,
runtut, dan kurang jelas.
4 Jika menyebutkan dampak dari penebangan hutan secara
benar, kurang runtut, dan kurang jelas.
3 Jika menyebutkan dampak dari penebangan hutan kurang benar, kurang runtut, dan kurang jelas.
2 Jika menyebutkan dampak dari penebangan hutan tidak
benar, tidak runtut, dan tidak jelas.
1 6. Membuka lahan pertanian dibidang pertanian
Membuka lahan pertanian di bidang pertanian merupakan dampak dari aktivitasmanusia yang positif, karena dengan menanam padi petani bisa menghasilkan padi, dan diolah menjadi beras, dan dimasak menjadi nasi.
5
Jika menyebutkan dampak dari membuka lahan di bidang pertanian secara benar, runtut, dan jelas.
5 Jika menyebutkan dampak dari membuka lahan di bidang
pertanian benar, runtut, dan kurang jelas.
4 Jika menyebutkan dampak dari membuka lahan di bidang
pertanian secara benar, kurang runtut, dan kurang jelas.
3 Jika menyebutkan dampak membuka lahan di pertanian
kurang benar, kurang runtut, dan kurang jelas.
2 Jika menyebutkan dampak dari membuka lahan di bidang
pertanian tidak benar, tidak runtut, dan tidak jelas.
60
No soal
Kunci Jawaban Skor Total
Skor 7. Pembakaran hutan
Akibat: Dampak pembakaran hutan adalah asap yang ditimbulkan akan mengganggu pernapasan manusia. Lahan hutan yang dibakar akan meluas, sehingga dapat merusak ekosistem dalam hutan tersebut.
2
2
4
8. Tanah menjadi gersang Menyebabkan longsor Menyebabkan banjir
Hewan kehilangan tempat tinggal Hewan kesulitan mendapatkan makanan
1 1 1 1 1
Soal siklus I dan siklus II disajikan dalam bentuk soal uraian. Skala yang digunakan dalam pengukuran instrumen ini menggunakan sistem bobot dalam memberikan nilai terhadap jawaban siswa untuk setiap nomor berdasarkan tingkat kesukaran tiap nomor. Dalam menilai kebenaran jawaban soal-soal bentuk uraian dipertimbangkan beberapa aspek, antara lain: (a) kebenaran isi sesuai dengan kaidah-kaidah materi yang ditanyakan, (b) sistematika atau urutan logis dari kerangka berpikirnya yang dilihat dari penyajian gagasan jawaban dan (c) bahasa yang digunakan dalam mengekspresikan buah pikirannya (Nana Sudjana, 2014). Bobot nilai menggunakan skala 1-10. Untuk soal kategori mudah diberi bobot empat, kategori soal sedang diberi bobot lima, dan kategori soal sulit diberi skor enam.
Uji instrumen berupa butir soal tes dilaksanakan di kelas 6 SD Kebondowo 01 dengan jumlah responden 29 siswa.
3.7 Uji Instrumen Pengumpulan Data 3.7.1 Uji Validitas
Validitas instrumen digunakan untuk mengukur suatu instrumen tertentu untuk menunjukkan tingkat kevalidan/kesahihan sebuah instrumen..
Untuk mengetahui validitas, instrumen terlebih dahulu diujicobakan di kelas uji coba yaitu di kelas 6 SD N Kebondowo 01. Instrumen yang valid berarti alat ukur yang digunakan untuk mendapatkan data (mengukur) itu valid. Valid
61
berarti instrumen tersebut dapat dgunakan untuk mengukur apa yang seharusnya diukur.
Untuk mengetahui tingkat validitas yaitu dengan melihat angka pada Corrected Item-Total Correlation. Untuk uji validitas, jumlah responden yang digunakan untuk uji instrumen menentukan nilai Corrected Item-Total Correlation (r) pada r tabel. Nilai tersebut lalu digunakan sebagai standar untuk melihat soal yang valid dan tidak valid dengan mencocokkan nilai yang mucul pada Corrected Item-Total Correlation yang keluar pada program SPSS.
Penetapan butir soal yang valid digunakan sebagai acuan ketentuan tingkat validitas suatu soal yaitu nilai Corrected Item-Total Correlation pada r tabel untuk jumlah responden 29 siswa yakni 0,367 dengan taraf signifikan 5%. Jika nilai yang muncul di kolom Corrected Item-Total Correlation SPSS ≥ 0,367 menyatakan bahwa soal tersebut valid. Sedangkan nilai signiikan ≤ 0,367 menyatakan bahwa soal tersebut tidak valid. Rincian hasil pengujian validitasdengan menggunakan SPSS 16,00 dapat dilihat pada lampiran. Hasil uji validitas soal siklus I dapat dilihat pada Tabel 11 sebagai berikut :
Tabel 11
Hasil Uji Validitas Soal Siklus I Bentuk
Instrumen Item Soal Valid Tidak Valid
Soal yang digunakan
Uraian 1, 2, 3, 4, 5, 6,
7, 8. 1, 2, 3, 4, 6. 5, 7, 8. 1, 2, 3, 4, 6. Total 8 soal uraian 5 valid 3 tidak valid 5 uraian
Berdasarkan tabel 11 hasil uji validitas soal siklus I, dari 8 item soal uraian terdapat 5 item soal yang dinyatakan valid dan 3 item soal yang dinyatakan tidak valid. Adapun soal yang valid adalah nomor 1, 2, 3, 4, dan 6. Sedangkan soal yang tidak valid adalah nomor 5, 7, dan 8. Pada siklus II, berikut hasil uji validitas soal siklus II dapat dilihat pada Tabel 12 sebagai berikut:
62
Tabel 12
Hasil Uji Validitas Soal Siklus II Bentuk
Instrumen Item Soal Valid Tidak Valid
Soal yang digunakan Uraian 1, 2, 3, 4, 5, 6,
7, 8. 1, 3, 5, 6, 8. 2, 4, 7. 1, 3, 5, 6, 8. Total 8 soal uraian 5 valid 3 tidak valid 5 uraian
Berdasarkan tabel 12 hasil uji validitas soal siklus I, dari 8 item soal uraian terdapat 5 item soal yang dinyatakan valid dan 3 item soal yang dinyatakan tidak valid. Adapun soal yang valid adalah nomor 1, 3, 5, 6, dan 8 . Sedangkan soal yang tidak valid adalah nomor 2, 4 dan 7.
3.7.2 Uji Reliabilitas
Reliabilitas instrumen digunakan untuk mengetahui tingkat keajegan instrumen dari variabel yang diukur. Menurut Ign Masidjo (1995:209) suatu tes yang reliabel menunjukkan ketepatan dan ketelitian hasil dalam satu atau berbagai pengukuran. Untuk mengukur reabilitas pada penelitian ini, digunakan soal yang sudah valid dari uji validitas yang sudah dilakukan. Kriteria untuk menentukan tingkat rebilitas instrumen digunakan pedoman yang dikemukakan oleh George dan Mallery sebagai berikut:
≤ 0,7 : Tidak dapat diterima 0,7 < a ≤ 0,8 : Dapat diterima 0,8 < a ≤ 0,9 : Reabilitas bagus
< 0,9 : Reabilitas memuaskan
Berdasarkan teknik alpha, nilai rebilitas yang dapat diterima harus lebih dari 0,7. Berikut ini merupakan hasil uji rebilitas pada Siklus I dan Siklus II:
Tabel 13
Hasil Uji Reliabilitas Soal Siklus 1
Bentuk Instrumen Jumlah Item Soal Koefisien Reliabilitas (α)
63
Tabel 14
Hasil Uji Reliabilitas Soal Siklus II
Bentuk Instrumen Jumlah Item Soal Koefisien Reliabilitas (α)
Uraian 29 0,926
Berdasarkan hasil reabilitas pada siklus I dan II hasil koefisien reabilitas bahwa siklus I 0,938 dan siklus II0,926 dapat dikategorikan rebilitas memuaskan.
3.7.3 Uji Tingkat Kesukaran
Asumsi yang digunakan untuk memperoleh kualitas soal yang baik disamping memenuhi validitas dan reliabilitas adalah adanya keseimbangan dari tingkat kesukaran atau kesulitan soal tersebut. Keseimbangan yang dimaksud adalah adanya soal-soal yang termasuk mudah, sedang, dan sukar secara proporsional. Tingkat kesukaran soal dipandang dari kemampuan siswa dalam menjawabnya, bukan dilihat dari sudut guru sebagai pembuat soal.
Teknik penghitungan taraf kesukaran butir soal adalah menghitung prosentase yang menjawab benar untuk tiap-tiap item. Menurut Zinal Arifin (2014:134) rumus untuk menghitung taraf kesukaran soal uraian adalah sebagai berikut:
= ℎ
ℎ
=
Kriteria indeks kesukaran dapat dinyatakan dalam tabel berikut: Tabel 15
Kriteria Indeks Kesukaran Soal
Interval Klasifikasi
0,00-0,30 Sulit
0,31-0,70 Sedang
64
Berdasarkan hasil perhitungan untuk 8 soal uraian yang dibuat pada siklus I dan 8 soal pada siklus II, diperoleh tingkat kesukaran soal uraian pada siklus I dan siklus II yang dapat dilihat pada tabel rekap tingkat kesukaran soal uraian siklus I dan siklus II:
Tabel 16
Rekap Tingkat Kesukaran Soal Uraian Siklus I dan Siklus II
Kriteria Item Soal Siklus I Soal Siklus I Item Soal Siklus II Soal Siklus II
Mudah 1 dan 7 1 1 dan 7 1
Sedang 3,4, dan 6 3,4, dan 6 4,5,6, dan 8 5,6, dan 8
Sukar 2, 5, dan 8 2 2 dan 3 3
3.8 Indikator Kinerja
Untuk menentukan keberhasilan dalam penelitian ini, maka ditentukan indikator kinerja. Indikator kinerja berupa indikator proses dan indikator hasil. 3.8.1 Indikator Proses
Indikator proses dalam penelitian ini merupakan indikator ketercapaian dalam proses pembelajaran kegiatan guru dan siswa terhadap penerapan pembelajaran team games tournament. Pembelajaran team games tournament ini tercapai jika kegiatan guru dan kegiatan siswa 100% terlaksana.
3.8.2 Indikator Hasil
Indikator hasil dalam penelitian ini dilihat dari dua aspek yaitu keaktifan belajar dan hasil belajar. Secara rinci dirumuskan berikut ini:
a) Keaktifan belajar
Penelitian berhasil jika minimal 80% dari 29 siswa memiliki kategori keaktifan tinggi (dalam interval x≥10 dimana x adalah skor total keaktifan belajar siswa).
b) Hasil belajar
Penelitian ini berhasil jika minimal 80% dari 29 siswa mencapai ketuntasan belajar dengan KKM ≥ 70,
65
3.9 Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini dilakukan dalam 2 tahapan, yaitu teknik analisis untuk data hasil observasi dan teknik analisis untuk data hasil tindakan. Baik data hasil observasi maupun data hasil tindakan dianalisis dengan teknik deskriptif kualitatif dan deksripsi kuantitatif. Data hasil observasi dalam penelitian ini meliputi data hasil observasi kegiatan guru dan data hasil observasi kegiatan siswa. Observasi kegiatan guru dilakukan selama pelaksanaan tindakan siklus I dan pelaksanaan tindakan siklus II. Observasi kegiatan guru digunakan untuk mengukur apakah guru sudah baik dalam menerapkan pembelajaran team games tournament. Lembar observasi kegiatan guru terdiri dari 16 pernyataan yang terbagi dalam kegiatan pra pembelajaran, kegiatan awal, kegiatan inti, dan kegiatan akhir. Observer mengamati kegiatan guru selama 2 siklus pada pertemuan pertama dan pertemuan ke dua. Observer mengisi lembar observasi kegiatan guru dengan memberikan tanda centang (√) pada kolom ya apabila kegiatan guru dilaksanakan dengan baik dan kolom tidak apabila tidak terlaksana.
Setelah dilakukan analisis data terhadap data hasil observasi kemudian dilakukan analisis data terhadap data hasil tindakan. Data hasil tindakan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah data mengenai keaktifan belajar dan hasil belajar siswa.
Observasi terhadap keaktifan belajar siswa dilakukan dengan mengisi lembar observasi siswa pada masing-masing indikator. Keaktifan belajar siswa diamati selama prasiklus, pelaksanaan tindakan siklus I, dan pelaksanaan tindakan siklus II. Skor yang diberikan pada masing-masing siswa adalah 1 jika indikator keaktifan dilaksanakan oleh siswa. Pada lembar observasi keaktifan belajar siswa terdiri dari 4 aspek keaktifan, yang masing-masing aspek keaktifan memiliki indikator keaktifan. Setelah pelaksanaan tindakan pada masing-masing pertemuan selesai, maka peneliti menjumlah skor total keaktifan belajar masing-masing siswa. Peneliti membuat 3 kategori untuk menarik kesimpulan berdasarkan skor total keaktifan siswa, yakni kategori rendah, sedang, dan tinggi dengan rentang
66
skor yang telah ditetapkan oleh peneliti. Peneliti membuat rentang skor pada masing-masing kategori dengan cara:
= = 4
Dari hasil perhitungan di atas, maka rentang skor pada masing-masing kategori adalah sebagai berikut:
Rendah = 0-4 Sedang = 5-9 Tinggi = ≥10
Dari skor total keaktifan belajar masing-masing siswa, maka dapat disimpulkan apakah keaktifan belajar masing-masing siswa termasuk ke dalam kategori rendah, sedang, atau tinggi. Peneliti menetapkan bahwa salah satu syarat pembelajaran dikatakan berhasil apabila minimal 80% siswa berada pada kategori keaktifan tinggi
Peneliti membuat rekapitulasi data keaktifan pada masing-masing siklus. Rekapitulasi data keaktifan tiap siklus didapatkan dari jumlah skor masing-masing siswa yang didapat pada masing-masing pertemuan kemudian dicari rata- rata skor yang didapat oleh masing-masing siswa. Dari rata-rata skor yang didapat masing-masing siswa, kemudian peneliti menentukan apakah skor rata-rata yang diperoleh masing-masing siswa termasuk dalam kategori keaktifan tinggi, rendah, atau sedang. Untuk mempermudah membaca data, peneliti membuat diagram batang mengenai keaktifan belajar siswa masing-masing siklus. Kemudian untuk mengetahui apakah keaktifan belajar siswa sudah mencapai indikator kinerja atau belum, peneliti membuat diagram persentase keaktifan belajar siswa masing-masing siklusnya.
Data mengenai hasil belajar siswa diperoleh pada siklus I dan siklus II. Peneliti melakukan penilaian terhadap hasil belajar masing-masing siswa dengan cara menghitung rata-rata penilaian sikap (afektif), penilaian ketrampilan (psikomotor) dan penilaian pengetahuan (kognitif). Penilaian sikap (afektif) yang terdiri dari tiga indikator dengan kriteria yang telah ditetapkan oleh peneliti dengan skor yang berkisar antara 1-4 dan penilaian ketrampilan (psikomotorik) yang terdiri dari tiga indikator dengan kriteria yang telah ditetapkan oleh peneliti
67
dengan skor yang berkisar antara 1-4 dan penilaian pengetahuan (kognitif) yang terdiri dari soal evaluasi yang berbentuk uraian dengan jumlah soal 5 uraian yang sudah di uji tingkat validitas dan reliabilitasnya. Untuk mengukur hasil belajar siswa khususnya mata pelajaran IPA pada siklus I dan siklus II disediakan penilaian sikap dan penilaian ketrampilan pada pertemuan pertama dan pertemuan kedua pada setiap siklusnya. Kemudian dari penilaian sikap setiap siswa pada pertemuan pertama dan kedua dijumlahkan dan dirata-rata. Untuk penilaian ketrampilan setiap siswa pada pertemuan pertama dan kedua dijumlahkan dan dirata-rata Penilaian kognitif dilaksanakan pada saat evaluasi akhir dengan menggunakan 5 soal uraian dengan jumlah total skor 25. Untuk soal yang diberikan saat siklus I dan siklus II teknik penilaiannya adalah dengan menjumlah skor kemudian dikalikan 4. Hasil akhir dari perhitungan hasil belajar adalah dengan menjumlahkan penilaian sikap, penilaian ketrampilan dan penilaian kognitif kemudian dibagi 3.
Data kuantitatif yang diperoleh dari hasil tes evaluasi dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut :
ℎ = ℎ× 100
Kriteria ketuntasan minimal (KKM) dikonfirmasikan dalam Tabel 15 kriteria ketuntasan sebagai berikut:
Tabel 17
Kriteria ketuntasan hasil belajar SD Negeri Kebondowo 01 KKM Kualifikasi
≥70 Tuntas
<70 Belum Tuntas
Setelah didapatkan data mengenai hasil belajar siswa, kemudian penulis membuat tabel distribusi frekuensi prasiklus, siklus I, dan siklus II untuk mempermudah dalam mempermudah dalam membaca data mengenai hasil belajar siswa. Kemudian data mengenai hasil belajar siswa dibuat dalam bentuk diagram batang. Setelah itu peneliti membuat tabel ketuntasan belajar siswa untuk menentukan jumlah siswa yang tuntas dan tidak tuntas. Untuk lebih memperjelas
68
mengenai persentase ketuntasan belajar siswa, peneliti membuat diagram lingkaran hasil belajar prasiklus, siklus I, dan siklus II.
Setelah melakukan pengolahan data terhadap keaktifan dan hasil belajar siswa, khususnya pada mata pelajaran IPA maka penulis melakukan analisis hasil belajar siswa dengan teknik deskriptif komparatif, yakni dengan membandingkan keaktifan belajar dan hasil belajar siswa prasiklus, siklus I, dan siklus II.
Peneliti membuat tabel perbandingan keaktifan belajar siswa prasiklus, siklus I, dan siklus II. Untuk mempermudah dalam membaca data, kemudian peneliti membuat diagram batang mengenai perbandingan persentase keaktifan belajar siswa prasiklus, siklus I, dan siklus II.
Peneliti membuat tabel rekapitulasi data mengenai perbandingan ketuntasan hasil belajar IPA prasiklus, siklus I, dan siklus II. Untuk mengetahui perbandingan antara jumlah siswa yang tuntas dan belum tuntas pada prasiklus, siklus I, dan siklus II, peneliti membuat diagram batang mengenai perbandingan persentase ketuntasan belajar prasiklus, siklus I, dan siklus II. Lalu peneliti membuat diagram batang mengenai peningkatan rata-rata kelas agar lebih jelas mengenai peningkatan hasil belajar siswa.
Dari segi hasil belajar, salah satu syarat pembelajaran dikatakan berhasil ialah minimal 80% dari 29 siswa mencapai ketuntasan belajar (KKM=70). Sedangkan dari segi keaktifan belajar, ialah salah satu syarat pembelajaran dikatakan berhasil ialah apabila minimal 80% siswa berada pada kategori keaktifan tinggi.