• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB 2 LANDASAN TEORI"

Copied!
30
0
0

Teks penuh

(1)

LANDASAN TEORI

2.1 Hypothermia

Hypothermia yaitu keadaan dimana suhu tubuh menurun dari keadaan suhu normal (37,5°C). Hypothermia bisa menyebabkan hipoglikemia (kadar gula yang rendah), asidosis metabolik (keasamaan darah yang tinggi) dan kematian. Kondisi tersebut karena terjadinya perubahan udara dingin secara mendadak yang menutup peredaran darah keseluruh tubuh yang pada akhirnya dapat berdampak pada kematian. Hipothermia terjadi karena hilangnya panas tubuh, dan secara alami tubuh tidak mampu lagi memproduksi energi panas. Pertolongan pertama yang dapat diberikan adalah dengan menyelimuti pasien dengan selimut tebal atau merapatkan tubuh penolong terhadap pasien bila dibutuhkan. Dokter lebih manganjurkan dengan menaikan suhu panas pada pasien dengan berbagai cara dibandingkan dengan memberinya alkohol yang memberikan sedikit kehangatan tubuh. Hypothermia juga dapat disebabkan dalam pengobatan, turunnya temperatur tubuh menyebabkan turunnya metabolisme tubuh, ini sering digunakan untuk mengurangi pendarahan di bagian tubuh dalam pembedahan.

(2)

Secara umum ada tiga tahap hypothermia, yaitu:

a. Mild Hypothermia (hipothermia ringan),

b. Moderate Hypothermia (hipothermia sedang),

c. Severe Hypothermia (hipothermia berat).

Mild Hypothermia (temperatur tubuh drop dari 37° hingga 35°C). Penderita mulai menggigil saat temperatur tubuhnya turun hingga 36°C (menggigil adalah usaha alamiah tubuh untuk menghasilkan panas, dan menjaga agar temperatur bagian dalam tubuh tetap stabil). Apabila temperatur tubuh terus turun hingga dibawah 36°C, penderita merasa lelah dan dingin. Cara berpikirnya mulai terlihat kacau dan pertimbangannya tidak logis, tidak bisa mengambil keputusan dengan benar, dan mulai berperilaku aneh diluar kebiasaan normal, serta keras kepala (hanya bertindak atas kemauan sendiri). Gerakan tangan, kaki, dan anggota badan lainnya mulai cenderung tidak terkoordinasi dengan otak (misal; mulai sering tersandung sesuatu saat berjalan, menyampar botol minum, menginjak kompor, bahkan kesulitan untuk mengancingkan jacket). Penderita masih terlihat bernafas secara normal namun terus menggigil dan gemetar. Apabila penderita Mild Hypothermia tidak segera ditangani, dan itu dianggap sesuatu yang wajar saja, maka temperature tubuh semakin turun.

Moderate Hypothermia (temperatur tubuh turun dari 35° hingga 32°C), ditandai dengan kulit ditubuhnya terlihat memucat, otot-otot menjadi kaku dan sulit menggerakkan jari tangan (koordinasi tubuh terganggu). Jari tangan dan kaki mati rasa. Menggigil hebat, lalu sama sekali berhenti menggigil (cadangan energy di dalam tubuh sudah habis dipergunakan untuk menggigil, bukan berarti penderita tidak lagi kedinginan). Penderita sudah tidak mampu berpikir atau

(3)

mengingat-ingat sesuatu (menjadi pelupa), dan terlihat tidak mampu merespon dengan baik, bicaranya gagap dan terlihat sulit melontarkan kata-kata. Beberapa area tertentu pada tubuh yang biasanya selalu hangat menjadi dingin (Samping Leher, Ketiak, kunci paha). Gerakan semakin lamban, kondisi tubuh kian lemah, dan seperti orang yang mengantuk berat. Selanjutnya dibawah temperature 32°C semua proses metabolisme tubuh termasuk napas, degub jantung dan fungsi otak semakin melemah.

Severe Hypothermia (temperatur tubuh terus turun dari 32° hingga 28°C), ditandai dengan penderita mulai sering hilang kesadaran, Perilakunya tidak rasional. Kulit terlihat membiru, napas dan denyut nadi melemah. Pupil mata membuka lebar, penderita terlihat seperti sudah meninggal. Kematian (temperatur tubuh terus turun dari 28° hingga 25°C). Dibawah temperatur 28° penderita tidak sadarkan diri dan terjadi henti jantung. Kematian terjadi sebelum temperatur mencapai 25°C. Berapa lama seseorang dapat bertahanhidup dari serangan hipothermia? Sangat tergantung dari berbagai faktor yang mendukung untuk terus dapat bertahan hidup, atau berbagai faktor yang membuat situasi semakin memburuk. Kematian karena hipothermia bisa terjadi dibawah 24 jam.

2.2 Gambaran umum alat Patient Warmer

Patient Warmer adalah suatu alat untuk menjaga kestabilan suhu tubuh pasien ketika pasien mengalami Hypothermia. Alat ini pada dasarnya memanfaatkan panas yang dialirkan dengan menggunakan blower sebagai media penghantar panas sehingga kondisi pasien tetap terjaga dalam keadaan hangat. Sistem penghangat tubuh Patient Warmer Touch Model 5200 ditujukan untuk

(4)

mencegah dan merawat pasien hypothermia, misalnya dengan pasien operasi, pasien sebelum operasi, wanita hamil yang menggigil selama masa pembiusan sampai hypothermia, atau pasien manapun yang tidak nyaman dimana lingkungannya sangat dingin. Panas suhu dikontrol melalui tombol-tombol panel. Panel tersebut memiliki 3 suhu, yaitu: 32 - 34 °C, 36 – 40 °C, 42 - 46 °C ( Michel,2004). Pemilihan suhu menunjukan tingkatan suhu udara yang masuk ke dalam selimut.

Gambar 2.1 Patient Warmer Touch Model 5200.

Untuk memulai pengoperasian alat ini, pertama-tama yang kita lakukan adalah dengan menekan tombol switch pada posisi On. Temperatur suhu ruangan akan menyala, dan alat siap untuk memulai bekerja menghembuskan udara panas. Alat ini bekerja setelah mendapat tegangan maka akan mengaktifkan blower, setelah kita menseting suhu yang akan kita gunakan pada keypad. Dari perintah

(5)

tersebut akan diolah oleh mikrokontroler, lalu dari mikrokontroler akan memberi perintah kepada heater dan blower untuk bekerja, bila suhu pada setingan telah tercapai maka heater akan berhenti bekerja dan akan bekerja kembali pada saat suhu turun.

Di dalam alat ini terdapat empat jenis pengaturan manual ketika kita akan mensetting suhu yang kita inginkan, dan tampilan berupa LED. Dimana temperatur suhu yang kita setting adalah suhu rata-rata untuk udara yang akan masuk kedalam blanket. Untuk pasien yang mengalami hipotermia sangat parah atau gawat, maka setting suhu yang dipilih adalah high, dengan tujuan agar tubuh pasien dapat kehangatan lebih cepat.

Gambar 2.2 Cara penggunaan Patient Warmer.

2.3 LM 35

LM 35 adalah sensor panas yang berfungsi mendeteksi besarnya derajat temperature. Aplikasinya sensor ini sangat presisi dalam mendeteksi besarnya derajat panas/temperature. Output yang dihasilkan oleh LM 35 ini sangat linier

(6)

dan terkalibrasi pada satuan derajat celcius. Setiap kenaikan 1 derajat celcius akan menghasilkan 10 mV. Ketelitian dalam mendeteksi panas pada sensor ini sampai ¼ derajat celcius.

Sedangkan jangkauan yang dapat dideteksi oleh LM 35 ini berkisar dari -550C sampai dengan 1500C.

Gambar 2.3 Sensor Suhu LM 35

Gambar 2.4 Konfigurasi Sensor Suhu LM 35

Keluaran sensor ini memiliki tingkat impedansi yang sangat rendah. Selain itu LM 35 ini menggunakan arus sebesar 60μA dan panas yang

(7)

ditimbulkan oleh LM 35 yaitu kurang dari 0,10C pada ruangan terbuka. Untuk mengetahui lebih jelas tentang sensor ini.

Grafik 2.1 Perbandingan suhu dengan tegangan pada LM 35.

Komponen ini terkalibrasi pada satuan celcius. Perubahan linier pada 10 mV setiap 0C. Kepekaannya ± 0,250C. LM 35 dapat bekerja dengan sempurna

pada tegangan 4V sampai dengan 30V. Impedansi output sangat rendah ± 0,1Ω

pada beban 1mA.

2.4 LM 741

Rangkaian penguat adalah suatu rangkaian yang memiliki umpan balik negative sehingga pada rangkaian tersebut akan terjadinya rangkaian tertutup Amplifier Close Loop. Tetapi Amplifier Close Loop ini harus kita beri suatu tahanan Rf. Op Amp dapat melaksanakan beberapa operasi aritmatik seperti penjumlahan, pengurangan, perkalian, integrasi, diferensiasi, dan lain-lain. Maka Op Amp banyak digunakan dalam sistem analog atau sistem analog computer.

(8)

Selain itu rangkaian penguat juga dapat diartikan sebagai rangkaian yang menerima sebuah isyarat atau sinyal masukan pada salah satu inputnya dan akan mengeluarkan sebuah sinyal yang bentuknya tidak berubah yang mana keluarannya itu dapat menjadi lebih besar atau lebih kecil dari sinyal masukannya sehingga outputnya dapat diatur.

Gambar 2.5 Konfigurasi pin IC LM 741.

Keterangan Gambar : 1. Zero Off Set

2. Terminal Masukan Inverting 3. Terminal Masukan Non Inverting 4. Terminal Catu Daya Negatif (-Vcc) 5. Zero Off Set

6. Terminal Keluaran (Output) 7. Terminal Catu Daya Positif (+Vcc)

(9)

2. 4.1 LM 741 sebagai Penguat Penyangga (Buffer)

LM 741 sebagai penguat penyangga (buffer) atau pengikut tegangan. Ini karena besarnya sinyal output yang dihasilkan akan sama dengan besarnya sinyal input yang masuk.

Gambar 2.6 Op Amp sebagai Buffer

Rangkaian buffer adalah menguatkan arus pada output buffer dengan penguatan tegangan yang sama. Rangkaian buffer juga berfungsi untuk mengubah impedansi input yang tinggi ke impedansi input yang rendah.

2.4.2 LM 741 sebagai Penguat Non Inverting

LM 741 sebagai penguat non inverting memiliki yaitu tegangan keluaran yang dihasilkan (Vout) akan memiliki polaritas yang sama dengan tegangan inputannya (Ei).

Adapun rumus-rumus aplikasi dalam pemanfaatan LM 741 yang difungsikan sebagai penguat non inverting adalah sebagai berikut:

(10)

1. Tegangan output yang akan dihasilkan oleh penguat tersebut didefinisikan :

Vout = (1 + Rf/Ri) X Ei ( 2.1 ) Dimana,

Vout = Tegangan keluaran (output) yang dihasilkan Ei = Sinyal inputan yang masuk

2. Faktor penguatan yang terjadi pada penguat non inverting didefinisikan:

A = Vout/Ei ( 2.2 )

Vout/Ei = 1 + Rf/Ri ( 2.3) Dimana,

A = Faktor penguatan (Amplification Close Loop) Vout = Tegangan keluaran (output) yang dihasilkan Ei = Sinyal inputan yang masuk

(11)

2.4.3 LM 741 sebagai Komparator

Rangkaian pembanding tegangan adalah rangkaian yang berfungsi untuk membandingkan antara sinyal inputan yang satu dengan yang lainnya.

Gambar 2.8 Op Amp sebagai Komparator

Rangkaian ini memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

1. Memiliki penguatan yang tak terhingga sehingga output yang akan dihasilkan hanya dua keadaan yaitu +SAT atau –SAT.

2. Memiliki kedua input yang dibandingkan 3. Kadang-kadang memiliki feed back positif 4. Tidak mempunyai feed back negatif

Adapun rumus-rumus aplikasi dari sebuah komparator adalah sebagai berikut:

Vout = (E2-E1) X AoL ( 2. 4 )

Dimana,

(12)

E2 = sinyal masukan non inverting E1 = sinyal masukan inverting.

AoL = penguatan open loop terbuka (Amplification Open Loop) AoL = 200.000X

2.5 Transistor

Transistor bekerja sebagai saklar diidentifikasikan dalam dua kondisi, yaitu pada saat kondisi (saklar tebuka) yaitu saat transistor mengalami cut off/titik sumbat dan pada saat kondisi (saklar tertutup) yakni pada saat transistor mengalami saturasi.

Transistor memilki dua karakteristik. Contohnya pada transistor tipe NPN, transistor ini dapat bekerja jika tegangan di basis(trigger basis) 0,7 V. Fungsi basis sebagai control sebuah transistor. Selain itu transistor ini dapat bekerja jika ada pergerakan arus dari kaki basis ke kaki emitter. Kemudian juga terjadi pergerakan arus dari kaki kolektor menuju kaki emitter.

Sehingga dapatkan nilai arus dari kolektor menuju emiter lebih besar dari pada arus dari kaki basis menuju emiter. Berdasarkan hukum arus Kirchoff, maka dapat diketahui nilai arus,

I E = IC + I B ( 2.5 ) Kelebihan transistor ini adalah nilai arus yang terjadi pada kolektor lebih besar dari arus yang terdapat pada basis, penguatan arus

dc

, merupakan penentu dari perbedaan dari kedua arus ini.

(13)

βdc = Ic/IB ( 2.6 ) Pada gambar dapat diketahui nilai arus basis berdasarkan hukum Ohm,

IB = VBB - VBE ( 2.7 ) RB

Dan dengan hukum tegangan Kirchoff dapat diketahui,

VCE = VCC - ( IC . RC ) ( 2.8 )

Dengan persamaan yang telah ada maka dapat dibuat sebuah garis beban dari transistor, yaitu grafik yang menampilkan IB dan VCE, grafik dapat dilihat pada garafik 2.2.

(14)

Garis beban yang mengenai kurva IB = IB (sat) dan VCE = 0V merupakan daerah saturasi transistor dan garis beban yang mengenai kurva IB = 0 dan VCE = VCC adalah daerah cut off transistor.

I

I

I

b b b

saturasi

Q

cut off

Vcc

Vce

I

b

>

=

(sat)

(sat)

I

c

Vcc

R

c

0

=

0

Grafik 2.2 Garis Beban Daerah Transistor

2.5.1 Transistor Dalam Keadaan Saturasi

Transistor jenis NPN, jika dioda basis emitor mendapat forward bias dan dioda basis-kolektor juga mendapat forward bias, arus dapat mengalir dari kolektor menuju ke emitor.

Pada kondisi ini transistor berada di saturasi dan VCE atau tegangan antara kolektor dengan emitor dapat dianggap nol. Dalam kondisi ini transistor dianggap seperti sebuah saklar tertutup. Besarnya arus yang mengalir menuju kolektor saat saturasi:

IC = VCC - VCE ( 2.9 ) RC

(15)

Daerah ini ditandai dengan nilai IB yang maksimum. Maka harga VCE kecil sehingga nilai VCE dapat dianggap nol. Untuk perhitungannya secara teori dapat digunakan rumus:

IC (sat) = VCC

RC ( 2.10 )

Gambar 2.10 Transistor Dalam Keadaan Saturasi

2.5.2 Transistor Dalam Keadaan Cut Off

Transistor jenis NPN, apabila basis lebih negatif dari emitor maka arus tidak akan mengalir dari kolektor menuju ke emitor. Berarti Transistor berada dalam daerah cut off dan dapat dianggap sebagai saklar terbuka.

Pada saat kondisi transistor cut off, tidak ada arus bocor yang mengalir melalui beban RC kecuali arus bocor yang sangat kecil (IC  0), sehingga besarnya IC dapat diabaikan. Daerah ini ditandai dengan minimumnya nilai IB. Minimumnya nilai arus basis mengakibatkan nilai arus kolektor juga minimum. Sehingga apabila kita kalkulasikan terhadap rumus maka kita akan mendapatkan perhitungan tegangan cut off, yaitu:

(16)

V CUT OFF = VCC = VCE ( 2.11 )

Gambar 2.11 Transistor Dalam Keadaan Cutt Off

2.6 IC 4011

IC 4011 difungsikan sebagai gerbang NAND. IC 4011 merupakan sebuah perangkat IC yang mempunyai dua buah masukan.

(17)

X

Y

Z

Dimana dalam aplikasinya output yang dihasilkan akan bernilai low atau 0 jika kedua inputan IC tersebut bernilai high atau 1. jika salah satu dari kedua inputan IC tersebut bernilai low atau 0.

Gambar 2.13 Simbol NAND

Keterangan :

X : Input 1

Y : Input 2

Z : Output

Tabel 2.1 Tabel Kebenaran IC 4011

X Y Z

0 0 1

0 1 1

1 0 1

(18)

2.7 IC 74LS 193

IC 74LS193 adalah IC yang berfungsi sebagai pencacah maju atau mundur. IC ini akan mencacah maju atau mundur tergantung dari inputan yang diterima. IC 74LS193 ini adalah IC dengan aktif low. Karena IC ini akan mencacah jika inputan yang masuk pada salah satu kakinya, kaki 4 atau kaki 5 jika keadaan inputannya bernilai 0 (low).

Gambar 2.14 Konfigurasi pin IC 74193

2.8 IC 4028 Sebagai Dekoder BCD

Bilangan-bilangan biner yang sudah mengalami proses counterisasi, agar dapat terbaca disuatu sistem tampilan, maka harus didekoderisasi terlebih dahulu. IC 4028 merupakan salah satu IC yang berfungsi sebagai proses dekoder dari bilangan-bilangan biner menjadi decimal. IC ini akan menerima inputan yang berupa bilangan-bilangan biner melalui kaki 10, 11, 12, dan 13.

. Kemudian setelah masuk melalui kaki-kaki tersebut, bilangan-bilangan tersebut akan mengalami proses dekoderisasi untuk dirubah menjadi bilangan

(19)

decimal. Adapun besarnya bilangan decimal yang terbentuk tergantung dari sinyal-sinyal inputan yang masuk.

Gambar 2.15 Konfigurasi pin IC 4028 Adapun tabel kebenaran dari IC 4028 adalah sebagai berikut:

Tabel 2.2 Tabel Kebenaran IC 4028

D C B A 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 1 0 1 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1 1 1 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 1 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

(20)

Setelah itu, bilangan-bilangan biner yang sudah dirubah menjadi bilangan decimal akan dikeluarkan untuk ditampilkan pada suatu sistem penampil melalui kaki 2, 3, 14, dan 15

2.9 IC 4066

IC 4066 merupakan IC CMOS yang berisi empat buah bilateral switch. Switch dapat dioperasikan dengan memberikan tegangan high pada masing- masing kontrol tiap switch. Apabila control A mendapat tegangan high maka switch A pada pin 1 dan pin 2 akan terhubung dan apabila control A mendapat tegangan low maka switch A pada pin 1 dan pin 2 akan terputus.

Begitu juga pada switch lainnya yang bekerja apabila kontrolnya diberikan tegangan high. IC 4066 ini juga dapat digunakan sebagi multiplekser dan demultiflekser. IC 4066 ini bila dihubungkan dengan IC counter atau dekoder dapat digunakan sebagai rangkaian ADC. IC tambahan tersebut dapat dihubungkan ke kontrol masing-masing switch.

(21)

2.10 IC CA 3162E Sebagai Analog To Digital Converter

IC CA 3162E Sebagai Analog To Digital Converter adalah suatu besaran analog tidak dapat langsung ditampilkan sebagai informasi digital, besaran ini harus terlebih dahulu dirubah atau dikonversikan yaitu perubahan dari kode- kode biner ke desimal agar dapat ditampilkan menjadi informasi digital.

Misalnya tegangan listrik yang masih dalam bentuk analog, kemudian dikonversikan lagi menjadi besaran-besaran digital dan ditampilkan dalam bentuk informasi digital oleh rangkaian ADC. Jadi disini dilakukan dua kali proses konversi didalam memberikan informasi digital yaitu pengubahan tegangan-tegangan listrik (analog) menjadi informasi digital.

Pada rangkaian ini, IC yang digunakan adalah IC CA3162E, tegangan analog yang merupakan input IC CA3162E terdiri dari tegangan 2 inputan, tegangan inputan yang pertama adalah tegangan yang berasal dari tegangan output rangkaian sensor temperatur, sehingga BCD (Binary Counter to Digital) outputnya ke dekoder merupakan BCD out dari sensor temperatur. Sedangkan tegangan input yang kedua adalah tegangan yang bersal dari tegangan setting, sehingga outnya ke dekoder merupakan BCD out dari tegangan setting.

Pada IC CA 3162E ini pin yang digunakan untuk tegangan input analog ini di inputkan melalui pin 11 yang merupakan input tegangan analog high dari IC CA 3162E. Sedangkan input tegangan analog low input melalui pin 10. Pada pin 8 dan 9 dari IC CA 3162E yang dihubungkan ke R variabel dimana fungsinya untuk mengkalibrasi angka digital outputnya 0. Selanjutnya tegangan analog yang masuk ke IC ADC ini akan melewati angka 0 dari IC CA3162E serta penguatannya akan diatur yaitu pada pin 13 .Keluaran dari IC ini adalah terletak

(22)

pada pin 16,15,1 dan 2. Karena data BCD yang digitnya dari IC ini di outputkan ke dekoder IC CA3161E maka diperlukan rangkaian digit driver yang sinkron dengan output BCD .

Gambar 2.17 Konfigurasi pin IC 3162 E

Contoh pada saat BCD output memberikan data BCDnya ke input decoder IC 3161E yaitu pin inputannya pada pin 6,2,1 dan 7 untuk digit pertama (LSD) maka digit driver yang aktif adalah digit driver pada pin 5 dari IC CA 3162E sehingga TR1 akan hidup dengan demikian arus VCC akan mengalir ke emiter yang diteruskan menuju kolektor kemudian masuk ke comon seven segment yang berfungsi untuk menghidupkan seven segment sementara dari anoda seven segment yang dihubungkan ke output dekoder (output IC CA3161E).

2.11 IC CA 3161E Sebagai Dekoder

Dekoder adalah rangkaian gerbang-gerbang yang berguna menampilkan kode-kode biner menjadi tanda-tanda yang dapat ditanggapi secara visual. Dekoder merupakan rangkaian logika yang menggunakan “n” bit masukan biner

(23)

menjadi “m” jalur keluaran sedemikian sehingga setiap jalur keluaran dapat diaktifkan dengan salah satu kombinasi pada masukan.

Secara ideal dekoder yang memiliki n buah input dapat menghasilkan jalur keluaran sebesar 2n kombinasi. Untuk setiap kombinasi-kombinasi masukan ini akan salah satu dari “m” jalur keluaran yang berlogika 1 (tinggi) sedangkan jalur logika yang lain akan berlogika 0 (rendah). Dalam perancangan ini, IC CA 3161 E penulis fungsikan sebagai dekoder, adapun pengertian dari pada dekoder yaitu suatu rangkaian logika yang berfungsi untuk merubah kode-kode biner menjadi tanda-tanda yang dapat ditandai secara visual.

Gambar 2.18 Konfigurasi pin IC 3161 E

Keluaran suatu dekoder merupakan data yang diterima dalam bentuk kode biner. Setiap kombinasi pada masukan hanya mengaktifkan satu terminal keluaran salah satu tipe dari dekoder adalah BCD seven segment dekoder, dimana fungsi dari BCD tersebut adalah merubah kode biner menjadi kode desimal yang

(24)

akan ditampilkan pada display. Masukan BCD mendapat masukan yang berasal dari counter.

Dilihat dari jenisnya, BCD seven segment mempunyai dua jenis yaitu BCD seven segment aktif low dan aktif high. IC CA 3161E adalah salah satu dari jenis BCD seven segment dekoder yang aktif high. Output dari BCD merupakan inputan untuk dekoder (IC CA 3161E) dan inputan dekodernya terletak pada pin 6, 2,1 dan 7.

Data biner yang masuk pada dekoder ini kemudian ditampilkan ke seven segment dekoder sebagai data input berupa desimal ke seven segment.

Tabel 2.3 Tabel Kebenaran IC CA 3161E

INPUT OUTPUT Decimal D C B A a b c d e f g 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1 1 0 0 1 1 1 1 1 0 0 1 0 0 0 1 0 0 1 0 2 0 0 1 1 0 0 0 0 1 1 0 3 0 1 0 0 1 0 0 1 1 0 0 4 0 1 0 1 0 1 0 0 1 0 0 5 0 1 1 0 0 1 0 0 0 0 0 6 0 1 1 1 0 0 0 1 1 1 1 7 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 8 1 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0 9

(25)

2.12 IC MOC 3020

IC MOC 3020 adalah komponen yang berfungsi sebagi photo triac. Photo triac adalah sebuah komponen penghubung yang bekerja berdasarkan picu cahaya optik. Photo triac terdiri dari dua bagian yaitu transmitter dan receiver. Transmitter biasanya dibangun dari sebuah led infra red, dan receiver dibangun dengan komponen Photo Triac, gatenya akan mendapat bias maju bila mendapat sinar dari LED sehingga triad terhubung. Photo Triac digunakan sebagai optoisolator antara rangkaian input dan output. IC MOC ini dapat digunakan sebagi penggerak tegangan AC.

Gambar 2.19 Bentuk Fisik IC MOC 3020

(26)

Keterangan pin MOC 3020 : 1. Anoda

2. Katoda

3. Normally Close

4. Input / Output Tegangan AC 5. Normally Close

6. Input/Output Tegangan AC

2.13 TRIAC BT 137

Triac merupakan komponen yang berfungsi sebagai saklar. Triac atau Triode for Alternating Current (Trioda untuk arus bolak-balik) sering dipakai pada pengendali, pensaklaran, ataupun pemicu. Prinsip kerja Triac sama dengan SCR (Silicon Control Rectifier) dan Triac sendiri dapat digambarkan sebagai penggabungan dua SCR yang dipasang anti pararel dan diberi satu elektroda pintu.

Nama resmi untuk TRIAC adalah Bidirectional Triode Thyristor. Ini menunjukkan sakelar dwiarah yang dapat mengalirkan arus listrik ke kedua arah ketika ditriger. Triac dapat ditriger dengan tegangan positif ataupun negatif. Triac sangat cocok untuk mengendalikan komponen yang memakai tegangan AC untuk mengaktifkannya.

Triac mempunyai elektroda kendali yang terpisah guna memungkinkan pemberian level tegangan yang akan memulai triac untuk berkondukasi. Triac banyak digunakan untuk beban yang mempunyai daya besar. Terminal utamanya

(27)

adalah terminal satu dan dua yaitu untuk keluaran dan erminal bersama. Gerbang atau gate merupakan terminal masukan atau terminal kendali.

Gambar 2.21 Bentuk fisik Triac BT 137

Triac sering dipakai pada pengendali, pensaklaran, ataupun pemicu. Prinsip kerja Triac sama dengan SCR (Silicon Control Rectifier) dan Triac sendiri dapat digambarkan sebagai penggabungan dua SCR yang dipasang anti pararel dan diberi satu elektroda pintu.

Gambar 2.22 Simbol triac

(28)

2.14 Seven Segment

Display merupakan sebuah indikator yang digunakan pada peralatan yang berbasis sistim digital. Beberapa macam indikator yang sering digunakan sebagai display adalah seven segment.

Gambar 2.23 Bentuk fisik seven segment.

Ada dua jenis seven segment yaitu:

1. Common Anoda, berarti pada setiap anoda dari masing-masing led digabungkan dan dihubungkan ke VCC, sedangkan pada katodanya diberikan taraf rendah atau berlogika nol (low) sesuai angka yang ingin kita tampilkan sehingga arus akan mengalir dari anoda ke katoda dan akan menyalakan led.

(29)

Adapun tabel kebenaran adalah sebagai berikut:

Tabel 2.4 Seven segment common anoda

a b c d e f g Angka 0 0 0 0 0 0 1 0 1 0 0 1 1 1 1 1 0 0 1 0 0 1 0 2 0 0 0 0 1 1 0 3 1 0 0 1 1 0 0 4 0 1 0 0 1 0 0 5 1 1 0 0 0 0 0 6 0 0 0 1 1 1 1 7 0 0 0 0 0 0 0 8 0 0 0 1 1 0 0 9

2. Common Katoda, kebalikan dari common anoda, jika pada common anoda, anoda pada led yang digabung dan dihubungkan ke VCC maka pada common katoda, katodanya yang digabung dan dihubungkan ke ground.

(30)

Adapun tabel kebenaran adalah sebagai berikut:

Tabel 2.5 Seven segment common katoda

a b c d e f g Angka 1 1 1 1 1 1 0 0 0 1 1 0 0 0 0 1 1 1 0 1 1 0 1 2 1 1 1 1 0 0 1 3 0 1 1 0 0 1 1 4 1 0 1 1 0 1 1 5 0 0 1 1 1 1 1 6 1 1 1 0 0 0 0 7 1 1 1 1 1 1 1 8 1 1 1 0 0 1 1 9

Gambar

Gambar 2.1 Patient Warmer Touch Model 5200.
Gambar 2.2 Cara penggunaan Patient Warmer.
Gambar 2.4 Konfigurasi Sensor Suhu LM 35
Grafik 2.1 Perbandingan suhu dengan tegangan pada LM 35.
+7

Referensi

Dokumen terkait

Dalam proses pembuatan kabel optik sendiri mesin extruder pada proses jacketing sangatlah dibutuhkan, dalam proses mesin ekstruksi sendiri, tooling extruder seperti

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Dini (2014) mengatakan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan dengan pemakaian kontrasepsi

Sistem informasi adalah suatu sistem di dalam suatu organisasi yang mempertemukan kebutuhan pengolahan transaksi harian yang didukung fungsi operasi organisasi yang

Pengambilan contoh tanah dengan metode SRS lebih sederhana, mudah dan cepat serta data yang diperoleh akan dapat mencerminkan keadaan tanah yang sebenarnya, jika contoh tanah

Hasil perhitungan dengan penggunaan Reproduction Plan 1 dan Reproduction Plan 2 secara berselang-seling menunjukkan bahwa minimum makespan yang dapat dicapai hingga generasi

Pasangan Hidup ... Dukungan Sosial ... Pengertian Dukungan Sosial ... Aspek-aspek Dukungan Sosial ... Faktor-faktor yang Mempengaruhi Dukungan Sosial ... Sumber-sumber Dukungan

We believe the growth outlook for low cost housing in Indonesia will remain robust in the coming years given strong government support in the form of liquidity loans

Bab ini berisi tentang kesimpulan yang dapat diambil dari keseluruhan isi dari laporan dan tugas akhir serta Saran yang disampaikan penulis demi kesempurnaan sistem yang lebih