1
A. Latar Belakang Penelitian
Manusia diciptakan oleh Tuhan sebagai mahluk yang paling sempurna karena memiliki akal pikiran sehingga dengannya manusia dapat menilai mana yang benar dan yang salah sebagai hukum yang universal, manusia yang sehat akal pikirannya akan mengatakan bahwa Korupsi merupakan tindakan yang menyengsarakan banyak orang, dampak yang diti mbulkannya bukan hanya mengganggu stabiltas dan keamanan masyarakat, akan tetapi juga merusak tatanan nilai yang berlaku dimasyarakat, terutama dalam kasus korupsi yang melibatkan jumlah aset yang besar sehingga mengancam stabilitas politik dan pembangunan yang berkelanjutan dari suatu negara sehingga menguburnya dalam jurang kemiskinan, oleh karena itu, PBB berketetapan untuk mencegah, mendeteksi dan menghambat transfer internasional atas asset yang diperoleh secara tidak sah dengan cara yang lebih efektif dan memperkuat kerja sama internasional dalam pengembalian aset.
Dalam prakteknya, orang-orang yang melakukan white collar crime cenderung untuk melakukan kejahatan yang sama berulang kali jika menganalis secara ekonomi keuntungan yang akan diperolehnya akan lebih besar daripada biaya yang dikeluarkan. Keuntungan itu diperhitungkan dari kemungkinan biaya bila tertangkap dan terbukti melakukan kejahatan serta besarnya hukuman yang akan dijatuhkan.
Bila biaya kejahatan yang telah diperhitungkan lebih rendah dibandingkan keuntungan yang akan didapat saat melakukan kejahatan tersebut, maka orang tersebut akan merespon dengan melakukan kejahatan yang sama.1
Kasus-kasus tindak pidana korupsi sulit diungkapkan karena para pelakunya menggunakan peralatan canggih serta biasanya dilakukan oleh lebih dari satu orang dalam keadaan terselubung, terorganisasi, dan dilakukan oleh orang-orang yang berstatus social tinggi. Oleh karena itu kejahatan ini disebut white collar crime atau kejahatan kerah putih.2
Korupsi tidak hanya di dialami oleh negara berkembang akan tetapi juga dialami oleh negara negara maju hal ini dapat dilihat dari banyaknya konvensi-konvensi Internasional baik bilateral maupun multilateral di dunia yang menyangkut pemberantasan tindak pidana korupsi, bahkan untuk masuk Uni Eropa seperti dialami Rumania, salah satu persyaratannya mengharuskan agar memiliki Undang-undang pemberantasan tindak Pidana dan memiliki pengadilan tersendiri terhadap kasus korupsi. Beberapa konvensi itu sendiri diantaranya adalah sebagai berikut: 3
Inter American Convention Againts pada tanggal 29 Maret 1996, The convention on the fight against Corruption involving officials of the european Communities or officials of member states of Union) pada tangal 26 Mei 1997,The Convention on Combating Bribery of foreign Publik official Busines Transaktions) 12 November 1997,Criminal Law Convention on Coruption, pada tanggal 4 November 1999, The United Nation convention Agaiant Transnational Organized Crime. Pada 29 September 2003.
1
Hikmahanto Juwana, Bahan Kuliah Magister Hukum, Teori hukum, UI Press Hlm. 152 2
Baharuddin Lopa, Kejahatan Korupsi dan penegakan hukum, Kompas, Jakarta, 2001, hlm.36
3
Andi Hamzah, Pemberantasan Korupsi melalau sistem hukum pidana nasional dan Internasional, RajaGrafindo Persada, jakarta 2007. hlm, 246
Sebagai suatu kejahatan yang extra ordinary crime, pemberantasan tindak pidana korupsi membutuhkan keseriusan dan dengan cara melakukan kerjasama inernasional. Terlebih berdasarkan survey yang dilakukan oleh Transparency International Indonesia bahwa Indonesia di tahun 2005 menduduki negara ke-6 terkorup di dunia, sementara pada tahun sebelumnya tercatat sebagai negara terkorup ke-5 dari 146 negara.4
Kerjasama hukum dalam hubungan internasional terbukti sangat menentukan keberhasilan penegakan hukum nasional terhadap kejahatan transnasional yang dirumuskan sebagai semua hukum yang mengatur tindakan atau kejadian yang melampaui batas-batas teritorial.5 Keberhasilan kerjasama penegakan hukum tersebut pada umumnya tidak akan menjadi kenyataan jika tidak ada perjanjian bilateral atau multilateral dalam penyerahan pelaku kejahatan atau dalam kerjasama penyidikan, penuntutan dan peradilan atau dengan kata lain kerjasama internasional dalam hukum formil.
Dewasa ini, pemberantasan korupsi difokuskan kepada tiga isu pokok, yaitu pencegahan, pemberantasan, dan pengembalian aset hasil korupsi (asset recovery). Perkembangan itu bermakna, pemberantasan korupsi tidak hanya terletak pada upaya pencegahan maupun pemidanaan para koruptor saja, tetapi juga meliputi tindakan yang dapat mengembalikan kerugian dari keuangan negara akibat dari kejahatan extraordinary tersebut. Kegagalan pengembalian asset hasil korupsi dapat
4
Denny Indrayana, Negara dalam Darurat Korupsi, Sinar Grafika, Jakarta, 2005, hlm.3 5
Romli Atmasasmita, Tindak Pidana Narkotika Transnasional dalam Sistem Hukum Pidana Indonesia, (Disertasi, 1996), hlm 38
mengurangi makna penghukuman terhadap para koruptor. United Nation Convention Against Corruption merupakan salah satu hasil dari upaya masyarakat internasional dalam hal pemberantasan tindak pidana korupsi.6
Upaya pengembalian asset negara yang dicuri (stolen asset recovery) melalui tindak pidana korupsi (tipikor) cenderung tidak mudah untuk dilakukan. Para pelaku tipikor memiliki akses yang luar biasa luas dan sulit dijangkau dalam menyembunyian maupun melakukan pencucian uang (money laundering) dari hasil tindak pidana korupsinya. Terlebih lagi dengan adanya kecenderungan semakin tidak terkendalinya tindak pidana korupsi dalam orde sekarang ini, sehingga upaya pengungkapan maupun pembuktiannya di pengadilan masih jauh dari harapan. Diperparah lagi dengan adanya sinyalemen bahwa berbagai oknum profesional tertentu (akuntan, financial analyst, lawyer dan notaris) kerap memberikan jasa menghapus jejak-jejak white collar crime itu. Belum lagi economic power dan bureaucratic power yang membuat para koruptor beyond the law, semakin memupus harapan terlaksananya penegakan hukum secara adil. Sementara itu, suatu penelitian di India menunjukkan differential association theory dari Sutherland, telah terbukti dari sisi lain, yaitu meningkatnya korupsi karena meneladani kesuksesan ekonomi para koruptor). “Criminal behavior is not invented but learned”, termasuk menyebabkan orang menjadi berkeinginan korupsi karena belajar dari kesuksesan ekonomi para koruptor. Oleh karena itu, pencegahan dan penanggulangan tindak
6
Purwaning M Yanuar, Pengembalian asset hasil korupsi :Berdasarkan konvensi PBB Anti Korupsi 2003 Dalam Sistem Hukum Indonesia, Alumni, Bandung, 2007, hlm. 134
pidana korupsi, yang keduanya dapat diadopsi dalam istilah pemberantasan bukan hanya diarahkan pada penangan perkaranya, berupa penyidikan, penuntutan ataupun pemeriksaan di sidang pengadilan, melainkan juga diupayakan untuk menghalangi ataupun menutup kemungkinan para koruptor menikmati hasil kejahatannya. Tanpa mengembangkan sikap antipati kepada korupsi, termasuk untuk membuatnya “tidak menarik” atau tidak menguntungkan untuk dilakukan, dan mensinergikan hal itu dalam kehidupan sosial masyarakat secara keseluruhan, tidak akan membuat efek tangkal hukum korupsi membaik. Diantaranya yang mungkin untuk itu adalah membangun mekanisme pengembalian aset (asset recovery) hasil tindak pidana korupsi.
Dalam konvensi ini disadari bahwa kepentingan untuk dapat menarik kembali aset hasil korupsi di luar negeri praktis hanya dapat dilakukan dalam kerangka kerjasama internasional. Hal ini menjadi motivasi utama bagi Indonesia untuk menandatangani UNCAC 2003 dan meratifikasinya. Mengingat, salah satu arti penting konvensi ini bagi Indonesia, adalah untuk meningkatkan kerjasama internasional khususnya dalam melacak, membekukan, menyita, dan mengembalikan aset-aset hasil tindak pidana korupsi yang ditempatkan di luar negeri (Penjelasan Umum Undang-Undang No. 7 tahun 2006). Namun demikian, jika diperhatikan dengan seksama masih terlalu banyak “gap” antara UNCAC dengan peraturan perundang-undangan di Indonesia, yang kemudian dapat menjadi faktor penghambat yang signifkan bagi pengembalian aset hasil korupsi. Dalam hubungannya dengan ruang lingkup kewenangan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) misalnya. Pasal 41
Undang-Undang No. 30 Tahun 2002, kerjasama internasional yang dapat dilakukan KPK terbatas dalam hal penyelidikan, penyidikan dan penuntutan tindak pidana korupsi. Sedangkan “pengembalian aset” hasil korupsi berhubungan dengan tindakan yudisial yang terutama dilakukan melalui putusan pengadilan. Dengan demikian, “pengembalian aset” hasil korupsi belum sepenuhnya dapat dilakukan jika semata-mata mengandalkan kewenangan KPK yang ada berkenaan dengan kerjasama internasional, khususnya dalam bidang penyelidikan, penyidikan dan penuntutan. “Pengembalian aset” umumnya hanya dapat terjadi melalui putusan pengadilan, baik pidana ataupun perdata, secara langsung ataupun dalam kerangka bantuan timbal balik dalam bidang hukum pidana.
Permasalahan menjadi semakin sulit untuk upaya recovery dikarenakan tempat penyembunyian (safe haven) hasil kejahatan tersebut yang melampaui lintas batas wilayah negara dimana tipikor itu sendiri dilakukan. Bagi negara-negara berkembang untuk menembus pelbagai permasalahan pengembalian asset yang menyentuh ketentuan-ketentuan hukum negara-negara besar akan terasa teramat sulit, apalagi negara berkembang tersebut tidak memiliki hubungan kerjasama yang baik dengan negara tempat asset curian disimpan. Belum lagi kemampuan tekhnologi negara berkembang sangat terbatas, padahal salah satu sifat kejahatan korupsi menurut Taufiequrahman Ruki adalah kemampuan para pelakunya untuk memanfaatkan kemajuan teknologi dibidang perbankan karena transaksinya bersifat rahasia, cepat, mudah dan tidak memerlukan uang kartal.
Para pelaku tipikor di Indonesia misalnya, dicurigai menjadikan empat negara maju (Singapura, Australia, Amerika dan Swiss) sebagai tempat penyembunyian hasil ‘harta curian’ mereka. Harta tersebut bahkan dilindungi oleh aturan kerahasian bank (bank secrecy) yang umumnya diterapkan pada negara-negara maju tempat asset hasil tipikor disimpan. Belum lagi kemampuan tekhnologi negara-negara tersebut yang tidak dapat diikuti oleh Indonesia. Sehingga kondisi itu memperlihatkan seolah-olah negara-negara maju tersebut melindungi asset-asset curian tipikor agar berada tetap di dalam negaranya.
Hal itu sangat unik dan menyedihkan dimana penjahat kerah putih negara-negara yang tingkat korupsinya tinggi ternyata dilindungi asset korupsinya oleh negara-negara yang tingkat terjadi korupsinya rendah. Indonesia dan beberapa negara Asia dan Afrika yang memiliki tingkat korupsi paling parah ternyata harta curian melalui tipikor negaranya tersimpan dengan aman di negara besar seperti Amerika, Australia dan Eropa. Sebuah ketimpangan yang patut dipertanyakan, jangan-jangan bantuan dana yang selama ini dihutang negara-negara miskin dan berkembang adalah uang hasil korupsi yang dicuci atau disimpan di Bank negara-negara kaya.
Kenyataan itu memperlihatkan bahwa mustahil terjadinya pengembalian asset curian tipikor dengan baik apabila negara-negara maju tidak berperan aktif dan sungguh-sungguh membantu pengembalian asset tersebut.
Berdasarkan pengalaman di beberapa negara, pengembalian aset melalui perdata lebih cepat dan lebih banyak hasilnya. Apalagi, standar pembuktian pidana dinilai sulit. Mengenai tata cara perampasan aset sebelum melakukan
perampasan,Jaksa Agung yang diwakili jaksa pengacara negara terlebih dahulu mengajukan permohonan perampasan kepada ketua pengadilan negeri. Setelah ada putusan pengadilan, aset diserahkan kepada lembaga yang disebut Badan Pengelola Aset.
Sementara itu, pengembalian aset hasil tindak pidana korupsi yang diatur dalam Bab V, Pasal 51 s/d 60 UNCAC 2003 merupakan matarantai ketentuan tentang kerjasama internasional dalam pencegahan dan pemberantasan korupsi. Lebih tepatnya ketentuan konvensi dalam ini berisi tentang kerjasama internasional khusus dalam pengembalian aset hasil tindak pidana korupsi. Sementara mengenai kerjasama internasional yang umum diatur dalam Bab IV konvensi ini. Dengan demikian, ketentuan konvensi dalam bab ini tidak terkait langsung dengan kenyataan kebutuhan instrumen hukum dalam pengembalian aset korupsi yang masih berada di Indonesia. Kebutuhan reformasi hukum pidana korupsi di Indonesia pada satu sisi sebenarnya adalah pencarian terobosan prosedur hukum yang dengan itu dapat mengatasi kesulitan-kesulitan terutama dalam mengembalikan aset hasil korupsi yang masih berada di Indonesia (Bandingkan dengan Hasil Kajian Bank Dunia mengenai kebutuhan reformasi hukum dalam pemberantasan korupsi. The World Bank: 2004). Baik terhadap tersangka, terdakwa yang telah diadili maupun yang belum dapat diadili.
Ratifikasi UNCAC secara politis telah menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara di Asia yang memiliki komitmen pemberantasan korupsi melalui kerjasama internasional. Hal ini penting karena korupsi di Indonesia telah terjadi secara sistematik,
sebagai salah satu perbuatan yang sangat merugikan dan dapat merusak sendi-sendi perekonomian suatu Negara.7
Di Indonesia terdapat beberapa kasus pengembalian asset korupsi yang dilakukan oleh pelaku korupsi dengan alasan yang berbeda, seperti pengembalian asset yang dilakukan oleh duta besar Indonesia yang berada di Thailand yang bernama Hatta, mengembalikan asset korupsi karena menghindari terbuktinya tindak pidana korupsi oleh penyidik, sehingga sebelum penyidik datang dan memeriksa uang dalam brankas pelaku terlebih dahulu mengembalikan uang ketempat semula agar tindakannya tidak terbukti dan tidak ditahan selama proses penyidikan. Untuk kasus Ahmad Patonah, asset korupsi dikembalikan ke negara dilakukan oleh istrinya.
Untuk gagasan mengenai pengembalian asset di Indonesia selanjutnya akan dibahas dalam penulisan ini, sebagaimana yang akan dijelaskan lebih lanjut dalam Bab 4 mengenai analisis.
Pengembalian kerugian akibat tindak pidana korupsi memang sangat sulit karena jumlahnya yang sangat besar mulai dari kerugian materiil maupun immaterial. Selain hambatan itu pelacakan dan investigasi terhadap asset yang dikorupsi merupakan tantangan besar dalam penindakan perkara korupsi. Alangkah baiknya apabila dapat memahami assestment atas tindak pidana korupsi sehingga dapat megurangi kerugian yang disebabkan tidak pidana korupsi. Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka menarik perhatian penulis untuk melakukan penelitian di dalam
7
I Gusti Ketut Ariawan, Stolen Asset Recovery, suatu Harapan dalam pegembalian asset Negara, Kertha Patrika, Vol.3, 2008, hlm. 3
tesis ini yang berjudul “Analisis Mengenai Tindakan Pengembalian Aset (Asset Recovery) Oleh Pelaku Tindak Pidana Korupsi”.
B. Perumusan Masalah
1. Bagaimana akibat hukum yang ditimbulkan bagi pelaku tindak pidana korupsi dari tindakan pengembalian asset oleh pelaku?
2. Apakah kebijakan tidak menahan tersangka yang melakukan pengembalian uang kerugian negara dalam tindak pidana korupsi sebagaimana dilakukan terhadap duta besar Indonesia yang ada di Thailand selama proses penyidikan dari segi teknis pelaksanan perlu dipertahankan?
C. Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui dan mengkaji akibat hukum yang ditimbulkan bagi pelaku dari pidana korupsi akibat tindakan pengembalian asset oleh pelaku.
2. Untuk mengetahui dan mengkaji apakah kebijakan tidak menahan tersangka yang melakukan pengembalian uang kerugian negara dalam tindak pidana korupsi sebagaimana dilakukan terhadap duta besar Indonesia yang ada di Thailand selama proses penyidikan dari segi teknis pelaksanan perlu dipertahankan?
D. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan memberikan manfaat, baik secara teoritis maupun secara praktis sebagai berikut :
1. Kegunaan Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan berguna bagi pengembangan ilmu pengetahuan hukum, khususnya hukum pidana yang dapat memberikan sumbangan teori dalam mendukung penerapan atau implementasi dari tindakan pengembalian asset korupsi (Asset Recovery) oleh pelaku tindak pidana korupsi di Indonesia.
2. Kegunaan Praktis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat dipergunakan sebagai pegangan dan sumbangan pemikiran bagi :
1) Badan Legislatif
2) Aparat penegak hukum (Polisi, Jaksa, Hakim, Penyidik KPK dan Penasehat Hukum)
3) Pembaharuan dan perkembangan ilmu pengetahuan khususnya di bidang hukum.
E. Keaslian Penelitian
Sehubungan dengan keaslian penelitian, bedasarkan penelusuran kepustakaan yang telah penulis lakukan di perpustakaan fakultas hukum Universitas Indonesia, judul tesis yang membahas tentang “Analisis Mengenai Tindakan Pengembalian Aset (Asset Recovery) Oleh Tersangka Tindak Pidana Korupsi”, belum pernah dilakukan penelitian. Ada juga penelitian mengenai pengembalian asset korupsi dari segi restorative yakni penelitian yang dilakukan oleh saudara Ketut Sandiyasa mahasiswa
sekolah Pascasarjana Universitas Indonesia dengan judul Pengembalian Aset Hasil Tindak Pidana Korupsi Sebagai Salah Satu Bentuk Penerapan Keadilan Restoratif (Restorative Justice), Rumusan Masalah: (1) Bagaimanakah perbandingan peraturan dan pelaksanaan perampasan aset hasil tindak pidana di Indonedia, Britania Raya, dan Thailand (2) apakah bentuk perampasan asset hasil tindak pidana korupsi sejalan dengan program keadilan restorative yang sedang berkembang saat ini (3) Hal-hal apa sajakah yang harus disiapkan oleh pemerintah dan aparat penegak hukum agar pengembalian asset hasil tindak pidana korupsi dapat berjalan.