• Tidak ada hasil yang ditemukan

A. Kondisi Geografi Kota Batavia Abad XIX

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "A. Kondisi Geografi Kota Batavia Abad XIX"

Copied!
31
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

BATAVIA ABAD XIX

A.

Kondisi Geografi Kota Batavia Abad XIX

1. Kondisi Kota Sebelum Abad XIX

Kota Batavia pada abad XVII berbentuk bujur sangkar dengan panjang kurang-lebih 2.250 m dan lebar 1.500 m. Kota ini dibelah oleh Sungai Ciliwung atau yang biasa disebut oleh orang Belanda sebagai Grote Rivier (Kali Besar) sehingga menjadi dua bagian kota yang hampir sama luasnya. Masing-masing bagian dari kedua sisi sungai tersebut terpotong oleh dua parit yang terletak sejajar pada sepanjang sisi-sisi terpanjang buju sangkar tersebut. Kemudian terpotong lagi secara tegak lurus oleh beberapa parit simpang.1

Ketika pimpinan armada Belanda yang dipimpin oleh Cornelis de Houtman tiba di Batavia pada 13 November 1596, kota tersebut masih berupa pelabuhan kecil yang disebut Sunda Kalapa, yakni pelabuhan yang terletak di muara Sungai Ciliwung di bagian barat laut Pulau Jawa. Batavia kala itu masih berada di bawah kekuasaan Kesultanan Banten. Keberhasilan armada Belanda mendarat di Sunda Kalapa menjadi cikal bakal terbentuknya daerah jajahan baru. Belanda menjadi armada pertama yang menginjakkan kakinya di Batavia, bahkan pada masa tersebut Portugis belum sampai di Sunda Kalapa.2

1 Leonard Blusse, Persekutuan Aneh: Pemukim Cina, Wanita Peranakan,

dan Belanda di Batavia VOC (Jakarta: Pustazet Perkasa, 1988), hlm. 4.

2 Susan Blackburn, Susan Blackburn, Jakarta Sejarah 400 Tahun, (Depok:

(2)

Oud Batavia atau Batavia Lama merupakan kota yang pertama kali dikembangkan oleh VOC. Oud Batavia merupakan sebuah kota bergaya abad pertengahan dengan bentuk bangunan yang menyerupai kastil dikelilingi dengan tembok yang kokoh.3 Orang-orang Belanda yang menetap di Batavia membangun jalan-jalan dan kanal-kanal yang sama seperti di negerinya. Mereka pertama kali mendirikan benteng yang mulanya dibangun menjorok ke laut di muara kali Ciliwung. Benteng ini disebut Het Kasteel, merupakan sarana yang amat penting bagi masyarakat Belanda yang pada waktu itu masih berjumlah sedikit. Di dalam benteng terdapat bangunan-bangunan penting seperti kediaman gubernur-jenderal, bengkel kapal, garnisun, perbendaharaan, gudang senjata, gudang administrasi dan akuntansi, penjaara, gereja pertama, serta ruang pertemuan Dewan Hindia (Raad van Indie).4 Pada masa ini, kota Batavia telah menjadi cikal bakal kota impian Jan Pieterszoon Coen. Pembangunan kota dipusatkan di sebelah timur Kali Besar yang diperkuat dengan dibangunnya Benteng Gelderland dan Hollandia yang juga merupakan pintu masuk-keluar kota Batavia yang menghubungkan Kota Batavia dengan luar kota. Benteng Zeeland ditempatkan di ujung Barat kota untuk memantau kawasan sebelah barat Kali Besar.5

3 Yudi Prasetyo, “Dari Oud Batavia Sampai Nieuwe Batavia: Sejarah ota

Batavia 1596-1900”, Genta,Vol. 2, No.1, Maret 2014, hlm. 4.

4 Susan Blackburn, op.cit., hlm. 20.

5 Ira Sophia, “Peran Strategis Kali Besar Dalam Pembentukan dan

Perkembangan Kota Batavia Pada Masa Pemerintahan VOC”, Skripsi Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik UI, 2006, hlm. 36.

(3)

G am ba r 1 P et a K as ti l B at av ia pa d a t ahun 1667 S um be r: K ol eks i T ropp en M us eum

(4)

Pembangunan kota ini tergolong pesat karena dalam tempo delapan tahun luas wilayahnya telah mencapai tiga kali lipat. Bentuk kotanya menyerupai kastil berbentuk kotak yang dibangun di atas dataran rata. Bangunan di dalam kastil disebut dengan Intramorus, sedangkan kediaman gubernur jenderal Belanda, anggota dewan, serta para opsir Belanda disebut Citadel.6 Wilayah benteng ini dibuat persis menyerupai kota-kota di Belanda khususnya Amsterdam.7 Benteng ini dikelilingi oleh kanal-kanal yang sengaja dibuat di bagian depan, sedangkan di bagian belakang dibangun gedung dan bangunan yang juga dikelilingi oleh kanal, pagar besi, dan tiang yang kuat. Wilayah benteng ini kemudian menjadi pemukiman masyarakat Belanda.8 Sejumlah aktivitas yang dilakukan di dalam benteng berkembang pesat dan menyebar ke kota yang dikelilingi dinding dan berkembang semakin jauh ke selatan. Daerah di luar benteng Batavia ini kemudian disebut ommenlanden9. Pada sisi seberang kali, di benteng bagian barat daya berdiri bangunan-bangunan dermaga utama sebagai tempat membongkar muat barang dagangan.10

Kota Batavia Lama berbatasan dengan Pantai Utara (Pasar Ikan) di sebelah utara dan Javasche Bank11 di sebelah selatan. Batavia Lama sendiri dibelah oleh Kali Besar menjadi dua sisi yaitu barat dan timur. Terdapat pemukiman golongan

6 Yudi Prasetyo, loc.cit.

7 Willard A. Hanna, Hikayat Jakarta, (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia,

1988), hlm. 48.

8 Desca Dwi Savolta, “Arsitektur Indis Dalam Perkembangan Tata Kota

Batavia Awal Abad 20”, Skripsi Jurusan Ilmu Sejarah Fakultas Sastra dan Seni Rupa UNS, 2010, hlm. 24.

9 Ommenlanden adalah sebutan untuk daerah di luar benteng Batavia. 10 Susan Blackburn, op.cit., hlm. 22.

(5)

rendahan seperti orang-orang Portugis dan Tionghoa di bagian barat. Selain pemukiman golongan rendahan, di wilayah tersebut juga terdapat pasar daging dan pasar ikan serta gudang-gudang tempat penyimpanan bahan makanan. Di bagian timur berdiri Stadhuis, di samping kiri Stadhuis berdiri gereja yang terbakar habis ketika para prajurit Mataram ketika menyerang Batavia pada tahun 1628. Pada bagian timur ini, terutama di Tijgergracht12, banyak bermukim orang kaya dalam rumah-rumah besar dan mewah dengan taman-taman yang luas.13 Salah satu jalan yang terkenal adalah Jacatraweg atau Jalan Jakarta. Jalan ini dimulai dari Gereja Portugis dekat Jembatan Senti hingga Jembatan Merah. Pribumi mengenal ketiga daerah tersebut sebagai Kampung Pecah Kulit, Mangga Dua dan Jembatan Merah. Dari Gereja Portugis hingga Jembatan Merah tidak ditemui rumah penduduk melainkan hutan dan kebun kelapa.14

Pembangunan benteng di Batavia ini menunjukkan adanya sebuah sikap yang khas dalam perkembangan kota. Orang Eropa atau bangsa Eropa sejak abad pertengahan cenderung membangun benteng untuk koloninya. Benteng-benteng ini dibuat untuk mempertahankan daerah kekuasaan dan melindungi penduduk yang tinggal di dalamnya. Benteng kemudian dianggap sebagai awal mula terbentuknya kota dan memainkan peranan penting terhadap sejarah pertumbuhan kota.15

12 Saat ini Jalan Pos Kota.

13 Abdul Hakim, Jakarta Tempo Doeloe, (Jakarta: Pustaka Antar Kota,

1989), hlm. 12.

14 Tio Tek Hong, Keadaan Jakarta Tempo Doeloe: Sebuah Kenangan

1882-1959, (Depok: Masup Jakarta, 2007), hlm. 41.

15 Kuntowijoyo, Peran Borjuasi Dalam Transformasi Eropa. (Yogyakarta:

(6)

Pada abad XVIII, Batavia menjadi kota yang terkenal dengan sebutan

Koningin van het Oosten16. Pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal

Camphuys, muncul suatu perkembangan baru dalam masyarakat kolonial. Suatu kelompok elit memilih untuk menetap di Jawa daripada di negeri mereka sendiri. Gaya hidup semacam ini berkembang sepenuhnya pada abad ke-18. Kondisi Batavia yang memprihatinkan pada waktu itu menyebabkan orang-orang kaya Batavia berbondong-bondong membangun vila-vila di luar daerah pemukiman lama. Berpindahnya para penduduk kaya raya ini menyebabkan ukuran kota Batavia meluas hingga ke selatan kota. Di satu sisi, vila-vila dengan perkebunan luas ini dibangun untuk ajang saling pamer antar masyarakat Eropa pada zaman tersebut.17

Selama bertahun-tahun Batavia Lama menjadi tempat tinggal untuk koloni Belanda, para budak, serta etnis-etnis lain walau tidak tinggal di dalam tembok benteng. Namun iklim di Batavia Lama ternyata sangatlah buruk. Kabut yang mengandung udara beracun serta parit yang tercemar membuat kehidupan penduduknya menjadi kurang nyaman. Ini semua dikarenakan Batavia Lama dibangun di atas tanah bekas rawa-rawa, yang menjadikannya sangat tidak sehat. Angin yang berbau busuk serta penyakit yang timbul kemudian, seperti kolera dan malaria, menyebabkan tingginya angka kematian. Keburukan-keburukan Batavia Lama tersebut membuat orang-orang Eropa menjulukinya sebagai ‘makam bagi

16 Julukan yang sama dengan The Queen of the East atau Ratu dari Timur. 17 Jean Gelman Taylor, Kehidupan Sosial di Batavia, (Depok: Masup

(7)

orang-orang Eropa’, yang berhasil mengusir predikat ‘Ratu Dari Timur’.18 Selama abad XVII, populasi penduduk kota Batavia Lama membengkak pada tahun 1730. Penduduk yang tinggal di dalam benteng kota mencapai 20.000 jiwa sedangkan yang tinggal di luar benteng kota. Bertambahnya populasi di dalam benteng kota mempengaruhi sistem aliran air.19

Faktor lainnya yang menyebabkan ketidaksehatan lingkungan Batavia Lama adalah karena Batavia Lama dibangun di atas tanah bekas rawa-rawa. Faktor tersebut menjadikan angka kematian di Batavia Lama menjadi tinggi. Penyakit malaria dan kolera yang sempat mewabah juga ikut memakan korban. Hal ini membuat Batavia Lama mendapat julukan baru, yakni Graf de Hollanders atau kuburan orang Belanda.20

18 Leonard Blusse, op.cit., hlm. 24-26. 19 Susan Blackburn, op.cit., hlm. 56. 20 Leonard Blusse, op.cit., hlm. 27-29.

(8)

Gambar 2

Molenvliet sekitar tahun 1890 Sumber: media-kitlv.nl

2. Kondisi Kota Pada Abad XIX

Revolusi Perancis yang terjadi di Eropa berpengaruh besar terhadap perubahan-perubahan yang terjadi di Batavia pada abad selanjutnya. Belanda tak luput dari revolusi besar ini. Yang terjadi kemudian ialah Belanda menjadi bagian dari negara Perancis dan namanya berubah menjadi Bataafsche Republik atau Republik Bataaf. Kondisi ini ditambah dengan VOC yang tidak akan bisa dipertahankan lagi, membuat Batavia dan daerah kekuasaan Belanda di Nusantara diambil alih oleh pemerintahan Perancis pada saat itu. Napoleon Bonaparte menyerahkan Kerajaan Belanda kepada kerabatnya yang bernama Louis Napoleon. Louis Napoleon kemudian mengutus salah satu bawahannya, Herman Willem Daendels (1808-1811), untuk mengurus daerah jajahan Belanda di bumi

(9)

belahan timur. Sejak Januari 1808, Daendels menjadi Gubernur-Jenderal di Hindia Belanda.21 Akibat kondisi yang tidak sehat di Batavia Lama, Daendels

mengambil beberapa tindakan penanggulangan. Tindakan-tindakan tersebut antara lain memperbaiki saluran air, membersihkan jalan, menimbun genangan air kotor, memindahkan kantor dan kompleks pemukiman, memperbaiki rumah sakit, serta merelokasi kompleks makam.22

21 Dinas Kebudayaan Dan Permuseuman Propinsi DKI Jakarta, Lintasan:

Sejarah Jakarta (Jakarta: Dinas Kebudayaan Dan Permuseuman, 2004), hlm. 37.

22 Djoko Marihandono, “Sentralisme Kekuasaan Pemerintahan Herman

Willem Daendels di Jawa 1808-1811: Penerapan Instruksi Napoleon Bonaparte”, Disertasi Program Studi Ilmu Sejarah Program Pascasarjana Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI., hlm. 320.

(10)

Gambar 3

Kota Batavia yang telah berkembang ke selatan pada tahun 1897, Societeit Harmonie ditandai dengan bulatan warna kuning, Societeit

Concordia ditandai bulatan warna hitam Sumber: KITLV

(11)

Secara administratif Karesidenan Batavia merupakan suatu residentie (karesidenan) yang dipimpin oleh seorang residen. Daerah administratif Residentie Batavia dibagi pula secara administratif dalam lingkungan-lingkungan yang lebih kecil yang disebut afdeeling. Residentie Batavia terdiri atas Afdeeling Stad en Voorsteden, Afdeeling Meester Cornelis, Afdeeling Tangerang, Afdeeling

Buitenzorg dan Afdeeling Krawang. Afdeeling Stad en Voorsteden van Batavia

dibagi lagi kedalam 4 districten (distrik), yaitu, Penjaringan, Pasar Senen, Mangga Besar dan Tanah Abang.23

Dalam hal ini, Daendels memindahkan kantor dan kompleks pemukiman ke pedalaman Batavia. Di daerah baru yang diberi nama Weltevreden24, Daendels membangun berbagai fasilitas baru dengan cara menghancurkan beberapa gedung di Batavia Lama. Kemudian di Batavia Baru tersebut muncul daerah

23 Adhitya Hatmawan, “Perkembangan Transportasi Kereta Api di Batavia

1870-1925”, Skripsi Jurusan Sejarah Fakultas Sastra UI, 2002, hlm. 17.

24 Wilayah Weltevreden sendiri pada mulanya ialah sebuah kompleks

tanah yang diberikan kepada Anthony Pavilyun Sr. pada tahun 1648 dengan hak milik di dekat daerah Waterlooplein. Lahan ini berulang kali pindah tangan. Pada tahun 1749 lahan tersebut dijual kepada Direktur Jenderal sebesar 28.000 Ringgit dan di atas lahan tersebut kemudian dibangun sebuah rumah yang besar. Rumah tersebut biasanya digunakan untuk bermain bilyar. Di belakang rumah terdapat sejumlah kolam dan di seberang sungai terdapat kolam renang yang luas. Pada saat Gubernur-Jenderal Jacob Mossel (1750-1761) berkuasa, dibangun sebuah kapel dan sekolah di kompleks lahan tersebut. Tanah tersebut sempat ditawar oleh Jenderal Pieter Gerardus van Overstraten (1796-1801). Gubernur-Jenderal van Overstraten ingin menjadikan tanah tersebut sebagai tempat tinggalnya, namun karena harganya yang tinggi maka ia meminta Kepala Balai Harta Batavia untuk meminjamkan uang kepadanya sebesar 137.803 ringgit dengan ketentuan bahwa setiap Gubernur-Jenderal berikutnya harus mengambil alih tanah ini dari pendahulunya dengan harga yang sama. Maka sejak saat itu rumah di Weltevreden menjadi tempat tinggal Gubernur-Jenderal di Batavia. Lihat Djoko Marihandono, op.cit., hlm. 323.

(12)

pemukiman baru seperti Tanah Abang, Gondangdia, Meester Cornelis25, dan Menteng. Orang-orang membangun rumah-rumah luas dan sejuk di pinggir jalan yang dinaungi pohon-pohon rindang. Pemandangan ini berbeda dengan pemandangan yang disuguhkan di Batavia Lama, dengan rumah-rumah bertingkat dua dan dekat dengan jalan.26 Weltevreden memiliki gereja-gereja baru, sekolah, klub, dan teater. Dengan adanya fasilitas-fasilitas tersebut membuat Weltevreden menjadi hunian mewah dan bergengsi. Batavia Baru kemudian kembali mendapatkan julukan “Ratu dari Timur” yang sebelumnya menjadi julukan bagi Batavia Lama.27

Akibat banyaknya kanal atau parit yang sudah tidak dapat menampung air yang mengalir ke laut serta berbau busuk, maka Daendels memerintahkan penimbunan parit kepada Letnan Buyskes. Untuk tujuan tersebut, banyak rumah-rumah dan semua bangunan kastil kecuali gudang di Batavia Lama dibongkar. Puing-puing hasil bongkaran bangunan tersebut digunakan untuk membangun bangunan-bangunan lain di luar kota seperti Molenvliet, Rijswijk, Kampung Baru, Weltevreden, dan Meester Cornelis. Daendels kemudian merencanakan membangun sebuah kota baru di pedalaman Batavia yang letaknya lebih tinggi dari kota Batavi, yaitu di Weltevreden. Pertama-tama Daendels membangun tangsi militer dan rumah-rumah mewah untuk para perwira militer. Menyusul rumah-rumah baru para orang kaya Belanda yang dibangun di sepanjang

25 Saat ini daerah Jatinegara.

26 Willard A. Hanna, op.cit., hlm. 191. 27 Retno Galih, loc.cit.

(13)

Molenvliet, Rijswijk dan Weltevreden, serta tak lama menyusul pula rumah-rumah baru di Koningsplein dan di jalan menuju benteng Meester Cornelis.28

Selain memindahkan pemukiman, Daendels turut serta memindahkan sarana-sarana lainnya dari Batavia Lama. Daendels membangun sebuah istana yang rencananya akan digunakan sebagai kantor pemerintahan baru dan tempat tinggal Gubernur-Jenderal di Waterlooplein, serta memindahkan gedung Societeit dari Batavia Lama.29

Gedung dan sarana umum di Weltevreden, gedung teater, gedung klub atau perkumpulan seperti Harmonie dan Concordia, Kastil Daendels, dan balai kota, seluruhnya dirancang oleh arsitek militer yang menamakan hasil rancangan mereka sebagai “colonial empire style” pada bangunan yang dibangun paruh awal abad XIX. Kemudian untuk bangunan yang dibangun paruh kedua abad XIX dinamakan gaya “late empire” atau “neo-classical empire style”.30

Pembangunan istana di Waterlooplein dilanjutkan oleh Gubernur-Jenderal Du Bus de Gisignies (1825-1830). Selain itu Du Bus membangun taman kota yang baru beserta vila-vila berhias pohon rindang di pinggir jalan besar.31

28 Loc.cit.

29 Ibid, hlm. 326.

30 Pauline Dubline Milone, Queen City of the East: The Metamorphosis of

a Colonial Capitol, (Michigan: University Microfilms USA & England, 1966), hlm. 314.

31 H.C.C. Clockener Brousson, Batavia Awal Abad 20, (Depok: Masup

(14)

Gambar 4

Suasana Waterlooplein pada tahun 1842 Sumber: KITLV

Akibat perombakan besar-besaran yang terjadi di kota Batavia dan pembangunan ibukota baru Hindia Belanda ini, Weltevreden selanjutnya mendapat julukan sebagai Ratu dari Timur. Julukan ini tentu saja merupakan julukan lama yang ‘dianugrahkan’ kepada kota Batavia Lama sebelum berubah menjadi “Makam orang Belanda”. Julukan tersebut tentu saja berkaitan degnan dibangunnya berbagai sarana pendukung kehiduapn sosial yang baru, seperti jaringan komunikasi, sarana transportasi, dan kemunculan pabrik-pabrik sebagai sarana pendukung kegiatan perekonomian. Selain itu sistem pemerintahan yang dikembangkan serta masalah kebersihan kota yang sangat diperhatikan juga menjadi pertimbangan. Para pendatang dari Inggris bahkan menganggap wilayah

(15)

ini cukup baik jika dibangingkan dengan koloninya, yaitu Singapura, dan merupakan kota yang patut dipamerkan di daerah khatulistiwa.32

Gambar 5

Herman Willem Daendels (1764-1873) dilukis oleh Charles Howard Hodges, yang berpangkat Maarchalk van Holland

Sumber: Handinoto, “Daendels dan Perkembangan Arsitektur di Hindia Belanda Abad XIX”, Dimensi, Vol. 36, nomor 1, Juli 2008, hlm. 4.

(16)

B.

Kondisi Demografi Batavia Abad XIX

1. Populasi Penduduk Batavia Abad XIX

Terdapat banyak etnis yang tinggal di Batavia. Sebelum abad XIX, diketahui bahwa budak merupakan satu-satunya kelompok populasi terbesar di Batavia hingga paruh terakhir abad XVIII. Mereka berasal dari berbagai tempat dan bermacam-macam etnis. Sebagian besar budak dimiliki oleh orang Eropa yang menjadikan mereka sebagai pengiring untuk memamerkan kekayaan. Rata-rata budak yang dimiliki oleh seorang Eropa yang kaya bisa mencapai 5 orang atau lebih.33 Populasi para imigran Cina menempati posisi kedua sebagai etnis dengan jumlah terbanyak. Selain orang Cina dan budak sebagai kelompok utama penduduk Batavia, penduduk non-Eropa lainnya merupakan orang-orang campuran, yaitu orang Melayu dan orang Moor34. Kelompok lainnya yang dikenal pada zaman VOC dan namanya hilang seiring runtuhnya VOC ialah kelompok

Mardijker35.36

Memasuki periode abad XIX, Batavia mengalami transformasi yang cukup signifikan baik dari segi masyarakat maupun birokrasi pemerintahan. Dari segi

33 Susan Blackburn, op. cit, hlm. 30-31.

34 Orang Moor adalah pedagang Muslim India yang kebanyakan berasal

dari Gujarat, dimana Belanda memiliki sebuah pos dagang di sana.

35 Sebutan lain untuk kelompok ini adalah “Orang Portugis Hitam”.

Masyarakat kelompok Mardijker merupakan budak-budak yang dimerdekakan oleh seorang Portugis karena menjadi penganut Kristen. Kata Mardijker berasal dari bahasa Belanda lama yang merupakan kata Portugis dari Maharddhika. Apabila diartikan ke dalam bahasa Melayu, artinya menjadi merdeka. Orang-orang Mardijker sebagai pewaris budaya Mestizo milik orang Portugis diperkenankan mengenakan pakaian. Pakaian mereka merupakan kombinasi dari unsur Eropa dan Asia. Mereka biasanya memakai sutera Portugis dan topi lebar, hanya saja tanpa sepatu. Mereka berbicara dalam bahasa Portugis yang sudah tidak asli. Lihat Jean Gelman Taylor, op. cit, hlm. 83.

(17)

masyarakat, terjadi pembauran antara anggota tentara kolonial Belanda dengan anggota NHM (Nederland Handel Maatschappij) yang berlatar belakang sebagai pedagang. Sementara dari segi birokrasi terjadi perubahan dari pemerintah kompeni (VOC) ke pemerintah tanah jajahan Hindia Belanda. Dampak sosial dari perubahan birokrasi tersebut adalah imigrasi besar-besar orang Belanda ke Hindia Belanda. Mereka bukan kaum proletar dan petani yang dahulu dibawa J.P.Coen untuk dipekerjakan di VOC, melainkan kaum borjuis kecil dan para pedagang, sehingga mereka turut berperan dalam perkembangan sosial kehidupan kota Batavia.37 Dalam gelombang baru imigran ini, ikut serta para perempuan sebagai

istri dan anak pegawai pemerintah serta pengusaha. Jumlah imigran perempuan selalu lebih sedikit jika dibandingkan dengan imigran laki-laki.38

Daerah Penjaringan dan Mangga Besar merupakan daerah padat penduduk sebelum abad XIX. Kemudian daerah pemukiman ini bergeser sekitar tiga mil ke selatan Mangga Besar, yaitu daerah sepanjang Sungai Ciliwung hingga Meester Cornelis. Pergeseran pemukiman ini disebabkan oleh keadaan sanitasi yang kurang baik serta banjir yang sering menggenangi wilayah tersebut. Perkembangan kota Batavia dipicu oleh pesatnya pertambahan jumlah penduduk. Pada tahun 1815, sebagaimana dilaporkan oleh Raffles, penduduk yang bermukim di kota lama dan kota baru berjumlah 47.217 jiwa. Pada tahun yang sama Raffles melaporkan jumlah penduduk Afdeeling Stad en Voorsteden van Batavia sebanyak 332.615 jiwa dan Residentie Batavia berjumlah 439.952 jiwa. Kenaikan penduduk yang mencolok terjadi pada tahun 1848 hingga 1850. Selama dua tahun

37 Yudi Prasetyo, op.cit., hlm. 12.

(18)

tersebut jumlah penduduk naik hingga 28%, sejumlah 64.798 jiwa. Kemudian antara tahun 1865 dan 1868 berjumlah 405.149 jiwa atau naik sekitar 44% dalam tiga tahun. Kenaikan jumlah penduduk dapat dikatakan akibat menurunnya angka kematian orang Eropa yang mencapai 227,7 perseribu orang pada tahun-tahun sebelumnya, menjadi 54,1 perseribu orang pada tahun 1844. Hal ini terkait dengan semakin meningkatnya kesehatan penduduk terutama setelah ditemukannya kina sebagai obat anti malaria, yang menjadi salah satu penyakit pemicu kematian pada tahun-tahun sebelumnya.39

Faktor yang kuat dan sangat mempengaruhi pertumbuhan penduduk di Batavia memasuki akhir abad XIX adalah adanya pembangunan pelabuhan Tanjung Priok pada tahun 187740, menyebabkan kenaikan penduduk yang signifikan pada tahun 1893. Mengenai populasi penduduk di wilayah Batavia dan sekitarnya digambarkan melalui tabel 1.

39 Adhitya Hatmawan, op.cit., hlm. 19. 40 Susan Blackburn, op.cit., hlm. 124.

(19)

Tabel 1

Populasi Kota Batavia dan Pinggiran Kota41

Catatan:

Termasuk 5.000 penduduk Jawa di luar dinding benteng. a. Termasuk sejumlah kecil penduduk Timor.

b. Seluruh penduduk asli.

c. Tidak termasuk 1.260 penduduk Belanda dan 359 penduduk asli di garnisun.

Sumber: 1673 : Dagh-Register, 1674 (Batavia: 1902), hlm. 27-30.

1815 : T.S. Raffles, History of Java (2nd ed., London: 1830), Vol. II, hlm. 270

1893 : Encyclopedie van Nederlandsch Indie (The Hague/Leiden, n.d.), Vol. I, hlm. 140

41Lance Castle,Profil Etnik Jakarta, (Depok: Komunitas Bambu, 2007),

hlm. 153.

Keterangan Suku atau Etnis

Tahun

1673 1815 1893

Eropa dan Indo 2.750 2.028 9.017

China (Termasuk Peranakan) 2.747 11.854 26.569 Mardijker (Portugis) 5.362 - - Arab - 318 2.842 “Moor” (India) 6.399a 119

Jawa (termasuk Sunda) 3.311

72.241c Kelompok Sulawesi Selatan - 4.139b

Bali 981 7.720

Sumbawa - 232

Ambon dan Banda - 82

Melayu 611 3.155

Budak 13.278 14.249 -

(20)

Dari Tabel 1 dapat diketahui bahwa pada akhir abad XIX terjadi kenaikan penduduk yang cukup tinggi. Komposisi etnis di Batavia dalam tiga zaman terlihat jelas. Pada akhir abad XIX, beberapa kelompok etnis yang ditunjukkan pada kolom kedua dalam Tabel 1 telah kehilangan jatidiri mereka dan mulai digolongkan ke dalam etnis Betawi42. Pada tahun 1815, dapat dilihat bahwa terdapat banyak etnis-etnis dari luar Pulau Jawa. Etnis Sulawesi, Bali, Sumbawa, Ambon dan Banda. Etnis-etnis ini tinggal di Batavia sebagai budak. Hal ini membuktikan bahwa populasi penduduk Batavia pada masa tersebut dipenuhi oleh para budak, terutama yang berasal dari pulau timur Nusantara. Para budak-budak dari berbagai suku tersebut kemudian membaur menjadi satu dan pada tahun 1893 diidentifikasi berjumlah 72.241 sebagai satu kesatuan dalam arti tidak dibedakan menurut etnisnya lagi seperti pada tahun 1815. Sama dengan para budak, orang-orang Mardijkers atau yang disebut sebagai bangsa Portugis, lambat laun berbaur dengan masyarakat lainnya. Pada akhir abad XVIII, sebagian dari para Mardijker bergabung dengan masyarakat Indo-Eropa, lainnya menganut agama muslim dan berbaur ke dalam kelompok etnis Betawi.43

2. Kondisi Sosial Masyarakat Batavia Abad XIX

Orang-orang Belanda pada awal abad XIX hampir tidak bisa digolongkan sebagai orang Eropa, karena selain warna kulit, perawakan, dan bentuk wajah,

42 Dalam hal ini mencakup etnis Cina Peranakan, Mardijker, Moor, dan

Arab.

(21)

gaya hidup serta bahasa mereka telah melebur ke dalam karakter pribumi.44 Ini membuktikan bahwa kebudayaan Indis telah meluas. Orang-orang Belanda yang tinggal di Batavia maupun Jawa telah membentuk sebuah kebudayaan yang benar-benar baru dan hanya bisa ditemukan di Hindia Belanda.45 Pada abad XIX, belum ada pendidikan yang memadai di Batavia. Karena itu orang-orang kaya di Hindia Belanda yang ingin menyekolahkan anaknya harus mengirim anaknya ke negeri Belanda atau daratan Eropa manapun.46

Sesudah VOC dibubarkan, orang-orang Belanda lebih cenderung berhubungan langsung dengan penduduk pribumi. Memasuki abad XIX, mereka lebih memilih banyak tampil dengan cara berinteraksi dan lebih terbuka terhadap lingkungan di sekitarnya serta para pribumi. Sejak diterapkannya sistem tanam paksa pada tahun 1830 telah memunculkan perubahan dengan ditempatkannya priyayi ke tingkat yang setara dengan orang-orang Belanda. Hal ini dimaksudkan agar priyayi dapat ikut serta dalam pengawasan berjalannya sistem tanam paksa yang diprakarsai oleh Van den Bosch tersebut.47

Orang-orang Eropa abad XIX, dimana mereka sudah menjadi bagian dari kebudayaan Indies48, telah sepenuhnya mengadopsi budaya setempat dan

44 Mayor William Thorn, Penaklukan Pulau Jawa (Jakarta: PT. Elex

Media Computindo, 2011), hlm. 230.

45 Djoko Soekiman, Kebudayaan Indies Dan Masyarakat Pendukungnya

di Jawa Abad XVII – Medio Abad XX, (Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya, 2000), hlm. 23.

46 Mayor William Thorn, op. cit., hlm. 231.

47 Fadly Rahman, Rijsttafel: Budaya Kuliner Di Indonesia Masa Kolonial

1870-1942 (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama: 2011), hlm. 18.

48 Budaya Indies adalah budaya yang berbeda dengan budaya Belanda.

Orang-orang yang sudah terpengaruh dengan budaya Indies menggunakan bahasa yang lebih beragam dalam keseharian mereka. Para kaum elite Indies tinggal di

(22)

benar hidup layaknya pribumi tropis kebanyakan. Kegiatan-kegiatan seperti tidur siang, minum kopi di pagi hari, dan saling berkunjung satu sama lain. Selain itu, praktek pergundikan atau menikahi perempuan pribumi di kalangan masyarakat Belanda dan Eropa pada masa tersebut semakin merajalela. Meskipun begitu, masyarakat Indies tidak bisa dikatakan bebas dari tekanan. Daendels serta Raffles pada masa pemerintahan masing-masing telah mengupayakan berbagai cara agar masyarakat Eropa dan Belanda kembali ke jalan yang benar. Kembali ke jalan yang benar dalam hal ini berarti tetap berlaku seperti orang Eropa normal di daratan mereka. Raffles mencoba mengubah gaya hidup masyarakat Indies dengan mengembangkan tata cara Eropa dalam berbagai aspek kehidupan.49

Pemindahan pusat kota Batavia ke Weltevreden juga menghasilkan tata kota yang baru untuk berbagai sarana prasarana kota yang dibutuhkan. Hal tersebut juga berpengaruh terhadap timbulnya pemukiman sesuai kelompok masyarakat yang ada dan tentu saja semakin memperlihatkan sekat dalam kehidupan bermasyarakat di Weltevreden dan sekitarnya. Meskipun dasar utama pembangunan Weltevreden adalah memberikan ruang yang sama kepada semua kelompok untuk hidup bersama tanpa menganggap rendah atau bahkan menghilangkan agama atau etnis tertentu, namun bangsa penguasa tetap berada dalam kelompok yang paling tinggi. Hal ini terlihat dari kawasan tempat tinggal

vila-vila yang luas dan terbuka. Menyantap menu-menu Belanda seperti roti, daging, dan keju, walau seringkali memakan masakan lokal yaitu menyantap nasi dan makanan pedas. Mereka berbicara dengan bahasa Melayu dan Portugis, dan membawahi para seniman. Lihat Djoko Soekiman, op.cit., hlm. 21, dan Jean Gelman Taylor, op.cit., hlm. 141.

(23)

di Rijswijk dan Noordwijk50 yang termasuk kawasan Eropa yang penuh dengan kemewahan. Orang Cina, Arab, dan India sebagai pedagang kelas menengah ke atas banyak bermukim di daerah Glodok. Sementara masyarakat pribumi tinggal di perkampungan kumuh, di dalam bangunan yang tidak permanen, dan tersembunyi dari keramaian. Keberadaan wilayah pemukiman turut mempengaruhi kualitas hidup dari tiap kelompok masyarakat di Batavia.51

Dalam strata sosial di Batavia pada abad XIX, yang menempati posisi paling atas adalah masyarakat Eropa murni atau totok, pejabat sipil pemerintahan, pengusaha swasta, prajurit militer, pemilik perkebunan, beberapa Indo-Eropa yang menempati posisi tinggi dalam pemerintahan dan militer, ‘petugas’ Timur Asing (termasuk pengusaha Cina dan Arab) dan beberapa priyayi pribumi yang diberi penghargaan oleh pemerintah atas kerjasama mereka demi menjaga perdamaian.52

Perempuan, yang populasinya hingga abad XIX tidak lebih banyak dari populasi laki-laki, memiliki peran penting. Kehadiran mereka yang masih sedikit, menjadi penyeimbang dalam kehidupan sosial di Batavia. Sebagai akibat pengaruh mereka, gaya hidup orang Eropa dan Cina menjadi semakin mirip dengan pribumi. Orang-orang Belanda beradaptasi dengan gaya hidup pribumi, seperti memakan rijstaffel, mengenakan sarong di rumah, menikmati tidur siang, dan sebagainya. Orang Eurasia berbicara dengan bahasa Melayu atau bahasa Belanda yang dalam pengucapannya memakai struktur pengucapan bahasa

50 Kini termasuk kawasan sekitar Jl. Ir. H. Juanda, DKI Jakarta. 51 Mega destriyana, op.cit., hlm. 5.

(24)

Melayu. Orang Eurasia mempopulerkan dua bentuk kebudayaan yang banyak digemari di Batavia yaitu keroncong, jenis musik yang berasal dari orang-orang mardijker, serta komedi stambul. Komedi stambul adalah teater yang mementaskan drama asal Eropa Timur Tengah, Indonesia, Cina, dan lain-lain dalam bahasa Melayu diselingi nyanyian-nyanyian yang diiringi musik pada masa tersebut. Sebagian besar perempuan yang disebut perempuan Eropa merupakan orang Eurasia. Mereka membesarkan anak dalam suasana Indonesia. Para orang kaya biasanya membiarkan anak mereka diasuh oleh budak-budak mereka. Pendidikan hanya diberikan kepada anak lelaki, sedangkan anak perempuan dirasa belum penting untuk menerima pendidikan. Para orang tua Belanda biasanya menyekolahkan anak mereka ke Eropa. Hampir seluruh perempuan Belanda di Batavia menggunakan bahasa Melayu sebagai bahasa utama, mengenakan kebaya dan kain batik untuk pakaian sehari-hari. Terdapat spesifikasi pakaian yang digunakan oleh para perempuan Belanda dan Nyai yaitu kebaya putih dengan tepian berenda. Sebagian besar para perempuan ini juga melakukan kebiasaan lokal seperti sering mandi, mengunyah sirih, berjudi kartu Cina, berkonsultasi pada dukun, mengonsumsi jamu dan percaya guna-guna.53

Pengaruh kehidupan sehari-hari menurut tata cara budaya borjuasi Eropa dalam kebiasaan masyarakat yang berada di Batavia semakin terlihat jelas. Dalam kebiasaan makan dan jenis menu makanan terlihat adanya pengaruh budaya Eropa. Makanan kemasan dalam kaleng yang diimpor dari Eropa mulai banyak memasuki pasaran dan banyak dikonsumsi oleh orang-orang Eropa maupun elit

(25)

pribumi, dan tradisi perdagangan produk makanan mulai muncul di Batavia. Pada masa itu mulai dikenal berbagai macam jenis makanan modern Barat seperti ikan atau daging kalengan, daging ham, bermacam-macam jenis kue/roti, dan menu makanan Eropa, serta bahan-bahan makanan Eropa seperti mentega, coklat, permen, dan sebagainya. Demikian pula dengan minuman. Berbagai minuman yang biasa dikonsumsi masyarakat dari daratan Eropa, terutama minuman keras, beredar di Hindia Belanda. Batavia, sebagai kawasan pemerintahan sentral, tidak luput dari peredaran minuman keras. Para pejabat pemerintahan dan kaum elit Batavia mengonsumsi minuman keras ini. Pada zaman tersebut telah banyak minuman keras yang dikemas dalam botol seperti wishky, anggur, cognag, bir, bir hitam, lemonade, air Belanda, sari buah, siroop, dan lainnya. Minuman keras yang berjenis anggur, cognag, atau wishky diimpor dari Perancis dan tergolong minuman mahal yang sangat bergengsi. Biasanya minuman tersebut hadir dalam acara-acara pesta mewah kaum elit.54

C.

Pusat-Pusat Hiburan di Weltevreden Abad XIX

Dibangunnya kota Batavia Baru membuat semangat masyarakat kolonial kala itu naik. Hal ini membuat kehidupan di Weltevreden dan wilayah lain di Batavia Baru tampak lebih hidup. Fasilitas yang menunjang turut membuat kota Batavia Baru sibuk. Pada awal terbentuknya Batavia Baru, Thomas Standford Raffles (1811-1816), yang menggantikan Gubernur-Jenderal Janssens pada tahun

54 Yusana Sasanti Dadtun, Minuman Keras di Batavia Akhir Abad XIX,

(26)

1811, membangun Schouwburg55 atau gedung kesenian berkapasitas 250 orang pada tahun 1814. Pembangunan gedung kesenian di dekat Pasar Baru dilakukan secara mendadak menjelang pementasan perdana opera pada 2 Oktober 1814. Gedung kesenian yang awalnya dibangun dari bambu kemudian dipugar dan dibuat permanen pada tahun 1820. Gedung kesenian tersebut kemudian menjadi sebuah bangunan yang amat dipuja masyarakat Batavia kala itu dan kerap mempertunjukkan opera-opera dari daratan Eropa.56

Selain pertunjukan opera yang diadakan di gedung kesenian, Batavia memiliki beberapa tempat lainnya yang sering dikunjungi oleh masyarakat untuk menghibur diri. Sebut saja Waterlooplein, sebuah lapangan luas dengan patung singa di atas tiang tinggi di tengahnya. Patung singa di atas tiang tinggi ini dibangun untuk mengenang kemenangan dalam pertempuran Waterloo. Di sisi selatan Waterlooplein terdapat sebuah klub militer bernama Concordia57. Di depan Concordia sering diadakan parade musik militer yang dapat dinikmati oleh siapapun, yang datang dengan mengenakan busana terbaik dan mengendarai kereta kuda.58

Memasuki abad XIX, kaum elit Batavia memiliki sebuah kebiasaan baru. Mereka biasa menghibur diri di sebuah societeit atau soos, yaitu sebuah klub. Ada dua klub penting di Batavia yaitu De Harmonie dan Concordia. De Harmonie di kemudian hari juga ditemukan di berbagai kota besar dimana banyak populasi

55 Kini beralih fungsi sebagai gedung Kesenian Jakarta.

56 Threes Susilastuti, Kisah Jakarta Tempo Doeloe, (Jakarta: Intisari,

1988), hlm. 120.

57 Kini lokasinya ditempati oleh Hotel Borobudur. 58 Susan Blackburn, op.cit., hlm. 75.

(27)

masyarakat Eropa, sedangkan Concordia merupakan societeit militer. Bangunan tersebut dibangun pada tahun 1836. Anggotanya kebanyakan berasal dari garnisun-garnisun militer di Batavia, sebelum dibuka untuk umum. Kedua bangunan klub tersebut menyediakan fasilitas yang sering ditemukan di klub-klub lainnya. Kebanyakan fasilitas seperti billiar, meja kartu, meja baca dengan banyak buku dan jurnal, sebuah perpustakaan, serta ruang makan dan bar merupakan fasilitas yang diperuntukkan untuk para laki-laki.59 Menurut peta di gambar 3, jarak antara Societeit de Harmonie dengan Societeit Concordia tergolong cukup dekat yaitu berjarak 0,8 km.

D.

Societeit De Harmonie

di Batavia Sebelum Abad XIX

Sebelum adanya sebuah wadah atau tempat yang dikhususkan untuk tempat perkumpulan (klub), masyarakat VOC menggunakan hotel sebagai tempat bertemu satu sama lain. Meskipun pembangunan hotel maupun klub malam telah diatur dan dibatasi oleh peraturan yang dibuat pemerintah tertinggi, pada tahun 1777 pertumbuhan klub-klub malam di Batavia meningkat. Tercatat pada tahun tersebut terdapat 102 pub dan klub malam baik di luar maupun di dalam kota Batavia.60

Gagasan untuk membangun sebuah gedung perkumpulan atau yang kemudian disebut societeit timbul sejak para pelaut VOC mendarat di Teluk

59Pauline Dubline Milone, op.cit., hlm. 150.

60 F.R.J. Verhoeven, De Jonge Jaren van de Harmonie, (Batavia: De Unie,

(28)

Jakarta. Mereka yang berbulan-bulan berada di lautan, sejak merapatkan haluan di Bandar Jakarta, segera disambut bau arak yang menyengat nan harum. Kala itu memang industri arak sudah berkembang di Batavia, yang sebelumnya disebut Jacatra. Seiring berjalannya waktu banyak kedai-kedai yang menjual arak bermunculan di sepanjang tepi kali Ciliwung. Kedai yang jumlahnya hanya selusin pada tahun 1774, meroket jumlahnya hingga 102 buah kedai tiga tahun kemudian. Meskipun orang-orang Belanda yang tinggal di daerah tersebut belum terlampau banyak. Kemunculan kedai-kedai ini membuat penguasa Belanda menjadi risau. Arak, bir Belanda dan Inggris, serta anggur Spanyol dan Afrika Selatan yang memabukkan, menjadi pemicu banyaknya pertengkaran maupun perkelahian di kalangan para kelasi. Sering kali malah terjadi pertumpahan darah.61

Tentu kaum elit Eropa yang tinggal di Batavia tidak akan mendatangi tempat minum seperti itu. Mereka lebih suka mengadakan pesta di rumah seraya mengundang pemain musik, naik perahu berhias di Kali Ciliwung yang airnya coklat, pergi ke pesta tembak atau pesta lain. Belum ada tempat seperti societeit atau tempat terhormat untuk minum pada masa tersebut.62

Selanjutnya pada 1776, Reiner de Klerk, yang kemudian menjabat sebagai Gubernur-Jenderal VOC, mengajukan saran supaya sebaiknya dibangun tempat pertemuan umum di Batavia. Saran ini diajukan agar gaya hidup di Batavia tidak terlalu liar dan urakan, serta sebuah sarana untuk mencari jodoh yang pantas. Saat ide de Klerk disuarakan, banyak yang menentang. Namun begitu masa

61 Threes Susilastuti, op.cit., hlm. 103. 62 Ibid. hlm. 104.

(29)

pemerintahannya tiba, dibangunlah societeit Hindia Belanda di Buiten

Nieuwpoorstraat63.64

Menurut De Haan, di gedung Societeit Harmonie lama di Jalan Pintu Besar Selatan tersebut terdapat lapangan golf, jalan setapak, serta taman besar. Sebelum dibangunnya gedung societeit, pada 1776 pertemuan maupun pesta dan kegiatan menghibur lainnya dilakukan di bar-bar yang tutup sekitar pukul sembilan malam, serta di loji Freemason yang terbentuk sejak tahun 1736. Hingga tahun 1818, pertemuan khusus para pria diadakan di kantor umun, namun juga di Heerenlogement (hotel khusus pria). Hotel khusus pria ini pertama kali berdiri tahun 1744 diprakarsai oleh Van Imhoff. Terletak di dekat Vierkantsplein (Pasar Ikan di sebelah barat, di sebelah timur terdapat rawa, dan dekat dengan Menara Pengintai) dimana daerah tersebut merupakan area paling kotor dan kumuh. Heerenlogement tersebut kemudian pindah ke Jalan Jacatra (Jacatraweg) pada 1818 di sebelah kiri Toko Merah yang masih berdiri hingga saat ini.65

Sementara itu, satu-satunya data tentang pengumuman pertemuan di societeit lama dikutip De Haan dalam bukunya. Pada tahun 1807, Sekretaris Societeit Harmonie mengumumkan bahwa “Pertemuan umum seluruh anggota klub Societeit Harmonie, pada Senin, 8 Juni 1807 pada pukul 06.30 malam tentang pungutan suara antara Tuan P. Jansen dan J.M. Jaulen.”66

63 Pintu Besar Selatan, saat ini berada di daerah sekitar Kota Tua, DKI

Jakarta .

64 Threes Susilastuti, loc.cit.

65 F. De Haan, Oud Batavia, Gedenboek Volume II, (Batavia: G. Kolff &

co, 1922), hlm. 27, 32, & 174-176.

(30)

Meskipun komunitas Eropa di Batavia adalah yang paling besar di Jawa, namun sisi kehidupan mereka terlalu monoton dan menjemukan dibanding komunitas lainnya di kota lain. Kehidupan mereka begitu sibuk, hanya berkutat pada pekerjaan dari pagi hingga sore hari. Malam hari dipergunakan untuk berjalan-jalan melepas penat dan sesudah makan malam mereka berada di teras depan rumah, mengobrol, dan membaca surat kabar maupun majalah. Karena di siang hari masyarakat Eropa ini sibuk, maka malam hari menjadi lebih hidup daripada siang hari.67 Kaum elit Batavia biasanya menghabiskan malam mereka di sebuah klub ternama Batavia, yaitu Societeit de Harmonie, dimana tidak sembarang orang bisa masuk ke dalam klub tersebut. Di sana para pengunjungnya menghabiskan waktu dengan bermain kartu maupun bermain bola sodok. Selain itu sering pula diadakan perjamuan makan malam dan pesta dansa di Harmonie maupun di lingkungan militer Concordia.68

Walaupun terdapat dua klub besar di Batavia, namun klub-klub ini tidak bisa dimasuki oleh semua kalangan. Societeit Concordia diperuntukkan bagi kalangan militer sementara Societeit Harmonie dikhususkan bagi kaum elit dan bangsawan Eropa. Keanggotaan Societeit Harmonie pun bersifat resmi dan dinilai bergengsi pada masanya. Juga tidak sembarang orang bisa menjadi anggota tetap komunitas Harmonie karena seleksinya yang ketat. Banyaknya pejabat tinggi Hindia Belanda yang berkunjung ke Harmonie juga membuat Harmonie semakin

67 Agung Wibowo,”Gaya Hidup Masyarakat Eropa di Batavia Pada Masa

Depresi Ekonomi (1930-1939)”, Skripsi Program Studi Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI, 2012, hlm. 37.

68 Bernard Dorléans, Orang Indonesia & Orang Perancis: Dari Abad XVI

Sampai Dengan Abad XX, (Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2016), hlm. 481.

(31)

terdengar berharga dan mewah. Selain itu, pelindung dari klub Harmonie sendiri adalah Gubernur-Jenderal, yang juga tidak melewatkan kesempatan untuk menyelenggarakan perayaan-perayaan kenegaraan di tempat tersebut. Secara lengkap Societeit Harmonie akan dibahas pada bab berikutnya.

Referensi

Dokumen terkait

Dari hasil penelitian, dapat ditentukan spesies yang paling melimpah di aliran sungai Kahayan di Kota Palangka Raya adalah spesies Litopenaeus vannamei atau disebut

Kondisi geografis kota Makassar yang terletak di pesisir pantai barat sulawei selatan, dan juga diapit oleh dua sungai besar menjadikan kota Makassar di beberapa daerahnya

Hasil penelitian yang dilakukan pada masyarakat pinggir sungai di Kelurahan Tembilahan Kota Tahun 2015 menggambarkan, kondisi sarana sanitasi yaitu sebahagian

Sesuai  kondisi  fisik  perkembangan  kawasan  perkotaan,  wilayah  Kota  Nganjuk  secara  garis  besar  dapat  dibagi  menjadi  dua  yaitu  kawasan  perkotaan 

Hasil identifikasi muara sungai di wilayah Kota Semarang yang berada pada zona yang sering terkena banjir pesisir, yaitu terletak di antara KBB di bagian barat dan Kali Babon

Kelurahan Sekayu berada di Semarang Tengah tepatnya di pusat kota,berdekatan dengan aliran sungai kecil dan di- apit dua jalan besar yakni Jalan Pemuda dan Jalan Thamrin ,