• Tidak ada hasil yang ditemukan

bagi penelitian sehari-hari. pekerjaan niat yang menghubungkan dirinya dengan Allah.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "bagi penelitian sehari-hari. pekerjaan niat yang menghubungkan dirinya dengan Allah."

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

Respon Spiritual Penderita Kanker Serviks

(Studi Kasus PengalamanSpiritual Penderita Kanker Serviks di Yayasan

Kanker Indonesia)

Oleh : Fenti Hasnani SPs UIN Jakarta

A. Latar Belakang

Spiritual1 merupakan bagian dari keseluruhan diri manusia.Pentingnya

dimensi spiritual dalam pelayanan kesehatan dapat dilihat dari batasan Organisasi Kesehatan Dunia yang menyatakan bahwa aspek spiritual merupakan

salah satu unsur dari pengertian kesehatan seutuhnya. Tahun 1947 WHO memberikan batasan sehat hanya dari 3 (tiga) aspek saja yaitu sehat fisik

(organobiologi), sehat mental (psikologik/psikiatrik) dan sehat sosial. Pengertian

ini berubah pada tahun 1984, batasan sehat tersebut sudah ditambah dengan

aspek agama (spiritual), yang oleh American Psychiatric Assosiation(APA)

dikenal dengan rumusan

“bio-psyko-sosio-spiritual”2. Selama ini dimensi spiritual sering dilupakan dalam praktek

pelayanan

kesehatan.Menurut Hawari,ada dikotomis hubungan antara kesehatan dan spiritual dalam pelaksanaan praktek kesehatan di Indonesia.3Padahal

mayoritas

penduduk Indonesia adalah muslim. Apa yang seharusnya dilakukan oleh seorang

muslim baik sebagai tenaga kesehatan ataupun sebagai pasien adalah memiliki

akidah yang kuat, ibadah yang tekun dan akhlak yang terpuji. Semuanya harusbergerak seimbang dan berdampingan dalam kehidupannya

sehari-hari. Seorang mukmin dalam melakukan sesuatu pekerjaan, maka pekerjaan itu

harus dimulai dengan niat yang menghubungkan dirinya dengan Allah. Selanjutnya niat dan tujuan yang terhubung dengan Allah akan sangat

1 Kementerian Agama RI, Spiritualitas dan Akhlak (Tafsir Al-Qur’an Tematik) (Jakarta:

Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an Badan Litbang dan Diklat, 2010), 471 Spiritualitas adalah

segala aspek yang berkenaan dengan jiwa, semangat dan keagamaan yang mempengaruhi kualitas

hidup dan kehidupan seseorang.

2 Dadang Hawari, Dimensi Religi dalam Praktek Psikiatri dan Psikologi (Jakarta: FKUI,

2002),5-8. 3

Dadang Hawari, Dimensi Religi dalam Praktek Psikiatri dan Psikologi , 5-8.

menentukancara seseorang melakukan pekerjaan.4 Salah satu faktor penyebab

terjadinya ketidakseimbangan dimensi spiritual dalam dunia kesehatan adalah

tata fikir yang keliru yang dimiliki oleh tenaga medis. Selama ini banyak tenaga

medis menganggap bahwa menerapkan dimensi spiritual bukan merupakan tanggung jawabnya.Data ini ditunjukkanVance dalam penelitian terhadap 173

perawat di Midwestern Community Nursing, menemukan bahwa hanya 34,6%

yang mendukung perawatan spiritual.5Hal senada dikatakan oleh Makhija bahwa

pelayanan keperawatan masih berfokus pada perkembangan kesehatan fisik saja

dan pemenuhan aspek spiritual umumnya belum diperhatikan dengan baik.6 Paralel dengan pernyataan diatas, penelitian Hallstead dan Hull

terhadap

10 perempuan dengan non-Hodgkin’s lymphoma, kanker payudara dan kanker

ovarium mengungkapkan bahwa ada tiga fase respon spiritual pada perempuan

dengan penyakit terminal, yaitu (1) adanya ungkapan makna kanker bagi dirinya,

(2) menyadari adanya keterbatasan serta (3) belajar hidup dalam ketidakpastian.

Penelitian tersebut memberikan gambaran bahwa penderita kanker dapat melawan keadaan sakitnya dengan mencoba meningkatkan penerimaan dan keyakinan bahwa hidup dengan kanker adalah bagian hidup yang harus dijalaninya tetapi disisi lain mereka merasa kan hidupnya menjadi tidak pasti dan

kesembuhannya bukan dari Tuhan.7

SebaliknyaNagai-Jaconsen & Burkhart mengatakan bahwa pemenuhan

kebutuhan spiritual merupakan bentuk pelaksanaan pelayanan keperawatan bagi

penderita penyakit terminal.8Penelitian lain yang mendukung tema penelitian ini

adalah hasil penelitian Narayanasamy mengungkapkan bahwa spiritualdapat menjadi mekanisme koping dan faktor yang berkontribusi penting terhadap

4Kementerian Agama RI, Spiritualitas dan Akhlak (Tafsir Al-Qur’an Tematik), 471. 5D.L. Vance, “Nurses’Attitude Towards Spirituality and Patient Care.” Medical

SurgicalNursing 10(5) (2001):

264-268. 6 N. Makhija, “Spiritual Nursing.” India: Nursing Journal of

India(2002). 7M.T. Hallstead &M. Hull, “Struggling with Paradoxes: The Process of Spiritual Development in Women with Cancer.” Oncology Nursing Forum 28 (2001):

1534-1544. 8S.Sinclain., Raffin, S., Pereira & N. Guebert, “Collective Soul: The Spirituality of an

Interdisciplinary Palliative Care Team.”Palliative and Supportive Care 4 (2006): 13-24 , lihat

juga Cancer Treatment Centers of America (2006) menyatakan bahwa dukungan spiritual merupakan bagian yang sangat penting dalam perawatan klien dengan kanker

(2)

proses pemulihan klien.9Bussing, Fischer, Ostermann dan Matthiessendalam

penelitiannya menjelaskan bahwa pasien kanker yang memiliki sandaran sumber

religius yang kuat akan mengantarkan pasien tersebut pada prognosis yang lebih

baik dari yang diperkirakan.10

Penelitianyang dilakukan oleh Balboni, Vanderwerker, Block, Paulk dan

Lathan diketahui bahwa 96% dari orang dewasa di Amerika Serikat yang mengalami kanker mengungkapkan kepercayaannya terhadap Tuhan dan 70%

diantaranya mengungkapkan bahwa agama adalah salah satu yang paling dibutuhkan. Penelitian lainnya yang dilakukan oleh Robert dalam Balboni, Vanderwerker, Block, Paulk dan Lathanterhadap 108 orang Penderita yang

didiaganosa kanker ginekologi diketahui bahwa 47% diantaranya

mengungkapkan lebih memiliki sikap religius setelah didiagnosis mengalami kanker ginekologi dan semakin meningkat ketika menghadapi kematian dan menjadi faktor yang berkontribusi besar dalam peningkatan kualitas

hidup.11 Stoll dalam Yani menjelaskan bahwa spiritual merupakan suatu konsep

dua dimensi yaitu dimensi vertikal dan dimensi horizontal. Dimensi vertikal adalah hubungan dengan Tuhan yang Maha Tinggi yang menuntun kehidupan seseorang sedangkan dimensi horizontal adalah hubungan seseorang

dengan diri

sendiri, orang lain dan lingkungan dan hubungan tersebut bersifat

kontinyu.12Pandangan Islam menjelaskan bahwa pada dimensi vertikal ada tiga

manfaat musibah (sakit) yang ditimpakan kepada seorang mukmin, pertama,

musibah sebagai penebus dosa, kedua, musibah sebagai pengingat dan penguji

kualitas kesabaran seseorang, dan ketiga, musibah sebagai tangga untuk

9A. Narayanasamy, “Palliative Care and Spirituality.” Indian Journal of Palliative Care

13(2), (2007): 32-41. 10

A. Bussing., J. Fischer., T. Ostermann&P.F. Mathiessen, “Reliance on God’s Help,Depression and Fatigue Female Cancers Patient.” Journal Psychiatric of

Medicine(2008): 357-372. 11

T.A. Balboni, L.C. Vanderwerker, S.D. Block, M.E. Paulk, C.S. Lathan, J.R. Peteet &

H.G. Prigerson,“Religiousness and spiritual support among advanced cancer patient and associations with end of life treatment preferences and quality of life.”Journal Clinical Oncology

25(5) (2007): 555-560. 12

Achir Yani, Asuhan Keperawatan Kesehatan Jiwa(Jakarta: EGC, 2008), 2-3.

(3)

mencapai kualitas derajat yang lebih tinggi disisi Allah. Sedangkan hikmah sakit

dari sisi pergaulanadalah sebagai penyambung

silahturahmi.13 Dimensi spiritual dimanifestasikan dalam berbagai pengalaman ketika seseorang bertanya tentang tujuan keberadaannya, memahami

keterbatasannya

dan menyadari kebutuhan akan kekuatan yang lebih tinggi.14Spiritual digambarkan sebagai kebutuhan manusia untuk mencari arti dan tujuan hidup.15 Wright menjelaskan definisi spiritual adalah apapun atau siapapun

yang

memberikan arti dan tujuan tertinggi terhadap kehidupan seseorang dengan

berbagai cara dalam menjalin hubungan dengan dirinya sendiri, orang lain dan

alam semesta.16 Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa spiritual merupakan

suatu cara manusia dalam memberi makna dan tujuan terhadap kehidupannya

dengan meningkatkan hubungan dengan Tuhan, lingkungan dan orang-orang disekitarnya.

Aspek spiritual juga merupakan bagian dari pelayanan perawatan paliatif.17 Spiritualitas yang baik dapat membuat seseorang menjadi lebih tenang,

konsentrasi meningkat dan berfikir positif, senantiasa mengkreasikan perasaan

hidup sejahtera. Perawatan spiritual sangat mirip dengan konseling dan psikoterapi, bertujuan untuk merawat spirit seseorang agar pulih kembali. Pendekatan yang dilakukan dapat merupakan integrasi pendekatan

tradisional,

keagamaan, dan kejiwaan, sehingga spirit pasien muncul dan pulih kembali.

13Ali Yafie, Quraisy Shihab, Dadang Hawari, Didin Hafidhuddin& Tim Medis RSK

Dharmais,Sakit Menguatkan Iman: Uraian Pakar Medis dan Spiritual (Jakarta: Gema Insani 2006),

3-15. 14 R. DePalo,“The Role of Hope and Spirituality on the Road to Recover.”The Exceptional Parent 39(2) ( 2009): 74-77. 15 N. Makhija ,“Spiri tual Nursing. ”Nursi ng Journal of India (2002). 16 Wright, L.M, Spiritua lity, Sufferi ng and Illness( Philadel phia: F. A. Davis 2005) 17

Masyarakat Paliatif Indonesia, Apa itu Paliatif? Diperoleh dari

www.palliative-indonesia.org (10 Juni 2011). Definisi Perawataan Paliatif yang diberikan oleh WHO pada tahun

2005 bahwa perawatan paliatif adalah sistem perawatan terpadu yang bertujuan meningkatkan

kualitas hidup, dengan cara meringankan nyeri dan penderitaan lain, memberikan dukungan spiritual dan psikososial mulai saat diagnosa ditegakkan sampai akhir hayat dan dukungan terhadap keluarga yang kehilangan/berduka. Di sini dengan jelas dikatakan bahwa

Perawatan

Paliatif diberikan sejak diagnosa ditegakkan sampai akhir hayat. Artinya tidak memperdulikan

pada stadium dini atau lanjut, masih bisa disembuhkan atau tidak, mutlak perawatan paliatif

(4)

Dasar pendekatan psikoterapi atau perawatan psikospiritual adalah memahami

keterbatasan dan kepekaan seseorang menghadapi masalah, menghargai perasaan

seseorang, memupuk rasa cinta, empati, mendengarkan keluhan dengan aktif,

rasa humor dan memiliki integritas spiritual dalam kata dan tindakan, sehingga

meyakinkan pasien.

Tujuan pemenuhan kebutuhan spiritual adalah untuk meningkatkan kualitas hidup manusia.18 Kualitas hidup pasien seharusnya menjadi perhatian

penting bagi para professional kesehatan karena dapat menjadi acuan keberhasilan dari suatu tindakan/intervensi atau terapi. Disamping itu, data

tentang kualitas hidup juga dapat merupakan data awal untuk pertimbangan

merumuskan intervensi/tindakan yang tepat bagi pasien. Kebutuhan spiritual

merupakan kebutuhan untuk mencari arti dan tujuan hidup, kebutuhan untuk

mencintai dan dicintai serta rasa keterikatan, dan kebutuhan untuk memberi dan

mendapatkan maaf.

Dalam rangka memenuhi kebutuhan spiritual tersebut ada 4 (empat) karakteristik spiritual yaitu : hubungan dengan diri sendiri, hubungan

dengan

alam, hubungan dengan orang lain dan hubungan dengan

Allah.19 Pemahaman individu terlihat dari dua domain spiritual yaitu semangat

dan harapan hidup. Burkhardt & Jacobson ; Stoner dalam Mauk &

Schmidtharapan merupakan perasaan optimis, hasrat dan keinginan.20 Harapan

18 Definisi kualitas hidup menurut WHO adalah persepsi individual tentang hidupnya

dalam konteksbudaya dan sistem nilai yang berlaku di tempat ia hidup dan berhubungan erat dengan tujuan hidup, harapan, standard dan hal-hal mendasar lain yang ada pada dirinya. 19

Achir Yani, Asuhan Keperawatan Kesehatan Jiwa, .3-4 lihat jugaMarkhija, Spiritual

digambarkan sebagai kebutuhan manusia untuk mencari arti dan tujuan hidup. Lihat juga Carvendish, (2006), Spiritual diartikan sebagai fenomena manusia yang universal yang menggambarkan keseluruhan diri manusia dan hubungannya dengan kekuatan yang lebih tinggi sebagai integrasi dari faktor-faktor pencarian arti dan tujuan hidup. 20

Burkhardt & Jacobson; Stoner dalamMauk & Schmidt,Spiritual Care and Nursing Practice (Lippincott: Williams and Wilkins 2004) Pengetahuan penderita tentang siapa dirinya

dan apa yang harus dilakukan dalam hidupnya sangatlah penting. Seseorang yang menghadapi

penyakit yang serius dan dianggap sebagai penyakit terminal seperti kanker serviks akan menunjukkan kesadaran yang tinggi terhadap kepercayaannya yang tampak pada

perilakunya

sehari-hari.lihat juga Rajinikart,harapan juga diartikan sebagai satu proses antisipasi yang

merupakan interaksi antara pemikiran, perbuatan, perasaan dan hubungan yang secara langsung

(5)

adalah dasar dari aspek spiritual. Harapan yang rendah dan keputusasaan berpotensi menyebabkan masalah

spiritual.21 Sementara itu dimensi spiritual tidak hanya terbatas pada agama tetapi

merupakan suatu kualitas dari inspirasi, kehormatan, arti dan tujuan.Dimensi

spiritual mencoba mengharmonikan alam semesta, berusaha untuk menjawab

tentang pertanyaan yang sangat luas dan terintegrasi ke dalam diri manusia saat

menghadapi stres emosional, penyakit fisik atau

kematian.22 Keharmonisan pemenuhan kebutuhan spiritual dalam hubungannya dengan orang lain dicapai ketika seseorang menemukan keseimbangan antara

nilai, tujuan dan keyakinan dalam berhubungan dengan diri mereka sendiri maupun orang lain.23

Diagnosa kanker serviks merupakan suatu trauma emosional bagi penderita. Dampak kanker serviks terhadap perubahan body image, penurunan

harga diri, gangguan hubungan dengan pasangan serta isu seksual dan reproduksi

dapat menurunkan kualitas hidup penderita kanker serviks.24 Dampak diagnosis

dan penanganan kanker serviks juga ditunjukkan dengan adanya peningkatan

masalah depresi, cemas, marah dan bingung. Bagi penderita kanker, satu keinginan utama pada umumnya adalah untuk segera sembuh,

bagaimanapun dan

apapun caranya. Demikian pula pihak keluarga menginginkan hal yang sama. Dorongan untuk segera bebas dari kanker terutama didorong oleh rasa takut yang

mempengaruhi segala sendi kehidupan mereka, yang termanifestasi dalam bentuk

21R. DePalo,“The Role of Hope and Spirituality on the Road to Recover.”The

Exceptional Parent 39(2) ( 2009): 74-77. 22

Murray & Zentner dalam Craven, R.F & Hirnle, C.J, Fundamental of Nursing : Human Health and Function (Washington: Lippincott Williams & Wilkins 2003). 23

P.A. Potter &A.G. Perry, Fundamental of Nursing: Concept, Process, and Practice (Philadelphia:

Mosby, 2005) 24

T.J. Herzog&J.D. Wright, “The Impact of Cervical Cancer on Quality of Life- The

Component and Means for Management.”Gynecologic Oncology107(3) (2007):572-577. Lihat

juga Ekwall, Ternestedt & Sorbedalam Contanzo, Lutgendorf, Rotrock & Anderson, (2005).

Penurunan kualitas hidup tersebut mengarahkan perempuan dengan kanker serviks ke dalam satu

penderitaan dalam kehidupannya baik langsung maupun tidak langsung.Kanker seviks akan menimbulkan masalah tersendiri bagi perempuan yang mengalaminya karena kanker ini berhubungan dengan perubahan pada organ reproduksi perempuan yang dianggap sebagai bagian

yang sangat penting bagi perempuan. Fungsi organ reproduksi, fertilitas, kehidupan seksual yang

terganggu dan diagnosis serta penanganan kanker serviks akan menimbulkan stres pada perempuan yang mengalami kanker serviks dan

(6)

takut akan kematian, takut akan kanker itu sendiri dan takut banyak pihak akan

menderita akibat penyakit ini.

Dari kesemuanya ini yang paling berat menghantui seorang penderita

kanker adalah bahwa sewaktu-waktu ia dapat saja meninggal dunia dan ia merasa

tidak siap. Di saat inilah unsur spiritualmuncul, seperti introspeksi terhadap

perbuatan dosa yang telah dilakukan selama hidup, mengevaluasi berbagai kemungkinan bahwa kanker yang diderita mungkin saja akibat kesalahan yang

telah dilakukan sebelumnya. Ketika unsur spiritual individu tersentuh dan penderita benar-benar mencari sesuatu dalam dirinya, biasanya ia akan tiba pada

suatu penemuan kembali tentang diri dan hubungannya dengan sang Pencipta.

Namun dalam proses pencarian inilah biasanya penderita akan melewati

tahap-tahap denial (penyangkalan), marah, tawar menawar, depresi sampai akhirnya

menerima kenyataan. 25

Penyembuhan efek kanker serviks seperti depresi yang paling efektif

adalah mengkondisikan jiwa sehingga benar-benar berserah diri kepada Allah,

menyerahkan nasib sepenuhnya kepada Allah, dan terus menerus memuji-Nya

atas segala kemudahan maupun kesulitan yang Dia timpakan kepada kita seperti

yang diungkapkan olehSaleh, zikir yang terus menerus dilantunkan oleh penderita depresi niscaya akan menciptakan ketenangan didalam jiwa dan mengurangi tekanan psikis yang diderita.26

Dalam upaya memenuhi kebutuhan spiritual pasien, maka tim medis wajib mengetahui berbagai dampak akibat kanker. Menurut Ratna saat diagnosis

kanker ditegakkan maka akan mempengaruhi kulitas hidup penderitanya. Diagnosa kanker mampu merubah status kesehatan sesorang yang tadinya normal

25B. Kozier, G. Erb, Berman&S. Snyder,Fundamental of Nursing: Concept, Process and

Practise (Uper Saddle River: Perarson Education, 2004). 26

Arman Yusaldi Saleh, Berzikir untuk Kesehatan Saraf, Rahasia La ilaha Illallah dan

Astaghfirullah untuk Menghilangkan Nyeri serta Menumbuhkan Ketenangan dan Kestabilan Saraf (Jakarta: Zaman, 2010), 89 lihat juga Ibnu Al-Jauzi, Ibn Abbas 93

meriwayatkan bahwa

Rasulullah saw bersabda, “jagalah Allah, niscaya Dia menjagamu, Jagalah Allah, niscaya kau

dapati Dia selalu didepanmu. Jika kau mengenal Allah saat kau lapang, niscaya Dia akan mengenalmu saat kau dalam kesulitan”. Kudengar Nabi Yunus a.s dibebaskan oleh Allah dari

penderitaanya karena ia telah banyak berbuat amal kebaikan sebelumnya. Allah berfirman, Maka

kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah, niscaya ia akan

tetap tinggal diperut ikan itu sampai hari kebangkitan. Q.S. Al-Shaffat (37):144.

(7)

dan berada dalam kestabilan/keseimbangan menjadi hidup dalam ancaman kematian setiap saat yang diikuti dengan perasaan takut dan

ketidakpastian.27 Dimensi spiritual sangat berpengaruh terhadap kesehatan fisik maupun

psikososial individu. Aspek spiritual dapat meningkatkan mekanisme koping untuk mengatasi stres akibat pembedahan dan sakit serta menimbulkan perasaan

yang lebih baik pada klien dengan penyakit

terminal.28 Adapun pilihan terhadap kanker servikskarena : kanker serviks merupakan

salah satu kanker yang paling sering menyerang perempuan di seluruh dunia.Data

World Health Organization tahun 2007 menunjukkan sebanyak 7,9 juta atau

sekitar 13% kematian di seluruh dunia disebabkan oleh kankerserviks. Angka

kematian ini meningkat jika dibandingkan dengan tahun 2005 yaitu sebanyak 7,6

juta orang meninggal akibat kankerserviks. Data American Cancer Society29

tahun 2008menunjukkan bahwa setengah dari sekitar 1.437.180 kasus kanker

baru yang didiagnosis telah menyebabkan

kematian. Kanker serviks diketahui sebagai penyebab kematian nomor satu pada

penderita di Indonesia.30Yayasan Kanker Indonesia pada tahun 2008 memperkirakan setiap hari terdapat 20-25 Penderita yang meninggal akibat

kanker serviks. Yayasan Kanker Indonesia memperkirakan bahwa 52 juta penderita Indonesia beresiko terkena kanker serviks. Jumlah penderita yang

mengalami kanker serviks adalah 36% dari penderita yang mengalami kanker

dengan 15.000 kasus baru dan 8.000 kematian setiap

tahunnya.31 Gender Health Environmental Linkages Program mennyatakan bahwa penyakit infeksi saluran reproduksi termasuk kanker serviks tidak hanya disebabkan oleh ketidaktahuan penderita tentang penyakit tersebut

tetapi karena

penderita tidak memiliki kekuatan sosial dan ekonomi serta posisi tawar yang

27Josephine Ratna, Dampak Penyakit Kanker terhadap Aspek Psikologis, Sosial dan

Spiritual Penderita(Sur abaya: 2003) tidak dipublikasikan. 28

Saudia, Kinney, Brown & Young-Ward; Reed dalam D.L. Vance, “Nurses’Attitude TowardsSpiri tuality and Patient Care.”Medic al SurgicalNursin g (2001). 29 Americ an Cancer Society , “Canc er fact and Figure, ”http:/ /www.c ancer.o rg (2008). ` 30

M.H. Swasono, “Kanker serviks penyebab kematian nomor satu di Indonesia,“

http://www.k esehatan.kom pas.com (2008). 31

S. Arjoso,“52 Juta Perempuan Indonesia Beresiko Terkena Kanker Serviks,”http://kesehatan.kompas.com (2010).

(8)

memadai untuk melindungi diri mereka sendiri termasuk dalam hal seks. Kondisi

tersebut menyebabkan penderita tidak dapat menolak hubungan seksual ataupun

menuntut seks yang aman meskipun tahu bahwa suaminya beresiko menularkan

penyakit seksual termasuk kanker serviks. Namun ketergantungan penderita

secara ekonomi menyebabkan penderita tidak berdaya dan memilih tetap berada

di dalam hubungan yang beresiko tinggi tersebut. Posisi penderita yang tidak

mampu mengambil keputusan dengan kondisinya sendiri merupakan faktor yang

menyebabkan keterlambatan dalam mencari akses pelayanan

kesehatan. Penderita kanker ginekologi termasuk kanker serviks akan mengalami

berbagai masalah baik yang diakibatkan oleh penyakit maupun pengobatan. Menderita penyakit kanker merupakan trauma yang dapat juga memberi dampak

negatif pada pasien dan keluarganya. Menurut Cancer Treatment Centres of

America, keluarga merupakan pendukung utama dalam proses pemulihan penderita yang mengalami kanker serviks. Pelibatan keluarga dalam intervensi

spiritual pada individu yang mengalami penyakit kronik atau terminal sangat

diperlukan.32 Hal ini disebabkan karena dukungan keluarga dan sosial merupakan

salah satu faktor penentu pencapaian kesejahteraan psikospiritual individu yang

mengalami kanker stadium lanjut.33Perasaan yang dialami penderita kanker serviks antara lain kekhawatiran akan masa depan, ketakutan menghadapi kematian, rasa nyeri dan disfungsi seksual. Pada umumnya pasien akan bereaksi

dengan menyangkal dan kecewa bersamaan dengan timbulnya gejala depresi,

kecemasan, sulit tidur, mudah tersinggung dan

sebagainya. Perkembangan kanker serviks pada tahap awal tidak menunjukkan gejala

sehingga penderita kanker akan mencari pertolongan ketika sudah memasuki

pada stadium lanjut. Perdarahan di antara menstruasi, setelah melakukan

32A.E. Molzahn&L. Shileds,“Why is It So Hard to Talk About Spirituality,” The

Canadian Nurse 104 (2008) : 25-28. 33

H.R. Lin&W>.S.M. Bauer,“Psychospiritual Well-being in Patients with AdvancesCancer : A Integrative Review of the Literature.“ Journal of Advanced Nursing44(1)

(9)

hubungan seksual atau setelah menopause adalah gejala awal yang tampak pada

kanker serviks.34

Perubahan pola hidup masyarakat Indonesia yang mengarah pada gaya

hidup tidak sehat seperti merokok,kurangnya aktifitas fisik,konsumsi alkohol dan

makanan dengan kandungan karsinogen yang tinggi akan menyebabkan peningkatan jumlah angka kanker di Indonesia. Penderita kanker baru di Indonesia sekitar 190-200 ribu pada setiap tahunnya.35 Kanker

menempati urutan

keenam penyebab kematian di Indonesia setelah kecelakaan lalu lintas, penyakit

infeksi, penyakit jantung, diare dan

stroke.36 Menurut Komisi Penanggulangan AIDS kesadaran perempuan Indonesia

terhadap kesehatan reproduksinya masih rendah. Masalah geografis Indonesia

yang sangat luas, sarana komunikasi dan transportasi yang masih sulit serta

rendahnya tingkat pendidikan dan pengetahuan perempuan Indonesia terhadap

pemeriksaan pap smear menjadi kendala dalam pelaksanaan skrining kanker serviks. Sebagian besar perempuan Indonesia tidak mau dilakukan skrining. Hal

tersebut disebabkan oleh ketidaktahuan, rasa malu, takut, dan biaya skrining

tinggi.37 Masalah pada organ reproduksi termasuk kanker serviks pada perempuan Indonesia berkaitan dengan perilaku individu maupun

masyarakat,

baik yang berdasarkan tradisi tertentu ataupun kurangnya pengetahuan, kesadaran, hubungan pola perilaku seksual dan jender di masyarakat yang menyebabkan jaminan psikososial dan perlindungan hak-hak perempuan dalam

masyarakat kurang diperhatikan.

Kurangnya pengetahuan tentang faktor resiko kanker serviks menyebabkan perempuan kurang memiliki tindakan antisipasi untuk mencegah

terjadinya kanker serviks. Faktor-faktor resiko yang dapat menyebabkan kanker

34 E. Meszaros,Risk Factors, Knowledge, and Beliefs about Cervical Cancer Sreening

and Screening Practices among Appalachian Women (Ohio: The Ohio State Univercity, 2006). 35

S. Suwitodiharjo,“Hanya 15 persen Penderita kanker di Indonesia Tertangani,”

http://www.a ntara.co.id (2010). 36

Siswono dalam U. Istianah,R. Sitorus& Afiyanti, “Pengalaman Pasien

denganColostomy dalam Konteks Asuhan Keperawatan Kanker Kolorektal di WilayahDKI Jakarta.“

Fakultas Ilmu Keperawatan( 2008). 37

K. Suwiyoga,“Beberapa Masalah Pap Smear sebagai Alat Diagnosis Dini Kanker Serviks di Indonesia,”http://ejournal.unud.ac.id

(10)

serviks adalah riwayat melakukan hubungan seksual dengan banyak pasangan,

pasangan yang memiliki riwayat berganti pasangan seksual, terpapar penyakit

infeksi menular, rendahnya perawatan organ reproduksi perempuan, melakukan

hubungan seksual saat menstruasi, trauma vagina, hubungan seksual pada usia

dini dan riwayat aborsi.38 Pemakaian kondom yang masih sangat rendah, perawatan diri saat menstruasi yang buruk, douching dengan menggunakan air

sabun atau daun sirih, perilaku tradisional berkaitan dengan tradisi, praktik seks

kering, perkosaan serta penganiayaan seksual dapat menyebabkan menjadi faktor

penyebab terjadinya penyakit yang ditularkan melalui hubungan seksual termasuk kanker serviks pada perempuan

Indonesia.39 Kanker serviks dapat mempengaruhi kehidupan penderitanya. Masalah

psikologis pada individu yang didiagnosis mengalami penyakit terminal,

ketidaknyamanan fisik, kehilangan fungsi tubuh, masalah yang berhubungan dengan pengobatan seperti tindakan pembedahan, transfusi, isolasi serta situasi

seperti penyakit dan menjelang kematian adalah faktor-faktor yang berkontribusi

terhadap disstres spiritual.40

Kanker mengakibatkan masalah kompleks bagi penderitanya baik fisik,

psikologis, sosial dan spiritual.41 Kanker juga merupakan penyakit yang sangat

ditakuti oleh masyarakat sehingga muncul istilah ”cancerphobia”42. Ketakutan

merupakan konsekuensi dari kanker yaitu kematian, dampak yang serius terhadap

kehidupan serta kehilangan kemampuan melakukan hubungan

seksual. Kanker seviks akan menimbulkan masalah tersendiri bagi perempuan yang mengalaminya karena kanker ini berhubungan dengan perubahan pada

38H.H. Do, V.M. Taylor,N. Burke, Y. Yasui, S.MSchwarts& J.C. Jackson, “Knowlegde

about Cervical Cancer Risk Factors, Traditional Health Beliefs, and Pap Testing among Vietnamese American Women,” Journal Immigrant Health 9(2007) : 109-114. 39

S.N. Qomariah, L. Amaliah&S.R. Darwisyah, “Infeksi Saluran Reproduksi (ISR) pada

Perempuan Indonesia: Sebuah Telaah Literatur,”Pusat Komunikasi Kesehatan Berpersfektif

Jender

(2001). 40 Carpenito dalam B. Kozier, Erb, G., Berman &S. Snyder, Fundamental of Nursing : Concept, Process ang Practise (Uper Saddle River: Pearson Education, 2004). 41

H.P. Greenwal&R. McCorkle,“Remedies Life Change Among Invasive Cervical Cancer Survivo,” Urologi Nursing27(1) (2007) :47-53. 42

B.E.P. Villafuerte,I.I.T. Gomez, A.M. Betahncourt&M.I. Cervantes, “Cervical Cancer :

a Qualitative Study on Subjectivity, Family, Gender and Health Care,”Reproductive Health 4(2)

(11)

organ reproduksi perempuan yang dianggap sebagai bagian yang sangat penting

bagi penderita. Fungsi organ reproduksi, fertilitas, kehidupan seksual yang

terganggu dan diagnosis serta penanganan kanker serviksakan menimbulkan

stress pada penderita yang mengalami kanker serviks dan keluarganya.43 Dampak

diagnosis dan penanganan kanker serviks juga ditunjukkan dengan adanya peningkatan masalah depresi, cemas, marah dan

bingung.44 Tekanan emosional adalah reaksi normal yang dialami penderita pada saat

ditegakkan diagnosa kanker. Diagnosa kanker serviks tersebut menimbulkan

stres yang disebabkan oleh persepsi penderita terhadap penyakitnya, manifestasi

stigma yang berhubungan dengan kanker dan yang kematian yang menyakitkan.

Selain itu penderita takut mengalami ketidakmampuan dan ketergantungan, perubahan penampilan dan fungsi tubuh serta kehilangan lingkungan yang dekat

dengan mereka. Kompleksnya masalah yang dialami oleh individu yang mengalami kanker menyebabkan munculnya kebutuhan spiritual.

B. Permasalahan

1. Identifikasi Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang masalah diatas maka dapat diidentifikasi masalah dalam penelitian ini adalah :

a. Bagaimana pemahaman dimensi spiritual pada penderita kanker serviks?

b. Bagaimana proses penerimaan pada penderita kanker serviks yang terkait hubungannya dengan diri sendiri, keluarga dan lingkungannya serta

hubungannya dengan Allah?

c. Bagaimana respon spiritual pada penderita kanker serviksdapat

meningkatkan kualitas hidupdan bagaimana penerapan pelayanan kesehatan spiritual dilakukan di unit-unit perawatan?

43Ekwall, Ternestedt & Sorbe(2003) dalam E.S. Costanzo, S.K. Lutgendorf, N.E.

Rotrock&B. Anderson,“Coping and Quality of Life among Women Extensively Treated for Gynecologic Cancer,” Psycho-Oncology15(2 ) (2006) : 132-142. 44

S. Bradley, S. Rose, S. Lutgendorf, E. Costanzo&B. Anderson, “Quality of Life and

Mental Health Incervical Canceran Endometrial Survivor,” Gynecologic Oncology100(3) (2006)

(12)

2. Batasan Masalah

Penelitian ini akan dibatasi pada “Respon spiritual penderita kanker serviks (studi kasus pengalaman spiritual penderita kanker serviks di

Yayasan

Kanker Indonesia Jakarta).

Ada beberapa pengertian dengan istilah yang berkaitan dengan judul diatas, yaitu :

a. Spiritual adalah suatu konsep dua dimensi yaitu dimensi vertikal dan

dimensi horizontal. Dimensi vertikal adalah hubungan dengan Tuhan Yang Maha

Tinggi yang menuntun kehidupan seseorang, sedangkan dimensi horizontal adalah hubungan seseorang dengan diri sendiri, orang lain, lingkungan dan hubungan tersebut bersifat kontinyu45. Spiritualitas merupakan suatu cara

manusia dalam memberi makna dan tujuan terhadap kehidupannya dengan meningkatkan hubungan dengan Tuhan, lingkungan dan orang-orang

disekitarnya b. Kanker Serviks.Kanker servik (leher rahim) adalah kanker yang terjadi

pada servik uterus, suatu daerah pada organ reproduksi wanita yang merupakan

pintu masuk ke arah rahim yang terletak antara rahim (uterus) dengan liang

senggama (vagina).Data World Health Organization tahun 2007 menunjukkan

sebanyak 7,9 juta atau sekitar 13% kematian di seluruh dunia disebabkan oleh

kanker serviks.Yayasan Kanker Indonesia pada tahun 2008 memperkirakan

setiap hari terdapat 20-25 Penderita yang meninggal akibat kanker serviks.

Yayasan Kanker Indonesia memperkirakan bahwa 52 juta penderita Indonesia

beresiko terkena kanker serviks. 3. Perumusan Masalah

Rumusan pertanyaan penelitian pada studi ini adalah ”Bagaimana pengaruh responspiritualpenderita kanker serviks dapat meningkatkan kualitas

hidup? (studi kasus pengalaman spiritual penderita kanker serviks di Yayasan

Kanker Indonesia Jakarta).

45T.A. Balboni, L.C. Vanderwerker, S.D. Block, M.E. Paulk, C.S. Lathan, J.R.

Peteet&H.G. Prigerson, “Religiousness and spiritual support among advanced cancer patient and

associations with end of life treatment preferences and quality of life,” Journal Clinical Oncology

(13)

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan bahwa pemahaman spiritual

dapat meningkatkan kualitas hidup penderita kanker serviks.

2. Manfaat Penelitian

Secara teoritis penelitian ini merupakan sebuah upaya untuk :

a. Membantu pasien menemukan pemahaman tentang spiritual dan makna hidup dengan kankerdalam upaya meningkat kualitas

hidupnya.

b. Memperkaya informasi ilmiah yang berkaitan dengan penerapan pelayanan perawatan paliatif khususnyakesehatan

spiritual.

c. Menjadi masukan bagi pengelola pelayanan kesehatan untuk meningkatkan perhatian terhadap aspek spiritual yang merupakan bagian dari

pelayanan

kesehatan yang komprehensif.

d. Menjadi masukan dalam proses pembelajaran kesehatan sehingga menemukan gambaran nyata bagaimana pengalaman spiritual dalam upaya

meningkatkan kualitas hidup.

Secara praktis penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat :

a. Memberikan acuan dalam merencanakan terapi kesehatan yang

komprehesiftentang pengalaman spiritual dalam upaya meningkatkan kualitas

hidup pada penderita kanker.

b. Menjadi dasar pengembangan riset agama dan kesehatan.

Pengembangan riset agama dan kesehatan terkait dengan pengalaman spiritual dalam upaya meningkatkan kualitas hidup pada penderita kanker perlu dilakukan

sebagai

dasarkajianspiritual yang selanjutnya diharapkan dapat mengatasi masalah

spiritual penderita kanker.

D. Penelitian Dahulu yang Relevan

Beberapa hasil penelitian dan tulisan yang mendukung penerapan aspek

spiritual dalam pelayanan kesehatan, diantaranya adalah :

(14)

1. Bussing, A., J. Fischer, T. Ostermann &P.F. Mathiessen. “Reliance on God’s help,depression and fatigue female cancers patient,” Journal

Psychiatric of

Medicine: 2008 menjelaskankan bahwa pasien kanker yang memiliki sandaran

sumber religius yang kuat akan memiliki prognosis yang lebih baik dari yang

diperkirakan.

2. Balboni, T. A., L.C. Vanderwerker, S.D. Block, M.E. Paulk, C.S. Lathan, J.R. Peteet & H.G. Prigerson. “Religiousness and spiritual support among

advanced

cancer patient and associations with end of life treatment preferences and

quality of life,” Journal Clinical Oncology (2007), menunjukkan bahwa 96%

dari orang dewasa di Amerika Serikat yang mengalami kanker mengungkapkan

kepercayaannya terhadap Tuhan dan 70% diantaranya mengungkapkan bahwa

agama adalah salah satu yang paling dibutuhkan.

3. Hamid, A.Y.S. Asuhan Kesehatan Keperawatan Jiwa,Jakarta: EGC, 2008, membahas penerapan aspek spiritual dalam asuhan keperawatan jiwa

dan

spiritual.

4. Ratna, J.Dampak penyakit kanker terhadap psikologis, sosial dan spiritual, Surabaya: 2003,menjelaskan pengaruh kanker terhadap kualitas hidup

dan

dampak penyakit kanker terhadap psikologis, sosial dan spiritual serta peran

keluarga dan petugas kesehatan terhadap penderita kanker.

5. Narayanasamy, A.“Palliative care and spirituality,”Indian Journal of Palliative Care(2007), spiritualitas dapat menjadi mekanisme koping dan faktor

yang

berkontribusi penting terhadap proses pemulihan klien.

6. Schmidt, N.Aand Kristen L. Mauk,Spiritual care in nursing practice, Lippincott: Williams & Wilkins, 2004, membahasperawatan spiritual, perkembangan spiritual dalam kehidupan dan perkembangan

keperawatan

spiritual, aspek spiritual dan agama, spiritual dan kesehatan fisik, spiritual dan

kesehatan mental, serta spiritual dan kesehatan dalam hubungan sosial.

7. Dadang Hawari dalam “Dimensi religi dalam praktek psikiatri dan psikologi”menguraikan hubungan antara ilmu kedokteran, kesehatan khususnya kedokteran jiwa (psikiatri) dan kesehatan jiwa (psikologi) dengan

agama. Memaparkan berbagai kajian dan penelitian sejauh mana peran agama

(15)

dalam bidang kedokteran, titik temu antara psikiatri dan agama dan dimensi

religi dalam praktek psikiatri dan psikologi.

Penelitian dan tulisan yang mengajukan argumen berbeda dari tema penelitian ini adalah:

1. Vance, D.L.“Nurses’ attitude towards spirituality and patient care.” Medical Surgical Nursing (2001).Penelitian deskriprif terhadap 173 perawat

Midwestern Community Nursing, usia 20-69 tahun, crossectional, menemukan

bahwa hanya 34,6% yang mendukung perawatan spiritual.

2. Hallstead, M.T& M. Hull, “Struggling with paradoxes: The process of spiritual development in women with cancer.” Oncology Nursing Forum (2001). Penelitian grounded theory, purposive sample, dan wawancara semi

terstruktur terhadap 10 penderita umur 45-70 tahun yang telah terdiagnosis

selama 5 tahun dengan non-Hodgkin’s lymphoma, kanker payudara dan kanker ovarium. Dalam hasil penelitian Halstead dan Hull mengidentifikasi tiga fase (1) adanya ungkapan makna kanker bagi dirinya, (2)

menyadari

adanya keterbatasan serta (3) belajar hidup dalam ketidakpastian. Penelitian

tersebut memberikan gambaran bahwa penderita kanker dapat melawan keadaan sakitnya dengan mencoba meningkatkan penerimaan dan

keyakinan

bahwa hidup dengan kanker adalah bagian hidup yang harus dijalaninya tetapi

disisi lain mereka merasakan hidupnya menjadi tidak pasti dan kesembuhannya bukan dari Tuhan.

E. Metodologi Penelitian

1. Jenis Penelitian dan Sumber Data

Penelitian mengenai pengalaman spiritual dalam upaya meningkatkan kualitas hidup pada penderita kanker serviks dilakukan dengan

menggunakan

rancangan penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif merupakan pendekatan yang

(16)

sistematis, subyektif yang digunakan untuk menguraikan pengalaman hidup dan

memberinya makna.46

Penggunaan metode kualitatif bertujuan untuk mendapatkan data yang

lebih komprehensif, mendalam, kredibel dan bermakna. Pendekatan metode kualitatif adalah metode riset yang sesuai dengan ilmu kesehatan,

terutama yang

mengutamakan respon manusia sebagai landasan pemberian pelayanan kesehatan. Ploegmengungkapkan bahwa penelitian kualitatif dapat menjawab

masalah-masalah yang sebagian besar berkaitan dengan respon manusia terhadap

masalah kesehatan aktual maupun resiko47. Creswell, J.W menjelaskan bahwa

penelitian riset kualitatif mempelajari setiap masalah individu dengan menempatkannya pada situasi alamiah.48

Pada penelitian ini partisipan yang menjadi subyek penelitian adalah penderita kanker serviks yang dirawat di Yayasan Kanker Indonesia

Jakarta.

Pemilihan partisipan dengan menggunakan purposive sampling yaitu

pengambilan sampel dengan pertimbangan tertentu.49 Pertimbangan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah pertimbangan fenomena yang akan diteliti

yaitu pengalaman spiritual penderita kanker serviks. Partisipan dalam penelitian

kualitatif sebanyak 3 sampai 10 orang namun jika penelitian saturasi sudah

tercapai partisipan tidak perlu

ditambah.50 Kriteria partisipan yang ditetapkan adalah penderita yang dirawat di

Yayasan Kanker Indonesia denngan diagnosis kanker serviks,menikah, mampu

berkomunikasi dengan Bahasa Indonesia yang baik, bersedia menjadi partisipan

dengan menandatangani informed concent.

Pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan tehnik wawancara

mendalam (in-depth interview) dengan pertanyaan terbuka. Penggunaan tehnik

46 Leininger; Munhal; Silva & Rothbart dalam N. Burn &S.C. Grove, The Practice of

Nursing Research onduct, Critique, & Utilization (Philadelphia: W.B. Saunders Company 2001). 47

J. Ploeg, “Identifying the Best Research Design to Fit the Question Part 2: Qualitative Nursin,” Evidence-Based Nursing (1999): 36-37. 48

J.W. Creswell, Quality Inquiry and Research Design Choosing Among (Thousand Oaks: Sage Pub, Inc.1998). 49 L.J. Moleon g, Metodol ogi Peneliti an Kualitat if (Bandun g: PT. Rosdak arya, 2007). 50

Riemen dalam J.W. Creswell,Quality Inquiry and Research Design Choosing Among

(17)

ini dilakukan agar partisipan mendapatkan kesempatan untuk menjelaskan pengalaman mereka secara terbuka tentang fenomena yang sedang

diteliti.51

Peneliti melakukan uji coba wawancara kepada salah satu klien yang dirawat di

Yayasan Kanker Indonesia yang memenuhi kriteria

partisipan. Tehnik wawancara tersebut menggunakan prinsip cerobong yaitu satu

tehnik wawancara yang dimulai dengan mengungkapkan hal-hal yang bersifat

umum kemudian diarahkan ke bagian yang lebih khusus.52Wawancara yang dilakukan memiliki dua tujuan, pertama untuk pengambilan data dan kedua untuk memvalidasi data.

Peneliti merupakan instrumen dalam penelitian kualitatif. Peneliti kualitatif berfungsi menetapkan fokus penelitian, memilih partisipan sebagai

sumber data, melakukan pengumpulan data, menilai kualitas data, menganalisis

data, menafsirkan data dan membuat kesimpulan atas temuannya53. Peneliti

menggunakan pertanyaan semi terstruktur, buku catatan serta alat perekam

sebagai alat bantu dalam pengumpulan data. Alat pengumpul data merupakan

sarana penting yang membantu peneliti untuk menghimpun data penelitian.54 Sebelum pengumpulan data penelitian, instrumen wawancara

sebelumnya

dilakukan uji coba pada satu orang partisipan yang memiliki kriteria yang sesuai

dengan kriteria partisipan yang telah ditetapkan. Uji coba ini bertujuan untuk

menguji kemampuan peneliti dalam melakukan proses wawancara, memberikan

pertanyaan yang mengarah pada tujuan, mengetahui pemahaman partisipan

terhadap pertanyaan dan kemampuan untuk membuat catatan lapangan dan

menguji fungsi dan kualitas alat perekam yang akan digunakan dalam penelitian.

Penelitian dilakukan pada klien dengan karakteristik yang sama dengan kriteria

partisipan.

2. PendekatanPenelitian

51H.J.S. Speziale&D.R. Carpenter,Qualitative Research in Nursing: Advancing the

Humanistic Imperative (Philadephia: Lippincott Williams & Wilkins, 2003). 52 L.J. Moleon g, Metodol ogi peneliti an kualitat if (Bandun g: PT. Rosdak arya, 2007). 53

Sugiyono, Penelitian Kuantitaif, Kualitatif dan R & D. (Bandung: CV Alfabeta, 2007). 54

Lofland & Lofland dalam L.J. Moleong,Metodologi Penelitian Kualitatif (Bandung: PT. Rosdakarya, 2007).

(18)

Penelitian ini menggunakan pendekatan fenomenologi. Pendekatan penelitian ini dipilih agar pengalaman spiritual yang digali lebih terungkap sehingga gambaran pengalaman spiritual pada penderita kanker serviks dapat

tergambarkan secara nyata.

Metode fenomenologi deskriptif bertujuan untuk menggali persepsi atau

pengertian yang mendalam dari sebuah peristiwa atau pengalaman hidup seseorang55. Fenomenologi deskriptif berfokus pada penemuan fakta mengenai

suatu fenomena sosial yang ditekankan pada usaha untuk memahami perilaku

manusia berdasarkan perspektif informan. Pada penelitian ini perilaku yang

diteliti adalah perilaku penderita kanker serviks dalam menjalani pengalaman

spiritualnya dalam upaya meningkatkan kualitas hidup.

Penelitian ini menggunakan metode pendekatan fenomenologi deskriptif

agar dapat memahami, menjelaskan dan memberi makna secara alamiah terhadap

pengalaman spiritual dalam upaya meningkatkan kualitas hidup pada penderita.

3. Analisis Data

Analisis data merupakan proses mencari dan menyusun secara sistematis

data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan dan bahan-bahan

lainnya sehingga dan temuannya dapat diinformasikan kepada orang lain.56Proses

analisis data pada penelitian kualitatif adalah suatu proses untuk menyatukan

data, membuat suatu yang tidak jelas menjadi jelas, proses menghubungkan

akibat dengan antecendent, merupakan suatu proses perkiraan dan verifikasi,

proses koreksi dan modifikasi, proses menyarankan dan

mempertahankan57. Tehnik analisis data yang akan dilakukan pada penelitian ini berdasarkan

Colaizzi’s phenomenologi methods58. Langkah-langkah tersebut adalah :

55H.J.S. Speziale&D.R. Carpenter,Qualitative Research in Nursing: Advancing the

Humanistic Imperative ( Philadephia: Lippincott Williams & Wilkins, 2003). 56

Bogdan dalam Sugiyono, Penelitian Kuantitaif, Kualitatif dan R & D (Bandung: CV

Alfabeta,

2007). 57 Morse dan Field dalam D.F. Polit&C.T. Beck, Essential of Nursing Research Method a Appraisal and Utilization (Philadelphia: Lippincott Williams &Wilkins, 2006). 58

H.J.s. Speziale &D.R. Carpenter,Qualitative Research in Nursing: Advancing the h\Humanisticimperative (Philadephia: Lippincott Williams & Wilkins,

(19)

a. Membuat transkrip data dilakukan setelah melakukan wawancara agar segera diketahui data apa yang belum tergali pada wawancara

tersebut.

b. Membaca transkrip secara keseluruhan dan berulang-ulang sampai penulis memahami isi transkrip tersebut. Pembacaan transkrip yang

berulang-ulang

bertujuan untuk mandapatkan pemahaman yang lebih dalam dari fenomena

yang disampaikan oleh partisipan sehingga memudahkan peneliti untuk membuat formulasi makna dari pernyataan-pernyataan yang

disampaikan

partisipan. Satu transkrip data dibaca 3-4 kali sampai peneliti memahami

fenomena yang terkait dengan penelitian ini.

c. Membuat formulasi makna dari pernyataan-pernyataan yang

disampaikan partisipan. Hal ini dilakukan untuk mencari kata kunci yang bermakna dan

mengarah pada tujuan penelitian yang ditetapkan. Kata kunci ditandai dengan

memberikan highlight pada kata-kata yang bermakna.

d. Mengelompokan pernyataan-pernyataan yang bermakna tersebut kedalam tema-tema yang potensial melalui proses analisis

data.

e. Tema-tema yang didapatkan dari hasil analisis tersebut kemudian dideskripsikan ke dalam narasi sehingga dapat memberikan gambaran fenomena yang didapatkan dari hasil penelitian.

f. Memverifikasi tema-tema yang diperoleh kepada partisipan dan tidak menutup kemungkinan peneliti mendapatkan data tambahan dari

partisipan.

g. Menggabungkan data tambahan

F. Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan bertujuan untuk mendapatkan gambaran yang utuh

dan menyeluruh, jelas, terarah, logis dan saling berhubungan. Adapun sistematika

penulisan penelitian ini diklasifikasikan menjadi lima bab, yaitu

: Bab pertama, merupakan pendahuluan yang mencakup latar belakang masalah, identifikasi masalah, pembatasan dan perumusan masalah, tujuan dan

manfaat penelitian, penelitian terdahulu yang relevan, metodologi dan terakhir

(20)

Bab kedua,membahas keterkaitan antaraspiritualitas, kesehatan dan sakit

pada penderita kanker serviks.

Bab ketiga, menguraikanrespon adaptif dan malaadaptif pada penderita

kanker serviks terhadap kebutuhan spiritual, dukungan dan tanggung jawab

pelaksanaan pelayanan kesehatan spiritual.

Bab keempat,merupakan interpretasi hasil penelitian yang dikaitkan dengan responspiritual penderita kanker serviks dalam

meningkatkankualitas hidup.

Bab kelima, merupakan bab penutup yang meliputi kesimpulan dan saran.

Kesimpulan merupakan respon konkret atas rumusan masalah dalam penelitian,

sehingga semua masalah yang muncul dalam penelitian ini dapat bermanfaat

Referensi

Dokumen terkait

EFEKTIVITAS TENDANGAN DENGAN MENGGUNAKAN PROTECTO R SCORING SYSTEM (PSS) PADA KEJUARAAN NASIONAL TAEKWONDO KATEGORI KYORUGI. Awan

manusia dengan manusia, konflik manusia dengan masyarakat, dan konflik manusia dengan alam) yang terjadi pada setiap tokoh yang terdapat pada novel Suti karya Sapardi

Penggunaan isolat Lactobacillus plantarum dengan lama fermentasi 4 jam menunjukkan viabilitas BAL tertinggi selama penyimpanan beku 6 minggu yaitu sebesar 2.06 x 108

Brand Image terbukti berpengaruh signifikan terhadap Minat Beli, artinya bahwa suatu barang dengan merek yang baik atau bagus maka konsumen cenderung untuk mengulang

Menyebabkan Keterlambatan atas Pelaporan Peiaksanaan APBD Pada Biro Administrasi Dan Pembangunan Sekretariat Daerah Provinsi Sumatera Selatan/Akuntansi Sektor Publik... The problem

Dalam tulisan ini disajikan pokok-pokok bahasan yang meliputi pelaksanaan pembinaan pada anak berhadapan hukum di Lembaga Pemasyarakatan Klas II B Klaten oleh

Dari hasil kajian dapat disimpulkasn sebagai berikut : (1) Di lihat dari gambaran pembangunan di Kabupaten Pandeglang, dilihat dari tingkat kemiskinan, tingkat pendidikan

Sedangkan keuntungan yang diterima petani penangkar merupakan selisih antara penerimaan total dari usaha penangkaran benih padi unggul dengan biaya total (biaya