• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENELITIAN DISERTASI DOKTOR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENELITIAN DISERTASI DOKTOR"

Copied!
60
0
0

Teks penuh

(1)

PENELITIAN DISERTASI DOKTOR

MODEL DINAMIK PENGELOLAAN PERIKANAN KERAPU LUMPUR (EPINEPHELUS COIOIDES) DI TELUK KWANDANG KABUPATEN

GORONTALO UTARA

DEWI SHINTA ACHMAD, S.PI, M.SI 0901128102

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH GORONTALO SEPTEMBER 2018

Nama Rumpun Ilmu : Ilmu Perikanan Bidang Fokus : Kemaritiman

(2)
(3)

iii RINGKASAN

Ikan kerapu merupakan salah satu jenis ikan karang bernilai ekonomis penting yang dieksploirasi secara terus-menerus oleh nelayan di Teluk Kwandang. Untuk itu, perlu dilakukan pengelolaan sehingga keberlanjutan populasi ikan kerapu di perairan ini terjaga. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis (1) kondisi biologi reproduksi ikan kerapu lumpur, (2) kondisi stok ikan kerapu lumpur, dan (3) strategi pengelolaan ikan kerapu lumpur di Teluk Kwandang berdasarkan model dinamik agar terjadi optimasi produksi. Sampel ikan kerapu diperoleh dari tempat pelelangan ikan Kwandang dan pedagang pengumpul. Data biologi reproduksi disajikan dalam bentuk deskriptif, analisis data dinamika populasi menggunakan software FISAT II dan model dinamik dianalisis menggunkan software Stella 5.0. Sebagian besar ikan kerapu lumpur yang tertangkap di Teluk Kwandang merupakan ikan matang gonad dan sedang mijah hanya sebagian kecil ikan muda. Puncak pemijahan terjadi selama tiga bulan yaitu Mei, Juni, dan Juli. Perubahan kelamin dari betina menjadi jantan terjadi pada ukuran 79 cm dengan berat 6500 g. Fekunditas berkisar antara 30.526 – 1.395.846 butir. Panjang total ikan jantan dan betina masing-masing 800-1000 mm (903,09±71,50 mm) dan 170-785 mm (455,67±151,60 mm). Mortalitas total 0,99/tahun, mortalitas alami 0,46/tahun, dan mortalitas penangkapan 0,54/tahun. Potensi lestari sebesar 27,75 ton dengan upaya optimal sebesar 68 unit kapal. Rekomendasikan berdasarkan model ini dapatkan skenario terbaik perikanan yang berkelanjutan dengan pendapatan tertinggi adalah skenario dengan melakukan pembatasan penangkapan selama saru bulan pada puncak pemijahan secara simultan melakukan restocking sebsar 30.000 3kor dengan berat rata rata 50-75 gram per ekor. Menerapkan manajemen konservasi secara efektif meskipun jumah alat meningkat 10 -15 persen.

Kata Kunci: Model Dinamik, Ikan kerapu, biologi reproduksi, dinamika populasi, Teluk Kwandang.

(4)

iv PRAKATA

Pertama-tama peneliti mengucapkan puji syukur kehadirat Allah SWT atas Rahmat, Taufik, dan Hidayah yang diberikan sehingga penelitian dan Laporan Akhir Hibah Penelitian Disertasi Doktor dapat diselesaikan. Tema penelitian yang telah dilakukan adalah kemaritiman yang difokuskan pada kajian pengelolaan perikanan karang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui model dinamik ikan kerapu lumpur dan merumuskan strategi pengelolaannya.

Ucapan terima kasih dan penghargaan Kepada Direktur Penguatan Riset dan Pengembangan DIKTI atas bantuan dana dalam penelitian penyelesaian doktor. Terima kasih juga peneliti ucapkan kepada Rektor Universitas Muhammadiyah Gorontalo, Ketua LPPM Universitas Muhammadiyah Gorontalo, Pak Firyal Kabid Penelitian UMGO dan Ibu Narti sekretaris LPPM UMGO, terima kasih kepada Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Gorontalo Utara, Kepala stasiun karantina ikan, pengendalian mutu dan keamanan hasil perikanan (SKIPM) kelas I Gorontalo, Kepala Laboratorium SKIPM Kelas I Kota Gorontalo, dan juga pihak-pihak yang telah membantu terlaksananya penelitian ini.

Dengan segala kerendahan hati kami menyadari kekurangan dan keterbatasan dalam laporan ini sehingga kritik dan saran diharapkan untuk perbaikan. Akhirnya laporan ini dapat bermanfaat bagi kita semua untuk menambah khasanah ilmu pengetahuan yang dapat diaplikasikan untuk menjaga kelestarian sumberdaya ikan kerapu lumpur demi kesejahteraan manusia sekarang dan akan datang.

(5)

v DAFTAR ISI Hal HALAMAN PENGESAHAN ii RINGKASAN iii PRAKATA iv DAFTAR ISI v DAFTAR TABEL vi

DAFTAR GAMBAR vii

BAB 1. PENDAHULUAN 1

1.1 Latar belakang 1

1.2 Rumusan masalah 2

1.3 Rencana target capaian tahunan 3

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA 4

2.1 Biologi reproduksi 4

2.2 Dinamika populasi 5

2.3 Pengelolaan ikan kerapu 6

2.4 Road map penelitian 7

2.5 Kebaruan 7

BAB 3. TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN 8

3.1 Tujuan Penelitian 8

3.2 Manfaat Penelitian 8

BAB 4. METODE PENELITIAN 9

4.1 Lokasi dan waktu 9

4.2 Pegamatan parameter dan analisis data 9

4.2.Biologi reproduksi 10

4.2.Dinamika populasi 11

4.2 Konsep dan desain model 12

(6)

vi BAB 5. HASIL DAN LUARAN YANG DICAPAI 13

5.1 Biologi Reproduksi 13

5.1.1Tingkat kematangan gonad 13

5.1.2 Indeks kematangan gonad 17

5.1.3 Fekunditas 18

6.1 Dinamika populasi 20

6.2.1 Ukuran 20

6.2.2 Mortalitas 21

6.2.3 Potensi lestari dan CPUE 21

7.1 Model Dinamik 25

7.1.1 Desain dan Struktur model 25

7.1.2 Hasil Simulasi Model Dinamik 28

7.1.3 Pengaruh Penangkapan 33

7.1.4 Perubahan berdasarkan Hasil tangkapan 36

8.1. Luaran yang dicapai 40

BAB 6. RENCANA TAHAPAN BERIKUTNYA 40

BAB 7. KESIMPULAN DAN SARAN 41

7.1 Kesimpulan 41

7.2 Saran 41

DAFTAR PUSTAKA 42

(7)

vii DAFTAR TABEL

nomor halaman

1 Rencana Target Capaian Penelitian ...……… 3 2 Hubungan antara Indeks Gonad dengan Tingkat

Kematangan Gonad...…………

10

3 Rataan fekunditas ikan kerapu lumpur berdasarkan kelas ukuran ...………..

20

4 Fekunditas ikan kerapu genus Epinephelus pada beberapa perairan di dunia...

30

(8)

viii DAFTAR GAMBAR

Nomor halaman

1 Road map penelitian ikan kerapu di Teluk Kwandang ... 7

2 Lokasi Penelitian di Teluk Kwandang ... 9

3 Bagan alir penelitian ...……….. 12

4 Distribusi TKG ikan kerapu tiap bulan ... 13

5 Frekuensi ikan kerapu muda, matang dan mijah ………... 14

6 Struktur mikroskopik gonad ikan kerapu lumpur... 15

7 Perkembangan IKG ikan kerapu lumpur... 17

8 Jumlah produksi dan upaya ikan kerapu di Teluk Kwandang... 22 9 Jumlah produksi dan upaya ikan kerapu di Teluk Kwandang 22 10 Fluktuasi tingkat pemanfaatan... 23

11 Kurva hasil maksimum lestari model Schaefer... 24

12 Digram Sub Model Perikanan Tangkap 26 13 Diagram Sub Model Ekonomi 27 14 Diagram Lengkap Model Pengelolaan Perikanan Kerapu di Teluk Kwandang. 28 15 Perubahan Biomassa, Populasi Ikan Kerapu, Pertumbuhan, Recruitment, Penangkapan, Mati alami, selama 10 Tahun. 30 16 Perubahan Biomassa, Recruitment, Rec Alami, Biomassa populasi betina selama 10 tahun 33 17 Perubahan Biomassa, Penangkapan, Jumlah Alat, Jumlah Trip, dan laju Penangkapan selama 10 tahun 35 18 Perubahan Biomassa, Penangkapan, Pendapatan, Penerimaan, dan Pengeluaran selama 10 Tahun 38

(9)

1 BAB 1. PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang

Ikan kerapu merupakan salah satu jenis ikan karang yang bernilai ekonomis penting yang terdapat di perairan Indonesia (AndamaridanSuwirya, 2010; MujiyantodanSugianti, 2014). Ikankerapudieksporkekawasan Asia Tenggara sejak dekade 80an dan Indonesia dikenal sebagai pemasok terbesar ketiga ikan kerapu dengan tujuan ekspor yaitu Singapura, Hongkong, Jepang, Taiwan, Malaysia, AmerikaSerikat, Tiongkok, dan beberapa negara di Eropa (Nuraini dan Hartati, 2006; Sudirman dan Karim, 2008).

Perkembangan permintaan pasar untuk komoditas ikan kerapu hidup terjadi karena adanya perubahan selera konsumen dari ikan beku kepada ikan segar dalam keadaan hidup (Mujiyanto dan Sugianti, 2014). Sebagian nelayan menggunakan racun atau potassium untuk membius ikan kerapu sehingga dapat ditangkap dalam keadaan hidup, cara menangkap yang destruktif menyebabkan terjadinya tekanan eksploitasiyang tinggi (WWF, 2011).MenurutMusick et al., (2000) ikan yang mengalami tekanan eksploitasi yang tinggi sangat beresiko terhadap ancaman kepunahan.

Sampai saat ini pemasok utama kebutuhan pasar kerapu dalam dan luar negeri masih mengandalkan dari hasil tangkapan laut (Langkosono,2005). Untuk mencukupi kebutuhan pasar maka dilakukan eksploitasi kerapu secara besar-besaran di alam (Ismi, 2013), sehingga kelestarian ikan kerapu di alam terancam (Nuraini, 2007). Penangkapan ikan kerapu di Gorontalo dilakukan di Teluk Kwandang didominasi oleh jenis

Epinepheluscoioides. Berdasarkan data statistik hasil perikanan Kabupaten Gorontalo Utara

menunjukkan produksi ikan kerapu mengalami fluktuasi, pada tahun 2008 produksi ikan kerapu sebesar 252 ton menurun sampai tahun 2012 mencapai 222,57 ton lalu menurun lagi pada tahun 2013 menjadi 129,7 ton kemudian meningkat pada tahun 2015 menjadi 176,3 ton. Sedangkan jumlah upaya pada tahun 2008 sebesar 1947 unit meningkat pada tahun 2012 menjadi 2515 unit dan menurun sedikit pada tahun 2015 menjadi 2315 unit(DKP Gorontalo, 2016).

Tingginya intensitas penangkapan ikan kerapu di Provinsi Gorontalo tanpa dibarengi oleh pengelolaan yang tepat dapat menyebabkan kepunahan pada sumberdaya tersebut sehingga dibutuhkan konsep pengelolaan berkelanjutan. Konsep dasar

(10)

2 pengelolaaan sumberdaya ikan kerapu berkelanjutan di Teluk Kwandang adalah optimalisasi pemanfaatan sumberdaya ikan kerapu dengan memaksimalkan penangkapan tanpa mengganggu kelestarian populasi. Konsep ini mengacu pada pendekatan biologi reproduksi dan dinamika populasi.

1.2RumusanMasalah

Perikanan kerapu merupakan salah satu komoditas perikanan yang mempunyai prospek cerah di Provinsi Gorontalo dalam upaya peningkatan ekspor non migas. Produksi kerapu Indonesia meningkat lima kali lipat dalam dua dekade akibat tingginya permintaan terhadap kerapu (Yuliantoet al., 2015). Permintaan dan harga ikan kerapu yang tinggi mendorong para nelayan untuk melakukan penangkapan yang intensif dan tidak terkontrol yang akibatnya dapat menyebabkan terjadinya overfishing (Sudirman dan Karim, 2008). Ikan kerapu lumpur di Teluk Kwandang, cepat atau lambat tidak tertutup kemungkinan akan masuk dalam resiko ancaman kepunahan jika tidak ada tindakan pengelolaan dengan baik. Di beberapa tempat tertentu ikan kerapu telah mengalami overfishing seperti di Kepulauan Spermonde (Ernaningsihet al., 2014) dan di Laut Arab (Mehannaet al., 2013).

Kebijakan pengelolaan sumberdaya ikan kerapu berkelanjutan harus berdasarkan informasi penelitian ilmiah yang akurat seperti biologi reproduksi, dinamika populasi dan model dinamik. Data dan informasi tersebut menjadi dasar pertimbangan dalam perumusan strategi pengelolaan perikanan kerapu lumpurberkelanjutan di Teluk Kwandang.

Dari uraian di atas, maka dapat ditarik suatu perumusan masalah sebagai pertanyaan penelitian yaitu :

1. Bagaimana kondisi biologi reproduksi ikan kerapu lumpur seperti TKG, IKG, dan fekunditas di Teluk Kwandang ?

2. Bagaimana kondisi dinamika populasi ikan kerapu lumpur seperti ukuran, mortalitas, MSY, dan CPUE di Teluk Kwandang ?

3. Bagaimana strategi pengelolaan ikan kerapu macan di Teluk Kwandang berdasarkan model dinamik agar terjadi optimasi produksi ?

(11)

3 1.3 Rencana Target Capaian Tahunan

Tabel 1. Rencana Target Capaian Penelitian

No Jenis Luaran Indikator Capaian

Kategori Sub Kategori Wajib Tambahan TS1) TS+1 TS+2

1 Artikel ilmiah dimuat di

jurnal Internasional bereputasi Accepted/ published Nasional Terakreditasi

2 Artikel ilmiah dimuat di

prosiding

Internasional Terindeks

Nasional Sudah

dilaksanakan

3 Invited speaker dalam temu

ilmiah

Internasional Nasional

4 Visiting Lecturer Internasional

5 Hak Kekayaan Intelektual

(HKI) Paten Paten sederhana Hak Cipta Merek dagang Rahasia dagang Desain Produk Industri Indikasi Geografis Perlindungan Varietas Tanaman Perlindungan Topografi Sirkuit Terpadu

6 Teknologi Tepat Guna

7 Model/Purwarupa/Desain/K

arya seni/ Rekayasa Sosial

8 Buku Ajar (ISBN)

9 Tingkat Kesiapan Teknologi Skala 3

(12)

4 BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1Biologi Reproduksi

Salah satu aspek yang perlu diketahui dalam pengelolaan sumberdaya perikanan tangkap adalah aspek biologi reproduksinya (Mariskha dan Abdulgani, 2012). Kajian aspek biologi ikan kerapu meliputi tingkat kematangan gonad (TKG), indeks kematangan gonad (IKG), dan fekunditas (Andrade et al., 2003; Alamsyah et al., 2013; Ozen dan Balci, 2012). Tingkat kematangan gonad (TKG)merupakan aspek penting dalam biologi reproduksi (Alamsyah et al., 2013; Mariskha dan Abdulgani, 2012). TKG dapat diketahui melalui pengamatan morfologi dan histologi gonad. Secara histologi, perkembangan anatomi gonad dan telur dapat diketahui lebih jelas (Mujimin, 2008; Ozen dan Balci, 2012; Widodo, 2006), sedangkan secara morfologi kematangan diketahui melalui perubahan bentuk, ukuran, berat, dan warna gonad (Sitepu, 2014; Alamsyah et al., 2013; Mariskha dan Abdulgani, 2012).

Alamsyah et al., (2012) melaporkan ikan jantan kerapu sunu di perairan di Perairan Karang Kapota Kabupaten Wakatobi ditemukan memiliki TKG I sampai TKG IV dan ikan betina memiliki TKG I sampai TKG V. Ikan jantan didominasi oleh TKG IV dan betina di dominasi oleh TKG III. Sementara penelitian yang dilakukan oleh Mariskha dan Abdulgani (2012), memperoleh TKG pada ikan kerapu macan di perairan Glondonggede Tuban, pada bulan Oktober TKG untuk ikan jantan didominasi oleh ikan fase muda TKG I dan II sedangkan pada ikan betina didominasi oleh ikan fase matang dan mijah.

Indeks kematangan gonad (IKG) merupakan informasi yang dibutuhkan untuk mengetahui waktu pemijahan ikan kerapu (Andrade et al., 2003; Andamari dan Suwirya, 2010).Seyboth et al., (2011), melaporkan nilai IKG ikan kerapu jenis Epinephelus

marginata di Perairan Brazil Barat lebih rendah dari 0,2 selama penelitian. Sebaliknya,

studi serupa di pantai Kwazulu Natal (Afrika tenggara) menunjukkan Nilai IKG berubah dari sekitar 0,2-3,0, dengan nilai yang lebih tinggi (> 1,5) pada musim panas (Fenessy, 2006). Al-Marzouqi et al., (2015), melaporkan ikan kerapu jenis Epinephelus diacanthusdi Laut Arab melakukan pemijahan pada bulan Mei-Juni sementara ikan kerapu jenis

(13)

5

Epinephelus guazayang tertangkap di perairan Mediterania melakukan pemijahan pada

bulan Juni dan September (Ozen dan Balci, 2012).

Fekunditas adalah salah satu faktor yang berpengaruh terhadap tingkat produktivitas dan resilensi ikan kerapu. Fekunditas yang diperoleh dapatdibandingkan dengan ukuran dari setiap individu ikan sehingga akan didapatkan informasi tentang jumlah anak yang dihasilkan pada ukuran yang berbeda-beda (Alamsyah et al., 2013). Jumlah fekunditas pada spesies yang sama dapat dipengaruhi oleh ukuran tubuh, umur, lingkungan, dan ukuran diameter telur. Semakin kecil ukuran diameter telur, kemungkinan jumlah fekunditasnya lebih besar. Jumlah telur yang dihasilkan oleh ikan selama musim pemijahan bergantung pada jumlah fekunditas dan frekuensi pemijahannya.

Nilai fekunditas ikan kerapu sunu yang ditemukan di Perairan Wakatobi berkisar antara 13.959 - 807.749 butir (Alamsyah et al., 2013). Sedangkan Andamari dan Suwirya (2010), melaporkan fekunditas ikan kerapu jenis Plectropomus leopardus yang ditangkap di 14 daerah di Indonesia memiliki fekunditas berkisar antara 45.768-492.243 butir.

2.2Dinamika Populasi

Pengelolaan perikanan yang rasional harus melibatkan suatu pemikiran tentang sejauh mana ikan-ikan yang akan dieksploitasi, apakah termasuk suatu kelompok diskrit, seragam dan mampu mempertahankan diri, evaluasi terhadap parameter-parameter dinamika populasi diperlukan untuk mengetahui pengaruh eksploitasi terhadap suatu spesies ikan (Mehanna et al., 2013; Ernaningsih et al., 2014; Sudirman dan Karim, 2008).Penelitian dinamika populasi ikan kerapu di Indonesia masih sangat terbatas.Penelitiandinamika populasi ikan kerapu di Indonesia, diantaranya telah dilakukan di Perairan Kepulauan Spermonde (Ernaningsih et al., 2014) dan di perairan Teluk Lasongko (Prasetya, 2010). Hasil dari beberapa penelitian tersebut menunjukkan bahwa parameterpopulasi ikan kerapu juga bervariasi antar lokasi perairan.

Secara umum, ikan akan mengalami kematian (mortalitas) yang dapat disebabkan oleh kematian alami dan penangkapan. Eksploitasi optimal dari suatu stok ikan terjadi jika mortalitas penangkapan sebanding dengan mortalitas alaminya, sehingga laju eksploitasi optimal (E) = 0,5. Cheung et al., (2013) melaporkan mortalitas total (Z), alami (M), dan penangkapan (F) ikan kerapu jenis Epinephelus striatus pada periode penangkapan

(14)

6 1998/1999, 1999/2000, dan 2000/2001 masing-masing Z = 0,45, 0,42, dan 0,36, M = 0,18, 0,18, dan 0,18 F = 0,27, 0,24, dan 0,18.

Potensi lestari maksimum (MSY) bertujuan untuk melindungi stok pada tingkat yang aman agar tetap berada pada level yang seimbang sehingga tidak terjadi penurunan produksi pada berikutnya. MSY ini dapat berlangsung secara terus-menerus jika segala faktor lingkungan lainnya berjalan dengan baik. Santoso (2016), melaporkan potensi tangkapan lestari ikankerapu di Selat Alas diestimasisebesar 259,1 ton/tahun, dan upaya optimum (F) sebesar 74.563,5trip/tahun sementara potensi lestari maksimum beberapa ikan kerapu yang tertangkap di Teluk Lasongko yaitu kerapu tikus3,72 ton, kerapu macan31,73 ton, kerapu lumpur66,57 ton, dan kerapu sunu44,90 ton (Prasetya, 2010).

2.3Pengelolaan Ikan Kerapu

Ikan kerapu merupakan sumber daya ikan karang yang dapat diperbaharui, mempunyai kapasitas untuk pulih sendiri, dengan syarat pemanfaatan tidak melebihi kapasitas reproduksinya dalam suatu periode tertentu. Untuk menjaga pemanfaatan sumberdaya ikan kerapu secara berkelanjutan maka diperlukan suatu bentuk pengelolaan yang dapat dipertanggung jawabkan secara bioekologi dan sosial ekonomi.

Pengelolaan perikanan karang berkelanjutan mengacu pada (WWF, 2011):

1) Pengelolaan sumberdaya perikanan dengan cara (a) memastikan kondisi terumbu karang terjaga dan tidak rusak; (b) memastikan tersedianya stok perikanan berdasarkan kuota dan ukuran tangkapan; (c) menaati peraturan pemerintah khususnya zonasi penangkapan; dan (d) tidak menangkap ikan di daerah perlindungan.

2) Penanganan perikanan untuk perdagangan: membangun kesepakatan penanganan antara nelayan, pengepul, dan pembeli tentang tata cara penanganan yang baik dan bermanfaat untuk peningkatan mutu, kualitas perikanan serta kualitas sumberdaya perikanan.

3) Praktek perikanan karang harus mengikuti prinsip-prinsip pemanfaatan yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Sementara menurut Sudirman dan Karim (2008), beberapa hal yang perlu dilakukan dalam rangka pengelolaan kerapu, yaitu: (1) Menjaga dan mempertahankan kelestarian

(15)

7 terumbu karang sebagai habitat ikan kerapu; (2) Diperlukan suatu penelitian secara sistematis mengenai perubahan jenis kelamin dan pada ukuran berapa ikan kerapu melakukan pemijahan; (3) Membuat regulasi legal minimum size untuk setiap jenis ikan kerapu; (4) Membuat pengaturan selektivitas alat tangkap; (5) Penegakan hukum bagi penggunaan alat penangkapan ikan yang merusak untuk memberikan efek jera bagi pelaku destruktif fishing; dan (6) Penelitian tentang potensi reproduksi dan dinamika populasi untuk setiap jenis ikan kerapu sangat diperlukan.

2.4Road Map Penelitian

Gambar 1. Road map penelitian ikan kerapu di Teluk Kwandang 2.5Kebaruan

Kebaruan dalam penelitian ini terletak pada konsep model dinamik pengelolaaan sumberdaya ikan kerapulumpur di Teluk Kwandang yang berdasarkan pada kajian ilmu biologi reproduksi dan dinamika populasi.

(16)

8 BAB 3. TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN

3.1Tujuan Penelitian

Berdasarkan uraian rumusan permasalahan maka penelitian bertujuan: 1. Menganalisis kondisi biologi reproduksi ikan kerapu lumpur.

2. Menganalisis kondisi dinamika populasi ikan kerapu lumpur.

3. Menganalisis strategi pengelolaan ikan kerapu lumpur di Teluk Kwandang berdasarkan model dinamik agar terjadi optimasi produksi.

3.2 Manfaat Penelitian

Menjadi referensi pemerintah daerah, provinsi, maupun pusat dalam merumuskan kebijakan dan strategi pengelolaan perikanan kerapu secara berkelanjutan di Teluk Kwandang.

(17)

9 BAB 4. METODE PENELITIAN

4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian dilakukan di wilayah Teluk Kwandang perairan Gorontalo (Gambar 2). Sampel diambil dari sekitar daerah penangkapan ikan kerapu yaitu di perairan Teluk Kwandang. Sampel diambil pada dua pedagang pengumpul terbesar, masing-masing yaitu CV. Ruslan dan CV. Nurluthfi. Pemilihan tempat tersebut didasarkan pada pertimbangan bahwa di tempat tersebut merupakan : (1) pengumpul ikan kerapu terbesar di daerah Teluk Kwandang; (2) tempatnya mudah diakses, didekat TPI Kwandang; dan (3) Spesies kerapu lumpur yang diteliti banyak di tempat tersebut.Penelitian dilakukan mulai Januari-Desember 2018. Analisis sampel dilakukan di Balai karantina ikan Provinsi Gorontalo.

Gambar 2. Lokasi Penelitian di Teluk Kwandang 4.2 Pengamatan Parameter dan Analisis Data

Sampel diidentifikasi untuk memisahkan jenis Epinephelus coioides dari spesies lain. Metode pengamatan dan pengukuran parameter dilakukan sebagai berikut:

(18)

10 4.2.1 Biologi Reproduksi

Parameter biologi reproduksi diamati setiap bulan. Untuk analisis biologi reproduksi dilakukan pengamatan dan pengukuran parameter-parameter sebagai berikut : tingkat kematangan gonad, berat gonad, indeks kematangan gonad, dan fekunditas. Tingkat kematangan gonad (TKG) ditentukan berdasarkan pengamatan histologi. Pembuatan preparat histologi dilakukan di stasiun karantina ikan,pengendalian mutu dan keamananhasil perikanan (SKIPM) kelas IGorontalo.. Jumlah sampel yang dibuat preparat histologi adalah 40 ekor. Sedangkan pengamatan berdasarkan makroskopik gonad sesuai dengan klasifikasi Tan dan Tan (2002) yaitu terlebih dahulu menghitung indeks gonadnya kemudian dilanjutkan dengan menentukan tingkat kematangan gonadnya berdasarkan nilai indeks gonad (Tabel 2) tersebut sebagai berikut:

GI =

3 L

gw x 107(1)

Keterangan: GI = Indeks Gonad, Gw = berat gonad (g) dan L = Panjang tubuh.

Menurut Tan dan Tan (2002), klasifikasi TKG berdasarkan indeks gonadnya tertera pada Tabel 2.

Tabel 2. Hubungan antara Indeks Gonad dengan Tingkat Kematangan Gonad

Indeks Gonad Kelas (TKG)

Lebih kecil dari 1 gonad belum matang I

1,0-5,0 gonad mematang II

5,0-10,0 gonad mematang III

10,0-20,0 gonad matang IV

Lebih besar dari 20 gonad lanjut matang V

Indeks kematangan gonad (IKG) dihitung berdasarkan perbandingan antara berat gonad (BG) dalam satuan gram, dan berat tubuh ikan (BT) dalam satuan gram dikali seratus persen (2) (Andrade et al.,2003) sebagai berikut:

x100% BT

BG

IKG  (2)

Fekunditas total dihitung dengan menggunakan metode gravimetrik seperti yang disarankan oleh Braum dan Bagenal (1968) sebagai berikut:

FS   Bs Bg F (3)

Keterangan F = fekunditas total (butir); Fs = jumlah telur pada sebagian gonad (butir); Bg = bobot seluruh gonad (g); dan Bs = bobot sebagian kecil gonad.

(19)

11 4.2.2 Dinamika Populasi

Untuk pengamatan parameter dinamika populasi dilakukan pengukuran adalah panjang total dan berat total. Panjang ikan diukur di atas papan ukur dengan mistar berskala 0,1 cm, berat total diukur dengan timbangan elektrik ketelitian 0,01 kg. Pendugaan mortalitas dilakukan dengan metode kurva konversi hasil tangkapan dengan panjang pada paket program FISAT II (Sparre dan Venema, 1999).

Data produksi tangkapan serta data upaya penangkapan yang digunakan adalah data runtun waktu dari tahun 2008 hingga 2016 yang dicatat dari statistik perikanan Provinsi Gorontalo. Data produksi dan upaya penangkapan digunakan untuk menganalisis CPUE, dan potensi hasil maksimum lestari (MSY). Analisis hasil maksimum lestari (MSY) digunakan model Shaefer (Sparre dan Venema, 1999) dengan persamaan linier sebagai berikut: bf(i) a f(i) Y(i)   (4)

Apabila persamaan tersebut dikalikan dengan f (i) akan diperoleh persamaan kurva parabola:

2 bf(i) af(i)

Y(i)  . (5)

Dari persamaan tersebut diperoleh model untuk menghitung hasil maksimum lestari (MSY) dan upaya optimal (fmsy) masing-masing sebagai berikut:

4b a MSY 2   (6) 2b a fmsy   (7)

dimana Y(i) = hasil tangkapan, f(i) = upaya penangkapan, a = intersep garis, b = kemiringan garis, MSY = hasil tangkapan maksimum lestari, dan fmsy = jumlah upaya

penangkapan optimal untuk mencapai MSY. Untuk menghitung Catch Per Unit Effort (CPUE) ikan kerapu digunakan Formulasi King (1995) (8) sebagai berikut:

CPUE = P/E (8)

dimana CPUE = hasil tangkapan per Unit Upaya (kg/trip), P = hasil tangkapan (kg), dan E = jumlah upaya (trip).Karena kemampuan tangkap tiap alat tangkap berbeda-beda, maka perlu dilakukan standardisasi upaya penangkapansebagai berikut (Gulland, 1982) (9):

(20)

12 Dimana FPI = fishing power index; CPUEdst = CPUE alat tangkap yang akan

distandarisasi (ton/trip); CPUEst = CPUE alat tangkap standar (ton/trip).

Fs= FPI x fdst (10)

Fs = upaya penangkapan hasil standarisasi (Trip); FPI = fishing power index; dan fdst =

upaya penangkapan yang akan distandarisasi (Trip).

4.2.3 Konsep dan Desain Model

Konsep dasar model dinamik Pengelolaaan Sumberdaya Ikan Kerapu di Teluk Kwandang adalah optimalisasi pemanfaatan sumberdaya ikan kerapu dengan memaksimalkan penangkapan tanpa mengganggu kelestarian populasi. Konsep ini mengacu pada pendekatan dinamika populasi yang berbasis pada potensi daya dukung lingkungan dan pendekatan keberlanjutan yang berbasis pada manajemen pengelolaan lingkungan dan regulasi penangkapan. Mengacu pada tujuan penelitian maka dalam model ini dibuat beberapa skenario yang akan disimulasikan. Skenario-skenario tersebut merupakan kombinasi antara 4 faktor yaitu : Laju Penangkapan (3 level), Waktu Penangkapan (2 level), Restocking (3 level) dan Manajemen Luas Wilayah (3 level). Secara keseluruhan jumlah skenario yang akan disimulasikan sebanyak 3x2x3x3 =54 skenario. 4.3Bagan Penelitian

(21)

13 BAB 5. HASIL DAN LUARAN YANG DICAPAI

5.1 Biologi Reproduksi

5.1.1 Tingkat Kematangan Gonad

Hasil pengamatan tingkat kematangan gonad (TKG) ikan kerapu lumpur

Epinephelus coioidessetiap bulan disajikan pada Gambar 4. Secara umum tingkat

kematangan gonad terdiri dari TKG 1I 27 ekor (19,15%), TKG II 40 ekor (28,37 %), TKG III 19 ekor (13,48 %), TKG IV 6 ekor (4,26%), dan TKG V 49 ekor (34,75 %). Distribusi persentase jumlah individu setiap tingkat kematangan gonad pada setiap bulan secara total menunjukkan TKG I dan II ditemukan sepanjang tahun dengan persentase paling tinggi masing-masing pada Maret (55,55 %) dan Desember (75%), TKG III ditemukan sampai Oktober (14,28%), TKG IV hanya dijumpai selama empat bulan dengan persentase tertinggi pada bulan Oktober (14,28%), sedangkan TKG V mencapai puncak pada bulan Juni (53,33 %). Distribusi TKG bulanan menunjukkan bahwa puncak ditemukan gonad yang masak terjadi pada Mei, Juni, dan Juli.

Gambar 4. Distribusi TKG ikan kerapu tiap bulan

Sebagian besar (80,85%) ikan kerapu lumpur yang tertangkap di Teluk Kwandang merupakan ikan matang gonad dan sedang mijah hanya sebagian kecil ikan muda (19,15%)

0% 10% 20% 30% 40% 50% 60% 70% 80% 90% 100% TKG (%) Bulan V IV III II I

(22)

14 (Gambar 5). Besarnya jumlah ikan matang gonad dan ikan mijah yang tertangkap membuktikan bahwa penangkapan ikan kerapu bertepatan dengan musim pemijahan.

Gambar 5. Frekuensi ikan kerapu muda, matang dan mijah

Berdasarkan pengamatan secara histologi terhadap perkembangan gonad menunjukkan bahwa ikan kerapu lumpur matang gonad pada ukuran 42 cm dengan berat 1800 g (Gambar 6). Perubahan kelamin dari betina menjadi jantan (transisi) pada ikan kerapu lumpur terjadi pada ukuran 79 cm dengan berat 6500 g. Untuk usaha pembenihan, perlu diperhatikan jantan dan betina yang sebanding, penyediaan induk (Andamari, 2005) yakni ikan-ikan yang beratnya diatas 7000 g untuk ikan jantan dengan asumsi ikan tersebut sudah berubah kelamin menjadi jantan sedangkan untuk betina beratnya diatas 3000 g.

0 2 4 6 8 10 12 Fr ek u en si Bulan

(23)

15 Gambar 6. Struktur mikroskopik gonad ikan kerapu lumpur

(a) Immature females (PO = primary oocyte; PVO = previtellogenic oocyte; AO = atresia oocyte), panjang 33 cm, berat 386 g.

(b) Mature developing female, panjang 42 cm, berat 1800 g.

(c) Mature active female (MO = mature oocyte; CA = cortical alveoli oocyte), panjang 60 cm, berat 2900 g)

(24)

16 (d) Transitional (SC = spermatocyte; SG = spermatogonium; SD = spermatid; PO = primary oocyte; PVO = previtellogenic oocyte; O = oogonium; OC = ovarian cavity), panjang 79 cm, berat 6500 g.

(e) Immature male (SC = spermatocyte; SG = spermatogonium; SD = spermatid; SZ = spermatozoa), panjang 80 cm, berat 7000 g.

(f) Mature developing male, panjang 83 cm, berat 12000 g.

Pada fase awal perkembangan ovari ikan kerapu lumpur, gonad mengandung oogonia primary oocyte, dan previtellogenic yang terletak di pinggiran sepanjang lamella oocit. Pada fase transisi secara seksual, lamellae gonad sebagian besar terdiri dari primary oocyte yang sedang berkembang dan jaringan spermatogenic yang belum berkembang menyebar pada daerah tersebut yang terdiri dari gonia dan kista spermatocyte awal. Jaringan ovari dan testes secara fisik belum terpisah karena jaringan spermatogenic ada di sepanjang lamella dan bercampur dengan oosit. Gonad tidak menunjukkan bukti morfologis pematangan seksual sebelumnya sebagai jantan atau betina (Erisman etal., 2007).

Gonad dalam fase transisi mengandung fokikel atresia dan/atau muscle bundle, kedua ciri-ciri tersebut mengindikasikan fungsi betina sebelumnya (Sadovy dan Shapiro, 1987) yang bercampur dengan proliferasi jaringan testicular yang meliputi spermatosit, spermatid, dan spermatozoa (Brulé et al., 2016). Perubahan awal jenis kelamin dicirikan oleh degenerasi primary oocyte dan proliferasi simultan spermatogonia pada epitelium germinal lapisan lumen ovarium. Saat degenerasi berlangsung, oocyte diserap dan proliferasi bakal sel spermatogenic meningkat (Bhandari et al., 2003).

Pada fase akhir transisi, hanya sedikit degenerasi pre-vitellogenic oocyte yang tersisa dalam lamellae dan ada kecenderungan peningkatan sel-sel bakal spermatogenic, yang meliputi hampir 75% dari lamellae ovari. Pada akhir fase ini, hampir semua oosit atresia diserap dan gonad ditransformasi menjadi testis yang mengandung sel-sel bakal spermatogenic dalam berbagai stadia perkembangan dari spermatogonia hingga spermatid (Bhandari et al., 2003).

(25)

17 5.1.2 Indeks Kematangan Gonad

Hasil perhitungan rata-rata indeks kematangan gonad (IKG) ikan kerapu lumpur,

Epinephelus coioides setiap bulan disajikan pada Gambar 7. IKG ikan kerapu lumpur

mengalami perkembangan relatif lambat selama penelitian. Berdasarkan perkembangan IKG, maka puncak pemijahan ikan kerapu lumpur terjadi selama tiga bulan yaitu Mei, Juni, dan Juli. Pada bulan Mei secara umum rata-rata IKG mulai meningkat (0,1476± 0,1219%). Pada bulan Juni secara umum mencapai puncaknya (0,1788±0,1709%), kemudian pada bulan Juli secara umum menurun (0,1646± 0,0828%). Pada bulan Juni ketika terjadi rata-rata IKG tertinggi maka banyak ditemukan ikan-ikan yang memiliki berat gonad maksimum 63 gram, serta banyak ikan yang tertangkap baru selesai melakukan pemijahan.

Gambar 7. Perkembangan IKG ikan kerapu lumpur

Puncak pemijahan ikan kerapu lumpur di Perairan Oman Utara juga terjadi selama tiga bulan yaitu Maret, April, dan Mei (McIlwain et al., 2016). Pada bulan terjadinya puncak pemijahan ikan kerapu lumpur di Teluk Kwandang bertepatan dengan musim panas (kemarau). Alasan utama, ikan kerapu melakukan pemijahan pada musim panas karena pengaruh suhu (Cushion et al., 2008; Teruya et al., 2008; McIlwain et al., 2016).

0.0000 0.0200 0.0400 0.0600 0.0800 0.1000 0.1200 0.1400 0.1600 0.1800 0.2000 In d ek s Kema tan gan G o n ad (%) Bulan

(26)

18 Peningkatan suhu permukaan laut bertepatan dengan meningkatnya IKG ikan kerapu (Ohta dan Ebisawa, 2015) yang memicu terjadinya pemijahan. Saat suhu permukaan laut rendah tidak ditemukan ikan kerapu jantan di daerah pemijahan (spawning ground) (Gaspare dan Bryceson, 2013; Nanamiet al., 2017) sehingga diduga kuat tidak akan terjadi pemijahan.

Suhu permukaan laut secara umum mempunyai peran penting dalam merangsang sistem organ endokrin dan aktivitas reproduksi seperti sekresi hormon gonadotropin oleh sel-sel pituitary yang mendukung perkembangan telur dan sperma dan menstimulasi produksi steroid androgen jantan dan steroid estrogen betina yang akan mengendalikan aktivitas dan tingkah laku reproduksi (Ali et al., 2005; Nanamiet al., 2017).

Kondisi suhu yang mendukung juga menjadikan proses fotosintesis bisa berlangsung dengan baik sebagai bakal produksi primer dan penyedia makanan. Ketersediaan makanan sangat memberi pengaruh yang sangat besar dalam membantu proses kematangan gonad. Semakin melimpah makanan yang tersedia akan mempercepat proses kematangan gonad (Kantun et al., 2011).

Ikan kerapu yang mencapai puncak pemijahan pada musim panas juga ditemukan pada spesies Epinephelus itajara di Brazil Selatan (Gerhardinger et al., 2006; Bueno et al., 2013), Mycteroperca marginata di bagian selatan Brazil (Seyboth et al., 2011), dan

Epinephelus areolatus di Teluk Suez (Osman et al., 2018).

5.1.3 Fekunditas

Fekunditas ikan kerapu lumpur di Teluk Kwandang dari hasil analisis 40 ekor contoh berkisar antara 30.526 – 1.395.846 butir (rataan 713.186 ± 275.335 butir). Dari hasil penelitian ini memberikan informasi bahwa potensi reproduksi ikan kerapu lumpur cukup besar. Rataan fekunditas ikan kerapu lumpur berdasarkan kelas ukuran berkisar antara 174.553 butir hingga 567.616 butir, tertinggi ditemukan pada kelas ukuran 65 - 74 cm, dan terendah pada kelas ukuran 55 - 64 cm (Tabel 3).

(27)

19 Tabel 3. Rataan fekunditas ikan kerapu lumpur berdasarkan kelas ukuran

Kelas Ukuran (cm) Jumlah (ekor) Panjang Total (cm) Fekunditas (butir)

45-54 6 51,92±2,61 183.069

55-64 23 59,74±3,15 174.553

65-74 6 70±3,33 567.616

75-84 4 76,88±1,65 450.880

85-94 1 92 192.662

Analisis regresi berganda pengaruh panjang total dan bobot tubuh terhadap pertambahan fekunditas menunjukkan bobot tubuh berpengaruh sangat nyata (P<0,05) terhadap pertambahan fekunditas total. Persamaan regresi antara fekunditas total (Y) dengan panjang total (X1) dan bobot tubuh (X2) adalah sebagai berikut:

𝑌 = 868755,26 − 25288,08𝑋1 + 299,31𝑋2

Peningkatan jumlah fekunditas akibat pertambahan bobot tubuh ikan kerapu lumpur karena semakin bertambah bobot tubuh ikan maka volume tubuh induk betina dalam mengandung telur semakin besar sehingga kemungkinan volume ovari lebih besar dan mengandung fekunditas lebih besar.

Fekunditas ikan kerapu lumpur yang ditemukan pada penelitian ini masih dalam kisaran fekunditas ikan kerapu genus Epinephelus pada beberapa perairan di dunia, yaitu masing-masing berkisar 785-7.984.835 butir (Tabel 4). Fekunditas ikan kerapu tertinggi ditemukan di Laut Mediterania bagian Barat (Renones et al., 2010) dan terendah ditemukan di Kuala Dungun Perairan Trengganu Malaysia (Kadir et al., 2016). Fekunditas ikan kerapu lumpur pada penelitian ini lebih rendah daripada fekunditas ikan kerapu lumpur di Teluk Arab (Tharwat et al., 2005) tapi lebih besar dari ikan kerapu lumpur yang ditemukan di perairan India (Kandula et al., 2015).

(28)

20 Tabel 4. Fekunditas ikan kerapu genus Epinephelus pada beberapa perairan di dunia

No Spesies Fekunditas (butir) Sumber

1 Epinephelus diacanthus 13.100-145.700 Rao dan Krishnan,2009

2 Epinephelus marginatus 65.424-7.984.835 Renones et al., 2010

3 Epinephelus coioides 957.270-3.287.515 Tharwat et al., 2005

4 Epinephelus guttatus 240.000-2.400.000 Whiteman et al., 2005

5 Epinephelus coioides 43.618–463.940 Kandula et al., 2015

6 Epinephelus areolatus 785-84.258 Kadir et al., 2016

Pada Tabel 4 terlihat bahwa pada genus yang samapun fekunditas ikan kerapu berbeda-beda. Perbedaan fekunditas di antara spesies mencerminkan strategi reproduksi yang berbeda, fekunditas ikan kerapu dapat bervariasi karena adaptasi yang berbeda pada lingkungan (Murua et al., 2003). Variasi fekunditas juga sangat dipengaruhi oleh gizi, tekanan penangkapan, dan selektifitas penangkapan (Morgan, 2008). Faktor lain yang mempengaruhi variasi fekunditas seperti umur, parasitisme, kepadatan, suhu, pasokan makanan, spesies, dan stres (Rao dan Krishnan, 2009; Renones et al., 2010; Prianto et al., 2015; Gustiarisanie et al., 2017).

5.2 Dinamika Populasi 5.2.1 Ukuran

Secara umum panjang total ikan kerapu lumpur (Epinephelus coioides) jantan dan betina masing-masing 800-1000 mm (903,09±71,50 mm) dan 170-785 mm (455,67±151,60 mm). Panjang total ikan kerapu lumpur jantan lebih besar daripada betina, hal ini identik dengan yang ditemukan di Laut Arab, Oman (Al Marzouqi et al., 2015), Perairan Atlantik barat daya (Condini et al., 2014), dan Perairan Australia (Pears et al., 2006).

Perbedaan ukuran jantan dan betina disebabkan oleh pola reproduksi ikan kerapu lumpur yang tergolong hermaprodit protogini, dimana fase awal adalah betina lalu berubah menjadi jantan pada ukuran dan umur tertentu. Ukuran dan umur ikan kerapu melakukan pergantian kelamin sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti selektivitas alat

(29)

21 tangkap, kondisi lingkungan, kompetisi interspesifik, dan tekanan penangkapan (Condini et

al., 2014).

Ukuran ikan kerapu lumpur yang tertangkap di Teluk Kwandang lebih kecil daripada ikan kerapu lumpur yang tertangkap di Teluk Arab Selatan (Grandcourt et al.,

2009) dan perairan Oman Utara (McIlwain et al., 2016). Perbedaan ukuran kerapu dapat disebabkan oleh habitat (Mamauag et al., 2000), daerah penangkapan (Ernaningsih et al.,

2014), dan selektifitas alat tangkap (Pears et al., 2006; Al Marzouqi et al., 2015).

5.2.2 Mortalitas

Nilai laju mortalitas total (Z), alami (M), dan penangkapan (F) diduga dengan menggunakan metode kurva konversi hasil tangkapan dengan panjang total yang dikemas dalam program FISAT II dengan memasukkan nilai L∞ dan k. Berdasarkan hasil analisis diperoleh nilai mortalitas total 0,99/tahun, mortalitas alami 0,46/tahun, dan mortalitas penangkapan 0,54/tahun (Tabel 5).

Tabel 5. Mortalitas ikan kerapu lumpur

No. Paramater Nilai

1 Mortalitas Total (Z) 0,99 2 Mortalitas Alami (M) 0,46 3 Mortalitas Penangkapan (F) 0,54

5.2.3 Potensi Lestari dan CPUE

Produksi dan upaya ikan kerapu dari tahun 2008 hingga 2017 di Teluk Kwandang mengalami fluktuasi (Gambar 8). Produksi tertinggi pada tahun 2011 sebesar 45,12 ton dengan jumlah upaya 87 unit kapal dan produksi terendah pada tahun 2017 sebesar 14,6 ton dengan jumlah upaya 107 unit kapal.

(30)

22 Gambar 8. Jumlah produksi dan upaya ikan kerapu di Teluk Kwandang

Hasil Analisis perkiraan potensi lestari (MSY) model Shaefer dari tahun 2008 sampai dengan 2017 berkisar antara 16,84 ton sampai 27, 49 ton (Gambar 9). Potensi MSY dari tahun 2008 hingga 2017 menujukkan terjadinya fluktuasi.

Gambar 9. Potensi lestari model Schaefer selama 10 tahun (2008-2017).

0 20 40 60 80 100 120 0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 U pay a (uni t) Pr od uk si (to n) Tahun Produksi Upaya 0.00 5.00 10.00 15.00 20.00 25.00 30.00 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 Po te ns i L es ta ri (to n) Tahun

(31)

23 Apabila hasil tangkapan aktual dibandingkan dengan potensi lestari pada tahun yang sama maka tingkat pemanfatan ikan kerapu bervariasi setiap tahun atau berfluktuasi diantara garis keseimbangan potensi maksimum lestari (Gambar 10).

Gambar 10. Fluktuasi tingkat pemanfaatan

Kurva potensi lesari maksimum ikan kerapu disajikan pada Gambar 11. Berdasarkan model kuadratik Schaefer; 𝑌𝑖 = 0,8093𝑓 − 0,0059𝑓2 menghasilkan MSY sebesar 27,75 ton dengan upaya optimal (fMSY) sebesar 68 unit kapal.

-15 -10 -5 0 5 10 15 20 25 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 Ting ka t p em an fa at an p ot en si M SY (t on )

(32)

24 Gambar 11. Kurva hasil maksimum lestari model Schaefer

Setiap tahun upaya penangkapan cenderung meningkat, sebaliknya produksi cenderung menurun. Penurunan produksi yang diikuti oleh pertambahan unit upaya terjadi pada tahun 2009, 2010, 2012, 2015, 2016, dan 2017. Menurut Ali et al., (2004), peningkatan jumlah upaya yang tidak terkendali merupakan salah satu faktor yang menyebabkan penurunan hasil tangkapan. Namun demikian, tidak selalu penurunan jumlah upaya penangkapan diikuti oleh kenaikan produksi pada tahun yang sama. Fenomena ini menunjukkan peningkatan jumlah upaya penangkapan bukanlah satu-satunya faktor penyebab penurunan hasil tangkapan, melainkan mungkin dipengaruhi oleh faktor lain seperti faktor perubahan cuaca dan kemampuan penangkapan yang terbatas (Sumiono et al., 2010).

Fluktuasi tingkat pemanfaatan ikan kerapu dapat disebabkan karena menurunnya ukuran populasi akibat penangkapan secara berlebihan (Kirubasankar et al., 2013; Bulanin

et al., 2017) yang dapat mengurangi kapasitas reproduksi (Astuti, 2016). Sebaliknya hasil

tangkapan meningkat dapat disebabkan karena meningkatnya ukuran populasi akibat rendahnya upaya penangkapan tahun sebelumnya. Penurunan upaya penangkapan dapat disebabkan oleh kondisi oseanografi dan iklim (Yulianto et al., 2013; Pitchaikani dan

0 5 10 15 20 25 30 1 6 11 16 21 26 31 36 41 46 51 56 61 66 71 76 81 86 91 96 101 106 111 116 121 126 131 136 Produks i ( ton) Upaya (Unit) MSY=27, 75 ton f max=68 unit

(33)

25 Lipton, 2016), kejadian ini memiliki dampak biologis yang menguntungkan terhadap pemulihan (recovery) sehingga populasi ikan kerapu akan meningkat kembali.

Penurunan produksi dari MSY cenderung terjadi setelah berlangsung penangkapan yang melampaui MSY, seperti yang terjadi pada tahun 2012 MSY menurun disebabkan tahun sebelumnya produksi telah melebihi MSY. Apabila upaya optimal (fMSY) 86 unit menjadi standar acuan untuk mencapai MSY 27, 75 ton, dengan menggunakan pendekatan kehatia-hatian (precautionary approach) yang ditetapkan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia, maka jumlah tangkapan ikan kerapu yang dibolehkan (TAC) sebesar 80% dari MSY yaitu 22, 20 ton. Apabila mengacu pada produksi tahun 2014 maka total produksi telah melampaui TAC. Hal ini yang menyebabkan hasil tangkapan mengalami penurunan selama tiga tahun terakhir walaupun upaya penangkapan telah ditambah.

7.1Model Dinamik

7.1.1 Desain dan Struktur Model

Model dinamik yang dihasilkan dengan menggunakan software Stella.5.0 terdiri dari dua sup model utama yaitu sub model perikanan tangkap dan sub model ekonomi. Dalam sub model perikanan tangkap meliputi : biomasssa populasi ikan kerapu sebagai kompartemen (stok) yang di pengaruhi oleh beberapa faktor yang menyebabkan peningkatan dan penurunan biomassa populasi ikan kerapu. Faktor faktor yang menyebabkan peningkatan sebagai (inflow) terdiri dari pertumbuhan dan recruitment, sedangkan faktor faktor yang menyebabkan pengurangan (outflow) terdiri dari penangkapan dan mati alami. Bangunan sub model seperti ditunjukkan dalam Gambar 12.

(34)

26 Gambar12. Diagram sub model perikanan tangkap.

Struktur model dalam diagram gambar diatas menjelaskan bahwa pertumbuhan yang dipengaruhi laju pertumbuhan dan biomassa stok populasi ikan kerapu dikendalikan oleh potensi maksimum daya dukung lahan, menyebabkan peningkatan/penambahan biomassa populasi. Recruitment dipengaruhi oleh recruitment alami dan banyaknya populasi recstocking, dimana keduanya menyebabkan peningkatan/penambahan stok populasi ikan kerapu. Banyaknya recruitment alami ditentukan oleh fekunditas dan biomassa bobot betina TKG V, sedangkan biomassa populasi ditentukan oleh jumlah restocking sesuai dengan skenario yang dipilih. Penambahan recruitment juga dipengaruhi oleh skenario manajemen konservasi yang nilainya ditentukan proporsional terhadap recruitment alami. Efek skenario restocking dan skenario manajemen konservasi ditentukan melalui inflow recruitment. Pengurangan populasi dhitung melalui outflow mati alami yang nilainya proposional biomassa populasi ikan kerapu. Penangkapan menunjukkan biomassa populasi yang tertangkap, yang dipengaruhi oleh laju tangkap dan maksimum populasi layak tangkap. Laju penangkapan ditentukan oleh banyaknya alat tangkap dan banyaknya trip dimana semua aspek yang mempengaruhi penangkapan sangat ditentukan oleh skenario regulasi laju tangkap.

(35)

27 Sub model ekonomi meliputi aspek penerimaan (inflow) dan pengeluaran (outflow) sebagai kedua faktor yang mempengaruhi peningkatan/pengurangan nilai pendapatan (kompartemen/stok). Penerimaan dihitung secara sederhana melalui nilai hasil penjualan ikan yang tertangkap (ikan kerapu dan ikan ekonomis tangkapan lainnya, sesuai hargaanya) sedangkan pengeluaran ditentukan dari biaya operasional penangkapan dan biaya restocking, serta biaya biaya lain seperti pajak, dan biaya tambahan lainnya. Diagram sub model ekonomi seperti ditunjukkan dalam gambar 13, sedangkan setelah digabungkan swngan sub model perikanan tangkap maka diperoleh model lengkap dengan desain dan struktur seperti yang ditunjukkan dalam gambar 14.

(36)

28 Gambar 14. Diagram lengkap model pengeloaan perikanan kerapu di Teluk Kwandang.

7.1.2 Hasil Simulasi Model Dinamik

Model Dinamik ini memungkinkan untuk mensimulasikan 54 kemungkinan kombinasi skenario yaitu 3 level laju penambahan jumlah alat tangkap, dan 2 level pembatasan waktu penangkapan (skenario regulasi laju tangkap), 3 level manajemen konservasi dan 3 level restocking. Berdasarkan pertimbangan efesiensi dan perbandingan antar level skenario maka dalam pembahasan ini dijalankan 3 skenario yang dapat dikategorikan menjadi skenario pesimis (skenario 1), moderat (skenario 2), optimis (skenario 3). Skenario 1 (pesimis) mensimulasikan kondisi existing, yaitu presentase tambahan alat 1 sampai 5 persen pertahun, tidak ada pembatasan penangkapan pada setiap juli, tidak ada manajemen konservasi, dan tidak ada restocking. Skenario 2 (moderat) : presentase tambahan alat 5 sampai 10 persen pertahun, dibatasi menangkap selama 1 bulan pada setiap bulan juli. Manajemen konservasi berjalan sedang dan dilakukan restocking sebanyak 10.000 ekor setiap bulan juli. Skenario 3 (optimis) presentase tambahan alat 10 sampai 15 %, dibatasai menangkap selama 1 bulan setiap bulan juli, manajemen konservasi berjalan efektif, dan dilakukan restocking sebanyak 30000 ekor setiap bulan juli.

(37)

29 7.1.3 Perubahan biomassa ikan kerapu

Hasil simulasi model pada skenario satu (pesimis) menunjukkan bahwa perubahan biomassa populasi ikan kerapu mengalami penurunan yang cukup tajam, dari 200 ton diawal sampai menurun lebih dari stengak pada bulan ke 20 mencapai 99,12 ton, dan terus mengalami penurunan sehingga tersisa sekitar 4,5 ton setelah 10 tahun (120 bulan). Penurunan populasi ini disebabkan oleh tidak berimbangnya antara jumlah penangkapan dan laju pertumbuhan dimana proporsi laju penangkapan jauh lebih besar melampaui laju pertumbuhan dan pertambahan populasi recruitment. Akibatnya terjadi penurunan yang signifikan terutama pada tahun tahun awal, sebagaimana ditunjukkan pada gambar 15a pesimis.

Hasil simulasi model skenario dua (moderat) menunjukkan kecenderungan perubahan biomassa populasi, dengan pola penurunan yang lebih lambat dari skenario satu. Pola penurunan biomassa populasi ikan kerapu diteluk kwandang menunjukkan pola penurunan yang proporsinya cenderung konstan dari waktu ke waktu, dengan tipikal ritme perubahan tahunan yang jelas. Pola ini terutama disebabkan pengaruh pembatasan waktu penangkapan selama 1 bulan yaitu setiap bulan juli pada puncak pemijahan mengakibatkan adanya kesempatan penambahan recruitment karena ikan ikan yang matang gonad diberi kesempatan memijah sebelum ditangkap. Faktor tersebut menyebabkan pola perubahan biomassa ikan dan hasil tangkapan seperti disajikan dalam gambar 15b moderat

Hasil simulasi pada skenario tiga (optimis) menunjukkan pola perubahan biomassa populasi ikan yang fluktuatif dalam kisaran nilai yang tidak jauh berbeda dengan populasi awal ( 200 ton) meskipun mengalami penurunan dimana dalam selama 10 tahun nilai terendah stok ikan yang terendah paling mencapai 60,64 ton, dinamika naik turunnya biomassa populasi ikan kerapu diteluk kwandang dalam skenario 3 ini, memperlihatkan pola dan ritme yang lebih teratur setiap tahunnya, yang mengidinkasikan besarnya pengaruh recruitment, sebagai dampak dari penerapan skenario pembatasan waktu penangkapan selama bulan juli dan manajemen konservasi maupun skenario restocking yang mempengaruhi penambahan populasi baru setiap tahunnya. Dinamika biomassa ikan kerapu yang cenderung stabil menunjukkan bahwa pada skenario 3 ini terjadi keseimbangan antara peningkatan populasi akibat kebijakan regulasi penangkapan yang mengatur waktu penangkapan dan restocking

(38)

30 sebesar 30.000 pertahun mampu mengimbangi populasi yang hilang akibat penambahan alat tangkap sebesar 10 sampai 15 persen pertahun ditambahn populasi mati alami dalam kondisi manajemen konservasi diterapkan secara maksimal. Gambar 15c optimis.

a b 11:01 PM Fri, Nov 16, 2018 Untitled Page 1 0.00 30.00 60.00 90.00 120.00 Months 1: 1: 1: 2: 2: 2: 3: 3: 3: 4: 4: 4: 5: 5: 5: 0 100000 200000 0 3000 6000 0 5000 10000 0 10000 20000 0 2000 4000

1: BIOM…I KERAPU2: Pertumbuhan 3: Recruitmen 4: Penangkapan 5: Mati Alami

1 1 1 1 2 2 2 2 3 3 3 3 4 4 4 4 5 5 5 5 10:59 PM Fri, Nov 16, 2018 Untitled Page 1 0.00 30.00 60.00 90.00 120.00 Months 1: 1: 1: 2: 2: 2: 3: 3: 3: 4: 4: 4: 5: 5: 5: 0 100000 200000 0 3000 6000 0 10000 20000 0 2000 4000

1: BIOM…I KERAPU2: Pertumbuhan 3: Recruitmen 4: Penangkapan 5: Mati Alami

1 1 1 1 2 2 2 2 3 3 3 3 4 4 4 4 5 5 5 5 10:53 PM Fri, Nov 16, 2018 Untitled Page 1 0.00 30.00 60.00 90.00 120.00 Months 1: 1: 1: 2: 2: 2: 3: 3: 3: 4: 4: 4: 5: 5: 5: 160000 180000 200000 0 3000 6000 0 10000 20000 0 4500 9000 2850 3250 3650

1: BIOM…I KERAPU2: Pertumbuhan 3: Recruitmen 4: Penangkapan 5: Mati Alami

1 1 1 1 2 2 2 2 3 3 3 3 4 4 4 4 5 5 5 5

(39)

31 c

Gambar 15. Perubahan biomassa, populasi ikan kerapu, pertumbuhan, recruitment, penangkapan, mati alami, selama 10 tahun (120 bulan) berdasarkan hasil simulasi model pada skenario 1 pesimis (a) skenario moderat (b) dan skenario optimis (c).

Mengacu pada perubahan biomassa ikan kerapu maka terlihat bahwa, dengan adanya regulasi laju tangkap yang membatasi laju tangkap pada bulan juli yang disertai dengan manajemen konservasi yang maksimal dan secara simultan dilakukan restocking sebanyak 30.000 ekor dengan berat awal 50 sampai 75 gram per ekor, maka mampu mengimbangi kehilangan populasi ikan yang tertangkap, meskipun terjadi penambahan alat sebesar 10 sampai 15 persen pertahun, dengan koefisien mati alami yang sama sehingga populasi cenderung substain sampai 10 tahun. Mengingat bahwa perubahan pertumbuhan dan mati alami nilainya sangat ditentukan oleh perubahan biomassa populasi karena kedua komponen ini dihitung secara proporsional sehingga dinamikanya mengikuti dinamika populasi dan berlaku untuk semua skenario sementara recruitment dan penangkapan dinamikannya sangat ditentukan oleh skenario recstocking dan skenario laju tangkap. Jika dirata ratakan selama 12 bulan pertahunnya maka diperoleh dinamika biomassa populasi ikan kerapu, jumlah recruitment dan penangkapan selama 10 tahun, berdasarkan hasil simulasi dalam 3 skenario.

(40)

32 a b c 10:59 PM Fri, Nov 16, 2018 Untitled Page 1 0.00 30.00 60.00 90.00 120.00 Months 1: 1: 1: 2: 2: 2: 3: 3: 3: 4: 4: 4: 5: 5: 5: 0 100000 200000 0 10000 20000 0 400 800 0 100000 200000

1: BIOM…I KERAPU2: Recruitmen 3: Rec Alami 4: Bio P…estocking 5: Bio P…asi Betina

1 1 1 1 2 2 2 2 3 3 3 3 4 4 4 4 5 5 5 5 10:48 PM Fri, Nov 16, 2018 Untitled Page 1 0.00 30.00 60.00 90.00 120.00 Months 1: 1: 1: 2: 2: 2: 3: 3: 3: 4: 4: 4: 5: 5: 5: 160000 180000 200000 0 10000 20000 0 1500 3000 135000 160000 185000

1: BIOM…I KERAPU2: Recruitmen 3: Rec Alami 4: Bio P…estocking 5: Bio P…asi Betina

1 1 1 1 2 2 2 2 3 3 3 3 4 4 4 4 5 5 5 5 11:01 PM Fri, Nov 16, 2018 Untitled Page 1 0.00 30.00 60.00 90.00 120.00 Months 1: 1: 1: 2: 2: 2: 3: 3: 3: 4: 4: 4: 5: 5: 5: 0 100000 200000 0 5000 10000 -1 0 1 0 100000 200000

1: BIOM…I KERAPU2: Recruitmen 3: Rec Alami 4: Bio P…estocking 5: Bio P…asi Betina

1 1 1 1 2 2 2 2 3 3 3 3 4 4 4 4 5 5 5 5

(41)

33 Gambar 16. Perubahan biomassa,recruitment, Rec alami, Biomassa populasi betina, selama 10 tahun (120 bulan) berdasarkan hasil simulasi model pada skenario 1 pesimis (a) skenario moderat (b) dan skenario optimis (c).

7.1.3 Pengaruh penangkapan

Hasil simulasi model menujukkan bahwa besarnyaa pada skenario satu, besarnya volume tangkapan pada dua tahun pertama cenderung tinggi karena biomassa populasi ikan kerapu di teluk kwandang masih cukup besar, seriring dengan penurunan biomassa pada tahun ketiga maka mka volume hasil tangkapan juga ikut menurun tajam dan selanjutnya terus mengalami penurunan hingga mencapai nilai yang sangat rendah sampai hanya mencapai 324,48 kg pada akhir tahun kesepuluh. Penurunan volume hasil tangkapan lebih banyak dihasilkan oleh perubahan biomassa populasi ikan karena dengan jumlah alat dan trip yang tidak mengalami perubahan yang namun mengalami penurunan hasil tangkapan yang signifikan, denga demikian, degradasi hasil tangkapan sepenuhnya sebagai akibat degradasi populasi ikan kerapu diteluk kwandang. Dinamika hasil tangkapan, biomassa populasi jumlah alat jumlah trip dan laju penangkapan selama 10 tahun seperti ditunjukkan dalam gambar 3a

Pada skenario 2 penangkapan masih mengikuti pola yang mirip dngan skenario satu tetapi ditandai dengan perubahan secara periodik setiap bulan 7 setiap bulannyanilai tangkapan sama dengan nol sebagai akibat dari penerapaan skenario dari regulasi laju tangkaap dengan membatasi penangkapan selma bulan pemijahan selama bulan juli. Seperti dijelaskna sebelumnya ahwa dengan adanya jeda penangkapan ini maka berdampak pada peningkatan pada oeningkatan recruitment alami sehingga memberi kesempatan adanya penambahan populasi baru dan mengakibatan penuunan biomassa populasi di teluk kwandang tidak setajam penurunan populasi pada skenario satu. Hal ini ditunjukkan dengan nilai akhir pada tahun kesepuluh hasil tangkapan masih mencapai 1572,35 ton, juka dibandingkan dengan nilai hasil tangkapan dalam waktu yang sama maka ajumlah inimencapai hampir 5 kali lipat (4,85 x) dari nilai 324.48 pada skenario Satu. Pola perubahan nilai tangkapan dan nilai tangkapan pada ditunjukkan pada grafik gambar 3b

(42)

34 Pada skenario 1 dan 2, masih terlihat adanya penurunan hasil tangkapan, masih terlihat adanya penurunan hasil tangkapan, meskipun adanya penurunan laju berbeda, keduannya dapat dijelaskan bahwa, regulasi tangkap dengan tambahan alat, dengankuato tangkap yang ditetapkan masih melampaui jumlah penambahan akibat pola pertumbuhan dan regruitment, hasil simulasi pada skenario 3 menunjukkan pola perubahan volume tangkapan yang sangat jelas berbeda, dengan dua skenario sebelumnya,, jumlah hasil tangkapan cenderung berfluktuasi, bulanan, dalam setiap tahunnya namun cenderung stabil, dalam kisaran6 sampai 7 ton lebih perbulan. Akibatnya terbentuk pola dan dinamika hasil tangkapan dan perubahan biomassa populasi seperti yang disajikan dalam gambar 3c. dalam gambar tersebut terlihat bahwa pola periodik tidak adanya hasil tangkapan pada bulan 7 seperti yang terlihat pada hasil simulasi skenario dua, namun pada bulan bulan lainnya dalam setiap tahun tidak banyak mengalami perubahan kisaran 6 – 7 ton lebih.

(43)

35 a b c 11:01 PM Fri, Nov 16, 2018 Untitled Page 1 0.00 30.00 60.00 90.00 120.00 Months 1: 1: 1: 2: 2: 2: 3: 3: 3: 4: 4: 4: 5: 5: 5: 0 100000 200000 0 10000 20000 540 555 570 0 10 20 0 100000 200000

1: BIOM…I KERAPU2: Penangkapan 3: Jumlah Alat 4: Jumlah trip 5: Laju Penangkapan

1 1 1 1 2 2 2 2 3 3 3 3 4 4 4 4 5 5 5 5 10:59 PM Fri, Nov 16, 2018 Untitled Page 1 0.00 30.00 60.00 90.00 120.00 Months 1: 1: 1: 2: 2: 2: 3: 3: 3: 4: 4: 4: 5: 5: 5: 0 100000 200000 0 10000 20000 560 575 590 0 10 20 0 100000 200000

1: BIOM…I KERAPU2: Penangkapan 3: Jumlah Alat 4: Jumlah trip 5: Laju Penangkapan

1 1 1 1 2 2 2 2 3 3 3 3 4 4 4 4 5 5 5 5 10:53 PM Fri, Nov 16, 2018 Untitled Page 1 0.00 30.00 60.00 90.00 120.00 Months 1: 1: 1: 2: 2: 2: 3: 3: 3: 4: 4: 4: 5: 5: 5: 160000 180000 200000 0 4500 9000 585 605 625 0 10 20 0 100000 200000

1: BIOM…I KERAPU2: Penangkapan 3: Jumlah Alat 4: Jumlah trip 5: Laju Penangkapan

1 1 1 1 2 2 2 2 3 3 3 3 4 4 4 4 5 5 5 5

(44)

36 Gambar 17. Perubahan biomassa, penangkapan, jumlah alat, jumlah trip, dan Laju Penangkapan selama 10 tahun (120 bulan) berdasarkan hasil simulasi model pada skenario 1 pesimis (a) skenario moderat (b) dan skenario optimis (c).

Berdasarkan gambar diatas, dapat dijelaskan bahwa, tingginya volume tangkapan pada awal tahun pertamngkapn selama 10 tahun a (rata rata 10,388 ton perbulan pada tahun pertama dan 9,07 ton per bulan pada tahun pertama di skenario 2 menyebabkan penurunan populasi yang cukup tajam akibat tangkap lebih yang melampoi kapasitas pertumbuhan populasi dari recruitment selama periode tersebut. Kondisi ini menyebabkan penurunan populasi pada periode periode berikutnya sehingga, rata rata tangkapan, pada tahun ketiga pada skenario satu dan dua (5,097 ton) per bulan dan 6,197 ton per bulan sudh lebih rendah dari rata rata tangkaapan pada skenario tiga pada tahun yang sama 7,227 ton per bulan penurunan populasi yang berlanjut terus sampai tahun kesepuluh iini mengidikasikan adanya tangkapan lebih dengan jumlah alat dan laju tangkap yang sebenarnya lebih rendah jika dibandingkan dengan skenario tiga sebaliknya pada skenario tiga meskipun terjadi penambahan alat yang lebih tinggi namun dengan adanya kebijakan restocking sebesar 30000 per thaun dan efektifnya manajemen konservasi mampu mengibangi laju kehilangan populasi dari penangkapan sehiggga biomassa populasi cenderung bertahan dan jumlah hasil tangkapan cenderung stabil sampai pada tahun kesepuluh.

7.1.4 Perubahan Pendapatan berdasarkan Hasil Tangkapan

Perubahan pendapatan yang dihitung dari sub model ekonomi dalam model ini dihitung secara sederhana dengan melibatkan faktor faktor terutama hasil tangkapan dan harga yang mempengaruhi penerimaan dalam model ini hasil tangkapan tidak hanya dari ikan kerapu tetapi dari hasil tangkapan lain yang ikan ikan ekonomis penting seperti : kakap, baronang, kuwe dll. Sementara perubahan pengeluaran dihitung dari biaya operasional penangkapan dan biaya restocking. Setelah model ini disimulasikan, maka didapatkan hasil simulasi yang menujukkan bahwa, pada skenario satu pendapatan pendapatan cenderung megalami pendapatan yang eksponensial dari bulan pertama sebesar 1,06 milyar hingga mencapai 20,96 milyar pada bulan ke 50, dan selanjutnya secara berlahan mengalami penurunan hingga turun sampai 7,5 milyar diakhir tahun kesepuluh, kurva nilai pendapatan seperti ini

(45)

37 terjadi karena jumlah tangkapan diawal awal masih relatif tinggi biomassa ikan pada dua tahun pertama, selanjutnya pada tahun ketiga dan keempat meskipun terjadi rata rata penurunan hasil tangkapan setiap bulannya, namun pendapatan masih terus meningkat karena selisihantara penerimaan dan pengeluaran masih cukup tinggi akibatnya meskipun volume tangkapan ikan kerapu relatif menurun sejalan dengan menurunnya biomassa populasi namun, nilai pengeluaran belum megurangi signifikan nilai pendapatan disamping itu tambahan penerimaan hasil tangkapan non kerapu masih memberikan andil yang cukup sehingga nilai pendapatan masih terus meningkat ditahun 50, setelah itu kecenderungan pendapatan, mengidinkasikan adanya, pengaruh signifikan pengeluaran karena dengan biaya operasional yang sama, hasil tangkapan sudah menurun. Akibatnya dari waktu ke waktu terjadi penurunan sampai tahun kesepuluh, seperti ditunjukkan dalam grafik gambar 4a. Hasil simulasi pada skenario dua menunjukkan pola perubahan yang mirip pada skenario satu, namun dengan pola eksponensial dengan peningkatan diawal tidak setajam peningkatan pada skenario dua. Pola perubahan hasil tangkapan pada skenario dua menujukkan peningkatan dari awal sebesar 887,3 juta terus meningkat sampai pada bulan ke 74 (awal tahun ke 6) dan selanjutnya mengalami perubahan yang cenderung konstan hingga mencapai 20,96 mmilyar pada akhir tahun kesepuluh. Sebagaimana ditujukkan dalam gambar 4b. Pada skenario 3 terlihat perubahan kurva pendapatn yan cenderung linier meningkat dari 54,44 juta pada bulan pertama hingga mencapai 47,74 milyar pada tahun kesepuluh seperti ditunjukkan dalam gambar grafik 4c.

(46)

38 a

b

c

Gambar 18. Perubahan biomassa, penangkapan, pendapatan, penerimaan, dan pengeluaran, selama 10 tahun (120 bulan) berdasarkan hasil simulasi model pada skenario 1 pesimis (a) skenario moderat (b) dan skenario optimis (c).

Jika total nilai pendapatan diakumulasikan secara 120 bulan, maka didapatkan total pendapatan sebesar 1,90 triliun padaa skenario 1 kemudian 2,27 triliun pada skenario 2 dan 3,01 triliun pada skenario 3. Apabila dirata ratakan perbulan dengan membagi 120, maka

11:01 PM Fri, Nov 16, 2018 Untitled Page 1 0.00 30.00 60.00 90.00 120.00 Months 1: 1: 1: 2: 2: 2: 3: 3: 3: 4: 4: 4: 5: 5: 5: 0 100000 200000 0 10000 20000 0 1.5e+010 3e+010. 0 1e+009. 2e+009. 0 200000000 400000000

1: BIOM…I KERAPU2: Penangkapan 3: PENDAPATAN 4: Penerimaan 5: Pengeluaran

1 1 1 1 2 2 2 2 3 3 3 3 4 4 4 4 5 5 5 5 10:59 PM Fri, Nov 16, 2018 Untitled Page 1 0.00 30.00 60.00 90.00 120.00 Months 1: 1: 1: 2: 2: 2: 3: 3: 3: 4: 4: 4: 5: 5: 5: 0 100000 200000 0 10000 20000 0 1.5e+010 3e+010. 0 1e+009. 2e+009. 50000000 250000000 450000000

1: BIOM…I KERAPU2: Penangkapan 3: PENDAPATAN 4: Penerimaan 5: Pengeluaran

1 1 1 1 2 2 2 2 3 3 3 3 4 4 4 4 5 5 5 5 10:53 PM Fri, Nov 16, 2018 Untitled Page 1 0.00 30.00 60.00 90.00 120.00 Months 1: 1: 1: 2: 2: 2: 3: 3: 3: 4: 4: 4: 5: 5: 5: 160000 180000 200000 0 4500 9000 0 2.5e+010 5e+010. 0 500000000 1e+009. 100000000 300000000 500000000

1: BIOM…I KERAPU2: Penangkapan 3: PENDAPATAN 4: Penerimaan 5: Pengeluaran

1 1 1 1 2 2 2 2 3 3 3 3 4 4 4 4 5 5 5 5

(47)

39 terhitung rata rata pendapatan pada skenario satu sebesar 15,85 milyar pada sekenario satu, skenario dua 18,95 milyar dan 25,08 milyar pada skenario tiga. Jika kenaikan pendapatan pada skenario satu dan dua total pendapatn meingkat 19,52 % dan pada skenario 3 meningkat 58,24 % dari skenario satu. Secara khusus pengaruh pengeluaran untuk restocking terhadap peningkatan pendapatan maka pada skenario dua, peningkatan pengeluaran restocking dan bio operasional penangkapan jika dibandingkan dengan kenaikan pendapatn bahwa didapatkan bahwa setiap pengeluaran 1 rupiah menyebabkan kenaikan pendapatan sebesar 7,31 pada skenaria dua, dan 9,83 rupiah pada skenario 3. Dari hasil ini dapat disimpulkan bahwa, dampak dari melakukan restocking dapat menningkatkan 7x lipat dari pendapatan dari nilai pengeluaran pada skenario dua, dan hampir10x lipat (9,83) seknario 3, dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pengeuaran untuk restocking berdampak cukup bagus dalam meningkatkan pendapatan terutama dibarengi dengan perbaikan manajemen konservasi secaara efektif.

Biomassa ikan kerapu diteluk kwandang akan mengalami penurunan jika laju tangkap terus berlanjut sampai terus saat ini dan tidak diikuti dengan dengan kebijakan restocking manajemen konservasi . Apabila kegiatan restocking dilakukan dengan jumlah 10.000 ekor pertahundengan berat awal 50 sampai 75 gram dan kebijakan manajemen konservasi berjalan sedang, mampu menaikkan biomassa populasi ikan kerapu diteluk kwandang namun jumlahnya akan tetap menurun apabila terjadi peningkatan jumlah alat 5 sampai 10 % pertahun. Hal ini berarti bahwa penambahan jumlah alat sebesar 5 sampai 10 persen dari jumlah yang ada sekarang masih melampui laju penambahan populasi dari restocking dari 10.000 petahun dan pembatasan selama satu bulan pada musim pemijahan. Dengan peningkatan restocking 30.000 ekor pertahun yang dibarengi dengan manajemen konservasi yang efektif, dapat menyebakan stabilnya populasi ikan kerapu meskipun, jumlah alat bertambah 10 sampai 15 persen per tahunnya. Total pendapatan diperoleh selama 10 tahun dengan menerapkan skenario dua dapat meningkatkan pendapatan sebesar 31,36 milyar dari skenario satu dan meningkatkan 1,11 triliun pada skenario 3 selama 10 tahun

(48)

40 8.1Luaran yang dicapai

Pada penelitian ini target luaran yang dicapai ada dua yaitu artikel ilmiah yang dimuat pada jurnal ilmiah terakareditasi internasional dan prosiding nasional. Pada laporan 100% ini target luaran yang telah dicapai yaitu artikel ilmiah yang diterbitkan pada prosiding Seminar Nasional Perikanan dan Kelautan IV yang dilaksanakan pada Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Hasanuddin dan SEMNASKAN XVI UGM Yogyakarta.

BAB 6. RENCANA TAHAPAN BERIKUTNYA

Pada laporan ini, penyelesaian olah data menggunakan program Stella telah penulis selesaikan. Output sebagai pemakalah di seminar nasional telah dilaksanakan. Selain itu, masih ada luaran yang sementara direvisi yaitu artikel yang diterbitkan pada jurnal bereputasi internasional.

Jurnal Internasional direncanakan akan terbit bulan Desember di AACL Bioflux terindex Scopus Q3. Tambahan luaran penelitian lain pada bulan desember 2018, berupa Hak Kekayaan Intelektual berupa Karya Ilmiah dan Hak Paten Metode Analisis Model Dinamik Pengelolaan Perikanan Kerapu di Teluk Kwandang Kabupaten Gorontalo Utara.

Gambar

Gambar 1. Road map penelitian ikan kerapu di Teluk Kwandang  2.5 Kebaruan
Gambar 2. Lokasi Penelitian di Teluk Kwandang  4.2 Pengamatan  Parameter dan Analisis Data
Gambar 3. Bagan alir penelitian
Gambar 4. Distribusi TKG ikan kerapu tiap bulan
+7

Referensi

Dokumen terkait

Kontrol perilaku merupakan salah satu faktor penentu intensi individu dalam berperilaku.(12) Dalam hal ini memang sangat diperlukan adanya kontrol perilaku dari luar diri

Suatu kajian penyelidikan itu merupakan tatacara yang teratur yang digunakan oleh masyarakat untuk menambah ilmu pengetahuan atau menyelesaikan suatu masalah yang

Keadaan tersebut terjadi karena sering kali kendaraan yang keluar dari lahan parkir Gumaya Tower Hotel kembali lagi masuk dengan melalui ruas Jalan Gajah Mada

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konflik kerja dan stres kerja terhadap kepuasan kerja pegawai pada Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana

Dalam makalah ini akan dibahas mengenai konsep penerapan EAFM bagi perikanan malalugis di perairan Laut Sulawesi dengan menetapkan isu utama, tujuan operasional, langkah

Penyebab angka kematian bayi di kabupaten kebumen adalah BBLR 31%, asfiksia 14 %, cacatbawaan 11%, dan lain-lain 44 %.Pada tahun 2014 telah terjadi peningkatan

Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah terdapat pengaruh yang disignifikan antara Efektifitas Proses Bisnis Internal Rumah Sakit yang diukur dalam tingkat

masih banyak warga binaan pemasyarakatan yang bermalas-malasan dan enggan mengikuti kegiatan pembinaan yang ada didalam LAPAS kelas II B, Kendala persamaanya perlakuan