• Tidak ada hasil yang ditemukan

2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Ketimpangan Pembangunan Wilayah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Ketimpangan Pembangunan Wilayah"

Copied!
25
0
0

Teks penuh

(1)

2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Ketimpangan Pembangunan Wilayah

Beberapa faktor penyebab ketimpangan pembangunan antar wilayah sebagaimana yang dikemukakan Murty (2000), diantaranya adalah :

1. Faktor Geografis, suatu wilayah atau daerah yang sangat luas akan terjadi variasi pada keadaan fisik alam berupa topografi, iklim, curah hujan, sumberdaya mineral dan variasi spasial lainnya.

2. Faktor Historis, perkembangan masyarakat dan bentuk kelembagaan atau budaya serta kehidupan perekonomian pada masa lalu merupakan penyebab yang cukup penting terutama yang terkait dengan sistem insentif terhadap kapasitas kerja.

3. Faktor Politis, tidak stabilnya suhu politik sangat mempengaruhi perkembangan dan pembangunan di suatu wilayah. Instabilitas politik akan menyebabkan orang ragu untuk berusaha atau melakukan investasi sehingga kegiatan ekonomi di suatu wilayah tidak akan berkembang.

4. Faktor Kebijakan, terjadinya kesenjangan antar wilayah bisa diakibatkan oleh kebijakan pemerintah. Kebijakan pemerintah yang sentralistik hampir di semua sektor, dan lebih menekan pertumbuhan dan membangun pusat-pusat pembangunan di wilayah tertentu menyebabkan kesenjangan yang luar biasa antar daerah.

5. Faktor Administratif, kesenjangan wilayah dapat terjadi karena kemampuan pengelola administrasi. Wilayah yang dikelola dengan administrasi yang baik cenderung lebih maju.

6. Faktor Sosial, masyarakat dengan kepercayaan-kepercayaan yang primitif, kepercayaan tradisional dan nilai-nilai sosial yang cenderung konservatif dan menghambat perkembangan ekonomi. Sebaliknya masyarakat yang relatif maju umumnya memiliki institusi dan perilaku yang kondusif untuk berkembang.

7. Faktor Ekonomi, faktor ekonomi yang menyebabkan kesenjangan antar wilayah yaitu :

a) Perbedaan kuantitas dan kualitas dari faktor produksi yang dimiliki seperti: lahan, infrastruktur, tenaga kerja, modal, organisasi dan perusahaan;

(2)

b) Terkait akumulasi dari berbagai faktor. Salah satunya lingkaran kemiskinan, konsumsi rendah, tabungan rendah, investasi rendah, dan pemudian kondisi masyarakat yang tertinggal, standar hidup rendah, efisiensi rendah dan jumlah pengangguran meningkat namun diwilayah yang maju, masyarakat maju, standar hidup tinggi, pendapatan semakin tinggi, tabungan semakin banyak yang pada akhirnya masyarakat semakin maju;

c) Kekuatan pasar bebas telah mengakibatkan faktor-faktor ekonomi seperti tenaga kerja, modal, perusahaan dan aktifitas ekonomi seperti industri, perdagangan, perbankan, dan asuransi yang dalam ekonomi maju memberikan hasil yang lebih besar, cenderung terkosentrasi di wilayah maju;

d) Terkait dengan distorsi pasar, kebijakan harga, keterbatasan spesialisasi, keterbatasan ketrampilan tenaga kerja dan sebagainya.

Lebih lanjut, menurut Anwar (2005) terjadinya kesenjangan yang semakin melebar pada akhirnya menimbulkan kerawanan-kerawanan finansial, ekonomi, sosial, dan politik yang pada gilirannya melahirkan krisis multidimensi yang sulit diatasi. Ketidakseimbangan pembangunan antar wilayah/kawasan di satu sisi terjadi dalam bentuk buruknya distribusi dan alokasi pemanfaatan sumberdaya yang menciptakan inefisiensi dan optimalnya sistem ekonomi. Disisi lain, potensi konflik menjadi sedemikian besar karena wilayah-wilayah yang dulunya kurang tersentuh pembangunan mulai menuntut hak-haknya.

Selain itu, ketidakseimbangan pembangunan juga menghasilkan struktur hubungan antar wilayah yang membentuk suatu interaksi yang saling memperlemah. Wilayah hinterland menjadi lemah akibat adanya pengurasan sumberdaya yang berlebihan (backwash) yang mempengaruhi aliran bersih dan akumulasi nilai tambah di pusat-pusat pembangunan secara masif dan berlebihan sehingga terjadi akumulasi nilai tambah di kawasan-kawasan pusat pertumbuhan. Sebaliknya, kemiskinan di wilayah perdesaan semakin meningkat yang pada akhirnya mendorong terjadinya migrasi penduduk dari desa ke kota, sehingga kota dan pusat-pusat pertumbuhan menjadi melemah akibat munculnya urbanisasi (Anwar 2005).

Fenomena urbanisasi yang selama ini terjadi di Kota Palembang, dapat memperlemah perkembangan kota ini, yang dicirikan dengan berbagai bentuk permasalahan, seperti : munculnya daerah kumuh, banjir, tingginya angka

(3)

kemacetan dan kriminalitas. Hal ini mengakibatkan perkembangan wilayah perkotaan menjadi sarat dengan permasalahan-permasalahan sosial, lingkungan dan ekonomi yang semakin kompleks dan susah diatasi.

Diduga sejak tahun 1980-an, yaitu sejak diterapkannya kebijakan pembangunan dengan penekanan pada sektor industri, kesenjangan wilayah di Indonesia makin membesar, baik antar sektor, antar pelaku ekonomi, maupun antar wilayah (Nurzaman 2002)

Di Indonesia faktor-faktor penyebab terjadinya ketimpangan ekonomi antar provinsi atau wilayah, menurut Tambunan (2003), diantaranya adalah :

1) Konsentrasi Kegiatan Ekonomi Wilayah

Kosentrasi kegiatan ekonomi yang tinggi di daerah tertentu merupakan salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya ketimpangan atau disparitas pembangunan antar daerah. Daerah dengan konsentrasi kegiatan ekonomi tinggi cenderung tumbuh pesat, sedangkan daerah dengan tingkat konsentarsi ekonomi rendah akan cenderung mempunyai tingkat pembangunan dan pertumbuhan ekonomi yang lebih rendah.

Todaro (2000) menambahkan bahwa, justifikasi mengenai adanya hubungan disparitas dengan pertumbuhan ekonomi yang positif hingga saat ini masih menjadi perdebatan karena terdapat lima alasan, yakni :

(a) disparitas dan kemiskinan yang cukup besar dapat menciptakan kondisi dimana masyarakat miskin tidak dapat memperoleh kredit, tidak dapat membiayai anak-anaknya mendapatkan pendidikan yang lebih baik, tidak ada kesempatan investasi fisik maupun moneter yang membuat anak-anak menjadi beban finansial bagi pemerintah. Secara bersama-sama hal di atas menyebabkan pertumbuhan akan lebih rendah;

(b) Berdasarkan kenyataannya bahwa pelaku bisnis, politisi, dan komunitas kalangan kaya lainnya diketahui banyak menghabiskan pendapatannya untuk mengimpor barang-barang mewah, emas (perhiasan), rumah mewah, sehingga tidak ada investasi pada sumber-sumber yang produktif;

(c) Masyarakat dengan pendapatan rendah yang mana dimanifestasikan sebagai masyarakat yang memiliki tingkat kesehatan rendah, pendidikan rendah serta produktifitas yang juga rendah secara langsung dan tidak langsung akan mendorong pertumbuhan ekonomi yang lambat;

(4)

(d) Peningkatan tingkat pendapatan masyarakat miskin akan menstimulus keseluruhan peningkatan permintaan produk, yang pada akhirnya menciptakan kondisi pertumbuhan ekonomi yang semakin baik; dan (e) Disparitas pendapatan yang cukup lebar akan menjadi disinsentif dalam

pembangunan ekonomi. 2) Alokasi Investasi

Indikator lain yang juga menunjukkan pola serupa adalah distribusi investasi langsung, baik yang bersumber dari luar negeri (PMA) maupun dari dalam negeri (PMDN). Kurangnya investasi langsung di suatu wilayah membuat pertumbuhan ekonomi dan tingkat pendapatan masyarakat per kapita di wilayah tersebut rendah, karena tidak ada kegiatan-kegiatan ekonomi yang produktif seperti industri manufaktur.

3) Tingkat Mobilitas Faktor Produksi yang Rendah Antar Daerah

Kurang lancarnya mobilitas faktor produksi seperti upah/gaji dan tingkat suku bunga atau tingkat pengembalian dari investasi langsung antar provinsi juga merupakan penyebab terjadinya ketimpangan ekonomi regional. Relasi antara mobilitas faktor produksi dan perbedaan tingkat pembangunan atau pertumbuhan antar provinsi dapat dijelaskan dengan pendekatan analisis mekanisme pasar output dan pasar input. Perbedaan laju pertumbuhan ekonomi antar provinsi membuat terjadinya perbedaan tingkat pendapatan per kapita antar provinsi, dengan asumsi bahwa mekanisme pasar bersifat bebas, mempengaruhi mobilitas atau (re)alokasi faktor produksi antar provinsi. Jika perpindahan faktor produksi antar daerah tidak ada hambatan, maka pembangunan ekonomi yang optimal antar daerah akan tercapai dan semua daerah akan lebih baik.

4) Perbedaan Sumberdaya Alam Antar Provinsi

Pembangunan ekonomi di daerah yang kaya sumberdaya alam akan lebih maju dan masyarakatnya lebih makmur dibandingkan dengan daerah yang miskin sumberdaya alam.

5) Perbedaan Kondisi Demografis Antar Wilayah

Ketimpangan ekonomi regional di Indonesia juga disebabkan oleh perbedaan kondisi demografis antar provinsi, terutama dalam hal jumlah dan pertambahan penduduk, tingkat kepadatan penduduk, pendidikan, kesehatan, disiplin masyarakat dan etos kerja. Faktor-faktor ini mempengaruhi tingkat pembangunan dan pertumbuhan ekonomi melalui sisi

(5)

permintaan dan sisi penawaran. Dari sisi permintaan, jumlah penduduk yang besar merupakan potensi besar bagi pertumbuhan pasar, yang berarti faktor pendorong bagi pertumbuhan kegiatan-kegiatan ekonomi. Dari sisi penawaran, jumlah populasi yang besar dengan pendidikan dan kesehatan baik, disiplin dan etos kerja yang tinggi merupakan aset penting bagi produksi.

6) Kurang Lancarnya Perdagangan Antar Provinsi

Kurang lancarnya perdagangan antar daerah juga merupakan unsur yang turut menciptakan ketimpangan ekonomi regional di Indonesia. Ketidaklancaran tersebut disebabkan terutama oleh keterbatasan transportasi dan komunikasi. Perdagangan antar provinsi meliputi barang jadi, barang modal, input perantara, bahan baku, material-material lainnya untuk produksi dan jasa. Tidak lancarnya arus barang dan jasa antar daerah mempengaruhi pembangunan dan pertumbuhan ekonomi suatu provinsi.

Pembangunan regional yang berimbang merupakan sebuah pertumbuhan yang merata dari wilayah yang berbeda untuk meningkatkan pengembangan kapabilitas dan kebutuhan mereka. Hal ini tidak selalu berarti bahwa semua wilayah harus mempunyai perkembangan yang sama, atau mempunyai tingkat industrialisasi yang sama, atau mempunyai pola ekonomi yang sama, atau mempunyai kebutuhan pembangunan yang sama. Akan tetapi yang lebih penting adalah adanya pertumbuhan yang seoptimal mungkin dari potensi yang dimiliki oleh suatu wilayah sesuai dengan kapasitasnya. Dengan demikian diharapkan keuntungan dari pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan merupakan hasil dari sumbangan interaksi yang saling memperkuat diantara semua wilayah yang terlibat (Murty 2000).

2.2 Pendapatan Regional

Pendapatan regional sering didefinisikan sebagai nilai produksi barang-barang dan jasa-jasa yang diciptakan dalam suatu perekonomian di dalam suatu wilayah selama satu tahun atau tingkat pendapatan masyarakat pada suatu wilayah analisis (Tarigan 2004). Tingkat pendapatan regional dapat diukur dari total pendapatan wilayah ataupun pendapatan rata-rata masyarakat pada wilayah tersebut. Beberapa istilah yang sering digunakan untuk menggambarkan pendapatan regional, diantaranya adalah : 1) Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), jumlah nilai tambah bruto (gross value added) yang timbul dari seluruh

(6)

sektor perekonomian di suatu wilayah atau propinsi. Pengertian nilai tambah bruto adalah nilai produksi (output) dikurangi dengan biaya antara (intermediate cost). Komponen-komponen nilai tambah bruto mencakup komponen-komponen faktor pendapatan (upah dan gaji, bunga, sewa tanah dan keuntungan), penyusutan dan pajak tidak langsung neto. Jadi dengan menghitung nilai tambah bruto dari dari masing-masing sektor dan kemudian menjumlahkannya akan menghasilkan produk domestik regional bruto (PDRB); 2) Produk Domestitk Regional Neto (PDRN), PDRN dapat diperoleh dengan cara mengurangi PDRB dengan penyusutan. Penyusutan yang dimaksud disini adalah nilai susut (aus) atau pengurangan nilai barang-barang modal (mesin-mesin, peralatan, kendaraan dan yang lain-lainnya) karena barang modal tersebut dipakai dalam proses produksi. Jika nilai susut barang-barang modal dari seluruh sektor ekonomi dijumlahkan, hasilnya merupakan penyusutan keseluruhan. Tetapi bila PDRN di atas dikurangi dengan pajak tidak langsung neto, maka akan diperoleh PDRN atas dasar biaya faktor.

Ada tiga pendekatan untuk menghitung pendapatan regional dengan menggunakan metode langsung (Tarigan 2004), yaitu:

1. Pendekatan Pengeluaran; cara penentuan pendapatan regional dengan cara menjumlahkan seluruh nilai penggunaan akhir dari barang dan jasa yang diproduksi di dalam negeri. Kalau dilihat dari segi penggunaan maka total penyediaan atau produksi barang dan jasa itu digunakan untuk : konsumsi rumah tangga; konsumsi lembaga swasta yang tidak mencari untung; konsumsi pemerintah; pembentukan modal tetap bruto (investasi); perubahan stok, dan ekspor neto (total ekspor dikurangi dengan total impor).

2. Pendekatan Produksi; perhitungan pendapatan regional berdasarkan pendekatan produksi dilakukan dengan cara menjumlahkan nilai produksi yang diciptakan oleh tiap-tiap sektor produksi yang ada dalam perekonomian. Untuk menghitung pendapatan regional berdasarkan pendekatan produksi, maka pertama-tama yang harus dilakukan ialah menentukan nilai produksi yang diciptakan oleh tiap-tiap sektor di atas. Pendapatan regional diperoleh dengan cara menjumlahkan nilai produksi yang tercipta dari tiap-tiap sektor. 3. Pendekatan Penerimaan; pendapatan regional dihitung dengan cara

menjumlahkan pendapatan faktor-faktor produksi yang digunakan dalam memproduksi barang-barang dan jasa-jasa. Jadi yang dijumlahkan adalah: upah dan gaji, surplus usaha, penyusutan, dan pajak tidak langsung neto.

(7)

2.3 Konsep dan Peranan Pengembangan Wilayah

Menurut Rustiadi et al. (2009), ada 6 (enam) jenis konsep wilayah, antara lain :

(1) Konsep-konsep wilayah klasik, yang mendefinisikan wilayah sebagai unit geografis dengan batas-batas spesifik dimana komponen-komponen dari wilayah tersebut satu sama lain saling berinteraksi secara fungsional; (2) Wilayah homogen, yaitu wilayah yang dibatasi berdasarkan pada kenyataan

bahwa faktor-faktor dominan pada wilayah tersebut bersifat homogen, sedangkan faktor-faktor yang tidak dominan bisa bersifat heterogen. Pada umumnya wilayah homogen sangat dipengaruhi oleh potensi sumberdaya alam dan permasalahan spesifik yang seragam. Dengan demikian konsep wilayah homogen sangat bermanfaat dalam penentuan sektor basis perekonomian wilayah sesuai dengan potensi/daya dukung utama yang ada dan pengembangan pola kebijakan yang tepat sesuai dengan permasalahan masing-masing wilayah;

(3) Wilayah nodal, menekankan perbedaan dua komponen wilayah yang terpisah berdasarkan fungsinya. Konsep wilayah nodal diumpamakan sebagai suatu ”sel hidup” yang mempunyai inti dan plasma. Inti adalah pusat-pusat pelayanan/pemukiman, sedangkan plasma adalah daerah belakang (hinterland);

(4) Wilayah sebagai sistem, dilandasi atas pemikiran bahwa komponen-komponen di suatu wilayah memiliki keterkaitan dan ketergantungan satu sama lain dan tidak terpisahkan;

(5) Wilayah perencanaan adalah wilayah yang dibatasi berdasarkan kenyataan terdapatnya sifat-sifat tertentu pada wilayah baik akibat sifat alamiah maupun non alamiah sehingga perlu perencanaan secara integral;

(6) Wilayah administratif-politis, berdasarkan pada suatu kenyataan bahwa wilayah berada dalam satu kesatuan politis yang umumnya dipimpin oleh suatu sistem birokrasi atau sistem kelembagaan dengan otonomi tertentu. Perkembangan suatu wilayah secara alami ditentukan oleh karakter dari sumberdaya alam yang dimiliki oleh wilayah tersebut. Wilayah yang memiliki sumberdaya alam yang melimpah relatif akan lebih maju dibanding dengan wilayah yang miskin sumberdaya, khususnya pada awal perkembangannya.

(8)

Lebih lanjut Rustiadi et al. (2009) menambahkan bahwa, dalam perkembangan wilayah yang menjadi indikator penting adalah tingkat interaksi antara satu wilayah dengan wilayah lainnya. Wilayah-wilayah yang lebih berkembang pada dasarnya mempunyai tingkat interaksi yang lebih tinggi dibanding dengan wilayah lain yang belum berkembang. Interaksi itu sendiri terjadi karena adanya faktor aksesibilitas wilayah itu ke wilayah lain. Kemudahan akses ini menjadi faktor yang cukup penting dalam mendukung perkembangan suatu wilayah. Wilayah dengan akses yang lebih baik akan menyebabkan tingkat interaksi yang tinggi dengan wilayah lain sehingga menjadi lebih cepat berkembang. Faktor lain yang mendorong perkembangan wilayah adalah lokasinya yang berdekatan dengan pusat ekonomi atau pemerintahan. Lokasi yang dekat dengan pusat ekonomi atau pemerintahan umumnya akan lebih terpacu perkembangannya dibanding wilayah-wilayah yang relatif lebih jauh dan bisa jadi nantinya akan berkembang sebagai penyangga bagi wilayah pusat tersebut.

Pada era otonomi daerah saat ini, maka salah satu konsep pengembangan wilayah yang perlu mendapat perhatian adalah pengembangan ekonomi wilayah. Oleh karena itu, konsep pengembangan ekonomi wilayah harus berorientasi pada pertumbuhan ekonomi wilayah dengan menggali potensi produk unggulan daerah (Tukiyat 2002). Perbedaan perkembangan suatu wilayah akan membentuk suatu struktur wilayah yang berhirarki, dimana wilayah yang telah maju cenderung akan cepat berkembang menjadi pusat aktifitas baik perekonomian maupun pemerintahan. Wilayah yang sumberdaya alamnya kurang mendukung akan relatif kurang berkembang dan cenderung menjadi wilayah hinterland.

Keadaan ini diduga dapat menjadi faktor pendorong bagi sumberdaya manusia untuk bekerja ke wilayah yang lebih berkembang dalam rangka meningkatkan taraf hidupnya. Oleh karena itu, semakin sulit bagi wilayah ini untuk berkembang karena telah mengalami kekurangan sumberdaya manusia.

Pembangunan di wilayah pesisir seringkali memiliki hambatan, hal ini dijelaskan Budiharsono (2001), antara lain :

1. Indonesia merupakan negara kepulauan, dimana kegiatan-kegiatan pembangunan saat ini dipusatkan di bagian barat. Konsentrasi demikian menimbulkan isu pengembangan wilayah outer island yang dapat menyebabkan timbulnya berbagai masalah yang berdimensi wilayah.

(9)

2. Pembangunan masa lalu lebih menitikberatkan pada pembangunan daratan dari lautan, sehingga pembangunan pesisir relatif tertinggal. Masyarakat pesisir relatif lebih miskin dari wilayah daratan lainnya. Kondisi ini diperburuk dengan posisi politik nelayan yang relatif lemah dibanding dengan posisi lainnya.

3. Letak geografis Indonesia yang sangat dipengaruhi oleh faktor geologis dan ekologis yang menyebabkan keragaman lingkungan.

4. Keragaman kultural menyebabkan adanya perbedaan persepsi terhadap pembangunan.

5. Sifat pembangunan politik di Indonesia yang diwarnai oleh kekuatan politik wilayah.

Selain itu, kawasan pesisir dalam konteks ekonomi wilayah, memiliki posisi strategis di dalam struktur alokasi dan distribusi sumberdaya ekonomi sehingga dapat disebut sebagai wilayah yang memiliki locational rent yang tinggi. Nilai ekonomi kawasan pesisir, selain ditentukan oleh rent lokasi (locational rent), setidak-tidaknya juga mengandung tiga unsur rent lainnya, yakni : (1) ricardian rent, rent berdasarkan kekayaan dan kesesuaian sumberdaya yang dimiliki untuk berbagai penggunaan aktivitas ekonomi untuk berbagai aktivitas budidaya berdasarkan kesesuaiannya, seperti kesesuaian lahan tambak, kesesuaian fisik untuk pengembangan pelabuhan, dan sebagainya; (2) environmental rent, nilai atau fungsi kawasan yang didasarkan atas fungsinya di dalam keseimbangan lingkungan; dan (3) social rent, menyangkut manfaat kawasan untuk berbagai fungsi sosial (Rustiadi 2001)

2.4 Pemanfaatan Analisis Spasial dalam Konsep Geografis Perwilayahan

Gunawan (1998) menerangkan bahwa analisis spasial lebih terfokus pada kegiatan investigasi pola-pola dan berbagai atribut atau gambaran di dalam studi kewilayahan dan dengan menggunakan permodelan berbagai keterkaitan untuk meningkatkan pemahaman dan prediksi atau peramalan. Kejadian geografis, dapat berupa sekumpulan obyek-obyek titik, garis atau areal yang berlokasi di ruang geografis dimana melekat suatu gugus nilai-nilai atribut. Dengan demikian, analisis spasial membutuhkan informasi baik berupa nilai-nilai atribut maupun lokasi-lokasi geografis obyek-obyek dimana atribut-atribut melekat di dalamnya. Aplikasi SIG sudah banyak digunakan untuk pengelolaan penggunaan lahan di sektor pertanian, perikanan dan kehutanan, serta pembangunan pemukiman penduduk dan fasilitasnya. Hanya dalam beberapa tahun penggunaan SIG telah

(10)

tersebar luas pada bidang ilmu lingkungan, perairan dan sosial ekonomi. SIG juga telah digunakan di bidang militer, pemodelan perubahan iklim global dan geologi.

Lebih lanjut, Gunawan (1998) menambahkan bahwa, berbagai bentuk analisis spasial dapat dilakukan dengan menggunakan SIG termasuk di wilayah pesisir. Dalam kerangka konsep geografis, analisis spasial telah lama dikembangkan oleh para ahli geografi untuk memenuhi kebutuhan dalam memodelkan dan menganalisis data spasial dengan upaya memanipulasi data spasial ke dalam bentuk-bentuk dan mengekstrak pengertian-pengertian tambahan sebagai hasilnya. Analisis data spasial berbeda dengan spatial summarization of data untuk menciptakan fungsi dasar pengambilan informasi spasial secara selektif di suatu areal dengan pendekatan komputasi, tabulasi atau pemetaan dari berbagai statistik informasi yang dimaksudkan.

Berdasarkan proses pengumpulan informasi kuantitatif yang sistematis, tujuan analisis spasial adalah : (1) Mendeskripsikan kejadian-kejadian di dalam ruangan geografis (termasuk deskripsi pola) secara cermat dan akurat; (2) Menjelaskan secara sistematik pola kejadian dan asosiasi antar kejadian atau obyek di dalam ruang, sebagai upaya meningkatkan pemahaman proses yang menentukan distribusi kejadian yang terobservasi; (3) Meningkatkan kemampuan melakukan prediksi atau pengendalian kejadian-kejadian di dalam ruang geografis. Berdasarkan atas aplikasinya, analisis spasial digunakan untuk tiga tujuan, yakni: (1) peramalan dan penyusunan skenario; (2) analisis dampak terhadap kebijakan; (3) penyusunan kebijakan dan desain (Fischer et al. 1996, diacu dalam Rustiadi et al. 2009).

2.5 Penelitian Sebelumnya Mengenai Disparitas Antar Wilayah

Pembangunan wilayah, secara spasial tidak selalu merata sehingga seringkali ketimpangan pembangunan antar wilayah menjadi permasalahan serius bagi pemerintah. Mengukur ketimpangan hendaknya bersifat rasional untuk bisa membandingkan satu daerah dengan daerah lainnya karena tolak ukur ketimpangan pendapatan yang berasal dari pendapatan, pengeluaran, konsumsi (individu, kelompok) tidak sama halnya dengan ketimpangan pembangunan antar wilayah yang menggunakan PDRB, PDRB per kapita, penduduk, luas wilayah, nilai ekspor, produksi dan lain sebagainya.

Studi dan penelitian mengenai ketimpangan wilayah telah banyak dilakukan, beberapa diantaranya dengan melihat tingkat kesenjangan

(11)

pendapatan masyarakat dengan menggunakan indeks gini seperti studi yang dilakukan oleh Bappenas dan Unsri pada tahun 2008 di Provinsi Sumatera Selatan, namun hal tersebut belum cukup menggambarkan kondisi ketimpangan wilayah karena hanya melihat tingkat kesenjangan secara vertikal.

Studi lainnya yang cukup menarik adalah seperti yang dilakukan Hadi (2001) mengenai disparitas ekonomi antar wilayah dengan membandingkan ketimpangan yang terjadi di Kawasan Barat Indonesia (KBI) dan Kawasan Timur Indonesia, sedangkan Noegroho dan Soelistianingsih (2007) menganalisis disparitas pendapatan kabupaten/ kota di Propinsi Jawa Tengah dan pengaruhnya terhadap pertumbuhan ekonomi regional selama periode 1993-2005 dengan menghitung nilai entropi total Theil dari daerah kaya dan miskin seperti yang pernah dilakukan sebelumnya oleh Fujita dan Hu (2001) yang melakukan studi dengan mendekomposisi disparitas wilayah menjadi disparitas dalam wilayah pengembangan dan antar wilayah dalam wilayah pengembangan.

Selain itu, penggunaan metode analisis indeks Williamson dalam melihat ketimpangan-ketimpangan antar wilayah yang terjadi di beberapa tempat di Indonesia, telah banyak dimanfaatkan oleh beberapa peneliti, seperti Rahman (2009) menganalisis tingkat disparitas pembangunan antar wilayah yang terjadi di Kabupaten Sambas, Provinsi Kalimantan Timur dengan menguraikan faktor-faktor penyebabnya, sedangkan Gumilar (2009) melakukan hal yang sama dengan memfokuskan penelitiannya terhadap penentuan sektor basis yang potensial di wilayah pengembangan Garut Selatan, Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat.

2.6 Proses Hirarki Analitik dalam Pemilihan Prioritas Pembangunan Wilayah Pesisir

Proses Hirarki Analitik (PHA) yang dikenal dengan Analytical Hierarchy Process (AHP), pertama kali dikembangkan oleh Thomas L. Saaty, seorang ahli matematika dari University of Pittsburg Amerika Serikat pada tahun 1970-an. Menurut Saaty (1993), PHA adalah suatu pendekatan keputusan yang dirancang untuk membantu dalam solusi permasalahan multi kriteria yang kompleks pada sejumlah daerah aplikasi. PHA pada dasarnya di desain untuk menangkap secara rasional persepsi orang yang berhubungan sangat erat dengan permasalahan tertentu melalui prosedur yang didesain untuk sampai pada suatu skala preferensi diantara berbagai set alternatif. Metode ini ditemukan untuk menjadi pendekatan praktis dan efektif yang dapat mempertimbangkan

(12)

keputusan yang kompleks dan tidak terstruktur. Kelebihan dari PHA adalah kemampuan jika dihadapkan pada situasi yang kompleks atau tidak terkerangka. Situasi ini terjadi jika data, informasi statistik dari masalah yang dihadapi sangat minim atau tidak ada sama sekali. Data yang diperlukan kalaupun ada hanyalah bersifat kualitatif yang mungkin didasari oleh persepsi, pengalaman, ataupun intuisi.

Saaty (1993) mengemukakan bahwa tahapan dalam analisis data PHA adalah: (1) identifikasi sistem, (2) penyusunan struktur hirarki, (3) membuat matriks perbandingan/ komparasi berpasangan (pairwise comparison), (4) menghitung matriks pendapat individu, (5) menghitung pendapat gabungan, (6) pengolahan horisontal, (7) pengolahan vertikal, dan (8) revisi pendapat.

Saaty (1993) menambahkan bahwa beberapa keuntungan menggunakan PHA sebagai alat analisis, antara lain :

1. Memberikan model tunggal yang mudah dimengerti, luwes untuk beragam persoalan yang tidak terstruktur.

2. Memadukan rancangan deduktif dan rancangan berdasarkan sistem dalam memecahkan persoalan kompleks.

3. Mampu menangani saling ketergantungan elemen-elemen dalam satu sistem dan tidak memaksakan pemikiran linier.

4. Mencerminkan kecenderungan alami pikiran untuk memilah-milah elemen-elemen suatu sistem dalam berbagai tingkat berlainan dan mengelompokan unsur yang serupa dalam setiap tingkat.

5. Memberikan suatu skala dalam mengukur hal-hal yang tidak terwujud untuk mendapatkan prioritas.

6. Melacak konsistensi logis dari pertimbangan-pertimbangan yang digunakan dalam menetapkan berbagai prioritas,

7. Menuntun ke suatu taksiran menyeluruh tentang kebaikan setiap alternatif, 8. Mempertimbangkan prioritas-prioritas relatif dari berbagai faktor sistem dan

memungkinkan orang memilih alternatif terbaik berdasarkan tujuan-tujuan mereka,

9. Tidak memaksakan konsensus tetapi mensintesis suatu hasil yang representatif dari penilaian yang berbeda-beda,

10. Memungkinkan orang memperhalus definisi mereka pada suatu persoalan dan memperbaiki pertimbangan dan pengertian mereka melalui pengulangan.

(13)

3. METODE PENELITIAN

3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Provinsi Sumatera Selatan (Gambar 2) dengan mengamati tingkat perkembangan wilayah berdasarkan indikator kinerja pembangunan wilayah, yaitu : 1) berbasis tujuan, yakni pemerataan terhadap pertumbuhan ekonomi (produktivitas sektor); 2) berbasis kapasitas wilayah yang terdiri dari kapasitas sumberdaya buatan (fisik) dan manusia (sosial) di tiap kabupaten/kota selama 3 (tiga) bulan dimulai dari bulan Agustus hingga November 2009.

Gambar 2. Peta Administrasi Provinsi Sumatera Selatan.

3.2 Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data dilakukan dengan cara mengumpulkan data sekunder, yakni melakukan studi kepustakan dari publikasi data-data statistik oleh Badan Pusat Statistik (BPS), Dokumen-dokumen Perencanaan yang diterbitkan oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan dan sumber-sumber pustaka lain yang memiliki relevansi dengan topik penelitian, sedangkan pengumpulan data primer diperoleh dengan melakukan wawancara terhadap

(14)

para responden dengan kriteria yang digunakan mengacu terhadap indikator kinerja pembangunan wilayah, dari aspek ekonomi (pendapatan wilayah), aspek fisik (infrastruktur wilayah) dan aspek sosial (masyarakat). Responden ditentukan secara sengaja berdasarkan pertimbangan bahwa responden yang bersangkutan memiliki kemampuan dan pemahaman yang baik terhadap perkembangan pembangunan di wilayah, terutama di pesisir Sumatera Selatan. Jumlah responden sebanyak 15 orang dari pejabat aparatur pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten di wilayah pesisir, masing-masing dari 5 instansi yang berbeda, antara lain Badan Perencanaan Daerah, Dinas Kehutanan, Dinas PU Bina Marga, Dinas Kelautan dan Perikanan serta Dinas Pendapatan Daerah.

Jenis, sumber, cara pengumpulan dan analisis data berdasarkan tujuan yang ingin dicapai disajikan pada Tabel 1.

Tabel 1. Jenis, Sumber, Cara Pengumpulan dan Analisis Data.

No Tujuan Data Sumber Data Analisis

1 Mengidentifikasi sektor unggulan tiap kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Selatan

1. PDRB tahun 2003,2005

dan 2007 ; • BPS (sekunder) 1. LQ 2. Deskriptif

2 Menganalisis tingkat perkembangan wilayah tiap kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Selatan 1. PDRB tiap kabupaten tahun 2003-2007; 2. PODES tahun 2006 3. Jumlah tenaga kerja

sektoral tahun 2006 • BPS (sekunder) 1. Entropi; 2. Skalogram 3. Analisis Mulitivariat (analisis klaster & diskriminan) 3 Menganalisis tingkat disparitas pembangu-nan antar wilayah dan mendefinisikan faktor-faktor penyebabnya 1. PDRB tiap kabupaten tahun 2003-2007; 2. Jumlah Penduduk 2003-2007

3. Sumsel dalam Angka 2007 4. IPM 2007 • BPS (sekunder) 1. Indeks Williamson; 2. Indeks Theil; 3. Regresi Berganda 4. Deskriptif 4 Mengkaji strategi pembangunan dan pengembangan wilayah, terutama di pesisir Sumatera Selatan

1. Wawancara • Responden (primer) 1. Sintesis hasil analisis sebelumnya 2. AHP

(15)

3.3 Metode Analisis Data

3.3.1 Analisis Sektor Unggulan Wilayah

Location Quotient (LQ) merupakan metode analisis yang umum digunakan di bidang ekonomi geografi. Secara umum, metode analisis ini digunakan untuk menunjukkan lokasi pemusatan aktifitas di suatu wilayah. Disamping itu, LQ juga bisa digunakan untuk mengetahui kapasitas ekspor perekonomian suatu wilayah serta tingkat kecukupan barang/jasa dari produksi lokal suatu wilayah. Asumsi yang digunakan dalam analisis ini adalah (1) kondisi geografis relatif seragam, (2) pola-pola aktifitas bersifat seragam, dan (3) setiap aktifitas menghasilkan produk yang sama sehingga bentuk persamaan dari LQ sebagai berikut :

=

x

x

x

x

LQ

j i ij ij .. . . dimana :

LQij = rasio persentase dari total aktifitas pada sub wilayah ke-i

terhadap persentase aktifitas total terhadap wilayah yang diamati Xij = nilai PDRB di kabupaten/kota ke-i dan sektor ke-j

Xi. = total PDRB tiap sektor di kabupaten/kota ke-i X.j = total PDRB sektor ke-j di Provinsi Sumatera Selatan X.. = total PDRB Provinsi Sumatera Selatan.

Kriteria yang muncul dari perhitungan ini adalah:

jika LQ > 1 ;sektor basis artinya komoditas j di daerah penelitian memiliki keunggulan komparatif,

jika LQ = 1 ; sektor non basis artinya komoditas j di daerah penelitian tidak memiliki keunggulan, sehingga hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan di wilayah bersangkutan.

jika LQ < 1 ; sektor non basis: artinya komoditas j di daerah penelitian tidak dapat memenuhi kebutuhan daerahnya sendiri sehingga diperlukan pasokan dari luar daerah.

Asumsi yang digunakan dalam menghitung sektor unggulan di suatu wilayah adalah terdapat sedikit variasi dalam pola pengeluaran secara geografi Analisis keunggulan komparatif di Provinsi Sumatera Selatan menggunakan data

(16)

PDRB (ADHK 2000) tiap sektor tahun 2003, 2005 dan 2007 guna melihat perkembangannya.

Pengertian sektor basis (sektor unggulan) pada dasarnya harus dikaitkan dengan suatu bentuk perbandingan, baik itu perbandingan berskala internasional, regional maupun nasional. Dalam kaitannya dengan lingkup internasional, suatu sektor dikatakan unggul jika sektor tersebut mampu bersaing dengan sektor yang sama dengan negara lain. Sedangkan dengan lingkup nasional, suatu sektor dapat dikategorikan sebagai sektor unggulan apabila sektor di wilayah tertentu mampu bersaing dengan sektor yang sama yang dihasilkan oleh wilayah lain di pasar nasional atau domestik (Wijaya 1996). 3.3.2 Analisis Tingkat Perkembangan Wilayah

3.3.2.1 Analisis Perkembangan Diversifikasi Sektor Ekonomi (entropy analysis) Analisis indeks entropi digunakan untuk melihat hirarki wilayah dengan mengukur tingkat perkembangan suatu wilayah dan melihat sektor-sektor perekonomian yang dominan dan berkembang pada wilayah tersebut. Data yang digunakan untuk menghitung indeks entropi adalah nilai PDRB tiap kabupaten/kota terhadap PDRB Provinsi Sumatera Selatan tahun 2003, 2005 dan 2007. Prinsip pengertian indeks entropi ini adalah semakin beragam aktifitas atau semakin luas jangkauan spasial, maka semakin tinggi entropi wilayah. Artinya wilayah tersebut semakin berkembang. Persamaan umum entropy ini adalah sebagai berikut :

ij n i n j ij

P

P

S

= =

=

1 1

ln

dimana : S = tingkat perkembangan

Pij = Xij/ΣXij atau proporsi sektor ke-i di kabupaten/kota ke-j

S ≥ 0 (Untuk mengidentifikasi tingkat perkembangan terdapat ketentuan bahwa jika indeks S semakin tinggi maka tingkat perkembangan semakin tinggi); dengan Smaks = Ln(banyaknya aktivitas x banyaknya wilayah)

Sedangkan indeks entropi diperoleh dengan membagi nilai entropi (S) dengan nilai entropi maksimumnya (

maks

S S

IE= ) dengan nilai IE berkisar antara 0 (nol) sampai dengan 1 (satu) yang mengindikasikan tingkat keragaman suatu komponen aktivitas semakin berkembang (merata) dan begitu pula sebaliknya.

(17)

Analisis model entropi, menurut Saefulhakim (2006) merupakan salah satu konsep analisa yang dapat menghitung diversifikasi komponen aktivitas yang berguna untuk : (1) Memahami perkembangan suatu wilayah; (2) Memahami perkembangan atau kepunahan keanekaragaman hayati; (3) Memahami perkembangan aktifitas industri; (4) Memahami perkembangan aktifitas suatu sistem produksi pertanian dan lain-lain. Untuk mengetahui klasifikasi indeks entropi tiap kabupaten/kota dilakukan berdasarkan nilai hasil standar deviasi indeks entropi dan nilai rataannya. Nilai yang diperoleh digunakan untuk menentukan jumlah kelas, yakni rendah, sedang atau tinggi (Lampiran 4).

3.3.2.2 Analisis Skalogram

Secara umum, untuk melihat tingkat perkembangan hirarki di suatu wilayah terhadap wilayah lain yang dibatasi oleh administrasi kabupaten, terutama dalam hal sarana infrastruktur dengan menggunakan analisis skalogram. Penelitian ini menggunakan data Potensi Desa tahun 2006 dengan paramater yang diukur meliputi bidang sarana perekonomian, sarana komunikasi dan informasi, sarana kesehatan, sarana pendidikan terhadap jumlah penduduk tiap kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Selatan. Tahapan kegiatan pada analisis data dengan metode skalogram antara lain : (1) Melakukan pemilihan terhadap data yang bersifat kuantitatif; sehingga hanya yang data yang bersifat relevan saja yang digunakan; (2) Melakukan rasionalisasi data; (3) Melakukan seleksi terhadap data-data hasil rasionalisasi hingga diperoleh variabel untuk analisa skalogram yang mencirikan tingkat perkembangan masing-masing wilayah kabupaten/kota; (4) Melakukan standardisasi data terhadap variabel tersebut sebelum menentukan indeks perkembangan wilayah (IPW) di masing-masing kabupaten/kota, yakni dengan menggunakan rumus sebagai berikut :

Dev

Std

Y

Y

Z

ij j ij

min

Dimana :

Zij = nilai baku untuk kabupaten/kota ke-i dan jenis sarana ke-j Yij = jumlah sarana untuk kabupaten/kota ke-i dan jenis sarana ke-j Min Yj = nilai minimum untuk jenis sarana ke-j

(18)

Setelah proses pembakuan selesai kemudian dilakukan penjumlahan nilai baku tersebut untuk setiap desa. Untuk melihat struktur wilayah dilakukan sortasi data dimana wilayah yang mempunyai nilai yang paling besar diletakkan di barisan atas dan fasilitas yang paling banyak berada di kolom kiri. Indeks Perkembangan Wilayah dikelompokkan ke dalam tiga kelas hirarki, yaitu hirarki I (tinggi), hirarki II (sedang), dan hirarki III (rendah). Penentuannya didasarkan pada nilai hasil standar deviasi IPW dan nilai rataannya. Nilai yang didapat untuk selang hirarki dan digunakan untuk menentukan kelas hirarki dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Penentuan Nilai Selang Kelas Hirarki.

No. Kelas Nilai Selang (x) Tingkat Hirarki

1 Hirarki I X>[rataan + (St Dev. IPW)] Tinggi

2 Hirarki II rataan < X < (St Dev. IPW) Sedang

3 Hirarki III X < rataan Rendah

Menurut Budiharsono (2001), metode ini mempunyai beberapa keunggulan, antara lain : (1) Memperlihatkan dasar diantara jumlah penduduk dan tersedianya fasilitas pelayanan; (2) Secara cepat dapat mengorganisasikan data dan mengenal wilayah; (3) Membandingkan pemukiman-pemukiman dan wilayah-wilayah berdasarkan ketersediaan fasilitas pelayanan; (4) Memperlihatkan hierarki pemukiman atau wilayah; (5) Secara potensial dapat digunakan untuk merancang fasilitas baru dan memantaunya.

3.3.2.3 Analisis Multivariat (Tipologi Wilayah)

Analisa tipologi wilayah bertujuan untuk melihat karakteristik perkembangan wilayah berdasarkan indikator-indikator perkembangan wilayah, yaitu : aspek sosial, sarana dan prasarana wilayah serta aspek perekonomian dengan menggunakan Analisis Klaster dan Analisis Diskriminan.

Analisis Klaster/kelompok (Cluster Analysis)

Analisis kelompok merupakan salah satu teknik multivariat yang umumnya digunakan untuk mengelompokkan data ke dalam satu kelas yang mempunyai ciri-ciri tertentu yang sama dan bertujuan untuk menemukan kelompok alami dari satu kumpulan data. Analisis kelompok ini dilakukan untuk tujuan : (1) menggali/eksplorasi data ; (2) mereduksi data menjadi kelompok data baru dengan jumlah lebih kecil atau dinyatakan dengan

(19)

pengkelasan (klasifikasi) data, (3) menggeneralisasi suatu populasi untuk memperoleh suatu hipotesis, (4) menduga karakteristik data-data. Metode ini menggunakan perbedaan atau jarak euclidean antara nilai objek sebagai dasar pengelompokannya untuk membentuk suatu klaster. Analisis kelompok dilakukan setelah variabel tersebut diatas distandarisasi terlebih dahulu agar memudahkan dalam pengelompokannya. Metode klaster memanfaatkan metode tree clustering (quick clustering), sedangkan untuk melihat variabel penjelas tiap kelompok dilakukan dengan menggunakan metode K-mean clustering, guna mengetahui anggota kelompok variabel pada masing-masing wilayah kabupaten/kota. Dikarenakan terbatasnya data selama penelitian, maka variabel yang digunakan meliputi aspek ekonomi wilayah (PDRB per kapita tiap sektor tahun 2006), aspek fisik wilayah (jumlah fasilitas dan penggunaan lahan) dari data PODES 2006 dan aspek sosial (jumlah tenaga kerja per sektor tahun 2006) yang terdiri dari 27 variabel (Lampiran 4)

Analisis Diskriminan (Discriminant Function Analysis)

Tujuan dilakukan analisis diskriminan pada penelitian ini adalah agar mampu disusun fungsi pembatas antar kelompok wilayah. Dengan adanya fungsi kelompok antar gerombol wilayah tersebut maka akan dapat diukur perubahan nilai-nilai peubah yang digunakan dalam menyusun fungsi tersebut. Berdasarkan asumsi bahwa S = (fj , j=1,2,…,i), S adalah gugus kelompok dari wilayah yang belum diketahui sehingga klasifikasi sebelumnya akan diketahui jumlah kelompok serta anggota jenis wilayah dalam kelompok tersebut. Selanjutnya gugus S dapat dituliskan kembali menjadi S = (fjk, j=1,2,…,k), k = 1,…,K. (dengan asumsi jumlah kelompok adalah K). Analisis diskriminan menggunakan variabel-variabel dan unit analisis yang sama dengan analisis klaster, dengan kata lain merupakan analisis lanjutan dari analisis klaster yang berguna untuk mengetahui akurasi pengelompokan yang telah dilakukan sebelumnya. Selanjutnya hasil analisis klaster tersebut dihubungkan dengan batas administrasi menggunakan sistem informasi geografis untuk dapat mendeskripsikan pola atau variasi antar tipologi berdasarkan fasilitas wilayah.

Selanjutnya hasil analisis skalogram dan tipologi wilayah dihubungkan dengan batas administrasi masing-masing kabupaten/kota, menggunakan sistem informasi geografis untuk dapat mendeskripsikan pola atau variasi antar tipologi.

(20)

3.3.3 Analisis Disparitas Antar Wilayah

Disparitas yang terjadi di Provinsi Sumatera Selatan bersumber dari banyak hal, diantaranya yang diamati dalam penelitian ini adalah : 1) mengenai ketimpangan ekonomi dalam rangka pemerataan pertumbuhan (produktivitas perekonomian); 2) ketimpangan infrastruktur dengan membandingkan jumlah fasilitas dan prasarana wilayah; serta 3) ketimpangan sosial yang terjadi di Provinsi Sumatera Selatan dengan menggunakan data PDRB per kapita tahun 2003-2007, Potensi Desa tahun 2006 dan jumlah tenaga kerja sektoral tahun 2006.

3.3.3.1 Analisis Indeks Williamson

Indeks Williamson merupakan salah satu indeks yang digunakan dalam melihat disparitas yang terjadi antar wilayah dan lebih sensitif terhadap perubahan ketimpangan (Rahman 2009; Rustiadi et al. 2009; Portnov dan Felsenstein 2005). Indeks Williamson merupakan salah satu indeks yang paling sering digunakan untuk melihat disparitas antar wilayah secara horisontal.

Williamson pada tahun 1975 mengembangkan suatu indeks dalam mengukur tingkat disparitas wilayah yang diformulasikan sebagai berikut (Rustiadi et al, 2007) :

(

)

Y

p

Y

Y

I

i i

=

2 w dimana : Iw = Indeks Williamson

Yi = PDRB per kapita kabupaten/kota ke-i

Y =Rata-rata PDRB per kapita provinsi

pi = fi/n, dimana fi jumlah penduduk kabupaten/kota ke-i; dan n merupakan total penduduk Provinsi Sumatera Selatan.

Indeks ini menggunakan nilai PDRB per kapita tiap kabupaten/kota. Indeks Williamson akan menghasilkan indeks yang lebih besar atau sama dengan nol. Jika Yi =Ymaka akan dihasilkan indeks = 0, yang berarti tidak adanya ketimpangan ekonomi antar daerah. Indeks lebih besar dari 0 menunjukkan adanya ketimpangan ekonomi antar wilayah. Semakin besar indeks yang dihasilkan semakin besar tingkat ketimpangan antar kabupaten di suatu provinsi.

(21)

Menurut Rustiadi (2008), wilayah yang memiliki PDRB per kapita tinggi, dan jumlah penduduknya relatif kecil, tingkat kesenjangannya tidak terlalu tinggi. Namun, besaran PDRB per kapita suatu wilayah relatif moderat apabila dibandingkan dengan wilayah lain yang kecil dengan jumlah penduduknya relatif besar, sehingga akan menyebabkan kesenjangan secara keseluruhan.

3.3.3.2 Analisis Indeks Theil

Selain indeks Wiliamson, untuk mendekomposisi total disparitas menjadi kontribusi disparitas oleh kabupaten/kota atau untuk melihat kontribusi disparitas oleh sektor perekonomian (disparitas parsial), digunakan indeks Theil yang pernah dilakukan oleh Fujita dan Hu (2001), dengan persamaan :

=

= i i N i i

x

y

y

log

I

0 dimana :

I = indeks Theil (disparitas total)

yi = PDRB kabupaten/kota ke-i / PDRB provinsi atau PDRB sektor ke-i / PDRB sektor ke-i provinsi

xi = penduduk kabupaten/kota ke-i / penduduk provinsi atau jumlah tenaga kerja sektor ke-i / jumlah tenaga kerja sektor ke-i provinsi

yi [log(yi/xi)] = disparitas parsial

Selain itu, untuk mendekomposisi total disparitas wilayah menjadi disparitas antar wilayah (kawasan) atau disparitas dalam wilayah (antar kabupaten/kota) di Provinsi Sumatera Selatan, dengan menggunakan persamaan : g g g

I

Y

I

I

=

+

=

2 1 0

=

= g g g g

X

Y

Y

I

2

log

1 0 ∈

=

g S i i g

y

Y

=

g i g i S i g i g

X

x

Y

y

Y

y

I

g

log

(22)

dimana :

I0 = disparitas antar wilayah (kawasan) g g g I Y = 2 1

= disparitas antar kabupaten/kota

yi = PDRB kabupaten ke-i / PDRB provinsi; yg = jumlah yi

xi = penduduk kabupaten ke-i / penduduk provinsi; xg = jumlah xi

Manfaat dari pemakaian Indeks Theil adalah : (1) memungkinkan kita untuk membuat perbandingan selama kurun waktu tertentu; (2) Indeks ketimpangan entropi Theil juga dapat menyediakan pengukuran ketimpangan secara rinci dalam sub unit geografis selama periode tertentu; (3) mengkaji gambaran yang lebih rinci mengenai ketimpangan spasial, misalnya ketimpangan antar daerah dalam suatu provinsi dan antar sub unit daerah dalam suatu kawasan. Semakin besar nilai indeks Theil menunjukkan ketimpangan yang semakin membesar pula, demikian sebaliknya.

3.3.3.3 Analisis Penyebab Disparitas Antar Wilayah Kabupaten/kota

Untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi disparitas pembangunan antar wilayah di Provinsi Sumatera Selatan digunakan indikator yang dikelompokkan berdasarkan aspek ekonomi (pendapatan wilayah), fisik (penggunaan lahan) dan sosial (IPM) sebagai pendekatan terhadap terjadinya disparitas. Nilai dekomposisi dari disparitas total (2006) masing-masing kabupaten/kota digunakan sebagai variabel tujuan terhadap PDRB sektoral per kapita (2006), penggunaan lahan (2006) dan komponen IPM (2006) sebagai variabel bebas (Tabel 3). Penggunaan nilai dekomposisi tersebut karena dianggap sebagai pembentuk disparitas di Provinsi Sumatera Selatan.

Tabel 3. Variabel yang Digunakan Sebagai Faktor Penduga Penyebab Disparitas di Provinsi Sumatera Selatan.

Indikator Variabel 1 EKONOMI (pendapatan wilayah) PDRB sektor Pertanian 2 PDRB sektor Pertambangan

3 PDRB Sekunder

4 PDRB Tersier

5 FISIK (penggunaan lahan) Luas sawah

6 Luas non sawah

7 Luas kawasan terbangun 8 Luas hutan negara 9 SOSIAL (pembangunan manusia) Angka harapan hidup 10 Persentase melek huruf 11 Daya beli masyarakat

(23)

Fungsi yang terbentuk menyerupai persamaan regresi dengan komposisi disparitas tiap kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Selatan diduga dipengaruhi oleh variabel penggunaan lahan, produktivitas perekonomian dan angka harapan hidup, rasio melek huruf dan daya beli masyarakat tiap kabupaten/kota. Variabel-variabel yang memiliki nilai koefisien regresi terbesar, dianggap memiliki peranan penting dalam menyebabkan terjadinya disparitas wilayah di Provinsi Sumatera Selatan.

Adapun bentuk persamaan umumnya adalah : Y= f(X1,X2,X3,…,Xk) atau :

model regresi berganda dapat diturunkan menjadi : Y = 0 + 1X1 + 2X2 + … + i Xi +

dimana :

Y = Nilai dekomposisi dari disparitas total tiap kabupaten/kota

Xi = Variabel bebas, terdiri dari PDRB per kapita, luas penggunaan lahan, komponen IPM

i = Koefisien fungsi regresi = Residual

Y merupakan variabel tujuan yang nilainya tergantung dari k variabel bebas x1,….xk; yang diasumsikan bahwa nilai variabel bebas diketahui dan nilai 0,

1,…. k belum diketahui.

3.3.4 Analytical Hierarchy Process (AHP)

Untuk mengetahui isu yang mengemuka sebagai suatu prioritas kebijakan pembangunan wilayah dan kaitannya dengan ketimpangan, terutama yang ada di wilayah pesisir, penelitian ini melakukan analisis dengan menggunakan metode Analytical Hierarchy Process (AHP) guna mendapatkan nilai skor yang diperlukan dengan melibatkan 15 responden pejabat aparatur dari instansi-instansi terkait, yakni Badan Perencanaan Daerah, Dinas Kehutanan, Dinas PU Bina Marga, Dinas Kelautan dan Perikanan serta Dinas Pendapatan Daerah lingkup provinsi dan kabupaten wilayah pesisir. Data perbandingan berpasangan antara masing-masing kriteria dan alternatif diperoleh dari masing-masing 1 (satu) orang dari unsur aparatur pejabat dari pemerintah daerah provinsi dan kabupaten yang berada di wilayah pesisir (administratif), yakni : Kabupaten Ogan Komering Ilir dan Banyuasin.

Tujuan utama yang ingin diperoleh dari penggunaan dari metode AHP ini adalah prioritas yang perlu dilakukan untuk pembangunan wilayah pesisir di

(24)

Provinsi Sumatera Selatan dengan menggunakan teknik pengambilan sampel responden secara purposive sampling, dengan kriteria bahwa responden memahami kebijakan pembangunan wilayah pesisir di Provinsi Sumatera Selatan agar jawaban yang diperoleh dapat mencerminkan kondisi yang lebih realistis dalam perumusan prioritas dan arahan kebijakan pembangunan.

Kriteria yang dibentuk untuk prioritas pembangunan di wilayah pesisir Sumatera Selatan terhadap responden juga berdasarkan pendekatan dari indikator kinerja pembangunan wilayah, yaitu infrastruktur wilayah (jalan, fasilitas), pendapatan wilayah (PDRB) dan kesejahteraan masyarakat (penyerapan tenaga kerja dan pendapatan) sebagai indikator sosial sedangkan alternatif tujuan yang dipakai dalam model AHP merupakan sektor-sektor unggulan yang terdapat di kabupaten pesisir berdasarkan hasil analisis sebelumnya.

Hirarki disusun berdasarkan kriteria dan alternatif yang dijadikan pertimbangan dalam pemilihan prioritas penggunaan sebagai tujuan (Gambar 3).

Data perbandingan berpasangan antara masing-masing kriteria dan alternatif diperoleh dari 15 orang responden masing-masing 1 orang dari unsur aparatur pejabat dari pemerintah daerah provinsi dan kabupaten di wilayah pesisir tersebut.

Kriteria

S

SEKTOR UNGGULAN

PENDAPATAN WILAYAH INFRASTRUKTUR WILAYAH KESEJAHTERAAN MASYARAKAT

PERTANIAN INDUSTRI BANGUNAN

PENGOLAHAN

PRDG, HOTEL

& RESTO JASA

PRIORITAS PEMBANGUNAN WILAYAH PESISIR SUMATERA SELATAN Tujuan

Alternatif

Gambar 3. Diagram Hirarki Pemilihan Prioritas Pembangunan di Wilayah Pesisir, Provinsi Sumatera Selatan.

(25)

Selanjutnya, alur proses dan analisis-analisis yang digunakan dalam penelitian ini, disajikan oleh Gambar 4.

Gambar 4. Kerangka Analisis Penelitian.

TINGKAT PERKEMBANGAN WILAYAH DI PROVINSI SUMATERA SELATAN ANALISI ENTROPI; ANALISIS SKALOGRAM

DAN ANALISIS MULTIVARIAT IDENTIFIKASI

SEKTOR-SEKTOR UNGGULAN ANALISIS LOCATION QUESTION (LQ)

PRIORITAS DAN ARAHAN PEMBANGUNAN WILAYAH PESISIR SUMATERA SELATAN

PEMBANGUNAN ANTAR WILAYAH PROVINSI SUMATERA SELATAN

DISPARITAS ANTAR WILAYAH

ANALISIS INDEKS WILIAMSON; ANALISIS INDEKS THEIL; ANALISIS REGRESI

BERGANDA; DESKRIPTIF

PERSEPSI APARATUR DALAM PEMBANGUNAN WILAYAH PESISIR

AHP

Gambar

Gambar 2. Peta Administrasi Provinsi Sumatera Selatan.
Tabel 1. Jenis, Sumber, Cara Pengumpulan dan Analisis Data.
Tabel 2. Penentuan Nilai Selang Kelas Hirarki.
Tabel 3. Variabel yang Digunakan Sebagai Faktor Penduga Penyebab Disparitas  di Provinsi Sumatera Selatan
+3

Referensi

Dokumen terkait

Surat keterangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 berbentuk empat persegi panjang dalam posisi vertikal dengan kertas berukuran 33 cm x 21,5 cm (tiga puluh tiga sentimeter

Kawunganten 75.000.000 1 Kegiatan Konstruksi Pengadaan langsung 363 Rehabilitasi Ruang Kelas SMP Sultan Agung Desa Kawunganten

Sedangkan di Puskesmas Adimulyo, dari sasaran sejumlah 3.398 PUS, yang sudah dilakukan pemeriksaan IVA sebanyak 825 perempuan (24,27%) dengan IVA (+) 133 kasus dan curiga kanker

Sementara untuk tujuan makalah ini adalah merancang Sinkronisasi dan CS pada audio watermarking, menganalisis kualitas audio yang sudah disisipkan watermark dibandingkan

1) Hipertermi berhubungan dengan proses inflamasi. 2) Kelebihan volume cairan berhubungan dengan gangguan mekanisme regulasi. 3) Nyeri berhubungan dengan distensi abdomen. 4)

Dimana apabila menunjukan status tersedia dari sebuah sarana pada suatu tanggal tertentu itu artinya sarana tersebut masih bisa untuk dilakukan pemesanan karena

Penelitian ini merupakan pengembangan dari penelitian yang dilakukan oleh Ayu Sari dan Rina Harimurti dengan judul Sistem Pakar untuk Menganalisis Tingkat Stres Belajar pada Siswa

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi saya yang berjudul “OPTIMALISASI EKSTRAKSI SENYAWA (E)-4-(3,4-DIMETOKSIFENIL) BUT-3-EN-1-OL DARI BENGLE (Zingiber montanum)