• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN PRAKTIKUM UJI PELARUTAN docx.docx

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "LAPORAN PRAKTIKUM UJI PELARUTAN docx.docx"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN PRAKTIKUM SERAT TEKSTIL 1

UJI PELARUTAN

DISUSUN OLEH

Nama

: HELMINA ANDAMI

NPM

: 16020090

Group

: 1K3

Dosen

: Khairul U., S.ST., MT.

Asisten Dosen

: 1. Luciana, S.Teks, M.Pd

2. Witri A. S., S.ST.

Tanggal Dikumpul : 26 April 2017

(2)

KIMIA TEKSTIL

POLITEKNIK STT TEKSTIL BANDUNG

2016/2017

(3)

I. MAKSUD DAN TUJUAN

Mengetahui dan memahami klasifikasian sifat serat berdasarkan sifat kimia dengan melakukan uji pelarutan.

II. DASAR TEORI 2.1 Pengertian Serat

Serat adalah suatu benda halus yang mempunyai perbandingan panjang dan diameter yang sangat besar. Serat adalah suatu material yang berbentuk halus dan memiliki perbandingan panjang dan diameter yang besar. Serat biasa digunakan untuk bahan tekstil, entah itu tekstil pakaian, tekstil rumah tangga, tekstil untuk konstruksi, tekstil untuk industri ataupun tekstil untuk kesehatan. Dewasa ini, serat tekstil sangat dibutuhkan oleh semua individu. Dikarenakan serat penting untuk kehidupan sehari-hari, tanpa serat mungkin kita akan kekurangan kebutuhan.

Serat terbagi menjadi 2 yaitu serat alam dan serat buatan. Adapula yang dikatakan sebagai serat semi buatan. Serat alam umumnya terdiri dari selulosa, protein dan mineral disebut serat alam karena seratnya sudah tersedia di alam. Sedangkan serat buatan ada yang terdiri dari selulosa, polimer non selulosa, protein, karet, metalik dan mineral. Dibedakan dengan serat alam karena bentuk seratnya belum tersedia di alam namun harus diproses terlebih dahulu untuk menjadi serat.

Serat yang digunakan dalam uji pelarutan ini antara lain :

1. Kapas

Sebagian besar, kapas tersusun atas selulosa maka sifat-sifat kimia kapas adalah sifat kimia selulosa. Serat kapas pada umumnya tahan terhadap kondisi penyimpanan, pengolahan, dan pemakaian yang normal, tetapi beberapa zat oksidasi atau penghidrolisa menyebabkan penurunan kekuatan serat. Jika kerusakan dikarenakan oksidasi dengan terbentuknya oksi selulosa

(4)

biasanya terjadi dalam proses pemutihan yang berlebihan, penyinaran dalam keadaan lembab, atau pemanasan yang lama (suhu > 140oC)

Asam-asam akan menyebabkan hidrolisa ikatan-ikatan glukosa dalam rantai selulosa membentuk hidroselulosa. Asam kuat akan menyebabkan degradasi yang cepat, asam encer apabila dibiarkan mongering akan menyebabkan penurunan kekuatan. Alkali mempunyai sedikit pengaruh terhadap kapas, kecuali larutan alkali kuat dengan konsentrasi yang tinggi menyebabkan penggelembungan yang besar pada serat, seperti dalam proses merserisasi.

2. Rayon Viskosa

Rayon viskosa lebih cepat rusak oleh asam dibandingkan dengan kapas terutama dalam keadaan panas. asam encer dingin dalam waktu singkat biasanya tidak berpengaruh. Namun apabila pada suhu tinggi, asam encer dapat merusak rayon viskosa. Rayon viskosa tahan pelarut-pelarut untuk pencucian kering.

3. Rami

Sifat kimia yang dimiliki rami hamper sama dengan kappa dikarenakan rami dan kapas termasuk serat alam, yang mengandung banyak selulosa, walaupun kandungan selulosa yang dimiliki rami tidak sebanyak kapas. Sifat selulosa pada umumnya tidak tahan asam kuat.

4. Sutera

Seperti protein-protein yang lain sutera bersifat amfoter dan menyerap asam dan basa dari laruatan encer. Sutera tidak mudah diserang oleh larutan encer hangat. Namun apabial terkena larutan asam kuat maka sutera akan larut dan rusak. Dibandingkan dengan wool, sutera kurang tahan asam namun lebih tahan terhadap alkali, walaupun dalam konsentrasi rendah pada suhu tinggi akan terjadi kemunduran kekuatan. Sutera kurang tahan terhadap zat-zat oksidator dan sinar matahari.

(5)

5. Wool

Wool bersifat amfoter, yaitu dapat bereaksi dengan asam maupun basa. Adsorpsi asam atau basa akan memutuskan ikatan garam, tetapi dapat kembali lagi. Wool tahan asam, kecuali asam pekat panas karena dapat memutuskan ikatan peptida. Wool juga mudah sekali rusak oleh alkali karena ikatan lintang disulfida putus.

6. Poliester

Poliester adalah serat buatan. Poliester tidak tahan asam kuat yang panas walaupun dengan waktu yang lama. Salah satu contohnya adalah polyester akan rusak apabila ditambahkan HCl mendidih.

7. Poliakrilat

Pada umumnya, poliakrilat tahan terhadap asam-asam mineral dan pelarut-pelarut, minyak-minyak, lemak-lemak dan garam-garam mineral. Namun, poliakrilat kurang tahan terhadap alkali kuat, terutama dalam keadaan panas akan merusak serat dengan cepat.

8. Poliamida

Nylon atau poliamida tahan terhadap asam-asam encer, tetapi dengan asam Khlorida pekat mendidih selama beberapa jam, maka akan terurai.

Nylon sangat tahan terhadap basa.

2.2 Identifikasi Serat Tekstil

Identifikasi serat terutama didasarkan pada beberapa sifat khusus dari serat yaitu morfologi, sifat kimia dan sifat fisika serat. Pengamatan dengan mikroskop meliputi pengamatan penampang membujur dan melintang, dimensinya adanya lumen dan sebagainya.

(6)

Pengujian kimia dari serat dilakukan secara makro maupun diamati di bawah mikroskop, pengujian ini meliputi :

- Uji pelarutan - Uji pewarnaan

Selain uji kimia dan morfologi biasanya di tambah uji fisika yaitu : - Uji pembakaran

- Berat jenis

- Titik leleh untuk serat-serat sintetik

Untuk dapat mengidentifikasi jenis serat tidak dapat dilakukan hanya satu cara uji saja, tetapi dengan penggabungan berbagai cara uji, baru dapat ditentukan jenis serat yang di uji.

2.3 Uji Pelarutan

Uji pelarutan berhubungan dengan sifat kimia dari masing-masing serat. Uji ini sangat penting terutama untuk serat-serat buatan yang mempunyai morfologi hampir sama. Dengan melihat kelarutan serat-serat buatan pada berbagai pelarut dapat disimpulkan jenis seratnya. Prinsip pengujiannya adalah melarutkan serat pada beberapa pelarut, kemudian diamati sifat kelarutannya. Adapun pelarut yang umum digunakan adalah :

NO JENIS SERAT PELARUT

1. Serat nylon Asam klorida 1 : 1

(7)

Telah diketahui bahwa serat-serat tekstil tersusun atas polimer-polimer,kemudian polimer-polimer tersebut saling terikat satu sama lain. Penyusun pengikat antar polimer tersebut, antara lain :

 IKATAN HIDROGEN

Ikatan dimana atom hidrogen dihubungkan dengan dua atom lain. Ikatan ini terdapat diantara dua gugus fungsional di dalam satu atau dua molekul.

 GUGUS HIDROKSIL

Gugus ini biasanya memudahkan kelarutan dalam air. Gugus ini mempunyai kemampuan untuk menarik gugus hidroksil yang lain dari serat maupun dari atomnya sendiri,sehingga serat akan mudah menyerap air.

3.

Rayon Viskosa, Serat Nylon, Serat kapas

Asam sulfat 59,5 %

4. Serat wol dan sutera NaOCl

5. Serat poliester Metil salisilat

6. Poliester NaOH 45 %

7. Serat poliester Meta Cresol

8. Poliakrilat DMF

9. wol, poliakrilat dan nylon Asam Nitrat

10. Serat wol dan sutera KOH 10%

11. Serat wol dan sutera NaOH 10%

12. Serat Nylon Asam Formiat (HCOOH)

(8)

 GUGUS KARBOKSIL

Mempunyai sifat yang sama dengan gugus hidroksil,tetapi jika lebih bersifat asam maka lebih mudah bereaksi dengan zat-zat lain.

III. ALAT DAN BAHAN

1.1 Alat

 Tabung reaksi

 Batang pengaduk kaca

 Rak Tabung

 Pembakar bunsen gas

 Rak tabung reaksi

 Piala gelas 300 ml

 Penjepit kayu

1.2 Bahan

Bermacam-macam serat :

1. Kapas 7. Poliakrilat 2. Rayon Viskosa 8. Poliamida/Nylon 3. Rami 9. Poliester : kapas 4. Sutera 10. Poliester : wol

(9)

5. Wol 11. Poliester : rayon Asetat 6. Poliester 12. Cuproamonium

Bermacam-macam zat kimia :

1. HCl 1:1 7. HNO3

2. H2SO4 59.5 % 8. Metil Salisilat 3. H2SO4 70 % 9. Aseton

4. NaOCl 10. Asam Format

5. NaOH 10 % 11. KOH 5 %

6. NaOH 45 % 12. HCOOH

IV. CARA KERJA

1. Bersihkan alat alat yang akan digunakan pada praktikum uji pelarutan

2. 5 ml pereaksi yang digunakan dimasukkan ke dalam tabung reaksi dengan hati-hati

3. Beberapa helai serat yang akan di uji digulung membentuk gumpalan ( jangan terlampau banyak) dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang telah berisi pereaksi

4. Serat yang berada di dalam larutan pereaksi diaduk-aduk dan diamati kelarutannya selama 10 menit

5. Pada pelarut KOH 10%, NaOH 10%, NaOH 45 % jika setelah 10 menit ternyata serat tidak larut, maka pelarut yang berisi serat dapat dipanaskan dan diamati kelarutannya selama 10 menit dalam keadaan panas.

6. Catat semua sifat kelarutan serat pada masing masing jenis pelarut pada lembar hasil pemeriksaan.

7. Khusus untuk pelarut metil salisilat, praktikum dilakukan langsung melakukan pelarutan serat pada suhu pelarut yang mendidih.

(10)

V. DATA PERCOBAAN

Data percobaan berupa jurnal hasil praktikum yakni terlampir.

VI. DISKUSI / PEMBAHASAN

Telah dilakukan praktikum “ Analisa Serat dengan Uji Pelarutan ” untuk mengidentifikasi sifat serat tekstil tersebut dimana serat itu dilarutkan kedalam jenis-jenis pelarut yang sudah ditentukan. Ada beberapa yang harus diperhatikan pada saat melakukan praktikum:

1. Tabung reaksi harus bersih terlebih dahulu

2. Uji seratnya jangan terlalu banyak, jika terlalu banyak maka pengamatan tidak akan sesuai dengan teorinya

3. Dalam setiap pengadukan kita harus sabar dan harus memiliki tingkat ketelitian yang bagus, mengaduk maksimal 5 menit sekali, dan hati-hati dalam melakukan praktikum karena menggunakan zat-zat kimia yang sangat berbahaya

4. Pengamat jangan terlalu cepat menyimpulkan keadaan serat ; bila waktu pelarutan serat sesuai yang telah ditentukan ( dalam arti menyerap cairan penguji )

Dari beberapa contoh ketidaksesuaian data yang praktikan peroleh maka dapat diberikan sedikit penjelasan, bahwa kesalahan tersebut dapat disebabkan antara lain oleh:

1. Terdapatnya beberapa serat yang rusak (ditandai dengan berubahnya warna larutan ) akibat terlalu pekatnya larutan atau keadaan awal serat yang memang telah rusak.

2. Gumpalan serat yang terlalu besar sehingga untuk serat yang seharusnya larut menjadi lama untuk larut akibatnya praktikan terlalu cepat menyimpulkan.

(11)

3. Lamanya pengadukan atau pemanasan sehingga dapat terjadi serat larut bukan karena proses reaksi dengan larutan tersebut akan tetapi menjadi larut sebagian dikarenakan proses mekanik dalam pengadukan tersebut.

Analisa serat dengan metode pelarutan praktikan dapat menentukan jenis serat secara pasti, tetapi dalam pengerjaannya memerlukan pengulangan agar diperoleh hasil yang akurat, juga memerlukan jaminan kehigienisan dari alat – alat dan bahannya.

VII. KESIMPULAN

Pada uji pelarutan, dalam menganalisa serat harus seteliti mungkin, bila tidak teliti maka analisa tentang serat tersebut akan salah. Bahan awal serat dan jenis serat yang menjadi bahan dasarnya sangat berpengaruh dan dapat diketahui melalui pelarutan ini.

Dan dari data percobaan yang diperoleh maka dapat disimpulkan :

 Apabila serat tidak larut maka serat tidak berubah.

 Apabila serat larut maka serat akan bersatu dengan zat tersebut dan akan larut.

 Apabila serat rusak maka serat akan berubah warna menjadi kuning atau warna lain.

 Apabila serat larut sebagian maka serat akan hancur sebagiandan masih terdapat sisa.

(12)

NO PELARUT

KETERANGAN

SERAT LARUT SERAT TIDAK LARUT

1. H2SO4 59.5 %

Rayon Viskosa, Rayon Asetat, Sutera, Kapas, Poliamida

(Nylon), Cuproamonium

Rami, Wool, Poliester, Poliester Rayon, Poliester

Wool, Poliester Kapas, Poliakrilat

2. H2SO4 70 %

Kapas, Rami, Rayon Viskosa, Rayon Asetat, Sutera,

Poliamida (Nylon), Cuproamonium

Wool, Poliester, Poliester Rayon, Poliester Wool,

Poliester Kapas, Poliakrilat

(13)

3. HCl 1 : 1 Poliamida (Nylon)

Wool, Poliester, Poliester Rayon, Poliester Wool,

Rayon Asetat, Cuproamonium, Poliester Kapas, Poliakrilat, Sutera,

Kapas, Rami, Rayon Viskosa

4. HNO3

Sutera, Wool, Poliester, Poliakrilat, Poliamida (Nylon), Rayon Asetat, Cuproamonium

Poliester Rayon, Poliester Wool, Poliester Kapas,

Kapas, Rami, Rayon Viskosa

5. Asam Formiat Poliamida (Nylon), Rayon Asetat

Poliester, Sutera, Poliester Rayon, Poliester Wool, Kapas, Poliester Kapas, Poliakrilat, Kapas, Rami,

Rayon Viskosa, Cuproamonium

6. NaOCl Sutera, Wool

Poliester, Poliester Rayon, Poliester Wool, Poliester Kapas, Poliakrilat, Kapas,

Rami, Rayon Viskosa, Poliamida (Nylon), Rayon

(14)

7. Aseton Rayon Asetat

Poliester, Sutera, Wool, Poliester Rayon, Poliester

Wool, Poliester Kapas, Poliakrilat, Kapas, Rami, Rayon Viskosa, Poliamida

(Nylon), Cuproamonium

8. KOH 10 %

Wol

Poliester, Sutera, Poliester Rayon, Poliester Wool,

Poliester Kapas, Poliakrilat, Kapas, Rami, Rayon Viskosa, Poliamida

(Nylon), Rayon Asetat, Cuproamonium

↑ Sutera, Wool

Poliester, Poliester Rayon, Poliester Wool, Poliester Kapas, Poliakrilat, Kapas,

Rami, Rayon Viskosa, Poliamida (Nylon), Rayon

Asetat, Cuproamonium,

9. NaOH 10 % Sutera, Wool, Rayon

Viskosa

Poliester, Poliester Rayon, Poliester Wool, Poliester Kapas, Poliakrilat, Kapas, Rami, Poliamida (Nylon),

Rayon Asetat, Cuproamonium

(15)

↑ Sutera, Wool, Rayon Viskosa, Poliester

Poliester Rayon, Poliester Wool, Poliester Kapas, Poliakrilat, Kapas, Rami, Rayon Viskosa, Poliamida

(Nylon), Rayon Asetat, Cuproamonium,

10. NaOH 45 %

Sutera, Wool, Rayon Viskosa

Poliester, Poliester Rayon, Poliester Wool, Poliester Kapas, Poliakrilat, Kapas, Rami, Poliamida (Nylon),

Rayon Asetat, Cuproamonium

↑ Sutera, Wool, Rayon Viskosa, Poliester

Poliester Rayon, Poliester Wool, Poliester Kapas, Poliakrilat, Kapas, Rami, Rayon Viskosa, Poliamida

(Nylon), Rayon Asetat, Cuproamonium,

(16)

11. Metil Salisilat

-

Poliester, Sutera, Poliester Rayon, Poliester Wool,

Poliester Kapas, Poliakrilat, Kapas, Rami, Rayon Viskosa, Poliamida

(Nylon), Rayon Asetat, Cuproamonium, wool.

↑ Poliester, Rayon Asetat

Sutera, Poliester Rayon, Poliester Wool, Poliester Kapas, Poliakrilat, Kapas,

Rami, Rayon Viskosa, Poliamida (Nylon), Cuproamonium, wool.

(17)

VIII. DAFTAR PUSTAKA

Pedoman Praktikum Idenfikasi Serat Tekstil. 2013. Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil. Bandung

Referensi

Dokumen terkait