EFEK HORMONAL PADA OVULASI DAN PEMIJAHAN IKAN
Oleh :
Nama : Alin Nurcahyani NIM : B1J012186 Rombongan : IV Kelompok : 4
Asisten : Evelin Agusti Tjasmana
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI PURWOKERTO
2014
I. PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Pemijahan merupakan peristiwa bertemunya ikan jantan dan ikan betina dengan tujuan dapat terbuahinya sel telur ikan betina oleh spermatozoa ikan jantan. Pembuahan pada ikan umumnya terjadi di luar tubuh. Pemijahan buatan (inducet breeding) yaitu perangsangan ikan untuk kawin. Cara ini dikenal dengan teknik hipofisasi melalui pemberian suntikan hormon pada tubuh ikan. Hipofisasi merupakan suatu cara merangsang ikan untuk memijah atau terjadinya pengeluaran telur ikan dengan suntikan kelenjar hipofisa. Teknik hipofisasi telah memberikan manfaat yang besar terhadap pembenihan, tetapi masih belum lepas dari berbagai masalah yang dihadapi seperti dosis dan sumber kelenjar hipofisa. Teknik ini dapat mengontrol fase kritis dalam pembenihan ikan. Fase kritis yaitu fase telur sampai penetasan. Hal penting untuk pemijahan ikan adalah kematangan induk (Simanjuntak, 1985).
Metode hipofisasi adalah usaha untuk memproduksi benih dari induk yang tidak mau memijah secara alami tetapi memiliki nilai jual tinggi dengan kelenjar hipofisasi dari ikan donor yang menghasilkan hormon yang merangsang pemijahan seperti gonadotropin Kelenjar hipofisa akan menghasilkan hormon yang berperan dalam kegiatan seksual dan gonadotropin. Terdapat tiga macam hormon thyropin yang berfungsi mengatur kerja thyroid dan gonadotropin yang dihasilkan oleh sel chianophil yang terletak pars distalis, dan berperan dalam pematangan gonad dan mengawasi sekresi hormon-hormon yang dihasilkan oleh gonad, dimana hormon tersebut berperan dalam proses pemijahan (Sutisna, 2005).
Manfaat dari hipofisasi diantaranya (Santoso, 1993) : 1. Mampu mempercepat proses pemijahan.
2. Mengatur jumlah dan jadwal produksi benih ikan sesuai keinginan. 3. Meningkatkan produksi benih dan menjamin ketersediaan benih
secara terkendali.
4. Menekan kematian benih karena lingkungan hidup ikan diatur lebih baik.
5. Alternatif untuk menghasilkan benih berkualitas, dalam jumlah yang cukup dan kontinyu.
6. Jumlah telur yang dihasilkan dapat dihitung secara tepat.
7. Telur yang dibuahi sperma lebih banyak dari pada telur yang dibuahi dalam perkawinan alami.
I.2 Tujuan
Tujuan praktikum kali ini adalah untuk merangsang ikan untuk ovulasi dan memijah dengan induksi kelenjar hipofisis.
II. MATERI DAN CARA KERJA
II.1 Materi
Bahan yang digunakan pada praktikum kali ini adalah ikan mas (Cyprinus carpio), ikan nilem (Osteochillus hasselti), dan akuabides.
Alat yang digunakan adalah timbangan analitik, pisau, ember plastik, cawan petri, spatula, centrifuge, spuit, countainer, dan bak preparat.
II.2 Cara Kerja
1. Siapkan alat dan bahan yang diperlukan. 2. Ukur berat ikan donor (ikan mas).
3. Potong bagian belakang operculum ikan donor menggunakan pisau.
4. Hadapkan ke atas bagian mulut ikan dan potong di dekat nostril. 5. Ambil hipofisa ikan menggunakan spatula.
6. Pindahkan hipofisa ikan mas ke dalam cawan petri.
7. Tambahkan akuabides pada cawan dan lumatkan hipofisa hingga halus.
8. Ambil ekstrak kelenjar hipofisa menggunakan spuit dan dimasukkan ke dalam tabung.
9. Masukkan tabung reaksi ke dalam centrifuge 3000 rpm selama 5 menit.
10.Timbang ikan resipien (ikan nilem) menggunakan timbangan analitik.
11.Lakukan penyuntikkan ekstrak kelenjar hipofisa yang sudah di centrifuge ke tubuh ikan resipien.
12.Simpan ikan resipien ke dalam countainer yang disediakan. 13.Lakukan pengamatan setelah 8-10 jam.
14.Catat hasil yang diperoleh.
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
III.1 Hasil
Tabel 3.1. 1 Data Waktu Pengamatan Efek Hormonal pada Ovulasi dan Pemijahan Ikan
NO Waktu Perlakuan
1
Rabu, 2 April 2014 Jam 20.00 WIB
Penyuntikan ekstrak kelenjar hipofisa pada ikan resipien.
2
Kamis, 3 April 2014 Jam
06.30 WIB Pengamatan hasil
3
Rabu, 2 April 2014 Jam 20.30 WIB
Penyuntikan ekstrak kelenjar hipofisa pada ikan resipien.
4
Kamis, 3 April 2014 Jam
Tabel 3.1.2 Data Hasil Pengecekan Proses Pemijahan Efek Hormonal pada Ovulasi dan Pemijahan Ikan
KELOMP OK HASIL DOSIS RASIO 1 - -2 - .-3 + -4 + -5 - -Keterangan:
+ (positif) : berhasil memijah - (negatif): tidak berhasil memijah
Rombongan IV Rombongan III
Kelompok 1 dan 2, dosis: 2,5 mL/ gr Kelompok 1,2 dan 3, rasio: 1:3
Kelompok 3 dan 4, dosis: 5 mL/ gr Kelompok 4 dan 5, rasio: 1:2
Kelompok 5, dosis: 7,5 mL/gr
Ikan Donor : ikan Mas (Cyprinus carpio)
Ikan Resipien : ikan Nilem (Osteochilus hasselti)
III.2 Pembahasan
Berdasarkan hasil pengamatan, percobaan hipofisasi yang dilakukan banyak yang mengalami kegagalan. Kelompok 3 dan 4 dosis yang erhasil memijah. Kegagalan ini diduga karena ikan resipien belum matang kelamin atau salah dalam menyuntikkan ekstrak kelenjar hipofisa pada ikan resipien. Ikan resipien yang digunakan adalah ikan nilem (Osteochillus hasselti), sedangkan ikan donor digunakan ikan mas (Cyprinus carpio). Menurut Sumantadinata (1981), ikan yang belum matang kelamin kelenjar hipofisanya mengandung gonadotropin dalam jumlah yang sedikit sekali atau tidak mengandung gonadotropin. Effendi (1978), menyatakan bahwa tingkat kematangan ikan pada tiap waktu bervariasi. Tingkat kematangan tertinggi akan didapatkan paling banyak pada saat pemijahan akan tiba. Hal tersebut tidak sesuai dengan Kay (1998), yang menyatakan bahwa penyuntikkan kelenjar hipofisa akan memberikan respon dan menyebabkan ikan memijah antara 7-11 jam. Menurut Muhammad et al., (2001), rendahnya fekunditas pada perlakuan
diduga dosis yang diberikan belum mencukupi untuk pematangan tahap akhir semua oosit, sehingga tidak semua oosit mendapat tambahan gonadotropin yang sesuai untuk diovulasikan. Rendahnya hormon gonadotropin yang masuk dalam darah menyebabkan kemampuan hormon gonadotropin untuk mengovulasikan telur sangat terbatas. Keberhasilan ovulasi tergantung dari keberhasilan proses pematangan akhir oosit. Oosit yang telah siap diovulasikan akan terjadi jika telah mendapat rangsangan hormon yang sesuai.
Teknik hipofisasi memerlukan ikan donor dan ikan resipien yang telah memenuhi syarat. Ikan donor merupakan ikan yang akan diambil kelenjar hipofisanya dapat untuk memijahkan ikan resipien, sedangkan ikan resipien merupakan ikan yang diinduksi dengan ekstrak kelenjar hipofisa yang berasal dari ikan donor. Adapun persyaratan dari ikan resipien antara lain ikan harus benar-benar masak kelamin, sehat dan memiliki berat tubuh ideal yaitu antara 150 gram/ekor – 200 gr/ ekor. Ikan donor harus sudah matang kelamin dan benar-benar sehat (Pickford, 1957).
Menurut Handjamulia (1980) bahwa tiga sifat donor atau resipien yang menjadi syarat utama dalam hipofisasi:
1. Ikan donor dan resipien diutamakan yang sejenis: hal ini karena jika ikan donor dan resipien sejenis maka sifat-sifatnya akan sama terutama karakter hipofisa dan sifat hormone gonadotropinnya sehingga akan terjadi sinergi hormon saat disuntikan ke ikan resipien akibatnya akan meminimalisasi ketidak cocokan hormon.
2. Tidak terkena penyakit menular: ikan yang digunakan harus ikan sehat, tidak ada luka, dan tidak terkena penyakit menular, karena jika ikan donor terinfeksi penyakit menular maka akan menular kepada ikan resipien melalui proses hipofisasi.
3. Ikan harus matang gonad dan tidak mati melebihi 4 jam : ikan dewasa yang matang gonad hipofisanya terlihat jelas, sedangkan benih belum terlihat, ikan harus matang gonad agar sekresi gonadotrofin dari hipofisa banyak, ikan bukan yang sudah mati melebihi 4 jam karena ikan yang sudah mati hipofisanya berhenti mengsekskresikan hormon gonadotrofin.
Mekanisme pemijahan dimulai dari ekstrak kelenjar hipofisa yang disuntikkan akan menimbulkan rangsangan pada hipotalamus.
Rangsangan dibawa akson yang berakhir padapenonjolan tengah di dasar ventral ketiga hipotalamus. Hormon FSH dan LH bekerja merangsang perkembangan gonad dan merangsang ovulasi. FSH dan LH juga merangsang perkembangan fungsi testis. FSH meningkatkan ukuran saluran semini ferus dan LHmerangsang sel intestinum dari testis untuk memproduksi hormon kelamin jantanPembuahan ikan dilakukan di luar tubuh. Masing-masing ikan jantan dan betinamengeluarkan sperma dan ovum. Keduanya dapat dipicu dengan menggunakan teknik hipofisasi. Keberhasilan ovulasi tergantung dari keberhasilan proses pematangan akhiroosit. Oosit yang telah siap diovulasikan akan terjadi jika telah mendapat rangsanganhormon yang sesuai. Rendahnya hormon gonadotropin yang masuk dalam darah dapatmenyebabkan kemampuan hormon gonadotropin untuk mengovulasikan telur sangatterbatas (Sutisna, 2005).
Menurut Bond (1979), mekanisme hipofisasi dimulai ketika rangsangan dari syaraf pusat diantarkan ke hipotalamus, setelah lebih dahulu diolah oleh reseptor seperti mata dan sirip. Hipotalamus akan mengeluarkan GrNh yang akan merangsang gonad untuk menghasilkan hormon gonadotropin yang dibutuhkan dalam proses pemijahan. Hormon-hormon tersebut akan segera mempengaruhi kerja dari alat-alat kelamin pada ikan yaitu testis dan ovarium. Testis akan menghasilkan androgen steroid dan ovarium akan menghasilkan estrogen. Mekanisme hormon kelamin adalah hormon steroid seperti estrogen, kortisol, aldosteron dan lain-lain, masuk ke dalam sasaran kemudian merangsang aktivitas gen maka ikan akan segera memijah.
Sumantadinata (1981) menjelaskan, ikan betina matang kelamin dicirikan dengan perut yang relatif membesar dan lunak bila diraba, serta dari lubang genital keluar cairan jernih kekuningan, naluri gerakan lambat, postur tubuh gemuk, warna tubuh kelabu kekuningan dan lubang kelamin berbentuk bulat telur dan agak melebar serta agak membengkak. Ciri ikan jantan yang sudah matang kelamin antara lain mudah mengeluarkan milt jika perutnya diurut, naluri gerakan lincah, postur tubuh dan perut ramping, warna tubuh kehijauan dan kadang gelap, lubang kelamin agak menonjol serta sirip dada kasar dan perutnya keras. Ikan mas yang mencapai kematangan gonad ditandai dengan ciri-ciri pada betina berumur antara 1,5-2 tahun dengan berat berkisar 2,00
kg/ekor. Ikan jantan minimum berumur 8 bulan dengan berat berkisar 1,50 kg/ekor, bentuk tubuh secara keseluruhan mulai dari mulut sampai ujung sirip ekor mulus, sehat, sirip tidak cacat,dan tutup insang normal tidak tebal dan bila dibuka tidak terdapat bercak putih.
Pemijahan adalah proses perkawinan antara ikan jantan dan ikan betina yang mengeluarkansel telur dari betina, sel sperma dari jantan dan terjadi di luar tubuh ikan (eksternal). Dalam budidaya ikan, teknik pemijahan ikan dapat dilakukan dengan tiga macam cara, yaitu:
1. Pemijahan ikan secara alami, yaitu pemijahan ikan tanpa campur tanganmanusia, terjadi secara alamiah (tanpa pemberian rangsangan hormon).
2. Pemijahan secara semi intensif, yaitu pemijahan ikan yang terjadi denganmemberikan rangsangan hormon untuk mempercepat kematangan gonad, tetapi proses ovulasinya terjadi secara alamiah di kolam.
3. Pemijahan ikan secara intensif, yaitu pemijahan ikan yang terjadi denganmemberikan rangsangan hormon untuk mempercepat kematangan gonad serta proses ovulasinya dilakukan secara buatan dengan teknik stripping atau pengurutan (Gusrina, 2008).
Pemijahan buatan pada umumnya ditujukan pada spesies ikan yang mengalami kesulitan untuk berkembang biak dengan sempurna pada lingkungan buatan, seperti halnya ikan pantau tersebut diatas. Selain itu juga bertujuan untuk memperoleh benih ikan di luar musim pemijahan, hibridisasi, peningkatan efisiensi produksi, mengurangi kehilangan telur ikan terjadi pada pemijahan secara alami, meningkatkan kelulushidupan larva ikan dan penyediaan telur atau larva ikan untuk praktek ginogenesis. Kualitas telur dan spermatozoa yang dihasilkan oleh induk ikan betina dan jantan sangat menentukan keberhasilan pemijahan buatan yang dilakukan, oleh sebab itu pada saat melakukan pemijahan buatan penentuan jenis dan dosis hormon yang tepat untuk merangsang ovulasi dalam menghasilkan telur dan spermiasi untuk menghasilkan spermatozoa yang berkualitas perlu dilakukan (Putra, 2010).
Menurut Sumantadinata (1981) menyatakan ada beberapa faktor yang mempengaruhi keberhasilan pemijahan, dibedakan menjadi faktor internal dan eksternal. Faktor internal yang mempengaruhi kegagalan pemijahan meliputi belum matangnya gonad dan hormon yang tersedia
dalam jumlah sedikit. Faktor eksternal meliputi kualitas air, aliran air, ketersediaan O2 terlarut, keasaman air, cahaya dan suhu. Faktor internal yang mempengaruhi keberhasilan pemijahan meliputi organ penglihatan, pendengaran, penciuman, linea lateralis serta kelenjar buntu. Faktor-faktor yang mempengaruhi pemijahan diantaranya adalah tingkat kematangan gonad, stress, dosis kelenjar hipofisa dan makanan.
Hipofisasi adalah suatu cara untuk merangsang ikan untuk memijah atau terjadinya pengeluaran telur ikan dengan suntikan ekstrak kelenjar hipofisa. Teknik penyuntikan dengan pemijahan buatan atau induced breeding, yaitu merangsang ikan untuk kawin (Simanjuntak, 1985). Pemijahan sistem hipofisasi ialah merangsang pemijahan induk ikan dengan menyuntikkan kelenjar hipofisa. Kelenjar hipofisa adalah kelenjar yang dapat mengendalikan beberapa hormon antara lain hormon pada kelamin jantan (testis) maupun kelamin betina. Hipofisa berukuran sangat kecil, terletak di sebelah bawah bagian depan otak besar (diencephalon) sehingga jika otak kiri diangkat, maka kelenjar ini akan tertinggal. Kelenjar hipofisa terdiri atas 4 bagian masing-masing berurutan dari depan ke belakang adalah pars tubelaris, pars anterior, pars intermedius dan neurophisis (Ville et al., 1988). Hipofisitis tergolong dalam dua bentuk histopatologi : limfositik dan granulanomous. Hipofisitis limfositik, dijumpai pada banyak bentuk. Hipofisitis granulanomous mempunyai perbedaan epidemiologi. Diameter normal dari kelenjar hipofisis adalah 3.25±0.56 mm pada level optik dan mencapai 1.91±0.4 mm pada insersi kelenjar hipofisis (Gutenberg et al., 2009).
Menurut Kay (1998), teknik penyuntikan dapat mempengaruhi pemijahan. Penyuntikan yang umum adalah penyuntikan secara intra muscular. Penyuntikan dilakukan pada bagian pinggang dari ikan, yaitu penyuntikan pada 3-4 sisik ke bawah. Menurut Sumantadinata (1981), terdapat 3 cara penyuntikan hipofisasi yaitu:
1. Secara muskuler, dengan cara menyuntik lewat punggung atau otot batang ekor.
2. Secara intra peritoneal, dengan cara menyuntikkan ke dalam rongga perut, lokasinya antara kedua sirip perut sebelah depan atau antara sirip dada sebelah depan. Suntikan ini disejajarkan dengan dinding perut.
3. Secara intra cranial,dengan cara menyuntikkan lewat kepala. Suntikan ini dengan memasukkan jarum injeksi ke dalam rongga otak melalui tulang occipitial pada bagian yang tipis. Luka atau hilangnya sisik dapat mengakibatkan ikan resipien tidak dapat memijah walaupun telah diberikan suntikan ekstrak hipofisa, karena gangguan secara fisiologis pada ikan.
IV. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil dari paraktikum yang telah diamati dapat diambil kesimpulan bahwa:
1. Teknik hipofisasi dengan menyuntikkan kelenjar hipofisa pada ikan resipien akan merangsang ikan untuk melakukan ovulasi dan pemijahan.
2. Keberhasilan ikan untuk memijah setelah dilakukan hipofisasi dipengaruhi oleh tingkat kematangan gonad, kondisi ikan (stress atau tidak), cara penyuntikkan, serta dosis kelenjar hipofisa yang diberikan.
DAFTAR REFERENSI
Bond, C.E. 1979. Biology of Fishes. Phyladelphia: WB Soundary Company. Effendi, M. I. 1978. Metode Biologi Perikanan. Bogor: Yayasan Dewi Sri. Gusrina. 2008. Budidaya Ikan untuk SMK. Jakarta: Direktorat Pembinaan
Sekolah Menengah KejuruanDepartemen Pendidikan Nasional.
Gutenberg, A., J. Larsen, I. Lupi, V. Rohde, and P. Caturegli. 2009. A Radiologic Score to Distinguish Autoimmune Hypophysitis from Nonsecreting Pituitary Adenoma Preoperatively. AJNR Am J Neuroradiol. 30 (1766 –1772).
Handjamulia, A. 1980. Pembenihan Ikan Dengan Teknik Hipofisasi. Sukabumi: BBAI.
Kay, I. 1998. Introduction of Animal Physiology. Canada: Bion Scientific Publisher Ltd.
Muhammad, H. Sunusi, dan I. Ambas. 2001. Pengaruh Donor dan Dosis Kelenjar Hipofisa Terhadap Ovulasi dan Daya Tetas Telur Ikan Betok (Anabas testudineus Bloch). Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan UNHAS, Makassar. 3 (87-94).
Pickford, A. 1957. General Zoology Calude. New York: The Mac Millan Publishing Company.
Putra, M. R. 2010. Pengaruh Kombinasi Penyuntikan hCG dan Ekstrak Kelenjar Hipofisa Ikan Mas Terhadap Daya Rangsang Ovulasi dan Kualitas Telur Ikan Pantau (Rasbora lateristriata Blkr). Jurnal Perikanan dan Kelautan. 15,1 (1-15).
Santoso, B. 1993. Petunjuk Praktis Budidaya Ikan Mas. Yogyakarta: Kanisius.
Simanjuntak, R. H. 1985. Pembudidayaan Ikan Lele. Jakarta: Bathara Jaya Aksara.
Sumantadinata, K. 1981. Pengembangbiakan Ikan-Ikan Peliharaandi Indonesia. Bogor: Sastra Budaya.
Sutisna, D. H. 2005. Pembenihan Ikan Air Tawar. Yogyakarta: Kanisius. Ville, C. A., W.D Wallon, and F. E. Smith.1988. Zoologi. Jakarta: Erlangga.