KATA PENGANTAR
Dalam dua tahun periode implementasi proyek HPEQ yang fokus pada penataan sistem pendidikan tinggi bidang kesehatan, telah dihasilkan berbagai produk kajian maupun naskah-naskah akademik yang dihasilkan oleh tim pokja proyek HPEQ, bekerjasama dengan masyarakat profesi dan stakeholders profesi lainnya.
Berbagai produk tersebut akan menjadi dokumen resmi proyek HPEQ yang dapat digunakan sebagai rujukan utama dalam pengembangan keilmuan dan usaha penyelerasan pendidikan formal dan non formal, serta menjadi basis perumusan kebijakan bagi organisasi dan asosiasi profesi kesehatan pada khususnya, serta pemerintah pada umumnya.
Berbagai produk kajian ini masih berbentuk draft yang perlu dan akan disempurnakan melalui uji publik dan iterasi kepada berbagai pihak terkait, seperti lembaga pemerintah, stakeholders profesi, serta benchmarking kepada organisasi profesi internasional.
Draft naskah akademik dan produk kebijakan ini disebarkan untuk kalangan terbatas, yaitu peserta 2nd HPEQ International Conference, dalam rangka mendapatkan input untuk penyempurnaan naskah-naskah ini, supaya lebih relevan dengan perkembangan profesi yang aktual.
Pada akhirnya, seluruh tim proyek HPEQ berharap agar produk kajian yang merupakan output proyek HPEQ ini dapat berguna bagi seluruh pembaca, serta dapat digunakan untuk pengembangan keilmuan maupun profesi kesehatan.
P o t r e t K e t e r s e d i a a n d a n K e b u t u h a n T e n a g a D o k t e r G i g i | Page i
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI ... i DAFTAR TABEL ... ii DAFTAR GRAFIK ... iv I. LATAR BELAKANG ... 1II. FORMULASI MASALAH ... 2
III. PROFIL PROFESI ... 4
- Sejarah Profesi ... 4
- Perkembangan Profesi : Pendidikan & Pelayanan ... 7
- Profil Organisasi Profesi dan Stakeholders ... 8
IV. LANDASAN KAJIAN ... 11
- Hasil kajian-kajian sebelumnya ... 11
- Hasil Survei Pendahuluan ... 12
V. KAJIAN DASAR ... 14
- Kajian Data Numerik ... 14
- Kajian Aspek Legal Profesi ... 34
- Kajian Tupoksi Organisasi ... 37
VI. ANALISIS SITUASI SAAT INI Analisa supply – demand profesi ... 40
1. Identifikasi variabel-variabel ... 40
2. Hipotesa ... 47
3. Batasan & Asumsi ... 48
4. Analisa korelasi antar variable, analisa penyebab permasalahan ... 48
VII. KESIMPULAN AWAL ... 49
VIII REKOMENDASI AWAL... 50
1. Berdasarkan kajian ... 50
2. Lesson learned dari negara lain ... 51
P o t r e t K e t e r s e d i a a n d a n K e b u t u h a n T e n a g a D o k t e r G i g i | Page ii
DAFTAR TABEL
Tabel 1.1. Persentase Distribusi Penduduk menurut Pulau 1971-2010 ... 1
Tabel 1.2. Sepuluh Besar Penyakit Rawat Jalan Tahun 2009 ... 3
Tabel 3.1. Profil Organisasi Profesi dan Stakeholders ... 8
Tabel 4.1. Jenis Tenaga Kesehatan dan Rasio terhadap Penduduk Dibandingkan dengan Sasaran Indonesia Sehat 2010 ... 12
Tabel 5.1. Jumlah Program Studi KEdokteran per Wilayah di Indonesia Tahun Akademik 2008/2009 ... 15
Tabel 5.2. Rekapitulasi Program Studi Kedokteran Gigi per Jenjang Pendidikan Tahun Akademik 2008/2009 ... 16
Tabel 5.3. Jumlah Fakultas Kedokteran Gigi PTN per Wilayah di Indonesia Tahun Akademik 2008/2009 ... 17
Tabel 5.4. Jumlah Prodi Kedokteran Gigi PTS per Wilayah Kopertis di Indonesia Tahun Akademik 2008/2009 ... 17
Tabel 5.5. Perbandingan Jumlah Program Studi Kedokteran Gigi PTN dan PTS per Wilayah ... 18
Tabel 5.6. Jumlah Mahasiswa Kedokteran Gigi per Jenjang Pendidikan di Wilayah Indonesia Tahun Akademik 2008/2009 ... 19
Tabel 5.7. Jumlah Mahasiswa Program Studi Kedokteran Gigi PTN per Jenjang Berdasarkan Wilayah di Indonesia Tahun Akademik 2008/2009 ... 20
Tabel 5.8. Jumlah Mahasiswa Program Studi Kedokteran Gigi PTS per Jenjang berdasarkan Wilayah Kopertis di Indonesia Tahun Akademik 2008/2009 ... 21
Tabel 5.9. Jumlah Dosen Program Studi Kedokteran Gigi per Jenjang di Wilayah Indonesia Tahun Akademik 2008/2009 ... 22
Tabel 5.10. Jumlah Dosen Program Studi Kedokteran Gigi PTN per Jenjang berdasarkan Wilayah di Indonesia Tahun Akademik 2008/2009 ... 23
Tabel 5.11. Jumlah Dosen Program Studi Kedokteran Gigi PTS per Jenjang berdasarkan wilayah Kopertis di Indonesia Tahun Akademik 2008/2009 ... 24
Tabel 5.12. Jenjang Pendidikan Dosen Kedokteran Gigi untuk Mahasiswa D3 dan S1 ... 25
Tabel 5.13. Jenjang Pendidikan Dosen untuk Mahasiswa Profesi dan S2 ... 27
Tabel 5.14. Jenjang Pendidikan Dosen untuk Mahasiswa S3 dan Sp1... 29
Tabel 5.15. Perbandingan Jumlah Dosen dan Mahasiswa Kedokteran per Jenjang Pendidikan di Beberapa Wilayah di Indonesia ... 30
Tabel 5.16. Akreditasi Prodi Kedokteran Jenjang S1 di beberapa Wilayah di Indonesia ... 32
Tabel 5.17. Matriks Tupoksi Organisasi ... 37
Tabel 6.1. Jumlah Penduduk dan Pelayanan Gigi Terbanyak per Propinsi ... 40 Tabel 6.2. Jumlah Penduduk di Indonesia, Jumlah Dokter Gigi dan Dokter Gigi
P o t r e t K e t e r s e d i a a n d a n K e b u t u h a n T e n a g a D o k t e r G i g i | Page iii
2010 ... 43
Tabel 6.3. Jumlah SDM Dokter Gigi yang Tersedia di Tiap Propinsi per Desember 2009 serta SDM Dokter Gigi di Puskesmas tahun 2009 ... 44
Tabel 6.4. Jumlah Prodi Kedokteran Gigi dan Jumlah Lulusan per Propinsi ... 45
Tabel 6.5. Data Kelulusan UKDGI 2007-2010... 46
P o t r e t K e t e r s e d i a a n d a n K e b u t u h a n T e n a g a D o k t e r G i g i | Page iv
DAFTAR GRAFIK
Grafik 5.1. Grafik Jumlah Program Studi Kedokteran Gigi per Wilayah di Indonesia
Tahun Akademik 2008/2009 ... 15 Grafik 5.2. Jumlah Fakultas Kedokteran Gigi Perguruan Tinggi Negeri per Wilayah di
Indonesia Tahun Akademik 2008/2009 ... 17 Grafik 5.3. Grafik Jumlah Fakultas Kedokteran Gigi Perguruan Tinggi Swasta per
Wilayah Kopertis di Indonesia Tahun Akademik 2008/2009 ... 18 Grafik 5.4. Perbandingan Jumlah Prodi Kedokteran Gigi PTN dan PTS per Wilayah
di Indonesia Tahun Akademik 2008/2009 ... 19 Grafik 5.5. Jumlah Mahasiswa Program Studi Kedokteran Gigi per Jenjang
Pendidikan Tahun Akademik 2008/2009 ... 20 Grafik 5.6. Jumlah Mahasiswa Program Studi Kedokteran Gigi PTN per Jenjang
berdasarkan Wilayah di Indonesia Tahun Akademik 2008/2009 ... 21 Grafik 5.7. Jumlah Mahasiswa Program Studi Kedokteran Gigi PTS per Jenjang
berdasarkan Wilayah Kopertis di Indonesia Tahun Akademik 2008/2009 ... 22 Grafik 5.8. Jumlah Dosen Program Studi Kedokteran Gigi per Jenjang di Wilayah
Indonesia Tahun Akademik 2008/2009 ... 23 Grafik 5.9. Jumlah Dosen Program Studi Kedokteran Gigi PTN per Jenjang
berdasarkan Wilayah di Indonesia Tahun Akademik 2008/2009 ... 24 Grafik 5.10. Jumlah Dosen Program Studi Kedokteran Gigi PTS per Jenjang
berdasarkan wilayah Kopertis di Indonesia Tahun Akademik 2008/2009 ... 25 Grafik 5.11. Jenjang Pendidikan Dosen Kedokteran Gigi untuk Mahasiswa D3 dan S1 ... 26 Grafik 5.12. Jenjang Pendidikan Dosen Kedokteran Gigi untuk Mahasiswa S1 di
Wilayah Indonesia Tahun Akademik 2008/2009 ... 27 Grafik 5.13. Jenjang Pendidikan Dosen Kedokteran Gigi untuk Mahasiswa Profesi
di Wilayah Indonesia Tahun Akademik 2008/2009 ... 28 Grafik 5.14. Jenjang Pendidikan Dosen Kedokteran Gigi untuk Mahasiswa S2
di Wilayah Indonesia Tahun Akademik 2008/2009 ... 28 Grafik 5.15. Jenjang Pendidikan Dosen Kedokteran Gigi untuk Mahasiswa S3 di Wilayah
Indonesia Tahun Akademik 2008/2009 ... 29 Grafik 5.16. Jenjang Pendidikan Dosen Kedokteran Gigi untuk Mahasiswa Sp1 di
Wilayah Indonesia Tahun Akademik 2008/2009 ... 30 Grafik 5.17. Rasio Dosen dan Mahasiswa per Jenjang Pendidikan di Wilayah di
Indonesia Tahun Akademik 2008/2009 ... 31 Grafik 5.18. Grafik Akreditasi Prodi Kedokteran Gigi Jenjang S1 di Wilayah Indonesia ... 32
P o t r e t K e t e r s e d i a a n d a n K e b u t u h a n T e n a g a D o k t e r G i g i | Page 1
I. Latar Belakang
Indonesia merupakan negara kepulauan dengan jumlah penduduk 237.556.363 orang, yang terdiri dari 119.507.580 laki-laki dan 118.048.783 perempuan dengan laju pertumbuhan penduduk Indonesia per tahun selama sepuluh tahun terakhir adalah sebesar 1,49 persen. Hasil Sensus penduduk Indonesia 2010 oleh BPS menunjukkan bahwa distribusi penduduk Indonesia masih terkonsentrasi di Pulau Jawa yaitu sebesar 57 persen, yang diikuti oleh Pulau Sumatera sebesar 21 persen. Selanjutnya untuk pulau-pulau/kelompok kepulauan lain berturut-turut adalah sebagai berikut: Sulawesi sebesar 7 persen; Kalimantan sebesar 6 persen; Bali dan Nusa Tenggara sebesar 6 persen; dan Maluku dan Papua sebesar 3 persen.
Tabel 1.1. Persentase Distribusi Penduduk menurut Pulau 1971-2010
Jawa Barat, Jawa Timur dan Jawa Tengah adalah tiga propinsi dengan urutan teratas yang berpenduduk terbanyak, yaitu masing-masing berjumlah 43.021.826 orang, 37.476.011 orang, dan 32.380.687 orang. Sedangkan Propinsi Sumatera Utara merupakan wilayah yang terbanyak penduduknya di luar Jawa, yaitu sebanyak 12.985.075 orang. Dengan luas wilayah Indonesia yang sekitar 1.910.931 km2, maka rata-rata tingkat kepadatan penduduk Indonesia adalah sebesar 124 orang per km2. Propinsi yang paling tinggi kepadatan penduduknya adalah Propinsi DKI Jakarta, yaitu sebesar 14.440 orang per km2. Sementara itu, propinsi yang paling rendah tingkat kepadatan penduduknya adalah Propinsi Papua Barat, yaitu sebesar 8 orang per km2(Hasil Sensus BPS 2010, www.bps.go.id).
Penyebaran penduduk yang tidak merata dan berkonsentrasi pada beberapa daerah serta keadaan geografis yang dipisahkan lautan dan tersebar di berbagai kepulauan menyebabkan banyak pembangunan dan penyebaran informasi yang tidak merata. Salah satu masalah yang muncul adalah kurang maksimalnya penyebaran fasilitas dan pelayanan kesehatan di seluruh Indonesia.
P o t r e t K e t e r s e d i a a n d a n K e b u t u h a n T e n a g a D o k t e r G i g i | Page 2 Kesehatan merupakan salah satu hak yang dimiliki seorang warga Negara yang seharusnya terjamin oleh Negara. Setiap warga negara memiliki hak untuk mendapatkan dan memanfaatkan pelayanan kesehatan yang terdapat di Indonesia.
Dokter gigi merupakan bagian dari ujung tombak dalam pelayanan kesehatan di Indonesia yang dalam hal ini adalah kesehatan gigi. Dalam Indikator Indonesia Sehat 2010 yang ditetapkan oleh kementrian kesehatan pada tahun 2003 (departemen Kesehatan pada saat itu), disebutkan bahwa rasio dokter gigi per-100.000 penduduk adalah 11 yang artinya adalah target ideal dalam penyediaan tenaga kesehatan di Indonesia dalam hal ini dokter gigi adalah 11 dokter gigi untuk setiap 100.000 penduduk, selain itu menurut Profil Kesehatan Indonesia 2009 dari data potensi desa menunjukkan bahwa jumlah tenaga dokter gigi pada tahun 2009 sebanyak 9.774 orang dengan rasio sebesar 4,22 dokter gigi per 100.000 penduduk dengan kisaran antara 1,56 - 17,67 dokter gigi per 100.000 penduduk. Propinsi dengan rasio tertinggi adalah Daerah Istimewa Yogyakarta sebesar 12,65 dokter gigi per 100.000 penduduk, sedangkan terendah adalah Sumatera Selatan dengan rasio 0,73 dokter gigi per 100.000 penduduk. Jumlah dokter gigi di puskesmas pada tahun 2009 sebanyak 6.141 orang.
Pendidikan tidak dapat dilepaskan dalam rangka mencapai target untuk meningkatkan pelayanan kesehatan, karena kualitas hasil lulusan tenaga kesehatan dalam hal ini dokter gigi akan berpengaruh pada kualitas pelayanan kesehatan gigi di Indonesia, meski hal ini hanya merupakan satu faktor dari banyak faktor yang mempengaruhinya.
Penyebaran jumlah lulusan dokter gigi dan institusi pendidikan kedokteran gigi sampai saat ini juga masih belum merata, hal ini juga merupakan salah satu faktor yang menghambat upaya peningkatan pelayanan kesehatan pelayanan gigi. Saat ini institusi pendidikan kedokteran gigi masih terkonsentrasi di pulau jawa. Sementara di Papua dan Maluku belum memiliki institusi pendidikan kedokteran gigi. Selain itu masih banyak institusi pendidikan dokter gigi yang masih berupa program pendidikan (belum menjadi fakultas) menyebabkan lulusan dokter gigi masih belum mencukupi angka permintaan masyarakat, meskipun pada kenyataannya permasalah utama lebih pada penyebaran praktek kerja tenaga dokter gigi itu sendiri yang sampai saat ini hanya terkonsentrasi di kota-kota besar, dan penugasan tenaga dokter gigi ke daerah-daerah yang terpencil pun sampai saat ini masih jauh dari oprimal karena kurangnya sarana yang memadai atau lebih tepatnya penyediaan sarana dan prasarana yang tidak tepat sasaran.
II. Formulasi Masalah
1. Permasalahan Umum
Permasalahan kesehatan di Indonesia adalah salah satu masalah yang tidak pernah atau paling tidak sampai saat ini belum bisa teratasi dengan baik. Permasalahan paling mendasar yang jelas dirasakan oleh masyarakat adalah rendahnya pemahaman akan kesehatan serta minimnya tenaga kesehatan dan fasilitas kesehatan yang memadai terutama pada daerah-daerah terpencil, hal ini dikarenakan tidak meratanya sebaran tenaga kesehatan serta kualitas dari tenaga kesehatan itu sendiri yang akhirnya juga berdampak pada rendahnya pemahaman serta kesadaran masyarakat akan kesehatan terutama di daerah-daerah perifer.
Rendahnya pemahaman kesehatan terutama dalam hal kesehatan gigi menyebabkan buruknya kualitas kesehatan gigi masyarakat di Indonesia. Berdasarkan hasil riset kesehatan dasar (Riskesdas) 2007 terhadap satu juta koresponden, prevalensi penduduk yang mempunyai masalah gigi dan mulut adalah 23,4 persen dan 16 persen penduduk di Indonesia kehilangan seluruh gigi aslinya. Dari jumlah itu yang menerima perawatan atau pengobatan dari tenaga kesehatan gigi adalah 29,6 persen dan 7 persen dari korenponden belum bisa melakukan cara menyikat gigi yang benar.
JIka menilik pada buku Profil Kesehatan Indonesia 2009 yang diterbitkan pada akhir 2010 terlihat bahwa permasalahan kesehatan gigi berada pada level yang cukup tinggi, ini terbukti dengan keberadaan Penyakit Pulpa dan Periapikal yang menempati posisi ke-8 pada 10 besar penyakit rawat jalan di tahun 2009. Besarnya jumlah kunjungan yang terdata yaitu sekitar 234.083 kunjungan dan total 122.467 kasus untuk keluhan penyakit gigi dan mulut bukanlah sesuatu yang bisa dianggap sepele. Sehingga kebutuhan akan
P o t r e t K e t e r s e d i a a n d a n K e b u t u h a n T e n a g a D o k t e r G i g i | Page 3 informasi kesehatan yang baik serta pelayanan yang optimal mutlak diperlukan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan kesehatan.
Tingginya kebutuhan masyarakat akan pelayanan kesehatan yang tidak disertai dengan keberadaan tenaga kesehatan yang memadai juga menandakan adanya ketidakseimbangan antara penyediaan (supply) tenaga kesehatan dengan kebutuhan (demand) masyarakat akan pelayanan kesehatan.
Tabel 1.2. Sepuluh Besar Penyakit Rawat Jalan Tahun 2009
2. Permasalahan Khusus
a. Minimnya pengetahuan atas kesehatan gigi secara umum pada masyarakat karena rendahnya aktivitas penyuluhan kesehatan gigi dan pelayanan kesehatan gigi terutama di daerah terpencil.
2. Tidak meratanya sebaran tenaga kesehatan dokter gigi terutama di daerah terpencil.
3. Penempatan dokter gigi yang salah sasaran, hanya untuk memenuhi kuota dokter gigi tetapi tidak disertai dengan sarana dan prasarana yang memadai.
4. Tidak adanya pangkalan data (pusat data) permasalahan kesehatan gigi di tingkat Pusat, sehingga identifikasi permasalahan kesehatan gigi menjadi tidak akurat, sehingga menyebabkan strategi pelayanan kesehatan gigi tidak dapat dilakukan dengan baik.
5. Permasalahan kesehatan gigi tidak teridentifikasi dengan baik sehingga penyediaan peralatan penunjang kesehatan gigi sering tidak tepat sasaran.
P o t r e t K e t e r s e d i a a n d a n K e b u t u h a n T e n a g a D o k t e r G i g i | Page 4
III. Profil Profesi a. Sejarah Profesi
Pengembangan pendidikan kedokteran gigi di Indonesia yang dimulai pada masa kolonial disamping untuk melayani perawatan gigi masyarakat Eropa yang ada di Indonesia, juga dalam rangka menciptakan citra sehat, bersih, dan modern pada masyarakat Indonesia. Pencitraan ini dimulai di kota Surabaya pada tahun 1928 dengan berdirinya School tot Opleiding van Indische Tandartsen (STOVIT).
Berdirinya Fakultas Kedokteran Gigi
Sebelum berdiri lembaga kedokteran gigi pada masa kolonial, di kota Surabaya telah berdiri terlebih dahulu sekolah kedokteran yang bernama Nederlandsch-Indische Artsen School (NIAS) pada tahun 1913. Karena lembaga kedokteran gigi belum ada maka kebutuhan akan tenaga kesehatan gigi (dokter gigi) didatangkan langsung dari Eropa (Belanda). Namun jumlah dokter gigi dari Eropa yang bisa dan mau bekerja di Hindia Belanda pada waktu itu amat terbatas, itupun sebagian besar hanya untuk melayani orang-orang Eropa yang tinggal di Indonesia bukan orang pribumi.Jika orang-orang pribumi menderita penyakit gigi maka sebagian besar dibawa ke dukun atau tabib dengan pengobatan tradisional, dan sebagian lagi dibiarkan untuk sembuh dengan sendirinya. Masyarakat awam menganggap bahwa sakit gigi bukanlah sakit gawat yang bisa menimbulkan kematian. Mereka juga menganggap bahwa kebersihan gigi bukanlah hal penting yang harus diperhatikan sepanjang gigi masih bisa digunakan untuk mengunyah makanan.
Mengantisipasi hal tersebut pada bulan April 1928 Dr. Lonkhuizen, Kepala Departemen Kesehatan Masyarakat (Dienst den Volkgezonheid) pada masa itu mengusulkan kepada Direktur NIAS agar mendirikan sebuah lembaga pendidikan kedokteran gigi yang bisa mendidik calon-calon dokter gigi yang berafiliasi dengan NIAS.Diharapkan lulusan dari lembaga ini bisa memenuhi kekurangan tenaga dokter gigi di Hindia Belanda.Gagasan untuk mendirikan sebuah lembaga pendidikan kedokteran gigi akhirnya terlaksana.Pada bulan April 1928 pemerintah menunjuk Dr. Schoppe untuk mempersiapkan pendirian lembaga tersebut sekaligus sebagai direkturnya yang pertama. Lembaga pendidikan kedokteran gigi tersebut diberi nama STOVIT (School tot Opleiding van Indische Tandartsen) yang berlokasi satu kompleks dengan NIAS di Viaduct Straat No. 47 Surabaya. Pada bulan Juli 1928 sekolah dibuka dengan secara resmi menerima pendaftaran siswa.Jumlah siswa yang diterima untuk didik menjadi dokter gigi pada angkatan pertama sebanyak 21 orang.Syarat utama untuk bisa diterima di sekolah ini minimal harus lulusan dari MULO Bagian B (Sekarang IPA). Bulan September 1928 proses pendidikan secara resmi dimulai. Kurikulum dirancang agar siswa dapat menyelesaikan pendidikannya selama lima tahun termasuk latihan klinik selama tiga tahun agar setelah lulus bisa langsung berprofesi sebagai dokter gigi.
Setelah tiga tahun menjabat sebagai direktur dan berhasil meletakan fondasi yang kokoh bagi pendidikan kedokteran gigi di Hindia Belanda, khususnya di kota Surabaya, pada tahun 1931 Dr. Schoppe secara resmi meletakan jabatannya. Kedudukannya digantikan oleh Dr. H.J.F. Van Zaben.Tahun 1933 STOVIT berhasil meluluskan dokter gigi yang pertama. Warga Eropa yang tinggal di kota Surabaya memiliki minat yang tinggi untuk memasuki sekolah gigi, tetapi lembaga tersebut memiliki keterbatasan daya tampung yang rata-rata tiap tahun hanya 20 siswa. Proses pendidikan di STOVIT mengalami gangguan yang cukup serius ketika Bala Tentara Jepang masuk ke Indonesia karena berdampak pada keberadaan staf pengajar yang berkebangsaan Belanda. Pengajar-pengajar berkebangsaan Belanda sebagian besar melarikan diri, sebagian lagi dimasukan ke kamp interniran. Bahasa Belanda sebagai pengantar di lembaga-lembaga pendidikan dilarang. STOVIT dibekukan lebih dari satu tahun.
Pada tahun 1943 Pemerintah Pendudukan Jepang membuka kembali beberapa lembaga pendidikan tinggi di Indonesia. Lembaga pendidikan yang dibuka antara lain Ika Daigaku (Perguruan Tinggi Kedokteran) yang merupakan gabungan dari bekas STOVIA yang berkedudukan di Batavia (Jakarta) dan NIAS yang berkedudukan di Surabaya. Ika Daigaku berkedudukan di Jakarta sedangkan cabangnya ada di Surabaya yaitu di bekas NIAS.Pada tanggal 5 Mei 1943 di Surabaya dibuka Ika Daigaku Sika Senmenbu atau Sekolah Dokter Gigi. Upacara pembukaannya dimanfaatkan oleh Pemerintah Pendudukan Jepang sebagai media untuk berpropaganda. Hatakeda yang mewakili pemerintah dengan nada mengejek Pemerintah Belanda mengemukakan bahwa Pemerintahan Belanda dahulu selalu menggembar-gemborkan akan
P o t r e t K e t e r s e d i a a n d a n K e b u t u h a n T e n a g a D o k t e r G i g i | Page 5 memperhatikan kesehatan penduduk negeri ini, tetapi nyatanya tidak ada hasilnya. Bahkan bangsa pribumi hanya mendapat hinaan dan gangguan kesehatan serta selalu diliputi kesengsaraan. Lebih lanjut ia mengemukakan bahwa saat ini Dai Nippon akan berjuang untuk memperbaiki kesalahan Pemerintah Belanda yang telah almarhum agar dapat dicapai susunan baru yang kuat dan teguh. Salah satu jalan untuk memperbaiki keadaan itu adalah dengan memperbaiki masalah “ketabiban”. Sedangkan Itagaki Kepala Ika Daigaku Jakarta dalam sambutannya mengatakan bahwa pada masa Belanda memerintah kondisi kesehatan penduduk Indonesia sangat terbelakang. Indonesia yang berpenduduk kurang lebih lima puluh juta orang hanya memiliki kira-kira lima ratus orang dokter atau satu orang dokter untuk sepuluh ribu penduduk. Apalagi keberadaan dokter-dokter hanya ada di kota-kota besar saja. Dengan demikian maka penduduk di daerah-daerah terpencil sangat dirugikan dalam hal kesehatannya. Pemerintah Pendudukan Jepang berjanji bahwa Sekolah Dokter Gigi yang baru diresmikan tersebut akan dapat memenuhi kebutuhan penduduk akan tenaga dokter gigi dalam waktu yang singkat tetapi juga sempurna. Sebagai pimpinan dari Ika Daigaku Sika Senmenbu adalah Dr. Takeda, tetapi pada bulan Nopember 1943 diganti oleh Prof. Dr. Imagawa. Beberapa staf pengajar berkebangsaan Jepang antara lain Dr. Kosi, Dr. Mural, Dr. Kondo, Dr. Takeuti, Dr. Fusise, dan Dr. Itigawa. Disamping itu juga terdapat beberapa staf pengajar dari masyarakat pribumi antara lain Prof. Dr. Sjaaf, Dr. Zainal, Dr. M. Salih, Ir. Darmawan Mangoenkoesoemo, Ir. Soemono, Dr. S. Mertodidjojo, Dr. M. Soetojo, Dr. Azil Widjojokoesoemo, Dr. R.G. Indrajana, dan Dr. R Moestopo.
Era Kemerdekaan
Tanggal 14 Agustus 1945 Jepang menyerah kepada Sekutu yang disusul dengan diproklamirkannya kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Dengan proklamasi kemerdekaan maka secara politis Indonesia lepas dari kekuasaan Jepang dan secara bebas bisa mengatur dirinya sendiri.Ika Daigaku yang berkedudukan di Jakarta dan Ika Daigaku Sika Senmenbu yang berkedudukan di Surabaya kemudian dilikuidasi. Tindakan ini merupakan bagian dari proses Indonesianisasi yang berlangsung dalam sektor-sektor tertentu utamanya politik dan pendidikan. Sebagai ganti dari kedua lembaga pendidikan kedokteran tersebut maka pemerintah Republik Indonesia mendirikan Perguruan Tinggi Kedokteran Republik Indonesia yang berkedudukan di Jakarta.Sedangkan Perguruan Tinggi Kedokteran Gigi yang berkedudukan di Surabaya merupakan bagian dari Perguruan Tinggi Kedokteran Republik Indonesia. Sebagai pimpinan dari perguruan tinggi adalah Prof. Dr. Sjaaf.
Ketika proses pembenahan perguruan tinggi kedokteran tengah berlangsung gelombang perang kemerdekaan muncul yang didahului dengan masuknya pasukan Sekutu ke Indonesia. Dengan dalih ingin mengamankan tawanan Jepang, pada bulan September sampai Oktober 1945 pasukan Sekutu memasuki kota-kota besar di Indonesia. Di Jakarta pendaratan pasukan Sekutu disambut dengan kontak senjata oleh rakyat. Di mana-mana pasukan Sekutu menciptakan kegaduhan. Rakyat Indonesia yang mencurigai adanya maksud tersembunyi dari pasukan Sekutu dengan menyelundupkan tentara Belanda menjadi marah. Akibatnya kota Jakarta menjadi tidak aman. Pada bulan Januari 1946 Ibukota Republik Indonesia dipindahkan dari Jakarta ke Yogyakarta. Bersamaan dengan itu dipindahkan pula Perguruan Tinggi Kedokteran Republik Indonesia ke beberapa kota yaitu ke Yogyakarta, Solo, dan Klaten.
Di kota Surabaya keberadaan pasukan Sekutu (Inggris) memancing perang besar dengan rakyat kota ini. Akibatnya kondisi kota menjadi kacau balau yang menyebabkan situasi perkuliahan di Perguruan Tinggi Kedokteran Gigi Surabaya menjadi terganggu. Agar proses perkuliahan tetap berjalan maka seiring dengan pindahnya pemerintahan propinsi Jawa Timur ke kota Malang, Perguruan Tinggi Kedokteran Gigi juga dipindahkan ke kota Malang dengan status sebagai perguruan tinggi di pengungsian. Tahun 1947 terjadi Agresi Militer Pertama yang disusul dengan Agresi Militer Kedua pada tahun 1948. Pada Agresi Militer yang kedua, kota Malang digempur habis oleh pasukan tentara Belanda. Warga kota Malang terpaksa harus mengungsi keluar kota. Sebelum kota Malang ditinggalkan, sebagian besar bangunan penting di kota ini dibumihanguskan agar tidak digunakan oleh pasukan Belanda yang baru datang di kota ini.
Bersamaan dengan didudukinya kota Malang oleh pasukan tentara Belanda maka Perguruan Tinggi Kedokteran Gigi juga harus dipindah lagi ke kota Klaten dan Yogyakarta. Pada tahun 1946 di Yogyakarta didirikan Balai Perguruan Tinggi Gadjah Mada oleh Pemerintah Republik Indonesia. Pada tahun 1949 secara resmi Balai Perguruan Tinggi Gadjah Mada berubah menjadi Universitas Gadjah Mada yang menghimpun
P o t r e t K e t e r s e d i a a n d a n K e b u t u h a n T e n a g a D o k t e r G i g i | Page 6 fakultas-fakultas yang tersebar di berbagai kota Republik, antara lain Yogyakarta, Solo, dan Klaten. Dengan demikian maka sejak saat itu Perguruan Tinggi Kedokteran Gigi berubah statusnya menjadi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada.
Sejak Agresi Militer Pertama pada tanggal 20 Juli 1947 kota Surabaya diduduki oleh Pasukan Tentara Belanda. Mereka kemudian mendirikan pemerintaha Jawa Timur yang disebut RECOMBA yang berkedudukan di Surabaya. Pada tanggal 27 Agustus 1947 Pemerintah Pendudukan Belanda di Jakarta mengumumkan kepada masyarakat bahwa mereka akan membuka kembali Institut Kedokteran Gigi di Surabaya yang bertempat di gedung NIAS. Karena tempat yang terbatas sekolah ini belum akan menerima murid baru tetapi hanya akan menerima bekas siswa STOVIT terutama yang sebelum Jaman Jepang minimal sudah duduk di kelas dua. Sedangkan siswa STOVIT yang dulu baru kelas satu hanya diperkenankan masuk apabila memiliki ijazah HBS B atau AMS B.
Pada tanggal 15 Januari 1948 secara resmi dibuka kembali Institut Kedokteran Gigi atau Tandheelkundige-Instituut yang menempati bekas gedung NIAS di Karangmenjangan yang pada jaman kolonial bernama Viaduct Straat No. 47. Peresmian pembukaan sekolah tersebut mendapat perhatian yang cukup dari pemerintah pendudukan Belanda. Hadir dalam kesempatan itu diantaranya dari RECOMBA Jawa Timur. Sebagai direktur dari sekolah ini adalah Dr. J.M. Klinkhamer Sr. Pada saat sekolah ini dibuka tidak ada satupun masyarakat pribumi yang mau menjadi siswa. Rasa nasionalisme yang amat tinggi dari masyarakat kota Surabaya menyebabkan mereka lebih baik menyingkir keluar kota atau menjadi pejuang dari pada menjadi siswa sekolah yang dikelola oleh pemerintah pendudukan Belanda. Maka pada periode ini Tandheelkundige-Instituut lebih pantas disebut sebagai lembaga pendidikan milik Belanda yang akan menjajah kembali Indonesia.
Pada tanggal 1 Agustus 1948 Pemerintah Pendudukan Belanda membuka Faculteit der Geneeskunde (Fakultas Kedokteran) di Surabaya yang merupakan cabang dari Faculteit der Geneeskunde, Universiteit van Indonesia yang telah berdiri sejak Maret 1947 di Jakarta. Sejak saat itu di kota Surabaya terdapat dua lembaga pendidikan kedokteran yaitu Faculteit der Geneeskunde dan Tandheelkundige-Instituut yang merupakan cabang fakultas yang sama dari Universiteit van Indonesia Jakarta.
Sejarah perguruan-perguruan tinggi di Indonesia mengalami perubahan yang signifikan dengan berakhirnya pendudukan Belanda di Indonesia dengan disepakatinya Konferensi Meja Bundar (KMB) pada bulan Nopember 1949.Tanggal 19 Desember 1949 Universitas Gadjah Mada lahir. Pada tanggal 27 Desember 1949 negeri Belanda secara resmi menyerahkan kedaulatan atas Indonesia kepada Republik Indonesia Serikat (RIS). Dengan penyerahan kedaulatan itu maka Universiteit van Indonesia yang semula dibawah penguasaan pemerintah pendudukan Belanda kemudian menjadi universitas milik Republik Indonesia Serikat dengan fakultas-fakultasnya yang tersebar di negara-negara federal, antara lain di ibukota RIS Jakarta, di Negara Indonesia Timur/Makassar (Fakultas Ekonomi), dan di Negara Jawa Timur/Surabaya (Fakultas Kedokteran dan Institut Kedokteran Gigi).
Penyerahan kedaulatan dan terbentuknya kembali negara kesatuan Republik Indonesia telah mendorong terjadinya perubahan formasi dan konstelasi perguruan tinggi di Indonesia. Universitas Gadjah Mada yang merupakan universitas milik Republik Indonesia semakin memantapkan posisinya menjadi universitas nasional. Sementara itu Universiteit van Indonesia yang dilahirkan dan dikelola oleh Belanda berubah nama menjadi Universitet Indonesia. Perubahan nama itu merupakan bagian dari proses Indonesianisasi pendidikan tinggi di Indonesia. Periode awal kemerdekaan ditandai dengan bangkitnya rasa nasionalisme yang sangat tinggi yang diikuti dengan sentiman anti Belanda yang kuat. Timbulnya perasaan semacam itu diikuti dengan penjungkirbalikan simbol-simbol kolonialisme yang bisa membangkitkan romantisme masa kolonial yang menyengsarakan. Akibatnya simbol-simbol yang berbau kolonial dihancurkan dan diganti dengan simbol-simbol ke-Indonesiaan. Istilah-istilah Belanda diganti dengan istilah-istilah Indonesia, maka wajar jika nama Universiteit van Indonesia diganti menjadi Universitet Indonesia. Pengelolaan universitas tersebut juga berpindah tangan ke Pemerintah Republik Indonesia. Dengan perubahan nama tersebut Faculteit der Geneeskunde dan Tandheelkundige-Instituut juga berubah menjadi Fakultas Kedokteran dan Institut Kedokteran Gigi, Universitas Indonesia Cabang Surabaya. Pimpinan Institut Kedokteran Gigi masih dipegang orang Belanda yaitu Prof. M. Knaap.Ia menjabat sampai tahun 1953 dan digantikan oleh Prof. M. Soetojo. Istilah Institut Kedokteran Gigi sering disebut juga dengan istilah Lembaga Kedokteran Gigi.
P o t r e t K e t e r s e d i a a n d a n K e b u t u h a n T e n a g a D o k t e r G i g i | Page 7 Karena terbatasnya sarana dan prasarana maka sampai tahun 1951 jumlah mahasiswa yang diterima di Institut Kedokteran Gigi Surabaya masih sangat terbatas, yaitu berkisar 20 orang. Seiring dengan berbagai pembenahan dan penambahan alat maka sejak tahun 1952 jumlah mahasiswa yang diterima berkisar antara tujuh puluh sampai seratus orang.
Sampai tahun 1950 Indonesia baru memiliki dua universitas negeri, yaitu Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta dan Universitas Indonesia di Jakarta.Jumlah itu tentunya tidak sebanding dengan jumlah penduduk Indonesia yang sudah amat banyak.Oleh karena itu pemerintah berinisiatif untuk mendirikan perguruan tinggi lagi terutama di Indonesia bagian timur. Akhirnya pemerintah memutuskan untuk mendirikan sebuah universitas baru yang diberi nama Universitas Airlangga yang berkedudukan di kota Surabaya. Pada tanggal 10 Nopember 1954 secara resmi Universitas Airlangga berdiri. Dengan berdirinya Universitas Airlangga maka Fakultas Kedokteran dan Institut atau Lembaga Kedokteran Gigi yang semula merupakan cabang dari Universitas Indonesia kemudian dipisahkan dari induknya dan digabung ke Universitas Airlangga.
b. Perkembangan Profesi : Pendidikan dan Layanan
Perkembangan Pendidikan Ilmu Kedokteran Gigi di Indonesia
Ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran gigi seperti halnya ilmu lainnya diperkirakan akan mengalami perkembangan yang pesat dari masa ke masa dan hal ini seiring dengan meningkatnya kebutuhan masyarakat yang semakin kritis, sehingga hal ini menjadi perhatian khusus bagi semua pemangku kepentingan termasuk dalam hal peningkatan kualitas tenaga kesehatan melalui perbaikan kualitas pendidikan ilmu kedokteran gigi.
Perkembangan pendidikan Ilmu Kedokteran Gigi (IKG) dimulai dari sejumlah lembaga pendidikan yang menghasilkan dokter gigi dan telah mengadakan beberapa kali penyempurnaan kurikulum. Dengan semakin meningkatnya kebutuhan, sejak tahun 1980 telah digagas pendidika Kedokteran Gigi yang arahnya ke pendidikan akademik. Tahun 1984 sebagai realita adanya pendidikan pendidikan dokter gigi spesialis dinyatakan dalam SK DIKTI no.139 dan 141/1984 tentang 7 jenis spesialis pada 4 pusat pendidikan.
Pengaruh perkembangan ilmu, pembangunan kesehatan, perkembangan IPTEK, perkembangan tata nilai masyarakat, dan tuntutan perkembangan profesi, menyebabkan perubahan-perubahan pada isi kurikulum pendidikan. PDGI mencatat sejak tahun 1983 sampai tahun 1994 telah dilakukan perubahan kurikulum pendidikan dokter gigi secara mendasar seperti perubahan beban studi dari 153 SKS menjadi 175 SKS, selain itu juga mengubah dasar filosofi pendidikan dari dasar pemikiran yang hanya berorientasi pada kebutuhan masyarakat ke dasar pemikiran 5 kerangka konsep pendidikan, yaitu : 1. Penguasaan IPTEK, 2. Memecahkan masalah secara saintifik, 3. Sikap, tingkah laku, dan kemampuan profesional, 4. Belajar aktif dan mandiri, 5. Pendidikan ada di masyarakat.
Perkembangan Pusat Pelayanan Kesehatan Gigi
Pergeseran pola hidup masyarakat secara tidak langsung menyebabkan perubahan pola penyakit umum termasuk pola penyakit gigi dan mulut. Hal ini memberikan gambaran pada perubahan tuntutan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan gigi, sehingga perubahan tuntutan masyarakat akan kebutuhan pelayan juga semakin meningkat, tidak sebatas pada jenis tindakan tetapi juga pada kualitas tenaga kesehatan sebagai operator.
Perkembangan tuntutan pelayanan kesehatan gigi ini perlu diantisipasi dengan menyiapkan tenaga kesehatan gigi yang profesional yang tetap menjunjung tinggi nilai-nilai etika. Pelayanan Kesehatan Gigi harus diatur sedemikian rupa agar dapat bersinergi dengan pelayanan kesehatan lainnya. Standar pelayanan di bidang kedokteran gigi masih perlu disempurnakan lagi agar peran semua tenaga kesehatan gigi dapat tertata dengan jelas sesuai dengan kemampuan dan kompetensinya masing-masing.
Keberadaan pelayanan Kesehatan Gigi di Rumah Sakit sampai saat ini masih belum menunjukkan saling keterkaitan dengan pelayanan kesehatan lainnya. Sebagai salah satu contoh adalah lahan praktek pendidikan profesi dokter gigi yang secara juridis belum ditempatkan sebagai pusat pendidikan profesi
P o t r e t K e t e r s e d i a a n d a n K e b u t u h a n T e n a g a D o k t e r G i g i | Page 8 dokter gigi baik dokter gigi umum maupun spesialis. Usaha ke arah realisasi sebutan pusat pendidikan dan pelayanan Kesehatan Gigi sebagai Rumah Sakit Gigi dan Mulut sampai saat ini belum mendapatkan konsep yang baku, permasalahan ini lebih karena kurangnya sinergi antara semua pihak terkait baik itu Kementrian Kesehatan, Kementrian Pendidikan, Organisasi-organisasi profesi, serta lembaga pendidikan itu sendiri.
c. Profil Organisasi Profesi dan Stakeholders
Dalam rangka mewujudkan kerjasama antar lembaga pendidikan profesi dokter gigi maka dibentuklah AFDOKGI (Asosiasi Fakultas Kedokteran Gigi Indonesia) yang anggotanya terdiri dari dekan fakultas – fakultas kedokteran gigi atau ketua program studi pendidikan dokter gigi yang ada di seluruh wilayah Indonesia. Organisasi ini berfungsi memberikan dukungan terhadap pengembangan pendidikan kedokteran gigi.
Tujuan akhir dari pendidikan profesi dokter gigi adalah terbentuknya dokter gigi kompeten yang akan terjun kedalam masyarakat untuk memberikan pelayanan kesehatan gigi. PDGI (Persatuan Dokter Gigi Indonesia) merupakan wadah dari profesi dokter gigi dan dokter gigi spesialis tersebut. Organisasi ini menaungi dokter gigi baik dokter gigi umum maupun dokter gigi spesialis yang ada di seluruh Indonesia dalam rangka melakukan kegiatan profesionalisme nya. PDGI memiliki tingkatan dari tingkat Pengurus Besar (pusat atau nasional), tingkat Wilayah (propinsi), hingga Cabang (kabupaten atau kotamadya). KDGI (Konsil Kedokteran Gigi Indonesia) merupakan bagian dari KKI yaitu organisasi yang menjaga dan membina kompetensi dokter gigi yang ada di Indonesia supaya dalam melakukan kegiatan praktek kedokteran gigi tetap sesuai dengan standar kompetensi kedokteran gigi yang ada.
Sementara KKI (Konsil Kedokteran Indonesia) adalah organisasi yang bertanggung jawab langsung terhadap Presiden bertujuan untuk melindungi masyarakat penerima jasa pelayanan kesehatan serta meningkatkan mutu pelayanan kesehatan dari dokter dan dokter gigi.
Sebagai sebuah negara berdaulat, tentunya Indonesia juga harus memiliki sebuah kementrian yang khusus bertugas untuk menangani masalah kesehatan warganegaranya. Kemenkes dipimpin seorang mentri yang notabene adalah pembantu Presiden dan bertujuan membentuk masyarakat Indonesia sehat yang mandiri dan berkeadilan.
Tidak bisa dipungkiri bahwa dalam sistem pendidikan profesi dokter gigi juga diperlukan sarana Rumah Sakit Pendidikan yang berguna bagi mahasiswa kedokteran gigi untuk dapat melaksanakan praktek kedokteran gigi yang berkenaan dengan sistem akademik. Dengan dasar inilah maka dibentuklah wadah RSGMPI (Rumah Sakit Gigi Mulut Pendidikan Indonesia) yang mengayomi rumah sakit gigi mulut pendidikan yang ada di Indonesia.
Tabel 3.1. Profil Organisasi Profesi dan Stakeholders
Organisasi & Stakeholders
Visi Profil
PDGI Menjadi organisasi yang terpandang secara nasional, regional dan global yang mengarahkan dan mengayomi seluruh dokter gigi, demi tercapainya profesionalisme yang kompetitif serta terwujudnya ……
Merupakan organisasi profesi yang menghimpun dokter gigi di Indonesia. PDGI didirikan pada tanggal 22 Januari 1950 di Bandung.
Pengurus Besar PDGI berkedudukan di Ibukota Negara Republik Indonesia Jakarta dan saat ini memiliki lebih dari 13 Pengurus Wilayah dan lebih dari 151 Cabang PDGI di seluruh Indonesia.
AFDOKGI Menjadi organisasi yang mendukung pengembangan
P o t r e t K e t e r s e d i a a n d a n K e b u t u h a n T e n a g a D o k t e r G i g i | Page 9 institusi pendidikan kedokteran
gigi
KDGI Menjaga dan membina kompetensi dokter gigi di Indonesia
KKI Terwujudnya dokter dan dokter gigi profesional yang melindungi pasien
Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) berdasarkan UU no. 29 Tahun 2004 tentang praktik
Kedokteran, telah dibentuk untuk melindungi masyarakat penerima jasa pelayanan kesehatan dan meningkatkan mutu pelayanan kesehatan dari dokter dan dokter gigi, yang terdiri atas Konsil Kedokteran dan Konsil Kedokteran Gigi. KKI bertanggung jawab kepada Presiden dan
berkedudukan di Ibukota Negara Republik Indonesia.
KKI mempunyai fungsi pengaturan, pengesahan, penetapan, serta pembinaan dokter dan dokter gigi yang menjalankan praktek kedokteran dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan medis. KKI mempunyai tugas meregistrasi dokter dan dokter gigi, mengesahkan standar pendidikan profesi dokter dan dokter gigi dan melakukan pembinaan terhadap penyelenggaraan praktek kedokteran yang dilaksanakan bersama lembaga terkait sesuai dengan fungsi masing-masing. Standar pendidikan profesi dokter dan dokter gigi yang disahkan Konsil ditetapkan bersama oleh Konsil Kedokteran Indonesia dengan kolegium kedokteran, kolegium kedokteran gigi, asosiasi institusi pendidikan kedokteran, asosiasi institusi pendidikan kedokteran gigi, dan asosiasi rumah sakit pendidikan.
KKI mempunyai wewenang:
menyetujui dan menolak permohonan registrasi dokter dan dokter gigi, menerbitkan dan mencabut surat tanda
registrasi dokter dan dokter gigi,
mengesahkan standar kompetensi dokter dan dokter gigi,
melakukan pengujian terhadap
persyaratan registrasi dokter dan dokter gigi,
mengesahkan penerapan cabang ilmu kedokteran dan kedokteran gigi,
melakukan pembinaan bersama terhadap dokter dan dokter gigi mengenai
P o t r e t K e t e r s e d i a a n d a n K e b u t u h a n T e n a g a D o k t e r G i g i | Page 10 ditetapkan oleh Organisasi Profesi, melakukan pencatatan terhadap dokter
dan dokter gigi yang dikenakan sanksi oleh organisasi profesi, atau
perangkatnya karena melanggar ketentuan etika profesi.
Susunan organisasi Konsil Kedokteran Indonesia terdiri atas:
Konsil Kedokteran Konsil Kedokteran Gigi.
Konsil Kedokteran dan Konsil Kedokteran Gigi masing-masing terdiri atas 3 divisi yaitu:
divisi registrasi,
divisi standar pendidikan profesi, divisi pembinaan.
Jumlah anggota Konsil Kedokteran Indonesia berjumlah 17 orang yang terdiri dari unsur-unsur yang berasal dari :
Organisasi Profesi Kedokteran 2 orang, Organisasi Profesi Kedokteran Gigi 2
orang,
Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran 1 orang,
Asosiasi Institusi Pendidikan Kedoktan Gigi 1 orang,
Kolegium Kedokteran 1 orang, Kolegium Kedokteran Gigi 1 orang, Asosiasi Rumah Sakit Pendidikan 2 orang, Tokoh Masyarakat 3 orang,
Departemen Kesehatan 2 orang, Departemen Pendidikan Nasional 2
orang.
Keanggotaan KKI untuk pertama kali ditetapkan oleh Presiden atas usul Menteri Kesehatan (pasal 84 Undang Undang No. 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran).
KEMENKES Masyarakat Sehat Yang Mandiri dan Berkeadilan
RSGMPI
MKDKI Terwujudnya dokter dan dokter gigi profesional yang melindungi pasien
P o t r e t K e t e r s e d i a a n d a n K e b u t u h a n T e n a g a D o k t e r G i g i | Page 11
IV. Landasan Kajian
Kajian ini dilakukan untuk memberikan gambaran mengenai jumlah, mutu dan penyebaran tenaga kesehatan dalam hal ini dokter gigi di Indonesia serta faktor-faktor lain yang mempengaruhinya dalam pelayanan kesehatan bagi masyarakat termasuk penduduk miskin. Sehingga diharapkan dapat tersusun rekomendasi mengenaikebijakan jumlah, mutu, dan penyebaran dokter gigi di Indonesia yang sesuai dengan kebutuhan pelayanan kesehatan.
Dalam pelaksanaannya beberapa kajian sebelum dan hasil dari kajian tim HPEQ Kedokteran Gigi digunakan sebagai landasan kajian.
a. Hasil Kajian Sebelumnya
i. Kajian ketersediaan tenaga kesehatan pada Profil Kesehatan Indonesia 2009
Salah satu unsur yang berperan dalam percepatan pembangunan kesehatan adalah tenaga kesehatan yang bertugas di sarana pelayanan kesehatan Masyarakat. Menurut pendataan Badan Pengembangan dan Pemberdayaan SDM Kesehatan Jumlah tenaga dokter gigi pada tahun 2009 sebanyak 9.774 orang dengan rasio sebesar 4,22 dokter gigi per 100.000 penduduk. Provinsi dengan rasio tertinggi adalah DI Yogyakarta sebesar 12,65 dokter gigi per 100.000 penduduk, sedangkan terendah adalah Sumatera Selatan dengan rasio 0,73 dokter gigi per 100.000 penduduk.
Pada tahun 2009 pendataan puskesmas oleh BPPSDMK hanya dilakukan di 8.509 puskesmas dari 8.737 puskesmas yang ada. Menurut pendataan tersebut didapatkan juga bahwa jumlah dokter gigi pada tahun 2009 sebanyak 6.141 orang yang bila dibandingkan dengan jumlah seluruh puskesmas maka dapat diartikan bahwa belum seluruh puskesmas memiliki dokter gigi.
ii. Kajian Kebijakan Perencanaan Tenaga Kesehatan BAPPENAS 2005
Kondisi Umum Tenaga Kesehatan Di Tingkat Nasional Secara umum sampai dengan tahun 2004, tenaga kesehatan (SDM Kesehatan) dapat diidentifikasikan belum mencukupi, baik ditinjau dari segi jumlah, jenis, kualifikasi, mutu, maupun penyebarannya.
Dari segi jumlah dan kualitas pada tahun 2004 terdata sekitar 274.383 tenaga kesehatan yang bekerja di Rumah Sakit dan Puskesmas di seluruh Indonesia, untuk memberikan pelayanan kepada sekitar 218 juta penduduk. Jumlah ini masih belum mencukupi untuk dapat memberikan pelayanan yang lebih optimal. Rasio tenaga kesehatan terhadap penduduk yang relatif masih kecil. Untuk itu dalam Indonesia Sehat 2010, jumlah tenaga kesehatan akan ditingkatkan menjadi 1.108.913 pada tahun 2010, dengan harapan lebih banyak tenaga kesehatan per penduduk. Tabel berikut menunjukkan rasio jenis tenaga kesehatan di Puskesmas dan Rumah Sakit pada tahun 2004 dengan kondisi yang ingin dicapai pada tahun 2010 untuk beberapa jenis tenaga kesehatan.
P o t r e t K e t e r s e d i a a n d a n K e b u t u h a n T e n a g a D o k t e r G i g i | Page 12
Tabel 4.1 Jenis tenaga kesehatan dan rasio terhadap penduduk di bandingkan dengan sasaran Indonesia Sehat 2010
b. Hasil Survei Pendahuluan
Survei pendahuluan terhadap Institusi Pendidikan Dokter Gigi (IPDG) telah diselenggarakan selama 3 hari pada tanggal 29 September sampai 1 Oktober 2010. Survei dilaksanakan di 12 IPDG. Tujuan survei untuk mendapatkan evidence based pada IPDG dan dapat digunakan untuk penyempurnaan atau revisi standar pendidikan dan standar kompetensi Kedokteran Gigi.
Berdasar identifikasi temuan-temuan survei di atas maka dapat disimpulkan secara umum diperlukan revisi standar pendidikan karena ketidak seragaman lama pendidikan, pengertian dosen tidak tetap, penerimaan mahasiswa baru dari jurusan IPA, rasio dosen dengan mahasiswa dan rasio dental unit dengan mahasiswa, keseragaman terminologi diagnose jenis dan perawatan penyakit. Revisi standar kompetensi dokter gigi diperlukan karena ada yang dirasakan kurang mendapat pengalaman yang cukup selama studi di fakultas sehingga perlu peningkatan kompetensi dan peningkatan skills pada bidang ilmu manajemen pelayanan kesehatan, ortodonsia, prostodonsia, RKG, periodonsia, perawatan saluran akar gigi sulung dan permanen serta odontektomi, sehingga dapat meningkatkan pelayanan terhadap masyarakat.
Untuk meningkatkan pelayanan di Rumah Sakit diperlukan minimal 4 tenaga dokter gigi spesialis yaitu Dokter Gigi Spesialis Bedah Mulut (Sp.BM), Spesialis Konservasi Gigi (Sp.KG), Spesialis Periodonsia (Sp.Perio), Spesialis Kedokteran Gigi Anak (Sp.KGA) karena banyak kasus di bidang spesialistik tersebut yang dirujuk dan tidak kompeten menanganinya dan implementasi penempatan dokter gigi spesialis sesuai peraturan pemerintah no. 340 tahun 2010 tentang Rumah Sakit.
Di samping itu, perlu pendalaman temuan-temuan dari hasil pendahuluan survei ini untuk menjaring data guna revisi standar pendidikan dan standar kompetensi dokter gigi dan perlu penguatan instrument survei oleh pakar dibidang survei.
Untuk suatu revisi standar pendidikan dan standar kompetensi dokter gigi dilakukan survei yang lebih luas ke intitusi pendidikan kedokteran gigi, Puskesmas, Rumah Sakit yang perlu masukan dari stakeholder.
1. Tim Survei IPDG
Dari hasil survei program pendidikan ditemukan bahwa 12 IPD (100%) telah mengimplementasikan kurikulum berbasis kompetensi pada tahap akademik sementara 10 IPDG (83%) telah mengimplementasikan kurikulum berbasis kompetensi pada tahap profesi (namun 2 IPDG belum memasuki tahap profesi yaitu UB dan UNLAM). Pada tahap seleksi mahasiswa baru diperoleh data
P o t r e t K e t e r s e d i a a n d a n K e b u t u h a n T e n a g a D o k t e r G i g i | Page 13 bahwa 11 IPDG (91,7%) menerima mahasiswa yang berasal dari jurusan IPA, 1 IPDG (8,3% ) menerima mahasiswa yang berasal dari jurusan IPA/IPS (UNSRI) dan tidak ada IPDG yang menerima dari SMK. Jumlah mahasiswa terbanyak adalah di UPDM (B) 1160 untuk mahasiswa lama nya dan 172 mahasiswa baru. Pada hasil Uji Kompetensi dokter gigi, 9 IPDG (75%) memiliki lulusan <90% dan 3 IPDG (25%) memiliki lulusan >90%.
Pada hasil survei rasio antara dosen dan mahasiswa, ditemukan bahwa pada tingkat Akademik 4 IPDG (33,3%) memiliki rasio >1:10 dan 8 IPDG (66,6%) memiliki rasio <1:10. Pada tingkat Profesi 5 IPDG (41,7%) memiliki rasio <1:5, 5 IPDG (58,3%) memiliki rasio >1:5 sementara 2 IPDG belum memiliki tingkat mahaiswa tingkat profesi yaitu UB dan UNLAM.
Pada sisi sarana Internet, 9 IPDG (75%) sudah memiliki fasilitas internet sementara 3 IPDG (25%) belum memiliki sarana internet. Dan dari 12 IPDG yang disurvei 11 IPDG (91,7%) memiliki perpustakaan elektronik dam 1 IPDG (8<3% belum memiliki perpustakaan elektronik. Pada hasil survey juga ditemukan fakta bahwa Bandwith internet untuk menunjang SCL terbatas, hal ini memungkinkan terhambatnya proses belajar mengajar.
2. Tim Survei Penyelengaran RSGM
Dari hasil survei penyelenggaraan RSGM diperoleh kesepakatan perlunya kesepakatan tertulis antara IPDG dan RSGM yang akan mengatur penyediaan sarana dan prasarana, penanggung jawab perencanaan, dan pengembangan sarana prasarana. Juga ditemukan bahwa belum semua IPDG memberi kontribusi untuk biaya pendidikan program profesi dan atau Spesialis. Pengadaan alat juga harus diadakan secara rutin oleh antara pemilik, IPDG, serta RSGM. Pada hasil survei kemarin masih ditemukan rasio dosen dengan mahasiswa lebih kecil dari 1:10. Jam operasional UGD RSGM adalah 6 hari kerja sementara pendidikan 5 hari kerja. Pelayanan UGD yang dapat dilakukan adalah kedaruratan kedokteran gigi & BLS. Operasi bedah yang bisa dilakukan di RSGM adalah bedah minor sementara bedah mayor dilakukan di RS jejaring.
Sebagian besar sistem Informasi RSGM masih bersifat manual dengan komputer (non online) dan juga masih ada rekam medis umum yang masih terpisah dengan status pasien untuk pendidikan. Dari survei semua RSGM telah memiliki MOU dengan RS jejaring, telah melaksanakan SOP, dan hampir semua RSGM memiliki program unggulan. Diperlukan adanya persamaan persepsi pola penyakit gigi dan mulut mengikuti pola ICD X (International Clasification of Diseases). Pada aspek pelayanan perawatan penyakit Gigi dan Mulut, seluruh RSGM telah melaksanakan promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif. Manifestasi penyakit sistemik dalam rongga mulut yang banyak ditemukan di RSGM adalah Diabetes Melitus, kelainan darah, kelainan Jantung.
3. Tim Survei Puskesmas – Rumah Sakit Umum
Dari survei yang telah dilakukan, tim mengidentifikasi urutan 3 besar Penyakit Gigi dan Mulut di Puskesmas yaitu, Kelainan pulpa dan periapikal, Kelainan gusi dan periodontal, serta Karies gigi. Sementara urutan 3 besar tindakan Pelayanan di Puskesmas adalah ekstraksi gigi permanen, ekstraksi gigi sulung, dan tumpatan gigi permanen.
Tim juga telah mengidentifikasi 3 Jenis Penyakit Gigi dan Mulut yang masuk dalam 10 besar Penyakit Umum di Puskesmas subjek survei yaitu Penyakit gusi dan jaringan periodontal, Penyakit pulpa dan jaringan periapikal serta penyakit jaringan keras gigi.
Pada survei yang telah dilakukan, 100% Puskesmas yang disurvei telah memiliki SOP tindakan pelayanan di Puskesmas masing-masing . Tetapi SOP yang disusun berdasarkan situasi di tempat kerja masing-masing. Sementara hasil survei untuk Dokter Gigi Puskesmas, diperoleh data bahwa dari ilmu yang didapat dari FKG untuk melakukan pelayanan di Puskesmas 41,7% responden mengatakan bahwa ilmu yang diperoleh sesuai untuk melakukan pelayanan di Puskesmas. Sementara bidang ilmu yang masih dianggap kurang dikuasai untuk bekerja di Puskesmas adalah Managemen pelayanan
P o t r e t K e t e r s e d i a a n d a n K e b u t u h a n T e n a g a D o k t e r G i g i | Page 14 kesehatan(66,6%), Ortodonsi (50%), penyakit mulut (25%), radiologi kedokteran gigi dan bedah mulut (16,6%), Perio dan Prosto(8,3%).
Tim survei menemukan data bahwa kasus yang banyak dirujuk adalah Odontektomi dan PSA gigi sulung dan permanen masing 9,1 %), Ortodonsi (41,6%), Kista dan suspect Ca rongga mulut (masing-masing 16,6%), Fraktur rahang, tumor dan tumpatan estetik anterior ((masing-masing-(masing-masing 8,3%). Alasan rujukan banyak dilakukan oleh karena Peralatan tidak tersedia (33,3%), Peralatan tidak tersedia dan tidak kompeten menangani kasus tersebut (41,7%), Peralatan tidak tersedia dan kompeten tapi tidak mampu menangani kasus tersebut (16,7%), Peralatan tidak tersedia dan atas permintaan pasien (8,3%).
Semua dokter gigi di Puskesmas yang disurvei mengikuti perkembangan ilmu dan teknologi kedokteran gigi melalui seminar,work shop, ceramah ilmiah dengan presentase (25%) mengikuti ketiga kegiatan tersebut secara bersama-sama, (16,7%) membaca jurnal dan seminar, (25%) melalui internet, (25%) diskusi dengan teman sejawat, (8,3%) studi lanjut.
Dari survei yang telah dilakukan, tim mengidentifikasi urutan 3 besar Penyakit Gigi dan Mulut di Rumah Sakit Umum yaitu, pulpitis, Gangren pulpa/nekrosis pulpa, Periodontitis. Sementara urutan 3 besar tindakan Pelayanan di Rumah Sakit Umum adalah ekstraksi gigi permanen, tumpatan gigi permanen, Perawatan saluran akar. Tim juga telah mengidentifikasi 3 jenis Penyakit Gigi dan Mulut yang masuk dalam 10 besar penyakit umum di Rumah Sakit Umum subjek survei yaitu penyakit gusi dan jaringan periodontal, Penyakit pulpa dan jaringan periapikal serta penyakit jaringan keras gigi
Pada survei yang telah dilakukan, semua Rumah Sakit Umum yang disurvei telah memiliki SOP tindakan pelayanan di Rumah Sakit Umum masing-masing. Tetapi SOP yang disusun berdasarkan situasi di tempat kerja masing-masing. Sementara hasil survei untuk Dokter Gigi Rumah Sakit Umum, diperoleh data bahwa dari ilmu yang didapat dari FKG untuk melakukan pelayanan di Rumah Sakit Umum 60% responden mengatakan bahwa ilmu yang diperoleh sesuai untuk melakukan pelayanan di Puskesmas. Sementara bidang ilmu yang masih dianggap kurang dikuasai untuk bekerja di Puskesmas adalah managemen pelayanan kesehatan (41,6%), Ortodonsi (50%), penyakit mulut (25%), radiologi kedokteran gigi, dan bedah mulut (8,3%).
Tim survei menemukan data bahwa kasus yang banyak dirujuk adalah Odontektomi (41,6%), perawatan saluran akar (25 %), Kista dan suspect Ca rongga mulut (masing-masing 16,6%), dan penyakit mulut HIV/AIDS, kelainan darah pada anak, komplikasi penyakit jantung, fraktur rahang, kasus perio, prosto, orto serta kista rahang (masing-masing 8,3%). Alasan rujukan banyak dilakukan oleh karena peralatan tidak tersedia (10%), kompeten tapi tidak mempunyai kemampuan (10%), bukan kompetensinya (50%), peralatan tidak tersedia dan tidak kompeten menangani kasus tersebut (10%), peralatan tidak tersedia dan bukan kompetensinya (10%), dan yang tidak pernah merujuk (20%). Semua dokter gigi di Puskesmas yang disurvei mengikuti perkembangan ilmu dan teknologi kedokteran gigi melalui seminar,work shop, ceramah ilmiah dengan presentase (25%) mengikuti ketiga kegiatan tersebut secara bersama-sama, (16,7%) membaca jurnal dan seminar, (25%) melalui internet, (25%) diskusi dengan teman sejawat, (8,3%) studi lanjut.
B. Kajian Dasar
1. Kajian Data Numerik I. Distribusi Program Studi
Distribusi program studi kedokteran Gigi di Indonesia diklasifikasikan dalam 2 bagian, yaitu jumlah program studi per wilayah (6 pulau besar di Indonesia) dan jumlah program studi berdasarkan status kepemilikan (PTN berdasarkan pulau, sedangkan PTS berdasarkan Regionalisasi Kopertis).
P o t r e t K e t e r s e d i a a n d a n K e b u t u h a n T e n a g a D o k t e r G i g i | Page 15
A. Jumlah Program Studi per Wilayah
Jenjang program studi kedokteran yang terdaftar pada EPSBED adalah D3, S1, profesi dokter, S2, S3,dan Sp1. Jumlah Prodi terbanyak adalah di pulau Jawa yaitu 43 prodi. Prodi terbanyak adalah prodi S1 yaitu sebanyak 25 prodi. Ada ketidakseimbangan antara jumlah prodi S1 dengan prodi profesi dimana jumlah total prodi S1 adalah 25 prodi sementara prodi profesi berjumlah 12 prodi. Tercatat ada 1 Jenis program studi yang terdaftar pada EPSBED, tetapi tidak tercantum pada SK 163 (S2 Ilmu Kedokteran Gigi Klinik) dan ada 5 Program studi Sp1 yang terdapat di SK 163 tetapi tidak tercantum pada EPSBED (Sp1 Ilmu Bedah Mulut, Sp1 Ilmu Penyakit Mulut, Sp1 Periodonsia, Sp1 Ortodonsia, Sp1 Prostodonsia). Penyebaran prodi masih terbanyak di pulau Jawa. Begitu pula dengan prodi S2, S3 dan Sp1 yang hanya ada di pulau Jawa.
Tabel 5.1. Jumlah Program Studi Kedokteran per Wilayah di Indonesia Tahun Akademik 2008/2009
Program Studi
Wilayah Total
Sumatera Jawa Bali, Nusa Tenggara
Kalimantan Sulawesi Maluku, Papua D3 2 3 1 0 2 0 8 S1 6 15 1 1 2 0 25 Profesi 2 8 1 0 1 0 12 S2 0 6 0 0 0 0 6 S3 0 2 0 0 0 0 2 Sp1 0 9 0 0 1 0 10
Sumber : Data EPSBED - 17/08/2010 (www.evaluasi.or.id)
0 5 10 15 20 25 2 3 1 2 6 15 1 1 2 2 8 1 1 6 2 9 1 Ju m lah Pr o gr am Stu d i Wilayah
Grafik 5.1. Jumlah Program Studi Kedokteran Gigi per Wilayah
di Indonesia Tahun Akademik 2008/2009
D3 S1 Profesi S2 S3 Sp1
P o t r e t K e t e r s e d i a a n d a n K e b u t u h a n T e n a g a D o k t e r G i g i | Page 16
Tabel 5.2 Rekapitulasi Program Studi Kedokteran Gigi per Jenjang Pendidikan Tahun Akademik 2008/2009
No Program Studi Wilayah
Sumatera Jawa Bali, Nusa Tenggara
Kalimantan Sulawesi Maluku, Papua TOTAL 1 D3 Tehnik Gigi 2 3 1 2 8 2 S1 Pendidikan Dokter Gigi 6 15 1 1 2 25
3 Profesi Dokter Gigi 2 8 1 1 12
4 S2 Ilmu Kedokteran Gigi 3 3 5 S2 Ilmu Kedokteran Gigi Dasar 1 1 6 S2 Ilmu Kedokteran Gigi Komunitas 1 1 7 S2 Ilmu Kedokteran Gigi Klinik 1 1 8 S3 Ilmu Kedokteran Gigi 2 2 9 Sp1 Ilmu Konservasi Gigi 5 1 6 10 Sp1 Ilmu Kesehatan Gigi Anak 4 4 TOTAL 10 43 3 1 6 0 63
Sumber : Data EPSBED - 17/08/2010 (www.evaluasi.or.id) *Jenis prodi berwarna merah adalah yang tidak terdapat pada SK 163
B. Jumlah Program Studi berdasarkan Status Kepemilikan
Jumlah program studi berdasarkan status kepemilikan dibagi menjadi 2, yaitu program studi Kedokteran Gigi yang dimiliki oleh PTN dan PTS. Jumlah program studi yang dimiliki oleh PTN adalah 14 dan PTS adalah 18. Penyebaran PTN masih belum merata diseluruh wilayah Indonesia.Terbanyak masih di pulau Jawa yaitu 7 PTN, sementara Bali, Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua tidak memilik FKG PTN. Untuk PTS, wilayah Kopertis II, XI dan XII tidak memiliki PTS. Untuk perbandingan PTN dan PTS berdasarkan wilayah, untuk wilayah Sumatera dan Sulawesi perbandingannya seimbang yaitu 2:2. Sementara untuk di wilayah Jawa, lebih banyak PTS dibandingkan PTN.Di wilayah Bali dan Nusa Tenggara, hanya ada 1 PTS.Di wilayah Kalimantan, hanya ada 1 PTN.
P o t r e t K e t e r s e d i a a n d a n K e b u t u h a n T e n a g a D o k t e r G i g i | Page 17 Tabel 5.3 Jumlah Fakultas Kedokteran Gigi PTN per Wilayah di Indonesia
Tahun Akademik 2008/2009
Wilayah Jumlah FKG PTN
Sumatera 4
Jawa 7
Bali, Nusa Tenggara 0
Kalimantan 1
Sulawesi 2
Maluku, Papua 0
Total 14
Sumber : Data EPSBED - 17/08/2010 (www.evaluasi.or.id)
Tabel 5.4 Jumlah Prodi Kedokteran Gigi PTS per Wilayah Kopertis di Indonesia Tahun Akademik 2008/2009
Wilayah Kopertis Jumlah Prodi PTS
I 1 II 0 III 3 IV 2 V 1 VI 1 VII 3 VIII 2 IX 2 X 3 XI 0 XII 0 Total 18
Sumber : Data EPSBED - 17/08/2010 (www.evaluasi.or.id) 0 5 10 4 7 0 1 2 0 Ju m lah Wilayah
Grafik 5.2. Jumlah Fakultas Kedokteran Gigi Perguruan Tinggi Negeri per Wilayah di Indonesia Tahun Akademik 2008/2009
P o t r e t K e t e r s e d i a a n d a n K e b u t u h a n T e n a g a D o k t e r G i g i | Page 18
Tabel 5.5 Perbandingan Jumlah Program Studi Kedokteran Gigi PTN dan PTS per Wilayah
Wilayah PTN PTS
Sumatera 4 4
Jawa 7 10
Bali, Nusa Tenggara 0 2
Kalimantan 1 0
Sulawesi 2 2
Maluku, Papua 0 0
Sumber : Data EPSBED - 17/08/2010 (www.evaluasi.or.id) 0
5 10
I II III IV V VI VII VIII IX X XI XII
1 0 3 2 1 1 3 2 2 3 0 0 Ju m lah Wilayah Kopertis
Grafik 5.3. Jumlah Fakultas Kedokteran Gigi Perguruan Tinggi Swasta
per Wilayah Kopertis di Indonesia Tahun Akademik 2008/2009
Jumlah Prodi PTS 0 5 10 4 7 0 1 2 0 4 10 2 0 2 0 Ju m lah Faku ltas K e d o kt e ran Gi gi Wilayah
Grafik 5.4. Perbandingan Jumlah Prodi Kedokteran Gigi PTN dan
PTS per Wilayah di Indonesia Tahun Akademik 2008/2009
PTN PTS
P o t r e t K e t e r s e d i a a n d a n K e b u t u h a n T e n a g a D o k t e r G i g i | Page 19
II. Distribusi Mahasiswa
Distribusi mahasiswa kedokteran di Indonesia diklasifikasikan dalam 2 bagian, yaitu jumlah mahasiswa per wilayah (6 pulau besar di Indonesia) dan jumlah mahasiswa berdasarkan status kepemilikan (PTN berdasarkan pulau, sedangkan PTS berdasarkan Regionalisasi Kopertis). Penyebaran Mahasiswa terbanyak masih pada jenjang prodi S1 dan yang terkecil adalah prodi S2.Penyebaran Mahasiswa terbanyak adalah di pulau Jawa dengan total mahasiswa dari semua prodi adalah 7921 mahasiswa dan terkecil adalah di pulau Maluku, Papua.Hal ini disebabkan bahwa di kedua wilayah tersebut tidak memiliki prodi kedokteran Gigi. Pulau Kalimantan memiliki prodi namun sayangnya tidak ada didalam data EPSBED.Untuk Jumlah mahasiswa PTN, jumlah terbanyak masih ditempati wilayah Jawa dengan konsentrasi terbanyak pada mahasiswa prodi S1 yaitu 2936 mahasiswa S1. Untuk Jumlah mahasiswa PTS terbanyak masih ditempati wilayah 3 dengan jenjang terbanyak adalah mahasiswa prodi S1 yaitu 1413 mahasiswa S1
Tabel 5.6. Jumlah Mahasiswa Kedokteran Gigi per Jenjang Pendidikan di Wilayah Indonesia Tahun Akademik 2008/2009 0 1000 2000 3000 4000 5000 6000
Sumatera Jawa Bali, Nusa TenggaraKalimantan Sulawesi Maluku, Papua
178 85 1682 5187 230 720 256 2370 298 373 5 7 174 Ju m lah M ah asi swa Wilayah / Pulau
Grafik 5.5. Jumlah Mahasiswa Program Studi Kedokteran Gigi per Jenjang Pendidikan Tahun Akademik 2008/2009
D3 S1 Profesi S2 S3 Sp1 Wilayah D3 S1 Profesi S2 S3 Sp1 Sumatera 0 1682 256 0 0 0 Jawa 178 5187 2370 5 7 174
Bali, Nusa Tenggara 0 230 298 0 0 0
Kalimantan 0 0 0 0 0 0
Sulawesi 85 720 373 0 0 0
Maluku, Papua 0 0 0 0 0 0
P o t r e t K e t e r s e d i a a n d a n K e b u t u h a n T e n a g a D o k t e r G i g i | Page 20
Tabel 5.7 Jumlah Mahasiswa Program Studi Kedokteran Gigi PTN per Jenjang berdasarkan Wilayah di Indonesia Tahun Akademik 2008/2009
Wilayah D3 S1 Profesi S2 S3 Sp1
Sumatera 0 1214 256 0 0 0
Jawa 141 2936 1052 5 7 174
Bali, Nusa Tenggara 0 0 0 0 0 0
Kalimantan 0 0 0 0 0 0
Sulawesi 0 720 373 0 0 0
Maluku, Papua 0 0 0 0 0 0
Total 141 4870 1681 5 7 174
Tabel 5.8 Jumlah Mahasiswa Program Studi Kedokteran Gigi PTS per Jenjang berdasarkan Wilayah Kopertis di Indonesia Tahun Akademik 2008/2009
Wilayah Kopertis D3 S1 Profesi S2 S3 Sp1
I 15 II 0 III 26 1413 1223 0 500 1000 1500 2000 2500 3000
Sumatera Jawa Bali, Nusa TenggaraKalimantan Sulawesi Maluku, Papua 141 1214 2936 720 256 1052 373 5 7 174 Ju m lah M ah asi swa Wilayah / Pulau
Grafik 5.6. Jumlah Mahasiswa Program Studi Kedokteran Gigi PTN per Jenjang berdasarkan Wilayah di Indonesia Tahun Akademik 2008/2009
D3 S1 Profesi S2 S3 Sp1
P o t r e t K e t e r s e d i a a n d a n K e b u t u h a n T e n a g a D o k t e r G i g i | Page 21 IV 26 V 356 VI 50 VII 11 406 95 VIII 230 298 IX 85 0 X 453 XI 0 XII 0 Total 122 2949 1616 0 0 0
III. Distribusi Dosen
Distribusi dosen kedokteran Gigi di Indonesia diklasifikasikan dalam 2 bagian, yaitu jumlah dosen per wilayah (6 pulau besar di Indonesia) dan jumlah dosen berdasarkan status kepemilikan (PTN berdasarkan pulau, sedangkan PTS berdasarkan Regionalisasi Kopertis). Penyebaran dosen terbanyak adalah di pulau Jawa yaitu 839 dengan konsentrasi dosen terbanyak pada jenjang S1 yaitu 544 dosen. Untuk penyebaran dosen dari tiap jenjang, terbanyak adalah dosen pada jenjang S1 yaitu sebanyak 813 dosen. Penyebaran dosen pada tiap jenjang yang terlengkap hanya di pulau Jawa.
0 150 300 450 600 750 900 1050 1200 1350 1500
I II III IV V VI VII VIII IX X XI XII
26 11 85 15 0 1413 26 356 50 406 230 0 453 0 0 1223 95 298 Ju m lah M ah asi swa Wilayah Kopertis
Grafik 5.7. Jumlah Mahasiswa Program Studi Kedokteran Gigi PTS per
Jenjang berdasarkan Wilayah Kopertis di Indonesia Tahun Akademik
2008/2009
D3 S1 Profesi S2 S3 Sp1
P o t r e t K e t e r s e d i a a n d a n K e b u t u h a n T e n a g a D o k t e r G i g i | Page 22
Tabel 5.9 Jumlah Dosen Program Studi Kedokteran Gigi per Jenjang di Wilayah Indonesia Tahun Akademik 2008/2009 Wilayah Jenjang D3 Jenjang S1 Jenjang Profesi Jenjang S2 Jenjang S3 Jenjang Sp1 Sumatera 0 160 8 0 0 0 Jawa 48 544 141 53 17 36
Bali, Nusa Tenggara 0 32 8 0 0 0
Kalimantan 0 0 0 0 0 0
Sulawesi 6 77 11 0 0 0
Maluku, Papua 0 0 0 0 0 0
Total 54 813 168 53 17 36
Sumber : Data EPSBED - 17/08/2010 (www.evaluasi.or.id)
Tabel 5.10 Jumlah Dosen Program Studi Kedokteran Gigi PTN per Jenjang berdasarkan Wilayah di Indonesia Tahun Akademik 2008/2009
Wilayah D3 S1 Profesi S2 S3 Sp1 Sumatera 0 123 8 0 0 0 Jawa 20 363 81 38 17 36 0 100 200 300 400 500 600 48 6 160 544 32 77 8 141 8 11 53 17 36 Ju m lah D o sen Wilayah / Pulau
Grafik 5.8. Jumlah Dosen Kedokteran Gigi per Jenjang di Wilayah
Indonesia Tahun Akademik 2008/2009
Jenjang D3 Jenjang S1 Jenjang Profesi Jenjang S2 Jenjang S3 Jenjang Sp1
P o t r e t K e t e r s e d i a a n d a n K e b u t u h a n T e n a g a D o k t e r G i g i | Page 23
Bali, Nusa Tenggara 0 0 0 0 0 0
Kalimantan 0 0 0 0 0 0
Sulawesi 0 77 11 0 0 0
Maluku, Papua 0 0 0 0 0 0
Total 20 563 100 38 17 36
Sumber : Data EPSBED - 17/08/2010 (www.evaluasi.or.id)
Tabel 5.11. Jumlah Dosen Program Studi Kedokteran Gigi PTS per Jenjang berdasarkan wilayah Kopertis di Indonesia Tahun Akademik 2008/2009
Sumber : Data EPSBED - 17/08/2010 (www.evaluasi.or.id) 0 100 200 300 400 20 123 363 77 8 81 11 3817 36 Ju m lah D o sen Wilayah / Pulau
Grafik 5.9. Jumlah Dosen Program Studi Kedokteran Gigi PTN per
Jenjang berdasarkan Wilayah di Indonesia Tahun Akademik 2008/2009
Jenjang D3 Jenjang S1 Jenjang Profesi Jenjang S2 Jenjang S3 Jenjang Sp1
Wilayah Kopertis D3 S1 Profesi S2 S3 Sp1
I 0 12 0 0 0 0 II 0 0 0 0 0 0 III 15 111 43 15 0 0 IV 0 8 0 0 0 0 V 0 13 0 0 0 0 VI 0 7 0 0 0 0 VII 13 42 17 0 0 0 VIII 0 32 8 0 0 0 IX 6 0 0 0 0 0 X 0 25 0 0 0 0 XI 0 0 0 0 0 0 XII 0 0 0 0 0 0 Total 34 250 68 15 0 0