SHARIA ECONOMIC OUTLOOK 2016 oleh: Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) @2015
Desain Sampul & Layout: Miftakhul Ulum Editor: Achmad Iqbal, SP., M.Ec
Pengarah: Prof. Firmanzah, Ph.D Penyusun: Tim Outlook MES Diterbitkan oleh:
Masyarakat Ekonomi Syariah Jl. Setiabudi Tengah No. 29 Kuningan, Jakarta Selatan Telp. 021-52901515 Fax. 021-52901516 Email: [email protected] [email protected] Website: www.ekonomisyariah.org www.koperasi-syariah.net www.belajar.ekonomisyariah.org
Dilarang mengutip atau memperbanyak sebagaian atau seluruh isi buku ini tanpa sepengetahuan dan izin dari pihak MES
Daftar Isi
BAB 1: Outlook Ekonomi Makro 2016 1
BAB 2: Perkembangan dan Outlook Perbankan Syariah di Indonesia 3
A. Pendahuluan 3
B. Analisa Perkembangan 4
C. Outlook Perbankan Syariah 2016 9
BAB 3: Perkembangan dan Outlook Asuransi dan Re-Asuransi Syariah 17
A. Pendahuluan 17
B. Analisa Perkembangan 18
C. Outlook Asuransi dan Re-Asuransi Syariah 2016 22
BAB 4: Perkembangan dan Outlook Pasar Modal Syariah 29
A. Pendahuluan 29
B. Analisa Perkembangan Pasar Modal Syariah: Saham, Sukuk
dan Reksadana Syariah 30
B.1. Analisis Perkembangan Saham Syariah 30
B.2. Analisis Perkembangan Instrumen Sukuk 33
B.3. Analisis Perkembangan Reksadana Syariah 36
C. Outlook Saham Syariah, Sukuk, dan Reksadana 40
C.1. Outlook Saham Syariah 40
C.2. Outlook Sukuk Tahun 2016 41
C.3. Outlook Reksadana Syariah Tahun 2016 43
BAB 5: Perkembangan dan Outlook Lembaga Keuangan Mikro Syariah 47
A. Pendahuluan 47
B. Analisa Perkembangan LKM Syariah: BPRS, BMT, dan Koperasi Syariah 47 B.1. Analisa Perkembangan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah 47
B.2. Analisa Perkembangan BMT 51
C. Outlook Lembaga Keuangan Mikro 2016 52
C.1. Arah Pengembangan BPRS 53
C.2. Arah Pengembangan BMT 53
BAB 6: Perkembangan dan Outlook Industri Non Keuangan Syariah 57
A. Pendahuluan 57
B. Analisa Perkembangan 58
B.1. Analisa Perkembangan Pariwisata Syariah 58 B.2. Analisa Perkembangan Industri Muslim Fashion 59 B.3. Analisa Industri Kosmetik dan Makanan Halal 61
Daftar Tabel
Table 2.1 Indikator Tingkat Kesehatan Perbankan Syariah 10
Table 2.2 Skenario Outlook Perbankan Syariah 2016 11
Table 3.1 Jumlah Perusahaan Asuransi dan Re-Asuransi Syariah di Indonesia 20 Table 3.2 Kinerja Keunagan Industri Asuransi dan Re-Asuransi Syariah
(dalam Triliun RUpiah) 22
Table 3.3 Komposisi Portfolio dan Hasil Investasi Asuransi dan Re-Asuransi Syariah
(dalam Miliar Rupiah) per Agustus 2015 23
Table 3.4 Skenario Outlook 26
Table 4.1 Statistik Perkembangan Pasa Modal Indonesia 31
Table 4.2 Nilai SUrat Utang Pemerintah Berdasarkan Jenis per September 2015 36 Table 4.3 Kepemilikan SBSN Domestik per Agustus 2015 (dalam Miliar Rupiah) 37
Table 4.4 Reksa Dana Syariah per Agustus 2015 39
Table 4.5 Outlook Saham Syariah 2016 43
Table 4.6 Outlook Sukuk 2016 (dalam Triliun Rupiah) 45
Table 4.7 Outlook Reksa Dana Syariah 2016 46
Table 5.1 Tren Kinerja Keuangan BPRS 52
Table 5.2 Distribusi NPF Berdasarkan Sektor Ekonomi 53
Table 5.3 Target BMT dalam Rentang 10 Tahun 54
Table 6.1 Daftar 10 Negara dengan Global Islamic Economy Indicator Tertinggi 59 Table 6.2 Peringkaran 10 Besar Global Muslim Travel Index 2015 60 Table 6.3 Peringkat 10 Besar the Muslim Trave Shopping Index 2015 60
Table 6.4 Jumlah WIsatawan Asing Berdasarkan Kebangasaan 61
Table 6.5 Tren Perkembagan Fashion 62
Daftar Gambar
Gambar 2.1 Tenaga Kerja dan Jaringan Kantor Perbankan Syariah 5 Gambar 2.2 Pertumbuhan Perbankan Syariah 2010-2015 7
Gambar 2.3 Komposisi Dana Pihak Ketiga Berdasarkan Akad Per Juni 2015 8 Gmabar 2.4 Komposisi Pembiayaan Berdasarkan Tujuan Penggunaan 9
Gambar 2.5 Komposisi Pembiayaan Berdasarkan Golongan 9
Gambar 3.1 Pangsa Pasar Takaful Dunia 19
Gambar 3.2 Tren Penetrasi Pasar Asuransi Syariah di Indonesia 21 Gambar 3.3 Rasio Klain-Kontribusi pada Asuransi Umum dan Asuransi Jiwa Syariah 22
Gambar 4.1 Komposisi JII dan ISSI 33
Gambar 4.2 Pergerakan JII, ISSI, dan IHSG 34
Gambar 4.3 Perkembangan Sukuk Korporasi di Indonesia 35
Gambar 4.4 Proporsi Kepemilikan SBSN per Agustus 2015 38
Gambar 4.5 Persentase NAB Reksa Dana Terhadap Total NAB 40
Gambar 4.6 Grafik Perkembangan REksa Dana Konvensional 41
Gambar 4.7 Grafik Perkembangan REksa Dana Syariah 41
Gambar 5.1 Proporsi BPRS Berdasarkan Total Aset 49
Gambar 5.2 Neraca Gabungan BPRS 50
Gambar 5.3 Kegiatan Usaha BPR 50
Gambar 5.4 Komposisi DPK pada BPRS (dalam Juta Rupiah) 50
Gambar 5.5 Tabungan iB BPRS 50
Gambar 5.6 Komposisi Pembiayaan BPRS Berdasarkan Akad 51
Gambar 5.7 Golongan Pembiayaan BPRS 51
Gambar 5.8 Pembiayaan Berdasarkan Jenis Penggunaan 52
Gambar 5.9 Pembiayaan Berdasarkan sekor Ekonomi 52
Gambar 5.10 Kolektibilitas Pembiayaan BPRS 52
Gambar 6.1 Nilai Tambah Bruto dan Proporsi Sub-Sektor Fashion
BAB 1
OUTLOOK EKONOMI MAKRO TAHUN 2016
Kurang dari dua bulan ke depan, Indonesia akan memasuki tahun 2016. Banyak pihak berharap ekonomi Indonesia akan membaik dibandingkan tahun 2015 ini, dimana kinerja perekonomian Indonesia sepanjang tahun ini menunjukkan tanda-tanda pelambatan yang cukup nyata. Setelah melalui proses politik yang cukup alot, pemerintah bersama dengan DPR menyepakati beberapa asumsi makro pada RAPBN 2016 . Indikator makro tersebut antara lain yaitu pertumbuhan ekonomi sebesar 5,3 persen, tingkat inflasi 4,7 persen, suku bunga SPN 3 bulan 5,5 persen, serta rerata nilai tukar rupiah ada pada kisaran Rp13.900 per dolar Amerika Serikat. Beberapa lembaga internasional seperti Bank Dunia juga memproyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada level 5.3%. Walaupun demikian, dalam rentang yang moderat, secara umum ekonomi Indonesia diprediksi hanya akan ada pada rentang 5% - 5.3%, mengingat pada tahun ini pertumbuhan yang dicapai tidak akan lebih dari 5%.
Pertumbuhan ekonomi pada tahun 2015 ini memang dipastikan akan jauh meleset dari target pemerintah sebesar 5.7 %. Perekonomian global yang belum menunjukkan tanda-tanda pulih cukup memberikan imbas yang signifikan pada perlambatan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Stagnasi yang melanda di negara-negara yang menjadi mitra dagang Indonesia, termasuk Tiongkok, menjadi salah satu faktor yang turut mempengaruhi perlambatan tersebut. Perlambatan sektor ekonomi riil di Tiongkok khususnya, dipastikan berdampak terhadap anjloknya harga komoditas di pasar internasional. Selain itu, gejolak yang terjadi di pasar keuangan akibat ketidakpastian paket kebijakan the Fed juga memberikan tekanan depresiasi rupiah yang cukup persisten. Kondisi ini masih ditambah dengan efek tidak langsung resminya Yunani dinyatakan sebagai negara yang bangkrut.
Meskipun cenderung melambat, akan tetapi jika dibandingkan dengan mayoritas negara lain kondisi perekonomian Indonesia sebenarnya masih menunjukkan kinerja positif yang berada diatas rata-rata. Berdasarkan World Economic Outlook yang dikeluarkan IMF, perekonomian global tahun 2015 diperkirakan hanya tumbuh 3,3 persen, sedangkan di tahun 2016 pertumbuhan ekonomi dunia diperkirakan menguat menjadi 3,8%. Sementara itu, perekonomian negara berkembang diperkirakan melambat dari 4,6% di tahun 2014 menjadi 4,2% di tahun 2015, dan diharapkan meningkat menjadi 4,7% pada tahun depan. Peningkatan ini bergantung dari perbaikan kondisi ekonomi di sejumlah negara yang tengah mengalami krisis, termasuk Rusia, beberapa negara Timur Tengah dan Afrika Utara. Sehingga jelas terlihat walaupun ekonomi Indonesia melambat, tetapi masih tetap lebih baik dibandingkan dengan kondisi perekonomian global.
Besaran positif perkembangan ekonomi Indonesia di tahun 2016 setidaknya akan ditentukan oleh dampak faktor-faktor berikut ini. Yang pertama adalah tingkat konsumsi rumah tangga. Selama beberapa tahun, konsumsi agregat khususnya ditingkat rumat tangga selalu menjadi backbone perekonomian nasional, khususnya ditengah rendahnya kontribusi ekspor dan investasi akibat pelemahan kondisi ekonomi global. Tahun lalu saja kontribusi konsumsi terhadap GDP mencapai 55% sehingga menjadi mesin pertumbuhan ekonomi. Akan tetapi tahun ini konsumsi diperkirakan tidak sedominan tahun sebelumnya dimana sampai kuartal II hanya tumbuh 4.97% dari 5.3% pada periode yang sama tahun lalu.
Faktor berikutnya adalah dampak Paket Kebijakan Ekonomi yang dikeluarkan pemerintah Jokowi. Sampai dengan Bulan November tercatat pemerintah telah mengeluarkan enam paket kebijakan ekonomi yang berisi sejumlah deregulasi ekonomi untuk mendorong ekonomi nasional tetap bergerak guna merespon tekanan ekonomi global. Selain untuk menjaga stabilitas ekonomi, paket kebijakan ekonomi ini diharapkan mampu merangsang pertumbuhan industri yang memberikan nilai tambah ekonomi dan memberikan kelonggaran insentif bagi dunia usaha sehingga tetap bisa menjaga perputaran roda ekonomi nasional. Hal positif lain yang diharapakan dari kebijakan ekonomi ini adalah terjaganya daya beli masyarakat mengingat beberapa subsidi yang selama ini diberikan pada masyarakat, secara konsisten terus dicabut dari anggaran pemerintah. Khusus pada paket kebijakan ekonomi tahap V, terdapat insentif khusus untuk industri keuangan syariah dimana pemerintah memberikan deregulasi berupa pemberian kemudahan pembukaan jaringan kantor bagi industri perbankan syariah. Jaringan induk bank syariah, yakni bank konvensional, dapat ikut menjual produk syariah tanpa harus membuka kantor baru.
Selain lewat paket kebijakan ekonomi , dukungan yang diberikan pemerintah adalah tentu pada pengeluaran fiskal khususnya pada dukungan dana infrastruktur. Harus diakui salah satu permasalahan klasik dunia usaha Indonesia adalah buruknya kondisi infrastruktur perekonomian. Lewat MP3EI, usaha nyata pemerintah sebenarnya telah dilakukan sejak pemerintahan SBY untuk mendukung percepatan pembangunan infrastruktur yang tidak hanya memadai tetapi seimbang secara geografis. Pada tahun 2016 direncanakan anggaran pengeluaran infastruktur mencapai nilai Rp. 313.5 Trilyun, dimana ini merupakan yang terbesar dibandingkan dengan APBN tahun- tahun sebelumnya, bahkan jika dibandingkan dengan APBN 2015, anggaran inftrastruktur mengalami kenaikan 8%. Besarnya dana infrastruktur diharapkan mampu menggairahkan iklim dunia usaha sehingga lebih optimis dalam meggerakkan perekonomian.
Faktor terakhir adalah ekonomi internasional. Memang harus diakui, sampai pertengahan tahun ini ekonomi global masih melambat sehingga masih belum bisa diharapkan memberikan kontribusi positif pada perekonomian nasional. Namun pada 2016, ada ekspektasi ekonomi global akan mulai recover mendekati mendekati rata-rata pertumbuhannya dalam 10 tahun terakhir. Tanda-tanda tersebut misalnya ditunjukkan oleh indikator pada negara maju yang menjadi mitra dagang utama Indonesia. Pertumbuhan ekonomi Jepang diprediksi meningkat mendekati level 0.7% dari sebelumnya -0.8%, sedangkan untuk Tiongkok akan naik sedikit diatas level sebelumnya yaitu 7%, sedangkan Amerika Serikat tetap senilai 2.9%. Sementara unemployment rate di Tiongkok dan Amerika masing – masing menurun menjadi sekitar 4% dan 5.3%, sedangkan Jepang tetap senilai 3.5%. Karena itu pemulihan ekonomi global kedepan menjadi salah satu kunci bagi suksesnya ekspansi ekonomi Indonesia.
BAB 2
PERKEMBANGAN DAN OUTLOOK PERBANKAN SYARIAH
DI INDONESIA
A. PENDAHULUAN
Industri perbankan syariah Indonesia secara umum telah mengalami kemajuan yang berarti sejak pertama kali didirikan pada tahun 1992. Dalam rentang periode 9 tahun terakhir, aset perbankan syariah telah tumbuh sebesar 10 kali lipat dari posisi Rp 26,7 Triliun pada tahun 2006, menjadi Rp 272,4 Triliun pada pertengahan tahun 2015. Meskipun begitu aset perbankan syariah di triwulan II tahun 2015 hanya tumbuh sebesar 8,13% di banding periode yang sama tahun sebelumnya (yoy).
Gambar 2.1
Tenaga Kerja dan Jaringan Kantor Perbankan Syariah
Sumber: Statistik Perbankan Syariah, OJK
Tahun 2015 merupakan periode yang penuh tantangan bagi pelaku ekonomi di Indonesia. Faktor makroekonomi global seperti menguatnya nilai tukar Dolar AS terhadap rupiah, melambatnya perekonomian Tiongkok dan faktor internal seperti menurunnya konsumsi pasar domestik telah memperburuk kinerja perusahaan-perusahaan di tanah air. Untuk industri jasa keuangan khususnya perbankan syariah pelambatan ekonomi tidak hanya dapat dilihat dari menurunnya tingkat pertumbuhan aset, pembiayaan dan dana pihak ketiga, namun juga dapat dicermati dari menurunnya indikator kinerja non-keuangan seperti jumlah tenaga kerja dan jaringan kantor cabang. Konsolidasi yang dilakukan oleh bank-bank syariah di tanar air merupakan suatu respon yang perlu diambil agar tetap bertahan dalam kerasnya persaingan di industri jasa keuangan. Meskipun begitu, kondisi perbankan syariah di tanah air masih relatif stabil dengan tingkat kecukupan modal (CAR) yang memadai.
Pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS merupakan reaksi atas keputusan The Federal Reserve yang menaikkan suku bunga. Kebijakan ini diambil oleh Bank Sentral Paman Sam tersebut sebagai suatu upaya untuk membawa kembali dana ke dalam negeri mereka atau disebut tapering. Akibat dari kebijakan ini, nilai Dolar AS menguat terhadap mata uang negara lain termasuk Indonesia. Penguatan Dolar AS yang luar biasa di triwulan-I dan triwulan-II 2015, membawa kekhawatiran akan terkoreksinya pertumbuhan ekonomi dan rapuhnya stabilitas sistem keuangan.
Melihat situasi pelemahan nilai tukar Rupiah yang semakin mengkhawatirkan Dewan Syariah Nasional (DSN) pada bulan April 2015 telah mengeluarkan fatwa terbaru mengenai lindung nilai syariah (al-Tahawwuth al-Islami atau Islamic hedging). Fatwa ini dapat dijadikan panduan bagi pelaku usaha dan lembaga keuangan syariah yang ingin melindungi posisinya dari risiko memburuknya nilai tukar dengan akad-akad yang sesuai dengan ketentuan syariah. Bagi lembaga keuangan syariah, keluarnya fatwa tentang lindung nilai syariah ini tentu menjadi solusi untuk memitigasi risiko dari meningkatnya ketidakpastian di tahun 2015 ini.
Sementara itu, sebagai bagian dari rencana implementasi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), khusus untuk liberalisasi sektor perbankan, satu inisiatif bersama yang bernama ASEAN Banking Integration Framework (ABIF) telah diagendakan untuk mempercepat proses tersebut. Dalam kerangka kerja ini, OJK telah menetapkan skema liberalisasi perbankan Indonesia di ASEAN adalah ABIF 2015. Setidaknya ada dua cara yang dapat dilakukan untuk mempercepat proses integrasi perbankan di kawasan ini yaitu melalui pemberian keleluasaan beroperasi dan akses pasar. Dengan kata lain, otoritas jasa keuangan di masing-masing negara anggota akan mengurangi hambatan bagi bank-bank dari negara tetangga yang ingin melayani pasar keuangan domestik. Implikasi dari penerapan inisiatif ini adalah persaingan pasar keuangan akan semakin ketat karena bank-bank besar dari negara tetangga yang didukung dengan teknologi canggih dan kapital besar akan menjadi pesaing tangguh bagi bank-bank tanah air.
Liberalisasi sektor keuangan dan perbankan ini juga akan berpengaruh pada sektor perbankan syariah di Indonesia. Dengan populasi muslim terbesar di dunia dan pertumbuhan ekonomi yang menjanjikan, Indonesia menjadi target utama rencana ekspansi konglomerat perbankan di kawasan ASEAN. Selain itu, faktor besarnya tingkat keuntungan (net interest margin atau net profit margin) di industri perbankan di Indonesia telah menjadi daya tarik tersendiri bagi bank-bank asing untuk memperluas ekspansinya.
B. ANALISIS PERKEMBANGAN
Tiga tahun terakhir sektor perbankan syariah menunjukkan tingkat pertumbuhan aset, pembiayaan dan dana pihak ketiga yang cenderung menurun. Beberapa tahun sebelumnya pertumbuhan ketiga indikator tersebut cukup baik bahkan mencapai 50 persen di tahun 2011. Namun memasuki tahun 2012, terjadi penurunan pertumbuhan yang alurnya semakin menurun terutama di triwulan II tahun 2015 ini. Sepertinya sektor perbankan syariah sedang memasuki fase baru yang penuh tantangan untuk mempertahankan eksistensinya.
Gambar 2.2
Pertumbuhan Perbankan Syariah 2010-2015
Sumber: Statistik Perbankan Syariah, OJK
Sementara itu, di lihat dari kontribusi perbankan syariah terhadap industri perbankan di tanah air, market share dari perbankan syariah stagnan di angka 4,70% dari keseluruhan total aset perbankan nasional. Bahkan bisa dibilang telah terjadi penurunan pangsa pasar perbankan syariah dari posisi sebelumnya di level 4,86% pada triwulan II tahun 2014 (yoy). Hal ini memperlihatkan pertumbuhan aset perbankan syariah belum dapat melewati ambang batas 5 persen. Terobosan yang dilakukan OJK seperti memberi kelonggaran uang muka dalam pembiayaan perumahan syariah ternyata belum menunjukkan dampak yang signifikan terhadap pertumbuhan pembiayaan sampai triwulan-II 2015. Kita perlu memberikan apresiasi terhadap usaha pengawas lembaga jasa keuangan untuk mendongkrak kinerja perbankan syariah. Namun yang tidak kalah penting adalah bagaimana merumuskan kebijakan yang dapat menyentuh permasalah di perbankan syariah seperti mahalnya tingkat imbal hasil dan dominasi dana jangka pendek pada sisi liabilitas. Oleh karena itu perbankan syariah perlu untuk melakukan perbaikan internal baik dengan menerapkan kebijakan efisiensi biaya maupun kebijakan yang dapat meningkatkan aktiva produktif (pembiayaan).
Dari sisi penghimpunan dana, perbankan syariah di triwulan-II 2015 berhasil menghimpun dana masyarakat sebesar Rp 215,34 Triliun atau mengalami kenaikan sebesar 12,4 persen dari posisi triwulan II 2014 (yoy). Dari jumlah dana pihak ketiga (DPK) tersebut, proporsi terbanyak adalah dalam bentuk deposito mudharabah (60 persen) diikuti tabungan mudharabah (23 persen), giro wadiah (11 persen) dan tabungan wadiah (6 persen). Sementara berdasarkan jatuh tempo, mayoritas deposito (78,2%) yang ada di perbankan syariah adalah deposito dengan jangka waktu 1 bulan. Jadi berdasarkan komposisi DPK ini perbankan syariah di tanah air cukup rentan terhadap risiko mismatch karena kewajiban (liability) yang sensitif terhadap pergerakan imbal hasil didominasi oleh dana jangka pendek.
Gambar 2.3
Komposisi Dana Pihak Ketiga Berdasarkan Akad Per Juni 2015
Sumber: Statistik Perbankan Syariah, OJK.
Dari sisi penyaluran pembiayaan perbankan syariah mencatat angka financing to deposit ratio (FDR) 96,52 persen. Angka tersebut masih lebih lebih baik dari perbankan konvensional yang memiliki loan to deposit ratio (LDR) sebesar 88,46 persen. Meskipun tetap lebih tinggi dari perbankan konvensional di sisi penyaluran dana, namun kinerja penyaluran pembiayaan justeru kurang menggembirakan dimana di triwulan-II 2014 berada di level, FDR perbankan syariah berada di posisi 100,80 persen. Kondisi ini menunjukkan di triwulan-II 2015 liabilitas yang sensitif terhadap pergerakan imbal hasil melebihi aktiva produktif. Implikasinya adalah ketika terjadi kenaikan benchmark rate maka perbankan syariah harus menanggung beban imbal hasil yang lebih tinggi dibandingkan keuntungan dari pembiayaan.
Orientasi Penggunaan Pembiayaan
Berdasarkan orientasi penggunaan pembiayaan, tujuan konsumsi dan modal kerja lebih mendominasi dibanding untuk tujuan investasi. Jika kita lihat tren dari penggunaan, pembiayaan untuk modal kerja mulai menunjukkan proporsi yang meningkat dan menyamai penggunaan untuk konsumsi. Disini kita dapat melihat adanya peningkatan kontribusi perbankan syariah untuk mendorong kinerja perekonomian. Perkembangan ini menggembirakan karena sudah sejalan dengan ide dibangunnya sistem perbankan syariah. Meskipun begitu, secara umum perbankan syariah tanah air masih berkutat pada sektor ritel dan consumer dimana menawarkan margin keuntungan yang lebih rendah dari sektor korporasi dan investasi. Namun untuk memperluas portofolio aset ke sektor korporasi dan investasi, perbankan syariah masih terkendala dengan minimnya modal. Dari 12 Bank Umum Syariah yang beroperasi di tanah air, 10 diantaranya hanya memiliki modal inti kurang dari Rp 2 Triliun dan tidak ada bank syariah yang memiliki modal di atas Rp 5 Triliun. Berdasarkan klasifikasi bank berdasarkan jumlah modal, bank-bank syariah Indonesia hanya masuk kategori BUKU 1 dan BUKU 2. Keterbatasan dalam permodalan berakibat pada terhambatnya ekspansi aset perbankan syariah dimana implikasinya adalah market share perbankan syariah tidak dapat menembus angka 5 persen.
Gambar 2.4
Komposisi Pembiayaan Berdasarkan Tujuan Penggunaan
Keterangan: *) Per Juni 2015 Sumber: Statistik Perbankan Syariah, OJK
Sedangkan mengenai penyaluran pembiayaan untuk UMKM, terlihat adanya penurunan porsi penyaluran DPK terhadap golongan usaha ini. Meskipun begitu, proporsi perbankan syariah pembiayaan ke sektor UMKM masih di atas batas yang ditetapkan oleh OJK yaitu 20 persen dari total baki pembiayaan. Dengan kata lain perbankan syariah masih relatif lebih berpihak dalam membantu kebutuhan dana UMKM. Oleh karena itu dengan keterbatasan modal, dana, sumber daya manusia (SDM) dan teknologi informasi (TI), bank syariah seharusnya dapat lebih berkonsentrasi pada sektor UMKM.
Gambar 2.5 Komposisi Pembiayaan Berdasarkan Golongan
Keterangan: *) Per Juni 2015
Tingkat kesehatan
Mengenai tingkat kesehatan perbankan syariah beberapa indikator menunjukkan adanya penurunan dan perlu diwaspadai oleh manajemen bank syariah. Dari sisi profitabilitas dua indikator utama yaitu ROA dan ROE di triwulan-II 2015 menunjukkan angka yang lebih baik dari tahun 2014, namun masih lebih rendah dari tahun 2012 dan 2013. Untuk ROA khususnya, pencapaian perbankan syariah masih lebih rendah dari tingkat profitabilitas perbankan konvensional.
Meningkatnya tingkat profitabilitas per Juni 2015 dibanding tahun 2014, terkait dengan meningkatnya FDR perbankan syariah. Kemudian, FDR perbankan syariah juga lebih baik dari perbankan konvensional. Dengan kata lain sektor perbankan syariah relatif lebih baik dalam menjalankan fungsi intermediasinya untuk menghubungkan surplus units dan deficit units di dalam perekonomian tanah air.
Meskipun lebih baik disisi penyaluran pembiayaan (FDR), namun tren peningkatan kredit bermasalah (NPF) pada beberapa tahun terakhir perlu diberi perhatian khusus oleh manajemen bank syariah. Dengan kata lain kinerja FDR yang tinggi seharusnya dibarengi oleh kualitas pembiayaan yang juga baik sehingga akan bermuara ke tingkat keuntungan yang lebih meningkat. Namun, ketika terjadi peningkatan FDR yang sejalan dengan kenaikan NPF maka perbankan syariah justeru tidak dapat menikmati hasil yang diinginkan secara maksimal. Kemudian, peningkatan NPF juga dapat menggerus rasio kecukupan modal (CAR) bank syariah dimana beberapa tahun terakhir nilainya lebih rendah dari perbankan konvensional. Untuk periode Juni 2015 CAR perbankan syariah sudah jatuh ke titik 14,09 persen. Jika tren penurunan ini terus terjadi, terutama ketika CAR lebih rendah dari 14 persen maka OJK akan mengkomunikasikan ini ke pihak bank syariah agar segera menambah modal. Ketentuan ini juga sejalan dengan aturan BASEL dimana bank perlu menambah modal jika CAR berada di posisi13-14 persen.
Tabel 2.1
Indikator Tingkat Kesehatan Perbankan Syariah
Rasio 2012 2013 2014 2015*) CAR 14.13% (17.43%) (18.13%)14.42% (19.57%)15,74 % (20.28%)14.09% ROA 2.14% (3.11%) (3.08%) 2.00% (2.85%)0.79% (2.29%) 0.89% ROE 24.06% 17.24% 5.85% 7.98% NPF 2.22% 2.62% 4.33% 4.73% FDR 100.00% (83.58%) (89.70%) 100.32% (89.42%) 91.50% (88.46%) 96.52% BOPO 74.97% (74.10%) (74.08%)78.21% (76.29%)94.16% (81.40%)94.22% Keterangan: *)Per Juni 2015, dalam kurung perbankan konvensional Sumber: Statistik Perbankan Syariah dan Statistik Perbankan Indonesia, OJK
Selain itu perbankan syariah tengah mengalami inefisiensi operasional. Kita dapat lihat bahwa rasio biaya operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) mengalami kecenderungan meningkat. Peningkatan biaya operasional ini perlu dikontrol oleh manajemen bank syariah agar tidak berdampak ke penurunan tingkat profitabilitas. Oleh karena itu, pengurangan jaringan kantor cabang dan karyawan dapat dianggap sebagai “pil pahit” yang membantu menyehatkan kembali perbankan syariah agar periode selanjutnya dapat menunjukkan kinerja keuangan yang membaik.
C. Outlook Perbankan Syariah 2016
Sesuai dengan prediksi beberapa lembaga internasional maupun institusi pemerintah, tingkat pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) Indonesia di tahun 2016 diperkirakan ada pada kisaran 5 persen. Prediksi ini dipengaruhi oleh masih tingginya ketidakpastian ekonomi global yang disebabkan pelemahan ekonomi Tiongkok dan masih tingginya suku bunga yang ditetapkan The Fed dimana membuat Dolar AS tetap menguat terhadap Rupiah. Merespon situasi pasar yang tidak menentu dan masih lemahnya tingkat konsumsi domestik, diperkirakan BI-rate tidak akan kurang dari 7.5 persen khususnya di triwulan-I 2016. Kebijakan ini tentu saja berdampak pada tetap mahalnya cost of fund pembiayaan perbankan syariah.
Meskipun bayang-bayang ketidakpastian situasi pasar masih menghantui prospek perekonomian tanah air di tahun depan, namun rencana pemerintah untuk menggenjot proyek-proyek infrastruktur dapat menjadi pendorong agar kegiatan ekonomi kembali bergairah. Selain itu dengan dikeluarkannya beberapa paket kebijakan dan insentif oleh pemerintah dan OJK diharapkan dampaknya dapat dirasakan tahun depan.
Tabel 2.2
Skenario Outlook Perbankan Syariah 2016
Indikator Skenario
Optimis Normal Pesimis
Pertumbuhan Aset 14,64-17,13% 12,76-14,63% 10,89-12,75%
Pertumbuhan Pembiayaan 15,05-17,01% 13,07-15,04% 11,10-13,06%
Pertumbuhan DPK 14,68-16,55% 12,79-14,67% 10,91-1278%
FDR 99,74-105,58% 90,89-99,73% 82,04-90,88%
Market Share 4.60-5,50% 4,44-4,65% 4.22-4.43%
Tahun 2016, diharapkan perekonomian nasional akan semakin pulih, terutama dengan banyaknya proyek-proyek infrastruktur dan semakin baiknya manajemen pemerintahan pusat dan daerah dalam penyerapan anggaran. Khususnya untuk proyek infrastruktur, perbankan syariah dapat mengambil peran terutama jika rencana OJK untuk mengeluarkan kebijakan yang terkait dengan penyimpanan dana hasil emisi sukuk khususnya yang diterbitkan oleh pemerintah. Kebijakan ini tentu dapat berdampak ke peningkatkan ketersediaan dana yang selanjutnya dapat diterjemahkan kedalam pembiayaan dan laba yang lebih baik.
Sementara itu berdasarkan informasi dari Forum Koordinasi Stabilitas Sistem Keuangan (FKSSK), situasi perekonomian dan sistem keuangan berada dalam situasi yang stabil. Kondisi ini didukung beberapa indikator perekonomian tanah air seperti deflasi, penguatan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS dan kenaikan IHSG. Meskipun volatilitas masih tinggi namun pemerintah menjamin bahwa akan ada perbaikan dan usaha untuk meningkatkan sisi penerimaan pemerintah di triwulan-IV 2015. Jika momentum ini dapat terus dijaga, maka harapan akan membaiknya ekonomi di tahun 2016 akan dapat terwujud.
Meskipun ada harapan akan membaiknya perekonomian di tahun 2016, prediksi kami pertumbuhan aset perbankan syariah adalah positif di kisaran 12-15 persen (normal). Dengan kata lain aktiva perbankan syariah akan terus meningkat walaupun tingkat pertumbuhannya sulit untuk menyamai pencapaian pada periode 2010-2013 (20-50%). Selain itu kami perkirakan pertumbuhan pembiayaan dan DPK juga tidak akan banyak berbeda dengan pertumbuhan aset perbankan syariah.
Tingginya ketidakpastian di pasar akibat tekanan global dan domestik masih berpotensi untuk menahan laju pertumbuhan bisnis perbankan syariah di tahun depan. Selain itu tingkat kompetisi dalam bisnis jasa keuangan akan semakin ketat terutama paska berlakunya masyarakat ekonomi ASEAN (MEA) dimana untuk industri perbankan hal ini tertuang dalam ASEAN Banking Integration Framework (ABIF). Semakin sengitnya persaingan dalam industri jasa keuangan akan berpengaruh negatif terhadap kinerja perbankan syariah dikarenakan masih terkendala beberapa masalah mendasar seperti keterbatasan modal, sumber dana, SDM dan TI yang mumpuni.
Kemudian mengenai penyaluran pembiayaan, sampai triwulan II-2015, perbankan syariah tetap lebih superior dibandingkan perbankan konvensional. Oleh karena itu, kami prediksi, FDR perbankan syariah akan tetap lebih tinggi dari perbankan konvensional. Di satu sisi hal ini mencerminkan perbankan syariah cukup efektif dalam menjalankan fungsi intermediasinya di perekonomian. Namun, di sisi lain, yang perlu diambil perhatian adalah untuk menjaga kualitas pembiayaan. NPF perbankan syariah di beberapa tahun terakhir menunjukkan tren meningkat dan bahkan lebih tinggi dari NPL perbankan konvensional. Perkembangan ini perlu diwaspadai agar FDR yang tinggi tidak menjadi kontra produktif. Dengan kata lain, perbankan syariah perlu lebih prudence dalam penyaluran pembiayaan. Mengingat dana nasabah (DPK) digunakan dalam pembiayaan yang disalurkan, maka perbankan syariah perlu memastikan bahwa kualitas pembiayaannya tetap baik agar tidak menimbulkan persepsi negatif di kalangan nasabah. Selama ini tingkat persaingan industri perbankan syariah memiliki bentuk oligopoli. Artinya beberapa bank menguasai pangsa pasar perbankan syariah secara signifikan. Sebagian dari bank-bank tersebut mengkonsentrasikan pembiayaannya ke sejumlah sektor yang kini bermasalah. Akibat konsentrasi ini NPF menjadi membengkak dan mempengaruhi NPF industri perbankan syariah secara keseluruhan.
Terkait dengan kondisi perekonomian dan persaingan di pasar keuangan tahun depan, maka target untuk melewati ambang batas 5 persen menurut prediksi kami masuk dalam skenario optimis. Artinya stakeholders perbankan syariah perlu melakukan usaha luar biasa (extraordinary efforts) untuk melampaui angka tersebut. Sejauh ini OJK sudah menyiapkan beberapa paket kebijakan untuk mendorong geliat industri perbankan syariah di tanah air. Meskipun begitu, tentu saja industri perbankan syariah perlu melakukan pembenahan
internal agar kebijakan dan relaksasi aturan itu bisa efektif dan tentunya berdampak positif terhadap kinerja keuangan.
Strategi Untuk Mencapai Target
Dalam rangka mencapai target di tahun 2016, industri dan stakeholders perbankan syariah perlu melakukan beberapa usaha seperti berikut:
1. Salah satu usaha yang perlu dilakukan perbankan syariah adalah menekan biaya operasional. Perbankan syariah dapat memanfaatkan program Laku Pandai (branchless banking) dari OJK. Dalam program ini, bank syariah dapat memanfaatkan jaringan induk konvensional atau melakukan pendekatan dengan tokoh masyarakat atau mitra terutama di daerah terpencil. Menurut OJK tiga Bank Umum Syariah papan atas sudah memaparkan rencana untuk menerapkan Laku pandai yang akan diimplementasikan di tahun 2016. Namun untuk penerapan sistem baru ini OJK mensyaratkan beberapa hal seperti: profil risiko yang baik, teknologi perbankan dengan didukung mobile banking, dan jaringan hingga Indonesia timur. Untuk mempermudah bank-bank syariah dalam penerapan sistim baru ini, OJK membuat pengecualian di mana membolehkan seorang agen suatu bank konvensional untuk menjadi agen bank lain selama bank itu adalah bank syariah. Situasi ini dapat dimanfaatkan khususnya oleh bank syariah yang induk nya telah lebih dulu menerapkan Laku Pandai. Jika ini dapat dilaksanakan maka bank syariah dapat menjangkau lebih banyak nasabah potensial di pelosok-pelosok negeri dengan biaya minimum. Namun yang perlu diperhatikan di sini adalah sisi product knowledge dari agen Laku Pandai yang menjadi mitra bank syariah. Dengan kata lain, mitra dari bank syariah selain dibutuhkan untuk meningkatkan pengumpulan dana, juga dapat menjadi ujung tombak yang mampu menjelaskan sistem dan mekanisme perbankan syariah pada masyarakat di daerah.
2. Tantangan lain yang dihadapi oleh perbankan syariah adalah persaingan untuk mengumpulkan dana nasabah. Kondisi ini sebenarnya terjadi karena persaingan untuk pengumpulan dana nasabah tidak hanya terjadi antar bank saja, namun juga dengan institusi keuangan non-bank (IKNB) seperti takaful dan reksa dana. Oleh karena itu, beberapa dekade belakangan bank umum mulai mencari sumber dana non-deposito. Salah satu mekanisme yang banyak dilakukan oleh bank untuk meningkatkan ketersediaan dana adalah dengan sekuritisasi aset. Sekuritisasi memungkinkan bank untuk mentransformasi aset berisikonya (pembiayaan) ke dalam bentuk uang yang kemudian dapat disalurkan kembali ke pihak yang memerlukan dana. Keuntungan dari sekuritisasi pembiayaan ini adalah bank tidak perlu menunggu lebih lama untuk mendapatkan kembali dana yang sudah dikeluarkan khususnya pinjaman berjangka panjang seperti pembiayaan perumahan. Sejauh ini penggunaan sekuritisasi dalam konteks perbankan syariah nyaris tak terdengar. Tentunya sekuritisasi aset disini tetap dalam koridor dan mekanisme yang tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip syariah. Oleh karena itu OJK dan DSN perlu mengeluarkan petunjuk pelaksanaan untuk memudahkan dalam tahap eksekusi.
3. Selain itu perbankan syariah perlu melakukan diversifikasi pembiayaan ke sektor korporasi dan investasi. Ekspansi tentu saja harus tetap dalam koridor prinsip kehati-hatian dalam menjalankan bisnis perbankan. Pembiayaan di sektor korporasi umumnya memerlukan ketersediaan dana yang cukup besar.Terkait dengan hal itu, bank syariah perlu mencermati sektor-sektor mana saja yang potensial di tahun 2016. Misalnya
sektor konstruksi dan sektor lainnya yang terkait berpotensi menunjukkan performa yang meningkat. Selain itu sektor lain yang juga berpotensi bagus adalah industri dengan kandungan bahan baku impor minimum seperti industri obat-obatan tradisional dan agribisnis. Selain itu perbankan syariah juga dapat melirik perkembangan ekonomi digital dimana pertumbuhan bisnis berbasis aplikasi (online) sedang booming beberapa tahun terakhir.
4. Penempatan dan pengurusan dana pemerintah pusat dan daerah oleh BUS dan UUS. Di Malaysia penempatan dana pemerintah dan government link companies (GLC) sangat mendukung tumbuh dan kembangnya perbankan syariah di negeri jiran tersebut. Kebijakan ini perlu diadopsi oleh pemerintah agar terjadi kenaikan signifikan dari aset dan DPK perbankan syariah tanah air khususnya yang memiliki tenor jangka menengah dan panjang. Dengan kata lain keberpihakan pemerintah baik pusat maupun daerah untuk mendorong tumbuh dan kembangnya industri perbankan syariah adalah mutlak. Oleh karena itu sudah seharusnya pemerintah termasuk BUMN dan BUMD tidak ragu-ragu untuk menggunakan jasa perbankan syariah dalam pengelolaan dana-dana pemerintah. Selain itu UU No. 34 tahun 2014, tentang pengelolaan keuangan haji mengamanatkan pembentukan suatu lembaga yang disebut Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH). Pembentukan lembaga ini ditargetkan setahun sejak UU ini disahkan. Jadi diharapkan pengelolaan dana haji akan lebih transparan dan akuntabel. Selain itu UU ini secara eksplisit juga mewajibkan keuangan haji dikelola di bank umum syariah atau unit usaha syariah. Rencana ini tentu dapat meningkatkan dana bank syariah.
5. Perbankan syariah perlu untuk lebih fokus dalam menyalurkan pembiayaan kepada UMKM. Terkait dengan pembiayaan untuk UMKM baru-baru ini OJK memberikan sinyal untuk memberikan insentif bagi konglomerasi keuangan yang memacu unit usaha syariahnya menyalurkan pembiayaan bagi UMKM. Dalam hal ini, OJK akan mengendurkan (relaksasi) aturan yang terkait dengan perhitungan modal inti jika proporsi pembiayaan terhadap UMKM melebihi 20 persen dari total seluruh pembiayaan yang disalurkan sebelum tahun 2018. Disini terlihat OJK serius untuk mendorong sektor UMKM untuk lebih memiliki akses kepada dana dari sistem perbankan. Di lain sisi, ini bisa menjadi peluang tersendiri bagi bank-bank syariah untuk memanfaatkan kesempatan ini untuk lebih meningkatkan FDR nya dan juga tingkat keuntungan dari pembiayaan. Kemudian insentif ini juga akan lebih meningkatkan CAR bank syariah khususnya jika aturan untuk perhitungan modal inti bagi lembaga keuangan yang menyalurkan pembiayaan ke sektor UMKM diperlonggar.
6. Tren semakin meningkatnya NPF di perbankan syariah perlu mendapat perhatian serius agar tidak sampai ke tingkat yang dapat mendorong terjadinya insolvensi. Untuk itu bank syariah perlu mengharmonisasikan antara penyaluran pembiayaan (FDR) dan cost of funds. Sampai saat ini bank syariah selalu memiliki FDR yang lebih tinggi bank konvensional. Hal ini merupakan hal positif dari sisi optimalisasi fungsi intermediasi. Namun di saat yang sama terjadinya kenaikan NPF dapat menjadi sinyal bahwa bank syariah perlu lebih mengkaji kebijakan pembiayaan. Dalam hal ini, bank syariah perlu melakukan efisiensi dalam pengumpulan dana sehingga bisa meraih dana berbiaya murah. Setelah itu bank syariah dapat menyalurkan pembiayaan dengan biaya lebih rendah yang tentunya dapat lebih membantu nasabah untuk mengembalikan pembiayaan. Selain itu, bank syariah juga perlu lebih meningkatkan kemampuan dalam menganalisis aplikasi pembiayaan sebelum mendapat persetujuan. Dalam proses ini
bank syariah perlu melakukan monitoring sebelum dan sesudah pembiayaan diberikan. 7. Inovasi produk keuangan merupakan salah satu tantangan yang cukup berat dalam
industri perbankan syariah. Terkait dengan hal itu bank syariah dapat memanfaatkan paket kebijakan yang baru saja dikeluarkan oleh OJK. Dalam paket yang berisi relaksasi aturan ini, perizinan untuk mengeluarkan produk keuangan baru menjadi dipermudah. Untuk itu, OJK akan mengeluarkan kodifikasi produk-produk keuangan syariah yang dapat menjadi panduan bagi bank syariah dalam membuat produk keuangan baru. Dengan kata lain selama ada dalam kodifikasi yang dikeluarkan OJK maka bank syariah tidak perlu mengurus perizinan produk tersebut.
8. Salah satu kekuatan yang dapat mendorong pertumbuhan bisnis perbankan syariah adalah SDM yang skilfull dan knowledgeable. Dalam rangka meningkatkan kapasitas SDM, bank syariah perlu untuk menginvestasikan dananya untuk program sertifikasi untuk meningkatkan skill perbankan karyawan. Selain itu bagi karyawan yang akan diproyeksi ke level lebih tinggi perlu di berikan beasiswa dalam bidang keuangan dan perbankan syariah baik di dalam dan di luar negeri. Tujuan dari pemberian beasiswa ini adalah agar calon pimpinan bank syariah dapat mengupgrade pengetahuan dan kemampuan analyticalnya. Selain itu dalam industri yang sedang berkembang pesat ini diperlukan adanya program sertifikasi terutama untuk staf perbankan syariah. Program sertifikasi dalam bidang keuangan syariah ini perlu diperbanyak untuk menstandarisasi kemampuan dari staf perbankan syariah. Kemudian, program sertifikasi profesional ini juga penting terkait kesiapan perbankan syariah tanah air menghadapi MEA dan ABIF. Sejauh ini belum ada badan resmi yang melakukan sertifikasi bagi tenaga profesional di bidang keuangan dan perbankan syariah. Oleh karena itu stakeholders, OJK dan pemerintah perlu untuk membuat suatu badan khusus untuk mengakomodasi kebutuhan tersebut.
9. Hal lain yang seharusnya menjadi perhatian adalah investasi dalam teknologi informasi (TI). Dalam era ekonomi digital saat ini pemanfaatan TI dalam proses bisnis sudah semakin meluas dan menjadi suatu keharusan. Industri yang cukup besar dalam pengeluaran untuk sistem IT nya adalah industri perbankan dan jasa keuangan. Selain itu tren konsumen saat ini sudah menjadikan internet menjadi salah satu kebutuhan utama. Hal ini dapat dilihat dari lonjakan pengguna internet terutama saat era smartphone saat ini. Terkait dengan perkembangan tersebut, bank syariah tidak boleh ketinggalan dalam mengupgrade teknologi yang digunakan. Manfaat yang dapat dirasakan oleh bank syariah dengan sistem TI yang mutakhir adalah peningkatan jumlah nasabah dan efisiensi biaya. Jika kedua hal tersebut dapat tercapai maka kinerja bank syariah akan dapat lebih baik di tahun depan.
10. Dengan efektifnya penerapan MEA, khususnya ABIF, tingkat persaingan di pasar keuangan domestik akan semakin sengit. Bank-bank besar di wilayah Asia Tenggara akan memperluas ekspansinya ke tanah air untuk mengambil manfaat dari tingginya NIM perbankan Indonesia. Menghadapi kompetisi tersebut diperlukan bank syariah dengan tingkat modal yang cukup besar agar dapat bersaing dengan bank syariah lain dari negara tetangga. Oleh karena itu perlu dikaji kembali kemungkinan konsolidasi perbankan syariah agar tercipta lembaga keuangan syariah yang memiliki modal kuat dan jangkauan yang luas. Tujuan utamanya tentu agar perbankan syariah tanah air dapat ikut berkompetisi dengan konglomerat perbankan dari negara ASEAN lainnya.
Sejauh ini bank syariah di tanah air hanya dapat masuk klasifikasi BUKU 1 dan BUKU 2. Dengan kondisi ini perbankan syariah memiliki keterbatasan untuk melakukan ekspansi baik dari sisi produk maupun jaringan. Oleh karena itu perlu adanya usaha terencana khususnya dari pemerintah untuk membentuk satu bank syariah yang kuat secara permodalan sehingga mampu lebih berbicara di panggung nasional dan regional. Disini pemerintah sebagai pemegang saham dapat berperan lebih aktif dengan cara mendorong merger bank-bank BUMN syariah. Meskipun rencana merger mungkin akan mendapat tantangan dari manajemen dan staf bank syariah namun dengan sosialisasi dan pendekatan yang rasional dan humanis, ide ini mungkin dapat lebih diterima internal bank syariah.
Jika kesepuluh strategi ini dapat berjalan di tahun depan, Insha Allah indikator kinerja perbankan syariah akan berada dalam skenario optimis. Selain itu, target optimis dapat tercapai jika didukung oleh asumsi makroekonomi seperti menguatnya nilai tukar Rupiah, rendahnya tingkat inflasi dan membaiknya penyerapan APBN. Kemudian, membaiknya geliat ekonomi di beberapa sektor seperti konstruksi dengan maraknya proyek infrastruktur dan e-commerce yang sedang booming di era internet dan smartphone dapat memberikan harapan akan pertumbuhan ekonomi yang lebih baik dari tahun 2015 dan tentunya stabilisasi di pasar keuangan.
Jika skenario optimis gagal diraih, perbankan syariah dapat mencoba untuk mendapatkan skenario normal. Untuk itu setidaknya perbankan syariah harus menjalankan enam strategi pertama yang fokus pada efisiensi biaya, sumber dana murah, dan peningkatan pendapatan agar tetap dapat mempertahankan kinerja yang tidak lebih buruk dari tahun 2015. Tetapi ketika enam strategi itu tidak terlaksana, maka mungkin kondisi perbankan syariah di tahun 2016 akan masuk ke dalam skenario pesimis.
BAB 3
PERKEMBANGAN DAN OUTLOOK ASURANSI
DAN RE-ASURANSI SYARIAH
A. PENDAHULUAN
Secara global, perkembangan industri asuransi syariah tidak terlepas dari perkembangan keadaan ekonomi dunia. Perlambatan ekonomi negara-negara berpengaruh seperti Amerika, Eropa, dan Tiongkok saat ini cukup mempengaruhi pertumbuhan aset industri keuangan syariah termasuk asuransi syariah global atau takaful. Perlambatan asuransi syariah tersebut terutama berasal dari chain effect hubungan dengan industri perbankan syariah dunia. Selama kurun 2014 hingga 2015 pertumbuhan perbankan syariah dunia mengalami perlambatan akibat kelesuan ekonomi global sehingga pada akhirnya juga memperlemah kinerja Industri asuransi dunia.
Gambar 3.1 Pangsa Pasar Takaful Dunia
30%
48%
15%
3% 2%
2%
ASEAN
Saudi Arabia GCC
Africa
South Asia
Levant
Sumber: EY, 2014
Walaupun demikian, pasar asuransi Takaful global tumbuh sebesar dua digit selama periode 2007 -2012 dengan kontribusi senilai US$18.3 billion sampai dengan tahun 2013 lalu. Meskipun demikian, ukuran industri masih tetap terfragmentasi dan secara signifikan kecil dibandingkan aset keuangan Islam global dengan pangsa pasar 1,1%. Lembaga
Ernst&Young (EY) memperkirakan pertumbuhan asuransi dunia masih tetap menjanjikan pada tahun 2016 mendatang di mana pertumbuhan asuransi syariah diperkirakan tumbuh sebesar 7 persen pada tahun 2016. Data terakhir menunjukkan Arab Saudi masih menjadi pasar terbesar industri keuangan syariah global dunia dengan pangsa pasar sebesar 48 persen pada tahun 2014.
B. ANALISA PERKEMBANGAN
Sampai dengan Agustus 2015, jumlah perusahaan asuransi syariah di Indonesia mencapai 50 untuk perusahaan asuransi dan reasuransi syariah dengan proporsi 33 persen dari total perusahaan asuransi di Indonesia (lihat Tabel 3.1.). Dari jumlah tersebut, 3 di antaranya adalah perusahaan asuransi syariah yang full pledged (3 perusahaan asuransi jiwa syariah dan 3 perusahaan asuransi umum syariah) sedangkan 43 sisanya berbentuk unit syariah (18 unit syariah asuransi jiwa, 23 unit syariah asuransi umum, dan 3 unit syariah reasuransi. Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia (AASI) sendiri memperkirakan bahwa daftar pemain asuransi syariah di Indonesia akan semakin panjang mengingat dalam waktu dekat diperkirakan akan ada 2 perusahaan asuransi yang akan membentuk unit asuransi syariah. Kedua pemain baru ini adalah pelaku asuransi jiwa.
Tabel 3.1. Jumlah Perusahaan Asuransi dan Re-Asuransi Syariah di Indonesia
2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015* Asuransi Jiwa • Perusahaan 2 2 3 3 3 3 3 3 • Unit Syariah 13 17 17 17 17 17 17 18 Asuransi Umum • Perusahaan 1 1 2 2 2 2 2 3 • Unit Syariah 19 19 20 18 20 24 24 23 Reasuransi 3 3 3 3 3 3 3 3
Sumber: OJK, diolah
Di tahun 2016 diperkirakan jumlah pelaku asuransi Syariah akan terus bertambah, terutama untuk asuransi jiwa Syariah. Hal ini dikarenakan secara umum asuransi jiwa lebih menarik untuk dimasuki pasarnya karena proteksi yang ditawarkan lebih banyak mengandung unsur investasi. Selain itu, penetrasi pasar asuransi Syariah yang masih rendah juga turut membuka peluang untuk menikmati pasar yang lebih besar (lihat Gambar 3.2). Peraturan pemerintah terkait modal minimum asuransi dan wacana spin-off dari beberapa perusahaan asuransi Syariah diharapkan juga dapat meningkatkan jumlah pelaku asuransi Syariah di Indonesia, terutama untuk asuransi Syariah full pledge.
Gambar 3.2 Tren Penetrasi Pasar Asuransi Syariah di Indonesia
Sumber: OJK dan BPS, diolah
Perkembangan industri asuransi syariah selama kurun waktu 2014-2015 terbilang cukup berarti di mana asset perusahaan asuransi dan reasuransi di Indonesia naik 18,3% dari tahun 2014 sampai dengan Agustus 2015. Namun jika dibandingkan pertumbuhan aset (yoy) tahun lalu yang sebesar 20,03%, pertumbuhan aset tahun ini memang cenderung melambat. Walaupun demikian, pertumbuhan aset Industri asuransi Syariah di Indonesia terbilang cukup baik dibandingkan dengan pertumbuhan aset asuransi konvensional yang hanya tumbuh sebesar 15% pada kurun waktu yang sama. Sedangkan jika dilihat dari market share, hingga triwulan kedua 2015, market share aset asuransi Syariah pada total aset asuransi di Indonesia masih sebesar 5,05%. Aset industri Syariah di Indonesia sangat berpeluang untuk terus tumbuh seiring dengan tengah dipasarkannya asuransi mikro Syariah yang diharapkan dapat mencapai target pasar masyarakat dengan penghasilan rendah.
Sedangkan untuk market share total kontribusi asuransi Syariah di pertengahan 2015 masih di kisaran 5,03%. Asuransi jiwa Syariah masih menjadi kontributor utama dalam proporsi kontribusi bruto asuransi Syariah di Indonesia. Peningkatan aset industri syariah di Indonesia ini juga diikuti oleh naiknya kontribusi bruto sebesar 31,7%, lebih rendah jika dibandingkan kenaikan klaim asuransi syariah sebesar 32,3%. Pertumbuhan kontribusi bruto yang lebih rendah dibandingkan dengan klaim dari nasabah dapat mengisyaratkan tekanan yang lebih tinggi bagi asuransi syariah pada tahun 2015 untuk menjaga kucukupan modalnya dalam melayani klaim dari nasabah dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini juga menjadi isyarat bagi para pelaku usaha asuransi Syariah untuk terus melakukan perbaikan dalam proses pengelolaan risiko.
Tabel 3.2. Kinerja Keuangan Industri Asuransi dan Reasuransi Syariah (dalam Triliun Rupiah) Indikator 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015* Kontribusi Bruto 1,65 2,41 2,79 5,08 6,45 9,00 5,16 6,81 Klaim 0,49 0,80 1,08 1,42 1,76 2,56 1,67 2,21 Investasi 1,19 2,09 3,30 7,77 11,22 14,33 17,47 20,72 Aset 1,85 3,02 3,54 9,15 13,07 16,82 20,19 23,89
Sumber: OJK, diolah
Selain itu, jika dianalisis lebih lanjut, pertumbuhan kontribusi bruto yang lebih rendah dari pada pertumbuhan klaim nasabah juga diiringi dengan peningkatan rasio klaim-kontribusi yang meningkat, setidaknya mulai dari tahun 2012 (lihat Gambar 3.3). Tren kenaikan klaim yang lebih tinggi dibandingkan perolehan premi masih membayangi pebisnis asuransi syariah sampai akhir bulan Agustus tahun ini. Dari data yang ada , tercatat sepanjang Januari sampai Agustus 2015, industri asuransi syariah membayar klaim dan manfaat lebih dari Rp 2 triliun. Angka ini naik 14,5% dibanding periode yang sama di 2014. Rasio pertumbuhan klaim ini lebih tinggi dibanding premi yang dikumpulkan. Pada rentang waktu yang sama industri asuransi syariah hanya mencatat pertumbuhan premi sebesar 13,8%. Tapi pertumbuhan klaim sampai Agustus kemarin menurun cukup besar dibanding posisi di akhir semester pertama lalu. Pada saat itu, pertumbuhan klaim mencapai 22% secara year on year. Sedangkan jika dibagi per segmen, asuransi jiwa syariah membayar klaim dan manfaat sebesar Rp 1,7 triliun per Agustus 2015. Sementara perusahaan asuransi umum syariah sebesar Rp 348 miliar. Ini menunjukkan rasio klaim-kontribusi pada asuransi umum Syariah lebih tinggi daripada asuransi jiwa Syariah.
Gambar 3.3 Rasio Klaim-Kontribusi pada Asuransi Umum dan Asuransi Jiwa Syariah
Secara umum, pola investasi industri asuransi Syariah per Agustus 2015 masih memiliki pola yang sama dari tahun sebelumnya (lihat Tabel 3.3.). Portfolio investasi masih sangat didominasi oleh deposito berjangka yang menawarkan fixed return, terutama pada asuransi umum Syariah (85%) dan reasuransi Syariah (88%). Sedangkan, investasi yang dilakukan oleh asuransi jiwa Syariah menunjukkan pola yang lebih terdiversifikasi karena sebagian besar investasinya tersebar di Deposito (34%), saham Syariah (31%), dan reksana dana Syariah (22%). Saham di sektor properti, konstruksi, dan consumer goods merupakan saham yang biasanya dibidik oleh perusahaan asuransi dan reasuransi syariah. Namun diversifikasi tersebut ternyata membuat hasil investasi asuransi jiwa Syariah mendapatkan rapor merah. Anjloknya performa pasar saham yang diikuti dengan penurunan indeks menyebabkan hasil investasi menjadi negatif. Terlebih lagi karena asuransi jiwa Syariah didominasi oleh unitlink sehigga hasil investasinya akan sangat bergantung pada performa keuangan dari reksa dana dan saham syariah.
Tabel 3.3. Komposisi Portfolio dan Hasil Investasi Asuransi dan Re-Asuransi Syariah (dalam Miliar Rupiah) per Agustus 2015
Jenis Investasi Asuransi Umum Asuransi Jiwa Re-asuransi
Deposito (85,2%)2.022 (34%)5.931 (87,8%)789
Saham Syariah (0,1%)3 (31,4%)5.489 (0%)0
Sukuk (7,6%)179 (4,5%)781 (4,7%)42
SBSN (3,4%)81 (7,0%)1.225 (2,5%)23
Reksa Dana Syariah (2,7%)65 (22,6%)3.938 (5%)45
Emas Murni (0,1%)2 (0%)0 (0%)0 Penyertaan Langsung (0%)0 (0,1%)24 (0%)0 BDHK/TDBUI (0,8%)19 (0%)0 (0%)0 Investasi Lain (0,03%)1 (0,4%)66 (0%)0 Total Investasi 2.372 17.453 898 Hasil Investasi 85 (848) 29 Sumber: OJK
C. OUTLOOK ASURANSI DAN RE-ASURANSI SYARIAH 2016
Pertumbuhan industri asuransi di Indonesia pada tahun depan masih sangat bergantung pada pertumbuhan ekonomi nasional. Namun, di tengah perlambatan pertumbuhan ekonomi tahun ini, secara umum industri asuransi dan reasuransi Syariah masih menunjukkan tren yang positif. Tren pertumbuhan kontribusi bruto dan pertumbuhan aset yang positif pada tahun 2015 menjadi sinyal bahwa industri asuransi dan reasuransi Syariah di Indonesia masih berpeluang untuk dapat terus tumbuh di tahun 2016. Selain itu, beberapa faktor pendukung juga dapat mendorong pertumbuhan industri ini, diantaranya adalah:
1. Beberapa waktu yang lalu isu yang cukup hangat diperbincangkan publik adalah terkait dengan sistem BPJS yang masih belum sesuai dengan Syariah. Secara tidak langsung, isu yang mencuat ke masyarakat turut meningkatkan awareness masyarakat terhadap produk-produk asuransi yang sesuai dengan Syariah. Selama ini, literasi masyarakat akan asuransi masih sangat rendah, apalagi terhadap asuransi Syariah. Masyarakat masih belum terlalu concern terhadap aturan Syariah mengenai produk keuangan konvensional. Oleh karena itu, industri asuransi dan reasuransi Syariah harus dengan tanggap merespon gejala tersebut melalui perluasan dan ekstensifikasi media sosialisasi.
2. Untuk menggenjot laju pertumbuhan aset maupun investasi asuransi Syariah, mulai awal tahun 2015 OJK telah menyiapkan langkah-langkah strategis seperti rencana merekrut 10 juta agen asuransi dan 10.000 Sahabat Keuangan Maritim. Tujuan dari program ini adalah untuk meningkatkan akses masyarakat pada layanan asuransi mikro/syariah dan juga untuk memperluas jangkauan layanan keuangan di bidang perikanan dan kelautan. Untuk perekrutan agen asuransi, sasarannya adalah mahasiswa, ibu rumah tangga, dan pekerja paruh waktu. Pada program ini, mereka akan dibekali pendidikan dan pelatihan yang terstandarisasi sehingga pendidikan formal tidak lagi menjadi standar kualifikasi untuk menjadi agen asuransi. Dengan adanya program perekrutan agen asuransi ini diharapkan pelayanan keuangan dari perusahaan asuransi tidak lagi menggantungkan pada kantor cabang maupun kantor pemasaran yang jumlahnya masih terbatas.
3. Sejak Oktober 2013, OJK mencanangkan pengembangan asuransi mikro syariah. Sampai dengan akhir 2014, pengembangan ini terus dilakukan, salah satunya adalah dengan peluncuran asuransi mikro syariah Si Bijak yang dilaksanakan oleh Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia (AASI) bekerja sama dengan OJK. Dengan akad Tabarru dan Wakalah bil Ujrah, peserta cukup membayar kontribusi sebesar 50 ribu Rupoah dengan proporsi ujrah tabarru masing-masing sebesar 50%. Adapun manfaat yang diperoleh adalah santunan meninggal dunia sebesar 2,5 juta Rupiah, santunan pemakaman 500 ribu Rupiah, santunan untuk kehilangan penghasilan akibat bencana atau risiko terhadap kios/gerobak usaha sebesar 500 ribu Rupiah. Kepala Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia sendiri menilai bahwa dengan sasaran penduduk dengan pendapatan rendah dan banyaknya penduduk Muslim di Indonesia, pertumbuhan aset asuransi mikro Syariah diharapkan bisa mencapai 49%. Selain itu, asuransi mikro Syariah juga diharapkan dapat menjadi tumpuan untuk mewujudkan keuangan inklusif pada sektor asuransi.
4. Dalam rangka peningkatan financial inclusion, pada tahun ini program Laku Pandai (branchless banking) mulai dijalankan oleh OJK. Program ini diharapkan dapat
meningkatkan cakupan asuransi Syariah, khususnya asuransi mikro Syariah untuk masyarakat berpendapatan rendah. Di dalam penerapannya, bank bisa menggunakan jasa para agen utuk memasarkan dan menawarkan produk di luar produk perbankan, termasuk produk asuransi mikro syariah. Layanan semacam ini jelas akan membantu proses distribusi dan pemasaran produk asuransi mikro syariah untuk menjangkau penduduk yang berpenghasilan rendah.
5. Berdasarkan amanat Undang Undang No. 40 tahun 2014 tentang Perasuransian, semua asuransi di Indonesia sudah harus melakukan spin-off selambat-lambatnya sebelum tahun 2024. Bahkan OJK sendiri mentargetkan bahwa di tahun 2020 semua asuransi sudah melakukan spin-off. Dalam Undang-Undang tersebut, perusahaan asuransi atau reasuransi yang memiliki unit usaha Syariah dengan nilai dana tabarru dan investasi peserta telah mencapai minimal 50% dari total nilai dana asuransi perserta pada perusahaan induk wajib melakukan pemisahan menjadi perusahaan asuransi atau reasuransi syariah full pledge. Pelaksanaan spin-off dianggap dapat memberikan kesempatan bagi perusahaan asuransi syariah untuk dapat lebih berkembang melalui peningkatan volume bisnis, perluasan pasar dan peningkatan pangsa pasar.
Di luar dari berbagai faktor pendukung yang dapat mempercepat pertumbuhan industri asuransi Syariah, masih terdapat beberapa isu yang perlu untuk menjadi fokus perhatian, di antaranya adalah:
1. Terkait dengan asuransi mikro Syariah, pelaku usaha mengaku mengalama kesulitan untuk memasarkan produk asuransi mikro Syariah. Sejak diluncurkan pada akhir tahun 2014, polis asuransi ini masih sepi peminat, Pada tahun 2014, jumlah perusahaan yang memasarkan asuransi mikro Syariah sebanyak 53 perusahaan dengan jumlah peserta sebanyak 6.169.404 orang. Ketua AASI menyatakan bahwa sebenarnya minat masyarakat berpendapatan rendah terhadap asuransi mikro Syariah cuup tinggi hanya saja mereka meminta ragam yang lebih bervariasi pada asuransi mikro Syariah untuk memenuhi kebutuhan mereka. Misalnya adalah produk asuransi mikro yang dapat menanggung risiko terhadap ternak mereka maupun risiko gagal panen. Oleh karena itu, industri asuransi Syariah harus mampu untuk mulai memikirkan pengembangan dari produk ini menginat sebagai besar masyarakat berpenghasilan rendah bekerja di sektor pertanian maupun peternakan. Dengan memenuhi kebutuhan tipe asuransi mereka, diharapkan partisipasi masyarakat pada asuransi mikro Syariah dapat meningkat.
2. Selain dari aspek varian tipe produk asuransi mikro Syariah, masih banyak ceruk pasar yang belum tergarap. Salah satu usaha yang dapat diakukan adalah dengan melakukan kerjasama dengan BMT dalam proses penyaluran produk asuransi mikro Syariah. Namun demikian, necessary condition yang harus dipenuhi adalah terkait dengan perbaikan standar kualitas pelayanan dari BMT.
3. Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi industri asuransi Syariah terkait dengan amanat Undang-undang dan peraturan OJK mengenai spin-off adalah mengenai kualitas sumber daya manusia dari para agen asuransi Syariah. Persoalan mengenai agensi dinilai sebagai salah satu hambatan bagi unit usaha asuransi Syariah untuk melakukan spin-off. Proporsi agen asuransi syariah yang tersertifikasi masih sedikit jumlahnya. Untuk mengatasi hal tersebut, OJK akan
melakukan relaksasi mengenai agensi pada industri asuransi Syariah. OJK akan menyiapkan peraturan yang menyatakan bahwa agen asurasni dari perusahaan yang masih berada dalam satu grup dapat memasarkan produk, baik konvensional maupun produk Syariah, setelah UUS melakukan spin-off. Usaha OJK untuk melakukan relaksasi diharapkan dapat membantu percepatan porses spin-off UUS dalam jangka pendek. Namun dalam jangka panjang, isu mengenai sertifikasi agen asuransi Syariah ini memerlukan perhatian khusus.
Berdasarkan kondisi internal dan eksternal yang mempengaruhi kinerja asuransi dan reasuransi syariah, maka proyeksi pertumbuhan kontribusi bruto dan pertumbuhan aset industri syariah di tahun 2015 adalah sebagai berikut:
Table 3.4 Skenario Outlook
Indikator Skenario
Optimis Normal Pesimis
Market Share 5,4 - 6% 4,9 - 5,3% 4,5 - 4,8%
Pertumbuhan Aset 25 - 30% 18 - 24% 10 - 17%
1. Skenario Optimis: perkembangan asuransi syariah dunia dan juga Indonesia
yang tidak terlepas dari perkembangan perbankan syariah membuat pertumbuhan asuransi syariah memang sedikit melambat di tahun 2015 dibandingkan tahun-tahun sebelum 2014. Pertumbuhan perbankan syariah yang jika kita lihat dari sisi aset diperkirakan hanya tumbuh sebesar 11-12 persen hingga akhir tahun 2015 membuat pertumbuhan asuransi syariah juga melambat. Namun dari asumsi tersebut pertumbuhan asuransi syariah di Indonesia masih akan tetap tumbuh tinggi jika dilihat dari sisi aset. Pada tahun 2015 pertumbuhan aset asuransi syariah diprediksi hanya akan tumbuh sebesar 25 persen lebih tinggi dari tahun 2014 sebesar 20 persen.
Dengan tingkat pertumbuhan ekonomi yang membaik pada tahun 2016 yang diperkirakan akan tumbuh diatas 5 persen diprediksi akan meningkatkan laju petumbuhan asuransi syariah lebih tinggi sebesar 25-30 persen pada tahun 2016. Namun skenario pesimis ini tidak memperhitungkan dampak negatif seperti kenaikan suku bunga The Fed yang bisa berdampak pada perlambatan pertumbuhan kredit perbankan dan berimbas pada kinerja asuransi syariah di Indonesia. Untuk mengukur dampak tersebut skenario moderat dan pesimis dapat memberikan insight mengenai hal tersebut.
2. Skenario Moderat: dalam skenario moderat pertumbuhan aset asuransi syariah
diperkirakan akan lebih kecil atau sama dengan pertumbuhan tahun 2015 di mana aset asuransi syariah akan tumbuh sebesar 18-20 persen pada tahun 2016. Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang relatif melambat di angka 4.7 persen pada tahun 2015 turut akan menekan laju pertumbuhan aset asuransi syariah. Jika pertumbuhan ekonomi hanya berada dibawah 5% pada tahun 2016, diperkirakan pertumbuhan asuransi syariah hanya akan berada di angka 18 persen. Nilai dan yield investasi akan semakin rendah serta klaim asuransi akan lebih tinggi jika
pertumbuhan ekonomi terus melambat. Sedangkan beban untuk mendapatkan dana funding akan semakin besar yang disebabkan perlambatan pertumbuhan pendapatan masyarakat.
3. Skenario Pesimis: skenario pesimis pada tahun 2015 hingga 2016 lebih
dititikberatkan pada kemungkinan naiknya suku bunga acuan bank sentral Amerika The Fed. Kenaikan suku bunga acuan the fed atau Fed Fund Rate (FFR) akan berdampak luas terhadap kinerja industri asuransi syariah. Pertumbuhan kredit perbankan dipastikan akan melambat jika kenaikan FFR diikuti oleh kenaikan suku bunga Bank Indonesia. Pertumbuhan kredit yang melambat akan mengurangi tingkat kontribusi atau premi nasabah dan berujung pada semakin rendahnya angka kontribusi. Pada sisi aset, naiknya tingkat suku bunga akan berdampak pada penurunan nilai investasi terutama surat berharga seperti saham, reksa dana, serta surat obligasi syariah atau sukuk. Dengan demikian, industri asuransi syariah akan terkena dua dampak sekaligus jika suku bunga FFR benar-benar dinaikan. Jika hal ini terjadi pertumbuhan aset asuransi syariah diperkirakan hanya mencapai 10-12 persen pada tahun 2016.
BAB 4
PERKEMBANGAN DAN OUTLOOK PASAR MODAL SYARIAH
A. PENDAHULUAN
Pasar modal syariah di Indonesia telah berusia hampir dua dekade. Sejak kelahirannya pada tahun 1997, pasar modal syariah terus tumbuh dengan tren yang meningkat. Sejauh ini pasar modal syariah telah memiliki beberapa produk keuangan seperti saham syariah, sukuk, reksa dana syariah dan exchange traded fund (ETF) syariah dan inovasi transaksi berupa online trading syariah. Kemudian untuk infrastruktur hukum, Indonesia telah memiliki regulasi pasar modal syariah yang merujuk kepada fatwa Dewan Syariah Nasional, Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI). Di antara produk-produk keuangan syariah tersebut, saham dan sukuk tetap teratas dari sisi kapitalisasi dan nilai transaksi di pasar modal syariah Indonesia hingga tahun 2015 (lihat tabel 4.1).
Terdapat potensi yang luar biasa besar bagi industri keuangan syariah di tanah air, terutama jika kita melihat komposisi demografis dan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang cukup menjanjikan. Selain itu, trend pasar keuangan global adalah menuju kearah disintermediasi. Dengan kata lain, peran pasar modal lebih dominan daripada peran sistem perbankan (financial intermediaries) dalam alokasi sumber daya keuangan. Oleh karena itu, pasar modal akan menjadi masa depan bagi perekonomian dan sistem keuangan bagi negara maju dan negara yang masuk dalam kategori emerging markets seperti Indonesia.
Tabel 4.1 Statistik Perkembangan Pasar Modal Indonesia
Jenis Efek Nilai (Rp. Milyar)2014 Nilai (Rp. Milyar)2015*
Saham 1.453.392,36 864.953,51 Obligasi Korporasi 2 23.463,60 2 38.995,90 Obligasi Pemerintah 1.113.000 900.490 Waran 898,89 257,11 Right 31,03 15,98 Instrumen Derivatif 149,18 132,79 Sukuk Korporasi 7.105 8.444
Surat Berharga Syariah Negara
(SBSN) 206.100 282.900
Reksadana Konvensional (NAB) 230.225,59 251.206,55
Reksadana Syariah (NAB) 11.236,00 11.389,76
*Sampai Juli 2015
Sumber: Statistik Pasar Modal dan Laporan Triwulanan II, 2015, OJK
Namun sampai saat ini, pengaruh industri keuangan syariah masih belum signifikan karena pangsa pasar yang lebih kecil dibandingkan dengan industri keuangan konvensional. Berdasarkan informasi dari OJK, persentase pangsa pasar keuangan syariah adalah berkisar
4,7 persen untuk Perbankan Syariah, 4,23 persen untuk NAB Reksa Dana Syariah dan 2,8 persen untuk Industri Keuangan Non-Bank (IKNB) Syariah. Khususnya untuk pasar modal syariah rendahnya pangsa pasar salah satunya disebabkan oleh rendahnya tingkat literasi keuangan masyarakat. Menurut survei yang dilakukan OJK, hanya 6 persen dari total responden memiliki tingkat literasi yang cukup mengenai pasar modal syariah. Oleh karena itu perlu dilakukan suatu upaya bersama antara stakeholders dan industri untuk lebih memasarkan ide pasar modal syariah ke pelosok negeri agar menjangkau seluruh masyarakat di tanah air.
Masih rendahnya proporsi industri keuangan syariah dapat dimaknai sebagai tantangan sekaligus peluang bagi lembaga keuangan syariah. Meskipun masih tumbuh secara positif baik dari sisi nilai aset maupun jumlah produk, namun di sisi lain industri keuangan konvensional mengalami pertumbuhan yang lebih tinggi. Akibatnya pencapaian yang sudah diraih industri keuangan syariah belum bisa menaikkan posisinya di kancah persaingan sektor keuangan tanah air.
B. ANALISIS PERKEMBANGAN PASAR MODAL SYARIAH: SAHAM, SUKUK DAN REKSADANA SYARIAH
1. Analisis Perkembangan Saham Syariah
Saham merupakan surat berharga (sekuritas) yang merupakan tanda penyertaan atau kepemilikan individu atau badan usaha dalam suatu perusahaan atau perseroan terbatas. Sedangkan saham syariah adalah saham yang menunjukkan kepemilikan terhadap perusahaan yang jenis usahanya tidak bertentangan dengan syariat Islam dan memiliki rasio keuangan yang terkait dengan utang dan bunga tidak melebihi batasan yang telah ditetapkan oleh dewan pengawas syariah.
Jakarta Islamic Index (JII) dan Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) adalah dua indeks di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang dibuat untuk memantau atau sebagai indikator pergerakan harga saham syariah di pasar modal. Selain itu indeks tersebut juga berfungsi sebagai indikator trend pasar, indikator tingkat profitabilitas and benchmark kinerja suatu portofolio. Menurut informasi dari OJK per Mei 2015 terdapat 328 saham yang masuk Daftar Efek Syariah (DES). Dari 328 tersebut, 317 saham tercatat di Bursa Efek Indonesia dan menjadi konstituen pembentuk ISSI dan sisanya sembilan saham tidak listing di bursa. Kemudian, menurut Bursa Efek Indonesia per 8 Juli 2015, jumlah emiten yang memenuhi kriteria saham syariah dan masuk dalam ISSI adalah sebanyak 317 emiten naik dari 306 emiten pada bulan Juli 2014. Komposisi konstituen dari ISSI ini senantiasa berubah mengikuti hasil review DES yang dikeluarkan oleh OJK secara berkala.
Berdasarkan kelompok industri, saham-saham kategori perdagangan, jasa, dan investasi mendominasi sebesar 20 dan 26 persen dari komposisi sebaran saham-saham yang masuk ke dalam JII dan ISSI. Kemudian diikuti oleh sektor usaha properti, real estate, dan konstruksi serta industri barang konsumsi. Sementara itu tidak ada saham dari sektor keuangan yang masuk menjadi konstituen JII namun di ISSI terdapat satu emiten (PNBS, Bank Panin Syariah) yang masuk dalam daftar efek yang dicatatkan di bursa. Hal ini merupakan berita baik bagi sektor keuangan syariah dimana sudah ada lembaga keuangan syariah yang mau mencatatkan sahamnya di bursa sehingga kinerjanya dapat dipantau oleh investor dan stakeholders keuangan syariah lainnya.
Gambar 4.1: Komposisi JII dan ISSI
(Sumber; BEI dan OJK, 2015)
Pergerakan harga di pasar saham tanah air pada triwulan II-2015 sedang mengalami tren penurunan setelah sebelumnya sempat rebound paska terbentuknya pemerintahan baru pada bulan Oktober 2014. Meskipun begitu, memasuki triwulan III-2015 indeks saham kembali bergairah yang dibarengi oleh menguatnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Namun, sebagian analisis mewanti-wanti akan terjadinya koreksi terhadap kenaikan IHSG beberapa minggu terakhir. Tekanan eksternal seperti, gagalnya negosiasi utang Yunani dengan para kreditor, penjualan besar-besaran di pasar saham Tiongkok, dan menguatnya Dolar AS terhadap mata uang lain serta tekanan internal seperti menurunnya konsumsi domestik menyumbang terhadap pelemahan kinerja pasar saham tanah air. Sementara itu, turunnya indeks harga saham juga terjadi di kawasan Asia Tenggara dan beberapa negara maju seperti AS, Australia, Jerman dan Inggris.
Di pasar ekuitas tanah air, performa pasar saham syariah tidak jauh berbeda dengan pasar saham konvensional. Perkembangan ini dapat dilihat pada gambar 4.2 dimana indeks ISSI dan JII berada dalam pola menurun yang seirama dengan IHSG. Pelemahan ekonomi global dan tingginya ketidakpastian di pasar modal mendorong sentimen negatif yang berakibat pada net sell yang dibukukan oleh investor asing sebesar Rp 1,7 triliun pada triwulan II-2015 setelah triwulan sebelumnya mencatatkan net buy sebesar Rp 5.4 triliun. Dengan kata lain, investor asing mengurangi investasinya di pasar saham domestik yang berakibat semakin memburuknya kinerja pasar saham. Dalam dunia pasar modal kondisi ini disebut dengan istilah bearish. Pasar Bearish terjadi ketika situasi di pasar tidak bergairah, lamban dan di bursa penjual lebih mendominasi dari pada pembeli. Tekanan jual yang kuat mengakibatkan harga-harga saham menjadi turun yang bermuara pada turunnya indeks harga saham. Kemudian, dalam situasi bearish ini yang perlu diwaspadai oleh pelaku dan pengawas pasar modal adalah adanya pihak-pihak tertentu yang mencoba meraih keuntungan dengan cara-cara spekulatif yang melanggar hukum seperti short-selling.
Gambar 4.2: Pergerakan JII, ISSI, dan IHSG
(Sumber: Bloomberg)
Meskipun begitu, mungkin saja terjadinya net sell di pasar saham akibat diversifikasi yang dilakukan oleh investor asing terhadap portofolio asetnya. Dugaan ini didukung oleh informasi dari Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan yang mencatat bertambahnya dana asing di surat utang negara (SUN) sepanjang tahun 2015. Dengan kata lain, ketidakpastian di pasar saham telah mengakibatkan investor asing memindahkan sebagian dananya dari pasar saham dan meinvestasikannnya di instrument yang lebih aman seperti obligasi dimana untuk saat ini menawarkan yield yang lebih menarik.